Kamis, 23 Desember 2021

PALUNGAN, ALLAH YANG MERAPUH, SERIAL SUDUT PANDANG

PALUNGAN, ALLAH YANG MERAPUH, SERIAL SUDUT PANDANG
PENGANTAR
Kiranya Roh Natal mengisi hati anda bukan hanya pada hari-hari ini saja, melainkan sepanjang tahun, sebab ketika kidung malaikat habis bergema, ketika para gembala sudah kembali ke padang efrata, ketika orang Majus sudah pulang ke negeri mereka, ketika bintang Betlehem sudah sirna, saat itulah amanat Natal justru berawal, yaitu amanat untuk membawa damai sejahtera, menyembuhkan luka, memberi kelepasan dahaga, menyalakan cahaya, membagi senyum bahagia, meneduhkan jiwa dan melagukan Gita pujian sorga. Masa Advent pun sebetulnya tak pernah usai, karena sepanjang hidup kita adalah masa Advent, karena sepanjang hidup kita, kita menanti Tuhan kembali, sepanjang hidup kita, kita hidup dengan harapan Tuhan kembali, dan kita mengisi hidup kita dengan karya sekehendak seteladan Kristus dalam harap dan damba Kristus kembali. Merayakan Natal banyak bahaya dan risikonya, tapi bukan berarti kita harus membuang perayaan Natal, ada bahaya dan risikonya menjadikan kita berhati-hati, itulah yg mau kita pelajari, merayakan Natal dengan hati-hati. Karena kita bisa jatuh dalam kemunafikan Natal, ke eksklusif Natal, kepuasan rohani yg palsu dalam Natal, dan juga kita bisa jatuh pada suasana gemerlapan serta kemewahan Natal, nyanyinya MALAM KUDUS,VSUNYI SENYAP, tapi hati kita hiruk pikuk, hingar bingar. Dalam Berita Natal, Tercatat di Alkitab secara jelas bahkan gamblang. Tanda yang diberikan para malaikat untuk menemukan Yesus adalah ".......terbaring di palungan" (Lukas 2 : 7, 12), Tanda ketersisihan  itu isyarat solidaritas Yesus dengan mereka yang terpaksa lahir atau bertempat tinggal di tempat-tempat yang tidak wajar, di gubug-gubug, perkampungan kota yang miskin atau di pondok-pondok reyot di desa. Palungan sebagai tanda ketersisihan itu menunjukan solidaritas Yesus dg mereka yang tidak mendapatkan tempat di masyarakat. Sepanjang hidup Yesus  menunjukan hal itu. Yesus solider dengan orang-orang yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat saat itu seperti pemungut cukai, pelacur, nelayan, orang lumpuh, orang buta, orang kusta, orang samaria, dll. Allah sebetulnya tidak hanya solider, simpati, atau toleran tetapi  berempati pada manusia dengan merapuhkan diriNya, menjadi bayi manusia yg lemah, ada di PALUNGAN, simbolnya adalah palungan. Allah, Sang Maha, yang sangat Maha, rela melawat manusia dalam kerapuhan untuk sesuatu yang bajik, yaitu keselamatan manusia. Dengan filosofi ataubteologi palungan yang seperti itu maka lebih baik merayakan natal dalam ibadah raya di gereja dan aksi solidaritas pada sesama. Mengingat situasi kondisi saat ini, PANDEMI BELUM USAI, walaupun sudah ke arah yang lebih baik, adalah baik kita bersolidaritas dengan pemerintah yang sedang berupaya mencegah BOOM 3 PANDEMI tidak terjadi di negeri ini, kita bersabarlah sedikit, mengadakan perayaan natal diluar ibadah raya di gereja menunjukan kita tidak memiliki solidaritas bahkan tidak memiliki empati pada pemerintah yang sudah jungkir balik mengatasi pandemi ini. Tindakan Covidiot yang menyebabkan penyebaran masif covid oleh karena perayaan atau pesta natal di luar ibadah raya di gereja, sungguh tindakan yg bertolak belakang dengan teologi atau filosofi palungan. Apa itu mengikut Yesus? Apa itu menjadi murid-Nya? Apa itu menjadi saksi-Nya? Apakah sekadar dibaptis lalu berstatus agama Kristen, itu berarti sudah mengikut Yesus, menjadi murid dan saksi-Nya? Setahu saya, ketika Yesus mengatakan, "Ikutlah Aku!" itu bukanlah soal agama. Ketika Dia menyebut keduabelas anak muda kawan-Nya sebagai murid, itu juga bukan soal agama. Begitu juga ketika Yesus mengutus para murid-Nya itu, mereka nggak diutus untuk menyebarkan agama. Check your Holy Bible if you don't believe me. Sepemahaman saya, mengikut Yesus berarti mencontoh cara pandang, perspektif, sikap, dan perbuatan-Nya. Menjadi murid Yesus berarti belajar memahami lalu menduplikasi teladan-Nya. Dan jadi saksi atau utusan Yesus berarti menyebarkan nilai-nilai yang Dia ajarkan: kasih, perdamaian, kepedulian, toleransi, dan hospitalitas. Dan itu nggak ada hubungannya sama agama.Kata Gus Aan Anshori, sudah nggak relevan lagi mengabarkan Injil untuk menjadikan orang lain menganut agama Kristen. Kabarkanlah nilai-nilai kekristenan kepada orang-orang Islam supaya mereka menjadi muslim yang damai, toleran, dan progresif, dan mau bersahabat dengan yang berbeda.

MASA ADVENT DAN NATAL
Untuk memahami teologi palungan maupun teologi kerapuhan, kita perlu mengerti betul makna ritual masa Advent dan natal. Kenapa kita perlu menghormati minggu² Adven? Apakah ini sok-sokan "tiru-tiru Katolik"? Atau kepatuhan normatif gereja pada kalender liturgi? Oh, bukan! Sama sekali bukan, Ferguso! Penghormatan pada minggu² Adven adalah karena ADA NARASI-NARASI di dalamnya yang perlu dihayati dan dimaknai dengan baik. Narasi-narasi tentang sosok-sosok lemah dan rapuh yang toh dipakai Tuhan untuk menghadirkan Yesus ke dunia. Yusuf yang penuh cinta, tapi juga rasa takut. Maria yang lemah namun akhirnya pasrah. Zakaria yang saleh namun juga skeptis. Elisabet yang bersembunyi namun dijumpai Maria. Orang-orang ini bukan tokoh-tokoh pinggiran. Mereka justru persis berada di bawah spotlight masa Adven. Kalau kita memadamkan sorotan itu lalu buru-buru menyanyikan "Malam Kudus" atau "Hai Mari Berhimpun", betapa miskin dan ruginya perjalanan iman kita. Seolah kita mau langsung menonton pertempuran pamungkas di "Avengers: Endgame", tapi tak mau menonton "Avengers: Infinity War". Kalau Paskah punya narasi-narasi Prapaskah yang dimulai dari pencobaan di pasang gurun hingga perjamuan terakhir, pembasuhan kaki, dan penyaliban, rasanya fair kalau kita pun menghormati narasi-narasi Pranatal alias Adven yang maknanya pun tak kalah mengagumkan dibandingkan kisah kelahiran bayi Yesus yang, katanya, dilahirkan di kandang hewan (padahal sih di dalam rumah). Bahkan dalam ritual Kristiani kuno, kalo prapaskah, dihidupi dengan 40 hari puasa, demikian hal nya Natal, dihidupi dengan 40 hari puasa pada masa Advent. Musim Adven, Adven itu musim dalam kalender liturgi gerejawi. Hanya ada satu atau sekali musim Adven dalam setahun kalender liturgi. Berapa panjang musim Adven? Sebelum menjawab panjang musim Adven, perlu dicatat bahwa Minggu adalah hari pertama, hari yang diyakini sebagai hari kebangkitan Kristus oleh umat Kristen. Minggu menjadi hari ibadah perayaan (selebrasi). Titik berangkat adalah Minggu. Gereja (Barat) menetapkan ada empat (hari) Minggu dalam musim Adven sebelum Natal. Apabila Natal jatuh pada Minggu, maka Minggu itu tidak dihitung sebagai Minggu Adven. Hari pertama musim Adven dimula dari Minggu pertama (yang berjumlah empat Minggu itu). Empat Minggu di sini bukan empat pekan yang berjumlah 28 hari. Musim Adven tahun ini sepanjang 27 hari yang dimula 28 November 2021 sampai 24 Desember sebelum Maghrib. Jika Natal jatuh pada Senin, maka panjang musim Adven hanya 22 hari, karena musim Adven dimula 3 Desember. Jika ada Minggu Adven, apakah ada Senin Adven, Selasa Adven, dst.? Ada! Mengapa Senin Adven tidak pernah disebut? Tentu saja akan disebut secara khusus apabila Kristus sejak semula bangkit pada Senin. Mengapa menyebut Minggu Adven I, Minggu Adven II, dst. itu keliru? Seperti yang saya sampaikan di atas bahwa Adven itu musim dan hanya sekali dalam setahun kalender liturgi. Yang berjumlah empat adalah (hari) Minggu, bukan musim Advennya. Masih belum paham? Begini, apakah benar mengatakan Senin Januari I, Selasa Januari I, Jumat Januari IV? Titik Pandang [Minggu III Adven, Tahun C]. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu yang dimula dari misteri Paska. Para tokoh gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. Masa Adven dibuat untuk memersiapkan umat meningkatkan spiritualitas guna menyambut puncak perayaan Natal dan diakhiri dengan Epifania. Advent creates people, new people, kata Dietrich Bonhoeffer. Adven bukan untuk mencetak orang Kristen soda gembira, yang berpesta dan bersemangat seperti buih yang keluar dari kaleng/botol minuman bersoda, namun tak seberapa lama ia kempis tak berdaya. Adven bukan soal penantian, melainkan apa yang kita kerjakan dalam masa penantian. Yohanes mengisi penantiannya dengan bekerja menyiapkan “infrastruktur” bagi Kristus. Namun bekerja tanpa standard operating procedure atau SOP dapat keliru. Adven berarti memberi pertolongan nyata kepada mereka yang membutuhkan pertolongan, bukan memberi nasihat. Adven berarti bekerja sesuai dengan kapabilitas, sesuai dengan wewenang, sesuai dengan SOP untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik. Natal bisa dirayakan kapan saja, kata banyak orang. Pendapat itu omong kosong. Saya belum pernah melihat yang berpendapat seperti itu merayakan Natal pada Mei, Juni, Juli, Jupri. Seluruh hari raya tahunan umat Kristen bermula dari dan berpusat pada misteri Paska, kebangkitan Kristus. Perayaan Paska tahunan berangkat dari perayaan Paska pekanan. Umat Kristen perdana pada hari pertama (bahasa Indonesia menyebut Minggu) dalam pekan memiliki kebiasaan berkumpul, memecah roti, serta makan dan minum bersama (simposium). Perlu kita catat pada zaman doeloe hari baru dimula tepat sesudah matahari terbenam atau selepas Maghrib, bukan tengah malam. Umat Kristen perdana pada waktu itu tetap tidak meninggalkan kebiasaan ibadah pada Sabat (atau Sabtu), hari ketujuh dalam pekan. Sesudah mereka beribadah dilanjutkan dengan simposium pada Sabtu malam, yang sudah merupakan hari baru, hari pertama (atau Minggu) dalam pekan, hari kebangkitan Kristus. Dalam simposium ini mereka saling berbagi cerita atau ngobrol sampai larut malam bahkan pagi. Tema utama yang dibicarakan adalah kebangkitan Kristus dan karya-karya-Nya. Orang yang memiliki banyak pengetahuan mengajar. Kadang membosankan sehingga membuat pendengar mengantuk dan terjatuh (lih. Euthikus dalam Kis. 20:7-12). Para pendeta yang tidak lihai berkhotbah tidak perlu berkecil hati, karena Rasul Paulus pun membuat orang mengantuk dan terjatuh, bahkan mati. Ibadah Kristen tidak berangkat dari kekosongan atau kesengajaan rencana, melainkan dengan guliran dan kumparan narasi dan budaya untuk membangun makna. Kebiasaan bersimposium ini kemudian dijadikan ritual ibadah Minggu. Jadi, pada dasarnya ibadah Minggu adalah perayaan Paska, kebangkitan Kristus. Dari ibadah Minggu ini kemudian ditetapkan perayaan Paska tahunan. Tanggal Paska tahunan ditetapkan pada Minggu pertama sesudah Paska Yahudi (14 Nisan) atau Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret (equinox). Singkat cerita dari Paska tahunan itu ditetapkan masa Pra-Paska dan hari raya tahunan lainnya. Natal adalah hari raya tahunan “paling muda”. Seperti halnya Paska yang diawali dengan masa raya persiapan yang disebut Pra-Paska, Natal pun dibuat masa raya persiapan yang disebut Adven. Pada awalnya masa Adven dimula 40 hari sebelum Epifania, 6 Januari. Terjadi masalah karena permulaan masa Adven bukan berangkat dari hari pertama (Minggu). Akan tetapi Gereja Barat mengakhiri masa Adven sebelum 25 Desember, karena tanggal itu sudah ditetapkan sebagai kelahiran Yesus. Pada abad ke-6  Paus Gregorius Agung menetapkan masa adven dimula hari pertama (Minggu) dan ada empat Minggu sebelum Natal. Apabila Natal jatuh pada Minggu, maka Minggu itu tidak ikut dihitung. Masa Adven berakhir pada 24 Desember sebelum matahari terbenam. LDalam perayaan liturgi Adven Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias. Dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan tercukupkan menjelang Sang Firman nuzul menjadi Manusia dan sekaligus membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya kembali. Pada sisi satu umat beriman merefleksikan ulang dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus sekitar dua ribu tahun (lebih sedikit) lalu. Umat beriman merenungkan ulang misteri Sang Firman Nuzul menjadi Manusia. Pada sisi lain umat beriman mengingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Gereja membuat dua pembabakan leksionari untuk memudahkan umat menghayati makna Adven. Babak pertama, Minggu I dan II Adven pembacaan memerikan gatra eskatologis. Apa itu eskatologis? Secara sederhana eskatologis ialah penantian kedatangan kembali Kristus. Babak kedua, Minggu III dan IV Adven pembacaan memerikan gatra pengenangan (anamnesis) kelahiran Kristus. Pada 24 Desember sesudah matahari terbenam menurut tradisi adalah hari baru. Untuk itulah 24 Desember selepas Maghrib disebut Malam Natal, malam kelahiran. Frase Malam Natal tidak sama dengan Malam Minggu yang belum Minggu. Malam Natal adalah malam kelahiran, sudah Natal. Natal dimula 24 Desember selepas Maghrib. “Apa referensi kamu bilang Malam Natal sudah Natal?” “Lihat saja bacaan Alkitab sedunia pada Malam Natal dari Injil Lukas 2:1-14.” Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Para tokoh gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. Dari pemaknaan perayaan liturgi di atas adalah sungguh tidak tepat merayakan Natal pada masa Adven. Merayakan Natal pada masa Adven tidak ubahnya seperti mengadakan halalbihalal di bulan Ramadan. Sama halnya merayakan idul Fitri di bulan puasa. Awal minggu adven ada teman merayakan natal. sepulangnya dia ngucapkan selamat natal kepada orang2 yg ditemuinya dg ucapan selamat natal. Semua pada bengong.

ALLAH YANG MERAPUH
Dalam kerapuhan insani, kita dipanggil untuk merayakan hidup dengan kebajikan. Kebajikan tumbuh karena dengan sengaja disemai, ditumbuh-kembangkan, dan dilatih melalui kebiasaan (habit) dan praktik-praktik sosial (social practices) hingga pada akhirnya menjadi kebajikan (Paulus Sugeng Widjaja, 2020, hal. 143). Ketika kita merayakan kerapuhan dengan kebajikan, kita menghayati bahwa setiap tindakan bajik kita bukanlah karena kita kuat, mampu melakukan tindakan baik, berhikmat, apalagi melakukan kebajikan demi mendapat nama baik dan imbalan. Tindakan bajik dilakukan karena kita terus menjai manusia bajik di tengah kerapuhan insani. Kesadaran sebagai pribadi yang rapuh menumbuhkan semangat untuk saling berbagi kehidupan, melangkah bersama dengan saling menularkan cinta, pengharapan, dan iman. Dengan tindakan-tindakan kebajikan itulah kita merayakan kerapuhan sebagaimana yang telah diteladankan Tuhan Yesus melalui kedatangan-Nya di dunia. Bagi sebagian kalangan, Natal kerap dianggap sebagai puncak perayaan keagamaan orang Kristen. Pengalaman membuktikan, tidak hanya gereja tapi setiap keluarga menyiapkan budget lebih untuk merayakannya. Dari berbagai pengalaman pula, dijumpai gereja-gereja secara tidak langsung berlomba-lomba untuk membuat pohon natal ter-unik, ter-besar, dan ter-ter yang lain. Karena itu, tidak jarang, membuat pohon natal termasuk hal yang paling dipusingkan oleh panitia natal. Mall-mall juga ikut ambil bagian dalam euforia Natal. Namum di sana, palungan dan bayi Yesus tidak jarang digantikan oleh tokohtokoh superhero dan animasi yang populer di kalangan anakanak. Mungkin Malam Natal di tengah pandemi saat ini menyadarkan kita akan betapa rapuhnya kita sebagai manusia. Sekaligus kita disadarkan bahwa kelahiran Yesus ditengah dunia ini penuh dengan unsur kerapuhan. Arti “Raja yang Merapuh” di sini bukan berarti Yesus menjadi tua dan renta, tidak berdaya. Namun Yesus memilih untuk jadi “rapuh”. Menjadi manusia dan terlibat dengan dunia yang penuh kerapuhan.Sang Raja yang Merapuh adalah Yesus Kristus yang lahir ditengah segala kerapuhan dunia ini. Merapuhnya Allah menjadi manusia adalah wujud cinta dan bela rasa yang sejati untuk memulihkan dunia ini dari kuasa jahat yang menguasai. Kelahiran Yesus menyadarkan kita akan Allah yang merapuh di tengah kerapuhan manusia. Kesedianya merapuh adalah wujud belarasa Allah pada dunia. Di sinilah kita diingatkan untuk menjauhkan diri dari sikap jumawa karena alasan apapun. Setelah kita menyadari bagaimana Sang Raja itu merapuh dan lahir di tengah dunia ini. Maka seharusnya fokus utama kita bukan lagi pada pernak pernik Natal dan dekorasinya. Namun pada Yesus yang lahir. Yesus yang mewujudkan cinta damai di dunia ini. Maka daripada menghabiskan waktu dan tenaga untuk membuat pohon natal, lebih baik mewujudkan cinta dan damai di tengah keluarga. Mungkin setahun berlalu banyak luka dan keretakan dalam keluarga. Selesaikanlah itu. Berkumpulah bersama keluarga, makan bersama, dan bukalah hati bagi anggota keluarga kita. Akuilah kesalahan kita, bertobat, dan mualilah lembaran yang baru.Surat Paulus kepada Titus mengajarkan bahwa perayaan yang benar seharusnya diwujudkan dalam bentuk sikap dan perbuatan yang benar juga. Manusia memang rapuh namun kasih karunia Allah yang menyelamatkan mendidik kita untuk meninggalkan kejahatan. Malam Natal ini mengajak kita lebih jujur terhadap diri kita sendiri juga terhadap apa yang menjadi fokus utama dalam perayaan Natal? Apakah ibadah yang megah? Dekorasi yang cocok buat selfie? atau Yesus Kristus yang lahir di palungan? Natal merupakan perayaan syukur yang melahirkan kebaikan bagi seluruh ciptaan. Bukan hanya meneruskan tradisi tetapi menciptakan kebaikan dalam situasi aktual saat ini. Pandemi Covid-19 merupakan situasi aktual yang membuat kita meratapi kehidupan. Realita hidup ini juga semakin menyadarkan akan kemelekatan kerapuhan kita sebagai ciptaan. Sehingga membutuhkan harapan dari Sang Pencipta. Berharap ada benih-benih yang tumbuh di tengah kemurungan yang harus kita jaga dan rawat. Berharap melalui tubuh-tubuh yang mati dapat memberikan dan menjadi pupuk bagi kehidupankehidupan baru. Harapan inilah yang disebut natalitas dalam kerapuhan. Natalitas merupakan keterlahiran setiap saat ke dalam kebaruan kekal. Hanna Arendt mengatakan prinsip dari natalitas ialah setiap manusia pada dasarnya memiliki kemampuan kreatif untuk melahirkan sesuatu yang baik bagi lingkungan masyarakat. Kemampuan kreatif ini merupakan cerminan dari Allah yang selalu melakukan tindakan-tindakan kreatif dalam mengupayakan keselamatan ciptaan. Melalui natalitas inilah akan membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi kehidupan yang senantiasa memperbarui dunia.Natal merupakan bentuk natalitas Allah yang kongkret. Allah yang tak terbatas dan terjangkau oleh ciptaan itu menjadikan dirinya terbatas untuk menjangkau dan merengkuh seluruh ciptaan dalam persekutuan cinta kasih-Nya yang kekal. Allah yang kekal masuk dalam kefanaan untuk merengkuh kerapuhan ciptaan-Nya. Dalam kerapuhan insani, kita dipanggil untuk merayakan hidup dengan kebajikan. Kebajikan tumbuh karena dengan sengaja disemai, ditumbuh-kembangkan, dan dilatih melalui kebiasaan (habit) dan praktik-praktik sosial (social practices) hingga pada akhirnya menjadi kebajikan (Paulus Sugeng Widjaja, 2020, hal. 143). Ketika kita merayakan kerapuhan dengan kebajikan, kita menghayati bahwa setiap tindakan bajik kita bukanlah karena kita kuat, mampu melakukan tindakan baik, berhikmat, apalagi melakukan kebajikan demi mendapat nama baik dan imbalan. Tindakan bajik dilakukan karena kita terus menjai manusia bajik di tengah kerapuhan insani. Kesadaran sebagai pribadi yang rapuh menumbuhkan semangat untuk saling berbagi kehidupan, melangkah bersama dengan saling menularkan cinta, pengharapan, dan iman. Dengan tindakan-tindakan kebajikan itulah kita merayakan kerapuhan sebagaimana yang telah diteladankan Tuhan Yesus melalui kedatangan-Nya di dunia. Natalitas dalam diri manusia dapat terjadi karena kemurahan dan kasih Allah. Bukan karena usaha kita, tetapi karena rahmat-Nya di dalam Sang Anak melalui Roh Kudus yang memberikan manusia kelahiran baru dan hidup baru. Sehingga bangsa Israel lama (dalam pembuangan) dapat menjadi Israel Baru yang Kudus, sebagai “orang-orang tebusan TUHAN” karena TUHAN tidak berdiam diri untuk mencari dan meninggalkan.Inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus juga merupakan bentuk Natalitas Yesus dari Allah sehingga membuka harapanharapan baru bagi kehidupan. Oleh karena ketika Sang Firman itu berbicara tentang kasih. Ini bukan teori, tetapi seluruh hidupNya memperagakan itu. Ketika Ia berbicara tentang pengampunan, itu pun bukan sebuah dogma tetapi apa yang dipentaskan melalui kehidupan-Nya sehingga orang segera mengerti apa itu pengampunan. Ia tidak mengumbar kuasa dan mujizat-Nya untuk kepentingan diri sendiri. Ia melakukannya demi merengkuh kerapuhan ciptaan. Bagi orang percaya yang telah menerima natalitas tentu saja cintanya tidak lagi menjadi cinta yang ekslusif melainkan cinta kepada dunia (amor mundi) sebagaimana Allah mencintai dunia. Orang percaya dipanggil untuk menerjunkan diri ke dalam dunia dan membuahkan lagi natalitas-natalitas bagi sesama dan seluruh ciptaan. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, 2021, TITUS ROIDANTO

MARCOPOLO DAN ORANG MAJUS, SERIAL ARKEOLOGI BIBLIKAL

MARCO POLO DAN ORANG-ORANG MAJUS, SERIAL ARKEOLOGI BIBLIKAL
Ceritanya lagi baca-baca beberapa referensi tentang orang-orang Majus sebagai persiapan pelayanan seminar atas undangan sebuah gereja. Salah satu yang saya baca adalah buku catatan perjalanan Marco Polo (abad ke-13 M)………… dan sampailah pada bagian yang menarik (Chapter 13), di mana Marco Polo mencatat bahwa dia sampai di sebuah kota kecil yang bernama Saba, Savah atau Saveh, yang sekarang termasuk negara Iran. Di Saba, terdapat bangunan makam yang indah yang sampai saat itu dipelihara oleh penduduk setempat, walaupun mereka tidak tahu sejarahnya. Penduduk Saba hanya mengatakan bahwa bangunan itu adalah makam kuno tiga orang Majus. Marco Polo juga mencatat bahwa di dalam makam tersebut masih dapat ditemui adanya tiga jazad yang masih lengkap dengan rambut dan janggutnya.Ini menarik !!! Saba, Savah atau Saveh terletak di Jalur Sutra, jalur atau rute perdagangan yang menghubungkan Eropa, Konstantinopel dan Cina. Jalur Sutra darat yang dilalui oleh Marco Polo. Saba, Savah atau Saveh sekarang terletak kurang dari 200 km arah Barat Daya dari Teheran, Iran. Penduduk asli Iran kuno (Persia) dalam kehidupan sehari-hari sangat lekat dengan kepercayaan Zoroastrianisme, yang maju dalam hal penanggalan, perbintangan dan ramalan-ramalan, atau dalam konteks modern sering dikaitkan dengan ilmu astronomi. Hal ini yang membuat komunitas ini dijuluki sebagai orang-orang bijak. Hal ini sesuai pula dengan catatan Matius (Mat 2:1-12), tentang orang-orang Majus yang disebut sebagai orang-orang bijak dari Timur. Marco Polo memulai perjalanannya dari Venesia ke China (Jalur Sutra) pada tahun 1270-an. Berdasarkan catatan harian perjalanannya, dia masih menemukan jazad tiga orang Majus di dalam makamnya. Hal ini bertentangan dengan tradisi gereja kuno yang mencatat bahwa Helena, ibu Kaisar Konstantine, telah menemukan makam tiga orang Majus di suatu tempat, kemudian membawa relik-relik ketiganya ke Konstantinopel. Selanjutnya relik ketiga orang Majus tersebut dipindahkan lagi ke gereja Santo Eustorgio di Milan, Itali. Kemudian pada tahun 1164, ketiganya dibawa ke Katedral Cologne, di Jerman dan dimakamkan di dalam sebuah sarkofagus di katedral tersebut, sampai sekarang. Helena hidup pada abad 3-4 M, apabila catatan tradisi gereja tersebut benar, seharusnya Marco Polo sudah tidak dapat menemukan jazad ketiga orang Majus, yang di dalam catatan Marco Polo bahkan disebutkan masih lengkap dengan rambut dan jenggotnya. Sangat disayangkan, saat ini sudah tidak dapat ditemukan lagi reruntuhan makam tersebut. Penelitian arkeologis yang lebih mendalam sangat diperlukan untuk mengungkap kebenarannya. Namun, yang manapun versi yang benar, keduanya sudah menunjukkan bahwa cerita orang-orang Majus dari Timur yang mengunjungi Yesus dengan membawa persembahannya bukanlah sebuah dongeng belaka. Tuhan Yesus memberkati. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, 2021, TITUS ROIDANTO

Sumber referensi:
Manuel Komroff (ed.), “The Travel of Marco Polo (The Venetian)”, Northon & Co., New York, London, 1930.
 Dalrymple, “In Xanadu: A Quest” Tanpa angka tahun.

Sabtu, 11 Desember 2021

💫SABDA NYUNAR💫Untuk masa depan yang Lebih baik

💫SABDA NYUNAR💫Untuk masa depan yang Lebih baik, "The celebration of Advent is possible only to those who are troubled in soul, who know themselves to be poor and imperfect, and who look forward to something greater to come." Dietrich Bonhoeffer.  Yang mengatakan bahwa perayaan natal boleh dirayakan di tanggal mana saja, nyatanya tak pernah ngrayain natal di bulan juni, juli, dan jupri, tapi ngrayain natal di masa advent, jadi ambigu buanget thow. Dapat dikatakan semua orang Kristen tahu bahwa Yesus tidak dilahirkan pada 25 Desember secara objektif historis. Yang tak semua diketahui adalah latar belakang penetapan 25 Desember sebagai Hari Natal. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu yang dimula dari misteri Paska. Para tokoh gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. Masa Adven dibuat untuk memersiapkan umat meningkatkan spiritualitas guna menyambut puncak perayaan Natal dan diakhiri dengan Epifania. Advent creates people, new people, kata Dietrich Bonhoeffer. Adven bukan untuk mencetak orang Kristen soda gembira, yang berpesta dan bersemangat seperti buih yang keluar dari kaleng/botol minuman bersoda, namun tak seberapa lama ia kempis tak berdaya, Adven bukan tempatnya pula merayakan natal, itu seperti merayakan paskah di masa prapaskah, merayakan idul fitri di bulan puasa. Mirip pesepakbola yang jingkrak-jingkrak mendapat hadiah penalti, tetapi kemudian gagal mencetak gol dari titik putih. Jürgen Klopp sebal apabila melihat pemain-pemainnya bersorak gembira karena mendapat hadiah penalti. “Mereka merayakan hal yang salah,” kata Klopp. Tidak ada gunanya bersukaria atas hadiah penalti, jika pemain tidak berhasil mengalihrupakannya menjadi gol. Target bersepakbola adalah mencetak gol, bukan mencari hadiah penalti, tukas Klopp. Coba perhatikan bacaan 1 untuk Advent ke 3 ini dari Zefanya 3:14-20, Nabi Zefanya bernubuat pada masa pemerintahan Raja Yosia Bin Amon di Yehuda (Zef. 1: 1),  Ia pun menyerukan pertobatan kepada Yehuda untuk kembali kepada hukum Tuhan,  mencari keadilan, mencari kerendahan hati, dan berharap akan perlindungan TUHAN pada hari kemurkaan-Nya. Di bawah pemerintahan raja Yosia, Yehuda diarahkan agar kembali kepada Tuhan. Jadi, masa Advent adalah masa pertobatan dalam penantian kedatangan Tuhan kembali, shg tidak cocok kalo dimasa pertobatan malah merayakan natal, blon saatnya, blon waktunya. Lihat tanggapan di advent ke 3 ini lewatYesaya 12:2-6, Kitab Yesaya diawali dengan penyampaian pesan nabi Yesaya tentang penghakiman dan pengharapan bagi Israel. Pemberontakan umat Israel atas perjanjian dengan Allah dalam penyembahan berhala dan perilaku tidak adil yang terjadi di dalam kehidupan umat akan mendatangkan penghukuman atas Israel. Allah akan mendatangkan bangsa-bangsa asing (termasuk bangsa Asyur) untuk menghancurkan Yerusalem. Itu bagaikan api permurnian yang akan membakar habis perilaku Israel yang menyimpang dan tidak berguna. Berita pemurnian itu menegaskan bahwa Yerusalem (yang penuh cela dan dosa—Yerusalem Lama) akan runtuh (Yes. 3:8), dan dari sisa-sisa umat Israel yang terserak akan muncul umat yang setia dan sungguh-sungguh bersandar pada Tuhan (Yes 10:20-21). Bahkan, dari umat yang telah dimurnikan itu, kelak akan datang seorang raja damai, imanuel, yang akan memerintah dengan adil dan membawa damai sejahtera. Jadi, masa Advent itu dihayati sebagai masa pemurnian, dalam masa pemurnian ini ritual komunitas kristiani kuno menghayati nya dengan masa puasa selama 40 hari sebelum natal tiba, seperti halnya masa prapaskah, mosok di masa pemurnian, di masa Advent, yang dihayati dengan puasa dan pantang, kita malah ngerayain natal...tepok jidat. Bacaan  Lukas 3:7-18, Bacaan Injil Lukas pada Minggu ketiga masa Adven ini meneruskan kisah Yohanes (Pembaptis) yang menyiapkan “infrastruktur” bagi Kristus di daerah Yordan. Yohanes sibuk mengajar orang-orang dan membaptis mereka. Katanya, “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah berpikir dalam hatimu ‘Abraham adalah bapa kami’ karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.” (ay. 7-9). Entah mengapa  membaca ini langsung tertawa geli, teringat suatu gereja yang mendaku paling reformed dan paling injili. Dengan mengusung ideologi predestinasi mereka mendaku bahwa merekalah yang dipilih untuk diselamatkan. Dalam pada itu ada juga gereja yang mendaku paling rasuli, terus memelihara tradisi rasuli. Gereja-gereja lain diberi stigma sudah menyeleweng dari ajaran yang ortodoks (lurus). Namun Yohanes berkata kepada orang-orang itu,“Hai kamu keturunan ular beludak!” Dalam bahasa sehari-hari Yohanes mau mengatakan,“Kamu tuh bukan siapa-siapa. Kamu kayak batu tuh!” Kembali lagi ke bacaan, orang-orang yang ditegur oleh Yohanes itu bertanya,“Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” Jawabnya,”Barangsiapa memiliki dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa memiliki makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.” (ay. 10-11), masa advent adalah masa membangun solidaritas, karena teladan kita adalah Allah yang merapuh untuk menyelamatkan manusia, Allah yang solider menyelamatkan manusia, seharusnyalah di masa advent kita solider ada pemerintah yang jungkir balik mencegah boom ke 3 pandemi, memberi peluang merayakan natal di luar ibadah raya di gereja, adalah tindakan yang tak mencerminkan penghayatan akan advent dan natal, tindakan yang menggambarkan ketidak solideran,  bila menghayati makna advent dan natal, seharusnyalah tidak merayakan natal saat advent, la....wong gereja dan liturgi bernuansa ungu bahkan pengkhotbah serta majelis aja berstola ungu, mosok mau ngrayain natal di masa advent, konon masa Advent adalah masa pertobatan, masa penantian, dan masa puasa, dalam kosmologi Israel kuno masa penantian itu sama dengan masa berkabung.  trus.......aaapaaa yang dimaksud p enghayatan Advent  natal? Kalo natal saja dirayain di masa advent. Dalam kehidupan sehari-hari kita acap menjumpai penghibur-penghibur sialan baik di medsos maupun di sekitar kita. Istilah “penghibur sialan” ini saya ambil dari Kitab Ayub 16:2. Orang lapar diberi nasihat, bukan makanan. Orang kedinginan diberi nasihat, bukan pakaian. Itu sebabnya Ayub kesal dan berang kepada orang-orang seperti itu. “Penghibur sialan kamu semua!” kata Ayub. Kembali ke laptop. Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepada Yohanes, "Guru, apakah yang harus kami perbuat?" Jawabnya,”Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu.” (ay. 12-13). Dalam bacaan Injil prajurit-prajurit bertanya juga kepada Yohanes,”Apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka,”Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (ay.14). Banyak orang kemudian bertanya-tanya apakah Yohanes adalah Mesias, karena selama ini orang-orang Yahudi sangat menanti dan berharap kepada Mesias. Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu,”Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” (ay. 15-17). Adven bukan soal penantian, melainkan apa yang kita kerjakan dalam masa penantian, lucunya lagi bila di masa penantian malah ngrayain natal....hadeweeee. Yohanes mengisi penantiannya dengan bekerja menyiapkan “infrastruktur” bagi Kristus. Namun bekerja tanpa standard operating procedure atau SOP dapat keliru. Dalam konteks Indonesia bekerja tentulah menggunakan payung hukum seperti Undang-Undang sebagai SOP. Bukan bekerja seenak perut, bukan melebihi wewenang yang sudah ditetapkan oleh SOP. Polisi dan ASN yang sudah ditetapkan oleh SOP sebagai pelayan masyarakat, jadilah pelayan masyarakat. Memeras masyarakat untuk membayar pekerjaannya yang sudah dibayar oleh negara adalah melebihi wewenang. Presiden Joko Widodo pernah mengatakan bahwa dapat saja pemerintah menyenangkan semua orang dengan menyebar subsidi BBM, bantuan sosial, atau bantuan langsung tunai sebanyak-banyaknya kepada masyarakat. Namun bukan untuk itu tujuan pembangunan, kata Jokowi. Pembangunan perlu proses yang kadang pahit, menyakitkan, yang akan membawa Indonesia menuju negara yang maju di masa depan untuk kita dan generasi mendatang, imbuhnya. Adven berarti memberi pertolongan nyata kepada mereka yang membutuhkan pertolongan, bukan memberi nasihat. Adven berarti bekerja sesuai dengan kapabilitas, sesuai dengan wewenang, sesuai dengan SOP untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻Selamat memaknai Advent🙌🏻🙌🏻🙌🏻Tuhan memberkati

Jumat, 03 Desember 2021

SUDUT PANDANG LUKAS 3:1-6 MENYIAPKAN JALAN, SERIAL NATAL, SERIAL NATAL

SUDUT PANDANG LUKAS 3:1-6 MENYIAPKAN JALAN, SERIAL NATAL

 “There are three stages of man: he believes in Santa Claus; he does not believe in Santa Claus; he is Santa Claus." Bob Phillips. Gereja membuat dua pembabakan leksionari (daftar bacaan) untuk memudahkan umat menghayati makna Adven. Babak pertama, Minggu I dan II Adven pembacaan memerikan gatra eskatologis. Secara sederhana eskatologis ialah penantian kedatangan kembali Kristus. Babak kedua, Minggu III dan IV Adven pembacaan memerikan gatra pengenangan (anamnesis) kelahiran Kristus. Minggu ini masih dalam babak pertama. Umat beriman mengambil bagian dalam persiapan tercukupkan dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya kembali seperti dalam dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Di dalam teks-teks Alkitab tidak pernah disebut “Yesus akan datang kedua kalinya”. Frase “Yesus akan datang kedua kalinya” adalah cacat teologis yang berimplikasi bahwa antara pertama dan kedua Yesus tidak pernah hadir di tengah-tengah umat-Nya yang beribadah saban Minggu sebagai misal. Frase yang sesuai dengan teologi Kristen adalah Yesus datang kembali. Kapan? Kita tidak pernah tahu. Terserah Beliau. Bisa kemarin, hari ini, atau besok. Dalam Kisah Para Rasul dapat kita lihat sesudah Yesus naik ke surga, Yesus hadir menjumpai Paulus dalam perjalanannya ke Damsyik. Itu berarti frase Yesus datang kembali tidak dapat disulih dengan angka urut kedua. Dalam pada itu Yesus sendiri sampai lima kali menjanjikan kehadiran Roh Kudus untuk meneruskan karya-karya-Nya (lih. Yoh. 14:16-17, 25-26; 15:26-27; 16:7-11, 12-15). Kehadiran Roh Kudus berarti kehadiran Kristus (lih. 2Kor. 3:17). Untuk itulah dalam teologi Kristen kedatangan Kristus kembali dipahami sudah, sedang, dan akan terjadi. “Sudah” dipahami bahwa kehadiran Kristus sudah terjadi sekitar dua ribu tahun lalu dan selalu berada di tengah-tengah umat beriman sepanjang berabad-abad sampai kemarin atau sebelum sekarang. “Sedang” dipahami bahwa kehadiran Kristus sedang terjadi di tengah-tengah umat saat ini. “Akan” dipahami kehadiran Kristus selalu dirindukan dan diharapkan oleh umat beriman. Bacaan Minggu ini Lukas 3:1-6. Bacaan Injil Lukas pada Minggu kedua masa Adven ini menampilkan Yohanes (Pembaptis) di padang gurun dan datanglah firman Allah kepadanya. Ia kemudian mendatangi ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!” Ia kemudian mengutip kitab nubuat-nubuat Nabi Yesaya. Katanya, “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.” Dari bacaan di atas kita melihat firman Allah mendatangi Yohanes di padang gurun. Dari sini dapat kita tafsirkan hidup Yohanes menyendiri di padang gurun. Ia tidak bergeming, tetapi ia bergerak untuk bekerja. Apa yang dikerjakannya? Memersiapkan jalan untuk Tuhan. Ia bergiat mewartakan pertobatan dan kemudian membaptis orang-orang sebagai tanda pertobatan di daerah Yordan. Menanti bagi Yohanes tidak berdiam diri di padang gurun. Ia bekerja memersiapkan “infrastruktur” untuk Kristus. Dalam Pembukaan UUD 1945 satu tujuan negara Republik Indonesia ialah memajukan kesejahteraan umum dengan berlandaskan atas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejak menjadi orang nomor satu Indonesia, Presiden Joko Widodo menggenjot pembangunan infrastruktur. Jokowi pernah mengatakan bahwa infrastruktur bukanlah tujuan. Pembangunan infrastruktur juga jangan dilihat dari gatra ekonomi saja. Jokowi kemudian mengutip lagu “Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung-menyambung menjadi satu. Itulah Indonesia.” Infrastruktur dibangun untuk menyambung pulau-pulau di Indonesia menjadi satu. Infrastruktur bukanlah tujuan, melainkan jalan untuk memajukan kesejahteraan umum dengan berlandaskan atas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.” “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya…” merupakan ungkapan yang pas bagi kerja keras Jokowi untuk menuju  kesejahteraan umum dengan berlandaskan atas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adven yang dikerjakan oleh Yohanes (Pembaptis) amat terang dikerjakan oleh Jokowi. Adven merupakan kesibukan bekerja dalam rangka menuju kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesejahteraan tidak datang sekonyong-konyong. Ia perlu Adven. Adven bukanlah tujuan. Ia merupakan jalan untuk mencapai tujuan. Belum waktunya berpesta karena memang kita belum tiba di tujuan.Jadi, gak perlu pakai pesta, apalagi dilabeli pesta natal, perayaan natal, cukup ibadah raya natal, dan itupun dilakukan di gereja, untuk menghikmati keterhisapan kita pada anugerah persekutuan Tuhan dalam menghikmati Natal, Tuhan yang merapuh menjadi manusia, Tuhan melawat manusia, untuk menyelamatkan kan manusia, Tuhan berkarya 🙏🙏🏻🙏🏻Selamat menikmati masa Advent🙌🙌🏻🙌🏻Tuhan memberkati

Selasa, 02 November 2021

💫SABDA NYUNAR💫, “The love of God is the root of all evil.”

💫SABDA NYUNAR💫,  “The love of God is the root of all evil.”, Taj Mahal berarti Mahkota Istana. Menurut legenda Taj Mahal merupakan bangunan kubur bagi istri Shah Jahan dari Kekaisaran Mughal yang bernama Mumtaz ul Zamani. Mumtaz adalah pedagang manik-manik. Pangeran Shah Jahan jatuh cinta kepadanya. Pada 1612 Shah Jahan menikahi Mumtaz dan menjadikannya istri ketiga. Pada saat ia naik tahta pada 1628, nama Mumtaz diubahnya menjadi Mumtaz Mahal yang berarti Permata Istana. Jahan sangat mencintai Mumtaz. Ketika Mumtaz melahirkan anak ke-14 bagi Shah Jahan, ia meninggal. Saking cintanya Jahan pada Mumtaz ia membangunkan suatu istana peristirahatan yang ground breaking-nya dihelat pada 1631. Projek dipimpin oleh arkitek Ahmad Lahauri dengan melibatkan lebih daripada 20 ribu pekerja. Projek diselesaikan lengkap dalam waktu 20 tahun dengan menghabiskan dana sekitar 956 juta dolar (jika disetarakan dengan uang masa kini). Taj Mahal menjadi bukti cinta Shah Jahan kepada Mumtaz Mahal. Menurut legenda lagi ibu jari arkitek dan para pekerja konstruksi dipotong atas perintah Shah Jahan sesudah pembangunan selesai. Dengan begitu mereka tidak bisa membuat bangunan serupa Taj Mahal. Pada satu sisi Shah Jahan terperi romantis dan begitu mencintai istrinya, pada lain sisi ia berlaku bengis kepada sesama manusia. Bacaan Alkitab dari Injil Markus 12:28-34. Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan Yesus didatangi seorang ahli Taurat. Ahli Taurat ini sudah mendengar dari para koleganya bahwa Yesus lihai bersoaljawab dan selalu memberikan tanggapan tepat kepada mereka. Ia mengajukan pertanyaan kepada Yesus, “Perintah manakah yang paling utama?” Yesus menjawab, “Dengarlah, hai orang Israel, TUHAN Allah kita, TUHAN itu esa. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap akalbudimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah kedua: kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah itu.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawaban orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Sesudah itu seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. Dari bacaan di atas kita mengerti bahwa para pemimpin agama di Tanah Yudea berusaha mencari celah kesalahan Yesus dalam mengajar. Yesus dianggap ancaman bagi para pemimpin agama. Untuk itulah mereka terus menerus menguji Yesus dengan harapan ada kesalahan ajaran Yesus. Ahli Taurat di atas tidak ketinggalan mau menguji Yesus. Rupanya jawaban Yesus mengejutkannya. Yesus tidak melenceng dari ajaran tauhid. Meski demikian menurut Yesus ajaran tauhid tidaklah berarti apa-apa tanpa manusia mengasihi sesamanya. Tidak mungkin orang mengasihi Allah yang tak tampak, jika ia tidak mengasihi sesama manusia yang kasat mata. Apa ukuran mengasihi sesama menurut Yesus? Ukurannya ialah seperti mengasihi diri sendiri.  Ahli Taurat itu bersetuju dengan Yesus dan menurutnya juga mengasihi sesama manusia jauh lebih utama daripada ritual agama. Mengasihi sesama manusia jauh lebih penting daripada menjalankan aturan-aturan agama. Yesus membenarkan ahli Taurat itu bahkan ia tidak jauh dari Kerajaan Allah. Kita sudah mengerti bahwa misi Kerajaan Allah menurut Yesus ialah menghadirkan keadilan sosial di seluruh lapisan masyarakat terutama masyarakat yang terpinggirkan, yang tidak berdaya. Di lingkungan Kristen kedua perintah itu dikenal dengan Hukum Kasih. Di Indonesia masyarakatnya gandrung pada ritual agama untuk menyatakan cinta pada Allah. Orang menunjukkan cinta pada Allah dengan setia ke gereja, mengikuti persekutuan doa, aktif melayani (dalam arti selebrasi), tetapi pada lain sisi seringkali pada kenyataannya, pada kehidupan keseharian  ia bengis kepada sesama dengan memeras para karyawannya, ia mencuri uang negara, suka cepat menghakimi, suka ngrasani orang tanpa dasar, dlsb. Ada juga yang membuat aksi membela Allah. Tentu saja itu tidak salah. Agama tanpa ritus akan kehilangan pilarnya. Yang menjadi persoalan kerasukan ritual agama membuat penganutnya kehilangan etika. Penganut agama menjadi buta pada isu-isu etis. Mustahil orang mencintai Allah, kalau ia buta terhadap isu-isu etis yang kasat mata. Itu sebabnya setiap ada aksi membela Allah, suasana menjadi mencekam tertebar teror. Orang pergi menjauh ketakutan. Pengendara berpusing mencari jalan alternatif. Tidaklah keliru Andrew N. Wilson mem-pleset-kan 1Timotius 6:10 “Cinta akan Allah adalah akar segala kejahatan”. Kebangkitan agama-agama sebenarnya dirangsang oleh suatu keprihatinan etis yang besar terhadap gaya hidup modern. Anehnya agama tidak melahirkan pemikiran-pemikiran etis yang berbobot. Iman menjadi dogmatisme dan teologi menjadi ideologi. Kebangkitan agama-agama justru membuat agama-agama sedang mengalami kemerosotan kepedulian etis yang amat serius. Gus Mus pernah mengatakan bahwa sering semangat beragama tidak diimbangi dengan pemahaman agama yang baik. Pemerintah harus menyadari (karena hal) itu merupakan ancaman yang serius dan masyarakat harus kembali pada jatidirinya sebagai orang yang berketuhanan dan berkemanusiaan yang adil dan beradab. Beruntung Indonesia saat ini memiliki Presiden Joko Widodo, di luar segala kekurangannya, secara terus-menerus menyetimbangkan antara yang vertikal dan horisontal, antara yang spiritual dan material.🙏🙏🙏 Selamat Berhukum Kasih, 🙌🙌🙌Tuhan Memberkati

Jumat, 29 Oktober 2021

SUMPAH, SERIAL SUDUT PANDANG

SUMPAH, SERIAL SUDUT PANDANG

Pengantar
Apakah benar bahwa bersumpah itu sama sekali dilarang? Bagaimanakah dengan sumpah jabatan? Perlu pemahaman yang benar terhadap penerapan ayat di atas. Dan harus dipahami sumpah yang mana dulu? Tidak semua sumpah tabu dalam ajaran Kristen. Sumpah yang bersifat affirmation of duty atau affirmation of truthfulness tentu saja tidaklah tabu. Sumpah itu ada, Tuhan Yesus menyinggungnya dalam:
* Matius 23:18-22
23:18 Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.
23:19 Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?
23:20 Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya.
23:21 Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ.
23:22 Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.
Tapi mengapa sampai dikatakan "jangan bersumpah" dalam Matius 5:33-37 dan Yakobus 5:12? Sebab, sumpah palsu merupakan pelanggaran yang serius dalam setiap kode hukum. Jadi, janganlah bersumpah apabila ybs tidak memandang serius tentang apa yang disumpahkannya. Dalam Hukum Taurat, sumpah palsu dilarang :
* Keluaran 20:7,16
20:7 LAI TB, Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
Hebrew,
לֹא תִשָּׂא אֶת־שֵׁם־יְהוָה אֱלֹהֶיךָ לַשָּׁוְא כִּי לֹא יְנַקֶּה יְהוָה אֵת אֲשֶׁר־יִשָּׂא אֶת־שְׁמֹו לַשָּׁוְא׃ פ
Translit, LO' TISA 'ET-SYEM- YEHOVAH(dibaca: 'Adonay) 'ELOHEYKHA LASYAV KI LO YENAQEH YEHOVAH(dibaca: 'Adonay) 'ET 'ASYER-YISA 'ET-SYEMO LASYAV
20:16 LAI TB, Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
Hebrew,
לֹא־תַעֲנֶה בְרֵעֲךָ עֵד שָׁקֶר׃ ס
Translit, LO'-TA'ANEH VERE'AKHA 'ED SYAQER
Mengucapkan sumpah palsu dalam nama Allah adalah dosa bukan saja terhadap nama itu, tetapi termasuk berdosa terhadap pribadi Allah sendiri. Untuk selanjutnya, jangkauan hukum ini diperluas dengan memasukkan setiap penggunaan nama ilahi secara remeh atau sembarangan, sampai-sampai dalam tradisi Yahudi diputuskan bahwa cara yang paling aman adalah tidak menyebut namaNya sama sekali. Itulah sebabnya nama Allah Israel "YHVH" tidak pernah dieja sama sekali, dan mereka menggantinya dengan menyebut "ADONAY". Kebiasaan ini dimaksudkan sebagai bentuk pencegahan "menyebut nama TUHAN (YHVH) dengan sembarangan". Yesus Kristus berkata "Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan (Matius 5:33). Menyadari keseriusan sumpah demi nama Allah apabila kebenaran kalimat itu tidak mutlak kepastiannya, yang bertendensi menggantikan nama Allah dengan yang lain (ayat 34) misalnya Langit/ Surga, ataupun bentuk bentuk lain (demi kota, demi kepala, ayat 35-36) dengan pemikiran bahwa kalau-kalau sumpahnya itu palsu akan sedikit lebih diampuni, itupun tidak diperkenankan oleh Tuhan Yesus. Dari perikop lain dari Injil ini (Matius 23:16-22), dapat dikumpulkan adanya beberapa ketentuan bahwa ada sumpah-sumpah yang lebih mengikat atau kurang mengikat disesuaikan dengan persisnya kata-kata sumpah yang diucapkan. Tentunya hal ini merupakan masalah etis yang tidak begitu berarti. Satu hal yang perlu diketahui, bahwa orang dilarang bersumpah palsu, baik dalam nama Allah maupun bentuk kata-kata lainnya. "Bayarlah apa yang engkau sumpahkan". Pengkhotbah mengatakan demikian :
* Pengkhotbah 5:3-5
5:3 Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. 5:4 Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. 5:5 Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu? Jelas sekali dalam Matius 5:37 Yesus berkata "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat". Yesus merekomendasikan standard yang lebih tinggi kepada murid-muridNya bahwa mereka harus berkata ya kalau ya, dan tidak kalau tidak. Gema perkataan ini terdengar lagi dalam bagian PB lainnya :
* Yakobus 5:12
Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.
Pengikut-pengikut kristus harus dikenal sebagai pelaku perkataan mereka, baik pria maupun wanita. Apabila mereka dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai perhatian khusus yang teliti terhadap kebenaran , maka segala yang mereka katakan akan dipercaya walau tanpa sumpah sekalipun. Ini bukan sekedar teori; ini merupakan kenyataan dalam pengalaman. Reputasi seseorang dalam kejujuran itulah yang diajarkan Yesus, sehingga murid-muridNya karena reputasinya orang mempercayai bahwa kata-katanya selalu berdasarkan fakta yang benar, mengatakan ya karena ya, dan mengatakan tidak karena tidak. Jikalau seseorang sudah dikenal kejujurannya, siapapun tak akan menuntut suatu sumpah darinya.

Mengenai Sumpah
Konteks nya dulu harus diketahui, memaknai suatu ayat haruslah tidak dilepaskan dari konteks stau layar belakang penulisan perikopnya/bab nya bahkan konteks atau latar belakang kitabnya (dalam hal ini surat Yakobus dan injil Matius) sama halnya dg Kristus dalam Matius 5 ayat 33 sampai 37, Yakobus mengkritisi kebiasaan orang Yahudi (seperti halnya Kristus), yg dalam mana pada kasus Yakobus hal tersebut mempengaruhi kehidupan jemaat di sana, kebiasaan itu adalah sangat mudah mengucapkan sumpah dalam kehidupan sehari-hari (bukan pada kondisi khusus) untuk membenarkan diri. Ada tradisi dalam Yahudi saat itu untuk melakukan sumpah CHI ELOAH, artinya sumpah dalam nama Allah, itu dianggap dosa besar, apalagi bila tidak dapat melakukannya atau tidak dapat menepatinya, maka sumpah seperti ini dilakukan dalam kondisi khusus (dalam peradilan misalnya), oleh karena kemudian orang Yahudi menggunakan sumpah dalam kehidupan sehari-hari, demi apapun yang penting tidak demi nama Allah atau demi Allah, inilah sebetulnya yang dikritisi oleh Yesus maupun Yakobus, bukan larangan bersumpah tetapi lebih kepada jangan sembarangan bersumpah apalagi hanya di dalam kehidupan sehari-hari (kondisi saat itu sebetulnya lebih ke sumpah saat berdagang), apalagi bersumpah dan tidak bisa menepatinya, atau bersumpah untuk hal-hal yg sepele atau remeh temeh, menurut Yesus maupun Yakobus (dalam kehidupan sehari-hari) daripada bersumpah lebih baik ya katakan ya, tidak katakan tidak, kemudian pemahaman ini Yakobus kaitkan dengan pengakuan dosa. Makanya, dalam bahasa aslinya memakai frasa PRO PANTON yg artinya tidak untuk keseharian lebih untuk hal yg utama/khusus. bukannya tidak boleh bersumpah, Tapi Firman Tuhan itu mengajarkan kalau kita bersumpah, hendaklah kita sebaik mungkin menepatinya dan BERSEDIA menanggung akibatnya apabila kita tidak memenuhi sumpah tersebut. Makanya lebih baik jangan bersumpah, tapi kalau bersumpah, tepatilah sumpah itu dihadapan Tuhan. Nah, Allah PL dan PB itu sama, Yesus itu ada bersama-sama dengan Allah dan Dia adalah Allah dari sejak mulanya (Yohanes 1:1), so jangan membuat pengertian kalo Allah PL bersumpah Allah PB tidak seolah2 mereka berbeda. Allah bersumpah  boleh saja karena Dia pasti menepati perkataanNya, so konsisten kok ini, Apa sih bedanya janji sama sumpah? Kita sepertinya harus clear dulu soal ini. kalo buat saya janji itu kamu berjanji tidak perlu mengatakan dengan lantang didepan semua orang, tapi sumpah itu kamu ucapkan didepan semua orang sehingga semua orang itu mengetahui sumpahmu itu, itu syaratnya sebuah janji bisa disebut sebagai sumpah, minimal mungkin ada 2-3 orang saksi, so kalo kamu bersumpah tapi ngga ada yang dengar, buat saya itu janji, mohon maaf itu bukan sumpah. Janji pernihakan itu sebenarnya bukan janji, secara konteks lebih tepat disebut sumpah pernikahan, karena 2 insan tersebut mendeklarasikan sehidup semati sebagai suami istri dihadapan Tuhan, para saksi hamba Tuhan, saudara seiman, dan hukum negara, maka itu bukan lagi janji, itu adalah sumpah, lebih tepat kita sebut itu sumpah pernikahan menurut saya, makanya kalo bahasa Inggrisnya itu adalah "wedding vow", bukan sekedar "promise". Dalam bahasa aslinya Ngga ada kok ayat Firman Tuhan yang menyatakan kita sama sekali ngga boleh bersumpah. dikatakan kalo kamu bersumpah, ya tepatilah "jika ya katakan ya dan jika tidak katakan tidak" itu  peringatan supaya kita jangan bersumpah palsu atau jangan sampai kita buru2 mengucapkan sumpah, bukannya melarang sama sekali orang bersumpah, tapi jika kita memang mau bersumpah beneran, ya tepatilah itu, pada prinsipnya PL dan PB itu sama, ngga mungkin bertentangan dan tidak ada yang direvisi sepanjang saya memahaminya, justru aneh kalo pake direvisi, kan Dia Allah yang hidup yang kita percaya ngga pernah salah, saya pribadi bersumpah pernikahan dan saya wajib mentaati sumpah itu sampai akhir hayat. kalau  setuju bahwa janji pernikahan itu levelnya adalah sumpah, ya otomatis anda harusnya mengakui kalo sumpah diperbolehkan, berapa banyak orang yang bersumpah pernikahan melanggar Firman Tuhan kalau sumpah sama sekali ngga boleh dilakukan? Konteks apakah yg melatarbelakangi Firman Allah di PL sehingga Allah "bersumpah"? Apa tujuan Allah melakukan "sumpah" tersebut? Tradisi Yahudi menganggap Angka tujuh – Ibrani: שֶׁבַע – SHEVA, Shin-Bet-Ayin berhubungan dengan kata yang bermakna "sumpah," yaitu: שָׁבַע – SHAVA, Shin-Bet-Ayin. Angka tujuh dalam kepercayaan Israel, adalah simbol umum untuk segala hubungan dengan Allah dan merupakan angka religius favorit di kalangan Yahudi, angka 7 melambangkan perjanjian kekudusan dan pengudusan. Pemakaian pada Kejadian 4:15 ini merupakan sumpah Allah, bahwa Dia mencintai kehidupan. Apakah bersumpah bagi orang Israel dalam konteks PL diperbolehkan? Sehingga Yesus memberikan perintah baru? Apakah "sumpah" hanya khusus dilakukan oleh Allah saja karena pasti dipenuhi dan digenapi? Apakah "sumpah" itu sakral? Mengucapkan sumpah bermacam cara (Kejadian 24:2-3; Ulangan 32:40) dan rumusan (Kejadian 31:50; Bilangan 5:22; Hakim 8:19; 2 Raja 2:2; Yeremia 42:5; Matius 5:34-36; 23:16). Sering dampak-dampak yg mengerikan dari sumpah yg tidak dipenuhi tidak dikemukakan (2 Samuel 3:9; tapi lihat Yeremia 29:22). Pentingnya sumpah ditekankan dalam hukum Musa (Keluaran 20:7; Imamat 19:12, Mungkin ini pertanyaan esktrimnya, Apakah Firman Allah di PL dan Yesus Kristus sebagai Firman Allah di PB dapat dikatakan tetap konsisten? Apakah mungkin Yesus sedang melakukan peningkatan taraf "sumpah" dalam hukum Taurat kepada taraf/hakikat yg lebih tinggi menjadi "kejujuran/kepastian" antara "ya" dan "tidak"? Dalam Kerajaan Allah pada akhirnya sumpah tidak diperlukan (Matius 5:34-37). Kristus sendiri diperhadapkan dengan sumpah (Matius 26:63 dab), dan Paulus juga bersumpah (2 Korintus 1:23; Galatia 1:20). Pengikut-pengikut kristus harus dikenal sebagai pelaku perkataan mereka, baik pria maupun wanita. Apabila mereka dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai perhatian khusus yang teliti terhadap kebenaran , maka segala yang mereka katakan akan dipercaya walau tanpa sumpah sekalipun. Ini bukan sekedar teori; ini merupakan kenyataan dalam pengalaman. Reputasi seseorang dalam kejujuran itulah yang diajarkan Yesus, sehingga murid-muridNya karena reputasinya orang mempercayai bahwa kata-katanya selalu berdasarkan fakta yang benar, mengatakan ya karena ya, dan mengatakan tidak karena tidak. Jikalau seseorang sudah dikenal kejujurannya, siapapun tak akan menuntut suatu sumpah darinya. Percakapan sehari-hari orang Kristen haruslah sama sucinya dengan sumpahnya. Dia tidak boleh berbicara dengan "standard kebenaran yang berbeda," atau standard ganda perkataan dan tingkah-laku haruslah sesuai. Dia tidak boleh mempunyai dua ukuran tentang kebenaran, seperti orang Yahudi tertentu yg memakai ukuran licik berkaitan dengan sumpah. Dan, sedikit menambahkan: maka, apa yang dikatakan oleh Kristus dalam Matius 5 : 33 – 37 bukanlah merupakan suatu perintah baru, melainkan Ia hendak menekankan wajibnya menjaga kejujuran dalam segala hal, situasi, dan kondisi. Singkatnya, kapan pun, di mana pun, dan bagaimana pun, Gereja Tuhan harus senantiasa bersikap jujur dan terbuka dengan fakta. Jika ini telah tercapai dalam hidup Gereja, maka apakah lagi gunanya bersumpah? Sumpah bukanlah dilarang, melainkan memang tidak lagi diperlukan. Namun, kenyataan ini tidak serta-merta berarti kita harus menjadi bersikap "anti sumpah". Apabila hukum memang mewajibkan kita bersumpah, maka kita gak bermasalah untuk melakukan itu. Misalnya saja sumpah pelantikan jabatan, jangan memaksakan perkataan Kristus yang dimaknai "terlalu literal" (ditelan mentah-mentah, tanpa menimbang maksudnya secara mendalam apalagi mencomot dan melepaskannya dari konteks atau latar belakang penulisannya) menjadi batu sandungan bagi kita. Satu hal yang perlu kita renungkan ialah, Kristus sangat senang memberikan bahasa-bahasa alegoris, sehingga makna di balik kata-kata-Nya jauh lebih mendalam dibandingkan arti harfiahnya. Mengapa dahulu Allah sendiri memberikan contoh dengan cara bersumpah, sedangkan kemudian, di masa-masa awal masehi, Kristus malah "melarang" untuk bersumpah? Sekilas, hal ini memang terlihat bertentangan, bukan? Namun, inilah yang disebut sebagai wahyu progresif, seperti halnya yaitu mengenai pemahaman akan Allah Tritunggal Mahakudus. Sebab sepanjang sejarah Perjanjian Lama, bangsa Israel ialah bangsa yang tegar tengkuk, sehingga mereka seringkali meragukan kuasa dan kedahsyatan Sang Allah. Apakah akar dari segala dosa? Ya, meragukan Tuhan. Karena kondisi Israel maka Allah bersumpah,  peristiwa bersumpahnya Allah demi diri-Nya sendiri yang acap kali terjadi di masa Perjanjian Lama juga merupakan suatu bahasa anthropomorfisme (seperti halnya "Allah menyesal", "Allah menangis" dan sebagainya). Maka, akan menjadi sulit apabila kita memahaminya secara terlalu harfiah. STT BAPTIS INJILU, 2021, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO

Jumat, 08 Oktober 2021

💫SABDA NYUNAR💫 Beragama Fundamentalistik dan Legalistik, Mendidik manusia dewasa atau anak-anak?

💫SABDA NYUNAR💫 Beragama Fundamentalistik dan Legalistik, Mendidik manusia dewasa atau anak-anak? Bacaan Alkitab injil Markus 10:17-31, Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan seseorang mendatangi Yesus dan bertelut. Ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kulakukan untuk memeroleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Engkau tentu tahu segala perintah Allah: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan bersaksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayah dan ibumu.” Orang itu berkata lagi, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Yesus memandang orang itu dan menaruh kasih kepadanya. Kata Yesus, “Hanya satu kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin…dan ikutlah Aku.” Mendengar jawaban Yesus, ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, karena banyak hartanya. Setelah orang itu pergi, Yesus memandang murid-murid-Nya. Kata Yesus, “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Yesus adalah pengajar lisan. Ia tidak mungkin mengajar atau mengajukan banyak pertanyaan sekaligus dalam satu kalimat seperti bacaan di atas. Ia akan bertanya satu per satu. Kira-kira Yesus bertanya, “Apakah kamu membunuh?” Orang itu menjawab, "Tidak.” Yesus bertanya lagi, “Apakah kamu berzinah?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Demikian seterusnya sampai pada akhirnya orang itu tidak sanggup menjawab pertanyaan atau tepatnya ajakan Yesus tentang hakikat menjalankan misi Kerajaan Allah. Begitu sulitnya orang yang dikuasai harta atau ideologi untuk diajak percaya pada kebenaran hingga Yesus mengumpamakan “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Untuk memasukkan ajaran kepada anak kecil sangat mudah. Anak kecil menerima apa saja yang digelontor oleh pengajarnya. Saking mudahnya menerima ajaran, maka pembuatan kurikulum pendidikan untuk anak sangat ketat agar anak tidak salah didik. Mengajar orang dewasa jauh lebih sulit. Orang dewasa sudah memiliki prapaham yang kemudian dijadikan benteng ideologinya. Strategi gereja memumpunkan pengajaran orang dewasa penuh tantangan, karena dalam kenyataan cukup banyak warga gereja yang sudah tertanam ideologi tertentu tidak berkehendak menjadi dewasa. Misal, meski sudah dijelaskan kisah Nabi Yunus ditelan ikan besar adalah metafor, tetap saja hal itu dipahami kisah historis. Bahkan ditambahkan dengan ikan paus agar kelihatan heroik. Alkitab adalah firman Allah sehingga tidak mungkin salah. Padahal pernyataan “Alkitab adalah firman Allah” itu sendiri adalah metafor. Sejak Jokowi berkuasa, secara kasat mata pembangunan fisik dan manusia di Papua melaju kencang. Hanya di masa Jokowi Papua dapat menyelenggarakan PON dengan fasilitas olahraga yang amat sangat baik. Konektivitas antar-daerah semakin lancar. Jalan Trans Papua sepanjang 3.462 km segera tersambungkan; tinggal 16 km lagi. Harga barang, terutama BBM, semakin terjangkau. Dalam pada itu para pembenci Jokowi tidak melihat pembangunan di atas sebagai kemajuan. Mereka sudah tertanam ideologi: apa pun salah Jokowi. Ya, memang kemajuan kemajuan Papua masih belum sempurna. Akan tetapi apa yang sudah dikerjakan oleh Jokowi jauh melebihi para pendahulunya. Mengajak berdialog dengan pembenci Jokowi sama sulitnya dengan berdialog dengan orang kaya di atas mengenai masuk ke dalam Kerajaan Allah. Masuk ke dalam Kerajaan Allah berarti menjalankan misi Kerajaan Allah dengan menghadirkan keadilan Allah, yaitu berbelarasa dan memberdayakan masyarakat marginal atau pinggiran seperti masyarakat Papua. Dengan kata lain menciptakan keadilan sosial. Tentu upaya itu tidaklah mudah. Dalam konteks bacaan di atas berbelarasa diungkapkan dengan berbagi dengan sesama. Namun orang kaya itu lebih menjalankan agama secara legalistik; boleh dan tidak boleh. Pembenci Jokowi maunya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu langsung turun dari langit tanpa perlu berpeluh. Maunya mereka langsung mendapat bagian rejeki lewat “komisi pembangunan”. Cara beragama orang kaya di atas juga mirip warga gereja yang berwatak fundamentalistik; mereka yang menggadang-gadang ideologi Alkitab tidak salah karena tulisan yang diilhamkan oleh Allah. “Pokoknya Alkitab tidak salah. Kamu liberal dan sesat!” kata mereka. Padahal, kalau mereka hidup di zaman Yesus, patut diduga mereka berdiri di barisan terdepan berteriak, “Bunuh Yesus! Salibkan Dia!”. Mengapa? Yesus itu liberal. Buktinya, Yesus lebih mementingkan bekerja menolong banyak orang ketimbang berdoa (Mrk. 1:29-39), Yesus membela murid-murid-Nya tidak mencuci tangan sebelum makan (Mrk. 7:1-23). Yesus itu radikal. Buktinya dalam bacaan Injil hari ini menjalankan Dasa Titah menurut Yesus belumlah cukup, masih ditambah perintah menjual seluruh harta dan membagikan kepada orang-orang miskin.🙏🙏🙏 Selamat terdidik🙌🙌🙌 Tuhan memberkati

Sabtu, 02 Oktober 2021

💫SABDA NYUNAR💫 KEKANAK-KANAKAN, “Everybody knows how to raise children, except the people who have them.” P. J. O'Rouke

💫SABDA NYUNAR💫KEKANAK-KANAKAN, “Everybody knows how to raise children, except the people who have them.” P. J. O'Rouke. strategi gereja dalam membina warganya memumpunkan orang dewasa, karena seperti kata Lawrence O. Richard, ”The bible really is an adult book, written by adult and for adult.”. Gereja mencerap secara umum bahwa orang dewasa adalah orangtua dalam keluarga. Mendidik orang dewasa dengan sendirinya mendidik anak-anak, karena orangtua menjadi pendidik anak-anak di keluarga.  Injil Markus 10:1-16,  Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan Yesus berangkat dari Kapernaum ke daerah Yudea dan daerah seberang Sungai Yordan. Pada saat Yesus mengajar orang-orang di sana, datanglah orang-orang Farisi untuk kembali menjajal Yesus. Kata mereka, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?” Yesus menjawab mereka dengan pertanyaan, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya.” Tanggap Yesus, “Justru karena kengèyèlanmu, maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu…” Setiba di rumah rupanya para murid belum mengerti apa yang disampaikan Yesus kepada orang-orang Farisi itu. Yesus kemudian menjelaskan kepada para murid. Setelah Yesus menjelaskan, datanglah anak-anak kecil yang dibawa orang-orang kepada Yesus. Para murid dengan sigap menghalangi dan memarahi orang-orang itu, tetapi Yesus  justru memarahi para murid. Kata Yesus,  "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah  yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil , ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka. Kita tidak hendak mengulas apakah perceraian diperbolehkan di kalangan Kristen. Dari bacaan di atas Yesus hendak mengajar perbedaan menaati hukum-hukum tertulis sehingga orang menjadi pelaku legalistik dengan pengetahuan hakikat perkawinan. Orang Farisi menonjolkan Hukum Musa yang berat sebelah karena dilihat dari sisi laki-laki, sedang Yesus menyoroti kedua sisi; laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut Yesus hendak menyampaikan hal yang jauh lebih penting, yakni menyambut Kerajaan Allah. Seperti yang sudah sering saya sampaikan kehadiran Kerajaan Allah itu berarti menghadirkan keadilan sosial dan berbelarasa serta memberdayakan pihak yang lemah.Yesus kembali menyajikan metafor anak-anak kecil dalam menyambut Kerajaan Allah. Yesus menegaskan untuk menyambut Kerajaan Allah seperti anak kecil. Ayat ini (Mrk. 10:15) sering dijadikan “ayat emas” oleh orang dewasa untuk mengelak belajar. Pokoknya apa yang dikatakan oleh pendeta di KKR ikuti saja, kata mereka. Ular yang berbicara dengan Hawa adalah iblis, kata mereka lagi. Itu namanya kekanak-kanakan atau childish, bukan seperti anak-anak atau childlike dalam ayat itu. Sikap kekanak-kanakan itu justru jauh dari maksud ayat itu. Seperti anak kecil itu apa berarti tidak perlu berpikir? Bukan, itu (sekali lagi) namanya kekanak-kanakan. Childlike berarti showing the good qualities that children have. Anak-anak selalu menaruh kepercayaan secara penuh kepada orangtuanya. Apa pun yang diberi oleh orangtuanya ia menerima dengan penuh antusias. Seorang anak kecil digendong orangtuanya menyeberang jembatan sempit. Ia tidak panik, karena ia percaya kepada orangtuanya. Itu yang dimaksud dengan seperti anak-anak atau childlike. Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah yang berarti menghadirkan keadilan sosial dan berbelarasa serta memberdayakan pihak yang lemah. Nah, ajaran Kerajaan Allah inilah yang harus disambut seperti anak-anak menyambut. Dalam kenyataan mengemban misi Kerajaan Allah itu penuh risiko dan memang seperti itulah menjadi pengikut Kristus; seperti anak percaya penuh kepada orangtuanya ketika diajak berjalan di antara semak belukar; seperti anak antusias menerima hadiah dari orangtuanya. Dalam kenyataan gereja menghadapi banyak tantangan. Cukup banyak warga dewasa tidak berkehendak menjadi dewasa. Mereka menghindari benturan iman. Mereka abai pada isu-isu etis. Mereka lebih suka makanan bayi dengan mendengar khotbah berwatak fundamentalistik. Tak jarang kita menjumpai orang-orang dengan tubuh dewasa, tetapi cara beragama mereka kekanak-kanakan.Jika menyambut Kerajaan Allah seperti anak-anak dimaknai tidak makek mikir, maka ajaran Yesus “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akalbudimu” menjadi tak berguna. Ayub sudah mengingatkan, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10). Saban akhir September selalu ada orang yang membangkitkan isu komunis seperti yang dilakukan oleh Gatot Nurmantyo (GN). Saya yakin seyakin-yakinnya mantan Panglima TNI ini tahu bahwa komunis sudah tidak ada di Indonesia, baik di kalangan sipil maupun militer. Sekarang ia sudah menjadi politikus haus kekuasaan. Ia tahu bahwa banyak rakyat Indonesia masih childish dalam berpikir. Ia menggunakan pikiran kekanak-kanakan rakyat Indonesia untuk menelan isu itu tanpa mengunyahnya demi mencari pengikut. Sama halnya dengan para fundamentalisme. Mereka tahu bahwa masih banyak warga gereja yang kekanak-kanakan; warga yang masih membutuhkan endorsement kepastian atau jaminan keselamatan seperti kanak-kanak butuh permen atau mainan. Belum lagi serbuan lewat medsos yang mengatakan bahwa Alkitab itu palsu. Makin kencanglah “kanak-kanak” itu menangis. Para  fundamentalis memenuhi kebutuhan permen itu. Amin! Haleluya! Sejenak mereka mengisap candu dan kesurupan dalam ibadah. Usai ibadah mereka kembali memeras para pekerja, mencuri uang negara, memburu rente, tidak peduli pada golongan rapuh masa pandemi,  dlsb. Halelupa! 🙏🙏🙏Selamat mendewasa🙌🙌🙌Tuhan memberkati

Selasa, 28 September 2021

KRITIK, SWARA KENABIAN

KRITIK, SWARA KENABIAN

Psikiater Limas Sutanto pernah mengatakan bahwa melayangkan kritik (ke Pemerintah) sebagai wujud keluhuran.  Keluhuran kritik terletak pada motif altruistik yang menggerakkannya. Motif altruistik merupakan keinginan untuk memedulikan dan memerhatikan kesejahteraan rakyat.Dalam kehidupan sehari-hari kritik yang dijumpai jauh dari wujud keluhuran. Limas mengajukan tiga motif yang melawan keluhuran kritik.Pertama, motif yang berakar dalam nyeri jiwani yang belum terselesaikan. Misal, orang- orang yang haus kekuasaan, namun amat kecewa lantaran tidak dapat berkuasa.Kedua, motif yang berakar dalam keinginan kuat untuk merajai dan mengendalikan. Mereka yang memiliki keinginan seperti itu adalah orang-orang yang gelisah atau cemas ketika melihat berbagai hal lepas dari kuasa dan kendali mereka.Ketiga, motif yang berakar dalam keinginan yang berlebihan untuk mendapatkan pembenaran. Mereka yang pernah melakukan banyak kesalahan dapat merasa seolah-olah kesalahan-kesalahannya tidak terlalu parah lagi hanya karena mereka gencar melontarkan kritik-kritik yang diselubungi dengan membela rakyat dan mencerca Pemerintah. 
Ketiga motif yang menggerakkan kritik di atas menghasilkan kebisingan belaka dan tidak cukup kuat menggerakkan perubahan yang menyejahterakan rakyat. Keluhuran kritik haruslah bermotif altruistik. Ketika manusia menjadi makin altruistik, ia dapat melancarkan kritik-kritik yang luhur. Di dalam kekristenan kritik bermotif altruistik dikenal dengan suara kenabian. Gereja (baca: orang Kristen) harus terus-menerus menyampaikan suara kenabian. Suara kenabian dapat lewat khotbah-khotbah, tulisan, dan penyampaian langsung ketika hak-hak rakyat dikebiri oleh penguasa, ketika penguasa menjadikan rakyat seperti budak, ketika penguasa mencuri kekayaan negara yang merupakan hak rakyat, dan lain sejenisnya. Gereja yang tak menyampaikan suara kenabian bukanlah gereja. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, 2021, TUS

Senin, 27 September 2021

ABSURDITAS, RUGI DUA KALI, SERIAL SUDUT PANDANG

Absurditas: Rugi Dua Kali!, serial sudut pandang
Mitologi Sisyphus menginspirasi Albert Camus. Ia menulisnya dalam esai berjudul Le Mythe de Sisyphe (1947). Di situ dia tampilkan filsafat absurditas. Suatu faham bahwa alam semesta tidak rasional. Segala pekerjaan berujung pada kesia-siaan. Menghadapi absurditas itu, Camus bereaksi. Melalui Sisyphus, ia anggap absurditas bukan sesuatu yang sia-sia. Bahkan pekerjaan berulang yang dilakukan yaitu mendorong batu ke puncak bukit dan batu itu menggelinding kembali ke bawah tidak dianggap terkutuk. Tidak ada yang sia-sia dalam pekerjaan apa pun. Betapa pun kadang tidak masuk akal!  Kita ikuti saja strategi Sisyphus. Apa strateginya? Ia menikmatinya! Ikhlas menerrimanya! Memang, yang dia sasar bukan hasilnya. Bukan outputnya. Sisyphus menikmati prosesnya! seperti para perempuan Nusa Tenggara Timur, penenun kain Timor, yang di saat menenun melakukan pekerjaan yang sama dan berulang-ulang. Mereka menikmati dan mencintai pekerjaan itu. Mereka menemukan makna hidup dalam tenunannya. Mereka mengerjakannya dengan gembira! Sisyphus berhasil menemukan hal menyenangkan dalam pekerjaannya. Seperti permainan sepakbola. Sebenarnya, ini permainan yang membosankan. Yang dilakukan hanya mengejar, merebut, lalu menendangnya. Itu saja! Itu pun dalam lapangan terbatas. Apa indahnya? Tetapi, para pemain menikmatinya. Penonton juga! Ada keindahan invincible yang membuat semua bahagia. Sisyphus menikmati pekerjaannya. Dia menemukan keindahan dan kenikmatan. Ini membuatnya bahagia. Dewa Zeus yang menghukum Sisyphus salah perhitungan. Dia kalah lagi! Telak! Mitos Sisyphus memberikan pesan penting. Kadang kita mengalami persoalan dan masalah yang kita tidak bisa hindari. Seorang teman baik saya sudah berupaya hidup sehat. Tidur cukup, menggunakan masker dengan baik, menyantap makanan yang bergizi, tetapi tetap terpapar Covid-19. Penyakit ini memang anarkis. Menyerang siapa pun. Tidak peduli apa pun jabatan dan profesi anda. Datangnya pun tidak diduga. Meski disiplin hidup sudah diterapkan tetap saja virus ini bisa menyentuhnya. WHO sampai mengeluarkan pernyataan bahwa mencuci tangan , jaga jarak, penggunaan masker, dan bahkan vaksin sekali pun bukan jaminan akan terhindar dari virus ini. Bah! Bila teman baik saya menyesali 'musibah' ini, dia telah salah merespons! Hidupnya akan hanya diisi dengan keluh kesah, plus, sumpah serapah. Dia rugi dua kali! Emosi terganggu. Imunitas melemah. Penyakit lebih parah! Para ahli ilmu kedokteran sudah mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 ini sudah jadi sindemi. Penyakit ini telah merangsang bangkitnya penyakit-penyakit lain yang sudah ada dalam tubuh kita. Banyak korban Covid-19 yang penyakitnya makin kronis gara-gara penyakit-penyakit lain bangkit dan bersinergi. Moga hal ini dijauhkan dari diri kita! Janganlah! Kita harus lebih kuat. Oleh karena itu, jangan gelisah dan terus-menerus mengeluh. Kita harus belajar menerimanya, bahkan mencintai dan menikmati situasi yang ada. Susah memang! Tetapi kita harus tetap cool dalam segala keadaan. Bersabar dalam segala situasi! Lalu, berpikir apa aspek positif yang harus aku kerjakan. Now! Jangan uforia, jangan senang sesaat hanya karena sudah vaksin ke 2, atau bahkan booster vaksin 3, liat sudah banyak boom yang ke 3 di negara-negara laen. Bukan bearti pesimis juga, tapi waspada lebih baik. Golongan rentan sekarang berubah, golongan rentan adalah golongan yang blom vaksin ke 2 atau tidak mau vaksin. Karena mereka penerima risiko terbesar, ini golongan lemah. Ingatlah, teladan Yesus untuk selalu melindungi golongan lemah, makanya seharusnya standar syarat vaksin ke 2 untuk semua kegiatan menjadi syarat mutlak, kalau tidak kita sebetulnya tidak meneladan Kristus, karena kagak pro dengan golongan rentan. Janganlah pula kita malah membuka peluang menambah kapasitas yg membuka peluang berkerumun, walaupun dengan alasan sudah prokes. Jadi ingat peristiwa saat Yesus menghardik murid-muridNya. Perahu mereka diterjang badai. Para murid panik. Mereka ketakutan. Berteriak-teriak tidak keruan. Mengeluh seperti orang kesurupan. Kehilangan kontrol diri. Padahal kepanikan tidak menolong apa pun. Tetapi ekspresi mereka tanda bahwa iman mereka kualitas minyak oplosan. Sudah campuran. Tak murni lagi! Yesus yang lagi enak tidur langsung dibangunkan. Padahal mungkin lagi mimpi enak! Kanjeng Yesus pasti kaget. Dia langsung bangkit. Di hadapanNya murid-muridNya pucat pasi, ketakutan tidak karuan! Lalu, Yesus menghardik keras ke arah topan, sekaligus membentak murid-muridNya. Saat topan mereda, Yesus melihat murid-muridNya. Saya pastikan Yesus menggeleng dan menggaruk-garukan kepalaNya yang tidak gatal, Dia katakan:” Mengapa kamu takut? Mengapa kamu tidak percaya…?” Ada di dekatKu pun kamu ketakutan. Absurd! Tak masuk akal. Mentalitas looser! Pertanyaan Yesus untuk kita semua: mengapa kamu tidak percaya...? Pesan cerita ini sederhana. kita butuh kemampuan mengontrol persoalan dan masalah. Ini benar! Tetapi dalam banyak situasi, yang lebih butuhkan adalah mengontrol diri sendiri! Tetap tenang dan adem di dalam segala situasi, selalu waspada, jangan terpancing untuk kesenangan sesaat atau uforia. Ombak dan gelombang yang di dalam diri kita sering jauh lebih besar daripada yang terjadi di luar kita. Redakan ketakutan dan kegelisahan. Bila gagal mengontrol diri, kita rugi dua kali! Bahkan rugi 3 kali. STT BAPTIS INJILI, 2021, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO

Sabtu, 18 September 2021

KENYATAAN DOA, MENGERTI YANG AKU IMANI, SERIAL DIMENSI DOA

KENYATAAN DOA, MENGERTI YANG AKU IMANI, SERIAL DIMENSI DOA

Doa bukan merupakan jalan untuk lari dari kenyataan hidup, melainkan sebuah upaya penyelidikan kehendak Allah dan kehadiranNya didalam tanda-tanda zaman serta peristiwa-peristiwa hidup, untuk menemukan keputusan yang seiring sejalan dengan kehendakNya.  Doa adalah tenaga hidup yang mempengaruhi harapan terhadap diri kita sendiri dan terhadap sesama serta menembusi hari manusia (1 Korintus 13). Doa biasanya dihubungkan dengan meminta, itulah sebabnya ada istilah permintaan doa atau permohonan doa. Seolah dalam doa itu kita hanya meminta atau memohon, betul begitukah? Kita lihat bahwa doa mempunyai cakupan yang lebih luas daripada hanya meminta dan itu terlihat dalam alkitab, dalam alkitab doa bukan hanya meminta tapi berteriak, sorak sorai, berkeluh kesah, bersujud, berseru, bersyukur, memuji, memuja, meratap, mengadu, menyembah, mengagungkan, memanggil, dll. Banyak kita lihat umat memperlihatkan doa yang sangat emosional, apakah memang doa adalah percakapan yang emosional? Emosi memang bagian dari hidup, tapi kalau kita lihat, kita kaji, dan kita simak, doa juga merupakan penjabaran dari akal budi, “AKU BERDOA DENGAN ROHKU, TETAPI AKU AKAN BERDOA JUGA DENGAN AKAL BUDIKU” (1 Korintus 14:15). Sebetulnya, kepada siapa kita berdoa? Doa-doa diarahkan kepada Allah. Umat Kristiani berdoa kepadaNya melalui perantaraan Yesus Kristus di dalam Roh Kudus. Jikalau kita berdoa kepada Yesus, harus diperhatikan bahwa doa itu dialamatkan kepada Allah Tritunggal, maksudnya, kita berdoa dalam dan Bersama Yesus di dalam kekuatan Roh Kudus Allah sendiri. Kenapa sich kita berdoa? Kebanyakan dari kita berdoa karena takut dan gentar pada Allah, ketika manusia berhadapan dengan hal yang tidak dapat dikuasai apalagi dipahami maka akan nada rasa takut dan gentar, misalkan  kematian, gempa bumi, gunung Meletus, topan, petir, dll. Di hadapan hal atau kuasa seperti itulah, manusia merasa kecil dan tak berdaya, sumbernya darimana? Kuasa apa yang menyebabkan? maka hal atau kuasa itu dianggap misteri atau MYSTERIUM TREMENDUM (misteri yang dahsyat menggentarkan atau tak terpecahkan), yang berikutnya, kebanyakan dari kita berdoa karena merasa tertarik dan terpesona kepada Allah, ketika manusia merasakan sesuatu yang baik, menyenangkan, membahagiakan, menentramkan, dan menakjubkan, dihadapan hal atau kuasa seperti itu manusia merasa aman, damai dan bahagia, seperti ketika berhadapan dengan rejeki, hasil panen, pergantian malam dan siang, kelahiran, kebahagiaan, yang bagi manusia juga misteri, sumbernya darimana? Kuasa apa yang menyebabkan? Maka misteri itu dianggap menggemarkan atau MYSTERIUM FASCINOSUM (misteri yang mengasyikan atau menggemarkan). Terhadap misteri Allah, yang menggentarkan sekaligus menggemarkan, manusia menjadi gentar tapi juga gemar, karena sikap gentar dan gemar itu dari kalbu hatinya atau nuraninya mulailah manusia memuja dan meminta, pujaan dan permintaan itu terucap keluar melalui bibir manusia dan menjadi kata-kata, itulah doa, jadi manusia berdoa karena merasa gentar dan gemar kepada Allah. Dalam doa, manusia memohon kepada Allah, namun cara Allah mengabulkan permintaan itu tidak selalu sesuai dengan apa yang dibayangkan manusia. Dalam kebebasanNya, Allah dapat saja mengabulkan doa dengan cara yang sama sekali berbeda dengan pemikiran manusia, itulah misteri Allah. Bahkan mungkin Allah mengabulkan doa dengan cara yang bertentangan dengan pemikiran manusia. Pada waktu kita meminta kesembuhan, mungkin yang Allah berikan adalah kekuatan untuk menghadapi kenyataan bahwa kita harus hidup dengan mengidap penyakit tersebut. Pada waktu kita meminta sesuatu pada Allah, mungkin Allah malah membuka kesempatan supaya kita menyumbangkan sesuatu. Dengan begitu, Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Walaupun bukan itu yang kita inginkan, tetapi itulah kebutuhan kita yang sesungguhnya. Maka kita seharusnya paham apa yang dituliskan dalam injil Matius 6 ayat 8, “BAPAMU MENGETAHUI APA YANG KAMU PERLUKAN SEBELUM KAMU MINTA KEPADANYA”. Terkadang, kita menyakini kalau terkabulnya doa tergantung dari factor orang yang berdoa, makanya terus ada yang menyatakan TEAM PENDOA, talenta saya adalah PENDOA, terus ada yang mendapuk dirinya sebagai PENDOA, yaitu terkabulnya doa dipahami karena kuat iman dan gigihnya doa seseorang, nah…kalau doanya tak terkabul, maka doanya makin emosional lagi, atau malah frustasi ngambek, kaya anak kecil minta tak dikasih terus merengek dan ngambek. Seharusnyalah doa itu rasional bersifat realitis, sadarilah tidak setiap doa dapat terkabul. Karena terkabulnya doa bukan tergantung dari yang berdoa, melainkan sepenuhnya tergantung dari kewenangan Allah, karena itu doa seharusnya tidak mendesak tapi tenang dan pasrah. Sering orang beranggapan kalau Allah maha kuasa, maka Allah pasti dapat mengabulkan setiap doa, seharusnya pemikiran yang benar, benar bahwa Allah maha kuasa, dan karena Allah maha kuasa maka Allah punya hak untuk dapat mengabulkan doa atau menolak doa. Orang kadang merasa Allah itu miliknya sehingga pasti mengabulkan doanya, apa itu tidak membuat Allah seperti pembantu kita malah? Allah dijadikan untuk kepentingan diri kita, seharusnyalah orang matang berpikir bahwa Allah tidak dapat dimiliki ataupun dipengaruhi oleh manusia, Allah itu berdaulat harus disadari penuh, sehingga Allah tidak berkewajiban mengabulkan setiap doa. Dalam doa pun kita sering terjebak kedalam sikap merasa diri lebih benar dan lebih rohani dibandingkan orang lain coba kita amati Lukas 18 :9 – 14, dan kaitkan dengan matius 23:3, belajarlah banyak tentang doa orang Farisi yang dikritisi Yesus. Jikalau, doa adalah mantra, maka pastilah ada rumusan doa, ada kunci kata-kata yang harus diucapkan, dan selalu diucapkan, apakah Doa Bapa Kami itu juga dapat diartikan sebagai sebuah mantra? Tidak, karena kita diberi kebebasan untuk memeluk anugerah Tuhan berupa doa dimana merupakan ungkapan hati dan juga akal budi kita di hadapan Tuhan, bebas ….. dan itu tak selalu dalam rumusan Doa Bapa Kami, tapi lewat rumusan Doa Bapa Kami, Yesus Tuhan ingin memberikan teladan tentang sebuah doa, yang pada latar belakangnya Yesus Tuhan ingin meneladankan sebuah contoh doa yang beda dengan doa yang dilakukan oleh orang Farisi, yang menjadi tradisi doa Farisi saat itu. Apakah dalam doa umat Kristiani juga ada semacam mantera? Ada orang yang mengira bahwa dalam doa umat Kristiania da kalimat tertentu yang perlu diucapkan pada tiap doa, yang berfungsi sebagai mantera, kalimat itu adalah “dalam nama Yesus” yang diambil dari Yohanes 14:13,14 dan Yohanes 16:23 “…… dan apa juga yang kamu minta dalam namaKu, Aku akan melakukannya …… jika kamu meminta ….. segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan kepadamu dalam namaKu”. Ada lagi rumusan yang sering keliru dianggap mantera adalah Bapa, Putra dan Roh Kudus, yang merujuk pada meterai baptisan yang diambil dari Matius 28 :19. Tidaklah heran apabila ada salah pengertian seperti itu, karena setiap agama purba percaya bahwa perkatan atau kalimat tertentu dapat bersifas magis dan mengandung kuasa atau kekuatan, entah itu protektif, produktif ataupun destruktif. Apa yang disebut oleh orang Jawa kitab Primbon memuat berbagai macam mantera. Lalu apa sebetulnya berdoa dalam nama Yesus atau dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus? Bila dikaitkan dengan latar belakang ayat-ayat alkitab tsb di atas, Yesus Tuhan mengucapkan kalimat itu untuk menyiapkan para rasul menghadapi waktu di mana Yesus Tuhan tidak berada lagi di tengah para rasul secara fisik, dan itu merupakan penugasan yang harus diemban. Yesus Tuhan menginginkan para rasul meneruskan pola hidup yang selama ini ditempuh oleh Yesus Tuhan. Untuk itu Yesus Tuhan menyuruh para rasul berdoa, menyuruh para rasul memetereikan sebuah tanda, yang maknanya adalah menyelaraskan hidup para rasul atau hidup kita dengan hidup Yesus Tuhan, atau memetereikan hidup para rasul atau hidup kita dengan hidup serta kasih karya penyelamatan Allah dari waktu ke waktu, yang dahulu jaman bumi dicipta sampai Israel dalam nama Bapa, dalam jaman Yesus Tuhan hidup di bumi dalam nama Putra, serta dalam jaman para rasul, gereja, bapa-bapa gereja sampai kedatangan kedua kali Yesus Tuhan dalam nama Roh Kudus. Kita diminta memetereikan hidup kita selaras kasih dan karya penyelamatan Allah. Setiap kali kita berdoa, sebetulnya kita patut bertanya dalam batin kita, apakah Yesus bila ada di tempat kita akan berdoa seperti kita? Apakah doa kita sudah selaras dengan kehidupan yang diteladankan Yesus Tuhan? Apakah doa kita sudah selaras dengan kasih dan karya penyelamatan Allah (Bapa, Putra, Roh Kudus) yang sudah dinyatakan kepada kita? Contoh sederhana,  kalau kita berdoa minta kekayaan? Walaupun doa itu diucapkan dalam nama Yesus Tuhan atau dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, apakah doa itu selaras dengan gaya hidup Yesus? Apakah doa itu selaras dengan kasih dan karya penyelamatan Allah (Bapa, Putra, dan Roh Kudus) sepanjang masa? Sebab Yesus Tuhan tidak akan meminta kekayaan, sebab kasih dan karya penyelamatan Allah tidak berkaitan dengan kekayaan. Begitu pun ketika kita berdoa minta menang terhadap sesuatu dan lawan kalah, apakah Yesus Tuhan akan begitu? Apakah kasih dan karya penyelamatan Allah berkaitan dengan menang kalah? Berdoa dalam nama Yesus Tuhan sebenarnya adalah sebuah pengakuan bahwa kita sendiri sebetulnya tak lah berhak menyampaikan doa itu, melainkan Yesus Tuhanlah yang memungkinkan dan mendukung doa kita, kasih dan karya penyelamatan Allah (Bapa, Putra, dan Roh Kudus) sepanjang masa itulah yang memungkinkan kita berdoa, “ ……. Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Ibrani 8:6), Yesus Tuhanlah pengantara manusia dan Allah, kasih dan karya penyelamatan Allah sepanjang masa itulah pengantara manusia dan Allah. Tidak ada kalimat atau mantera yang dapat menjadikan doa kita lebih berkhasiat, dalam doa kita tidak ada mantera, dan memang tidak perlu ada. Inilah salah satu misteri hubungan manusia dengan Allah, di dalam menyatakan pertolonganNya, Allah tidak tergantung pada kata-kata yang kita ucapkan, Doa tidak tergantung pada perkataan kita, tapi pada Allah, Sang Maha, tergantung pada Allah yang berkehendak. Dalam doa, kita boleh datang sebagai manusia yang utuh, utuh antara kata dan rasa, supaya wajah kita bukan topeng, dalam doa kita boleh datang dengan wajah yang sesuai dengan hati kita, dalam doa kita tak perlu menyembunyikan perasaan kita. Kehidupan doa dapat timbul walaupun orang berada dalam keadaan kuwat dan stabil, kita patut berbicara kepada Allah meskipun kita tidak sedang membutuhkan sesuatu, hubungan yang sehat antara ayah dan anak tidak saja terjadi saat anak membutuhkan pertolongan tetapi setiap saat. Doa juga tidak perlu kita penuhi dengan kata-kata, doa sebaiknya luput dari bahaya inflasi kata, kata-kata berhamburan dengan murah dan mudah, baik nyaring maupun di dalam hati. Sebaiknya di dalam doa tak perlu mengobral kata, “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi, oleh sebab itu biarlah perkataanmu sedikit” (Pengkhotbah 5 : 1). Kadang kita perlu belajar berdoa tanpa kata, yaitu berdiam diri di hadapan Tuhan, Yesaya 30 : 15 “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu”. Ada juga yang memandang, tentang Lukas 22 : 42 dan Matius 6 : 9 – 13, serta Lukas 11 : 2 – 4, tentang “kehendakMulah yang Jadi”. Banyak yang terus yang menghubungkan hal tersebut dengan waktu, waktunya Tuhan yang menentukan. Sebetulnya, ketika ada di taman Getsemani, Yesus Tuhan sedang meneladankan bahwa sebagai manusia, liatlah teladan aku sebagai manusia, maka kamu, manusia kalau berdoa dalam kesulitan apapun, sebesar apapun kesulitan itu, dalam doa itu perlihatkanlah pengakuan bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, akuilah ke Maha an Tuhan, MANUSIA PUNYA KEMAUAN TAPI TUHAN PUNYA KUASA, Manusia diberi anugerah untuk meminta atau memohon tetapi kewenangan akan jawab doa adalah kewenangan Tuhan. Tuhan mengerti akan kebutuhan kita, Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita tapi bukan keinginan kita (Yakobus 4 : 3, Matius 6: 8, Filipi 4:19). Karena salah satu misteri doa adalah memasukan perasaan Tuhan dalam doa, bukan mengeluarkan perasaan kita. Manusia berbeda dengan tumbuhan dan binatang, manusia bukanlah sirkus atau taman botani, manusia dapat menjawab dan bertanggung jawab pada Allah, itulah dimensi doa, doa juga merupakan jawaban dan pertanggungan jawab manusia pada Allah. Karena itulah manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26, renungkan 2 Korintus 4 : 4 dan Kolose 1 : 15), artinya manusia mempunyai hubungan dengan Allah bahkan menjadi subjek di depan Allah, menjadi pribadi yang dapat anugerah bertatap muka dengan Allah, di situlah dimensi doa, menjadi jawab dan pertanggung jawaban manusia kepada Allah. Selamat memahami Doa, Tuhan memberkati, STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO

POINT MAKNA DOA BAPA KAMI, SERIAL DIMENSI DOA

POINT MAKNA DOA BAPA KAMI, SERIAL DIMENSI DOA
Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita. Berikut ini akan kami jelaskan makna menyeluruh doa Bapa Kami yang akan kami ulas secara ringkas. Doa Bapa Kami, Bapa Kami, yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin. Berikut ini adalah penjelasan tentang point makna dari Doa Bapa Kami pd gereja baptis injili indonesia yang harus dipahami dengan baik, sebab ini menjadi salah satu cara beribadah agama Kristen yakni dengan memanjatkan doa untuk memuji dan memuliakan nama-Nya.
Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.

1. Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Yesus memberi nasihat pada para murid supaya mereka tidak berdoa seperti orang munafik dan hanya dijadikan simbol Kristen yang selalu memperlihatkan saat sedang berdoa di hadapan banyak orang.

2. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut.  Yesus juga mengajarkan untuk tidak bertele-tele dalam berdoa seperti seseorang yang tidak mengenal Allah sehingga secara langsung bisa menyampaikan doa yang dibutuhkan pada Allah.

3. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut.  Kehidupan Kekal, Dalam bahasa Aramaic, Bapa memiliki arti panggilan anak pada ayahnya dan karena kasih-Nya pada kita sebagai umat.Maka Yesus mengijinkan kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa kita. sebab Yesus sudah mengangkat kita sebagai saudara dan saudari-Nya. Setiap kali kita mengucapkan Bapa, sudah seharusnya kita mengingat jika kita sudah diangkat Allah Bapa menjadi anak-Nya karena pertolongan dari Yesus Kristus.

4. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Mengangkat Iman, Kata “kami” menjadi pengingat kita untuk memanggil Allah dengan sebutan Bapa karena Kristus. Saat mengucapkan kata ini berarti kita juga harus membayangkan Kristus yang sudah mengajarkan pada kita. Semua untuk memanggil Allah sebagai Bapa kami sebab Kristus tidak hanya mengangkat kita namun juga telah mengangkat semua saudara-Nya. 

5. Doa Bapa Kami ini adalah doa gereja yang diperuntukkan pada Allah Bapa yang sudah mengangkat kita semua sebagai anak-anak-Nya. Dengan ini, sudah seharusnya kita merenungkan bahwa makna Doa Bapa Kami, sangat besar yang sudah dibayar oleh Tuhan Yesus untuk mengangkat kita menjadi anggota dari keluarga Allah yakni dengan cara mati di kayu salib.

6. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut.. Mengasihi dan Merelakan, Ini bermakna jika kita semua memiliki seorang Bapa yang ada di surga yang selalu mengasihi kita sampai merelakan Anak-Nya wafat di salib bagi kita semua dan ini dilakukan agar semua dosa serta kesalahan kita terampuni dan kita bisa mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi-Nya. Mengasihi dan merelakan, menjadi pedoman baku dalam kehidupan kita.

6. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut.. Dimuliakanlah Nama-Mu, Datanglah Kerajaan-Mu, Kata-kata ini bermakna kerinduan kita semua yang sangat menginginkan semakin banyak orang untuk mengenal Allah dan ini juga mengartikan jika kita sebagai umat-Nya sudah dipakai Allah untuk menjadi alat-Nya dalam memuliakan nama Allah. Ini juga sebagai pengingat supaya kita tidak hanya selalu mengejar kemuliaan kita sendiri dalam segala hal di dunia, sebab semua yang ada pada diri kita sebenarnya adalah milik dari Allah sehingga kita harus memakainya dalam nama kemuliaan Tuhan.

7. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. . Jadilah Kehendak-Mu diatas Bumi Seperti di Dalam Surga, Kata ini bermakna penyerahan diri dengan seluruh kerendahan hati kita pada Tuhan dan juga masyarakat. Kita sebagai manusia, seringkali memaksa saat memohon pada Tuhan. Akan tetapi dengan kata yang terdapat dalam doa Bapa Kami ini, Yesus mengajarkan kita untuk selalu berserah pada Bapa. Sebab Bapa mengetahui semua yang kita butuhkan dan terbaik, tidak hanya untuk di dunia namun juga kehidupan kekal di surga.

8. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang 
sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Berilah Kami Rejeki Pada Hari Ini, Kata dalam doa Bapa Kami ini memiliki arti jika Yesus sangat mengasihi dan peduli pada kita sehingga Yesus mengajarkan doa ini pada kita. Ini menjadi pengingat jika rejeki kita merupakan berkat yang kita peroleh dari Tuhan dan Tuhan sudah mengijinkan kita untuk memperoleh rejeki pada hari ini. Berilah Kami Rejeki Pada Hari Ini, serta mendapatkan kesehatan serta hidup sampai saat ini dan membuat kita bisa menikmati rejeki yang sudah Tuhan berikan untuk kita. Ini juga mengingatkan makna Doa Bapa Kami kita pada orang yang sedang berkekurangan, sebab rejeki yang kita peroleh hari ini tidak sepenuhnya milik kita, namun juga harus kita bagi pada orang yang berkekurangan.serta mendapatkan kesehatan serta hidup sampai saat ini dan membuat kita bisa menikmati rejeki yang sudah Tuhan berikan untuk kita.

9. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. . Dan Ampunilah Kesalahan Kami Seperti Kamipun Mengampuni yang Bersalah pada Kami. Kita bisa melihat jika tidak ada penekanan pada kata :ampunilah kami” namun lebih kepada diri kita yang mengampuni orang lain yang sudah bersalah kepada kita sehingga nantinya kita juga bisa diampuni oleh Bapa. Tuhan akan mengampuni semua kesalahan kita, jika sebelumnya kita juga sudah mengampuni sesama yang bersalah pada kita. Tentu saja, perkataan ini akan sangat sulit diucapkan khususnya saat kita sedang merasa sakit hati dengan sikap yang dibuat orang lain pada kita. 

10. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Dan Janganlah Masukkan Kami ke dalam Pencobaan, Tetapi Bebaskanlah Kami dari yang Jahat. Makna dari perkataan ini adalah kita harus menyadari jika kita hanyalah manusia lemah yang sangat mudah jatuh ke dalam dosa dan juga kesalahan. Kita sebagai manusia belum sepenuhnya bebas dari segala cobaan dan juga godaan seperti masalah keluarga dan pekerjaan, masalah kehidupan, menghadapi sakit sebuah penyakit, ketakutan akan masa depan dan sebagainya. Ini juga sebagai pengingat jika kita tidak boleh terlalu sombong dan yakin jika kita tidak akan jatuh ke dalam dosa kembali. Sebab ada kalanya saat seseorang sedikit saja menyinggung perasaan kita, maka kita akan langsung kehilangan rasa kesabaran. Maka lebih baik kita selalu berjaga-jaga dan terus meminta kekuatan pada Tuhan dan bergantung pada-Nya.

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari doa Bapa Kami yang terbilang singkat dan sederhana, sebenarnya renungan singkat kristen ini memiliki arti yang sangat mendalam. Dengan lebih meresapkan doa Bapa Kami ini, kita juga bisa menilai apakah doa yang sudah kita ucapkan selama ini sudah cukup baik. Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut sehingga kita bisa melaksanakan cara berdoa yang benar. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO, 2017

Sabtu, 11 September 2021

💫SABDA NYUNAR💫BERSAKSI

💫SABDA NYUNAR💫, Doyong Kepenyintasan dalam Kesaksian
Adegan “kesaksian” 1: Seorang laki-laki Kristen bersaksi di hadapan jemaat. Ia seorang pekerja keras dan rajin ke gereja. Berkat kerja kerasnya bertahun-tahun ia menjadi pengusaha kaya. Dengan kekayaannya ia mudah mencari teman. Saban libur akhir pekan ia habiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Ia tidak lagi ke gereja. Tak seberapa lama usahanya ambruk. Ia bertobat dan kembali lagi rajin ke gereja. Tak butuh waktu lama ia kembali mengibarkan bendera usahanya dengan gemilang. Ia menyampaikan kepada jemaat, apabila kita mau bertobat, maka Tuhan akan memberi segala kebutuhan kita dengan berlimpah. Ada amiiiin? Amiiiin!

Adegan “kesaksian” 2: Seorang perempuan Kristen bersaksi di hadapan jemaat. Ia mengaku belum lama berpindah ke agama Kristen. Sebelumnya ia bersaksi hidupnya berantakan, jatuh miskin, dan sakit keras. Ia rindu dijamah oleh Tuhan. Suatu malam ia merasa dijamah oleh Yesus dan penyakitnya tersembuhkan. Singkat cerita ia dibaptis dan menjadi Kristen. Sejak itu hidupnya berubah 180 derajat, berkelimpahan. Ia laris diundang oleh jemaat Kristen untuk bersaksi. Ia menyampaikan kepada jemaat agar terus rindu dijamah dan merasakan Tuhan, maka hidup orang Kristen berkelimpahan. Ada amiiin? Amiiiin!

Apa yang dapat kita pelajari dari dua contoh “kesaksian” di atas? 

Dua cuplikan “kesaksian” di atas adalah contoh doyong kepenyintasan atau dalam bahasa Jawa disebut survivorship bias. Doyong kepenyintasan ialah kesalahan logika yang disebabkan pemusatan perhatian pada orang atau benda yang berhasil atau selamat melewati suatu proses dengan mengabaikan mereka yang tidak berhasil atau tidak selamat sehingga mengarahkan kesimpulan yang salah. Dalam kenyataan ada banyak orang Kristen sejak kecil hidup saleh dan penuh cinta kasih seperti yang diajarkan Kristus. Mereka tidak pernah lalai beribadah Minggu, mengikuti persekutuan wilayah di luar Minggu, dan berbuat kebajikan bagi sesama. Namun mereka tetap hidup dalam kemiskinan. Dalam pandemi ini banyak orang Kristen, juga pendeta, meninggal dunia akibat Covid19. Apakah mereka orang-orang tak beriman? Contoh lain doyong kepenyintasan, seorang murid dari satu sekolah meraih medali emas olimpiade matematika. Masyarakat kemudian mencerap sekolah itu bagus kualitasnya tanpa melihat nilai keseluruhan murid-murid di sekolah itu.

Doyong kepenyintasan dipopulerkan oleh Abraham Wald, seorang ahli statistik Universitas Columbia. Pada Perang Dunia II AU AS meminta penguatan bagian-bagian pesawat yang ditembaki musuh. Wald membantah permintaan AU AS itu. Justru bagian-bagian terkena peluru musuh tidak perlu diperkuat, kata Wald, karena dalam kondisi tersebut pesawat dapat kembali dengan selamat. Yang diperkuat adalah bagian yang tidak tertembak. AU AS mengabaikan fakta pesawat-pesawat yang jatuh ditembak.

Kesaksian dari kata dasar saksi. Saksi di dalam Alkitab dipungut dari istilah yuridis. Saksi (martus) merupakan istilah pengadilan di Athena, Grika Kuno, yang masih digunakan dalam pengadilan modern. Orang yang disumpah menjadi saksi akan bersaksi (martureo) dengan menuturkan apa yang dilihat, didengar, atau dialaminya sendiri. Dengan demikian saksi haruslah objektif. Kesaksian (marturion) objektif di pengadilan dapat meringankan atau memberatkan terdakwa. Objektivitas kesaksian akan terusik,apabila terdakwa adalah rekan, saudara, atau orang miskin atau lemah sehingga saksi bersimpati sehingga menggoyahkan objektivitas. Sungguh sulit untuk menjadi seorang saksi. Apa pun kesaksiannya akan ada pihak yang dimaslahatkan dan dalam waktu yang bersamaan ada pihak yang dilancutkan.

Apabila saksi di pengadilan dibutuhkan keterangan objektifnya, menjadi saksi Kristus tidak cukup dengan berbicara tentang kebenaran Kristus. Seperti kata Yesus dalam Injil Lukas 24:48: “Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” Semuanya ini apa? Semuanya ini adalah keseluruhan narasi Injil Lukas. Menjadi saksi Kristus berarti menyaksikan seluruh karya Kristus dengan merefleksikannya dalam perilaku dan gaya hidup. Orang Kristen bersaksi bukan dengan menceritakan kisah hidupnya yang dijamah Yesus dan diberkati oleh Allah, kemudian memaksa para pendengar untuk mengikuti kisah hidup orang itu. Itu namanya survivorship bias.

Gereja adalah saksi Kristus dan untuk memberikan kesaksian itu gereja mendorong warganya untuk melayani. Melayani seperti apa? Melayani seperti Kristus melayani di dalam narasi Injil. 🙏🙏🙏Selamat Bersaksi🙌🙌🙌Tuhan memberkati

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggi...