Jumat, 18 April 2025

SUDUT PANDANG LUKAS 24: 1 - 12, 𝙄𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙞𝙩! 𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪!

SUDUT PANDANG LUKAS 24: 1 - 12,  𝙄𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙞𝙩! 𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪!


Dalam Jumat Agung yang lalu tersebutkan kematian Yesus adalah fakta sejarah objektif. Yesus adalah tokoh historis. Namun, kebangkitan Yesus adalah peristiwa iman atau pengalaman iman. Yesus dalam studi sejarah disebut Yesus-historis, sedang Yesus dalam Alkitab disebut Yesus-iman. Yesus-iman dibangun oleh para petulis kitab-kitab Perjanjian Baru (PB) lewat teropong Perjanjian Lama (PL) dan tradisi. Untuk itulah kisah kebangkitan Yesus di Alkitab berbeda-beda karena berangkat dari pengalaman iman para petulis yang berbeda-beda pula.

Orang Kristen dewasa tidak membutuhkan bukti historis dan empiris atas kebangkitan Yesus. Hanya orang Kristen 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘪𝘴𝘩, kolokan, fundamentalis yang mau menelan 𝘱𝘴𝘦𝘶𝘥𝘰-𝘴𝘤𝘪𝘦𝘯𝘤𝘦 kebangkitan Yesus sebagai bukti historis dan empiris.

Hari ini adalah Minggu Paska. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Lukas 24:1-12 yang didahului dengan Yesaya 65:17-25, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan Kisah Para Rasul 10:34-43.

Perikop bacaan Minggu Paska ini diberi judul oleh LAI 𝘒𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. Kitab Injil Lukas (dan Kis.) menyajikan kisah kebangkitan Yesus lebih bervariasi ketimbang kisah kebangkitan di Injil Markus, Matius, dan Yohanes. Namun, secara geografis Lukas lebih berpumpun pada Kota Yerusalem. Bagi Lukas Yerusalem menjadi pusat penampakan Yesus-Paska, tempat peneguhan, dan perutusan Gereja. Lukas menghapus cerita tentang Yesus-Paska menyuruh para murid menemui-Nya di Galilea. Justru sebaliknya para murid dilarang meninggalkan Kota Yerusalem. Secara cermat dan dalam citarasa sastra yang tinggi Lukas hendak mengundang para pembaca Injilnya untuk mengingat kembali karya Yesus di bumi. 

𝘗𝘢𝘨𝘪-𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘳𝘦𝘮𝘱𝘢𝘩-𝘳𝘦𝘮𝘱𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯. (ay. 1) 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘶𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶, (ay. 2) 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘯𝘢𝘻𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. (ay. 3)

Siapakah mereka di ayat 1? Nama-nama mereka akan disebut di ayat 10. Mereka adalah orang-orang Galilea yang mengikuti Perjalanan Yesus ke Yerusalem (lih. Luk. 23:56). Tujuan kunjungan mereka ke kubur Yesus tak lain dan tak bukan untuk merempahi jenazah Yesus yang tak sempat dilakukan sebelumnya karena hari Sabat hampir dimula.

Lukas tidak menjelaskan adegan penggulingan batu penutup kubur dan pelakunya. Namun, hanya  Injil Lukas yang menyebut secara gamblang 𝘫𝘦𝘯𝘢𝘻𝘢𝘩 (𝘴o𝘮𝘢) Yesus. Lukas akan mengulangi lagi menyebut kata itu di ayat 23 dan 24. Lukas memberi tekanan khusus pada kebangkitan ragawi bagi pembaca Injilnya yang berlatar pemikiran Grika (bdk. ay. 39-43).

𝘚𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘯𝘨𝘶-𝘮𝘢𝘯𝘨𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘪𝘭𝘢𝘶-𝘬𝘪𝘭𝘢𝘶𝘢𝘯. (ay. 4) 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘥𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, “𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪? (ay. 5) 𝘐𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵. 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘐𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢, (ay. 6) 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢.” (ay. 7) 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘪𝘵𝘶. (ay. 8)

Dalam Injil Markus dan Matius para perempuan itu bingung karena perkataan laki-laki di dalam gua kubur Yesus, tetapi dalam Injil Lukas kebingungan mereka dipautkan dengan kubur kosong. Dua laki-laki itu yang menampakkan diri kepada para perempuan itu belakangan disebut sebagai malaikat (lih. ay. 23).

Seperti pada umumnya dalam kisah-kisah manusia menghadapi manifestasi surgawi reaksinya adalah ketakutan. Demikian juga halnya para perempuan itu. Mereka 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘥𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 yang diterjemahkan dari 𝘬𝘭𝘪𝘯𝘰𝘶𝘴o𝘯 𝘵𝘢 𝘱𝘳𝘰𝘴o𝘱𝘢 𝘦𝘪𝘴 𝘵e𝘯 𝘨e𝘯 yang berarti literal 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩. Ungkapan ini hanya ada di Injil Lukas.

Tema yang diangkat oleh kedua laki-laki itu adalah tentang 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪? Mereka menegur para perempuan itu tidak mengenal Yesus dengan baik. Kalau mereka mengenal Yesus, para perempuan itu tidak mencari Yesus yang hidup di antara orang mati. Padahal Yesus sudah mengatakan kepada para pengikut-Nya sewaktu di Galilea 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢.

Inilah ciri khas Lukas yang menolong pembaca dengan mengingatkan lewat cara serupa entah akan nubuat Yesus di ayat 6-7 ini, lalu nanti akan nubuat kitab-kitab suci (ay. 25-27), atau akan kedua-duanya (ay. 44-46). Lukas sangat menekankan peran penting nubuat-nubuat Yesus saat di Galilea untuk memunculkan iman akan kebangkitan-Nya (lih. Luk. 9:22, 44; 18:33).

Kata 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 (ay. 7) adalah kata kerja pasif 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 (𝘢𝘯𝘢𝘴𝘵e𝘯𝘢𝘪). Siapa yang membangkitkan Yesus? Allah. Yesus tidak bangkit sendiri. Secara gamblang Lukas menulisnya lagi di Kis. 2:32 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘪𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 ... . [Ada pendeta yang menyebut bahwa Yesus bangkit sendiri. Saya menolak pendapat ini. Apabila Yesus bangkit sendiri, maka kematian Yesus adalah pura-pura dan keselamatan yang ditawarkan-Nya juga pura-pura.]

𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘳𝘢𝘴𝘶𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. (𝘢𝘺. 9) 𝘗𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘔𝘢𝘳𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘔𝘢𝘨𝘥𝘢𝘭𝘢, 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘢, 𝘔𝘢𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘣𝘶 𝘠𝘢𝘬𝘰𝘣𝘶𝘴, 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. (𝘢𝘺. 10) 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (kesebelas rasul) 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. (ay. 11).

Dalam Injil Markus dan Matius malaikat memberi perintah kepada perempuan-perempuan itu untuk menyampaikan berita kebangkitan Yesus kepada rasul-rasul. Markus menceritakan bahwa para perempuan itu menjadi ketakutan sehingga tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun. Matius berbeda dari Markus, para perempuan itu bersukacita, lalu menceritakan semuanya sesuai perintah malaikat.

Lukas berbeda dari Markus dan Matius. Memang sebelumnya para perempuan itu takut ketika melihat kedua malaikat di dalam gua kubur Yesus. Namun, sesudah malaikat itu menyampaikan kabar gembira, Lukas tidak melukiskan perasaan mereka, tetapi lebih menonjolkan para perempuan itu percaya. Bukti mereka percaya adalah 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘪𝘵𝘶 (ay. 8) dan 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘳𝘢𝘴𝘶𝘭 (ay. 9).

Lukas mengukuhkan keandalan informasi yang disampaikan itu dengan menyebut nama-nama perempuan tersebut: Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus, dan perempuan lain yang bersama dengan mereka. Mereka adalah perempuan dari Galilea yang mengikuti Perjalanan Yesus ke Yerusalem. Mereka sangat mengenal Yesus. Maria dari Magdala, perempuan yang dibebaskan Yesus dari tujuh roh jahat (Luk. 8:2). Yohana, bendahara Herodes, turut melayani Yesus dalam rombongan (Luk. 8:3). Maria ibu Yakobus tampaknya Lukas merujuk Injil Markus yang lebih tua (lih. Mrk. 6:3). Para perempuan itu sangat mengenal Yesus. Mereka saksi-saksi tepercaya.

Ciri khas Lukas tidak menyebut nama-nama secara lengkap untuk mengundang pembaca terlibat langsung dalam kisahnya dengan memasukkan nama sendiri. Tafsir ini dikuatkan dengan kisah Perjalanan ke Emaus. Dalam episode itu hanya nama Kleopas yang disebut, sedang satu murid lagi seperti sengaja tak disebut. Sebelumnya dalam kisah penangkapan ikan di Danau Genesaret Lukas tidak menyebut nama Andreas, saudara Petrus (Luk. 5:1-11).

Kaum laki-laki selalu merasa lebih hebat daripada perempuan. Sikap ini juga menghinggapi para rasul. Mereka meremehkan kesaksian para perempuan itu dengan menilai mereka mengigau (𝘭e𝘳𝘰𝘴). Padahal sebelumnya para rasul 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 Yesus dan bahkan 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 Yesus itu (lih. Luk. 9:44-45). Sekarang pun mereka menyangsikan kesaksian perempuan-perempuan itu.

𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶. 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘧𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢-𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪. (ay. 12)

Reaksi Petrus sedikit berbeda dari rasul-rasul lainnya. Tidak begitu jelas alasan Petrus pergi ke kubur Yesus: apakah ia sedikit lebih terbuka terhadap informasi para perempuan itu ataukah ia merasa paling bersalah tidak mampu membela Yesus? Ia menemukan hanya kain kafan di dalam kubur. Andaikata mayat Yesus dicuri mengapa kain kafan Yesus dilepas dan ditinggalkan di dalam kubur? Begitu kira-kira kecamuk di dalam hati Petrus. Berbeda dari para perempuan itu, Petrus sama sekali tidak disebut merefleksi ucapan-ucapan Yesus sebelumnya. Jadi, dapat diduga sampai ayat 12 Petrus masih belum percaya dan belum menerima kebangkitan Yesus.

Dari perikop ini kita bisa melihat kontras yang disajikan oleh Lukas: kaum marginal yang diwakili kaum perempuan dan kaum elit yang diwakili oleh sebelas rasul. Secara ironis Lukas menampilkan kaum marginal sebagai pembawa berita kebangkitan Yesus. Mirip di awal Injil Lukas menyajikan kaum marginal, kawanan gembala, sebagai saksi kelahiran Yesus. Lukas memang memberi perhatian istimewa kepada kaum marginal di Injilnya. Namun, kesaksian kaum perempuan diragukan oleh para rasul. Kaum elit meremehkan kaum marginal.

Demikian halnya terjadi pada Gereja, terutama Gereja mapan. Para elit Gereja selalu menempatkan diri di pihak yang serbatahu dan kerap menutup telinga dari suara umat. Padahal umat justru berhadapan langsung dengan kehidupan nyata dan sangat akrab dengan 𝘒𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘉𝘢𝘪𝘬.

 (20042025)(TUS)

SUDUT PANDANG 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿-𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗺𝗮𝘁𝗶?, Serial Paskah



SUDUT PANDANG 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿-𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗺𝗮𝘁𝗶?, Serial Paskah

Sebelum menjawab pertanyaan judul di atas, mengapa umat Kristen merayakan Jumat Agung? Cukup banyak pendeta menentang penggunaan istilah 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨. 𝘒𝘰𝘬 merayakan kematian Yesus? Kata mereka istilah yang tepat adalah 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘪 bukan 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯. Benarkah? Tampaknya para pendeta ini perlu belajar ilmu liturgi lebih rajin lagi.

Dalam liturgi ada dua macam ibadah: 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘣𝘳𝘢𝘴𝘪 dan 𝘢𝘬𝘴𝘪. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian atau misa Minggu. Ibadah aksi adalah perbuatan-perbuatan atau praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, … “

Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari kesatu (hari Minggu). 𝗠𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯. Mengapa memuliakan salib?

Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan petulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶?” 

Petulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. 𝗦𝗮𝗹𝗶𝗯 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗸𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗮𝗻 “… 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh petulis Injil Yohanes, “𝘚𝑢𝘥𝑎𝘩 𝘴𝑒𝘭𝑒𝘴𝑎𝘪!” 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘥𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢-𝘕𝘺𝘢 (Yoh. 19:30). Hidup Yesus tidak diambil, melainkan Ia sendiri yang menyerahkan hidup-Nya. 𝗣𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗮𝗻 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗿𝘂𝗷𝘂𝗸 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀: memuliakan atau mengagungkan salib. Bacaan ekumenis selalu diambil dari Injil Yohanes 18 – 19.

Kembali ke pertanyaan, 𝗮𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿-𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗺𝗮𝘁𝗶?

Keempat Injil kanonik (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes) yang ditulis sepanjang kuartal keempat abad kesatu memberitakan kematian Yesus yang dijatuhi hukuman mati lewat kayu salib. Bukti keempat Injil ini barangkali diragukan oleh sejumlah kalangan, karena ini dianggap propaganda. 

Jika propaganda, pertanyaannya 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯 𝘳𝘰𝘩𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯? Tidak ada alasan bagi jemaat Kristen perdana untuk menutup-nutupi, karena hukuman mati terhadap Yesus merupakan fakta sejarah yang tidak dapat ditutup-tutupi. Fakta sejarah bahwa Yesus dihukum mati oleh Pemerintah Roma dengan dakwaan tindak pidana subversif. Sumber-sumber di luar kitab-kitab kanonik membuktikan bahwa Yesus mati di kayu salib. 

Kesatu, Flavius Josephus, ahli sejarah Yahudi yang hidup pada abad mula-mula, menulis tentang seorang Yahudi yang bijaksana bernama Yesus melakukan banyak hal besar, tetapi kemudian dihukum mati di kayu salib oleh Pemerintah (Romawi). 𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴, 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘎𝘳𝘪𝘬𝘢. 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘥𝘶𝘩 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘗𝘪𝘭𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘭𝘢-𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱.

Kedua, sumber-sumber Rabinik Yahudi yang menolak kehadiran Yesus karena para pengikut Yesus melakukan provokasi-provokasi terhadap Yudaisme. Dalam Talmud Babilonia mereka membalas provokasi pengikut Yesus  dengan menulis bahwa menjelang Sabat Paska Yesus orang Nasaret mati digantung. 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘚𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘩𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘴𝘢𝘳𝘦𝘵 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘦𝘬𝘴𝘦𝘬𝘶𝘴𝘪 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯: '𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘴𝘢𝘳𝘦𝘵, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘳𝘢𝘬𝘵𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘶𝘩𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘶𝘳𝘵𝘢𝘥. 𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢.' 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘰𝘳𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢.

Ketiga, Mara bar Sarpion, filsuf stoik berkebangsaan Suriah, menulis surat kepada anaknya 𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘭𝘢𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘳𝘢𝘫𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘳𝘪𝘧 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢? Seperti diketahui kepala salib Yesus ditulis oleh otoritas Romawi di Yudea (yang sebenarnya bahan olok-olok) dengan INRI (𝘐e𝘴𝘶𝘴 𝘕𝘢𝘻𝘢𝘳e𝘯𝘶𝘴 𝘙e𝘹 𝘐u𝘥𝘢𝘦o𝘳𝘶𝘮), Yesus (orang) Nasaret Raja (orang) Yahudi. 𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘭𝘢𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘳𝘪𝘧, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 [merujuk Perang Yahudi I pada 66-73/74 ZB]? 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘵𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳𝘢𝘯; 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘚𝘢𝘮𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘫𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘶𝘵; 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘶𝘴𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵-𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘰𝘬𝘳𝘢𝘵𝘦𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘪; 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘗𝘭𝘢𝘵𝘰; 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘗𝘩𝘺𝘵𝘢𝘨𝘰𝘳𝘢𝘴, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘏𝘦𝘳𝘢. 𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢, 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯.

Keempat, Cornelius Tacitus, seorang senator dan sejarawan Romawi yang termasyur karena dua karya sejarahnya 𝘏𝘪𝘴𝘵𝘰𝘳𝘪𝘦𝘴 dan 𝘈𝘯𝘯𝘢𝘭𝘴, antara abad kesatu dan kedua menulis 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴 [Tacitus menggunakan nama Krsitus – lihat cara menulisnya] 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘵𝘪 (𝘴𝘶𝘱𝘱𝘭𝘪𝘤𝘪𝘰 𝘢𝘥𝘧𝘦𝘤𝘵𝘶𝘴) 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘛𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴 [14-37 𝘡𝘉] 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘰𝘬𝘶𝘳𝘢𝘵𝘰𝘳 𝘬𝘪𝘵𝘢, 𝘗𝘰𝘯𝘵𝘪𝘶𝘴 𝘗𝘪𝘭𝘢𝘵𝘶𝘴 [26-36 𝘡𝘉], 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘺𝘶𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘦𝘤𝘢𝘩 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘠𝘶𝘥𝘦𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘙𝘰𝘮𝘢 … . 

Namun demikian mengapa kalangan penganut ideologi tertentu dari abad mula-mula sampai sekarang meragukan kematian Yesus lewat kayu salib? 

Secara historis ideologi mengenai Yesus tidak mati di kayu salib dibuat dan dikembangkan oleh Sekte Gnostik pada abad kesatu dan kedua. Dalam satu seksi dokumen Nag Hammadi menyatakan bahwa Rasul Petrus melihat ada dua sosok yang terlibat dalam penyaliban: sosok yang satu sedang dipaku oleh para algojo pada tangan dan kakinya, sedang yang satunya lagi berada di atas sebuah pohon, bergembira sambil menertawakan apa yang sedang berlangsung.

Dalam pada itu tradisi 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯 Yesus yang mengganti korban salib juga muncul di daerah Edessa, Suriah, yang jemaat Kristen di sana keliru menafsirkan Tomas sebagai 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯 (Didimus). Padahal Didimus itu adalah nama lain dari Rasul Tomas. Komunitas di Edessa ini kemudian banyak berkiprah di Tanah Arab.

Secara ringkas pandangan Gnostik terhadap Yesus yang sejati adalah Yesus rohani, Yesus surgawi, sehingga Yesus tidak dapat disalib. Sialnya bagi kaum Gnostik kematian Yesus di kayu salib itu nyata, maka Sekte Gnostik harus menyimpulkan bahwa yang sudah disalibkan itu pastilah orang lain. Orang yang wajahnya serupa dengan rupa atau wajah Yesus, bukan Yesus surgawi, bukan Yesus yang dijunjung mereka. 

Pandangan Sekte Gnostik ini sebenarnya bukan mau menyatakan bahwa secara historis Yesus tidak mati disalib. Justru Yesus benar-benar mati disalib, kaum Gnostik  perlu mencari seorang 𝘱𝘦𝘮𝘢𝘪𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 demi menyelamatkan ideologi mereka bahwa Yesus yang mereka sembah adalah Yesus surgawi, yang tidak dapat mati disalib. Sungguh mengenaskan jika dongeng yang dikembangkan oleh Sekte Gnostik yang sejak awal ditolak oleh jemaat Kristen mula-mula, masih dijadikan ideologi sampai masa kini.

Bagi umat kristiani kematian Yesus bukan sekadar fakta sejarah objektif, namun melampaui itu yang dihayati sebagai Allah yang berbelarasa. Penghayatan ini diragakan melalui Jumat Agung. Ketika umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, umat menghayati kehidupan suci Yesus yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk pembebasan orang lain. 𝘝𝘪𝘤𝘢𝘳𝘪𝘰𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘧𝘧𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini.

Apabila kematian Yesus adalah fakta sejarah objektif, apakah kebangkitan Yesus juga fakta sejarah objektif? Sila baca Sudut 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 edisi Minggu Paska besok.

(18042025)(TUS)

Selasa, 15 April 2025

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗖, Serial Paska

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗖, Serial Paska

Menurut kalender gerejawi 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘗𝘢𝘭𝘦𝘮 (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘚𝘦𝘯𝘨𝘴𝘢𝘳𝘢 (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) adalah pembuka 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘞𝘦𝘦𝘬, yang diindonesiakan menjadi 𝙋𝙚𝙠𝙖𝙣 𝙎𝙪𝙘𝙞. Hari-hari di dalam Pekan Suci disebut hari-hari suci. Ada tiga hari suci khusus berendeng di dalam Pekan Suci yang disebut dengan 𝙏𝙧𝙞𝙙𝙪𝙪𝙢 𝙎𝙖𝙘𝙧𝙪𝙢, yang diindonesiakan menjadi 𝙏𝙧𝙞𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙎𝙪𝙘𝙞. Tiga hari suci khusus itu adalah 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩-𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨-𝘚𝘢𝘣𝘵𝘶 𝘚𝘶𝘯𝘺𝘪. Penamaan Trihari Suci diselaraskan dengan pengindonesiaan Pekan Suci.

Sering pula 𝘛𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘚𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 disebut dengan 𝘛𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭𝘦, yang dimaknai sebagai tiga hari menuju 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢; dimula dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, kemudian sampai puncaknya pada Minggu Paska, 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘒𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴. 

Trihari Suci hendak menyampaikan narasi 𝘀𝗮𝘁𝘂-𝗱𝗿𝗮𝗺𝗮 𝘁𝗶𝗴𝗮-𝗮𝗸𝘀𝗶 yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Trihari Suci merupakan tiga hari utama di sekitar 𝘀𝗲𝗻𝗴𝘀𝗮𝗿𝗮, 𝗸𝗲𝗺𝗮𝘁𝗶𝗮𝗻, dan 𝗽𝗲𝗺𝗮𝗸𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi.

Sabtu malam dalam tradisi Gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 Sabtu Sunyi lagi. Ibadah Sabtu Malam disebut 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭𝘪 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 (𝘌𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭 atau 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6). 

Minggu Paska adalah hari kesatu atau awal pekan yang baru dan bukan hari di dalam Pekan Suci menurut kalender gerejawi. 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸 𝗸𝗲 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶. Dengan kata lain secara 𝙩𝙞𝙢𝙚𝙡𝙞𝙣𝙚 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮.

🛑 Minggu Palem/Minggu Sengsara, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi
🛑 Minggu Paska
🛑 Minggu kedua Paska
🛑 Dst.
🛑 Hari Pentakosta

[𝘗𝘦𝘳𝘢𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 1582 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳 𝘎𝘳𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘭𝘪𝘩 𝘬𝘦 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘶. 𝘚𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘳𝘯𝘢𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 1884. 𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘳𝘢𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭.]

𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵 (𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺)

𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨, 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘫𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘨𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢𝘸𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.

Kamis Putih adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Mengapa 𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺 diindonesiakan menjadi Kamis Putih? 

𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 berakar kata Latin 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 𝘯𝘰𝘷𝘶𝘮 atau perintah baru, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪; 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪.” (Yoh. 13:34).

Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah.

Kembali lagi ke pertanyaaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutupi dengan kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. Penyelubungan dengan kain putih itu 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗴𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗹𝗮𝗴𝗶 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Gereja memula melayankan sakramen lagi pada Minggu Paska.

𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 (𝘎𝘰𝘰𝘥 𝘍𝘳𝘪𝘥𝘢𝘺)

Pengindonesiaan 𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨 erat pautannya dengan perayaan. Jumat Agung adalah hari kematian Yesus. 𝘓𝘩𝘢 𝘬𝘰𝘬 dirayakan? Pertanyaan itu lumrah terangkat karena cerapan orang Indonesia pada kata merayakan dan perayaan adalah berpesta, kegiatan hingar-bingar penuh sukacita dan tidak lengkap apabila tanpa makan bersama.

Dalam liturgi ada dua macam ibadah: selebrasi dan aksi. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian atau misa Minggu. Ibadah aksi adalah perbuatan-perbuatan atau praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, … “

Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari pertama (Minggu). Merayakan Jumat Agung berarti memuliakan, mengagungkan salib. Mengapa memuliakan salib?

Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan petulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶?” Pengakuan Iman (Syahadat) Rasuli mengikuti pandangan Injil sinoptik sehingga penyaliban Yesus dikelompokkan ke dalam bagian penderitaan Yesus.

Petulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. Salib adalah simbol kemuliaan “… 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh petulis Injil Yohanes, “𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪!” Yesus lalu menundukkan kepala-Nya dan 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗿𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 nyawa-Nya (Yoh. 19:30). Hidup Yesus tidak diambil, melainkan Ia sendiri yang menyerahkan hidup-Nya. Perayaan Jumat Agung merujuk teologi Injil Yohanes: 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻 atau 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯. Bacaan ekumenis selalu mengambil dari Injil Yohanes 18 – 19.

𝗣𝗮𝗱𝗮 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Tidak ada Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Ekaristi dari kata 𝘦𝘶𝘤𝘩𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘢 yang berarti pengucapan syukur. “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢,” kata Tertulianus yang sejalan dengan Matius 9:14-15. Muatan teologis Ekaristi atau Perjamuan Kudus adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali. Ada gatra eskatologis. Kata Rasul Paulus, “𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘤𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘐𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨.” (1Kor. 11:26). Pada Jumat Agung Yesus belum bangkit.

Dengan demikian melayankan Perjamuan Kudus pada Jumat Agung 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗽𝗮𝘁 𝗯𝗮𝗶𝗸 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 𝗺𝗮𝘂𝗽𝘂𝗻 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀.

Dalam Jumat Agung umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci dan agung Yesus yang telah diserahkan, ditiadakan, dilenyapkan, dipermalukan melalui hukuman mati pada salib untuk pembebasan orang lain. 𝘝𝘪𝘤𝘢𝘳𝘪𝘰𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘧𝘧𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini. 

𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶 (𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘥𝘢𝘺)

Seperti pengindonesiaannya dari 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘥𝘢𝘺 menjadi 𝘚𝘢𝘣𝘵𝘶 𝘚𝘶𝘯𝘺𝘪 sesudah Jumat Agung Gereja memelihara keheningan. Tidak ada liturgi pada Sabtu Sunyi. 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Mengapa?

Ibadah Kristen berpusat pada Kristus. Pada Sabtu Sunyi Yesus berada dalam keheningan dan kesendirian di dalam kubur. Menjadi aneh ibadah Kristen tanpa dihadiri oleh Kristus. Gereja memelihara keheningan agar umat terus merenungkan kesengsaraan Yesus secara agung.

Ada tradisi umat berhimpun pada Sabtu Sunyi, namun bukan untuk beribadah selebrasi yang dipimpin oleh pemimpin ibadah. Untuk menambah kekhidmatan umat membaca Kitab Suci. Pembacaan yang dianjurkan dalam daftar bacaan ekumenis (RCL) adalah Ayub 14:1-14 yang kemudian disambut dengan Mazmur 31:1-4, 15-16 secara responsoria. Pembacaan dari Perjanjian Lama disusul dengan pembacaan Surat Rasuli dari 1Petrus 4:1-8 dan akhirnya pembacaan Injil dari Yohanes 19:38-42.

Barangkali orang Kristen akan ada yang bertanya, “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵, 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪? 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢.” 

Hari raya liturgi Gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu upaya Gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. 

(17042025)(TUS)

Minggu, 13 April 2025

SUDUT PANDANG 𝗠𝗲𝗻𝗲𝘁𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗿𝗮𝘆𝗮 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮

SUDUT PANDANG 𝗠𝗲𝗻𝗲𝘁𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗿𝗮𝘆𝗮 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮

PENGANTAR
Gereja merayakan Natal pada 25 Desember setiap tahun, tetapi tidak untuk hari raya Paska yang tidak menentu tanggalnya. Mengapa?

PEMAHAMAN
Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar dan lebih penting daripada hari Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan Paska yaitu kebangkitan Kristus. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa iman kebangkitan Kristus yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. Orang Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus, yang menurut kesaksian Alkitab pada hari kesatu (dalam pekan yang baru). Gereja kemudian menimbang perlu menetapkan ada satu (hari) Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan permulaan Masa Raya Paska atau yang dikenal dengan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? Bagaimana menetapkannya?
Kristen merupakan kontinuitas sekaligus diskontinuitas Yahudi. Kontinuitas ditunjukkan dengan (antara lain) mengadopsi 𝘛𝘢𝘕𝘢𝘒𝘩 menjadi Alkitab PL dan mengalihrupa perayaan atau festival suatu musim menjadi hari raya gerejawi. Hari raya Paska merupakan adopsi dan alihrupa festival musim semi, sedang Pentakosta adopsi festival musim panas atau perayaan panen. Diskontinuitasnya sudah jelas dalam hal Mesias.
Gereja kemudian menetapkan hari raya Paska pada Minggu (𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺) kesatu sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 𝘦𝘲𝘶𝘪𝘯𝘰𝘹 (21 Maret). Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Tradisi Gereja Barat mengikuti kalender Gregorian. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 20 April 2025.
Hari raya Paska sudah dapat ditetapkan untuk puluhan atau ratusan tahun ke depan. Gereja tidak perlu menghabiskan dana dan energi untuk menyelenggarakan Sidang Raya Sedunia guna menetapkan tanggal hari raya Paska saban tahun.
Sekedar contoh :
2026: 5 April
2027: 28 Maret
2028: 16 April
2029: 1 April
2045: 9 April
2068: 22 April
2090: 16 April
2099: 12 April
2100: 28 Maret

(14042025)(TUS)

Jumat, 11 April 2025

SUDUT PANDANG LUKAS 19 : 28 - 40, 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝘀𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗮𝗻, Minggu Palmarum, Serial Paska



SUDUT PANDANG LUKAS 19 : 28 - 40, 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝘀𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗮𝗻, Minggu Palmarum, Serial Paska

Hari ini adalah Minggu keenam Pra-Paska. Ada dua peristiwa yang beririsan dalam Minggu ini, yaitu 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘗𝘢𝘭𝘦𝘮 (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘚𝘦𝘯𝘨𝘴𝘢𝘳𝘢 (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯). Secara tradisi ibadah Gereja dimarakkan dengan setangkai daun palem di tangan umat. 

Dalam khotbah Minggu Palem kita sering mendengar pengkhotbah berkata bahwa mereka yang mengelu-elukan Yesus ketika Ia memasuki Yerusalem akan berubah seketika dan meneriakkan “𝘚𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢!”. Ini keliru!

Bacaan ekumenis pada Minggu Palem diambil dari Injil Lukas 19:28-40 yang didahului dengan Mazmur 118:1-2, 19-29 dan pada Minggu Sengsara diambil dari Injil Lukas 22:14 - 23:56 yang didahului dengan Yesaya 50:4-9a, Mazmur 31:9-16, dan Filipi 2:5-11.

Bacaan Minggu ini tentang kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘦𝘭𝘶-𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮 ada di keempat kitab Injil, tetapi setiap kisah itu diungkapkan dengan cara berbeda-beda menurut teologi yang diusung oleh masing-masing petulis Injil. Perbedaan yang mencolok dalam Injil Lukas adalah Yesus seolah-olah tidak masuk ke Yerusalem, melainkan langsung ke Bait Suci. Sejak semula Bait Suci menjadi pumpun Lukas; berawal dari Bait Suci (Luk. 1:11) dan berakhir di sana (Luk. 24:53).

Secara umum Lukas mengikuti Markus: 
(1) Yesus mengutus dua murid-Nya untuk mencari seekor anak keledai, 
(2) Yesus dielu-elukan oleh murid-murid-Nya, dan 
(3) Yesus menyucikan Bait Allah. 

Namun, Lukas tidak mengutip teks dari kitab Zakharia (repotnya, seringkali saat bacaan Injil ada di Injil LUKAS liturgi dibuat tetap mengangkat kitab zakharia, padahal teologi yg diusung beda, tapi memang banyak yg tidak mengerti) dan tidak bercerita tentang ranting-ranting yang disebarkan di jalan. Lukas juga menghilangkan episode 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘢𝘳𝘢 dan menggantinya dengan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah sebelum 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘬𝘦 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮 (𝘑𝘰𝘶𝘳𝘯𝘦𝘺 𝘕𝘢𝘳𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦).

Lukas 19:28-40 merupakan awal babak terakhir cerita Injil 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮. Sesudah perjalanan panjang dari Lukas 9:51, Yesus akhirnya tiba di kota tujuan. Kota Yerusalem menjadi tempat terakhir sebelum Yesus diangkat ke surga. 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮 (Luk. 9:51).

Bacaan Minggu ini diawali dengan 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮 (ay. 28). Apakah semuanya itu? Dengan merujuk teks maka yang dimaksud adalah 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘯𝘢 dalam Lukas 19:11-27. Penginjil Lukas diduga memberi 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘧𝘴𝘪𝘳 sebagai 𝘱𝘳𝘢𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮 untuk memahami cerita dalam perikop Lukas 19:28-40 yang diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘦𝘭𝘶-𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮. 

Prapaham itu:
(1) Kerajaan Allah belum akan datang secara penuh (𝘶𝘭𝘵𝘪𝘮;  ay. 11), walaupun Yesus sudah disebut sebagai 𝘳𝘢𝘫𝘢 oleh para murid-Nya.
(2) Yesus memang sudah disebut sebagai raja ketika Ia memasuki Yerusalem (ay. 38). Namun, penobatan yang sesungguhnya baru akan terjadi sesudah Ia menjalani penderitaan-Nya, yaitu ketika Ia diangkat ke surga (ay. 12).
(3) Para murid yang menyebut Yesus sebagai raja (ay. 38) adalah mereka yang bersikap sebagai hamba yang melaksanakan tugasnya dalam menggunakan modal dagang (uang mina) yang diberikan tuannya, yaitu hamba kesatu dan hamba kedua.
(4) Orang Farisi yang menolak Yesus sebagai raja (Luk. 39) adalah 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘴𝘪 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘳𝘢𝘫𝘢 (Luk. 19:14) dan juga hamba yang tidak melaksanakan tugasnya, yaitu hamba ketiga.

Sering kita mendengar pengkhotbah berkata bahwa mereka yang mengelu-elukan Yesus ketika Ia memasuki Yerusalem akan berubah seketika dan meneriakkan “𝘚𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢!”. Ini keliru! Pengkhotbah harus berpumpun pada teks Injil Lukas, bukan membuat Kitab Injil baru.

Dalam kisah ini orang-orang yang menyambut Yesus adalah 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘯𝘨𝘪 𝘋𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘮𝘶𝘬𝘫𝘪𝘻𝘢𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 (Luk. 19:37). Mereka berbeda dari orang-orang yang berteriak “𝘚𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢! 𝘚𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢!” (Luk. 23:21). Orang-orang yang berteriak begitu adalah 𝘪𝘮𝘢𝘮-𝘪𝘮𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢, 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯-𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘬𝘺𝘢𝘵 (Luk. 23:13).

Dalam perikop Lukas 19:28-40 penginjil Lukas tampaknya hendak menekankan topik Yesus sebagai raja. Tafsiran ini didukung oleh dua hal. Kesatu, perumpamaan tentang uang mina di perikop sebelumnya (Luk. 19:12). Kedua, petulis Injil Lukas menambahkan kata 𝘳𝘢𝘫𝘢 pada kutipan Mazmur 118:26 pada ayat 38. 
 
Pertanyaan selanjutnya: 𝘙𝘢𝘫𝘢 seperti apakah yang dibayangkan oleh pengarang Injil Lukas?

Kesatu, Lukas tidak menolak pendapat bahwa Yesus adalah raja keturunan Daud (Luk. 1:27, 32-33; 2:4). Akan tetapi Yesus bukan sekadar raja bagi orang Yahudi. Yesus adalah anak Adam dan anak Allah (Luk. 3:38). Itu berarti Yesus adalah raja atas semua umat manusia (Luk. 22:29-30). Yesus dimuliakan Allah sebagai Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36; Kisah Para Rasul sering disebut Injil Lukas jilid ke-2 karena ditulis oleh pengarang yang sama.). 
 
Pengakuan Yesus sebagai raja harus datang dari hati atau dari iman. Yesus menerima pengakuan yang datang dari murid-murid-Nya (ay. 38-40). Akan tetapi Yesus menolak tuduhan dirinya sebagai raja atau raja orang Yahudi ketika hal itu ditempatkan dalam konteks politik berhadapan dengan kaisar (Luk. 23:2-3). Yesus juga menolak sebutannya sebagai 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 ketika hal itu diungkapkan sebagai ejekan (Luk. 23:37). 

Kedua, Injil Lukas yang ditulis pada masa pergumulan jemaat akibat penundaan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 tetap mengingatkan pembacanya bahwa Sang Raja dari Kerajaan Allah itu akan datang kembali dan akan meminta pertanggungjawaban atas uang mina yang telah diberikan-Nya (Luk. 19:12-27). Apa itu parousia?

𝘗𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 bersinonim dengan 𝘱a𝘳𝘦𝘪𝘮𝘪 yang secara literal berarti hadir. 𝘗𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 merujuk kunjungan penguasa atau petinggi negara yang disambut meriah. Dalam hal teologi Kristen 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 merujuk kedatangan Yesus kembali. Masalahnya, umat atau jemaat pada waktu itu sudah dipengaruhi oleh ajaran atau Surat-surat Paulus (ditulis pada masa 40 – 60 ZB sebelum ada Injil Lukas) yang mengatakan bahwa 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 segera terjadi pada saat mereka masih hidup. Faktanya 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 belum terjadi sampai Bait Allah dihancurkan oleh Jenderal Titus dari Roma pada 70 ZB.

Lukas harus menanggapi pergumulan jemaat sehubungan dengan penundaan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 tersebut. Lukas menyampaikan bahwa masa penundaan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 adalah 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗮𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵: 𝗞𝗲𝘀𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗲𝗺𝗮𝘀 untuk bertobat dan hidup sesuai ajaran Kristus sampai Sang Raja itu datang kembali.

(13042025)(TUS)

Sabtu, 05 April 2025

SUDUT PANDANG ALKITAB DINAMIS DAN KONTEKSTUAL

SUDUT PANDANG ALKITAB DINAMIS DAN KONTEKSTUAL

Alkitab memuat banyak pesan moral yang sifatnya dinamis dalam hal 'waktu', yaitu pesan moral ini bisa diterapkan diberbagai zaman. Tetapi, Alkitab ditulis sesuai dengan situasi yang dialami atau diperlihatkan (di-wahyukan) pada para penulisnya, inilah yang membuat teks-teks Alkitab merupakan catatan yang kontekstual, sehingga untuk memahaminya kita harus mendalaminya. Sebagai orang Kristen, kita harus rajin belajar mempelajari buku ini melalui berbagai disiplin ilmu yang relevan, seperti teologi, sejarah, bahasa, sastra, dsb. Jika tidak, maka kita tidak akan mengerti konteksnya sehingga mudah dikelabui yang kemudian menggoyangkan iman kita, termasuk apa yang disebut sebagai 'ayat-ayat yang kontradiktif'. 

Contohnya, ketiga ayat dibawah ini yang membahas tentang dampak dosa, yang mana pihak-pihak penanggung dan tertanggung dosa tampaknya berbeda. Dalam 1 Korintus 5:3, Yesus disebutkan mati untuk dosa-dosa kita, tetapi, dalam Yohanes 8:21 Yesus berfirman bahwa kita mati karena dosa-dosa kita. Kedua ayat itu tampak bertentangan dengan firman Tuhan dalam Yehezkiel 18:20 yang menyatakan tidak yang mati karena dosa orang lain.

Berikut penjelasan konteks ayat-ayat ini:

1 Korintus 5:3 berbicara tentang penebusan dosa manusia, yang mana harus ada korban penghapusan dosa, yaitu Yesus. Bukan hanya Paulus, pemberitaan Injil sebelum Paulus sudah mengenal makna penyelamatan kematian Kristus. 

Yohanes 8:21 berbicara tentang konsekuensi penolakan pada Yesus. Dengan menolak Yesus orang-orang banyak itu (orang Yahudi) akan jatuh binasa tanpa harapan; mereka berdosa kepada kebenaran. Kalimat "Mereka akan mati dalam dosa mereka", bermakna dosa ketidakpercayaan. Menurut pengakuan mereka, mereka mencari Mesias, tetapi menurut kenyataan, mereka telah bertemu dan menolak Dia. Oleh karena itu, mereka akan mati dalam dosa mereka. Oleh karena itu, tidak mungkin mereka datang ke sana, yaitu ke sorga. Ungkapan mati dalam dosa juga dipakai dalam Perjanjian Lama (Amsal 24:9 dalam Septuaginta; Yehezkiel 3:18 dan 18:18). Frasa "akan mati dalam dosamu",  secara hurufiah ini berbunyi "Dalam dosamu, kamu akan mati". Kata "dosa" ini berbentuk TUNGGAL dalam ayat Yohanes 8:21 dan JAMAK di Yohanes 8:24. Ini menunjuk terutama pada penolakan mereka terhadap Yesus sebagai Kristus (Yohanes 8:24). Hal ini sungguh merupakan dosa yang tak bisa diampuni dari Injil Sinoptik. Para pemimpin menolak Yesus ditengah kehadiran terang dari firman dan tanda-tandaNya.

Yehezkiel 18:20 berbicara tentang hukum tabur tuai terkait tanggung-jawab perbuatan setiap orang. Apa yang ditabur itulah yang dituai. Setiap manusia harus bertanggung-jawab atas apa yang dia lakukan, bahwa orang fasik pasti akan binasa dalam kesalahannya meskipun ia anak dari seorang ayah yang saleh, bahwa orang benar pasti akan berbahagia, meskipun ia anak dari seorang ayah yang fasik. Konteks ayat ini adalah saat itu banyak orang Yahudi percaya bahwa mereka dihukum karena dosa-dosa para leluhur dan karena itu Allah tidak adil; mereka tidak sadar bahwa dosa-dosa mereka sendiri lebih parah daripada dosa para leluhur itu. Pasal ini mengajarkan kebenaran dasar bahwa setiap orang bertanggung jawab kepada Allah atas hidupnya sendiri, dan bahwa setiap orang yang terus-menerus berbuat dosa akan mati secara rohani dan menderita hukuman kekal.

Jadi, setiap saudara/i sekalian membaca Alkitab, berdoalah dan berniatlah terutama untuk memahami konteks ayatnya.
(06042025)(TUS)

Jumat, 04 April 2025

SUDUT PANDANG YOHANES 12 : 1-8, 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗯𝗶𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗿𝗼𝘁𝗶𝘀, Serial Paska



SUDUT PANDANG YOHANES 12 : 1-8, 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗯𝗶𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗿𝗼𝘁𝗶𝘀, Serial Paska

Gereja aliran tertentu menekankan 𝘴𝘰-𝘤𝘢𝘭𝘭𝘦𝘥 persembahan persepuluhan untuk Gereja. Para pemimpin Gereja mencari banyak alasan “teologis” untuk mendukung ideologi mereka. Tak jarang umat ditakut-takuti dengan peringatan: 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯.

Hari ini adalah Minggu kelima Pra-Paska. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Yohanes 12:1-8 yang didahului dengan Yesaya 43:16-21, Mazmur 126, dan Filipi 3:4b-14.

Bacaan Injil Minggu ini diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘶𝘳𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪 𝘉𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪𝘢. Dari beberapa cerita yang sejajar dengan Injil sinoptik perikop ini adalah yang paling mirip (bdk.  Mat. 26:6-13; Mrk. 14:3-9; Luk. 7:36-50). Meskipun paling mirip, kisah di Injil Yohanes ini konteksnya berbeda dan pautan narasinya juga berbeda dari Injil sinoptik. Dalam Injil sinoptik kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘶𝘳𝘢𝘱𝘪 terjadi sesudah arak-arakan Yesus dan rombongan masuk ke Yerusalem, sedang dalam Injil Yohanes sebelum arak-arakan itu.

Dalam Injil sinoptik Yesus dibunuh karena mengusik bisnis para pemuka Gereja 𝘦𝘩 pemuka agama Yahudi. Apa alasan pembunuhan Yesus dalam Injil Yohanes? Kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘶𝘳𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪 𝘉𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪𝘢 dalam Injil Yohanes menyambung cerita pembangkitan Lazarus. Atas peristiwa pembangkitan Lazarus itu makin banyak orang Yahudi percaya kepada Yesus sehingga membuat para pemuka agama Yahudi berang. Mereka kemudian berunding dengan Mahkamah Agama dan bersepakat hendak membunuh Yesus (Yoh. 11:53). Meskipun pangkal alasan membunuh Yesus berbeda dari Injil sinoptik, tetapi berujung di muara yang sama. Dengan makin berkurang pengikut agama Yahudi karena berpindah menjadi pengikut Yesus, maka pemasukan para pemuka agama Yahudi menjadi berkurang. Bisnis agama mereka terusik.

Kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘶𝘳𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪 𝘉𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪𝘢 yang menonjolkan kontras tindakan cinta dan keculasan Yudas menjadi dramatis. Apa pasal? Kisah ini diapit oleh persekongkolan pembunuhan Yesus dan Lazarus (Yoh. 12:9-11).

𝘌𝘯𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘉𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘓𝘢𝘻𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪. (ay. 1) 𝘋𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘋𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘪, 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘓𝘢𝘻𝘢𝘳𝘶𝘴. (ay. 2) 𝘔𝘢𝘳𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘭𝘪𝘵𝘦𝘳 𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘯𝘢𝘳𝘸𝘢𝘴𝘵𝘶 𝘮𝘶𝘳𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢. 𝘉𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘳𝘣𝘢𝘬 𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘶𝘩𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶. (ay. 3)

Keterangan waktu pembuka cerita tidak bermakna simbolik. Lazarus, Marta, dan Maria adalah bersaudara yang tinggal di Betania (lih. Yoh. 11:1-2). Tidak ada penjelasan alasan Yesus dan murid-murid-Nya dijamu oleh keluarga Lazarus. Mungkin ucapan terima kasih atas pembangkitan Lazarus? Sangat boleh jadi.

Satuan liter di ayat 3 diindonesiakan dari 𝘭𝘪𝘵𝘳𝘢𝘯. Harga mahal minyak narwastu akan terungkap di ayat 5. Minyak narwastu digunakan untuk maksud khusus, karena mahal harganya.

Tindakan Maria di ayat 3 mengundang pertanyaan, mengapa bukan kepala, melainkan kaki Yesus yang diurapi? Mengapa Maria menyeka kaki Yesus dengan rambutnya?

Pengurapan di kepala bermakna simbolik rajawi atau mesianis. Itu berarti pengurapan di kaki Yesus bukan bermakna simbolik rajawi atau mesianis. Kita dapat saja langsung berkesimpulan bahwa petulis Injil menyiratkan tindakan Maria itu merupakan persiapan penguburan Yesus karena kita membaca ucapan Yesus di ayat 7. Sekarang kita beranggapan belum membaca ayat 7 dan baru sampai ayat 3. Pengurapan di kaki Yesus dan penyekaan dengan rambut Maria sangat boleh jadi merupakan bentuk ungkapan terima kasih Maria kepada Yesus yang sudah membangkitkan saudaranya, Lazarus. 

Aroma semerbak minyak wangi Maria memenuhi rumah menjadi kontras terhadap bau busuk kuburan Lazarus (bdk. Yoh. 11:39). Namun, semerbak wangi itu mengusik Yudas Iskariot.

𝘠𝘶𝘥𝘢𝘴 𝘐𝘴𝘬𝘢𝘳𝘪𝘰𝘵, 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢, (𝘢𝘺. 4) ”𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘯𝘢𝘳𝘸𝘢𝘴𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘫𝘶𝘢𝘭 300 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘶𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯?” (𝘢𝘺. 5) 𝘏𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪. 𝘐𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢. (ay. 6)

Pengenalan Yudas (ay. 4) dalam kisah ini merupakan ciri khas petulis Yohanes. Yudas diperikan seperti pemerian dalam Yohanes 6:70-71. Mirip, sebagai 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢. Ucapan Yudas juga mirip dengan ucapan dari orang tak dikenal dalam Markus 14:5.

Sekarang terungkap begitu mahal harga minyak narwastu itu yang setara jumlah upah setahun seorang pekerja harian; sekitar Rp81 juta untuk pekerja harian di Jakarta. [1 dinar setara upah pekerja per hari] Yudas mengusulkan minyak narwastu itu dijual, lalu uangnya digunakan untuk membantu orang-orang miskin. 

Usulan Yudas itu terdengar baik sekali. Namun, narator menyebut Yudas culas. Ia biasa menilep uang kas yang dipegangnya. Hanya di Injil Yohanes peran bendahara secara jelas dijabat oleh Yudas. Mirip-miriplah program pemerintah membantu masyarakat miskin yang tampak begitu mulia, atau progam gereja yang kelihatannya baik tetapi di balik itu para pejabat pemerintah (pejabat gereja) menilep uang program itu untuk memerkaya diri sendiri. Juga Gereja yang memaksa umat memberi 𝘴𝘰-𝘤𝘢𝘭𝘭𝘦𝘥 persembahan persepuluhan dengan dalih untuk pekerjaan Tuhan. Tampak sangat kristiani. Selalu ada kejahatan di balik uang besar, kata Mario Puzo. Dan, sangat dipastikan ada kejahatan besar dibalik transparansi laporan keuangan gereja yang banyak celah yg tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Sampai di sini tidaklah keliru cerapan terhadap pengurapan di kaki Yesus itu bentuk ungkapan terima kasih Maria atas pembangkitan saudaranya, Lazarus, yang sudah mati empat hari. Kehidupan dan kematian, ketulusan dan keculasan dikontraskan dalam dua adegan ini.

𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴, “𝘉𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘶𝘳𝘢𝘯-𝘒𝘶 (ay. 7), 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶.” (ay. 8)

Ucapan Yesus 𝘉𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 …  di ayat 7 sulit dipahami. Secara lebih literal ucapan Yesus itu: 𝘉𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘶𝘳𝘢𝘯-𝘒𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. Apa yang dimaksud dengan menyimpan dan apa yang disimpan oleh Maria? Apakah Maria harus menyimpan sebagian minyak narwastu untuk penguburan Yesus? Padahal Maria tidak hadir dengan minyaknya pada saat penguburan Yesus. Justru Nikodemus yang datang dengan membawa minyak jauh lebih banyak (lih. Yoh. 19:39).

Dari sini kita baru dapat menafsir bahwa tindakan Maria yang menyeka kaki Yesus hendak menggambarkan peristiwa yang akan datang, ketika Yesus akan membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh. 13:5). Ini menunjukkan bahwa Maria adalah murid yang sejati, karena tindakannya menyimbolkan kesatuan dengan Yesus (Yoh. 13:8) dan mencerminkan perintah-Nya (Yoh. 13:14-15). Yesus tidak meremehkan keseriusan kemiskinan atau kewajiban menolong orang miskin. Melalui pengurapan yang menandai kematian-Nya sudah dekat, Yesus melihat ke depan, membandingkan kepergian-Nya yang akan segera terjadi dengan kesempatan yang selalu ada untuk melayani orang miskin.

Pemberian Maria yang diekspresikan secara binal dan erotis itu melampaui persepuluhan dan kemewahan. Tindakan Maria menggunakan rambutnya melayangkan makna keintiman, menekankan gatra sentuhan dalam pengurapan tersebut. Jika aroma minyak wanginya memenuhi rumah, maka kelembutan rambutnya memenuhi indera Yesus. Ini adalah ungkapan cinta yang mendalam.

Bagaimana dengan Gereja? Apakah menebarkan aroma wangi cinta atau bau busuk keculasan?

(06042025)(TUS)

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memi...