Kamis, 14 September 2023

KESURUPAN, SERIAL SUDUT PANDANG

KESURUPAN, SERIAL SUDUT PANDANG

PENGANTAR

Kerasukan atau kesurupan setan merupakan suatu peristiwa hadirnya roh jahat dalam kehidupan manusia dan dipercaya dapat menyebabkan kepribadian seseorang berubah. Pribadinya menjadi tidak sesuai dengan lingkungan sosialnya. Kerasukan setan juga dipercaya sebagai suatu peristiwa yang membuat orang sakit secara fisik dan mental. Dalam kamus bahasa Indonesia kesurupan berasal dari kata surup, yang artinya kemasukan (setan, roh) sehingga bertindak yang aneh-aneh. Dalam kamus bahasa inggris yang disusun oleh John M. Echols dan Hassan Shadily kata kesurupan disebut dengan trance. Trance adalah suatu perubahan status kesadaran dan menunjukkan penurunan responsivitas terhadap stimulus lingkungan. Dalam dunia psikiatri, Maramis membagi kondisi kesurupan orang menjadi dua, yaitu:

 Pertama, munculnya keyakinan akan adanya kekuatan lain yang menguasai diri seseorang. Gejala seperti ini merupakan bagian dari terbelahnya isi pikiran yang merupakan ciri dari penderita skizofrenia. Bentuk keyakinan seperti itu disebut juga waham.

Kedua, orang yang kesurupan mengalami metamorfosis total, ia menganggap dirinya dengan orang lain atau benda tertentu. Gejala seperti ini sering dilihat pada orang yang mengalami gangguan Disosiasi. Jika pemicunya adalah konflik atau stres psikologik, keadaan ini disebut dengan reaksi Disosiasi yang merupakan sub-jenis dalam neorosa histerik. Disosiasi yang didasari kepercayaan atau kebudayaan tertentu disebut dengan kesurupan. Sementara, berdasarkan fenomena yang terjadi di lapangan, ilmu kesehatan jiwa modern menganggap bahwa gangguan kesurupan adalah merupakan bentuk gangguan disosiatif, yaitu proses terpecahnya integritas kepribadian individu akibat stres psikologis yang berat sehingga bertahan di tengah gejolak stres yang berat ini ia beralih menjadi pribadi lain. Dari sisi kedokteran, kesurupan bukan lagi fenomena baru. Kesurupan juga sudah dipelajari secara medis sejak lama. Dalam dunia medis, kesurupan lebih dikenal sebagai dissociative trance disorder (DTD). Kesurupan sebenarnya adalah gangguan mental.Seseorang yang mengaku mengalami kesurupan bisa merasa dirinya jadi orang lain. Seperti merasa jadi harimau, merasa jadi jelmaan makhluk halus, bahkan bisa merasa menjadi sebuah benda.Selain itu, kesurupan juga erat kaitannya dengan lingkungan. Seseorang yang tinggal di lingkungan masyarakat yang percaya akan hal mistis dan fenomena kesurupan, maka memiliki kecenderungan untuk lebih mudah 'kesurupan'. Betapa tidak, orang tersebut telah mengenal konsep kesurupan sejak lama. Kesurupan juga bisa dipandang dari sisi neurosains. Dokter spesialis bedah saraf, Ryu Hasan mengatakan, kesurupan sepenuhnya adalah akibat dari aktivitas otak yang menyangkut emosi, memori, dan motorik."Kalau kita masuk ke dunia neuroscience, apa sih kesurupan? Kesurupan itu adalah aktivitas dari otak. Ada aktivitas emosi, ada memori, ada motorik," kata Ryu dalam diskusi bersama Ask The Experts Edisi 226, beberapa waktu lalu.Ryu mengatakan, kesurupan bukan terjadi karena ada zat mistis yang berusaha masuk ke dalam tubuh. Kesurupan lebih didasari oleh lingkungan dan kebiasaan masyarakat tertentu. Kesurupan juga murni karena aktivitas otak manusia.


Proses Neuropsikologis, Saat Otak Kebanjiran Dopamin

Ryu mengatakan, kesurupan pada dasarnya adalah proses neuropsikologis. Artinya adalah aktivitas otak yang menghasilkan sifat mental dan motorik yang berbeda dari dirinya sendiri.Pada kondisi ini, otak akan merekam memori, mengulangnya dalam diri seseorang, dan berubah menjadi sifat mental dan motorik yang berbeda dari keadaan orang tersebut pada keadaan normal.Sederhananya, seseorang mungkin akan mengaku mengalami kesurupan dan tiba-tiba bicara bahasa Arab. Saat itu, otak sedang merekam memori berulang tentang bahasa Arab. Orang itu mungkin tak pernah belajar bahasa Arab, tapi ia mendengarkan pengajian, atau lantunan lagu dalam bahasa Arab sehingga terekam dalam alam bawah sadar dan terulang. Orang yang mengaku kesurupan juga mungkin akan merasa dirinya menjadi macan atau ular, atau hewan lainnya, hanya karena dia pernah melihat binatang tersebut. Otak kembali merekam adegan yang biasa dilakukan hewan dan membuat tubuh memperagakan diri seakan-akan menjadi hewan tsb.

"Kesurupan melibatkan memori. Jadi, ketika orang tidak pernah melihat kanguru, dia enggak mungkin kesurupan jadi kanguru. Ini yang namanya kesurupan yang pada dasarnya melibatkan banyak sirkuit di otak kita," kata Ryu.

"Orang yang kesurupan itu memori di otaknya selalu recall [berulang], dia juga melibatkan sirkuit emosi di otak, dia bisa membedakan mana orang yang suka dan tidak, termasuk juga melibatkan sirkuit motoriknya," sambungnya. 'ramai' dan segala macam emosi. Namun, dopamin sendiri akan memberikan rasa tenang pada otak sehingga orang yang telah kesurupan akan merasa rileks. "Otak 'banjir' oksitosin dan dopamin yang tidak seperti biasanya. Entah itu sirkuit emosi atau memori. Segala rasa ada di sana, dan ini yang membuat orang kesurupan itu cenderung berulang, ketagihan. Sebab orang sudah kesurupan, dia merasa nyaman karena ada dopamin," jelas Ryu. Bentuk Cari Perhatian, Ryu juga menjelaskan bahwa orang kesurupan sebenarnya adalah orang terpinggir dalam kelompoknya, sehingga dia mencari perhatian lebih. Salah satu caranya untuk mendapat perhatian adalah dengan kesurupan. Itu sebabnya kesurupan selalu ketika berada keramaian orang.

"Sebetulnya orang kesurupan itu pada dasarnya mencari perhatian. Kesurupan itu tidak pernah saat sendirian, kejadian kesurupan itu selalu di depan orang," kata Ryu.
Pada saat orang mengalami DTD, dia akan mendapatkan dua keuntungan. Pertama dia akan menjadi rileks karena otak 'kebanjiran' dopamin, dan kedua, dia akan mendapat perhatian dari sekitarnya. Kesurupan di keramaian juga cenderung menular karena alam bawah sadar orang lain di sekitarnya menyadari bahwa ia akan mendapat perhatian. Selain itu, jika orang-orang di sekitarnya juga sudah mengenal konsep 'kesurupan', maka ia akan lebih mudah ikut-ikutan kesurupan.
"Jadi, ya, memang kesurupan itu cenderung menular, karena orang-orang di sekitarnya mencatat bahwa ada perhatian yang diberikan, dia jadi ikut-ikutan kesurupan," tuturnya. 

DALAM PSIKOLOGI

Menurut Kaplan dan Sadock, keadaan “kesurupan” (trance) adalah suatu bentuk disosiasi yang mengundang keingintahuan dan tidak benar-benar dimengerti. Tampaknya, keadan trance lazim terjadi pada medium yang mendahului pertemuan dengan roh halus. Medium secara khas memasuki keadaan disosiatif, saat itu, seseorang dari dunia roh mengambil alih kesadaran medium dan memengaruhi pikiran dan pembicaraannya. Dimana Orang tersebut menjadi lain dalam hal bicara, perilaku, sifat, dan perilakunya menjadi seperti kepribadian yang “memasukinya”. Fenomena yang berhubungan dengan trance adalah hipnotis dan keadaan mental serupa yang dialami oleh pilot pesawat udara.


SUDUT ALKITAB 

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa adanya kuasa kegelapan dan juga beberapa kesaksian beberapa orang tentang dikuasai oleh roh jahat membuat fenomena kesurupan dari sisi Alkitab dan umat Kristen benar-benar ada. Tentunya roh jahat ini tidak menyerang seseorang secara tiba-tiba. Ada beberapa hak yang diberikan oleh leluhur yang menggunakan sebuah perjanjian-perjanjian okultisme serta celah dosa.Di dalam Markus 1:23-24 pun menjelaskan. “Pada saat di rumah peribadatan, ada seseorang yang telah kerasukan berbagai roh jahat. Orang tersebut kemudian berteriak “Apa urusan-Mu ? Hai Yesus orang Nazaret? Engkau ingin membinasakan kami? Aku mengetahui Engkau, Yang kudus dari Allah“.Dari isi surat tersebut kita bisa melihat bahwa orang-orang yang sedang beribadah pun bisa terkena kesurupan oleh roh jahat. Meskipun begitu, perlu Anda pahami bahwa roh manusia tidak dapat dimiliki oleh roh jahat. Jiwa di dalam raga seseorang itu sedang ditawan.Sedangkan tubuhnya justru dikuasai oleh roh jahat. Ha ini dapat Anda lihat ketika adanya ilmu santet maupun teluh.

Efesus 6:12 “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Sejak awal, Tuhan telah memaklumkan bahwa dalam pria sejati-nya akan berperang melawan roh jahat di udara. Jadi persiapkan dirimu untuk bertarung lebih awal. Termasuk ketika ada orang yang kerasukan. Tidak perlu heran karena ini telah ditahbiskan oleh Allah sejak awal. Kunci untuk berhasil mengusir Iblis dari tubuh orang yang kerasukan adalah dengan berdoa dalam Roh dan bagaimana mengkonversi dari orang Kristen. Karena roh jahat bisa menghapus segala dosa kita. Markus 5:8 "Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya:" Hai, engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!" Tuhan Yesus memiliki kuasa yang lebih besar dari kuasa apa pun di dunia. Ini adalah kenyataan dan bukti mutlak bahwa meskipun salah satu saudara yang dimiliki, maka dalam nama Yesus mereka dapat diusir dan dikhianati. Yang paling penting meminta tujuan karunia Roh Kudus untuk menemani agar orang yang dirasakannya segera dibebaskan dari belenggu roh jahat. Mintalah kepada Tuhan sendiri untuk dilepaskan dari belenggu yang dimiliki dan dapat menjadi normal kembali. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kuasa itu akan diungkapkan. Luangkan waktu untuk berdoa dan tujuan Kristen, sehingga memiliki kesiapan hati ketika melayani saudara kita yang kerasukan atau kerasukan roh jahat.

Pandangan Teologi

Orang Kristen merasakannya sebagai ancaman terhadap kesetiaan mereka terhadap imannya. Hampir selalu kerasukan itu menyebabkan kekekalan manusia yang rohani, bahkan sering juga kekekalan jasmani. Adalah suatu kenyataan yang umum di gereja-gereja muda bahwa menjadi kerasukan roh orang mati tidaklah memperkuat persekutuan antara yang kesurupan itu dengan Kristus, melainkan memasukkannya. Memag benar pengalaman tentang kenyatan dan berkuasanya roh itu tidak bolehdiremehkanTetapi justru disini perlulah diberitakan kemenangan Kristus dan penegakan kekuasaan-Nya atas kekuatan kekuatan kekuasaan-kekuasaan yang terlihat, atas kegelapan dunia.

CEPOGO, STT BAPTIS INJILI, 14092023 (T)

Baca juga :

http://titusroidanto.blogspot.com/2023/05/serial-sudut-pandang-minggu-paska-6.html

http://titusroidanto.blogspot.com/2023/05/serial-sudut-pandang-minggu-paska-6.html






. .

