“There are three stages of man: he believes in Santa Claus; he does not believe in Santa Claus; he is Santa Claus." Bob Phillips. Gereja membuat dua pembabakan leksionari (daftar bacaan) untuk memudahkan umat menghayati makna Adven. Babak pertama, Minggu I dan II Adven pembacaan memerikan gatra eskatologis. Secara sederhana eskatologis ialah penantian kedatangan kembali Kristus. Babak kedua, Minggu III dan IV Adven pembacaan memerikan gatra pengenangan (anamnesis) kelahiran Kristus. Minggu ini masih dalam babak pertama. Umat beriman mengambil bagian dalam persiapan tercukupkan dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya kembali seperti dalam dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Di dalam teks-teks Alkitab tidak pernah disebut “Yesus akan datang kedua kalinya”. Frase “Yesus akan datang kedua kalinya” adalah cacat teologis yang berimplikasi bahwa antara pertama dan kedua Yesus tidak pernah hadir di tengah-tengah umat-Nya yang beribadah saban Minggu sebagai misal. Frase yang sesuai dengan teologi Kristen adalah Yesus datang kembali. Kapan? Kita tidak pernah tahu. Terserah Beliau. Bisa kemarin, hari ini, atau besok. Dalam Kisah Para Rasul dapat kita lihat sesudah Yesus naik ke surga, Yesus hadir menjumpai Paulus dalam perjalanannya ke Damsyik. Itu berarti frase Yesus datang kembali tidak dapat disulih dengan angka urut kedua. Dalam pada itu Yesus sendiri sampai lima kali menjanjikan kehadiran Roh Kudus untuk meneruskan karya-karya-Nya (lih. Yoh. 14:16-17, 25-26; 15:26-27; 16:7-11, 12-15). Kehadiran Roh Kudus berarti kehadiran Kristus (lih. 2Kor. 3:17). Untuk itulah dalam teologi Kristen kedatangan Kristus kembali dipahami sudah, sedang, dan akan terjadi. “Sudah” dipahami bahwa kehadiran Kristus sudah terjadi sekitar dua ribu tahun lalu dan selalu berada di tengah-tengah umat beriman sepanjang berabad-abad sampai kemarin atau sebelum sekarang. “Sedang” dipahami bahwa kehadiran Kristus sedang terjadi di tengah-tengah umat saat ini. “Akan” dipahami kehadiran Kristus selalu dirindukan dan diharapkan oleh umat beriman. Bacaan Minggu ini Lukas 3:1-6. Bacaan Injil Lukas pada Minggu kedua masa Adven ini menampilkan Yohanes (Pembaptis) di padang gurun dan datanglah firman Allah kepadanya. Ia kemudian mendatangi ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!” Ia kemudian mengutip kitab nubuat-nubuat Nabi Yesaya. Katanya, “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.” Dari bacaan di atas kita melihat firman Allah mendatangi Yohanes di padang gurun. Dari sini dapat kita tafsirkan hidup Yohanes menyendiri di padang gurun. Ia tidak bergeming, tetapi ia bergerak untuk bekerja. Apa yang dikerjakannya? Memersiapkan jalan untuk Tuhan. Ia bergiat mewartakan pertobatan dan kemudian membaptis orang-orang sebagai tanda pertobatan di daerah Yordan. Menanti bagi Yohanes tidak berdiam diri di padang gurun. Ia bekerja memersiapkan “infrastruktur” untuk Kristus. Dalam Pembukaan UUD 1945 satu tujuan negara Republik Indonesia ialah memajukan kesejahteraan umum dengan berlandaskan atas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejak menjadi orang nomor satu Indonesia, Presiden Joko Widodo menggenjot pembangunan infrastruktur. Jokowi pernah mengatakan bahwa infrastruktur bukanlah tujuan. Pembangunan infrastruktur juga jangan dilihat dari gatra ekonomi saja. Jokowi kemudian mengutip lagu “Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung-menyambung menjadi satu. Itulah Indonesia.” Infrastruktur dibangun untuk menyambung pulau-pulau di Indonesia menjadi satu. Infrastruktur bukanlah tujuan, melainkan jalan untuk memajukan kesejahteraan umum dengan berlandaskan atas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.” “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya…” merupakan ungkapan yang pas bagi kerja keras Jokowi untuk menuju kesejahteraan umum dengan berlandaskan atas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adven yang dikerjakan oleh Yohanes (Pembaptis) amat terang dikerjakan oleh Jokowi. Adven merupakan kesibukan bekerja dalam rangka menuju kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesejahteraan tidak datang sekonyong-konyong. Ia perlu Adven. Adven bukanlah tujuan. Ia merupakan jalan untuk mencapai tujuan. Belum waktunya berpesta karena memang kita belum tiba di tujuan.Jadi, gak perlu pakai pesta, apalagi dilabeli pesta natal, perayaan natal, cukup ibadah raya natal, dan itupun dilakukan di gereja, untuk menghikmati keterhisapan kita pada anugerah persekutuan Tuhan dalam menghikmati Natal, Tuhan yang merapuh menjadi manusia, Tuhan melawat manusia, untuk menyelamatkan kan manusia, Tuhan berkarya ๐๐๐ป๐๐ปSelamat menikmati masa Advent๐๐๐ป๐๐ปTuhan memberkati
Jumat, 03 Desember 2021
Selasa, 02 November 2021
๐ซSABDA NYUNAR๐ซ, “The love of God is the root of all evil.”
๐ซSABDA NYUNAR๐ซ, “The love of God is the root of all evil.”, Taj Mahal berarti Mahkota Istana. Menurut legenda Taj Mahal merupakan bangunan kubur bagi istri Shah Jahan dari Kekaisaran Mughal yang bernama Mumtaz ul Zamani. Mumtaz adalah pedagang manik-manik. Pangeran Shah Jahan jatuh cinta kepadanya. Pada 1612 Shah Jahan menikahi Mumtaz dan menjadikannya istri ketiga. Pada saat ia naik tahta pada 1628, nama Mumtaz diubahnya menjadi Mumtaz Mahal yang berarti Permata Istana. Jahan sangat mencintai Mumtaz. Ketika Mumtaz melahirkan anak ke-14 bagi Shah Jahan, ia meninggal. Saking cintanya Jahan pada Mumtaz ia membangunkan suatu istana peristirahatan yang ground breaking-nya dihelat pada 1631. Projek dipimpin oleh arkitek Ahmad Lahauri dengan melibatkan lebih daripada 20 ribu pekerja. Projek diselesaikan lengkap dalam waktu 20 tahun dengan menghabiskan dana sekitar 956 juta dolar (jika disetarakan dengan uang masa kini). Taj Mahal menjadi bukti cinta Shah Jahan kepada Mumtaz Mahal. Menurut legenda lagi ibu jari arkitek dan para pekerja konstruksi dipotong atas perintah Shah Jahan sesudah pembangunan selesai. Dengan begitu mereka tidak bisa membuat bangunan serupa Taj Mahal. Pada satu sisi Shah Jahan terperi romantis dan begitu mencintai istrinya, pada lain sisi ia berlaku bengis kepada sesama manusia. Bacaan Alkitab dari Injil Markus 12:28-34. Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan Yesus didatangi seorang ahli Taurat. Ahli Taurat ini sudah mendengar dari para koleganya bahwa Yesus lihai bersoaljawab dan selalu memberikan tanggapan tepat kepada mereka. Ia mengajukan pertanyaan kepada Yesus, “Perintah manakah yang paling utama?” Yesus menjawab, “Dengarlah, hai orang Israel, TUHAN Allah kita, TUHAN itu esa. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap akalbudimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah kedua: kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah itu.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawaban orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Sesudah itu seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. Dari bacaan di atas kita mengerti bahwa para pemimpin agama di Tanah Yudea berusaha mencari celah kesalahan Yesus dalam mengajar. Yesus dianggap ancaman bagi para pemimpin agama. Untuk itulah mereka terus menerus menguji Yesus dengan harapan ada kesalahan ajaran Yesus. Ahli Taurat di atas tidak ketinggalan mau menguji Yesus. Rupanya jawaban Yesus mengejutkannya. Yesus tidak melenceng dari ajaran tauhid. Meski demikian menurut Yesus ajaran tauhid tidaklah berarti apa-apa tanpa manusia mengasihi sesamanya. Tidak mungkin orang mengasihi Allah yang tak tampak, jika ia tidak mengasihi sesama manusia yang kasat mata. Apa ukuran mengasihi sesama menurut Yesus? Ukurannya ialah seperti mengasihi diri sendiri. Ahli Taurat itu bersetuju dengan Yesus dan menurutnya juga mengasihi sesama manusia jauh lebih utama daripada ritual agama. Mengasihi sesama manusia jauh lebih penting daripada menjalankan aturan-aturan agama. Yesus membenarkan ahli Taurat itu bahkan ia tidak jauh dari Kerajaan Allah. Kita sudah mengerti bahwa misi Kerajaan Allah menurut Yesus ialah menghadirkan keadilan sosial di seluruh lapisan masyarakat terutama masyarakat yang terpinggirkan, yang tidak berdaya. Di lingkungan Kristen kedua perintah itu dikenal dengan Hukum Kasih. Di Indonesia masyarakatnya gandrung pada ritual agama untuk menyatakan cinta pada Allah. Orang menunjukkan cinta pada Allah dengan setia ke gereja, mengikuti persekutuan doa, aktif melayani (dalam arti selebrasi), tetapi pada lain sisi seringkali pada kenyataannya, pada kehidupan keseharian ia bengis kepada sesama dengan memeras para karyawannya, ia mencuri uang negara, suka cepat menghakimi, suka ngrasani orang tanpa dasar, dlsb. Ada juga yang membuat aksi membela Allah. Tentu saja itu tidak salah. Agama tanpa ritus akan kehilangan pilarnya. Yang menjadi persoalan kerasukan ritual agama membuat penganutnya kehilangan etika. Penganut agama menjadi buta pada isu-isu etis. Mustahil orang mencintai Allah, kalau ia buta terhadap isu-isu etis yang kasat mata. Itu sebabnya setiap ada aksi membela Allah, suasana menjadi mencekam tertebar teror. Orang pergi menjauh ketakutan. Pengendara berpusing mencari jalan alternatif. Tidaklah keliru Andrew N. Wilson mem-pleset-kan 1Timotius 6:10 “Cinta akan Allah adalah akar segala kejahatan”. Kebangkitan agama-agama sebenarnya dirangsang oleh suatu keprihatinan etis yang besar terhadap gaya hidup modern. Anehnya agama tidak melahirkan pemikiran-pemikiran etis yang berbobot. Iman menjadi dogmatisme dan teologi menjadi ideologi. Kebangkitan agama-agama justru membuat agama-agama sedang mengalami kemerosotan kepedulian etis yang amat serius. Gus Mus pernah mengatakan bahwa sering semangat beragama tidak diimbangi dengan pemahaman agama yang baik. Pemerintah harus menyadari (karena hal) itu merupakan ancaman yang serius dan masyarakat harus kembali pada jatidirinya sebagai orang yang berketuhanan dan berkemanusiaan yang adil dan beradab. Beruntung Indonesia saat ini memiliki Presiden Joko Widodo, di luar segala kekurangannya, secara terus-menerus menyetimbangkan antara yang vertikal dan horisontal, antara yang spiritual dan material.๐๐๐ Selamat Berhukum Kasih, ๐๐๐Tuhan Memberkati
Jumat, 29 Oktober 2021
SUMPAH, SERIAL SUDUT PANDANG
Pengantar
Apakah benar bahwa bersumpah itu sama sekali dilarang? Bagaimanakah dengan sumpah jabatan? Perlu pemahaman yang benar terhadap penerapan ayat di atas. Dan harus dipahami sumpah yang mana dulu? Tidak semua sumpah tabu dalam ajaran Kristen. Sumpah yang bersifat affirmation of duty atau affirmation of truthfulness tentu saja tidaklah tabu. Sumpah itu ada, Tuhan Yesus menyinggungnya dalam:
* Matius 23:18-22
23:18 Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.
23:19 Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?
23:20 Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya.
23:21 Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ.
23:22 Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.
