SUDUT PANDANG MATIUS 14:22-33, KEBERANIAN ADALAH BUAH KEBERIMANAN, SERIAL SUDUT PANDANG, YESUS BERJALAN DI ATAS AIR, Matius 14:22-33,
Banyak orang Kristen dewasa memahami kisah di Alkitab sama dengan pemahaman mereka saat masih kanak-kanak. Contoh kisah Natal. Mereka mencerap kisah Natal itu hanya satu versi: Yesus lahir di kandang dan didatangi gembala-gembala dan orang-orang Majus dalam satu latar. Padahal kisah itu pemerkosaan penggabungan dua kisah Natal yang berbeda dari Injil Lukas dan Matius. Kalau mereka cermat membaca Alkitab, menurut Injil Lukas rumah Yusuf di Nasaret dan Yesus lahir di “kandang” (apa pun sebutannya) di Betlehem, sedang menurut Injil Matius rumah Yusuf di Betlehem dan Yesus lahir di rumah. Suasana kelahiran Yesus damai menurut Injil Lukas, sedang menurut Injil Matius penuh teror sehingga Yusuf membawa Maria dan bayi Yesus mengungsi ke Mesir. Kisah Natal kedua Injil itu tidak dapat dan tidak boleh digabungkan, karena keduanya mengusung teologi yang berbeda. Penggabungan malah menghilangkan pesan teologinya, bahkan menurunkan harkat kisah itu menjadi dongeng biasa.
Cukup banyak lulusan perguruan tinggi teologi cara membaca Alkitab mereka sama dengan saat mereka masih kanak-kanak dan remaja. Buktinya khotbah atau tafsir mereka terdengar sama saja, itu-itu saja, meskipun dari kitab yang berbeda-beda.
Bacaan Injil Matius 14:22-33, perikopnya diberi judul oleh LAI ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ข๐ต๐ข๐ด ๐ข๐ช๐ณ. Bacaan dapat dibagi ke dalam tiga bagian ulasan:
๐ Matius 14:22-23 Yesus di gunung
๐ Matius 14:24-27 Yesus berjalan di atas air
๐ Matius 14:28-32 Petrus berjalan di atas air
๐ Matius 14:33 Pengakuan
๐ฌ๐ฒ๐๐๐ ๐ฑ๐ถ ๐ด๐๐ป๐๐ป๐ด (Mat. 14:22-23)
Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. (Mat. 14:22, TB II 2023)
Bacaan Injil Minggu ini merupakan episode berikutnya dari episode bacaan Injil Minggu lalu tentang ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ช๐ฎ๐ข ๐ณ๐ช๐ฃ๐ถ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ. Hal itu ditunjukkan dengan frase pembuka ayat 22 ๐๐ฆ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ.
Kata ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ด๐ข๐ฌ diterjemahkan dari e๐ฏ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ด๐ฆ๐ฏ, yang berarti literal memaksa (bdk. Luk. 14:23 “ … ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ orang-orang yang ada di situ, …”). Yesus memaksa para murid ke mana? Naik ke perahu untuk pergi lebih dahulu ke seberang. Mungkin maksudnya ke sebelah timur Danau Galilea (bdk. Mat. 8:18). Dalam pada itu Yesus juga membubarkan (๐ข๐ฑ๐ฐ๐ญ๐บ๐ดo) orang banyak.
Yesus memaksa para murid meninggalkan-Nya dan membubarkan khalayak ditafsir bahwa khalayak begitu antusias untuk segera mengangkat Yesus menjadi raja mereka. Tafsir ini spekulatif karena teks sama sekali tidak meninggalkan jejak untuk menafsir seperti itu. Ayat selanjutnya justru menjelaskan bukan itu alasan Yesus.
Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam Ia sendirian di situ. (Mat. 14:23, TB II 2023)
Jadi, alasan Yesus memaksa para murid pergi dan membubarkan khalayak adalah hendak menyingkir, menyendiri. Tujuan sejak semula Yesus pergi ke tempat terpencil karena peristiwa pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes (lih. Mat. 14:1-13a).
LAI menerjemahkan ๐ฐ๐ณ๐ฐ๐ด menjadi ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ช๐ต dalam frase ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฏ๐ข๐ช๐ฌ ๐ฌ๐ฆ ๐ข๐ต๐ข๐ด ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ช๐ต sebenarnya mengaburkan atau mengacaukan teologi yang diusung oleh pengarang Injil Matius. Kata ๐ฐ๐ณ๐ฐ๐ด seharusnya diterjemahkan menjadi ๐จ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ. Sebagai pembanding NRSV, KJV, NAS, NIV menerjemahkan oros menjadi ๐ฎ๐ฐ๐ถ๐ฏ๐ต๐ข๐ช๐ฏ.
Istilah ๐ฐ๐ณ๐ฐ๐ด atau gunung amat penting bagi penulis Injil Matius untuk menyampaikan teologinya yang khas. Pendapat ini diperkuat dengan ๐๐ค๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ-๐ถ๐ค๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข versi Injil Lukas yang disampaikan oleh Yesus bukan di gunung, melainkan di tempat datar (lih. Luk. 6:17), karena teologi Lukas berbeda dari Matius. Matius mengusung teologinya bahwa Yesus adalah Musa yang baru. Musa menerima firman Allah (10 Perintah Allah) di gunung, sedang Yesus memberi perintah atau pengajaran atau firman di gunung dalam ๐๐ฉ๐ฐ๐ต๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช ๐๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ (lih. Mat. 5 – 7). Musa berdoa pergi ke gunung, Yesus juga berdoa pergi ke gunung seperti dalam ayat 23 di atas. Gunung merupakan tempat manifestasi Allah, tempat perjumpaan dengan Allah (Kel. 19:20; 1Raj. 19).
๐ฌ๐ฒ๐๐๐ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐น๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐ฎ๐ถ๐ฟ (Mat. 14:24-27)
Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru, “๐๐ต๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Yesus segera berkata kepada mereka, “๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ! ๐๐ฏ๐ช ๐๐ฌ๐ถ, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต!” (Mat. 14:24-27, TB II 2023)
๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ช๐ญ diterjemahkan dari ๐ด๐ต๐ข๐ฅ๐ช๐ฐ๐ถ๐ด ๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ญ๐ฐ๐ถ๐ด yang berarti literal banyak stadia; 1 stadia setara lebih kurang 185 m. Tampaknya LAI berkesulitan mencari padanan stadia sehingga mengambil satuan mil yang biasa untuk mengukur jarak tempuh di laut. Data geografis masa kini lebar Danau Galilea mencapai 13 km. Saking lebarnya Danau Galilea disebut juga Laut Tiberias.
Ada perbedaan antara Matius dan Markus mengenai perjalanan para murid. Matius menulis ๐๐๐ง๐๐๐ช … ๐ฅ๐ช๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ-๐ข๐ฎ๐ฃ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐จ๐ฆ๐ญ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ญ … , sedang Markus menulis ... ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ถ๐ด๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐๐ง๐๐ ๐ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐บ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ญ … (lih. Mrk. 6:48). Subjek dalam Injil Matius adalah perahu, sedang dalam Injil Markus subjeknya adalah mereka (para murid). Tampaknya Matius memetaforkan Gereja atau jemaat Matius yang sedang gonjang-ganjing karena ditekan oleh lawan dengan perahu yang diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal.
๐๐ช๐ณ๐ข-๐ฌ๐ช๐ณ๐ข ๐ซ๐ข๐ฎ ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ diterjemahkan dari ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ณ๐ตo ๐ฅ๐ฆ ๐ฑ๐ฉ๐บ๐ญ๐ข๐ฌo ๐ตo๐ด ๐ฏ๐บ๐ฌ๐ต๐ฐ๐ด yang berarti literal ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ซ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ซ๐ข๐จ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ. Pada zaman itu ada pembagian empat jam jaga malam. Jam keempat sekitar pukul 3 – 6 pada waktu masa kini. ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด … ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ข๐ต๐ข๐ด ๐ข๐ช๐ณ dalam teks sumber penerjemahan tidak menyebut air, melainkan laut (๐ต๐ฉ๐ข๐ญ๐ข๐ด๐ด๐ข๐ฏ). Yesus tidak melayang-layang di atas permukaan laut, tetapi memang berjalan. Bangsa Israel memandang laut sebagai kekuatan yang selalu mengancam manusia. Di sini Matius tampaknya hendak menampilkan bahwa Allah saja yang dapat menguasai atau mengalahkannya. Kekuatan itu di bawah kaki Yesus.
Para murid melihat Yesus berjalan di atas air menjadi ketakutan dan mengira itu hantu. Hanya di ayat 26 ini dan Markus 6:49 yang menggunakan kata hantu (๐๐ฉ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ด๐ฎ๐ข). Yesus menentramkan mereka, “๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ!”, yang diterjemahkan dari ๐๐ฉ๐ข๐ณ๐ด๐ฆ๐ช๐ต๐ฆ, kata yang sama diucapkan Yesus kepada orang lumpuh (Mat. 9:2) dan perempuan yang menderita sakit pendarahan (Mat. 9:22).
Sesudah itu Yesus mengenalkan diri, “๐๐ฏ๐ช ๐๐ฌ๐ถ.” Bahasa aslinya adalah ๐ฆ๐จ๐ฐ̄ ๐ฆ๐ช๐ฎ๐ช yang berarti literal ๐๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข. Rumusan ini mengingatkan kita pada jatidiri Yesus di Injil Yohanes. Sekadar informasi Injil Yohanes ditulis jauh sesudah penulisan Injil Matius. Selain itu rumusan ๐ฆ๐จ๐ฐ̄ ๐ฆ๐ช๐ฎ๐ช merupakan perkenalan diri Allah kepada Musa dalam kitab Keluaran 3:14 (juga Ul. 32:39) versi Septuaginta. Ini menguatkan bahwa Matius mengusung teologi Yesus adalah Musa yang baru, bahkan lebih besar daripada Musa.
๐ฃ๐ฒ๐๐ฟ๐๐ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐น๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐ฎ๐ถ๐ฟ (Mat. 14:28-32)
Petrus berkata kepada-Nya, “๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฑ๐ข๐ฃ๐ช๐ญ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ, ๐ด๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข-๐๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ข๐ต๐ข๐ด ๐ข๐ช๐ณ.” Kata Yesus, “๐๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ!” Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air dan mendatangi Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mula tenggelam, lalu berteriak, “๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ต๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata, “๐๐ข๐ช, ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ช๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ?” Lalu keduanya naik ke perahu dan angin pun reda. (Mat. 14:28-33)
Kisah Petrus berjalan di atas air ini adalah satu dari tiga cerita khas Injil Matius tentang Petrus. Tidak ada di kitab Injil lainnya. Dua cerita khas lainnya adalah ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ถ๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ต๐ณ๐ถ๐ด (Mat. 16:16-19) dan ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ช๐ต ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ (Mat. 17:24-27).
Dalam bacaan ini untuk pertama kali Matius menampilkan Petrus sebagai jurubicara para murid. Sapaan Yesus dengan ๐ฆ๐จo ๐ฆ๐ช๐ฎ๐ช ditanggapi Petrus dengan ๐ฆ๐ช ๐ด๐ถ ๐ฆ๐ช, yang berarti literal ๐ข๐ฑ๐ข๐ฃ๐ช๐ญ๐ข ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข. Untuk memastikan jatidiri-Nya Petrus meminta Yesus menyuruhnya berjalan di atas air.
Petrus percaya pada perintah Yesus “๐๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ!” dan ia berjalan di atas air sampai (ke tempat) Yesus (sesuai dengan bahasa aslinya ๐๐ฆ๐ต๐ณ๐ฐ๐ด ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฆ๐ฑ๐ข๐ตe๐ด๐ฆ๐ฏ ๐ฆ๐ฑ๐ช ๐ฉ๐บ๐ฅ๐ข๐ต๐ข ๐ฌ๐ข๐ช e๐ญ๐ต๐ฉ๐ฆ๐ฏ ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ด ๐ต๐ฐ๐ฏ ๐e๐ด๐ฐ๐ถ๐ฏ). Petrus tidak berjalan beberapa langkah seperti yang kerap kita dengar di khotbah, tetapi ia memang berhasil sampai ke tempat Yesus. Merasa tiupan angin kencang, kambuhlah rasa takut Petrus akan kuasa alam maut dan mula tenggelam. Petrus berteriak, “๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ต๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ!” Teriakan ini merupakan model doa yang diambil dari Mazmur 69:2, 14-15.
Yesus segera menolong Petrus. Sesudah itu Yesus mendamprat Petrus, karena ia ternyata kurang mengandalkan Yesus. Dampratan Yesus berulang kali digunakan dalam Injil Matius (lih. Mat. 6:30; 8:26; 16:8; 17:20). Iman ada, namun tidak memadai, seperti benih yang jatuh di tanah berbatu. Perbuatan Yesus di sini adalah ๐ด๐ข๐ง๐ฆ๐ต๐บ ๐ง๐ช๐ณ๐ด๐ต, mengutamakan keselamatan orang tak berdaya. Sesudah menolong, baru kemudian Yesus menegur dan naik ke perahu. Angin pun reda. Bandingkan dengan kehidupan masa kini. Orang senang melihat orang susah. Bukan menolong, malah menggunjing.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐ป (Mat. 14:33)
Orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya, “๐๐ฆ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐๐ฏ๐ข๐ฌ ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ.” (Mat. 14:33, TB II 2023)
Ada perbedaan ayat penutup kisah ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ข๐ต๐ข๐ด ๐ข๐ช๐ณ di Injil Markus. Mari kita bandingkan.
Mereka sangat tercengang, sebab mereka belum juga mengerti tentang roti itu, dan hati mereka tetap degil. (Mrk. 6:51b-52, TB II 2023)
Dalam Injil Markus mereka (para murid) sangat tercengang, karena pada siang sebelumnya Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dengan modal lima roti dan dua ikan. Hati mereka tetap degil, meskipun mereka juga melihat Yesus berjalan di atas air dan angin sakal reda.
Penginjil Matius membalikkan cerita Markus dengan pengakuan semua murid terhadap Yesus, yang mendahului ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ถ๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ต๐ณ๐ถ๐ด di Matius 16:16 dan kepala pasukan Romawi di Matius 27:55. Menyembah penerjemahan dari ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ด๐ฆ๐ฌ๐บ๐ฏe๐ด๐ข๐ฏ, kata yang dipilih oleh Matius sebagai ungkapan menghormati Allah. Kata ini digunakan 13 kali oleh Matius (lih. Mat. 2:2; 2:11; 4:10; dll.)
Bacaan Minggu ini mengajar kita bahwa memiliki iman saja tidak cukup. Iman menuntut keberanian. Berani menghadapi tantangan besar, termasuk berani mengubah pemahaman iman kekanak-kanakan menjadi iman dewasa.
Cepogo, 12.08.23 (T)