 

 






Rabu, 06 September 2023

Sekilas tentang Johannes Calvin, Serial Sudut Pandang

Sekilas tentang Johannes Calvin, Serial Sudut Pandang

Awal Kemunculannya
Calvinis adalah nama yang dikenakan pada gereja-gereja penganut ajaran Johannes Calvin, sang Reformator Gereja. Sulit ditentukan dengan pasti kapan awal kemunculan aliran Calvinis ini. Sebab hingga aliran ini diberi nama Calvinis, prosesnya cukup panjang dan rumit pula. Jika kita mengacu pada “pembakuan” ajaran Calvin, tahun 1536 dapat disebut sebagai awal kemunculan aliran Calvinis. Sebab pada tahun tersebut muncul suatu karya besar dari Calvin sendiri yang berjudul Relegious Christianae Institutio, disingkat Institutio. Kitab inilah yang di kemudian hari menjadi ciri dan sekaligus pusat teologi Calvinis. Tetapi jika kita mengacu pada kelembagaan/organisasi, tahun 1559 dapat disebut pula sebagai awal kemunculan aliran Calvinis. Sebab pada tahun tersebut Sidang Sinode pertama para pengikut Calvin diadakan di Perancis. Aliran Calvinis ini pertama kali bertumbuh dan berkembang di Swiss dan Perancis. Tetapi perkembangan pesat aliran ini justru terjadi di Belanda. Perlu dicatat bahwa berbeda dengan Gereja Lutheran, tidak ada satu pun gereja pengikut Calvin yang menamakan dirinya Gereja Calvinis. Pada umumnya mereka menamakan diri Gereja Reformed. Ada pula yang menamakan diri Gereja Presbyterian, dan ada pula yang menamakan diri Gereja Congregational.

Pokok-pokok Penting Ajarannya
- Kedaulatan dan Kemuliaan Allah. Pokok ajaran/teologi Calvin adalah Kedaulatan dan Kemuliaan Allah. Kedaulatan Allah terutama tampak dalam perkara penciptaan dan keselamatan. Sedangkan mengenai Kemuliaan Allah, Calvin menegaskan bahwa Allah menciptakan dunia dan manusia demi untuk kemuliaanNya. Karena itu segala yang terjadi di dunia ini dan segala yang dikerjakan manusia mestinya bertujuan memuliakan Dia.
- Alkitab. Calvin sangat menekankan otoritas Alkitab sebagai satu-satunya sumber ajaran gereja yang benar (sola scriptura). Selanjutnya, ia memberi penekanan khusus pada aspek pedagogis (juga kognitif) dari Alkitab, dan ini sangat tercermin dalam karya utamanya Institutio. Menurut Calvin, yang harus dicari dalam Alkitab adalah pengetahuan tentang Allah, dan pengetahuan itu hanya dapat ditemukan di dalam Yesus Kristus. Kristus-lah kunci memahami Alkitab, baik Perjanjian Lama yang mengandung banyak janji tentang Dia, maupun Perjanjian Baru yang mengemukakan penggenapan janji-janji itu. Dalam kerangka itu, maka membaca dan memahami Alkitab secara harafiah saja tidak cukup, melainkan harus diselidiki sedalam-dalamnya, sambil mengingat bahwa penelitian itu harus berpusat pada Kristus yang adalah pusat Alkitab.
- Keselamatan. Calvin sangat menekankan keyakinan bahwa keselamatan diperoleh hanya karena kasih karunia melalui iman (sola gratia dan sola fide). Selanjutnya, Calvin mengembangkan ajaran tentang keselamatan ini dalam suatu wawasan yang dikenal dengan istilah “predestinasi.” Secara sederhana predestinasi berarti bahwa jumlah dan jati diri dari orang-orang yang terpilih, yakni mereka yang diselamatkan sudah ditetapkan Allah yang berdaulat sebelum dunia diciptakan. Tentang hal ini muncul berbagai tanggapan. Perhatikanlah bagaimana Jacobus Arminius menanggapi wawasan “predestinasi” Calvin dan perbedaan antara keduanya :
Calvinisme dan Arminianisme adalah dua sistim teologi yang berupaya menjelaskan hubungan antara kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia dalam kaitannya dengan keselamatan. Calvinisme dinamai menurut John Calvin, teolog Perancis yang hidup dari tahun 1509 – 1564. Arminianisme dinamai menurut Jacobus Arminius, teolog Belanda yang hidup dari tahun 1560 – 1609.
 Calvinisme berpegang pada kejatuhan total sementara Arminianisme berpegang pada kejatuhan sebagian. Kejatuhan total mengatakan bahwa semua aspek kemanusiaan sudah dikotori oleh dosa, karena itu manusia tidak dapat datang kepada Tuhan dengan kemauannya sendiri. Kejatuhan sebagian mengatakan bahwa setiap aspek kemanusiaan dikotori oleh dosa, tapi tidak sampai pada taraf di mana manusia tidak dapat beriman pada Tuhan dengan kehendaknya sendiri
 Calvinisme berpegang pada pemilihan yang tanpa syarat sementara Arminianisme berpegang pada pemilihan bersyarat. Pemilihan tanpa syarat percaya bahwa Allah memilih orang-orang yang diselamatkan berdasarkan kehendakNya semata-mata, bukan berdasarkan apa yang ada pada individu-individu. Pemilihan bersyarat percaya bahwa Allah memilih invididu-individu untuk diselamatkan berdasarkan pengetahuan Allah mengenai siapa yang akan menerima Yesus sebagai Juruselamat.
 Calvinisme berpegang pada penebusan yang terbatas sementara Arminianisme percaya pada penebusan yang tidak terbatas. (Dari ke lima poin, ini adalah yang paling kontroversial). Penebusan terbatas adalah kepercayaan bahwa kematian Yesus hanyalah bagi umat pilihan. Penebusan tak terbatas percaya bahwa Yesus mati bagi semua orang, namun kematiannya tidak akan efektif sampai orang yang bersangkutan percaya
 Calvinisme berpegang pada anugrah yang tak dapat ditolak sementara Arminianisme berpegang pada anugrah yang dapat ditolak. Anugrah yang tidak dapat ditolak mengatakan bahwa ketika Tuhan memanggil orang untuk diselamatkan, pada akhirnya orang tsb akan datang kepada keselamatan. Anugrah yang dapat ditolak mengatakan bahwa Tuhan memanggil semua orang kepada keselamatan, namun banyak orang bersikeras dan menolak panggilan ini.
 Calvisnisme berpegang pada ketekunan orang-orang kudus, sementara Arminianisme berpegang pada keselamatan yang bersyarat. Ketekunan orang-orang kudus merujuk pada konsep bahwa seseorang yang telah dipilih Allah akan bertahan dalam imannya dan tidak akan pernah menolak Kristus atau berbalik daripadaNya. Keselamatan yang bersyarat adalah pandangan bahwa seseorang yang percaya pada Kristus, dapat, dengan kehendak bebasnya, berbalik dari Kristus dan karena itu kehilangan keselamatan.
(Catatan : Ada orang-orang Calvinis lima poin dan Arminian lima poin, dan pada saat yang sama ada orang-orang tiga poin Calvinis dan dua poin Arminian. Banyak orang percaya yang percaya pada semacam perpaduan antara kedua pandangan tersebut, salah satunya adalah Denominasi Baptis Injili atau 
evangelical baptism atau ευαγγέλιον (euangelion) βάπτισμα
váptisma, yg tumbuh di Belanda besar di Swisszerland.
- Hakikat Gereja. Gereja adalah persekutuan orang-orang yang telah diselamatkan di dalam Yesus telah dibenarkan kendati tetap merupakan manusia berdosa, yang kesemuanya disambut dan diterima manusia melalui iman. Gereja adalah tempat yang bisa ditemukan di mana saja, asalkan di sana Firman atau injil yang murni diberitakan dan sakramen yang murni dilayankan (Baptisan dan Perjamuan Kudus).
- Tata Gereja dan Jabatan. Menurut Calvin, di dalam gereja ada empat jabatan, yakni: gembala/pendeta, pengajar, penatua, dan syamas/diaken. Khusus mengenai “pengajar”, jabatan ini mencakup semua fungsionaris gereja yang terlibat dalam tugas pengajaran yang berhubungan dengan iman kristiani, mulai dari guru agama (di sekolah), guru katekisasi, sampai dengan dosen-dosen teologi. Sedangkan mengenai Tata Gereja, gereja-gereja beraliran Calvinis pada umumnya menganut sistem Presbyterial-Synodal. Sistem ini disebut Presbyterial-Synodal oleh karena semua keputusan jemaat diambil pada tingkat presbyterium (majelis para penatua, termasuk pendeta sebagai presbyter yang berkhotbah dan mengajar), sedangkan perkara-perkara yang menyangkut kepentingan seluruh gereja diputuskan pada tingkat sinode, yang dalam hal ini diwakili oleh wakil-wakil presbyterium dari setiap jemaat.
- Disiplin Gereja. Disiplin gereja yang disusun Calvin pertama-tama dimaksudkan untuk diberlakukan di Jenewa. Belum terpikirkan olehnya untuk menyusun disiplin bagi gereja sedunia. Disiplin gereja yang disusun Calvin bertujuan untuk menjaga kesucian gereja. Jadi, kesucian gereja, bagi Calvin, tidak terletak pada manusianya, melainkan pada Allah yang menetapkan kehadiran gereja itu dan mengaruniakan pengampunan dan keselamatan melalui gerejaNya. Di samping itu, disiplin gereja juga bertujuan untuk melindungi orang-orang baik di dalam gereja, supaya akhlak mereka tidak dirusak oleh pergaulan dengan orang-orang jahat; di lain pihak orang-orang jahat itu harus didorong untuk bertobat, melalui teguran dan hukuman. Disiplin gereja berkaitan erat dengan pengudusan (sanctificatio) dan pembenaran orang berdosa (justificatio) oleh Allah yang harus dijawab dengan kehidupan yang penuh ketaatan pada kehendak Allah sebagai ungkapan syukur atas kasih karunia yang telah diberiNya. Tentang penegakan disiplin gereja ini dipercayakan kepada majelis jemaat sebagai kesatuan.
- Tata Ibadah. Bagi Calvin, tata ibadah bukan hanya merupakan soal praktis dan incidental, yang bisa disusun dan diselenggarakan menurut selera dan suasana sesaat (seperti yang sering terjadi di berbagai gereja termasuk yang mengaku Calvinis). Baginya, ibadah dan tata ibadah merupakan satu kesatuan dengan pokok-pokok ajaran mendasar yang telah diulas sebelumnya. Ibadah dalam gereja-gereja Calvinis berpusat pada pemberitaan Firman (khotbah) dan perayaan Perjamuan Kudus.
Khotbah. Menurut Calvin idealnya khotbah merupakan kombinasi dari uraian isi Alkitab dan penjelasan pokok-pokok pemahaman iman atau ajaran gereja tentang kebenaran yang dianut gereja. Dengan begitu maka khotbah juga mempunyai fungsi pengajaran.
Nyanyian. Selama berabad-abad nyanyian hanya terbatas pada Mazmur, karena menurut Calvin Mazmur adalah nyanyian yang paling layak untuk memuji Allah karena terdapat dalam Alkitab dan dengan demikian merupakan ciptaan Roh Kudus. Ada macam-macam versi nyanyian Mazmur yang diciptakan di lingkungan gereja-gereja Calvinis. Sekarang ini sudah banyak nyanyian-nyanyian gereja yang baru yang disusun oleh gereja-gereja setempat
Baptisan. Baptisan yang dilayankan dalam ibadah jemaat mengikuti tradisi dari abad-abad pertama yang memberlakukan baptisan anak atau bayi. Baptisan merupakan tanda pengampunan dan hidup baru. Baptisan menandakan bahwa manusia telah ikut serta dalam kematian dan kebangkitan Kristus dan sekaligus merupakan tanda bahwa mereka yang dibaptis telah masuk ke dalam persekutuan gereja (keanggotaan gereja). Menurut Calvin, baptisan bukan syarat memperoleh keselamatan, melainkan materai yang menandakan bahwa seseorang telah memperoleh pengampunan dosa dan keselamatan pada salib Kristus. Pengampunan itu telah dikaruniakan Allah pada manusia sebelum dilahirkan, sehingga tidak ditentukan oleh Baptisan.
Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus adalah tanda yang ditetapkan Allah melalui anakNya Yesus Kristus, supaya melalui roti dan anggur itu orang-orang beriman dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus. Kerena kelemahan manusia, maka tanda itu mutlak ditambahkan kepada firman yang diberitakan, karena persatuan dengan Kristus hanya dapat dimengerti orang percaya kalau diperagakan dalam upacara makan roti dan minum anggur. Jadi menurut Calvin, Perjamuan Kudus lebih daripada sekadar peringatan kematian Kristus di kayu salib. Perjamuan Kudus menambahkan sesuatu kepada iman orang percaya dan kepada apa yang disampaikan dalam pemberitaan Firman. Tentang cara kehadiran Kristus dalam Perjamuan Kudus, Calvin menolak paham transsubstansiasi dari GKR bahwa pada saat rumusan perjamuan diucapkan imam maka roti dan anggur seketika berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Bagi Calvin, kehadiran Kristus dalam perjamuan itu hanyalah secara rohani dan dipahami dalam iman. Ketika Perjamuan Kudus dilayankan, tubuh Kristus tetap berada di surga, tetapi Roh-Nya memenuhi roti dan anggur sehingga peserta perjamuan yang beriman menerima Kristus secara rohani. Pemahaman Calvin atas Perjamuan Kudus ini berdampak pada pemahamannya tentang kehadiran Kristus. Calvin memahami bahwa Kristus tdak hanya hadir di alam sacramental dan di dalam ibadah gereja, melainkan hadir di dunia nyata, di dalam segala segi dan bidang kehidupan manusia. Dengan kata lain, manusia harus hidup dan berkarya di dunia nyata, dunia yang sekular
- Gereja dan Dunia serta Hubungan Gereja dengan Negara. Calvin memandang dunia dan seluruh bidang kehidupan di dalamnya sebagai theatron gloria Dei (panggung kemuliaan Allah). Oleh karena itu, pandangan ini menjadi daya dorong yang kuat bagi keterlibatan orang percaya dalam dunia sekular, di bidangnya masing-masing dan karena itu berkonsekuensi pada pertumbuhan ekonomi di kalangan orang-orang Protestan Eropa Barat pada abad-abad ke-16 dan seterusnya. Tentang hubungan gereja dengan Negara, Calvin mengaskan bahwa gereja dan negara adalah alat di tangan Tuhan, sesuai dengan wawasan dua pedang dan cita-cita teokrasi. Menurut Calvin, Allah menjadi penguasa tertinggi, baik di dalam gereja maupun negara. Selanjutnya, Tuhan Allah memberi ‘pedang’ yang satu kepada gereja (pedang rohani) dan lainnya kepada negara (pedang jasmani). Keduanya berdampingan, sama-sama bertugas melaksanakan kehendak Allah dan mempertahankan kehormatan-Nya. Namun secara asasi, pemerintah negara tidak boleh mencampuri urusan-urusan gereja, termasuk dalam hal organisasi, peribadahan, upacara-upacara dan penetapan jabatan gerejawi.
CEPOGO, STT BAPTIS INJILI, 07092023 (T)

Kamis, 31 Agustus 2023

𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙢𝙪? Bukan jawaban dogmatik, bukan jawaban legalistik, 𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?”, SERIAL SUDUT PANDANG (Injil Matius 16:13-20)



𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙢𝙪? Bukan jawaban dogmatik, bukan jawaban legalistik, 𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?”, SERIAL SUDUT PANDANG (Injil Matius 16:13-20)

Setelah Yesus tiba di Danau Toba, Ia bertanya kepada Soekarno, “𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?” Soekarno menjawab, “𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘦𝘷𝘰𝘭𝘶𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪.” Yesus berkata, “𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬.” Soekarno menanggapi, “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬.”

Bacaan Injil Minggu ini, Matius 16:13-20, perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴. Kisah paralel tentang 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 ini ada di Injil Markus 8:27-30 dan Lukas 9:18-22. Namun, kesejajaran kisah itu dalam konteks yang berbeda. Tidak sama. Pengarang Injil Matius mengambil bahan dari sumber Markus, kemudian ia mengembangkan kisah itu menurut teologi dan situasi jemaatnya saat itu.

Untuk pengulasan bacaan dapat dibagi ke dalam empat bagian:
▶️ Matius 16:13-14 Kata orang
▶️ Matius 16:15-16 Kata Petrus
▶️ Matius 16:17-19 Janji Yesus kepada Petrus
▶️ Matius 16:20 Perintah Yesus kepada para murid
                              
𝗞𝗮𝘁𝗮 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 (Mat. 16:13-14)

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “𝘒𝘢𝘵𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶?” Jawab mereka, “𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯: 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯: 𝘌𝘭𝘪𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯: 𝘠𝘦𝘳𝘦𝘮𝘪𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘢𝘣𝘪.” (Mat. 16:13-14, TB II 2023)

Kota Kaisarea Filipi terletak sekitar 40 km sebelah utara Danau Galilea. Kota ini dibangun oleh Herodes Filipus pada tahun 2 atau 3 SZB. Kini kota itu bernama Banias. Kaisarea Filipi berbeda dari Kaisarea Maritima dekat Laut Tengah. Versi Injil Lukas Yesus bukan berada di Kota Kaisarea Filipi, melainkan Betsaida (lih. Luk. 9:10).

Pengajaran radikal Yesus tentu saja berdampak besar dan menimbulkan banyak reaksi dari masyarakat. Untuk itulah Yesus bertanya kepada para murid mengenai pandangan orang-orang terhadap Yesus. Injil Matius menggunakan istilah Anak Manusia (𝘵𝘰𝘯 𝘏𝘶𝘪𝘰𝘯 𝘵𝘰𝘶 𝘢𝘯𝘵𝘩𝘳𝘰̄𝘱𝘰𝘶) untuk Yesus, sedang Injil Markus dan Lukas menggunakan Aku (με dibaca 𝘮𝘦). Matius tampaknya mengambil istilah ini dari Daniel 7:13 dan mungkin kitab 1Henokh 37-71, suatu gelar yang dikembangkan dari pemikiran apokaliptik saat itu oleh Gereja perdana.

Mengapa kata orang Yesus adalah Yohanes Pembaptis? Apabila kita membaca Matius 14:12, Raja Herodes Antipas berkeyakinan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang hidup kembali setelah dibunuh olehnya. Orang juga meyakini Yesus adalah Nabi Elia, nabi besar umat Israel. Mereka meyakini Elia akan tampil lagi di bumi menjelang penghakiman terakhir menurut Maleakhi 4:5. Yeremia juga nabi besar. Ia sangat terkenal di kalangan Yahudi dua abad menjelang Zaman Bersama (ZB) atau Tarikh Umum (TU), karena ia ditolak dan sangat menderita (lih. 2Mak. 2:1-12; 15:14).

Dari jawaban-jawaban di atas dapat dipahami bahwa ajaran-ajaran Yesus tidak ditangkap sepenuhnya oleh banyak orang Yahudi. Meskipun demikian kehadiran Yesus sangat berdampak sehingga mereka sampai memandang Yesus adalah nabi besar dan menjadi ancaman bagi kalangan elit agama.

𝗞𝗮𝘁𝗮 𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 (Mat. 16:15-16)

Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “𝙈𝙚𝙣𝙪𝙧𝙪𝙩 𝙠𝙖𝙢𝙪, 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝘼𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙞?” Jawab Simon Petrus, “𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴, 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱.” (Mat. 16:15-16, TB II 2023)

Di sini Yesus hendak menampilkan kontras: apa kata orang, apa kata kamu? Sesudah mengumpulkan informasi pendapat umum mengenai Yesus, Ia mengajukan pertanyaan pribadi kepada pengikut Kristus. Pertanyaan Yesus kepada para murid dijawab oleh Petrus seakan-akan ia adalah jurubicara. Injil Matius menampilkan sosok Petrus sebagai murid nomor 1. Injil Yohanes berbeda; Petrus bukanlah murid nomor 1. Bahkan dalam episode kebangkitan Injil Yohanes menempatkan Maria Magdalena lebih menonjol. 

Petrus menjawab, “𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴”. Mesias diterjemahkan dari 𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴. Sampai di sini jawaban Petrus sama dengan jawaban versi Injil Markus (Mrk. 8:29) dan sejajar dengan Lukas 9:20b, “𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.” Jawaban ini berbobot historis. Gelar Mesias searti dengan 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘶𝘳𝘢𝘱𝘪 (𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩), yang diterapkan kepada tokoh yang oleh orang Yahudi dimaknai sebagai Raja-Penyelamat mereka. Dalam dunia Injil gelar Mesias dimaknai secara spiritual.

Pembeda Injil Matius dari Injil Markus dan Lukas adalah penambahan jawaban Petrus, “𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱.” Istilah 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 sudah lazim digunakan dalam Perjanjian Lama (PL) yang merujuk orang yang dipilih oleh Allah (2Sam. 7:14; Mzm. 2:7; 89:27). Sebutan 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 sudah muncul setelah Yesus dibaptis dan setelah berjalan di atas air (Mat. 3:7; 14:33). Namun, ungkapan 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 hanya di perikop 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 ini. Frase 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 tampaknya Matius menekankan bahwa Yesus bukan saja dipilih oleh Allah, tetapi juga sumber dan pemberi kehidupan. 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 sudah dimaknai sebagai Mesias non-politik. Pengakuan Petrus ini amat penting untuk menggembala Jemaat Matius yang sedang patah semangat, karena Bait Allah dihancurkan oleh Jenderal Titus pada 70 ZB. Jemaat Matius berasal dari kalangan Yahudi. Jadi, mereka berpegang pada kata Petrus, bukan kata orang lain.

𝗝𝗮𝗻𝗷𝗶 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 (Mat. 16:17-19)

Kata Yesus kepadanya, “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘚𝘪𝘮𝘰𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘠𝘶𝘯𝘶𝘴, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘶𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢. 𝘈𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢.” (Mat. 16:17-19, TB II 2023)

Ayat 17-19 di atas tidak ada di Injil Markus dan Lukas. Ini khas Matius. Di sini disebut Simon anak Yunus yang diterjemahkan dari 𝘚𝘪𝘮o𝘯 𝘉𝘢𝘳𝘪o𝘯𝘢. Di Injil Yohanes disebut Simon anak Yohanes yang diterjemahkan dari 𝘚𝘪𝘮o𝘯 𝘩𝘰 𝘩𝘶𝘪𝘰𝘴 𝘐o𝘢𝘯𝘯𝘰𝘶 (Yoh. 1:42). Tampaknya ada permainan kata nama ayah Simon. Yesus memuji jawaban Simon alias Petrus (ay. 17). Yesus mengatakan “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 … “, karena Simon menerima penyataan (𝘳𝘦𝘷𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯) yang diberikan Allah bukan kepada orang bijak, melainkan kepada orang kecil (lih. Mat. 11:25-27).

Bukan saja memuji, Yesus menambah nama Simon dengan Petrus (𝘗𝘦𝘵𝘳𝘰𝘴), yang berarti literal batu karang atau cadas. Dalam bahasa Aram Petrus disebut Kefas (כֵּיפָא dibaca 𝘒𝘦𝘱𝘩𝘢). Rasul Paulus lebih suka menyebut Kefas daripada Petrus.

Kata Yesus, “… 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢-𝘒𝘶 …” Kata gereja diterjemahkan dari 𝘦𝘬𝘬𝘭e𝘴𝘪𝘢𝘯. TB 1974 dan TB II 1997 menerjemahkannya menjadi jemaat. TB II 2023 berubah menjadi gereja. Ucapan Yesus ini menimbulkan polemik tafsir. 

Tradisi Gereja Katolik merujuk teks di atas sebagai dasar ajaran bahwa semua pengganti Petrus menjadi ahli waris kuasanya sebagai 𝘱𝘳𝘪𝘮𝘢𝘴 ( = yang pertama). Petrus diyakini sebagai Uskup Roma yang pertama. Namun, cukup banyak teolog Katolik menolak tafsir ini, karena teks tidak menyebut pengganti. Kalangan Protestan menafsir cadas adalah iman Petrus atau iman jemaat berdasarkan iman Petrus. Namun, kelemahan tafsir ini adalah iman Petrus tidak stabil. Lihat ayat 23 di pasal yang sama dengan bacaan Minggu ini, Yesus mendamprat Petrus, “𝘌𝘯𝘺𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩, 𝘐𝘣𝘭𝘪𝘴. 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪-𝘒𝘶, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢.” Bahkan di Matius 26:69-75 Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali berturut-turut. 𝘏𝘢𝘵𝘵𝘳𝘪𝘤𝘬! Jadi?

Yang dimaksud gereja di ayat 18 itu tak lain dan tak bukan adalah Jemaat Matius. Petrus merupakan simbol rasul yang pro-Yudaisme. Jemaat Matius dibangun dengan dasar Yudaisme. Sangat kental di sini ada pertarungan teologi antara Jemaat Matius dan jemaat bentukan Rasul Paulus. Paulus mengingatkan jemaat Kristen dari kalangan Yahudi yang masih hidup di bawah kuk hukum Taurat. Bahkan Paulus mengecam Petrus sebagai orang munafik (lih. Gal. 2:11-14).

Frase 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘶𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 diterjemahkan dari 𝘒𝘢𝘪 𝘱𝘺𝘭𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘰𝘶 𝘰𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘪𝘴𝘤𝘩𝘺𝘴𝘰𝘶𝘴𝘪𝘯 𝘢𝘶𝘵𝘦̄𝘴, yang berarti literal 𝘥𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨-𝘨𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘥𝘦𝘴 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. Gerbang-gerbang hades tampaknya metafora penguasa agama dan politik pada masa itu. Jemaat perdana (dhi Jemaat Matius) sudah beberapa kali mengalami penganiayaan dan pengusiran dari sinagog, tetapi Gereja tetap tegar berdiri. Penguasa tidak dapat mengalahkan Gereja.

Ucapan Yesus “𝘒𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢” tentu saja tidak dipahami bahwa Petrus pemegang kunci surga seperti yang kita dapati di banyak lelucon atau 𝘫𝘰𝘬𝘦. Kerajaan Surga merupakan idiom Yahudi untuk Kerajaan Allah yang diprakarsai oleh Yesus di bumi ini. Pengertian tentang Kerajaan Allah sudah dijelaskan Yesus lewat perumpamaan-perumpamaan. Selain itu ciri-ciri Kerajaan Allah adalah orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, penderita penyakit kulit ditahirkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik (Mat. 11:5). 

Pemberian kunci kepada Petrus ini sejajar dengan Eliyakim mendapat kuasa dari Wangsa Daud “𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘋𝘢𝘶𝘥 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘩𝘶𝘯𝘺𝘢: 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱; 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢.” (Yes. 22:22). Petrus diberi kuasa membuka pintu dan menunjukkan jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah yang seharusnya dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, tetapi mereka justru menutup pintu Kerajaan Allah (Mat. 23:13). Kuasa itu diambilalih oleh Yesus dan didelegasikan kepada Petrus.

Frase 𝘬𝘢𝘶𝘪𝘬𝘢𝘵 (𝘥i𝘴o𝘴) dan 𝘬𝘢𝘶𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 (𝘭𝘺𝘴o𝘴) tampaknya sejajar dengan yang lazim dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dalam menafsir Taurat and penyataan kehendak Allah. Dengan kata lain otoritas menentukan hal yang diizinkan dan dilarang seperti Yesus menafsir Kitab Suci dalam episode panjang 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 (Mat. 5-7).

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱 (Mat. 16:20)

Lalu Yesus memerintahkan murid-murid-Nya supaya tidak memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias. (Mat. 16:20, TB II 2023)

Di Injil Matius dan Markus tidak disebut alasan langsung Yesus melarang murid-murid-Nya memberitahukan kepada siapa pun. Memang pada ayat berikutnya disebutkan alasan Yesus, tetapi ada jeda dengan keterangan waktu 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 dan 𝘭𝘢𝘭𝘶 serta alasan itu diucapkan oleh narator. Namun, di Injil Lukas alasan Yesus disebut dengan kalimat langsung. Ia berkata,  “𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘶𝘢-𝘵𝘶𝘢, 𝘪𝘮𝘢𝘮-𝘪𝘮𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘩𝘭𝘪-𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢.” (Luk. 9:20). Mengapa ada perbedaan?

Perbedaan itu terjadi karena perbedaan teologi para penulis Injil. Injil Matius mengusung teologi bahwa Yesus adalah Mesias sejak lahir. Dalam pembuka Injil Matius langsung disebut bahwa Yesus 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀, anak Daud, anak Abraham (Mat. 1:1). Juga penulis Markus membuka Injilnya dengan pernyataan: Inilah permulaan Injil tentang Yesus 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀, Anak Allah (Mrk. 1:1). Jadi, narator sudah menyatakan sejak awal bahwa Yesus adalah Kristus ( = Mesias). Dalam pada itu Injil Lukas mengusung teologi kenaikan, yakni Yesus diangkat menjadi Mesias ( = Kristus) sesudah kebangkitan (Luk. 24:46; Kis. 2:36).

Pengakuan atau deklarasi Petrus tentang Yesus sudah menjadi dogma dan pilar utama Gereja. Orang yang mengakui diri beragama Kristen sudah pasti mengakui Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Namun, pertanyaan Yesus itu dinamis, bukan sekadar membutuhkan jawaban dogmatik, bukan jawaban legalistik, bukan jawaban contekan dari pengakuan Petrus. Apabila Yesus bertanya kepada anda secara pribadi, “𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?”, bagaimana jawaban anda?

CEPOGO, 260823 (T)

Rabu, 30 Agustus 2023

MALAIKAT DALAM PB, SERIAL SUDUT PANDANG


MALAIKAT DALAM PB, SERIAL SUDUT PANDANG

PB sebagian besar menyokong dan menggaris-bawahi PL walaupun abad-abad yg berada di antaranya tak boleh dilupakan. Ibrani 1:14 mengartikan malaikat baik sebagai utusan Allah maupun sebagai penolong bagi manusia, sementara seluruh ayat tentang malaikat menunjukkan suatu ikatan simpati dan pelayanan yg mendalam (Wahyu 19:10; Lukas 15:10). Konsep mengenai malaikat sebagai penjaga pribadi dipertajam, seperti dalam kesusastraan Yahudi (Matius 18:10; Kisah 12:15). Tugas khusus dalam hal mengadakan hubungan kepada orang-orang secara pribadi tidaklah kurang -- penampilan kepada Zakharia (Lukas 1:11-20) dan Maria (Lukas 1:26-38; juga Matius 1-2; Kisah 8:26; 10:3 dab, 27:23 dll). Peranan memberi bantuan secara lebih aktif kepada manusia terlihat dalam Kisah 5:19-20; 12:7-10, yg mengingatkan tentang Elia di bawah pohon ara. Takhta Allah dikelilingi oleh ribuan malaikat yg tak terbilang jumlahnya seperti telah dinyatakan oleh Daniel (Ibrani 12:22; Wahyu 5:11, dll).

Dalam PL malaikat-malaikat menyaksikan dengan gembira, walaupun agaknya bukan sebagai peserta yg aktif, tindakan penciptaan oleh Allah (Ayub 38:7). Dalam PB mereka erat hubungannya dengan pemberitaan hukum Taurat (Kisah 7:53; Galatia 3:19; Ibrani 2:2), dan wajar bahwa mereka sering dihubungkan dengan hari penghakiman (Matius 16:27; Markus 8:38; 13:27; Lukas 12:8; 2 Tesalonika 1:7-8 dan banyak lagi yg sejajar dgn itu). Juga merupakan tugas khusus mereka untuk membawa orang yg benar ke pangkuan Abraham (Lukas 16:22-23). Tiada uraian yg langsung mengenai wujud malaikat.

Hunjukan pada wajah atau perlengkapan yg berkilauan menyarankan keindahan yg menakjubkan yg bukan milik dunia ini (Matius 28:2 dan yg sejajar dgn itu; Lukas 2:9; Kisah 1:10). PL juga menunjukkan pembatasan yg sama berkaitan dengan kerubim (Yehezkiel 10) dan serafim (Yesaya 6). Kemuliaan pada wajah Stefanus yg dihukum itu mencerminkan keindahan muka malaikat (Kisah 6:15).

Kristus yg menjelma dalam bentuk manusia dilayani oleh malaikat dalam beberapa peristiwa (Matius 4:11; Lukas 22:43) dan Ia sebenarnya dapat memerintahkan beribu-ribu malaikat, sekiranya Ia mau, di Getsemani atau entah di mana, untuk menyimpang dari jalan yg telah ditentukan bagi Dia, yaitu mengorbankan Diri (Matius 26:53).

Dalam beberapa bagian tertentu terdapat nada yg aneh, yaitu permusuhan atau kecurigaan terhadap malaikat. Mengenai hal ini ada persamaan yg menarik dalam kesusastraan Yahudi walaupun tak ada hubungannya. Roma 8:38 menunjuk pada para malaikat yg jatuh, dan ini pula menerangkan bagian yg penuh teka-teki dalam 1 Korintus 11:10, yg harus dibaca dalam terang Kejadian 6:1 dab. Masih perlu diperhatikan Galatia 1:8 dan 1 Korintus 13:1 dan peringatan yg keras pada Kolose 2:18. Tanpa diragukan, ajaran-ajaran yg salah dari pihak pembacanya, mendorong penulis Ibrani dengan tandas mengemukakan keunggulan Anak atas setiap malaikat (Ibrani 1).

Arti asasi dari Yudas 9 (sebagian sejajar dgn 2 Petrus 2:10-11) rupanya ialah bahwa malaikat yg telah jatuh, mempertahankan suatu kedudukan dan kehormatan yg dimiliki semula, sedemikian rupa, hingga teman-temannya dulu yg tidak jatuh, tak boleh bicara dengan mereka secara leluasa tapi harus menyerahkan kutukan terakhir pada Allah. Ada yg mengatakan bahwa peristiwa yg disebut oleh Yudas telah dicatat dalam Assumption of Moses (Kenaikan Musa), suatu kutipan keterangan yg apokaliptik. Di situ Iblis menuntut tubuh Musa untuk kerajaan kegelapannya, karena Musa telah membunuh orang Mesir (Keluaran 2:12), dan karena itu ia adalah pembunuh, apa pun juga kebajikan yg telah dilakukannya kemudian. Kemenangan terakhir tidak diperoleh Iblis, tapi bahkan Mikhael, pelindung umat Allah, harus mengendalikan lidahnya di depan musuh umat manusia.
CEPOGO, 310823 (T)
Baca juga :
http://titusroidanto.blogspot.com/2023/08/malaikat-dalam-perjanjian-lamapl-serial.html

http://titusroidanto.blogspot.com/2023/08/malaikat-dalam-perjanjian-lamapl-serial.html

TENTANG KATA TOLEDOT, SERIAL SUDUT PANDANG

TENTANG KATA TOLEDOT, SERIAL SUDUT PANDANG

Toledot (bahasa Ibrani: תּוֹלְדֹת‎, to-le-dot) adalah kata yang diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Indonesia Terjemahan Baru dengan kata “riwayat”, “keturunan” atau “riwayat keturunan” (dalam bahasa Inggris: "These are the generations of …"). Sejumlah pakar, misalnya P. J. Wiseman, melihat penggunaan kata ini untuk menunjukkan pembagian internal Kitab Kejadian. Wiseman mendasarkan pendapatnya dari pengalamannya mengikuti ekspedisi penggalian di daerah Mesopotamia pada pertengahan abad ke-20 bersama Sir Leonard Woolley di daerah Ur (diyakini sebagai tempat asal Abraham), dan Professor S. Langdon di Kish, serta diskusi mengenai metode penulisan kuno dengan para pakar (terutama Professor Cyril Gadd). Menurutnya, Kitab Kejadian disusun dengan cara paling kuno yaitu menggunakan kerangka pengulangan frasa, yang terdiri dari 2 jenis:  Frasa "Kolofon" (Colophon) dan  "Frasa berisi kata kunci" yang penting dari frasa pertama.

Metode serupa di peradaban lain
Dokumen kuno yang ditulis di Mesopotamia umumnya ditatah di atas batu atau lempengan (tablet) tanah liat dan lazimnya, penulis menambahkan kolofon (catatan) di akhir tulisan, berisi judul, tanggal penulisan dan nama penulis atau pemilik, serta sejumlah detail mengenai isi prasasti, naskah atau kitab.Metode ini tidak dipakai di Mesir kuno. Di zaman sekarang kolofon lebih lazim ditempatkan di halaman muka atau sampul di depan. Namun, kolofon tetap menjadi bagian penting yang memberi informasi dan ditambahkan dengan cara yang khas menurut peradaban tertentu. Misalnya kolofon akhir dari salah satu kisah mitologi Babel tentang penciptaan, yang lebih mirip dengan metode di Kitab Kejadian, sebagai berikut:

"Tablet pertama dari... setelah tablet ... Mushetiq-umi ... Salinan dari Babel; ditulis seperti aslinya dan dirangkai. Tablet dari Nabu-mushetiq-umi [ke-5] bulan Iyyar, tanggal 9, tahun ke-27 dari Darius."
Penggunaan di Kitab Kejadian
Formula kolofon dan toledot ini digunakan 11 kali di seluruh Kitab Kejadian. Begitu pentingnya frasa ini menurut penterjemah Septuaginta, sehingga mereka memberi nama seluruh kitab itu “Genesis” yaitu terjemahan bahasa Yunani untuk kata bahasa Ibrani “toledot”. Di seluruh kitab Kejadian, kata “toledot” ini dipakai dalam ayat-ayat berikut:

1 Kejadian 2:4 "Demikianlah riwayat (langit dan bumi ...)" אלה תולדות el'h tol'dot
2 Kejadian 5:1 "Inilah daftar keturunan (Adam)" זה ספר תולדת z'h s'f'r tol'd't
3 Kejadian 6:9 "Inilah riwayat (Nuh)" אלה תולדת el'h tol'd't
4 Kejadian 10:1 "Inilah keturunan (Sem, Ham dan Yafet,...)" ואלה תולדת w'-el'h tol'd't
5 Kejadian 11:10 "Inilah keturunan (Sem)" אלה תולדת el'h tol'd't
6 Kejadian 11:27 "Inilah keturunan (Terah)" ואלה תולדת w'-el'h tol'd't
7 Kejadian 25:12 "Inilah keturunan (Ismael)" ואלה תלדת w'-el'h t'l'd't
8 Kejadian 25:19 "Inilah riwayat keturunan (Ishak)" ואלה תולדת w'-el'h tol'd't
9 Kejadian 36:1 "Inilah keturunan (Esau)" ואלה תלדות w'-el'h t'l'dot
10 Kejadian 36:9 "Inilah keturunan (Esau)" ואלה תלדות w'-el'h t'l'dot
11 Kejadian 37:2 "Inilah riwayat keturunan (Yakub)" אלה תלדות el'h t'l'dot

Penggunaan frasa "toledot"
Sejumlah pakar beranggapan bahwa frasa yang mengandung toledot itu merupakan permulaan suatu kisah. Namun pembacaan di kitab Kejadian menunjukkan bahwa frasa "toledot" tidak selalu menjadi bagian daftar silsilah yang mengikutinya. Wiseman menulis bahwa "Sejarah utama orang yang disebut namanya ditulis sebelum frasa “toledot” dan jelas bukan sesudahnya"

Hal ini terlihat nyata, antara lain:
Sesudah “toledot” yang kedua: "inilah daftar keturunan Adam" (Kejadian 5:1), tidak banyak yang diketahui tentang Adam selain usia matinya. Setelah frasa “inilah riwayat keturunan Ishak” (Kejadian 25:19), jelas bukan riwayat Ishak, melainkan tentang Yakub dan Esau Setelah “inilah riwayat keturunan Yakub" (Kejadian 37:2), kisahnya terutama mengenai Yusuf. Ditulis dalam sejumlah lempengan (tablet) Adanya formula “toledot” ini menunjukkan bahwa tulisan-tulisan dalam kitab Kejadian itu merupakan gabungan dari berbagai prasasti yang ditulis dalam sejumlah lempengan tablet. Misalnya di Kejadian 5:1 dalam bahasa aslinya ditulis "זה ספר תולדת אדם" (zeh se·fer tow·l·dot a·dam, “inilah kitab riwayat Adam”). Kata “kitab” ini dalam bahasa Ibrani adalah "ספר" (sefer), yang berarti "catatan tertulis", atau sebagaimana diterjemahkan oleh F. Delitzsch sebagai "akhir tulisan"[6] Septuaginta menterjemahkan “toledot” pertama di Kejadian 2:4 sebagai: "αυτη η βιβλος γενεσεως ουρανου και γης" (autē ē biblos geneseōs ouranou kai gēs, "inilah kitab dari penciptaan langit dan bumi"). Dari fakta ini, Wiseman mengambil kesimpulan bahwa: "Kita harus menyadari bahwa 'kitab” pada zaman kuno adalah “lempengan /tablet” dan bahwa catatan awal dalam kitab Kejadian itu berbentuk tulisan, bukan sebagaimana yang dibayangkan, disampaikan kepada Musa dari cerita mulut ke mulut” Penelitian lebih lanjut dari nama orang yang disebut setelah kata “toledot” menunjukkannya sebagai pemilik atau penulis dari lempengan itu, bukan sejarah mengenai orang itu. Jadi "inilah riwayat Nuh" (Kejadian 6:1) bukanlah “inilah sejarah tentang Nuh” melainkan “inilah sejarah yang ditulis oleh Nuh”. Seakan-akan merupakan tanda tangan dari Nuh pada lempengan catatan yang ditulisnya.

Frasa kunci
Bagian penting setelah “kolofon toledot” di sepanjang kitab Kejadian adalah "kata kunci" atau "frasa kunci". Ini merupakan bukti penguat bahwa catatan ini ditulis dalam sejumlah lempengan sesuai tradisi kuno. Di Babel kuno, misalnya, jikalau catatan itu berukuran panjang dan membutuhkan lebih dari satu lempengan, maka biasanya:

Setiap rangkaian lempengan diberi satu “judul”.
Dipakai “frasa/kata kunci” untuk memastikan bahwa tiap lempengan itu dibaca dalam urutan yang benar. Seringkali, kolofon itu menyertakan nama penulis dan tanggal penulisan. Hal ini juga ditemukan di kitab Kejadian, yang merupakan bukti bahwa kitab ini disusun pada zaman kuno. Sedemikian murninya penyampaian tulisan itu sampai ke zaman sekarang, sehingga masih dapat ditemukan struktur penulisan purba di dalamnya. Sistem frasa/kata kunci ini dapat dilihat dari pengulangan kata yang berhubungan dengan awal dan akhir suatu lempengan yang menjadi bagian dari Kitab Kejadian:

Ayat Alkitab Frasa kunci
Kejadian 1:1 "Allah menciptakan langit dan bumi"
Kejadian 2:4 "Tuhan Allah menjadikan bumi dan langit"
Kejadian 2:4 "pada waktu diciptakan"
Kejadian 5:2 "pada waktu...diciptakan"
Kejadian 6:10 "Sem, Ham dan Yafet"
Kejadian 10:1 "Sem, Ham dan Yafet"
Kejadian 10:32 "setelah air bah itu"
Kejadian 11:10 "setelah air bah itu"
Kejadian 11:26 "Abram, Nahor dan Haran"
Kejadian 11:27 "Abram, Nahor dan Haran"
Kejadian 25:12 "anak Abraham"
Kejadian 25:19 "anak Abraham"
Kejadian 36:1 "Esau yaitu Edom"
Kejadian 36:8 "Esau itulah Edom"
Kejadian 36:9 "Esau, bapa orang Edom"
Kejadian 36:43 "Esau, bapa orang Edom"

Pengulangan frasa ini diduga terletak tepat dimana suatu lempengan berawal dan berakhir, yang sangat mirip dengan metode penulisan di Babel, karena pengaturan ini memungkinkan perangkaian seluruh lempengan itu menjadi satu.. Pengulangan frasa, terutama yang berhubungan dengan kolofon tidak mungkin suatu kebetulan, dan terkubur di dalam naskah kitab Kejadian tanpa disadari arti pentingnya.

Judul dan penanggalan lempengan
Pada lempengan dengan tulisan paku (kuneiform), judul diambil dari kata pertama catatan itu. Dengan cara serupa, orang Israel menyebut setiap dari 5 kitab pertama Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen dengan judul yang diambil dari kata-kata pembuka, misalnya Kitab Kejadian disebut "Bereisyit", kata bahasa Ibrani untuk “pada mulanya”. Wiseman menerangkan dengan teliti bahwa praktik ini dilakukan untuk mengidentifikasi beberapa lempengan merupakan satu rangkaian, karena beberapa kata pertama mereka diulangi dalam colofon (atau halaman judul) lempengan berikutnya., mirip dengan cara penulisan judul suatu bab di bagian atas dari tiap halaman bab itu pada buku-buku modern. Dengan cara inilah rangkaian lempengan-lempengan yang membentuk kitab Kejadian dapat dihubungkan satu dengan yang lain. Disamping judul, lempengan juga mengandung tanggal, sebagaimana juga ditemukan di prasasti lain.Setelah catatan ditulis dan nama penulis diterakan, juga menjadi kebiasaan untuk memberi tanggal sederhana. Baru kemudian hal ini dihubungkan dengan tahun pemerintahan raja. Satu contoh perhitungan waktu penulisan dapat dilihat di lempengan kedua yang berakhir di Kejadian 5:1: "Inilah daftar keturunan Adam, pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah". Selain itu, perhitungan waktu dapat dikaitkan dengan tempat di mana penulis tinggal saat itu, misalnya:

Kejadian 25:11 "dan Ishak diam dekat sumur Lahai-Roi"
Kejadian 36:8 "menetaplah Esau di pegunungan Seir"
Kejadian 37:1 "[Yakub] diam di negeri penumpangan ayahnya, yakni di tanah Kanaan"
Jelaslah bahwa kemurnian catatan itu yang telah diturunkan berabad-abad dengan teliti, dibuktikan dengan adanya sistem penulisan kuno yang masih nyata sampai sekarang. Dapat disimpulkan bahwa catatan-catatan ini ditulis dalam lempengan tanah liat yang membentuk rangkaian dari Kejadian 1:1 sampai 37:1, sebagaimana yang kita baca sampai saat ini.

Kisah Air Bah
Dalam cerita air bah, Graf-Wellhausen mengidentifikasi 2 narator, sedangkan Jean Astruc menemukan 3 narator dalam catatan Kejadian pasal 7. Dari toledot di akhir pasal itu, dilihat bahwa lempengan 4 ditulis dan dimiliki oleh ketiga putra Nuh, yaitu Sem, Ham dan Yafet. Jadi merupakan catatan saksi mata, apalagi karena mereka termasuk 8 orang yang benar-benar mengalami hal itu. Jean Astruc melihat bahwa ada 3 “kisah” yang berulang dalam cerita air bah ini, misalnya pada Kejadian 7:
Kejadian 7:18: "Ketika air itu makin bertambah-tambah dan naik dengan hebatnya di atas bumi...".
Kejadian 7:19: "Dan air itu sangat hebatnya bertambah-tambah meliputi bumi...".
Kejadian 7:20: "Sampai 15 hasta di atasnya bertambah-tambah air itu..."
Juga:
Kejadian 7:21: "Lalu mati binasalah segala yang hidup, yang bergerak di bumi..."
Kejadian 7:22: "Matilah segala yang ada nafas hidup dalam hidungnya, segala yang ada di darat.".
Kejadian 7:23: "Demikianlah dihapuskan Allah segala yang ada, segala yang di muka bumi".
Hal in dapat dijelaskan dari 2 fakta penting yang dikemukakan oleh Wiseman:

Akhir dari lempengan ini menunjukkan ada lebih dari satu orang yang menulis kisah ini, karena inilah riwayat "ketiga putra Nuh". Berbagai pengulangan dalam kisah ini mencerminkan gabungan kesaksian sejumlah saksi mata. Sejumlah pakar beranggapan cerita ini meminjam dari mitos Babel, tetapi dari perbandingan dokumen itu dengan cerita Alkitab, nyatalah bahwa dokumen dari Alkitab lebih sederhana dan berisi fakta yang lebih konkret daripada kisah supernatural di dokumen Babel.

Riwayat Yusuf
Bagian panjang dari Kejadian 37:2 sampai 50:26, tidak diakhiri dengan colophon dan isinya terutama adalah riwayat Yusuf di Mesir. Catatan ini dimulai dengan “Yusuf tatkala berumur 17 tahun” kemudian berakhir dengan “dan [Yusuf] ditaruh dalam peti mati di Mesir”. Di sini pengaruh Babel diganti oleh pengaruh sastra Mesir. Karena orang Mesir tidak menggunakan akhiran colophon, maka berakhirnya riwayat Yusuf tanpa colophon itu menunjukkan bahwa catatan itu dibuat di Mesir, bukan dengan metode Mesopotamia atau Babel, sebagaimana bagian-bagian sebelumnya. Sewell berpendapat bahwa bagian riwayat ini sebenarnya baru berakhir pada Keluaran 1:6 dan dapat disebut “Riwayat Yusuf dan Saudara-saudaranya.” Damien Mackey mengatakan bahwa bagian ini sama sekali tidak termasuk rangkaian toledothim, melainkan suatu kisah yang ditulis di atas lembaran papirus, tampaknya atas suruhan Yusuf dan dikerjakan oleh para jurutulis kerajaan. Sebagai dukungan hipotesis Mackey, kata "toledot" tidak muncul pada Keluaran 1:6; melainkan didapati kata Ibrani "ha’dor", yang makna harfiahnya "generasi; angkatan" (atau juga diartikan "zaman atau era").

Pembacaan Mingguan
Toledot adalah kata kedua dan yang khas dalam parsyah (bagian pembacaan Taurat mingguan) ke-6 pada siklus pembacaan Taurat tahunan orang Yahudi. Bagian ini meliputi Kitab Kejadian25:19sampai 28:9. Orang Yahudi di diaspora membacanya pada hari Sabat ke-6 setelah Simchat Torah, biasanya pada bulan November atau awal Desember.
CEPOGO, 310823 (T)

Referensi
^ a b Damien F. Mackey. The First Book of Moses and the 'toledot' of Genesis
^ a b Wiseman, P.J. Clues to Creation in Genesis (Marshalls paperbacks) D. J. Wiseman (Editor). HarperCollins Distribution Services. 1977. ISBN 978-0-551-05567-4
^ The `Enuma Elish', a Babylonian Creation story. Dari: P.J. Wiseman, Clues to Creation in Genesis, 1977, halaman 159
^ Wiseman, Ancient Records, 60. Pertanyaan (1) “Mengapa orang-orang Babel tidak menggunakan kata 'toledot' dalam prasasti mereka?” Jawabannya adalah karena mereka tidak menggunakan bahasa Ibrani; (2) Apakah 'toledot' itu permulaan prasasti? Bukan. Permulaan prasasti adalah 'kolofon', bukan frasa 'toledot'. Perbedaan ini penting untuk diingat
^ a b c d e f g h Wiseman, P.J. Ancient records and the structure of Genesis: A case for literary unity. T. Nelson Publishers. 1985. ISBN 978-0-8407-7502-3
^ Franz Delitzsch (1813-1890), as quoted by Wiseman, Ancient Records, 67. Bagi mereka yang beranggapan keliru bahwa tidak ada catatan kelahiran dan kematian pada zaman purba, kami anjurkan melihat kitab Kejadian pasal 5. Catatan keluarga yang dipelihara pada zaman lampau tidak memuat banyak hal selain catatan kelahiran, perkawinan dan kematian.
^ Wiseman, Ancient, 82. Mengenai formula penulisan tanggal, lihat: Francis R. Steele, The Date Formulae of Shu-Ilishu of Isin in BASOR, No. 122, April 1951, p. 45-49. Pengarang menyebut 10 contoh.
^ Kejadian 37:2
^ Kejadian 50:26
^ Curt Sewell. The Tablet Theory of Genesis Authorship. Bible and Spade, Winter 1994, Vol. 7, No. 1. Diperbarui 1998-2001 oleh pengarang.
^ How Genesis came to be[pranala nonaktif permanen]

MALAIKAT DALAM PERJANJIAN LAMA(PL), SERIAL SUDUT PANDANG

MALAIKAT DALAM PERJANJIAN LAMA(PL), SERIAL SUDUT PANDANG

Ada dua fase besar dalam PL mengenal ajaran tentang malaikat, yg secara kasar dibagi oleh masa Pembuangan Babilonia. Perbedaan gamblang mengenal corak-coraknya yg penting menimbulkan banyak perdebatan mengenal kronologi. Catatan-catatan berikut menyajikan perbedaan itu.

a. Dalam periode pra-pengasingan

Malaikat Allah (MAL'AKH YHVH) adalah alat langsung dari kehendak-Nya, tapi tetap tak bernama dan hampir tanpa pribadi yg nampak. Dalam banyak ayat, Allah dan malaikat Allah praktis adalah sama -- penampilan pada Hagar di padang belantara (Kejadian 16:7-13; 21:17-20); pada Abraham di Gunung Moria (Kejadian 22:11-18); pada Musa dalam nyala api yg keluar dari semak duri (Keluaran 3:2 dab) dan pada Gideon di Ofra (Hakim 6:11 dab). 

Malaikat pernah menampakkan dini kepada manusia sebagai pembawa perintah dan berita khusus dari Allah (Hakim 6:11-23; 13:3-5 dst). Mereka dapat memberi bantuan khas untuk pelayan-pelayan Allah yg miskin dan fana (1 Raja 19:5-7). Mereka dapat melakukan tugas bantuan militer (2 Raja 19:35 dst), dan -- tapi jarang sekali, permusuhan secara aktif terhadap Israel (2 Samuel 24:16 dab). Orang-orang dari Sodom (Kejadian 19) atau orang-orang lain yg melakukan kejahatan mereka pukul. Kehebatan mereka berperang tercantum dalam Kejadian 32:1, 2; 1 Raja 22:19, lebih khusus Yosua 6:13-15; 2 Raja 6:17 -- mendasari gelar ilahi YHVH Zebaot, TUHAN Allah yg memerintah pasukan malaikat.

Pandangan manusia generasi perdana menghubungkan malaikat dengan bintang-bintang. Hal ini mengilhami salah satu buah pikiran Ayub yg puitis, di mana para malaikat adalah juga saksi dari ciptaan (Ayub 38:7, lih di bawah; bnd Hakim 5:20; Wahyu 9:1). Keledai Bileam lebih cepat melihat makhluk yg menyerupai malaikat daripada tuannya, yg memerlukan teguran ilahi (Bilangan 22:21-35). Malaikat-malaikat bercakap-cakap dengan Abraham (Kejadian 18:1-16) atau di tangga Yakub (Kejadian 28:12). Para malaikat penjaga orang-orang secara pribadi (Mazmur 91:11) dan malaikat pembawa maut (ay 33:22; Amsal 16:14) tetap merupakan konsep-konsep kabur dalam PL, tapi menjadi ajaran-ajaran yg bulat dan tegas dalam literatur Yahudi. Istilah 'anak-anak Allah' semata-mata berarti malaikat-malaikat -- sifat mental atau rohani, bukan jasmani. Mereka malaikat yg benar-benar baik (Ayub 38:7, lih di atas), malaikat-malaikat yg mungkin baik (ay 1:6; 2:1) atau malaikat-malaikat yg jelas-jelas jatuh (Kejadian 6:2, 4). Istilah khusus yg lain adalah קְדֹשִֽׁים - QEDOSYIM, 'makhluk-makhluk suci' (ay 6:1; Mazmur 89:5, 7; Ulangan 8:13, dll). Bahwa sebutan itu teknis disarankan oleh hal dapat dipakai bila implikasinya pasti tidak bersifat orang suci (ay 6:15).

Ide-ide yg sejauh ini dibahas mungkin dari zaman sebelum pembuangan, paling sedikit dalam aslinya, walaupun beberapa contoh yg kemudian dimasukkan. Para malaikat -- dalam jumlah terbesar tetap merupakan gema dari suatu kehendak yg lebih tinggi, dan belum berpribadi.

b. Dalam kitab-kitab pada zaman pembuangan dan zaman yg kemudian

Pada zaman yg kemudian ini pengertian tentang malaikat menjadi lebih tegas. Orang yg bertindak sebagai pemandu Yehezkiel di kuil ideal, adalah merupakan konsep tengah di antara kedua konsep lain (pasal 40-48) yg menjadi malaikat penerang dalam Zakharia 1-6. Fungsi perantara alas nama bangsa Israel dalam Zakharia 1:12 meminta perhatian khusus. Bila diingat bahwa 'orang suci' berarti 'malaikat' dalam hubungan itu, maka kata-kata terakhir Zakharia 14:5 menarik perhatian jika dibaca dalam terang nubuat mengenal kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya.

Ajaran tentang malaikat dalam PL, berkembang sepenuhnya dalam Dan, yg merupakan awal perkembangan apokaliptik Yahudi. Di sini para malaikat mula-mula diberi nama-nama bersifat pribadi. Gabriel menerangkan banyak hal kepada Daniel, seperti malaikat dalam penglihatan Zakharia (Daniel 8:16; 9:21 dab). Dalam kedua kitab itu malaikat adalah juru bicara piawai dari Allah, dan dapat ditanyai -- tapi Gabriel menurut Daniel adalah lebih utuh dan meyakinkan. Mikhael mempunyai tugas khusus sebagai malaikat penjaga Israel (Daniel 10:13, 21; 12:1), dan bangsa-bangsa lain diperlengkapi sama seperti itu (Daniel 10:20). Hal ini merupakan ajaran yg biasa bagi ulama Yahudi. Dalam penglihatan nampak takhta-takhta sorgawi, di mana terdapat malaikat-malaikat yg jumlahnya tak terhitung banyaknya mengelilingi takhta (Daniel 7:10; bnd Ulangan 33:2; Nehemia 9:6; Mazmur 68:17 untuk hunjukan yg lebih kecil).
Cepogo 300823 (T)
Baca juga :
http://titusroidanto.blogspot.com/2023/08/malaikat-dalam-pb-serial-sudut-pandang.html

Senin, 28 Agustus 2023

RAKSASA, SERIAL SUDUT PANDANG

Gambar: Robert Wadlow, penyandang gigantisme (kiri). Tulisan & gambar tentang tulang oleh Galileo Galilei (kanan).

RAKSASA, SERIAL SUDUT PANDANG

-Bahkan kami melihat orang-orang yang seperti raksasa, yaitu keturunan orang Enak. Dibandingkan dengan mereka, kami merasa seperti belalang, dan pasti begitulah anggapan mereka terhadap kami.-
(Bilangan 13:33, BIMK-LAI)

"Taken to extremes, larger or smaller versions of creatures are not always viable."
-Tim Kirk

Jika manusia raksasa ada, apakah ia sebangun geometris dengan manusia? Intuisi kita -bersama siswa SMP yang lagi belajar kesebangunan & kekongruenan- akan berkata ya. Maksudnya, jika si raksasa tingginya empat kali tinggi manusia, maka panjang & lebar bagian lain dari tubuh juga menjadi empat kalinya. Misal, diameter tulang menjadi empat kalinya; panjang jari & ukuran gigi juga empat kali dari normal. Raksasa seperti itu kita sebut "raksasa sebangun".

Namun, anggapan di atas kurang tepat karena mengabaikan kekuatan tulang. Tulang si raksasa sebangun itu akan berkurang kemampuannya untuk menahan beban, meskipun dimensi tulang membesar. Galileo Galilei (1564-1642) benar ketika menyimpulkan: jika raksasa benar ada, maka ukuran tulangnya tidak sebangun geometris dengan tulang manusia normal. Rasio diameter terhadap panjang tulang akan berubah seiring bertambahnya tinggi tubuh. Raksasa macam itu kita sebut saja "raksasa ideal".

Bagaimana proporsi raksasa ideal itu? Dengan berasumsi manusia & raksasa memiliki kerapatan (density, massa jenis) daging-tulang yang sama, maka proporsinya sebagai berikut. Jika tinggi raksasa 200% dari tinggi manusia, maka diameter tulangnya 283% dari diameter normal. Jika tingginya 300%, maka tebal tulangnya 520% (lihat gambar dari bukunya Galileo). Jika tingginya 4 kali, maka tebal tulangnya menjadi 8 kali. Tampaknya, semakin tinggi tubuhnya, semakin sulit ia bergerak.

***
Rasanya, lebih mungkin ada raksasa sebangun ketimbang raksasa ideal. Orang penderita gigantisme adalah contoh konkret. Raksasa sebangun memiliki tinggi maksimum untuk menjamin tulang kakinya tak mudah retak atau patah. Dengan data tekanan yang diterima tulang manusia, maka rentang tinggi maksimum raksasa itu bisa dicari dengan matematika sederhana. Tentu memakai asumsi: kerapatan rata-rata tulang-daging manusia adalah sama dengan di tubuh raksasa.

Untuk perkiraan, anggap atlet angkat besi sebagai acuan ekstrem. Mereka sanggup untuk mengangkat barbel 3 kali berat tubuhnya. Tulang kaki para atlet itu berarti mampu menahan beban sebesar 4 kali berat tubuh. Maka, raksasa sebangun itu bisa memiliki faktor dilatasi sampai 4. Namun, mempertimbangkan kerja organ tubuh lainnya, faktor dilatasi dibatasi dari 1,5 sampai 2,5. Jika tinggi rata-rata manusia dianggap 160 cm, maka tinggi yang mungkin dari si raksasa adalah dari 240 cm sampai 400 cm.

Baca juga :
http://titusroidanto.blogspot.com/2023/08/mengenai-kata-nefilim.html

Kepustakaan:
Bill Bryson, The Body (Anchor Books, 2019).
Galileo Galilei, Mathematical Discourses Concerning Two New Sciences (John Weston, 1630).
Alain Goriely, Applied Mathematics (Oxford University Press, 2018).
Tim Kirk, Physics for the IB Diploma (Oxford University Press, 2003).

Penulis: (T), CEPOGO, 290823


SIMBOL ANGKA DIHARI-HARI PENCIPTAAN, SERIAL SUDUT PANDANG

Keterangan Gambar:
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Enam Hari Penciptaan
(Sumber: https://answersingenesis.org/creation/)

SIMBOL ANGKA DIHARI-HARI PENCIPTAAN, SERIAL SUDUT PANDANG 
====================================

Bilangan-bilangan yang tercatat dalam naskah Ibrani Perjanjian Lama dan naskah Yunani Perjanjian Baru ditulis dalam kata-kata, bukan dalam angka. Demikian halnya dengan pencatatan bilangan-bilangan dalam narasi Penciptaan. 

Kita harus pahami dulu pencatatan bilangan dan angka menurut sistem dan perapektif Ibrani.

Dalam bahasa Ibrani, angka satu adalah suatu kata sifat, kemudian, suatu rangkaian kata benda menunjukkan bilangan 2 sampai 10. Gabungan bilangan dengan angka 10 menunjukkan angka 11 sampai 19. Sesudah angka 20, bilangan puluhan dibentuk dalam susunan yg sama dengan bh Indonesia, yaitu angka 3 dan 30. Satu kata terpisah menunjukkan angka 100; 200 adalah dua bentuk dari itu. Setelah itu, dari angka 300 sampai angka 900 bentuknya sama lagi dengan sistem bilangan di Indonesia. Adapun bilangan tertinggi yang dinyatakan dengan satu kata adalah bilangan 20.000 yang dibentuk dari bilangan 10.000. Seperti itulah sistem pencatatan angka Ibrani.

Menariknya, dalam Alkitab bilangan juga digunakan sebagai lambang atau mengungkapkan arti teologis, bisa disimak sebagai berikut:

1. Bilangan satu digunakan untuk mengungkapkan gagasan keesaan dan keunikan Allah. Contohnya ada di Ulangan 6:4, juga pada frasa-frasa "Semua bangsa berasal dari satu orang" (Kisah Para Rasul 17:26); "Dosa masuk ke dunia melalui satu orang" (Roma 5:12); "Kasih karunia dilimpahkan karena satu orang, Yesus Kristus" (Roma 5:15);  "Korban persembahan diriNya sampai mati adalah satu kali untuk selama-lamanya" (Ibrani 7:27); dan "Dia-lah yang sulung yg pertama bangkit dari antara orang mati" (Kolose 1:18); "yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (1 Korintus 15:20)".

2. Bilangan dua dapat menggambarkan keesaan maupun pembagian. Contoh: satu pria dan satu wanita merupakan asas kesatuan keluarga (Kejadian 1:27; 2:20, 24); Binatang-binatang dikelompokan dalam pasangan dan masuk ke dalam bahtera secara berpasangan (Kejadian 7:9); Dua orang sering bekerja sama dalam persahabatan atau persekutuan, misalnya pengintai utusan Yosua (Yosua 2:1), juga ke-12 murid diutus berdua dan 70 murid juga diutus demikian (Markus 6:7; Lukas 10:1). Sebagai tambahan, di Sinai diberikan 2 loh batu, dan binatang-binatang sering dipersembahkan berpasang-pasang. Namun, sebaliknya juga angka 2 dipakai sebagai kekuatan yang memisahkan, seperti dalam 1 Raja-raja 18:21, "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati?", juga perihal dua jalan yaitu "jalan yang luas dan yang sempit' dalam Matius 7:13,14.

3. Bilangan tiga, yang lazim dihubungkan dengan Trinitas Oknum ke-Allah-an, contohnya: Matius 28:19; Yohanes 14:26; 15:26; 2 Korintus 13:14; dan 1 Petrus 1:2, yang mana ajaran ini dinyatakan secara tidak langsung. Dalam Perjanjian Baru, bilangan tiga dipandang sakral karena Yesus dibangkitkan pada hari ketiga atau setelah tiga hari (Matius 12:40; 27:63; Lukas 24:46; 1 Korintus 15:4). Bilangan tiga juga dihubungkan dengan perbuatan-perbuatan Allah yang luar biasa dan tertentu, contohnya ada tiga pesta utama disebutkan (Keluaran 23:14-19); rumah suci dibagi ke dalam tiga bagian (1Raja-raja 6:2-22); juga tentang Yunus ada di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam (Yunus 1:17); di Gunung Sinai Tuhan turun untuk memberikan Firman-Nya 'menjelang hari ketiga' (Keluaran 19:11); dalam nubuat Hosea, Tuhan akan membangkitkan umat-Nya 'pada hari ketiga' (Hosea 6:2). Selain itu, ada pemakaian bilangan 'tiga' yang sama pada Lukas 13:32, dimana 'hari ketiga' adalah bentuk puitis untuk suatu kurun waktu pada waktu mana sesuatu telah tuntas diselesaikan, dilengkapi dan disempurnakan' (N. Geldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, 1950, hlm 384, catatan 4), sebagai contoh: Yunus telah dilepaskan (Yunus 1:17; Mat 12:40) dan Kristus telah dibangkitkan Allah dari kematian pada hari ketiga (1 Korintus 15:4), juga ada tiga murid yang diperkenankan untuk berhubungan akrab secara khusus dengan Kristus (Markus 9:2; Matius 26:37), dan di Golgota juga ada tiga salib. Disamping itu, Paulus juga menitik-beratkan tiga kebajikan (1 Korintus 13:13). Contoh menarik lain mengenai bilangan 3 yang digunakan sehubungan dengan jangka waktu, adalah pilihan yang diberikan kepada Daud, yaitu 3 hari penyakit sampar, 3 bulan melarikan diri dari hadapan musuhnya, atau 3 thn kelaparan (1 Tawarikh 21:12), juga bala-tentara Gideon yang menjadi contoh pembagian dalam 3 pasukan (Hakim-hakim 7:16). Selain itu juga, ada bentuk pecahan sepertiga yang dipakai dalam Wahyu 8:7-12.

4. Angka Empat, biasanya adalah pertanda penyelesaian dalam Alkitab, juga lambang kemuliaan dan kebesaran. Perlu diingat, nama TUHAN yang kudus terdiri dari 4 huruf dalam bahasa Ibrani (YHWH). Contoh lain terkait lambang kebesaran adalah ada 4 sungai besar mengalir keluar dari taman Eden (Kejadian 2:10), dan ada 4 penjuru bumi ini (Wahyu 7:1; 20:8), ada 4 asal angin kuat berembus (Yeremia 49:36; Yehezkiel 37:9; Daniel 7:2), juga, didalam penglihatan-penglihatan mengenai kemuliaan Allah, Yehezkiel melihat ada 4 makhluk hidup (ps 1) yang dapat dibandingkan dengan keempar makhluk hidup dalam Wahyu 4:6. Selain itu, sejarah dunia mulai dari kerajaan Babel direntang oleh 4 kerajaan (Daniel 2:7), juga 'empat' adalah bilangan penting dalam lambang nubuat dan dalam kesusastraan, misalnya 4 tukang besi (Zakharia 1:18-21) dan 4 kereta (Zakharia 6:1-8), 4 tanduk dari mezbah emas (Wahyu 9:13), dan 4 malaikat pembunuh (Wahyu 9:14). Sebagai tambahan, ada 4 Injil, dan pada waktu Injil itu disebarluaskan kepada non-Yahudi, Petrus melihat dalam penglihatan suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan.

5. Angka Lima dan sepuluh, beserta perkaliannya, sering muncul karena sistem desimal dipakai di Israel kuno. Dalam Perjanjian Lama, ada 10 Bapak leluhur disebut sebelum air bah, juga kisah orang Mesir yang ditimpah 10 tulah, dan ada juga Sepuluh Firman. Pecahan sepersepuluh merupakan zakat (Kejadian 14:20; 28:22; Imamar 27:30; 2 Tawarikh 31:5; Maleakhi 3:10). Perumpamaan (Lukas 15:8) menyebut seorang wanita memiliki 10 dirham, dan dalam perumpamaan mengenai mina disebut 10 mina, 10 orang hamba dan 10 kota (Lukas 19:11-27). Dari 10 gadis disebut 5 bijaksana dan 5 bodoh (Matius 25:2). Lima ekor burung pipit dijual 2 duit (Lukas 12:6); sang orang kaya mempunyai 5 saudara (Lukas 16:28); wanita Samaria di pinggir sumur pernah mempunyai 5 suami (Yohanes 4:18); dan pada pemberian makan lima ribu orang, sang anak mempunyai 5 roti jelai. Ada 10 kekuasaan yg tidak dapat memisahkan orang percaya dari kasih Allah (Roma 8:38 dab), dan 10 dosa yang tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Korintus 6:10). Karena itu, bilangan 10 juga menandakan kesempurnaan, seperti halnya 10 orang-tua merupakan suatu rombongan (Rut 4:2), yang artinya bilangan 5 adalah lambang setengah dari kesempurnaan itu.

6. Angka Enam adalah angka manusia. Dalam cerita kejadian, Allah menjadikan laki-laki dan perempuan pada hari ke-6 (Kejadian 1:27). Enam hari telah diatur kepada manusia untuk bekerja (Keluaran 20:9; 23:12; 31:15; bnd Lukas 13:14), seorang hamba Ibrani harus bekerja selama 6 tahun sebelum dia dibebaskan.

7. Angka Tujuh, mempunyai tempat penting diantara bilangan kudus dalam Alkitab, dan dikaitkan dengan penyelesaian, penggenapan dan penyempurnaan. Dalam berita kejadian, Allah beristirahat dari pekerjaan-Nya pada hari ke-7 dan menguduskannya. Ini menjadi pola sabat Yahudi, ketika orang berhenti dari kerja (Keluadan 20:10), bagi tahun sabat (Imamar 25:2-6), dan juga bagi tahun Yobel, yang diikuti 7 kali 7 tahun (Imamat 25:8). Hari Raya Roti Tidak Beragi dan Hari Raya Pondok Daun berlangsung 7 hari (Keluaran 12:15, 19; Bilangan 29:12). Hari Raya Pendamaian berlangsung pada bulan ke-7 (Imamat 16:29). Bilangan 7 memang sering muncul berkaitan dengan upacara keagamaan Perjanjian Lama, misalnya memercikkan darah lembu 7 kali (Imamat 4:6), dan korban bakaran terdiri dari 7 ekor domba berumur 1 tahun (Bilangan 28:11); orang sakit kusta yang ditahirkan harus dipercikkan 7 kali (Imamat 14:7), dan Naaman harus menyelam 7 kali di Sungai Yordan (2 Raja-raja 5:10), juga andil kemah suci mempunyai 7 cabang (Keluaran 25:32). Catatan lain yg perlu diperhatikan adalah: ibu dari 7 orang anak (Yeremia 15:9); 7 wanita akan memegang 1 laki-laki (Yesaya 4:1); dan frasa "seorang menantu perempuan yang penuh kasih lebih berharga dari 7 anak laki-laki" (Rut 4:15), kisah orang Saduki yang mengemukakan soal perkawinan janda dengan 7 bersaudara (Matius 22:25), para imam mengelilingi Yerikho 7 kali (Yosua 6:4), hamba Elia diminta untuk melihat tanda hujan 7 kali naik turun (1 Raja-raja 18:43). Pemazmur memuliakan Allah 7 kali sehari (Mazmur 119:164), dan pada Kejadian 29:18; 41:29, 54 dan Daniel 4:23 menyebut 7 tahun, juga, gereja mula-mula mempunyai 7 pelayan (Kisah Para Rasul 6:3), dan Yohanes menyapa 7 jemaat dalam Wahyu dimana juga ada disebut 7 kaki dian emas (Wahyu 1:12) dan 7 bintang (Wahyu 1:16). Pada pemberian makan 4.000 orang juga disebut pergandaan 7 roti dan beberapa ikan (Markus 8:1-9), dan sisanya ada 7 bakul, yang berarti bahwa Yesus mengenyangkan mereka dengan sempurna. Selain itu, ada kisah Maria Magdalena dibebaskan dari 7 roh jahat (Lukas 8:2), dan naga dalam Wahyu 12:3 dan binatang dalam Wahyu 13:1; 17:7 mempunyai 7 kepala.

Demikianlah makna angka atau bilangan 1 hingga 7 menurut perspektif Ibrani. Nah, apa korelasi penjelasan-penjelasan diatas dengan narasi hari-hari Penciptaan dalam kitab Kejadian?

Berikut ini adalah penjelasannya:

1. HARI PERTAMA
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Korelasi makna angka 1 dan Kejadian 1:1 juga Hari Pertama Penciptaan (Kejadian 1:3-5) pada pandangan saya adalah menunjukan gagasan keesaan dan keunikan Allah saat Penciptaan. Keunikan Allah adalah menciptakan terlebih dahulu suatu wadah yang lengkap pondasi (bumi) dan atapnya (langit), kemudian di hari penciptaan Dia menunjukan keesaanNya sebagai satu-satunya sumber Terang sehingga terang itu harus diciptakan pada hari Pertama.

2. HARI KEDUA
°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Angka dua sebagai simbol pembagian bisa terlihat di narasi Penciptaan di hari kedua, yang mana Allah dikisahkan membagi air, baik pembagian air diatas cakrawala dan dibawah cakrawala, maupun pembagian letak air di bumi.

3. HARI KETIGA
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Angka tiga bisa bermakna Trinitas bisa juga bermakna suatu jangka waktu, juga bisa bermakna suatu waktu terkait perbuatan Allah yang luar biasa. Angka tiga juga mempunyai arti simbolik dalam tradisi alkitabiah, yang dalam narasi Penciptaan menyatakan kelengkapan: langit, bumi dan bumi bawah. Hari ketiga memuat setidaknya satu dari makna-makna dan simbol ini, yaitu waktu terkait perbuatan Allah yang luar biasa. Bila sebelumnya hanya wadah yang diciptakan, maka dimulai pada hari ketiga diciptakan makhluk hidup. Penciptaan makhluk hidup yang pertama ini dianggap merupakan perbuatan yang luar biasa.

4. HARI KEEMPAT
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Angka empat bisa bermakna, pertama, suatu tanda penyelesaian dari Tuhan atas karya atau hukumanNya, kedua, lambang nama kudus YHWH, ketiga, suatu lambang benda atau makhluk atau karya yang luar biasa. Makna pertama angka empat bisa dilihat dari hari keempat Penciptaan, yaitu Allah menyelesaikan karyanya yang berhubungan dengan terang yang menyinari bumi. Makna kedua bisa kita simak, bahwa benda-benda penerang itu diciptakan dan dihari keempat pula bukan pertama, itu artinya sang Pencipta, YHWH, berada diatas semua benda-benda penerang itu sehingga tidak ada gunanya menyembah benda-benda penerang itu secara langsung atau melalui personafikasi dewa-dewi. Makna ketiga juga bisa dilihat dihari keempat penciptaan, yaitu adanya benda-benda penerang yang mulai terlihat dari bumi sehingga pembagian waktu bisa ada, dan pembagian waktu itu adalah karya yang besar, mulia dan luar biasa.

5. HARI KELIMA
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Angka lima adalah setengahnya angka 10 dalam perhitungan Ibrani, yang mana 10 adalah angka sempurna jadi angka lima adalah setengah sempurna alias hampir sempurna. Makna ini bisa terlihat dari kisah Penciptaan hari kelima, ketika Allah menciptakan berbagai fauna di laut dan di udara. Semua tampak sempurna sebab Bumi mulai terlihat berwarna, tetapi tarafnya baru di 'hampir sempurna' sebab fauna darat dan manusia belum diciptakan. Inilah mengapa, secara sastra dan kekhasan keteraturan Allah, di hari kelima belum diciptakan fauna darat dan manusia.

6. HARI KEENAM
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Angka enam adalah angka lambang manusia. Di hari keenam, manusia diciptakan. Juga, diciptakan hewan-hewan darat. Terkait hewan-hewan darat, ini menarik. Fauna darat bisa berevolusi dari fauna laut, tetapi, manusia purba (diluar homo sapien yah) tidak bisa berevolusi dari fauna laut. Saya sempat berpikir, apakah hari kelima diciptakan fauna laut dan udara sekaligus sebagai prototype-nya fauna laut saat ini yang evolusinya baru selesai ketika tiba di penciptaan hari keenam dimana mereka menjadi binatang melata dan ternak, kemudian, yang dimaksudkan sebagai "binatang liar" adalah penciptaan manusia purba non-sapien. Menariknya ayat 24-25 dan 30 (dalam bahasa Ibrani) ada disebutkan "binatang liar" tetapi diayat 28 tidak ada disebutkan "binatang liar" sebagai hewan yang harus dikuasai oleh manusia. Inilah yang membuat saya berpikir bahwa 'binatang liar' (ayat 24 menggunakan kata וְחַֽיְתוֹ, - wehaytov, ayat 25 dan 30 menggunakan kata חַיַּ֨ת - hayyat) yang bukanlah hewan yang kita kenal tetapi hominid purba non-homo sapien, sebab mereka diciptakan bukan untuk dikuasai oleh manusia karena diskenariokan akan musnah dengan sendirinya. Nah, ini hanya pikiran sekilas saya yah. Kembali ke kajian sastra, hari keenam adalah lambang manusia yang mana makna ini timbul setelah penciptaan manusia di hari keenam. Secara sastra, walau ada ciptaan lain di hari keenam tetapi Allah menunjukan bahwa hari keenam, harinya umat manusia, manusialah yang diciptakan paling sempurna.

7. HARI KETUJUH
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Angka tujuh melambangkan penyelesaian, penggenapan, dan penyempurnaan. Ini bisa dilihat dari Kejadian 2:1-3 bahwa Allah telah selesai (ayat 2), bahwa semua yang direncanakanNya terkait penciptaan telah digenapi (Kejadian 2:1), dan bahwa hari itu untuk pertama kalinya bumi menjadi sempurna. Angka tujuh juga memiliki makna mistis dan religius dalam budaya Mesopotamia paling lambat abad ke-22 SM. Ini mungkin karena dalam sistem bilangan seksagesimal Sumeria, membagi dengan angka tujuh adalah pembagian pertama yang menghasilkan pecahan berulang tanpa batas. Mungkin makna ini yang diambil oleh orang Ibrani sebagai simbol kuasa tak terbatas dan sempurna.

Demikian makna-makna sastrawi dari hari-hari Penciptaan yang saya kaji. Bisa kita simak, dalam penulisan kisah Penciptaan ini, sekalipun kisahnya mirip dengan mitologi Mesopotamia tetapi gaya penulisannya sangat rumit dan penuh simbol, yang mana semua itu adalah kekhasan sastra Ibrani kuno yang tidak ditemui di karya-karya sastra kuno lainnya. 

Maksudnya 'mirip' bukanlah 'sangat mirip', melainkan 'ada kemiripan'. Kemiripan seperti itu adalah hal yang biasa dalam dunia kuno ketika mereka menuturkan atau menceritakan sejarah atau suatu riwayat dan kisah bangsa mereka dengan menggunakan gaya sastra serta mengambil contoh kisah dalam sastra kuno yang telah ada sebelumnya..Semua ini merupakan kerumitan dan kekhasan sastra Ibrani kuno. Kerumitan dan kekhasan ini yang membedakan sastra Ibrani kuno dengan sastra-sastra di peradaban kuno lainnya termasuk peradaban kuno disekitar Israel. 

Pola Penciptaan dalam Alkitab memang terlihat jelas:
1. Diciptakan wadah
2. Diciptakan pelengkap wadah
3. Diciptakan makhluk hidup yang kurang mulia
4. Diciptakan makhluk hidup yang lebih mulia
5. Diciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna

Bila kita hubungkan ke teologi-sastra maka pola ini, yang juga ditunjukan oleh pemaknaan bilangan-bilangan Ibrani kuno, menunjukan banyak hal yaitu keteraturan pekerjaan Ilahi, karya Ilahi yang sistematis, harmoni semesta, serta kemuliaan Ilahi dan kesempurnaan karya Ilahi.

___________________
Oleh (T) Cepogo, 290823 STT BAPTIS INJILI


Referensi dan Daftar Bacaan:
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
1. A. F. Kirkpatrick (editor); "The Book Of Genesis"; Cambridge University Press - Fetter Lane, E.c.; London; 1921.

2. "Browning" (Kamus Alkitab), perikop: tiga.
Ensiklopedia Alkitab, perikop: angka.

3. Carol A. Hill; "Making Sense of theNumbers of Genesis"; Desember 2003.

4. David E. Pratte; "Commentary on the Book of Genesis: Bible Study Notes and Comments"; 2016 (edisi revisi).

5. Djonly Johnson Relly Rosang; "Studi Kritik Teori Penciptaan Dalam Kejadian 1:1-2.(Suatu Kajian terhadap Argumentasi Teori Celah)"; Hupēretēs: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1 no.1; 2019.

6. Fanny Y. M. Kaseke; "Saat Iman dan Akal Berbenturan:Alam Semesta Menurut Ajaran Alkitab dan Evolusionisme".

7. Jack David Kawira; "Tinjauan Kritis Pandangan Harafiah Hari Penciptaan".

8. Luo Clement; "The Ancient Science of Numbers"; Roger Brothers; New York; 1908.

9. Robert E. Krebs; "Encyclopedia of ScientificPrinciples, Laws, and Theories"vol. 2: L–Z; Greenwood Press; Westport, Printed in the United States of America; 2008

10. Philip Schaff; "The New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge"; Baker Book House; Michigan; 1952.

11. T. K. Cheyne dan J. Sutherland Black, "Encyclopedia Biblica: A Dictionary Of The Bible"; The Macmillan Company; New York; 1901.

12. Wati Susilawati; "Sejarah & Filsafat Matematika"; CV. Insan Mandiri; 2017.

.


Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggi...