Selasa, 16 April 2024

SUDUT PANDANG LUKAS 24:36-48, 饾棤饾棽饾椈饾椃饾棶饾棻饾椂 饾榾饾棶饾椄饾榾饾椂



SUDUT PANDANG LUKAS 24:36-48, 饾棤饾棽饾椈饾椃饾棶饾棻饾椂 饾榾饾棶饾椄饾榾饾椂

Kitab Injil menampilkan paradoks penampakan Yesus-Paska kepada murid-murid-Nya. Tubuh kebangkitan Yesus sama sekaligus berbeda dari tubuh sebelum kematian-Nya. Sama: Ada luka bekas dipaku di tangan dan luka bekas ditusuk tombak di perut-Nya serta dapat dijamah. Berbeda: Para murid tidak langsung mengenali-Nya.

Bacaan  diambil dari Injil Lukas 24:36-48 

Bacaan Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 饾槧饾槮饾槾饾樁饾槾 饾槷饾槮饾槸饾槩饾槷饾槺饾槩饾槵饾槵饾槩饾槸 饾槬饾槳饾槼饾槳 饾槵饾槮饾槺饾槩饾槬饾槩 饾槾饾槮饾槷饾樁饾槩 饾槷饾樁饾槼饾槳饾槬. Konteks bacaan adalah keseluruhan pasal 24 tentang kebangkitan dan kenaikan Yesus. Sebelum kita masuk ke pengulasan bacaan, mari kita melihat dua episode sebelumnya.

▶ Episode pertama. Pada hari Minggu dinihari empat perempuan, yaitu Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus, dan satu perempuan 饾樀饾槩饾槸饾槺饾槩 饾槸饾槩饾槷饾槩, pergi ke kubur Yesus membawa rempah-rempah. Batu kubur sudah terguling dan tidak ada jenazah Yesus di dalamnya. Seseorang berpakaian berkilau-kilauan mengatakan kepada mereka bahwa Yesus sudah bangkit seperti yang sudah dikatakan-Nya di Galilea. Keempat perempuan itu menyampaikan berita ini kepada para rasul. Petrus bergegas ke kubur dan hanya mendapat kain kafan.

▶ Episode kedua. Pada hari Minggu itu juga dua orang pengikut Yesus pulang ke Emaus dari Yerusalem. Mereka adalah Kleopas dan satu lagi 饾樀饾槩饾槸饾槺饾槩 饾槸饾槩饾槷饾槩. “Seseorang” tiba-tiba datang menyertai mereka dan berbincang sepanjang perjalanan. Setibanya di Emaus mereka menawarkan “Orang itu” untuk bermalam. Saat makan, kedua murid itu langsung menyadari bahwa “Orang itu” adalah Yesus-Paska. Yesus menghilang dari pandangan dan mereka langsung bergegas kembali ke Yerusalem mewartakan peristiwa ini kepada para rasul.

Bacaan Minggu ini menyambung langsung episode kedua. Pengulasan bacaan dibagi ke dalam dua bagian:

馃洃 Mereka terkejut dan takut (ay. 36-43)
馃洃 Kamulah saksi-saksi (ay. 44-48)

饾棤饾棽饾椏饾棽饾椄饾棶 饾榿饾棽饾椏饾椄饾棽饾椃饾槀饾榿 饾棻饾棶饾椈 饾榿饾棶饾椄饾槀饾榿 (ay. 36-43)

Ketika kedua murid dari Emaus sedang berbincang dengan para rasul tentang pengalaman mereka yang disertai Yesus-Paska (episode kedua), tiba-tiba Yesus berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “饾構饾槩饾槷饾槩饾槳 饾槾饾槮饾槴饾槩饾槱饾樀饾槮饾槼饾槩 饾槪饾槩饾槰饾槳饾槷饾樁!” (ay. 36). Mereka terkejut dan takut, karena mereka menyangka melihat hantu (ay. 37). Di Injil Markus dalam kisah 饾槧饾槮饾槾饾樁饾槾 饾槪饾槮饾槼饾槴饾槩饾槶饾槩饾槸 饾槬饾槳 饾槩饾樀饾槩饾槾 饾槩饾槳饾槼 para murid juga ketakutan karena mereka menyangka melihat hantu (lih. Mrk. 6:49).

Penampakan Yesus-Paska kepada para murid di atas mirip di Injil Yohanes. Sapaan Yesus pun sama, “饾構饾槩饾槷饾槩饾槳 饾槾饾槮饾槴饾槩饾槱饾樀饾槮饾槼饾槩 饾槪饾槩饾槰饾槳饾槷饾樁!” Lokasinya pun sama di Yerusalem. Perbedaannya, reaksi para murid di Injil Yohanes bersukacita, sedang di Injil Lukas terkejut dan takut. Tentu saja muatan teologis keduanya juga berbeda.

Injil Lukas ditulis untuk pembaca atau jemaat Kristen dari latar belakang Helenis. Paham Helenis membedakan tubuh dan roh. Lukas menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan iman Kristen yang tidak membuat dikotomi itu. Tubuh dan roh adalah satu entitas, satu-kesatuan. Pada ayat 38 – 43 Yesus-Paska mengenalkan diri-Nya dengan menunjukkan luka bekas dipaku di tangan dan kaki-Nya dan menyuruh para murid merabanya untuk meyakinkan mereka bahwa Ia bukan hantu. Bukan hanya itu Yesus juga meminta makanan kepada para murid dan mereka menyodorkan ikan goreng. Yesus memakannya di depan mereka. Di sini Lukas hendak menegaskan yang bangkit bukan roh saja, melainkan tubuh dan roh.

Dalam penampakan Yesus ke Emaus ada acara makan bersama Yesus. Dalam kisah penampakan pada bacaan Minggu ini juga. Namun, ada perbedaannya. Dalam perjalanan ke Emaus dua murid itu mendapat penjelasan Yesus mengenai Kitab Suci sehingga mereka mengenal Yesus saat makan bersama. Mereka langsung mengekspresikan iman mereka. Pada bacaan Minggu ini Yesus belum menjelaskan isi Kitab Suci sehingga belum ada reaksi iman para murid selain terkejut dan takut. Penjelasan Yesus sesudah makan.
 
饾棡饾棶饾椇饾槀饾椆饾棶饾椀 饾榾饾棶饾椄饾榾饾椂-饾榾饾棶饾椄饾榾饾椂 (ay. 44-48)

Bagian pertama (ay. 36-43) bercorak narasi. Bagian kedua Yesus menyampaikan ulang nubuat-Nya yang pernah disampaikan saat mereka masih berkarya di Galilea mengenai penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya (lih. Luk. 9:22, 31, 44; 17:25; 18:32-33). Seperti dikatakan oleh Kitab Taurat dan Kitab Para Nabi serta Mazmur bahwa Mesias harus menderita dan bangkit pada hari ketiga.

Penegasan Yesus itu dapat kita lihat dalam ucapan-Nya, “饾槓饾槸饾槳饾槶饾槩饾槱 饾槺饾槮饾槼饾槵饾槩饾樀饾槩饾槩饾槸-饾槖饾樁, 饾樅饾槩饾槸饾槰 饾樀饾槮饾槶饾槩饾槱 饾槖饾樁饾槵饾槩饾樀饾槩饾槵饾槩饾槸 饾槵饾槮饾槺饾槩饾槬饾槩饾槷饾樁 饾槵饾槮饾樀饾槳饾槵饾槩 饾槇饾槵饾樁 饾槷饾槩饾槾饾槳饾槱 饾槪饾槮饾槼饾槾饾槩饾槷饾槩 饾槵饾槩饾槷饾樁 …” (ay. 44). Mengapa ada tambahan kata 饾槷饾槩饾槾饾槳饾槱 (蔚̓́蟿喂)? Mengapa tidak ditulis 饾槵饾槮饾樀饾槳饾槵饾槩 饾槇饾槵饾樁 饾槪饾槮饾槼饾槾饾槩饾槷饾槩 饾槵饾槩饾槷饾樁? 

Kitab Injil Lukas ditulis sesudah tahun 70 ZB yang berjarak lebih daripada 40 tahun sesudah kebangkitan dan kenaikan Yesus. Itu berarti Yesus-historis sudah tidak ada lagi di bumi. Dari situasi ini tampaknya penulis Injil Lukas hendak mengajak pembaca untuk masuk ke dalam dunia cerita mengalami kehadiran Yesus-Paska. Ucapan Yesus itu ditujukan kepada pembaca. Hal yang sama dalam kisah episode pertama mengenai empat perempuan, yaitu Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus, dan satu perempuan 饾樀饾槩饾槸饾槺饾槩 饾槸饾槩饾槷饾槩, pergi ke kubur Yesus. Dalam kisah episode kedua tentang perjalanan ke Emaus Lukas juga sengaja hanya menyebut nama satu murid, Kleopas. Satu murid lagi 饾樀饾槩饾槸饾槺饾槩 饾槸饾槩饾槷饾槩. Di sini tampaknya Lukas mengajak pembaca untuk menamai perempuan dan murid tanpa nama itu dengan nama pembaca.

Berbeda dari Injil Matius yang sudah menyatakan Yesus adalah Raja, Mesias, sejak lahir, Injil Lukas menyatakan Yesus adalah Mesias sesudah kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam bagian ini Yesus mengulang yang pernah dikatakan-Nya mengenai hal itu. Kata Yesus, “… 饾槱饾槩饾槼饾樁饾槾 饾槬饾槳饾槰饾槮饾槸饾槩饾槺饾槳 饾槾饾槮饾槷饾樁饾槩 饾樅饾槩饾槸饾槰 饾槩饾槬饾槩 饾樀饾槮饾槼饾樀饾樁饾槶饾槳饾槾 … (ay. 44) … 饾様饾槮饾槾饾槳饾槩饾槾 饾槱饾槩饾槼饾樁饾槾 饾槷饾槮饾槸饾槬饾槮饾槼饾槳饾樀饾槩 饾槬饾槩饾槸 饾槪饾槩饾槸饾槰饾槵饾槳饾樀 饾槬饾槩饾槼饾槳 饾槩饾槸饾樀饾槩饾槼饾槩 饾槹饾槼饾槩饾槸饾槰 饾槷饾槩饾樀饾槳 饾槺饾槩饾槬饾槩 饾槱饾槩饾槼饾槳 饾樅饾槩饾槸饾槰 饾槵饾槮饾樀饾槳饾槰饾槩 … (ay. 45)”.

Selanjutnya Yesus memberi perintah kepada para murid untuk memberitakan pertobatan untuk pengampunan dosa dalam nama-Nya kepada segala bangsa dimula dari Yerusalem (ay. 47). Pertobatan untuk pengampunan dosa ditawarkan kepada segala bangsa. Para murid diberi misi oleh Yesus. Lukas satu-satunya pengarang Injil yang menulis secara lengkap dari kelahiran, karya, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus hingga perintah misi pemberitaan Injil bermula dari Yerusalem sampai ujung bumi alias Roma (Kis. 28:30-31).

Bacaan Injil ditutup dengan ucapan Yesus, “饾槖饾槩饾槷饾樁饾槶饾槩饾槱 饾槾饾槩饾槵饾槾饾槳-饾槾饾槩饾槵饾槾饾槳 饾槬饾槩饾槼饾槳 饾槾饾槮饾槷饾樁饾槩饾槸饾樅饾槩 饾槳饾槸饾槳.” (ay. 48) 

Saksi (饾槷饾槩饾槼饾樀饾樁饾槾) dipungut dari istilah pengadilan di Atena, Grika Kuno, yang masih digunakan dalam pengadilan modern. Orang yang disumpah menjadi saksi akan bersaksi (饾槷饾槩饾槼饾樀饾樁饾槼饾槮饾槹) dengan menuturkan apa yang dilihat, didengar, atau dialaminya sendiri. Dengan demikian saksi haruslah objektif. Kesaksian (饾槷饾槩饾槼饾樀饾樁饾槼饾槳饾槹饾槸) objektif di pengadilan dapat meringankan atau memberatkan terdakwa. Objektivitas kesaksian akan terusik,apabila terdakwa adalah rekan, saudara, atau orang miskin atau lemah sehingga saksi bersimpati yang dapat menggoyahkan objektivitas. Sungguh sulit untuk menjadi seorang saksi. Apa pun kesaksiannya akan ada pihak yang dimaslahatkan dan sekaligus ada pihak yang dilancutkan.

Istilah saksi di pengadilan diperluas maknanya dalam Perjanjian Baru. Apabila saksi di pengadilan dibutuhkan keterangan objektifnya, menjadi saksi Kristus tidak cukup dengan berbicara tentang kebenaran Kristus. Seperti kata Yesus, “饾槖饾槩饾槷饾樁饾槶饾槩饾槱 饾槾饾槩饾槵饾槾饾槳-饾槾饾槩饾槵饾槾饾槳 饾槬饾槩饾槼饾槳 饾槾饾槮饾槷饾樁饾槩饾槸饾樅饾槩 饾槳饾槸饾槳.” Semuanya ini apa? Semuanya ini adalah (seperti dalam ayat sebelumnya) Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Mengapa Yesus menderita? Para murid menjadi saksi bahwa Yesus semasa hidup-Nya berkarya dengan menghadirkan Kerajaan Allah yang memerjuangkan keadilan sosial bagi masyarakat terpinggirkan baik dalam struktur keagamaan maupun sosio-ekonomi dan politik. Pelayanan Yesus itu mengganggu sistem puritas Yahudi. Masyarakat distrukturkan bukan hanya dalam pemeringkatan status dan peran sosial, tetapi juga pengutuban kudus/najis, tahir/cemar, suci/bernoda, benar/berdosa, halal/haram, utuh/cacat, laki-laki/perempuan, kaya/miskin, Yahudi/kafir, dlsb. Akibat pelayanan itu Yesus dihukum mati dengan dakwaan tindak pidana subversif.

Menjadi saksi pengadilan saja tidak enak, apalagi menjadi saksi Kristus. Menjadi saksi Kristus berarti menyaksikan semua karya Kristus dengan merefleksikannya dalam perilaku dan gaya hidup. Orang Kristen bersaksi bukan, misalnya, menceritakan tentang hidupnya yang diberkati oleh Allah dengan kekayaan melimpah, melainkan berperangai laksana Kristus dalam berkarya. Gereja adalah saksi Kristus dan untuk memberikan kesaksian itu gereja mendorong warganya untuk melayani. Melayani seperti apa? Melayani seperti Kristus melayani; memerjuangkan keadilan sosial bagi masyarakat terpinggirkan baik dalam struktur keagamaan maupun sosio-ekonomi dan politik. Memang berat.
(14042024)(T)(LAPANGAN PANCASILA)

Selasa, 09 April 2024

LUCIFER BUKAN PADANAN KATA IBLIS ATAU RAJA IBLIS KARENA YESUS PUN DISEBUT LUCIFER, SERIAL SUDUT PANDANG

LUCIFER BUKAN PADANAN KATA IBLIS ATAU RAJA IBLIS KARENA YESUS PUN DISEBUT LUCIFER, SERIAL SUDUT PANDANG

Lucifer adalah berasal dari Bahasa Latin, jadi kata ini TIDAK ADA di dalam Naskah bahasa asli, baik Ibrani atau Yunani. Terlebih lagi Nama LUCIFER yang dikonotasikan sebagai "nama dari Raja Iblis", Sebab nama "Lucifer" adalah muncul dari penafsiran-penafsiran Kristen Barat.

Kata Latin yang baru muncul Abad ke-4 Masehi "Lucifer", berasal dari kata Latin: 'Lux' atau "lucis" yang artinya "cahaya" dan kata latin: 'Ferre', artinya "membawa." Jadi sebenarnya "Lucifer" bermakna 'Light Bringer' atau 'Pembawa terang' yang merupakan terjemahan kontekstual (bukan harfiah) dari "bintang-timur".

Orang Yahudi, tidak mengenal Nama Lucifer, para Rasul Kristus, tidak mengenal Nama Lucifer. Sebab, kata "Lucifer" baru muncul di dalam kazanah Kekristenan pada Alkitab Terjemahan bahasa Latin Vulgata, terjemahan dari St Jerome abad 4 Masehi (3 Abad setelah Era Para Rasul). Terlebih, nama "Lucifer" menjadi Viral, karena beberapa terjemahan bahasa Inggris seperti KJV dan beberapa terjemahan Inggris lainnya, menyerap kata Latin "Lucifer" itu pada penerjemahan Yesaya 14:12.

Namun, benarkah Nama Lucifer adalah Nama yang legitimate untuk Iblis?

Demikian juga di dalam berbagai pemahaman Angelology-Demonology pengajaran di Gereja-gereja Kristen di Indonesia ini, nama "Lucifer" pun diidentikan dengan nama "Iblis", sebab gereja-gereja Kristen di Indonesia ini sebagian besar adalah hasil penginjilan dari "Kristen made in Barat". Maka, tidak heran terkadang di Indonesia ini, orang-orang di luar kita mengkonotasikan/ mengidentikkan bahwa "Kristen agama Bule," sebab memang pendeta-pendetanya/ pengajar-pengajarnya lebih mengarah pada theologi Kristen produk Barat (Eropa-Amerika). Mulai dari Denominasi Kristen yang benar sampai yang menyimpang; dari yang mainstream dan kemudian gerakan-gerakan baru yang lain; sampai yang heretik semacam SSY & Adventis, dll; Dan banyak lagi denominasi-denominasi baru yang muncul dari pengajaran-pengajaran theolog Barat. Bahkan "gerakan Nama YAHWEH" itu berasal dari Kristen Barat dari pengejar-pengajar/ theolog-theolog Barat. Namun, sesungguhnya Kristen itu berasal dari Timur. Seperti "Lucifer" yang tidak berasal dari Bahasa asli Alkitab Ibrani & Yunani, "YAHWEH"-pun bukan bahasa Ibrani.
Baiklah kita membaca Yesaya 14:12, untuk membuktikan bahwa Alkitab bahasa asli Ibrani tidak terdapat nama "Lucifer", dan membuktikan bahwa LUCIFER bukan nama Iblis:

    * Yesaya 14:12
    LAI TB, Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur (HEYLEL), putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!"
    Hebrew,
    讗ֵ讬讱ְ 谞ָ驻ַ诇ְ转ָּ 诪ִ砖ָּׁ诪ַ讬ִ诐 讛ֵ讬诇ֵ诇 讘ֶּ谉־砖ָׁ讞ַ专 谞ִ讙ְ讚ַּ注ְ转ָּ 诇ָ讗ָ专ֶ抓 讞ֹ讜诇ֵ砖ׁ 注ַ诇־讙ֹּ讜讬ִ诐׃
    Translit Interlinear, 'EYKH {wahai} NAFALETA {engkau jatuh} MISHAMAYIM {dari langit} HEYLEL {bintang timur} BEN-SHAKHAR {anak fajar} NIGEDA'ETA {engkau dipotong} LA'ARETS {ke bumi} KHOLESH {engkau mengalahkan} 'AL-GOYIM {atas bangsa-bangsa}.

Kata "Lucifer" digunakan oleh St. Jerome di abad keempat Masehi ketika menerjemahkan Vulgata (Alkitab Latin). Ungkapan Ibrani 讛ֵ讬诇ֵ诇 讘ֶּ谉־砖ָׁ讞ַ专 - HEYLEL BEN-SHAKHAR"讛ֵ讬诇ֵ诇 - HEYLEL adalah kata Ibrani untuk "bintang Timur" alias planet Venus, sedangkan 讘ֶּ谉־砖ָׁ讞ַ专 - BEN-SHAKHAR" harfiah "anak (putra) Fajar".

* Latin's Vulgate,
    "quomodo cecidisti de caelo lucifer qui mane oriebaris corruisti in terram qui vulnerabas gentes"
Kata Lucifer muncul dalam Alkitab Terjemahan seperti King James Version/ Douay Rheims/ Darby , diserap dari Alkitab Latin (Vulgata).

* King James Version,
    How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning! how art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations!

* Douay Rheims,
    How art thou fallen from heaven, O Lucifer, who didst rise in the morning? how art thou fallen to the earth, that didst wound the nations?

* Darby,
    How art thou fallen from heaven, Lucifer, son of the morning! Thou art cut down to the ground, that didst prostrate the nations!


Dalam terjemahan NIV tidak ada kata Lucifer :

* New International Version,
    How you have fallen from heaven, O morning star, son of the dawn! You have been cast down to the earth, you who once laid low the nations!

dalam terjemahan YLT tidak ada kata Lucifer :

* Young's Literal Translation,
    How hast thou fallen from the heavens, O shining one, son of the dawn! Thou hast been cut down to earth, O weakener of nations.


Naskah Masorah Ibrani hanya menulis 讛ֵ讬诇ֵ诇 - HEYLEL dari kata 讛ָ诇ַ诇 - HALAL, "memuji". Dalam ayat itu tidak dijumpai kata Iblis (Ibrani : 砖ָׂ讟ָ谉 - SATAN). Kata Indonesia "setan" hanya dijumpai dalam Perjanjian Baru versi LAI.

Tidak ada kata "Lucifer" dalam Perjanjian Baru Yunani maupun
Alkitab Ibrani. Kata "Lucifer" adalah kata terjemahan, bukan kata dalam bahasa asli Alkitab. Bandingkan dengan terjemahan lain yaitu dari sumber-sumber Yahudi HNV, Hebrew Names Version of the World English Bible.

* Hebrew Names Version of the World English Bible,
    How you are fallen from heaven, Heylel, son of the morning! How you are cut down to the ground, who laid the nations low!

*Jewish Publication society Tanakh,
    How art thou fallen from heaven, O day-star, son of the morning! How art thou cut down to the ground, that didst cast lots over the nations!

* The Orthodox Jewish Bible,
    How art thou fallen from Shomayim, O Heilel Ben Shachar! How art thou cast down to the earth, thou, which hast laid low the Goyim!
Jadi jelas, bahwa kata Lucifer adalah terjemahan dalam bahasa Latin, digunakan dalam Vulgata, Alkitab bahasa Latin yang dipakai di kalangan Katolik.

Jika kita baca konteks Yesaya 14:1-23, ayat tentang Lucifer ini mengacu kepada raja Babel :
    - Ada yang mengatakan Nebukadnezar.
    - Ada pula yang mengatakan ada raja Babel yang bernama Heylel bin Syakhar.

Kita tinjau terjemahan SEPTUAGINTA (Yunani) untuk ayat Yesaya 14:12 sbb :

    LXX, 蟺蠅蟼 蔚尉蔚蟺蔚蟽蔚谓 蔚魏 蟿慰蠀 慰蠀蟻伪谓慰蠀 慰 蔚蠅蟽蠁慰蟻慰蟼 慰 蟺蟻蠅喂 伪谓伪蟿蔚位位蠅谓 蟽蠀谓蔚蟿蟻喂尾畏 蔚喂蟼 蟿畏谓 纬畏谓 慰 伪蟺慰蟽蟿蔚位位蠅谓 蟺蟻慰蟼 蟺伪谓蟿伪 蟿伪 蔚胃谓畏
    Translit, p么s exepesen ek tou ouranou ho he么sphoros ho pr么i anatell么n sunetrib锚 eis t锚n g锚n ho apostell么n pros nanta ta ethn锚
    Translit interlinear, P脭S EXEPESEN {betapa engkau jatuh} EK {dari} TOU OURANOU {langit} HO HE脭SPHOROS {bintang timur/ morning star} HO PR脭I ANATELL脭N {yang dari terbit fajar} EIS {ke dalam} T脢N G脢N {bumi} HO APOSTELLON {yang diutus} PROS {kepada} NANTA {seluruh} TA ETHN脢 {bangsa2}
Septuaginta menerjemahkannya "慰 蔚蠅蟽蠁慰蟻慰蟼 慰 蟺蟻蠅喂 - ho he么sphoros ho pr么i":
蔚蠅蟼 - heos berarti "hingga", "sampai";
蠁蠅蟽蠁慰蟻慰蟼 - ph么sphoros berarti "cahaya pagi/ pembawa cahaya" dan
蟺蟻蠅喂 - pr么i adalah "dini hari".

Mengapa ada yang menghubungkan Lucifer dengan Iblis?
    Jawab : "namanya juga penafsiran" :)
Transliterasi kata Latin "LUCIFER" kepada aksara Ibrani: 诇讜ּ爪ִ讬驻ֶ专 , maka tentu saja aksara ini tidak akan ada dalam TANAKH (PL), maupun dalam Naskah terjemahan Ibrani Perjanjian Baru, Haberit Hakhadashah.

Ada rekaan transliterasi kata Latin LUCIFER itu ke dalam aksara Ibrani: 诇讜ּ爪ִ讬驻ֶ专 - LUTSIFER. Tapi, bagaimanapun 诇讜ּ爪ִ讬驻ֶ专 - LUTSIFER bukan bahasa Ibrani asli, juga bukan bahasa Yunani asli.
Beberapa penafsir barat beranggapan bahwa ayat-ayat ini bukan hanya mengacu kepada raja Babel, tetapi juga berisi acuan yang terselubung kepada Iblis. Mereka menghubungkan hal ini dengan pernyataan Yesus Kristus di bawah ini:

    * Lukas 10:18
    LAI TB, Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit."
    KJV, And he said unto them, I beheld Satan as lightning fall from heaven.
    TR, 蔚喂蟺蔚谓 未蔚 伪蠀蟿慰喂蟼 蔚胃蔚蠅蟻慰蠀谓 蟿慰谓 蟽伪蟿伪谓伪谓 蠅蟼 伪蟽蟿蟻伪蟺畏谓 蔚魏 蟿慰蠀 慰蠀蟻伪谓慰蠀 蟺蔚蟽慰谓蟿伪
    Translit Interlinear, eipen {Dia berkata} de {dan} autois {kepada mereka} ethe么roun {Aku melihat} ton satanan {Setan} h么s {seperti} astrap锚n {kilat} ek {dari} tou ouranou {langit} pesonta {jatuh}

Lucifer, Brilliant star, a title given to the king of Babylon Isaiah 14:12 to denote his glory. (Easton's Revised Bible Dictionary)
    LUCIFER, Nebuchadnezzar called by this name, Isaiah 14:12 (Nave's Topical Bible)

    Lu'cifer, (light-bearer), found in Isaiah 14:12, coupled with the epithet "son of the morning," clearly signifies a "bright star," and probably what we call the morning star. In this passage it is a symbolical representation of the king of Babylon in his splendor
    and in his fall. Its application, from St. Jerome downward, to Satan in his fall from heaven arises probably from the fact that the Babylonian empire is in Scripture represented as the type of tyrannical and self idolizing power, and especially connected with the empire of the Evil One in the Apocalypse. (Smith's Bible Dictionary)
Penafsir lain beranggapan bahwa ayat-ayat ini mungkin mengacu kepada antikristus akhir zaman yang akan memerintah "Babel"
LUCIFER BUKAN NAMA IBLIS:


Kalaupun nama "Lucifer" dirujuk sebagai nama dari raja Iblis. Itu hanya berdasarkan dari "tafsir" Yesaya 14:12. Bagaimanapun "tafsir hanyalah tafsir", dan "tafsir" yang satu bisa berbeda dengan "tafsir" yang lain.


Kata "Lucifer" digunakan oleh St. Jerome 3 kali dalam terjemahannya, yaitu Alkitab berbahasa latin versi Vulgata. Untuk Perjanjian Lama (PL) penerjemahannya berasal dari Septuaginta (Alkitab Perjanjian Lama terjemahan bahasa Yunani) pada abad ke-4 Masehi, kata "Lucifer" 2 kali kita temukan dalam PL Vulgata . Kita lihat ayat-ayatnya sbb :

    * Ayub 11:17
    LAI TB, Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang seperti pagi hari (KABOQER diterjemahkan: LUCIFER, Vulgata).
    KJV, And your age shall be clearer than the noonday: you shall shine forth, you shall be as the morning.
    NIV, Life will be brighter than noonday, and darkness will become like morning.
    Latin Vulgata, et quasi meridianus fulgor consurget tibi ad vesperam et cum te consumptum putaveris orieris ut lucifer
    Douay-Rheims Bible (DRB), And brightness like that of the noonday, shall arise to thee at evening: and when thou shalt think thyself consumed, thou shalt rise as the day star.
    Hebrew,
    讜ּ诪ִ爪ָּ讛ֳ专ַ讬ִ诐 讬ָ拽讜ּ诐 讞ָ诇ֶ讚 转ָּ注ֻ驻ָ讛 讻ַּ讘ֹּ拽ֶ专 转ִּ讛ְ讬ֶ讛׃
    Translit interlinear, UMITSAHORAYIM {dan dari siang hari} YAQUM {dia akan bangkit} KHALED {kehidupan} TA'UFAH {yang cemerlang} KABOQER {seperti fajar pagi} TIH'YEH {dia akan menjadi}
    Septuaginta (LXX), 畏 未蔚 蔚蠀蠂畏 蟽慰蠀 蠅蟽蟺蔚蟻 蔚蠅蟽蠁慰蟻慰蟼 蔚魏 未蔚 渭蔚蟽畏渭尾蟻喂伪蟼 伪谓伪蟿蔚位蔚喂 蟽慰喂 味蠅畏
    Translit, H脢 DE EUKH脢 SOU H脭SPER HE脭SPHOROS EK DE MES脢MBRIAS ANATELEI SOI Z脭脢

    Catatan :
    Kata "Lucifer" dalam Vulgata adalah terjemahan dari kata Yunani 蔚蠅蟽蠁慰蟻慰蟼 - he么sphoros.
    Kata 蔚蠅蟽蠁慰蟻慰蟼 - he么sphoros, berasal dari kata : 蔚蠅蟼 - heos berarti "hingga", "sampai";dan kata 蠁蠅蟽蠁慰蟻慰蟼 - ph么sphoros berarti "cahaya pagi/ pembawa cahaya"


    * Yesaya 14:12
    LAI TB Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur (LUCIFER, Vulgata, KJV), putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!
    KJV, , How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning! how art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations!
    NIV, How you have fallen from heaven, O morning star, son of the dawn! You have been cast down to the earth, you who once laid low the nations!
    Latin Vulgata, quomodo cecidisti de caelo lucifer qui mane oriebaris corruisti in terram qui vulnerabas gentes
    DRB. How art thou fallen from heaven, O Lucifer, who didst rise in the morning? how art thou fallen to the earth, that didst wound the nations?
    Hebrew,
    讗ֵ讬讱ְ 谞ָ驻ַ诇ְ转ָּ 诪ִ砖ָּׁ诪ַ讬ִ诐 讛ֵ讬诇ֵ诇 讘ֶּ谉־砖ָׁ讞ַ专 谞ִ讙ְ讚ַּ注ְ转ָּ 诇ָ讗ָ专ֶ抓 讞ֹ讜诇ֵ砖ׁ 注ַ诇־讙ֹּ讜讬ִ诐׃
    Translit Interlinear, 'EYKH {wahai} NAFALETA {engkau jatuh} MISHAMAYIM {dari langit} HEYLEL[/u] {bintang timur} BEN-SHAKHAR {anak fajar} NIGEDA'ETA {engkau dipotong} LA'ARETS {ke bumi} KHOLESH {engkau mengalahkan} 'AL-GOYIM {atas bangsa-bangsa}.
    LXX, 蟺蠅蟼 蔚尉蔚蟺蔚蟽蔚谓 蔚魏 蟿慰蠀 慰蠀蟻伪谓慰蠀 慰 蔚蠅蟽蠁慰蟻慰蟼 慰 蟺蟻蠅喂 伪谓伪蟿蔚位位蠅谓 蟽蠀谓蔚蟿蟻喂尾畏 蔚喂蟼 蟿畏谓 纬畏谓 慰 伪蟺慰蟽蟿蔚位位蠅谓 蟺蟻慰蟼 蟺伪谓蟿伪 蟿伪 蔚胃谓畏
    Translit, P脭S EXEPESEN EK TOU OURANOU HO HE脭SPHOROS HO PR脭I ANATELL脭N EIS T脢N G脢N HO APOSTELLON PROS NANTA TA ETHN脢

    Catatan :
    Kata "Lucifer" dalam Vulgata adalah terjemahan dari kata Yunani 蔚蠅蟽蠁慰蟻慰蟼 - he么sphoros. Kata "Lucifer" baru dikenal pada abad 4 Masehi, sebelumnya kata ini tidak pernah dikenal ada dalam "Kitab Suci Perjanjian Lama" bahasa asli Ibrani, Aram, maupun Yunani (Septuaginta)
    Dalam Perjanjian Baru, St. Jerome sekali lagi menggunakan kata "lucifer" :

      * 2 Petrus 1:19
      LAI TB, Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur (LUCIFER, Vulgata) terbit bersinar di dalam hatimu.
      KJV, We have also a more sure word of prophecy; whereunto ye do well that ye take heed, as unto a light that shineth in a dark place, until the day dawn, and the day star arise in your hearts:
      NIV, And we have the word of the prophets made more certain, and you will do well to pay attention to it, as to a light shining in a dark place, until the day dawns and the morning star rises in your hearts.
      Latin Vulgata, et habemus firmiorem propheticum sermonem cui bene facitis adtendentes quasi lucernae lucenti in caliginoso loco donec dies inlucescat et lucifer oriatur in cordibus vestris
      DRB, And we have the more firm prophetical word: whereunto you do well to attend, as to a light that shineth in a dark place, until the day dawn, and the day star arise in your hearts:
      TR, 魏伪喂 蔚蠂慰渭蔚谓 尾蔚尾伪喂慰蟿蔚蟻慰谓 蟿慰谓 蟺蟻慰蠁畏蟿喂魏慰谓 位慰纬慰谓 蠅 魏伪位蠅蟼 蟺慰喂蔚喂蟿蔚 蟺蟻慰蟽蔚蠂慰谓蟿蔚蟼 蠅蟼 位蠀蠂谓蠅 蠁伪喂谓慰谓蟿喂 蔚谓 伪蠀蠂渭畏蟻蠅 蟿慰蟺蠅 蔚蠅蟼 慰蠀 畏渭蔚蟻伪 未喂伪蠀纬伪蟽畏 魏伪喂 蠁蠅蟽蠁慰蟻慰蟼 伪谓伪蟿蔚喂位畏 蔚谓 蟿伪喂蟼 魏伪蟻未喂伪喂蟼 蠀渭蠅谓
      Translit intelinear, kai {lalu} ekhomen {kami mempunyai} bebaioteron {yang lebih dapat dipercayai} ton proph锚tikon {dari para nabi} logon {Sabda} h么 kal么s {yang kepada-Nya dengan tepat} poieite {kalian bertindak} prosekhontes {dengan penuh perhatian} h么s {seperti} lukhn么 {kepada pelita} phainonti {yang ebrcahaya} en {di dalam} aukhm锚r么 {kegelapan} top么 {tempat} he么s {sampai pada} hou h锚mera {hari} diaugas锚 {mulai terang} kai {dan} ph么sphoros {Bintang Timur} anateil锚 {Dia terbit} en {di dalam} tais kardiais {hati} hum么n {kalian}


      The Orthodox Jewish Brit Chadasha, And we have the Dvar HaNevu'ah (Word of Prophecy) made more sure, to which you do well in giving heed as to a menorah shining in a place of choshech until HaYom [of Olam Habah--3:18] dawns and the Kochav (Star--BAMIDBAR 24:17) haNogah (of Brightness/Venus) rises in your levavot (hearts).
      Ha-Berit,
      讜ּ讚ְ讘ַ专 讛ַ谞ְּ讘讜ּ讗ָ讛 讬讜ֹ转ֵ专 拽ַ讬ָּ诐 讗ִ转ָּ谞讜ּ 讜ַ讛ֲ讟ִ讬讘ֹ转ֶ诐 注ֲ砖ׂ讜ֹ转 讗ֲ砖ֶׁ专 砖ַׁ转ֶּ诐 诇ִ讘ְּ讻ֶ诐 讗ֵ诇ָ讬讜 讻ְּ谞ֵ专 诪ֵ讗ִ讬专 讘ִּ诪ְ拽讜ֹ诐 讗ֹ驻ֶ诇 注ַ讚־讻ִּ讬 讬ִ讘ָּ拽ַ注 讗讜ֹ专 讛ַ讬ּ讜ֹ诐 讜ְ讝ָ专ַ讞 讻ּ讜ֹ讻ַ讘 讛ַ谞ֹּ讙ַ讛ּ 讘ִּ诇ְ讘ַ讘ְ讻ֶ诐׃
      Translit interlinear, UDEVAR {seperti perkataan} HANEVU'AH {nabi} YOTER {dia menjadi} QAYAM {peneguhan} 'ITANU {pada kami} VAHATIVITEM {dan bertapa baiknya bagi kalian} 'ASOT {untuk melakukan} 'ASHER {yang} SHATEM {untuk kalian menyempurnakannya} LIV'KHEM {pada hati kalian} 'ELAV {kepadanya} KENER {seperti pelita} ME'IR {yang bercahaya} BIM'QOM {di dalam tempat} 'OFEL {yang gelap} 'AD-KI {sampai pada} YIBAQA {timbulnya} 'OR {terang} HAYOM {hari} VEZARAKH {dan bersinar di timur} KOKHAV {bintang} HANOGAH {venus, gemilang/ terang} BILEVAVEKHEM {apda hati kalian}


    Dalam "tafsiran" yang lazim beredar pada kalangan "Kristen barat", hanya dalam Yesaya 14:12 kata "LUCIFER" ditafsirkan sebagai nama Malaikat yang jatuh yang kemudian disinonimkan sebagai nama "Iblis". Sedangkan Ayub 11:17 dan 2 Petrus 1:19 kata latin "lucifer" tidak dapat dimaknakan sebagai "nama Iblis" dengan menimbang konteks ayatnya. Bahkan khusus pada 2 Petrus 1:19 lebih "ditafsirkan" sebagai figur Yesus Kristus dengan mengacu ayat-ayat lain yang melambangkan Yesus Kristus sebagai "sumber cahaya" misalnya dalam Lukas 1:78, Wahyu 22:16, Efesus 5:14.
      shadow of turning.
      TR, 蟺伪蟽伪 未慰蟽喂蟼 伪纬伪胃畏 魏伪喂 蟺伪谓 未蠅蟻畏渭伪 蟿蔚位蔚喂慰谓 伪谓蠅胃蔚谓 蔚蟽蟿喂谓 魏伪蟿伪尾伪喂谓慰谓 伪蟺慰 蟿慰蠀 蟺伪蟿蟻慰蟼 蟿蠅谓 蠁蠅蟿蠅谓 蟺伪蟻 蠅 慰蠀魏 蔚谓喂 蟺伪蟻伪位位伪纬畏 畏 蟿蟻慰蟺畏蟼 伪蟺慰蟽魏喂伪蟽渭伪
      Translit interlinear, pasa {setiap} dosis {pemberian} agath锚 {yang baik} kai {dan} pan {setiap} d么r锚ma {karunia} teleion {yang sempurna} an么then {dari atas} estin katabainon {dan turun} apo {dari} tou patros t么n ph么t么n {Bapa dari Terang} par {pada} h么 {Dia} ouk eni {tidak ada} parallag锚 {perubahan} 锚 {atau} trop锚s {karena perputaran} aposkiasma {bayangan}
      Ha-Berit,
      讻ָּ诇־诪ַ转ָּ转 讟讜ֹ讘ָ讛 讜ְ讻ָ诇־诪ַ转ָּ谞ָ讛 砖ְׁ诇ֵ诪ָ讛 转ֵּ专ֵ讚 诪ִ诪ַּ注ַ诇 诪ֵ讗ֵ转 讗ֲ讘ִ讬 讛ָ讗讜ֹ专讜ֹ转 讗ֲ砖ֶׁ专 讞ִ诇ּ讜ּ祝 讜ְ讻ָ诇־爪ֵ诇 砖ִׁ谞ּ讜ּ讬 讗ֵ讬谉־注ִ诪ּ讜ֹ׃
      Translit interlinear, KOL {semua} MATAT TOVAH {pemberian yang baik} VEKOL-MATANAH {dan setiap karunia} SHELEMAH {yang sempurna} TERED {dia turun} MIMA'AL {dari atas} ME'ET AVI {dari Bapa dari} HA'OROT {Terang} 'ASHER {yang} KHILUF {perubahan} VEKOL-TSEL {dari seluruh image/ bayangan} SHINU {berubah} 'EIN-IMO {tidak di dalamnya}

    Dengan demikian: Benarkah kata "蠁蠅蟽蠁慰蟻慰蟼 – ph么sphoros", yang diterjemahkan oleh St. Jerome harus diterjemahkan sebagai "Iblis" saja? Tentu tidak bisa! Kita harus melihat konteks, kalaupun diartikan "nama Iblis" itu hanya "sebatas produk penafsiran", dan tidak semua penafsir setuju dengan penafsiran itu.

    Kita bersama telah mengetahui bahwa istilah nama "Lucifer" diterapkan kepada sosok Iblis/ Malaikat yang memberontak hanyalah produk tafsir saja. Orang Yahudi (kalangan Yudaisme) tidak menganggapnya demikian. Kata "HEYLEL" yang diterjemahkan 蔚蠅蟽蠁慰蟻慰蟼 - he么sphoros dalam LXX dan yang kemudian diterjemahkan "lucifer" oleh St. Jerome) dalam Yesaya 14:12 itu bukan iblis. Dan terbukti ada banyak orang Yahudi bernama yang diambil dari arti/kata 讛ֵ讬诇ֵ诇 - HEYLEL ini, kalau kata tsb bermakna "setan/ iblis", saya yakin tidak akan ada orang-tua yang akan menamakan anaknya seperti itu
(09042024)(Tus)(Lapangan Pancasila)

ISTILAH KRISTEN, NASRANI DAN PENGIKUT KRISTUS, SERIAL SUDUT PANDANG

ISTILAH KRISTEN, NASRANI DAN PENGIKUT KRISTUS, SERIAL SUDUT PANDANG

TAHUN MUNCULNYA ISTILAH
Istilah Kristen muncul pertama kali di kota Antiokia, 15 tahun setelah Tahun Penting atau tahun 30 CE, yakni tahun 45 CE.
Kisah Para Rasul 11:26 (TB)  "Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen".

Istilah Nasrani atau tepatnya Sekte Orang Nasrani muncul pertama kali di Yerusalem tahun 55 CE atau 25 tahun setelah Tahun Penting.
Kisah Para Rasul 24:5 (TB)  "Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani". 

Istilah Pengikut Kristus muncul pertama kali pada tahun kedua pelayanan Yesus Kristus dan dikatakan oleh Tuhan sendiri:
Markus 9:41 (TB)  "... Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."

Kedua kali disebutkan pada tahun 54 CE dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus:
1 Korintus 11:1 (TB)  "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus". 

HAKEKAT ISTILAH:
Kedua istilah yang pertama yaitu Kristen dan Nasrani mengarah atau menunjuk pada istilah ketiga yaitu Pengikut Kristus.

Orang Yunani menyebut Pengikut Kristus dengan nama Kristen.

Orang Yudea menyebut Pengikut Kristus dengan nama Sekte Orang Nasrani. Disebut "sekte" sebab saat itu di Yudea telah ada 4 sekte lainnya, yaitu: Farisi, Saduki, Eseni dan Zelot (Filsafat Keempat yakni sekte perjuangan/pembebasan).

Di antara 12 murid Kristus, yang termasuk dalam sekte Zelot adalah Simon, yang termasuk dalam sekte Saduki adalah Yudas bin Yakobus. Rasul Paulus keturunan dari orang sekte Farisi.

IMPLIKASI SAAT INI:
Istilah Kristen lebih mengemuka dan telah menjadi Agama atau Lembaga sejak abad ke-3 CE.
Sehingga istilah Kristen ini cenderung menjadi sekuler.
Sehingga para pengikut Kristus yang mengikutiNya secara tersembunyi tidak menyatakan diri mereka sebagai orang Kristen tetapi sebagai Pengikut Kristus.

Jadi saat ini berlaku diagram berikut: "Tidak semua orang Kristen adalah Pengikut Kristus dan tidak semua Pengikut Kristus adalah orang Kristen".

Seorang Pengikut Kristus terlihat dari hatinya yang terarah pada Kristus, karena pada dirinya menggenapkan perkataan Kristus:
 "...Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." Yoh 7:38 (TB).

Sedangkan sebagian orang Kristen telah menjadi seperti perkataan Kristus kepada ahli Taurat dan orang Farisi:

"... Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." Mat 15:8-9 (TB).

Inilah fakta yang terjadi, dan pada akhirnya: 
"... sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu". 1 Kor 3:13 (TB)  

Ket Gambar:
Sadrakh, Mesakh dan Abednego dalam perapian yang menyala-nyala.

Sumber gambar: REC
(09042024)(Tus)(Lapangan Pancasila)

Tekufah Hassanah, Serial Sudut Pandang

Tekufah Hassanah, Serial Sudut Pandang

Keluaran 34:22 (TB)  Hari raya Tujuh Minggu, yakni hari raya buah bungaran dari penuaian gandum, haruslah kaurayakan, juga hari raya pengumpulan hasil pada pergantian tahun. 

Pergantian Tahun dalam ayat di atas dalam bahasa Ibrani adalah Tekufah Hassanah, tanggalnya disebut Tekufot.

Untuk melihat apa itu Tekufot-nya, maka pada tanggal 21 Juni 2022 pukul 16.13 WIB saudara akan mengetahuinya, di saat matahari terbit atau tenggelam dalam 3 hari berturut-turut, mulai tanggal 20 pagi/sore.

Artinya, bahwa pada saat itu terjadi "perhentian" gerak matahari di bulan Juni atau disebut Solstice June atau Summer Solstice.

Matahari dari arah Selatan "berhenti" di titik Utara dan kembali ke arah Selatan lagi.

Inilah yang dimaksud sebagai "Pergantian Tahun" terjemahan tepatnya adalah "Pergantian Musim atau Peralihan Arah".

Disebut juga Titik Balik Utara, ini merupakan saat terpenting bagi perhitungan Kalender Ibrani Kuno untuk menentukan perlunya tambahan bulan Adar Sheni (Ibrani) atau Addaru Arku (Akkadian/Babel), sebagai bulan ke-13 dari sistem kalender Lunisolar yakni Kalender Ibrani Kuno.

Kalender Ibrani Kuno digunakan terus sampai Bait Suci II dihancurkan. Setelah itu "Terjadi Perubahan Waktu" sebagaimana dinubuatkan oleh Daniel:

Daniel 7:25 (TB)  Ia akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi; ia berusaha untuk mengubah waktu dan hukum, dan mereka akan diserahkan ke dalam tangannya selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.  

Pada akhirnya, saat ini kita menggunakan Kalender Ibrani Palsu, yang mana perhitungan 1 Nisan/Abib tidak lagi berawal dari Tekufah Hassanah, tetapi dari Vernal Equinox atau Equinox March.
(09042024)(Tus)(Lap Pancasila)

KAPAN YESUS DISALIBKAN? PERKARA TANGGAL, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Paska

KAPAN YESUS DISALIBKAN? PERKARA TANGGAL, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Sudut Pandang

MOHON UNTUK TIDAK COPY PASTE TANPA MENYEBUT SUMBER DAN PENULISNYA

PENGANTAR
Pertanyaan ini telah dijawab oleh para pakar sejarah Alkitab, terutama para kronologist.

Jawaban mereka bervariasi, sehingga menimbulkan kebingungan: manakah yang akurat?

Di sini saya menguraikan proses untuk mendapatkan penanggalan yang  akurat.

PERTAMA
Kita harus menyediakan Kalender Ibrani Proleptik. Kalender Ibrani Proleptik yang beredar baik dengan Aplikasi maupun KALKULASI, dibedakan pada  2 acuan dasar perhitungaan:

1. Tanggal 14 Abib/Nisan jatuh setelah Vernal Equinox (Titik balik matahari saat berada di garis  katulistiwa pada bulan Maret)
2. Tanggal 1 Abib/Nisan jatuh setelah Vernal Equinox.

(Proleptik adalah sistem penangggalan yang dibuat untuk  ektrapolasi ke masa lalu dari sebuah kalender. 
Contoh:
Kalender Gregorian yang kita pakai sekarang dimulai sejak 15 Oktober 1582. Apabila suatu penanggalan dicari sebelum tanggal 4 Oktober 1582 (tidak ada tgl 5 sd 14 Oktober 1582 dlm sejarah dunia), maka harus dibuat KALENDER PROLEPTIKnya).

Acuan 1 dipraktekkan oleh kaum Rabinik saat ini yang dimulai sejak abad kedua Masehi. Hampir semua Kalender Ibrani Proleptik berdasarkan Acuan 1. Para kronologist hampir semuanya memakai acuan 1.

Setelah melalui berbagai pengujian ternyata  Kronologi Alkitab memakai Acuan 2. Penguji yang utama adalah dalam Papirus Elephantine. Di mana Kalender Ibrani Proleptik disinggungkan dengan Kalender Mesir Proleptik. Saya telah mengkomputasi ketiga sistem kalender tersebut, perhitungannya sangat² rumit.

Catatan: penanggalan dlm bahasan ini menggunakan Kalender Proleptik Gregorian dan bukan Kalender Julian.

KEDUA
Kita harus mencari referensi yang menjadi acuan dalam menghitung penanggalan untuk menjawab pertanyaan utama. Ada beberapa petunjuk dalam Alkitab yang menyebutkan keterangan waktu. Disebutkan  dalam daftar yang telah dikronologikan berdasarkan Kitab Harmonisasi 4 Injil yang saya susun:

Hari Kesatu:
Matius 26:17 (TB)  Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" (Sinopsis Mark 14:12).

Hari kedua:
A. Matius 26:20 (TB)  Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. 
B. Dari Getsemani sd di Salib
C. Markus 15:42 (TB)  Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat. 

Hari Ketiga:
Matius 27:62 (TB)  Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus

Hari Keempat:
A. Markus 16:1 (TB)  Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.
B. Matius 28:1 (TB)  Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.

Catatan: ingat bahwa Hari Ibrani dimulai  sejak matahari terbenam.

KETIGA
Kita harus melihat referensi PL mengenai waktu pelaksanaan hari raya, secara khusus untuk Hari Raya Roti Tidak Beragi.

Imamat 23:6 (TB)  Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi TUHAN; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi.  

KEEMPAT
Kita harus menyusun keterangan waktu yang diperoleh dalam Diktum Kedua dan Ketiga agar sesuai dengan format Kalender Ibrani Proleptik. Dan hasilnya adalah:

Hari Kesatu: 15 Nisan
Hari Kedua: 16 Nisan
Hari Ketiga: 17 Nisan
Hari Keempat: 18 Nisan

Selain itu, kita juga memperoleh keterangan bahwa:

Hari Ke2: Hari Persiapan
Hari Ke3: Hari Sabat
Hari Ke4: Hari Pertama

Catatan: Mengenai hari Persiapan, sangat jelas disebutkan dalam Didakhe sebagai hari keenam dan bukan hari persiapan Paskah. Pada hari ini adalah hari kedua Hari Raya Roti Tidak Beragi 16 Nisan, jadi tidak cocok disebut hari persiapan Paskah.

KELIMA
Saya telah meneliti bahwa tidak ada pergeseran hari dalam 3000 tahun.
Konstantinus mengadopsi sistem hari Ibrani namun sistem hari miliknya dimulai agak terlambat 6 jam yaitu pada tengah malam. 
Jadi, hari Sabat dimulai pada hari Jumat petang dan berakhir hari Sabtu petang. 
Sistem Hari seperti ini dalam Alkitab HANYA disebutkan dalam:

Yohanes 20:19 (TB)  Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"

Catatan: ini dinamakan Sistem Hari Romawi.

KEENAM
Dari Diktum Keempat kita telah memperoleh titik penting yang disebut JANGKAR KRONOLOGI.
Yaitu titik persinggungan dari dua sistem kalender: Kalender Ibrani Proleptik dan Kalender Gregorian Proleptik.

16 Nisan/Abib = Hari Persiapan
17 Nisan = Hari Sabat
18 Nisan = Hari Pertama

Diulang jelaskan:
Hari Persiapan = hari Kamis petang sd hari Jumat petang.
Hari Sabat = hari Jumat petang sd hari Sabtu petang.
Hari Pertama = hari Sabtu petang sd hari Minggu petang.

KETUJUH
Selanjutnya kita mencari titik singgung dari dua sistem kalender dengan berpatokan pada jangkar kronologi di atas, maka diperoleh Kalender Ibrani Proleptik seperti gambar dan angka subscript adalah Kalender Gregorian Proleptik.

Memang ada juga titik singgung yang lainnya, tetapi itu tidak memenuhi hipotesis yang rumit. Di sini saya menyingkat bahasannya.

KESIMPULAN
Tanggal Penyaliban Yesus bertepatan dengan:

Hari Persiapan (Shishi), 16 Nisan/Abib ~ Hari Jumat, 5 April 30 CE/M

Keterangan Gambar:
1. Kalender Ibrani Proleptik (dan Kal. Greg. Prol. angka kecil).
2. Screenshot aplikasi playstore: Converter Calender. Kebetulan bertepatan dengan hasil perhitungan.
(09042024)(TUS)(Cepogo)(STT BAPTIS INJILI)

Sabtu, 06 April 2024

Serial Sudut Pandang, Kiai Wirjo

Serial Sudut Pandang, Kiai Wirjo

Agama Kristen sulit diterima di Indonesia, karena “kecelakaan” sejarah. Kristen mendapat stigma sebagai agama penjajah Barat, padahal Kristen lahir di Tanah Palestina. Suasana kebarat-baratan membuat orang menjaga jarak. Belum lagi dewasa ini para pendeta seleb menyebut diri dengan “Pastor”, karena istilah pendeta dianggap tidak alkitabiah, merujuk agama Hindu.

Gereja di Indonesia memang penuh tantangan. Di satu sisi Gereja melakukan kontekstualisasi dalam rangka pengakaran jatidiri, menjadi Kristen yang sungguh-sungguh Kristen dan sekaligus sungguh-sungguh orang Indonesia, di sisi lain sekelompok Kristen fundamentalis menolak jatidiri Indonesia.

Kita sering mendengar pendeta-pendeta seleb dari kalangan fundamentalis mendaku sudah menobatkan ribuan orang lewat KKR. Sebenarnya mereka itu menobatkan dari apa? Yang terjadi sebenarnya para pendeta itu menuai kemakmuran dan kemewahan dari orang-orang Kristen yang adalah anak-cucu dari orang-orang Kristen hasil penginjilan para penginjil legendaris di Nusantara. Para penginjil memertaruhkan seluruh hidupnya untuk membumikan Injil di bumi pertiwi.

Satu dari banyak penginjil legendaris itu adalah Kiai Pendhita Wirjo atau Pdt. Samidjo Wirjotenojo. Beliau adalah pribumi kedua yang dipanggil oleh Zending der Gereformeerde Kerken in Nederland (ZGKN) untuk menjadi pendeta. ZGKN sekarang bernama Gereja Kristen Jawa (GKJ). Pribumi pertama adalah Pdt. Ponadi Sopater, ayah Pdt. Sularso Sopater (mantan Ketum PGI).

Kiai Wirjo tidak ujug-ujug menjadi pendeta. Ketika ia masih remaja, ia menjadi pasien Petronella Hospitaal (sekarang RS Bethesda). Kecerdasannya ditangkap oleh dr. J. G. Scheurer. Oleh direktur RS ini, Wirjo kecil dikirim bersekolah Eerste Afdeeling Keucheusschool, milik Zending di Yogya. Sesudah tamat ia diberi pekerjaan sebagai guru bantu di sekolah milik Zending. Tak lama dari itu ia melanjutkan sekolah di Tweede Afdeeling Keucheusschool untuk dipersiapkan menjadi Guru Injil (GI). GI merupakan jabatan setingkat di bawah pendeta.

Penugasan pertama Guru Wirjo di Purworejo pada 1922. Setahun kemudian ia bertugas di Desa Tlepok, yang waktu itu masuk ke dalam Onderdistrict Grabag, Regensi Kutoarjo, Residensi Purworejo,  sebagai guru sekolah sekaligus Guru Injil. Di Tlepok sudah ada warga Kristen yang sebagian berasal dari penginjilan Kiai Sadrach. Desa Tlepok bukanlah tempat yang damai. Desa dikuasai oleh gangster lokal.

Guru Siswowijogo, senior Guru Wirjo, memberi kiat kepada Guru Wirjo sehabis gajian agar membeli gula-teh untuk diberikan kepada pentolan preman. Tujuannya agar para preman tidak mengusik Guru Wirjo. “Kok kecil banget? Cumak gula-teh?” tanggap Guru Wirjo, “Saya akan berikan yang lebih besar lagi yaitu Injil Kristus.”

Ada dua isu menjelang kedatangan Guru Wirjo ke Desa Tlepok. Pertama,isu kiamat yang membuat penduduk desa sangat resah. Kedua, sudah beredar slentingan akan datang guru yang lebih hebat daripada guru sebelumnya.

Akibat isu kiamat para preman limbung. Mau bergabung berzikir ke mesjid, mereka canggung. Tidak ada pilihan selain meminta penerangan dari Guru Wirjo. Para pentolan preman dan anak buah mereka bergantian mendatangi rumah Guru Wirjo minta petuah. Singkat cerita para preman bertobat dan meninggalkan cara hidup lama mereka. Desa lambat laun menjadi tenteram.

Kisah hidup dan model penginjilan ala Kiai Wirjo termasuk ditangkap dan dipenjara oleh tentara Jepang dapat dibaca dalam buku “Kyai Pendhita Den Bei Wirjo” yang disusun oleh Sigit Heru Sukotjo. Saya membelinya di toko buku TPK, Yogya, lewat daring seharga Rp15.000 saja. Ada banyak kisah menarik dan unik dalam penginjilannya. Misal, ada satu warga jemaat Tlepok bernama Haji Notosuroso, yang kalau pergi ke gereja tetap mengenakan udheng-kaji-nya. Itu hasil penginjilan dari Kiai Wirjo yang nguwongk茅 alias memanusiakan manusia, yang tidak mencerabut akar jatidirinya.

Dalam beberapa kesempatan saya mengambil contoh keberanian Pdt. Brotosemedi dalam menyampaikan suara kenabian kepada Pemerintah Orba pimpinan Presiden Diktator Soeharto. Nyawanya nyaris melayang karena masuk dalam daftar bunuh. Ternyata Pdt. Brotosemedi adalah anak kandung Kiai Wirjo. Pantas saja.

 (05102021)(T)

SERIAL SUDUT PANDANG, 饾棤饾棷饾棶饾椀 饾棔饾椏饾椉饾榿饾椉: 饾棧饾棽饾椈饾棻饾棽饾榿饾棶 饾棧饾棗饾棞 饾棻饾棶饾椈 饾棧饾棗饾棞饾棧

SERIAL SUDUT PANDANG, 饾棤饾棷饾棶饾椀 饾棔饾椏饾椉饾榿饾椉: 饾棧饾棽饾椈饾棻饾棽饾榿饾棶 饾棧饾棗饾棞 饾棻饾棶饾椈 饾棧饾棗饾棞饾棧

Pengantar
Tulisan ini wujud ungkap syukur karena pernah merasakan diwulang oleh alm eyang Brotosemedi di teras rumahnya, di tahun 2000, ketika menjadi majelis pertama kali dan termuda di Klasis Salatiga waktu itu. Dimana saya yg bodoh hanya plonga plongo di Wulang Mbah Broto karena gak ngerti apa itu teologi. Yang ada hanyalah manggut-manggut sok paham pdhl tak mengerti sama sekali. Di tambah kurang lebih 8 bulan setiap Sabtu ada di teras rumah Mbah Broto makin pusiang begawannya GKJ Salib Pdt Waluyo Sejati ikut nimbrung, nambah begawan-begawan GKJ SIDOMUKTI pada nimbrung seperti Mbah Soemardi dan Mbah Prabawa, pecah ini kelapa .... Eh ... Kepala. Ibarat kata orang Jawa, seakan Mbah Brotosemedi itu weruh sak durunging winarah, tahu sebelum kejadian, karena pada akhirnya setelah sekian puluh tahun di depannya, saya menekuni teologis

Secuil Sudut Pandang tentang Pdt Brotosemedi

Pada 1980-an Pdt. Brotosemedi Wirjotenojo alias Mbah Broto melayangkan surat kepada Presiden Soeharto mengecam aksi petrus (penembakan misterius) yang kemudian menjadi matius (mati misterius). Mbah Broto juga memberi kuliah tentang HAM kepada Presiden Soeharto. Dalam penutup surat Mbah Broto menulis “饾槕饾槩饾槬饾槳饾槵饾槩饾槸 饾槾饾槩饾樅饾槩, 饾槈饾槼饾槹饾樀饾槹, 饾槾饾槮饾槪饾槩饾槰饾槩饾槳 饾槵饾槹饾槼饾槪饾槩饾槸 饾樀饾槮饾槼饾槩饾槵饾槱饾槳饾槼, 饾槾饾槮饾槾饾樁饾槬饾槩饾槱 饾槳饾樀饾樁 饾槾饾樀饾槹饾槺 饾槺饾槮饾槷饾槪饾樁饾槸饾樁饾槱饾槩饾槸”. 

Pada masa kini orang dengan mudah dan enteng mengecam (bahkan menghina) Presiden Jokowi tanpa takut dituntut hukum, apalagi dibunuh. Pada masa Orde Baru siapa yang berani mengecam Presiden Soeharto? Tentu ada dan pada umumnya orang-orang itu lenyap atau paling ringan mereka mati karir. Adakah pendeta yang berani mengecam Presiden Soeharto? Saya tidak tahu ada berapa, tetapi yang saya tahu dan melegenda adalah Mbah Broto. Anda yang hidup di masa Orba sudah pasti bisa membayangkan teror yang melanda Mbah Broto dan keluarganya sesudah menyurati Presiden Soeharto.

Soeharto bukanlah presiden pertama yang disurati oleh Mbah Broto. Hanya beberapa saat ia ditahbiskan menjadi pendeta jemaat miskin GKJ Gombong (1962), Mbah Broto menyurati Presiden Soekarno. Mbah Broto adalah segelintir calon pendeta yang menyandang gelar sarjana penuh. Apalagi ia tamat dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STTJ) dengan predikat 饾槫饾樁饾槷 饾槶饾槩饾樁饾槬饾槮 pada 1961. Ia sebenarnya bisa memilih menjadi pendeta GKJ Kebumen yang lebih besar, tetapi ia memilih jemaat miskin di Gombong. “Belajar melayani harus dimula dari yang kecil,” kata Mbah Broto yang lahir di Purworejo, 30 Oktober 1930.

Bangunan gereja GKJ Gombong terletak di Desa Wero yang sangat sedehana dengan dinding bambu atau 饾槰饾槮饾槬饾槱饾槮̀饾槰. Mbah Broto kemudian mengaji harta benda jemaat. Ia melihat gedung SMP Negeri 2 Gombong berikut rumah tinggal kepala sekolah berada di atas lahan itu adalah milik 饾槨饾槮饾槸饾槬饾槳饾槸饾槰 Sektor Kebumen. Ia menyurati Presiden Soekarno untuk meminta harta gereja yang dikuasai negara dikembalikan ke gereja. Permintaan Mbah Broto diluluskan oleh Presiden Soekarno.

Berpegang erat pada prinsip memang sudah terlihat sebelum Mbah Broto ditahbiskan menjadi pendeta. Ia menolak mengenakan toga pendeta saat penahbisan. Alasannya, toga adalah simbol pengajar, gurubesar. Pengajar hidupnya tidak boleh tercela. Ia melihat ada pendeta yang tak bermoral masih mengenakan toga. Menurut Mbah Broto pendeta itu tak pantas lagi bertoga. Tentu saja alasan ini tidak disampaikannya ke Jemaat Gombong. Di hadapan jemaat yang bersahaja Mbah Broto berseloroh, “Saya ini orangnya pendek, nanti kayak 饾槵饾槮饾樀饾槮̀饾槵 饾槵饾槩饾槬饾槱饾槮饾槷饾槮饾槸.” (饾槵饾槮饾樀饾槮̀饾槵 饾槵饾槩饾槬饾槱饾槮饾槷饾槮饾槸 饾槪饾槩饾槾饾槩 饾槷饾槈饾槩饾樀饾槩饾槵饾槸饾樅饾槩 饾槪饾槹饾槬饾槩饾樀 饾槸饾槩饾槸饾槰饾槩饾槶饾槳饾槩饾槸).

Untuk membangun Jemaat yang tangguh dan saling mengasihi Mbah Broto melawat warga jemaat sampai empat kunjungan per pekan. Selesai perlawatan tak canggung Mbah Broto memeluk simbah-simbah (lansia) sehingga hati mereka terbombong, berbunga-bunga, penuh sukacita karena merasa dimanusiakan.

Menjadi pendeta bukanlah cita-citanya. Mbah Broto adalah anak ke-7 dari 11 bersaudara. Ayahnya adalah Pdt. Samidjo Wirjotenojo alias Kiai Wirjo, pendeta pertama GKJ Kutoarjo. Peraturan ketat di rumah Kiai Wirjo untuk anak-anaknya adalah pada siang hari wajib berbahasa Jawa 饾槵饾槼饾槩饾槷饾槩 饾槳饾槸饾槰饾槰饾槳饾槶, sedang pada malam hari berbahasa Belanda. Sejak kecil Mbah Broto sudah fasih berbahasa Belanda standar. Buku-buku filsafat berbahasa Belanda milik ayahnya dilalap habis. 

Sesudah Indonesia merdeka Mbah Broto menjadi mahasiswa Jurusan Filsafat pada Fakultas Sastra, Pedagogi, dan Filsafat UGM. Di tengah perjalanan menggapai sarjana filsafat ibundanya sakit dan dirawat di RS Bethesda. Pada masa kecil Mbah Broto dikenal sebagai “anak mami”. Kini saatnya ia membalas menyuapi ibundanya di RS. Dalam masa perawatan itu ibundanya 饾槫饾樁饾槼饾槱饾槩饾樀 kepada Broto mosok ada 11 anak satu pun tidak ada yang menjadi pendeta seperti ayahnya. Ibundanya dengan sangat berharap Broto menjadi pendeta.

Tidak seperti mahasiswa teologi atau calon pendeta pada umumnya yang merohani-rohanikan alasan menjadi pendeta dengan “panggilan dari Tuhan” atau “melayani Tuhan”, Mbah Broto mengakui bahwa ia menjadi pendeta karena 饾槷饾槩饾槸饾樁饾樀 饾槵饾槮饾槼饾槾饾槩饾槸饾槮́ 饾槪饾槳饾樅饾樁饾槸饾槰, menuruti kehendak ibunda. Ia pun meninggalkan bangku kuliah di UGM dan mendaftar ke Akademi Teologi Yogyakarta (ATY, cikal bakal STT DW dan UKDW). Patut dicatat, meski tak tamat dari UGM, menurut AD/ART Kagama Bab 5 pasal 9 ayat 3 Mbah Broto memenuhi syarat anggota Kagama atau alumnus UGM.

ATY kala itu masih menerima ijazah SMP sehingga pengurus ATY memandang Mbah Broto 饾槹饾樂饾槮饾槼-饾槻饾樁饾槩饾槶饾槳饾槯饾槳饾槮饾槬. Oleh pengurus ATY Mbah Broto dikirim ke STTJ pada 1956. Di STTJ Mbah Broto dikenal sebagai perpustakaan berjalan. Setiap ada tugas dosen untuk membaca buku teks berbahasa asing, terutama bahasa Belanda dan Jerman, Mbah Broto yang membaca buku itu kemudian ia menceritakan isi buku itu kepada teman-temannya. Tidaklah mengherankan ia tamat dari STTJ berpredikat dengan pujian atau 饾槫饾樁饾槷 饾槶饾槩饾樁饾槬饾槮 pada 1961.

Kekuatan penggembalaan di Jemaat Gombong terdengar oleh pengurus STT DW Yogyakarta (sekarang UKDW) dan UKSW Salatiga. Menurut mereka potensi besar Mbah Broto tidak boleh berhenti di Gombong, tetapi ia juga harus mencetak banyak pendeta mumpuni. Oleh STT DW Mbah Broto diminta untuk memerkuat jajaran dosen, sedang UKSW memintanya mendirikan fakultas teologi. Pada akhirnya Mbah Broto memilih Salatiga.

Kekuatan Mbah Broto di dogmatika. Sejak 1972 ia hendak mereformasi dogma GKJ warisan kolonial yang tidak lagi kontekstual. Buah pikirannya dituangkan dalam 饾槬饾槼饾槩饾槯饾樀 disertasinya di Vrije Universiteit di bawah bimbingan teolog besar Belanda Prof. Johannes Verkuyl. Dari Indonesia ditunjuk raksasa dogmatikus Indonesia yang juga pendeta GKJ Prof. Soedarmo sebagai pembimbing Mbah Broto. Tentu saja disertasi Mbah Broto ini menantang dogma lama GKJ yang dipegang erat oleh Prof. Soedarmo dan dogmatikus besar GKJ lainnya, Dr. Harun Hadiwijono.

Prof. Soedarmo selalu menolak disertasi Mbah Broto. Beliau menyarankan Mbah Broto untuk mengajukan pergantian pembimbing. Tentu saja mbah Broto tidak mau melukai seniornya dan memilih membatalkan raihan doktornya dari universitas ternama di Belanda itu. Menyusul pembatalan itu Prof. Verkuyl sangat menyayangkan dan menulis surat kepada Fakultas Teologi UKSW mengakui baru pertama kali itu ia memiliki mahasiswa program doktor cerdas sekali dari Asia.

Mbah Broto tidak berhenti menyampaikan buah pikirannya dalam kuliah-kuliah dan seminar-seminar. Hal itu berakibat berembus isu tak sedap bahwa Mbah Broto mewartakan ajaran sesat. Ditambah kasus surat pastoral kepada Presiden Soeharto di atas Mbah Broto tidak lagi dilibatkan dalam jabatan struktural dan kegiatan sinodal GKJ. Dalam pada itu gereja-gereja Belanda dan Australia memuji GKJ yang mengecam pelanggaran HAM oleh Presiden Soeharto yang membunuhi para “gali” atau preman tanpa proses hukum. Padahal saat itu GKJ ketakutan dan menyatakan bahwa itu pendapat pribadi Mbah Broto.

Mbah Broto menyadari bahwa jabatan pendeta membuatnya menjadi sasaran tembak banyak orang. Ia selalu mengingat pesan Kiai Wirjo pada saat penahbisannya (1962): “饾槈饾槼饾槹饾樀饾槹, 饾槹饾槼饾槩饾槸饾槰 饾樅饾槩饾槸饾槰 饾槬饾槳饾樀饾槩饾槱饾槪饾槳饾槾饾槵饾槩饾槸 饾槷饾槮饾槸饾槴饾槩饾槬饾槳 饾槺饾槮饾槸饾槬饾槮饾樀饾槩 饾槳饾樀饾樁 饾槾饾槮饾槺饾槮饾槼饾樀饾槳 饾槷饾槮饾槷饾槩饾槸饾槴饾槩饾樀 饾槺饾槹饾槱饾槹饾槸 饾槵饾槮饾槶饾槩饾槺饾槩. 饾槢饾槳饾槸饾槰饾槰饾槳 饾樀饾槩饾槵 饾槪饾槮饾槼饾槫饾槩饾槪饾槩饾槸饾槰. 饾槖饾槩饾槷饾樁 饾槱饾槩饾槼饾樁饾槾 饾槱饾槩饾樀饾槳-饾槱饾槩饾樀饾槳. 饾槖饾槩饾槶饾槩饾樁 饾樀饾槳饾槬饾槩饾槵, 饾槵饾槩饾槷饾樁 饾槪饾槩饾槵饾槩饾槶饾槩饾槸 饾樀饾槮饾槼饾槺饾槮饾槼饾槹饾槾饾槹饾樀 饾槬饾槩饾槸 饾樀饾槳饾槬饾槩饾槵 饾槪饾槳饾槾饾槩 饾槷饾槮饾槷饾槩饾槸饾槴饾槩饾樀 饾槶饾槩饾槰饾槳. 饾槜饾槮饾槸饾槬饾槮饾樀饾槩 饾槳饾樀饾樁 饾槴饾樁饾槰饾槩 饾槾饾槮饾槺饾槮饾槼饾樀饾槳 饾槹饾槼饾槩饾槸饾槰 饾槬饾樁饾槬饾樁饾槵 饾槬饾槳 饾槵饾樁饾槼饾槾饾槳 饾樀饾槳饾槸饾槰饾槰饾槳. 饾槡饾槮饾槷饾樁饾槩 饾槹饾槼饾槩饾槸饾槰 饾槪饾槳饾槾饾槩 饾槷饾槮饾槶饾槳饾槱饾槩饾樀 饾樀饾槳饾槸饾槰饾槵饾槩饾槱 饾槶饾槩饾槵饾樁饾槷饾樁. 饾槈饾槮饾槼饾槱饾槩饾樀饾槳-饾槱饾槩饾樀饾槳饾槶饾槩饾槱 饾槷饾槮饾槸饾槴饾槩饾槬饾槳 饾槺饾槮饾槸饾槬饾槮饾樀饾槩.”

Pada 1985 Pemerintah Orba mengeluarkan UU No. 8 tentang Pancasila sebagai asas tunggal organisasi kemasyarakatan. Gereja pun tak luput masuk ke dalam ormas sehingga wajib juga menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Lagi-lagi Mbah Broto menentangnya. Satu-satunya asas Gereja adalah Yesus Kristus, kata Mbah Broto merujuk 1Korintus 3:11. Mbah Broto mengecam gereja untuk tidak bersilat lidah. Katakan ya jika ya, katakan tidak jika tidak.

Pada 1991 Prof. Soedarmo meninggal dunia menyusul Dr. Harun (1985). GKJ tak memiliki lagi dogmatikus. Kepada siapa lagi GKJ minta tolong merumuskan Pokok-Pokok Ajaran GKJ (PPA GKJ)? Siapa lagi kalau bukan kepada Pdt. Brotosemedi. Pada 1993 Mbah Broto mula dilibatkan lagi dalam kegiatan sinodal untuk menyusun PPA GKJ. Meskipun demikian GKJ sangat berhati-hati dalam melibatkannya karena Orde Baru masih berkuasa. Dengan perdebatan mendalam dan memakan waktu panjang pada akhirnya buah pikiran Pdt. Brotosemedi menjadi PPA GKJ secara resmi diterima oleh Sinode GKJ pada 1996 menggusur dogma usang peninggalan kolonial. 

Pdt. Brotosemedi tidak pernah mendaku PPA GKJ 1996 sebagai kemenangannya. Namun dalam seminar tentang PPA GKJ (2000) Pdt. P. Pudjaprijatma mengatakan, “Tidak ada yang bisa mengalahkan Mbah Broto!”

Mbah Broto yang memegang teguh prinsip, disiplin, terlihat angker, dan mendapat julukan pendeta 饾槸饾樅饾槮饾槸饾樀饾槼饾槳饾槵, sebenarnya sosok humoris. Dalam satu seminar sesudah keruntuhan Rezim Orba ia mengatakan, “Dulu saya orang PDI, sekarang PDIP.” Para pendengar 饾槫饾槶饾槳饾槸饾槰饾槩饾槵-饾槫饾槶饾槳饾槸饾槰饾樁饾槵 menduga-duga Mbah Broto adalah anggota parpol. Tak lama kemudian, “Dulu saya orang PDI, pengurangan daya ingat,” kata Mbah Broto, “sekarang PDIP, pengurangan daya ingat parah.”

Penutup
Sampai sekarang belum ada pejabat gerejawi yang menyamai keberanian Pdt. Brotosemedi dalam menyuarakan kenabian. Ia satu-satunya pendeta yang menulis surat kepada Presiden Soeharto untuk menghentikan penembakan misterius dan menguliahi Presiden Soeharto soal HAM. Risikonya adalah dikarungi dan beliau sudah siap. Pada penutup surat ia menyatakan siap menjadi korban terakhir pembunuhan misterius.

Pada era reformasi setiap orang bebas mengecam Pemerintah tanpa ancaman pembunuhan. Pejabat gerejawi juga ikut-ikutan ganjen mengecam. Nggak apa-apa sih selama kecaman itu tepat kepada Pemerintah yang zalim seperti era Orde Baru. Yang sering terjadi adalah “kecaman” karena ia berpolitik praktis, berkampanye untuk capres atau parpol tertentu. Pejabat gerejawi yang sudah masuk politik praktis partisan ya sama saja dengan politikus. Ia bisa sama-sama busuk. Nggak usah beralasan ia sudah selesai dengan diri sendiri. Pret banget!



(20032022)(T)

Jumat, 05 April 2024

SUDUT PANDANG YOHANES 20: 19 - 31, 饾棞饾椇饾棶饾椈 饾椉饾榿饾棽饾椈饾榿饾椂饾椄



SUDUT PANDANG YOHANES 20: 19 - 31, 饾棞饾椇饾棶饾椈 饾椉饾榿饾棽饾椈饾榿饾椂饾椄

Minggu lalu umat Kristen merayakan Paska, Hari Kebangkitan Kristus, dengan penuh sukacita. Gereja menampung kegembiraan ini dalam masa raya Paska cukup panjang sampai puncaknya pada hari ke-50 yang kita kenal dengan Hari Pentakosta.

Bacaan Minggu lalu di bagian penutup Injil Markus menantang kita untuk menjawab ajakan Yesus untuk menyusul-Nya ke “Galilea”. Bacaan Minggu ini memberikan cara pandang yang berbeda dari penulis Injil Markus.

Setiap Injil ditulis diperuntukkan menjawab kegalauan jemaat masing-masing penulis Injil. Kegalauan mengapa Yesus Sang Mesias harus mati. Kita, umat Kristen saat ini, beruntung dapat membaca sekaligus keempat Kitab Injil sehingga kita dapat membandingkan pelbagai pergumulan di dalam jemaat mula-mula. Dari sini kita juga tahu bahwa ada banyak pendapat tentang Yesus sehingga memerkaya gizi iman kita.

Hari ini adalah Minggu kedua masa raya Paska. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Yohanes 20:19-31 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 4:32-35, Mazmur 133, dan 1Yohanes 1:1-2:2.

Bacaan Injil untuk Minggu ini, Yohanes 20:19-31, mencakup tiga perikop yang oleh LAI diberi judul 饾槧饾槮饾槾饾樁饾槾 饾槷饾槮饾槸饾槩饾槷饾槺饾槩饾槵饾槵饾槩饾槸 饾槬饾槳饾槼饾槳 饾槵饾槮饾槺饾槩饾槬饾槩 饾槷饾樁饾槼饾槳饾槬-饾槷饾樁饾槼饾槳饾槬-饾槙饾樅饾槩 (ay. 19-23), 饾槧饾槮饾槾饾樁饾槾 饾槷饾槮饾槸饾槩饾槷饾槺饾槩饾槵饾槵饾槩饾槸 饾槬饾槳饾槼饾槳 饾槵饾槮饾槺饾槩饾槬饾槩 饾槢饾槹饾槷饾槩饾槾 (ay. 24-29), dan 饾様饾槩饾槵饾槾饾樁饾槬饾槸饾樅饾槩 饾槓饾槸饾槴饾槳饾槶 饾槳饾槸饾槳 饾槬饾槳饾槫饾槩饾樀饾槩饾樀 (ay. 30-31). Konteks bacaan adalah keseluruhan pasal 20 mengenai kebangkitan Yesus. Pasal 20 ini dapat dibagi ke dalam dua babak:

Babak pertama, Yohanes 20:1-18, menceritakan Yesus-Paska menampakkan diri kepada Maria Magdalena.  Babak kedua, Yohanes 20:19-29, mengisahkan Yesus-Paska menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dan Tomas yang kemudian ditutup dengan ayat 30-31 饾様饾槩饾槵饾槾饾樁饾槬饾槸饾樅饾槩 饾槓饾槸饾槴饾槳饾槶 饾槳饾槸饾槳 饾槬饾槳饾槫饾槩饾樀饾槩饾樀.

饾棳饾棽饾榾饾槀饾榾 饾椇饾棽饾椈饾棶饾椇饾椊饾棶饾椄饾椄饾棶饾椈 饾棻饾椂饾椏饾椂 饾椄饾棽饾椊饾棶饾棻饾棶 饾椇饾槀饾椏饾椂饾棻-饾椇饾槀饾椏饾椂饾棻-饾棥饾槅饾棶 饾棻饾棶饾椈 饾棫饾椉饾椇饾棶饾榾 (ay. 19-29)

Sebelum Yesus menampakkan diri, para murid berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci rapat. Mengapa dikunci rapat? Para murid dikatakan takut pada orang-orang Yahudi. Tentu ini sangat dipahami, karena beberapa hari sebelumnya Yesus, Pemimpin mereka, dihukum mati, disalib. Suasana horor ini membuat para murid ketakutan, jangan-jangan orang-orang Yahudi dan pasukan Romawi segera menangkap para pengikut dekat Yesus. 

Tiba-tiba Yesus-Paska menampakkan diri di hadapan mereka dalam tempat yang terkunci rapat itu dan berkata, “饾構饾槩饾槷饾槩饾槳 饾槾饾槮饾槴饾槩饾槱饾樀饾槮饾槼饾槩 饾槪饾槩饾槰饾槳 饾槵饾槩饾槷饾樁!”. Yesus kemudian menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Para murid sangat bersukacita ketika mereka melihat-Nya. Yesus berkata lagi, “饾構饾槩饾槷饾槩饾槳 饾槾饾槮饾槴饾槩饾槱饾樀饾槮饾槼饾槩 饾槪饾槩饾槰饾槳 饾槵饾槩饾槷饾樁. 饾槡饾槩饾槷饾槩 饾槾饾槮饾槺饾槮饾槼饾樀饾槳 饾槈饾槩饾槺饾槩 饾樀饾槮饾槶饾槩饾槱 饾槷饾槮饾槸饾槰饾樁饾樀饾樁饾槾 饾槇饾槵饾樁, 饾槬饾槮饾槷饾槳饾槵饾槳饾槩饾槸 饾槴饾樁饾槰饾槩 饾槾饾槮饾槵饾槩饾槼饾槩饾槸饾槰 饾槇饾槵饾樁 饾槷饾槮饾槸饾槰饾樁饾樀饾樁饾槾 饾槵饾槩饾槷饾樁. 饾槢饾槮饾槼饾槳饾槷饾槩饾槶饾槩饾槱 饾槞饾槹饾槱 饾槖饾樁饾槬饾樁饾槾. 饾槕饾槳饾槵饾槩 饾槵饾槩饾槷饾樁 饾槷饾槮饾槸饾槰饾槩饾槷饾槺饾樁饾槸饾槳 饾槬饾槹饾槾饾槩 饾槾饾槮饾槾饾槮饾槹饾槼饾槩饾槸饾槰, 饾槬饾槹饾槾饾槩 饾槹饾槼饾槩饾槸饾槰 饾槳饾樀饾樁 饾槬饾槳饾槩饾槷饾槺饾樁饾槸饾槳. 饾槕饾槳饾槵饾槩 饾槩饾槬饾槩 饾槹饾槼饾槩饾槸饾槰 饾樅饾槩饾槸饾槰  饾槬饾槹饾槾饾槩-饾槬饾槹饾槾饾槩饾槸饾樅饾槩 饾樀饾槳饾槬饾槩饾槵 饾槵饾槩饾槷饾樁 饾槩饾槷饾槺饾樁饾槸饾槳, 饾槬饾槹饾槾饾槩 饾槷饾槮饾槼饾槮饾槵饾槩 饾樀饾槳饾槬饾槩饾槵 饾槬饾槳饾槩饾槷饾槺饾樁饾槸饾槳.” Saat itu Tomas tidak ada.

Tomas diperikan sebagai seorang melankolis oleh penafsir Perjanjian Baru. Ia menyendiri murung terpisah dari para koleganya. Ketika para koleganya ditemui oleh Yesus-Paska, mereka menyampaikan berita ini kepada Tomas. Akan tetapi Tomas tidak percaya sebelum ia melihat bekas luka paku di tangan Yesus dan mencucukkan jarinya ke lambung Yesus bekas tusukan tombak tentara Romawi. 

Delapan hari kemudian Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan Ia menantang Tomas menyentuh luka-luka di tangan dan mencucukkan jari ke lambung bekas luka Yesus. Tomas bukannya menyentuh, melainkan langsung menjawab, “饾槚饾槱, 饾槢饾樁饾槱饾槩饾槸饾槵饾樁 饾槬饾槩饾槸 饾槇饾槶饾槶饾槩饾槱饾槵饾樁!”. Kata Yesus kepada Tomas, “饾槖饾槩饾槼饾槮饾槸饾槩 饾槮饾槸饾槰饾槵饾槩饾樁 饾樀饾槮饾槶饾槩饾槱 饾槷饾槮饾槶饾槳饾槱饾槩饾樀 饾槇饾槵饾樁, 饾槷饾槩饾槵饾槩 饾槮饾槸饾槰饾槵饾槩饾樁 饾槺饾槮饾槼饾槫饾槩饾樅饾槩. 饾槈饾槮饾槼饾槪饾槩饾槱饾槩饾槰饾槳饾槩饾槶饾槩饾槱 饾槷饾槮饾槼饾槮饾槵饾槩 饾樅饾槩饾槸饾槰 饾樀饾槳饾槬饾槩饾槵 饾槷饾槮饾槶饾槳饾槱饾槩饾樀, 饾槸饾槩饾槷饾樁饾槸 饾槺饾槮饾槼饾槫饾槩饾樅饾槩.”
 
Sebelum kita menyoal bacaan Minggu ini lebih jauh, kita melihat dahulu latar belakang penulisan Injil Yohanes. Tidaklah jelas siapa penulis Injil Yohanes. Para ahli menduga kuat penulisnya seorang terpelajar dari Komunitas Yohanes pengikut Kristus. Pada mulanya Komunitas Yohanes mewartakan kepada orang-orang Yahudi di sinagoge-sinagoge bahwa Yesus adalah Sang Mesias Yahudi yang dinantikan. Mesias yang lebih besar daripada Nabi Musa. Kampanye mereka mereka semula berhasil sehingga banyak orang Yahudi beralih menjadi Kristen atau anggota Komunitas Yohanes. Jejak atau petunjuknya dapat kita lihat pada episode sesudah pembangkitan Lazarus (Yoh. 11:45-53). Akan tetapi para pemuka agama Yahudi tidak suka melihat keberhasilan kampanye Komunitas Yohanes.
 
Para elit Yahudi kemudian mengaji Kitab Suci atau midrash guna membuktikan bahwa Yesus tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi Mesias Yahudi. Dalam pada itu mereka mengucilkan orang-orang Yahudi-Kristen Komunitas Yohanes dari sinagoge. Komunitas Yohanes bereaksi dengan mengajukan pendakuan kristologis yang lebih radikal menghancurkan seluruh bangunan Yudaisme. Akibatnya para pemuka Yahudi makin mengucilkan dan bahkan melakukan penganiayaan terhadap anggota Komunitas Yohanes. 

Penderitaan yang amat berat ini membuat mereka memandang orang-orang Yahudi yang menganiaya mereka sebagai keturunan iblis (lih. Yoh. 8:44). Mereka kemudian mencari penguatan ideologis untuk menolong dan menguatkan mereka bahwa Yesus itu ilahi, kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Saat Sang Firman nuzul menjadi Manusia, Ia ditolak oleh bangsa-Nya sendiri dan oleh dunia yang membenci-Nya. Para pengikut Yesus pun demikian. Mereka ditolak oleh dunia dan Yesus menjanjikan kepada mereka untuk sampai kepada Allah, Bapa-Nya, harus lewat diri-Nya. 

Kembali ke bacaan Minggu ini kita melihat lokasi penampakan Yesus di babak pertama dan babak kedua berbeda. Ketika Yesus-Paska menampakkan diri untuk kali pertama, Ia menampakkan diri di kubur kepada Maria Magdalena, ia hendak memegang Yesus, tetapi Yesus menolak karena Ia belum pergi kepada Bapa-Nya. Yesus memberi perintah kepadanya agar pergi kepada para murid dan memberitahukan bahwa Yesus pada saat itu (饾槾饾槮饾槵饾槩饾槼饾槩饾槸饾槰 dalam bacaan) akan pergi kepada Bapa-nya (Yoh. 20:17).

Pada babak kedua (bacaan Minggu ini, Yoh. 20:19-31) mengandaikan Yesus-Paska sudah pergi kepada Bapa-Nya. Penafsiran ini didukung oleh dua hal: (1) Yesus sudah dapat memberikan Roh Kudus kepada para murid (Yoh. 20:22) dan (2) Yesus sudah boleh disentuh seperti yang dikatakan-Nya kepada Tomas (Yoh. 20:27). Bandingkan dengan Yohanes 1:33 “…饾構饾槳饾槩饾槶饾槩饾槱 饾槳饾樀饾樁 饾樅饾槩饾槸饾槰 饾槩饾槵饾槩饾槸 饾槷饾槮饾槷饾槪饾槩饾槺饾樀饾槳饾槾 饾槬饾槮饾槸饾槰饾槩饾槸 饾槞饾槹饾槱 饾槖饾樁饾槬饾樁饾槾” dan Yohanes 7:39 … 饾槾饾槮饾槪饾槩饾槪 饾槞饾槹饾槱 饾槳饾樀饾樁 饾槪饾槮饾槶饾樁饾槷 饾槬饾槩饾樀饾槩饾槸饾槰, 饾槵饾槩饾槼饾槮饾槸饾槩 饾槧饾槮饾槾饾樁饾槾 饾槪饾槮饾槶饾樁饾槷 饾槬饾槳饾槷饾樁饾槶饾槳饾槩饾槵饾槩饾槸. Yesus juga memberi kuasa Roh Kudus kepada para murid agar mereka berkuasa untuk mengampuni dosa atau menyucikan orang (Yoh. 20:23). 

Ada dua ucapan penting Yesus dalam babak akhir ini. Dalam pertemuan pertama (tanpa Tomas) Yesus berkata, ”饾槢饾槮饾槼饾槳饾槷饾槩饾槶饾槩饾槱 饾槞饾槹饾槱 饾槖饾樁饾槬饾樁饾槾. 饾槕饾槳饾槵饾槩 饾槵饾槩饾槷饾樁 饾槷饾槮饾槸饾槰饾槩饾槷饾槺饾樁饾槸饾槳 饾槬饾槹饾槾饾槩 饾槾饾槮饾槾饾槮饾槹饾槼饾槩饾槸饾槰, 饾槬饾槹饾槾饾槩 饾槹饾槼饾槩饾槸饾槰 饾槳饾樀饾樁 饾槬饾槳饾槩饾槷饾槺饾樁饾槸饾槳. 饾槕饾槳饾槵饾槩 饾槩饾槬饾槩 饾槹饾槼饾槩饾槸饾槰 饾樅饾槩饾槸饾槰  饾槬饾槹饾槾饾槩-饾槬饾槹饾槾饾槩饾槸饾樅饾槩 饾樀饾槳饾槬饾槩饾槵 饾槵饾槩饾槷饾樁 饾槩饾槷饾槺饾樁饾槸饾槳, 饾槬饾槹饾槾饾槩 饾槷饾槮饾槼饾槮饾槵饾槩 饾樀饾槳饾槬饾槩饾槵 饾槬饾槳饾槩饾槷饾槺饾樁饾槸饾槳.” (Yoh. 20:22-23). Dalam pertemuan kedua (Tomas hadir) Yesus berkata, “饾槈饾槮饾槼饾槪饾槩饾槱饾槩饾槰饾槳饾槩饾槶饾槩饾槱 饾槷饾槮饾槼饾槮饾槵饾槩 饾樅饾槩饾槸饾槰 饾樀饾槳饾槬饾槩饾槵 饾槷饾槮饾槶饾槳饾槱饾槩饾樀, 饾槸饾槩饾槷饾樁饾槸 饾槺饾槮饾槼饾槫饾槩饾樅饾槩.” (Yoh. 20:29). Kedua ucapan penting itu sebenarnya ditujukan kepada jemaat penulis Injil Yohanes. 

Ucapan penting pertama (ay. 23) ditulis karena diduga ada konflik di dalam jemaat Yohanes. Mereka diingatkan untuk mengampuni atau menyucikan orang lain. 饾槡饾槮饾槾饾槮饾槹饾槼饾槩饾槸饾槰 di ayat 23 adalah anggota kelompok yang bertobat dan mau balik ke dalam Komunitas Yohanes. Mereka yang tidak mau bertobat dan tidak bergabung lagi dianggap tetap berdosa. Tampaknya ada anggota Komunitas Yohanes yang menyempal karena dipengaruhi oleh paham Gnostik yang menolak Yesus-Ragawi. Hal itu tampak dalam Surat Kedua Yohanes ayat 7 饾槡饾槮饾槪饾槩饾槪 饾槪饾槩饾槸饾樅饾槩饾槵 饾槺饾槮饾槸饾樅饾槮饾槾饾槩饾樀 饾樀饾槮饾槶饾槩饾槱 饾槪饾槮饾槼饾槷饾樁饾槸饾槫饾樁饾槶饾槩饾槸 饾槬饾槳 饾槬饾樁饾槸饾槳饾槩, 饾樅饾槩饾槸饾槰 饾樀饾槳饾槬饾槩饾槵 饾槷饾槮饾槸饾槰饾槩饾槵饾樁 饾槪饾槩饾槱饾樃饾槩 饾槧饾槮饾槾饾樁饾槾 饾槖饾槼饾槳饾槾饾樀饾樁饾槾  饾樀饾槮饾槶饾槩饾槱 饾槬饾槩饾樀饾槩饾槸饾槰 饾槾饾槮饾槪饾槩饾槰饾槩饾槳 饾槷饾槩饾槸饾樁饾槾饾槳饾槩. 饾槓饾樀饾樁饾槶饾槩饾槱 饾槾饾槳 饾槺饾槮饾槸饾樅饾槮饾槾饾槩饾樀 饾槬饾槩饾槸 饾槩饾槸饾樀饾槳饾槵饾槼饾槳饾槾饾樀饾樁饾槾.

Ucapan penting kedua (ay. 29) ditulis karena tampaknya ada anggota jemaat atau komunitas yang arogan sudah melihat dan berjumpa dengan Yesus-Paska. Mereka merendahkan anggota yang belum pernah berjumpa dengan Yesus-Paska. Penulis Injil Yohanes mengingatkan bahwa dasar kehidupan jemaat adalah percaya tanpa melihat. Dasar untuk memeroleh hidup kekal adalah percaya. Justru orang percaya kepada Yesus tanpa melihat adalah orang-orang yang berbahagia, terberkati (饾槷饾槩饾槵饾槩饾槼饾槳饾槹饾槳).

Klimaks Injil Yohanes berada di Yohanes 20:28-29 mengenai pengakuan agung Tomas terhadap Yesus, “饾槚饾槱, 饾槢饾樁饾槱饾槩饾槸饾槵饾樁 饾槬饾槩饾槸 饾槇饾槶饾槶饾槩饾槱饾槵饾樁!”. Pengakuannya mengembangkan seluruh kristologi Injil Yohanes. Pernyataan Tomas itu berhubungan dengan pertanyaannya kepada Yesus tentang jalan ke rumah Bapa dan dijawab oleh Yesus, “… 饾槕饾槳饾槵饾槩 饾槵饾槩饾槷饾樁 饾槷饾槮饾槸饾槰饾槮饾槸饾槩饾槶 饾槇饾槵饾樁, 饾槵饾槩饾槷饾樁 饾槴饾樁饾槰饾槩 饾槷饾槮饾槸饾槰饾槮饾槸饾槩饾槶 饾槈饾槩饾槺饾槩-饾槖饾樁. 饾槡饾槮饾槵饾槩饾槼饾槩饾槸饾槰 饾槳饾槸饾槳 饾槵饾槩饾槷饾樁 饾槷饾槮饾槸饾槰饾槮饾槸饾槩饾槶 饾構饾槳饾槩 饾槬饾槩饾槸 饾槵饾槩饾槷饾樁 饾樀饾槮饾槶饾槩饾槱 饾槷饾槮饾槶饾槳饾槱饾槩饾樀 饾構饾槳饾槩.” (Yoh. 14:5-7).

饾棤饾棶饾椄饾榾饾槀饾棻饾椈饾槅饾棶 饾棞饾椈饾椃饾椂饾椆 饾椂饾椈饾椂 饾棻饾椂饾棸饾棶饾榿饾棶饾榿 (Yoh. 20:30-31)

Injil Yohanes yang asli (dalam arti karya penulis pertama Injil Yohanes) berakhir di Yohanes 20:30-31 sesudah pengakuan Tomas dan berkat Yesus. Dalam penutup penulis pertama Injil Yohanes menyapa langsung sidang pendengar tentang tujuan seluruh kisah Injil, tentang pergumulan iman para murid dan perjalanan mereka dari tidak percaya menjadi percaya. Injil Yohanes bukanlah biografi Yesus, melainkan narasi untuk membangkitkan iman kepada Yesus, Sang Mesias, Anak Allah, supaya kita, sidang pendengar, oleh iman kita memeroleh hidup dalam nama-Nya.

Penutup Injil Yohanes hendak menegaskan bahwa orang-orang yang percaya karena melihat tanda-tanda atau mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Yesus tidak diharkat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari episode awal rekrutmen murid-murid Yesus dan percakapan Yesus dengan Nikodemus. Kecaman Injil Yohanes terhadap mereka terus berlangsung sampai ke pengujung Injil. Menurut Injil Yohanes orang percaya karena ia belajar lebih dalam lagi diharkat lebih matang dan dipandang sebagai iman otentik.

(07042024)(T)

Minggu, 31 Maret 2024

MEMAKNAI PUISI PASKAH JOKO PINURBO, SERIAL SUDUT PANDANG

MEMAKNAI PUISI PASKAH JOKO PINURBO, SERIAL SUDUT PANDANG
Celana Ibu
Maria sangat sedih
menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian
Yesus bangkit dari mati,
pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawa
celana yang dijahitnya sendiri
dan meminta Yesus mencobanya.

"Paskah?" tanya Maria.
"Pas!" jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.


2004

Sumber: Baju Bulan (2013)

Analisis Puisi:
Puisi "Celana Ibu" karya Joko Pinurbo adalah karya sastra yang unik dan penuh dengan simbolisme. Puisi ini mengangkat tema kehidupan Yesus Kristus, khususnya peristiwa kebangkitan-Nya, dengan sentuhan khas sang penyair yang penuh imajinasi.

Tema Sentral, Kebangkitan dan Paskah: Puisi ini secara khusus mengangkat tema kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, peristiwa yang sangat penting dalam tradisi Kristen. Simbolisme Paskah, sebagai perayaan kebangkitan, terwujud melalui penggambaran Yesus yang naik ke surga setelah mengenakan celana buatan ibunya.

Tokoh Utama, Maria dan Yesus: Maria, sebagai ibu Yesus, menjadi tokoh sentral dalam puisi ini. Kesedihannya melihat anaknya mati di kayu salib menciptakan nuansa tragedi. Kesedihan Maria juga melihat matiNya Yesus dalam ketelanjangan, suatu yg terkutuk mati telanjang, tetapi keterkutukan itu ditutupi dg kasih sayang ibu yg berkenan membuatkan celana, ketelanjangan itu ditutupi, seperti kasih Allah pada manusia yg seharusnya mati terkutuk oleh karena dosanya. Namun, kegembiraan dan keyakinan Maria muncul saat Yesus bangkit dan menerima celana buatannya, menciptakan momen kesejahteraan. Bahkan, keyakinan Maria sudah ada saat menjahit celana tsb. 

Simbolisme Celana: Celana dalam puisi ini menjadi simbol penting. Celana yang dijahit oleh Maria melambangkan kasih sayang, perhatian, dan kepedulian serta kepercayaan seorang ibu terhadap anaknya. Menjahit celana untuk anakNya bearti Maria yakin akan kebangkitan Kristus. Penggunaan celana sebagai pakaian yang dikenakan oleh Yesus setelah kebangkitannya juga dapat diartikan sebagai simbol pemulihan dan kelahiran baru. Celana menutupi ketelanjangan, ketelanjangan yang ditutupi kasih sayang, itulah kasih Allah pada manusia, ketelanjangan yang ditutupi juga merujuk pada kejatuhan manusia dalam dosa pada peristiwa Adam Hawa 

Imajinasi dan Kreativitas Penyair: Joko Pinurbo menunjukkan imajinasi dan kreativitasnya yang tinggi dalam mengolah cerita kebangkitan Yesus menjadi narasi yang unik dan penuh warna. Pemilihan kata-kata yang indah dan gambaran yang kuat memberikan dimensi emosional pada cerita.

Rasa Humor dan Ironi: Puisi ini juga memuat elemen humor dan ironi, terutama dalam jawaban singkat Yesus ketika mencoba celana yang dijahit oleh ibunya. Dialog antara Maria dan Yesus menciptakan nuansa ringan di tengah kisah yang sejatinya penuh makna religius.

Kritik Terhadap Tradisi dan Ritual: Penggunaan unsur-unsur yang tidak konvensional, seperti Yesus mencoba celana sebagai bagian dari kisah kebangkitan, mungkin dapat diartikan sebagai kritik terhadap ritual dan tradisi agama yang kadang-kadang bersifat formal dan kaku. Jubah salib darah menggambarkan ibadah selebrasi atau tradisi ibadah ritual, sedangkan celana baru menggambarkan ibadah aksi atau tindakan pengutusan yg mewujud pada tindakan mengasihi sesama dalam keseharian 

Puisi "Celana Ibu" bukan hanya sekadar retelling dari kisah kebangkitan, tetapi juga merupakan karya sastra yang mengandung makna mendalam dan sarat simbolisme. Joko Pinurbo berhasil menggabungkan unsur-unsur keagamaan dengan imajinasi kreatifnya, menciptakan karya yang menarik untuk dianalisis dan dihayati secara lebih mendalam.
31032024 (T)

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus