Sudut Pandang ๐๐ป๐ฎ๐ธ, ๐ฆ๐ถ๐ฑ๐ถ, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐บ๐๐ฎ๐ป ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป.
๐๐ป๐ฎ๐ธ, ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐i, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐บ๐ฎ๐ป: ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐บ๐ถ ๐๐๐น๐, ๐ ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ๐ถ ๐๐ฒ๐บ๐๐ฑ๐ถ๐ฎ๐ป
PENGANTAR
Ketika saya mengupload tulisan tentang sinengker, di FBG Bengkel Liturgi, beberapa teman meminta saya untuk mengupload lagi tulisan saya tentang sidi, yg pernah saya tulis dan upload kisaran 2014 an, masih pada ribut tentang Perjamuan Kudus Anak, dan sepengetahuan saya saat itu Sinode GKJ dan GKI kayanya blom ada payung hukumnya untuk Perjamuan Kudus Anak. Kemarin saya sudah menulis mengenai persengketaan apakah anak yang sudah dibaptis, tetapi belum angkat sidi, boleh atau tidak turut dalam Ekaristi atau Perjamuan Kudus.
Ada satu pertanyaan yang menurut saya perlu diajukan secara lebih serius dalam pembicaraan mengenai anak dan Ekaristi atau Perjamuan Kudus : ๐๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐๐ฒ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ๐ถ ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐๐ถ atau Perjamuan Kudus ๐๐ฒ๐ฟ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ต๐๐น๐ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ ๐ฑ๐ถ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ผ๐น๐ฒ๐ต๐ธ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐บ๐ถ๐ป๐๐ฎ?
Pertanyaan ini kelihatannya sederhana. Namun, kalau kita memahami liturgi sebagai proses pembentukan iman, jawabannya tidak sesederhana itu.
Dalam seri tulisan Sudut Pandang saya sebelumnya, saya mengatakan bahwa ๐น๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐ฎ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ. ๐๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ฝ๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐ด๐ผ๐ด๐ถ yang bekerja melalui pengulangan. Ia mengajar bukan hanya melalui penjelasan, tetapi melalui apa yang umat lihat, dengar, katakan, lakukan, dan alami ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐น๐ฎ๐ป๐ด-๐๐น๐ฎ๐ป๐ด.
▶️Anak berdiri ketika Injil dibacakan.
▶️Anak mendengar Pengakuan Dosa.
▶️Anak mendengar Berita Anugerah.
▶️Anak mengucapkan doa Bapa Kami.
▶️Anak melihat roti dan anggur dibawa ke meja.
▶️Anak mendengar kata-kata institusi.
▶️Anak melihat jemaat makan dan minum bersama.
Semua itu sebenarnya sudah merupakan proses pendidikan iman. Lalu mengapa ketika sampai pada Ekaristi atau Perjamuan Kudus, kita tiba-tiba mengatakan: “Tunggu dulu. Kamu belum memahami.”
Di sinilah saya kira ada persoalan mendasar. Jika pemahaman harus selalu mendahului pengalaman, maka hampir seluruh proses pendidikan iman anak harus dihentikan sampai anak mampu memberikan penjelasan teologis yang memadai.
▶️Anak harus memahami baptisan sebelum dibaptis?
▶️Anak harus memahami kasih karunia sebelum menerima pengampunan?
▶️Anak harus memahami makna doa sebelum ikut berdoa?
▶️Anak harus memahami Kristologi sebelum boleh menyanyikan himne tentang Kristus?
Tentu saja tidak!
Kita justru mengenal iman melalui keterlibatan di dalam kehidupan iman. Mengalami bukan lawan memahami. ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐บ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ท๐ฎ๐น๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ท๐ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ๐ถ. Itulah cara kerja pedagogi liturgi, itulah kenapa saya mengatakan, anak seharusnya berada dalam ruang ibadah yang sama bersama ortu, keluarga, dan warga dewasa yang lain.
Seorang anak yang berkali-kali berdiri ketika Injil dibacakan barangkali mula-mula tidak mengerti mengapa ia harus berdiri. Namun, tubuhnya lebih dahulu belajar melakukan apa yang dilakukan komunitas iman. Kelak ia dapat bertanya: “Mengapa kita berdiri ketika Injil dibacakan?”
Pada saat itulah pengalaman liturgis yang telah berlangsung bertahun-tahun menjadi pintu masuk menuju pemahaman. Demikian pula dengan Ekaristi atau Perjamuan Kudus.
Anak boleh jadi belum mampu menjelaskan secara teologis apa arti “tubuh Kristus” (padahal umat bertubuh dewasa yang sudah angkat sidi juga banyak yang belum paham ..... wkwkwkwk). Ia mungkin belum memahami seluruh sejarah doktrin Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Ia bahkan mungkin belum mampu membedakan beraneka pemahaman mengenai kehadiran Kristus dalam Perjamuan Tuhan. Akan tetapi apakah itu berarti ia tidak dapat mengalami bahwa Gereja berkumpul di sekeliling meja, menerima makanan yang sama, mengucap syukur kepada Allah, dan mengambil bagian dalam persekutuan tubuh Kristus? Saya kira tidak.
Justru di situlah liturgi bekerja. ๐๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ ๐๐ฒ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ฝ. Minggu demi Minggu. Tahun demi tahun. Sampai sesuatu yang mula-mula hanya dilakukan perlahan-lahan menjadi sesuatu yang dipahami dan dihayati.
Untuk itu saya melihat persoalan “anak belum memahami Ekaristi atau Perjamuan Kudus” secara agak berbeda. Pertanyaannya bukan hanya: “Apakah anak sudah memahami Ekaristi atau Perjamuan Kudus?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “๐๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ ๐ธ๐ฒ๐๐ฒ๐บ๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ฏ๐ฒ๐น๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ๐ถ ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐๐ถ atau Perjamuan Kudus ๐บ๐ฒ๐น๐ฎ๐น๐๐ถ ๐ฝ๐ฎ๐ฟ๐๐ถ๐๐ถ๐ฝ๐ฎ๐๐ถ ๐ฑ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐๐ถ atau Perjamuan Kudus?”
Jika anak selalu dilarang mendekati meja Perjamuan Tuhan sampai ia dianggap sudah memahami meja itu, kita menciptakan sebuah lingkaran yang aneh: Tidak boleh ikut karena belum memahami.
Padahal: Bagaimana ia akan belajar memahami kalau ia tidak pernah diberi kesempatan untuk ikut?
Di sinilah prinsip ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐บ๐ถ ๐ฑ๐๐น๐, ๐บ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ๐ถ ๐ธ๐ฒ๐บ๐๐ฑ๐ถ๐ฎ๐ป memeroleh maknanya. Bukan berarti pemahaman tidak penting. Justru sebaliknya. Pemahaman sangat penting. Namun, pemahaman iman tidak selalu lahir lebih dahulu sebelum pengalaman iman. Dalam liturgi keduanya berlangsung dalam hubungan timbal-balik.
๐๐ป๐ฎ๐ธ ๐ถ๐ธ๐๐ ➡️๐๐ป๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐น๐ถ๐ต๐ฎ๐ ➡️ ๐๐ป๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ ➡️ ๐๐ป๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐๐น๐ฎ๐ป๐ด ➡️ ๐๐ป๐ฎ๐ธ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ ➡️ ๐๐ป๐ฎ๐ธ ๐ฏ๐ฒ๐น๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ ➡️๐๐ป๐ฎ๐ธ ๐๐ฒ๐บ๐ฎ๐ธ๐ถ๐ป ๐บ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ๐ถ.
Di sini juga prinsip ๐น๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ ๐ฏ๐ฒ๐ธ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ: ๐ฝ๐ฎ๐ฟ๐๐ถ๐๐ถ๐ฝ๐ฎ๐๐ถ ➡️ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ด๐๐น๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ➡️ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป ➡️ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฎ๐ป ➡️ ๐ฟ๐ฒ๐ณ๐น๐ฒ๐ธ๐๐ถ ➡️ ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป ➡️ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ฎ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป.
Anak semakin mampu menghayati apa yang ia rayakan. Itulah sebabnya liturgi tidak dapat dilunturkan menjadi sesuatu yang hanya boleh diikuti oleh orang yang sudah memahami seluruh maknanya. ๐๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ ๐ท๐๐๐๐ฟ๐ ๐บ๐ฒ๐ฟ๐๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐๐ ๐๐ฒ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ ๐๐บ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ๐ถ ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป.
Oleh sebab itu sulit memertahankan sidi semata-mata sebagai “ujian pemahaman” yang menentukan apakah seorang anak sudah layak berada di meja Perjamuan Tuhan. Sidi dapat mempunyai gawai lain: pengakuan iman yang sadar, penerimaan tanggung jawab keanggotaan, atau bentuk pendewasaan tertentu dalam kehidupan gerejawi.
Menjadikan sidi sebagai pagar yang menghalangi anak yang sudah dibaptis dari Ekaristi atau Perjamuan Kudus membutuhkan dasar teologis yang jauh lebih kuat daripada sekadar: “Anak belum mengerti.” Gereja tidak mendidik anak dengan pertama-tama mengeluarkannya dari kehidupan liturgis, lalu memasukkannya kembali setelah ia dianggap cukup mengerti. Gereja mendidik anak ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐บ๐ฎ๐๐๐ธ ๐ธ๐ฒ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐ธ๐ฒ๐ต๐ถ๐ฑ๐๐ฝ๐ฎ๐ป ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป ๐ถ๐๐ ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ.
Anak belajar berdoa dengan berdoa. Anak belajar menyanyi dengan menyanyi. Anak belajar menjadi bagian dari komunitas dengan berada di dalam komunitas. Kalau Ekaristi atau Perjamuan Kudus adalah pusat kehidupan persekutuan Gereja, ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐ป๐ฎ๐ถ ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐๐ถ atau Perjamuan Kudus ๐ท๐๐๐๐ฟ๐ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐ฑ๐ถ๐บ๐๐น๐ฎ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐น๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐บ๐ฏ๐ถ๐น ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ๐ป๐๐ฎ?
Mungkin persoalannya bukan bahwa anak terlalu kecil untuk memahami Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Mungkin justru kita yang terlalu cepat mengira bahwa pemahaman harus selalu datang sebelum partisipasi.
Padahal liturgi mempunyai cara mengajar yang berbeda.
♦️Kita melakukan sebelum mampu menjelaskan.
♦️Kita mengalami sebelum mampu merumuskan.
♦️Kita mengulang sebelum mampu mengartikulasikan.
Dari sanalah pemahaman bertumbuh.
Di sini saya kembali kepada pertanyaan dari tulisan sebelumnya: ๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐บ๐๐ฎ๐ป ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป?
Kalau jawabannya adalah Tuhan, maka tugas Gereja bukan pertama-tama menentukan siapa yang cukup mengerti untuk mendekati meja itu. Tugas Gereja adalah ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฑ๐ถ๐ธ ๐๐บ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐น๐ฎ๐น๐๐ถ ๐บ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ถ๐๐, termasuk anak-anak yang telah dibaptis, sambil mengatakan:
“๐ ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ถ๐ธ๐๐ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ ๐ธ๐ฎ๐บ๐ถ. ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐บ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ถ๐ป๐ถ ๐ฒ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐น๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ๐ถ ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ถ๐๐ฎ ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป.”
Saya membaca kegundahan beberapa teman mengenai ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ ๐ธ๐ฒ๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐ผ๐๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ereja. Kegundahan itu menurut saya sangat beralasan. Dalam Tata Gereja baptisan dinyatakan sebagai pintu masuk ke dalam Gereja. Namun, pada saat yang sama Gereja membedakan anggota baptisan dan anggota sidi. Pembedaan itu bukan sekadar istilah administratif. Dalam praktiknya pembedaan tersebut menghasilkan konsekuensi yang sangat nyata: ๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐ผ๐๐ฎ ๐ฏ๐ฎ๐ฝ๐๐ถ๐๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ ๐ฑ๐ถ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ธ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ป๐ธ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐ฒ๐ฟ๐ถ๐บ๐ฎ ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐๐ถ atau Perjamuan Kudus.
Di sinilah saya mula bertanya. Jika baptisan adalah pintu masuk ke dalam Gereja, ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฒ๐๐ฒ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ฝ๐๐ถ๐ ๐บ๐ฎ๐๐ถ๐ต ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐บ๐ฒ๐น๐ฒ๐๐ฎ๐๐ถ ๐ฝ๐ถ๐ป๐๐ ๐ธ๐ฒ๐ฑ๐๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ป๐ฎ๐บ๐ฎ ๐๐ถ๐ฑ๐ถ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ฒ ๐บ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐บ๐๐ฎ๐ป ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป?
Pola yang selama ini dikenal secara umum dalam Gereja adalah: ๐๐ฎ๐ฝ๐๐ถ๐ ➡️ ๐ฆ๐ถ๐ฑ๐ถ ➡️ ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐๐ถ atau Perjamuan Kudus.
Saya kira persoalannya bukan terutama pada usia berapa seseorang harus menerima sidi. Persoalannya jauh lebih mendasar: ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐๐ถ๐ฑ๐ถ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ๐ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐๐ฒ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐ป๐ฒ๐ฟ๐ถ๐บ๐ฎ ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐๐ถ atau Perjamuan Kudus? Padahal sidi bukan sakramen. Oleh karena itu menjadi agak ganjil apabila sesuatu yang ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ธ๐ฟ๐ฎ๐บ๐ฒ๐ป justru dijadikan syarat untuk menerima ๐๐ฎ๐ธ๐ฟ๐ฎ๐บ๐ฒ๐ป.
Lebih menarik lagi kalau persoalan ini kita lihat dari ๐น๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐๐ถ atau Perjamuan Kudus itu sendiri. Dalam liturgi Ekaristi Protestan, khususnya dalam rangkaian liturgis yang lazim kita kenal, persiapan menuju meja Perjamuan Tuhan justru menempatkan ๐ฑ๐๐ฎ ๐ต๐ฎ๐น ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ ๐ธ๐ผ๐ป๐ธ๐ฟ๐ฒ๐.
▶️ Kesatu, ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ฎ. Hal ini dinyatakan dalam ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ช.
▶️ Kedua, ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐บ๐ฝ๐๐ป๐ถ ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ธ๐ถ๐๐ฎ. Hal ini dinyatakan dalam ๐๐ฐ๐ข ๐๐ข๐ฑ๐ข ๐๐ข๐ฎ๐ช: ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช, ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช.
Dengan demikian liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus sendiri membawa kita kepada persoalan ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ผ๐ป๐๐ถ๐น๐ถ๐ฎ๐๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐บ๐ฝ๐๐ป๐ฎ๐ป. Di sini saya tidak menemukan dalam logika liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus itu sebuah syarat: “๐ฆ๐๐ฑ๐ฎ๐ต๐ธ๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฎ๐บ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ฑ๐ถ?” Tidak ada.
Jadi, muncul sebuah ironi yang sulit diabaikan: ๐๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐๐ถ atau Perjamuan Kudus ๐บ๐ฒ๐บ๐ฒ๐ฟ๐๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ถ๐๐ฎ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐บ๐ฝ๐๐ป๐ถ, ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ฝ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐๐ถ๐ธ ๐ด๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ท๐๐๐๐ฟ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐๐๐ฝ ๐บ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐บ๐๐ฎ๐ป ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ถ ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ ๐๐ถ๐ฑ๐ถ.
Jadi, yang sebenarnya menjadi syarat datang ke meja Tuhan itu apa? ๐๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐บ๐ฝ๐๐ป๐ถ, ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ฑ๐ถ?
Kalau jawabannya ๐๐ถ๐ฑ๐ถ, kita perlu menunjukkan dasar teologisnya, karena liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus sendiri tidak mengajarkannya.
๐๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ?
Saya mencoba melihat persoalan ini melalui teropong Injil Yohanes. Dalam Yohanes 6 kita menemukan kisah Yesus memberi makan lima ribu orang. Kisah ini memang tampak mirip dengan kisah pemberian makan lima ribu orang dalam Injil Sinoptik. Akan tetapi menurut saya perbedaan teologisnya justru sangat penting.
Dalam Sinoptik pemberian makan kepada orang banyak ditempatkan dalam konteks ๐ฏ๐ฒ๐น๐ฎ๐ ๐ธ๐ฎ๐๐ถ๐ต๐ฎ๐ป ๐ฌ๐ฒ๐๐๐. Orang banyak itu seperti domba tanpa gembala dan Yesus tergerak oleh belas kasihan (๐ฆ๐ด๐ฑ๐ญ๐ข๐ฏ๐ค๐ฉ๐ฏ๐ช๐ด๐ต๐ฉe).
Yohanes menyajikan sesuatu yang berbeda. Yesus ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ท๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฒ๐น๐ฒ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฏ๐๐ฎ๐ต ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐บ๐๐ฎ๐ป ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป. Perhatikan cara Yohanes menceritakannya:
▶️ Yesus mengambil roti, mengucap syukur, lalu ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ roti itu kepada orang-orang yang duduk. Ia juga membagikan ikan-ikan itu.
▶️ Yesus tidak menyuruh murid-murid membagikan makanan.
▶️ Yesus sendiri menjadi tuan rumah dan pelaku utama perjamuan itu.
Untuk itu saya berani menyebut peristiwa tersebut sebagai ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐บ๐๐ฎ๐ป ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป dalam kerangka teologi Injil Yohanes. Tindakan Yesus pada ayat 11 tidak berhenti sebagai tindakan memberi makan. Tindakan itu justru memersiapkan apa yang kemudian dikatakan Yesus: “๐๐ฌ๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ณ๐ฐ๐ต๐ช ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ.” (Yoh. 6:48) dan: “๐๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ฐ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข-๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.” (Yoh. 6:50–51)
Yohanes 6:51–58 kemudian membawa refleksi itu semakin jauh. Makan roti tidak lagi hanya berbicara mengenai mengatasi rasa lapar. Tema makan dan minum menjadi bagian dari pewartaan mengenai Yesus sendiri sebagai sumber kehidupan.
Jadi, dalam Injil Yohanes pemberian makan lima ribu orang bukan sekadar kisah mukjizat untuk menunjukkan bahwa Yesus mampu menyediakan makanan.
▶️ Yesus menyelenggarakan perjamuan. Yesus adalah ๐๐๐ฎ๐ป ๐ฟ๐๐บ๐ฎ๐ต.
▶️ Yesus sendiri membagikan makanan.
▶️ Makanan itu kemudian ditafsirkan melalui diri-Nya sebagai Roti Kehidupan.
Ada satu detil kecil yang justru menurut saya sangat menarik. Lima roti dan dua ikan itu berasal dari ๐๐ฒ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ (Yoh. 6:9). Seorang anak berada di tengah peristiwa yang saya baca sebagai Perjamuan Tuhan. Anak itu tidak ditanya apakah ia sudah menyelesaikan katekisasi. Tidak ditanya apakah ia sudah menerima pengakuan percaya. Tidak ditanya apakah ia sudah angkat sidi. Ia ada di sana. Yesus menerima apa yang dibawa anak itu.
Bandingkan dengan kisah pemberian makan dalam Injil Sinoptik. Di sana lima roti dan dua ikan berada pada pihak para murid. Dalam Yohanes justru seorang anak yang memiliki lima roti dan dua ikan itu. Detil kecil ini jangan dianggap kebetulan. Yohanes sedang membangun narasinya sendiri: anak itu hadir di tengah perjamuan yang diselenggarakan Yesus, dan apa yang ada padanya diterima serta digunakan oleh Yesus untuk memberi makan orang banyak.
Jadi, ketika kita berbicara tentang anak dalam hubungan dengan Perjamuan Tuhan, Injil Yohanes memberikan detil yang tidak diberikan oleh Sinoptik: seorang anak berada di dalam peristiwa makan yang diselenggarakan dan dilakukan oleh Yesus sendiri. Ironisnya, justru dalam Gereja kita anak yang sudah dibaptis harus menunggu mengangkat sidi sebelum diperbolehkan datang ke meja Perjamuan Tuhan.
Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa Yohanes 6 dapat begitu saja disamakan secara historis dengan praktik Ekaristi atau Perjamuan Kudus Gereja kemudian. Itu akan menjadi penyederhanaan eksegetis. Yang mau saya katakan adalah bahwa ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ ๐ฌ๐ผ๐ต๐ฎ๐ป๐ฒ๐ ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฒ๐บ๐ฝ๐ฎ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฌ๐ฒ๐๐๐ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป, ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป, ๐ฟ๐ผ๐๐ถ, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐ต๐ถ๐ฑ๐๐ฝ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐๐ฎ๐๐ ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ถ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ ๐ธ๐๐ฎ๐.
Ada hal lain yang tidak kalah penting. Dalam Injil Yohanes pada malam sebelum penyaliban, tidak ada kisah institusi Ekaristi atau Perjamuan Kudus/Malam, seperti yang kita temukan dalam Injil Sinoptik. Yohanes 13–17 justru membawa kita kepada pembasuhan kaki, perintah baru, wejangan-wejangan Yesus, janji mengenai Roh Kudus, dan doa Yesus. Yohanes tidak menempatkan institusi Ekaristi atau Perjamuan Kudus pada malam terakhir. Tema roti dan makan justru memeroleh tempat yang sangat penting dalam Yohanes 6.
Oleh karena itu kalau kita hendak berbicara tentang ๐๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ผ๐น๐ฒ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ฒ ๐บ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐บ๐๐ฎ๐ป ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฟ๐๐ ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ ๐ฌ๐ผ๐ต๐ฎ๐ป๐ฒ๐, saya kira Yohanes 6 tidak boleh begitu saja dilangkahi.
๐๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐ฑ๐ถ?
Di sini perbandingan dengan tradisi Katolik juga menjadi menarik. Dalam tradisi Katolik dikenal tiga sakramen inisiasi: ๐๐ฎ๐ฝ๐๐ถ๐, ๐๐ฟ๐ถ๐๐บ๐ฎ, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐๐ถ. Secara ideal ketiganya merupakan satu kesatuan inisiasi. Namun, dalam praktik sejarah dan pastoral urutannya tidak selalu linear.
Ada orang yang dibaptis ketika masih bayi, kemudian menerima Ekaristi, dan baru menerima Krisma bertahun-tahun kemudian. Bahkan bukan hal yang aneh kita menemukan banyak orang yang sudah berusia lanjut tetapi belum menerima Krisma.
Akan tetapi orang-orang tersebut tidak kemudian dinyatakan: “Kamu belum menjadi anggota Gereja Katolik sepenuhnya.” Yang dikatakan adalah bahwa ๐๐ฎ๐ธ๐ฟ๐ฎ๐บ๐ฒ๐ป ๐ถ๐ป๐ถ๐๐ถ๐ฎ๐๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ ๐๐ฒ๐น๐ฒ๐๐ฎ๐ถ, bukan bahwa keanggotaannya belum penuh.
Ini pembedaan yang sangat penting: ๐๐ป๐ถ๐๐ถ๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ ๐๐ฒ๐น๐ฒ๐๐ฎ๐ถ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐บ๐ฎ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐ผ๐๐ฎ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐๐ต.
Kembali pada kegundahan Boksu Joas mengenai keanggotaan Gereja, jangan-jangan persoalan kita (Gereja) bukan bagaimana membuat anak lebih cepat angkat sidi supaya lebih cepat boleh menerima Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Jangan-jangan persoalannya justru adalah ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ถ๐ฑ๐ถ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ฏ๐ฎ๐ฝ๐๐ถ๐๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐บ๐๐ฎ๐ป ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป.
Kalau baptisan sudah memasukkan seseorang ke dalam Gereja, kalau sidi bukan sakramen, kalau liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus sendiri tidak mengajukan syarat sidi, dan kalau Injil Yohanes memberikan kepada kita gambaran tentang Yesus yang menyelenggarakan perjamuan dengan seorang anak berada di dalam komunitas yang menerima makanan dari tangan-Nya, maka kita mempunyai alasan yang cukup kuat untuk mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana: ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ฝ๐๐ถ๐ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ป๐ด๐ด๐ ๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ฑ๐ถ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ฒ ๐บ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐บ๐๐ฎ๐ป ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป?
Saya kira pertanyaan ini tidak boleh dijawab hanya dengan: “Memang tradisi Gereja begitu.” Tradisi gereja harus selalu bersedia diperiksa kembali oleh ๐๐น๐ธ๐ถ๐๐ฎ๐ฏ, ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ ๐๐ฎ๐ธ๐ฟ๐ฎ๐บ๐ฒ๐ป, ๐ฒ๐ธ๐น๐ฒ๐๐ถ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐น๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ.
Pada akhirnya persoalannya bukan sekadar: “Kapan anak harus angkat sidi?” Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah: “๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ผ๐น๐ฒ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ฒ ๐บ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐บ๐๐ฎ๐ป ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป?”
Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk menentukan siapa yang belum boleh makan, sampai lupa bertanya: ๐๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฟ๐ป๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ถ๐๐?
Kalau kita percaya bahwa yang membuka meja adalah Tuhan sendiri, saya kira kita perlu sangat berhati-hati ketika Gereja membuat pagar yang tidak dibuat oleh-Nya.
(15092026)(TUS)
Baca juga :
https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/pemahaman-sinengker-dalam-bahasa-jawa.html
https://titusroidanto.blogspot.com/2024/07/sudut-pandang-perjamuan-kudus-anak.html
https://titusroidanto.blogspot.com/2024/07/sudut-pandang-perjamuan-kudus-anak.html
https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/sudut-pandang-bahan-pendadaranpersiapan.html
https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/sudut-pandang-persiapan-pendadaran-anak.html