Rabu, 30 Agustus 2023

TENTANG KATA TOLEDOT, SERIAL SUDUT PANDANG

TENTANG KATA TOLEDOT, SERIAL SUDUT PANDANG

Toledot (bahasa Ibrani: תּוֹלְדֹת‎, to-le-dot) adalah kata yang diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Indonesia Terjemahan Baru dengan kata “riwayat”, “keturunan” atau “riwayat keturunan” (dalam bahasa Inggris: "These are the generations of …"). Sejumlah pakar, misalnya P. J. Wiseman, melihat penggunaan kata ini untuk menunjukkan pembagian internal Kitab Kejadian. Wiseman mendasarkan pendapatnya dari pengalamannya mengikuti ekspedisi penggalian di daerah Mesopotamia pada pertengahan abad ke-20 bersama Sir Leonard Woolley di daerah Ur (diyakini sebagai tempat asal Abraham), dan Professor S. Langdon di Kish, serta diskusi mengenai metode penulisan kuno dengan para pakar (terutama Professor Cyril Gadd). Menurutnya, Kitab Kejadian disusun dengan cara paling kuno yaitu menggunakan kerangka pengulangan frasa, yang terdiri dari 2 jenis:  Frasa "Kolofon" (Colophon) dan  "Frasa berisi kata kunci" yang penting dari frasa pertama.

Metode serupa di peradaban lain
Dokumen kuno yang ditulis di Mesopotamia umumnya ditatah di atas batu atau lempengan (tablet) tanah liat dan lazimnya, penulis menambahkan kolofon (catatan) di akhir tulisan, berisi judul, tanggal penulisan dan nama penulis atau pemilik, serta sejumlah detail mengenai isi prasasti, naskah atau kitab.Metode ini tidak dipakai di Mesir kuno. Di zaman sekarang kolofon lebih lazim ditempatkan di halaman muka atau sampul di depan. Namun, kolofon tetap menjadi bagian penting yang memberi informasi dan ditambahkan dengan cara yang khas menurut peradaban tertentu. Misalnya kolofon akhir dari salah satu kisah mitologi Babel tentang penciptaan, yang lebih mirip dengan metode di Kitab Kejadian, sebagai berikut:

"Tablet pertama dari... setelah tablet ... Mushetiq-umi ... Salinan dari Babel; ditulis seperti aslinya dan dirangkai. Tablet dari Nabu-mushetiq-umi [ke-5] bulan Iyyar, tanggal 9, tahun ke-27 dari Darius."
Penggunaan di Kitab Kejadian
Formula kolofon dan toledot ini digunakan 11 kali di seluruh Kitab Kejadian. Begitu pentingnya frasa ini menurut penterjemah Septuaginta, sehingga mereka memberi nama seluruh kitab itu “Genesis” yaitu terjemahan bahasa Yunani untuk kata bahasa Ibrani “toledot”. Di seluruh kitab Kejadian, kata “toledot” ini dipakai dalam ayat-ayat berikut:

1 Kejadian 2:4 "Demikianlah riwayat (langit dan bumi ...)" אלה תולדות el'h tol'dot
2 Kejadian 5:1 "Inilah daftar keturunan (Adam)" זה ספר תולדת z'h s'f'r tol'd't
3 Kejadian 6:9 "Inilah riwayat (Nuh)" אלה תולדת el'h tol'd't
4 Kejadian 10:1 "Inilah keturunan (Sem, Ham dan Yafet,...)" ואלה תולדת w'-el'h tol'd't
5 Kejadian 11:10 "Inilah keturunan (Sem)" אלה תולדת el'h tol'd't
6 Kejadian 11:27 "Inilah keturunan (Terah)" ואלה תולדת w'-el'h tol'd't
7 Kejadian 25:12 "Inilah keturunan (Ismael)" ואלה תלדת w'-el'h t'l'd't
8 Kejadian 25:19 "Inilah riwayat keturunan (Ishak)" ואלה תולדת w'-el'h tol'd't
9 Kejadian 36:1 "Inilah keturunan (Esau)" ואלה תלדות w'-el'h t'l'dot
10 Kejadian 36:9 "Inilah keturunan (Esau)" ואלה תלדות w'-el'h t'l'dot
11 Kejadian 37:2 "Inilah riwayat keturunan (Yakub)" אלה תלדות el'h t'l'dot

Penggunaan frasa "toledot"
Sejumlah pakar beranggapan bahwa frasa yang mengandung toledot itu merupakan permulaan suatu kisah. Namun pembacaan di kitab Kejadian menunjukkan bahwa frasa "toledot" tidak selalu menjadi bagian daftar silsilah yang mengikutinya. Wiseman menulis bahwa "Sejarah utama orang yang disebut namanya ditulis sebelum frasa “toledot” dan jelas bukan sesudahnya"

Hal ini terlihat nyata, antara lain:
Sesudah “toledot” yang kedua: "inilah daftar keturunan Adam" (Kejadian 5:1), tidak banyak yang diketahui tentang Adam selain usia matinya. Setelah frasa “inilah riwayat keturunan Ishak” (Kejadian 25:19), jelas bukan riwayat Ishak, melainkan tentang Yakub dan Esau Setelah “inilah riwayat keturunan Yakub" (Kejadian 37:2), kisahnya terutama mengenai Yusuf. Ditulis dalam sejumlah lempengan (tablet) Adanya formula “toledot” ini menunjukkan bahwa tulisan-tulisan dalam kitab Kejadian itu merupakan gabungan dari berbagai prasasti yang ditulis dalam sejumlah lempengan tablet. Misalnya di Kejadian 5:1 dalam bahasa aslinya ditulis "זה ספר תולדת אדם" (zeh se·fer tow·l·dot a·dam, “inilah kitab riwayat Adam”). Kata “kitab” ini dalam bahasa Ibrani adalah "ספר" (sefer), yang berarti "catatan tertulis", atau sebagaimana diterjemahkan oleh F. Delitzsch sebagai "akhir tulisan"[6] Septuaginta menterjemahkan “toledot” pertama di Kejadian 2:4 sebagai: "αυτη η βιβλος γενεσεως ουρανου και γης" (autē ē biblos geneseōs ouranou kai gēs, "inilah kitab dari penciptaan langit dan bumi"). Dari fakta ini, Wiseman mengambil kesimpulan bahwa: "Kita harus menyadari bahwa 'kitab” pada zaman kuno adalah “lempengan /tablet” dan bahwa catatan awal dalam kitab Kejadian itu berbentuk tulisan, bukan sebagaimana yang dibayangkan, disampaikan kepada Musa dari cerita mulut ke mulut” Penelitian lebih lanjut dari nama orang yang disebut setelah kata “toledot” menunjukkannya sebagai pemilik atau penulis dari lempengan itu, bukan sejarah mengenai orang itu. Jadi "inilah riwayat Nuh" (Kejadian 6:1) bukanlah “inilah sejarah tentang Nuh” melainkan “inilah sejarah yang ditulis oleh Nuh”. Seakan-akan merupakan tanda tangan dari Nuh pada lempengan catatan yang ditulisnya.

Frasa kunci
Bagian penting setelah “kolofon toledot” di sepanjang kitab Kejadian adalah "kata kunci" atau "frasa kunci". Ini merupakan bukti penguat bahwa catatan ini ditulis dalam sejumlah lempengan sesuai tradisi kuno. Di Babel kuno, misalnya, jikalau catatan itu berukuran panjang dan membutuhkan lebih dari satu lempengan, maka biasanya:

Setiap rangkaian lempengan diberi satu “judul”.
Dipakai “frasa/kata kunci” untuk memastikan bahwa tiap lempengan itu dibaca dalam urutan yang benar. Seringkali, kolofon itu menyertakan nama penulis dan tanggal penulisan. Hal ini juga ditemukan di kitab Kejadian, yang merupakan bukti bahwa kitab ini disusun pada zaman kuno. Sedemikian murninya penyampaian tulisan itu sampai ke zaman sekarang, sehingga masih dapat ditemukan struktur penulisan purba di dalamnya. Sistem frasa/kata kunci ini dapat dilihat dari pengulangan kata yang berhubungan dengan awal dan akhir suatu lempengan yang menjadi bagian dari Kitab Kejadian:

Ayat Alkitab Frasa kunci
Kejadian 1:1 "Allah menciptakan langit dan bumi"
Kejadian 2:4 "Tuhan Allah menjadikan bumi dan langit"
Kejadian 2:4 "pada waktu diciptakan"
Kejadian 5:2 "pada waktu...diciptakan"
Kejadian 6:10 "Sem, Ham dan Yafet"
Kejadian 10:1 "Sem, Ham dan Yafet"
Kejadian 10:32 "setelah air bah itu"
Kejadian 11:10 "setelah air bah itu"
Kejadian 11:26 "Abram, Nahor dan Haran"
Kejadian 11:27 "Abram, Nahor dan Haran"
Kejadian 25:12 "anak Abraham"
Kejadian 25:19 "anak Abraham"
Kejadian 36:1 "Esau yaitu Edom"
Kejadian 36:8 "Esau itulah Edom"
Kejadian 36:9 "Esau, bapa orang Edom"
Kejadian 36:43 "Esau, bapa orang Edom"

Pengulangan frasa ini diduga terletak tepat dimana suatu lempengan berawal dan berakhir, yang sangat mirip dengan metode penulisan di Babel, karena pengaturan ini memungkinkan perangkaian seluruh lempengan itu menjadi satu.. Pengulangan frasa, terutama yang berhubungan dengan kolofon tidak mungkin suatu kebetulan, dan terkubur di dalam naskah kitab Kejadian tanpa disadari arti pentingnya.

Judul dan penanggalan lempengan
Pada lempengan dengan tulisan paku (kuneiform), judul diambil dari kata pertama catatan itu. Dengan cara serupa, orang Israel menyebut setiap dari 5 kitab pertama Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen dengan judul yang diambil dari kata-kata pembuka, misalnya Kitab Kejadian disebut "Bereisyit", kata bahasa Ibrani untuk “pada mulanya”. Wiseman menerangkan dengan teliti bahwa praktik ini dilakukan untuk mengidentifikasi beberapa lempengan merupakan satu rangkaian, karena beberapa kata pertama mereka diulangi dalam colofon (atau halaman judul) lempengan berikutnya., mirip dengan cara penulisan judul suatu bab di bagian atas dari tiap halaman bab itu pada buku-buku modern. Dengan cara inilah rangkaian lempengan-lempengan yang membentuk kitab Kejadian dapat dihubungkan satu dengan yang lain. Disamping judul, lempengan juga mengandung tanggal, sebagaimana juga ditemukan di prasasti lain.Setelah catatan ditulis dan nama penulis diterakan, juga menjadi kebiasaan untuk memberi tanggal sederhana. Baru kemudian hal ini dihubungkan dengan tahun pemerintahan raja. Satu contoh perhitungan waktu penulisan dapat dilihat di lempengan kedua yang berakhir di Kejadian 5:1: "Inilah daftar keturunan Adam, pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah". Selain itu, perhitungan waktu dapat dikaitkan dengan tempat di mana penulis tinggal saat itu, misalnya:

Kejadian 25:11 "dan Ishak diam dekat sumur Lahai-Roi"
Kejadian 36:8 "menetaplah Esau di pegunungan Seir"
Kejadian 37:1 "[Yakub] diam di negeri penumpangan ayahnya, yakni di tanah Kanaan"
Jelaslah bahwa kemurnian catatan itu yang telah diturunkan berabad-abad dengan teliti, dibuktikan dengan adanya sistem penulisan kuno yang masih nyata sampai sekarang. Dapat disimpulkan bahwa catatan-catatan ini ditulis dalam lempengan tanah liat yang membentuk rangkaian dari Kejadian 1:1 sampai 37:1, sebagaimana yang kita baca sampai saat ini.

Kisah Air Bah
Dalam cerita air bah, Graf-Wellhausen mengidentifikasi 2 narator, sedangkan Jean Astruc menemukan 3 narator dalam catatan Kejadian pasal 7. Dari toledot di akhir pasal itu, dilihat bahwa lempengan 4 ditulis dan dimiliki oleh ketiga putra Nuh, yaitu Sem, Ham dan Yafet. Jadi merupakan catatan saksi mata, apalagi karena mereka termasuk 8 orang yang benar-benar mengalami hal itu. Jean Astruc melihat bahwa ada 3 “kisah” yang berulang dalam cerita air bah ini, misalnya pada Kejadian 7:
Kejadian 7:18: "Ketika air itu makin bertambah-tambah dan naik dengan hebatnya di atas bumi...".
Kejadian 7:19: "Dan air itu sangat hebatnya bertambah-tambah meliputi bumi...".
Kejadian 7:20: "Sampai 15 hasta di atasnya bertambah-tambah air itu..."
Juga:
Kejadian 7:21: "Lalu mati binasalah segala yang hidup, yang bergerak di bumi..."
Kejadian 7:22: "Matilah segala yang ada nafas hidup dalam hidungnya, segala yang ada di darat.".
Kejadian 7:23: "Demikianlah dihapuskan Allah segala yang ada, segala yang di muka bumi".
Hal in dapat dijelaskan dari 2 fakta penting yang dikemukakan oleh Wiseman:

Akhir dari lempengan ini menunjukkan ada lebih dari satu orang yang menulis kisah ini, karena inilah riwayat "ketiga putra Nuh". Berbagai pengulangan dalam kisah ini mencerminkan gabungan kesaksian sejumlah saksi mata. Sejumlah pakar beranggapan cerita ini meminjam dari mitos Babel, tetapi dari perbandingan dokumen itu dengan cerita Alkitab, nyatalah bahwa dokumen dari Alkitab lebih sederhana dan berisi fakta yang lebih konkret daripada kisah supernatural di dokumen Babel.

Riwayat Yusuf
Bagian panjang dari Kejadian 37:2 sampai 50:26, tidak diakhiri dengan colophon dan isinya terutama adalah riwayat Yusuf di Mesir. Catatan ini dimulai dengan “Yusuf tatkala berumur 17 tahun” kemudian berakhir dengan “dan [Yusuf] ditaruh dalam peti mati di Mesir”. Di sini pengaruh Babel diganti oleh pengaruh sastra Mesir. Karena orang Mesir tidak menggunakan akhiran colophon, maka berakhirnya riwayat Yusuf tanpa colophon itu menunjukkan bahwa catatan itu dibuat di Mesir, bukan dengan metode Mesopotamia atau Babel, sebagaimana bagian-bagian sebelumnya. Sewell berpendapat bahwa bagian riwayat ini sebenarnya baru berakhir pada Keluaran 1:6 dan dapat disebut “Riwayat Yusuf dan Saudara-saudaranya.” Damien Mackey mengatakan bahwa bagian ini sama sekali tidak termasuk rangkaian toledothim, melainkan suatu kisah yang ditulis di atas lembaran papirus, tampaknya atas suruhan Yusuf dan dikerjakan oleh para jurutulis kerajaan. Sebagai dukungan hipotesis Mackey, kata "toledot" tidak muncul pada Keluaran 1:6; melainkan didapati kata Ibrani "ha’dor", yang makna harfiahnya "generasi; angkatan" (atau juga diartikan "zaman atau era").

Pembacaan Mingguan
Toledot adalah kata kedua dan yang khas dalam parsyah (bagian pembacaan Taurat mingguan) ke-6 pada siklus pembacaan Taurat tahunan orang Yahudi. Bagian ini meliputi Kitab Kejadian25:19sampai 28:9. Orang Yahudi di diaspora membacanya pada hari Sabat ke-6 setelah Simchat Torah, biasanya pada bulan November atau awal Desember.
CEPOGO, 310823 (T)

Referensi
^ a b Damien F. Mackey. The First Book of Moses and the 'toledot' of Genesis
^ a b Wiseman, P.J. Clues to Creation in Genesis (Marshalls paperbacks) D. J. Wiseman (Editor). HarperCollins Distribution Services. 1977. ISBN 978-0-551-05567-4
^ The `Enuma Elish', a Babylonian Creation story. Dari: P.J. Wiseman, Clues to Creation in Genesis, 1977, halaman 159
^ Wiseman, Ancient Records, 60. Pertanyaan (1) “Mengapa orang-orang Babel tidak menggunakan kata 'toledot' dalam prasasti mereka?” Jawabannya adalah karena mereka tidak menggunakan bahasa Ibrani; (2) Apakah 'toledot' itu permulaan prasasti? Bukan. Permulaan prasasti adalah 'kolofon', bukan frasa 'toledot'. Perbedaan ini penting untuk diingat
^ a b c d e f g h Wiseman, P.J. Ancient records and the structure of Genesis: A case for literary unity. T. Nelson Publishers. 1985. ISBN 978-0-8407-7502-3
^ Franz Delitzsch (1813-1890), as quoted by Wiseman, Ancient Records, 67. Bagi mereka yang beranggapan keliru bahwa tidak ada catatan kelahiran dan kematian pada zaman purba, kami anjurkan melihat kitab Kejadian pasal 5. Catatan keluarga yang dipelihara pada zaman lampau tidak memuat banyak hal selain catatan kelahiran, perkawinan dan kematian.
^ Wiseman, Ancient, 82. Mengenai formula penulisan tanggal, lihat: Francis R. Steele, The Date Formulae of Shu-Ilishu of Isin in BASOR, No. 122, April 1951, p. 45-49. Pengarang menyebut 10 contoh.
^ Kejadian 37:2
^ Kejadian 50:26
^ Curt Sewell. The Tablet Theory of Genesis Authorship. Bible and Spade, Winter 1994, Vol. 7, No. 1. Diperbarui 1998-2001 oleh pengarang.
^ How Genesis came to be[pranala nonaktif permanen]

MALAIKAT DALAM PERJANJIAN LAMA(PL), SERIAL SUDUT PANDANG

MALAIKAT DALAM PERJANJIAN LAMA(PL), SERIAL SUDUT PANDANG

Ada dua fase besar dalam PL mengenal ajaran tentang malaikat, yg secara kasar dibagi oleh masa Pembuangan Babilonia. Perbedaan gamblang mengenal corak-coraknya yg penting menimbulkan banyak perdebatan mengenal kronologi. Catatan-catatan berikut menyajikan perbedaan itu.

a. Dalam periode pra-pengasingan

Malaikat Allah (MAL'AKH YHVH) adalah alat langsung dari kehendak-Nya, tapi tetap tak bernama dan hampir tanpa pribadi yg nampak. Dalam banyak ayat, Allah dan malaikat Allah praktis adalah sama -- penampilan pada Hagar di padang belantara (Kejadian 16:7-13; 21:17-20); pada Abraham di Gunung Moria (Kejadian 22:11-18); pada Musa dalam nyala api yg keluar dari semak duri (Keluaran 3:2 dab) dan pada Gideon di Ofra (Hakim 6:11 dab). 

Malaikat pernah menampakkan dini kepada manusia sebagai pembawa perintah dan berita khusus dari Allah (Hakim 6:11-23; 13:3-5 dst). Mereka dapat memberi bantuan khas untuk pelayan-pelayan Allah yg miskin dan fana (1 Raja 19:5-7). Mereka dapat melakukan tugas bantuan militer (2 Raja 19:35 dst), dan -- tapi jarang sekali, permusuhan secara aktif terhadap Israel (2 Samuel 24:16 dab). Orang-orang dari Sodom (Kejadian 19) atau orang-orang lain yg melakukan kejahatan mereka pukul. Kehebatan mereka berperang tercantum dalam Kejadian 32:1, 2; 1 Raja 22:19, lebih khusus Yosua 6:13-15; 2 Raja 6:17 -- mendasari gelar ilahi YHVH Zebaot, TUHAN Allah yg memerintah pasukan malaikat.

Pandangan manusia generasi perdana menghubungkan malaikat dengan bintang-bintang. Hal ini mengilhami salah satu buah pikiran Ayub yg puitis, di mana para malaikat adalah juga saksi dari ciptaan (Ayub 38:7, lih di bawah; bnd Hakim 5:20; Wahyu 9:1). Keledai Bileam lebih cepat melihat makhluk yg menyerupai malaikat daripada tuannya, yg memerlukan teguran ilahi (Bilangan 22:21-35). Malaikat-malaikat bercakap-cakap dengan Abraham (Kejadian 18:1-16) atau di tangga Yakub (Kejadian 28:12). Para malaikat penjaga orang-orang secara pribadi (Mazmur 91:11) dan malaikat pembawa maut (ay 33:22; Amsal 16:14) tetap merupakan konsep-konsep kabur dalam PL, tapi menjadi ajaran-ajaran yg bulat dan tegas dalam literatur Yahudi. Istilah 'anak-anak Allah' semata-mata berarti malaikat-malaikat -- sifat mental atau rohani, bukan jasmani. Mereka malaikat yg benar-benar baik (Ayub 38:7, lih di atas), malaikat-malaikat yg mungkin baik (ay 1:6; 2:1) atau malaikat-malaikat yg jelas-jelas jatuh (Kejadian 6:2, 4). Istilah khusus yg lain adalah קְדֹשִֽׁים - QEDOSYIM, 'makhluk-makhluk suci' (ay 6:1; Mazmur 89:5, 7; Ulangan 8:13, dll). Bahwa sebutan itu teknis disarankan oleh hal dapat dipakai bila implikasinya pasti tidak bersifat orang suci (ay 6:15).

Ide-ide yg sejauh ini dibahas mungkin dari zaman sebelum pembuangan, paling sedikit dalam aslinya, walaupun beberapa contoh yg kemudian dimasukkan. Para malaikat -- dalam jumlah terbesar tetap merupakan gema dari suatu kehendak yg lebih tinggi, dan belum berpribadi.

b. Dalam kitab-kitab pada zaman pembuangan dan zaman yg kemudian

Pada zaman yg kemudian ini pengertian tentang malaikat menjadi lebih tegas. Orang yg bertindak sebagai pemandu Yehezkiel di kuil ideal, adalah merupakan konsep tengah di antara kedua konsep lain (pasal 40-48) yg menjadi malaikat penerang dalam Zakharia 1-6. Fungsi perantara alas nama bangsa Israel dalam Zakharia 1:12 meminta perhatian khusus. Bila diingat bahwa 'orang suci' berarti 'malaikat' dalam hubungan itu, maka kata-kata terakhir Zakharia 14:5 menarik perhatian jika dibaca dalam terang nubuat mengenal kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya.

Ajaran tentang malaikat dalam PL, berkembang sepenuhnya dalam Dan, yg merupakan awal perkembangan apokaliptik Yahudi. Di sini para malaikat mula-mula diberi nama-nama bersifat pribadi. Gabriel menerangkan banyak hal kepada Daniel, seperti malaikat dalam penglihatan Zakharia (Daniel 8:16; 9:21 dab). Dalam kedua kitab itu malaikat adalah juru bicara piawai dari Allah, dan dapat ditanyai -- tapi Gabriel menurut Daniel adalah lebih utuh dan meyakinkan. Mikhael mempunyai tugas khusus sebagai malaikat penjaga Israel (Daniel 10:13, 21; 12:1), dan bangsa-bangsa lain diperlengkapi sama seperti itu (Daniel 10:20). Hal ini merupakan ajaran yg biasa bagi ulama Yahudi. Dalam penglihatan nampak takhta-takhta sorgawi, di mana terdapat malaikat-malaikat yg jumlahnya tak terhitung banyaknya mengelilingi takhta (Daniel 7:10; bnd Ulangan 33:2; Nehemia 9:6; Mazmur 68:17 untuk hunjukan yg lebih kecil).
Cepogo 300823 (T)
Baca juga :
http://titusroidanto.blogspot.com/2023/08/malaikat-dalam-pb-serial-sudut-pandang.html

Senin, 28 Agustus 2023

RAKSASA, SERIAL SUDUT PANDANG

Gambar: Robert Wadlow, penyandang gigantisme (kiri). Tulisan & gambar tentang tulang oleh Galileo Galilei (kanan).

RAKSASA, SERIAL SUDUT PANDANG

-Bahkan kami melihat orang-orang yang seperti raksasa, yaitu keturunan orang Enak. Dibandingkan dengan mereka, kami merasa seperti belalang, dan pasti begitulah anggapan mereka terhadap kami.-
(Bilangan 13:33, BIMK-LAI)

"Taken to extremes, larger or smaller versions of creatures are not always viable."
-Tim Kirk

Jika manusia raksasa ada, apakah ia sebangun geometris dengan manusia? Intuisi kita -bersama siswa SMP yang lagi belajar kesebangunan & kekongruenan- akan berkata ya. Maksudnya, jika si raksasa tingginya empat kali tinggi manusia, maka panjang & lebar bagian lain dari tubuh juga menjadi empat kalinya. Misal, diameter tulang menjadi empat kalinya; panjang jari & ukuran gigi juga empat kali dari normal. Raksasa seperti itu kita sebut "raksasa sebangun".

Namun, anggapan di atas kurang tepat karena mengabaikan kekuatan tulang. Tulang si raksasa sebangun itu akan berkurang kemampuannya untuk menahan beban, meskipun dimensi tulang membesar. Galileo Galilei (1564-1642) benar ketika menyimpulkan: jika raksasa benar ada, maka ukuran tulangnya tidak sebangun geometris dengan tulang manusia normal. Rasio diameter terhadap panjang tulang akan berubah seiring bertambahnya tinggi tubuh. Raksasa macam itu kita sebut saja "raksasa ideal".

Bagaimana proporsi raksasa ideal itu? Dengan berasumsi manusia & raksasa memiliki kerapatan (density, massa jenis) daging-tulang yang sama, maka proporsinya sebagai berikut. Jika tinggi raksasa 200% dari tinggi manusia, maka diameter tulangnya 283% dari diameter normal. Jika tingginya 300%, maka tebal tulangnya 520% (lihat gambar dari bukunya Galileo). Jika tingginya 4 kali, maka tebal tulangnya menjadi 8 kali. Tampaknya, semakin tinggi tubuhnya, semakin sulit ia bergerak.

***
Rasanya, lebih mungkin ada raksasa sebangun ketimbang raksasa ideal. Orang penderita gigantisme adalah contoh konkret. Raksasa sebangun memiliki tinggi maksimum untuk menjamin tulang kakinya tak mudah retak atau patah. Dengan data tekanan yang diterima tulang manusia, maka rentang tinggi maksimum raksasa itu bisa dicari dengan matematika sederhana. Tentu memakai asumsi: kerapatan rata-rata tulang-daging manusia adalah sama dengan di tubuh raksasa.

Untuk perkiraan, anggap atlet angkat besi sebagai acuan ekstrem. Mereka sanggup untuk mengangkat barbel 3 kali berat tubuhnya. Tulang kaki para atlet itu berarti mampu menahan beban sebesar 4 kali berat tubuh. Maka, raksasa sebangun itu bisa memiliki faktor dilatasi sampai 4. Namun, mempertimbangkan kerja organ tubuh lainnya, faktor dilatasi dibatasi dari 1,5 sampai 2,5. Jika tinggi rata-rata manusia dianggap 160 cm, maka tinggi yang mungkin dari si raksasa adalah dari 240 cm sampai 400 cm.

Baca juga :
http://titusroidanto.blogspot.com/2023/08/mengenai-kata-nefilim.html

Kepustakaan:
Bill Bryson, The Body (Anchor Books, 2019).
Galileo Galilei, Mathematical Discourses Concerning Two New Sciences (John Weston, 1630).
Alain Goriely, Applied Mathematics (Oxford University Press, 2018).
Tim Kirk, Physics for the IB Diploma (Oxford University Press, 2003).

Penulis: (T), CEPOGO, 290823


SIMBOL ANGKA DIHARI-HARI PENCIPTAAN, SERIAL SUDUT PANDANG

Keterangan Gambar:
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Enam Hari Penciptaan
(Sumber: https://answersingenesis.org/creation/)

SIMBOL ANGKA DIHARI-HARI PENCIPTAAN, SERIAL SUDUT PANDANG 
====================================

Bilangan-bilangan yang tercatat dalam naskah Ibrani Perjanjian Lama dan naskah Yunani Perjanjian Baru ditulis dalam kata-kata, bukan dalam angka. Demikian halnya dengan pencatatan bilangan-bilangan dalam narasi Penciptaan. 

Kita harus pahami dulu pencatatan bilangan dan angka menurut sistem dan perapektif Ibrani.

Dalam bahasa Ibrani, angka satu adalah suatu kata sifat, kemudian, suatu rangkaian kata benda menunjukkan bilangan 2 sampai 10. Gabungan bilangan dengan angka 10 menunjukkan angka 11 sampai 19. Sesudah angka 20, bilangan puluhan dibentuk dalam susunan yg sama dengan bh Indonesia, yaitu angka 3 dan 30. Satu kata terpisah menunjukkan angka 100; 200 adalah dua bentuk dari itu. Setelah itu, dari angka 300 sampai angka 900 bentuknya sama lagi dengan sistem bilangan di Indonesia. Adapun bilangan tertinggi yang dinyatakan dengan satu kata adalah bilangan 20.000 yang dibentuk dari bilangan 10.000. Seperti itulah sistem pencatatan angka Ibrani.

Menariknya, dalam Alkitab bilangan juga digunakan sebagai lambang atau mengungkapkan arti teologis, bisa disimak sebagai berikut:

1. Bilangan satu digunakan untuk mengungkapkan gagasan keesaan dan keunikan Allah. Contohnya ada di Ulangan 6:4, juga pada frasa-frasa "Semua bangsa berasal dari satu orang" (Kisah Para Rasul 17:26); "Dosa masuk ke dunia melalui satu orang" (Roma 5:12); "Kasih karunia dilimpahkan karena satu orang, Yesus Kristus" (Roma 5:15);  "Korban persembahan diriNya sampai mati adalah satu kali untuk selama-lamanya" (Ibrani 7:27); dan "Dia-lah yang sulung yg pertama bangkit dari antara orang mati" (Kolose 1:18); "yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (1 Korintus 15:20)".

2. Bilangan dua dapat menggambarkan keesaan maupun pembagian. Contoh: satu pria dan satu wanita merupakan asas kesatuan keluarga (Kejadian 1:27; 2:20, 24); Binatang-binatang dikelompokan dalam pasangan dan masuk ke dalam bahtera secara berpasangan (Kejadian 7:9); Dua orang sering bekerja sama dalam persahabatan atau persekutuan, misalnya pengintai utusan Yosua (Yosua 2:1), juga ke-12 murid diutus berdua dan 70 murid juga diutus demikian (Markus 6:7; Lukas 10:1). Sebagai tambahan, di Sinai diberikan 2 loh batu, dan binatang-binatang sering dipersembahkan berpasang-pasang. Namun, sebaliknya juga angka 2 dipakai sebagai kekuatan yang memisahkan, seperti dalam 1 Raja-raja 18:21, "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati?", juga perihal dua jalan yaitu "jalan yang luas dan yang sempit' dalam Matius 7:13,14.

3. Bilangan tiga, yang lazim dihubungkan dengan Trinitas Oknum ke-Allah-an, contohnya: Matius 28:19; Yohanes 14:26; 15:26; 2 Korintus 13:14; dan 1 Petrus 1:2, yang mana ajaran ini dinyatakan secara tidak langsung. Dalam Perjanjian Baru, bilangan tiga dipandang sakral karena Yesus dibangkitkan pada hari ketiga atau setelah tiga hari (Matius 12:40; 27:63; Lukas 24:46; 1 Korintus 15:4). Bilangan tiga juga dihubungkan dengan perbuatan-perbuatan Allah yang luar biasa dan tertentu, contohnya ada tiga pesta utama disebutkan (Keluaran 23:14-19); rumah suci dibagi ke dalam tiga bagian (1Raja-raja 6:2-22); juga tentang Yunus ada di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam (Yunus 1:17); di Gunung Sinai Tuhan turun untuk memberikan Firman-Nya 'menjelang hari ketiga' (Keluaran 19:11); dalam nubuat Hosea, Tuhan akan membangkitkan umat-Nya 'pada hari ketiga' (Hosea 6:2). Selain itu, ada pemakaian bilangan 'tiga' yang sama pada Lukas 13:32, dimana 'hari ketiga' adalah bentuk puitis untuk suatu kurun waktu pada waktu mana sesuatu telah tuntas diselesaikan, dilengkapi dan disempurnakan' (N. Geldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, 1950, hlm 384, catatan 4), sebagai contoh: Yunus telah dilepaskan (Yunus 1:17; Mat 12:40) dan Kristus telah dibangkitkan Allah dari kematian pada hari ketiga (1 Korintus 15:4), juga ada tiga murid yang diperkenankan untuk berhubungan akrab secara khusus dengan Kristus (Markus 9:2; Matius 26:37), dan di Golgota juga ada tiga salib. Disamping itu, Paulus juga menitik-beratkan tiga kebajikan (1 Korintus 13:13). Contoh menarik lain mengenai bilangan 3 yang digunakan sehubungan dengan jangka waktu, adalah pilihan yang diberikan kepada Daud, yaitu 3 hari penyakit sampar, 3 bulan melarikan diri dari hadapan musuhnya, atau 3 thn kelaparan (1 Tawarikh 21:12), juga bala-tentara Gideon yang menjadi contoh pembagian dalam 3 pasukan (Hakim-hakim 7:16). Selain itu juga, ada bentuk pecahan sepertiga yang dipakai dalam Wahyu 8:7-12.

4. Angka Empat, biasanya adalah pertanda penyelesaian dalam Alkitab, juga lambang kemuliaan dan kebesaran. Perlu diingat, nama TUHAN yang kudus terdiri dari 4 huruf dalam bahasa Ibrani (YHWH). Contoh lain terkait lambang kebesaran adalah ada 4 sungai besar mengalir keluar dari taman Eden (Kejadian 2:10), dan ada 4 penjuru bumi ini (Wahyu 7:1; 20:8), ada 4 asal angin kuat berembus (Yeremia 49:36; Yehezkiel 37:9; Daniel 7:2), juga, didalam penglihatan-penglihatan mengenai kemuliaan Allah, Yehezkiel melihat ada 4 makhluk hidup (ps 1) yang dapat dibandingkan dengan keempar makhluk hidup dalam Wahyu 4:6. Selain itu, sejarah dunia mulai dari kerajaan Babel direntang oleh 4 kerajaan (Daniel 2:7), juga 'empat' adalah bilangan penting dalam lambang nubuat dan dalam kesusastraan, misalnya 4 tukang besi (Zakharia 1:18-21) dan 4 kereta (Zakharia 6:1-8), 4 tanduk dari mezbah emas (Wahyu 9:13), dan 4 malaikat pembunuh (Wahyu 9:14). Sebagai tambahan, ada 4 Injil, dan pada waktu Injil itu disebarluaskan kepada non-Yahudi, Petrus melihat dalam penglihatan suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan.

5. Angka Lima dan sepuluh, beserta perkaliannya, sering muncul karena sistem desimal dipakai di Israel kuno. Dalam Perjanjian Lama, ada 10 Bapak leluhur disebut sebelum air bah, juga kisah orang Mesir yang ditimpah 10 tulah, dan ada juga Sepuluh Firman. Pecahan sepersepuluh merupakan zakat (Kejadian 14:20; 28:22; Imamar 27:30; 2 Tawarikh 31:5; Maleakhi 3:10). Perumpamaan (Lukas 15:8) menyebut seorang wanita memiliki 10 dirham, dan dalam perumpamaan mengenai mina disebut 10 mina, 10 orang hamba dan 10 kota (Lukas 19:11-27). Dari 10 gadis disebut 5 bijaksana dan 5 bodoh (Matius 25:2). Lima ekor burung pipit dijual 2 duit (Lukas 12:6); sang orang kaya mempunyai 5 saudara (Lukas 16:28); wanita Samaria di pinggir sumur pernah mempunyai 5 suami (Yohanes 4:18); dan pada pemberian makan lima ribu orang, sang anak mempunyai 5 roti jelai. Ada 10 kekuasaan yg tidak dapat memisahkan orang percaya dari kasih Allah (Roma 8:38 dab), dan 10 dosa yang tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Korintus 6:10). Karena itu, bilangan 10 juga menandakan kesempurnaan, seperti halnya 10 orang-tua merupakan suatu rombongan (Rut 4:2), yang artinya bilangan 5 adalah lambang setengah dari kesempurnaan itu.

6. Angka Enam adalah angka manusia. Dalam cerita kejadian, Allah menjadikan laki-laki dan perempuan pada hari ke-6 (Kejadian 1:27). Enam hari telah diatur kepada manusia untuk bekerja (Keluaran 20:9; 23:12; 31:15; bnd Lukas 13:14), seorang hamba Ibrani harus bekerja selama 6 tahun sebelum dia dibebaskan.

7. Angka Tujuh, mempunyai tempat penting diantara bilangan kudus dalam Alkitab, dan dikaitkan dengan penyelesaian, penggenapan dan penyempurnaan. Dalam berita kejadian, Allah beristirahat dari pekerjaan-Nya pada hari ke-7 dan menguduskannya. Ini menjadi pola sabat Yahudi, ketika orang berhenti dari kerja (Keluadan 20:10), bagi tahun sabat (Imamar 25:2-6), dan juga bagi tahun Yobel, yang diikuti 7 kali 7 tahun (Imamat 25:8). Hari Raya Roti Tidak Beragi dan Hari Raya Pondok Daun berlangsung 7 hari (Keluaran 12:15, 19; Bilangan 29:12). Hari Raya Pendamaian berlangsung pada bulan ke-7 (Imamat 16:29). Bilangan 7 memang sering muncul berkaitan dengan upacara keagamaan Perjanjian Lama, misalnya memercikkan darah lembu 7 kali (Imamat 4:6), dan korban bakaran terdiri dari 7 ekor domba berumur 1 tahun (Bilangan 28:11); orang sakit kusta yang ditahirkan harus dipercikkan 7 kali (Imamat 14:7), dan Naaman harus menyelam 7 kali di Sungai Yordan (2 Raja-raja 5:10), juga andil kemah suci mempunyai 7 cabang (Keluaran 25:32). Catatan lain yg perlu diperhatikan adalah: ibu dari 7 orang anak (Yeremia 15:9); 7 wanita akan memegang 1 laki-laki (Yesaya 4:1); dan frasa "seorang menantu perempuan yang penuh kasih lebih berharga dari 7 anak laki-laki" (Rut 4:15), kisah orang Saduki yang mengemukakan soal perkawinan janda dengan 7 bersaudara (Matius 22:25), para imam mengelilingi Yerikho 7 kali (Yosua 6:4), hamba Elia diminta untuk melihat tanda hujan 7 kali naik turun (1 Raja-raja 18:43). Pemazmur memuliakan Allah 7 kali sehari (Mazmur 119:164), dan pada Kejadian 29:18; 41:29, 54 dan Daniel 4:23 menyebut 7 tahun, juga, gereja mula-mula mempunyai 7 pelayan (Kisah Para Rasul 6:3), dan Yohanes menyapa 7 jemaat dalam Wahyu dimana juga ada disebut 7 kaki dian emas (Wahyu 1:12) dan 7 bintang (Wahyu 1:16). Pada pemberian makan 4.000 orang juga disebut pergandaan 7 roti dan beberapa ikan (Markus 8:1-9), dan sisanya ada 7 bakul, yang berarti bahwa Yesus mengenyangkan mereka dengan sempurna. Selain itu, ada kisah Maria Magdalena dibebaskan dari 7 roh jahat (Lukas 8:2), dan naga dalam Wahyu 12:3 dan binatang dalam Wahyu 13:1; 17:7 mempunyai 7 kepala.

Demikianlah makna angka atau bilangan 1 hingga 7 menurut perspektif Ibrani. Nah, apa korelasi penjelasan-penjelasan diatas dengan narasi hari-hari Penciptaan dalam kitab Kejadian?

Berikut ini adalah penjelasannya:

1. HARI PERTAMA
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Korelasi makna angka 1 dan Kejadian 1:1 juga Hari Pertama Penciptaan (Kejadian 1:3-5) pada pandangan saya adalah menunjukan gagasan keesaan dan keunikan Allah saat Penciptaan. Keunikan Allah adalah menciptakan terlebih dahulu suatu wadah yang lengkap pondasi (bumi) dan atapnya (langit), kemudian di hari penciptaan Dia menunjukan keesaanNya sebagai satu-satunya sumber Terang sehingga terang itu harus diciptakan pada hari Pertama.

2. HARI KEDUA
°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Angka dua sebagai simbol pembagian bisa terlihat di narasi Penciptaan di hari kedua, yang mana Allah dikisahkan membagi air, baik pembagian air diatas cakrawala dan dibawah cakrawala, maupun pembagian letak air di bumi.

3. HARI KETIGA
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Angka tiga bisa bermakna Trinitas bisa juga bermakna suatu jangka waktu, juga bisa bermakna suatu waktu terkait perbuatan Allah yang luar biasa. Angka tiga juga mempunyai arti simbolik dalam tradisi alkitabiah, yang dalam narasi Penciptaan menyatakan kelengkapan: langit, bumi dan bumi bawah. Hari ketiga memuat setidaknya satu dari makna-makna dan simbol ini, yaitu waktu terkait perbuatan Allah yang luar biasa. Bila sebelumnya hanya wadah yang diciptakan, maka dimulai pada hari ketiga diciptakan makhluk hidup. Penciptaan makhluk hidup yang pertama ini dianggap merupakan perbuatan yang luar biasa.

4. HARI KEEMPAT
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Angka empat bisa bermakna, pertama, suatu tanda penyelesaian dari Tuhan atas karya atau hukumanNya, kedua, lambang nama kudus YHWH, ketiga, suatu lambang benda atau makhluk atau karya yang luar biasa. Makna pertama angka empat bisa dilihat dari hari keempat Penciptaan, yaitu Allah menyelesaikan karyanya yang berhubungan dengan terang yang menyinari bumi. Makna kedua bisa kita simak, bahwa benda-benda penerang itu diciptakan dan dihari keempat pula bukan pertama, itu artinya sang Pencipta, YHWH, berada diatas semua benda-benda penerang itu sehingga tidak ada gunanya menyembah benda-benda penerang itu secara langsung atau melalui personafikasi dewa-dewi. Makna ketiga juga bisa dilihat dihari keempat penciptaan, yaitu adanya benda-benda penerang yang mulai terlihat dari bumi sehingga pembagian waktu bisa ada, dan pembagian waktu itu adalah karya yang besar, mulia dan luar biasa.

5. HARI KELIMA
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Angka lima adalah setengahnya angka 10 dalam perhitungan Ibrani, yang mana 10 adalah angka sempurna jadi angka lima adalah setengah sempurna alias hampir sempurna. Makna ini bisa terlihat dari kisah Penciptaan hari kelima, ketika Allah menciptakan berbagai fauna di laut dan di udara. Semua tampak sempurna sebab Bumi mulai terlihat berwarna, tetapi tarafnya baru di 'hampir sempurna' sebab fauna darat dan manusia belum diciptakan. Inilah mengapa, secara sastra dan kekhasan keteraturan Allah, di hari kelima belum diciptakan fauna darat dan manusia.

6. HARI KEENAM
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Angka enam adalah angka lambang manusia. Di hari keenam, manusia diciptakan. Juga, diciptakan hewan-hewan darat. Terkait hewan-hewan darat, ini menarik. Fauna darat bisa berevolusi dari fauna laut, tetapi, manusia purba (diluar homo sapien yah) tidak bisa berevolusi dari fauna laut. Saya sempat berpikir, apakah hari kelima diciptakan fauna laut dan udara sekaligus sebagai prototype-nya fauna laut saat ini yang evolusinya baru selesai ketika tiba di penciptaan hari keenam dimana mereka menjadi binatang melata dan ternak, kemudian, yang dimaksudkan sebagai "binatang liar" adalah penciptaan manusia purba non-sapien. Menariknya ayat 24-25 dan 30 (dalam bahasa Ibrani) ada disebutkan "binatang liar" tetapi diayat 28 tidak ada disebutkan "binatang liar" sebagai hewan yang harus dikuasai oleh manusia. Inilah yang membuat saya berpikir bahwa 'binatang liar' (ayat 24 menggunakan kata וְחַֽיְתוֹ, - wehaytov, ayat 25 dan 30 menggunakan kata חַיַּ֨ת - hayyat) yang bukanlah hewan yang kita kenal tetapi hominid purba non-homo sapien, sebab mereka diciptakan bukan untuk dikuasai oleh manusia karena diskenariokan akan musnah dengan sendirinya. Nah, ini hanya pikiran sekilas saya yah. Kembali ke kajian sastra, hari keenam adalah lambang manusia yang mana makna ini timbul setelah penciptaan manusia di hari keenam. Secara sastra, walau ada ciptaan lain di hari keenam tetapi Allah menunjukan bahwa hari keenam, harinya umat manusia, manusialah yang diciptakan paling sempurna.

7. HARI KETUJUH
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Angka tujuh melambangkan penyelesaian, penggenapan, dan penyempurnaan. Ini bisa dilihat dari Kejadian 2:1-3 bahwa Allah telah selesai (ayat 2), bahwa semua yang direncanakanNya terkait penciptaan telah digenapi (Kejadian 2:1), dan bahwa hari itu untuk pertama kalinya bumi menjadi sempurna. Angka tujuh juga memiliki makna mistis dan religius dalam budaya Mesopotamia paling lambat abad ke-22 SM. Ini mungkin karena dalam sistem bilangan seksagesimal Sumeria, membagi dengan angka tujuh adalah pembagian pertama yang menghasilkan pecahan berulang tanpa batas. Mungkin makna ini yang diambil oleh orang Ibrani sebagai simbol kuasa tak terbatas dan sempurna.

Demikian makna-makna sastrawi dari hari-hari Penciptaan yang saya kaji. Bisa kita simak, dalam penulisan kisah Penciptaan ini, sekalipun kisahnya mirip dengan mitologi Mesopotamia tetapi gaya penulisannya sangat rumit dan penuh simbol, yang mana semua itu adalah kekhasan sastra Ibrani kuno yang tidak ditemui di karya-karya sastra kuno lainnya. 

Maksudnya 'mirip' bukanlah 'sangat mirip', melainkan 'ada kemiripan'. Kemiripan seperti itu adalah hal yang biasa dalam dunia kuno ketika mereka menuturkan atau menceritakan sejarah atau suatu riwayat dan kisah bangsa mereka dengan menggunakan gaya sastra serta mengambil contoh kisah dalam sastra kuno yang telah ada sebelumnya..Semua ini merupakan kerumitan dan kekhasan sastra Ibrani kuno. Kerumitan dan kekhasan ini yang membedakan sastra Ibrani kuno dengan sastra-sastra di peradaban kuno lainnya termasuk peradaban kuno disekitar Israel. 

Pola Penciptaan dalam Alkitab memang terlihat jelas:
1. Diciptakan wadah
2. Diciptakan pelengkap wadah
3. Diciptakan makhluk hidup yang kurang mulia
4. Diciptakan makhluk hidup yang lebih mulia
5. Diciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna

Bila kita hubungkan ke teologi-sastra maka pola ini, yang juga ditunjukan oleh pemaknaan bilangan-bilangan Ibrani kuno, menunjukan banyak hal yaitu keteraturan pekerjaan Ilahi, karya Ilahi yang sistematis, harmoni semesta, serta kemuliaan Ilahi dan kesempurnaan karya Ilahi.

___________________
Oleh (T) Cepogo, 290823 STT BAPTIS INJILI


Referensi dan Daftar Bacaan:
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
1. A. F. Kirkpatrick (editor); "The Book Of Genesis"; Cambridge University Press - Fetter Lane, E.c.; London; 1921.

2. "Browning" (Kamus Alkitab), perikop: tiga.
Ensiklopedia Alkitab, perikop: angka.

3. Carol A. Hill; "Making Sense of theNumbers of Genesis"; Desember 2003.

4. David E. Pratte; "Commentary on the Book of Genesis: Bible Study Notes and Comments"; 2016 (edisi revisi).

5. Djonly Johnson Relly Rosang; "Studi Kritik Teori Penciptaan Dalam Kejadian 1:1-2.(Suatu Kajian terhadap Argumentasi Teori Celah)"; Hupēretēs: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1 no.1; 2019.

6. Fanny Y. M. Kaseke; "Saat Iman dan Akal Berbenturan:Alam Semesta Menurut Ajaran Alkitab dan Evolusionisme".

7. Jack David Kawira; "Tinjauan Kritis Pandangan Harafiah Hari Penciptaan".

8. Luo Clement; "The Ancient Science of Numbers"; Roger Brothers; New York; 1908.

9. Robert E. Krebs; "Encyclopedia of ScientificPrinciples, Laws, and Theories"vol. 2: L–Z; Greenwood Press; Westport, Printed in the United States of America; 2008

10. Philip Schaff; "The New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge"; Baker Book House; Michigan; 1952.

11. T. K. Cheyne dan J. Sutherland Black, "Encyclopedia Biblica: A Dictionary Of The Bible"; The Macmillan Company; New York; 1901.

12. Wati Susilawati; "Sejarah & Filsafat Matematika"; CV. Insan Mandiri; 2017.

.


MENGENAI KATA NEFILIM, SERIAL SUDUT PANDANG

 

MENGENAI KATA NEFILIM, SERIAL SUDUT PANDANG

Mungkin dapat memberikan sedikit informasi dari sudut pandang bahasa/kata, tapi ini berpulang hanya pendapat atau teori. Kata yang dipelajari adalah נְּפִלִים - NEFILIM. Dalam naskah Biblia Hebraica Stuttgartensia (BHS Hebrew) kata yang merujuk dengan "NEFILIM" ini dijelaskan lagi dengan kata Ibrani lainnya yaitu "GIBOR" :

Menurut Leksikon Ibrani :

נְּפִלִים - NEFILIM, bentuk jamak dari נָפִיל - NAFIL, akar kata : נָפַל - NAFAL; properly, a feller, i.e. a bully or tyrant:--giant.

גִּבּוֹר - GIBOR : powerful; by implication, warrior, tyrant:-- champion, chief, X excel, giant, man, mighty (man, one), strong (man), valiant man.

1) נְּפִלִים - NEFILIM, orang-orang raksasa

KJV dan LAI : menterjemahkannya dengan 'giants' (= raksasa)

NASB/NIV/RSV: tidak menterjemahkah kata נְּפִלִים - NEFILIM melainkan mentransliterasikannya dengan kata 'the Nephilim'. Terjemahan נְּפִלִים - NEFILIM menjadi 'giants / raksasa' sebagaimana ada di LAI dan KJV ini timbul karena:

Merujuk pada Septuaginta / LXX (Perjanjian Lama terjemahan bahasa Yunani) yang lebih dulu menterjemahkannya dengan kata γιγαντες - gigantes (raksasa). Terjemahan ini tidak terlalu salah, karena memang menunjukkan bahwa orang "Nephilim" itu mempunyai ukuran tubuh yang sangat besar yang diperjelas dengan kata "GIBOR". 

2) גִּבּוֹר - GIBOR, orang-orang gagah perkasa

Ini menunjukan bahwa orang "NEFILIM" adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan fisik atau kepandaian berkelahi yang hebat.

Ada Pendapat Bahwa "Perkawinan Campur" antara "Anak-anak Allah" dan "Anak-anak Manusia" menghasilkan "Nefilim ini" Kejadian 6:4:

kaum Nefilim (HANEFILIM) dikatakan "mereka telah ada" (HAYU), dari tenses naskah Ibrani menjelaskan secara jelas mereka telah ada sebelum "perkawinan campur" itu. kaum Nefilim (HANEFILIM), mereka adalah kaum yang berbadan besar (raksasa), dan terkenal karena jahatnya. Setelah menuliskan adanya kaum Nefilim (HANEFILIM) yang telah ada (tenses perfect), barulah kemudian ('AKHAREY-KHEN) dituliskan adanya "putera2 Allah" yang datang (YAVOU) dalam tenses imperfect kepada "anak2 perempuan manusia", baru kemudian mereka melahirkan orang2 yang yang besar (HAGIBORIM) dan orang2 yang ternama/terkenal (AN'SHEY HASHEM), yaitu orang-orang yang terkenal dalam konteks yang buruk (kejahatan). Note: perhatikan konteks Kejadian pasal 6 ini merujuk kepada kejahatan manusia yang membuat Allah menjadi berduka (NAKHAM). Jadi, arti ayat 4 seluruhnya ialah: pada waktu itu sudah ada raksasa-raksasa dan mereka adalah perampok-perampok yang terkenal akan kejahatannya. Dan kemudian dengan adanya perkawinan campuran antara "anak-anak Allah" (keturunan Set yang saleh) dan "anak-anak manusia" (keturunan Kain yang jahat), lalu lahir lagi orang-orang yang sejenis dengan perampok-perampok itu itu. "Perkawinan campuran" itu bukannya yang pertama menjadi penyebab lahirnya kaum "raksasa" (Nefilim). Tetapi akibat "perkawinan campuran" itu menyebabkan orang-orang jahat/ berdosa menjadi semakin banyak!

 HASHEM (harfiah, sang nama) renown/orang-orang kenamaan/terkenal

Dengan melihat konteks "Kejadian pasal 6" yang menuliskan kejahatan manusia, dan itu menyebabkan Allah menjadi berduka (NAKHAM). Maka konteks הַשֵּׁם - HASHEM, dalam artian "terkenal" ini merujuk kepada "terkenal karena kejahatan2nya"

Lebih lanjut tentang kata נְּפִלִים - NEFILIM :

Sesuai Leksikon Ibrani, yang menghubungkan נְּפִלִים - NEFILIM dengan akar katanya yaitu נָפַל - NAFAL "jatuh"; Maka makna kata "NEFILIM", bisa juga berarti :

a) 'to fall' (= jatuh).

Mungkin semua orang yang bertemu mereka jatuh tersungkur karena takut kepada mereka.

b) 'to fall upon / to attack' (= menyerang).

Jadi, "NEFILIM" berarti penyerang, bandit, perampok.

Kedua arti ini bisa digabungkan. Jadi, kata "NEFILIM" menunjuk kepada perampok-perampok yang ditakuti orang.

Untuk itulah mengapa dalam JPST/NIV/NASB/RSV memilih tidak menterjemahkan kata ini, dan kemudian 'mentransliterasikannya' saja dengan kata 'the Nephilim'. Lebih lanjut pertimbangan JPST/NASB/NIV/RSV itu tidak menterjemahkan kata נְּפִלִים - NEFILIM, karena ada ayat yang dapat dihubungkan dengan Kejadian 6:4, sbb :

* Bilangan 13:33

LAI TB, Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami."

KJV, And there we saw the giants, the sons of Anak, which come of the giants: and we were in our own sight as grasshoppers, and so we were in their sight.

Septuaginta, και εκει εωρακαμεν τους γιγαντας και ημεν ενωπιον αυτων ωσει ακριδες αλλα και ουτως ημεν ενωπιον αυτων

Translit, kai ekei heôrakamen tous gigantas kai êmen enôpion autôn hôsei akrides alla kai houtôs êmen enôpion autôn

Bandingkan dengan :

JPST, And there we saw the Nephilim, the sons of Anak, who come of the Nephilim; and we were in our own sight as grasshoppers, and so we were in their sight.'

NASB, "There also we saw the Nephilim (the sons of Anak are part of the Nephilim); and we became like grasshoppers in our own sight, and so we were in their sight."

NIV, We saw the Nephilim there (the descendants of Anak come from the Nephilim). We seemed like grasshoppers in our own eyes, and we looked the same to them."

RSV, And there we saw the Nephilim (the sons of Anak, who come from the Nephilim); and we seemed to ourselves like grasshoppers, and so we seemed to them."

Hebrew,

וְשָׁם רָאִינוּ אֶת־הַנְּפִילִים בְּנֵי עֲנָק מִן־הַנְּפִלִים וַנְּהִי בְעֵינֵינוּ כַּחֲגָבִים וְכֵן הָיִינוּ בְּעֵינֵיהֶם׃

Translit interlinear, VESHAM {dan dari sana} RAINU {kami melihat} 'ET {pada} -HANEFILIM {orang nefilim} BENEY {putera2 dari} 'ANAQ {anaq} MIN-HANEFILIM {dari orang nefilim} VANEHI {dan mereka} VE'EINEINU {di mata kami} KAKHAGAVIM {seperti belalang2} VEKHEN {juga} HAYINU {terhadap kami} BE'EINEIHEM {di mata mereka}

Perhatikan Kata "NEFILIM" pun diberikan kepada bangsa Kanaan, suku Enak.

Kalau kita menghubungkan Kejadian 6:4 dengan Bilangan 13:33 ini. Kita bisa melihat, sajian terjemahan JPST/NASB/NIV/RSV lebih tepat, dimana kata "NEFILIM" tidak diterjemahkan sebagaimana Septuaginta, melainkan disalin hurufnya saja (transliterasi).

Terjemahan NIV ini lebih cocok dengan konteks dibandingkan dengan terjemahan Septuaginta/KJV/LAI di atas yang menterjemahkan kata "NEFILIM" dengan raksasa (gigantes). Walaupun memang dengan menghubungkan kata "NEFILIM" dengan kata Ibrani lainnya "GIBOR", menunjuk bahwa kaum "NEFILIM" ini berbadan besar. Tatapi kaum "NEFILIM" adalah manusia biasa.

Pertimbangan lain bagi NIV tidak menterjemahkan kata "NEFILIM" adalah melihat konteks ayat, dimana Kejadian 6:4 ini berbicara tengtang dosa manusia secara moral, bukan berbicara tentang "ukuran tubuh". Malah kalau tahu-tahu ayat 4 ini dihubungkan dengan tentang ukuran tubuh (sebagaimana Septuaginta menterjemahkannya), justru kata Yunani gigantes (=raksasa) itu tidak sesuai dengan konteks atau tidak berhubungan dengan konteks. Dilain pihak jika kata "NEFILIM" diartikan perampok/ orang2 jahat, itu lebih sesuai dengan konteks ayat.


Kesimpulan :

Kaum "NEFILIM" adalah manusia biasa, bukan makhluk menyerupai manusia, bukan pula makhluk yang ditafsirkan sebagai "keturunan malaikat-malaikat yang jatuh" (karena malaikat makhluk roh yang tidak kawin dan mengawinkan, Matius 22:30).

Apalagi dijelaskan dalam bagian lain dalam Alkitab bahwa "NEFILIM"adalah nama dari suku Enak, bangsa Kanaan (Bilangan 13:33).

Pengertian umum "Raksasa" dalam dongeng adalah makhluk yang menyerupai manusia, berbadan tinggi besar.

Tetapi 'raksasa' (Inggris, Giant, Yunani gigantes) didalam Alkitab bukanlah dongeng, bukan pula makhluk non-manusia, melainkan manusia yang memiliki tubuh yang besar melebihi ukuran normal, misalnya dalam kisah lain bisa kita temukan juga orang yang bernama GOLIAT (1 Samuel 17:4) yang tinggi badannya dirinci "enam siku satu jengkal", kira-kira tingginya 3.2 meter dengan merujuk pada ukuran 1 siku = 52.5cm.

Cepogo, 280823 (T), STT BAPTIS INJILI INDONESIA 

Baca juga :

http://titusroidanto.blogspot.com/2023/08/raksasa-serial-sudut-pandang.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2023/08/raksasa-serial-sudut-pandang.html?m=1

Jumat, 11 Agustus 2023

SUDUT PANDANG MATIUS 14 : 22-33, KEBERANIAN ADALAH BUAH KEBERIMANAN, SERIAL SUDUT PANDANG, YESUS BERJALAN DI ATAS AIR, Matius 14:22-33,

SUDUT PANDANG MATIUS 14:22-33, KEBERANIAN ADALAH BUAH KEBERIMANAN, SERIAL SUDUT PANDANG, YESUS BERJALAN DI ATAS AIR, Matius 14:22-33,

Banyak orang Kristen dewasa memahami kisah di Alkitab sama dengan pemahaman mereka saat masih kanak-kanak. Contoh kisah Natal. Mereka mencerap kisah Natal itu hanya satu versi: Yesus lahir di kandang dan didatangi gembala-gembala dan orang-orang Majus dalam satu latar. Padahal kisah itu pemerkosaan penggabungan dua kisah Natal yang berbeda dari Injil Lukas dan Matius. Kalau mereka cermat membaca Alkitab, menurut Injil Lukas rumah Yusuf di Nasaret dan Yesus lahir di “kandang” (apa pun sebutannya) di Betlehem, sedang menurut Injil Matius rumah Yusuf di Betlehem dan Yesus lahir di rumah. Suasana kelahiran Yesus damai menurut Injil Lukas, sedang menurut Injil Matius penuh teror sehingga Yusuf membawa Maria dan bayi Yesus mengungsi ke Mesir. Kisah Natal kedua Injil itu tidak dapat dan tidak boleh digabungkan, karena keduanya mengusung teologi yang berbeda. Penggabungan malah menghilangkan pesan teologinya, bahkan menurunkan harkat kisah itu menjadi dongeng biasa. 
Cukup banyak lulusan perguruan tinggi teologi  cara membaca Alkitab mereka sama dengan saat mereka masih kanak-kanak dan remaja. Buktinya khotbah atau tafsir mereka terdengar sama saja, itu-itu saja, meskipun dari kitab yang berbeda-beda.

Bacaan Injil Matius 14:22-33, perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳. Bacaan dapat dibagi ke dalam tiga bagian ulasan:
🛑 Matius 14:22-23 Yesus di gunung
🛑 Matius 14:24-27 Yesus berjalan di atas air
🛑 Matius 14:28-32 Petrus berjalan di atas air
🛑 Matius 14:33 Pengakuan

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗱𝗶 𝗴𝘂𝗻𝘂𝗻𝗴 (Mat. 14:22-23)

Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. (Mat. 14:22, TB II 2023) 

Bacaan Injil Minggu ini merupakan episode berikutnya dari episode bacaan Injil Minggu lalu tentang 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. Hal itu ditunjukkan dengan frase pembuka ayat 22 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶.

Kata 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘴𝘢𝘬 diterjemahkan dari e𝘯𝘢𝘯𝘬𝘢𝘴𝘦𝘯, yang berarti literal memaksa (bdk. Luk. 14:23 “ … 𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 orang-orang yang ada di situ, …”). Yesus memaksa para murid ke mana? Naik ke perahu untuk pergi lebih dahulu ke seberang. Mungkin maksudnya ke sebelah timur Danau Galilea (bdk. Mat. 8:18). Dalam pada itu Yesus juga membubarkan (𝘢𝘱𝘰𝘭𝘺𝘴o) orang banyak.

Yesus memaksa para murid meninggalkan-Nya dan membubarkan khalayak ditafsir bahwa khalayak begitu antusias untuk segera mengangkat Yesus menjadi raja mereka. Tafsir ini spekulatif karena teks sama sekali tidak meninggalkan jejak untuk menafsir seperti itu. Ayat selanjutnya justru menjelaskan bukan itu alasan Yesus.

Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam Ia sendirian di situ. (Mat. 14:23, TB II 2023)

Jadi, alasan Yesus memaksa para murid pergi dan membubarkan khalayak adalah hendak menyingkir, menyendiri. Tujuan sejak semula Yesus pergi ke tempat terpencil karena peristiwa pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes (lih. Mat. 14:1-13a).

LAI menerjemahkan 𝘰𝘳𝘰𝘴 menjadi 𝘣𝘶𝘬𝘪𝘵 dalam frase 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘬𝘪𝘵 sebenarnya mengaburkan atau mengacaukan teologi yang diusung oleh pengarang Injil Matius. Kata 𝘰𝘳𝘰𝘴 seharusnya diterjemahkan menjadi 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨. Sebagai pembanding NRSV, KJV, NAS, NIV menerjemahkan oros menjadi 𝘮𝘰𝘶𝘯𝘵𝘢𝘪𝘯. 

Istilah 𝘰𝘳𝘰𝘴 atau gunung amat penting bagi penulis Injil Matius untuk menyampaikan teologinya yang khas. Pendapat ini diperkuat dengan 𝘜𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯-𝘶𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 versi Injil Lukas yang disampaikan oleh Yesus bukan di gunung, melainkan di tempat datar (lih. Luk. 6:17), karena teologi Lukas berbeda dari Matius. Matius mengusung teologinya bahwa Yesus adalah Musa yang baru. Musa menerima firman Allah (10 Perintah Allah) di gunung, sedang Yesus memberi perintah atau pengajaran atau firman di gunung dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 (lih. Mat. 5 – 7). Musa berdoa pergi ke gunung, Yesus juga berdoa pergi ke gunung seperti dalam ayat 23 di atas. Gunung merupakan tempat manifestasi Allah, tempat perjumpaan dengan Allah (Kel. 19:20; 1Raj. 19). 

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗮𝗶𝗿 (Mat. 14:24-27)

Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru, “𝘐𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘵𝘶!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Yesus segera berkata kepada mereka, “𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩! 𝘐𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵!” (Mat. 14:24-27, TB II 2023)

𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘪𝘭 diterjemahkan dari 𝘴𝘵𝘢𝘥𝘪𝘰𝘶𝘴 𝘱𝘰𝘭𝘭𝘰𝘶𝘴 yang berarti literal banyak stadia; 1 stadia setara lebih kurang 185 m. Tampaknya LAI berkesulitan mencari padanan stadia sehingga mengambil satuan mil yang biasa untuk mengukur jarak tempuh di laut. Data geografis masa kini lebar Danau Galilea mencapai 13 km. Saking lebarnya Danau Galilea disebut juga Laut Tiberias.

Ada perbedaan antara Matius dan Markus mengenai perjalanan para murid. Matius menulis 𝙋𝙚𝙧𝙖𝙝𝙪 … 𝘥𝘪𝘰𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨-𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘭𝘰𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘢𝘭 … , sedang Markus menulis ... 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘺𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘢𝘭 … (lih. Mrk. 6:48). Subjek dalam Injil Matius adalah perahu, sedang dalam Injil Markus subjeknya adalah mereka (para murid). Tampaknya Matius memetaforkan Gereja atau jemaat Matius yang sedang gonjang-ganjing karena ditekan oleh lawan dengan perahu yang diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal.

𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘫𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 diterjemahkan dari 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘳𝘵o 𝘥𝘦 𝘱𝘩𝘺𝘭𝘢𝘬o 𝘵o𝘴 𝘯𝘺𝘬𝘵𝘰𝘴 yang berarti literal 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘫𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮. Pada zaman itu ada pembagian empat jam jaga malam. Jam keempat sekitar pukul 3 – 6 pada waktu masa kini. 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 … 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳 dalam teks sumber penerjemahan tidak menyebut air, melainkan laut (𝘵𝘩𝘢𝘭𝘢𝘴𝘴𝘢𝘯). Yesus tidak melayang-layang di atas permukaan laut, tetapi memang berjalan. Bangsa Israel memandang laut sebagai kekuatan yang selalu mengancam manusia. Di sini Matius tampaknya hendak menampilkan bahwa Allah saja yang dapat menguasai atau mengalahkannya. Kekuatan itu di bawah kaki Yesus.

Para murid melihat Yesus berjalan di atas air menjadi ketakutan dan mengira itu hantu. Hanya di ayat 26 ini dan Markus 6:49 yang menggunakan kata hantu (𝘗𝘩𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴𝘮𝘢). Yesus menentramkan mereka, “𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩!”, yang diterjemahkan dari 𝘛𝘩𝘢𝘳𝘴𝘦𝘪𝘵𝘦, kata yang sama diucapkan Yesus kepada orang lumpuh (Mat. 9:2) dan perempuan yang menderita sakit pendarahan (Mat. 9:22). 

Sesudah itu Yesus mengenalkan diri, “𝘐𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶.” Bahasa aslinya adalah 𝘦𝘨𝘰̄ 𝘦𝘪𝘮𝘪 yang berarti literal 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢. Rumusan ini mengingatkan kita pada jatidiri Yesus di Injil Yohanes. Sekadar informasi Injil Yohanes ditulis jauh sesudah penulisan Injil Matius. Selain itu rumusan 𝘦𝘨𝘰̄ 𝘦𝘪𝘮𝘪 merupakan perkenalan diri Allah kepada Musa dalam kitab Keluaran 3:14 (juga Ul. 32:39) versi Septuaginta. Ini menguatkan bahwa Matius mengusung teologi Yesus adalah Musa yang baru, bahkan lebih besar daripada Musa.

𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗮𝗶𝗿 (Mat. 14:28-32)

Petrus berkata kepada-Nya, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘔𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳.” Kata Yesus, “𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩!” Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air dan mendatangi Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mula tenggelam, lalu berteriak, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata, “𝘏𝘢𝘪, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨?” Lalu keduanya naik ke perahu dan angin pun reda. (Mat. 14:28-33)

Kisah Petrus berjalan di atas air ini adalah satu dari tiga cerita khas Injil Matius tentang Petrus. Tidak ada di kitab Injil lainnya. Dua cerita khas lainnya adalah 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 (Mat. 16:16-19) dan 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 (Mat. 17:24-27). 

Dalam bacaan ini untuk pertama kali Matius menampilkan Petrus sebagai jurubicara para murid. Sapaan Yesus dengan 𝘦𝘨o 𝘦𝘪𝘮𝘪 ditanggapi Petrus dengan 𝘦𝘪 𝘴𝘶 𝘦𝘪, yang berarti literal 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢. Untuk memastikan jatidiri-Nya Petrus meminta Yesus menyuruhnya berjalan di atas air.

Petrus percaya pada perintah Yesus “𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩!” dan ia berjalan di atas air sampai (ke tempat) Yesus (sesuai dengan bahasa aslinya 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘰𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘦𝘱𝘢𝘵e𝘴𝘦𝘯 𝘦𝘱𝘪 𝘩𝘺𝘥𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘪 e𝘭𝘵𝘩𝘦𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘴 𝘵𝘰𝘯 𝘐e𝘴𝘰𝘶𝘯). Petrus tidak berjalan beberapa langkah seperti yang kerap kita dengar di khotbah, tetapi ia memang berhasil sampai ke tempat Yesus. Merasa tiupan angin kencang, kambuhlah rasa takut Petrus akan kuasa alam maut dan mula tenggelam. Petrus berteriak, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶!” Teriakan ini merupakan model doa yang diambil dari Mazmur 69:2, 14-15.

Yesus segera menolong Petrus. Sesudah itu Yesus mendamprat Petrus, karena ia ternyata kurang mengandalkan Yesus. Dampratan Yesus berulang kali digunakan dalam Injil Matius (lih. Mat. 6:30; 8:26; 16:8; 17:20). Iman ada, namun tidak memadai, seperti benih yang jatuh di tanah berbatu. Perbuatan Yesus di sini adalah 𝘴𝘢𝘧𝘦𝘵𝘺 𝘧𝘪𝘳𝘴𝘵, mengutamakan keselamatan orang tak berdaya. Sesudah menolong, baru kemudian Yesus menegur dan naik ke perahu. Angin pun reda. Bandingkan dengan kehidupan masa kini. Orang senang melihat orang susah. Bukan menolong, malah menggunjing.

𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂𝗮𝗻 (Mat. 14:33)

Orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya, “𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.” (Mat. 14:33, TB II 2023)

Ada perbedaan ayat penutup kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳 di Injil Markus. Mari kita bandingkan.

Mereka sangat tercengang, sebab mereka belum juga mengerti tentang roti itu, dan hati mereka tetap degil. (Mrk. 6:51b-52, TB II 2023)

Dalam Injil Markus mereka (para murid) sangat tercengang, karena pada siang sebelumnya Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dengan modal lima roti dan dua ikan. Hati mereka tetap degil, meskipun mereka juga melihat Yesus berjalan di atas air dan angin sakal reda.

Penginjil Matius membalikkan cerita Markus dengan pengakuan semua murid terhadap Yesus, yang mendahului 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 di Matius 16:16 dan kepala pasukan Romawi di Matius 27:55. Menyembah penerjemahan dari 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘬𝘺𝘯e𝘴𝘢𝘯, kata yang dipilih oleh Matius sebagai ungkapan menghormati Allah. Kata ini digunakan 13 kali oleh Matius (lih. Mat. 2:2; 2:11; 4:10; dll.)

Bacaan Minggu ini mengajar kita bahwa memiliki iman saja tidak cukup. Iman menuntut keberanian. Berani menghadapi tantangan besar, termasuk berani mengubah pemahaman iman kekanak-kanakan menjadi iman dewasa.

Cepogo, 12.08.23 (T)

Jumat, 04 Agustus 2023

MEMBERI MAKAN 5000 LELAKI, SERIAL SUDUT PANDANG (Matius 14 : 13 - 21)

MEMBERI MAKAN 5000 LELAKI, SERIAL SUDUT PANDANG (Matius 14 :13-21)

Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang ada di keempat Injil. Namun, tidak banyak orang yang cermat, termasuk pengkhotbah, bahwa kisah ini sebenarnya berbeda. Contoh, Injil Yohanes menyebut lima roti dan dua ikan dari seorang anak, sedang ketiga Injil sinoptis menyebut lima roti dan dua ikan itu milik para murid. Itu baru dari isi cerita. Konteks dan pesan kisah itu berbeda karena para penulisnya berbeda dan mengusung teologi yang berbeda pula

Bacaan dari Injil Matius 14:13-21 
LAI memberi judul perikop bacaan Injil Matius 14:13-21 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. Pengarang Injil Matius mengusung teologi Yesus adalah Musa yang baru. Dapat diduga kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dilatari oleh pengalaman bangsa Israel dipimpin oleh Musa di padang gurun sesudah keluar dari Mesir menuju Kanaan dalam kitab Keluaran 16. Kedua cerita itu hendak menyampaikan bahwa bangsa Israel dikenyangkan oleh “roti yang diturunkan Allah dari langit”. Kisah lima roti dan dua ikan yang mengenyangkan lima ribu orang laki-laki juga dilatari oleh penggandaan roti jelai oleh Nabi Elisa (lih. 2Raj. 4:1-7, 42-44). Namun, bukan berarti pengarang kitab Injil mencontek kisah di Perjanjian Lama (PL), tetapi pengarang Injil hendak menafsir kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 bahwa Yesus lebih besar daripada Musa.

Bacaan Injil Matius 14:13-21 dapat kita ulas dalam tiga bagian:

🛑 Matius 14:13-14 Belas kasihan Yesus
🛑 Matius 14:15-18 Kamu harus memberi mereka makan
🛑 Matius 14:19-21 Mukjizat lima roti dan dua ikan

𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗞𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (Mat. 14:13-14)
Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ seorang diri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Mendengar hal itu orang banyak yang mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya. Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. (Mat. 14:13-14, TB II 2023)
Berita apa yang didengar oleh Yesus? Berita pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes. Yesus menyingkir. Hal ini sama dengan Matius 4:12 ketika Yohanes Pembaptis ditangkap dan dipenjara, Yesus menyingkir. Pada teks bacaan disebut Yesus pergi seorang diri ke tempat terpencil. Dapat diduga berita pembunuhan Yohanes Pembaptis tersebut berbobot historis. 
Versi Injil Markus Yesus tidak menyingkir, melainkan Ia mengajak murid-murid-Nya beristirahat di tempat sunyi sesudah mereka kelelahan menjalan misi dari Yesus (Mrk. 6:30-31). Versi Injil Lukas Yesus mengajak murid-murid-Nya menyendiri di Kota Betsaida, bukan tempat sunyi (Luk. 9:10). Versi Injil Yohanes Yesus pergi ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Kepergian Yesus tidak ada hubungannya dengan kematian Yohanes Pembaptis karena pasal yang mendahuluinya tidak bercerita tentang Yohanes Pembaptis (Lih. Yohanes 5 – 6:1).
Sesudah Matius menceritakan Yesus pergi ke tempat terpencil, kemudian ayat-ayat selanjutnya muncul dialog Yesus dengan murid-murid-Nya, tetapi tidak dijelaskan alat transportasi yang digunakan oleh mereka. Apakah mereka menyusul dengan perahu atau lewat jalan darat? Tidak jelas. Yang pasti adalah orang banyak menyusul Yesus berjalan kaki atau lewat jalan darat.
Frase 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata 𝘦𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘪𝘴𝘵𝘩𝘦̄. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Yesus kemudian menyembuhkan mereka yang sakit, padahal Yesus ke seberang hendak menyendiri. Sakit di sini dari kata 𝘢𝘳𝘳𝘰̄𝘴𝘵𝘰𝘶𝘴, yang berarti literal tak berdaya. Coba bandingkan dengan pendeta anda. Saat anda atau anggota keluarga anda atau kerabat anda sakit, anda meminta pendeta anda yang sedang sibuk merayakan hari ulang tahunnya untuk datang mendoakan si sakit. Apakah ia mau langsung bergerak sesuai permintaan anda?
Teks Injil Matius sama sekali tidak menyebut Yesus mengajar banyak hal seperti dalam Injil Markus 6:34 dan tidak berbicara tentang Kerajaan seperti disebut dalam Injil Lukas 9:11. Yesus hanya menyembuhkan orang sakit. Matius sangat jelas menyampaikan pesannya kepada Gereja untuk segera bergerak menolong orang-orang tak berdaya tanpa perlu banyak berbual.

𝗞𝗮𝗺𝘂 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻 (Mat. 14:15-18)
Menjelang malam murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “𝘛𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮. 𝘚𝘶𝘳𝘶𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘥𝘦𝘴𝘢-𝘥𝘦𝘴𝘢 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.” Yesus berkata kepada mereka, “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣!” Jawab mereka, “𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘯.” Yesus berkata, “𝘉𝘢𝘸𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶.” (Mat. 14:15-18, TB II 2023)

Keterangan waktu menjelang malam hendak menyatakan bahwa betapa sempit waktu bagi khalayak untuk mencari makan. Bahkan ucapan murid pada frase 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 yang diterjemahkan dari 𝘩𝘰̄𝘳𝘢 𝘦̄𝘥𝘦̄ 𝘱𝘢𝘳𝘦̄𝘭𝘵𝘩𝘦𝘯 berarti literal waktu sudah habis. Matius tampaknya hendak menciptakan ketegangan antara Yesus dan murid-murid-Nya. Mereka memojokkan Yesus dengan alasan waktu sudah habis sehingga mereka mengharapkan Yesus segera memberi perintah kepada khalayak untuk mencari makanan.
Rupanya tanggapan Yesus di luar dugaan para murid. Orang banyak tidak perlu pergi, bahkan Yesus memberi perintah kepada para murid, “𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣!” Mendengar perintah itu para murid berusaha 𝘯𝘨𝘦𝘭e𝘴, “𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘯.” Perintah Yesus itu berlaku sepanjang masa. Gereja tidak boleh menutup mata kepada orang kelaparan, orang tak berdaya. Gereja harus memberi mereka makan tanpa syarat. Tidak ada alasan bagi Gereja tidak memiliki makanan yang cukup untuk dibagikan. 
Mendengar jawaban para murid yang ngelès itu Yesus berkata, “𝘉𝘢𝘸𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶.” Gereja melayani dari yang ada, bukan mengada-ada. Apalagi mengada-adakan alasan untuk tidak melayani.

𝗠𝘂𝗸𝗷𝗶𝘇𝗮𝘁 𝗹𝗶𝗺𝗮 𝗿𝗼𝘁𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝘂𝗮 𝗶𝗸𝗮𝗻 (Mat. 14:19-20)
Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang tersisa sebanyak dua belas bakul penuh. Yang makan kira-kira lima ribu orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat. 14:19-21, TB II 2023)
𝘔𝘦𝘯𝘦𝘯𝘨𝘢𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 diterjemahkan dari 𝘢𝘯𝘢𝘣𝘭𝘦𝘱𝘴𝘢𝘴 𝘦𝘪𝘴 𝘵𝘰𝘯 𝘰𝘶𝘳𝘢𝘯𝘰𝘯; 𝘰𝘶𝘳𝘢𝘯𝘰𝘯 dapat berarti surga. Kosmologi pada zaman itu surga terletak di atas bumi datar yang berbentuk seperti tampah. 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 diterjemahkan dari 𝘦𝘶𝘭𝘰𝘨o𝘴𝘦𝘯, yang berarti literal memberkati (roti). Teks ini janggal, karena kebiasaan orang Yahudi adalah memberkati (atau mengucap doa berkat kepada) Allah, bukan barang (roti). Kitab Injil adalah produk Gereja, bukan kitab Injil membuat Gereja. Gereja sudah ada terlebih dahulu, baru kemudian penulisan kitab-kitab Injil. Penulisan teks kitab Injil ini sangat bolehjadi sudah berwarna kristiani, karena Gereja atau umat Kristen meyakini roti ekaristi adalah roti kudus.
𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘤𝘢𝘩-𝘮𝘦𝘤𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 tentu maksudnya membelah-belah roti. Dalam keluarga Yahudi prosesi pemecahan roti dilakukan oleh kepala keluarga sebagai isyarat memula makan. Tidak ada penjelasan Yesus juga membelah-belah ikan karena lazimnya makan bersama diawali dengan pemecahan roti. Sesudah pemecahan roti Yesus memberikan roti-roti itu kepada murid-murid-Nya, kemudian mereka memberikannya kepada orang banyak. Di sini murid-murid akhirnya memberi makan orang banyak seperti perintah Yesus dan sekaligus menjadi perantara. Demikianlah sepatutnya Gereja yang sudah diberi berkat oleh Allah, maka memberikan berkat kepada orang banyak di luar Gereja.
Khalayak makan sampai kenyang. Frase 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨 diterjemahkan dari kata 𝘦𝘤𝘩𝘰𝘳𝘵𝘢𝘴𝘵𝘩e𝘴𝘢𝘯. Hal ini mengingatkan kita pada Ucapan Bahagia Yesus, “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘶𝘴 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯.” Kata 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 di sini diterjemahkan dari kata 𝘤𝘩𝘰𝘳𝘵𝘢𝘴𝘵𝘩e𝘴𝘰𝘯𝘵𝘢𝘪, yang berakar kata yang sama dengan 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨. Tampaknya Matius menyampaikan pesan bahwa Gereja tidak hanya mengenyangkan umat secara rohani, tetapi juga menyenyangkan secara ragawi. Haruslah ada kesetimbangan. Jangan sampai umat 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯, 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘬.
Khalayak bukan saja makan sampai kenyang, roti pun masih berlebih sampai dua belas bakul penuh. Sepatutnya seperti itulah selalu ada makanan di Gereja. Namun, jika para pejabat gerejawi tidak peduli, tidak pernah mau mendengar, mereka justru membiarkan umat mencari makan di tempat yang tidak tepat.
Jumlah lima ribu orang yang makan, belum termasuk perempuan dan anak-anak, juga tertulis di Markus 6:44. Dapat dimengerti pada waktu itu di masyarakat Yahudi hanya laki-laki dewasa yang dihitung atau dipentingkan. Orang Yahudi menyukai keluarga besar. Dapat dibayangkan jumlah total orang yang makan. Bukan tak mungkin jumlah totalnya mencapai 30 ribu orang. Dari lima roti dan dua ikan, yang sejumlah itu hanya dapat dimakan oleh dua orang dewasa, dapat memberi makan ribuan orang. Perbuatan kecil berdampak luar biasa. Demikian halnya Gereja tak perlu ragu-ragu untuk berbuat kebajikan, meskipun hanya perbuatan kecil.
Seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa frase 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata 𝘦𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘪𝘴𝘵𝘩o. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Mengenyangkan berarti mengisi perut. Orang dengan perut kenyang memudahkannya mengendalikan pikiran dan emosinya. Pejabat gerejawi yang malas belajar, tidak mau mendengar, tidak akan pernah mengenyangkan umat. Jangan salahkan umat, apabila mereka mencari makan di tempat lain.
 
Pancasila, 05.08.2023 (T)

PERSEPULUHAN DALAM SEJARAH KUNO, SERIAL SUDUT PANDANG

Keterangan Gambar:
Tablet paku tentang akun pembayaran esru (persepuluhan) dari arsip Ebabbar (sumber: en.wikipedia/tithe

PERSEPULUHAN DALAM SEJARAH KUNO, SERIAL SUDUT PANDANG

Pada artikel saya kali ini, saya tidak membahas tentang persepuluhan dari satu perspektif, alias perspektif Alkitabiah, melainkan juga berdasarkan perspektif sejarah kuno.

Baca ini http://titusroidanto.blogspot.com/2023/05/bagaimana-pandangan-saya-soal.html

Bagi pemerhati sejarah Alkitab, saya yakin ada yang bertanya-tanya,

"Apakah ada catatan atau keterangan historis terkait kira-kira Abraham mendapat ide dari mana untuk membawa sepersepuluh tersebut kepada Melkisedek?" 

Liat ini
https://www.instagram.com/reel/Cu0Xy0MNOfj/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==

"Bukankah tidak ada catatan tentang perintah Ilahi pada Abraham saat itu?" 

"Apakah memang di jaman itu betul-betul sudah menjadi tradisi memberikan sepersepuluh dari pendapatan?"

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang memiliki jawaban historis. 

Kebiasaan memberi persepuluhan dengan tidak dimulai oleh Taurat Musa dan bukan kebiasaan khas para leluhur Israel, karena, persepuluhan dilakukan juga oleh bangsa-bangsa kuno lainnya.

Ada kekeliruan khotbah dan pemahaman tentang persepuluhan. Kata yang benar adalah "Persepuluhan" yang artinya "sepuluh persen dari pendapatan" adalah milik Tuhan. Kata ini entah mengapa menjadi populer sebagai "Perpuluhan" yang berarti "berpuluh-puluh", sehingga ada beberapa pelayan Tuhan yang membenarkan konsep bahwa jemaat membawa 20% bahkan 90 sekian persen dari hasil pendapatannya. Ini keliru dan akan terus keliru jika khotbah tentang persepuluhan selalu menitik beratkan jumlah bukannya cara dan peruntukannya. Selain itu, banyak yang mengira bahwa dalam Alkitab persepuluhan hanya dipungut dan diberikan kepada rumah Tuhan dan untuk para imam (terumah) dan orang Lewi (persepuluhan pertama), ini tidak sepenuhnya benar sebab persepuluhan juga dipungut dan diberikan kepada raja (1Samuel 8:15,17). Narasi dalam kitab Samuel jika dipadukan dengan pemberian persepuluhan oleh Abraham maka bisa dilihat bahwa persepuluhan sejak awal bukan bersifat kerohanian saja tapi juga sekuler yang berdasarkan pada kekuasaan teritorial.

Menariknya, ada naskah kuno diluar Alkitab tentang persepuluhan. Ada penemuan arkeologinya,  tepatnya melalui dokumen-dokumen pada tablet cuneiform (tulisan paku).

Praktik persepuluhan mirip dengan praktik Esretu – "ešretū", yaitu pajak sepersepuluh Ugarit dan Babilonia. Ugarit adalah sebuah kota Fenesia pada pantai Siria utara, saat ini namanya Ras Syamra. 

Di bawah ini tercantum beberapa contoh spesifik dari persepuluhan Mesopotamia, saya ambil dari The Assyrian Dictionary of the Oriental Institute of the University of Chicago, Vol. 4 "E" hal. 369 yang diambil dari salah-satu tablet cuneiform.

[Mengacu pada pajak sepuluh persen yang dikenakan pada pakaian oleh penguasa setempat:] 

"Istana telah mengambil delapan pakaian sebagai persepuluhan Anda (pada 85 pakaian)"

"... sebelas pakaian sebagai persepuluhan (pada 112 pakaian)"..

" ... (dewa matahari) Shamash menuntut persepuluhan..."

"empat mina perak, persepuluhan [para dewa] Bel, Nabu, dan Nergal..."

"... dia telah membayar, selain persepuluhan untuk Ninurta, pajak gardiner"

"... persepuluhan kepala akuntan, dia telah menyerahkannya kepada [dewa matahari] Shamash"

"... mengapa kamu tidak membayar persepuluhan kepada Nyonya Uruk?"

... (seorang pria) berutang jelai dan kurma sebagai keseimbangan persepuluhan dari ** tahun tiga dan empat "

"... persepuluhan raja di jelai kota..."

"... berkenaan dengan tua-tua kota yang (raja) telah **dipanggil untuk (membayar) persepuluhan ..."

"... kolektor persepuluhan negara Sumundar..."

"... (Ebabbar resmi di Sippar) yang bertanggung jawab atas persepuluhan


Sebagai catatan, yang dimaksudkan dengan Nyonya Uruk adalah Innana, dewi cinta Mesopotamia kuno. Oleh orang Akkadia, Babilonia, dan Assiria dikenal dengan nama Ishtar.

Dimasa Abraham, persepuluhan adalah suatu kebiasaan Ugarit (sekitar Kanaan) dan Proto-Babel (Mesopotamia), oleh karena itu, Abraham yang berasal dari Mesopotamia, dan Melkisedek yang adalah imam di Salem yang ada di Kanaan dan dekat dari Ugarit, tentu familiar dengan persepuluhan yang saat itu peruntukannya kepada raja dan pihak kuil. Teks 1 Samuel mengacu pada kebiasan ini. Dikemudian hari, oleh Musa, pemungutan dan peruntukan persepuluhan diatur lebih rapih.

Jika merujuk kepada tindakan Abraham (Kejadian 14:17-20) dan ramalan Samuel tentang persepuluhan (1 Samuel 8:15,17), terlihat ada perbedaan motivasi. Abraham memberi dengan dorongan hati tetapi dalam 1 Samuel 8:15,17 rakyat  diramalkan akan dipaksa untuk memberikan persepuluhan pada raja. Abraham jelas memberikan dengan kerelaan hati padahal dia tidak diwajibkan secara adat dan teritorial (karena dia bukan orang Salem), sedangkan, untuk kasus 1 Samuel ini merupakan kewajiban rakyat pada raja yang mengacu pada adat istiadat dijaman itu (beda dengan persepuluham Musa yang motivasi dan peruntukannya adalah kerohanian). 

Tindakan spontan Abraham dan perkataan Samuel tentang pemberian persepuluhan pada raja mungkin sulit dipahami, tetapi, penemuan-penemuan arkeologi dan manuskrip kuno tentang kebiasaan pemberian persepuluhan kuno di Kanaan dan Mesopotamia telah membantu memecahkan pertanyaan-pertanyaan dalam Alkitab terkait sejarah persepuluhan. Ini seperti sejarah sunat, yang mana tradisi ini dikenal Abraham dari Mesir. 

Seperti yang sering saya katakan, Tuhan mampu dan berhak menggunakan kebiasaan tradisional untuk memuliakan namaNya.

Liat ini
https://www.instagram.com/reel/Cu0Xy0MNOfj/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
___________________
Cepogo, 08.12.2012 (T)

Referensi:
1. Andrew E. Hill & John H. Walton, "A survey of Old Testament", Zondervan, edisi ketiga.

2. A. Leo Oppenheim (editor in charge), "The Assyrian Dictionary of the Oriental Institute of the University of Chicago, Vol. 4", The Oriental Institute, Chicago, 2004

3. R. F. Bhanu Victorahadi Pr., "Buku Ajar Eksegese: Perjanjian Lama Nabi-Nabi", UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, 2022.

4. David F. Hinson, "Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab", BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2004.

5. Ensiklopedia Alkitab

6. Gleason L. Archer, "Encyclopedia of Bible Difficulties", Zondervan Publishing House, Michigan,  1982.

7. Josephus, "Antiquities of the Jews".

8. Robert H. Gundry, "A survey of Old Testament", Zondervan, edisi kelima.

9. Susan Wise Bauer, "Sejarah Dunia Kuno", Elex Media Komputindo, 2007.

10. William Stanford LaSor, David Allan Hubbard, Frederick Wm. Bush; "Old Testament Survey", Wm. B. Eerdmans Publishing, Cambridge, 1996.

11. Walter C. Kaiser Jr., Peter H. Davids, F.F. Bruce, Manfred T. Brauch, "Hard Saying of the Bible", InterVarsity Press, Illinois,  1996.

12. W. J. Martin, "Stylistic Criteria and the Analysis of the Pentateuch", 1955.

.

)

Jumat, 09 Juni 2023

PERKARA SURGA DAN NERAKA, SERIAL SUDUT PANDANG

PERKARA SURGA DAN NERAKA, SERIAL SUDUT PANDANG

Dogma surga dan neraka diciptakan pada mulanya oleh komunitas Yahudi yang sedang ditindas oleh bangsa asing pada abad kedua SZB. Mereka tidak memiliki kekuatan militer unggul. Akibatnya mereka tertimpa banyak kekalahan. Banyak tentara Yahudi yang mati tampak sia-sia. Tidak sedikit juga yang tidak tahan dijajah sehingga membelot ke pihak musuh. Mengapa kami menyembah Allah koq menderita? Mengapa bangsa kafir berjaya? Begitu kira-kira rintihan mereka. Dalam situasi dan kondisi perang seperti ini para imam Yahudi menyusun dogma surga dan neraka baik berupa doktrin maupun berupa kisah-kisah perjuangan para martir. Tujuan mereka untuk membangun semangat tempur sampai titik darah penghabisan dalam diri para pejuang. Mereka dipompa, kendati akan mati dalam perang, jangan menyerah, karena walaupun mereka mati, mereka akan diberi pahala masuk surga. Janji pahala surga ini sangat efektif. 
Firdaus, di dalam Alkitab, Persia: Pardes, Arti:taman yang ditumbuhi pepohonan. Kata "Firdaus" berasal dari kata Persia "pardes" yang berarti taman yang ditumbuhi pepohonan, di mana semuanya damai dan indah. Bangsa Israel mulai menggunakan kata pinjaman ini setelah mereka kembali dari pembuangan di Babel. Dalam Neh 2:8, kata ini menunjuk pada hutan milik raja, dan dalam Kid 4:13 dan Pkh 2:5 kata ini berarti kebun buah-buahan yang subur. Beberapa nabi Israel juga mulai memberitakan bahwa orang beriman yang meninggal akan hidup kembali (Dan 12:2-3). Kata "Firdaus" kemudian dipakai untuk menyebut tempat bagi mereka yang hidup setelah mati. Beberapa orang beranggapan bahwa "Firdaus" berada di bumi atau di surga. Yang lain yakin bahwa Firdaus adalah Taman Eden yang baru, tempat pohon kehidupan (Kej 2:9) akan tumbuh selamanya. Ada juga yang berpandangan bahwa Firdaus adalah tempat bagi orang-orang beriman yang telah mati untuk menunggu hari penghakiman. Disisi yg lain, dalam dunia tafsir Yahudi PARDES sendiri dalam kosmologi Yahudi merupakan akronim, PARDES terdiri dari PETSEP yg memiliki makna menafsir secara hurufiah atau kata perkata, RHEMAS menafsir secara tersirat atau mencari yg tersirat, apa yg ada dibalik kata-kata, DIRUS atau DHIRAKSAH, menafsir dg mencari makna kehidupan (mungkin kalau saat ini disebut kontekstual), SHOPT, menafsir dg mencari makna misteri, dipahami dalam kosmologi Yahudi bahwa akan selalu ada misteri yg tak terpecahkan atau di luar jangkauan manusia dalam menafsir. Jadi, dalam kosmologi Yahudi, dipahami orang akan mendapat FIRDAUS ketika ia menafsir kitabnya (dalam hal ini torat karena dalam konteks budaya Yahudi) dg cara seperti tsb di atas.
Pada Mulanya Manusia Menciptakan Surga dan Neraka. Kalau kita membuka Kitab Kejadian apakah manusia pertama, yang belakangan dikenal dengan Adam dan Hawa, tinggal di surga kemudian diusir dari surga? Tidak. Mereka tinggal di Taman Eden, bukan di surga, kemudian diusir dari taman itu. 
Bangsa Israel (Kuno) tidak mengenal surga dan neraka dalam arti dogma sesudah kematian sampai pada masa pembuangan ke Babel dalam masa 586 – 538 SZB. Doktrin dan dogma adalah sinonim. Doktrin dari bahasa Latin doctrina, dogma dari bahasa Grika δόγμα yang keduanya berarti ajaran. Mereka tidak mengenal doktrin sesudah kematian masuk surga atau neraka. Bumi adalah datar menyerupai tampah yang diselimuti kubah langit seperti tempurung. Manusia tinggal di permukaan bumi. Orang-orang mati tinggal di DOM (daerah orang mati) di bawah bumi yang dingin. Allah tinggal di “bulatan bumi” yaitu puncak tempurung langit yang menyelimuti bumi (bdk. Yes. 40:22) .
Sistem Yudaisme atau keyahudian lahir dari pengalaman orang-orang Yehuda dibuang ke Babel. Yudaisme merupakan campuran antara kehidupan beragama dan sosio-politik serta ekonomi dengan imam yang terpusat menggantikan peran raja. Dalam ilmu sejarah jika menyebut Yahudi dan Yudaisme itu berarti merujuk orang-orang dari Kerajaan Yehuda pasca-pembuangan di Babel. Sebelum masa itu belum dikenal istilah Yahudi dan Yudaisme. Perbedaan mencolok ajaran Yudaisme vs pra-Yudaisme dapat kita lihat dalam, misalnya, Kitab Kejadian 1 – 2:4a vs Kejadian 2:4b-ff dan 1Tawarikh 21:1 vs 2Samuel 24:1.
Selepas dari Babel orang-orang Yehuda tidak kunjung bebas tekanan dari kekuasaan luar. Muncullah dogma surga dan neraka. Dogma surga dan neraka sebagai ajaran sesudah kematian dalam tradisi Yudaisme muncul dengan lengkap pertama kali dalam Kitab Daniel yang ditulis pada abad ke-2 SZB. Saat itu bangsa Yahudi sedang bertempur melawan Kekaisaran Seleukid yang diperintah oleh Kaisar Antiokhus IV Epifanes. Kaisar bengis ini melancarkan politik hellenisasi besar-besaran atas negeri bangsa Yahudi.
Hellenisasi merupakan upaya politik dan kolonialisme untuk menjadikan kebudayaan dan agama Grika sebagai kebudayaan dan agama-agama bangsa-bangsa jajahan Alexander Agung dan para penerusnya. Dalam sejarah Yahudi perang ini dikenal sebagai Perang atau Pemberontakan Makkabe (167 - 160 SZB), karena dipimpin oleh keluarga Makkabeus. 
Dogma surga dan neraka diciptakan pada mulanya oleh komunitas Yahudi yang sedang ditindas oleh bangsa asing, sedang mereka tidak memiliki kekuatan militer unggul. Akibatnya mereka tertimpa banyak kekalahan. Banyak tentara Yahudi yang mati tampak sia-sia. Tidak sedikit juga yang tidak tahan dijajah sehingga membelot ke pihak musuh.
Mengapa kami menyembah Allah koq menderita? Mengapa bangsa kafir berjaya? Begitu rintihan mereka. Dalam situasi dan kondisi perang seperti ini para imam Yahudi menyusun dogma surga dan neraka baik berupa doktrin maupun berupa kisah-kisah perjuangan para martir. 
Tujuan mereka untuk membangun semangat tempur sampai titik darah penghabisan dalam diri para pejuang. Mereka dipompa, kendati akan mati dalam perang, jangan menyerah, karena walaupun mereka mati, mereka akan diberi pahala masuk surga sesudah mati syahid. Janji pahala surga ini sangat efektif. Pada zaman kuno perang dilakukan karena alasan agama dan politik sekaligus, karena belum dikenal pemisahan antara agama dan politik. 
Bangsa Yahudi yang terancam kalah dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar: Mengapa Allah mereka diam saja dan kalah ketika berhadapan dengan musuh mereka? Pada zaman baheula bangsa beragama yang kalah perang berarti Allah atau Sesembahan mereka juga kalah. 
Pertanyaan besar seperti di atas dijawab dengan doktrin neraka. Jangan takut dan jangan kehilangan kepercayaan, karena akan tiba saatnya, ketika zaman berakhir tak lama lagi, semua musuh mereka akan dengan adil dibalas oleh Allah dengan membuang mereka semua ke dalam api yang menyala-nyala, yang akan membakar mereka selamanya. Doktrin neraka merupakan ajaran kebencian dan dendam membara yang tidak lekang dan tetap dipelihara sampai sesudah kematian. Kelahiran doktrin surga dan neraka tentu saja dilengkapi dengan doktrin kiamat, kehadiran dajjal dan makhluk-makhluk monster, bencana, dlsb. Itu sebabnya Kitab Daniel genre-nya sastra apokaliptik seperti halnya Kitab Wahyu. Kedua kitab ini pada dasarnya pastoral bagi umat yang tertindas. Namun kitab-kitab oleh banyak orang Kristen (terutama Kitab Wahyu) tak ubahnya seperti kitab ramalan porkas atau togel. 
𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗣𝗮𝘂𝘁𝗸𝗮𝗵 𝗗𝗼𝗴𝗺𝗮 𝗦𝘂𝗿𝗴𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗡𝗲𝗿𝗮𝗸𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗠𝗮𝘀𝗮 𝗞𝗶𝗻𝗶?
Anda dapat saja tidak bersetuju dengan tulisan saya bahwa konsep surga dan neraka agama Samawi adalah buatan komunitas Yahudi yang tertindas pasca-pembuangan di Babel. Yang tidak bersependapat mengajukan dalih, selain dalih dogmatis, andai dogma surga dan neraka sesudah kematian tidak diajarkan, maka terjadi eskalasi kejahatan di bumi. “𝘒𝘦𝘦𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 orang jahat dong kalau begitu? Tidak ada hukuman atas kejahatan mereka sesudah kematian.” Sergah mereka sambil membanting pintu.
Kejahatan diberantas dengan hukum positif negara, bukan dengan dogma surga dan neraka. Kalau ada yang lolos dari jerat hukum, bereskan dengan membuat hukum lebih mempan dan dijalankan dengan penuh integritas. 
Dalam zaman modern ini ada sangat banyak orang yang tidak menerima lagi doktrin surga dan neraka termasuk di jajaran pemimpin negeri ini termasuk pemimpin massa. Para pejabat dengan mudah melakukan korupsi sudah sangat jelas tidak mengakui dan menerima doktrin surga dan neraka. Orang-orang seperti mereka sudah tidak mempan lagi ditakut-takuti oleh pembakaran abadi di neraka. Untuk membangun suatu masyarakat yang taat hukum dan tak melakukan kejahatan dibutuhkan pembinaan moral bertahap dan terus-menerus untuk menghasilkan nurani yang dewasa, fungsional, dan bertanggungjawab.
𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗰𝗮𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗲𝘄𝗮𝘀𝗮. Anak-anak tidak boleh membaca Alkitab tanpa didampingi oleh orang dewasa,  Penekanan atau strategi pengajaran gereja adalah pendewasaan orang dewasa. Dengan begitu orang dewasa yang sudah didewasakan oleh gereja menjadi pembimbing orang-orang yang lebih muda bahkan anak-anak. Orang-orang dewasa memikul beban persoalan dan perasaan jauh lebih berat ketimbang anak-anak. Untuk itulah orang-orang dewasa membutuhkan asupan dan topangan dari gereja. Persoalannya pengajaran pendeta dari mimbar lebih banyak tema doktriner 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘪𝘴𝘩. Secara didaktik ini tidak menopang, melainkan menggemburkan fondasi. Pijakan makin lemah.
Iming-iming masuk surga dan teror masuk ke neraka adalah cara beragama 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘪𝘴𝘩, kekanak-kanakan. Seperti kanak-kanak berbuat baik karena diganjar hadiah permen, seperti kanak-kanak tidak berani berbuat buruk karena takut dihukum oleh ortu atau gurunya. Fakta membuktikan doktrin surga dan neraka membuat orang jahat makin jahat, orang yang suam-suam kuku menjadi jahat, dan bahkan orang yang sebelumnya netral menjadi jahat. Orang sudi membunuh dan menganiaya sesama manusia, menebar teror kepada masyarakat lewat kerumunan massa, menghancurkan fasilitas publik, mengganggu ketertiban umum, dlsb. demi mendapatkan ganjaran surga dan menghindari api neraka.
Kita sah-sah saja untuk percaya bahwa neraka dengan api yang bernyala-nyala abadi di alam baka dan akan dirasakan orang-orang jahat sesudah kematian mereka. Apabila kita menganut kepercayaan ini, sepatutnya kepercayaan anda ini membuat kita hidup sangat berhati-hati dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan atau hidup berakhlak agar anda tidak dicampakkan ke dalam api neraka sesudah kematian.
Kita juga bebas menentukan pilihan percaya bahwa keberadaan neraka di alam baka sesudah kematian tidak ada. Di dunia ini ada 𝘨𝘰𝘭𝘥𝘦𝘯 𝘳𝘶𝘭𝘦 atau etika global yang satu di antaranya 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. Orang dapat menjadi baik, berbudi luhur tidak harus karena ancaman hukuman di neraka sesudah mati. Fakta banyak orang besar baik yang beragama maupun yang tak beragama adalah orang-orang berbudi luhur dan agung. Orang tak beragama menjadi besar karena menyumbang besar pada pengembangan ilmu pengetahuan yang menolong orang berkehidupan lebih baik.
Kita juga sah-sah saja memegang dogma surga dan neraka sebagai metafora. Surga diperikan sebagai tempat damai dan menyenangkan, sedang neraka diperikan sebagai suasana dan keadaan kehidupan manusia yang amat mendera dan melahirkan penderitaan serta kesengsaraan sangat berat dalam waktu sangat panjang. Neraka sebagai metafora terlihat nyata di dalam kelaparan, kemelaratan, keterbelakangan, kebodohan, ketidakadilan sosial, persekusi mayoritas terhadap minoritas, penganiayaan, pandemi Covid19, dan lain sejenisnya yang saat ini terjadi mencolok di bumi Indonesia.
Surga sebagai tempat damai dan menyenangkan lama-lama juga membosankan. Sumber humor adalah penderitaan, kesialan, kekonyolan sendiri. Humor itu menertawai penderitaan, kesialan, kekonyolan sendiri. Di surga tidak ada penderitaan, kesialan, dan kekonyolan. Jadi, tidak ada humor di surga, kata 𝘮𝘣𝘢𝘩 Mark Twain. 
Mark Twain bukanlah mengada-ada. “𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘦𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘨𝘶 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘩𝘢𝘮𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢.” kata Yesus menerangkan metafor Kerajaan Surga (lih. Luk. 13:20-21; Mat. 13:33). Ragi merupakan metafora kenajisan dan kecemaran untuk sesuatu yang marginal di dalam masyarakat yang distrukturkan menurut sistem puritas Yudaisme. Tindakan Yesus membangun dan memasuki persekutuan dan persaudaraan dengan orang-orang najis dan marginal serta makan bersama-sama dengan mereka tanpa memakai meja (𝘰𝘱𝘦𝘯 𝘤𝘰𝘮𝘮𝘦𝘯𝘴𝘢𝘭𝘪𝘵𝘺) sehingga terbentuk suatu komunitas yang anggota-anggotanya setara, egaliter, 𝘨𝘦𝘨𝘶𝘺𝘰𝘯𝘢𝘯 adalah kemaujudan bahwa Kerajaan Surga bukanlah tempat damai dan menyenangkan sesudah kematian. Kerajaan Surga berarti meruntuhkan hierarki sosio-religius yang dipertahankan dalam sistem puritas Yudaisme. Dalam Injil Markus 1:35-39 bahkan Yesus menganggap berdoa tidaklah begitu penting. Yesus lebih memilih bekerja dan menolong kepentingan banyak orang ketimbang meninggalkan mereka untuk berdoa sendirian. 
Kerajaan Surga bagi saya adalah .......... ?

LAPANGAN PANCASILA, 10 Juni 2023 (T)


Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memi...