Tapi mengapa sampai dikatakan "jangan bersumpah" dalam Matius 5:33-37 dan Yakobus 5:12? Sebab, sumpah palsu merupakan pelanggaran yang serius dalam setiap kode hukum. Jadi, janganlah bersumpah apabila ybs tidak memandang serius tentang apa yang disumpahkannya. Dalam Hukum Taurat, sumpah palsu dilarang :
* Keluaran 20:7,16
20:7 LAI TB, Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
Hebrew,
ืֹื ืชִืฉָּׂื ืֶืช־ืฉֵׁื־ืְืืָื ืֱืֹืֶืืָ ืַืฉָּׁืְื ืִּื ืֹื ืְื ַืงֶּื ืְืืָื ืֵืช ืֲืฉֶׁืจ־ืִืฉָּׂื ืֶืช־ืฉְׁืֹื ืַืฉָּׁืְื׃ ืค
Translit, LO' TISA 'ET-SYEM- YEHOVAH(dibaca: 'Adonay) 'ELOHEYKHA LASYAV KI LO YENAQEH YEHOVAH(dibaca: 'Adonay) 'ET 'ASYER-YISA 'ET-SYEMO LASYAV
20:16 LAI TB, Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
Hebrew,
ืֹื־ืชַืขֲื ֶื ืְืจֵืขֲืָ ืขֵื ืฉָׁืงֶืจ׃ ืก
Translit, LO'-TA'ANEH VERE'AKHA 'ED SYAQER
Mengucapkan sumpah palsu dalam nama Allah adalah dosa bukan saja terhadap nama itu, tetapi termasuk berdosa terhadap pribadi Allah sendiri. Untuk selanjutnya, jangkauan hukum ini diperluas dengan memasukkan setiap penggunaan nama ilahi secara remeh atau sembarangan, sampai-sampai dalam tradisi Yahudi diputuskan bahwa cara yang paling aman adalah tidak menyebut namaNya sama sekali. Itulah sebabnya nama Allah Israel "YHVH" tidak pernah dieja sama sekali, dan mereka menggantinya dengan menyebut "ADONAY". Kebiasaan ini dimaksudkan sebagai bentuk pencegahan "menyebut nama TUHAN (YHVH) dengan sembarangan". Yesus Kristus berkata "Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan (Matius 5:33). Menyadari keseriusan sumpah demi nama Allah apabila kebenaran kalimat itu tidak mutlak kepastiannya, yang bertendensi menggantikan nama Allah dengan yang lain (ayat 34) misalnya Langit/ Surga, ataupun bentuk bentuk lain (demi kota, demi kepala, ayat 35-36) dengan pemikiran bahwa kalau-kalau sumpahnya itu palsu akan sedikit lebih diampuni, itupun tidak diperkenankan oleh Tuhan Yesus. Dari perikop lain dari Injil ini (Matius 23:16-22), dapat dikumpulkan adanya beberapa ketentuan bahwa ada sumpah-sumpah yang lebih mengikat atau kurang mengikat disesuaikan dengan persisnya kata-kata sumpah yang diucapkan. Tentunya hal ini merupakan masalah etis yang tidak begitu berarti. Satu hal yang perlu diketahui, bahwa orang dilarang bersumpah palsu, baik dalam nama Allah maupun bentuk kata-kata lainnya. "Bayarlah apa yang engkau sumpahkan". Pengkhotbah mengatakan demikian :
* Pengkhotbah 5:3-5
5:3 Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. 5:4 Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. 5:5 Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu? Jelas sekali dalam Matius 5:37 Yesus berkata "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat". Yesus merekomendasikan standard yang lebih tinggi kepada murid-muridNya bahwa mereka harus berkata ya kalau ya, dan tidak kalau tidak. Gema perkataan ini terdengar lagi dalam bagian PB lainnya :
* Yakobus 5:12
Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.
Pengikut-pengikut kristus harus dikenal sebagai pelaku perkataan mereka, baik pria maupun wanita. Apabila mereka dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai perhatian khusus yang teliti terhadap kebenaran , maka segala yang mereka katakan akan dipercaya walau tanpa sumpah sekalipun. Ini bukan sekedar teori; ini merupakan kenyataan dalam pengalaman. Reputasi seseorang dalam kejujuran itulah yang diajarkan Yesus, sehingga murid-muridNya karena reputasinya orang mempercayai bahwa kata-katanya selalu berdasarkan fakta yang benar, mengatakan ya karena ya, dan mengatakan tidak karena tidak. Jikalau seseorang sudah dikenal kejujurannya, siapapun tak akan menuntut suatu sumpah darinya.
Mengenai Sumpah
Konteks nya dulu harus diketahui, memaknai suatu ayat haruslah tidak dilepaskan dari konteks stau layar belakang penulisan perikopnya/bab nya bahkan konteks atau latar belakang kitabnya (dalam hal ini surat Yakobus dan injil Matius) sama halnya dg Kristus dalam Matius 5 ayat 33 sampai 37, Yakobus mengkritisi kebiasaan orang Yahudi (seperti halnya Kristus), yg dalam mana pada kasus Yakobus hal tersebut mempengaruhi kehidupan jemaat di sana, kebiasaan itu adalah sangat mudah mengucapkan sumpah dalam kehidupan sehari-hari (bukan pada kondisi khusus) untuk membenarkan diri. Ada tradisi dalam Yahudi saat itu untuk melakukan sumpah CHI ELOAH, artinya sumpah dalam nama Allah, itu dianggap dosa besar, apalagi bila tidak dapat melakukannya atau tidak dapat menepatinya, maka sumpah seperti ini dilakukan dalam kondisi khusus (dalam peradilan misalnya), oleh karena kemudian orang Yahudi menggunakan sumpah dalam kehidupan sehari-hari, demi apapun yang penting tidak demi nama Allah atau demi Allah, inilah sebetulnya yang dikritisi oleh Yesus maupun Yakobus, bukan larangan bersumpah tetapi lebih kepada jangan sembarangan bersumpah apalagi hanya di dalam kehidupan sehari-hari (kondisi saat itu sebetulnya lebih ke sumpah saat berdagang), apalagi bersumpah dan tidak bisa menepatinya, atau bersumpah untuk hal-hal yg sepele atau remeh temeh, menurut Yesus maupun Yakobus (dalam kehidupan sehari-hari) daripada bersumpah lebih baik ya katakan ya, tidak katakan tidak, kemudian pemahaman ini Yakobus kaitkan dengan pengakuan dosa. Makanya, dalam bahasa aslinya memakai frasa PRO PANTON yg artinya tidak untuk keseharian lebih untuk hal yg utama/khusus. bukannya tidak boleh bersumpah, Tapi Firman Tuhan itu mengajarkan kalau kita bersumpah, hendaklah kita sebaik mungkin menepatinya dan BERSEDIA menanggung akibatnya apabila kita tidak memenuhi sumpah tersebut. Makanya lebih baik jangan bersumpah, tapi kalau bersumpah, tepatilah sumpah itu dihadapan Tuhan. Nah, Allah PL dan PB itu sama, Yesus itu ada bersama-sama dengan Allah dan Dia adalah Allah dari sejak mulanya (Yohanes 1:1), so jangan membuat pengertian kalo Allah PL bersumpah Allah PB tidak seolah2 mereka berbeda. Allah bersumpah boleh saja karena Dia pasti menepati perkataanNya, so konsisten kok ini, Apa sih bedanya janji sama sumpah? Kita sepertinya harus clear dulu soal ini. kalo buat saya janji itu kamu berjanji tidak perlu mengatakan dengan lantang didepan semua orang, tapi sumpah itu kamu ucapkan didepan semua orang sehingga semua orang itu mengetahui sumpahmu itu, itu syaratnya sebuah janji bisa disebut sebagai sumpah, minimal mungkin ada 2-3 orang saksi, so kalo kamu bersumpah tapi ngga ada yang dengar, buat saya itu janji, mohon maaf itu bukan sumpah. Janji pernihakan itu sebenarnya bukan janji, secara konteks lebih tepat disebut sumpah pernikahan, karena 2 insan tersebut mendeklarasikan sehidup semati sebagai suami istri dihadapan Tuhan, para saksi hamba Tuhan, saudara seiman, dan hukum negara, maka itu bukan lagi janji, itu adalah sumpah, lebih tepat kita sebut itu sumpah pernikahan menurut saya, makanya kalo bahasa Inggrisnya itu adalah "wedding vow", bukan sekedar "promise". Dalam bahasa aslinya Ngga ada kok ayat Firman Tuhan yang menyatakan kita sama sekali ngga boleh bersumpah. dikatakan kalo kamu bersumpah, ya tepatilah "jika ya katakan ya dan jika tidak katakan tidak" itu peringatan supaya kita jangan bersumpah palsu atau jangan sampai kita buru2 mengucapkan sumpah, bukannya melarang sama sekali orang bersumpah, tapi jika kita memang mau bersumpah beneran, ya tepatilah itu, pada prinsipnya PL dan PB itu sama, ngga mungkin bertentangan dan tidak ada yang direvisi sepanjang saya memahaminya, justru aneh kalo pake direvisi, kan Dia Allah yang hidup yang kita percaya ngga pernah salah, saya pribadi bersumpah pernikahan dan saya wajib mentaati sumpah itu sampai akhir hayat. kalau setuju bahwa janji pernikahan itu levelnya adalah sumpah, ya otomatis anda harusnya mengakui kalo sumpah diperbolehkan, berapa banyak orang yang bersumpah pernikahan melanggar Firman Tuhan kalau sumpah sama sekali ngga boleh dilakukan? Konteks apakah yg melatarbelakangi Firman Allah di PL sehingga Allah "bersumpah"? Apa tujuan Allah melakukan "sumpah" tersebut? Tradisi Yahudi menganggap Angka tujuh – Ibrani: ืฉֶׁืַืข – SHEVA, Shin-Bet-Ayin berhubungan dengan kata yang bermakna "sumpah," yaitu: ืฉָׁืַืข – SHAVA, Shin-Bet-Ayin. Angka tujuh dalam kepercayaan Israel, adalah simbol umum untuk segala hubungan dengan Allah dan merupakan angka religius favorit di kalangan Yahudi, angka 7 melambangkan perjanjian kekudusan dan pengudusan. Pemakaian pada Kejadian 4:15 ini merupakan sumpah Allah, bahwa Dia mencintai kehidupan. Apakah bersumpah bagi orang Israel dalam konteks PL diperbolehkan? Sehingga Yesus memberikan perintah baru? Apakah "sumpah" hanya khusus dilakukan oleh Allah saja karena pasti dipenuhi dan digenapi? Apakah "sumpah" itu sakral? Mengucapkan sumpah bermacam cara (Kejadian 24:2-3; Ulangan 32:40) dan rumusan (Kejadian 31:50; Bilangan 5:22; Hakim 8:19; 2 Raja 2:2; Yeremia 42:5; Matius 5:34-36; 23:16). Sering dampak-dampak yg mengerikan dari sumpah yg tidak dipenuhi tidak dikemukakan (2 Samuel 3:9; tapi lihat Yeremia 29:22). Pentingnya sumpah ditekankan dalam hukum Musa (Keluaran 20:7; Imamat 19:12, Mungkin ini pertanyaan esktrimnya, Apakah Firman Allah di PL dan Yesus Kristus sebagai Firman Allah di PB dapat dikatakan tetap konsisten? Apakah mungkin Yesus sedang melakukan peningkatan taraf "sumpah" dalam hukum Taurat kepada taraf/hakikat yg lebih tinggi menjadi "kejujuran/kepastian" antara "ya" dan "tidak"? Dalam Kerajaan Allah pada akhirnya sumpah tidak diperlukan (Matius 5:34-37). Kristus sendiri diperhadapkan dengan sumpah (Matius 26:63 dab), dan Paulus juga bersumpah (2 Korintus 1:23; Galatia 1:20). Pengikut-pengikut kristus harus dikenal sebagai pelaku perkataan mereka, baik pria maupun wanita. Apabila mereka dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai perhatian khusus yang teliti terhadap kebenaran , maka segala yang mereka katakan akan dipercaya walau tanpa sumpah sekalipun. Ini bukan sekedar teori; ini merupakan kenyataan dalam pengalaman. Reputasi seseorang dalam kejujuran itulah yang diajarkan Yesus, sehingga murid-muridNya karena reputasinya orang mempercayai bahwa kata-katanya selalu berdasarkan fakta yang benar, mengatakan ya karena ya, dan mengatakan tidak karena tidak. Jikalau seseorang sudah dikenal kejujurannya, siapapun tak akan menuntut suatu sumpah darinya. Percakapan sehari-hari orang Kristen haruslah sama sucinya dengan sumpahnya. Dia tidak boleh berbicara dengan "standard kebenaran yang berbeda," atau standard ganda perkataan dan tingkah-laku haruslah sesuai. Dia tidak boleh mempunyai dua ukuran tentang kebenaran, seperti orang Yahudi tertentu yg memakai ukuran licik berkaitan dengan sumpah. Dan, sedikit menambahkan: maka, apa yang dikatakan oleh Kristus dalam Matius 5 : 33 – 37 bukanlah merupakan suatu perintah baru, melainkan Ia hendak menekankan wajibnya menjaga kejujuran dalam segala hal, situasi, dan kondisi. Singkatnya, kapan pun, di mana pun, dan bagaimana pun, Gereja Tuhan harus senantiasa bersikap jujur dan terbuka dengan fakta. Jika ini telah tercapai dalam hidup Gereja, maka apakah lagi gunanya bersumpah? Sumpah bukanlah dilarang, melainkan memang tidak lagi diperlukan. Namun, kenyataan ini tidak serta-merta berarti kita harus menjadi bersikap "anti sumpah". Apabila hukum memang mewajibkan kita bersumpah, maka kita gak bermasalah untuk melakukan itu. Misalnya saja sumpah pelantikan jabatan, jangan memaksakan perkataan Kristus yang dimaknai "terlalu literal" (ditelan mentah-mentah, tanpa menimbang maksudnya secara mendalam apalagi mencomot dan melepaskannya dari konteks atau latar belakang penulisannya) menjadi batu sandungan bagi kita. Satu hal yang perlu kita renungkan ialah, Kristus sangat senang memberikan bahasa-bahasa alegoris, sehingga makna di balik kata-kata-Nya jauh lebih mendalam dibandingkan arti harfiahnya. Mengapa dahulu Allah sendiri memberikan contoh dengan cara bersumpah, sedangkan kemudian, di masa-masa awal masehi, Kristus malah "melarang" untuk bersumpah? Sekilas, hal ini memang terlihat bertentangan, bukan? Namun, inilah yang disebut sebagai wahyu progresif, seperti halnya yaitu mengenai pemahaman akan Allah Tritunggal Mahakudus. Sebab sepanjang sejarah Perjanjian Lama, bangsa Israel ialah bangsa yang tegar tengkuk, sehingga mereka seringkali meragukan kuasa dan kedahsyatan Sang Allah. Apakah akar dari segala dosa? Ya, meragukan Tuhan. Karena kondisi Israel maka Allah bersumpah, peristiwa bersumpahnya Allah demi diri-Nya sendiri yang acap kali terjadi di masa Perjanjian Lama juga merupakan suatu bahasa anthropomorfisme (seperti halnya "Allah menyesal", "Allah menangis" dan sebagainya). Maka, akan menjadi sulit apabila kita memahaminya secara terlalu harfiah. STT BAPTIS INJILU, 2021, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO
Jumat, 08 Oktober 2021
๐ซSABDA NYUNAR๐ซ Beragama Fundamentalistik dan Legalistik, Mendidik manusia dewasa atau anak-anak?
๐ซSABDA NYUNAR๐ซ Beragama Fundamentalistik dan Legalistik, Mendidik manusia dewasa atau anak-anak? Bacaan Alkitab injil Markus 10:17-31, Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan seseorang mendatangi Yesus dan bertelut. Ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kulakukan untuk memeroleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Engkau tentu tahu segala perintah Allah: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan bersaksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayah dan ibumu.” Orang itu berkata lagi, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Yesus memandang orang itu dan menaruh kasih kepadanya. Kata Yesus, “Hanya satu kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin…dan ikutlah Aku.” Mendengar jawaban Yesus, ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, karena banyak hartanya. Setelah orang itu pergi, Yesus memandang murid-murid-Nya. Kata Yesus, “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Yesus adalah pengajar lisan. Ia tidak mungkin mengajar atau mengajukan banyak pertanyaan sekaligus dalam satu kalimat seperti bacaan di atas. Ia akan bertanya satu per satu. Kira-kira Yesus bertanya, “Apakah kamu membunuh?” Orang itu menjawab, "Tidak.” Yesus bertanya lagi, “Apakah kamu berzinah?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Demikian seterusnya sampai pada akhirnya orang itu tidak sanggup menjawab pertanyaan atau tepatnya ajakan Yesus tentang hakikat menjalankan misi Kerajaan Allah. Begitu sulitnya orang yang dikuasai harta atau ideologi untuk diajak percaya pada kebenaran hingga Yesus mengumpamakan “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Untuk memasukkan ajaran kepada anak kecil sangat mudah. Anak kecil menerima apa saja yang digelontor oleh pengajarnya. Saking mudahnya menerima ajaran, maka pembuatan kurikulum pendidikan untuk anak sangat ketat agar anak tidak salah didik. Mengajar orang dewasa jauh lebih sulit. Orang dewasa sudah memiliki prapaham yang kemudian dijadikan benteng ideologinya. Strategi gereja memumpunkan pengajaran orang dewasa penuh tantangan, karena dalam kenyataan cukup banyak warga gereja yang sudah tertanam ideologi tertentu tidak berkehendak menjadi dewasa. Misal, meski sudah dijelaskan kisah Nabi Yunus ditelan ikan besar adalah metafor, tetap saja hal itu dipahami kisah historis. Bahkan ditambahkan dengan ikan paus agar kelihatan heroik. Alkitab adalah firman Allah sehingga tidak mungkin salah. Padahal pernyataan “Alkitab adalah firman Allah” itu sendiri adalah metafor. Sejak Jokowi berkuasa, secara kasat mata pembangunan fisik dan manusia di Papua melaju kencang. Hanya di masa Jokowi Papua dapat menyelenggarakan PON dengan fasilitas olahraga yang amat sangat baik. Konektivitas antar-daerah semakin lancar. Jalan Trans Papua sepanjang 3.462 km segera tersambungkan; tinggal 16 km lagi. Harga barang, terutama BBM, semakin terjangkau. Dalam pada itu para pembenci Jokowi tidak melihat pembangunan di atas sebagai kemajuan. Mereka sudah tertanam ideologi: apa pun salah Jokowi. Ya, memang kemajuan kemajuan Papua masih belum sempurna. Akan tetapi apa yang sudah dikerjakan oleh Jokowi jauh melebihi para pendahulunya. Mengajak berdialog dengan pembenci Jokowi sama sulitnya dengan berdialog dengan orang kaya di atas mengenai masuk ke dalam Kerajaan Allah. Masuk ke dalam Kerajaan Allah berarti menjalankan misi Kerajaan Allah dengan menghadirkan keadilan Allah, yaitu berbelarasa dan memberdayakan masyarakat marginal atau pinggiran seperti masyarakat Papua. Dengan kata lain menciptakan keadilan sosial. Tentu upaya itu tidaklah mudah. Dalam konteks bacaan di atas berbelarasa diungkapkan dengan berbagi dengan sesama. Namun orang kaya itu lebih menjalankan agama secara legalistik; boleh dan tidak boleh. Pembenci Jokowi maunya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu langsung turun dari langit tanpa perlu berpeluh. Maunya mereka langsung mendapat bagian rejeki lewat “komisi pembangunan”. Cara beragama orang kaya di atas juga mirip warga gereja yang berwatak fundamentalistik; mereka yang menggadang-gadang ideologi Alkitab tidak salah karena tulisan yang diilhamkan oleh Allah. “Pokoknya Alkitab tidak salah. Kamu liberal dan sesat!” kata mereka. Padahal, kalau mereka hidup di zaman Yesus, patut diduga mereka berdiri di barisan terdepan berteriak, “Bunuh Yesus! Salibkan Dia!”. Mengapa? Yesus itu liberal. Buktinya, Yesus lebih mementingkan bekerja menolong banyak orang ketimbang berdoa (Mrk. 1:29-39), Yesus membela murid-murid-Nya tidak mencuci tangan sebelum makan (Mrk. 7:1-23). Yesus itu radikal. Buktinya dalam bacaan Injil hari ini menjalankan Dasa Titah menurut Yesus belumlah cukup, masih ditambah perintah menjual seluruh harta dan membagikan kepada orang-orang miskin.๐๐๐ Selamat terdidik๐๐๐ Tuhan memberkati
Sabtu, 02 Oktober 2021
๐ซSABDA NYUNAR๐ซ KEKANAK-KANAKAN, “Everybody knows how to raise children, except the people who have them.” P. J. O'Rouke
๐ซSABDA NYUNAR๐ซKEKANAK-KANAKAN, “Everybody knows how to raise children, except the people who have them.” P. J. O'Rouke. strategi gereja dalam membina warganya memumpunkan orang dewasa, karena seperti kata Lawrence O. Richard, ”The bible really is an adult book, written by adult and for adult.”. Gereja mencerap secara umum bahwa orang dewasa adalah orangtua dalam keluarga. Mendidik orang dewasa dengan sendirinya mendidik anak-anak, karena orangtua menjadi pendidik anak-anak di keluarga. Injil Markus 10:1-16, Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan Yesus berangkat dari Kapernaum ke daerah Yudea dan daerah seberang Sungai Yordan. Pada saat Yesus mengajar orang-orang di sana, datanglah orang-orang Farisi untuk kembali menjajal Yesus. Kata mereka, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?” Yesus menjawab mereka dengan pertanyaan, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya.” Tanggap Yesus, “Justru karena kengรจyรจlanmu, maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu…” Setiba di rumah rupanya para murid belum mengerti apa yang disampaikan Yesus kepada orang-orang Farisi itu. Yesus kemudian menjelaskan kepada para murid. Setelah Yesus menjelaskan, datanglah anak-anak kecil yang dibawa orang-orang kepada Yesus. Para murid dengan sigap menghalangi dan memarahi orang-orang itu, tetapi Yesus justru memarahi para murid. Kata Yesus, "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil , ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka. Kita tidak hendak mengulas apakah perceraian diperbolehkan di kalangan Kristen. Dari bacaan di atas Yesus hendak mengajar perbedaan menaati hukum-hukum tertulis sehingga orang menjadi pelaku legalistik dengan pengetahuan hakikat perkawinan. Orang Farisi menonjolkan Hukum Musa yang berat sebelah karena dilihat dari sisi laki-laki, sedang Yesus menyoroti kedua sisi; laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut Yesus hendak menyampaikan hal yang jauh lebih penting, yakni menyambut Kerajaan Allah. Seperti yang sudah sering saya sampaikan kehadiran Kerajaan Allah itu berarti menghadirkan keadilan sosial dan berbelarasa serta memberdayakan pihak yang lemah.Yesus kembali menyajikan metafor anak-anak kecil dalam menyambut Kerajaan Allah. Yesus menegaskan untuk menyambut Kerajaan Allah seperti anak kecil. Ayat ini (Mrk. 10:15) sering dijadikan “ayat emas” oleh orang dewasa untuk mengelak belajar. Pokoknya apa yang dikatakan oleh pendeta di KKR ikuti saja, kata mereka. Ular yang berbicara dengan Hawa adalah iblis, kata mereka lagi. Itu namanya kekanak-kanakan atau childish, bukan seperti anak-anak atau childlike dalam ayat itu. Sikap kekanak-kanakan itu justru jauh dari maksud ayat itu. Seperti anak kecil itu apa berarti tidak perlu berpikir? Bukan, itu (sekali lagi) namanya kekanak-kanakan. Childlike berarti showing the good qualities that children have. Anak-anak selalu menaruh kepercayaan secara penuh kepada orangtuanya. Apa pun yang diberi oleh orangtuanya ia menerima dengan penuh antusias. Seorang anak kecil digendong orangtuanya menyeberang jembatan sempit. Ia tidak panik, karena ia percaya kepada orangtuanya. Itu yang dimaksud dengan seperti anak-anak atau childlike. Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah yang berarti menghadirkan keadilan sosial dan berbelarasa serta memberdayakan pihak yang lemah. Nah, ajaran Kerajaan Allah inilah yang harus disambut seperti anak-anak menyambut. Dalam kenyataan mengemban misi Kerajaan Allah itu penuh risiko dan memang seperti itulah menjadi pengikut Kristus; seperti anak percaya penuh kepada orangtuanya ketika diajak berjalan di antara semak belukar; seperti anak antusias menerima hadiah dari orangtuanya. Dalam kenyataan gereja menghadapi banyak tantangan. Cukup banyak warga dewasa tidak berkehendak menjadi dewasa. Mereka menghindari benturan iman. Mereka abai pada isu-isu etis. Mereka lebih suka makanan bayi dengan mendengar khotbah berwatak fundamentalistik. Tak jarang kita menjumpai orang-orang dengan tubuh dewasa, tetapi cara beragama mereka kekanak-kanakan.Jika menyambut Kerajaan Allah seperti anak-anak dimaknai tidak makek mikir, maka ajaran Yesus “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akalbudimu” menjadi tak berguna. Ayub sudah mengingatkan, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10). Saban akhir September selalu ada orang yang membangkitkan isu komunis seperti yang dilakukan oleh Gatot Nurmantyo (GN). Saya yakin seyakin-yakinnya mantan Panglima TNI ini tahu bahwa komunis sudah tidak ada di Indonesia, baik di kalangan sipil maupun militer. Sekarang ia sudah menjadi politikus haus kekuasaan. Ia tahu bahwa banyak rakyat Indonesia masih childish dalam berpikir. Ia menggunakan pikiran kekanak-kanakan rakyat Indonesia untuk menelan isu itu tanpa mengunyahnya demi mencari pengikut. Sama halnya dengan para fundamentalisme. Mereka tahu bahwa masih banyak warga gereja yang kekanak-kanakan; warga yang masih membutuhkan endorsement kepastian atau jaminan keselamatan seperti kanak-kanak butuh permen atau mainan. Belum lagi serbuan lewat medsos yang mengatakan bahwa Alkitab itu palsu. Makin kencanglah “kanak-kanak” itu menangis. Para fundamentalis memenuhi kebutuhan permen itu. Amin! Haleluya! Sejenak mereka mengisap candu dan kesurupan dalam ibadah. Usai ibadah mereka kembali memeras para pekerja, mencuri uang negara, memburu rente, tidak peduli pada golongan rapuh masa pandemi, dlsb. Halelupa! ๐๐๐Selamat mendewasa๐๐๐Tuhan memberkati
Selasa, 28 September 2021
KRITIK, SWARA KENABIAN
Psikiater Limas Sutanto pernah mengatakan bahwa melayangkan kritik (ke Pemerintah) sebagai wujud keluhuran. Keluhuran kritik terletak pada motif altruistik yang menggerakkannya. Motif altruistik merupakan keinginan untuk memedulikan dan memerhatikan kesejahteraan rakyat.Dalam kehidupan sehari-hari kritik yang dijumpai jauh dari wujud keluhuran. Limas mengajukan tiga motif yang melawan keluhuran kritik.Pertama, motif yang berakar dalam nyeri jiwani yang belum terselesaikan. Misal, orang- orang yang haus kekuasaan, namun amat kecewa lantaran tidak dapat berkuasa.Kedua, motif yang berakar dalam keinginan kuat untuk merajai dan mengendalikan. Mereka yang memiliki keinginan seperti itu adalah orang-orang yang gelisah atau cemas ketika melihat berbagai hal lepas dari kuasa dan kendali mereka.Ketiga, motif yang berakar dalam keinginan yang berlebihan untuk mendapatkan pembenaran. Mereka yang pernah melakukan banyak kesalahan dapat merasa seolah-olah kesalahan-kesalahannya tidak terlalu parah lagi hanya karena mereka gencar melontarkan kritik-kritik yang diselubungi dengan membela rakyat dan mencerca Pemerintah.
Ketiga motif yang menggerakkan kritik di atas menghasilkan kebisingan belaka dan tidak cukup kuat menggerakkan perubahan yang menyejahterakan rakyat. Keluhuran kritik haruslah bermotif altruistik. Ketika manusia menjadi makin altruistik, ia dapat melancarkan kritik-kritik yang luhur. Di dalam kekristenan kritik bermotif altruistik dikenal dengan suara kenabian. Gereja (baca: orang Kristen) harus terus-menerus menyampaikan suara kenabian. Suara kenabian dapat lewat khotbah-khotbah, tulisan, dan penyampaian langsung ketika hak-hak rakyat dikebiri oleh penguasa, ketika penguasa menjadikan rakyat seperti budak, ketika penguasa mencuri kekayaan negara yang merupakan hak rakyat, dan lain sejenisnya. Gereja yang tak menyampaikan suara kenabian bukanlah gereja. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, 2021, TUS
Senin, 27 September 2021
ABSURDITAS, RUGI DUA KALI, SERIAL SUDUT PANDANG
Mitologi Sisyphus menginspirasi Albert Camus. Ia menulisnya dalam esai berjudul Le Mythe de Sisyphe (1947). Di situ dia tampilkan filsafat absurditas. Suatu faham bahwa alam semesta tidak rasional. Segala pekerjaan berujung pada kesia-siaan. Menghadapi absurditas itu, Camus bereaksi. Melalui Sisyphus, ia anggap absurditas bukan sesuatu yang sia-sia. Bahkan pekerjaan berulang yang dilakukan yaitu mendorong batu ke puncak bukit dan batu itu menggelinding kembali ke bawah tidak dianggap terkutuk. Tidak ada yang sia-sia dalam pekerjaan apa pun. Betapa pun kadang tidak masuk akal! Kita ikuti saja strategi Sisyphus. Apa strateginya? Ia menikmatinya! Ikhlas menerrimanya! Memang, yang dia sasar bukan hasilnya. Bukan outputnya. Sisyphus menikmati prosesnya! seperti para perempuan Nusa Tenggara Timur, penenun kain Timor, yang di saat menenun melakukan pekerjaan yang sama dan berulang-ulang. Mereka menikmati dan mencintai pekerjaan itu. Mereka menemukan makna hidup dalam tenunannya. Mereka mengerjakannya dengan gembira! Sisyphus berhasil menemukan hal menyenangkan dalam pekerjaannya. Seperti permainan sepakbola. Sebenarnya, ini permainan yang membosankan. Yang dilakukan hanya mengejar, merebut, lalu menendangnya. Itu saja! Itu pun dalam lapangan terbatas. Apa indahnya? Tetapi, para pemain menikmatinya. Penonton juga! Ada keindahan invincible yang membuat semua bahagia. Sisyphus menikmati pekerjaannya. Dia menemukan keindahan dan kenikmatan. Ini membuatnya bahagia. Dewa Zeus yang menghukum Sisyphus salah perhitungan. Dia kalah lagi! Telak! Mitos Sisyphus memberikan pesan penting. Kadang kita mengalami persoalan dan masalah yang kita tidak bisa hindari. Seorang teman baik saya sudah berupaya hidup sehat. Tidur cukup, menggunakan masker dengan baik, menyantap makanan yang bergizi, tetapi tetap terpapar Covid-19. Penyakit ini memang anarkis. Menyerang siapa pun. Tidak peduli apa pun jabatan dan profesi anda. Datangnya pun tidak diduga. Meski disiplin hidup sudah diterapkan tetap saja virus ini bisa menyentuhnya. WHO sampai mengeluarkan pernyataan bahwa mencuci tangan , jaga jarak, penggunaan masker, dan bahkan vaksin sekali pun bukan jaminan akan terhindar dari virus ini. Bah! Bila teman baik saya menyesali 'musibah' ini, dia telah salah merespons! Hidupnya akan hanya diisi dengan keluh kesah, plus, sumpah serapah. Dia rugi dua kali! Emosi terganggu. Imunitas melemah. Penyakit lebih parah! Para ahli ilmu kedokteran sudah mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 ini sudah jadi sindemi. Penyakit ini telah merangsang bangkitnya penyakit-penyakit lain yang sudah ada dalam tubuh kita. Banyak korban Covid-19 yang penyakitnya makin kronis gara-gara penyakit-penyakit lain bangkit dan bersinergi. Moga hal ini dijauhkan dari diri kita! Janganlah! Kita harus lebih kuat. Oleh karena itu, jangan gelisah dan terus-menerus mengeluh. Kita harus belajar menerimanya, bahkan mencintai dan menikmati situasi yang ada. Susah memang! Tetapi kita harus tetap cool dalam segala keadaan. Bersabar dalam segala situasi! Lalu, berpikir apa aspek positif yang harus aku kerjakan. Now! Jangan uforia, jangan senang sesaat hanya karena sudah vaksin ke 2, atau bahkan booster vaksin 3, liat sudah banyak boom yang ke 3 di negara-negara laen. Bukan bearti pesimis juga, tapi waspada lebih baik. Golongan rentan sekarang berubah, golongan rentan adalah golongan yang blom vaksin ke 2 atau tidak mau vaksin. Karena mereka penerima risiko terbesar, ini golongan lemah. Ingatlah, teladan Yesus untuk selalu melindungi golongan lemah, makanya seharusnya standar syarat vaksin ke 2 untuk semua kegiatan menjadi syarat mutlak, kalau tidak kita sebetulnya tidak meneladan Kristus, karena kagak pro dengan golongan rentan. Janganlah pula kita malah membuka peluang menambah kapasitas yg membuka peluang berkerumun, walaupun dengan alasan sudah prokes. Jadi ingat peristiwa saat Yesus menghardik murid-muridNya. Perahu mereka diterjang badai. Para murid panik. Mereka ketakutan. Berteriak-teriak tidak keruan. Mengeluh seperti orang kesurupan. Kehilangan kontrol diri. Padahal kepanikan tidak menolong apa pun. Tetapi ekspresi mereka tanda bahwa iman mereka kualitas minyak oplosan. Sudah campuran. Tak murni lagi! Yesus yang lagi enak tidur langsung dibangunkan. Padahal mungkin lagi mimpi enak! Kanjeng Yesus pasti kaget. Dia langsung bangkit. Di hadapanNya murid-muridNya pucat pasi, ketakutan tidak karuan! Lalu, Yesus menghardik keras ke arah topan, sekaligus membentak murid-muridNya. Saat topan mereda, Yesus melihat murid-muridNya. Saya pastikan Yesus menggeleng dan menggaruk-garukan kepalaNya yang tidak gatal, Dia katakan:” Mengapa kamu takut? Mengapa kamu tidak percaya…?” Ada di dekatKu pun kamu ketakutan. Absurd! Tak masuk akal. Mentalitas looser! Pertanyaan Yesus untuk kita semua: mengapa kamu tidak percaya...? Pesan cerita ini sederhana. kita butuh kemampuan mengontrol persoalan dan masalah. Ini benar! Tetapi dalam banyak situasi, yang lebih butuhkan adalah mengontrol diri sendiri! Tetap tenang dan adem di dalam segala situasi, selalu waspada, jangan terpancing untuk kesenangan sesaat atau uforia. Ombak dan gelombang yang di dalam diri kita sering jauh lebih besar daripada yang terjadi di luar kita. Redakan ketakutan dan kegelisahan. Bila gagal mengontrol diri, kita rugi dua kali! Bahkan rugi 3 kali. STT BAPTIS INJILI, 2021, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO
Sabtu, 18 September 2021
KENYATAAN DOA, MENGERTI YANG AKU IMANI, SERIAL DIMENSI DOA
Doa bukan merupakan jalan untuk lari dari kenyataan hidup, melainkan sebuah upaya penyelidikan kehendak Allah dan kehadiranNya didalam tanda-tanda zaman serta peristiwa-peristiwa hidup, untuk menemukan keputusan yang seiring sejalan dengan kehendakNya. Doa adalah tenaga hidup yang mempengaruhi harapan terhadap diri kita sendiri dan terhadap sesama serta menembusi hari manusia (1 Korintus 13). Doa biasanya dihubungkan dengan meminta, itulah sebabnya ada istilah permintaan doa atau permohonan doa. Seolah dalam doa itu kita hanya meminta atau memohon, betul begitukah? Kita lihat bahwa doa mempunyai cakupan yang lebih luas daripada hanya meminta dan itu terlihat dalam alkitab, dalam alkitab doa bukan hanya meminta tapi berteriak, sorak sorai, berkeluh kesah, bersujud, berseru, bersyukur, memuji, memuja, meratap, mengadu, menyembah, mengagungkan, memanggil, dll. Banyak kita lihat umat memperlihatkan doa yang sangat emosional, apakah memang doa adalah percakapan yang emosional? Emosi memang bagian dari hidup, tapi kalau kita lihat, kita kaji, dan kita simak, doa juga merupakan penjabaran dari akal budi, “AKU BERDOA DENGAN ROHKU, TETAPI AKU AKAN BERDOA JUGA DENGAN AKAL BUDIKU” (1 Korintus 14:15). Sebetulnya, kepada siapa kita berdoa? Doa-doa diarahkan kepada Allah. Umat Kristiani berdoa kepadaNya melalui perantaraan Yesus Kristus di dalam Roh Kudus. Jikalau kita berdoa kepada Yesus, harus diperhatikan bahwa doa itu dialamatkan kepada Allah Tritunggal, maksudnya, kita berdoa dalam dan Bersama Yesus di dalam kekuatan Roh Kudus Allah sendiri. Kenapa sich kita berdoa? Kebanyakan dari kita berdoa karena takut dan gentar pada Allah, ketika manusia berhadapan dengan hal yang tidak dapat dikuasai apalagi dipahami maka akan nada rasa takut dan gentar, misalkan kematian, gempa bumi, gunung Meletus, topan, petir, dll. Di hadapan hal atau kuasa seperti itulah, manusia merasa kecil dan tak berdaya, sumbernya darimana? Kuasa apa yang menyebabkan? maka hal atau kuasa itu dianggap misteri atau MYSTERIUM TREMENDUM (misteri yang dahsyat menggentarkan atau tak terpecahkan), yang berikutnya, kebanyakan dari kita berdoa karena merasa tertarik dan terpesona kepada Allah, ketika manusia merasakan sesuatu yang baik, menyenangkan, membahagiakan, menentramkan, dan menakjubkan, dihadapan hal atau kuasa seperti itu manusia merasa aman, damai dan bahagia, seperti ketika berhadapan dengan rejeki, hasil panen, pergantian malam dan siang, kelahiran, kebahagiaan, yang bagi manusia juga misteri, sumbernya darimana? Kuasa apa yang menyebabkan? Maka misteri itu dianggap menggemarkan atau MYSTERIUM FASCINOSUM (misteri yang mengasyikan atau menggemarkan). Terhadap misteri Allah, yang menggentarkan sekaligus menggemarkan, manusia menjadi gentar tapi juga gemar, karena sikap gentar dan gemar itu dari kalbu hatinya atau nuraninya mulailah manusia memuja dan meminta, pujaan dan permintaan itu terucap keluar melalui bibir manusia dan menjadi kata-kata, itulah doa, jadi manusia berdoa karena merasa gentar dan gemar kepada Allah. Dalam doa, manusia memohon kepada Allah, namun cara Allah mengabulkan permintaan itu tidak selalu sesuai dengan apa yang dibayangkan manusia. Dalam kebebasanNya, Allah dapat saja mengabulkan doa dengan cara yang sama sekali berbeda dengan pemikiran manusia, itulah misteri Allah. Bahkan mungkin Allah mengabulkan doa dengan cara yang bertentangan dengan pemikiran manusia. Pada waktu kita meminta kesembuhan, mungkin yang Allah berikan adalah kekuatan untuk menghadapi kenyataan bahwa kita harus hidup dengan mengidap penyakit tersebut. Pada waktu kita meminta sesuatu pada Allah, mungkin Allah malah membuka kesempatan supaya kita menyumbangkan sesuatu. Dengan begitu, Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Walaupun bukan itu yang kita inginkan, tetapi itulah kebutuhan kita yang sesungguhnya. Maka kita seharusnya paham apa yang dituliskan dalam injil Matius 6 ayat 8, “BAPAMU MENGETAHUI APA YANG KAMU PERLUKAN SEBELUM KAMU MINTA KEPADANYA”. Terkadang, kita menyakini kalau terkabulnya doa tergantung dari factor orang yang berdoa, makanya terus ada yang menyatakan TEAM PENDOA, talenta saya adalah PENDOA, terus ada yang mendapuk dirinya sebagai PENDOA, yaitu terkabulnya doa dipahami karena kuat iman dan gigihnya doa seseorang, nah…kalau doanya tak terkabul, maka doanya makin emosional lagi, atau malah frustasi ngambek, kaya anak kecil minta tak dikasih terus merengek dan ngambek. Seharusnyalah doa itu rasional bersifat realitis, sadarilah tidak setiap doa dapat terkabul. Karena terkabulnya doa bukan tergantung dari yang berdoa, melainkan sepenuhnya tergantung dari kewenangan Allah, karena itu doa seharusnya tidak mendesak tapi tenang dan pasrah. Sering orang beranggapan kalau Allah maha kuasa, maka Allah pasti dapat mengabulkan setiap doa, seharusnya pemikiran yang benar, benar bahwa Allah maha kuasa, dan karena Allah maha kuasa maka Allah punya hak untuk dapat mengabulkan doa atau menolak doa. Orang kadang merasa Allah itu miliknya sehingga pasti mengabulkan doanya, apa itu tidak membuat Allah seperti pembantu kita malah? Allah dijadikan untuk kepentingan diri kita, seharusnyalah orang matang berpikir bahwa Allah tidak dapat dimiliki ataupun dipengaruhi oleh manusia, Allah itu berdaulat harus disadari penuh, sehingga Allah tidak berkewajiban mengabulkan setiap doa. Dalam doa pun kita sering terjebak kedalam sikap merasa diri lebih benar dan lebih rohani dibandingkan orang lain coba kita amati Lukas 18 :9 – 14, dan kaitkan dengan matius 23:3, belajarlah banyak tentang doa orang Farisi yang dikritisi Yesus. Jikalau, doa adalah mantra, maka pastilah ada rumusan doa, ada kunci kata-kata yang harus diucapkan, dan selalu diucapkan, apakah Doa Bapa Kami itu juga dapat diartikan sebagai sebuah mantra? Tidak, karena kita diberi kebebasan untuk memeluk anugerah Tuhan berupa doa dimana merupakan ungkapan hati dan juga akal budi kita di hadapan Tuhan, bebas ….. dan itu tak selalu dalam rumusan Doa Bapa Kami, tapi lewat rumusan Doa Bapa Kami, Yesus Tuhan ingin memberikan teladan tentang sebuah doa, yang pada latar belakangnya Yesus Tuhan ingin meneladankan sebuah contoh doa yang beda dengan doa yang dilakukan oleh orang Farisi, yang menjadi tradisi doa Farisi saat itu. Apakah dalam doa umat Kristiani juga ada semacam mantera? Ada orang yang mengira bahwa dalam doa umat Kristiania da kalimat tertentu yang perlu diucapkan pada tiap doa, yang berfungsi sebagai mantera, kalimat itu adalah “dalam nama Yesus” yang diambil dari Yohanes 14:13,14 dan Yohanes 16:23 “…… dan apa juga yang kamu minta dalam namaKu, Aku akan melakukannya …… jika kamu meminta ….. segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan kepadamu dalam namaKu”. Ada lagi rumusan yang sering keliru dianggap mantera adalah Bapa, Putra dan Roh Kudus, yang merujuk pada meterai baptisan yang diambil dari Matius 28 :19. Tidaklah heran apabila ada salah pengertian seperti itu, karena setiap agama purba percaya bahwa perkatan atau kalimat tertentu dapat bersifas magis dan mengandung kuasa atau kekuatan, entah itu protektif, produktif ataupun destruktif. Apa yang disebut oleh orang Jawa kitab Primbon memuat berbagai macam mantera. Lalu apa sebetulnya berdoa dalam nama Yesus atau dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus? Bila dikaitkan dengan latar belakang ayat-ayat alkitab tsb di atas, Yesus Tuhan mengucapkan kalimat itu untuk menyiapkan para rasul menghadapi waktu di mana Yesus Tuhan tidak berada lagi di tengah para rasul secara fisik, dan itu merupakan penugasan yang harus diemban. Yesus Tuhan menginginkan para rasul meneruskan pola hidup yang selama ini ditempuh oleh Yesus Tuhan. Untuk itu Yesus Tuhan menyuruh para rasul berdoa, menyuruh para rasul memetereikan sebuah tanda, yang maknanya adalah menyelaraskan hidup para rasul atau hidup kita dengan hidup Yesus Tuhan, atau memetereikan hidup para rasul atau hidup kita dengan hidup serta kasih karya penyelamatan Allah dari waktu ke waktu, yang dahulu jaman bumi dicipta sampai Israel dalam nama Bapa, dalam jaman Yesus Tuhan hidup di bumi dalam nama Putra, serta dalam jaman para rasul, gereja, bapa-bapa gereja sampai kedatangan kedua kali Yesus Tuhan dalam nama Roh Kudus. Kita diminta memetereikan hidup kita selaras kasih dan karya penyelamatan Allah. Setiap kali kita berdoa, sebetulnya kita patut bertanya dalam batin kita, apakah Yesus bila ada di tempat kita akan berdoa seperti kita? Apakah doa kita sudah selaras dengan kehidupan yang diteladankan Yesus Tuhan? Apakah doa kita sudah selaras dengan kasih dan karya penyelamatan Allah (Bapa, Putra, Roh Kudus) yang sudah dinyatakan kepada kita? Contoh sederhana, kalau kita berdoa minta kekayaan? Walaupun doa itu diucapkan dalam nama Yesus Tuhan atau dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, apakah doa itu selaras dengan gaya hidup Yesus? Apakah doa itu selaras dengan kasih dan karya penyelamatan Allah (Bapa, Putra, dan Roh Kudus) sepanjang masa? Sebab Yesus Tuhan tidak akan meminta kekayaan, sebab kasih dan karya penyelamatan Allah tidak berkaitan dengan kekayaan. Begitu pun ketika kita berdoa minta menang terhadap sesuatu dan lawan kalah, apakah Yesus Tuhan akan begitu? Apakah kasih dan karya penyelamatan Allah berkaitan dengan menang kalah? Berdoa dalam nama Yesus Tuhan sebenarnya adalah sebuah pengakuan bahwa kita sendiri sebetulnya tak lah berhak menyampaikan doa itu, melainkan Yesus Tuhanlah yang memungkinkan dan mendukung doa kita, kasih dan karya penyelamatan Allah (Bapa, Putra, dan Roh Kudus) sepanjang masa itulah yang memungkinkan kita berdoa, “ ……. Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Ibrani 8:6), Yesus Tuhanlah pengantara manusia dan Allah, kasih dan karya penyelamatan Allah sepanjang masa itulah pengantara manusia dan Allah. Tidak ada kalimat atau mantera yang dapat menjadikan doa kita lebih berkhasiat, dalam doa kita tidak ada mantera, dan memang tidak perlu ada. Inilah salah satu misteri hubungan manusia dengan Allah, di dalam menyatakan pertolonganNya, Allah tidak tergantung pada kata-kata yang kita ucapkan, Doa tidak tergantung pada perkataan kita, tapi pada Allah, Sang Maha, tergantung pada Allah yang berkehendak. Dalam doa, kita boleh datang sebagai manusia yang utuh, utuh antara kata dan rasa, supaya wajah kita bukan topeng, dalam doa kita boleh datang dengan wajah yang sesuai dengan hati kita, dalam doa kita tak perlu menyembunyikan perasaan kita. Kehidupan doa dapat timbul walaupun orang berada dalam keadaan kuwat dan stabil, kita patut berbicara kepada Allah meskipun kita tidak sedang membutuhkan sesuatu, hubungan yang sehat antara ayah dan anak tidak saja terjadi saat anak membutuhkan pertolongan tetapi setiap saat. Doa juga tidak perlu kita penuhi dengan kata-kata, doa sebaiknya luput dari bahaya inflasi kata, kata-kata berhamburan dengan murah dan mudah, baik nyaring maupun di dalam hati. Sebaiknya di dalam doa tak perlu mengobral kata, “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi, oleh sebab itu biarlah perkataanmu sedikit” (Pengkhotbah 5 : 1). Kadang kita perlu belajar berdoa tanpa kata, yaitu berdiam diri di hadapan Tuhan, Yesaya 30 : 15 “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu”. Ada juga yang memandang, tentang Lukas 22 : 42 dan Matius 6 : 9 – 13, serta Lukas 11 : 2 – 4, tentang “kehendakMulah yang Jadi”. Banyak yang terus yang menghubungkan hal tersebut dengan waktu, waktunya Tuhan yang menentukan. Sebetulnya, ketika ada di taman Getsemani, Yesus Tuhan sedang meneladankan bahwa sebagai manusia, liatlah teladan aku sebagai manusia, maka kamu, manusia kalau berdoa dalam kesulitan apapun, sebesar apapun kesulitan itu, dalam doa itu perlihatkanlah pengakuan bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, akuilah ke Maha an Tuhan, MANUSIA PUNYA KEMAUAN TAPI TUHAN PUNYA KUASA, Manusia diberi anugerah untuk meminta atau memohon tetapi kewenangan akan jawab doa adalah kewenangan Tuhan. Tuhan mengerti akan kebutuhan kita, Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita tapi bukan keinginan kita (Yakobus 4 : 3, Matius 6: 8, Filipi 4:19). Karena salah satu misteri doa adalah memasukan perasaan Tuhan dalam doa, bukan mengeluarkan perasaan kita. Manusia berbeda dengan tumbuhan dan binatang, manusia bukanlah sirkus atau taman botani, manusia dapat menjawab dan bertanggung jawab pada Allah, itulah dimensi doa, doa juga merupakan jawaban dan pertanggungan jawab manusia pada Allah. Karena itulah manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26, renungkan 2 Korintus 4 : 4 dan Kolose 1 : 15), artinya manusia mempunyai hubungan dengan Allah bahkan menjadi subjek di depan Allah, menjadi pribadi yang dapat anugerah bertatap muka dengan Allah, di situlah dimensi doa, menjadi jawab dan pertanggung jawaban manusia kepada Allah. Selamat memahami Doa, Tuhan memberkati, STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO
POINT MAKNA DOA BAPA KAMI, SERIAL DIMENSI DOA
Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita. Berikut ini akan kami jelaskan makna menyeluruh doa Bapa Kami yang akan kami ulas secara ringkas. Doa Bapa Kami, Bapa Kami, yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin. Berikut ini adalah penjelasan tentang point makna dari Doa Bapa Kami pd gereja baptis injili indonesia yang harus dipahami dengan baik, sebab ini menjadi salah satu cara beribadah agama Kristen yakni dengan memanjatkan doa untuk memuji dan memuliakan nama-Nya.
Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.
1. Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Yesus memberi nasihat pada para murid supaya mereka tidak berdoa seperti orang munafik dan hanya dijadikan simbol Kristen yang selalu memperlihatkan saat sedang berdoa di hadapan banyak orang.
2. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Yesus juga mengajarkan untuk tidak bertele-tele dalam berdoa seperti seseorang yang tidak mengenal Allah sehingga secara langsung bisa menyampaikan doa yang dibutuhkan pada Allah.
3. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Kehidupan Kekal, Dalam bahasa Aramaic, Bapa memiliki arti panggilan anak pada ayahnya dan karena kasih-Nya pada kita sebagai umat.Maka Yesus mengijinkan kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa kita. sebab Yesus sudah mengangkat kita sebagai saudara dan saudari-Nya. Setiap kali kita mengucapkan Bapa, sudah seharusnya kita mengingat jika kita sudah diangkat Allah Bapa menjadi anak-Nya karena pertolongan dari Yesus Kristus.
4. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Mengangkat Iman, Kata “kami” menjadi pengingat kita untuk memanggil Allah dengan sebutan Bapa karena Kristus. Saat mengucapkan kata ini berarti kita juga harus membayangkan Kristus yang sudah mengajarkan pada kita. Semua untuk memanggil Allah sebagai Bapa kami sebab Kristus tidak hanya mengangkat kita namun juga telah mengangkat semua saudara-Nya.
5. Doa Bapa Kami ini adalah doa gereja yang diperuntukkan pada Allah Bapa yang sudah mengangkat kita semua sebagai anak-anak-Nya. Dengan ini, sudah seharusnya kita merenungkan bahwa makna Doa Bapa Kami, sangat besar yang sudah dibayar oleh Tuhan Yesus untuk mengangkat kita menjadi anggota dari keluarga Allah yakni dengan cara mati di kayu salib.
6. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut.. Mengasihi dan Merelakan, Ini bermakna jika kita semua memiliki seorang Bapa yang ada di surga yang selalu mengasihi kita sampai merelakan Anak-Nya wafat di salib bagi kita semua dan ini dilakukan agar semua dosa serta kesalahan kita terampuni dan kita bisa mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi-Nya. Mengasihi dan merelakan, menjadi pedoman baku dalam kehidupan kita.
6. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut.. Dimuliakanlah Nama-Mu, Datanglah Kerajaan-Mu, Kata-kata ini bermakna kerinduan kita semua yang sangat menginginkan semakin banyak orang untuk mengenal Allah dan ini juga mengartikan jika kita sebagai umat-Nya sudah dipakai Allah untuk menjadi alat-Nya dalam memuliakan nama Allah. Ini juga sebagai pengingat supaya kita tidak hanya selalu mengejar kemuliaan kita sendiri dalam segala hal di dunia, sebab semua yang ada pada diri kita sebenarnya adalah milik dari Allah sehingga kita harus memakainya dalam nama kemuliaan Tuhan.
7. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. . Jadilah Kehendak-Mu diatas Bumi Seperti di Dalam Surga, Kata ini bermakna penyerahan diri dengan seluruh kerendahan hati kita pada Tuhan dan juga masyarakat. Kita sebagai manusia, seringkali memaksa saat memohon pada Tuhan. Akan tetapi dengan kata yang terdapat dalam doa Bapa Kami ini, Yesus mengajarkan kita untuk selalu berserah pada Bapa. Sebab Bapa mengetahui semua yang kita butuhkan dan terbaik, tidak hanya untuk di dunia namun juga kehidupan kekal di surga.
8. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang
sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Berilah Kami Rejeki Pada Hari Ini, Kata dalam doa Bapa Kami ini memiliki arti jika Yesus sangat mengasihi dan peduli pada kita sehingga Yesus mengajarkan doa ini pada kita. Ini menjadi pengingat jika rejeki kita merupakan berkat yang kita peroleh dari Tuhan dan Tuhan sudah mengijinkan kita untuk memperoleh rejeki pada hari ini. Berilah Kami Rejeki Pada Hari Ini, serta mendapatkan kesehatan serta hidup sampai saat ini dan membuat kita bisa menikmati rejeki yang sudah Tuhan berikan untuk kita. Ini juga mengingatkan makna Doa Bapa Kami kita pada orang yang sedang berkekurangan, sebab rejeki yang kita peroleh hari ini tidak sepenuhnya milik kita, namun juga harus kita bagi pada orang yang berkekurangan.serta mendapatkan kesehatan serta hidup sampai saat ini dan membuat kita bisa menikmati rejeki yang sudah Tuhan berikan untuk kita.
9. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. . Dan Ampunilah Kesalahan Kami Seperti Kamipun Mengampuni yang Bersalah pada Kami. Kita bisa melihat jika tidak ada penekanan pada kata :ampunilah kami” namun lebih kepada diri kita yang mengampuni orang lain yang sudah bersalah kepada kita sehingga nantinya kita juga bisa diampuni oleh Bapa. Tuhan akan mengampuni semua kesalahan kita, jika sebelumnya kita juga sudah mengampuni sesama yang bersalah pada kita. Tentu saja, perkataan ini akan sangat sulit diucapkan khususnya saat kita sedang merasa sakit hati dengan sikap yang dibuat orang lain pada kita.
10. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Dan Janganlah Masukkan Kami ke dalam Pencobaan, Tetapi Bebaskanlah Kami dari yang Jahat. Makna dari perkataan ini adalah kita harus menyadari jika kita hanyalah manusia lemah yang sangat mudah jatuh ke dalam dosa dan juga kesalahan. Kita sebagai manusia belum sepenuhnya bebas dari segala cobaan dan juga godaan seperti masalah keluarga dan pekerjaan, masalah kehidupan, menghadapi sakit sebuah penyakit, ketakutan akan masa depan dan sebagainya. Ini juga sebagai pengingat jika kita tidak boleh terlalu sombong dan yakin jika kita tidak akan jatuh ke dalam dosa kembali. Sebab ada kalanya saat seseorang sedikit saja menyinggung perasaan kita, maka kita akan langsung kehilangan rasa kesabaran. Maka lebih baik kita selalu berjaga-jaga dan terus meminta kekuatan pada Tuhan dan bergantung pada-Nya.
Kesimpulan yang bisa kita ambil dari doa Bapa Kami yang terbilang singkat dan sederhana, sebenarnya renungan singkat kristen ini memiliki arti yang sangat mendalam. Dengan lebih meresapkan doa Bapa Kami ini, kita juga bisa menilai apakah doa yang sudah kita ucapkan selama ini sudah cukup baik. Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut sehingga kita bisa melaksanakan cara berdoa yang benar. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO, 2017
Sabtu, 11 September 2021
๐ซSABDA NYUNAR๐ซBERSAKSI
๐ซSABDA NYUNAR๐ซ, Doyong Kepenyintasan dalam Kesaksian
Adegan “kesaksian” 1: Seorang laki-laki Kristen bersaksi di hadapan jemaat. Ia seorang pekerja keras dan rajin ke gereja. Berkat kerja kerasnya bertahun-tahun ia menjadi pengusaha kaya. Dengan kekayaannya ia mudah mencari teman. Saban libur akhir pekan ia habiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Ia tidak lagi ke gereja. Tak seberapa lama usahanya ambruk. Ia bertobat dan kembali lagi rajin ke gereja. Tak butuh waktu lama ia kembali mengibarkan bendera usahanya dengan gemilang. Ia menyampaikan kepada jemaat, apabila kita mau bertobat, maka Tuhan akan memberi segala kebutuhan kita dengan berlimpah. Ada amiiiin? Amiiiin!
Adegan “kesaksian” 2: Seorang perempuan Kristen bersaksi di hadapan jemaat. Ia mengaku belum lama berpindah ke agama Kristen. Sebelumnya ia bersaksi hidupnya berantakan, jatuh miskin, dan sakit keras. Ia rindu dijamah oleh Tuhan. Suatu malam ia merasa dijamah oleh Yesus dan penyakitnya tersembuhkan. Singkat cerita ia dibaptis dan menjadi Kristen. Sejak itu hidupnya berubah 180 derajat, berkelimpahan. Ia laris diundang oleh jemaat Kristen untuk bersaksi. Ia menyampaikan kepada jemaat agar terus rindu dijamah dan merasakan Tuhan, maka hidup orang Kristen berkelimpahan. Ada amiiin? Amiiiin!
Apa yang dapat kita pelajari dari dua contoh “kesaksian” di atas?
Dua cuplikan “kesaksian” di atas adalah contoh doyong kepenyintasan atau dalam bahasa Jawa disebut survivorship bias. Doyong kepenyintasan ialah kesalahan logika yang disebabkan pemusatan perhatian pada orang atau benda yang berhasil atau selamat melewati suatu proses dengan mengabaikan mereka yang tidak berhasil atau tidak selamat sehingga mengarahkan kesimpulan yang salah. Dalam kenyataan ada banyak orang Kristen sejak kecil hidup saleh dan penuh cinta kasih seperti yang diajarkan Kristus. Mereka tidak pernah lalai beribadah Minggu, mengikuti persekutuan wilayah di luar Minggu, dan berbuat kebajikan bagi sesama. Namun mereka tetap hidup dalam kemiskinan. Dalam pandemi ini banyak orang Kristen, juga pendeta, meninggal dunia akibat Covid19. Apakah mereka orang-orang tak beriman? Contoh lain doyong kepenyintasan, seorang murid dari satu sekolah meraih medali emas olimpiade matematika. Masyarakat kemudian mencerap sekolah itu bagus kualitasnya tanpa melihat nilai keseluruhan murid-murid di sekolah itu.
Doyong kepenyintasan dipopulerkan oleh Abraham Wald, seorang ahli statistik Universitas Columbia. Pada Perang Dunia II AU AS meminta penguatan bagian-bagian pesawat yang ditembaki musuh. Wald membantah permintaan AU AS itu. Justru bagian-bagian terkena peluru musuh tidak perlu diperkuat, kata Wald, karena dalam kondisi tersebut pesawat dapat kembali dengan selamat. Yang diperkuat adalah bagian yang tidak tertembak. AU AS mengabaikan fakta pesawat-pesawat yang jatuh ditembak.
Kesaksian dari kata dasar saksi. Saksi di dalam Alkitab dipungut dari istilah yuridis. Saksi (martus) merupakan istilah pengadilan di Athena, Grika Kuno, yang masih digunakan dalam pengadilan modern. Orang yang disumpah menjadi saksi akan bersaksi (martureo) dengan menuturkan apa yang dilihat, didengar, atau dialaminya sendiri. Dengan demikian saksi haruslah objektif. Kesaksian (marturion) objektif di pengadilan dapat meringankan atau memberatkan terdakwa. Objektivitas kesaksian akan terusik,apabila terdakwa adalah rekan, saudara, atau orang miskin atau lemah sehingga saksi bersimpati sehingga menggoyahkan objektivitas. Sungguh sulit untuk menjadi seorang saksi. Apa pun kesaksiannya akan ada pihak yang dimaslahatkan dan dalam waktu yang bersamaan ada pihak yang dilancutkan.
Apabila saksi di pengadilan dibutuhkan keterangan objektifnya, menjadi saksi Kristus tidak cukup dengan berbicara tentang kebenaran Kristus. Seperti kata Yesus dalam Injil Lukas 24:48: “Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” Semuanya ini apa? Semuanya ini adalah keseluruhan narasi Injil Lukas. Menjadi saksi Kristus berarti menyaksikan seluruh karya Kristus dengan merefleksikannya dalam perilaku dan gaya hidup. Orang Kristen bersaksi bukan dengan menceritakan kisah hidupnya yang dijamah Yesus dan diberkati oleh Allah, kemudian memaksa para pendengar untuk mengikuti kisah hidup orang itu. Itu namanya survivorship bias.
Gereja adalah saksi Kristus dan untuk memberikan kesaksian itu gereja mendorong warganya untuk melayani. Melayani seperti apa? Melayani seperti Kristus melayani di dalam narasi Injil. ๐๐๐Selamat Bersaksi๐๐๐Tuhan memberkati
Jumat, 10 September 2021
๐ซSABDA NYUNAR๐ซ“It's not about how much we have lost, it's about how much we have left.” Tony Stark (IRONMAN).
๐ซSABDA NYUNAR๐ซ“It's not about how much we have lost, it's about how much we have left.” Tony Stark (IRONMAN).
Bacaan Alkitab Injil Markus 8:27-38. Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan Yesus dan murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada para murid, “Kata orang, siapakah Aku ini?” Jawab mereka, “Ada yang bilang: Yohanes pembaptis, Elia, dan satu dari para nabi.” Yesus kemudian bertanya lagi, “Apa katamu, siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias.” Mendengar itu Yesus kemudian mengajarkan bahwa Ia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, dibunuh, dan bangkit pada hari ketiga. Mendengar itu Petrus langsung tidak menerima perlakuan yang akan menimpa Yesus. Namun Yesus menghardik Petrus yang hanya memikirkan diri sendiri, tetapi tidak memikirkan hal yang jauh lebih besar. Yesus kemudian memanggil para murid dan orang-orang, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku. Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memeroleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.“Di sini Yesus hendak mengajarkan kepada para murid kata-kata saja tidaklah cukup. Petrus langsung menanggapi Yesus tidak hanya dengan kata-kata. Ia siap membela Yesus. Namun Yesus mengecam sikap naif Petrus. Perbuatannya tidaklah berdampak apa-apa selain kehilangan nyawa secara sia-sia. Di sini juga Yesus mengajarkan dengan membenturkan antara kehilangan nyawa sia-sia dan kehilangan nyawa karena Injil. Injil di sini dalam arti luas mewartakan kabar sukacita bahwa Allah hadir di tengah-tengah masyarakat pinggiran yang tidak dipedulikan oleh penguasa. Mewartakan kabar sukacita berarti berwawasan pada kesejahteraan banyak orang, memberdayakan kaum lemah dan pinggiran, serta melewati batas golongan atau kelompok sendiri. Ada satu lagi perintah Yesus yaitu menyangkal diri. Menyangkal dalam Tesamoko (hlm. 614) bersinonim dengan membukankan, memungkiri, menafikan, menegasikan, mengingkari, meniada, menidakkan, menikai, menjungkirbalikkan. Metafor atau perumpamaan gablang seperti dalam film mision impossible sbb: Ethan Hunt mengambil sebuah peranti elektronik yang tergantung di sebuah toko swalayan mini, kemudian membayar di kasir. Di rumah peranti dinyalakan dan tertampillah gambar berikut suara. Pesan suara dan gambar adalah perintah untuk Hunt menjalankan suatu misi. Seperti biasa sebelum menutup pesan, si pemberi perintah menyatakan apabila Hunt dkk. tertangkap dalam tugas negara tersebut, Kementerian Luar Negeri AS akan menyangkal apa yang dikerjakan oleh mereka adalah misi dari negara. Ethan Hunt tahu dan sadar pada risiko menjadi agen Impossible Mission Force (IMF) akan disangkal. Adegan itu selalu mengisi di awal film spionase Mission: Impossible (lihat cara penulisannya). Kementerian Luar Negeri AS membukankan, memungkiri, menafikan operasi Ethan Hunt dkk., jika ketahuan. Kalau berhasil pun tidak akan ada publikasi pujian kepada Hunt dkk. Demikian pula menyangkal diri yang dimaksud dalam teks Injil Markus di atas berarti segala kebajikan yang sudah kita perbuat tidak boleh diakui sebagai perbuatan kita, melainkan perbuatan Kristus. Kita membukankan, memungkiri, menafikan perbuatan kebajikan itu dilakukan oleh kita. Kita tidak berhak mendaku itu perbuatan kita untuk mendapat pujian, karena pujian hanya untuk Kristus. Berat? Memang berat. Apalagi perintah itu dilanjutkan dengan memikul salib sendiri. Alih-alih mendapat pujian, malah dibebani memikul salib. Itulah risiko menjadi agen IMF yang harus siap disangkal oleh pemerintahnya. Hal itu pula risiko menjadi pengikut Yesus yang siap menyangkal diri. Dalam bulan-bulan terakhir ini sekelompok orang yang kebelet berkuasa memula tebar pesona. Pada satu sisi lain sekelompok orang yang merasa jagoannya tersingkirkan oleh partainya membuat tandingan dengan membuat deklarasi secara sporadis. Masyarakat saling bercuriga. Situasi ini tentu mudah disulut menjadi kerumunan yang pada gilirannya adu-otot. Mereka langsung melupakan saat ini virus corona masih mengintai siapa saja tidak peduli agama dan partai orang-orang itu. Akan banyak orang kehilangan nyawa dengan sia-sia. “Apa gunanya seorang memeroleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.“ kritik Yesus. Masalah ekumenis saat ini adalah Covid19 yang ancamannya begitu nyata. Bukan saja menelan jutaan nyawa di seluruh dunia, tetapi juga meluluhlantakkan nyaris semua sendi kehidupan. Ancaman Covid19 memang ada dan selalu akan ada, tetapi sekaligus bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah cara bersikap terhadap ancaman Covid19. Dalam World Economic Forum on ASEAN di Hanoi tiga tahun lalu Presiden Jokowi mengatakan bahwa dunia sedang berperang melawan Thanos yang hendak menghabisi setengah populasi dunia. Sekarang Thanos sudah bermetamorfosis menjadi Covid19. Pidato Jokowi tiga tahun lalu masih paut dengan situasi saat ini. Perang melawan Covid19 adalah infinity war, perang tanpa batas. Presiden Jokowi kemarin menyampaikan bahwa penerapan protokol kesehatan secara ketat dan vaksinasi sejauh ini merupakan cara terbaik dalam melindungi diri dari penyebaran Covid19. Jokowi mengajak seluruh masyarakat Indonesia bersama-sama tidak lengah dalam menghadapi pandemi ini. Menghentikan pandemi memang sangat berat, tetapi menghadapi orang-orang atau kelompok yang memanfaatkan pandemi untuk memecahbelah bangsa jauh lebih berat. Untuk itu, kata Jokowi, dengan kreativitas, energi, kolaborasi, dan kerjasama antarumat manusia kita sanggup menghentikan pandemi. Ikut menghentikan pandemi itu berat, karena itu berarti memikul salib. Namun sebagai orang waras, yang tidak sekadar kata-kata, menghentikan pandemi sama dengan menghadirkan Injil, kabar sukacita, yang menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat secara umum dan secara khusus bagi masyarakat yang terdampak langsung pandemi. ๐๐๐๐Selamat menyangkal diri ๐๐๐Tuhan memberkati
Kamis, 09 September 2021
MISDINAR DAN TUGAS-TUGASNYA, SERIAL SUDUT PANDANG
Dalam rangka perkuliahan lintas iman, maka akan dibahas tentang apa itu misdinar dan tugas-tugasnya, agar kita bisa lebih mengerti liturgi atau tata ibadah yg dijalankan di saudara-saudara kita umat khatolik. Misdinar atau disebut juga Putra-Putri Altar adalah anak-anak yang bertugas untuk melayani Romo didalam perayaan Ekaristi. Putra Altar atau Misdinar (yang berarti 'asisten misa' dari Bahasa Belanda misdienaar) adalah mereka yang membantu Imam saat mengadakan Perayaan Ekaristi. Pada awal mulanya seorang Putra Altar adalah sebuah tingkatan pastoran sebelum menjadi imam. Umumnya, misdinar itu laki-laki. Akan tetapi, Putra Altar akan disebut "Misdinar" bila keputusan gereja untuk memperbolehkan perempuan sebagai Putera Altar. Bila tidak boleh maka dalam gereja tersebut akan dipanggil "Putri Altar" yang bertugas dalam bacaan-bacaan.Anak- anak yang bertugas sebagai Misdinar adalah mereka yang sudah dibaptis dan mendapatkan Komuni. Usia untuk menjadi Misdinar tidak ada ketentuan pasti yaitu mulai yang sudah mendapatkan Komuni Pertama atau Kelas Lima Sekolah Dasar sampai yang sudah SMP. Mereka yang bertugas menjadi misdinar boleh anak laki-laki ataupun perempuan. Tugas yang mereka laksanakan yaitu melayani Romo dalam sebuah Ekaristi gereja. Misdinar dalam ekaristi gereja boleh dua orang atau lebih. Biasanya jika Ekaristi gereja besar misdinar yang bertugas banyak. Putra Altar atau Misdinar (yang berarti 'asisten misa' dari Bahasa Belanda misdienaar) adalah mereka yang membantu Imam saat mengadakan Perayaan Ekaristi. Tugas misdinar antara lain membantu Imam, mengantar persembahan, menuangkan air putih dan anggur serta membawa air cuci tangan Imam, dan menjadi panutan umat. Per periodenya (setiap gereja berbeda-beda), akan masuk para Misdinar baru, tentu saja melalui seleksi dan latihan/training dari senior angkatan sebelumnya (beberapa gereja memiliki pengurus misdinar yang membimbing para calon misdinar). Misdinar juga bertujuan selain membantu dalam perayaan ekaristi juga untuk memperkuat iman pribadi dalam kegiatan-kegiatan pengembangan pribadi seperti LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan), Retret, Out Bond, dan tidak lupa Wisata Rohani. Tentu saja organisasi Misdinar tidak kalah maju dan juga berperan penting bagi anak dalam pengembangan iman Katolik.Prahsyarat untuk menjadi misdinar:
1. Beragama Katolik
2. Sudah menerima Komuni Pertama (di beberapa paroki min. kelas 1 SMP)
3. Maximum usia 21 tahun (di beberapa paroki max. kelas 12 SMA)
4. Tidak ada unsur paksaan
5. Rajin dan setia dalam bertugas
6. Mengetahui prosedur Perayaan Ekaristi
7. Mengetahui peralatan Ekaristi (antara lain lilin, sibori, korporal, kaliks/piala, turibulum/pendupaan, vandel,ampul dan lain-lain) yang akan diajarkan saat pelatihan Misdinar baru.
8. usia lanjut dapat juga bertugas sebagai pelatih atau pembimbing misdinar
9. belum menikah
Lalu bagaimana cara dan tugas sebagai Misdinar? beberapa tugas utama seorang Misdinar!
Ritus Pembuka
Ritus pembuka diawali dengan lagu pembukaan, Romo dan Misdinar memasuki altar gereja. Midsinar berdiri dibarisan paling depan maju ke depan dan diikuti Romo di barisan paling belakang.
1. Tanda Salib dan Salam - Misdinar berdiri didepan altar
2. Seruan Tobat - Misdinar berlutut dan posisi masih di depan altar.
3. Madah Kemuliaan - Misdinar berdiri dan ketika Umat menyanyikan lagu Kemuliaan lonceng dan gong di bunyikan.
4. Doa Pembuka - Misdinar berdiri didepan altar.
Liturgi Sabda
1. Bacaan I dan II - Bacaan sabda Tuhan dibacakan oleh petugas lektor gereja. Misdinar Berdiri di depan kanan dan kiri pembaca lektor sambil membawa lilin.
2. Bait Pengantar Injil - Imam membacakan injil kitab suci. Misdinar Berdiri di depan kanan dan kiri pembaca Romo sambil membawa lilin.
3. Homili - Homili atau khotbah gereja disampaikan oleh Romo, Misdinar duduk.
4. Syahadat Nikea dan Konstantinopel - Misdinar berdiri.
5. Doa Umat - Misdinar berdiri.
Liturgi Ekaristi
1. PERSIAPAN PERSEMBAHAN - Misdinar mempersiapakan Hosti, Air, dan Anggur.
2. DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN - Misdinar berdiri didepan altar
3. DOA SYUKUR AGUNG - Memulai doa syukur agung Misdinar membunyikan gong.
4. KUDUS - Misdinar berdiri
5. AKLAMASI ANAMNESIS - Misdinar berlutut.
(Ketika Konsekrasi Roti dan Anggur diangkat oleh Romo, misdinar membunyikan gong sebanyak tiga kali. Dan ketika Romo berlutut lonceng dibunyikan)
6. BAPA KAMI - Misdinar berdiri.
7. ANAK DOMBA ALLAH - Misdinar berlutut.
8. PERSIAPAN KOMUNI - Misdinar berlutut.
9. KOMUNI - Misdinar berdiri menerima hosti, dan sesudah itu mengambil lilin dan berdiri disamping kanan dan kiri Romo.
10. SAAT HENING - Misdinar memberi air Romo dan membantu membereskan peralatan yang sudah digunakan
11. DOA SESUDAH KOMUNI - Misdinar berdiri.
Ritus Penutup
1. BERKAT DAN PENGUTUSAN - Misdinar Berdiri di depan Altar.
2. PERARAKAN KELUAR - Romo dan Misdinar Berdiri di depan Altar lalu Keluar meninggalkan gereja.
Pada Ritus Bizantium, para putra altar bertugas membantu para pendeta yang jabatannya lebih tinggi selama peribadatan. Mereka biasa bertugas membawakan salib, lilin, ataupun kipas liturgi selama prosesi peribadatan, mereka pun bertugas menjaga pedupaan, memastikan arang pada pedupaan tetap menyala, mereka pun bertugas memberikan pedupaan kepada imam ketika hendak digunakan, menyiapkan air panas (zeon) ketika hendak dituangkan ke dalam cawan pada saat pelaksanaan Liturgi Ilahi, menyiapkan antidoron untuk umat yang telah menerima komuni suci, dan tugas lainnya yang tidak menyebabkan terganggunya imam saat pelaksanaan liturgi. Seorang putra altar umumnya hanya akan mengenakan seragam stikhar saat berlangsungnya liturgi. Dalam setiap ekaristi Misdinar perlu ada untuk membantu tugas Romo. Misdinar adalah suatu tugas yang harus dilaksanaka dengan sepenuh hati. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO, 2021
MISDINAR DAN TUGAS-TUGASNYA
TITUS ROIDANTO MTh
Dalam rangka perkuliahan lintas iman, maka akan dibahas tentang apa itu misdinar dan tugas-tugasnya, agar kita bisa lebih mengerti liturgi atau tata ibadah yg dijalankan di saudara-saudara kita umat khatolik. Misdinar atau disebut juga Putra-Putri Altar adalah anak-anak yang bertugas untuk melayani Romo didalam perayaan Ekaristi. Putra Altar atau Misdinar (yang berarti 'asisten misa' dari Bahasa Belanda misdienaar) adalah mereka yang membantu Imam saat mengadakan Perayaan Ekaristi. Pada awal mulanya seorang Putra Altar adalah sebuah tingkatan pastoran sebelum menjadi imam. Umumnya, misdinar itu laki-laki. Akan tetapi, Putra Altar akan disebut "Misdinar" bila keputusan gereja untuk memperbolehkan perempuan sebagai Putera Altar. Bila tidak boleh maka dalam gereja tersebut akan dipanggil "Putri Altar" yang bertugas dalam bacaan-bacaan.Anak- anak yang bertugas sebagai Misdinar adalah mereka yang sudah dibaptis dan mendapatkan Komuni. Usia untuk menjadi Misdinar tidak ada ketentuan pasti yaitu mulai yang sudah mendapatkan Komuni Pertama atau Kelas Lima Sekolah Dasar sampai yang sudah SMP. Mereka yang bertugas menjadi misdinar boleh anak laki-laki ataupun perempuan. Tugas yang mereka laksanakan yaitu melayani Romo dalam sebuah Ekaristi gereja. Misdinar dalam ekaristi gereja boleh dua orang atau lebih. Biasanya jika Ekaristi gereja besar misdinar yang bertugas banyak. Putra Altar atau Misdinar (yang berarti 'asisten misa' dari Bahasa Belanda misdienaar) adalah mereka yang membantu Imam saat mengadakan Perayaan Ekaristi. Tugas misdinar antara lain membantu Imam, mengantar persembahan, menuangkan air putih dan anggur serta membawa air cuci tangan Imam, dan menjadi panutan umat. Per periodenya (setiap gereja berbeda-beda), akan masuk para Misdinar baru, tentu saja melalui seleksi dan latihan/training dari senior angkatan sebelumnya (beberapa gereja memiliki pengurus misdinar yang membimbing para calon misdinar). Misdinar juga bertujuan selain membantu dalam perayaan ekaristi juga untuk memperkuat iman pribadi dalam kegiatan-kegiatan pengembangan pribadi seperti LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan), Retret, Out Bond, dan tidak lupa Wisata Rohani. Tentu saja organisasi Misdinar tidak kalah maju dan juga berperan penting bagi anak dalam pengembangan iman Katolik.Prahsyarat untuk menjadi misdinar:
1. Beragama Katolik
2. Sudah menerima Komuni Pertama (di beberapa paroki min. kelas 1 SMP)
3. Maximum usia 21 tahun (di beberapa paroki max. kelas 12 SMA)
4. Tidak ada unsur paksaan
5. Rajin dan setia dalam bertugas
6. Mengetahui prosedur Perayaan Ekaristi
7. Mengetahui peralatan Ekaristi (antara lain lilin, sibori, korporal, kaliks/piala, turibulum/pendupaan, vandel,ampul dan lain-lain) yang akan diajarkan saat pelatihan Misdinar baru.
8. usia lanjut dapat juga bertugas sebagai pelatih atau pembimbing misdinar
9. belum menikah
Lalu bagaimana cara dan tugas sebagai Misdinar? beberapa tugas utama seorang Misdinar!
Ritus Pembuka
Ritus pembuka diawali dengan lagu pembukaan, Romo dan Misdinar memasuki altar gereja. Midsinar berdiri dibarisan paling depan maju ke depan dan diikuti Romo di barisan paling belakang.
1. Tanda Salib dan Salam - Misdinar berdiri didepan altar
2. Seruan Tobat - Misdinar berlutut dan posisi masih di depan altar.
3. Madah Kemuliaan - Misdinar berdiri dan ketika Umat menyanyikan lagu Kemuliaan lonceng dan gong di bunyikan.
4. Doa Pembuka - Misdinar berdiri didepan altar.
Liturgi Sabda
1. Bacaan I dan II - Bacaan sabda Tuhan dibacakan oleh petugas lektor gereja. Misdinar Berdiri di depan kanan dan kiri pembaca lektor sambil membawa lilin.
2. Bait Pengantar Injil - Imam membacakan injil kitab suci. Misdinar Berdiri di depan kanan dan kiri pembaca Romo sambil membawa lilin.
3. Homili - Homili atau khotbah gereja disampaikan oleh Romo, Misdinar duduk.
4. Syahadat Nikea dan Konstantinopel - Misdinar berdiri.
5. Doa Umat - Misdinar berdiri.
Liturgi Ekaristi
1. PERSIAPAN PERSEMBAHAN - Misdinar mempersiapakan Hosti, Air, dan Anggur.
2. DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN - Misdinar berdiri didepan altar
3. DOA SYUKUR AGUNG - Memulai doa syukur agung Misdinar membunyikan gong.
4. KUDUS - Misdinar berdiri
5. AKLAMASI ANAMNESIS - Misdinar berlutut.
(Ketika Konsekrasi Roti dan Anggur diangkat oleh Romo, misdinar membunyikan gong sebanyak tiga kali. Dan ketika Romo berlutut lonceng dibunyikan)
6. BAPA KAMI - Misdinar berdiri.
7. ANAK DOMBA ALLAH - Misdinar berlutut.
8. PERSIAPAN KOMUNI - Misdinar berlutut.
9. KOMUNI - Misdinar berdiri menerima hosti, dan sesudah itu mengambil lilin dan berdiri disamping kanan dan kiri Romo.
10. SAAT HENING - Misdinar memberi air Romo dan membantu membereskan peralatan yang sudah digunakan
11. DOA SESUDAH KOMUNI - Misdinar berdiri.
Ritus Penutup
1. BERKAT DAN PENGUTUSAN - Misdinar Berdiri di depan Altar.
2. PERARAKAN KELUAR - Romo dan Misdinar Berdiri di depan Altar lalu Keluar meninggalkan gereja.
Pada Ritus Bizantium, para putra altar bertugas membantu para pendeta yang jabatannya lebih tinggi selama peribadatan. Mereka biasa bertugas membawakan salib, lilin, ataupun kipas liturgi selama prosesi peribadatan, mereka pun bertugas menjaga pedupaan, memastikan arang pada pedupaan tetap menyala, mereka pun bertugas memberikan pedupaan kepada imam ketika hendak digunakan, menyiapkan air panas (zeon) ketika hendak dituangkan ke dalam cawan pada saat pelaksanaan Liturgi Ilahi, menyiapkan antidoron untuk umat yang telah menerima komuni suci, dan tugas lainnya yang tidak menyebabkan terganggunya imam saat pelaksanaan liturgi. Seorang putra altar umumnya hanya akan mengenakan seragam stikhar saat berlangsungnya liturgi. Dalam setiap ekaristi Misdinar perlu ada untuk membantu tugas Romo. Misdinar adalah suatu tugas yang harus dilaksanaka dengan sepenuh hati. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO, 2021
Jumat, 03 September 2021
MERENUNGI POST PANDEMIC CHRUCH
Pada zaman dahulu, nggak ada kemungkinan lain untuk mengikuti ibadah Minggu selain pada Minggu pagi, ketika matahari baru terbit. Lalu, seiring berkembangnya aktivitas masyarakat di kota dan di desa, memaksa gereja untuk memberi alternatif jam ibadah: pagi dan agak siang. Zaman terus berubah, industrialisasi kian berkembang di banyak tempat. Orang nggak selalu bisa beribadah di hari Minggu pagi atau siang. Sebab, ada banyak dari mereka yang masih harus bekerja hingga siang menjelang sore. Mungkin karena itulah beberapa gereja juga mengadakan ibadah sore. Hal ini bertahan hingga sebelum pandemi. Lalu terjadilah pandemi. Ibadah gereja didorong untuk masuk ke ruang digital. Ibadah menjadi sajian visual yang bisa dinikmati kapan dan di mana saja. Bisa di-pause, bisa di-rewind, bisa di-skip, bisa di-like, bisa di-dislike, bisa di-share, bisa di-bookmark untuk ditonton kapan² lagi, Dan yang sangat menggelikan, ibadah bisa pula disela dengan joget Mas Thukul atau Koko Jacky Chan, "Shopee COD ... Shopee COD ..." ๐ต๐ถ Jadi, kini kita menatap gereja pasca-pandemi. Komunitas yang kemelekatannya dengan gedung semakin lemah. Gedung yang mulai kehilangan daya magnetnya sebagai mercusuar iman. Komunitas yang bukan hanya 'melayankan' ibadah, tapi juga 'memproduksi'-nya. Ibadah yang bisa ditonton kapan saja, di mana saja, dengan pakaian apa saja, dengan posisi nonton seperti apa saja, entah dengan ketiak yang sudah beraroma reksona atau pun bau terasi. Ibadah yang sudah kehilangan kalimat sakti dari liturgos, "Kini saatnya kita mengumpulkan persembahan ..." Hahaha...wk...wk....wk. Ibadah yang mulai menghitung bukan hanya berapa kursi terisi tapi juga berapa viewcount dan subscribers hari ini. Ibadah yang kalo pendetanya ngomong ngawur di tengah khotbah bisa diputar ulang dan diviralkan sebagai alat bukti. Oops.๐คญ๐คญ๐คญ Oohlalaaaa, post-pandemic church. Engkau bagaikan kedatangan hujan pertama di musim penghujan. Terus diantisipasi, tapi tetap saja menghentak, mengagetkan. Membuat tercenung, "Hey para pendeta dan jemaat, sudah seberapa pasca-pandemikah diri dan pelayananmu???" Selamat Merenung๐๐๐Tuhan memberkati๐๐๐
Langganan:
Postingan (Atom)
Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32
Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memi...
-
SUDUT PANDANG PENYALIBAN YESUS: RENCANA SIAPA? PENGANTAR Isu mengenai apakah penyaliban Yesus merupakan rencana Allah at...
-
SUDUT PANDANG LUKAS 21 :5-19, Petaha PENGANTAR Kitab-kitab Injil tidak ditulis oleh 12 murid Yesus. Juga tidak ditulis oleh juru...
SUDUT PANDANG LUKAS 3:1-6 MENYIAPKAN JALAN, SERIAL NATAL