Rabu, 17 April 2024

Sudut Pandang Alkitab diilhami Roh Kudus, Serial Sudut Pandang

Sudut Pandang Alkitab diilhami Roh Kudus, Serial Sudut Pandang




PENGANTAR
 "Dogma kami hanya satu. Alkitab!" Yes" Katanya. Padahal yang diucapkannya adalah prapaham yang menjadi dogmanya. Tidak ada namanya pandangan Alkitab. Yang ada pandangan orang terhadap Alkitab dan pandangan itu tidak lepas dari prapahamnya.


MEMAHAMI ILHAM PENULISAN ALKITAB
Alkitab kita itu kan diilhami oleh Roh Kudus dan ditulis oleh manusia, ada sisi kesempurnaan tangan Allah tapi ada juga ketidak sempurnaan manusiawi, oleh karena itu kita memahami Wahyu Allah itu turun pada diri Yesus bukan pada Alkitab, berbeda dg sahabat Islam yg mempercayai Al-Qur'an sebagai Wahyu Allah, bagi kita Alkitab bukan Wahyu Allah, wahyu Allah itu Yesus. Sehingga Alkitab itu merupakan kisah teologis atau kesaksian iman para penulis. Oleh karena itu kesaksian iman para penulisnya, maka ditulis atau proses penulisannya berdasarkan konteks teks pada zamannya atau zaman penulisnya, dg sudut pandang penulis sesuai budaya tradisi pada zaman penulisnya, dg latar belakang penulisan saat itu teks ditulis. Nah, zaman itu kan terpaut jauh dg zaman kita sekarang ini, artinya Alkitab harus ditafsirkan baik secara tersurat (tertulis/literal). Tetapi terlebih lagi menafsirkan yg tersirat, yaitu makna dibalik apa yg tertulis dg belajar sejarah, sastra, arkeologi, budaya tradisi, latar belakang dari penulisan atau para penulis Alkitab. Sehingga memang, Alkitab tidak bisa dilihat secara sekilas saja, kedalamannya gak terukur karena itu kesaksian iman untuk menguak misteri Allah, tapi Alkitab hanya sekedar cukup, tidak sempurna karena yang akan dikuak adalah misteri Allah, kalau misteri Allah terkuak maka itu sudah bukan Allah lagi. Sehingga, kalau ada yg bilang Alkitab itu palsu karena ayat-ayat nya bertentangan, itu dikarenakan orang tsb tidak mengerti Alkitab, tentu akan bertentangan karena penulis Alkitab tidak hanya satu, menulis pada zaman kondisi budaya tradisi latar belakang yg berbeda-beda, tentu kesaksian imannya walaupun dalam benang merah yg sama akan terungkap dalam penulisannya menjadi nampak berbeda atau nampak berbeda atau bertentangan, sehingga tidak bisa kita menafsir Alkitab hanya berdasarkan literal atau hanya yg tertulis saja, tetapi terlebih yg tersirat makna dibalik yg ditulis dan itu berkaitan dg zamannya, tradisinya, budayanya, kasusnya, diri penulisnya, latar belakangnya, sejarahnya, saat teks tsb dituliskan, oleh karena itu Alkitab bukan Wahyu Allah, bagi kita Wahyu Allah itu Yesus Kristus. Shg tafsir itu tidak STAG atau berhenti tetapi berkembang terus, tafsir harus diperbarui secara meterus nerus, makanya Alkitab kita disebut BUKU SEPANJANG ZAMAN oleh karena tafsir yg diperbaharui terus menerus. diperbaharui terus menerus, itu membuktikan penulisnya diilhami Roh Kudus, itu pembuktikan Alkitab adalah kesaksian iman atau kisah teologis penulisnya untuk menguak misteri Allah, karena itu misteri Allah maka tidak akan pernah terkuak, kalau terkuak bukan Allah lagi. Contoh, dulu penyakit kusta ditafsirkan sebagai dosa, berganti zaman tafsirnya berubah karena kusta itu disebabkan oleh virus, dulu ditafsirkan bahwa menstruasi perempuan itu najis untuk beribadah sekarang sudah tidak ditafsirkan begitu lagi karena pemahaman najis saat itu adalah darah yg keluar dr tubuh tanpa ada luka, normalnya darah keluar dari tubuh karena ada luka, Perjanjian lama mengatakan bumi itu setengah bola, sampai waktu itu zaman itu ilmuwan yg mengatakan bumi bulat dibakar oleh gereja, tapi sekarang kan tidak ditafsirkan lagi begitu, dulu ikan tak bersisik dianggap najis (lele,pari, lumba-lumba,dst) sekarang tidak ditafsirkan begitu karena dulu dianggap najis karena dipahami pada zamannya ikan itu pasti dan harus bersisik, shg hal yg dianggap di luar kebiasaan diharamkan atau dianggap haram, dengan memahami apa yg tsb di atas, maka .... sebetulnya KRISTEN PROGESIF adalah masalah tafsir saja, sah-sah saja orang menafsir karena gak ada tafsir yg paling benar, semua hanya proses dalam menguak misteri Allah dan tak akan pernah terkuak, . Tidak ada kebenaran yg absolut atau mutlak selama itu masih di bumi, kebenaran mutlak atau absolut itu milik Allah, kebenaran dibumi ini adalah menurut sudut pandang, sudut pandang yg satu pastilah merasa sudut pandang nya yg paling benar, tetapi demikian pula dg sudut pandang yg lain, artinya sebetulnya tidak ada juga yg dikatakan sesat atau bidah, sesat atau bidah itu hanya karena perbedaan, hanya karena beda pandangan, Kristen PROGESIF menelurkan tafsirnya ya biarkan saja, biarkan waktu yg menilai, jangan kita jatuh dalam penghakiman, biarin saja, waktu adalah cara Allah untuk memperlihatkan kebenaran, Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, meminjam ucapan Gamaliel yg dicatat oleh penulis kisah para rasul 5:38-40.  lebih baik kita terima saja perbedaan tsb, karena tafsir Alkitab kita seperti yg saya sampaikan di atas, itulah yg membuat dalam kristiani banyak sekali denominasi atau golongan atau kelompok yg semuanya menerapkan bahwa tafsir merekalah yg benar, kita lupa bahwa Alkitab kita ini memang dari kronologi penulisannya, dari Sono nya tafsirnya terbuka sangat lebar karena itu menunjukan misteri Allah yg tidak bisa dikuak manusia, shg tidak ada kebenaran tafsir absolut atau mutlak, adanya kebenaran tafsir menurut sudut pandang masing-masing atau menurut sudut pandang denominasinya. Orang membaca Alkitab itu sudah menafsir, karena ketika orang membaca itu pasti pikiran dan hati nya bergerak untuk berusaha mengerti apa yg dibacanya di Alkitab, itu karya Roh Kudus, itu sudah menafsir, kok bilang Alkitab jangan ditafsirkan. Pusat dari tafsir kita adalah keteladanan dan segala hal ihwal Kristus yg ditulis dalam kesaksian iman atau kisah teologis dari penulis injil. Janganlah menafsir dengan pusat kepentingan kita atau kepentingan komunitas tertentu. Dasar yg diteruskan Kristus adalah hukum Kasih, oleh karenanya salah satu pondasi tafsir harus kembalikan lagi kepada hukum kasih, sehingga tidaklah mungkin kita menafsirkan bahwa keberimanan kita berpusat pada Kristus tetapi tidak meneladani perbuatan Kristus yg bertindak mewujudkan kasihNya kepada manusia dan manusia kepada sesamanya, gerak atau ritme Kristus yg seperti itu yg seharusnya kita ikuti. Dalam melihat kitab suci harus bisa memilah mana informasi mana yang ajaran, masak tentang kisah Salomo yg beristri lebih dari satu ya dianggap ajaran. Kita bebas memikirkan apapun, bahkan kita bebas untuk menafsirkan apapun, karena membaca, melihat, mendengar,
merasa, boleh dikatakan mengindera itu kita sudah menafsirkan, karena kita hidup dalam prapaham selalu sudah ada sesuatu dalam benak kita sebelum kita menafsir, entah itu pengalaman hidup, ajaran, atau apapun juga. Terpenting yg harus direnungi adalah jangan terlalu cepat menilai.



SOLA KITAB SUCI

Apa maksudnya ketika kita mengatakan bahwa kita percaya pada sola Scriptura , atau hanya Kitab Suci saja? Seperti semua sola, pemahaman yang tepat atas doktrin ini memerlukan sejumlah konteks tertentu—baik konteks historis maupun teologis. Pertama-tama, kita perlu memahami bahwa doktrin Reformasi sola Scriptura muncul dalam konteks gereja Katolik Roma abad pertengahan akhir dan ajarannya. Hal ini merupakan tanggapan terhadap kesalahan yang dirasakan dalam pengajaran gereja. Jadi apa yang dianggap tidak menyenangkan oleh para Reformator?Perselisihan dengan Roma bukan mengenai pengilhaman atau ketidakbersalahan Kitab Suci. Roma menegaskan kedua doktrin tersebut. Sebaliknya, disebabkan oleh fakta bahwa selama berabad-abad, Roma secara bertahap mengadopsi pandangan tentang hubungan antara gereja, Kitab Suci, dan tradisi yang secara efektif menempatkan otoritas tertinggi di luar Tuhan. Tradisi dipahami sebagai sumber wahyu kedua, dan Paus serta magisterium Romawi dipandang sebagai otoritas terakhir dalam hal iman dan amalan.Para Reformator ingin mengajak gereja kembali pada pandangan tentang hubungan antara Kitab Suci dan tradisi yang ditemukan pada gereja mula-mula. Mereka percaya bahwa Alkitab sendiri mengajarkan pandangan demikian. Doktrin Reformasi sola Scriptura , atau doktrin Reformasi tentang hubungan antara Kitab Suci dan tradisi, menegaskan bahwa Kitab Suci harus dipahami sebagai ilham Roh Kudus dalam penulisan manusia, Karena Kitab Suci “dinafaskan oleh Allah” (2 Tim. 3:16). Contoh, Adam itu dinafaskan oleh Allah, tokh Adam jatuh dalam dosa. Dengan kata lain, apa yang dikatakan Kitab Suci, itulah yang dikatakan Tuhan dan kesaksian iman manusia atau penulis kitab. Oleh karena itu, terdapat perbedaan ontologis yang mendasar antara Kitab Suci (Firman Tuhan) dan kata-kata ciptaan lainnya. Kitab Suci secara metafisik unik. Kitab Suci harus diperbarui di dalam dan oleh gereja, dan harus diperbarui dalam konteks hermeneutis aturan iman (Kisah Para Rasul 15). Ecclesia Reformata ecclesia semper Reformanda, diartikan sebagai "the church must always be reforming", seringkali digunakan secara singkat yaitu “semper reformanda” (always reforming)- senantiasa memperbaharui diri. Gereja diperbaharui lewat pembaharuan sudut pandang tafsir yang mengarah pada keteladanan Kristus. Roma 12:2 (TB)  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Bagian agama yang selalu memerlukan pembaharuan adalah hati manusia, yang penting keimanan yang sejati harus terus dipupuk serta mengasihi sesama dan meneladani Kristus


ILHAM ROH KUDUS

"Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah Saksi mata dan pelayan Firman. Oleh karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal muasalnya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, agar engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh-sungguh benar". 

(Lukas 1:1-4)

Apakah Lukas menulis karena dia ujug-ujug ingin menulis karena gerakan Roh Kudus? Tidak! Lukas menulis karena dia ingin mengajarkan Teofilus yang mulia. Apakah Lukas menulis hal yang dia ujug-ujug tahu karena mendapat Ilham dari Roh Kudus? Tidak! Dia menulis hal-hal yang disampaikan oleh Saksi mata dan pelayan Firman yang telah dia selidiki dengan penuh perhatian.Kerabatku apakah para Saksi mata dan pelayan firman itu mengajarkan hal yang ujug-ujug mereka tahu karena mendapat Ilham dari Roh Kudus? Tidak! Mereka mengajarkan yang diajarkan kepada mereka oleh Yesus. Apakah mereka menceritakan kisah yang ujug-ujug diketahuinya karena mendapat ilham dari Roh Kudus? Tidak! Mereka menceritakan kisah dimana mereka menjadi saksinya.Apakah Lukas menulis karena dia ujug-ujug tahu ini yang benar dan itu omongan kosong sebab mendapat ilham dari Roh Kudus? Tidak! Lukas mendalami semuanya dengan seksama sebelum memutuskan untuk menulisnya.

Mari kita lihat Deklarasi Chicago tentang ketidakbersalahan Alkitab:

Pasal keenam: Kami mengakui seluruh bagian Alkitab, termasuk setiap kata dari naskah aslinya, ditulis berdasarkan ilham dari Allah.

Pasal ketujuh: Kami mengakui ilham yang dimaksud adalah: Allah memberikan ilham-Nya melalui Roh Kudus dan melalui buah tangan manusia. Sumber Alkitab berasal dari Allah. Kami mengakui bahwa ilham yang kudus ini, sebagian besar sulit dimengerti.

Pasal delapan: Kami mengakui bahwa ilham Allah diberikan melalui karakter, dan corak tulisan pengarang-pengarang yang dipilih dan yang sudah dipersiapkan lebih dulu.

Pasal kesembilan: Kami mengaku meskipun ilham tidak membuat pengarang menjadi orang yang serba tahu, tapi kami dapat dengan pasti menyatakan bahwa gerakan yang diterima pengarang waktu menulis Alkitab dapat mempercayai kebenarannya.

Kerabatku sekalian, apa yang dimaksud oleh deklarasi Chicago? Maksudnya adalah seseorang ujug-ujug ingin menulis dan dia ujug-ujug tahu yang akan ditulisnya. Dia ujug-ujug ingin menulis karena gerakan Roh Kudus untuk menulis. Dan dia ujug-ujug tahu yang akan ditulisnya karena mendapat ilham dari Roh Kudus.Orang itu tahu dia digerakkan oleh Roh Kudus dan mendapat ilham dari Roh Kudus? Tidak. Dia tidak tahu! Kalau tahu dia pasti mengaku bahwa dia ingin menulis atas dorongan Roh Kudus dan tahu yang akan dia tulis dari Ilham Roh Kudus.Orang itu tidak tahu dia digerakkan oleh Roh Kudus dan mendapat ilham dari Roh Kudus. Dia hanya tahu ujug-ujug ingin menulis dan ujug-ujug tahu yang akan dia tulis. Para teolog Kristenlah yang tahu bahwa orang itu ujug-ujug ingin menulis karena gerakan Roh Kudus dan ujug-ujug tahu yang akan ditulis karena mendapat ilham dari Roh Kudus. Dari mana para teolog itu mengetahui kebenaran demikian? Saya tidak tahu. Mungkin mereka ujug-ujug tahu.Kita perlu mengerti bahwa Alkitab tidak hanya berisi perintah-perintah, tetapi Alkitab juga mencatat suatu peristiwa, suatu masalah dan pemecahannya. Sehingga suatu ayat tidak selalu berdiri sendiri, tetapi terkait dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Tujuan Allah menggunakan Alkitab dalam rangka penyelamatan-Nya atas manusia adalah untuk:

1). Memberitakan penyelamatan Allah ke atas manusia.

2). Menunjukkan bagaimana manusia harus bersikap terhadap penyelamatan Allah itu agar diselamatkan. 

3). Mengajar mereka yang telah percaya agar menjalani kehidupannya di dunia ini dengan benar sehingga mencapai kesempurnaan keselamatan di dalam kemuliaan-Nya.

[Kis.2:14-36; 7:1-53; 2Tim.3:15-17]

Untuk menyatakan maksud dan kehendak-Nya, Allah dapat berfirman dengan berbagai cara dan dalam waktu yang tidak dapat dibatasi oleh manusia. Namun dalam rangka menyatakan maksud dan kehendak-Nya untuk menyelamatkan manusia, maka Alkitab sudah cukup memberikan kesaksian yang diperlukan bagi manusia. Bahkan ke-66 kitab tersebut oleh gereja-gereja di dalam sejarahnya telah diterima sebagai tulisan-tulisan yang kanonik25) dalam arti diakui, sah, tidak diragukan kebenarannya dan dianggap cukup. Alkitab dipergunakan oleh Allah di dalam karya penyelamatan-Nya atas manusia. Hal itu dapat dimengerti dari kenyataan bahwa:

1). Melalui Firman Allah di dalam Alkitab, terjadi terus menerus peristiwa penyelamatan Allah ke atas manusia. Artinya terjadi terus menerus adanya orang yang menerima penyelamatan Allah sehingga lahirlah gereja di seluruh dunia.

2). Dengan adanya Alkitab, orang percaya terpelihara iman dan keselamatannya.

[Yoh.2:22; Rm.15:4; 2Tim.3:15; 1Tes.1:8-9]

Allah turut bekerja secara aktif sebagai Roh Kudus di dalam hati orang yang membaca atau mendengar berita penyelamatan Allah atas manusia yang ditulis di dalam Alkitab [Luk.4:17-21; band.Kis.10:44-48]. Dengan demikian Allah menolong setiap orang untuk dapat mengerti, memahami dan kemudian percaya, serta menerima penyelamatan Allah.Namun orang yang membaca atau mendengar berita penyelamatan Allah dalam Alkitab belum tentu menerima penyelamatan Allah. Sebab Roh Kudus yang bekerja dalam hati manusia adalah untuk menolong dan bukan memaksa. Itu berarti bahwa Roh Kudus tidak hendak merampas kebebasan manusia untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, yaitu untuk menerima atau menolak penyelamatan Allah [Mat.12:31,32 dan paralelnya hubungkan dengan Yoh.3:14,27 dan Yes.43:3; 59:21; Kis.7:51-53].

Alkitab ditulis dan dihimpun oleh orang-orang yang dipakai Allah untuk menyatakan maksud dan kehendakNya. Orang-orang tersebut berasal dari latar belakang, tempat, zaman, bahasa dan kemampuan yang berbedabeda [Luk.1:1-4; Kis.1:1; Rm.1:1; 1Kor.1:1; 5:9; Mazmur-mazmur; dll.]. Campur tangan Allah dinyatakan dalam hikmat yang menyertai para penulis dan pengumpul ke-66 kitab itu melalui pimpinan dan penyertaan Roh 

Kudus [1Kor.1:1; Kis.1:16; Gal.1:1; band. Kis.15:28]. Hal itu dapat kita mengerti dari buah pekerjaan yang 

dihasilkan, sebagaimana nampak dari kenyataan bahwa semua tulisan itu berbicara tentang hal yang sama dan untuk satu tujuan yang sama, yaitu penyelamatan Allah atas manusia [Rm.15:4; 1Kor.2:11-13; 2Tim.3:14-17; 2Pet 1:19-21].


APA ITU ALKITAB?

Jemaat Kristen pada zaman Perjanjian Baru (PB) yang berjumpa dengan Yesus hanya dapat memaknai Yesus dalam tradisi yang mereka kenal. Kitab Suci Yahudi (yang sekarang dikenal dengan Perjanjian Lama atau PL) menjadi jendela, kerangka pikir, atau paradigma untuk memahami dan memaknai Yesus. Tanpa PL Yesus tidak bermakna apa-apa. Para penulis kitab-kitab PB memaknai iman Kristen berangkat dari kitab-kitab PL. Itu sebabnya Kitab Suci Kristen mencakup Kitab Suci Yahudi yang kemudian disebut Alkitab.
Jadi, apabila ada pendeta atau pengkhotbah Kristen yang menjelaskan dan memaknai ajaran Yesus atau ajaran Kitab Suci Kristen dengan ajaran agama yang lahir sesudah kekristenan sudah pasti salah total. Titik berangkatnya sudah salah. Kata “Bible” (Alkitab) berasal dari Bahasa Latin dan Yunani yang berarti “kitab,” nama yang pantas karena Alkitab adalah Kitab bagi semua orang, bagi segala zaman. Ini adalah Kitab yang tidak ada bandingannya, kitab satu-satunya.
Enam puluh enam kitab berbeda membentuk Alkitab. Termasuk di dalamnya kitab Taurat seperti Imamat dan Ulangan; kitab-kitab sejarah, seperti Ezra dan Kisah Para Rasul; kitab-kitab puisi seperti Mazmur dan Pengkhotbah; kitab-kitab nubuat, seperti Yesaya dan Wahyu; biografi, seperti Matius dan Yohanes, dan surat-surat, seperti Titus dan Ibrani.
Para Penulis
Kurang lebih, 40 orang menjadi penulis Alkitab, ditulis dalam periode sekitar 1.500 tahun. Para penulis ini adalah raja, nelayan, imam, pejabat pemerintah, petani, gembala, dan dokter. Dari keanekaragaman ini muncul kesatuan yang luar biasa, dengan kesatuan tema yang dianyam dalam keseluruhan kitab.
Kesatuan tema Alkitab itu bisa terjadi karena pada dasarnya Alkitab hanya memiliki satu Penulis, yaitu Allah sendiri. Alkitab “dinafaskan oleh Allah” (2 Timotius 3:16).
Manusia selaku penulis menuliskan secara tepat apa yang Allah ingin mereka tuliskan, dan hasilnya adalah Firman Allah yang suci dan sempurna (Mazmur 12:6; 2 Petrus 1:21)
 Pembagian
Alkitab dibagi dalam dua bagian utama: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Secara ringkas, Perjanjian Lama adalah kisah mengenai suatu bangsa, dan Perjanjian Baru adalah cerita mengenai seorang Anak Manusia. Bangsa itu adalah cara Allah untuk membawa Anak Manusia itu ke dalam dunia.
Perjanjian Lama menggambarkan berdirinya dan dipeliharanya bangsa Israel. Allah berjanji menggunakan Israel untuk memberkati seluruh dunia (Kejadian 12:2-3).
Begitu Israel menjadi suatu bangsa, Allah membangkitkan satu keluarga dalam bangsa itu yang melaluinya berkat akan datang: keluarga Daud (Mazmur 89:3-4). Kemudian dari keturunan keluarga Daud dijanjikan seorang Manusia yang akan membawa berkat yang dijanjikan itu (Yesaya 11:1-10).
Perjanjian Baru memerinci datangnya Anak Manusia yang dijanjikan itu. Namanya adalah Yesus, dan Dia menggenapi nubuat-nubuat Perjanjian Lama saat Dia menghidupi hidup yang tak berdosa, mati menjadi Juruselamat, dan bangkit dari antara orang mati
Tokoh Utama
Yesus adalah tokoh utama dalam Alkitab – karena seluruh kitab pada dasarnya adalah mengenai Dia. Perjanjian Lama menubuatkan kedatanganNya dan mempersiapkan kedatanganNya ke dalam dunia. Perjanjian Baru menggambarkan kedatangan dan karya keselamatan yang dibawaNya ke dalam dunia yang berdosa ini.
Yesus bukan sekedar figur sejarah; kenyataannya, Dia lebih dari sekedar seorang manusia.
Dia adalah Allah dalam wujud manusia, dan kedatanganNya adalah peristiwa terpenting dalam sejarah dunia. Allah menjadi manusia demi memberi kita gambaran yang jelas dan dapat dimengerti mengenai siapa Dia.
Allah seperti apa? Dia seperti Yesus; Yesus adalah Allah dalam wujud manusia (Yohanes 1:14; 14:9).
Ringkasan
Allah menciptakan manusia dan menempatkannya dalam lingkungan yang sempurna; namun, manusia memberontak melawan Allah; jauh dari apa yang ditentukan Allah sejak semula.
Allah menempatkan dunia di bawah kutuk karena dosa, namun segera menjalankan rencana untuk memulihkan manusia dan segala ciptaan pada kemuliaan sebelumnya.
Sebagai bagian dari rencana penebusanNya, Allah memanggil Abraham keluar dari Babilonia menuju Kanaan (sekitar tahun 2000 SM). Allah berjanji kepada Abraham, anaknya Ishak dan cucunya Yakub (juga disebut Israel) bahwa Dia akan memberkati dunia melalui seorang Keturunan mereka. Keluarga Israel pindah dari Kanaan ke Mesir, di mana mereka bertumbuh menjadi sebuah bangsa.
Sekitar tahun 1400 SM, Allah memimpin keturunan Israel keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa dan memberi Tanah Perjanjian, Kanaan, menjadi milik mereka.
Melalui Musa, Allah memberi umat Israel hukum Taurat dan membuat perjanjian dengan mereka: jika mereka setia kepada Allah dan tidak mengikuti berhala dari bangsa-bangsa sekeliling mereka, maka mereka akan makmur. Kalau mereka meninggalkan Allah dan menyembah berhala, maka Allah akan menghancurkan bangsa mereka.
Kurang lebih 400 tahun kemudian, pada masa pemerintahan Daud dan putranya Salomo, Israel mengokohkan diri sebagai kerajaan yang besar dan kuat. Allah berjanji kepada Daud dan Salomo bahwa dari keturunan mereka akan lahir seseorang yang memerintah sebagai Raja kekal.
Setelah pemerintahan Salomo, bangsa Israel terpecah. Sepuluh suku di Utara dinamakan “Israel,” dan mereka bertahan kurang lebih 200 tahun sebelum Allah menghakimi mereka karena penyembahan berhala: Assyria menawan Israel sekitar tahun 721 SM. Dua suku di Selatan dinamai “Yehuda,” dan mereka bertahan sedikit lebih lama, namun pada akhirnya mereka juga berbalik dari Allah. Babilon menawan mereka sekitar tahun 600 SM.
Sekitar 70 tahun kemudian, Allah dengan murah hati membawa sisa-sisa dari orang-orang tawanan ini kembali ke tanah air mereka. Ibukota, Yerusalem, dibangun kembali sekitar tahun 444 SM, dan Israel sekali lagi memperoleh identitas nasional mereka. Demikianlah Perjanjian Lama berakhir.
Perjanjian Baru dimulai sekitar 400 tahun kemudian dengan kelahiran Yesus Kristus di Yudea.
Yesus adalah keturunan yang dijanjikan kepada Abraham dan Daud itu, seseorang yang akan menggenapi rencana Allah untuk menebus umat manusia dan memulihkan ciptaan.
Dengan setia, Yesus menyelesaikan pekerjaanNya: Dia mati bagi dosa dan bangkit dari antara orang mati. Kematian Kristus menjadi dasar bagi perjanjian baru dengan dunia: semua yang beriman kepada Yesus akan diselamatkan dari dosa dan hidup untuk selama-lamanya.
Setelah kebangkitanNya, Yesus mengutus para muridNya memberitakan kabar mengenai hidup dan kuasaNya untuk menyelamatkan ini. Murid-murid Yesus pergi ke seluruh penjuru dunia menyebarkan kabar baik mengenai Yesus dan keselamatan.
Mereka menjelajahi Asia Kecil, Yunani dan seluruh Kekaisaran Romawi. Perjanjian Baru diakhiri dengan nubuat mengenai kembalinya Yesus untuk menghakimi dunia yang tidak percaya kepadaNya dan membebaskan semua ciptaan dari dosa.













Selasa, 16 April 2024

SUDUT PANDANG LUKAS 24:36-48, 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶



SUDUT PANDANG LUKAS 24:36-48, 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶

Kitab Injil menampilkan paradoks penampakan Yesus-Paska kepada murid-murid-Nya. Tubuh kebangkitan Yesus sama sekaligus berbeda dari tubuh sebelum kematian-Nya. Sama: Ada luka bekas dipaku di tangan dan luka bekas ditusuk tombak di perut-Nya serta dapat dijamah. Berbeda: Para murid tidak langsung mengenali-Nya.

Bacaan  diambil dari Injil Lukas 24:36-48 

Bacaan Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥. Konteks bacaan adalah keseluruhan pasal 24 tentang kebangkitan dan kenaikan Yesus. Sebelum kita masuk ke pengulasan bacaan, mari kita melihat dua episode sebelumnya.

▶ Episode pertama. Pada hari Minggu dinihari empat perempuan, yaitu Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus, dan satu perempuan 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘢, pergi ke kubur Yesus membawa rempah-rempah. Batu kubur sudah terguling dan tidak ada jenazah Yesus di dalamnya. Seseorang berpakaian berkilau-kilauan mengatakan kepada mereka bahwa Yesus sudah bangkit seperti yang sudah dikatakan-Nya di Galilea. Keempat perempuan itu menyampaikan berita ini kepada para rasul. Petrus bergegas ke kubur dan hanya mendapat kain kafan.

▶ Episode kedua. Pada hari Minggu itu juga dua orang pengikut Yesus pulang ke Emaus dari Yerusalem. Mereka adalah Kleopas dan satu lagi 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘢. “Seseorang” tiba-tiba datang menyertai mereka dan berbincang sepanjang perjalanan. Setibanya di Emaus mereka menawarkan “Orang itu” untuk bermalam. Saat makan, kedua murid itu langsung menyadari bahwa “Orang itu” adalah Yesus-Paska. Yesus menghilang dari pandangan dan mereka langsung bergegas kembali ke Yerusalem mewartakan peristiwa ini kepada para rasul.

Bacaan Minggu ini menyambung langsung episode kedua. Pengulasan bacaan dibagi ke dalam dua bagian:

🛑 Mereka terkejut dan takut (ay. 36-43)
🛑 Kamulah saksi-saksi (ay. 44-48)

𝗠𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗸𝗲𝗷𝘂𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗸𝘂𝘁 (ay. 36-43)

Ketika kedua murid dari Emaus sedang berbincang dengan para rasul tentang pengalaman mereka yang disertai Yesus-Paska (episode kedua), tiba-tiba Yesus berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶!” (ay. 36). Mereka terkejut dan takut, karena mereka menyangka melihat hantu (ay. 37). Di Injil Markus dalam kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳 para murid juga ketakutan karena mereka menyangka melihat hantu (lih. Mrk. 6:49).

Penampakan Yesus-Paska kepada para murid di atas mirip di Injil Yohanes. Sapaan Yesus pun sama, “𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶!” Lokasinya pun sama di Yerusalem. Perbedaannya, reaksi para murid di Injil Yohanes bersukacita, sedang di Injil Lukas terkejut dan takut. Tentu saja muatan teologis keduanya juga berbeda.

Injil Lukas ditulis untuk pembaca atau jemaat Kristen dari latar belakang Helenis. Paham Helenis membedakan tubuh dan roh. Lukas menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan iman Kristen yang tidak membuat dikotomi itu. Tubuh dan roh adalah satu entitas, satu-kesatuan. Pada ayat 38 – 43 Yesus-Paska mengenalkan diri-Nya dengan menunjukkan luka bekas dipaku di tangan dan kaki-Nya dan menyuruh para murid merabanya untuk meyakinkan mereka bahwa Ia bukan hantu. Bukan hanya itu Yesus juga meminta makanan kepada para murid dan mereka menyodorkan ikan goreng. Yesus memakannya di depan mereka. Di sini Lukas hendak menegaskan yang bangkit bukan roh saja, melainkan tubuh dan roh.

Dalam penampakan Yesus ke Emaus ada acara makan bersama Yesus. Dalam kisah penampakan pada bacaan Minggu ini juga. Namun, ada perbedaannya. Dalam perjalanan ke Emaus dua murid itu mendapat penjelasan Yesus mengenai Kitab Suci sehingga mereka mengenal Yesus saat makan bersama. Mereka langsung mengekspresikan iman mereka. Pada bacaan Minggu ini Yesus belum menjelaskan isi Kitab Suci sehingga belum ada reaksi iman para murid selain terkejut dan takut. Penjelasan Yesus sesudah makan.
 
𝗞𝗮𝗺𝘂𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶-𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶 (ay. 44-48)

Bagian pertama (ay. 36-43) bercorak narasi. Bagian kedua Yesus menyampaikan ulang nubuat-Nya yang pernah disampaikan saat mereka masih berkarya di Galilea mengenai penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya (lih. Luk. 9:22, 31, 44; 17:25; 18:32-33). Seperti dikatakan oleh Kitab Taurat dan Kitab Para Nabi serta Mazmur bahwa Mesias harus menderita dan bangkit pada hari ketiga.

Penegasan Yesus itu dapat kita lihat dalam ucapan-Nya, “𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯-𝘒𝘶, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘶𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 …” (ay. 44). Mengapa ada tambahan kata 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 (ἔτι)? Mengapa tidak ditulis 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶? 

Kitab Injil Lukas ditulis sesudah tahun 70 ZB yang berjarak lebih daripada 40 tahun sesudah kebangkitan dan kenaikan Yesus. Itu berarti Yesus-historis sudah tidak ada lagi di bumi. Dari situasi ini tampaknya penulis Injil Lukas hendak mengajak pembaca untuk masuk ke dalam dunia cerita mengalami kehadiran Yesus-Paska. Ucapan Yesus itu ditujukan kepada pembaca. Hal yang sama dalam kisah episode pertama mengenai empat perempuan, yaitu Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus, dan satu perempuan 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘢, pergi ke kubur Yesus. Dalam kisah episode kedua tentang perjalanan ke Emaus Lukas juga sengaja hanya menyebut nama satu murid, Kleopas. Satu murid lagi 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘢. Di sini tampaknya Lukas mengajak pembaca untuk menamai perempuan dan murid tanpa nama itu dengan nama pembaca.

Berbeda dari Injil Matius yang sudah menyatakan Yesus adalah Raja, Mesias, sejak lahir, Injil Lukas menyatakan Yesus adalah Mesias sesudah kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam bagian ini Yesus mengulang yang pernah dikatakan-Nya mengenai hal itu. Kata Yesus, “… 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 … (ay. 44) … 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢 … (ay. 45)”.

Selanjutnya Yesus memberi perintah kepada para murid untuk memberitakan pertobatan untuk pengampunan dosa dalam nama-Nya kepada segala bangsa dimula dari Yerusalem (ay. 47). Pertobatan untuk pengampunan dosa ditawarkan kepada segala bangsa. Para murid diberi misi oleh Yesus. Lukas satu-satunya pengarang Injil yang menulis secara lengkap dari kelahiran, karya, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus hingga perintah misi pemberitaan Injil bermula dari Yerusalem sampai ujung bumi alias Roma (Kis. 28:30-31).

Bacaan Injil ditutup dengan ucapan Yesus, “𝘒𝘢𝘮𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪-𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪.” (ay. 48) 

Saksi (𝘮𝘢𝘳𝘵𝘶𝘴) dipungut dari istilah pengadilan di Atena, Grika Kuno, yang masih digunakan dalam pengadilan modern. Orang yang disumpah menjadi saksi akan bersaksi (𝘮𝘢𝘳𝘵𝘶𝘳𝘦𝘰) dengan menuturkan apa yang dilihat, didengar, atau dialaminya sendiri. Dengan demikian saksi haruslah objektif. Kesaksian (𝘮𝘢𝘳𝘵𝘶𝘳𝘪𝘰𝘯) objektif di pengadilan dapat meringankan atau memberatkan terdakwa. Objektivitas kesaksian akan terusik,apabila terdakwa adalah rekan, saudara, atau orang miskin atau lemah sehingga saksi bersimpati yang dapat menggoyahkan objektivitas. Sungguh sulit untuk menjadi seorang saksi. Apa pun kesaksiannya akan ada pihak yang dimaslahatkan dan sekaligus ada pihak yang dilancutkan.

Istilah saksi di pengadilan diperluas maknanya dalam Perjanjian Baru. Apabila saksi di pengadilan dibutuhkan keterangan objektifnya, menjadi saksi Kristus tidak cukup dengan berbicara tentang kebenaran Kristus. Seperti kata Yesus, “𝘒𝘢𝘮𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪-𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪.” Semuanya ini apa? Semuanya ini adalah (seperti dalam ayat sebelumnya) Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Mengapa Yesus menderita? Para murid menjadi saksi bahwa Yesus semasa hidup-Nya berkarya dengan menghadirkan Kerajaan Allah yang memerjuangkan keadilan sosial bagi masyarakat terpinggirkan baik dalam struktur keagamaan maupun sosio-ekonomi dan politik. Pelayanan Yesus itu mengganggu sistem puritas Yahudi. Masyarakat distrukturkan bukan hanya dalam pemeringkatan status dan peran sosial, tetapi juga pengutuban kudus/najis, tahir/cemar, suci/bernoda, benar/berdosa, halal/haram, utuh/cacat, laki-laki/perempuan, kaya/miskin, Yahudi/kafir, dlsb. Akibat pelayanan itu Yesus dihukum mati dengan dakwaan tindak pidana subversif.

Menjadi saksi pengadilan saja tidak enak, apalagi menjadi saksi Kristus. Menjadi saksi Kristus berarti menyaksikan semua karya Kristus dengan merefleksikannya dalam perilaku dan gaya hidup. Orang Kristen bersaksi bukan, misalnya, menceritakan tentang hidupnya yang diberkati oleh Allah dengan kekayaan melimpah, melainkan berperangai laksana Kristus dalam berkarya. Gereja adalah saksi Kristus dan untuk memberikan kesaksian itu gereja mendorong warganya untuk melayani. Melayani seperti apa? Melayani seperti Kristus melayani; memerjuangkan keadilan sosial bagi masyarakat terpinggirkan baik dalam struktur keagamaan maupun sosio-ekonomi dan politik. Memang berat.
(14042024)(T)(LAPANGAN PANCASILA)

Selasa, 09 April 2024

LUCIFER BUKAN PADANAN KATA IBLIS ATAU RAJA IBLIS KARENA YESUS PUN DISEBUT LUCIFER, SERIAL SUDUT PANDANG

LUCIFER BUKAN PADANAN KATA IBLIS ATAU RAJA IBLIS KARENA YESUS PUN DISEBUT LUCIFER, SERIAL SUDUT PANDANG

Lucifer adalah berasal dari Bahasa Latin, jadi kata ini TIDAK ADA di dalam Naskah bahasa asli, baik Ibrani atau Yunani. Terlebih lagi Nama LUCIFER yang dikonotasikan sebagai "nama dari Raja Iblis", Sebab nama "Lucifer" adalah muncul dari penafsiran-penafsiran Kristen Barat.

Kata Latin yang baru muncul Abad ke-4 Masehi "Lucifer", berasal dari kata Latin: 'Lux' atau "lucis" yang artinya "cahaya" dan kata latin: 'Ferre', artinya "membawa." Jadi sebenarnya "Lucifer" bermakna 'Light Bringer' atau 'Pembawa terang' yang merupakan terjemahan kontekstual (bukan harfiah) dari "bintang-timur".

Orang Yahudi, tidak mengenal Nama Lucifer, para Rasul Kristus, tidak mengenal Nama Lucifer. Sebab, kata "Lucifer" baru muncul di dalam kazanah Kekristenan pada Alkitab Terjemahan bahasa Latin Vulgata, terjemahan dari St Jerome abad 4 Masehi (3 Abad setelah Era Para Rasul). Terlebih, nama "Lucifer" menjadi Viral, karena beberapa terjemahan bahasa Inggris seperti KJV dan beberapa terjemahan Inggris lainnya, menyerap kata Latin "Lucifer" itu pada penerjemahan Yesaya 14:12.

Namun, benarkah Nama Lucifer adalah Nama yang legitimate untuk Iblis?

Demikian juga di dalam berbagai pemahaman Angelology-Demonology pengajaran di Gereja-gereja Kristen di Indonesia ini, nama "Lucifer" pun diidentikan dengan nama "Iblis", sebab gereja-gereja Kristen di Indonesia ini sebagian besar adalah hasil penginjilan dari "Kristen made in Barat". Maka, tidak heran terkadang di Indonesia ini, orang-orang di luar kita mengkonotasikan/ mengidentikkan bahwa "Kristen agama Bule," sebab memang pendeta-pendetanya/ pengajar-pengajarnya lebih mengarah pada theologi Kristen produk Barat (Eropa-Amerika). Mulai dari Denominasi Kristen yang benar sampai yang menyimpang; dari yang mainstream dan kemudian gerakan-gerakan baru yang lain; sampai yang heretik semacam SSY & Adventis, dll; Dan banyak lagi denominasi-denominasi baru yang muncul dari pengajaran-pengajaran theolog Barat. Bahkan "gerakan Nama YAHWEH" itu berasal dari Kristen Barat dari pengejar-pengajar/ theolog-theolog Barat. Namun, sesungguhnya Kristen itu berasal dari Timur. Seperti "Lucifer" yang tidak berasal dari Bahasa asli Alkitab Ibrani & Yunani, "YAHWEH"-pun bukan bahasa Ibrani.
Baiklah kita membaca Yesaya 14:12, untuk membuktikan bahwa Alkitab bahasa asli Ibrani tidak terdapat nama "Lucifer", dan membuktikan bahwa LUCIFER bukan nama Iblis:

    * Yesaya 14:12
    LAI TB, Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur (HEYLEL), putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!"
    Hebrew,
    אֵיךְ נָפַלְתָּ מִשָּׁמַיִם הֵילֵל בֶּן־שָׁחַר נִגְדַּעְתָּ לָאָרֶץ חֹולֵשׁ עַל־גֹּויִם׃
    Translit Interlinear, 'EYKH {wahai} NAFALETA {engkau jatuh} MISHAMAYIM {dari langit} HEYLEL {bintang timur} BEN-SHAKHAR {anak fajar} NIGEDA'ETA {engkau dipotong} LA'ARETS {ke bumi} KHOLESH {engkau mengalahkan} 'AL-GOYIM {atas bangsa-bangsa}.

Kata "Lucifer" digunakan oleh St. Jerome di abad keempat Masehi ketika menerjemahkan Vulgata (Alkitab Latin). Ungkapan Ibrani הֵילֵל בֶּן־שָׁחַר - HEYLEL BEN-SHAKHAR"הֵילֵל - HEYLEL adalah kata Ibrani untuk "bintang Timur" alias planet Venus, sedangkan בֶּן־שָׁחַר - BEN-SHAKHAR" harfiah "anak (putra) Fajar".

* Latin's Vulgate,
    "quomodo cecidisti de caelo lucifer qui mane oriebaris corruisti in terram qui vulnerabas gentes"
Kata Lucifer muncul dalam Alkitab Terjemahan seperti King James Version/ Douay Rheims/ Darby , diserap dari Alkitab Latin (Vulgata).

* King James Version,
    How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning! how art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations!

* Douay Rheims,
    How art thou fallen from heaven, O Lucifer, who didst rise in the morning? how art thou fallen to the earth, that didst wound the nations?

* Darby,
    How art thou fallen from heaven, Lucifer, son of the morning! Thou art cut down to the ground, that didst prostrate the nations!


Dalam terjemahan NIV tidak ada kata Lucifer :

* New International Version,
    How you have fallen from heaven, O morning star, son of the dawn! You have been cast down to the earth, you who once laid low the nations!

dalam terjemahan YLT tidak ada kata Lucifer :

* Young's Literal Translation,
    How hast thou fallen from the heavens, O shining one, son of the dawn! Thou hast been cut down to earth, O weakener of nations.


Naskah Masorah Ibrani hanya menulis הֵילֵל - HEYLEL dari kata הָלַל - HALAL, "memuji". Dalam ayat itu tidak dijumpai kata Iblis (Ibrani : שָׂטָן - SATAN). Kata Indonesia "setan" hanya dijumpai dalam Perjanjian Baru versi LAI.

Tidak ada kata "Lucifer" dalam Perjanjian Baru Yunani maupun
Alkitab Ibrani. Kata "Lucifer" adalah kata terjemahan, bukan kata dalam bahasa asli Alkitab. Bandingkan dengan terjemahan lain yaitu dari sumber-sumber Yahudi HNV, Hebrew Names Version of the World English Bible.

* Hebrew Names Version of the World English Bible,
    How you are fallen from heaven, Heylel, son of the morning! How you are cut down to the ground, who laid the nations low!

*Jewish Publication society Tanakh,
    How art thou fallen from heaven, O day-star, son of the morning! How art thou cut down to the ground, that didst cast lots over the nations!

* The Orthodox Jewish Bible,
    How art thou fallen from Shomayim, O Heilel Ben Shachar! How art thou cast down to the earth, thou, which hast laid low the Goyim!
Jadi jelas, bahwa kata Lucifer adalah terjemahan dalam bahasa Latin, digunakan dalam Vulgata, Alkitab bahasa Latin yang dipakai di kalangan Katolik.

Jika kita baca konteks Yesaya 14:1-23, ayat tentang Lucifer ini mengacu kepada raja Babel :
    - Ada yang mengatakan Nebukadnezar.
    - Ada pula yang mengatakan ada raja Babel yang bernama Heylel bin Syakhar.

Kita tinjau terjemahan SEPTUAGINTA (Yunani) untuk ayat Yesaya 14:12 sbb :

    LXX, πως εξεπεσεν εκ του ουρανου ο εωσφορος ο πρωι ανατελλων συνετριβη εις την γην ο αποστελλων προς παντα τα εθνη
    Translit, pôs exepesen ek tou ouranou ho heôsphoros ho prôi anatellôn sunetribê eis tên gên ho apostellôn pros nanta ta ethnê
    Translit interlinear, PÔS EXEPESEN {betapa engkau jatuh} EK {dari} TOU OURANOU {langit} HO HEÔSPHOROS {bintang timur/ morning star} HO PRÔI ANATELLÔN {yang dari terbit fajar} EIS {ke dalam} TÊN GÊN {bumi} HO APOSTELLON {yang diutus} PROS {kepada} NANTA {seluruh} TA ETHNÊ {bangsa2}
Septuaginta menerjemahkannya "ο εωσφορος ο πρωι - ho heôsphoros ho prôi":
εως - heos berarti "hingga", "sampai";
φωσφορος - phôsphoros berarti "cahaya pagi/ pembawa cahaya" dan
πρωι - prôi adalah "dini hari".

Mengapa ada yang menghubungkan Lucifer dengan Iblis?
    Jawab : "namanya juga penafsiran" :)
Transliterasi kata Latin "LUCIFER" kepada aksara Ibrani: לוּצִיפֶר , maka tentu saja aksara ini tidak akan ada dalam TANAKH (PL), maupun dalam Naskah terjemahan Ibrani Perjanjian Baru, Haberit Hakhadashah.

Ada rekaan transliterasi kata Latin LUCIFER itu ke dalam aksara Ibrani: לוּצִיפֶר - LUTSIFER. Tapi, bagaimanapun לוּצִיפֶר - LUTSIFER bukan bahasa Ibrani asli, juga bukan bahasa Yunani asli.
Beberapa penafsir barat beranggapan bahwa ayat-ayat ini bukan hanya mengacu kepada raja Babel, tetapi juga berisi acuan yang terselubung kepada Iblis. Mereka menghubungkan hal ini dengan pernyataan Yesus Kristus di bawah ini:

    * Lukas 10:18
    LAI TB, Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit."
    KJV, And he said unto them, I beheld Satan as lightning fall from heaven.
    TR, ειπεν δε αυτοις εθεωρουν τον σαταναν ως αστραπην εκ του ουρανου πεσοντα
    Translit Interlinear, eipen {Dia berkata} de {dan} autois {kepada mereka} etheôroun {Aku melihat} ton satanan {Setan} hôs {seperti} astrapên {kilat} ek {dari} tou ouranou {langit} pesonta {jatuh}

Lucifer, Brilliant star, a title given to the king of Babylon Isaiah 14:12 to denote his glory. (Easton's Revised Bible Dictionary)
    LUCIFER, Nebuchadnezzar called by this name, Isaiah 14:12 (Nave's Topical Bible)

    Lu'cifer, (light-bearer), found in Isaiah 14:12, coupled with the epithet "son of the morning," clearly signifies a "bright star," and probably what we call the morning star. In this passage it is a symbolical representation of the king of Babylon in his splendor
    and in his fall. Its application, from St. Jerome downward, to Satan in his fall from heaven arises probably from the fact that the Babylonian empire is in Scripture represented as the type of tyrannical and self idolizing power, and especially connected with the empire of the Evil One in the Apocalypse. (Smith's Bible Dictionary)
Penafsir lain beranggapan bahwa ayat-ayat ini mungkin mengacu kepada antikristus akhir zaman yang akan memerintah "Babel"
LUCIFER BUKAN NAMA IBLIS:


Kalaupun nama "Lucifer" dirujuk sebagai nama dari raja Iblis. Itu hanya berdasarkan dari "tafsir" Yesaya 14:12. Bagaimanapun "tafsir hanyalah tafsir", dan "tafsir" yang satu bisa berbeda dengan "tafsir" yang lain.


Kata "Lucifer" digunakan oleh St. Jerome 3 kali dalam terjemahannya, yaitu Alkitab berbahasa latin versi Vulgata. Untuk Perjanjian Lama (PL) penerjemahannya berasal dari Septuaginta (Alkitab Perjanjian Lama terjemahan bahasa Yunani) pada abad ke-4 Masehi, kata "Lucifer" 2 kali kita temukan dalam PL Vulgata . Kita lihat ayat-ayatnya sbb :

    * Ayub 11:17
    LAI TB, Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang seperti pagi hari (KABOQER diterjemahkan: LUCIFER, Vulgata).
    KJV, And your age shall be clearer than the noonday: you shall shine forth, you shall be as the morning.
    NIV, Life will be brighter than noonday, and darkness will become like morning.
    Latin Vulgata, et quasi meridianus fulgor consurget tibi ad vesperam et cum te consumptum putaveris orieris ut lucifer
    Douay-Rheims Bible (DRB), And brightness like that of the noonday, shall arise to thee at evening: and when thou shalt think thyself consumed, thou shalt rise as the day star.
    Hebrew,
    וּמִצָּהֳרַיִם יָקוּם חָלֶד תָּעֻפָה כַּבֹּקֶר תִּהְיֶה׃
    Translit interlinear, UMITSAHORAYIM {dan dari siang hari} YAQUM {dia akan bangkit} KHALED {kehidupan} TA'UFAH {yang cemerlang} KABOQER {seperti fajar pagi} TIH'YEH {dia akan menjadi}
    Septuaginta (LXX), η δε ευχη σου ωσπερ εωσφορος εκ δε μεσημβριας ανατελει σοι ζωη
    Translit, HÊ DE EUKHÊ SOU HÔSPER HEÔSPHOROS EK DE MESÊMBRIAS ANATELEI SOI ZÔÊ

    Catatan :
    Kata "Lucifer" dalam Vulgata adalah terjemahan dari kata Yunani εωσφορος - heôsphoros.
    Kata εωσφορος - heôsphoros, berasal dari kata : εως - heos berarti "hingga", "sampai";dan kata φωσφορος - phôsphoros berarti "cahaya pagi/ pembawa cahaya"


    * Yesaya 14:12
    LAI TB Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur (LUCIFER, Vulgata, KJV), putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!
    KJV, , How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning! how art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations!
    NIV, How you have fallen from heaven, O morning star, son of the dawn! You have been cast down to the earth, you who once laid low the nations!
    Latin Vulgata, quomodo cecidisti de caelo lucifer qui mane oriebaris corruisti in terram qui vulnerabas gentes
    DRB. How art thou fallen from heaven, O Lucifer, who didst rise in the morning? how art thou fallen to the earth, that didst wound the nations?
    Hebrew,
    אֵיךְ נָפַלְתָּ מִשָּׁמַיִם הֵילֵל בֶּן־שָׁחַר נִגְדַּעְתָּ לָאָרֶץ חֹולֵשׁ עַל־גֹּויִם׃
    Translit Interlinear, 'EYKH {wahai} NAFALETA {engkau jatuh} MISHAMAYIM {dari langit} HEYLEL[/u] {bintang timur} BEN-SHAKHAR {anak fajar} NIGEDA'ETA {engkau dipotong} LA'ARETS {ke bumi} KHOLESH {engkau mengalahkan} 'AL-GOYIM {atas bangsa-bangsa}.
    LXX, πως εξεπεσεν εκ του ουρανου ο εωσφορος ο πρωι ανατελλων συνετριβη εις την γην ο αποστελλων προς παντα τα εθνη
    Translit, PÔS EXEPESEN EK TOU OURANOU HO HEÔSPHOROS HO PRÔI ANATELLÔN EIS TÊN GÊN HO APOSTELLON PROS NANTA TA ETHNÊ

    Catatan :
    Kata "Lucifer" dalam Vulgata adalah terjemahan dari kata Yunani εωσφορος - heôsphoros. Kata "Lucifer" baru dikenal pada abad 4 Masehi, sebelumnya kata ini tidak pernah dikenal ada dalam "Kitab Suci Perjanjian Lama" bahasa asli Ibrani, Aram, maupun Yunani (Septuaginta)
    Dalam Perjanjian Baru, St. Jerome sekali lagi menggunakan kata "lucifer" :

      * 2 Petrus 1:19
      LAI TB, Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur (LUCIFER, Vulgata) terbit bersinar di dalam hatimu.
      KJV, We have also a more sure word of prophecy; whereunto ye do well that ye take heed, as unto a light that shineth in a dark place, until the day dawn, and the day star arise in your hearts:
      NIV, And we have the word of the prophets made more certain, and you will do well to pay attention to it, as to a light shining in a dark place, until the day dawns and the morning star rises in your hearts.
      Latin Vulgata, et habemus firmiorem propheticum sermonem cui bene facitis adtendentes quasi lucernae lucenti in caliginoso loco donec dies inlucescat et lucifer oriatur in cordibus vestris
      DRB, And we have the more firm prophetical word: whereunto you do well to attend, as to a light that shineth in a dark place, until the day dawn, and the day star arise in your hearts:
      TR, και εχομεν βεβαιοτερον τον προφητικον λογον ω καλως ποιειτε προσεχοντες ως λυχνω φαινοντι εν αυχμηρω τοπω εως ου ημερα διαυγαση και φωσφορος ανατειλη εν ταις καρδιαις υμων
      Translit intelinear, kai {lalu} ekhomen {kami mempunyai} bebaioteron {yang lebih dapat dipercayai} ton prophêtikon {dari para nabi} logon {Sabda} hô kalôs {yang kepada-Nya dengan tepat} poieite {kalian bertindak} prosekhontes {dengan penuh perhatian} hôs {seperti} lukhnô {kepada pelita} phainonti {yang ebrcahaya} en {di dalam} aukhmêrô {kegelapan} topô {tempat} heôs {sampai pada} hou hêmera {hari} diaugasê {mulai terang} kai {dan} phôsphoros {Bintang Timur} anateilê {Dia terbit} en {di dalam} tais kardiais {hati} humôn {kalian}

        Catatan :
        Kata "Lucifer" dalam Vulgata adalah terjemahan dari kata Yunani φωσφορος - phôsphoros. Secara konteks, tidak merujuk kepada raja Iblis.

      The Orthodox Jewish Brit Chadasha, And we have the Dvar HaNevu'ah (Word of Prophecy) made more sure, to which you do well in giving heed as to a menorah shining in a place of choshech until HaYom [of Olam Habah--3:18] dawns and the Kochav (Star--BAMIDBAR 24:17) haNogah (of Brightness/Venus) rises in your levavot (hearts).
      Ha-Berit,
      וּדְבַר הַנְּבוּאָה יוֹתֵר קַיָּם אִתָּנוּ וַהֲטִיבֹתֶם עֲשׂוֹת אֲשֶׁר שַׁתֶּם לִבְּכֶם אֵלָיו כְּנֵר מֵאִיר בִּמְקוֹם אֹפֶל עַד־כִּי יִבָּקַע אוֹר הַיּוֹם וְזָרַח כּוֹכַב הַנֹּגַהּ בִּלְבַבְכֶם׃
      Translit interlinear, UDEVAR {seperti perkataan} HANEVU'AH {nabi} YOTER {dia menjadi} QAYAM {peneguhan} 'ITANU {pada kami} VAHATIVITEM {dan bertapa baiknya bagi kalian} 'ASOT {untuk melakukan} 'ASHER {yang} SHATEM {untuk kalian menyempurnakannya} LIV'KHEM {pada hati kalian} 'ELAV {kepadanya} KENER {seperti pelita} ME'IR {yang bercahaya} BIM'QOM {di dalam tempat} 'OFEL {yang gelap} 'AD-KI {sampai pada} YIBAQA {timbulnya} 'OR {terang} HAYOM {hari} VEZARAKH {dan bersinar di timur} KOKHAV {bintang} HANOGAH {venus, gemilang/ terang} BILEVAVEKHEM {apda hati kalian}


    Dalam "tafsiran" yang lazim beredar pada kalangan "Kristen barat", hanya dalam Yesaya 14:12 kata "LUCIFER" ditafsirkan sebagai nama Malaikat yang jatuh yang kemudian disinonimkan sebagai nama "Iblis". Sedangkan Ayub 11:17 dan 2 Petrus 1:19 kata latin "lucifer" tidak dapat dimaknakan sebagai "nama Iblis" dengan menimbang konteks ayatnya. Bahkan khusus pada 2 Petrus 1:19 lebih "ditafsirkan" sebagai figur Yesus Kristus dengan mengacu ayat-ayat lain yang melambangkan Yesus Kristus sebagai "sumber cahaya" misalnya dalam Lukas 1:78, Wahyu 22:16, Efesus 5:14.
      shadow of turning.
      TR, πασα δοσις αγαθη και παν δωρημα τελειον ανωθεν εστιν καταβαινον απο του πατρος των φωτων παρ ω ουκ ενι παραλλαγη η τροπης αποσκιασμα
      Translit interlinear, pasa {setiap} dosis {pemberian} agathê {yang baik} kai {dan} pan {setiap} dôrêma {karunia} teleion {yang sempurna} anôthen {dari atas} estin katabainon {dan turun} apo {dari} tou patros tôn phôtôn {Bapa dari Terang} par {pada} hô {Dia} ouk eni {tidak ada} parallagê {perubahan} ê {atau} tropês {karena perputaran} aposkiasma {bayangan}
      Ha-Berit,
      כָּל־מַתָּת טוֹבָה וְכָל־מַתָּנָה שְׁלֵמָה תֵּרֵד מִמַּעַל מֵאֵת אֲבִי הָאוֹרוֹת אֲשֶׁר חִלּוּף וְכָל־צֵל שִׁנּוּי אֵין־עִמּוֹ׃
      Translit interlinear, KOL {semua} MATAT TOVAH {pemberian yang baik} VEKOL-MATANAH {dan setiap karunia} SHELEMAH {yang sempurna} TERED {dia turun} MIMA'AL {dari atas} ME'ET AVI {dari Bapa dari} HA'OROT {Terang} 'ASHER {yang} KHILUF {perubahan} VEKOL-TSEL {dari seluruh image/ bayangan} SHINU {berubah} 'EIN-IMO {tidak di dalamnya}

    Dengan demikian: Benarkah kata "φωσφορος – phôsphoros", yang diterjemahkan oleh St. Jerome harus diterjemahkan sebagai "Iblis" saja? Tentu tidak bisa! Kita harus melihat konteks, kalaupun diartikan "nama Iblis" itu hanya "sebatas produk penafsiran", dan tidak semua penafsir setuju dengan penafsiran itu.

    Kita bersama telah mengetahui bahwa istilah nama "Lucifer" diterapkan kepada sosok Iblis/ Malaikat yang memberontak hanyalah produk tafsir saja. Orang Yahudi (kalangan Yudaisme) tidak menganggapnya demikian. Kata "HEYLEL" yang diterjemahkan εωσφορος - heôsphoros dalam LXX dan yang kemudian diterjemahkan "lucifer" oleh St. Jerome) dalam Yesaya 14:12 itu bukan iblis. Dan terbukti ada banyak orang Yahudi bernama yang diambil dari arti/kata הֵילֵל - HEYLEL ini, kalau kata tsb bermakna "setan/ iblis", saya yakin tidak akan ada orang-tua yang akan menamakan anaknya seperti itu
(09042024)(Tus)(Lapangan Pancasila)

ISTILAH KRISTEN, NASRANI DAN PENGIKUT KRISTUS, SERIAL SUDUT PANDANG

ISTILAH KRISTEN, NASRANI DAN PENGIKUT KRISTUS, SERIAL SUDUT PANDANG

TAHUN MUNCULNYA ISTILAH
Istilah Kristen muncul pertama kali di kota Antiokia, 15 tahun setelah Tahun Penting atau tahun 30 CE, yakni tahun 45 CE.
Kisah Para Rasul 11:26 (TB)  "Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen".

Istilah Nasrani atau tepatnya Sekte Orang Nasrani muncul pertama kali di Yerusalem tahun 55 CE atau 25 tahun setelah Tahun Penting.
Kisah Para Rasul 24:5 (TB)  "Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani". 

Istilah Pengikut Kristus muncul pertama kali pada tahun kedua pelayanan Yesus Kristus dan dikatakan oleh Tuhan sendiri:
Markus 9:41 (TB)  "... Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."

Kedua kali disebutkan pada tahun 54 CE dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus:
1 Korintus 11:1 (TB)  "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus". 

HAKEKAT ISTILAH:
Kedua istilah yang pertama yaitu Kristen dan Nasrani mengarah atau menunjuk pada istilah ketiga yaitu Pengikut Kristus.

Orang Yunani menyebut Pengikut Kristus dengan nama Kristen.

Orang Yudea menyebut Pengikut Kristus dengan nama Sekte Orang Nasrani. Disebut "sekte" sebab saat itu di Yudea telah ada 4 sekte lainnya, yaitu: Farisi, Saduki, Eseni dan Zelot (Filsafat Keempat yakni sekte perjuangan/pembebasan).

Di antara 12 murid Kristus, yang termasuk dalam sekte Zelot adalah Simon, yang termasuk dalam sekte Saduki adalah Yudas bin Yakobus. Rasul Paulus keturunan dari orang sekte Farisi.

IMPLIKASI SAAT INI:
Istilah Kristen lebih mengemuka dan telah menjadi Agama atau Lembaga sejak abad ke-3 CE.
Sehingga istilah Kristen ini cenderung menjadi sekuler.
Sehingga para pengikut Kristus yang mengikutiNya secara tersembunyi tidak menyatakan diri mereka sebagai orang Kristen tetapi sebagai Pengikut Kristus.

Jadi saat ini berlaku diagram berikut: "Tidak semua orang Kristen adalah Pengikut Kristus dan tidak semua Pengikut Kristus adalah orang Kristen".

Seorang Pengikut Kristus terlihat dari hatinya yang terarah pada Kristus, karena pada dirinya menggenapkan perkataan Kristus:
 "...Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." Yoh 7:38 (TB).

Sedangkan sebagian orang Kristen telah menjadi seperti perkataan Kristus kepada ahli Taurat dan orang Farisi:

"... Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." Mat 15:8-9 (TB).

Inilah fakta yang terjadi, dan pada akhirnya: 
"... sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu". 1 Kor 3:13 (TB)  

Ket Gambar:
Sadrakh, Mesakh dan Abednego dalam perapian yang menyala-nyala.

Sumber gambar: REC
(09042024)(Tus)(Lapangan Pancasila)

Tekufah Hassanah, Serial Sudut Pandang

Tekufah Hassanah, Serial Sudut Pandang

Keluaran 34:22 (TB)  Hari raya Tujuh Minggu, yakni hari raya buah bungaran dari penuaian gandum, haruslah kaurayakan, juga hari raya pengumpulan hasil pada pergantian tahun. 

Pergantian Tahun dalam ayat di atas dalam bahasa Ibrani adalah Tekufah Hassanah, tanggalnya disebut Tekufot.

Untuk melihat apa itu Tekufot-nya, maka pada tanggal 21 Juni 2022 pukul 16.13 WIB saudara akan mengetahuinya, di saat matahari terbit atau tenggelam dalam 3 hari berturut-turut, mulai tanggal 20 pagi/sore.

Artinya, bahwa pada saat itu terjadi "perhentian" gerak matahari di bulan Juni atau disebut Solstice June atau Summer Solstice.

Matahari dari arah Selatan "berhenti" di titik Utara dan kembali ke arah Selatan lagi.

Inilah yang dimaksud sebagai "Pergantian Tahun" terjemahan tepatnya adalah "Pergantian Musim atau Peralihan Arah".

Disebut juga Titik Balik Utara, ini merupakan saat terpenting bagi perhitungan Kalender Ibrani Kuno untuk menentukan perlunya tambahan bulan Adar Sheni (Ibrani) atau Addaru Arku (Akkadian/Babel), sebagai bulan ke-13 dari sistem kalender Lunisolar yakni Kalender Ibrani Kuno.

Kalender Ibrani Kuno digunakan terus sampai Bait Suci II dihancurkan. Setelah itu "Terjadi Perubahan Waktu" sebagaimana dinubuatkan oleh Daniel:

Daniel 7:25 (TB)  Ia akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi; ia berusaha untuk mengubah waktu dan hukum, dan mereka akan diserahkan ke dalam tangannya selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.  

Pada akhirnya, saat ini kita menggunakan Kalender Ibrani Palsu, yang mana perhitungan 1 Nisan/Abib tidak lagi berawal dari Tekufah Hassanah, tetapi dari Vernal Equinox atau Equinox March.
(09042024)(Tus)(Lap Pancasila)

KAPAN YESUS DISALIBKAN? PERKARA TANGGAL, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Paska

KAPAN YESUS DISALIBKAN? PERKARA TANGGAL, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Sudut Pandang

MOHON UNTUK TIDAK COPY PASTE TANPA MENYEBUT SUMBER DAN PENULISNYA

PENGANTAR
Pertanyaan ini telah dijawab oleh para pakar sejarah Alkitab, terutama para kronologist.

Jawaban mereka bervariasi, sehingga menimbulkan kebingungan: manakah yang akurat?

Di sini saya menguraikan proses untuk mendapatkan penanggalan yang  akurat.

PERTAMA
Kita harus menyediakan Kalender Ibrani Proleptik. Kalender Ibrani Proleptik yang beredar baik dengan Aplikasi maupun KALKULASI, dibedakan pada  2 acuan dasar perhitungaan:

1. Tanggal 14 Abib/Nisan jatuh setelah Vernal Equinox (Titik balik matahari saat berada di garis  katulistiwa pada bulan Maret)
2. Tanggal 1 Abib/Nisan jatuh setelah Vernal Equinox.

(Proleptik adalah sistem penangggalan yang dibuat untuk  ektrapolasi ke masa lalu dari sebuah kalender. 
Contoh:
Kalender Gregorian yang kita pakai sekarang dimulai sejak 15 Oktober 1582. Apabila suatu penanggalan dicari sebelum tanggal 4 Oktober 1582 (tidak ada tgl 5 sd 14 Oktober 1582 dlm sejarah dunia), maka harus dibuat KALENDER PROLEPTIKnya).

Acuan 1 dipraktekkan oleh kaum Rabinik saat ini yang dimulai sejak abad kedua Masehi. Hampir semua Kalender Ibrani Proleptik berdasarkan Acuan 1. Para kronologist hampir semuanya memakai acuan 1.

Setelah melalui berbagai pengujian ternyata  Kronologi Alkitab memakai Acuan 2. Penguji yang utama adalah dalam Papirus Elephantine. Di mana Kalender Ibrani Proleptik disinggungkan dengan Kalender Mesir Proleptik. Saya telah mengkomputasi ketiga sistem kalender tersebut, perhitungannya sangat² rumit.

Catatan: penanggalan dlm bahasan ini menggunakan Kalender Proleptik Gregorian dan bukan Kalender Julian.

KEDUA
Kita harus mencari referensi yang menjadi acuan dalam menghitung penanggalan untuk menjawab pertanyaan utama. Ada beberapa petunjuk dalam Alkitab yang menyebutkan keterangan waktu. Disebutkan  dalam daftar yang telah dikronologikan berdasarkan Kitab Harmonisasi 4 Injil yang saya susun:

Hari Kesatu:
Matius 26:17 (TB)  Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" (Sinopsis Mark 14:12).

Hari kedua:
A. Matius 26:20 (TB)  Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. 
B. Dari Getsemani sd di Salib
C. Markus 15:42 (TB)  Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat. 

Hari Ketiga:
Matius 27:62 (TB)  Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus

Hari Keempat:
A. Markus 16:1 (TB)  Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.
B. Matius 28:1 (TB)  Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.

Catatan: ingat bahwa Hari Ibrani dimulai  sejak matahari terbenam.

KETIGA
Kita harus melihat referensi PL mengenai waktu pelaksanaan hari raya, secara khusus untuk Hari Raya Roti Tidak Beragi.

Imamat 23:6 (TB)  Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi TUHAN; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi.  

KEEMPAT
Kita harus menyusun keterangan waktu yang diperoleh dalam Diktum Kedua dan Ketiga agar sesuai dengan format Kalender Ibrani Proleptik. Dan hasilnya adalah:

Hari Kesatu: 15 Nisan
Hari Kedua: 16 Nisan
Hari Ketiga: 17 Nisan
Hari Keempat: 18 Nisan

Selain itu, kita juga memperoleh keterangan bahwa:

Hari Ke2: Hari Persiapan
Hari Ke3: Hari Sabat
Hari Ke4: Hari Pertama

Catatan: Mengenai hari Persiapan, sangat jelas disebutkan dalam Didakhe sebagai hari keenam dan bukan hari persiapan Paskah. Pada hari ini adalah hari kedua Hari Raya Roti Tidak Beragi 16 Nisan, jadi tidak cocok disebut hari persiapan Paskah.

KELIMA
Saya telah meneliti bahwa tidak ada pergeseran hari dalam 3000 tahun.
Konstantinus mengadopsi sistem hari Ibrani namun sistem hari miliknya dimulai agak terlambat 6 jam yaitu pada tengah malam. 
Jadi, hari Sabat dimulai pada hari Jumat petang dan berakhir hari Sabtu petang. 
Sistem Hari seperti ini dalam Alkitab HANYA disebutkan dalam:

Yohanes 20:19 (TB)  Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"

Catatan: ini dinamakan Sistem Hari Romawi.

KEENAM
Dari Diktum Keempat kita telah memperoleh titik penting yang disebut JANGKAR KRONOLOGI.
Yaitu titik persinggungan dari dua sistem kalender: Kalender Ibrani Proleptik dan Kalender Gregorian Proleptik.

16 Nisan/Abib = Hari Persiapan
17 Nisan = Hari Sabat
18 Nisan = Hari Pertama

Diulang jelaskan:
Hari Persiapan = hari Kamis petang sd hari Jumat petang.
Hari Sabat = hari Jumat petang sd hari Sabtu petang.
Hari Pertama = hari Sabtu petang sd hari Minggu petang.

KETUJUH
Selanjutnya kita mencari titik singgung dari dua sistem kalender dengan berpatokan pada jangkar kronologi di atas, maka diperoleh Kalender Ibrani Proleptik seperti gambar dan angka subscript adalah Kalender Gregorian Proleptik.

Memang ada juga titik singgung yang lainnya, tetapi itu tidak memenuhi hipotesis yang rumit. Di sini saya menyingkat bahasannya.

KESIMPULAN
Tanggal Penyaliban Yesus bertepatan dengan:

Hari Persiapan (Shishi), 16 Nisan/Abib ~ Hari Jumat, 5 April 30 CE/M

Keterangan Gambar:
1. Kalender Ibrani Proleptik (dan Kal. Greg. Prol. angka kecil).
2. Screenshot aplikasi playstore: Converter Calender. Kebetulan bertepatan dengan hasil perhitungan.
(09042024)(TUS)(Cepogo)(STT BAPTIS INJILI)

Sabtu, 06 April 2024

Serial Sudut Pandang, Kiai Wirjo

Serial Sudut Pandang, Kiai Wirjo

Agama Kristen sulit diterima di Indonesia, karena “kecelakaan” sejarah. Kristen mendapat stigma sebagai agama penjajah Barat, padahal Kristen lahir di Tanah Palestina. Suasana kebarat-baratan membuat orang menjaga jarak. Belum lagi dewasa ini para pendeta seleb menyebut diri dengan “Pastor”, karena istilah pendeta dianggap tidak alkitabiah, merujuk agama Hindu.

Gereja di Indonesia memang penuh tantangan. Di satu sisi Gereja melakukan kontekstualisasi dalam rangka pengakaran jatidiri, menjadi Kristen yang sungguh-sungguh Kristen dan sekaligus sungguh-sungguh orang Indonesia, di sisi lain sekelompok Kristen fundamentalis menolak jatidiri Indonesia.

Kita sering mendengar pendeta-pendeta seleb dari kalangan fundamentalis mendaku sudah menobatkan ribuan orang lewat KKR. Sebenarnya mereka itu menobatkan dari apa? Yang terjadi sebenarnya para pendeta itu menuai kemakmuran dan kemewahan dari orang-orang Kristen yang adalah anak-cucu dari orang-orang Kristen hasil penginjilan para penginjil legendaris di Nusantara. Para penginjil memertaruhkan seluruh hidupnya untuk membumikan Injil di bumi pertiwi.

Satu dari banyak penginjil legendaris itu adalah Kiai Pendhita Wirjo atau Pdt. Samidjo Wirjotenojo. Beliau adalah pribumi kedua yang dipanggil oleh Zending der Gereformeerde Kerken in Nederland (ZGKN) untuk menjadi pendeta. ZGKN sekarang bernama Gereja Kristen Jawa (GKJ). Pribumi pertama adalah Pdt. Ponadi Sopater, ayah Pdt. Sularso Sopater (mantan Ketum PGI).

Kiai Wirjo tidak ujug-ujug menjadi pendeta. Ketika ia masih remaja, ia menjadi pasien Petronella Hospitaal (sekarang RS Bethesda). Kecerdasannya ditangkap oleh dr. J. G. Scheurer. Oleh direktur RS ini, Wirjo kecil dikirim bersekolah Eerste Afdeeling Keucheusschool, milik Zending di Yogya. Sesudah tamat ia diberi pekerjaan sebagai guru bantu di sekolah milik Zending. Tak lama dari itu ia melanjutkan sekolah di Tweede Afdeeling Keucheusschool untuk dipersiapkan menjadi Guru Injil (GI). GI merupakan jabatan setingkat di bawah pendeta.

Penugasan pertama Guru Wirjo di Purworejo pada 1922. Setahun kemudian ia bertugas di Desa Tlepok, yang waktu itu masuk ke dalam Onderdistrict Grabag, Regensi Kutoarjo, Residensi Purworejo,  sebagai guru sekolah sekaligus Guru Injil. Di Tlepok sudah ada warga Kristen yang sebagian berasal dari penginjilan Kiai Sadrach. Desa Tlepok bukanlah tempat yang damai. Desa dikuasai oleh gangster lokal.

Guru Siswowijogo, senior Guru Wirjo, memberi kiat kepada Guru Wirjo sehabis gajian agar membeli gula-teh untuk diberikan kepada pentolan preman. Tujuannya agar para preman tidak mengusik Guru Wirjo. “Kok kecil banget? Cumak gula-teh?” tanggap Guru Wirjo, “Saya akan berikan yang lebih besar lagi yaitu Injil Kristus.”

Ada dua isu menjelang kedatangan Guru Wirjo ke Desa Tlepok. Pertama,isu kiamat yang membuat penduduk desa sangat resah. Kedua, sudah beredar slentingan akan datang guru yang lebih hebat daripada guru sebelumnya.

Akibat isu kiamat para preman limbung. Mau bergabung berzikir ke mesjid, mereka canggung. Tidak ada pilihan selain meminta penerangan dari Guru Wirjo. Para pentolan preman dan anak buah mereka bergantian mendatangi rumah Guru Wirjo minta petuah. Singkat cerita para preman bertobat dan meninggalkan cara hidup lama mereka. Desa lambat laun menjadi tenteram.

Kisah hidup dan model penginjilan ala Kiai Wirjo termasuk ditangkap dan dipenjara oleh tentara Jepang dapat dibaca dalam buku “Kyai Pendhita Den Bei Wirjo” yang disusun oleh Sigit Heru Sukotjo. Saya membelinya di toko buku TPK, Yogya, lewat daring seharga Rp15.000 saja. Ada banyak kisah menarik dan unik dalam penginjilannya. Misal, ada satu warga jemaat Tlepok bernama Haji Notosuroso, yang kalau pergi ke gereja tetap mengenakan udheng-kaji-nya. Itu hasil penginjilan dari Kiai Wirjo yang nguwongké alias memanusiakan manusia, yang tidak mencerabut akar jatidirinya.

Dalam beberapa kesempatan saya mengambil contoh keberanian Pdt. Brotosemedi dalam menyampaikan suara kenabian kepada Pemerintah Orba pimpinan Presiden Diktator Soeharto. Nyawanya nyaris melayang karena masuk dalam daftar bunuh. Ternyata Pdt. Brotosemedi adalah anak kandung Kiai Wirjo. Pantas saja.

 (05102021)(T)

SERIAL SUDUT PANDANG, 𝗠𝗯𝗮𝗵 𝗕𝗿𝗼𝘁𝗼: 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗲𝘁𝗮 𝗣𝗗𝗜 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗗𝗜𝗣

SERIAL SUDUT PANDANG, 𝗠𝗯𝗮𝗵 𝗕𝗿𝗼𝘁𝗼: 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗲𝘁𝗮 𝗣𝗗𝗜 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗗𝗜𝗣

Pengantar
Tulisan ini wujud ungkap syukur karena pernah merasakan diwulang oleh alm eyang Brotosemedi di teras rumahnya, di tahun 2000, ketika menjadi majelis pertama kali dan termuda di Klasis Salatiga waktu itu. Dimana saya yg bodoh hanya plonga plongo di Wulang Mbah Broto karena gak ngerti apa itu teologi. Yang ada hanyalah manggut-manggut sok paham pdhl tak mengerti sama sekali. Di tambah kurang lebih 8 bulan setiap Sabtu ada di teras rumah Mbah Broto makin pusiang begawannya GKJ Salib Pdt Waluyo Sejati ikut nimbrung, nambah begawan-begawan GKJ SIDOMUKTI pada nimbrung seperti Mbah Soemardi dan Mbah Prabawa, pecah ini kelapa .... Eh ... Kepala. Ibarat kata orang Jawa, seakan Mbah Brotosemedi itu weruh sak durunging winarah, tahu sebelum kejadian, karena pada akhirnya setelah sekian puluh tahun di depannya, saya menekuni teologis

Secuil Sudut Pandang tentang Pdt Brotosemedi

Pada 1980-an Pdt. Brotosemedi Wirjotenojo alias Mbah Broto melayangkan surat kepada Presiden Soeharto mengecam aksi petrus (penembakan misterius) yang kemudian menjadi matius (mati misterius). Mbah Broto juga memberi kuliah tentang HAM kepada Presiden Soeharto. Dalam penutup surat Mbah Broto menulis “𝘑𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘉𝘳𝘰𝘵𝘰, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘬𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘵𝘰𝘱 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘢𝘯”. 

Pada masa kini orang dengan mudah dan enteng mengecam (bahkan menghina) Presiden Jokowi tanpa takut dituntut hukum, apalagi dibunuh. Pada masa Orde Baru siapa yang berani mengecam Presiden Soeharto? Tentu ada dan pada umumnya orang-orang itu lenyap atau paling ringan mereka mati karir. Adakah pendeta yang berani mengecam Presiden Soeharto? Saya tidak tahu ada berapa, tetapi yang saya tahu dan melegenda adalah Mbah Broto. Anda yang hidup di masa Orba sudah pasti bisa membayangkan teror yang melanda Mbah Broto dan keluarganya sesudah menyurati Presiden Soeharto.

Soeharto bukanlah presiden pertama yang disurati oleh Mbah Broto. Hanya beberapa saat ia ditahbiskan menjadi pendeta jemaat miskin GKJ Gombong (1962), Mbah Broto menyurati Presiden Soekarno. Mbah Broto adalah segelintir calon pendeta yang menyandang gelar sarjana penuh. Apalagi ia tamat dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STTJ) dengan predikat 𝘤𝘶𝘮 𝘭𝘢𝘶𝘥𝘦 pada 1961. Ia sebenarnya bisa memilih menjadi pendeta GKJ Kebumen yang lebih besar, tetapi ia memilih jemaat miskin di Gombong. “Belajar melayani harus dimula dari yang kecil,” kata Mbah Broto yang lahir di Purworejo, 30 Oktober 1930.

Bangunan gereja GKJ Gombong terletak di Desa Wero yang sangat sedehana dengan dinding bambu atau 𝘨𝘦𝘥𝘩𝘦̀𝘨. Mbah Broto kemudian mengaji harta benda jemaat. Ia melihat gedung SMP Negeri 2 Gombong berikut rumah tinggal kepala sekolah berada di atas lahan itu adalah milik 𝘡𝘦𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 Sektor Kebumen. Ia menyurati Presiden Soekarno untuk meminta harta gereja yang dikuasai negara dikembalikan ke gereja. Permintaan Mbah Broto diluluskan oleh Presiden Soekarno.

Berpegang erat pada prinsip memang sudah terlihat sebelum Mbah Broto ditahbiskan menjadi pendeta. Ia menolak mengenakan toga pendeta saat penahbisan. Alasannya, toga adalah simbol pengajar, gurubesar. Pengajar hidupnya tidak boleh tercela. Ia melihat ada pendeta yang tak bermoral masih mengenakan toga. Menurut Mbah Broto pendeta itu tak pantas lagi bertoga. Tentu saja alasan ini tidak disampaikannya ke Jemaat Gombong. Di hadapan jemaat yang bersahaja Mbah Broto berseloroh, “Saya ini orangnya pendek, nanti kayak 𝘬𝘦𝘵𝘦̀𝘬 𝘬𝘢𝘥𝘩𝘦𝘮𝘦𝘯.” (𝘬𝘦𝘵𝘦̀𝘬 𝘬𝘢𝘥𝘩𝘦𝘮𝘦𝘯 𝘣𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘉𝘢𝘵𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘥𝘢𝘵 𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯).

Untuk membangun Jemaat yang tangguh dan saling mengasihi Mbah Broto melawat warga jemaat sampai empat kunjungan per pekan. Selesai perlawatan tak canggung Mbah Broto memeluk simbah-simbah (lansia) sehingga hati mereka terbombong, berbunga-bunga, penuh sukacita karena merasa dimanusiakan.

Menjadi pendeta bukanlah cita-citanya. Mbah Broto adalah anak ke-7 dari 11 bersaudara. Ayahnya adalah Pdt. Samidjo Wirjotenojo alias Kiai Wirjo, pendeta pertama GKJ Kutoarjo. Peraturan ketat di rumah Kiai Wirjo untuk anak-anaknya adalah pada siang hari wajib berbahasa Jawa 𝘬𝘳𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭, sedang pada malam hari berbahasa Belanda. Sejak kecil Mbah Broto sudah fasih berbahasa Belanda standar. Buku-buku filsafat berbahasa Belanda milik ayahnya dilalap habis. 

Sesudah Indonesia merdeka Mbah Broto menjadi mahasiswa Jurusan Filsafat pada Fakultas Sastra, Pedagogi, dan Filsafat UGM. Di tengah perjalanan menggapai sarjana filsafat ibundanya sakit dan dirawat di RS Bethesda. Pada masa kecil Mbah Broto dikenal sebagai “anak mami”. Kini saatnya ia membalas menyuapi ibundanya di RS. Dalam masa perawatan itu ibundanya 𝘤𝘶𝘳𝘩𝘢𝘵 kepada Broto mosok ada 11 anak satu pun tidak ada yang menjadi pendeta seperti ayahnya. Ibundanya dengan sangat berharap Broto menjadi pendeta.

Tidak seperti mahasiswa teologi atau calon pendeta pada umumnya yang merohani-rohanikan alasan menjadi pendeta dengan “panggilan dari Tuhan” atau “melayani Tuhan”, Mbah Broto mengakui bahwa ia menjadi pendeta karena 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘴𝘢𝘯𝘦́ 𝘣𝘪𝘺𝘶𝘯𝘨, menuruti kehendak ibunda. Ia pun meninggalkan bangku kuliah di UGM dan mendaftar ke Akademi Teologi Yogyakarta (ATY, cikal bakal STT DW dan UKDW). Patut dicatat, meski tak tamat dari UGM, menurut AD/ART Kagama Bab 5 pasal 9 ayat 3 Mbah Broto memenuhi syarat anggota Kagama atau alumnus UGM.

ATY kala itu masih menerima ijazah SMP sehingga pengurus ATY memandang Mbah Broto 𝘰𝘷𝘦𝘳-𝘲𝘶𝘢𝘭𝘪𝘧𝘪𝘦𝘥. Oleh pengurus ATY Mbah Broto dikirim ke STTJ pada 1956. Di STTJ Mbah Broto dikenal sebagai perpustakaan berjalan. Setiap ada tugas dosen untuk membaca buku teks berbahasa asing, terutama bahasa Belanda dan Jerman, Mbah Broto yang membaca buku itu kemudian ia menceritakan isi buku itu kepada teman-temannya. Tidaklah mengherankan ia tamat dari STTJ berpredikat dengan pujian atau 𝘤𝘶𝘮 𝘭𝘢𝘶𝘥𝘦 pada 1961.

Kekuatan penggembalaan di Jemaat Gombong terdengar oleh pengurus STT DW Yogyakarta (sekarang UKDW) dan UKSW Salatiga. Menurut mereka potensi besar Mbah Broto tidak boleh berhenti di Gombong, tetapi ia juga harus mencetak banyak pendeta mumpuni. Oleh STT DW Mbah Broto diminta untuk memerkuat jajaran dosen, sedang UKSW memintanya mendirikan fakultas teologi. Pada akhirnya Mbah Broto memilih Salatiga.

Kekuatan Mbah Broto di dogmatika. Sejak 1972 ia hendak mereformasi dogma GKJ warisan kolonial yang tidak lagi kontekstual. Buah pikirannya dituangkan dalam 𝘥𝘳𝘢𝘧𝘵 disertasinya di Vrije Universiteit di bawah bimbingan teolog besar Belanda Prof. Johannes Verkuyl. Dari Indonesia ditunjuk raksasa dogmatikus Indonesia yang juga pendeta GKJ Prof. Soedarmo sebagai pembimbing Mbah Broto. Tentu saja disertasi Mbah Broto ini menantang dogma lama GKJ yang dipegang erat oleh Prof. Soedarmo dan dogmatikus besar GKJ lainnya, Dr. Harun Hadiwijono.

Prof. Soedarmo selalu menolak disertasi Mbah Broto. Beliau menyarankan Mbah Broto untuk mengajukan pergantian pembimbing. Tentu saja mbah Broto tidak mau melukai seniornya dan memilih membatalkan raihan doktornya dari universitas ternama di Belanda itu. Menyusul pembatalan itu Prof. Verkuyl sangat menyayangkan dan menulis surat kepada Fakultas Teologi UKSW mengakui baru pertama kali itu ia memiliki mahasiswa program doktor cerdas sekali dari Asia.

Mbah Broto tidak berhenti menyampaikan buah pikirannya dalam kuliah-kuliah dan seminar-seminar. Hal itu berakibat berembus isu tak sedap bahwa Mbah Broto mewartakan ajaran sesat. Ditambah kasus surat pastoral kepada Presiden Soeharto di atas Mbah Broto tidak lagi dilibatkan dalam jabatan struktural dan kegiatan sinodal GKJ. Dalam pada itu gereja-gereja Belanda dan Australia memuji GKJ yang mengecam pelanggaran HAM oleh Presiden Soeharto yang membunuhi para “gali” atau preman tanpa proses hukum. Padahal saat itu GKJ ketakutan dan menyatakan bahwa itu pendapat pribadi Mbah Broto.

Mbah Broto menyadari bahwa jabatan pendeta membuatnya menjadi sasaran tembak banyak orang. Ia selalu mengingat pesan Kiai Wirjo pada saat penahbisannya (1962): “𝘉𝘳𝘰𝘵𝘰, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘩𝘣𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘵𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘫𝘢𝘵 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢. 𝘛𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘳𝘰𝘴𝘰𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘫𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘗𝘦𝘯𝘥𝘦𝘵𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘬𝘶𝘳𝘴𝘪 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘮𝘶. 𝘉𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘵𝘢.”

Pada 1985 Pemerintah Orba mengeluarkan UU No. 8 tentang Pancasila sebagai asas tunggal organisasi kemasyarakatan. Gereja pun tak luput masuk ke dalam ormas sehingga wajib juga menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Lagi-lagi Mbah Broto menentangnya. Satu-satunya asas Gereja adalah Yesus Kristus, kata Mbah Broto merujuk 1Korintus 3:11. Mbah Broto mengecam gereja untuk tidak bersilat lidah. Katakan ya jika ya, katakan tidak jika tidak.

Pada 1991 Prof. Soedarmo meninggal dunia menyusul Dr. Harun (1985). GKJ tak memiliki lagi dogmatikus. Kepada siapa lagi GKJ minta tolong merumuskan Pokok-Pokok Ajaran GKJ (PPA GKJ)? Siapa lagi kalau bukan kepada Pdt. Brotosemedi. Pada 1993 Mbah Broto mula dilibatkan lagi dalam kegiatan sinodal untuk menyusun PPA GKJ. Meskipun demikian GKJ sangat berhati-hati dalam melibatkannya karena Orde Baru masih berkuasa. Dengan perdebatan mendalam dan memakan waktu panjang pada akhirnya buah pikiran Pdt. Brotosemedi menjadi PPA GKJ secara resmi diterima oleh Sinode GKJ pada 1996 menggusur dogma usang peninggalan kolonial. 

Pdt. Brotosemedi tidak pernah mendaku PPA GKJ 1996 sebagai kemenangannya. Namun dalam seminar tentang PPA GKJ (2000) Pdt. P. Pudjaprijatma mengatakan, “Tidak ada yang bisa mengalahkan Mbah Broto!”

Mbah Broto yang memegang teguh prinsip, disiplin, terlihat angker, dan mendapat julukan pendeta 𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘳𝘪𝘬, sebenarnya sosok humoris. Dalam satu seminar sesudah keruntuhan Rezim Orba ia mengatakan, “Dulu saya orang PDI, sekarang PDIP.” Para pendengar 𝘤𝘭𝘪𝘯𝘨𝘢𝘬-𝘤𝘭𝘪𝘯𝘨𝘶𝘬 menduga-duga Mbah Broto adalah anggota parpol. Tak lama kemudian, “Dulu saya orang PDI, pengurangan daya ingat,” kata Mbah Broto, “sekarang PDIP, pengurangan daya ingat parah.”

Penutup
Sampai sekarang belum ada pejabat gerejawi yang menyamai keberanian Pdt. Brotosemedi dalam menyuarakan kenabian. Ia satu-satunya pendeta yang menulis surat kepada Presiden Soeharto untuk menghentikan penembakan misterius dan menguliahi Presiden Soeharto soal HAM. Risikonya adalah dikarungi dan beliau sudah siap. Pada penutup surat ia menyatakan siap menjadi korban terakhir pembunuhan misterius.

Pada era reformasi setiap orang bebas mengecam Pemerintah tanpa ancaman pembunuhan. Pejabat gerejawi juga ikut-ikutan ganjen mengecam. Nggak apa-apa sih selama kecaman itu tepat kepada Pemerintah yang zalim seperti era Orde Baru. Yang sering terjadi adalah “kecaman” karena ia berpolitik praktis, berkampanye untuk capres atau parpol tertentu. Pejabat gerejawi yang sudah masuk politik praktis partisan ya sama saja dengan politikus. Ia bisa sama-sama busuk. Nggak usah beralasan ia sudah selesai dengan diri sendiri. Pret banget!



(20032022)(T)

Jumat, 05 April 2024

SUDUT PANDANG YOHANES 20: 19 - 31, 𝗜𝗺𝗮𝗻 𝗼𝘁𝗲𝗻𝘁𝗶𝗸



SUDUT PANDANG YOHANES 20: 19 - 31, 𝗜𝗺𝗮𝗻 𝗼𝘁𝗲𝗻𝘁𝗶𝗸

Minggu lalu umat Kristen merayakan Paska, Hari Kebangkitan Kristus, dengan penuh sukacita. Gereja menampung kegembiraan ini dalam masa raya Paska cukup panjang sampai puncaknya pada hari ke-50 yang kita kenal dengan Hari Pentakosta.

Bacaan Minggu lalu di bagian penutup Injil Markus menantang kita untuk menjawab ajakan Yesus untuk menyusul-Nya ke “Galilea”. Bacaan Minggu ini memberikan cara pandang yang berbeda dari penulis Injil Markus.

Setiap Injil ditulis diperuntukkan menjawab kegalauan jemaat masing-masing penulis Injil. Kegalauan mengapa Yesus Sang Mesias harus mati. Kita, umat Kristen saat ini, beruntung dapat membaca sekaligus keempat Kitab Injil sehingga kita dapat membandingkan pelbagai pergumulan di dalam jemaat mula-mula. Dari sini kita juga tahu bahwa ada banyak pendapat tentang Yesus sehingga memerkaya gizi iman kita.

Hari ini adalah Minggu kedua masa raya Paska. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Yohanes 20:19-31 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 4:32-35, Mazmur 133, dan 1Yohanes 1:1-2:2.

Bacaan Injil untuk Minggu ini, Yohanes 20:19-31, mencakup tiga perikop yang oleh LAI diberi judul 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢 (ay. 19-23), 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘛𝘰𝘮𝘢𝘴 (ay. 24-29), dan 𝘔𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥𝘯𝘺𝘢 𝘐𝘯𝘫𝘪𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 (ay. 30-31). Konteks bacaan adalah keseluruhan pasal 20 mengenai kebangkitan Yesus. Pasal 20 ini dapat dibagi ke dalam dua babak:

Babak pertama, Yohanes 20:1-18, menceritakan Yesus-Paska menampakkan diri kepada Maria Magdalena.  Babak kedua, Yohanes 20:19-29, mengisahkan Yesus-Paska menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dan Tomas yang kemudian ditutup dengan ayat 30-31 𝘔𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥𝘯𝘺𝘢 𝘐𝘯𝘫𝘪𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵.

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱-𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱-𝗡𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗼𝗺𝗮𝘀 (ay. 19-29)

Sebelum Yesus menampakkan diri, para murid berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci rapat. Mengapa dikunci rapat? Para murid dikatakan takut pada orang-orang Yahudi. Tentu ini sangat dipahami, karena beberapa hari sebelumnya Yesus, Pemimpin mereka, dihukum mati, disalib. Suasana horor ini membuat para murid ketakutan, jangan-jangan orang-orang Yahudi dan pasukan Romawi segera menangkap para pengikut dekat Yesus. 

Tiba-tiba Yesus-Paska menampakkan diri di hadapan mereka dalam tempat yang terkunci rapat itu dan berkata, “𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶!”. Yesus kemudian menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Para murid sangat bersukacita ketika mereka melihat-Nya. Yesus berkata lagi, “𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶. 𝘚𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘬𝘶, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘮𝘶. 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨  𝘥𝘰𝘴𝘢-𝘥𝘰𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪, 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪.” Saat itu Tomas tidak ada.

Tomas diperikan sebagai seorang melankolis oleh penafsir Perjanjian Baru. Ia menyendiri murung terpisah dari para koleganya. Ketika para koleganya ditemui oleh Yesus-Paska, mereka menyampaikan berita ini kepada Tomas. Akan tetapi Tomas tidak percaya sebelum ia melihat bekas luka paku di tangan Yesus dan mencucukkan jarinya ke lambung Yesus bekas tusukan tombak tentara Romawi. 

Delapan hari kemudian Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan Ia menantang Tomas menyentuh luka-luka di tangan dan mencucukkan jari ke lambung bekas luka Yesus. Tomas bukannya menyentuh, melainkan langsung menjawab, “𝘖𝘩, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶!”. Kata Yesus kepada Tomas, “𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘈𝘬𝘶, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢. 𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢.”
 
Sebelum kita menyoal bacaan Minggu ini lebih jauh, kita melihat dahulu latar belakang penulisan Injil Yohanes. Tidaklah jelas siapa penulis Injil Yohanes. Para ahli menduga kuat penulisnya seorang terpelajar dari Komunitas Yohanes pengikut Kristus. Pada mulanya Komunitas Yohanes mewartakan kepada orang-orang Yahudi di sinagoge-sinagoge bahwa Yesus adalah Sang Mesias Yahudi yang dinantikan. Mesias yang lebih besar daripada Nabi Musa. Kampanye mereka mereka semula berhasil sehingga banyak orang Yahudi beralih menjadi Kristen atau anggota Komunitas Yohanes. Jejak atau petunjuknya dapat kita lihat pada episode sesudah pembangkitan Lazarus (Yoh. 11:45-53). Akan tetapi para pemuka agama Yahudi tidak suka melihat keberhasilan kampanye Komunitas Yohanes.
 
Para elit Yahudi kemudian mengaji Kitab Suci atau midrash guna membuktikan bahwa Yesus tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi Mesias Yahudi. Dalam pada itu mereka mengucilkan orang-orang Yahudi-Kristen Komunitas Yohanes dari sinagoge. Komunitas Yohanes bereaksi dengan mengajukan pendakuan kristologis yang lebih radikal menghancurkan seluruh bangunan Yudaisme. Akibatnya para pemuka Yahudi makin mengucilkan dan bahkan melakukan penganiayaan terhadap anggota Komunitas Yohanes. 

Penderitaan yang amat berat ini membuat mereka memandang orang-orang Yahudi yang menganiaya mereka sebagai keturunan iblis (lih. Yoh. 8:44). Mereka kemudian mencari penguatan ideologis untuk menolong dan menguatkan mereka bahwa Yesus itu ilahi, kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Saat Sang Firman nuzul menjadi Manusia, Ia ditolak oleh bangsa-Nya sendiri dan oleh dunia yang membenci-Nya. Para pengikut Yesus pun demikian. Mereka ditolak oleh dunia dan Yesus menjanjikan kepada mereka untuk sampai kepada Allah, Bapa-Nya, harus lewat diri-Nya. 

Kembali ke bacaan Minggu ini kita melihat lokasi penampakan Yesus di babak pertama dan babak kedua berbeda. Ketika Yesus-Paska menampakkan diri untuk kali pertama, Ia menampakkan diri di kubur kepada Maria Magdalena, ia hendak memegang Yesus, tetapi Yesus menolak karena Ia belum pergi kepada Bapa-Nya. Yesus memberi perintah kepadanya agar pergi kepada para murid dan memberitahukan bahwa Yesus pada saat itu (𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 dalam bacaan) akan pergi kepada Bapa-nya (Yoh. 20:17).

Pada babak kedua (bacaan Minggu ini, Yoh. 20:19-31) mengandaikan Yesus-Paska sudah pergi kepada Bapa-Nya. Penafsiran ini didukung oleh dua hal: (1) Yesus sudah dapat memberikan Roh Kudus kepada para murid (Yoh. 20:22) dan (2) Yesus sudah boleh disentuh seperti yang dikatakan-Nya kepada Tomas (Yoh. 20:27). Bandingkan dengan Yohanes 1:33 “…𝘋𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴” dan Yohanes 7:39 … 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘙𝘰𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯. Yesus juga memberi kuasa Roh Kudus kepada para murid agar mereka berkuasa untuk mengampuni dosa atau menyucikan orang (Yoh. 20:23). 

Ada dua ucapan penting Yesus dalam babak akhir ini. Dalam pertemuan pertama (tanpa Tomas) Yesus berkata, ”𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨  𝘥𝘰𝘴𝘢-𝘥𝘰𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪, 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪.” (Yoh. 20:22-23). Dalam pertemuan kedua (Tomas hadir) Yesus berkata, “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢.” (Yoh. 20:29). Kedua ucapan penting itu sebenarnya ditujukan kepada jemaat penulis Injil Yohanes. 

Ucapan penting pertama (ay. 23) ditulis karena diduga ada konflik di dalam jemaat Yohanes. Mereka diingatkan untuk mengampuni atau menyucikan orang lain. 𝘚𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 di ayat 23 adalah anggota kelompok yang bertobat dan mau balik ke dalam Komunitas Yohanes. Mereka yang tidak mau bertobat dan tidak bergabung lagi dianggap tetap berdosa. Tampaknya ada anggota Komunitas Yohanes yang menyempal karena dipengaruhi oleh paham Gnostik yang menolak Yesus-Ragawi. Hal itu tampak dalam Surat Kedua Yohanes ayat 7 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴  𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢. 𝘐𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴.

Ucapan penting kedua (ay. 29) ditulis karena tampaknya ada anggota jemaat atau komunitas yang arogan sudah melihat dan berjumpa dengan Yesus-Paska. Mereka merendahkan anggota yang belum pernah berjumpa dengan Yesus-Paska. Penulis Injil Yohanes mengingatkan bahwa dasar kehidupan jemaat adalah percaya tanpa melihat. Dasar untuk memeroleh hidup kekal adalah percaya. Justru orang percaya kepada Yesus tanpa melihat adalah orang-orang yang berbahagia, terberkati (𝘮𝘢𝘬𝘢𝘳𝘪𝘰𝘪).

Klimaks Injil Yohanes berada di Yohanes 20:28-29 mengenai pengakuan agung Tomas terhadap Yesus, “𝘖𝘩, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶!”. Pengakuannya mengembangkan seluruh kristologi Injil Yohanes. Pernyataan Tomas itu berhubungan dengan pertanyaannya kepada Yesus tentang jalan ke rumah Bapa dan dijawab oleh Yesus, “… 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘈𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘋𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘋𝘪𝘢.” (Yoh. 14:5-7).

𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗶𝗻𝗶 𝗱𝗶𝗰𝗮𝘁𝗮𝘁 (Yoh. 20:30-31)

Injil Yohanes yang asli (dalam arti karya penulis pertama Injil Yohanes) berakhir di Yohanes 20:30-31 sesudah pengakuan Tomas dan berkat Yesus. Dalam penutup penulis pertama Injil Yohanes menyapa langsung sidang pendengar tentang tujuan seluruh kisah Injil, tentang pergumulan iman para murid dan perjalanan mereka dari tidak percaya menjadi percaya. Injil Yohanes bukanlah biografi Yesus, melainkan narasi untuk membangkitkan iman kepada Yesus, Sang Mesias, Anak Allah, supaya kita, sidang pendengar, oleh iman kita memeroleh hidup dalam nama-Nya.

Penutup Injil Yohanes hendak menegaskan bahwa orang-orang yang percaya karena melihat tanda-tanda atau mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Yesus tidak diharkat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari episode awal rekrutmen murid-murid Yesus dan percakapan Yesus dengan Nikodemus. Kecaman Injil Yohanes terhadap mereka terus berlangsung sampai ke pengujung Injil. Menurut Injil Yohanes orang percaya karena ia belajar lebih dalam lagi diharkat lebih matang dan dipandang sebagai iman otentik.

(07042024)(T)

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memi...