Rabu, 16 Juni 2021

MEMANDANG PGI DARI DUA SUDUT PANDANG BERBEDA, PERIHAL TWK - KPK, SERIAL SUDUT PANDANG

MEMANDANG PGI DARI DUA SUDUT PANDANG BERBEDA, PERIHAL TWK - KPK, SERIAL SUDUT PANDANG

Apakah gereja boleh berpolitik? politik moral.  Boleh dan bahkan harus. Yesus berpolitik. "Kristus Yesus adalah Tuhan" dalam Filipi 2:11 juga pernyataan politik. Yang tidak boleh adalah gereja berpolitik praktis. Jagad maya digonjang ganjingkan dg pernyataan seruan kenabian PGI,  perihal TWK (test Wawasan Kebangsaan)-KPK. banyak argumentasi pro maupun kontra, kalangan kristiani ibaratkan binatang yg bisa membelah diri,  yang awalnya satu tubuh,  kini membelah diri dg posisi dan kedudukan masing - masing,  baik mendukung bahkan membela PGI atau malah menghujat bahkan mencibir PGI tentunya dengan berbagai argumentasinya. Gereja sudah sering mengandalkan Roma 13 untuk membuat posisi berpolitik. Sayangnya mereka sering juga lupa membenturkan Roma 13 dengan Wahyu 13. Pemerintah merupakan hamba Allah (Roma 13), tetapi juga dapat berubah menjadi monster yang menakutkan (Wahyu 13). Gereja juga sepatutnya mengikuti teladan Yesus yang saya imajinasikan dari Markus 12:13-17. Dalam perikop ini ada beberapa unsur yang ditampilkan, yaitu (1) orang Farisi dan pendukung Herodes yang Yesus sebut orang munafik, (2) Yesus sebagai orang jujur, mengajar dengan jujur, dan dengan segala kejujuran, dan (3) koin Dinar yang ada gambar dan tulisan kaisar (Roma). Sebenarnya Yesus tidak bersetuju, jika membayar pajak diartikan untuk menunjukkan pengakuan terhadap kekuasaan kaisar. Dengan bahasa masa kini barangkali Yesus akan bertanya,”Gambar siapa tuh?”. Jawab,”Gambar presiden!” Kalau begitu, berikan saja kepada presiden, kata Yesus. Sebenarnya Yesus mau mengatakan bahwa kekuasaan presiden cuma di uang itu thok! Yesus mau menyindir para pejabat yang mencari makan dari kekuasaan presiden dengan menindas bangsa sendiri, tetapi tidak berani melawan monster-monster penguasa yang menyeramkan itu. Baiklah kita coba menggumuli dua ringkasan sudut pandang agar kita bisa lebih bersikap berimbang perihal PGI dalam hal TWK -KPK.
SUDUT PANDANG PERTAMA
Sebetulnya urusan TWK - KPK itu urusan antar pekerja dan pemberi kerja, jadi yg turut campur seperti PGI atau yg laennya sudah salah kaprah. Kecelakaan kerja terjadi akibat dari akumulasi tindakan dan perilaku tak aman, yang dalam basa Jawanya unsafe acts and behaviours. Menghindari kecelakaan adalah dengan menurunkan unsafe acts and behaviours sampai nihil. Melihat kemarakan slogan keselamatan kerja dewasa ini saya jadi teringatkan betapa pentingnya TWK itu bagi pemegang kekuasaan. Salah kaprah karena Komnas HAM dan PGI, membela Novel Baswedan dan Yudi Purnomo berjumlah 75 orang yang tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan. persoalan Novel dengan KPK bukanlah persoalan politik, apalagi persoalan agama. “PGI perlu mengingat hal ini,”. Persoalan Novel cs adalah merupakan konflik pekerja, yakni antara pemberi gaji Pemerintah melalui KPK dengan penerima gaji. Dengan dibentuknya Wadah Pegawai (WP) di KPK oleh Novel Cs semakin mengukuhkan bahwa keberadaan Novel cs di KPK adalah pegawai alias pekerja. Di mana segala masalahnya sebagai pekerja harus berkordinasi dengan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Serikat Pekerja Indonesia (SPI). Begitu juga mengenai perselisihannya sebagai pekerja yang memiliki serikat pekerja atau serikat buruh atau wadah pegawai dalam satu perusahaan harus mengacu kepada Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003, tentang Ketenagakerjaan. Agar penyelesaian perselisihan hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja dan perselisihan lainnya, seperti pembayaran pesangon bisa segera tercapai. Hal tersebut lantaran Indonesia hanya mengenal Pegawai Negeri Sipil (ASN) yang tergabung dalam Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) dan pegawai swasta atau buruh yang tergabung dalam SPI. Jadi sangat salah kaprah jika Ombudsman dan Komnas HAM, mau diperalat dan diseret-seret Novel cs dalam masalahnya. Lebih salah kaprah lagi jika PGI sebagai lembaga gereja mau diseret-seret Novel cs,”. Dengan adanya WP di KPK, diarankan lembaga yang mereka buat inilah yang harusnya membangun komunikasi ke SPI dan Depnaker. Ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Seharusnya mengingatkan PGI dan organisasi yang mau diseret seret Novel Cs bahwa kewajiban tes TWK bagi calon ASN adalah syarat mutlak. Bagaimana pun seluruh ASN harus patuh dan berorientasi pada Wawasan Kebangsaan Pancasila agar ASN tidak dilumuri kelompok kelompok radikal, apalagi kelompok Taliban. Sehingga Keputusan pimpinan KPK yang mewajibkan pegawainya mengikuti TWK sudah sangat tepat dan sesuai statment Presiden. Bagi yang tidak lulus harus berjiwa besar segera keluar dari KPK. Lembaga antisuap  ini bukanlah milik pribadi Novel yang bisa dijadikannya sebagai kerajaan. Kemudian, jangan sampai terjadi penilaian bahwa KPK adalah Novel dan Novel adalah KPK, masih banyak orang yang lebih hebat dari Novel di dalam internal KPK. “Namun gegara framming terhadap Novel begitu dihebohebokan sehingga semua prestasi yang dicapai KPK selama ini, seolah olah adalah hasil kerja pribadi Novel Baswedan seorang mantan Komisaris Polisi. Kesan ini yang harus dibersihkan. “Seluruh anak bangsa harus menyadari KPK adalah milik bangsa Indonesia dan bukan milik pribadi Novel Baswedan,” Hal Kerajaan Allah itu seumpama TWK. Orang-orang sombong meremehkannya. Mereka menghina hikmat. Mereka tidak berjaga-jaga. Ketika tiba waktunya mereka kalah dari orang-orang bertekun. Orang-orang sombong itu dihempaskan ke ruang paling gelap yang penuh ratapan dan kertakan gigi. Pada kenyataannya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di bawah kepemimpinan Komjen Pol. Firli Bahruli patut diapresiasi seluruh lapisan masyarakat. Tercatat sejumlah torehan capaian kinerja lembaga antirasuah pada tahun 2020 memiliki peringkat tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sumber data tersebut merupakan hasil dari lembaga KPK. Kinerja KPK pada periode tahun 2020 telah berhasil memulihkan serta melakukan optimalisasi aset Pemda dan milik negara dengan total sekitar Rp 592 triliun. Ketika Firli Bahuri masuk dalam daftar pendek calon komisioner KPK (2019), ia mendapat pertentangan dan kecaman keras dari masyarakat lewat media. Singkat cerita Firli mendapat stigma orang jahat yang tidak pantas dan tidak boleh menjadi pemimpin KPK (kata yang benar adalah pemimpin bukan pimpinan, karena pimpinan adalah hasil memimpin). Dengan prapaham Firli adalah orang jahat, maka apa pun langkah yang dibuat Firli dinilai oleh masyarakat yang berseberangan dengan dirinya adalah buruk dan melemahkan KPK. Sepekan terakhir riuh dengan isu PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) yang membela 75 pegawai KPK yang gagal tes wawasan kebangsaan (TWK). PGI menolak stigma “Taliban” untuk mengeluarkan pegawai yang gagal TWK. Dalam laman PGI Sekum PGI mengatakan “Tujuh dari sembilan orang pegawai KPK yang berkunjung ke Grha Oikoumene PGI pada hari Jumat kemarin (28 Mei  – mds.) jelas-jelas tak bisa dikategorikan ‘kadrun’, ‘Taliban’, dan diksi-diksi serupa yang sangat bias identitas (agama), karena mereka merupakan warga gereja”. Sekum PGI dalam hal ini tepat sekali. Warga gereja tidak tepat disebut atau distigma “Taliban”. Sayangnya Sekum PGI tidak mengurai lebih lanjut ke khalayak. Entah lupa entah tutup mata. Istilah fundamentalis dan fundamentalisme justru dilekatkan pertama kali kepada gereja dan warga gereja pada awal abad XX. Ideologi fundamentalisme terbukti masuk ke dalam kehidupan bergereja di Indonesia. Bahaya fundamentalisme Kristen bagi kehidupan bergereja dan bernegara juga sudah dibahas panjang-lebar tinggi-rendah oleh teolog-teolog ekumenis di Indonesia. Apakah saya hendak mengatakan bahwa ketujuh orang yang disebut Sekum PGI itu fundamentalis Kristen? Bukan itu maksud saya. Yang saya kecam adalah pernyataan terburu-buru PGI bahwa pemecatan sejumlah pegawai KPK yang gagal TWK sebagai pelemahan KPK dan kecaman terhadap PGI oleh warganet dianggap oleh PGI sebagai korban konspirasi kelompok yang hendak melemahkan KPK dengan stigma “Taliban”. Saya mendukung dan mendorong Gereja untuk terus menyampaikan suara kenabian ketika Pemerintah menindas kaum marginal seperti yang Yesus lakukan. Gereja juga harus menentang kelompok-kelompok yang menggunakan segala cara untuk berkuasa. Pertanyaannya, apakah memang sudah diyakini 75 orang pegawai KPK yang gagal TWK itu adalah orang-orang tertindas? Bagaimana jika sebaliknya mereka justru orang-orang yang menggunakan kekuasaan mereka yang nyaris tanpa batas untuk menindas orang lain? Bagaimana jika mereka adalah orang-orang yang disebut di atas memberantas korupsi dengan semangat balas dendam? Jangan-jangan pengurus PGI membuat pernyataan dengan prapaham Firli Bahuri adalah orang jahat sehingga apa pun yang diputuskannya melemahkan KPK? Bacaan Injil Markus 4:26-34, Kerajaan Allah itu, kata Yesus, seumpama orang yang menaburkan benih di tanah. Pada malam hari ia tidur dan saat ia bangun pada siang hari benih itu mengeluarkan tunas dan makin meninggi setiap hari. Benih itu menjadi tanaman. Bagaimana pertumbuhannya tidak diketahui orang itu. Ketika tanaman itu berbuah, orang itu menuainya. Kemudian Yesus memberikan lagi perumpamaan kepada para pendengar-Nya. Hal kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Biji sesawi merupakan biji terkecil di antara benih yang ada, kata Yesus, tetapi ia tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang besar sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.Pesan perumpamaan Yesus itu kepada gereja agar tidak arogan. Kerajaan Allah bukan ditunjukkan dengan gedung-gedung gereja megah dengan warga jemaat ribuan bahkan jutaan. Kalau kemudian gereja menjadi besar itu bukan hasil pekerjaan para pejabat gerejawi, bukan dari kolekte yang besar, melainkan Allah yang bekerja. Seperti halnya pohon sesawi yang melindungi dan menaungi demikian juga halnya dengan gereja. Di sini gereja adalah hamba misi Kerajaan Allah, yang menghadirkan ciri-ciri Kerajaan Allah, bukan Kerajaan Allah itu sendiri. Apakah langkah gereja lewat PGI yang membela 75 pegawai KPK yang gagal TWK berarti sudah menjalankan fungsi gereja menaungi orang-orang terpinggirkan? Belum tentu. Seperti yang saya sampaikan pekan lalu, bagaimana jika sebaliknya, 75 orang itu justru selama ini sombong menggunakan kekuasaan mereka yang nyaris tanpa batas untuk menindas orang lain? Jadi, menaungi orang-orang terpinggirkan seperti apa? Banyak. Satu contohnya adalah para transpuan. Kehidupan mereka menyedihkan lantaran mereka tak terterimakan dalam masyarakat. Akibat selanjutnya mereka tidak memiliki akses pendidikan dan pekerjaan yang layak bagi kehidupan. Bahkan banyak dari mereka yang tidak mengantongi kartu identititas negara. diambil dari Markus 3:20-35, Musuh-musuh politik Yesus selalu mengincar kalau-kalau Yesus melakukan kesalahan. Mengapa saya sebut musuh-musuh politik? Dalam Yudaisme tidak ada batas tegas antara politik dan agama. Para pemimpin agama Yahudi dapat dikatakan pemimpin politik, karena saat itu Roma berkuasa di Tanah Yudea. Begitu banyaknya pengikut Yesus membuat  para pemimpin agama Yahudi was-was dan merasa terancam kewibawaan mereka serta kehilangan pengikut. Kali ini ahli-ahli Taurat melempar fitnah kepada Yesus. Ia difitnah bersekutu dengan Beelzebub. Pada masa Perjanjian Lama Beelzebub dikenal sebagai BaalZebub, Dewa Ekron. Dalam perkembangannya Dewa Ekron itu bergeser maknanya menjadi penghulu setan. Niat tulus Yesus yang mau memberdayakan kaum marginal dipolitikkan oleh ahli-ahli Taurat. Yesus dengan cerdas membalas fitnah mereka dengan menyindir cara berpolitik mereka yang memecahbelah bangsa. Ahli-ahli Taurat itu bahkan menggunakan isu yang paling sensitif yaitu tauhid Yahudi. Yesus menanggapi mereka dengan nada tinggi “Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun.” (ay. 29). Yesus hendak mengatakan bahwa jangan main-main dengan tauhid. Yesus sedang mengabarkan Injil  Allah dengan memberdayakan kaum marginal. Sementara ahli-ahli Taurat menuduh Yesus bersekutu dengan Beelzebub. Allah itu Roh. Menyekutukan Roh Allah dengan Dewa Ekron alias Beelzebub adalah pelanggaran berat. Kerajaan Israel Bersatu bubar, karena raja berselingkuh dengan ilah lain. Itu yang hendak disampaikan Yesus kepada ahli-ahli taurat yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa.
SUDUT PANDANG KEDUA
Pada sudut pandang diisi yang laen,  medsos bbrp waktu yg lalu dipenuhi dengan pertanyaan atau komentar mengenai apa yang PGI nyatakan mengenai penentangan akan pelemahan KPK. Komentar Pdt. Gomar Gultom, Ketua Umum PGI langsung ramai-ramai dikomentari, bahkan cenderung mengarah ke personal. Di sini juga bukannya saya menginginkan gereja menghentikan kemitraan dengan penguasa. Masalahnya, kemitraan mustahil berarak, jika tidak ada keseimbangan antara kedua lembaga/pihak tersebut. Kemitraan yang seimbang tidak boleh sekadar slogan. Gereja mesti percaya diri akan jatidirinya. Yang saya maksudkan jatidiri bukanlah identity, melainkan innerself. Pengurus PGI dapat memulanya dengan membuang kebiasaan mengundang pejabat negara atau mantan pejabat/penguasa untuk membuka dan memberikan pengarahan pada acara atau rapat gerejawi. Gereja jangan lagi mengobral pernyataan kritis, namun harmless. Misal, berkampanye anti-rokok, mengecam perselingkuhan dalam pernikahan, mengecam film-film porno, dan lain sejenisnya. Semua itu kritis dan baik, namun harmless. Ia tidak berdaya sengat dan tidak berisiko politis. Gereja harus berani mengeluarkan penyataan kritis yang berisiko politis ketika hak-hak rakyat dikebiri. Gereja harus panggah berbelarasa pada orang-orang yang tertindas dari apa pun golongan dan agama mereka. Saya melihat banyak sekali pertanyaan, atau cenderung hujatan, yang saya lihat berasal dari saudara orang Kristen juga dengan kata-kata yang cenderung kok ya kurang santun. Saya punya sudut pandang kedua seperti berikut.  Pertama, sebagai persekutuan gereja-gereja, PGI memiliki dasar, baik teologis maupun organisasi yaitu Dokumen Keesaan Gereja yang berisi berbagai dokumen mengenai kesepakatan bersama gereja-gereja di Indonesia mengenai apa tugas yang harus PGI laksanakan. Berdasarkan mandat Sidang Raya PGI PGI ke XVII di Waingapu Sumba 2019, 2 dari 8 pokok-pokok tugas PGI adalah: "D. Memperjuangkan Keadilan dan Kemandirian Ekonomi  E. Membangun Kesadaran dan Jejaring Politik Warga Gereja " Kedua, salah satu panggilan persekutuan gereja-gereja adalah pelayanan sosial-ekologis, yang dinyatakan dalam Dokumen Keesaan Gereja PGI 2019, Bagian II Pemahaman Panggilan Bersama, A. Pemahaman Panggilan Gereja, Pasal 12.c.:  "Menjalankan pelayanan dalam kasih dan usaha menegakkan keadilan dan Hak Asasi Manusia, perdamaian dan keutuhan ciptaan (bnd. Mrk. 10:45; Luk. 4:18; 10:25– 37; Yoh. 15:16); panggilan gereja pun mengharuskan gereja memerangi segala penyakit, kelemahan, ketidakadilan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam masyarakat. Demikian juga gereja berkewajiban mengusahakan dan memelihara secara bertanggung jawab sumber-sumber daya alam dan lingkungan hidup. Sebab waktu Yesus berkeliling di seluruh Galilea, Ia melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa ini (bnd. Mat. 4:23). Inilah tugas pelayanan dalam kasih serta keadilan."  Jadi, tugas gereja bicara soal keadilan tidak hanya melulu soal penutupan gereja, tapi juga ketidakadilan, pembelaan terhadap hak asasi manusia, bicara soal perusakan alam, termasuk korupsi sebagai penyakit dan kelemahan bangsa kita. Sayangnya, sampai sekarang gereja masih jarang bicara mengenai topik ini. Jika gereja masih berkhotbah soal keadilan, jangan mencuri, jangan berbohong, jangan mengingini harta sesamamu, maka jangan korupsi juga menjadi topik pengajaran penting. Bahkan, salah satu poin Konteks Panggilan Bersama PGI  dalam Dokumen Keesaan Gereja PGI 2019, Bagian II Pemahaman Panggilan Bersama, Poin B Konteks Panggilan Bersama, Pasal 16 adalah, "16. Konteks sosial-ekologis panggilan gereja-gereja di Indonesia adalah masyarakat yang berada dalam proses reformasi menuju masyarakat yang berkeadaban di mana masalah-masalah sosial-ekologis, ketidakadilan, kemiskinan, pelanggaran Hak Asasi Manusia, korupsi, politik transaksional, politik identitas dan fundamentalisme agama, serta kerusakan ekologis menjadi tantangan bersama seluruh masyarakat, bangsa dan negara, termasuk di dalamnya gereja-gereja. Karena itu, pemberitaan Injil lebih mengambil bentuk pelayanan sosial-ekologis, di samping pemberitaan verbal, dengan memberi perhatian khusus kepada korban-korban ketidakadilan dan pelecehan terhadap hak-hak asasi manusia, terhadap orang-orang miskin dan tertindas serta terhadap rusaknya ekologi. Ini merupakan masalah-masalah sosial-ekologis yang peka dan mendesak untuk diatasi." Perlu dicatat, masalah korupsi, ketidakadilan, pelanggaran Hak Asasi Manusia juga harus disuarakan. Tugas PGI adalah menjadi suara moral, suara nurani, bersuara kepada semua elemen bangsa ini. Mimbar berkhotbah bukan hanya di altar, kita bisa menyuarakan keadilan di mana saja. Nabi Yehezkiel aja bicara keadilan kepada tulang belulang, karena manusianya tidak mau mendengar lagi. Jadi, jika kita setuju PGI menentang perusakan lingkungan di berbagai daerah, kita juga menyetujui isu PGI melawan korupsi. PGI sudah lama bicara mengenai masalah korupsi, juga mengenai pelemahan KPK. Di 2015, PGI sudah bicara soal Revisi UU KPK misalnya, PGI meminta agar revisi adalah untuk menguatkan KPK, bukan melemahkannya. Di 2017 menjalin kerjasama dengan KPK tentang kampanye antikorupsi, bahkan PGI menerbitkan buku saku Gereja Melawan Korupsi di 2018. Di 2019, sudah ada pernyataan PGI menolak revisi UU KPK, yang kemudian tetap terjadi. Jadi kalau sekarang PGI bicara soal isu TWK sebagai bagian dari pelemahan KPK, dia bukan isu baru bagi PGI. Yang terjadi, ada beberapa orang yang gagal lulus di Tes Wawasan Kebangsaan mengadukan kegagalan mereka sebagai upaya pelemahan KPK ke PGI, lalu wartawan mengutip ucapan Ketua Umum PGI. Setelah itu, berbagai pihak langsung melakukan penyerangan tanpa betul-betul membaca isi, atau peristiwa yang terjadi. Kenapa PGI meminta ke Presiden? Karena Presiden punya perangkat untuk menyelamatkan KPK supaya tetap diperkuat. PGI meminta pertimbangan dari pemimpin bangsa kita. Apakah PGI sedang berpolitik? Iya, berpolitik moral,  PGI sedang menyuarakan suara nurani, dengan menyampaikan permintaan kepada Presiden Joko Widodo. Apakah PGI menyerang presiden atau pemerintah? Jika tiap anak yang meminta kepada orangtuanya dianggap menyerang, kepada siapa lagi dia meminta? PGI hampir selalu mendukung program pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk kesejahteraan rakyat, dan sesekali bersuara jika merasa ada yang perlu diangkat seperti permintaan penundaan implementasi Omnibus Law di 2020. Kenapa PGI berkomentar soal TWK? Prinsip PGI adalah melawan pelemahan KPK dan keadilan, yang menjadi tugas moral PGI. Ini bukan sekadar pecat memecat karyawan biasa. Beberapa yang tidak lulus TWK sedang memegang kasus besar. Kalau mau menegakkan TWK, yang kita juga setuju, kenapa tidak memulainya di BUMN? Lalu, bagaimana respons kita ketika Menhan di 2019 menyebut 3 persen TNI terpapar radikalisme? Kenapa tidak dimulai di sana? Teman-teman saya dari NU dan Muhammadiyah juga bicara dan mengeluhkan TWK. Kalau mau, boleh juga kita coba menjawab TWK, lalu lihat apakah bisa lulus? Kedua, mari kita minta saja supaya hasil ujiannya dibuka ke publik, demi prinsip keterbukaan dan biar tidak ada masalah lain. Jika hasil menunjukkan tidak lulus, asal nilai terbuka, pasti semua pihak adem. Mari dibuka. Lalu, apakah Ketua Umum PGI jadi kadrun atau jadi pembela kadrun karena menyatakan hal itu? Jika mengenal PGI dan perangkatnya, juga siapa Pdt. Gomar Gultom, yang sudah lama melayani di gereja dan dunia oikumene, dua kali Sekum PGI dan sekarang menjadi Ketum, pasti kita tidak akan bicara sembarangan mengenai beliau. Pemimpin-pemimpin gereja anggota PGI tiga kali memilih beliau di MPH PGI karena mengenal siapa beliau. Mari berdiskusi dan berdebat dengan sehat, tapi harus tahu bahwa tidak semua pihak akan terpuaskan. Bagaimana dengan gereja yang ditutup? Sudah. PGI berulangkali hadir di tempat gereja ditutup, menulis permintaan, beribadah bersama teman-teman di GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia, tapi yang memiliki kemampuan membuka gereja yang ditutup itu kan pemerintah. Apakah kalau kita meminta bantuan ke Presiden untuk meminta membuka gereja-gereja yang ditutup juga dianggap menyerang beliau? Tentu tidak, karena kita meminta tolong pemimpin bangsa kita. Apakah PGI tidak hadir di kasus Poso, Papua, Jambi? PGI sudah hadir ke sana, menjalankan advokasi, dan mengeluarkan statemen mengenai berbagai isu. Hanya saja, tidak semua diliput oleh media.
PENUTUP 
Setelah melihat dua sudut pandang  ini,  kiranya kita bisa lebih netral berimbang melihat permasalahan nya,  Jadi bagaimana sekarang? Mari doakan supaya KPK tetap memiliki taji dalam pemberantasan korupsi. Mari doakan supaya kepolisian dan kejaksaan agung juga terus bersinergi untuk pemberantasan korupsi. Mari doakan gereja-gereja untuk tetap bersuara melawan korupsi. Mari doakan PGI untuk terus bersuara mengenai situasi bangsa kita. Mari doakan pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang kita kasihi untuk memimpin bangsa kita dengan hikmat dari Tuhan. Mari jaga lidah dan jari untuk saring sebelum sharing. Akhir kata, biar tidak terlalu tegang, mari kita baca dan cari info yang benar, baru komentar. Kalau ada salah kata dari saya, saya juga minta maaf, kan orang Kristen bisa saling memaafkan 😊. Semoga kita sehat selalu, God bless us, God bless Indonesia!🙏🙏🙏 Selamat berpolitik, 🙌🙌🙌 Tuhan memberkati (STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, 2021,TITUS ROIDANTO)

ROH KUDUS BEKERJA, SERIAL SUDUT PANDANG

ROH KUDUS BEKERJA, SERIAL SUDUT PANDANG

Kita percaya  Tuhan adalah  Pribadi  yang omnipresent, Maha Hadir, Dia hadir dimana2, Namun saya juga melihat bahwa kalau Tuhan itu diberi tempat yang seharusnya maka dari setiap doa, ibadah anak2Nya mesti ada kunjungan Allah yang sangat spesial. Kalau kita mengenal Pribadi Allah dengan benar dan menempatkan Dia dengan benar, maka Roh Allah akan hadir dan melawat kita. Ini yang penting, banyak kali orang kristen tidak mengerti bahwa Roh Kudus adalah Pribadi dan Ia adalah Tuhan, tidak kalah bobot dan derajatNya dengan Yesus dan Bapa, hanya karena Ia pribadi yang ketiga, tidak berarti, Ia menjadi yang nomor tiga. Ia tetap Tuhan yang sama dengan Bapa dan Putra. Setiap gereja, pelayanan dan masing2 kita itu memiliki mantel atau jubah masing2, kalau kita bisa mengerti akan jubah kita akan pelayanan kita maka kita bisa menangkap kemana Roh Allah menggerakkan kita. Ini bukan soal jubah siapa yang lebih baik, tapi saya mau berkata setiap kita punya jubah yang berbeda, punya mantel yang berbeda. Begitu kita mengenali, menyadari akan mantel kita, maka akan mudah untuk menangkap kemana Roh Allah membawa kehidupan kita. Mari menggumuli beberapa ayat alkitab, sebagai 8 dasar pergumulan pemahaman kita:
1. Efesus 2:10, Efesus 2:10 (TB)  Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
Dalam bahasa inggris bukan hanya 1 pekerjaan baik, tapi pekerjaan  - pekerjaan, lebih dari satu, yang di tetapkan, ditahbiskan oleh Allah. Kemudian dikatakan “walk in them” berjalan di dalam pekerjaan2 yang sebagaimana Allah menciptakan kita. Kita perhatikan kalimat buatan Allah, kata buatan itu berasal dari kata yunani “Poemia”dari kata poemia inilah kemudian lahir kata “poem” atau puisi, sanjak,  sehingga kata poemia ini artinya buatan dalam pengertian “His work of art” hasil dari karya seni Allah bukan hasil karya matematik, bukan hasil karya iptek tapi HIS WORK OF ART, hasil karya seni Allah. Sebagaimana dari kata poemia lahir kata poem, puisi, sanjak, maka seperti sedang bersanjak dengan segala kekayaan batinNya, Allah itu menciptakan kita. Ini yang harus kita mengerti, Allah bekerja sebagai seorang ahli seni yang menciptakan kehidupan kita di dalam Kristus Yesus. Ketika kita mengalami lahir baru, kita dibuat lagi oleh Allah, kita dilahirkan kembali, proses penciptaan hidup kita kembali itu adalah poemia, Dia menciptakan kita sebagai karya seni oleh tangan Tuhan sendiri. Nah karna Allah bekerja sebagai ahli seni, sebagai seorang artis, sebagai seniman, dan kita adalah hasil karya seni  yang paling Agung dari Allah sendiri. Maka kita mulai mengerti sekarang, kalau Ia menciptakan kita, orang2 yg sudah dilahirkan kembali ini sebagai karya seni, tidak mungkin kita ini memahami pekerjaan Allah hanya dengan logika secara matematika, tidak mungkin kita bisa memahami Dia dan pekerjaanNya dengan beberapa rumusan singkat, artinya tidak bisa kita memahami Dia dengan berkata “Oh ada 4 hal, A, B, C, D” tidak bisa, seni itu tidak bisa dipahami hanya dengan logika. Itu mengharuskan kita kalau ingin memahami suatu seni, kita harus bisa membaca bagaimana suasana batin atau kondisi batin, yang ada pada sang seniman. Contoh Dalam puisi ada kalimat “Engkau laksana putri kahyangan” kita tidak bisa menilai “Oh dari kahyangan turunnya pake apa, tingginya berapa, mendaratnya dimana?” tapi itu adalah sebuah ungkapan hati sang seniman kepada orang yang Ia cintai atau kagumi. Itu seni. Naah ini yang harus kita ngerti, Allah menciptakan kita, kita ini buatan, poemia dari pada Allah, Allah menciptakan kita didalam Kristus Yesus sebagai suatu karya seni yang paling agung. Karena Ia pekerjaannya sebagai ahli seni, Dia menciptakan kita dengan seni, menciptakan gerejaNya juga dengan seni, maka berurusan dengan Allah itu gampang2 susah. Gampangnya adalah karena Ia mau dikenal dan berkenan memperkenalkan diri, susahnya kita tidak bisa merumuskan A,B,C,D nya, kita harus memahami nilai yang ada dibatinNya, dengan kata lain kita harus memahami akan hati Tuhan, kita harus mengenal siapa Dia,  kita mesti mengenal karakter Allah, kita mesti mengenal kandungan batinNya, baru kita bisa menyelami akan pekerjaan Allah atas kehidupan kita. Ini dasar yang perlu kita mengerti dulu, pertama tama, kita harus tau kita ini poemia. Yang kedua karena kita ini poemia, buatan Allah, maka kita harus mengerti bahwa karya seni yang betul2 tulen itu hanya satu menghasilkan satu aja, tidak ada duplikatnya, “oh bisa dipotokopi?” itu hasil teknologi, klau betul hasil seni reproduksinya tidak mungkin, karena mood pada waktu itu berbeda2, (mas anyes (kawan saya) mungkin lebih paham sebagai tukang kayu yang menaruh nilai seni ke karyanya, masing2 meja itu kan ukiran, pola, warna tidak persis sama bahkan berbeda, karna perasaan, ide, moodnya mas anyes bisa berubah2) demikian juga dengan kita, krn kita diciptakan sebagai suatu karya seni, mka masing2 kita punya kekhususan, keunikan yang luar biasa, setiap kita punya mantelnya. Dalam Efesus dikatakan ada pekerjaan2 baik yang Tuhan sudah sediakan sesuai dengan mantel kita, dan Allah mau kita berjalan didalamnya, sebagaimana Allah menciptakan kita, sebagaimana Allah memanggil kita, kita berjalan didalamnya. Oleh karena itu saya mau agar kita mengerti dasar yang pertama kita.
2. 2 Korintus 3:17, 2 Korintus 3:17 (TB)  Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. 
dasar kedua yg kita pahami,  Kalau kita belajar matematika tidak ada kemerdekaan, yang ada patokan, ada rumusnya. Tapi kalau kita sudah bicara soal seni, ada kemerdekaan, bukan yang asal2an, tapi ada kebebasan, liberti. Dimana Roh Allah bekerja, dimana Roh Allah diberi kebebasan bekerja disitu ada kemerdekaan, dengan bebas Dia akan melanda kita, bagaimana caranya? Itu terserah Dia, ini yang harus kita mengerti, dimana ada Roh Allah disitu ada kemerdekaan, ada kebebasan, Dia mau bekerja bebas seperti yang Dia kehendaki.
Ada 2 hal yang  saya mau jelaskan, kalau kita membebaskan Roh Kudus bekerja, 
1. Roh Kudus akan menentukan atau merencanakan level dalam setiap kebaktian/ibadah/doa atau dengan kata lain Roh Kudus akan menentukan ketinggian atmosfer drpd pekerjaan Allah dalam setiap kehidupan doa kita. Kalau temen2 masuk dalam pelayanan doa syafaat, biasanya akan ngerti, akan seperti apa ibadah kita hari ini, kalau akan berat, akan tau ini akan berat, kalau sudah breakthrough akan tau ini sudah tembus, atau kita akan tau kira2 apa yang akan terjadi, memang tidak persis tapi paling tidak Roh Kudus biasanya akn memberikan ide tertentu akan seperti apa, kita tidak bisa tentukan level atmosfer Roh ditengah2 kita, Roh Kudus sendiri yang akan menentukan mau sejauh mana Dia akan membawa kita hari ini, kemudian besok akan sejauh mana Dia membwa kita dan seterusnya, dan itu bergantung sepenuhnya kepada Dia, kita hnya bisa menyerah dan Dia akan merencanakan yang terbaik. Makanya sebagai pelayan Tuhan, sebagai pendoa, kita ini tidak bisa tenang, karena kita tidak mengerti dengan cara bagaimana dan di level mana, Dia akan bekerja, mungkin hanya terlintas ide sesaat, karena kita harus ikuti apa yang Tuhan mau, kalau kita liat cara Roh Kudus itu selalu berbeda, acaranya beda, semua bergantung pada Dia sepenuhnyaa, kita tidak bisa atur, sekali lagi ini seni, sulit mendeteksinya, tidak ada rumusnya, kita hnya perlu memahami batinNya.
2. Bagaimana caranya Roh Kudus bisa membawa kita ke level yang Dia mau? Banyak orang menggunakan istilah seperti ini “Roh Kudus membawa kita naik dengan sayap pujian dan penyembahan” , Dia membawa kita naik melalui pujian dan penyembahan, oleh karena itu orang2 yang melayani dalam bidang musik di gereja itu menentukan sejauh mana Roh Kudus bisa membawa kita ketempat yang Dia mau, misalnya dunia roh itu tidak bisa dipisahkan dengan dunia jasmani contoh setan itu bisa tertarik dengan hal2 jasmani, misalnya lukisan, lukisan naga atau simbol2 yang berbau mistis itu bisa atract dia hadir, terus bau2an, kemenyan misalnya, ada bau2an yang bisa attract dia (walaupun Tuhan juga suka bau kemenyan Cuma krn setan ini ingin jadi Tuhan jadi ikut2an, walaupun kemenyannya beda) bau itu bisa attract setan untuk hadir, kemudian musik, vodoo misalnya (dari musik voodo ini kemudian lahir musik blues) ada musik khusus untuk ngundang setan, Roh kudus tidak bisa tertarik dengan gambar, kita bisa pasang lukisan Yesus bahkan sampe seluruh dinding, kita pasang lukisan Yesus, itu gak akan menarik Yesus untuk hadir, kita pake parfume yang paling wangi pun itu gak akan buat Roh Kudus tertarik, tapi yang bisa membuat Dia tinggal dan menguasai kita kalau keluar penyembahan kepada Allah. Dia melihat akan batin kita.
3. 2 Raj 3:14-19, 2 Raja-raja 3:14-15 (TB) 14 Berkatalah Elisa: "Demi TUHAN semesta alam yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan: jika tidak karena Yosafat, raja Yehuda, maka sesungguhnya aku ini tidak akan memandang dan melihat kepadamu. 15 Maka sekarang, jemputlah bagiku seorang pemetik kecapi." Pada waktu pemetik kecapi itu bermain kecapi, maka kekuasaan TUHAN meliputi dia. 
Dasar ketiga yg kita gumulkan dr ayat alkitab,  Zaman dulu kalau orang punya predikat nabi, itu perkara yang serius sekali, beda dengan sekarang, kalau ia bernubuat, itu taruhannya nyawanya sendiri, klau sampe meleset hukumannya di rajam sampe mati, dan ini 2 raja Israel dan Yehuda minta pentunjuk Allah, untuk itu Elisa perlu dilingkupi kuasa Tuhan, tapi sebelum itu Alkitab berkata “Panggil dulu pemain kecapi” ketika pemetik kecapi bermain maka kekuasaan Tuhan meliputinya, sehingga keluar nubuatan, setelah Roh Allah melingkupinya, Roh Allah melingkupinya setelah pemetik kecapi memainkan kecapinya, betapa luar biasanya pengaruh musik itu bisa membawa kita masuk dalam hadirat Tuhan, untuk Roh Kudus bisa bebas bekerja ditengah kita, pertama yang perlu kita lakukan adalah kenali dulu akan hatiNya, kita harus mengerti apa yang Dia mau, sebab Dia punya kehendak, perasaan dan selera. bob winer berkata “jangan biarkan pengalaman, latihan kita itu menjadi agama,itu religious spirit” mungkin tidak ada pengarahan khusus sebelumnya dari Roh Kudus, kita buat ini dan itu, tapi sewaktu2, Dia bisa interupsi, kita harus dengan terbuka dan rendah hati berkata “YA, Tuhan” Seringkali kita ini kan sudah terkonsep  “Ya pokoknya aku maunya caranya begini, caraku nyembah ya begini, aku mau nyanyinya lagu ini, suka gk suka ya begini” sejujurnya itu mendukakan hatiNya, sebab Ia punya perasaan dan Ia adalah Pemimpin kita, hadiratNya akan kuat ditengah2 kita, kalau kita mau menyenangkan hatiNya, kalau kita bisa mengerti dan membaca perasaanNya saat itu.
4. 1 Taw 25:1-3, 1 Tawarikh 25:1-3 (TB), 1 Selanjutnya untuk ibadah Daud dan para panglima menunjuk anak-anak Asaf, anak-anak Heman dan anak-anak Yedutun. Mereka bernubuat dengan diiringi kecapi, gambus dan ceracap. Daftar orang-orang yang bekerja dalam ibadah ini ialah yang berikut: 2 dari anak-anak Asaf ialah Zakur, Yusuf, Netanya dan Asarela, anak-anak Asaf di bawah pimpinan Asaf, yang bernubuat dengan petunjuk raja. 3 Dari Yedutun ialah anak-anak Yedutun: Gedalya, Zeri, Yesaya, Simei, Hasabya dan Matica, enam orang, di bawah pimpinan ayah mereka, Yedutun, yang bernubuat dengan diiringi kecapi pada waktu menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi TUHAN. 
Dasar keempat pergumulan kita,  Kita harus ngerti Allah itu adalah Pribadi yang strict atau ketat sekali didalam hal administrasi dan pola kepemimpinan, kalau terjadi kekacauan dalam struktur kepemimpinan, gereja bisa chaos. Mereka menyembah Tuhan, urapan Allah turun, Roh Allah bekerja, keluar nubuat sambil diiringi musik. PL merupakan bayang2, kalau kita pelajari memudahkan kita mengenal siapa Tuhan kita, untuk hadiratNya turun itu tidak bisa semau kita. (Lihat perjalanan Tabut Tuhan, suatu ketika terjadi pristiwa di Eben Haezer, dimana saat itu tentara Israel berperang dengan pasukan filistin, karena mereka terdesak, maka mereka menyuruh hofni dan pinehas membawa tabut ke tempat perkemahan dan mereka pikir, kita pasti menang, nyatanya mereka dibantai orang filistin, tabut Allah dirampas dimasukkan ke kuil dagon, besok paginya dagon jatuh dengan kepala terpenggal di depan tabut, kemudian orang filistin dihajar dengan borok, tabut Allah dipulangkan dan masuk ke bet semes, beberapa orang penasaran, diintip tabutnya, disambar Tuhan, ditaruh di rumah ahimelekh, kemudian oleh Daud dipindahkan ke Yerusalem, tanpa meminta petunjuk Tuhan, ditaruh di kereta yang bagus, di tengah jalan lembunya tergelincir, uza bermaksud memegang tabut agar tidak jatuh, disambar Tuhan), gampang2 susah, tidak bisa semau kita sendiri, seringkali karena kita tidak mengerti pekerjaan Allah itu merupakan seni, lalu kita berpikir sudah cukup berpengalaman, maka kita membuat rumusnya, patokannya, A B C Dnya dan merasa cukup. Tidak bisa, kita harus mengerti hatiNya, kita harus mengenal PribadiNya, baru kita akan belajar mengerti bagaimana Ia bekerja. Ibadah kita bukan liturgi,harus ini, harus itu, itu agamawi, beri Dia kebebasan bekerja, pujian penyembahan akan membawa kita ke puncak, yang perlu kita perhatikan ada titik tertentu dimana Allah betul2 mengunjungi kita dan mencurahkan berkatNya, Dia bawa kita naik, naik, di level tertentu itu titik puncaknya, disitulah tempatnya Roh Kudus melawat kita dan mengunjungi kita. Tuhan itu bekerja ada momentumnya, Dia punya momentum, Dia bukan kerja sembarangan.
5. Yoh 2:1-4, Yohanes 2:1-4 (TB), 1 Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; 2 Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.  3 Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur."  4 Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba."
Dasar kelima, Ia berdaulat atas waktu, Dia bekerja dengan waktu yang Dia mau untuk melawat kita
6. Luk 19:41, Lukas 19:41 (TB)  Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, 
Dasar keenam,  Ada momentumnya, ada saatnya, dimana Allah melawat kita dalam kehidupan kita, Dia memang omnipresent, tpi ada kunjungan Allah yang begitu spesial, Roh Kudus itu kalau Dia hadir, Dia mau semua orang tau, tapi kalau Dia menarik diri, gak ada satupun yang tau, ketika dititik Dia melawat secara spesial itulah, kita harus cepat tangkap, reaktif, karena disitulah anugerahNya, berkatNya, Ia sediakan, tapi kalau kita miss, kita kehilangan kesempatan itu mungkin tidak akan terulang lagi dan kita mesti nunggu lagi, entah kapan hal yang sama bisa terulang dan yang pasti kita kehilangan semuanya hari itu. Kita perlu mencontoh sikap dari filipus
7. Kis 8:30, Kisah Para Rasul 8:30 (TB)  Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?"
Dasar ke 7, Dia mendengar Roh Allah berkata, dia tau itu momentumnya dia bukan Cuma jalan, tapi alkitab berkata “He ran to him”, filipus lari, detik2 dimana Ia melawat kita jangan nunggu, itu saatnya kita cepat bertindak, nyantol ke Dia, disitulh apa yang kau rindukan sampaikan ke Dia, itu saatnya kita memperoleh sesuatu dari Roh Kudus, Alkitab berkata “Draw me (tarik aku) and we will run after you (dan kami akan menghampiri kamu) respon seperti itu yang Dia mau sebagai gaya hidup dan Roh Kudus kalau melawat kita itu tiba2, suddenly. (Kis 2:1-2). Momentum Tuhan itu jangan sampe hilang, kita mau belajar mengenal Dia lebih lagi, makin kuat Ia bekerja, makin luar biasa, setiap kali Allah melawat kita, tangkap 
 8. 2 kor 4:13, 2 Korintus 4:13 (TB)  Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: "Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata", maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.
Dasar Yang terakhir, Bagaimana cara kita meraihnya, simpel dengan iman. Spirit of faith, roh iman yang sama, iman itu hasil pekerjaan Roh Kudus, dan iman timbul dari rhema, logos yang dihidupkan oleh Roh Kudus, perlu kita ketahui Bapa itu yang memutuskan, Yesus yang mengerjakan, Roh Kudus memanifestasikan, kalau diumpakan Bapa itu saklarnya on, offnya, Yesus itu kabel dan lampunya, Roh Kudus itu energinya, cahayanya, dari alam roh jadi alam natural itu pekerjaan Roh Kudus, makanya kita perlu akan Roh Kudus, Hari ini kita masih mau belajar, beri Roh Kudus kebebasan bekerja, raih itu dan hidup kita akan berubah. Saya berdoa kita menjadi orang2 yang reaktif dengan apa yang Tuhan mau. 🙏🙏🙏selamat memahami Roh Kudus bekerja🙌🙌🙌Tuhan memberkati,  STT BAPTIS INJILI, CEPOGO,  BOYOLALI, 2021,TITUS ROIDANTO 

Sabtu, 12 Juni 2021

💫SABDA NYUNAR 💫BERPOLITIK

💫SABDA NYUNAR💫 Bacaan Injili  dari Markus 3:20-35. Dikisahkan dalam bacaan Injil Yesus masuk ke sebuah rumah. Seperti biasa kehadiran Yesus menarik perhatian sehingga banyak orang berkerumun di rumah itu sampai makan pun mereka tidak bisa. Mengapa Yesus menarik perhatian banyak orang? Kalau kita baca kisah sebelum perikop bacaan Minggu ini diceritakan bahwa Yesus banyak mengajar dan berkarya dengan menyembuhkan banyak orang sakit dan orang kerasukan roh jahat. Juga diceritakan bahwa Yesus beradu argumen dengan orang-orang Farisi yang membenci Yesus. Yang menarik ialah keluarga Yesus datang ke sana untuk mengambil Yesus, karena menurut orang-orang itu Yesus tidak waras. Bahkan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, “Ia kerasukan Beelzebub. Dengan penghulu setan Ia mengusir setan." Bukan Yesus kalau tidak berani beradu argumen. Kata Yesus, “Bagaimana iblis dapat mengusir iblis? Kalau iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan.” Yesus kemudian memberi ilustrasi untuk merampok sebuah rumah haruslah orang paling kuat di rumah itu diikat. Dalam narasi perikop ini tampak Yesus bernada tinggi kepada ahli-ahli Taurat itu dengan mengatakan, “Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun.” (ay. 29). Yesus mengatakan itu, karena ahli-ahli Taurat mengatakan bahwa Yesus kerasukan roh jahat. Musuh-musuh politik Yesus selalu mengincar kalau-kalau Yesus melakukan kesalahan. Mengapa saya sebut musuh-musuh politik? Dalam Yudaisme tidak ada batas tegas antara politik dan agama. Para pemimpin agama Yahudi dapat dikatakan pemimpin politik, karena saat itu Roma berkuasa di Tanah Yudea. Begitu banyaknya pengikut Yesus membuat  para pemimpin agama Yahudi was-was dan merasa terancam kewibawaan mereka serta kehilangan pengikut. Kali ini ahli-ahli Taurat melempar fitnah kepada Yesus. Ia difitnah bersekutu dengan Beelzebub. Pada masa Perjanjian Lama Beelzebub dikenal sebagai BaalZebub, Dewa Ekron. Dalam perkembangannya Dewa Ekron itu bergeser maknanya menjadi penghulu setan. Niat tulus Yesus yang mau memberdayakan kaum marginal dipolitikkan oleh ahli-ahli Taurat. Yesus dengan cerdas membalas fitnah mereka dengan menyindir cara berpolitik mereka yang memecahbelah bangsa. Ahli-ahli Taurat itu bahkan menggunakan isu yang paling sensitif yaitu tauhid Yahudi. Yesus menanggapi mereka dengan nada tinggi “Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun.” (ay. 29). Yesus hendak mengatakan bahwa jangan main-main dengan tauhid. Yesus sedang mengabarkan Injil  Allah dengan memberdayakan kaum marginal. Sementara ahli-ahli Taurat menuduh Yesus bersekutu dengan Beelzebub. Allah itu Roh. Menyekutukan Roh Allah dengan Dewa Ekron alias Beelzebub adalah pelanggaran berat. Kerajaan Israel Bersatu bubar, karena raja berselingkuh dengan ilah lain. Itu yang hendak disampaikan Yesus kepada ahli-ahli taurat yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa. Sepekan terakhir riuh dengan isu PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) yang membela 75 pegawai KPK yang gagal tes wawasan kebangsaan (TWK). PGI menolak stigma “Taliban” untuk mengeluarkan pegawai yang gagal TWK. Dalam laman PGI Sekum PGI mengatakan “Tujuh dari sembilan orang pegawai KPK yang berkunjung ke Grha Oikoumene PGI pada hari Jumat kemarin (28 Mei  – mds.) jelas-jelas tak bisa dikategorikan ‘kadrun’, ‘Taliban’, dan diksi-diksi serupa yang sangat bias identitas (agama), karena mereka merupakan warga gereja. Sekum PGI dalam hal ini tepat sekali. Warga gereja tidak tepat disebut atau distigma “Taliban”. Sayangnya Sekum PGI tidak mengurai lebih lanjut ke khalayak. Entah lupa entah tutup mata. Istilah fundamentalis dan fundamentalisme justru dilekatkan pertama kali kepada gereja dan warga gereja pada awal abad XX. Ideologi fundamentalisme terbukti masuk ke dalam kehidupan bergereja di Indonesia. Bahaya fundamentalisme Kristen bagi kehidupan bergereja dan bernegara juga sudah dibahas panjang-lebar tinggi-rendah oleh teolog-teolog ekumenis di Indonesia.Ketika Alexander Marwata masuk dalam daftar pendek Pansel Calon Komisioner KPK (2015), ia mendapat kecaman dari masyarakat lewat media sebagai hakim tipikor pembela koruptor. Dalam kasus sengketa hasil Pilkada Lebak, Banten, Ratu Atut didakwa oleh jaksa penuntut KPK menyuap Ketua MK (waktu itu) Akil Mochtar. Marwata satu-satunya hakim anggota yang menyatakan berbeda pendapat atau dissenting opinion. Menurutnya fakta persidangan tidak meyakinkannya bahwa Ratu Atut menyuap Akil Mochtar dalam sengketa hasil Pilkada Lebak. Dalam ujian kelayakan dan kepatutatan di hadapan Komisi III DPR (2015) Marwata menjelaskan bahwa memberantas korupsi tidak boleh dengan semangat balas dendam. Semangat itu hanya membuat gelap mata sehingga tidak melihat secara objektif. Ketika Firli Bahuri masuk dalam daftar pendek calon komisioner KPK (2019), ia mendapat pertentangan dan kecaman keras dari masyarakat lewat media. Singkat cerita Firli mendapat stigma orang jahat yang tidak pantas dan tidak boleh menjadi pemimpin KPK (kata yang benar adalah pemimpin bukan pimpinan, karena pimpinan adalah hasil memimpin). Dengan prapaham Firli adalah orang jahat, maka apa pun langkah yang dibuat Firli dinilai oleh masyarakat yang berseberangan dengan dirinya adalah buruk dan melemahkan KPK. Apakah kita hendak mengatakan bahwa ketujuh orang yang disebut Sekum PGI itu fundamentalis Kristen? Bukan itu maksud saya. Yang saya kecam adalah pernyataan terburu-buru PGI bahwa pemecatan sejumlah pegawai KPK yang gagal TWK sebagai pelemahan KPK dan kecaman terhadap PGI oleh warganet dianggap oleh PGI sebagai korban konspirasi kelompok yang hendak melemahkan KPK dengan stigma “Taliban”. Saya mendukung dan mendorong Gereja untuk terus menyampaikan suara kenabian ketika Pemerintah menindas kaum marginal seperti yang Yesus lakukan dalam bacaan Injil hari ini. Gereja juga harus menentang kelompok-kelompok yang menggunakan segala cara untuk berkuasa. Pertanyaannya, apakah memang sudah diyakini 75 orang pegawai KPK yang gagal TWK itu adalah orang-orang tertindas? Bagaimana jika sebaliknya mereka justru orang-orang yang menggunakan kekuasaan mereka yang nyaris tanpa batas untuk menindas orang lain? Bagaimana jika mereka adalah orang-orang yang disebut oleh Marwata di atas memberantas korupsi dengan semangat balas dendam? Jangan-jangan pengurus PGI membuat pernyataan dengan prapaham Firli Bahuri adalah orang jahat sehingga apa pun yang diputuskannya melemahkan KPK? Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu saja sukar untuk dijawab, karena masing-masing pihak berangkat dari prapaham sendiri. Hanya saja kita  berpesan kepada pengurus PGI yang mulia jangan sampai membuat pernyataan menghujat PGI berarti menghujat Roh Kudus.🙏🙏🙏Selamat berpolitik moral🙌🙌🙌Tuhan memberkati 

💫SABDA NYUNAR 💫MEMAHAMI KERAJAAN ALLAH

💫SABDA NYUNAR💫Hari ini adalah Minggu III sesudah Pentakosta atau disebut juga Minggu-Minggu biasa, Markus 4:26-34 menjadi bacaan injilnya. Dari dulu ketika beribadah ke gereja sampai sekarang, sesudah sesi kolekte, saya pribadi waktu masih menjadi majelis atau berkhotbah dan juga petugas atau penatua yg laen,  acap kali berdoa berdoa begini “…agar persembahan (kolekte) dapat digunakan untuk memerluas kerajaan-Mu di bumi …”. Entah pengajaran dari mana doa penuh arogansi ini, enyahlah saya sendiri meniru ucapan doa itu,  kemudian saya mulai belajar dan menggali lagi, Saya menduga ini warisan misionaris yang mengemban misi “Amanat Agung” pengabaran Injil ke seluruh dunia. Bukan itu saja, ada juga saat ini bbrp gereja sebelum sesi kolekte petugas atau penatua membacakan ayat-ayat Alkitab yang seolah-olah menakut-nakuti kalau umat tidak berpartisipasi dalam kolekte akan masuk neraka. Berkenaan dg hal itu, baiklah kita merenungi Injil Markus yg merupakan Injil tertua dari empat Kitab Injil dalam Alkitab. Secara pembagian pasal Injil Markus juga yang paling ringkas tentang kisah perjalanan dan kehidupan Yesus seperti halnya kisah drama. Satu ciri Injil Markus adalah murid-murid Yesus tidak pernah tahu siapa Yesus sampai sekitar sepertiga bagian pertama Injil. Mereka hanya mengenal Yesus sebagai orang yang dapat membuat mujizat, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Konteks bacaan tsb dapat kita lihat dalam pasal 4 ayat 1. Kalau di Injil Matius terkenal dengan “Khotbah di Bukit”, dalam Injil Markus bolehlah kita menyebut “Khotbah di Tepi Danau”. Dikisahkan Yesus mengajar orang-orang di tepi Danau Galilea. Berhubung Ia dikerubungi oleh banyak orang, Yesus naik ke perahu, sedang orang-orang berada di tepian danau. Dalam kesempatan itu Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah. Dapat kita duga para pendengar Yesus dari beraneka latar belakang, yang sangat bolehjadi banyak yang buta huruf. Yesus pengajar ulung. Untuk itulah Yesus tidak pernah membuat takrif (definition) tentang Kerajaan Allah. Yesus mengajar lewat perumpamaan-perumpamaan. Kerajaan Allah itu, kata Yesus, seumpama orang yang menaburkan benih di tanah. Pada malam hari ia tidur dan saat ia bangun pada siang hari benih itu mengeluarkan tunas dan makin meninggi setiap hari. Benih itu menjadi tanaman. Bagaimana pertumbuhannya tidak diketahui orang itu. Ketika tanaman itu berbuah, orang itu menuainya. Kemudian Yesus memberikan lagi perumpamaan kepada para pendengar-Nya. Hal kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Biji sesawi merupakan biji terkecil di antara benih yang ada, kata Yesus, tetapi ia tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang besar sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya. Istilah Kerajaan Allah lebih merujuk The Reign of God daripada The Kingdom of God, karena Kerajaan Allah tidak menjadi suatu wilayah atau daerah. Apa yang dimaksudkan Yesus dengan Kerajaan Allah di sini ialah Kedaulatan Allah yang menghadirkan damai sejahtera Allah. Yesus bukan hendak menjalankan teokrasi, namun menyampaikan bahwa Allah hadir di tengah-tengah masyarakat pinggiran yang tidak dipedulikan oleh penguasa. Dalam pautannya dengan perumpamaan pertama Yesus mau mengatakan bahwa Allah turut bekerja dengan orang-orang yang bekerja. Mereka menabur, Allah menumbuhkan, mereka menuai. Tidak perlu ditafsirkan berlebihan, karena para pendengar  Yesus adalah masyarakat biasa. Yesus hendak mengatakan bahwa Allah tidak meninggalkan mereka, tetapi turut bekerja bersama dengan mereka dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam perumpamaan kedua Yesus mengambil contoh biji sesawi yang sangat kecil. Yesus hendak menyampaikan bahwa Allah bekerja lewat hal-hal kecil yang luput dari perhatian banyak orang. Namun hasil pekerjaan itu berdampak besar. Benih atau biji kecil itu bertumbuh menjadi tanaman yang besar dan menaungi dan melindungi burung-burung. Kita tidak perlu mencari tahu seperti apa biji sesawi itu. Bayangkan saja seperti biji merica. Pesan perumpamaan Yesus itu kepada gereja agar tidak arogan. Kerajaan Allah bukan ditunjukkan dengan gedung-gedung gereja megah dengan warga jemaat ribuan bahkan jutaan. Kalau kemudian gereja menjadi besar itu bukan hasil pekerjaan para pejabat gerejawi, bukan dari kolekte yang besar, melainkan Allah yang bekerja. Seperti halnya pohon sesawi yang melindungi dan menaungi demikian juga halnya dengan gereja. Di sini gereja adalah hamba misi Kerajaan Allah, yang menghadirkan ciri-ciri Kerajaan Allah, bukan Kerajaan Allah itu sendiri. Apakah langkah gereja lewat PGI yang membela 75 pegawai KPK yang gagal TWK berarti sudah menjalankan fungsi gereja menaungi orang-orang terpinggirkan? Belum tentu. Seperti yang saya sampaikan pekan lalu, bagaimana jika sebaliknya, 75 orang itu justru selama ini sombong menggunakan kekuasaan mereka yang nyaris tanpa batas untuk menindas orang lain? Jadi, menaungi orang-orang terpinggirkan seperti apa? Banyak. Satu contohnya adalah para transpuan/transgender, dll. Kehidupan mereka menyedihkan lantaran mereka tak terterimakan dalam masyarakat. Akibat selanjutnya mereka tidak memiliki akses pendidikan dan pekerjaan yang layak bagi kehidupan. Bahkan banyak dari mereka yang tidak mengantongi kartu identititas negara. Dalam ayat 33-34 dikatakan bahwa “Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian  mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.”. Kita dan para pembaca Injil Markus boleh saja mendua-duga. Akan tetapi yang perlu kita ingat bahwa penulis kisah teologis Injil Markus bercerita tentang Yesus dan para murid, bukan apa yang dibicarakan oleh Yesus dan para murid. Penulis Injil menyampaikan pesan penting kepada para rohaniman untuk tidak merasa paling tahu, untuk tidak membuat “kisah-kisah Injil baru”, sehingga merasa menjadi pemegang kebenaran tunggal. Kita lebih baik memosisikan diri sebagai pendengar umum, bukan mencari-cari pembenaran untuk meneguhkan kekuasaan. Kristen hadir di bumi Indonesia bukan untuk menerapkan teokrasi. Doa kolekte “…agar persembahan (kolekte) dapat digunakan untuk memerluas kerajaan-Mu di bumi …” jangan diucapkan lagi. Dengan demikian kehadiran gereja seperti pohon sesawi yang menghadirkan perlindungan dan keteduhan, bukan kegaduhan dan keangkuhan. Hal Kerajaan Allah itu seumpama TWK (Test Wawancara Kebangsaan). Orang-orang sombong meremehkannya. Mereka menghina hikmat. Mereka tidak berjaga-jaga. Ketika tiba waktunya mereka kalah dari orang-orang bertekun. Orang-orang sombong itu dihempaskan ke ruang paling gelap yang penuh ratapan dan kertakan gigi.🙏🙏🙏 Selamat Memahami Kerajaan Allah🙌🙌🙌 Tuhan memberkati 

Jumat, 21 Mei 2021

💫SABDA NYUNAR💫SEKET

💫SABDA NYUNAR 💫, SEKET,  Bacaan diambil dari Injil Yohanes 15:26-27; 16:4b-15. Bacaan Injil ini konteksnya perjamuan malam terakhir (PMT) yang Yesus memberikan amanat sangat panjang kepada murid-murid-Nya. Suasananya mencekam. Meskipun dunia membenci para murid, mereka tetap diperintah oleh Yesus untuk terus bersaksi kepada dunia, karena Roh Kebenaran atau Roh Kudus atau Penolong (Παράκλητος atau Πνεῦμα τὸ Ἅγιον) sudah bersaksi lebih dahulu. Sama seperti dulu Yesus memimpin para murid-Nya, Roh Kudus juga akan memimpin para murid ketika Yesus sudah pergi ke Bapa-Nya. Roh Kudus itu diutus Yesus yang keluar dari Bapa-Nya. Roh Kudus itu tidak saja memimpin dan mengajar para murid, tetapi juga menginsafkan dunia. Luar biasa. Itu berarti dengan dipenuhi Roh Kudus para murid memiliki kuasa super menginsafkan dunia . Ada gereja aliran tertentu mendaku penuh dengan Roh Kudus. Bahkan pendeta-pendeta dan warga gereja itu berani mengatakan bahwa gereja-gereja arus-utama tidak dipenuhi Roh Kudus seperti GKI, gereja kurang iman, atau GKJ, gereja kurang jelas. Pendakuan penuh dengan Roh Kudus adalah hal yang mudah dan demikian juga sebaliknya hal yang mudah mengukur apakah benar mereka sudah dipenuhi Roh Kudus. Lihat buahnya! Apakah gereja tersebut sudah berdampak menyejahterakan warga masyarakat di sekitarnya? Sejahtera berarti terjadi perubahan di masyarakat secara ekonomi dan sosio-politik; dari masyarakat marginal yang tak berdaya berubah menjadi masyarakat berdaya. Sebetulnyalah itu karya nyata menginsafkan dunia. Cukup banyak orang Kristen mencerap bahwa peristiwa pencurahan Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus (Kis. 1:8) disebut Pentakosta (Kis. 2:2-4). Cerapan ini dapat dipahami sebagai pengaruh prapaham kalender gerejawi sejak remaja. Pentakosta berarti lima puluh. Pada hari ke-50 sesudah kebangkitan Yesus (atau Hari Raya Paska) tercurahlah Roh Kudus kepada orang-orang yang sedang berkumpul di satu tempat di Yerusalem. Padahal kalau kita membaca Kisah Para Rasul 2:1 “Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat.” Dari sini sudah sangat jelas bahwa hari Pentakosta itu sudah ada dan dirayakan ratusan tahun oleh masyarakat Yahudi sebelum kitab Kisah Para Rasul ditulis. Jadi, bukan karena peristiwa pencurahan Roh Kudus, maka hari itu disebut Pentakosta. Pentakosta adalah perayaan atau festival musim panas masyarakat Yahudi. Ia tidak muncul tiba-tiba atau dadakan seperti tahu bulat, melainkan berawal dari hari raya Paska Yahudi. Kalender Yahudi berawal dari bulan Nisan yang jatuh pada sekitar Maret. Paska Yahudi pada tanggal 14 Nisan yaitu bulan purnama pertama yang jatuh pada atau sesudah equinox (21 Maret). Musim semi tiba. Waktu menanam. Hari ke-49 atau tujuh pekan sesudah hari Sabat pertama sesudah Paska Yahudi adalah hari panen. Esok hari yang berarti hari ke-50 adalah pesta syukur panen yang disebut hari Pentakosta. Pesta syukur panen Pentakosta dilakukan masyarakat Yahudi dengan perjamuan (Tobit 2:1), mengunjungi Yerusalem (2Makabe 12:31-32; Kis. 2:5-11), dan pesta perjamuan itu disediakan untuk semua orang (Ulangan 16:9-11). Hari Pentakosta juga diperingati oleh orang Yahudi sebagai turunnya Dasa Titah atau 10 Perintah Allah kepada Musa. Pada hari Pentakosta itulah terjadi peristiwa pencurahan Roh Kudus seperti dalam Kisah Para Rasul 2:1-13 yang kemudian disusul dengan khotbah atau kampanye Petrus pada ayat 14-21. Penetapan hari Pentakosta Gereja berbeda dari Pentakosta Yahudi, karena berangkat dari penetapan hari Paska Gereja yang berbeda juga. Paska Yahudi jatuh pada bulan purnama pertama pada atau sesudah equinox, sedang Paska Gereja ditetapkan jatuh pada (hari) Minggu pertama sesudah bulan purnama pertama pada atau sesudah equinox. Perayaan Pentakosta Gereja diberi muatan peristiwa pencurahan Roh Kudus di dalam Kisah Para Rasul, namun tetap berakar pada tradisi pesta panen. Itu sebabnya pada Pentakosta gereja dihiasi dengan hasil bumi. Hari Raya Pentakosta Gereja merupakan mahkota masa raya Paska. Minggu Pentakosta disebut juga Minggu Putih dan karena itulah pemimpin ibadah mengenakan pakaian liturgis berwarna putih. Ibadah dihelat sejak Sabtu dengan ibadah yang khidmat dan meriah mirip Malam Natal. Hanya saja tradisi ibadah Sabtu Malam ini jarang dijumpai di Gereja-gereja Protestan. Kuasa Roh Kudus anggep aja Kuasa super itu laksana api yang dapat dipergunakan untuk kehidupan (memasak misalnya) dan sebaliknya kematian atau memusnahkan kehidupan (membakar rumah misalnya). Pada bacaan pertama dapat kita saksikan satu kuasa super itu ialah kecakapan berbahasa asing (Kis. 2:8). Dalam Injil Yohanes Roh Kebenaran dan Penolong diterjemahkan dari Παράκλητος (baca: Paraklētos), sedang Roh Kudus dari Πνεῦμα τὸ Ἅγιον (baca: Pneuma to Hagion). Apakah sama? Sama. Yohanes 20:22 menggunakan Pneuma to Hagion (Roh Kudus) ketika Yesus mengatakan, “Terimalah Roh Kudus”. Apabila Paraklētos dalam Injil Yohanes 14:16, 26; 15:26; 16:7 tidak sama dengan Pneuma to Hagion dalam Yohanes 20:22, maka pertanyaannya “kapan Paraklētos yang dijanjikan oleh Yesus dalam Yohanes 16:7 diberikan?”. Fakta bahwa kata-kata yang ditulis di dalam Alkitab dengan bahasa Ibrani atau Grika tidak otomatis menjadikan kata itu istimewa. Nah, sekarang apa pautannya kuasa super yang kita dapatkan dalam Minggu Pentakosta dan pesta panen? Gedung Gereja pada Minggu Pentakosta, apalagi gereja-gereja di desa, memercantik diri dengan hasil bumi. Dekorasi hasilpanen itu bukanlah untuk gaya-gayaan. Bahkan GKJW Mojowarno, Jombang, Jawa Timur, sebagai contoh, menghelat festival tahunan Unduh-Unduh dalam rangka Pentakosta. Kuasa super dan hasilpanen sangat berpautan. Hasilpanen itu mengingatkan kita yang mendapat kuasa super dari pencurahan Roh Kudus agar kita berbuah. Kuasa super digunakan untuk menghasilkan buah-buah iman bagi kehidupan, bukan untuk memusnahkan kehidupan, bukan untuk merusak masyarakat, bukan untuk merongrong negara dengan kampanye keagamaan.  Minggu Pentakosta secara ekumenis juga merupakan hari lahir Gereja. Untuk itu menyampaikan🙏🙏🙏 selamat berulangtahun, Gereja! 🙌🙌🙌Tuhan memberkati 

Sabtu, 15 Mei 2021

💫SABDA NYUNAR 💫BERAGAMA TAPI TAK BERTUHAN, BERTUHAN TAPI TAK BERAGAMA

💫SABDA NYUNAR 💫 BerTuhan tapi tak beragama,  beragama tapi tak berTuhan, Konon, Ahok wagub DKI, melontarkan pernyataan yang mungkin menohok banyak orang: “Kita ini masih beragama, tapi tidak ber-Tuhan.”Loh kok bisa? Bukankah agama itu sendiri terbangun karena keyakinan akan adanya Tuhan? Bagaimana mungkin orang bisa beragama kalo gak ber-Tuhan? Kalo orang beragama ya pasti ber-Tuhan dong! Sebentar, ada orang yang percaya Tuhan itu pencipta dunia, tetapi setelah penciptaan, Dia gak cawe-cawe lagi alias gak ada lagi dalam dunia, gak ada hubungannya lagi dengan dunia; semua diserahkan kepada manusia, terserah manusia mau apa. Nah, kalo orang punya paham seperti itu, ya bisa aja dia beragama, tapi untuknya Tuhan dah gak ada. Yang dimaksud Ahok sepertinya bukan kelompok ini, melainkan mereka yang menjalankan ateisme praktis: iman yang diungkapkan gak sinkron dengan perbuatan. Orang bisa menyatakan Tuhan itu maha pengasih dan penyayang sementara ia menjadi aktor kekerasan dan kekejaman terhadap kelompok agama lain. Ia sangat kuat mempertahankan kulit, tetapi isi tak digubrisnya. Dalam arti itulah ia beragama, tetapi tak ber-Tuhan. Bisakah orang ber-Tuhan tanpa beragama? Bisa, jika yang dimaksud agama hanyalah Kristen, Islam, Katolik, Hindu atau Buddha (governed religion). Tidak bisa, jika agama dipahami sebagai dimensi sosial-kolektif yang dihidupi sebagai ungkapan iman seseorang kepada Tuhan (lived religion). Dalam menyatakan dirinya, Tuhan memakai mediasi atau perantara. Kis 4,13-21, Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar. Mrk 16,9-15, Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena…Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus….Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya…Bacaan Injil tsbi secara jelas menunjukkan bahwa Tuhan mengkomunikasikan Diri melalui kesaksian dan pernyataan orang lain. Akan tetapi, karena kecenderungan orang untuk menerima bukti langsung, kesaksian orang lain bisa saja dipaido, tak dipercaya; dan jika ketidakpercayaan itu mencapai titik ekstremnya, orang bisa menyejajarkan dirinya dengan Tuhan sendiri: aku ada atau Tuhan ada, tak bisa dua-duanya ada. Di hadapan pemimpin agama Yahudi, Petrus menyatakan bahwa kebangkitan Kristus itu tak bisa dipendam. Orang yang menyaksikan dan mendengar kebangkitan Kristus itu tak mungkin menyimpan untuk dirinya sendiri seolah-olah relasi manusia dengan Tuhan hanyalah berdimensi privat dan individual. Jalinan kepercayaan terhadap kesaksian orang dan hubungan masing-masing individu dengan pokok kesaksian (yaitu Tuhan yang diwartakan) itulah yang melanggengkan agama. religion-is-for-fools, Memang kerapkali orang beragama melakukan hal-hal yang bodoh, tetapi itu tidak berarti bahwa agamanya sendiri keliru. Yang keliru adalah orang yang menghidupinya secara ngawur: ateisme praktis, orang bilang percaya kepada kebangkitan Kristus, tetapi praktiknya ia lebih suka membiarkan Yesus tetap dalam makam, seperti manusia lain pada umumnya, tak perlu dipusingkan, tak perlu dikritisi, tak perlu dimaknai, tidak sinkron antara ajaran imannya dan perbuatannya itulah beragama tapi tak berTuhan. Begitulah pula orang yang mengklaim ber-Tuhan tanpa agama: ia tak mau paham Allahnya dikritisi, pokoknya menurutku begini, titik. Lha, malah jadi Tuhan sendiri… 🙏🙏🙏Selamat berTuhan tanpa agama, beragama tanpa berTuhan, 🙌🙌🙌 Tuhan memberkati 

SUDUT PANDANG BERANI MATI BERANI HIDUP

Sudut Pandang Berani mati berani hidup
PENGANTAR
berani mati berani hidup, Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan. Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias (Kis. 5:40-42). Roh Kudus menyulut semangat yang menyala-nyala untuk dengan berani memberitakan keselamatan yang dikerjakan Allah di dalam Yesus Kristus dan melalui karya Roh Kudus.
PEMAHAMAN
 Berani di sini bukanlah berarti nekad. Roh Kudus memberikan kepada mereka juga hikmat, sehingga keberanian mereka dilandasi oleh tuntunan Sang Hikmat, sekalipun tetap ada resiko. Dalam keberanian penuh hikmat itu para murid dengan fasih mempersaksikan Kristus sebagai sumber keselamatan dalam berbagai bahasa yang dimengerti para pendengarnya. Bahasa lain (Yun: glossolalia) yang mereka sampaikan seperti yang diberikan Roh Kudus (Kis. 2:20) adalah bahasa yang dimengerti oleh manusia dari berbagai macam bangsa (Yun: xenolalia, bahasa asing). Dengan demikian, karya Roh memakai bahasa manusia sekaligus melampaui keterbatasan bahasa. Para murid lainnya juga mencatatkan keberanian yang luar biasa. Oleh karya Roh Kudus mereka terus melaksanakan tugas panggilan memberitakan Injil Kerajaan Allah dengan penuh kegembiraan, sekalipun hadangan dan penderitaan mengancam mereka. Catatan Kisah Para Rasul tentang hal ini sangat menarik, Para murid menjadi pribadi yang berani melalui proses. Setidaknya kita bisa mencatat ada tiga fase yang dilalui para murid dalam berproses, yaitu fase takut, fase belajar, dan fase bertumbuh. Dalam tiap fase karya kuasa Roh Kudus sungguh-sungguh menolong mereka tetap bergeliat sehingga memiliki spiritualitas yang tangguh dan kreatif dalam berkarya. Dengan spiritualitas semacam itu, para murid dengan gagah berani memberitakan Injil Kerajaan Allah. Alkitab mencatat kisah Stefanus, martir pertama. Di tengah ancaman maut yang siap merenggut hidupnya, Stefanus masih berujar dalam nada cinta kasih, seperti Kristus Sang Teladan, “Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia” (Kis. 7:60). Keberanian para martir terus menerus hadir dalam kehidupan hingga saat ini. Artinya, keberanian menghadirkan Injil Kerajaan Allah tak hanya terjadi di masa lalu, tetapi juga di masa kini. Hal itu menandakan bahwa karya Roh Kudus terus terjadi dalam sepanjang kehidupan manusia. Paus Fransiskus dalam audiensi umum mingguan di tahun 2019 mengajak umat kristen mengenang kembali 21 orang Kristen Ortodoks Koptik – pekerja bangunan Mesir – yang mati syahid karena iman mereka pada tahun 2015 di sebuah pantai di Libya, di tangan ISIS. Kata Paus, “Kata terakhir mereka adalah ‘Yesus, Yesus’. Mereka tidak menyangkal iman mereka, karena Roh Kudus menyertai mereka. Para martir modern.” Mungkin pada suatu masa, kita pernah hidup dalam kecemasan bahkan ketakutan yang diakibatkan karena pandemi Covid-19. Pandemi yang terus menggerus kehidupan bersama di bumi ini telah menciptakan kegentaran menghadapi hidup. Siapa yang tidak gentar? Sebagai contoh International Association for Suicide Prevention (IASP) menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 memicu peningkatan jumlah pasien kesehatan mental yang hendak bunuh diri. Angka bunuh diri sendiri tercatat terjadi setiap 40 detik di dunia. Tod Bolsinger, seorang teolog dari Fuller Seminary Amerika Serikat, mengatakan bahwa pada saat ini ketika kita menghadapi virus Covid-19, kita seperti tengah berada pada wilayah baru yang tidak terpetakan. Artinya, jalan di depan kita tidak kita ketahui juntrungan-nya. Pada masa Covid-19 membuat kita seolah tidak punya kendali atas kehidupan di masa depan. Hidup kita seperti tanpa kalender kerja, tanpa pengaturan, tanpa perencanaan jauh ke depan. Kegentaran tak hanya sekadar soal pandemi, tetapi juga berbagai macam persoalan kehidupan, termasuk dalam kehidupan bersama berbangsa di Indonesia. Dalam konteks Indonesia, kita menemukan kenyataan makin menguatnya intoleransi. Sidney Jones, pakar konflik di Indonesia menyatakan bahwa masalah terbesar bagi demokrasi Indonesia bukanlah terorisme, melainkan intoleransi yang menjalar dari kelompok radikal yang pinggiran ke arah arus utama (mainstream).  Di tengah keadaan itu, demikian Jones, pemerintah Indonesia kurang memberikan perhatian serius akan kenyataan ini sehingga budaya kebencian dan kekerasan terus terjadi pada kelompok-kelompok minoritas.  Di sini, kita dapat menyebut ada ormas berbalut agama yang dikatakan oleh International Crisis Group sebagai kaum moralis ekstrem. Ian Wilson, ilmuwan politik yang mempelajari sebuah ormas besar tersohor dari dekat menyatakan sepak terjang mereka lebih dapat dijelaskan dengan faktor uang dibandingkan dengan faktor moral. Dengan tegas Wilson mengatakan ormas tersebut telah mengukuhkan kedudukannya dalam dunia perpolitikan dengan sengaja menciptakan ketegangan sosial dan kepanikan moral yang dengan itu mereka menempatkan dirinya sebagai broker, semacam pemeras moralitas. Tak ayal lagi, realitas ini kerap kembali mengembalikan mentalitas kaum minoritas –kita, komunitas kristen khususnya– dalam mentalitas keong.  Mentalitas ini membuat kita diam dengan beribu alasan. Di manakah keberanian kita? Di sini kita perlu menyerukan panggilan kita lebih keras dan sungguh-sungguh untuk kembali dikuasai oleh Roh Kudus, Roh yang memberikan keberanian menghadapi hidup dalam kebenaran Allah. Menjelang akhir tahun 2020, publik dikejutkan dengan keberanian seorang bernama Nikita Mirzani menghadapi oknum-oknum dari sebuah ormas besar di Indonesia. Ketika gema ketakutan yang membuat banyak orang tengkurap, atau memilih diam karena menghadapi kekuatan massa yang besar –bahkan termasuk aparat hukum– tanpa gentar Nikita Mirzani melawan. Lepas dari berbagai kategori moral yang kerap diletakkan pada artis kontroversial ini, agaknya kita perlu merenung sejenak untuk menilai keberanian hidup kita. Inilah saatnya kita mengobarkan kuasa Roh Kudus yang memberikan keberanian yang menyala-nyala demi Injil Kerajaan Allah. Inilah saatnya merasakan kembali kuasa Roh Kudus yang meghadirkan keberanian dalam memberitakan Injil Kerajaan Allah sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh pada martir. Adalah saatnya kita memiliki mental seperti Stefanus dan para murid yang lain, yang secara personal punya keberanian karena pengalaman iman bersama Kristus yang bangkit itu. Semoga masa Pentakosta ini menyadarkan kita untuk berani menyongsong hidup bersama Roh Kudus. 🙏🙏🙏Selamat berani mati berani hidup, 🙌🙌🙌Tuhan memberkati, 28 Mei 2023, STT BAPTIS INJILI, TUS

Jumat, 14 Mei 2021

💫SABDA NYUNAR💫, DATANG DAN LIHATLAH

💫SABDA NYUNAR💫 “Heaven goes by favor. If it went by merit, you would stay out and your dog would go in.” Mark Twain. Bacaan Injil diambil dari Yohanes 17:6-19. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul perikop bacaan Injil dengan “Doa Yesus untuk  murid-murid-Nya” dari ayat 1 sampai 26. Pada Konsili Vatikan II dan tepatnya pada 4 Desember 1963 Paus Paulus VI menetapkan (hari) Minggu sebelum Pentakosta sebagai Hari Komunikasi Sosial Sedunia. Tema tahun ini ditetapkan “Datang dan Lihatlah” oleh Paus Fransiskus. “Datang dan lihatlah. Berkomunikasilah dengan menjumpai orang lain apa adanya.” kata Paus,“Kita perlu bergerak, pergi melihat sendiri, tinggal bersama dengan orang-orang, mendengarkan kisah mereka, dan mengumpulkan berbagai pendapat atas realitas yang akan selalu mengejutkan kita dalam beberapa gatra.” Paus hendak menekankan kepada kita bahwa setiap bentuk komunikasi haruslah jelas dan jujur baik dalam dunia jurnalistik, media daring, khotbah-khotbah di gereja, dalam politik praktis, maupun dalam media sosial. Dalam doa Yesus kita melihat Yesus tidak mendoakan murid-murid-Nya diambil dari dunia. Ia tidak berdoa agar para murid lepas dari kesulitan dan tantangan hidup. Yesus justru mengutus murid-murid-Nya ke dunia (ay. 18). Di sini menunjukkan bahwa kekristenan tidak pernah dihayati sebagai suatu kelompok yang menarik diri dari kehidupan dunia. Kita bukan menarik diri dari dunia dan sekaligus tidak meleburkan diri menjadi sama dengan dunia. Doa adalah bentuk komunikasi dua arah. Yesus mengajarkan bagaimana berkomunikasi ketika persoalan sangat berat siap menghadang. Kita berharap Allah mendengarkan doa yang kita lambungkan dan berharap Allah menjawab doa permohonan yang kita panjatkan. Gatra persekutuan menjadi penting di dalam doa. Dalam Kisah Para Rasul disampaikan bagaimana gereja perdana bersekutu di dalam doa (Kis. 1:14). Kejelasan dan kejujuran menjadi syarat komunikasi tanpa hambatan. Teknologi internet atau daring memampukan kita bercerita dan berbagi lebih cepat. Daring menjadi sarana ampuh menyampaikan kabar baik dan sekaligus menuntut pertanggungjawaban kita sebagai pemberita dan pembaca. Injil merupakan media refleksi iman para penulisnya lewat cerita dan kita saling berkomunikasi lewat cerita. Berkat daring kita berkesempatan menceritakan apa yang kita baca dan saksikan serta berbagi kesaksian. Kesaksian apa? Kita sudah membaca dan menyaksikan kisah hidup Yesus dalam cerita Injil. Kita meniru apa yang sudah kita saksikan. Di sini hidup kita menjadi cerita dan kemudian bagi pendengar cerita itu menjadi kehidupan: narasi tersebut memasuki kehidupan orang-orang yang mendengarkannya dan mengubahnya. Kesaksian bukanlah curhat narsistik seperti yang acap diperagakan oleh selebritis dan para “murtadin”. Cerita tentang Kristus bukanlah sebuah warisan masa lalu, melainkan cerita kita sendiri yang selalu aktual. Hal itu juga menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada cerita manusia yang tidak murad atau tidak bernilai. Cerita kita sendiri menjadi bagian dari setiap cerita besar. Injil adalah cerita. Injil mengabarkan tentang Yesus yang informatif sekaligus performatif. Artinya Injil bukan hanya mengabarkan tentang Yesus sebagai informasi untuk diketahui, melainkan sekaligus pemberitahuan yang mendatangkan kenyataan, mengubah, dan membaharui kehidupan. Kritik Paus terhadap khotbah-khotbah di gereja yang harus jelas dan jujur sangatlah mengena. Padahal Yesus berbicara mengenai Allah bukan dengan pidato-pidato dogmatis, namun dengan perumpamaan-perumpaan, narasi-narasi singkat yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Dalam masa pandemi ini justru makin menguatkan ajakan Paus Fransiskus untuk “Datang dan Lihatlah” dalam rangka murid-murid yang diutus ke dunia oleh Yesus. Datang dan melihat penerapan vaksin dan perawatan medis secara umum yang berisiko mengecualikan orang-orang miskin. Datang dan melihat orang-orang yang tersisihkan, kehilangan pekerjaan, kesepian, konflik batin, terundung kekhawatiran dan ketakutan, serta ketegangan hubungan dengan sesama. Datang dan melihat sendiri adalah kegiatan tak tergantikan, tukas Paus. 🙏🙏🙏Selamat Datang dan Melihat,  🙌🙌🙌Tuhan memberkati,STT BAPTIS INJILI, TITUS ROIDANTO 

💫SABDA NYUNAR 💫 BERJENJANG

💫SABDA NYUNAR💫 berjenjang,umat Kristen merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus (The Feast of the Ascension of Jesus Christ atau biasa disebut Ascension Day). Bacaan Injil dari Lukas 24:44-53 . Kalau kita perhatikan tempat-tempat penyembahan kuno berada di lokasi lebih tinggi daripada permukiman, bahkan banyak yang dibangun di atas bukit atau gunung. Mengapa demikian? Kosmologi orang zaman dulu langit adalah tempat bersemayam Sesembahan atau apa pun penyebutannya. Membangun situs penyembahan di lokasi lebih tinggi ditujukan untuk mendekati langit tempat Sesembahan bertahta. Kisah dalam bacaan hari ini merupakan rangkaian terakhir dari Kebangkitan Kristus dan penampakan diri-Nya kepada murid-murid-Nya. Kata Yesus: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku, tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." (ay. 44-49). Dalam ayat 50-53 dikisahkan Yesus kemudian membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di sana Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah. Untuk memahami bacaan di atas ada beberapa metode menafsir. Satu di antaranya adalah kritik naratif yang merupakan metode yang meminjam dari kritik naratif dalam dunia sastra. Metode sekular ini dipinjam untuk menganalisis suatu teks biblikal. Kritik naratif merupakan penghampiran (approach) dan analisis terhadap semua anasir yang terdapat di dalam cerita Alkitab, seperti pencerita atau narator (orang pertama, orang ketiga), pembaca imajiner, pelaku cerita (tokoh utama, tokoh lawan atau antagonis, tokoh kawan atau protagonis, dlsb.), peristiwa dan kronologinya, latar cerita seperti tempat kejadian, waktu kejadian, dlsb. Kritik Naratif tidak berurusan dengan sumber-sumber cerita, tidak berurusan dengan "sejarah" pembentukan cerita, tetapi berurusan dengan cerita dalam bentuknya yang terakhir. Melakukan kritik naratif terhadap cerita di kitab-kitab Injil relatif lebih mudah ketimbang cerita di kitab Kejadian sebagai misal. Karakter tokoh-tokoh dalam cerita Injil pada umumnya datar dalam arti tokoh baik dan tokoh jahat tampak jelas dan tak berubah karakter. Kritik naratif juga menolong pendeta dalam berkhotbah agar khotbahnya tidak dogmatis garing. Satu ciri teologi Injil Lukas adalah kenaikan, dari tempat rendah ke tempat lebih tinggi. Pada bagian akhir Injil Lukas kentara ketika Yesus mengajak murid-murid-Nya keluar dari Yerusalem ke Betania lalu naik ke surga. Surga di sini dari kata οὐρανόν (baca: ouranon) yang juga berarti langit. Dalam dunia cerita Injil Lukas Betania lebih tinggi daripada Yerusalem (Luk. 19:29), sedang Yerusalem lebih tinggi daripada Nazaret (Luk. 2:42). Secara umum dalam dunia cerita Injil Lukas tempat atau wilayah pelayanan Yesus sebelum Ia menuju Yerusalem berada di posisi lebih rendah (Luk. 18:31; 19:28). Dari informasi dunia cerita ini dapat diperikan bahwa perjalanan hidup Yesus adalah perjalanan naik atau meninggi; dari Nazaret dan Galilea, naik ke Yerusalem, naik ke Betania di Bukit Zaitun, dan akhirnya naik ke surga. Apabila kita menengok lebih ke belakang lagi Yesus lahir di palungan dan “hanya” dikunjungi oleh gembala-gembala. Yesus juga lahir di lingkungan keluarga miskin seperti terlihat jenis persembahan saat Maria ditahirkan di Yerusalem (Luk. 2:22-24). Hal itu makin nyata dari pelayanan Yesus yang berbelarasa kepada orang-orang marginal atau mereka yang disisihkan oleh masyarakat yang menganut sistem puritas. Penginjil Lukas tampaknya hendak menyampaikan bahwa orang-orang yang merendahkan diri seperti Yesus akan ditinggikan oleh Allah. Dalam babak akhir Injil Lukas Yesus hendak menjawab keraguan murid-murid-Nya. Narator menyampaikan kepada pembaca bahwa Yesus memberkati murid-murid-Nya dan kemudian terangkat ke surga. Mereka sekarang percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh sudah bangkit dan naik ke kediaman Bapa-Nya. Mereka juga mengerti bahwa Mesias harus menderita terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kemuliaan-Nya seperti nubuatan para nabi. Yesus yang memula pelayanan-Nya dari tempat yang paling rendah sampai akhirnya tiba di tempat tertinggi. Terus apa? Jangan lupa dalam bacaan Yesus berkata, “Kamu adalah saksi dari semuanya ini”. Penginjil Lukas hendak menyampaikan kepada kita, sebagai pembaca masa kini, untuk menjadi saksi dari kisah teologisnya. Kesaksian yang mana? Semuanya ini! Menjadi saksi Kristus berarti menyaksikan semua karya pelayanan Kristus (d.h.i. kisah teologis Injil Lukas) dengan merefleksikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari. Orang Kristen bersaksi dengan berperangai laksana Kristus dalam berkarya, berbelarasa terhadap orang-orang marginal atau mereka yang disisihkan oleh masyarakat dengan segala alasannya. Terus? Angkat mereka dari kubangan paling rendah menuju tempat yang lebih tinggi seperti kisah teologis Injil Lukas tentang perjalanan naik Yesus. Duh, berat. Memang berat! Menjadi saksi Kristus bukan curhat tentang kisah murtad masuk ke agama Kristen, bukan juga curhat model selebritis atau orang kaya yang merasa dilimpahi berkat material oleh Allah. 🙏🙏🙏Selamat berjenjang 🙌🙌🙌Tuhan memberkati.STT BAPTIS INJILI, CEPOGO BOYOLALI JAWA TENGAH, TITUS ROIDANTO 

Sabtu, 08 Mei 2021

SABDA NYUNAR, SAHABAT

💫SABDA NYUNAR 💫“I hope we’re friends until we die. Then I hope we stay ghost friends and walk through walls and scare the shit out of people.” Minggu Keenam Masa Raya Paska. Bacaan Injil diambil dari Yohanes 15:9-17. Salvatore Giuliano, yang diperankan oleh Christopher Lambert dalam film The Sicilian arahan Sutradara Michael Cimino, diundang oleh lawan sekaligus pesaingnya untuk bertemu. Seorang anak buah Giuliano mengingatkan bahwa ia bisa saja akan dikhianati. Giuliano menjawab, “Hanya teman  yg berkhianat.” Kita pasti punya teman. Ada yang memiliki banyak teman, ada yang sedikit. Kita bercerita tentang hal-hal pribadi kepada seorang teman entah lewat daring entah langsung tatap muka. Seperti ada tertulis “Jangan menceritakan masalahmu kepada orang lain; 80% tidak peduli, 20% senang kita punya masalah”. Tidak seberapa lama apa pun yang kita sampaikan kepada teman kita sudah menjadi perbincangan orang-orang lain. Mereka dengan gembira menertawai masalah pribadi kita. Dengan bahasa masa kini persoalan kita menjadi bahan gibah. Dalam bacaan Injil Minggu ini sambungan dari bacaan Minggu lalu tentang “Pokok Anggur yang Benar”. Konteks percakapan di dalam Perjamuan Malam Terakhir dan sesudah Yudas pergi berkhianat. Di sini Yesus tidak sedang bermetafor. Ia memberi perintah yang diucapkan-Nya sampai dua kali yaitu untuk saling mengasihi. Yesus memberi perintah itu, karena Ia sudah mengasihi murid-murid-Nya. Bahkan Yesus menyebut murid-murid sebagai sahabat-Nya. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (ay. 13). Oleh karena sahabat, Yesus “membocorkan” segala sesuatu untuk diketahui sahabat-sahabat-Nya, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (ay. 15). Yesus menghendaki murid-murid-Nya pergi dan menghasilkan buah. Ada banyak takrif (definition) mengenai sahabat. Bagi kita takrif tidaklah begitu penting. Yang terpenting adalah ukuran sahabat. Penulis Amsal 17:17 dengan baik memberikan ukurannya “Seorang sahabat selalu menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran.” Dari ukuran penulis Amsal ini seorang sahabat berbeda dari seorang teman. Seperti kata Salvatore Giuliano bahwa hanya teman yg berkhianat. Membaca perikop Injil di atas kita benar-benar tertohok. Kalau Yesus sudah mengakui  kita sahabat-Nya, mengapa kita tidak memerlakukan-Nya sahabat kita? Kita tidak pernah berbuat apa yang Yesus perintahkan. Yesus sudah memberikan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya. Kita? Alih-alih nyawa, berbuat baik kepada sesama saja saya masih jauh api dari panggang. Kalau kita melihat ayat 15, budak hanyalah perangkat sang tuan untuk memenuhi segala kebutuhannya. Budak tetaplah menjadi budak, sedang tuan adalah pemiliknya. Budak tak ubahnya sebuah properti. Budak sering diperdayai (deceived) oleh tuannya. Budak yang kerap diperdayai oleh tuannya, tidak jarang membalas memerdayai tuannya. Budak diterjemahkan dari δοῦλος (baca: doulos), yang juga berarti hamba, jongos. Seorang sahabat tidak akan memerdayai, apalagi berkhianat. Seorang sahabat memberdayakan (empower). Itu sebabnya Yesus menyebut kita sahabat-Nya. Indonesia dianugerahi hidup di dalam banyak pulau, kebinekaan bahasa, budaya, adat istiadat, dlsb. Kita terbiasa memiliki hubungan saudara yang berdasarkan atas darah, perkawinan, kesukuan, dan tentu saja agama. Bacaan Injil Minggu ini memberikan sebuah tantangan iman untuk tidak saja membangun nasabah persaudaraan, tetapi juga persahabatan. Kita harus mampu membuka ruang perjumpaan, menguak prasangka, membongkar kebencian, mengatasi kecurigaan, dan membangun rasa percaya. Dalam konteks wawasan kebangsaan menjadi sahabat bagi semua orang akan memampukan kita merawat Indonesia dengan segala kebinekaannya. Di tengah ancaman fundamentalisme agama dan terorisme kita perlu menjaga ketulusan hidup sebagai sesama anak bangsa yang saling menghargai. Barangkali kita belum termampukan menjadi sahabat bagi semua orang, namun kita setidaknya tidak merugikan diri sendiri dan orang lain dengan menebar kebencian. Bukan karena kita menafikan konflik yang nyata terjadi, akan tetapi perlu kebesaran jiwa untuk saling mengakui dan menerima sebagai sesama dalam bangsa ini. kebinekaan adalah kenyataan sekaligus anugerah bagi kita. Untuk itu orang-orang yang sudah terukur tidak memiliki wawasan kebangsaan dan kebinekaan tidak bisa dan tidak boleh menjadi pemimpin. Jadi, bocoran tentang kegagalan pemenuhan batas minimum nilai wawasan kebangsaan pada sejumlah pegawai KPK tempo hari harus benar-benar secara serius diberandang, karena mereka tidak bersahabat dengan kebinekaan. Di masa pandemi banyak orang mengalami teralienasi atau terasingkan, kehilangan pekerjaan, kesepian, konflik batin, terundung kekhawatiran dan ketakutan, serta ketegangan hubungan dengan sesama. Di saat seperti itulah mereka memerlukan kehadiran sahabat yang memberdayakan, yang selalu menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran. 🙏🙏🙏Selamat Bersahabat, 🙌🙌🙌Tuhan memberkati

Sabtu, 01 Mei 2021

SUDUT PANDANG YOHANES 15:1-8MAYORITAS MENINDAS

💫SUDUT PANDANG💫 Men never do evil so completely and cheerfully as when they do it from religious conviction.” , singkatnya kita mengenal pemahaman Mayoritas Menindas, cerita lama yg akan selalu seperti itu,  kalau Israel mengenal pohon anggur. Kita kenal pohon pisang, kita sudah barang tentu sering melihat atau bahkan memiliki pohon pisang di halaman rumah. Ketika pohon pisang berbuah atau mengeluarkan “jantung”, pemilik mengamati sudah berapa sisir pisang yang terkuak. Saat sudah menampakkan 4 – 5 sisir pisang, jantung pisang dipotong. Mengapa dipotong? Nutrisi atau hara yang dihisap oleh pohon pisang dari tanah akan terus dipasok ke arah jantung pisang untuk pematangan. Dengan demikian nutrisi terbagi-bagi sehingga buah pisang yang sudah terkuak lebih dahulu terkurangi nutrisinya. Untuk itulah pemilik pohon pisang memotong jantung pisang agar nutrisi benar-benar tertuju pada 4-5 sisir buah pisang saja sehingga menghasilkan buah pisang berkualitas tinggi. Namun sebaliknya apabila jantung pisang dibiarkan tak dipotong, maka kualitas pisang menurun dan hasilnya pisang-pisang mini. Memang ada jenis pisang tertentu yang sengaja dibiarkan berenteng panjang. Minggu Kelima Masa Raya Paska, Bacaan Injil  diambil dari Yohanes 15:1-8. Dalam bacaan Injil  ini Yesus kembali mengajar dengan menyampaikan metafor, “Aku adalah pokok anggur yang benar dan Allah pengusahanya.”  Ranting-ranting yang tidak berbuah dipotong dan dibuang, ranting-ranting yang berbuah dibersihkan agar lebih banyak berbuah. “Aku adalah pokok anggur dan kamu adalah ranting-rantingnya.” Kata Yesus menekankan kepada para murid-Nya. Konteks cerita Injil ini dalam rangkaian “Perjamuan Malam Terakhir” Yesus bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Bagi orang-orang Israel zaman dulu kebun anggur dan anggur tidaklah asing, karena kena-mengena pada keseharian. Bahkan Israel sendiri dimetaforkan sebagai kebun anggur di Alkitab Perjanjian Lama (lih. Yes. 5:1-7).  ilustrasi tentang pemotongan jantung buah pohon pisang. Gambaran tersebut untuk menolong para pembaca atau pendengar Indonesia yang barangkali kesulitan membayangkan ranting-ranting anggur yang tidak berbuah mesti dipotong agar ranting yang berbuah bisa berbuah lebih banyak. Injil Yohanes ditulis di penghujung abad pertama. Menurut para ahli PB Komunitas Kristen Yohanes mendapat deraan dan tindasan hebat dari penguasa agama Yahudi. Narasi Injil tentang “Pokok anggur yang benar” adalah kritik terhadap kehidupan beragama para penguasa agama Yahudi dan para pengikut mereka. Meskipun orang-orang Israel tidak asing dengan kebun anggur dan anggur, Yesus memberi penekanan bahwa Ia adalah pokok anggur yang benar. Benar dalam bahasa Grika adalah alēthinē  yang juga berarti asli, sungguh-sungguh. Yesus hendak menyampaikan ada ketidakaslian atau ketidaksungguh-sungguhan atau kepalsuan dalam tatanan masyarakat. Mereka mengaku hidup di kebun anggur sebagai ranting-ranting anggur, tetapi menolak kedaulatan Allah dalam kebun anggur. Dalam Mazmur leksionari kita dikatakan “Sebab TUHAN-lah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa” (Mzm. 22:29). Setiap bulan Ramadan selalu ada persengketaan mengenai buka-tutup warung makan pada siang hari. Di Kota Serang bahkan menerapkan denda Rp50 juta bagi warung makan yang buka pada siang hari selama Ramadan. Tentu saja cukup banyak orang menentang aturan kota itu. Ada banyak alasan rasional menyanggah larangan buka warung makan. Dalam pada itu penguasa daerah bersikukuh bahwa pelarangan buka warung makan adalah mengadopsi kearifan lokal, tradisi masyarakat muslim di Kota Serang, yang tabu jika ada masyarakat Kota Serang yang berjualan (makanan) pada siang hari. Saya meyakini tidak sedikit orang Kristen senyam-senyum atas aturan garib di atas. Mana mungkin orang Kristen akan membuat aturan sumbang seperti itu? Begitulah kira-kira dalam benak mereka. Benarkah? Di Kabupaten Toba saat ini sedang digodok Perda tentang pelarangan buka kedai pada Minggu. Tujuannya adalah “untuk menghormati hari kebaktian di kalangan umat Kristen”. Yang mengagetkan  usulan ini berasal dari Badan Kerjasama Antar-Gereja (BKAG) Kabupaten Toba. Mengapa mengagetkan? Sudah barang tentu BKAG diisi oleh para pejabat gerejawi. Membaca berita di atas tak dapat menahan geli, karena wacana di atas jauh lebih lucu ketimbang apa yang terjadi di Kota Serang. “Kebun anggur” Toba dikelola secara kakistokrasi (kakistocracy) yang penuh dengan kesemuan. Seperti kritik penginjil Yohanes ada ketidakaslian, ketidaksungguh-sungguhan, kepalsuan dalam tatanan penguasa. Mereka mengaku hidup di kebun anggur sebagai ranting-ranting anggur, tetapi menolak kedaulatan Allah di dalam kebun anggur. Seperti juga kata pemazmur “Sebab TUHAN-lah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa” (Mzm. 22:29). Bangsa-bangsa di sini menyimbolkan keberagaman. Menolak keberagaman berarti menolak kedaulatan Allah. “Masyarakat Kabupaten Toba sangat beragam, ada agama Islam, Parmalim, Adven, dan aliran kepercayaan, “ kata Charles Sitohang, seorang tokoh masyarakat, ”Membuat Perda haruslah bijak. Agama-agama bukanlah untuk menguasai, apalagi menindas. Agama-agama mestilah mendorong cakrawala kemanusiaan sehingga lebih mencitrakan matra etis secara seimbang dengan dogma dan liturgi. Dogma usang mestinya dipangkas agar buah-buah yang dihasilkan bermutu tinggi.🙏🙏🙏Selamat beragama🙌🙌🙌Tuhan memberkati (TUS)

Sabtu, 10 April 2021

SUDUT PANDANG YOHANES 20:19-31 OJO GUMUNAN OJO KAGETAN

💫SUDUT PANDANG💫 ”A lot of Christians wear crosses around their necks. Do they think when Jesus comes back He ever wants to see the bloody cross?” Bill Hicks.  Hari ini Minggu II dalam Masa Raya Paska. Masa Raya Paska sepanjang tujuh pekan. Bandingkan dengan Masa Raya Natal yang berlangsung hanya dua pekan. Hal ini menunjukkan bahwa Paska sangat penting dalam iman Kristen. Bacaan Injil dari Yohanes 20:19-31. Dalam Injil dinarasikan Yesus-Paska menampakkan diri kepada murid-murid-Nya yang berkumpul dalam suatu tempat yang pintu-pintunya terkunci. Mereka mengunci pintu karena takut kepada para penguasa Yahudi. Tomas tidak bersama dengan murid-murid Yesus yang dijumpai oleh Yesus-Paska. Tomas yang mendapat kabar perjumpaan Yesus-Paska dengan murid-murid-Nya tak percaya sebelum ia mencucukkan jarinya ke dalam lubang bekas paku di tangan dan lubang bekas tombak di lambung Yesus-Paska. Tantangan Tomas ini diterima oleh Yesus-Paska dan menyila Tomas mencucukkan jarinya dalam perjumpaan berikutnya. Dalam narasi tidak dituliskan apakah Tomas mencucukkan jarinya atau tidak selain berucap, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (dengan tanda fentung). Sayangnya atau sialnya atau celakanya tulisan atau teks tidak berbunyi sehingga tidak terasa intonasi atau emosi penutur. Ucapan Tomas kemudian ditafsirkan sebagai pengakuan iman Tomas bahwa Yesus adalah Tuhan sekaligus Allah, banyak kalangan teolog-teolog atau denominasi bependapat demikian, apalagi hal ini dikaitkan kepentingan untuk menjadi ayat perisai dari serangan non kristiani yang menolak KETUHANAN YESUS. Tapi bila didalami ada kemungkinan  tafsir berbeda, tafsir dari sudut pandang laen. Tomas adalah orang Yahudi sehingga tak mungkin ia menyebut Yesus Allah dalam artian Zat. Bolehlah kiranya menafsir Tomas seperti orang Indonesia yang kaget pada kejadian kejap, misal anaknya terjatuh, kemudian spontan menyebut “Ya oloh ya robi!”. Bahkan ketika tiba-tiba kita berjumpa dengan teman lama, teman kita langsung berteriak ke arah kita, “Ya oloh!” Apakah anak yang terjatuh itu Allah dan Tuhan?  Apakah kita dianggap Allah oleh teman-temannya kita? Setidaknya tafsir tsb didukung oleh tanggapan Yesus kepada Tomas, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Kalo kata - kata Thomas  tsb sebuah pengakuan iman yang pendek bahwa Yesus adalah Tuhan, sekiranya Yesus Tuhan tak akan berkata  “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Seakan Yesus Tuhan, mengingatkan Thomas agar tidak kagetan (ora kagetan), Ora gumunan (tidak mudah terheran - heran), karena apa? karena hal ini sudah dikatakan atau dinubuatkan Yesus Tuhan beberapa kali sebelum kematianNya. Seakan Yesus Tuhan malah menegur Thomas, "ora usah kagetan, ora usah gumunan, (Janganlah mudah kaget,  Janganlah mudah terheran - heran), seharusnya kamu percaya tanpa harus membuktikan. Injil Yohanes berbeda dari ketiga Injil lainnya (Matius, Markus, dan Lukas). Ketiga Injil disebut Injil sinoptis, karena ada kemiripan. Injil Yohanes ditulis paling akhir yang sama sekali berbeda dari Injil sinoptis, karena terlalu banyak refleksi penulis Injil. Meski Injil Yohanes dinilai banyak refleksi dari penulis Injil justru kita dapat menilik ada jejak atau petunjuk pertempuran teologi antara jemaat Kristen purba (diperkirakan Komunitas Yohanes), para pemuka agama Yahudi, dan para pengikut Gnostik. Satu sisi Komunitas Yohanes ditekan dan dianiaya oleh para pemuka agama Yahudi, sisi yang lain mereka dirongrong dari dalam oleh para pengikut Gnostik. Dalam Jumat Agung bisa diliat  mengenai penolakan kaum Gnostik atas kematian Yesus. Bagi kaum Gnostik, yang sebenarnya tidak bisa berkelit lagi dari fakta keseharian bahwa Yesus mati disalib, Yesus yang mereka sembah adalah Yesus-Surgawi, bukan Yesus-Ragawi. Mereka menolak Yesus-Ragawi, karena menurut mereka yang mati di kayu salib adalah orang yang serupa dengan Yesus. Selain itu hanya Injil Yohanes yang tidak menampilkan sosok Simon dari Kirene, sedang ketiga Injil sinoptik menampilkan. Kaum Gnostik mengembangkan ideologi mereka bahwa yang disalibkan adalah Simon dari Kirene. Kisah kebangkitan Yesus dalam bacaan Injil ini mau menentang pengajaran Gnostik yang menafikan ragawi. Kaum Gnostik bermental sarkofobik, menolak raga, dan memandang raga sebagai penjara jiwa yang harus dilepaskan, jika orang ingin masuk ke dalam keselamatan. Injil Yohanes menolak pandangan Gnostik. Kesaksian pengalaman para murid yang bertemu dan makan-minum bersama Yesus-Paska (Yoh. 21:9-12) mau memberitakan bahwa Yesus bangkit seutuhnya.  Pemberita Injil juga mau menyampaikan harus ada keseimbangan antara rohani dan ragawi seperti yang sudah ditunjukkan oleh karya Yesus yang tidak hanya memberitakan hal rohani, tetapi juga banyak berkarya dalam kemanusiaan. Dalam kehidupan modern mental sarkofobik gnostik ini banyak dijumpai. Hanya mau menerima yang ragawi apabila ada bukti. Pencegahan terhadap tindak pidana korupsi, terorisme, memang sulit menampilkan bukti-bukti, karena lampas (*Lampas bersinonim dengan halus (Tesamoko hlm. 246)). Tidak berandang terlihat, tetapi dapat dirasakan. Orang Kristen modern bermental sarkofobik gnostik juga cukup banyak. Mereka menjadikan para petobat atau murtadin baru, terutama dari kalangan selebritis, sebagai patokan bukti bahwa iman mereka kepada Kristus sudah benar. Mereka lebih menaruh percaya kepada pengajaran iman dari para petobat baru. Padahal penulis Surat 1Timotius 3:6 sudah memberi nasihat tentang syarat pengajar, “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman iblis”. Dalam pada itu cukup banyak orang Kristen begitu terpesona kepada selebritis yang baru “bertobat”. Selebritis itu begitu dipuja dan dianggap menguatkan iman mereka. “Wong seleb saja berani pindah agama dan bersaksi, berarti agamaku benar.” Begitu kira-kira alasan mereka. Konversi agama selebretis itu dijadikan bukti bahwa keimanan mereka sudah benar. Beberapa waktu lalu ramai penentangan terhadap POLRI dan Presiden Jokowi yang memberi bantuan kepada keluarga teroris. Orang melihat apa yang dilihat, sedang pemerintah sedang mengerjakan apa yang tidak terlihat. Pemerintah mencegah keluarga tersebut jatuh ke tangan teroris, mencegah jangan sampai mereka terpinggirkan. Pencegahan itu tidak kasat mata. Tidak bisa dibuktikan secara berandang. Tim Densus 88 bekerja keras siang-malam, pagi-petang, untuk mencegah aksi nyata terorisme. Hasilnya jelas tidak sensasional untuk suatu berita. Senyap. Tidak curai. Meski tak terlihat, sebenarnya kalau orang mau jujur hasil kerja mereka dapat dirasakan. Masyarakat berkegiatan sehari-hari dengan aman. Bagaimana dengan ledakan bom di Makassar? Kalau Tim Densus 88 tidak bekerja keras sudah barang tentu setiap hari kita merasa tercekam, karena ledakan bom akan terjadi setiap hari. Di luar kepolisian ada cukup banyak komunitas yang bergerak dalam aksi pencegahan terorisme. Mereka merangkul kalangan anak muda jangan sampai jatuh ke dalam ajaran fundamentalisme teroris. Mereka bekerja lampas sehingga tidak menarik untuk dijadikan berita. Tidak sensasional. Tepatlah apa yang ditulis oleh pengarang Injil Yohanes bahwa orang-orang Kristen bermental sarkofobik gnostik, yang iman mereka bergantung pada selebretis petobat baru, adalah orang-orang yang tidak berbahagia, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” 🙏🙏🙏Selamat untuk tidak kagetan, dan tidak mudah terheran - heran, 🙌🙌🙌Tuhan Yesus memberkati.STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, 2021, TITUS ROIDANTO 

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memi...