Minggu, 07 Desember 2025

Sudut Pandang NPD & “Ilmu Hitam”: Antara Manipulasi Psikologis dan Keyakinan Korban dan Energi Empath” yang Justru Menenangkan NPD; Kenapa Empath mudah terjebak NPD? Kenapa Empath Sangat Mudah Terjebak NPD? Mereka Nyaman, Tapi Tetap Menyakiti?

Sudut Pandang NPD & “Ilmu Hitam”: Antara Manipulasi Psikologis dan Keyakinan Korban, Kenapa Empath Sangat Mudah Terjebak NPD?

Dalam beberapa cerita masyarakat, ada pelaku dengan ciri Narcissistic Personality Disorder (NPD) yang seolah-olah menggunakan “ilmu hitam” untuk mengikat, mengendalikan, atau memperoleh suplai dari korbannya. Banyak korban merasa energi mereka “habis,” sulit pergi, atau merasa seperti “dipikat kembali” meski sudah tahu hubungan itu merusak.

Namun dari sisi psikologi, fenomena ini tidak dijelaskan sebagai kekuatan supranatural, melainkan:

1. Efek Manipulasi Psikologis yang Sangat Kuat

Pelaku NPD memakai teknik manipulasi seperti:
- Trauma bonding
- Gaslighting berat
- Love bombing intens
- Silent treatment ekstrem

Kombinasi ini membuat korban merasa seperti “terikat tak terlihat,” dan inilah yang sering dianggap sebagai “pengaruh gaib.”

 2. Kekuasaan Emosional yang Terasa Mistis

Korban sering berkata:

“Aku tahu dia jahat, tapi aku tetap balik.”

“Setiap aku mau pergi, ada saja hal yang membuatku kembali.”

“Aku merasa dia bisa membaca pikiranku.”

Secara psikologi, ini adalah efek dari:
- sistem saraf yang kelelahan,
- kecemasan kronis,
- kebutuhan akan validasi,
- rasa bersalah yang ditanamkan,
- dan identitas yang terkikis.

Semua itu membuat korban merasa seperti dikendalikan secara “tak kasat mata.”

3. Keyakinan Budaya tentang Ilmu Hitam

Dalam beberapa budaya, pelaku yang manipulatif, karismatik, atau pandai memainkan emosi sering dianggap “punya kemampuan khusus.”

Padahal:

yang bekerja adalah psikologi, bukan kekuatan supranatural.

pelaku NPD memang ahli membaca kelemahan orang, memicu rasa takut, membuat ketergantungan, dan memainkan timing.

Ini membuat korban merasa hubungan itu “dikunci.”

4. NPD Bisa Memakai Bahasa Mistis untuk Menakut-nakuti

Beberapa pelaku sengaja:
- mengaku punya “ilmu,”
- mengancam dengan hal-hal gaib,
- memakai simbol, ritual, atau gaya bicara tertentu,
- membuat korban percaya mereka “berbahaya.”

Tujuannya bukan karena mereka punya kekuatan, tapi untuk menanamkan ketakutan agar korban tidak melawan.

5. Ada Juga Pelaku NPD yang Memang Percaya pada Hal-Hal Mistis

Bukan karena “punya ilmu,” tapi karena:
- mereka memakai apa pun yang memberi rasa kuasa,
- mereka mencari kontrol penuh atas orang lain,
- mereka menggunakan kepercayaan gaib sebagai alat manipulasi.

 Jadi, apakah ada NPD yang “menggunakan ilmu hitam” untuk mendapatkan suplai?
Dalam realitas psikologi: tidak.

Dalam pengalaman korban: iya, karena efek manipulasi terasa seperti sesuatu yang tidak wajar.

Yang benar-benar terjadi adalah:
- kontrol emosi,
- ketakutan,
- trauma bonding,
- perasaan tidak berdaya,
- dan perubahan biokimia otak akibat stres.

Ini semua membuat korban merasakan pengaruh yang begitu kuat, hingga tampak seperti “gaib.”

 Kesimpulan:

Pelaku NPD tidak membutuhkan kekuatan supranatural.
Mereka menggunakan:
- manipulasi,
- strategi psikologis,
- tekanan emosional,
- dan ketakutan korban.

Jika korban percaya pada hal mistis, pelaku dapat memanfaatkannya sebagai alat kontrol.

Hubungan dengan NPD bisa terasa seperti “terkutuk,” tetapi mekanismenya sesungguhnya sangat manusiawi dan dapat dijelaskan secara ilmiah.


“Energi Empath” yang Justru Menenangkan NPD; Kenapa Mereka Nyaman, Tapi Tetap Menyakiti?

Banyak orang bertanya-tanya: Mengapa NPD terlihat paling “lengket”, paling nyaman, bahkan paling tenang justru ketika bersama seorang empath?
Padahal… empath-lah yang paling sering dihancurkan secara emosional.

Ini penjelasannya secara psikologis:

1. Empath Mengeluarkan Energi yang Menenangkan

Empath memiliki kelebihan alami:
- mampu membaca emosi orang lain
- responsnya lembut dan hangat
- sabar menghadapi orang sulit
- punya kemampuan membuat orang lain merasa dipahami

Bagi NPD yang hidup dalam ketakutan ditolak dan kebutuhan konstan akan validasi, energi seperti ini terasa aman.

Empath memberi suasana yang NPD tidak pernah dapatkan di masa kecil:
diterima tanpa syarat.

2. Empath Memberikan Cinta yang NPD Tak Bisa Berikan Balik

NPD tumbuh dengan luka:
- tidak pernah merasa cukup
- selalu butuh dikagumi
- tidak mampu mengelola rasa malu, kecewa, atau ditolak
- empati mereka rendah atau tidak stabil

Ketika empath mencintai dengan tulus dan dalam, NPD merasa:

“akhirnya ada yang benar-benar melihat aku”

“ada orang yang mau mendengarkan keluhanku”

“aku bisa jadi versi sempurna diriku di depan dia”

Ini membuat empath seperti charger emosional bagi NPD.

3. Tapi… NPD Merasa Terancam oleh Kedalaman Emosi Empath
- Saat hubungan mulai stabil, terjadi hal yang ironis:
- kedekatan emosional memicu rasa takut
- kerentanan membuat NPD merasa kehilangan kontrol
- cinta yang tulus terasa menakutkan karena mereka tidak bisa membalasnya

Apa respon default mereka?
Serangan. Penarikan diri. Siklus menyakitkan.

Karena bagi NPD:
Lebih aman menghancurkan hubungan daripada merasa rentan.

4. Energi Empath = Sumber Supply

Empath memberi:
- validasi
- perhatian
- pengertian
- kesabaran
- emosi yang “lezat” bagi NPD

Itu sebabnya NPD merasa nyaman, tapi juga merasa berhak untuk mengambil semuanya, bahkan sampai habis.
- Empath menjadi “tempat pembuangan” emosi NPD:
- kemarahan
- rasa malu tersembunyi
- rasa iri
- ketakutan

Dan tragisnya…
NPD tidak ingin kehilangan empath, tapi juga tidak mampu mencintai empath dengan sehat.

5. Kenapa Tetap Menyakiti?

Karena NPD:
- tidak tahu cara mencintai tanpa kontrol
- tidak bisa menghadapi konflik tanpa agresi
- takut kehilangan supply
- tidak tahan melihat orang lain terlalu “mandiri” atau bahagia
- merasa “aman” hanya ketika mereka dominan

Jadi meski mereka:
- merasa nyaman
- merasa tenang
- merasa terpenuhi, tetapi mereka tetap menghancurkan hubungan karena pola psikologis mereka tidak stabil.

Kesimpulan:
- Empath membuat NPD merasa:
- aman
- dipahami
- dihargai
- dikagumi
- ditenangkan

Tapi luka masa kecil NPD membuat mereka:
- tidak bisa menerima cinta
- tidak bisa membalasnya
- tidak bisa menjaga hubungan
- takut kehilangan kontrol
- akhirnya … menyakiti orang yang paling peduli pada mereka

Pesan untuk Empath

Jika kamu seorang empath, ingat:

Cinta kamu bukan masalahnya.
Luka mereka yang tidak pernah disembuhkan, itulah akar semuanya.
Dan kamu tidak bisa menyembuhkan seseorang yang menolak untuk sembuh.


Kenapa Empath Sangat Mudah Terjebak NPD?

Ada orang yang empatinya tinggi sangat mudah tertarik pada seseorang yang memiliki kelainan kepribadian NPD, yaitu empath. Sebaliknya, NPD juga sangat tertarik pada empath.

Hubungan yang tampak “magnetis”, tapi sebenarnya penuh luka psikologis.

Dalam dinamika hubungan, empath dan narcissist (terutama NPD) adalah kombinasi yang paling sering terjadi dan paling berbahaya. Empath yang penuh kasih mudah tertarik pada orang yang terlihat membutuhkan perhatian, sementara NPD membutuhkan sumber energi emosional yang stabil yang bisa mereka kontrol.

Hasil akhirnya?
Empath terhisap semakin dalam, sedangkan NPD semakin kuat.

Berikut alasan paling umum mengapa empath mudah terjebak NPD.

1. Empath Terbiasa Memahami, NPD Terbiasa Ditoleransi

Empath punya kemampuan alami untuk:
- membaca emosi orang lain,
- memahami luka batin orang lain,
- memberi ruang,
- memaafkan berkali-kali.

Sedangkan NPD terbiasa menerima:
- toleransi,
- perhatian tanpa batas,
- pemakluman,
- kesempatan kedua, ketiga, bahkan keseratus.

Empath tidak sadar bahwa “memahami” berubah menjadi membiarkan diri disakiti.

 2. NPD Menampilkan “Citra Ideal” yang Memikat Empath

Di awal hubungan, NPD melakukan love bombing:
- perhatian intens,
- kata-kata manis,
- janji besar,
- sikap seakan sangat cocok,
- menjadikan empath “orang istimewa”.

Empath yang peka terhadap hubungan emosional merasakan koneksi kuat, padahal itu hanya fase idealisasi.

Saat NPD berubah, empath tetap bertahan karena ingat “versi indah” dari awal hubungan, padahal itu topeng.

3. Empath Merasa Mereka Bisa “Menyembuhkan” NPD

Empath adalah penyembuh alami.
Mereka melihat luka inner child pada seorang narsistik dan mengira:

“Mungkin kalau aku cukup sabar, dia akan berubah.”

Faktanya:
NPD tidak berubah tanpa terapi intens, dan kebanyakan menolak terapi karena merasa tidak salah. Sementara itu, empath terkuras perlahan.

 4. Empath Terjebak Trauma Bonding

Hubungan dengan NPD penuh pola:

1. idealisasi (love bombing)

2. devaluasi (kritik, marah, gaslighting)

3. penarikan (silent treatment)

4. hoovering (ditarik kembali)

Siklus ini menciptakan trauma bonding, yaitu keterikatan kuat akibat campuran cinta + ketakutan + ketidakpastian.

Empath yang emosinya tajam dapat mengartikan ikatan traumatis ini sebagai “kedekatan mendalam.”

5. Empath Ingin Harmonis, NPD Menggunakan Konflik untuk Mengontrol

Empath:
- menghindari konflik,
- mencoba menenangkan,
- lebih memilih berdamai daripada berdebat.

NPD:
- menggunakan kemarahan,
- ancaman pergi,
- silent treatment,
- dan drama untuk menguasai situasi.

Empath menurunkan batasannya, NPD menaikkan kontrolnya.

6. Empath Sering Tidak Menyadari Manipulasi Halus

NPD ahli:

- gaslighting,
- playing victim,
- shifting blame,
- memutarbalikkan cerita.

Empath yang selalu reflektif lebih mudah bertanya:

 “Apa aku memang salah?”

Padahal itu hasil manipulasi psikologis, bukan introspeksi sehat.

7. Kebaikan Empath Menjadi Target Utama

NPD mencari supply dari:
- orang yang penyayang,
- orang yang loyal,
- orang yang mudah merasa bersalah,
- orang yang takut melukai perasaan.

Empath punya semua karakteristik itu.
Itulah sebabnya banyak ahli menyebut hubungan NPD empath sebagai “toxic magnet”.

 Kesimpulan: 
Empath Bukan Lemah, Mereka Justru Terlalu Kuat Menahan Sakit

Empath sering terjebak bukan karena:
- bodoh,
- kurang pengalaman,
- atau tidak punya harga diri.

Tapi karena:

- mereka punya hati besar,
- mereka memaafkan,
- mereka percaya pada kebaikan,
- mereka melihat potensi terbaik pada seseorang.

Sementara NPD melihat kesempatan untuk memanfaatkan itu.

Agar terlepas, empath perlu belajar:
- batasan,
- red flag,
- self-love,
- dan memahami nilai dirinya sendiri.

Jumat, 05 Desember 2025

Sudut Pandang ๐—ฆ๐—ถ๐—น๐˜€๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€

Sudut Pandang ๐—ฆ๐—ถ๐—น๐˜€๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€

Kendati jarang dikhotbahkan pada masa Natal, Silsilah Yesus versi Injil Matius sebenarnya bagian penting dalam teologi Natal Matius, bahkan bagian penting dari teologi seluruh Injil Matius. Namun, cilakanya nilai penting dan teologi itu lenyap ketika Silsilah Yesus dianggap “laporan historis”, sekadar memberi informasi mengenai nenek moyang Yesus. Bahkan, ada yang meyakini bahwa silsilah itu bersifat biologis: Yusuf keturunan biologis dari Abraham dan Raja Daud. 

Mari kita telisik Silsilah Yesus dalam Injil Matius dan Lukas. 

▶️ ๐—ฅ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ถ๐—น๐˜€๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐˜ƒ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ถ ๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ (Mat. 1:2-17):

Abraham - Ishak -  Yakub - Yehuda - Peres -Hezron - Ram - Aminadab - Nahason -  Salmon - Boas - Obed - Isai - raja Daud. 

Daud - Salomo - Rehabeam - Abia - Asa - Yosafat -  Yoram - Uzia - Yotam - Ahas - Hizkia - Manasye – Amon - Yosia - Yekhonya – Sealtiel – Zerubabel – Abihud – Elyakim – Azor – Zadok – Akhim – Eliud – Eleazar – Matan – Yakub - Yusuf - Yesus. 

▶️ ๐—ฅ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ถ๐—น๐˜€๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐˜ƒ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ถ ๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ (Luk. 3:23-38):

[Garis keturunan sengaja dibuat dari atas ke bawah agar memudahkan perbandingan dengan Injil Matius.]

Allah – Adam – Set – Enos – Kenan – Mahalaleel – Yared – Henokh – Metusalah – Lamekh -Nuh – Sem – Arpakshad – Kenan – Salmon – Eber – Peleg – Rehu – Serug – Nahor – Terah – Abraham.

Abraham – Ishak – Yakub – Yehuda – Peres – Hezron – Arni – Admin – Aminadab – Nahason – Salmon – Boas – Obed – Isai – Daud. 

Daud – Natan – Matata – Mina – Melea – Elyakim – Yonam – Yusuf – Yehuda – Simeon -  Lewi – Matat – Yorim - Eliezer – Yesua – Er – Elmadam – Kosam – Adi – Malkhi – Neri – Sealtiel – Zerubabel – Resa – Yohanan – Yoda – Yosekh – Simei – Matica – Maat – Nagai – Hesli – Nahum – Amos – Matica – Yusuf – Yanai – Malkhi – Lewi – Matat – Eli – Yusuf - Yesus

▶️ ๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ถ๐—น๐˜€๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐˜ƒ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ถ ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜?

Sekurang-kurangnya ada ๐˜๐—ถ๐—ด๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป.

1. ๐˜ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜œ๐˜ป๐˜ช๐˜ข (Mat. 1:8)

Kesalahan kesatu itu ada dalam bagian silsilah dari Daud ke Yekhonya.

Daud - Salomo - Rehabeam - Abia - Asa - Yosafat -  Yoram - Uzia - Yotam - Ahas - Hizkia - Manasye – Amon - Yosia - Yekhonya.

Menurut Matius (1:8), Yoram memperanakkan Uzia. Padahal Silsilah Daud dalam 1 Tawarikh 3 sbb.:
Daud - Salomo - Rehabeam - Abia - Asa - Yosafat - Yoram - Ahazia (2Rj.8:24-25) - Yoas (2Rj.11-13) - Amazia (2Raj.14) - Azarya (/Uzia, 2Rj.15:32) - Yotam (2Rj. 15:7).

Jadi, anak Yoram seharusnya Ahazia, bukan Uzia. Apakah ayah Yotam bernama Uzia? Menurut 2 Rj. 15:32, ayah Yotam (juga) bernama Uzia; jadi tampaknya Uzia = Azarya (2Rj. 15:7; 1Taw. 3:11). Dengan kata lain dari Yoram ke Uzia (/Azarya) ada tiga raja yang dilompati Matius. Ketiga raja itu adalah Ahazia, Yoas, dan Amazia.

2. ๐˜ ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข (Mat. 1:11)

Kesalahan kedua itu juga ada dalam bagian dari Daud ke Yekhonya. Padahal Silsilah Daud dalam 1 Tawarikh 3:15-16 begini: Yosia - Yoyakim - Yekhonya (Yoyakhin). Jadi, Yosia seharusnya memperanakkan Yoyakim, bukan Yekhonya. Yekhonya (Yoyakhin) adalah anak Yoyakim, bukan anak Yosia. Raja Yoyakim dilompati Matius.

3. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ข๐˜ญ๐˜ต๐˜ช๐˜ฆ๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ก๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ (Mat. 1:12)

Kesalahan ketiga itu ada dalam bagian dari Yekhonya ke Yesus.

Yekhonya – Sealtiel – Zerubabel – Abihud – Elyakim – Azor – Zadok – Akhim – Eliud – Eleazar – Matan – Yakub - Yusuf - Yesus

Padahal menurut Silsilah Daud dalam 1 Tawarikh 3:19, ayah Zerubabel adalah Pedaya (saudara Sealtiel). Namun, dalam bagian PL lainnya seperti dalam Ezra 3:2, Nehemia 12:1, Hagai 1:1, Zerubabel memang dianggap anak Sealtiel. Jadi, kesalahan ketiga itu tampaknya masih dapat “ditoleransi”.

▶️ ๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ถ๐—น๐˜€๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐˜ƒ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ถ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜?
 
Selain tidak akurat Silsilah Yesus versi Lukas terasa janggal.

1. ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ (Luk. 3:33)

Menurut Lukas 3:33 Hezron memperanakkan Arni, lalu Arni memperanakkan Admin, dan Admin memperanakkan Aminadab.

Hezron – Arni – Admin – Aminadab

Padahal Silsilah Yehuda dalam 1 Tawarikh 2:9-10 begini: Hezron - Ram - Aminadab.

Matius 1:3-4 juga menulis silsilah yang sama: Hezron - Ram - Aminadab. Jadi, anak Hezron yang seharusnya Ram, bukan Arni. Ayah Aminadab seharusnya Ram, bukan Admin. Dengan kata lain dua nama yang tertulis dalam Lukas 3:33 adalah nama yang salah atau janggal.

2. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ข๐˜ญ๐˜ต๐˜ช๐˜ฆ๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ก๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ (Luk. 3:27)

Hampir semua nama yang tercantum dalam Silsilah Yesus versi Lukas dari Natan (anak Daud) sampai Yusuf (ayah Yesus) adalah nama-nama yang asing. Hampir semuanya tidak memiliki rujukan PL sehingga ada kesan semua nama itu hanyalah karangan Lukas atau jemaat sebelum Lukas. Berbeda dari Matius yang menyusun Silsilah Yesus berdasarkan garis keturunan Salomo, Lukas menyusunnya berdasarkan garis keturunan Natan, anak Daud juga. Anehnya dari Silsilah Natan itu ada juga nama yang sama, misalnya Sealtiel dan Zerubabel (Luk. 3:27).

Daud – Natan – Matata – Mina – Melea – Elyakim – Yonam – Yusuf – Yehuda – Simeon -  Lewi – Matat – Yorim - Eliezer – Yesua – Er – Elmadam – Kosam – Adi – Malkhi – Neri – Sealtiel – Zerubabel. 

Padahal kedua nama itu ada di Silsilah Salomo versi Matius (1:12). Selain kedua nama itu sama, statusnya juga sama: Sealtiel adalah ayah Zerubabel. Jadi, mengapa ada dua nama yang sama dan dalam status yang sama dalam Silsilah Natan versi Lukas? Mengapa nenek moyangnya berbeda (Salomo/Natan) dan ayah Sealtiel berbeda (Yekhonya/Neri)?

3. ๐˜Œ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ง (Luk. 3:23)

Kejanggalan berikutnya: Silsilah Natan versi Lukas itu berakhir dengan nama yang sama dengan Silsilah Salomo versi Matius: Yusuf (suami Maria, ayah Yesus).

Daud – Natan – Matata – Mina – Melea – Elyakim – Yonam – Yusuf – Yehuda – Simeon -  Lewi – Matat – Yorim - Eliezer – Yesua – Er – Elmadam – Kosam – Adi – Malkhi – Neri – Sealtiel – Zerubabel – Resa – Yohanan – Yoda – Yosekh – Simei – Matica – Maat – Nagai – Hesli – Nahum – Amos – Matica – Yusuf – Yanai – Malkhi – Lewi – Matat – Eli – Yusuf - Yesus

Namun, Yusuf versi Lukas ini adalah keturunan Natan dan nama ayahnya adalah Eli (Luk. 3:23). Padahal Yusuf versi Matius adalah keturunan Salomo dan nama ayahnya adalah Yakub (Mat. 1:18). Tampaknya ada dua kemungkinan di sini.

Kemungkinan kesatu, Yusuf anak Eli yang dimaksud Lukas memang bukan tokoh yang sama dengan Yusuf anak Yakub yang dimaksud Matius sekalipun “anehnya” keduanya menjadi suami Maria dan ayah Yesus. Kemungkinan kedua, Yusuf anak Eli itu merujuk tokoh yang sama dengan Yusuf anak Yakub.

Masalahnya: mengapa nenek moyangnya berbeda (Salomo/Natan) dan ayahnya berbeda (Yakub/Eli)? Jika silsilah adalah laporan historis biologis, keduanya tidak mungkin sama-sama benar. Jadi, ๐˜€๐—ถ๐—น๐˜€๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ถ๐—น๐˜€๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต?

▶️ ๐——๐˜‚๐—ฎ ๐—ฆ๐—ถ๐—น๐˜€๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ

Jika kedua silsilah itu dibandingkan dari Daud sampai ke Yusuf (suami Maria) hampir tidak ada nama yang sama kecuali Sealtiel dan Zerubabel. Jadi, cukup beralasan jika disimpulkan bahwa kedua silsilah Yesus itu adalah dua silsilah yang memang berbeda. Akibatnya pertanyaan ini sulit dijawab:

1. Yusuf keturunan Daud dari garis-keturunan siapa: Natan (Luk. 3:31) ataukah Salomo (Mat. 1:6)?

2. Siapakah ayah Yesus atau suami Maria: Yusuf anak Eli keturunan Natan (Luk. 3:23) ataukah Yusuf anak Yakub keturunan Salomo (Mat. 1:16)? 

▶️ ๐—จ๐˜€๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ผ๐—น๐˜‚๐˜€๐—ถ ๐—ธ๐—ฎ๐˜‚๐—บ ๐—™๐˜‚๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜€

Usulan solusi dari kaum Fundamentalis seperti Gleason Archer adalah dengan beranggapan Silsilah Yesus versi Lukas itu sebagai silsilah Maria, bukan silsilah Yusuf. Jadi, Marialah yang bernenek moyang Natan dan memiliki ayah bernama Eli. Sepintas solusi itu seakan-akan bisa “menjawab” mengapa kedua Silsilah Yesus itu sangat berbeda. Sialnya solusi itu lebih didasarkan pada pembelaan ideologi Ineransi (๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ) ketimbang pada bukti tekstual.

▶️ ๐—•๐˜‚๐—ธ๐˜๐—ถ ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—น๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ผ๐—น๐˜‚๐˜€๐—ถ ๐—ธ๐—ฎ๐˜‚๐—บ ๐—™๐˜‚๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜€

1. Hanya ada nama ๐˜ ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ง di Silsilah Yesus versi Lukas itu (3:23).

Tidak ada nama ๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ข di sana. Seandainya benar silsilah itu adalah silsilah Maria, mengapa namanya tidak disebutkan secara eksplisit?

2. Dalam Injil Lukas tokoh yang secara panggah disebut ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜‹๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ (Luk. 1:27) atau ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ (Luk. 2:4) hanya Yusuf dan Yesus (Luk. 1:32; Kis. 2:30). Maria bukan keturunan Daud.

Solusi dari kaum fundamentalis seperti Archer tampaknya lebih membuktikan bahwa masalah yang mendasar bukan terletak dalam silsilah itu pada dirinya, melainkan terletak pada prapaham atau pemahaman pembaca terhadap silsilah itu. Jika silsilah itu dipahami sebagai laporan historis biologis lalu dibandingkan ke silsilah PL sebagai rujukannya, pembaca akan berkesulitan menjawab berbagai masalah yang berpautan dengan kebenaran historisnya. Jadi, ๐˜€๐—ถ๐—น๐˜€๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ถ๐—ธ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—บ๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ.

Sama halnya dengan “cerita” Injil sebagai sarana berteologi, dalam silsilah memang ada anasir-anasir historis. Namun, anasir-anasir historis itu ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต silsilah teologis itu menjadi silsilah historis.

Sebagai contoh kepentingan silsilah dalam berteologi dapat kita lihat pada pembuka Injil Matius. Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Petulis Injil Matius sejak awal menyatakan imannya bahwa ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ธ ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—ฟ ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐˜€ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฅ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ. Itu sebabnya ada orang Majus datang menyembah Mesias yang baru dilahirkan itu.

Teologi silsilah Injil Lukas berkebalikan dari Matius. Matius dari atas ke bawah. Lukas dari bawah ke atas: dari anak Yusuf (Luk. 3:23) sampai anak Allah (Luk. 3:38). Lukas mengusung teologi kenaikan. Lukas satu-satunya kitab Injil yang berkisah kenaikan Yesus. Dalam teologi Injil Lukas Yesus disebut Tuhan dan Mesias ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ป๐—ฎ๐—ถ๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ ๐˜€๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ฎ lalu datang kembali sebagai Raja dalam kemuliaan-Nya.

Semoga bermaslahat.

MDS

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 2 : 13-23, [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฎ ๐—•๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚ atau Israel Baru

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 2 : 13-23,  [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฎ ๐—•๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚ atau Israel Baru

PENGANTAR
Seperti yang pernah saya sampaikan bahwa pada mulanya jemaat Kristen tidak merayakan Hari Natal. Natal sebagai hari raya liturgi ditetapkan belakangan. Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ณ) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Meskipun demikian umat Kristen juga harus memahami bahwa kisah-kisah Kristus di dalam kitab-kitab Injil adalah kisah teologis, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ulasan laporan jurnalistik historis. Setiap penulis kitab Injil memiliki teologi masing-masing yang khas, unik, berbeda dari setiap pengarang kitab Injil kanonik. Perbedaan teologi ini ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ dapat digabungkan untuk diharmoniskan. Perbedaan itu justru anugerah bagi kita sebagai pembaca produk akhir Alkitab bahwa tidak ada pendapat tunggal untuk memahami Yesus Kristus. Perbedaan kisah teologis ini juga menolong kita jangan sampai terbuai kepada orang yang berjualan “kesaksian” pribadi.

PEMAHAMAN
Bacaan ekumenis untuk Minggu pertama sesudah Natal hari ini diambil dari Injil Matius 2:13-23 yang diawali dengan Yesaya 63:7-9, Mazmur 148, dan Ibrani 2:10-18.

Bacaan Injil Minggu ini oleh LAI dibagi menjadi tiga perikop (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ข๐˜จ๐˜ฆ): ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ (ay. 13-15), ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฎ (ay. 16-18), dan ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ (ay. 19-23). Bacaan Minggu ini khas Matius sehingga para ahli menyebut pengarang Injil Matius memiliki sumber sendiri alias Sumber M.

Muatan teologi di awal Injil Matius (pasal 1-2), yang mencitrakan teologi keseluruhan Injil Matius, Yesus adalah raja Yahudi mesianik keturunan Daud yang justru ditolak oleh para pemimpin Yahudi, tetapi diterima dan disembah oleh orang bukan-Yahudi. Para pemimpin Yahudi itu dicitrakan oleh Raja Herodes, sedang orang bukan-Yahudi dicitrakan oleh orang-orang majus.

Di awal Injilnya Matius langsung menggebrak bahwa Yesus juga menjadi ๐˜๐˜ด๐˜ณ๐˜ข๐˜ฆ๐˜ญ ๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ yang mengungsi ke Mesir dan dipanggil keluar (eksodus) dari Mesir. Eksodus adalah tema utama dalam sejarah keselamatan Israel (Perjanjian Lama atau PL). Tema eksodus menjiwai Injil Matius:
• Meskipun ada penolakan dan penindasan dari Raja Herodes (sejajar dengan Firaun di Mesir), Allah akan tetap berkarya melalui Anak-Nya, Israel baru (Mat. 2:15). 
• Musa memimpin Israel Lama, Yesus adalah pemimpin Israel Baru.
• Apabila Musa memberi kitab Taurat kepada umat Israel, Yesus pun memberi “kitab Taurat” yang baru kepada Israel Baru: (1) Matius 5-7, (2) Matius 10, (3) Matius 13, (4) Matius 18, dan (5) Matius 24-25.
• Musa menerima Taurat di gunung, namun Yesus lebih daripada itu, bukan menerima, melainkan memberi “Taurat” pertama-Nya di gunung (lih. ๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต dalam Matius 5-7). Yesus membaharui Taurat lama dengan rumusan “๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ง๐˜ช๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ...., ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ …”
Pada Minggu yang akan datang, 28 Desember 2025, saya akan berkhotbah di Hari Minggu pertama setelah Natal, ibadah sore. Gagasan utama yang ingin saya sampaikan adalah bahwa, sesuai dengan teologi Injil Matius, Yesus menjadi Israel yang baru, dengan memasuki kembali peristiwa-peristiwa Israel, dimulai dari Mesir. Jika Israel mengalami eksodus dari Mesir, kanak Yesus justru harus mengalami eksodus ke Mesir. Itu artinya, sekalipun Mesir tetap menjadi situs trauma kolektif/ketakutan kolektif bagi Israel, ia kini juga menjadi tempat perlindungan bagi kanak Yesus. Tantangan terbesar saya adalah bagaimana ini menjadi sebuah khotbah yang trauma/ketakutan sensitive. Jika Anda juga mengalami kegelisahan yang sama, beberapa catatan ini semoga bermanfaat. Pertama, jangan buru-buru menuntut umat untuk keluar dari trauma/takut dan luka mereka. Fokuskan pada kehadiran Allah melalui Yesus di dalam pengalaman trauma. Injil tidak menuntut mereka untuk memulih dengan cepat.  Kedua, jangan dengan mudah menegasi pengalaman trauma/takut bernama “Mesir” itu, apalagi menjustifikasi displacement sebagai kehendak Allah. Memang tiga kali kata “digenapi” muncul di dalam bacaan Injil (ay. 15, 17, 23), seolah-olah menyiratkan bahwa Allah menetapkan peristiwa luka Mesir dan pengungsian Yesus. Namun, kita dapat memahaminya sebagai penetapan Allah untuk tetap menjadi Imanuel, yang menyertai manusia di setiap peristiwa hidupnya yang retak. Ketiga, sangat penting untuk mengakui displacement sebagai sebuah fenomena luka yang global—ingat Gaza, korban banjir Sumatra, homelessness, dll. Pengungsian keluarga kudus itu menjadi tanda bahwa Allah dapat ditemukan di sana juga, Immanuel.
Sebelum kita masuk ke pembahasan Bacaan Injil Minggu ini, kita segarkan lagi secara kelumit perikop yang mendahuluinya, yaitu perikop ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ซ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜›๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ (Mat. 2:1-13). Orang-orang Majus dari Timur itu adalah orang bukan-Yahudi pertama yang datang untuk menyembah Yesus sebagai Raja Yahudi yang baru dilahirkan (Mat. 2:2) karena mereka melihat bintang-Nya di Timur. 

Pengarang Injil Matius tampaknya mendapat inspirasi membuat kisah teologisnya dari Bilangan 22-24. Di sana ada raja jahat (Balak) yang hendak mencelakai bangsa Israel dan Musa. Di sana ada juga si penenung (magi) Bileam yang bukan orang Israel. Bileam juga melihat bintang (Bil. 24:17). Bintang yang dilihat Bileam itu menandakan kelahiran Raja Daud.

“Bintang Daud” itu juga dilihat dan diungkapkan orang-orang majus kepada Raja Herodes (Mat. 2:1), si raja jahat yang mau membunuh Yesus: raja mesianik keturunan Daud, Israel Baru, ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ. Raja Yahudi yang baru lahir itu adalah Sang Mesias yang dijanjikan Allah dan dinubuatkan di kitab nabi (Mikha 5:1). Ironisnya orang Yahudi sendiri tidak berusaha mencari rajanya yang baru dilahirkan itu, meskipun sudah punya petunjuk (kitab Mikha) tempat Ia akan dilahirkan: Betlehem. 

Herodes versi Injil Matius dan Injil Lukas merujuk orang yang sama: Herodes Agung. Akan tetapi Herodes versi Injil Lukas tidak tahu apa-apa mengenai kelahiran Yesus dan ia tidak didatangi orang-orang majus. Herodes versi Injil Matius mengetahui kelahiran Yesus melalui informasi dari orang-orang majus dan semua imam kepala serta ahli-ahli Taurat yang dikumpulkannya (Mat. 2:2, 4). Yesus adalah raja Yahudi yang baru dilahirkan sekaligus Mesias yang dijanjikan Allah. Herodes menganggap Yesus sebagai saingannya, musuh yang harus dibunuh. 

Herodes marah karena orang-orang majus itu tidak kembali kepadanya untuk memberitahu tempat Yesus berada. Ia lalu memberi perintah membunuh semua anak di Betlehem yang berumur dua tahun ke bawah. Atas ancaman pembunuhan itu Yesus harus menyingkir ke Mesir agar nubuatan nabi tergenapi: “๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜’๐˜ถ” (lih. Hos. 11:1). Herodes adalah raja yang hendak mencelakai Yesus, sejajar dengan Balak raja jahat yang mau mencelakai bangsa Israel dan Musa.

Tema eksodus tampak dalam kisah pembunuhan anak-anak ini. Herodes adalah Firaun Mesir yang membunuh anak-anak Israel (lih. Kel. 1-2). Yesus adalah Musa yang luput dari pasukan Firaun itu. Pembunuhan anak-anak itu sekaligus menggenapi nubuatan nabi Yeremia (lih. Yer. 31:15). Matius yang mengutip ayat itu hendak memerikan (๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ค๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ) cekaman teror itu lewat kesedihan Rahel, emak-emak Israel, yang anak-anaknya dibunuh oleh Herodes (Mat. 2:18).

Pengarang Injil Matius tampaknya tidak begitu suka memerikan Yesus sebagai Koresh, mesias dari Persia, yang mengalahkan Babel dan memulangkan orang-orang Yehuda (539-538 SZB). Matius lebih suka melukiskan Yesus sebagai Israel Baru dan Musa Baru dengan menampilkan adegan malaikat Tuhan (Yahweh) kepada Yusuf dalam Matius 2:20 yang sejajar dengan yang dikatakan Yahweh kepada Musa dalam Keluaran 4:19. 
• "๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช." (Kel. 4:19)
• "๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜๐˜ด๐˜ณ๐˜ข๐˜ฆ๐˜ญ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช." (Mat. 2:20)

Yesus dibawa kembali ke Israel oleh Yusuf untuk memerikan Yesus sebagai Musa Baru untuk memimpin Israel Baru. Dengan demikian nubuatan nabi dalam kitab Hosea yang dikutip di Matius 2:15 terjadi: “๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜’๐˜ถ.” (lih. Hos. 11:1).

Meskipun Yesus adalah Musa Baru, namun Yesus harus dikenal sebagai “Yesus Orang Nazaret”. Untuk itu pengarang Injil Matius membuat alasan agar Yusuf tidak tinggal kembali di Betlehem dengan menampilkan Arkhelaus, anak Herodes, memerintah di tanah Yudea. Lewat mimpi Yusuf dinasihati untuk membawa Yesus (dan Maria) ke Nazaret di Galilea dan tinggal di sana agar tergenapi nubuatan-nubuatan nabi-nabi (Mat. 2:23). 

Entah nubuatan-nubuatan yang mana yang dimaksud oleh Matius dalam ayat 23. Tampaknya ia hanya hendak menyampaikan bahwa Allah akan selalu menggenapi janji-Nya. Hal ini sangat bolehjadi karena jemaat Matius bagian terbesar berlatar belakang Yahudi dan mengenal kitab-kitab PL sehingga tak terlalu sulit bagi Matius menulis kitab Injilnya. 

(26122025)(TUS)

Kamis, 04 Desember 2025

Sudut Pandang Lukas 2:1-14 (15-20) dan Lukas 2:(1-7) 8-20 Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด [๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], Permulaan

Sudut Pandang Lukas 2:1-14 (15-20) dan Lukas 2:(1-7) 8-20
Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด [๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], Permulaan

PENGANTAR 
24 Desember 2025, umat Kristen mengakhiri masa Adven. Adven berakhir pada saat matahari terbenam, 24 Desember 2025, selepas Maghrib ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น, Hari Kelahiran Yesus. Peralihan hari dimula pada tengah malam diperkenalkan pada 1582 bersamaan dengan penerapan kalender Gregorian. Sebelumnya hari berakhir pada saat matahari terbenam dan langsung beralih ke hari baru. 

Secara internasional peralihan hari pada tengah malam ditetapkan pada 1884. Meskipun demikian Gereja tetap memelihara tradisi hari baru dimula selepas matahari terbenam untuk keperluan liturgi hari raya seperti Paska dan Natal.

Tak sedikit orang Kristen yang mencerap Hari Natal secara kalender tarikh umum dimula tengah malam pada pukul 00.00. Akan tetapi itu bukan pandangan Gereja secara ekumenis. Menurut tahun liturgi gerejawi Hari Natal dimula hari ini selepas matahari terbenam. Terlampir saya tampilkan linimasa Natal yang benar menurut tahun liturgi gerejawi.


PEMAHAMAN 
Secara tradisi yang kemudian menjadi liturgi baku ada tiga sesi ibadah Hari Natal: Kebaktian Malam Natal (๐˜”๐˜ช๐˜ด๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜•๐˜ฐ๐˜ค๐˜ต๐˜ฆ), Kebaktian Pagi (๐˜”๐˜ช๐˜ด๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข), dan Kebaktian Siang (๐˜”๐˜ช๐˜ด๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ช๐˜ฆ). Dalam kebaktian-kebaktian tersebut bacaan pertama diambil dari kesaksian dan nubuat Nabi Yesaya akan kehadiran Sang Mesias. Pembacaan Injil untuk homili menyesuaikan waktu ibadah.
• Kebaktian Malam: Lukas 2:1-14, (15-20)
• Kebaktian Pagi: Lukas 2:(1-7), 8-20
• Kebaktian lanjutan: Yohanes 1:1-14 (kalau ada)

Dari dua bacaan Injil yang berbeda itu diharapkan umat menjadi jelas ragam teologi keduanya. Kehadiran Yesus versi narasi Injil Lukas dan versi madah Injil Yohanes merupakan karya sastra teologis untuk mengungkapkan iman jemaat mereka masing-masing mengenai siapa Yesus.

Di dalam Alkitab sedikitnya ada lima pandangan tentang Yesus: Menurut Matius, Markus, Lukas, Yohanes, dan Rasul Paulus. Kelima pihak ini juga membuat banyak sekali metafor untuk memerikan (๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ค๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ) siapa Yesus. Kita sebagai penerima produk akhir Alkitab sepatutnya berbahagia dengan beraneka pandangan sehingga kita dapat merefleksikan hidup menurut kehidupan kita masing-masing. Juga perbedaan pandangan itu mengajari kita untuk tidak boleh mendaku satu-satunya ajaran yang benar tentang Yesus. Yesus tidak boleh diprivatisasi dan dimonopoli.

Dalam Sudut Pandang edisi Hari Natal ini saya mengambil bahan bacaan dari Injil Lukas, sesuai bacaan tahun A.

Pengarang Injil Matius menulis kisah kelahiran Yesus cukup singkat, penuh teror, dan langsung diceritakan sesudah Silsilah Yesus. Alur cerita Injil Matius ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต. Penulis Injil Lukas mengarang kisah Natal lebih rinci dan rumit. Pengantarnya cukup panjang.

Sebelum kisah kelahiran Yesus ada cerita kelahiran Yohanes (Pembaptis) yang ajaib. Yohanes dan Yesus menurut pengarang Injil Lukas adalah sepupu karena ibu Yohanes, Elisabet, bersaudara dengan Maria, ibu Yesus. Elisabet yang mandul mengandung secara ajaib seperti yang terjadi pada Sara istri Abraham, Ribka istri Ishak, Rahel istri Yakub, dan Hana istri Elkana. Namun keajaiban kehamilan Maria belum pernah terjadi sebelumnya karena ia masih perawan dan tak bersuami (Luk. 1:27, 34).   

Lukas memberi nama malaikat yang menjumpai Maria dengan Gabriel (Luk. 1:19,26). Gabriel adalah malaikat penyingkap Akhir Zaman yang pernah ikut ke panggung cerita di kitab Daniel (pasal 8-9). Kehadiran Gabriel pada awal Injil Lukas tampaknya hendak mengungkapkan bahwa Akhir Zaman itu sudah mula digenapi dengan kelahiran Yohanes dan Yesus.

Lukas menyampaikan pendapat teologis bahwa Yesus adalah Anak Allah sejak dalam kandungan karena Yesus dikandung dari Roh Kudus. Matius pun berpendapat demikian. Kedua penulis Injil ini tidak bersependapat dengan pengarang Injil Markus yang mengatakan Yesus adalah Anak Allah sesudah dibaptis oleh Yohanes.

Berbeda dari Matius yang bermatra “nasional”, latar kelahiran Yesus dalam Injil Lukas bermatra “internasional”, seluruh dunia. Lukas 2:1 tertulis “Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah menyuruh mendaftarkan semua orang ๐—ฑ๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ต ๐—ฑ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ.”.

Para ahli Perjanjian Baru meragukan Gayus Oktavius alias Kaisar Agustus memberi perintah sensus. Di sini kita harus membaca ๐—ฐ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ ๐—ฐ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ. Tampaknya Lukas hendak menyampaikan bahwa konteks kelahiran Yesus adalah Kekaisaran Romawi yang sedang memerintah “di seluruh dunia”. Sejak awal Lukas sudah menegaskan bahwa karya Yesus untuk seluruh dunia. Dalam Injil Lukas jilid kedua (Kisah Para Rasul) sesudah Yesus naik ke surga, para murid-Nya akan melanjutkan karya-Nya ke seluruh dunia atau sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8).

Dalam versi Injil Matius rumah Yusuf dan Maria di Betlehem dan mereka belum pernah ke Nazaret, Galilea, apalagi punya rumah di sana. Dalam versi Injil Lukas rumah Yusuf dan Maria di Nazaret, Galilea, dan mereka tak punya rumah di Betlehem. Jadi pengarang Injil Lukas membuat alasan agar Yesus lahir di Betlehem sekaligus menegaskan bahwa Yesus adalah keturunan Raja Daud seperti yang sudah dinubuatkan Nabi Mikha (Lih. Mik. 5:1).

Lukas melangkah lebih jauh ketimbang Matius yang mengisahkan secara singkat kelahiran Yesus di Betlehem. Dalam Injil Lukas Yesus yang baru lahir itu dibungkus dengan lampin dan dibaringkan di palungan karena tidak ada tempat di ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข (Luk. 2:7). Ada yang memberi makna kataluma sebagai rumah penginapan dan ruang khusus menginap di dalam rumah. Apa pun pilihannya akan berimplikasi pada perbedaan penafsiran.

Terlepas dari perdebatan itu, jika kita membaca cerita sebagai cerita, pengarang Injil Lukas membuat alasan teologisnya untuk menjelaskan Yesus lahir di kandang dan dibaringkan di palungan karena tidak ada tempat di tempat yang ๐˜€๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ. Mengapa?

Lukas sepertinya hendak menciptakan kesan kontras atau paradoks: Anak Allah yang Maha Tinggi ternyata lahir dengan cara yang sederhana dan di lingkungan masyarakat kelas bawah, yaitu para gembala seperti yang dikisahkan sesudah Yesus dilahirkan (Luk. 2:8-20). Juga, Lukas tampaknya merujuk kitab Yesaya “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya." (Yes. 1:3). Para gembala itu merupakan Israel baru yang mengenal pemiliknya dan mengenal palungannya. Oleh karena itulah malaikat menjadikan palungan sebagai tanda bagi para gembala (Luk. 2:10-12). Sesudah malaikat itu pergi, para gembala menjumpai Yesus di palungan (Luk. 2:16).

Dari keseluruhan bacaan Injil Lukas hari ini kita dapat mengambil pesan-pesannya:

• Pesan malaikat Allah kepada kita (lewat para gembala) adalah kelahiran Yesus merupakan kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Sejak awal Lukas sudah mengungkapkan imannya bahwa karya Yesus ditujukan kepada semua orang baik orang Yahudi maupun orang bukan-Yahudi. Berbeda dari iman penginjil Matius: karya Yesus sebenarnya hanya untuk orang-orang Yahudi, tetapi karena ditolak mereka, barulah anugerah keselamatan diberikan kepada orang bukan-Yahudi.

• Yesus merupakan Mesias keturunan Daud yang dijanjikan Allah akan duduk di tahta Daud dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk. 1:32-33; Kis. 2:36). Akan tetapi untuk mencapai kemuliaan-Nya itu Sang Mesias harus menderita terlebih dulu (Luk. 24:26).

• Lukas menciptakan tokoh Maria sebagai teladan jemaat dan pembacanya bagaimana bereaksi atas kehendak Allah yang barangkali terasa menyakitkan. Misal, hamil tanpa suami itu sungguh menyakitkan. Lukas 2:19 “Tetapi Maria menyimpan ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ถ๐˜๐˜‚ di dalam hatinya dan merenungkannya.”. ๐˜š๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ dapat dimaknai lebih luas pada semua yang terjadi dalam episode Kelahiran Yesus (Luk. 2:1-20). Menyimpan di dalam hati dan merenungkannya adalah tindakan penting. Itu syarat untuk berbuah (Luk. 8:15).

Dapat disarikan lagi: Natal barulah kisah permulaan. Kisah untuk direnungkan agar berbuah dalam kehidupan nyata, pengenangan harus seiring sejalan dengan perwujudan, ibadah simbolis ritual atau liturgis harus berubah dalam tindakan hidup keseharian . Tanpa berbuah membuat perayaan Natal menjadi hampa tak bermakna.

๐˜˜๐˜ถ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ: "๐˜ ๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜š๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜Š๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด ๐˜ด๐˜ช๐˜น. ๐˜”๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฆ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต๐˜ฐ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฉ." Shirley Temple

Selamat Hari Natal!

(24122022)(TUS)

SUDUT PANDANG KISAH NATAL, KENAPA BERBEDA

SUDUT PANDANG KISAH NATAL, KENAPA BERBEDA

PENGANTAR 
Perbedaan ๐—ธ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ต ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น Injil Matius vs. Injil Lukas

๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€
▶️ Yusuf dominan, Maria figuran.
▶️ Yusuf dan Maria sudah suami-istri pada hari kelahiran Yesus.
▶️ Yusuf dan Maria tinggal di Betlehem, punya rumah di Betlehem, tidak pernah ke Nazaret apalagi punya rumah di Nazaret.
▶️ Yesus lahir di rumah.
▶️ Yesus dikunjungi orang majus.
▶️ Atas informasi kelahiran Yesus di Betlehem Herodes berubah seperti Firaun membunuh bayi-bayi U-2.

๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€
▶️ Maria dominan, Yusuf figuran.
▶️ Maria dan Yusuf masih belum suami-istri pada hari kelahiran Yesus
▶️ Maria dan Yusuf tinggal di Nazaret, punya rumah di Nazaret, tidak pernah ke Betlehem apalagi punya rumah di Betlehem.
▶️ Yesus lahir di kandang.
▶️ Yesus dikunjungi kawanan gembala.
▶️ Suasana damai, Raja Herodes tidak tahu apa-apa.

Walau banyak teori dalam tanggal kelahiran Kristus, Herannya banyak orang Kristen percaya kepada penjelasan tanggal lahir Yesus yang akurat menurut narasi Alkitab, bukan dari sudut inkulturisasi atau tradisi suci ..... Wk ..... Wk, padahal Injil di tulis berdasarkan kisah teologis atau kisah iman versi penulis Injil masing-masing. Percaya banget kepada pseudo-science.

PEMAHAMAN 
Mengapa berbeda?
saya menyampaikan perbedaan kisah Natal Injil Matius vs. Injil Lukas. 
Seorang Kristen, teman, juga seorang pendeta, mungkin tak tahu lagi caranya berapologia menanggapi post saya di blog penulisan dan di media sosial, seperti di bawah ini.

==awal kutipan==
Memang BEDA.
Tapi dalam hal ini ada perbedaan WAKTU PANDANG.
Injil Lukas moment pas lahiran.
Injil Matius moment beberapa waktu pasca lahiran.
Bukan sesuatu masalah.
Tetap nama Tuhan Yesus Kristus yg diagungkan dan dimuliakan.
Hosana haleluya ๐Ÿ™๐Ÿฝ
==akhir kutipan==

Penanggap di atas tampaknya tidak membaca kedua kitab Injil secara saksama. Injil Lukas justru lebih detil pasca-kelahiran. Kedua kitab Injil menceritakan dua kisah yang bertolak belakang pasca-kelahiran Yesus. 
▶️ Kitab Injil Matius berkisah mengenai horor pembunuhan bayi U-2 sehingga Yusuf mengungsikan Maria dan Yesus ke Mesir. 
▶️ Kitab Injil Lukas berkisah damai, bayi Yesus dibawa ke Bait Allah di Yerusalem mengikuti tradisi Yahudi.

Dari kronologi juga berbeda:
▶️ Matius: Betlehem, lalu Mesir, lalu Nazaret
▶️ Lukas: Nazaret, lalu Betlehem, lalu Yerusalem, lalu Nazaret lagi

Orang Kristen ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ (jumlahnya sangat banyak) mudah terprovokasi dengan jenis postingan di atas. Mereka bereaksi dengan ajaran-ajaran dari apologet-apologet Kristen, yang argumen mereka tak dapat dipertanggungjawabkan.
Mau menggunakan jurus apa pun, perbedaan kisah Natal di atas tidak dapat disatukan dalam arti disinkronkan, karena itu memang dua cerita yang berbeda dan bukan kisah historis-objektif.
Bagaimana kita orang Kristen melihat kenyataan teks seperti ini? Upaya kita jangan mencoba menyinkronkan dua cerita itu. Jangan menipu diri sendiri dengan argumen yang tidak bertanggungjawab dari apologet-apologet Kristen.
Yang paling penting adalah mengajukan pertanyaan: ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ?

Dengan berani mengajukan pertanyaan itu kita sudah mengatasi prapaham kita yang didapat sejak kecil bahwa bayi Yesus di palungan dikunjungi kawanan gembala dan orang Majus. Di sini kita sudah menerima ada perbedaan dalam kisah Natal. Ajukan lagi pertanyaan: mengapa berbeda?
Jemaat Matius dari kalangan Yahudi. Ketika Bait Allah di Yerusalem dihancurkan oleh Titus, para pemimpin Yahudi menimpakan kesalahan kepada Jemaat Matius. Jemaat Matius adalah biang-sial. Mereka lalu mengusir umat Kristen dari sinagoge-sinagoge. Jejak ini terlihat dalam Matius 4:23 “ ... ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™–...” Petulis Injil Matius sudah membedakan ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข (Jemaat Matius) dan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข (orang Yahudi). Petulis Matius mengusung teologi ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฎ ๐—•๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚. Keselamatan dari Allah kali pertama ditawarkan kepada umat Israel, tetapi mereka menolak, lalu ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜€๐—ฎ ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป. Itu sebabnya ada kisah orang majus menyembah Yesus dan Raja Herodes yang menolak kelahiran Mesias. Suasana kelahiran Yesus dibuat mirip kelahiran Musa, lalu diungsikan ke Mesir. Yesus adalah Musa Baru dengan umat Israel yang baru.
Injil Lukas sejak awal mengusung Injilnya bahwa ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ต ๐—ฑ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ karena Jemaat Lukas banyak datang dari kalangan bukan-Yahudi. ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜’๐˜ข๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ˆ๐˜จ๐˜ถ๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ....๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ง๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐™™๐™ž ๐™จ๐™š๐™ก๐™ช๐™ง๐™ช๐™ ๐™™๐™ช๐™ฃ๐™ž๐™–. (Luk. 2:1). ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ... ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐™™๐™ž ๐™—๐™ช๐™ข๐™ž ... (Luk. 2:14). Lukas hendak menciptakan paradoks bahwa Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi, lahir di tempat bukan seharusnya dengan saksi kawanan gembala, yang secara legal tidak sah menjadi saksi, karena orang-orang buangan. Lukas memang memberi tempat istimewa bagi orang-orang pinggiran.
Anda sudah membaca komik atau menonton film-film Superman dengan cerita yang berbeda. Satu hal yang menjadi pakem dan tidak boleh berubah adalah Superman alias Kal-El adalah orang Krypton anak Jor-El.
Dalam menulis cerita kelahiran Yesus para petulis Injil mendapat kebebasan mengarang cerita atau kisah untuk menyampaikan teologi mereka. Akan tetapi, sama seperti kisah Superman, ada pakem atau tradisi yang harus ditaati dan tidak boleh diubah oleh para petulis Injil yaitu bahwa ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ (๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€) ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ ๐—•๐—ฒ๐˜๐—น๐—ฒ๐—ต๐—ฒ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—ฎ (๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€) ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ก๐—ฎ๐˜‡๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐˜. Jadi, kronologi Lukas menjawab pertanyaan: bagaimana ceritanya Yesus orang Nazaret bisa dilahirkan di Betlehem? Kronologi Matius menjawab pertanyaan: bagaimana ceritanya Yesus yang lahir di Betlehem bisa menjadi orang Nazaret? Matius menghilangkan Yerusalem dalam kronologinya karena tampaknya ia sangat membenci para pemuka Yahudi di sana.

Semoga bermaslahat.
(05122025)(TUS)

SUDUT PANDANG MATIUS 1:18-25, Kejiwaan Yusuf

SUDUT PANDANG MATIUS 1:18-25, Kejiwaan Yusuf

PENGANTAR
Melihat peristiwa Yusuf ini unik, ada beberapa penafsir yang melihat asal muasal kemungkinan kegalauan Yusuf, Sangat dimungkinkan, Yusuf mengetahui sendiri kalau Maria hamil kalau dilihat dari susunan dan bentuk sastra bahasa aslinya, diperkirakan dari para ahli tafsir bahwa usia kehamilan Maria di Matius 1 antara 3-4 bulan, sehingga bahasa asli yg digunakan menampakan Yusuf mengerti Maria hamil dari tanda-tanda yang terlihat, artinya kehamilan Maria udah terlihat oleh Yusuf,  9 bulan Maria tidak di sentuh Yusuf oleh karena tradisi Yahudi kalau wanita hamil itu tidak boleh berhubungan, takut menggugurkan kandungan, setelah melahirkan 40 hari tidak boleh berhubungan agar tidak tercemar (dianggap masih ada darah di kemaluan wanita, 40 hari dianggap sudah bersih), Perkiraan kehamilan Maria di Matius 1 adalah 3-4 bulan, karena dari susunan bahasa aslinya, Yusuf mengetahui sendiri kehamilan Maria, artinya tanda-tanda kehamilan  itu sudah terlihat. Diluar sudut pandang sastra dan bahasa, penginjil Matius ingin menyampaikan kemesiasan Yesus atas bangsa Yahudi, oleh karena itu sastra perumpamaan itu dibuat bahwa Maria yang tidak sempurna perlambang bangsa Israel yang udah banyak salah thp Allah, tetap diterima Yusuf perlambang Allah yang menerima ketidak sempurnaan Maria (manusia). Karena, pada kebiasaan zaman itu peristiwa Maria itu pasti menyebabkan hukuman rajam, dan hukuman moral dari masyarakat bagi keluarga besar Maria, dalam sistem patriarki, Yusuf yang selamat Maria tidak. Tentang tradisi pertunangan Matius 1 : 18-25. Tradisi pertunangan pada masa Matius 1:18-25 adalah sebuah ikatan formal dan kuat dalam budaya Yahudi, yang sudah mengikat pria dan wanita secara hukum meskipun mereka belum tinggal bersama atau hidup sebagai suami istri. Pertunangan ini hampir setara dengan pernikahan dalam hal ikatan, dan hanya bisa dibatalkan melalui perceraian resmi. Maria dan Yusuf sudah bertunangan saat Maria mengandung Yesus dari Roh Kudus, tetapi mereka belum hidup bersama sampai setelah Yesus lahir. Dalam budaya Yahudi saat itu, pasangan yang bertunangan sudah disebut sebagai suami dan istri secara hukum. Jika salah satu pihak selama masa pertunangan berbuat tidak setia, perempuan bisa dihukum berat. Namun, mereka belum tinggal serumah dan belum melangsungkan pernikahan penuh, yang meliputi membawa wanita itu ke rumah suaminya untuk mulai hidup bersama. Pertunangan ini biasanya berlangsung sekitar tiga bulan sampai satu tahun sebelum pernikahan berlangsung. Yusuf digambarkan sebagai seorang pria yang benar dan penuh belas kasihan, yang awalnya mempertimbangkan untuk membatalkan pertunangannya secara diam-diam ketika mengetahui Maria mengandung, agar tidak mempermalukan Maria. Namun, malaikat Tuhan menegaskan bahwa anak yang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus sehingga Yusuf menerimanya sebagai istrinya setelah Yesus lahir, tidak bersetubuh dengan Maria adalah tanda hormat Yusuf pada Tuhan, untuk menjaga kekudusan Maria di luar ayran tradisi zaman itu. Bagaimana sistem pertunangan Yahudi abad pertama bekerja, Sistem pertunangan Yahudi abad pertama terdiri dari dua tahap utama: kidushin (atau erusin/pertunangan) dan nisu'in (pernikahan penuh), di mana tahap pertama sudah mengikat secara hukum seperti pernikahan, meskipun pasangan belum tinggal bersama. Pertunangan dimulai dengan shiddukhin (persetujuan awal untuk menikah) dan tenaim (syarat kontrak), sering disertai ketubah (kontrak pernikahan) yang ditandatangani saksi, serta pemberian mahar atau cincin oleh mempelai pria kepada wanita. Ikatan ini sangat kuat; pembatalannya memerlukan prosedur perceraian (get), dan pelanggaran seperti perselingkuhan bisa dihukum berat.
Tahap Pertunangan (Kidushin)
- Keluarga mempelai pria memilih calon, sering melalui perantara, dan ayah pria membayar mahar kepada keluarga wanita sebagai tanda komitmen.
- Mempelai pria memberikan objek berharga (seperti cincin polos atau uang) sambil mengucapkan formula pengudusan, dihadiri dua saksi, membuat wanita secara hukum menjadi miliknya meski belum bersuami secara fisik.
- Masa tunggu biasanya 3-12 bulan untuk persiapan, selama itu pasangan dilarang berhubungan intim atau tinggal bersama.
Tahap Pernikahan Penuh (Nisu'in)
Pada hari pernikahan, mempelai pria "mengambil" wanita ke rumahnya di bawah chuppah (kanopi simbolis), di mana mereka mulai hidup bersama dan mengonsumasi pernikahan. Upacara mencakup berkat anggur, pemecahan gelas untuk mengingatkan kesedihan di tengah sukacita, dan tujuh berkat (sheva brachot). Dalam konteks Matius 1:18-25, Maria dan Yusuf berada di tahap kidushin saat Maria hamil, sehingga Yusuf mempertimbangkan perceraian diam-diam sebelum wahyu malaikat. Frasa "tidak bersetubuh dengan dia" dalam Matius 1:25 (dalam bahasa Yunani ou k ginลsken autฤ“n, yang secara harfiah berarti "tidak mengenal dia") merujuk pada tidak melakukan hubungan seksual atau tidak memiliki pengetahuan intim secara fisik dengan Maria hingga Yesus lahir. Ini menekankan bahwa Yusuf menjaga kemurnian Maria selama masa kehamilan supernatural oleh Roh Kudus, sesuai dengan konteks pertunangan Yahudi abad pertama di mana pasangan belum hidup bersama secara penuh. Konteks dan Arti Kata "Sampai" (Heลs)Kata "sampai" (heลs dalam Yunani) menunjukkan batas waktu hingga kelahiran Yesus, tetapi tidak secara eksplisit menyatakan apa yang terjadi setelahnya; interpretasi bervariasi antar denominasi Kristen . Beberapa tafsiran Protestan melihatnya sebagai indikasi hubungan suami-istri normal setelahnya, didukung ayat lain tentang saudara Yesus (misalnya Mat 12:46), sementara pandangan Katolik mempertahankan keperawanan abadi Maria tanpa kontradiksi. Frasa ini paralel dengan penggunaan idiom Ibrani untuk hubungan intim, memastikan Yesus lahir dari perawan. Dalam terjemahan Alkitab Indonesia seperti TB, BIS, dan TSI, ungkapan ini secara konsisten diterjemahkan sebagai "tidak bersetubuh" atau "tidak bercampur" untuk menyampaikan makna yang sama. Apa yang terjadi pada Yusuf, adalah manusiawi, orang yang mengalami dilematis seperti Yusuf pasti akan ketakutan, kemudian karena perang batinnya maka Yusuf pasti akan kelelahan. Takut dan lelah adalah kodrat manusia, Alkitab mengangkat issue ini, Allah beristirahat setelah mencipta di hari ke 7, nabi-nabi dan rasul-rasul mengalami ketakutan dan kelelahan, Yesus sendiri beristirahat, Yesus pun mengalami ketakutan layaknya manusia biasa, dlsb banyak dijabarkan. Tidur atau beristirahat itu menandakan tubuh lelah, tidak ada di dunia ini manusia yang tak pernah mengalami kelelahan dan ketakutan, karena itu kodrat manusia. Minum sejerigen atau se tong kopi tiada guna ketika tubuh memasang alarm tubuh ini kelelahan maka akan ngantuk terus tertidur (istirahat). Takut dan lelah itu wajar, yang tidak wajar adalah kemelekatkan pada takut dan lelah, Yusuf takut ..... Iya, Yusuf lelah ..... Iya, tapi Yusuf tetap berjuang dan tidak menyerah pada ketakutannya dan kelelahannya, itu digambarkan secara sastra dengan peristiwa tidur dan bermimpi serta perubahan keputusannya, lawatan surgawi mengubah ketakutan dan kelelahannya Yusuf menjadi ketidak menyerahkan dan ketidak hentikan juang pada kenyataan peristiwa yang di depan matanya. Maka, saya selalu mengatakan respon yang bermartabat orang beriman adalah respon atas peristiwa yang ada di depan matanya, nyata, bukan respon pada masa lalu, apalagi masa depan, Alkitab menjabarkan hal itu, maka Advent itu respon masa depan dengan berjaga-jaga serta waspada, dan isilah dengan karya, sedangkan Advent sebagai respon masa lalu dengan menghargai karya Allah yg terjadi dulu sebagai pengenangan dg karya masa kini.
Dari sudut pandang kejiwaan atau psikologi, Matius 1:18-25 menggambarkan kondisi kejiwaan Yusuf yang kompleks akibat situasi yang penuh tekanan dan krisis. Yusuf mengalami rasa kecewa, takut, kelelahan dengan perang batinnya dan sakit hati karena Maria, tunangannya, diketahui hamil sebelum mereka hidup bersama, yang memicu perasaan dikhianati, marah, dan kemungkinan malu sosial. Kejiwaan manusia tentu mengalami konflik batin dalam situasi semacam ini, di mana harapan yang telah dibangun hancur oleh realitas yang tak terduga, menyebabkan stres emosional yang berat pada Yusuf. Selain rasa sakit hati, takut, lelah, dilematis ada juga stigma sosial yang mungkin dialami Yusuf dari lingkungan sekitarnya karena hubungan Maria dianggap tidak sesuai norma sosial dan hukum pada masa itu. Namun, Yusuf menunjukkan karakter kejiwaan yang dewasa dengan tidak ingin mempermalukan Maria secara terbuka dan berencana menceraikannya secara diam-diam, yang menunjukkan adanya empati dan pengendalian diri di tengah tekanan emosional yang hebat. Kemudian datanglah pengalaman mistik berupa mimpi yang memberikan Yusuf penafsiran baru atas kejadian tersebut, mengubah rasa takut, kelelahan dan kebingungannya menjadi keberanian untuk menerima dan melaksanakan peran yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Dari perspektif kejiwaan, dalam karya sastra ini, mimpi ini berfungsi sebagai mekanisme kognitif dan emosional untuk mengatasi krisis, memberikan makna dan harapan baru, serta memperkuat tekad Yusuf dalam menghadapi stigma dan risiko sosial demi tujuan yang lebih besar. Mimpi ini atau lawatan surgawi (Allah), menjadi titik balik yang menunjukkan bagaimana seseorang dapat bertransformasi secara kejiwaan dalam menghadapi konflik dengan bimbingan kepercayaan dan nilai spiritual yang sudah didapatnya semasa hidup, sedari kecil. Yusuf mengalami konflik emosi: sakit hati, takut, lelah, marah, dan malu. Terdapat tekanan sosial akibat stigma masyarakat. Yusuf menunjukkan empati dan pengendalian diri. Mimpi sebagai mekanisme psikologis mengatasi krisis dan membangun makna baru. Transformasi psikologis Yusuf mengarah pada keberanian dan penerimaan peran spiritual.
Kalau ditelisik, ada dua tinjauan kejiwaan dalam peristiwa Yusuf ini, pertama Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit, beradaptasi, dan kembali ke kondisi semula setelah mengalami tekanan, kesulitan, atau perubahan yang signifikan dalam hidup. Ini bukan sekadar bertahan, tetapi juga berkembang dan menjadi lebih kuat setelah melewati masa sulit. Individu yang memiliki resiliensi mampu mengelola stres dengan cara yang sehat dan produktif, serta menunjukkan kapasitas untuk merespons secara positif terhadap masalah hidup yang dihadapi. Faktor-faktor yang membentuk resiliensi meliputi optimisme, regulasi emosi, keterampilan sosial, dukungan sosial, kemandirian, dan makna hidup. Resiliensi juga didukung oleh kesehatan fisik dan mental yang baik. Kedua, Reframing Kognitif merupakan teknik psikologis yang mengubah cara seseorang memandang atau membingkai suatu situasi, pengalaman, atau peristiwa dari perspektif negatif menjadi lebih positif, rasional, dan konstruktif tanpa mengubah fakta itu sendiri atau kenyataan di depan mata. Teknik ini berbasis premis bahwa interpretasi subjektif terhadap kejadian memengaruhi respons emosional dan perilaku, sehingga pergeseran kerangka berpikir dapat mengurangi stres, kecemasan, atau depresi. Reframing efektif menurunkan gejala kecemasan-depresi, meningkatkan regulasi emosi via aktivitas prefrontal cortex, dan mendukung perubahan perilaku jangka panjang dalam konseling. Studi neuroimaging menunjukkan penurunan aktivitas amygdala saat reframing, membuktikan dampak neurologis pada pengendalian emosi. Teknik ini relevan untuk resiliensi remaja menghadapi stigma sosial, seperti reframing cyberbullying menjadi kesempatan pertumbuhan.


PEMAHAMAN 
Reaksi Emosional Yusuf terhadap Aib dan Stigma, Yusuf menghadapi krisis emosional mendalam ketika mengetahui Maria hamil sebelum pernikahan mereka, memicu rasa dikhianati, sakit hati, dan kemarahan yang wajar dalam psikologi manusia terhadap pengkhianatan relasional. Reaksi awalnya mencerminkan konflik kognitif-disonansi, di mana keyakinan pribadi tentang kesetiaan pasangan bertabrakan dengan realitas, menyebabkan tekanan psikologis tinggi. Pengendalian Diri dan Empati, Meski menghadapi aib sosial yang berpotensi merusak reputasi di masyarakat Yahudi kuno, Yusuf memilih menceraikan Maria secara diam-diam untuk menghindari pemaluan publik, menunjukkan pengendalian impuls (self-regulation) dan empati tinggi yang melindungi martabat orang lain. Sikap ini mencerminkan kematangan emosional, di mana ia memprioritaskan belas kasih daripada balas dendam atau ekspresi marah terbuka, menghindari eskalasi stres menjadi agresi. Dampak Stigma Sosial, Stigma sosial terhadap kehamilan di luar nikah pada era itu menciptakan tekanan eksternal berupa malu komunal dan isolasi potensial bagi Yusuf, mirip dengan efek psikologis stigma modern yang memperburuk kecemasan dan depresi. Namun, respons Yusuf menghindari internalisasi stigma sepenuhnya, menjaga integritas diri melalui keputusan rahasia yang meminimalkan kerusakan sosial. Transformasi via Pengalaman Mistik, Mimpi dari malaikat menjadi katalisator reframing kognitif, mengubah persepsi aib menjadi panggilan ilahi, yang meningkatkan resiliensi psikologis Yusuf dan mengurangi beban emosional. Proses ini mirip terapi naratif dalam psikologi, di mana makna baru diberikan pada trauma, memungkinkan penerimaan dan keberanian menghadapi stigma demi tujuan lebih tinggi. Kaitan Ketakutan, Kelelahan, dan Mimpi Yusuf, Dalam Matius 1:18-25, ketakutan Yusuf muncul dari krisis relasional saat mengetahui Maria hamil, memicu pergulatan batin antara cinta, rasa dikhianati, dan norma sosial Yahudi yang ketat, sehingga ia berencana menceraikan secara diam-diam. Kelelahan jiwa Yusuf tercipta dari konflik berkepanjangan ini—semakin ia bergumul dengan keputusan, semakin lelah emosinya, mencapai puncak saat ia merasa "sudah beres" dan tertidur. Saat itulah mimpi malaikat datang, menghubungkan ketakutan dan kelelahan sebagai prasyarat psikologis untuk wahyu, di mana kelelahan memungkinkan alam bawah sadar terbuka terhadap reframing kognitif. Analisis Psikologis Kritis, Secara kejiwaan, ketakutan Yusuf mencerminkan anxiety response terhadap ancaman ego dan stigma sosial, sementara kelelahan adalah gejala emotional exhaustion dari cognitive dissonance—konflik antara harapan ideal dan realitas traumatis. Mimpi berfungsi sebagai mekanisme coping adaptif, mirip hypnagogic state di mana stres akut memicu insight restoratif, mengubah ketakutan menjadi keberanian melalui validasi ilahi dan pemberian makna baru. Kritiknya, narasi ini mengidealkan pengendalian diri Yusuf sebagai model saleh, padahal secara klinis, kelelahan semacam itu berisiko burnout jika tak diimbangi dukungan sosial, menunjukkan resiliensi spiritual Yusuf sebagai faktor protektif unik. Relevansi untuk Remaja Kekinian, Remaja modern menghadapi paralel ketakutan dan kelelahan dari cyberbullying, body shaming, atau stigma seksualitas di media sosial, di mana tekanan peer dan FOMO (fear of missing out) menciptakan exhaustion serupa, sering berujung insomnia atau mimpi buruk sebagai pelepasan stres. Analisis kritisnya: Kisah Yusuf relevan sebagai narrative therapy untuk remaja, mengajarkan reframing stigma menjadi panggilan pribadi, tapi kekinian menuntut integrasi dengan konseling digital untuk cegah isolasi, karena tanpa intervensi cepat, kelelahan bisa eskalasi ke depresi atau self-harm. Strategi adaptif: Dorong remaja "bermimpi" via journaling atau meditasi untuk insight, mirip Yusuf, sambil bangun support network guna hindari romantisme berlebih pada penderitaan soliter. Dampingi dan dukung remaja untuk tidak melekat pada ketakutan dan kelelahan, dengan memiliki daya juang dannketidak menyerahkan, menerima ketakutan dan kelelahan dalam hidup sebagai sesuatu yang wajar dalam hidup, tidak melekat tapi betjuang terus tanpa menyerah.

(04122025)(TUS) 

Daftar Pustaka:
[1] Finding God's Purpose in Pain | Matthew 1:18-25 Sermon https://cityharvestag.com/sermons/finding-gods-purpose-in-pain
[2] Do Not be Afraid: A Meditation on Matthew 1:18–25 https://theotherjournal.com/2011/12/do-not-be-afraid-a-meditation-on-matthew-118-25/
[3] Commentary on Matthew 1:18-25 https://www.workingpreacher.org/commentaries/revised-common-lectionary/fourth-sunday-of-advent/commentary-on-matthew-118-25-6
[4] Jangan Takut: Sebuah Renungan tentang Matius 1:18–25 https://translate.google.com/translate?u=https%3A%2F%2Ftheotherjournal.com%2F2011%2F12%2Fdo-not-be-afraid-a-meditation-on-matthew-118-25%2F&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp
[5] Matthew's Nativity Story, Critically Examined https://isthatinthebible.wordpress.com/2015/01/02/matthews-nativity-story-critically-examined/
[6] Matius 1:18-25 "Orang Tua Yesus" https://golgothaministry.org/matius/matius-1_18-25.htm
[7] 2. The Birth Of Jesus (Matthew 1:18-25) https://bible.org/seriespage/2-birth-jesus-matthew-118-25
[8] Matthew 1:18-25 https://studyscriptureonline.com/sermons/matthew-118-25%EF%BF%BC/
[9] Matius 1:18-25 | Tuhan Beserta Kita — Hal-hal Sejenis https://translate.google.com/translate?u=https%3A%2F%2Fwww.thingsofthesort.com%2Fsermons-2%2F2021%2F12%2F12%2Fmatthew-118-25-god-with-us&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp
[10] Pondering the Problems Surrounding Matthew and Luke's ... https://www.joeledmundanderson.com/historically-speaking-pondering-the-problems-surrounding-matthew-and-lukes-infancy-narratives-and-the-date-of-jesus-birth/
[11] Pengertian Resiliensi: Kemampuan Bangkit Hadapi Tekanan https://www.halodoc.com/artikel/pengertian-resiliensi-kemampuan-bangkit-hadapi-tekanan
[12] Mengenal Resiliensi dalam Ilmu Psikologi - BINUS Psychology https://psychology.binus.ac.id/2020/03/31/mengenal-resiliensi-dalam-ilmu-psikologi/
[13] Resiliensi: Pengertian, Aspek, Cara Meningkatkan https://kampuspsikologi.com/resiliensi/
[14] Resiliensi - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Resiliensi
[15] 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Resiliensi 1. Pengertian ... https://repository.uin-suska.ac.id/21320/7/7.%20BAB%20II.pdf
[16] [PDF] BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Resiliensi ( Resilience ... - etheses UIN http://etheses.uin-malang.ac.id/2643/6/09410018_Bab_2.pdf
[17] [PDF] 8 BAB II LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Resiliensi a ... http://repository.iainkudus.ac.id/12752/5/05.BAB%20II.pdf
[18] BAB II LANDASAN TEORI A. Teori Dan Konsep Resiliensi ... http://repository.uinfasbengkulu.ac.id/2151/3/BAB%20II.pdf
[19] BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Resiliensi 1. ... http://etheses.uin-malang.ac.id/647/7/10410012%20Bab%202.pdf
[20] RESILIENSI DAN KEBAHAGIAAN DALAM PERSPEKTIF ... https://media.neliti.com/media/publications/294805-resiliensi-dan-kebahagiaan-dalam-perspek-4ece8a76.pdf
[21] Reframing Adalah: Teknik Mengubah Perspektif untuk ... https://www.liputan6.com/feeds/read/5779684/reframing-adalah-teknik-mengubah-perspektif-untuk-hidup-lebih-positif
[22] TEKNIK REFRAMING DALAM PENDEKATAN KONSELING KOGNITIF-PERILAKU: STUDI LITERATUR https://www.academia.edu/124918124/TEKNIK_REFRAMING_DALAM_PENDEKATAN_KONSELING_KOGNITIF_PERILAKU_STUDI_LITERATUR
[23] Efektivitas Konseling Individual Dengan Teknik Reframing ... https://journal.unimar-amni.ac.id/index.php/sidu/article/download/1812/1450/4934
[24] Teknik Konseling Reframing | PDF - Scribd https://id.scribd.com/document/672750350/TEKNIK-KONSELING-REFRAMING
[25] Kajian Teori Reframing https://id.scribd.com/document/683258892/Kajian-Teori-Reframing
[26] [PDF] BAB II KAJIAN PUSTAKA - IAIN Kudus Repository http://repository.iainkudus.ac.id/4214/5/5.%20BAB%20II.pdf
[27] [PDF] Penerapan Teknik Reframing Untuk Mereduksi Perilaku Rendah ... https://eprints.unm.ac.id/25300/1/Adilla%20Fajriani_Artikel%20Ilmiah%20Skripsi_1744042022_Bimbingan%20dan%20Konseling.pdf
[28] Konseling Kognitif Dengan Teknik Reframing Pikiran Untuk Meningkatkan Self-Intraception https://scispace.com/pdf/konseling-kognitif-dengan-teknik-reframing-pikiran-untuk-1xi8chcic9.pdf
[29] BAB II - Digilib UINSA http://digilib.uinsa.ac.id/15155/5/Bab%202.pdf
[30] skripsi penerapan teknik reframing untuk meningkatkan ... https://eprints.unm.ac.id/25180/1/SKRIPSI.pdf

Senin, 01 Desember 2025

Sudut Pandang Bahas asal kata dan terminologi untuk puasa dan saum/shaum

Sudut Pandang Bahas asal kata dan terminologi untuk puasa dan saum/shaum

1. Asal Kata (Etimologi)
Puasa ๓ฐ™
Kata puasa diperkirakan berasal dari bahasa Sansekerta melalui bahasa Jawa Kuno/Kawi.
● Akar Bahasa: Sansekerta, yaitu kata upawasa (sering juga disebut upavasa).
● Makna Asli:
○ Upa berarti mendekat atau dekat.
○ Vasa berarti Tuhan atau kediaman.
● Kesimpulan: Secara harfiah, upawasa dapat diartikan sebagai upaya
mendekatkan diri kepada Tuhan atau 'berdiam diri dekat Tuhan'. Istilah ini
kemudian diserap menjadi pasa dalam bahasa Jawa Kuno, lalu berkembang menjadi
puasa dalam Bahasa Indonesia.
Saum/Shaum (Shiyam) ๓ฐฐ
Kata saum (atau shaum / shiyam) berasal dari bahasa Arab.
● Akar Bahasa: Arab, dari kata kerja แนฃฤma – yaแนฃลซmu – แนฃawman (atau แนฃiyฤman).
● Makna Asli (Linguistik/Bahasa): Menahan diri (al-imsฤk), mencegah, diam
(al-shamt), atau berhenti.
○ Contoh penggunaan dalam Al-Qur'an (QS. Maryam: 26) merujuk pada
"menahan diri dari berbicara".
2. Terminologi (Menurut Syariat Islam)
Dalam terminologi syariat Islam (fikih), baik puasa, saum, maupun shiyam merujuk pada
definisi yang sama:
● Definisi Terminologi (Syariat): Menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya
(seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri), mulai dari terbit fajar (Subuh)
hingga terbenam matahari (Maghrib), dengan niat khusus karena Allah.
Perbedaan Shaum dan Shiyam
Dalam konteks Al-Qur'an dan Hadis, terkadang ada penekanan makna yang membedakan
sedikit antara Shaum dan Shiyam:
● Shaum (ู…ْูˆَุต): Disebutkan sekali dalam Al-Qur'an (QS. Maryam: 26). Cenderung
memiliki makna yang lebih umum, yaitu menahan diri dari sesuatu (termasuk
menahan diri dari berbicara, seperti yang dilakukan oleh Maryam).
● Shiyam (ุงู…َูŠِุต): Disebutkan tujuh kali dalam Al-Qur'an (contohnya QS. Al-Baqarah:
183 yang mewajibkan puasa Ramadan). Lebih merujuk pada makna spesifik menahan diri (dari makan, minum, dll.) dalam tata cara ibadah yang telah
ditentukan.
Namun, secara praktis dalam penggunaannya sehari-hari di Indonesia dan banyak referensi
fikih, ketiga istilah (puasa, saum, dan shiyam) umumnya digunakan secara sinonim untuk
merujuk pada ibadah menahan diri di bulan Ramadan atau puasa sunnah lainnya.
Puasa memiliki akar yang dalam dalam sejarah Suku Bangsa Israel (Yahudi).
Jika dikaitkan dengan etimologi dan praktik Suku Bangsa Israel (terutama dalam tradisi
Yahudi), istilah utama untuk puasa adalah:
1. Terminologi dalam Bahasa Ibrani (Bangsa Israel)
Istilah utama untuk puasa dalam Bahasa Ibrani (bahasa asli Bangsa Israel) adalah Tsom
(ืฆื•ื) atau Tsum.
A
. Tsom / Tsum (ืฆื•ื)
● Akar Bahasa: Ibrani.
● Makna Harfiah: Puasa, atau menahan diri (dari makan dan minum). Ini merujuk
langsung pada tindakan berpantang makanan dan minuman.
B. Inna Nafshล (ื ืคืฉื• ืขื ื”)
Meskipun bukan kata benda yang berarti puasa, ada frasa yang secara terminologi sangat
penting dalam mendefinisikan puasa dalam Perjanjian Lama/Taurat: Inna Nafshล.
● A
kar Bahasa: Ibrani.
● Makna Harfiah: Merendahkan Jiwa atau Merendahkan Diri Sendiri (secara
harafiah: "menindas jiwanya").
● Konteks Keagamaan: Frasa ini digunakan untuk menjelaskan tujuan dari puasa
wajib utama Israel, yaitu pada Hari Pendamaian (Yom Kippur).
○ Contoh: Imamat 16:29 menyebutkan, "Pada hari yang kesepuluh bulan yang
ketujuh kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa (Inna Nafshล)..."
● Terminologi: Ini menunjukkan bahwa bagi Bangsa Israel/Yahudi, puasa bukan
hanya masalah menahan lapar secara fisik (makna Tsom), tetapi juga merupakan
tindakan rohani untuk merendahkan diri, bertobat, dan mencari pendamaian
dengan Tuhan.
2. Kaitan Etimologi "Puasa" dan "Saum"
Meskipun Puasa (dari Sansekerta upawasa) dan Saum (dari Arab แนฃawm) memiliki akar
bahasa yang berbeda, mereka semua berakar pada praktik keagamaan yang sama, yaitu
praktik menahan diri yang sudah ada sejak masa Suku Bangsa Israel kuno.
Akar Abrahamik: Baik tradisi puasa Yahudi (Israel) maupun puasa Islam (Saum/Shiyam)
berasal dari akar tradisi yang sama, yaitu tradisi keagamaan leluhur mereka, Nabi
Ibrahim/Abraham.
Fokus Terminologi: Jika Saum (Arab) menekankan pada "menahan diri" (al-imsฤk), maka
puasa Ibrani (Tsom digabungkan dengan Inna Nafshล) menekankan pada "merendahkan
diri" di hadapan Tuhan, yang merupakan tujuan spiritual yang mendalam dari tindakan
menahan diri tersebut.
Apakah Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai praktik puasa utama dalam Yudaisme
(seperti Yom Kippur)?

Jumat, 28 November 2025

SUDUT PANDANG KEEMPAT PERKARA TRADISI SUCI PERIHAL 25 DESEMBER

SUDUT PANDANG KEEMPAT PERKARA TRADISI SUCI PERIHAL 25 DESEMBER

PENGANTAR

Faktanya, Natal baru dipersoalkan oleh teolog Protestan Jerman, Ernst Jablonsky permulaan abad 19 M, bahwa perayaan Natal diambil alih dari perayaan kelahiran Dewa Matahari Tak Terkalahkan (Natalis Sol Invicti). Pendapat yang jelas-jelas salah ini tanpa "check and recheck" berdasarkan sumber-sumber primer sejarah gereja kuno, langsung diikuti oleh Encyclopedia Britania dan Encyclopedia Americana.Padahal penulis entry "Cristmas" dari kedua encyclopedia ini sama sekali tidak memahami sejarah gereja kuno, khususnya sejarah liturgi dan penetapan perayaan-perayaan gerejawi. Kesalahan ini disebabkan antara lain karena para penulis itu hanya mendasarkan pada sumber sumber sejarah gereja Barat abad belakangan, yang mengatakan bahwa perayaan Natal untuk pertama kali ditetapkan oleh Paus Yulius di Roma pada abad IV. Tidak salah lagi, Natal jatuh pada tanggal 25 Desember. Tiap tahun tanggalnya sudah tetap. Akan tetapi, benarkah Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Tidak. Tidak ada sumber yang dapat memastikan hal itu. Tidak ada sumber yang dapat memastikan hal itu. Menurut Lukas 2:8 pada malam kelahiran Yesus, para gembala "tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam". Itu menunjukkan bahwa kelahiran Yesus bukan terjadi pada bulan Desember yang adalah musim dingin di Israel. Harap Anda saksikan sendiri di peta bahwa Israel terletak pada garis lintang utara yang hampir sejajar dengan Jepang atau Korea Selatan. Klemens dari Alexandria membuat perhitungan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Pachon, yaitu tanggal 20 Mei. Tetapi, itupun bukan kepastian. Mengapa kita tidak mempunyai tanggal kelahiran Yesus yang pasti? Karena pada zaman itu, merayakan ulang tahun hanyalah kelaziman orang kafir. Orang-orang Kristen pada zaman itu tidak bias memperingati ulang tahun. Satu-satunya ulang tahun yang kita bac di Perjanjian Baru adalah ulang tahun Herodes Antipas (lihat Mat 14 : 6). Gereja pada zaman itu bukanlah merayakan kelahiran Yesus melainkan kebangkitanNya. Baru sekitar abad 3 umat Kristen di Mesir mulai merayakan Natal. Tanggal nya 06 Januari, bertepatan dengan suatu hari raya umum.  Cereja  di Roma baru merayakan Natal pada akhir abad 4 , dan tanggal yg dipilih 25 Desember. Tanggal tsb dipilih untuk memberi isi atau makna baru kepada perayaan kafir yang menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi utara. Tak lama kemudian kebiasaan merayakan Natal pada tanggal 25 Desemberbitupun diambil alih oleh gereja-gereja di tempat-tempat lain, mungkin dalam bidang teologis saat ini seperti inkulturisasi, memberi makna baru pada tradisi atau budaya masyarakat yang seiring sejalan dengan pemahaman atau ajaran keimanan, bukan menolak sama sekali budaya atau tradisi suatu masyarakat, karena bagaimanapun juga budaya atau tradisi adalah hasil atau produk akal Budi manusia, kalau itu produk atau hasil akal Budi manusia bearti tetap bisa dipakai sebagai alat dan sarana memuliakan Tuhan, untuk mengasihi Tuhan (Matius 22:37 (TB) "Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu."). Dengan satu dua kekecualian sekarang ini Natal dirayakan tanggal 25 Desember oleh hampir semua gereja, kecuali mungkin gereja denominasi orthodoks yg merayakan Natal pada 06 atau 07 Januari. Bagaimana dengan tahunnya? Tahun berapa Yesus dilahirkan? Tentang tahunnya pun kita tidak mempunyai kepastian. Matius 2:1 hanya mengatakan bahwa Yesus dilahirkanb "pada  zaman  Raja Herodes ........" Tahun-tahun berapa yang disebut dalam buku sejarah tentang Herodes? Ada ahli sejarah namanya Flaviuss Josephus yang hidup antara Ada tahun  37-100, jadi tidak begitu lama setelah zaman Yesus. Josephus tinggal tinggal di Yerusalem kemudian pindah ke Roma, Dari catatan Josephus itu kita dapat tahu bahwa Herodes yang disebutkan dalam ayat Alkitab tadi, yakni Herodes Agung, yang hidup  dari tahun  ke 73 hingga tahun 4 sM, karena menurut Josephus bertepatan dengan tanggal tsb terjadi gerhana bulan. Jadi, Yesus pastilah  lahir sebelum tanggal tersebut, karena raja Herodes  inilah yang menyebabkan Yesus diungsikan ke Mesir, baru setelah kematian Herodes, Yesus kembali dari pengungsiannya (lihat Mat 2:19,20), Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Yesus lahir sekurang-kurangnya beberapa dbulan atau tahun sebelum tahun 4 s.M. Menurut dugaan yang lazim kelahiran Yesus terjadi antara tahun 8 dan tahun 5 s.M. Masakan Yesus dilahirkan tahun 5 s.M? Apakah Yesus lahir lima tahun sebelum tahun Masehi, yaitu tahun Yesus? Bukankah itu janggal? Inilah penyebab kejanggalan tersebut. Pada zaman itu, tahun dalam kekaisaran Romawi dihitung dari tahun berdirinya kota Roma. Tahun Romawi disebut AUC, singkatan dari Ab Urbe Condita, yang berarti 'sejak berdirinya kota'. Kemudian, pada abad ke-6. seorang rahib bernama Dionisius Exigius membuat kalender baru atas perintah Kaisar Justinian, la mengganti perhitungan tahun Romawi dengan tahun Masehi yang dimulai dari kelahiran Yesus. Tetapi, kemudian hari barulah diketahui bahwa ia membuat kekeliruan hitung. la menempatkan kelahiran pada tahun 753 AUC, padahal seharusnya pada tahun 749 AUC atau 747 AUC. Kekeliruan itu sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Kita sudah terlanjur menggunakan tahun hasil hitungan Dionisius itu, yang sebetulnya empat atau lima tahun terlambat dari kenyataan kelahiran Yesus. Itulah beberapa keterangan yang kita peroleh dari catatan sejarah dan catatan biblika arkeologi. Kelahiran Yesus jelas harus terjadi sebelum kematian Raja Herodes Agung yang ingin membunuhnya dengan memerintahkan pembunuhan semua bayi berumur di bawah 2 tahun di Betlehem (Matius 2:16). Flavius Josephus (37-100), sejarawan Yahudi abad pertama, mengatakan bahwa sesaat sebelum Herodes meninggal telah terjadi gerhana bulan yang menurut para pakar perbintangan terjadi pada 13 Maret tahun 4 sebelum Masehi (Antiquities of the Jews, XVII, vi, 167). Dengan mengacu pada taksiran Herodes bahwa bayi yang baru lahir itu tidak lebih dari 2 tahun usianya, maka taksiran intelektual tahun kelahiran Yesus sekitar tahun 4-5 sebelum Masehi. Tetapi, Alkitab sendiri tidak memberi keterangan yang pasti bilamana Yesus dilahirkan. Yang dikatakan Alkitab hanyalah bahwa Yesus lahir  di tanah Yudea pada zaman Raja Herodes. Alkitab hendak mengatakan bahwa kelahiran Yesus bukan terjadi dongeng abstrak tentang dewa yang sewaktu-waktu menampakan diri, melainkan sebagai kenyataan konkrit yang terjadi di tengah sejarah dunia, di tengah sejarah manusia, pada tempat dan zaman tertentu, dalam kehidupan manusia. Injil hanya ingin memproklamirkan bahwa senyatanya Kristus atau Allah yang mewujud manusia, firman yang menjadi daging itu benar adanya telaph ada, telah hidup ditengah manusia pada zaman, waktu, dan tempat tertentu pada sejarah manusia.  Itulah sekelumit salah satu sudut pandang dari sejarah dan arkeologi biblika, tetapi banyak denominasi dan juga ahli arkeologi biblika yang memberikan sudut pandangnya yang lain, ada baiknya kita belajar beberapa sudut pandang tentang hal tsb, shg makin jelaslah pemahaman kita tentang 25 Desember.


SUDUT PANDANG TRADISI SUCI

Ada bukti sejarah, tanggal 25 KISLEV diperingati sebagai Hari Kelahiran Kristus. Natal adalah penggenapan Perayaan Hanukkah yang diperingati setiap 25 Kislev. Selama ini terkesan hanya mengait-ngaitkan, padahal ada bukti sejarah yang otentik. Yaitu: dokumen Coptic Didascalia Apostolorum (189 M) sudah memuat penetapan Natal setiap tanggal 25 bulan Ibrani ke-9 Ibrani (Kislev) atau tanggal 29 bulan Mesir ke-4 (Khyak). Tema Hannukah juga tentang datangnya terang mengusir kegelapan, seperti lagu Hanukkah, BANU KOSHEKH LEGARESH ini. Tuhan Yesus menghadiri perayaan Hanukkah atau Penahbisan Bait Allah (Yohanes 10:22). Jadi, bukan kebetulan Tuhan Yesus bersabda menjelang kehadiran-Nya di perayaan Hannukah: "Akulah terang dunia" (Yohanes 8:12). Pemahaman ini bukan tanpa bukti. Bahwa pada tahun 5 SM, tanggal 25 Desember terjadi pada tanggal Yahudi 25 bulan Kislev. Ini adalah tanggal perayaan Hari Raya Hanukkah, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Lampu/ Cahaya atau Hari Raya Dedikasi. Penyebutan tanggal 25 Kislev juga terdapat pada Kitab Deuterokanonika: 2 Makabe 10:5. Fakta bahwa "Annuntiatio Christi" -Td al-Bishara (Kabar Gembira kepada Maria) itu terjadi pada tanggal 22 Maret, sudah dicatat oleh para bapa gereja paling awal, yaitu sejak Irenaeus (130-202 M), Hypolitus (170-235 M) dan Sextus Yulius Afrieanus (160-240 M). Tanggal kelahiranYesus Kristus dapat dihitung di sini, 9 bulan setelah 25 Maret akan jatuh pada tanggal 25 Desember. Demikian catatan sejarah dalam garis besar yang menjadi dasar bagi bapa-bapa gereja kuno untuk menghitung jatuhnya perayaan-perayaan gerejawi.St. Hipolitus dari Roma (170-235M), pentobat yang dulunya seorang anti-Paus pada masa penggembalaan Paus St. Zephyrinus, Paus St. Kallistus I, Paus St. Urbanus I dan Paus St. Pontianus, secara eksplisit juga menyatakan bahwa Yesus Kristus lahir pada tanggal 25 Desember. Untuk kedatangan pertama Tuhan kita dalam daging, [terjadi] ketika Ia lahir di Betlehem, eight days before the kalends of January (25 Desember), hari keempat (Rabu) dalam minggu ketika Augustus (kaisar Romawi) dalam 42 tahun [pemerintahannya] tetapi dari Adam 5500 tahun. Selain itu, Tradisi Suci juga meneguhkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Tuhan Yesus. Telesporus dari Roma (126 M), Telesporus adalah paus ke-9 Roma. Secara apostolik dia adalah penerus Rasul Petrus. Dia mati syahid (martir), karena saat itu lagi gencar-gencarnya penganiayaan terhadap orang Kristen oleh Kekaisaran Romawi. Paus Telesporus merayakan misa malam natal pada tanggal 24 Desember 124 M. 148 tahun sebelum perayaan Dewa Matahari ditetapkan natal sudah dirayakan. Berikut bukti catatan tentang Paus Telesporus dari buku daftar paus (Liber Pontificalis) hal. 12-13: Dari buku diatas, kia dapat melihat bahwa Paus Telesporus menyarankan bahwa misa natal sebaiknya dimulai sejak malam natal. Selain itu, dia juga menyarankan untuk menyanyikan himne “Gloria in excelsis Deo” secara berulang. Pernahkah kita membayangkan bahwa lagu “Gloria in excelsis Deo” yang sering kita nyanyikan saat natal ternyata sudah ada sejak tahun 126 M. Kata tersebut berasal dari Vetus Latina (naskah kuno Alkitab dalam Bahasa Latin) pada Lukas 2:14. Saat St. Hieronimus menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Latin yang lebih baru atau yang dikenal dengan Vulgata di tahun 380 M, kata tersebut bukan “Gloria in excelsis Deo” lagi, melainkan “Gloria in altissimis Deo”. Lalu apakah himne tersebut juga berubah? Tentu tidak, karena jemaat waktu itu sudah terbiasa dengan “Gloria in excelsis Deo” dan jika diubah tentu juga akan mengubah nadanya. Buktinya kita masih bisa mengenalnya sampai sekarang. Bukankah ini suatu peninggalan yang sangat luar biasa? Saya sendiri sebagai orang Kristen bangga, karena warisan kekristenan kita yang hampir berusia 2000 tahun masih bisa rasakan. Irenaeus Uskup Lyon (130-202 M), Irenaeus adalah murid dari Polikarpus Uskup Smirna, sedangkan Polikarpus adalah murid dari Rasul Yohanes.  Dia menulis dalam bukunya Adversus Haereses (Melawan Para Bidat) pada tahun 180 M bahwa pembuahan bayi Yesus Kristus terjadi pada tanggal 25 Maret dan Ia disalibkan pada tanggal yang sama, dengan mengaitkan kematian-Nya pada saat ekuinoks. Meskipun pada masa Irenaeus belum disebut tanggal 25 Desember, tapi sudah disebutkan bahwa Maria menerima kabar gembira pada tanggal 25 Maret. Ini menjadi indikasi tanggal kelahirannya bahwa 9 bulan kemudian adalah 25 Desember. Hippolytus dari Roma (170-235 M), Secara apostolik, Hippolytus adalah cicit rohani dari Rasul Yohanes karena dia adalah murid dari Irenaeus. Dia menuliskan tentang kelahiran Kristus pada buku Commentary on Daniel di tahun 204 M. Secara eksplisit dia mengatakan bahwa Kristus lahir pada tanggal 25 Desember. Hippolytus dari Roma (170-235 M), Secara apostolik, Hippolytus adalah cicit rohani dari Rasul Yohanes karena dia adalah murid dari Irenaeus. Dia menuliskan tentang kelahiran Kristus pada buku Commentary on Daniel di tahun 204 M. Secara eksplisit dia mengatakan bahwa Kristus lahir pada tanggal 25 Desember. Karya Hippolytus ini sangat penting, karena berasal dari generasi ketiga para Rasul dan memiliki kesinambungan yang jelas. Berikut catatan Hippolytus dalam buku Commentary on Daniel dalam Bahasa Yunani (asli) serta yang sudah disalin ke dalam Bahasa Inggris dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia: Ada yang menarik dari catatan Hippolytus, dimana dia tidak menuliskan langsung 25 Desember melainkan delapan hari sebelum Januari. Catatan tersebut membuktikan bahwa di tengah-tengah pengaruh kuat Romawi kafir, Gereja Kristus tidak kehilangan jati diri iman Abraham, yang mengajarkan bahwa permulaan hidup seseorang dihitung sejak Perjanjian Sunat “ketika genap delapan hari” (Lukas 2:21). Jadi saat tanggal 1 Januari selain merayakan tahun baru, kita juga merayakan hari penyunatan Tuhan Yesus. Sextus Julius Africanus (160-240 M), Julius Africanus ini berada di wilayah sekitar Libya. Dia memang tidak berbicara mengenai adanya perayaan natal, namun secara implisit mengatakan bahwa 25 Desember adalah tanggal kelahiran Kristus. Dalam bukunya Chronographia dia mengutip keyakinan Orang Yahudi bahwa alam semesta dunia diciptakan pada tanggal 15 Nisan (25 Maret), sehingga tanggal ini memiliki makna kosmis. Dia juga mengatakan bahwa pada tanggal 25 Maret Sang Firman Allah menjelma menjadi manusia (inkarnasi). Sang Firman Allah menjelma menjadi manusia sejak masa Dia dikandung oleh perawan Maria. Hal ini berarti setelah 9 bulan, Sang Kristus lahir pada tanggal 25 Desember (Bisa dicek pada buku The Oxford Dictionary of Late Antiquity). Theofilus dari Anthiokia (171-183 M), Theofilus adalah Patriakh di Anthiokia. Gereja inilah yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul 11:26. Rasul Petrus menjadi patriakh pertama di Anthiokia, sehingga bisa dikatakan bahwa Theofilus berasal dari garis Rasul Petrus. Sebelum pergi ke Roma, Rasul Petrus menahbiskan 2 patriakh yaitu Evodius dan Ignatius sebagai penerusnya. Ignatius untuk orang Yahudi dan Evodius untuk orang non Yahudi. Kemudian Evodius mengundurkan diri karena usianya yang sudah tua, lalu dilanjutkan oleh Ignatius sendiri. Dari seorang Ignatius kita mengenal ucapan “Gereja yang kudus, am (universal), dan apostolik”. Jadi, gereja adalah untuk segala suku bangsa bukan kalangan tertentu saja. Patriakh Theofilus sudah memerintahkan untuk merayakan natal tanggal 25 Desember. Pernyataan terkenal dia mengenai natal yaitu: “Kita harus merayakan hari kelahiran kita setiap tanggal 25 Desember, jatuh pada hari apapun” (De Origin Festorum Christianorum dalam buku Refleksi Ziarah ke Tanah Suci). Berikut juga bukti tentang perayaan natal oleh Theofilus pada Encyclopรฆdia Britannica: Demetrius dari Alexandria (189 M), Demetrius adalah Patriakh ke-12 Gereja Ortodoks Koptik di Alexandria, Mesir. Gereja ini didirikan oleh Rasul Markus Sang Penulis Injil. Jadi, Demetrius berasal dari garis Rasul Markus. Seperti diuraikan diatas, natal sudah dirayakan pada tahun 126 M, kemudian ditetapkan di Anthiokia oleh Patriakh Theofilus. Beberapa tahun sesudah itu, seorang astronom Mesir yang bernama Batlimous pada akhir abad ke-2 melalukan perhitungan yang lebih cermat atas perintah Patriakh Demetrius. Hasil perhitungannya menunjukkan bahwa natal jatuh pada tanggal 25 bulan kesembilan (Kislev) Ibrani, kemudian dilengkapi dengan Tarikh Koptik pada 29 bulan Kiahk (Dicatat dalam Dokumen Didascalia Apostolorum). Kalender Koptik dihitung berdasarkan penampakan bintang Siriuz, dan pernah diakui oleh UNESCO sebagai kalender yang paling akurat dibandingkan dengan kalender manapun yang pernah dibuat. Bukankah ini sebuah kebanggaan yang luar biasa sebagai umat Kristen dimana selain Gereja barat yang memiliki kalender matahari (baik Julian maupun Gregorian), di timur juga terdapat kalender Koptik. Menghitung kalender tentu bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi Gereja mewarisi itu semua. Berikut bukti catatan natal dalam dokumen Didascalia Apostolorum terjemahan Bahasa Arab karena aslinya Bahasa Koptik: Sejak tahun 189 M inilah tanggal natal mulai dikanonkan, kemudian digunakan sebagai acuan untuk seluruh gereja. Berikut dokumen Didascalia Apostolorum dari Gereja Syria (250 M) yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris: Dalam dokumen Didascalia Apostolorum ditulis bahwa kelahiran Kristus terjadi pada tanggal 25 bulan Kislev, itu artinya Natal pertama Yesus bertepatan dengan perayaan penahbisan Bait Suci (Hanukkah). Tuhan Yesus sendiri menghadiri perayaan Hanukkah atau Penahbisan Bait Allah (Yohanes 10:22). Hari Raya Hanukkah juga sering disebut sebagai Perayaan Hari Raya Terang, dimana di Israel saat perayaan ini banyak lampu-lampu terang. Bukan kebetulan juga Tuhan Yesus bersabda menjelang kehadiran-Nya di Perayaan Hanukkah “Akulah terang dunia” (Yohanes 8:12) karena Tuhan Yesus adalah terang yang sejati. Itulah mengapa saat merayakan natal juga terdapat pohon terang, karena untuk menyambut kedatangan Sang Terang Sejati itu sendiri. Jadi, pohon terang bukan berasal dari kafir melainkan dari Yudaisme yang merupakan saudara tua umat Kristen. Bisa dikatakan bahwa natal adalah penggenapan dari Perayaan Hanukkah. Pemahaman diatas bukan tanpa bukti. Tanggal 25 Desember tahun 5 SM juga bertepatan dengan tanggal Yahudi 25 bulan Kislev. Berikut bukti bahwa natal pertama Yesus bertepatan dengan Hanukkahserta perbandingan antara kalender Koptik, Ibrani dan Masehi: Sekalipun perayaan natal tidak selalu tepat dengan perayaan Hanukkah setiap  tahunnya karena perbedaan kalender yang digunakan, tetapi jaraknya selalu berdekatan. Ini membantah tuduhan yang mengatakan bahwa natal tidak mungkin terjadi di Bulan Desember. Alasan kaum polemikus mengatakan natal tidak mungkin terjadi di Bulan Desember karena bulan tersebut sedang musim salju, tidak mungkin ada kawanan domba di saat turun salju. Ini perlu dijawab, bahwa Yesus lahir di Betlehem. Betlehem itu terletak di Timur Tengah bukan di Eropa. Salju biasanya turun di wilayah Eropa. Di Timur Tengah salju biasanya terjadi di Gunung Hermon bukan di Betlehem. Mungkin teman-teman juga bisa mengeceknya langsung di Youtube mengenai Perayaan Natal di Betlehem apakah ada salju atau tidak disana. Data Bapa Gereja sebelum tahun 274 M yang mengatakan tentang Natal tidak hanya 1, melainkan ada 6. Mungkin bisa saja ada lebih banyak data dari yang sudah saya sebutkan. Sekalipun Para Bapa Gereja menggunakan kalender yang berbeda-beda tetapi arahnya tetap sama ke 25 Desember. Bahkan jarak antar Bapa Gereja tersebut juga tidak berdekatan mulai dari Roma, Lyon, Alexandria, Anthiokia, bahkan sampai ke Libya, namun catatannya sama. Tentu kondisi waktu itu berbeda dengan sekarang, dimana informasi bisa tersebar dengan sangat cepat. Perlu ditekankan pula tidak pernah konsili ekumenis yang membahas tentang perayaan Natal, sehingga ini sudah mengalir pada setiap Gereja. Sumber gereja Timur mencatat Natal sudah dirayakan di Kaisaria oleh Mar Theofilus kira-kita tahun 160 M. Selanjutnya, untuk pertama kali Natal ditetapkan di Alexandria pada tahun 189 M oleh Baba Demitri (Paus Dimitrius), Patriarkh Alexandria dan penerus takhta suci kerasulan Markus (Gereja Ortodoks Koptik) dalam dokumen yang berjudul "Al-Dasquliya al-Qibthiyah" atau "Ta'lim ar-Rasul" (The Coptic Didascalia Apostolorum). Pasal XVIII Kitab Ta'alim terjemahan bahasa Arab yang aslinya dari bahasa Koptik tersebut menyebutkan:

‫ุฑ‬ ‫ุช ุงุงู„ุน ูŠุงุฏ ุงูŠ ุงู… ู ูŠ ุช ุฎ ู ุธูˆุง ุงุฎูˆุงุช ู†ุง ูŠ ุง‬ ‫ู…ู† ุน ุดูŠ ู† ูˆ ุฎู… ุณุฉ ู ูŠ ูƒ ู… ู„ูˆ ู‡ ูˆ ุงู„ ุฑุจ ู… ูŠ ุงู„ุฏ ุน ูŠุฏ ู‡ ูŠ ุงู„ ูŠ‬ ‫ู„ ู„ู… ุฑุตูŠ ูŠ ุงู„ ุฐู‰ ุงู„ ุฑุงุจ ุน ุงู„ ุด ู‡ุฑ ู…ู† ุฑูˆู†ูˆุงู„ ุนุด ุงู„ ุชุง ุณุน ู‡ ูˆ ุงู„ ุฐู‰ ู„ ู„ ุน ุฑุจุงู† ูŠ ุงู„ ุฐู‰ ุงู„ ุชุง ุณุน ุงู„ ุด ู‡ุฑ‬. "Ya Ikhwatana, tahfudhu fi ayam al-a'yadi allati 'Id al-Milad al-Rabb, wa kamaluhu fi khamsati wa ishrin min al-shahri al-tasi'i alladzi lil 'Ibraniyyin, alladzi hiya at-tasi'u wa al-ishrun min alshahri al-rabi'i alladzi lil Mishriyyin". Artinya: "Wahai Saudara-saudaraku, tetapkanlah dalam hari-hari perayaan Kelahiran Junjungan kita tepatnya pada tanggal 25 bulan kesembilan Ibrani, atau tanggal 29 bulan keempat Mesir" (Marqus Dawud, 
1979:122).

Bahkan sebelum ditetapkan sebagai dokumen perayaan gerejawi, Mar Theofilus dari Caesaria mulai tahun 160 M telah merayakan Natal pada tanggal yang sama (De Origin Festorum Christianorum). Perayaan ini baru diikuti oleh Gereja Roma pada masa Paus Yulius I (336-352 M), yang dikemudian hari dikonversikan menurut kalender matahari (syamsiah) versi Gregorian tanggal 25 Desember. Sedangkan di gereja-gereja Timur yang memakai kalender matahari (syamsiah) versi Yulian menghitungnya setiap 7 Januari. Jadi, penetapan aslinya Natal memang memakai kalender Yahudi yang didasarkan atas peredaran bulan (Qomariyah) dan kalender Koptik uang didasarkan atas peredaran bintang Sirius (kawakibiyah). Uniknya, penetapan Natal pertama kali justru jatuh pada hari yang sama dengan perayaan ‫" ื”ָּ ื›ּื•ื ֲื—‬Hanukkah" atau Penabisan Bait Suci, yang juga jatuh setiap 25 bulan kesembilan Ibrani, yaitu bulan Kislev. Perayaan oleh oleh sejarawan Yahudi Flavius Yosefus (90 M) sebagai ‫ื”ַ ื—‬ ‫ִּื•ּื•ַื”‬ ‫" ื—ַ ื‬แธคag Ha'urim" (Hari Raya Terang) ini, memperingati kemenangan Yudas Makkabe atas Raja Seleukid, Antiokhus Epifanes IV, yang menaruh patung dewa orang Yunani di Bait Allah dengan mengorbankan babi, yang tentunya sangat menodai perasaan keagamaan umat Tuhan saat itu. Peristiwa bersejarah ini dicatat dalam Talmud dan buku Deuterokanonika (Kanon Kedua), khususnya 2 Makabe 10:1-9. Yesus pernah datang pada perayaan ini di Yerusalem, "ketika itu musim dingin" (Yohanes 10:22). Menurut informasi Anba Yoanis, uskup Nikea, Paus Yulius I di Roma menerima perhitungan Natal dari Gereja Timur yang dihitung berdasarkan data-data sejarah kuno seperti yang ditulis oleh Flavius Yosefus. Perlu dicatat pula, dalam bukunya The Jewish War, Buku VI, Pasal 4:1-5, Yosefus menyebutkan bahwa Bait Suci dibakar oleh Titus pada tanggal 9 bukan Lous. Dan data ini cocok dengan dokumen Yahudi, Talmud, yaitu sebuah "Baraita" atas teks Traktat Ta'anit 4.29a (ditulis 160 M) yang menyebutkan:

‫ื—ַּื‘ื— ื‘ַืขַּื‘๏ฌช ื•ืžื•ืฆִַ ื—ַื— ื‘ּื‘๏ฌช ื•ืžื•ืฆִַ ื—ַื” ּื‘ִื‘ ืขื—๏ฌชּื‘ ืขּื•ื‘ ื—ַื•ื” ִื•ּื‘ื• ื•ื›ื—๏ฌชּื‘ּื•ִ ๏ฌชื—ืžืงื“ ּื‘ַּื‘ ื”ּื•ื‘๏ฌชּื‘‬ ‫ื—ַּื‘ื— ַื—ื•ַּื•ַื‘ ืœ๏ฌช ืžּื•ּื‘ื—๏ฌชื•ืž‬.

"Besheharav Bet HaMiqdas harishonah otto hayom 'erev Tisha be Av hayah umotsai shabat hayah umotsai Shevi'it hayetah umishmaretah shel Yehohariv hayetah". Artinya: "Ketika Bait Suci pertama dihancurkan hari itu terjadi setelah petang pada tanggal 9 bulan Av, harinya setelah hari Sabat, setelah tahun ke tujuh, dan yang sedang bertugas sebagai mishmar adalah Yehoyariv" (Rabbi H. Goldwurm, 2006).

Dokumen itu selanjutnya mencatat, ‫ื‘๏ฌชื›ַื— ื›ืŸ‬ ִׁ֖ ‫" ื‬ken basheniyah" (begitu juga yang kedua), maksudnya Bait Suci yang kedua juga dihancurkan pada jam, hari dan bulan yang sama. Orangorang Yahudi sampai hari ini melakukan puasa perkabungan atas hancurnya Bait Suci setiap tanggal 9 bulan Av (Ibrani: Ibrani: ‫ ื‘ִื‘ ּื‘ืฉืขื—‬atau ‫ื‘ִื‘ ื˜׳‬, "Tisha be Ab"), seperti tertulis dalam dokumen Megilat Ta'anit (Gulungan Puasa) tersebut. Dalam kalender Yahudi, peristiwa Tisha be Av ini sejajar dengan kalender Yulian 5 Agustus 823 AUC (Ab Urbi Condita) atau setelah berdirinya kota Roma, yang sama dengan tahun Gregorianh 70 M. Dengan mengetahui bahwa pada tanggal 9 Av (5 Agustus) tahun 70 M yang bertugas di Bait Allah adalah Yoyarib, rombongan pertama dalam 24 rombongan imam Lewi yang bertugas di Bait Allah (1 Tawarikh 23:7-19), sedangkan menurut Lukas 1:5 imam Zakaria adalah berasal dari rombongan Abia (rombongan ke delapan), maka dapat dihitung mundur ke belakang sekitar 75 tahun kapan malaikat Gabriel menemui imam Zakaria yang berasal dari rombongan Abia, ketika bertugas di Bait Allah.Ternyata dibuktikan sejak abad kedua, bahwa Malaikat Jibril menemui Zakaria pada waktu perayaan ‫" ื ื ַื™ּื•ּื• ַֹื•ื”‬Yom Kippur" (Hari Penebusan Dosa), minggu kedua bulan Tishri. Data ini juga cocok dengan dokumen kuno "Protevangelion Iakobi" (170 M) bahwa Malaikat Gabriel menemui Zakaria pada perayaan Yom Kippur. Selanjutnya, Lukas 1:26 mencatat bahwa Gabriel menemui Maria di Nazaret untuk memberitakan kelahiran Yesus pada bulan keenam setelah menemui Zakaria. Enam bulan setelah Tishri akan jatuh pada bulan Ibrani Adar Tseni atau Nisan (kalender Yahudi mengenal bulan ke-13, yaitu Adar Tseni/kedua ynag jatuh 7 kali dalam setiap 19 tahun untuk menyesuaikan selisih 10 atau 11 setiap tahun antara sistem qomariyah dan syamsyiah). Karena itu, 'Ied al-Bishara(Perayaan Malaikat Jibril menyampaikan kabar baik kepada Bunda Maria) terjadi pada tanggal 15 Nisan, yang bertepatan dengan tarikh Gregorian 25 Maret, seperti dicatat oleh St. Irenaeus (130-202 M), Hypolitus (170-235 M) dan Sextus Yulius Africanus (160-240 M). Kalau usia kandungan normalnya 9 bulan, maka 9 bulan setelah 15 Nisan/25 Maret akan jatuh pada tanggal 25 Kislev atau sekitar 25 Desember. Itulah dasar perhitungan gereja-gereja kuno, khususnya "Coptic Didascalia Apostolorum" bahwa Yesus memang lahir pada perayaan Hanukkah, 25 Kislev atau 29 bulan Khyak. Tanggal ini selanjutnya dikonversikan menjadi tahun Gregorian 25 Desember di gereja-gereja wilayah barat. Karena selisih hitungan akibat kesalahan tahun Gregorian, maka gereja-gereja timur yang masih memakai kalender Yulian, Natal jatuh setiap 7 Januari. Tetapi kalender aslinya memang didasarkan atas tahun Ibrani (Lunar System) dan tahun Koptik (Star System).

(25112025)(TUS)
Mengenang JSA

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus