Kitab Injil menampilkan paradoks penampakan Yesus-Paska kepada murid-murid-Nya. Tubuh kebangkitan Yesus sama sekaligus berbeda dari tubuh sebelum kematian-Nya. Sama: Ada luka bekas dipaku di tangan dan luka bekas ditusuk tombak di perut-Nya serta dapat dijamah. Berbeda: Para murid tidak langsung mengenali-Nya.
Bacaan diambil dari Injil Lukas 24:36-48
Bacaan Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 饾槧饾槮饾槾饾樁饾槾 饾槷饾槮饾槸饾槩饾槷饾槺饾槩饾槵饾槵饾槩饾槸 饾槬饾槳饾槼饾槳 饾槵饾槮饾槺饾槩饾槬饾槩 饾槾饾槮饾槷饾樁饾槩 饾槷饾樁饾槼饾槳饾槬. Konteks bacaan adalah keseluruhan pasal 24 tentang kebangkitan dan kenaikan Yesus. Sebelum kita masuk ke pengulasan bacaan, mari kita melihat dua episode sebelumnya.
▶ Episode pertama. Pada hari Minggu dinihari empat perempuan, yaitu Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus, dan satu perempuan 饾樀饾槩饾槸饾槺饾槩 饾槸饾槩饾槷饾槩, pergi ke kubur Yesus membawa rempah-rempah. Batu kubur sudah terguling dan tidak ada jenazah Yesus di dalamnya. Seseorang berpakaian berkilau-kilauan mengatakan kepada mereka bahwa Yesus sudah bangkit seperti yang sudah dikatakan-Nya di Galilea. Keempat perempuan itu menyampaikan berita ini kepada para rasul. Petrus bergegas ke kubur dan hanya mendapat kain kafan.
▶ Episode kedua. Pada hari Minggu itu juga dua orang pengikut Yesus pulang ke Emaus dari Yerusalem. Mereka adalah Kleopas dan satu lagi 饾樀饾槩饾槸饾槺饾槩 饾槸饾槩饾槷饾槩. “Seseorang” tiba-tiba datang menyertai mereka dan berbincang sepanjang perjalanan. Setibanya di Emaus mereka menawarkan “Orang itu” untuk bermalam. Saat makan, kedua murid itu langsung menyadari bahwa “Orang itu” adalah Yesus-Paska. Yesus menghilang dari pandangan dan mereka langsung bergegas kembali ke Yerusalem mewartakan peristiwa ini kepada para rasul.
Bacaan Minggu ini menyambung langsung episode kedua. Pengulasan bacaan dibagi ke dalam dua bagian:
馃洃 Mereka terkejut dan takut (ay. 36-43)
馃洃 Kamulah saksi-saksi (ay. 44-48)
饾棤饾棽饾椏饾棽饾椄饾棶 饾榿饾棽饾椏饾椄饾棽饾椃饾槀饾榿 饾棻饾棶饾椈 饾榿饾棶饾椄饾槀饾榿 (ay. 36-43)
Ketika kedua murid dari Emaus sedang berbincang dengan para rasul tentang pengalaman mereka yang disertai Yesus-Paska (episode kedua), tiba-tiba Yesus berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “饾構饾槩饾槷饾槩饾槳 饾槾饾槮饾槴饾槩饾槱饾樀饾槮饾槼饾槩 饾槪饾槩饾槰饾槳饾槷饾樁!” (ay. 36). Mereka terkejut dan takut, karena mereka menyangka melihat hantu (ay. 37). Di Injil Markus dalam kisah 饾槧饾槮饾槾饾樁饾槾 饾槪饾槮饾槼饾槴饾槩饾槶饾槩饾槸 饾槬饾槳 饾槩饾樀饾槩饾槾 饾槩饾槳饾槼 para murid juga ketakutan karena mereka menyangka melihat hantu (lih. Mrk. 6:49).
Penampakan Yesus-Paska kepada para murid di atas mirip di Injil Yohanes. Sapaan Yesus pun sama, “饾構饾槩饾槷饾槩饾槳 饾槾饾槮饾槴饾槩饾槱饾樀饾槮饾槼饾槩 饾槪饾槩饾槰饾槳饾槷饾樁!” Lokasinya pun sama di Yerusalem. Perbedaannya, reaksi para murid di Injil Yohanes bersukacita, sedang di Injil Lukas terkejut dan takut. Tentu saja muatan teologis keduanya juga berbeda.
Injil Lukas ditulis untuk pembaca atau jemaat Kristen dari latar belakang Helenis. Paham Helenis membedakan tubuh dan roh. Lukas menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan iman Kristen yang tidak membuat dikotomi itu. Tubuh dan roh adalah satu entitas, satu-kesatuan. Pada ayat 38 – 43 Yesus-Paska mengenalkan diri-Nya dengan menunjukkan luka bekas dipaku di tangan dan kaki-Nya dan menyuruh para murid merabanya untuk meyakinkan mereka bahwa Ia bukan hantu. Bukan hanya itu Yesus juga meminta makanan kepada para murid dan mereka menyodorkan ikan goreng. Yesus memakannya di depan mereka. Di sini Lukas hendak menegaskan yang bangkit bukan roh saja, melainkan tubuh dan roh.
Dalam penampakan Yesus ke Emaus ada acara makan bersama Yesus. Dalam kisah penampakan pada bacaan Minggu ini juga. Namun, ada perbedaannya. Dalam perjalanan ke Emaus dua murid itu mendapat penjelasan Yesus mengenai Kitab Suci sehingga mereka mengenal Yesus saat makan bersama. Mereka langsung mengekspresikan iman mereka. Pada bacaan Minggu ini Yesus belum menjelaskan isi Kitab Suci sehingga belum ada reaksi iman para murid selain terkejut dan takut. Penjelasan Yesus sesudah makan.
饾棡饾棶饾椇饾槀饾椆饾棶饾椀 饾榾饾棶饾椄饾榾饾椂-饾榾饾棶饾椄饾榾饾椂 (ay. 44-48)
Bagian pertama (ay. 36-43) bercorak narasi. Bagian kedua Yesus menyampaikan ulang nubuat-Nya yang pernah disampaikan saat mereka masih berkarya di Galilea mengenai penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya (lih. Luk. 9:22, 31, 44; 17:25; 18:32-33). Seperti dikatakan oleh Kitab Taurat dan Kitab Para Nabi serta Mazmur bahwa Mesias harus menderita dan bangkit pada hari ketiga.
Penegasan Yesus itu dapat kita lihat dalam ucapan-Nya, “饾槓饾槸饾槳饾槶饾槩饾槱 饾槺饾槮饾槼饾槵饾槩饾樀饾槩饾槩饾槸-饾槖饾樁, 饾樅饾槩饾槸饾槰 饾樀饾槮饾槶饾槩饾槱 饾槖饾樁饾槵饾槩饾樀饾槩饾槵饾槩饾槸 饾槵饾槮饾槺饾槩饾槬饾槩饾槷饾樁 饾槵饾槮饾樀饾槳饾槵饾槩 饾槇饾槵饾樁 饾槷饾槩饾槾饾槳饾槱 饾槪饾槮饾槼饾槾饾槩饾槷饾槩 饾槵饾槩饾槷饾樁 …” (ay. 44). Mengapa ada tambahan kata 饾槷饾槩饾槾饾槳饾槱 (蔚̓́蟿喂)? Mengapa tidak ditulis 饾槵饾槮饾樀饾槳饾槵饾槩 饾槇饾槵饾樁 饾槪饾槮饾槼饾槾饾槩饾槷饾槩 饾槵饾槩饾槷饾樁?
Kitab Injil Lukas ditulis sesudah tahun 70 ZB yang berjarak lebih daripada 40 tahun sesudah kebangkitan dan kenaikan Yesus. Itu berarti Yesus-historis sudah tidak ada lagi di bumi. Dari situasi ini tampaknya penulis Injil Lukas hendak mengajak pembaca untuk masuk ke dalam dunia cerita mengalami kehadiran Yesus-Paska. Ucapan Yesus itu ditujukan kepada pembaca. Hal yang sama dalam kisah episode pertama mengenai empat perempuan, yaitu Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus, dan satu perempuan 饾樀饾槩饾槸饾槺饾槩 饾槸饾槩饾槷饾槩, pergi ke kubur Yesus. Dalam kisah episode kedua tentang perjalanan ke Emaus Lukas juga sengaja hanya menyebut nama satu murid, Kleopas. Satu murid lagi 饾樀饾槩饾槸饾槺饾槩 饾槸饾槩饾槷饾槩. Di sini tampaknya Lukas mengajak pembaca untuk menamai perempuan dan murid tanpa nama itu dengan nama pembaca.
Berbeda dari Injil Matius yang sudah menyatakan Yesus adalah Raja, Mesias, sejak lahir, Injil Lukas menyatakan Yesus adalah Mesias sesudah kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam bagian ini Yesus mengulang yang pernah dikatakan-Nya mengenai hal itu. Kata Yesus, “… 饾槱饾槩饾槼饾樁饾槾 饾槬饾槳饾槰饾槮饾槸饾槩饾槺饾槳 饾槾饾槮饾槷饾樁饾槩 饾樅饾槩饾槸饾槰 饾槩饾槬饾槩 饾樀饾槮饾槼饾樀饾樁饾槶饾槳饾槾 … (ay. 44) … 饾様饾槮饾槾饾槳饾槩饾槾 饾槱饾槩饾槼饾樁饾槾 饾槷饾槮饾槸饾槬饾槮饾槼饾槳饾樀饾槩 饾槬饾槩饾槸 饾槪饾槩饾槸饾槰饾槵饾槳饾樀 饾槬饾槩饾槼饾槳 饾槩饾槸饾樀饾槩饾槼饾槩 饾槹饾槼饾槩饾槸饾槰 饾槷饾槩饾樀饾槳 饾槺饾槩饾槬饾槩 饾槱饾槩饾槼饾槳 饾樅饾槩饾槸饾槰 饾槵饾槮饾樀饾槳饾槰饾槩 … (ay. 45)”.
Selanjutnya Yesus memberi perintah kepada para murid untuk memberitakan pertobatan untuk pengampunan dosa dalam nama-Nya kepada segala bangsa dimula dari Yerusalem (ay. 47). Pertobatan untuk pengampunan dosa ditawarkan kepada segala bangsa. Para murid diberi misi oleh Yesus. Lukas satu-satunya pengarang Injil yang menulis secara lengkap dari kelahiran, karya, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus hingga perintah misi pemberitaan Injil bermula dari Yerusalem sampai ujung bumi alias Roma (Kis. 28:30-31).
Bacaan Injil ditutup dengan ucapan Yesus, “饾槖饾槩饾槷饾樁饾槶饾槩饾槱 饾槾饾槩饾槵饾槾饾槳-饾槾饾槩饾槵饾槾饾槳 饾槬饾槩饾槼饾槳 饾槾饾槮饾槷饾樁饾槩饾槸饾樅饾槩 饾槳饾槸饾槳.” (ay. 48)
Saksi (饾槷饾槩饾槼饾樀饾樁饾槾) dipungut dari istilah pengadilan di Atena, Grika Kuno, yang masih digunakan dalam pengadilan modern. Orang yang disumpah menjadi saksi akan bersaksi (饾槷饾槩饾槼饾樀饾樁饾槼饾槮饾槹) dengan menuturkan apa yang dilihat, didengar, atau dialaminya sendiri. Dengan demikian saksi haruslah objektif. Kesaksian (饾槷饾槩饾槼饾樀饾樁饾槼饾槳饾槹饾槸) objektif di pengadilan dapat meringankan atau memberatkan terdakwa. Objektivitas kesaksian akan terusik,apabila terdakwa adalah rekan, saudara, atau orang miskin atau lemah sehingga saksi bersimpati yang dapat menggoyahkan objektivitas. Sungguh sulit untuk menjadi seorang saksi. Apa pun kesaksiannya akan ada pihak yang dimaslahatkan dan sekaligus ada pihak yang dilancutkan.
Istilah saksi di pengadilan diperluas maknanya dalam Perjanjian Baru. Apabila saksi di pengadilan dibutuhkan keterangan objektifnya, menjadi saksi Kristus tidak cukup dengan berbicara tentang kebenaran Kristus. Seperti kata Yesus, “饾槖饾槩饾槷饾樁饾槶饾槩饾槱 饾槾饾槩饾槵饾槾饾槳-饾槾饾槩饾槵饾槾饾槳 饾槬饾槩饾槼饾槳 饾槾饾槮饾槷饾樁饾槩饾槸饾樅饾槩 饾槳饾槸饾槳.” Semuanya ini apa? Semuanya ini adalah (seperti dalam ayat sebelumnya) Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Mengapa Yesus menderita? Para murid menjadi saksi bahwa Yesus semasa hidup-Nya berkarya dengan menghadirkan Kerajaan Allah yang memerjuangkan keadilan sosial bagi masyarakat terpinggirkan baik dalam struktur keagamaan maupun sosio-ekonomi dan politik. Pelayanan Yesus itu mengganggu sistem puritas Yahudi. Masyarakat distrukturkan bukan hanya dalam pemeringkatan status dan peran sosial, tetapi juga pengutuban kudus/najis, tahir/cemar, suci/bernoda, benar/berdosa, halal/haram, utuh/cacat, laki-laki/perempuan, kaya/miskin, Yahudi/kafir, dlsb. Akibat pelayanan itu Yesus dihukum mati dengan dakwaan tindak pidana subversif.
Menjadi saksi pengadilan saja tidak enak, apalagi menjadi saksi Kristus. Menjadi saksi Kristus berarti menyaksikan semua karya Kristus dengan merefleksikannya dalam perilaku dan gaya hidup. Orang Kristen bersaksi bukan, misalnya, menceritakan tentang hidupnya yang diberkati oleh Allah dengan kekayaan melimpah, melainkan berperangai laksana Kristus dalam berkarya. Gereja adalah saksi Kristus dan untuk memberikan kesaksian itu gereja mendorong warganya untuk melayani. Melayani seperti apa? Melayani seperti Kristus melayani; memerjuangkan keadilan sosial bagi masyarakat terpinggirkan baik dalam struktur keagamaan maupun sosio-ekonomi dan politik. Memang berat.
(14042024)(T)(LAPANGAN PANCASILA)