Jumat, 04 Agustus 2023

PERSEPULUHAN DALAM SEJARAH KUNO, SERIAL SUDUT PANDANG

Keterangan Gambar:
Tablet paku tentang akun pembayaran esru (persepuluhan) dari arsip Ebabbar (sumber: en.wikipedia/tithe

PERSEPULUHAN DALAM SEJARAH KUNO, SERIAL SUDUT PANDANG

Pada artikel saya kali ini, saya tidak membahas tentang persepuluhan dari satu perspektif, alias perspektif Alkitabiah, melainkan juga berdasarkan perspektif sejarah kuno.

Baca ini http://titusroidanto.blogspot.com/2023/05/bagaimana-pandangan-saya-soal.html

Bagi pemerhati sejarah Alkitab, saya yakin ada yang bertanya-tanya,

"Apakah ada catatan atau keterangan historis terkait kira-kira Abraham mendapat ide dari mana untuk membawa sepersepuluh tersebut kepada Melkisedek?" 

Liat ini
https://www.instagram.com/reel/Cu0Xy0MNOfj/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==

"Bukankah tidak ada catatan tentang perintah Ilahi pada Abraham saat itu?" 

"Apakah memang di jaman itu betul-betul sudah menjadi tradisi memberikan sepersepuluh dari pendapatan?"

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang memiliki jawaban historis. 

Kebiasaan memberi persepuluhan dengan tidak dimulai oleh Taurat Musa dan bukan kebiasaan khas para leluhur Israel, karena, persepuluhan dilakukan juga oleh bangsa-bangsa kuno lainnya.

Ada kekeliruan khotbah dan pemahaman tentang persepuluhan. Kata yang benar adalah "Persepuluhan" yang artinya "sepuluh persen dari pendapatan" adalah milik Tuhan. Kata ini entah mengapa menjadi populer sebagai "Perpuluhan" yang berarti "berpuluh-puluh", sehingga ada beberapa pelayan Tuhan yang membenarkan konsep bahwa jemaat membawa 20% bahkan 90 sekian persen dari hasil pendapatannya. Ini keliru dan akan terus keliru jika khotbah tentang persepuluhan selalu menitik beratkan jumlah bukannya cara dan peruntukannya. Selain itu, banyak yang mengira bahwa dalam Alkitab persepuluhan hanya dipungut dan diberikan kepada rumah Tuhan dan untuk para imam (terumah) dan orang Lewi (persepuluhan pertama), ini tidak sepenuhnya benar sebab persepuluhan juga dipungut dan diberikan kepada raja (1Samuel 8:15,17). Narasi dalam kitab Samuel jika dipadukan dengan pemberian persepuluhan oleh Abraham maka bisa dilihat bahwa persepuluhan sejak awal bukan bersifat kerohanian saja tapi juga sekuler yang berdasarkan pada kekuasaan teritorial.

Menariknya, ada naskah kuno diluar Alkitab tentang persepuluhan. Ada penemuan arkeologinya,  tepatnya melalui dokumen-dokumen pada tablet cuneiform (tulisan paku).

Praktik persepuluhan mirip dengan praktik Esretu – "ešretū", yaitu pajak sepersepuluh Ugarit dan Babilonia. Ugarit adalah sebuah kota Fenesia pada pantai Siria utara, saat ini namanya Ras Syamra. 

Di bawah ini tercantum beberapa contoh spesifik dari persepuluhan Mesopotamia, saya ambil dari The Assyrian Dictionary of the Oriental Institute of the University of Chicago, Vol. 4 "E" hal. 369 yang diambil dari salah-satu tablet cuneiform.

[Mengacu pada pajak sepuluh persen yang dikenakan pada pakaian oleh penguasa setempat:] 

"Istana telah mengambil delapan pakaian sebagai persepuluhan Anda (pada 85 pakaian)"

"... sebelas pakaian sebagai persepuluhan (pada 112 pakaian)"..

" ... (dewa matahari) Shamash menuntut persepuluhan..."

"empat mina perak, persepuluhan [para dewa] Bel, Nabu, dan Nergal..."

"... dia telah membayar, selain persepuluhan untuk Ninurta, pajak gardiner"

"... persepuluhan kepala akuntan, dia telah menyerahkannya kepada [dewa matahari] Shamash"

"... mengapa kamu tidak membayar persepuluhan kepada Nyonya Uruk?"

... (seorang pria) berutang jelai dan kurma sebagai keseimbangan persepuluhan dari ** tahun tiga dan empat "

"... persepuluhan raja di jelai kota..."

"... berkenaan dengan tua-tua kota yang (raja) telah **dipanggil untuk (membayar) persepuluhan ..."

"... kolektor persepuluhan negara Sumundar..."

"... (Ebabbar resmi di Sippar) yang bertanggung jawab atas persepuluhan


Sebagai catatan, yang dimaksudkan dengan Nyonya Uruk adalah Innana, dewi cinta Mesopotamia kuno. Oleh orang Akkadia, Babilonia, dan Assiria dikenal dengan nama Ishtar.

Dimasa Abraham, persepuluhan adalah suatu kebiasaan Ugarit (sekitar Kanaan) dan Proto-Babel (Mesopotamia), oleh karena itu, Abraham yang berasal dari Mesopotamia, dan Melkisedek yang adalah imam di Salem yang ada di Kanaan dan dekat dari Ugarit, tentu familiar dengan persepuluhan yang saat itu peruntukannya kepada raja dan pihak kuil. Teks 1 Samuel mengacu pada kebiasan ini. Dikemudian hari, oleh Musa, pemungutan dan peruntukan persepuluhan diatur lebih rapih.

Jika merujuk kepada tindakan Abraham (Kejadian 14:17-20) dan ramalan Samuel tentang persepuluhan (1 Samuel 8:15,17), terlihat ada perbedaan motivasi. Abraham memberi dengan dorongan hati tetapi dalam 1 Samuel 8:15,17 rakyat  diramalkan akan dipaksa untuk memberikan persepuluhan pada raja. Abraham jelas memberikan dengan kerelaan hati padahal dia tidak diwajibkan secara adat dan teritorial (karena dia bukan orang Salem), sedangkan, untuk kasus 1 Samuel ini merupakan kewajiban rakyat pada raja yang mengacu pada adat istiadat dijaman itu (beda dengan persepuluham Musa yang motivasi dan peruntukannya adalah kerohanian). 

Tindakan spontan Abraham dan perkataan Samuel tentang pemberian persepuluhan pada raja mungkin sulit dipahami, tetapi, penemuan-penemuan arkeologi dan manuskrip kuno tentang kebiasaan pemberian persepuluhan kuno di Kanaan dan Mesopotamia telah membantu memecahkan pertanyaan-pertanyaan dalam Alkitab terkait sejarah persepuluhan. Ini seperti sejarah sunat, yang mana tradisi ini dikenal Abraham dari Mesir. 

Seperti yang sering saya katakan, Tuhan mampu dan berhak menggunakan kebiasaan tradisional untuk memuliakan namaNya.

Liat ini
https://www.instagram.com/reel/Cu0Xy0MNOfj/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
___________________
Cepogo, 08.12.2012 (T)

Referensi:
1. Andrew E. Hill & John H. Walton, "A survey of Old Testament", Zondervan, edisi ketiga.

2. A. Leo Oppenheim (editor in charge), "The Assyrian Dictionary of the Oriental Institute of the University of Chicago, Vol. 4", The Oriental Institute, Chicago, 2004

3. R. F. Bhanu Victorahadi Pr., "Buku Ajar Eksegese: Perjanjian Lama Nabi-Nabi", UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, 2022.

4. David F. Hinson, "Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab", BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2004.

5. Ensiklopedia Alkitab

6. Gleason L. Archer, "Encyclopedia of Bible Difficulties", Zondervan Publishing House, Michigan,  1982.

7. Josephus, "Antiquities of the Jews".

8. Robert H. Gundry, "A survey of Old Testament", Zondervan, edisi kelima.

9. Susan Wise Bauer, "Sejarah Dunia Kuno", Elex Media Komputindo, 2007.

10. William Stanford LaSor, David Allan Hubbard, Frederick Wm. Bush; "Old Testament Survey", Wm. B. Eerdmans Publishing, Cambridge, 1996.

11. Walter C. Kaiser Jr., Peter H. Davids, F.F. Bruce, Manfred T. Brauch, "Hard Saying of the Bible", InterVarsity Press, Illinois,  1996.

12. W. J. Martin, "Stylistic Criteria and the Analysis of the Pentateuch", 1955.

.

)

Jumat, 09 Juni 2023

PERKARA SURGA DAN NERAKA, SERIAL SUDUT PANDANG

PERKARA SURGA DAN NERAKA, SERIAL SUDUT PANDANG

Dogma surga dan neraka diciptakan pada mulanya oleh komunitas Yahudi yang sedang ditindas oleh bangsa asing pada abad kedua SZB. Mereka tidak memiliki kekuatan militer unggul. Akibatnya mereka tertimpa banyak kekalahan. Banyak tentara Yahudi yang mati tampak sia-sia. Tidak sedikit juga yang tidak tahan dijajah sehingga membelot ke pihak musuh. Mengapa kami menyembah Allah koq menderita? Mengapa bangsa kafir berjaya? Begitu kira-kira rintihan mereka. Dalam situasi dan kondisi perang seperti ini para imam Yahudi menyusun dogma surga dan neraka baik berupa doktrin maupun berupa kisah-kisah perjuangan para martir. Tujuan mereka untuk membangun semangat tempur sampai titik darah penghabisan dalam diri para pejuang. Mereka dipompa, kendati akan mati dalam perang, jangan menyerah, karena walaupun mereka mati, mereka akan diberi pahala masuk surga. Janji pahala surga ini sangat efektif. 
Firdaus, di dalam Alkitab, Persia: Pardes, Arti:taman yang ditumbuhi pepohonan. Kata "Firdaus" berasal dari kata Persia "pardes" yang berarti taman yang ditumbuhi pepohonan, di mana semuanya damai dan indah. Bangsa Israel mulai menggunakan kata pinjaman ini setelah mereka kembali dari pembuangan di Babel. Dalam Neh 2:8, kata ini menunjuk pada hutan milik raja, dan dalam Kid 4:13 dan Pkh 2:5 kata ini berarti kebun buah-buahan yang subur. Beberapa nabi Israel juga mulai memberitakan bahwa orang beriman yang meninggal akan hidup kembali (Dan 12:2-3). Kata "Firdaus" kemudian dipakai untuk menyebut tempat bagi mereka yang hidup setelah mati. Beberapa orang beranggapan bahwa "Firdaus" berada di bumi atau di surga. Yang lain yakin bahwa Firdaus adalah Taman Eden yang baru, tempat pohon kehidupan (Kej 2:9) akan tumbuh selamanya. Ada juga yang berpandangan bahwa Firdaus adalah tempat bagi orang-orang beriman yang telah mati untuk menunggu hari penghakiman. Disisi yg lain, dalam dunia tafsir Yahudi PARDES sendiri dalam kosmologi Yahudi merupakan akronim, PARDES terdiri dari PETSEP yg memiliki makna menafsir secara hurufiah atau kata perkata, RHEMAS menafsir secara tersirat atau mencari yg tersirat, apa yg ada dibalik kata-kata, DIRUS atau DHIRAKSAH, menafsir dg mencari makna kehidupan (mungkin kalau saat ini disebut kontekstual), SHOPT, menafsir dg mencari makna misteri, dipahami dalam kosmologi Yahudi bahwa akan selalu ada misteri yg tak terpecahkan atau di luar jangkauan manusia dalam menafsir. Jadi, dalam kosmologi Yahudi, dipahami orang akan mendapat FIRDAUS ketika ia menafsir kitabnya (dalam hal ini torat karena dalam konteks budaya Yahudi) dg cara seperti tsb di atas.
Pada Mulanya Manusia Menciptakan Surga dan Neraka. Kalau kita membuka Kitab Kejadian apakah manusia pertama, yang belakangan dikenal dengan Adam dan Hawa, tinggal di surga kemudian diusir dari surga? Tidak. Mereka tinggal di Taman Eden, bukan di surga, kemudian diusir dari taman itu. 
Bangsa Israel (Kuno) tidak mengenal surga dan neraka dalam arti dogma sesudah kematian sampai pada masa pembuangan ke Babel dalam masa 586 – 538 SZB. Doktrin dan dogma adalah sinonim. Doktrin dari bahasa Latin doctrina, dogma dari bahasa Grika δόγμα yang keduanya berarti ajaran. Mereka tidak mengenal doktrin sesudah kematian masuk surga atau neraka. Bumi adalah datar menyerupai tampah yang diselimuti kubah langit seperti tempurung. Manusia tinggal di permukaan bumi. Orang-orang mati tinggal di DOM (daerah orang mati) di bawah bumi yang dingin. Allah tinggal di “bulatan bumi” yaitu puncak tempurung langit yang menyelimuti bumi (bdk. Yes. 40:22) .
Sistem Yudaisme atau keyahudian lahir dari pengalaman orang-orang Yehuda dibuang ke Babel. Yudaisme merupakan campuran antara kehidupan beragama dan sosio-politik serta ekonomi dengan imam yang terpusat menggantikan peran raja. Dalam ilmu sejarah jika menyebut Yahudi dan Yudaisme itu berarti merujuk orang-orang dari Kerajaan Yehuda pasca-pembuangan di Babel. Sebelum masa itu belum dikenal istilah Yahudi dan Yudaisme. Perbedaan mencolok ajaran Yudaisme vs pra-Yudaisme dapat kita lihat dalam, misalnya, Kitab Kejadian 1 – 2:4a vs Kejadian 2:4b-ff dan 1Tawarikh 21:1 vs 2Samuel 24:1.
Selepas dari Babel orang-orang Yehuda tidak kunjung bebas tekanan dari kekuasaan luar. Muncullah dogma surga dan neraka. Dogma surga dan neraka sebagai ajaran sesudah kematian dalam tradisi Yudaisme muncul dengan lengkap pertama kali dalam Kitab Daniel yang ditulis pada abad ke-2 SZB. Saat itu bangsa Yahudi sedang bertempur melawan Kekaisaran Seleukid yang diperintah oleh Kaisar Antiokhus IV Epifanes. Kaisar bengis ini melancarkan politik hellenisasi besar-besaran atas negeri bangsa Yahudi.
Hellenisasi merupakan upaya politik dan kolonialisme untuk menjadikan kebudayaan dan agama Grika sebagai kebudayaan dan agama-agama bangsa-bangsa jajahan Alexander Agung dan para penerusnya. Dalam sejarah Yahudi perang ini dikenal sebagai Perang atau Pemberontakan Makkabe (167 - 160 SZB), karena dipimpin oleh keluarga Makkabeus. 
Dogma surga dan neraka diciptakan pada mulanya oleh komunitas Yahudi yang sedang ditindas oleh bangsa asing, sedang mereka tidak memiliki kekuatan militer unggul. Akibatnya mereka tertimpa banyak kekalahan. Banyak tentara Yahudi yang mati tampak sia-sia. Tidak sedikit juga yang tidak tahan dijajah sehingga membelot ke pihak musuh.
Mengapa kami menyembah Allah koq menderita? Mengapa bangsa kafir berjaya? Begitu rintihan mereka. Dalam situasi dan kondisi perang seperti ini para imam Yahudi menyusun dogma surga dan neraka baik berupa doktrin maupun berupa kisah-kisah perjuangan para martir. 
Tujuan mereka untuk membangun semangat tempur sampai titik darah penghabisan dalam diri para pejuang. Mereka dipompa, kendati akan mati dalam perang, jangan menyerah, karena walaupun mereka mati, mereka akan diberi pahala masuk surga sesudah mati syahid. Janji pahala surga ini sangat efektif. Pada zaman kuno perang dilakukan karena alasan agama dan politik sekaligus, karena belum dikenal pemisahan antara agama dan politik. 
Bangsa Yahudi yang terancam kalah dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar: Mengapa Allah mereka diam saja dan kalah ketika berhadapan dengan musuh mereka? Pada zaman baheula bangsa beragama yang kalah perang berarti Allah atau Sesembahan mereka juga kalah. 
Pertanyaan besar seperti di atas dijawab dengan doktrin neraka. Jangan takut dan jangan kehilangan kepercayaan, karena akan tiba saatnya, ketika zaman berakhir tak lama lagi, semua musuh mereka akan dengan adil dibalas oleh Allah dengan membuang mereka semua ke dalam api yang menyala-nyala, yang akan membakar mereka selamanya. Doktrin neraka merupakan ajaran kebencian dan dendam membara yang tidak lekang dan tetap dipelihara sampai sesudah kematian. Kelahiran doktrin surga dan neraka tentu saja dilengkapi dengan doktrin kiamat, kehadiran dajjal dan makhluk-makhluk monster, bencana, dlsb. Itu sebabnya Kitab Daniel genre-nya sastra apokaliptik seperti halnya Kitab Wahyu. Kedua kitab ini pada dasarnya pastoral bagi umat yang tertindas. Namun kitab-kitab oleh banyak orang Kristen (terutama Kitab Wahyu) tak ubahnya seperti kitab ramalan porkas atau togel. 
𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗣𝗮𝘂𝘁𝗸𝗮𝗵 𝗗𝗼𝗴𝗺𝗮 𝗦𝘂𝗿𝗴𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗡𝗲𝗿𝗮𝗸𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗠𝗮𝘀𝗮 𝗞𝗶𝗻𝗶?
Anda dapat saja tidak bersetuju dengan tulisan saya bahwa konsep surga dan neraka agama Samawi adalah buatan komunitas Yahudi yang tertindas pasca-pembuangan di Babel. Yang tidak bersependapat mengajukan dalih, selain dalih dogmatis, andai dogma surga dan neraka sesudah kematian tidak diajarkan, maka terjadi eskalasi kejahatan di bumi. “𝘒𝘦𝘦𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 orang jahat dong kalau begitu? Tidak ada hukuman atas kejahatan mereka sesudah kematian.” Sergah mereka sambil membanting pintu.
Kejahatan diberantas dengan hukum positif negara, bukan dengan dogma surga dan neraka. Kalau ada yang lolos dari jerat hukum, bereskan dengan membuat hukum lebih mempan dan dijalankan dengan penuh integritas. 
Dalam zaman modern ini ada sangat banyak orang yang tidak menerima lagi doktrin surga dan neraka termasuk di jajaran pemimpin negeri ini termasuk pemimpin massa. Para pejabat dengan mudah melakukan korupsi sudah sangat jelas tidak mengakui dan menerima doktrin surga dan neraka. Orang-orang seperti mereka sudah tidak mempan lagi ditakut-takuti oleh pembakaran abadi di neraka. Untuk membangun suatu masyarakat yang taat hukum dan tak melakukan kejahatan dibutuhkan pembinaan moral bertahap dan terus-menerus untuk menghasilkan nurani yang dewasa, fungsional, dan bertanggungjawab.
𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗰𝗮𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗲𝘄𝗮𝘀𝗮. Anak-anak tidak boleh membaca Alkitab tanpa didampingi oleh orang dewasa,  Penekanan atau strategi pengajaran gereja adalah pendewasaan orang dewasa. Dengan begitu orang dewasa yang sudah didewasakan oleh gereja menjadi pembimbing orang-orang yang lebih muda bahkan anak-anak. Orang-orang dewasa memikul beban persoalan dan perasaan jauh lebih berat ketimbang anak-anak. Untuk itulah orang-orang dewasa membutuhkan asupan dan topangan dari gereja. Persoalannya pengajaran pendeta dari mimbar lebih banyak tema doktriner 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘪𝘴𝘩. Secara didaktik ini tidak menopang, melainkan menggemburkan fondasi. Pijakan makin lemah.
Iming-iming masuk surga dan teror masuk ke neraka adalah cara beragama 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘪𝘴𝘩, kekanak-kanakan. Seperti kanak-kanak berbuat baik karena diganjar hadiah permen, seperti kanak-kanak tidak berani berbuat buruk karena takut dihukum oleh ortu atau gurunya. Fakta membuktikan doktrin surga dan neraka membuat orang jahat makin jahat, orang yang suam-suam kuku menjadi jahat, dan bahkan orang yang sebelumnya netral menjadi jahat. Orang sudi membunuh dan menganiaya sesama manusia, menebar teror kepada masyarakat lewat kerumunan massa, menghancurkan fasilitas publik, mengganggu ketertiban umum, dlsb. demi mendapatkan ganjaran surga dan menghindari api neraka.
Kita sah-sah saja untuk percaya bahwa neraka dengan api yang bernyala-nyala abadi di alam baka dan akan dirasakan orang-orang jahat sesudah kematian mereka. Apabila kita menganut kepercayaan ini, sepatutnya kepercayaan anda ini membuat kita hidup sangat berhati-hati dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan atau hidup berakhlak agar anda tidak dicampakkan ke dalam api neraka sesudah kematian.
Kita juga bebas menentukan pilihan percaya bahwa keberadaan neraka di alam baka sesudah kematian tidak ada. Di dunia ini ada 𝘨𝘰𝘭𝘥𝘦𝘯 𝘳𝘶𝘭𝘦 atau etika global yang satu di antaranya 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. Orang dapat menjadi baik, berbudi luhur tidak harus karena ancaman hukuman di neraka sesudah mati. Fakta banyak orang besar baik yang beragama maupun yang tak beragama adalah orang-orang berbudi luhur dan agung. Orang tak beragama menjadi besar karena menyumbang besar pada pengembangan ilmu pengetahuan yang menolong orang berkehidupan lebih baik.
Kita juga sah-sah saja memegang dogma surga dan neraka sebagai metafora. Surga diperikan sebagai tempat damai dan menyenangkan, sedang neraka diperikan sebagai suasana dan keadaan kehidupan manusia yang amat mendera dan melahirkan penderitaan serta kesengsaraan sangat berat dalam waktu sangat panjang. Neraka sebagai metafora terlihat nyata di dalam kelaparan, kemelaratan, keterbelakangan, kebodohan, ketidakadilan sosial, persekusi mayoritas terhadap minoritas, penganiayaan, pandemi Covid19, dan lain sejenisnya yang saat ini terjadi mencolok di bumi Indonesia.
Surga sebagai tempat damai dan menyenangkan lama-lama juga membosankan. Sumber humor adalah penderitaan, kesialan, kekonyolan sendiri. Humor itu menertawai penderitaan, kesialan, kekonyolan sendiri. Di surga tidak ada penderitaan, kesialan, dan kekonyolan. Jadi, tidak ada humor di surga, kata 𝘮𝘣𝘢𝘩 Mark Twain. 
Mark Twain bukanlah mengada-ada. “𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘦𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘨𝘶 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘩𝘢𝘮𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢.” kata Yesus menerangkan metafor Kerajaan Surga (lih. Luk. 13:20-21; Mat. 13:33). Ragi merupakan metafora kenajisan dan kecemaran untuk sesuatu yang marginal di dalam masyarakat yang distrukturkan menurut sistem puritas Yudaisme. Tindakan Yesus membangun dan memasuki persekutuan dan persaudaraan dengan orang-orang najis dan marginal serta makan bersama-sama dengan mereka tanpa memakai meja (𝘰𝘱𝘦𝘯 𝘤𝘰𝘮𝘮𝘦𝘯𝘴𝘢𝘭𝘪𝘵𝘺) sehingga terbentuk suatu komunitas yang anggota-anggotanya setara, egaliter, 𝘨𝘦𝘨𝘶𝘺𝘰𝘯𝘢𝘯 adalah kemaujudan bahwa Kerajaan Surga bukanlah tempat damai dan menyenangkan sesudah kematian. Kerajaan Surga berarti meruntuhkan hierarki sosio-religius yang dipertahankan dalam sistem puritas Yudaisme. Dalam Injil Markus 1:35-39 bahkan Yesus menganggap berdoa tidaklah begitu penting. Yesus lebih memilih bekerja dan menolong kepentingan banyak orang ketimbang meninggalkan mereka untuk berdoa sendirian. 
Kerajaan Surga bagi saya adalah .......... ?

LAPANGAN PANCASILA, 10 Juni 2023 (T)


Kamis, 18 Mei 2023

𝙈𝙚𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙠𝙚 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙞𝙩? Serial Sudut Pandang (Kenaikan Tuhan Yesus Injil Lukas 24:44-53 dengan 𝘒𝘪𝘴. 1:1-11)

𝙈𝙚𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙠𝙚 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙞𝙩? Serial Sudut Pandang (Kenaikan Tuhan Yesus Injil Lukas 24:44-53 dengan 𝘒𝘪𝘴. 1:1-11)

Andaikata Injil Yohanes tidak ditulis, maka umat Kristen sangat bolehjadi tidak merayakan Jumat Agung. Jika Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (Kis.) tidak ditulis, maka gereja mungkin tidak merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus dan Hari Pentakosta.

Dalam Alkitab kisah Kenaikan Kristus ada di bagian akhir Injil Lukas dan di bagian awal 𝘒𝘪𝘴. Menurut para ahli Perjanjian Baru (PB) kedua kitab sebenarnya satu kitab yang ditulis oleh orang yang sama. 

Bacaan ekumenis diambil dari Injil Lukas 24:44-53 lanjut dengan 𝘒𝘪𝘴. 1:1-11 

Secara kronologi cerita Injil Lukas ditulis lebih dahulu. Cerita dalam bacaan hari ini merupakan rangkaian terakhir dari Kebangkitan Kristus dan penampakan diri-Nya kepada murid-murid-Nya. Kata Yesus: " 𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯-𝘒𝘶, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘶𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘬𝘯𝘪 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘯𝘢𝘣𝘪-𝘯𝘢𝘣𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘔𝘢𝘻𝘮𝘶𝘳. 𝘈𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯: 𝙈𝙚𝙨𝙞𝙖𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙞𝙩 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙜𝙖, 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪: 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘰𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢, 𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮. 𝙆𝙖𝙢𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙠𝙨𝙞-𝙨𝙖𝙠𝙨𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙣𝙞. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪." (ay. 44-49).

Dalam ayat 50-53 dinarasikan Yesus kemudian membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di sana Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah. Kata 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 (ἀνεφέρετο dibaca 𝘢𝘯𝘦𝘱𝘩𝘦𝘳𝘦𝘵𝘰) di ayat 51 berbentuk pasif. Jadi, Yesus tidak naik sendiri, melainkan diangkat atau dinaikkan oleh Allah.

Satu ciri teologi Injil Lukas adalah 𝗸𝗲𝗻𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻, dari tempat rendah ke tempat lebih tinggi. Pada bagian akhir Injil Lukas kentara ketika Yesus mengajak murid-murid-Nya keluar dari Yerusalem ke Betania lalu terangkat ke surga. Surga di sini dari kata οὐρανόν (baca: 𝘰𝘶𝘳𝘢𝘯𝘰𝘯) yang juga berarti langit. Dalam dunia cerita Injil Lukas Betania lebih tinggi daripada Yerusalem (Luk. 19:29), sedang Yerusalem lebih tinggi daripada Nazaret (Luk. 2:42). 

Secara umum dalam dunia cerita Injil Lukas tempat atau wilayah pelayanan Yesus sebelum Ia menuju Yerusalem berada di posisi lebih rendah (Luk. 18:31; 19:28). Dari informasi dunia cerita ini dapat diperikan bahwa perjalanan hidup Yesus adalah perjalanan naik atau meninggi; dari Nazaret dan Galilea, naik ke Yerusalem, naik ke Betania di Bukit Zaitun, dan akhirnya terangkat ke surga.

Apabila kita menengok lebih ke belakang lagi Yesus lahir di palungan dan “hanya” dikunjungi oleh gembala-gembala. Ingat, kunjungan orang-orang Majus hanya ada di dalam cerita Injil Matius, tetapi tidak ada kunjungan gembala-gembala. Dalam Injil Lukas Yesus juga lahir di lingkungan keluarga miskin seperti terlihat jenis persembahan saat Maria ditahirkan di Yerusalem (Luk. 2:22-24). Hal itu makin nyata dari pelayanan Yesus yang berbelarasa kepada orang-orang marginal atau mereka yang disisihkan oleh masyarakat yang menganut sistem puritas. Penginjil Lukas tampaknya hendak menyampaikan bahwa orang-orang yang merendahkan diri seperti Yesus akan ditinggikan oleh Allah.

Dalam babak akhir Injil Lukas Yesus hendak menjawab keraguan murid-murid-Nya. Narator menyampaikan kepada pembaca bahwa Yesus memberkati murid-murid-Nya dan kemudian terangkat ke surga. Mereka sekarang percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh sudah bangkit dan naik ke kediaman Bapa-Nya. Mereka juga mengerti bahwa Mesias harus menderita terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kemuliaan-Nya seperti nubuatan para nabi. Yesus yang memula pelayanan-Nya dari tempat yang paling rendah sampai akhirnya tiba di tempat tertinggi. Terus?

Jangan lupa dalam bacaan Yesus berkata, “𝙆𝙖𝙢𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙠𝙨𝙞-𝙨𝙖𝙠𝙨𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙣𝙞.”. Penginjil Lukas hendak menyampaikan kepada kita, sebagai pembaca masa kini, untuk menjadi saksi dari kisah teologisnya. Kesaksian yang mana? 𝗦𝗲𝗺𝘂𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗶𝗻𝗶! Menjadi saksi Kristus berarti menyaksikan semua karya pelayanan Kristus (dhi. kisah teologis Injil Lukas) dengan merefleksikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari. Orang Kristen bersaksi dengan berperangai laksana Kristus dalam berkarya, berbelarasa terhadap orang-orang marginal atau mereka yang disisihkan oleh masyarakat dengan segala alasannya seperti yang dikisahkan dalam Injil Lukas. Sebagai contoh, bagaimana menjadi orang kaya Kristen yang ideal? Di Injil Lukas ada kisah pertobatan Zakheus, yang tadinya memeras orang kemudian bertobat menjadi peduli kepada masyarakat miskin.

Jadi, kalau ada orang Kristen “bersaksi” bahwa ia menjadi kaya, terhindar dari kecelakaan maut, dan sejenisnya tentang kehidupan pribadinya yang didaku diberkati oleh Allah bukanlah bersaksi menurut Injil. Itu adalah cerita tentang dirinya sendiri yang doyong (𝘣𝘪𝘢𝘴𝘦𝘥) sehingga tidak dapat dijadikan ukuran untuk orang lain karena itu memang bukan maksud bersaksi menurut Injil.

Dalam pada itu di bagian awal 𝘒𝘪𝘴. istilah 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 muncul dua kali (Kis. 1:3 dan 6) sehingga tampaknya menjadi tema dasar pada awal cerita. Kerajaan Allah dipandang dari matra ke-𝗮𝗸𝗮𝗻-an. Tema Kerajaan Allah didukung dengan rincian lain, yaitu awan yang menyertai Yesus naik ke surga dan yang akan menyertai Yesus turun pada kedatangan-Nya kembali (Kis. 1:9-11). Tema Kerajaan Allah secara tersirat dikuak pada bagian akhir 𝘒𝘪𝘴. bahwa Israel mengharapkan pemulihan Kerajaan Allah secara penuh (Kis. 28:20). 

Dengan begitu berita di dalam 𝘒𝘪𝘴. apabila dibuat pembabakan:
🔷 Awal: Kerajaan Allah.
🔷 Tengah: Karya dan ajaran para rasul.
🔷 Akhir: Kerajaan Allah.

Dalam narasi awal (Kis. 1:1-3) dikatakan bahwa Yesus selama 40 hari berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka (11 murid) tentang Kerajaan Allah. Pembaca yang sudah berprapaham kalender gerejawi jarak Hari Kebangkitan (Paska) ke Hari Kenaikan adalah 40 hari langsung memahami teks itu dengan Yesus-Paska berada di bumi selama 40 hari. 

Angka 40 harus dipahami simbolik sebagai waktu tercukupkan. Yesus memersiapkan diri secara tercukupkan dengan menyendiri di gurun selama 40 hari. Umat Israel dididik oleh Allah selama 40 tahun di padang gurun. Demikian juga Yesus menyiapkan murid-murid-Nya dengan waktu tercukupkan sebelum Ia naik ke surga. Sebenarnya Lukas juga hendak mengatakan bahwa 40 hari itu simbolik dengan menulis di 𝘒𝘪𝘴. 13:31 bahwa Yesus yang bangkit menampakkan diri selama beberapa hari. Lukas tidak lagi menyebut 40 hari.

Ada empat pokok pikiran berupa ramalan dalam bacaan 𝘒𝘪𝘴. 1:1-11:
🔷 Para murid yang kemudian disebut rasul-rasul akan dibaptis dengan Roh Kudus.
🔷 Kerajaan Allah akan dipulihkan, tetapi tentang waktunya hanya Allah yang menentukan. 
🔷 Para saksi akan bersaksi di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai 𝘂𝗷𝘂𝗻𝗴 𝗯𝘂𝗺𝗶.
🔷 Yesus yang diangkat ke surga akan datang dengan cara yang sama.

Keempat ramalan itu saling berpautan. Yang pertama tergenapi pada Hari Pentakosta (Kis. 2:3-4). Yang ketiga tergenapi bersaksi sampai  ke ujung bumi, yaitu Roma. Rasul Paulus bersaksi sampai ke Roma dan narasi 𝘒𝘪𝘴. berakhir. Yang kedua dan keempat akan terjadi apabila Yesus datang kembali.

Pembaca modern tentu saja menolak Roma adalah ujung bumi. Akan tetapi dari sisi dunia cerita penulis 𝘒𝘪𝘴. menyebut 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦 𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘮𝘪 di awal kisah mengakhiri ceritanya dengan keberhasilan Rasul Paulus mencapai ujung bumi. Dengan demikian Roma adalah ujung bumi. Apabila kita melihat kerangka cerita 𝘒𝘪𝘴., linimasa pengabaran Injil:
🔷 Berawal dari Yerusalem (Kis.1:1-8:3). 
🔷 Berlanjut ke Galilea dan Samaria (Kis. 8:4-11:18). 
🔷 Berakhir di Roma (Kis. 11:19-28:31), ujung bumi.

Hari Kenaikan Yesus Kristus hendaklah tidak dijadikan seremonial belaka. Dalam 𝘒𝘪𝘴. 1:11 disebutkan sesudah Yesus terangkat ke surga, tiba-tiba berdirilah dua orang berpakaian putih menegur para murid, “𝘏𝘢𝘪, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵?” Hari Kenaikan Yesus Kristus hendaklah dijadikan pengingat bahwa kita, gereja, untuk segera memula berkarya nyata, bukan 𝘣𝘦𝘯𝘨𝘰𝘯𝘨 saja.
Narasi kenaikan Yesus hanya ada di Injil Lukas. Injil Markus hanya menyebutkannya saja, tanpa narasi sebaik Lukas — malah lebih bersifat dogmatis ketimbang naratif. Injil Matius dan Injil Yohanes sama sekali tidak menceriterakan Yesus yang naik ke sorga.
Tapi ada satu hal yang dituturkan oleh semua Injil pada penghujung kehidupan Yesus di dunia. Satu hal itu adalah ditegaskannya PERUTUSAN untuk mewartakan pengampunan Allah bagi setiap orang yang mau berbalik (bertobat) dari kehidupan yang sarat dengan ego dan ambisi pribadi.
Itulah semestinya yang jadi "core business" gereja. Mengajak mereka yang berbeban berat untuk merasakan rengkuhan kasih Allah. Hal² lain yang dilakukan atau ditampilkan gereja, itu mah "isu pinggiran". Gedung yang megah, ruang ibadah yang nyaman, ibadah yang seru kekinian, pengkhotbah yang karismatis, manajemen yang modern, organisasi yang rapi, kegiatan yang bejibun, dll, itu urusan sekunder bahkan tersier. Bagi gereja Tuhan Yesus Kristus, YANG PRIMER adalah bergegas merengkuh mereka yang berdosa, terluka, dan telantar, layaknya sang ayah yang segera berlari menyongsong anak bungsunya yang pulang dalam sesal setelah hidup sia-sia. 

"𝘠𝘰𝘶 𝘥𝘰𝘯'𝘵 𝘸𝘪𝘯 𝘤𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘰𝘯𝘴𝘩𝘪𝘱𝘴 𝘣𝘺 𝘫𝘶𝘴𝘵 𝘣𝘦𝘪𝘯𝘨 𝘯𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭, 𝘣𝘺 𝘫𝘶𝘴𝘵 𝘣𝘦𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘷𝘦𝘳𝘢𝘨𝘦." Bill Walton

Lapangan Pancasila, 18.05.2023 (T)

Jumat, 12 Mei 2023

𝙆𝙚𝙨𝙪𝙧𝙪𝙥𝙖𝙣, Serial Sudut Pandang (Minggu Paska 6, Yohanes 14:15-21)

𝙆𝙚𝙨𝙪𝙧𝙪𝙥𝙖𝙣, Serial Sudut Pandang (Minggu Paska 6, Yohanes 14:15-21)

“𝘛𝘩𝘦 𝘧𝘢𝘤𝘵 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘪𝘦𝘷𝘦𝘳 𝘪𝘴 𝘩𝘢𝘱𝘱𝘪𝘦𝘳 𝘵𝘩𝘢𝘯 𝘢 𝘴𝘬𝘦𝘱𝘵𝘪𝘤 𝘪𝘴 𝘯𝘰 𝘮𝘰𝘳𝘦 𝘵𝘰 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵 𝘵𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘩𝘦 𝘧𝘢𝘤𝘵 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘢 𝘥𝘳𝘶𝘯𝘬𝘦𝘯 𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘴 𝘩𝘢𝘱𝘱𝘪𝘦𝘳 𝘵𝘩𝘢𝘯 𝘢 𝘴𝘰𝘣𝘦𝘳 𝘰𝘯𝘦.” George Bernard Shaw. Banyak orang Kristen, jika disodori perbedaan teks dalam keempat Injil, bersikap defensif. Mereka mencari pembelaan dengan 𝘱𝘴𝘦𝘶𝘥𝘰-𝘴𝘤𝘪𝘦𝘯𝘤𝘦 untuk memertahankan bahwa tidak ada perbedaan atau kekeliruan teks demi menjaga ideologi 𝘪𝘯𝘦𝘳𝘳𝘢𝘯𝘤𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘪𝘣𝘭𝘦. 

Padahal teks memang berbeda. Justru berbeda-beda itu kita patut bersyukur bahwa ada banyak sudut pandang tentang Yesus. Hidup beriman menjadi penuh warna. Ibarat makan disediakan beraneka pilihan sehingga tidak membosankan.

Hari ini adalah Minggu keenam masa raya Paska, Bacaan  Injil Yohanes 14:15-21.

Bacaan Injil Minggu ini (Yoh. 14:15-21) melanjutkan bacaan Injil Minggu lalu (Yoh. 14:1-14). Dengan demikian konteks terdekat bacaan Injil Minggu ini sama, yaitu Yohanes 13-14, sedang konteks besarnya adalah pasal 13-20. Pakar biblika menyebut pasal 13-20 adalah bagian kedua Injil Yohanes yang disebut juga kitab kemuliaan, sedang bagian pertama (pasal 1-12) disebut kitab tanda-tanda. Tidak lagi diceritakan tanda-tanda di bagian kedua, melainkan memuliakan (𝘥𝘰𝘹𝘢𝘻e) dan kemuliaan (𝘥𝘰𝘹𝘢). 

Apabila bagian kedua tersebut dikelompokkan lagi, maka menjadi:
🔷 Wasiat untuk murid-murid Yesus (Yoh. 13-17)
🔷 Pengadilan dan kematian Yesus (Yoh. 18-19)
🔷 Penampakan Yesus sesudah kebangkitan (Yoh. 20)

Bacaan Injil Minggu ini (Yoh. 14:15-21) merupakan bagian perikop yang diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 (ay. 15-31). Kata Yesus, “𝘑𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘈𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘒𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘗𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘵𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯.” (ay. 15-17a).

Cukup sulit mencari padanan 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭e𝘵𝘰𝘴 (Penolong) pada ayat 16 di atas dan beberapa ayat di Injil Yohanes (Yoh. 14:26; 15:26; 16:7). Berikut ini perbandingan beberapa teks Alkitab tentang padanan 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭e𝘵𝘰𝘴.

Penolong (LAI TB II 2023, 14:16, 26; 15:26; 16:7) 
𝘊𝘰𝘮𝘧𝘰𝘳𝘵𝘦𝘳 (KJV, 14:16, 26; 15:26; 16:7)
𝘏𝘦𝘭𝘱𝘦𝘳 (NKJV, NASB, 14:16, 26; 15:26; 16:7)
𝘊𝘰𝘶𝘯𝘴𝘦𝘭𝘰𝘳 (NIV, 14:16, 26; 15:26; 16:7)
𝘈𝘥𝘷𝘰𝘤𝘢𝘵𝘦 (NRSV, 14:16, 26; 15:26; 16:7)

Istilah 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭e𝘵𝘰𝘴 dipungut dari dunia pengadilan yang berarti perantara atau pembela. Oleh pengarang Injil Yohanes kata 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭e𝘵𝘰𝘴 dimaknai baru. Pertanyaannya apakah 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭e𝘵𝘰𝘴 itu sama dengan Roh Kudus (𝘗𝘯𝘦𝘶𝘮𝘢 𝘏𝘢𝘨𝘪𝘰𝘯)? Untuk menjawab itu mari kita telisik Injil Yohanes dari belakang, dari episode kebangkitan Yesus.

Injil Yohanes tidak mengisahkan kenaikan Yesus ke surga. Namun, ucapan Yesus kepada Maria Magdalena menyiratkan kenaikan-Nya ke surga pada hari yang sama dengan hari kebangkitan. Kata Yesus, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶." (Yoh. 20:17, TB II 2023). 

Pada hari kebangkitan-Nya Yesus memerintahkan Maria Magdalena bukan untuk memberitakan kebangkitan-Nya, melainkan untuk memberitakan kenaikan-Nya.

Sesudah pergi atau naik kepada Bapa-Nya (Yoh. 20:17), Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya. Pertama, kepada para murid tanpa Tomas (Yoh. 20:19-23). Kedua, kepada para murid termasuk Tomas (Yoh. 20:24-29). Dalam Injil Yohanes Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya dalam beberapa hari sesudah kenaikan-Nya. Bandingkan dengan Injil Lukas, Yesus yang bangkit menampakkan diri sebelum kenaikan-Nya dan kenaikan-Nya pada hari yang sama dengan hari kebangkitan dan penampakan. Dalam pada itu kisah kenaikan Yesus dalam Injil Lukas jilid kedua alias Kisah Para Rasul sesudah 40 hari kebangkitan-Nya.

Dalam Injil Yohanes pada saat bertemu dengan para murid itulah Yesus memberikan Roh Kudus (𝘗𝘯𝘦𝘶𝘮𝘢 𝘏𝘢𝘨𝘪𝘰𝘯) kepada mereka (Yoh. 20:22). Apakah 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭e𝘵𝘰𝘴 yang dijanjikan Yesus di Yohanes 14:16, 26; 15:26; 16:7 sama dengan Roh Kudus yang diberikan Yesus di Yohanes 20:22? Sama! Pemberian Roh Kudus itu terjadi sesudah Yesus pergi kepada Bapa atau sesudah kenaikan-Nya. Itu sesuai dengan kronologi yang dikatakan Yesus di Yohanes 14:16, 26; 15:26; 16:7, yaitu 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭e𝘵𝘰𝘴 akan diberikan sesudah Yesus pergi kepada Bapa-Nya. Hal itu juga sudah ditegaskan di Yohanes 14:26 bahwa 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭e𝘵𝘰𝘴 adalah Roh Kudus (𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭e𝘵𝘰𝘴 𝘵𝘰 𝘗𝘯𝘦𝘶𝘮𝘢 𝘵𝘰 𝘏𝘢𝘨𝘪𝘰𝘯). Bandingkan dengan Kisah Para Rasul yang Roh Kudus dicurahkan 10 hari sesudah kenaikan Yesus.

Dalam bacaan Injil Minggu lalu ayat Yohanes 14:6 dikunci menjadi ideologi bahwa percaya Yesus adalah jalan, maka akan selamat. Hal yang sama dengan bacaan Minggu ini dijadikan ideologi oleh banyak orang Kristen bahwa percaya dan mengasihi Yesus, maka akan penuh dengan Roh Kudus.

Padahal dalam Yohanes 14:16-17a diawali dengan perkataan Yesus, “𝘑𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘈𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘒𝘶.” (ay. 15). Yesus hendak mengirim Roh Kudus dengan syarat murid-murid-Nya mengasihi-Nya dan menuruti segala perintah-Nya. Dengan demikian mengikut Yesus itu 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗴𝗿𝗮𝘁𝗶𝘀, harus menuruti segala perintah-Nya. Hal ini ditegaskan lagi dalam ayat  21, “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘈𝘬𝘶.”

Apa perintah-perintah Yesus? Tentu saja semua ajaran Yesus dalam Injil Yohanes, karena konteksnya Injil Yohanes. Segala perintah itu dipuncaki dengan perintah baru Yesus dalam Yohanes 13:34-35 “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪; 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪. 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘒𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪." Perintah baru itu dipertajam lagi dalam Yohanes 15:12-13 ”𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘒𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵-𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢.”

Jadi, penuh dengan Roh Kudus itu bukan ditunjukkan dengan 𝘬𝘦𝘴𝘶𝘳𝘶𝘱𝘢𝘯 di dalam kebaktian.

Lapangan Pancasila, 14.05.2023 (T)

Baca juga :
http://titusroidanto.blogspot.com/2023/09/kesurupan-serial-sudut-pandang.html

Bagaimana pandangan saya soal persembahan perpuluhan? Serial Sudut Pandang

Bagaimana pandangan saya soal persembahan persepuluhan? Serial Sudut Pandang

PENGANTAR

PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN MENJADI KELIRU KALAU :
1. Ditekankan sebagai sebuah kewajiban bagi warga jemaat. Sebab, pada prinsipnya setiap persembahan semestinya didasari dengan kesukarelaan dan kesukacitaan, bukan kewajiban yang membebani.
2. Diajarkan sebagai sebuah kepatuhan mutlak pada Firman Tuhan. Sebab, dalam sejarahnya, ketika kekristenan berkembang dengan banyak anggota non-Yahudi, tradisi-tradisi agama Yahudi tidak lagi menjadi kemutlakan bagi semua. Termasuk di dalamnya soal sunat, hari raya, kurban, dan persembahan.
3. Dipaksakan dengan ancaman, baik keras maupun halus, bahwa kalau tidak dilakukan akan menimbulkan malapetaka. Sebab, bahkan Yesus pun nggak pernah mengancam orang karena persembahannya. Malah, Yesus selalu mengaitkan persembahan (apa pun) dengan moralitas dan compassion (welas asih).
4. Diperuntukkan bagi pendeta/pastor/imam di gereja itu. Sebab, meskipun di Perjanjian Lama persembahan perpuluhan memang diperuntukkan bagi anak yatim, janda miskin, dan kaum Lewi (imam), namun yang dimaksud adalah para imam yang miskin dan tidak punya kepemilikan.

PERSEMBAHAN SEPERSEPULUH (ATAU SEPERBERAPA PUN) DARI PENGHASILAN ITU BAIK KALAU :
1. Diajarkan sebagai sebuah ekspresi syukur karena kehidupan yang indah, bahagia, dan sejahtera, yang diberikan dengan kerelaan dan kesukacitaan. Jadi, persembahan bukanlah beban.
2. Dianjurkan sebagai cara menopang dan men-support kebutuhan kehidupan berjemaat. Sebab, siapa lagi yang mendanai kebutuhan jemaat kalau bukan warganya? Mosok kegiatan-kegiatan gereja mau disponsori Bank BNI, Indosat, Unilever, atau Djarum? 😁
3. Disertai dengan anjuran untuk tidak lupa juga berbagi kepada sesama di luar gereja yang membutuhkan pertolongan kita. Sebab, kehidupan sehari-hari itulah ibadah yang sejati. Dengan begitu, ibadah kita menjadi bulat dan utuh, nggak ritual thok. 
4. Diperuntukkan, didistribusikan, dan dilaporkan kepada umat secara transparan dan akuntabel secara periodik. Gereja yang sehat adalah yang tidak takut diaudit dan dengan jujur membuka keuangannya bagi warga jemaatnya. 

TELAAH

BUKAN UNTUK IMAM
Persembahan persepuluhan itu kan esensinya sebenernya bagaimana menjamin KEBERLANGSUNGAN KEHIDUPAN BAGI KELOMPOK RENTAN di tengah umat. Makanya yang jadi sasaran penerima persembahan persepuluhan adalah kaum Lewi (suku yang nggak punya warisan tanah utk bercocok tanam), orang asing (musafir/nomad yang gak punya rumah), anak yatim, dan janda miskin. Jadi dalam sejarahnya di PL, gak pernah persembahan persepuluhan itu diserahkan semata-mata kepada Imam atau Imam Besar. Ingat, fokusnya adalah selalu untuk menjamin yang lemah bisa tetap makan-minum dan hidup layak! PERSEPULUHAN tidak hanya untuk suku lewi, Ulangan 14:27-28 dan 26:12-13.
Ulangan 14:27-29 (TB)
27 Juga orang Lewi yang diam di dalam tempatmu janganlah kauabaikan, sebab ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau.
28 Pada akhir tiga tahun engkau harus mengeluarkan segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu dalam tahun itu dan menaruhnya di dalam kotamu;
29 maka orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau, dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu, akan datang makan dan menjadi kenyang, supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau di dalam segala usaha yang dikerjakan tanganmu." 
Ulangan 26:12-13 (TB)
12 "Apabila dalam tahun yang ketiga, tahun persembahan persepuluhan, engkau sudah selesai mengambil segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu, maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda, supaya mereka dapat makan di dalam tempatmu dan menjadi kenyang. 
13 Dan haruslah engkau berkata di hadapan TUHAN, Allahmu: Telah kupindahkan persembahan kudus itu dari rumahku, juga telah kuberikan kepada orang Lewi, dan kepada orang asing, anak yatim dan kepada janda, tepat seperti perintah yang telah Kauberikan kepadaku. Tidak kulangkahi atau kulupakan sesuatu dari perintah-Mu itu.
Persepuluhan kepada suku Lewi adalah bukti Kasih, Keadilan dan Pemeliharaan Tuhan kepada Israel. Suku Lewi yang tidak mendapatkan tanah pusaka sehingga tidak bisa mengolah tanah untuk mendapatkan kebutuhan nafkah hidupnya terpelihara oleh karena perpuluhan yang diberikan. Ingat juga, bahwa Alkitab juga mencatat dalam Ulangan 14:27-28 dan 26:12-13, bahwa Persepuluhan yang dikumpulkan oleh sebelas suku Israel bukan hanya semata-mata untuk suku Lewi, melainkan juga untuk kepada orang asing, anak yatim dan kepada janda. Anak yatim dan janda yang telah ditinggal mati ayah dan suaminya adalah tanggung jawab semua suku pada konteks masa itu, semua suku Israel wajib untuk memelihara mereka, pelayanan ini diadopsi di jaman Kisah Rasul yang dikenal dengan istilah pelayanan meja atau diakonia. Sedangkan orang asing disini adalah mereka yang tinggal bersama-sama dengan bangsa Israel dan menjadi bagian bangsa Israel (proselit) juga bangsa asing yang sekedar lewat di perkampungan atau daerah Israel harus di jamu sampai kenyang melalui perpuluhan. Pemberian persepuluhan untuk anak yatim dan janda pada masa itu pun menunjukkan bentuk Kasih, Keadilan dan Pemeliharaan Tuhan atas mereka oleh karena kepala keluarga yang mencari nafkah telah meninggal dan orang asing yang mendapat "jatah" persepuluhan dari sebelas suku Israel juga memiliki maksud yang sama, yaitu agar mereka bisa melihat bahwa Allah Israel adalah Allah yang Kasih, Allah yang Adil dan Allah yang memelihara semua umat manusia, sebab bagi orang-orang asing (bangsa di luar Israel) konsep Allah mereka adalah Allah mereka kasih hanya untuk mereka (bangsa) mereka sendiri tetapi tidak untuk bangsa atau kaum lain. Melalui persepuluhan yang diberikan sebelas suku Israel, orang asing bisa melihat betapa Allah Israel itu berbeda dengan allah-allah asing.
Dalam konteks Malaekhi pun demikian. Bangsa Israel pada jaman Maleakhi mengalami kemerosotan rohani sampai titik nadir. Mereka tidak mau memberikan Persepuluhan dan melupakan tujuan awal dari persepuluhan. Israel pada masa itu menjadikan uang dan kekayaan sebagai illah mereka. Mereka tidak memberikan persepuluhan dan mereka melupakan rumah Tuhan. Pada masa itu, Israel benar-benar bobrok kerohaniannya, Rumah Tuhan yang merupakan lambang kehadiran Tuhan di tengah-tengah Israel tidak dipedulikan oleh Israel, hal ini menunjukkan bahwa Israel sudah tidak peduli lagi dengan Tuhan dan segala ketetapan-Nya. Ketidakpedulian mereka terhadap rumah Tuhan adalah bentuk ketidak pedulian mereka kepada pribadi Tuhan sendiri yang telah membebaskan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir. Itulah sebabnya Firman Tuhan datang untuk mengingatkan Israel agar kembali menjadikan Allah Yahweh sebagai Allah mereka dan kembali memberikan Persepuluhan dan harus memperhatikan rumah Tuhan. Hal ini dimaksudkan agar Israel bisa kembali menjadi umat Allah dan menjadi saksi kepada bangsa lain bahwa Allah Yahweh adalah Allah yang benar, karena itu dalam Maleakhi Allah mengatakan "ujilah Aku". Jadi memberikan persepuluhan dalam konteks Maleakhi pun sama dengan konteks dalam kitab Ulangan. Belalang Pelahap dalam konteks itu adalah hama belalang yang memang pada masa itu melanda tanah Israel. Membuka tingkap-tingkap langit, maksudnya adalah mencurahkan hujan, karena pada masa itu Israel dilanda kekeringan yang hebat. Jika Israel kembali kepada Tuhan pada masa itu, maka Allah akan menolong mereka sama seperti nenek moyang mereka yang ditolong keluar dari perbudakan di Mesir
Berdasarkan uraian singkat di atas jelas, bahwa konsep Persepuluhan diberikan bukan supaya kita diberkati atau bertujuan untuk kepentingan pribadi, melainkan persepuluhan diberikan adalah bukti bahwa kita telah diberkati oleh Allah sendiri. Memberikan persepuluhan bukanlah seperti usaha memancing, dengan memberikan sepersepuluh dari penghasilan kita maka kita berharap mendapatkan lebih dari apa yang telah kita beri. Ajaran ini sesat..!!! Sekali lagi Persepuluhan diberikan bukan supaya kita diberkati melainkan karena kita telah diberkati. Lalu, harus diingat pula, bahwa ketika kita memberikan persepuluhan kita di ajarkan bahwa apa yang telah kita terima dari Tuhan bukanlah milik kita sepenuhnya, ada bagian orang lain di dalamnya, sehingga orang lain bisa merasakan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang Kasih, Adil dan Pemelihara umat manusia
Orang-orang Kristen dituntut oleh Tuhan bukan hanya memberikan Persepuluhan, melainkan seluruh hidup kita, termasuk di dalamnya adalah harta kita. Kita bukanlah pemilik melainkan hanya pengelola, termasuk harta kekayaan dan uang kita. Namun, harus diakui untuk memiliki gaya hidup yang tidak terikat oleh harta kekayaan atau uang adalah hal yang sulit, karena itu dengan belajar memberikan persepuluhan, kita sedang belajar untuk melatih diri kita untuk tidak terikat oleh kekayaan atau uang (mamon). Namun jika 5 tahun, 10 tahun, bahkan 15 tahun kita memberi hanya sekedar persepuluhan dan merasa berat untuk membantu pekerjaan Tuhan, membantu sesama, dll, maka sama saja bohong. Jika kondisi kita seperti itu, maka persepuluhan yang kita berikan hanyalah sebagai "kewajiban" beragama. Ingat tujuan persepuluhan dalam konteks PL adalah agar bangsa Israel tidak terikat oleh kekayaan dunia dan memiliki kesadaran bahwa harta kekayaan yang mereka miliki di dalamnya juga terdapat "hak" orang lain. Bagaimana orang lain bisa mengenal Allah kita sebagai Allah yang Kasih, Adil dan Pemelihara umat manusia jika kita terikat oleh harta kekayaan dan pelit untuk berbagi. Untuk berbagi kita tidak harus menunggu menjadi orang kaya secara materi terlebih dahulu, tetapi bisa dimulai dari sekarang, dari apa yang kita punya
1. Persepuluhan diberikan bukan supaya kita diberkati, melainkan karena kita telah diberkati oleh Allah melalui hasil usaha yang BENAR.
2. Persepuluhan adalah bentuk Kasih, Keadilan dan Pemeliharaan Allah kepada umat manusia, karena itu Gereja atau Gembala harus menunjukkan Kasih, Keadilan dan Pemeliharaan Allah dalam mengelola Persepuluhan, tidak boleh menjadi hak milik pribadi dan keluarga Gembala.
3. Persepuluhan adalah latihan awal yang melatih kita untuk tidak terikat kepada harta milik atau uang, melainkan terikat kepada Allah.
Inilah perspektif saya mengenai Persepuluhan. Jika ada persepuluhan tidak dimaksudkan untuk kepentingan Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka seperti judul di atas "Persepuluhan, 'Upeti' jemaat kepada Pendeta/Gembala."
Marilah mengajarkan konsep persepuluhan yang benar kepada jemaat, jangan ada tedensi kepentingan pribadi atau manipulasi dalam ajaran kita mengenai persepuluhan. Biarlah kebenaran yang terus kita sampaikan. Selamat memberi. Sola Gracia.

DARI BUDAYA PADA ZAMAN ITU
Baca ini
http://titusroidanto.blogspot.com/2023/08/persepuluhan-dalam-sejarah-kuno-serial.html

Lapangan Pancasila, 12.05.2023 (T)

Sabtu, 06 Mei 2023

Sudut Pandang 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 Yohanes yang membingungkan,

Sudut Pandang 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 Yohanes yang membingungkan

Cukup banyak orang Kristen yang memfavoritkan Injil Yohanes. Mungkin karena ada ayat-ayat yang dianggap eksklusif. Padahal dari gatra cerita Injil Yohanes membosankan, membingungkan. “Saya 𝘨𝘢𝘬 bingung 𝘬𝘰𝘬!” kata mereka. 
Dalih seperti itu sebenarnya justru menunjukkan mereka tidak membaca Injil dengan cermat. Jangankan warga awam, yang pengkhotbah saja dalam berkhotbah cukup banyak yang tidak melihat detil cerita. Empat cerita Injil dianggap sama saja. Kalau berkhotbah dari kitab mana pun, isinya terdengar sama saja. 
Pengarang Injil Yohanes berasal dari Komunitas Yohanes yang berada di tengah-tengah konflik dengan kelompok-kelompok lain, terutama kelompok orang Yahudi. Mereka diusir dari sinagog dan didera oleh kelompok Yahudi. Di tengah-tengah suasana konflik itu kelompok penulis Injil Yohanes memiliki misi ganda. Mereka harus menakrifkan (𝘥𝘦𝘧𝘪𝘯𝘦) dan menegaskan jatidiri mereka sendiri, sekaligus menakrifkan dan menegaskan jatidiri lawan/musuh mereka.
Injil Yohanes berisi renungan-renungan yang dibuat narasi dengan menggunakan dialog dan diskusi panjang antara Yesus dan lawan bicara-Nya (murid-murid-Nya dan pihak-pihak lain). Pengarang Injil tampaknya sengaja mengumpan pertanyaan lewat lawan bicara Yesus, kemudian Yesus berbicara menjelaskan panjang-lebar. 𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘨𝘪𝘵𝘶, lawan bicara Yesus tiba-tiba 𝘯𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨. Misal, Nikodemus dalam Yohanes 3.
Peristiwa-peristiwa dalam Injil Yohanes disusun secara tematik sehingga kronologinya sangat berbeda dari Injil sinoptik (Markus, Matius, dan Lukas).
Pengarang Injil Yohanes itu banyak. Antar-ayat, antar-perikop, atau antar-pasal sering tidak bersambung mulus. Selain itu sering terjadi pengulangan tema yang membingungkan pembaca dan sulit ditafsir. 
Dari mana tahu penulis Injil Yohanes banyak? Coba lihat beberapa contoh di bawah.

▶️ Injil Yohanes “yang asli” (dalam arti hasil karangan penulis pertama) secara terang berakhir di Yohanes 20:20-31, kemudian muncul satu pasal lagi (pasal 21). Tampaknya penulis asli, yang mengandaikan dirinya sebagai murid yang dikasihi, mati. Komunitas Yohanes mungkin bingung karena sebelumnya tersebar kabar bahwa murid yang dikasihi itu tidak akan mati, lalu muncul satu pasal lagi untuk menjelaskan status murid yang dikasihi itu. Selain itu penulis asli Injil Yohanes anti-Yahudi sehingga Petrus (yang dianggap mewakili Yahudi) tidak menjadi murid utama. Ini dapat dilihat sejak awal Injil dalam perekrutan murid-murid Yesus. Konon, menurut legenda, Petrus mati syahid di Roma. Penulis generasi kedua kemudian menambah satu pasal lagi untuk memberi panggung kepada Petrus sebagi penghormatan. Di akhir pasal 21 penulis kedua sangat kentara menerangkan sebagai “aku” membedakan dirinya dari penulis pertama “dia” (lih. Yoh. 21:23-24).

▶️ Dalam pada itu Injil Yohanes “yang asli” dimula dari Yohanes 1:19. Pembukaan atau prolog Injil Yohanes 1:1-18 ditambahkan sesudah Injil Yohanes selesai ditulis. Diduga prolog itu adalah madah yang biasa digunakan dalam liturgi Komunitas Yohanes. Madah itu kemudian dijadikan prolog Injil Yohanes dengan mengalihrupakan menjadi prosa dengan menyisipkan ayat 6, 7, 8, dan 15.

▶️ Yohanes 14:31b yang merupakan ayat terakhir pasal 14 𝘉𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 seharusnya bersambung langsung ke Yohanes 18:1 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘶𝘯𝘨𝘢𝘪 𝘒𝘪𝘥𝘳𝘰𝘯. Jadi, pasal 15-17 ditambahkan sesudah penulis pertama mati. Mengapa? Embuh. Mungkin konflik dengan orang-orang Yahudi makin meruncing. Hal ini membuat penulis Injil generasi berikutnya memetaforkan Yesus sebagai Pokok Anggur yang menggantikan Israel Lama. Orang-orang Yahudi adalah ranting-ranting yang tak berbuah sehingga diipotong dan dibuang oleh Bapa si Tukang Kebun.

▶️ Yohanes 4:1-3. Ayat 1 -3 adalah satu kalimat. Ayat 1 disebut Yesus membaptis, yang sama dengan ayat sebelumnya di Yohanes 3:22, tetapi ayat 2 (Yoh. 4) menyangkal Yesus membaptis. Ayat 2 adalah sisipan di kemudian hari. Jadi, ayat 1 sebenarnya langsung bersambung ke ayat 3. Mengapa? Tampaknya terjadi konflik dan persaingan antara kelompok murid Yohanes Pembaptis dan Komunitas Yohanes (pengikut Kristus). Mungkin 𝘧𝘢𝘯𝘴 𝘤𝘭𝘶𝘣 Yohanes Pembaptis mengolok-olok Komunitas Yohanes bahwa Yesus meniru-niru Yohanes Pembaptis, maka muncullah ayat 2 tersebut untuk menegasi ayat 1. 

▶️ Masih banyak lagi.
Soal perbedaan kronologi saya ambil satu contoh. Dalam Injil sinoptik (Matius, Markus,Lukas) Yesus hanya sekali ke Yerusalem di ujung pelayanan-Nya selama masa pelayanan-Nya. Dalam kesempatan itu Yesus mengusir para pedagang dan mengobrak-abrik dagangan mereka di kompleks Bait Allah yang dikenal dengan episode 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘤𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.
Dalam Injil Yohanes episode 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘤𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 di awal pelayanan-Nya (Yoh. 2:13-25) dan Yesus tidak hanya sekali ke Yerusalem, melainkan empat kali. Mengapa episode 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘤𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 di ujung kisah dalam Injil sinoptik, sedang dalam Injil Yohanes di awal?
Seperti yang saya katakan di atas penyusunan peristiwa dalam Injil Yohanes secara tematik. Dua tema besar dalam Injil Yohanes adalah tanda-tanda (pasal 1-12) dan kemuliaan (pasal 13-20). Episode 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘤𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 dimasukkan ke dalam tema besar tanda-tanda.

Pancasila Salatiga, 07.05.2023 (T)

Jumat, 05 Mei 2023

𝗔𝗸𝘂𝗹𝗮𝗵 𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻, Serial Sudut Pandang (Minggu kelima masa raya Paska. Bacaan diambil dari Injil Yohanes 14:1-14)

𝗔𝗸𝘂𝗹𝗮𝗵 𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻, Serial Sudut Pandang (Minggu kelima masa raya Paska. Bacaan diambil dari Injil Yohanes 14:1-14)

Pengarang Injil Yohanes berasal dari Komunitas Yohanes yang berada di tengah-tengah konflik dengan kelompok-kelompok lain, terutama kelompok orang Yahudi. Mereka diusir dari sinagog dan didera oleh kelompok Yahudi. Di tengah-tengah suasana konflik itu kelompok penulis Injil Yohanes memiliki misi ganda. Mereka harus menakrifkan (𝘥𝘦𝘧𝘪𝘯𝘦) dan menegaskan jatidiri mereka sendiri, sekaligus menakrifkan dan menegaskan jatidiri lawan/musuh mereka.
Minggu kelima masa raya Paska. Bacaan diambil dari Injil Yohanes 14:1-14
Konteks terdekat bacaan Injil Minggu ini adalah Yohanes 13-14, sedang konteks besarnya adalah pasal 13-20. Pakar biblika menyebut pasal 13-20 adalah bagian kedua Injil Yohanes yang disebut juga kitab kemuliaan, sedang bagian pertama (pasal 1-12) disebut kitab tanda-tanda. Tidak lagi diceritakan tanda-tanda di bagian kedua, melainkan memuliakan (𝘥𝘰𝘹𝘢𝘻e) dan kemuliaan (𝘥𝘰𝘹𝘢). Apabila bagian kedua ini dikelompokkan lagi, maka menjadi:
▶️ Wasiat untuk murid-murid Yesus (Yoh. 13-17)
▶️ Pengadilan dan kematian Yesus (Yoh. 18-19)
▶️ Penampakan Yesus sesudah kebangkitan (Yoh. 20)
Bagian kedua dibuka dengan pelayanan Yesus yang sangat menggugah (pasal 13). Yesus membasuh kaki para murid. Tindakan simbolik ini adalah teladan yang mudah dimengerti. Ia menggugah para pembaca dan pendengar Injil melayani dengan kasih. Melayani orang kecil tidaklah mudah dan untuk itulah Yesus memberi teladan.
Dalam pasal 13 Yesus juga memberi 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶. Mengapa disebut 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶? Perintah untuk mengasihi sesama bangsa dan pendatang asing sudah ada dalam Imamat 19. Perintah mengasihi sesama manusia, bahkan musuh, ada di Injil Matius 5:42-47 dan Lukas 10:29-37. Meskipun Komunitas Yohanes tidak membaca, bahkan mungkin tidak tahu keberadaan Injil Matius dan Lukas, ajaran Yesus tentang Hukum Kasih sudah beredar luas di jemaat Kristen. Dalam Injil Yohanes Yesus memberi perintah lain, yaitu kasih persaudaraan di dalam jemaat. Kasih yang bersumber dari kasih Yesus untuk mereka 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶. 
Pasal 13 menyiapkan pembaca dan pendengar Injil untuk dapat menerima ketika Yesus akan dikhianati dan dihukum mati sebagai saat-Nya yang mulia. 
Kita sekarang mengulas bacaan Injil Minggu ini (Yoh. 14:1-14). Sesudah Yesus menyampaikan kepergian-Nya (Yoh. 13:33, 36) terbitlah kecemasan dalam diri murid-murid. “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘭𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶. 𝘗𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶. 𝘋𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 … 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶 … 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵-𝘒𝘶 … 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢.” kata Yesus (ay. 1-3).
𝘚𝘦𝘵𝘵𝘪𝘯𝘨 atau latar aslinya kepergian Yesus dalam ayat di atas adalah penyaliban-Nya. Namun, latar Injil ditulis adalah perasaan ketidakhadiran Yesus dalam Komunitas Yohanes dan keterlambatan kedatangan-Nya kembali (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢). Lebih menyayat hati lagi adalah perasaan jemaat Kristen (d.h.i. Komunitas Yohanes) berpisah atau diusir dari sinagog. Meski mereka terusir, terbuang, Yesus menjamin mereka akan mendapat 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 baru.
𝘛𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 dalam ayat 2 dari kata 𝘮𝘰𝘯𝘢𝘪 yang berarti tempat berteduh (Inggris: 𝘮𝘢𝘯𝘴𝘪𝘰𝘯). Kata monai sendiri pembendaan dari kata kerja 𝘮𝘦𝘯o𝘯 yang berarti tinggal di suatu tempat khusus (Inggris: 𝘥𝘸𝘦𝘭𝘭). Dalam ayat selanjutnya (ay. 10, 17) kita akan bertemu yang dimaksud 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 itu lebih berpumpun pada keadaan keakraban dengan Allah yang menanti kaum beriman.
Yesus melanjutkan, “𝘒𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.” (ay. 4). Ciri khas penulis Injil Yohanes adalah mengumpan pertanyaan kepada lawan bicara Yesus. Ayat 4 itu jelas untuk batu loncatan pertanyaan yang akan diajukan oleh Tomas untuk kemudian Yesus menjelaskannya. Kata Tomas kepada Yesus, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪. 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢?” (ay. 5).
Pertanyaan Tomas itu dijawab oleh Yesus, “𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘈𝘬𝘶. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘈𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘋𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘋𝘪𝘢.” (ay. 6-7).
Yohanes 14:6 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 (𝘌𝘨o 𝘦𝘪𝘮𝘪) 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 … akhirnya menjadi ayat istimewa oleh banyak orang Kristen. Eksklusif. Injil Yohanes isinya hanya ayat itu. Percaya Yesus, maka selamat karena mendapat akses kepada Bapa. Titik! Ayat itu juga sering dipakai untuk menyerang kepercayaan atau agama lain.
Padahal bacaan Minggu lalu dari Yohanes 10:1-10 dengan topik 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶. Orang yang masuk-keluar tidak melalui pintu adalah pencuri dan perampok. Kalau kita mencuri uang negara, mencuri uang kolekte, meskipun kita gandrung pada Yohanes 14:6, kita tetap tidak selamat, karena kita tidak masuk-keluar lewat pintu. Kita akan dipotong atau dipangkas dan dipisahkan dari 𝘗𝘰𝘬𝘰𝘬 𝘈𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳 oleh Bapa si Tukang Kebun (Yoh. 15:1-8).
Pernyataan 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘈𝘬𝘶 sebaiknya jangan dilihat sebagai pernyataan universal karena ukuran iman Kristen tidak merujuk ayat ini saja. Ada banyak ukuran di Injil Yohanes yang setara dengan itu (𝘌𝘨o 𝘦𝘪𝘮𝘪) seperti 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 (Yoh. 6:35, 51), 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 (Yoh. 8:12; 9:5), 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 (Yoh. 10:7), 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 (Yoh. 10:11), 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 (Yoh. 11:25), 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘰𝘬𝘰𝘬 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 (Yoh. 15:1, 5). Belum lagi ukuran iman Kristen di dalam Injil sinoptis dan kitab-kitab di Alkitab.
𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 … merupakan suatu pengakuan iman Komunitas Yohanes di tengah situasi yang dikucilkan, diusir dari sinagog, didera oleh pemuka dan pemimpin agama Yahudi. Mereka butuh pastoral yang kuat untuk teguh memegang iman. Apabila kita saat ini hidup merdeka, berkecukupan bahkan kaya, dapat beribadah rutin setiap hari Minggu, maka ayat ini tidak relevan bagi kita jika dipahami sama dengan Komunitas Yohanes memahami. Tidak operatif. Lalu bagaimana?
Penulis Injil Yohanes mengandaikan pembaca atau pendengar Injilnya sudah mengenal Kitab Suci Yahudi atau dalam Kristen disebut Perjanjian Lama (PL). Tampaknya 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 itu merujuk Yosua 22:5 “𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘔𝘶𝘴𝘢, 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘛𝘜𝘏𝘈𝘕 𝘪𝘵𝘶: 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘛𝘜𝘏𝘈𝘕, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶, 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘕𝘺𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘢𝘶𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘬𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘫𝘪𝘸𝘢𝘮𝘶.” Jadi, “jalan” haruslah dipahami sebagai norma seperti yang Yesus katakan 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 … (𝘌𝘨o 𝘦𝘪𝘮𝘪) dalam ayat-ayat di Injil Yohanes di atas.
Misi Yesus adalah menyatakan kebenaran dan pekerjaan Allah sehingga setiap kehidupan, pengajaran, dan karya Yesus merupakan kebenaran. Sebagai kebenaran Yesus berkata dan mengajarkan apa yang benar serta melakukan dan menegakkan kebenaran.
Dengan demikian Yohanes 14:6 apabila dipahami secara sempit percaya saja kepada Yesus, maka akan selamat, tidaklah cukup, karena barangsiapa percaya kepada Yesus, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan (lih. ay. 12). Makna jalan, kebenaran, dan hidup mestilah dipahami dan diamalkan secara serbacakup agar kita dapat datang kepada Bapa. 
Bagaimana dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus? 𝘌𝘮𝘣𝘶𝘩. Bukan urusan kitalah. Kata Yesus kepada perempuan berzina itu, “𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶. 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. “ (Yoh. 8:11).
Sesudah Tomas bertanya tentang jalan dan dijawab oleh Yesus, kemudian giliran Filipus bertanya kepada Yesus. Kata Filipus, ” 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪.” (ay. 8 ). Ini jelas pertanyaan iseng yang diumpankan oleh pengarang Injil Yohanes agar Yesus melanjutkan diskusi. Mengapa saya sebut iseng? Filipus memainkan peran cukup besar selama mengikuti Yesus sejak awal (lih. Yoh. 1:43-46 dan 12:21-22). 𝘔𝘰𝘴𝘰𝘬 Filipus tidak mengenal Bapa?
Atas pertanyaan Filipus itu pengarang Injil Yohanes berkesempatan menyajikan kristologinya. Dalam prolog Injil Yohanes disebutkan bahwa Yesus adalah Firman Allah yang sehakikat dengan Bapa atau Zat, Firman yang nuzul menjadi Manusia. Dalam jawaban Yesus kepada Filipus itu (ay. 9-11) pengarang Injil Yohanes menjelaskan kristologi sebagai satu kesatuan fungsional “ … 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘉𝘢𝘱𝘢 … 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘈𝘬𝘶 … “
Di akhir bacaan (ay. 12-14) Yesus menegaskan bahwa percaya kepada-Nya tidaklah cukup, tetapi ia harus juga melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan, bahkan lebih besar daripada itu. Apa yang dimaksud lebih besar daripada yang dilakukan Yesus? Di sini Yesus memberi amanat agar jemaat atau gereja mengerjakan pekerjaan Yesus lebih luas lagi. Pekerjaan Yesus yang mana? Pekerjaan di dalam kitab tanda-tanda (pasal 1-12) seperti yang saya tulis di atas. Apakah bisa? Bisa. Yesus berpesan, jika kita meminta sesuatu kepada Yesus dalam nama-Nya, Ia akan melakukannya. Di sini penulis Injil sekaligus menegaskan kristologinya.

Salatiga, Lapangan Pancasila, 06.05.2023 (T)

Minggu, 30 April 2023

URUSANNYA PINTU BUKAN GEMBALA, SERIAL SUDUT PANDANG

URUSANNYA PINTU BUKAN GEMBALA, SERIAL SUDUT PANDANG

Dari gatra cerita Injil Yohanes tidak semenarik Injil sinoptik (Markus, Matius, dan Lukas). Secara sastrawi perbedaan antara Injil Yohanes dan Injil sinoptik dapat dilihat dari penggunaan bahasa dan gaya penulisan yang berbeda. Injil Yohanes ditulis dengan bahasa yang lebih rumit, kiasan, dan simbolis sehingga lebih sukar dipahami dibandingkan dengan Injil sinoptik yang menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan naratif yang lebih mudah diikuti.

Injil Yohanes berisi renungan-renungan yang dibuat narasi dengan menggunakan dialog dan diskusi panjang antara Yesus dan lawan bicara-Nya (murid-murid-Nya dan pihak-pihak lain) serta peristiwa-peristiwa yang disusun secara tematik. Penyusunan secara tematik inilah membuat kronologi di Injil Yohanes sangat berbeda dari Injil sinoptik.

Hari ini adalah Minggu keempat masa raya Paska,  Bacaan Injil Yohanes 10:1-10 

Konteks terdekat bacaan Injil Minggu ini adalah Yohanes 7:1 – 10:21 dalam rangka Hari Raya Pondok Daun (𝘚𝘶𝘬𝘬𝘰𝘵). 𝘚𝘶𝘬𝘬𝘰𝘵 merupakan perayaan pengucapan syukur bagi umat Yahudi atas hasilpanen yang dirayakan selama tujuh hari pada bulan purnama di antara bulan September dan Oktober. Pada masa perayaan ini umat Yahudi berziarah ke Bait Allah di Yerusalem sambil membawa persembahan. Pesta ini dimaknai sebagai festival panen utama bangsa Yahudi (Kel. 23:16; Ul. 16:13-17), festival utama Bait Allah (Bil. 29:12-40), dan sebagai pengenangan pengembaraan bangsa Israel di gurun ketika keluar dari Mesir (Im. 23:33-44).

Pada mulanya Yesus tidak mau pergi ke Yerusalem karena waktunya belum tiba, tetapi akhirnya Yesus menyusul saudara-saudara-Nya ke Yerusalem (Yoh. 7:1-9). Kedatangan Yesus di Yerusalem menciptakan kebigungan; ada yang percaya Ia adalah Mesias, tetapi lebih banyak yang menolak-Nya.

Dalam Hari Raya Pondok Daun itu pada malam hari Bait Allah dan sekitarnya diterangi oleh cahaya obor atau suluh. Empat kaki dian diletakkan di pusat lapangan Bait Allah yang menjadi simbol terang Yerusalem, terang umat Yahudi. Di sini Yesus memandang bukan obor itu yang menerangi, melainkan, “𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘛𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘋𝘶𝘯𝘪𝘢. 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘨𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯 … ” (Yoh. 8:12).

Sudah barangtentu pengajaran dan pelayanan Yesus di Yerusalem dalam suasana 𝘚𝘶𝘬𝘬𝘰𝘵 ini memancing kegusaran para pemimpin/pemuka agama Yahudi dan banyak orang Yahudi. Bacaan Injil Minggu ini, Yohanes 10:1-10, dalam suasana ini. Yohanes 10:1-10 sendiri adalah bagian dari perikop Yohanes 10:1-21 yang oleh LAI diberi judul 𝘎𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬. Namun, perikop 𝘎𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 ini sebenarnya mencakup dua topik:
▶️ Pintu (ay. 1-10, bacaan Injil Minggu ini)
▶️ Gembala yang baik (ay. 11-21)

Bacaan dibuka dengan perkataan Yesus, “𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘫𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘮𝘱𝘰𝘬. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶, 𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢. 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘭𝘶𝘢𝘳. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘭𝘶𝘢𝘳, 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪, 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭." (ay. 1-5).

Persis sebelum ayat di atas Yesus mengecam orang-orang Farisi sebagai orang buta (lih. Yoh. 9:41). Perkataan Yesus (ay. 1-5) ditujukan kepada orang-orang Farisi, tetapi mereka tidak mengerti, karena Yesus mengatakan dengan bahasa kiasan (ay. 6). Penulis Injil Yohanes memang tidak pernah menggunakan perumpamaan (𝘱𝘢𝘳𝘢𝘣𝘰𝘭𝘦́) seperti dalam Injil sinoptik, melainkan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘪𝘮𝘪𝘢 atau peribahasa. Peribahasa dengan kiasan ibarat teka-teki atau kata-kata terselubung sehingga orang-orang yang tidak memiliki nasabah kepercayaan dengan Yesus akan sulit mengerti.

Pengajaran Yesus selalu memancing kemarahan para pemuka agama Yahudi karena, selain radikal, ucapan Yesus juga 𝘯𝘨𝘦-gas. Ayat 1 Yesus menyamakan orang-orang Farisi adalah pencuri dan perampok yang masuk ke kandang domba lewat tempat lain, bukan lewat pintu. 

Kandang domba adalah kawasan tertutup sehingga akses masuk hanya lewat pintu yang diawasi oleh penjaga. Kata Yesus, orang yang masuk melewati pintu adalah gembala (ay. 2). Penjaga membukakan pintu bagi gembala dan domba-domba mengenal suara gembala (ay.3).

Pengarang Injil Yohanes berasal dari Komunitas Yohanes yang berada di tengah-tengah konflik dengan kelompok-kelompok lain, terutama kelompok orang Yahudi. Di tengah-tengah suasana konflik itu kelompok penulis Injil Yohanes memiliki misi ganda. Mereka harus menakrifkan dan menegaskan jatidiri mereka sendiri, sekaligus menakrifkan dan menegaskan jatidiri lawan/musuh mereka.

Dari latar belakang ini dapat diduga yang dimaksud dengan pencuri dan perampok dalam ayat 1 – 5 adalah para pemuka agama Yahudi, seperti orang-orang Farisi, yang berusaha memisahkan orang-orang percaya dari Yesus (lih. pasal 9). Dalam konteks Komunitas Yohanes pencuri dan perampok adalah guru-guru palsu yang memecah-belah jemaat Kristen (lih. 2Yoh. 7-9). Ayat 5 merupakan pastoral bagi jemaat Kristen agar tidak mudah diombang-ambing oleh pengajar-pengajar asing. Percayalah kepada gembala atau guru-guru yang sudah mengenal dan dikenal mereka.

Oleh karena ucapan Yesus dalam ayat 1-5 tidak dimengerti oleh lawan-Nya, maka Yesus berkata lagi, "𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘼𝙠𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙞𝙣𝙩𝙪 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙙𝙤𝙢𝙗𝙖-𝙙𝙤𝙢𝙗𝙖 𝙞𝙩𝙪. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘮𝘱𝘰𝘬, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. 𝘼𝙠𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙞𝙣𝙩𝙪. 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘶𝘮𝘱𝘶𝘵. 𝘗𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘪𝘮𝘱𝘢𝘩-𝘭𝘪𝘮𝘱𝘢𝘩.” (ay. 7-10).

Frase 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘈𝘬𝘶 (ay. 8 ) bukan merujuk orang-orang atau nabi-nabi zaman Perjanjian Lama (PL). Frase 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘈𝘬𝘶 merujuk keterangan waktu pada malam hari, saat pencuri dan perampok datang, sebelum gembala datang pada pagi hari.
 
Dalam ayat 1-5 Yesus memertentangkan antara gembala dan pencuri/perampok, tetapi dalam ayat itu Yesus tidak menunjuk diri-Nya adalah Gembala. Memang dalam ayat 11 di pasal yang sama ini Yesus menyatakan diri-Nya adalah 𝘎𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬, tetapi topik ayat 1-10 bukanlah tentang 𝘎𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬. 

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa gembala di sana adalah pengajar-pengajar atau guru-guru yang sudah mengenal dan dikenal umat. Gembala-gembala itu masuk lewat pintu. Nah, dalam ayat 7 Yesus menekankan, “𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘪𝘵𝘶.” 

Gembala-gembala yang mengenal dan dikenal oleh domba-domba saja ternyata tidak cukup. Gembala-gembala itu harus lewat pintu. Para guru atau pengajar iman Kristen tidak cukup berbekal terkenal, tetapi ia mutlak melewati Kristus sebagai pintu masuk-keluar bagi para gembala dan domba-domba untuk digembalakan menuju keselamatan dan hidup. Melewati Pintu berarti percaya kepada Kristus seperti Komunitas Yohanes percaya kepada Kristus. Orang yang masuk tidak melalui pintu adalah penyesat untuk keuntungan diri sendiri dan membinasakan umat.

Di sini pendeta atau pengkhotbah harus cermat dalam melihat dua topik dalam satu perikop. Bacaan Injil Minggu ini, Yohanes 10:1-10, topiknya adalah 𝗽𝗶𝗻𝘁𝘂, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 gembala yang baik. Di sinilah kerumitan Injil Yohanes, yang jika tidak cermat dalam melihat topik, maka akan mengaburkan pesan teologis penulis Injil.

Lapangan Pancasila Salatiga, 30.04.2023 (T)

Sabtu, 22 April 2023

PENGAJARAN JALAN EMAUS, SERIAL SUDUT PANDANG

PENGAJARAN JALAN EMAUS, SERIAL SUDUT PANDANG

Keempat kitab Injil yang merupakan bagian dari Alkitab, kitab suci umat Kristen, menceritakan penampakan Yesus sesudah kebangkitan. Dari sejumlah cerita di sana kisah penampakan Yesus menyertai dua orang murid dalam perjalanan menuju Emaus di Injil Lukas adalah yang paling kerèn secara sastrawi dan teologis. 
Hari ini adalah Minggu ketiga dalam masa raya Paska. Bacaan  diambil dari Injil Lukas 24:13-35 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 2:14a, 36-41, Mazmur 116:1-4, 12-19, dan 1Petrus 1:17-23.
LAI memberi judul perikop (𝘱𝘢𝘴𝘴𝘢𝘨𝘦) bacaan Injil Minggu ini (Lukas 24:13-35) 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘌𝘮𝘢𝘶𝘴. Konteks terdekat bacaan adalah keseluruhan ayat dalam pasal 24 atau pasal terakhir Injil Lukas. Mengapa kisah ini saya sebut paling kerèn?
▶️ Kisah ini merupakan penghubung atau jembatan antara cerita tentang kubur kosong (Luk. 24:1-12) dan penampakan Yesus kepada para rasul (Luk. 24:36-53).
▶️ Kisah ini merupakan “ringkasan” aneka cerita yang disatukan oleh pengarang Injil Lukas ke dalam “satu cerpen”.
▶️ Dalam kisah ini Lukas mengulang tema teologi yang diusungnya bahwa Mesias harus menderita untuk dapat masuk ke dalam kemuliaan. Teologi kenaikan. Bandingkan dengan Injil Matius yang pengarangnya sejak awal menyatakan bahwa Yesus adalah Raja Mesianik sejak lahir.
Kisah ini dalam suasana teduh di awal musim semi. Bacaan diawali dengan 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 … yang berarti hari kebangkitan Yesus, hari pertama pekan itu yang sama dengan hari Minggu saat ini. Dua orang murid Yesus, tetapi bukan dari 11 rasul, pergi (atau pulang) ke sebuah kampung yang bernama Emaus. Jaraknya lebih kurang 11 km dari Yerusalem. Mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. 
Dalam perjalanan mereka bercakap-cakap dan bertukar pikiran. Itu berarti mereka bukan sedang bercakap-cakap biasa saja, melainkan berbincang tentang Yesus yang baru dihukum mati lewat salib, dikubur, dan mereka tampaknya mencoba memaknainya. Datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu Ia berjalan bersama-sama dengan mereka. Frase 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 (αὐτὸς dibaca 𝘢𝘶𝘵𝘰𝘴) ditekankan oleh Lukas. Lukas menggunakan nama pribadi Yesus untuk menegaskan bahwa yang mendekati kedua murid itu adalah Yesus, bukan orang lain. Bandingkan dengan Markus 16:12.
Namun, ada sesuatu yang menghalangi pandangan kedua murid ini sehingga mereka tidak mengenal “Orang itu” Yesus. Apa yang menghalangi mereka? Untuk menjawab ini, mari kita berangkat dari “titik nol”. Sila buka Kejadian 2:25 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (Adam dan Hawa) 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘶. Kita sudah tahu kisah selanjutnya, mereka akhirnya malu karena telanjang. Mengapa? Ada pemicunya. Demikian juga halnya dengan kedua murid itu. Dalam terang Injil Lukas kedua murid itu tidak mengenal Yesus karena Yesus memang tidak dipahami oleh para pengikut-Nya (lih. Luk. 9:45; 18:34).
Selain itu para penulis Injil, termasuk Lukas, menampilkan paradoks. Tubuh Yesus sebelum mati dan Yesus-Paska adalah sama sekaligus berbeda. Sama karena ciri fisikal persis seperti sebelumnya. Ada luka di lambung dan di tangan (serta makan-minum bersama dengan murid-murid-Nya). Berbeda karena Yesus-Paska tidak langsung dikenali oleh para murid dan dapat tiba-tiba hadir dan menghilang dari ruangan terkunci.
Yesus membuka percakapan, “𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘬𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯?”. Bayangkanlah anda sedang mengalami kecelakaan mobil parah, lalu ada orang datang ke TKP dan bertanya, “𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢?”. Kesal 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬? Tentu. Hal yang sama terjadi pada kedua murid itu. Atas pertanyaan Yesus itu 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝘂𝗸𝗮 𝗺𝘂𝗿𝗮𝗺. Seorang dari mereka bernama Kleopas. Namun, Kleopas di sini jangan dicampuradukkan dengan Klopas dalam Yohanes 19:25. 
Mengapa murid satunya tidak disebutkan namanya? Entahlah. Barangkali ini cara Lukas hendak mengajak pembaca kitab Injilnya turut serta di dalam kisah ini dengan memerankan si murid tanpa nama itu?
Kleopas balik bertanya kepada “Orang itu” dengan nada sarkastik, “𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪-𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪?” Dengan bahasa masa kini Kleopas hendak mengatakan, “𝘌𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘰𝘦 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘫𝘦́?” 
Kekesalan Kleopas wajar-wajar saja. Mereka belum lama berjalan dari Yerusalem dan “Orang itu” bergabung dengan mereka tidak lama dari itu. Mereka berasumsi bahwa “Orang itu” juga dari Yerusalem. 𝘔𝘰𝘴𝘰𝘬 tidak tahu apa yang terjadi di Yerusalem beberapa hari belakangan ini? Tampaknya Yesus senang sedang 𝘯𝘨𝘦-𝘱𝘳𝘢𝘯𝘬 mereka. Tanya Yesus lagi, “𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶?”
Akhirnya mereka menjelaskan kepada “Orang itu”. Kata mereka, “𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘻𝘢𝘳𝘦𝘵. 𝘋𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘣𝘪, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝙞𝙢𝙖𝙢-𝙞𝙢𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙡𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞𝙣-𝙥𝙚𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞𝙣 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢. 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘋𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪: 𝘗𝘢𝘨𝘪-𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘶𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳, 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘺𝘢𝘵-𝘕𝘺𝘢. 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵-𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘐𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱. 𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵." (ay. 19-24)
Di sini Lukas mengulangi lagi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin Yahudi sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kematian Yesus (lih. Luk. 23:13). Lukas sama sekali tidak menyebut Pontius Pilatus. Kedua murid itu masih mencerap bahwa Yesus datang sebagai Mesias politik sehingga mereka mengharap Yesus membebaskan mereka dari penjajah Romawi. Perempuan-perempuan yang dimaksud di atas adalah Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus, dan perempuan lain bersama dengan tiga perempuan itu (lih. Luk. 24:10). Beberapa teman yang dimaksud tampaknya adalah sebelas rasul dan saudara-saudara lain, tetapi yang pergi ke kubur hanya Petrus (lih. Luk. 24:9, 12).
“Orang itu” menanggapi mereka, “𝘏𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩, 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘢𝘣𝘪. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢?” “Orang itu” lalu menjelaskan kepada mereka tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mula dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. (ay. 25-27)
Ada yang mengatakan pengarang Injil Lukas adalah seorang tabib, tetapi banyak ahli menolak itu. Namun, para ahli bersepakat pengarang Injil Lukas adalah seorang terpelajar dan warga dunia Grika. Kitab Injil Lukas ditujukan kepada Teofilus sehingga sasaran utama kitabnya itu tampaknya untuk orang Kristen berbudaya Grika. 
Ujaran 𝘏𝘢𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 di atas merupakan ungkapan kekecewaan yang biasa diucapkan oleh para filsuf Grika terhadap pendengar yang tidak mampu menangkap penjelasan mereka. Dari sini kita dapat mengira-ngira di dalam narasi kedua orang itu tidak marah ketika disebut orang bodoh. 𝘉𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶 mestilah dipahami dalam pemikiran Yahudi bahwa hati (kiasan dari jantung) adalah pusat kecerdasan dan kehendak manusia (bdk. Luk. 1:17, 51, 66; 2:19; 21:14, 34).
Lukas mengusung teologi kenaikan, dari tempat rendah ke tempat lebih tinggi, dari penderitaan menuju kemuliaan. Dalam Injil Lukas Yesus berulang-ulang mengatakan bahwa Mesias harus menderita terlebih dahulu seperti dalam Lukas 9:22; 17:25; 24:7.
Dalam ayat 27 dikatakan bahwa “Orang itu” menjelaskan kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi merujuk Dia. Di sini Lukas hendak mengatakan kepada jemaatnya untuk menafsir secara baru kitab-kitab yang kita kenal sekarang sebagai Perjanjian Lama (PL). Bangsa Yahudi tidak mengenal Mesias yang menderita, tetapi umat Kristen menafsir secara baru terutama Yesaya 52-53 dari pengalaman para murid akan Yesus yang disalibkan dan dibangkitkan.
Kedua murid dan “Orang itu” mendekati kampung yang mereka tuju. “Orang itu” seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Namun, mereka sangat mendesak-Nya, “𝘛𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘢𝘮.” (ay. 29).
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang di Tanah Palestina mendesak tamu untuk mampir ke rumah mereka. Ini dapat kita baca juga dalam perumpamaan Yesus tentang orang yang mengadakan perjamuan besar dalam Lukas 14:15-24. Ayat 23 “…𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶, 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩.”
Ayat 29 𝘛𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪... sangat fenomenal dan menginspirasi. Banyak biarawan pada malam hari berdoa mengambil kata-kata dua murid dari Emaus itu: 𝘛𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘺𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘳𝘶𝘵.
Ayat itu juga menjadi inspirasi nyanyian gerejawi. Saya berikan dua versinya.
𝘒𝘪𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 𝘕𝘰. 329
Tinggal sertaku; hari t’lah senja. 
G’lap makin turun, Tuhan tinggallah! 
Lain pertolongan tiada kutemu:
Maha Penolong,tinggal sertaku!
𝘔𝘕𝘙2 𝘕𝘰. 111
Tinggal sertaku, Kawanku kudus;
T'lah hampir malam, jangan jalan t'rus.
Tiada tolongan, hanya pada-Mu.
Silakan Tuhan, tinggal sertaku.
“Orang itu” akhirnya mau tinggal bersama-sama dengan kedua murid itu untuk bermalam. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka. (ay. 30)
Kata duduk di sini sebenarnya terjemahan dari κατακλιθῆναι (baca: 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘭𝘪𝘵𝘩e𝘯𝘢𝘪) yang berarti sedikit rebahan (𝘳𝘦𝘤𝘭𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨). Pada zaman itu hanya meja makan tanpa bangku atau kursi. Orang makan secara 𝘭e𝘴e𝘩𝘢𝘯 atau duduk di tempat semacam kasur dengan sedikit rebahan.
Pada saat makan “Orang itu” langsung mengambil alih posisi kepala keluarga. Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka seperti yang biasa dilakukan oleh Yesus dalam Lukas 9:16 dan 22:19. Namun, tindakan ini bukanlah mengadakan ekaristi atau perjamuan kudus. Penginjil Lukas hanya hendak menegaskan kebiasaan Yesus sebelum makan.
Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka mengenal Dia, tetapi Yesus lenyap dari tengah-tengah mereka (ay. 31). Kata mereka seorang kepada yang lain, “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘰𝘣𝘢𝘳-𝘬𝘰𝘣𝘢𝘳, 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘚𝘶𝘤𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢?” (ay. 31-32).
𝘛𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 mengingatkan kita pada Kejadian 3:7 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢 (Adam dan Hawa) 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨. Menurut kaum Gnosis mereka mendapat pencerahan sesudah memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kedua murid itu baru 𝘯𝘨𝘦𝘩, mendapat pencerahan bahwa “Orang itu” adalah Yesus ketika mereka dipicu oleh kebiasaan atau gerakan Yesus sebelum makan. 
Bagaimana bisa gerakan Yesus itu mencerahkan mereka? Ada dua teori. Pertama, kebiasaan makan seperti itu sudah lazim di komunitas pengikut Kristus. Kedua, dari sudut pedagogis jika Yesus mengajar lewat kata-kata belum dapat mencerahkan para pendengar-Nya, maka Ia mencoba dengan cara lain seperti dengan gerakan simbolis. Robert Boehlke mencatat ada delapan cara Yesus mengajar: ceramah, bimbingan, menghafalkan, pewujudan, dialog, studi kasus, perjumpaan, dan perbuatan simbolis.
Dalam frase 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘰𝘣𝘢𝘳-𝘬𝘰𝘣𝘢𝘳 harus dipahami di sini bahwa bahasa Indonesia menggunakan kata kiasan hati untuk jantung atau καρδία (baca: 𝘬𝘢𝘳𝘥𝘪𝘢). Pada zaman itu hati dipahami sebagai pusat kecerdasan dan kehendak manusia (bdk. Luk. 1:17, 51, 66; 2:19; 21:14, 34). 
Hati berkobar-kobar atau 𝘣𝘶𝘳𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘦𝘢𝘳𝘵 seperti semangat membara untuk melakukan tugas sangat penting. Pemerian (𝘥𝘦𝘴𝘤𝘳𝘪𝘱𝘵𝘪𝘰𝘯) hati berkobar-kobar dapat dilihat hasrat Rocky Balboa mengalahkan Ivan Drago dalam 𝘙𝘰𝘤𝘬𝘺 𝘐𝘝 yang diiringi lagu apik 𝘉𝘶𝘳𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘏𝘦𝘢𝘳𝘵 dari 𝘚𝘶𝘳𝘷𝘪𝘷𝘰𝘳. 
Mengapa hati kedua murid itu berkobar-kobar ketika di tengah perjalanan? Kalau kita melihat kata 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 (ay. 31) dan 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 (ay. 32) menggunakan kata turunan yang sama 𝘥𝘪e𝘯𝘰𝘪𝘤𝘩𝘵𝘩e𝘴𝘢𝘯 dan 𝘥𝘪e𝘯𝘰𝘪𝘨𝘦𝘯 yang berarti 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘬𝘢𝘬𝘢𝘯 dan 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢𝘬𝘢𝘯. Ketika Yesus membukakan (menerangkan) Kitab Suci di tengah perjalanan, hati mereka berkobar-kobar. Dalam konteks kedua murid ini, 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗮𝗱𝗶𝗻𝘆𝗮 𝗺𝘂𝗿𝗮𝗺, 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗹𝗶𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮 untuk mengabarkan tentang Yesus yang bangkit sesuai dengan Kitab Suci. Namun, saat itu mereka belum menyadari bahwa “Orang itu” adalah Yesus. Mereka baru 𝘯𝘨𝘦𝘩 “Orang itu” adalah Yesus ketika mereka dipicu oleh kebiasaan atau gerakan Yesus sebelum makan. 
Tidak 𝘱𝘢𝘬e lama kedua orang murid itu bergegas kembali ke Yerusalem. Di sana mereka mendapati kesebelas rasul itu dan orang-orang yang ada bersama dengan mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka percaya pada kebangkitan Yesus karena Ia menampakkan diri kepada Simon (Petrus). Kedua murid itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah perjalanan ke Emaus dan bagaimana mereka mengenali Yesus pada waktu memecah-mecahkan roti. (ay. 33-35)
Kapan Yesus menampakkan diri kepada Petrus? Lukas tidak menceritakan tentang waktu dan tempatnya. Namun, kalau membaca kisah di Injil Lukas ini penampakan Yesus kepada Petrus terjadi di Yerusalem. Penting bagi Lukas untuk menyampaikan penampakan Yesus kepada Petrus. Ini untuk menambah wibawa rasul, yang pada gilirannya Petrus menjadi pemimpin kelompok para rasul (lih. bacaan pendahuluan Kis. 2:14a, 36-41). 

Libur Lebaran, Lapangan Pancasila, 22.04.2023 (T)






Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggi...