Rabu, 20 April 2022

Hari Kartini, Serial Sudut Pandang

Hari Kartini, Serial Sudut Pandang

Anda menghormati Kartini? Anda merayakan hari Kartini? Coba uji, apa yang kita tahu tentang Kartini. Apa yang kita pahami tentang emansipasi?

Kita menghormati Kartini, namun patut disayangkan bahwa kita menghormati Kartini secara keliru. Tiap tanggal 21 April kita bernyanyi lantang "Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya, pendekar kaumnya." Lalu bersoleklah kaum perempuan dengan sanggul, kain dan kebaya. Bersanggul dan berkain kebaya tentu bagus dan enak dipandang. Tetapi mengidentikkan Kartini dengan sanggul dan kain kebaya sungguh menyempitkan makna perjuangan Kartini.

Busana seperti itu justru dikecam oleh Kartini sebagai kurungan feodalisme. Tulis Kartini, "Mengapa perempuan dikekang dengan aturan harus berbusana begini begitu? Mana mungkin kita maju kalau main badminton pun harus bersanggul dan berkain kebaya?" Secara sinis ia menyebut "Perempuan cantik bersuntingkan kembang cempaka layu pada kondenya." Dalam bukunya berjudul Een Vergeten Uitboekje Kartini menulis simbolisme sarkastis, "ayolah nona ayu, jangan nampak begitu sayu, mentari secumil itu takkan mengubah warna kulitmu... Apa pula gunanya payung kecil genit yang kau bawa bawa itu?".

Kartini berobsesi memajukan perempuan bukan melalui busana dan upacara. Sama sekali bukan! Obsesi Kartini adalah memajukan kaum perempuan dengan buku, yaitu agar anak perempuan suka membaca buku! Kartini melihat teman-teman Belandanya di Jepara maju dan pandai karena banyak membaca. Oleh karena itu ia ingin agar para perempuan Indonesia juga suka dan banyak membaca. Kartini sendiri melahap ribuan novel dan esei di perpustakaan Jepara. Baik karya pengarang Belanda maupun karya pengarang Eropa lainnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Buku favoritnya adalah De Kleine Johannes, Moderne Maagden, De Wapens Neergelegd, Hilda van Suylenburg, De Vrow en Sociaalisme, dan Max Havelaar.

Bagaimana cara Kartini meningkatkan minat baca kaum perempuan Indonesia? Kartini melakukannya dengan cara menulis sebanyak-banyaknya. Dalam hidupnya sesingkat 25 tahun ia menulis ratusan novel, reportase, puisi, esei, nota, dan surat. Semuanya dalam bahasa Belanda yang sempurna.
Sungguh ironis bahwa kita mengaku menghormati Kartini namun tidak mengenal buku-bukunya. Yang kita kenal hanyalah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Tapi itu pun hanya sebatas judulnya. Cobalah jujur bertanya, pernahkah kita membaca buku itu?

Habis Gelap Terbitlah Terang, sebenarnya memuat hanya sebagian dari buku aslinya yang berjudul Door Duisternis tot Licht yang terbit tahun 1911, tujuh tahun setelah kematian Kartini. Isinya adalah 105 pucuk surat yang diedit dari ratusan surat pribadi kepada teman-temannya. Buku ini cepat meluas di Belanda karena simpati masyarakat pada cita-cita Kartini. Penyebaran buku ini dibiayai oleh banyak Gereja, yayasan, dan juga sumbangan dari ratu kerajaan. Hasil penjualan itu dipergunakan untuk membangun sekolah-sekolah Kartini di Indonesia? Buku ini pun diterbitkan di Amerika, Rusia, Spanyol, dan Tiongkok. Judul "Habis Gelap Terbitlah Terang" dipetik dari lagu Gereja Belanda "Daar is uit's werelds duistere wolken een licht der lichten opgegaan" (ZB 593).

Kartini adalah pendekar, pejuang emansipasi. Tapi ia bukan pendekar busana, melainkan pendekar sastra. Perjuangannya bukanlah agar perempuan suka berkain kebaya, melainkan suka membaca. Hari Kartini bukanlah hari perempuan atau hari yang khusus dirayakan oleh perempuan. Spirit R.A. Kartini adalah spirit BERPIKIR KRITIS DAN TERBUKA terhadap segala hal yang normatif dalam kehidupan. Jadi, Hari Kartini adalah hari yang dirayakan oleh semua orang yang mau berpikir kritis dan open-minded atas segala normativitas — baik perempuan maupun laki-laki. SELAMAT HARI KARTINI. ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜๐Ÿ˜„๐Ÿ˜† (TUS)

Selasa, 19 April 2022

MUSUH KITA…???, Serial Sudut Pandangq

MUSUH KITA…???, Serial Sudut Pandang

Ade Armando mengatakan : 
Musuh umat Islam adalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan kekerasan. Apa bener begitu?
Ade bicara kepada umat Islam. Sesama agamanya.
Lha akuh bukan muslim. Jadi akuh nggak bisa bicara ke muslim dong, itu lancang namanya, nanti dianggap menista agama......ih...ngeri-ngeri sedap, bisa dibegal di jalan akuh. Maka, akuh memakai pendapat Ade Armando ini untuk bicara ke SEMUA SAHABATKU, apapun agamanya :
Musuh semua AGAMA MAYORITAS, di NEGARA MANAPUN adalah :
kemiskinan, 
kebodohan, 
keterbelakangan 
dan kekerasan. Setuju? Makanya, akuh buwat blog tulisan dengan tema besarnya BERAGAMA HARUS BERAKAL SEHAT, soalnya ya.....apapun agamanya kalo gak bisa pake akal sehat hanya menghasilkan penghakiman, kekerasan dan kebodohan. Nah, bagi umat kristiani tentunya dan sudah seharusnya lah, jadi lebih paham kenapa Yesus Tuhan disalib kalo begitu, paham gak?
Jadi, apapun agamanya… Tapi kalau miskin dan bodoh, bahkan tak bisa berakal sehat maka potensinya besar sekali untuk mengalami keterbelakangan dan melakukan kekerasan.
Mari kita lihat datanya :

Coba cek Venezuela. 
Cek : 71% populasi, beragama Katolik.
Cek : tingkat kriminalitasnya, ranking 1 di dunia dengan tingkat kriminalitas 83,76 per 100.000 penduduk (artinya ada 84 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk)
Cek : ranking ekonomi, 133 dari 141 negara (termasuk 10 negara TERMISKIN di dunia)

Coba cek Afganistan.
Cek : 99,7% populasi, beragama Islam
Cek : tingkat kriminalitasnya, ranking 4 di dunia dengan tingkat kriminalitas 76,31 per 100.000 penduduk (artinya ada 76 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk)
Cek : ranking ekonomi Afgan, bahkan nggak tercatat, mungkin saking kacaunya negara itu. 
 
Coba cek India.
Cek : 79,8% populasi, beragama Hindu.
Cek : tingkat kriminalitasnya, ranking 71 di dunia dengan tingkat kriminalitas 44,43 per 100.000 penduduk (artinya ada 44 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk)
Cek : ranking ekonomi, 68 dari 141 negara

Itu.. contoh negara-negara pra sejahtera semua…
Problemnya sama : kebodohan, kekerasan dan kriminalitas
Padahal agamanya beda-beda.
Artinya apa?
Ternyata agama apapun tidak bisa memberikan pengaruh baik kalau rakyatnya nggak sejahtera dan belajar berakal sehat.
Maka, apapun agamanya, kualitas manusianya tetap sama : cenderung kriminal. 
Sekarang kita cek negara yang sebaliknya : kaya alias sejahtera.
Coba cek Luxembourg 
Cek : 63,8 % populasi, beragama Katolik.
Cek : tingkat kriminalitasnya, ranking 40 di dunia, dengan tingkat kriminalitas 34.13 per 100.000 penduduk (artinya ada 34 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk)
Cek : ranking ekonomi, 1 dari 141 negara
Coba cek Qatar
Cek : 79,8% populasi, beragama Islam.
Cek : merupakan negara paling aman di dunia, dengan tingkat kriminalitas hanya 12,13 per 100.000 penduduk (artinya ada 12 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk)
Cek : ranking ekonomi, 3 dari 141 negara
Coba cek Jepang 
Cek : 94% populasi, beragama Shinto dan Buddhist (perbandingannya hampir sama : 48% Shinto, 46% Buddhist).
Cek : merupakan negara paling aman ke 8 di dunia, dengan tingkat kriminalitas hanya 22,19 per 100.000 penduduk (artinya ada 22 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk).
Cek : ranking ekonomi, 31 dari 141 negara
Nah… yuk kita simpulkan sendiri…
Bahwa masalah semua negara BUKANLAH kekurangan moralitas, juga BUKAN karena tidak beragama….tapi apa? Tidak berakal sehat.
Tapi kurang sejahtera..!!!
Jadi, STOP berlomba-lomba berpenampilan paling religius, tapi memaki-maki dengan kata kasar di medsos, menyebar hoax dan menyulut kebencian. 
STOP kotbah soal surga dan sedekah, padahal malak dan menipu.
STOP mengkampanyekan nikah muda, sebelum calon pasangan siap secara mental, emosional dan finansial.
STOP!!! 
Stop apapun tindakan dan perbuatan yang tidak membawa manfaat bagi dirimu, keluargamu, dan sekitarmu.
Nggak usah mimpi bisa berguna bagi agama dan negara, kalau mengelola emosi dan pikiran negatif diri sendiri saja belum becus…! 
Beresin diri sendiri dulu…
Setelah itu, BERLOMBA-LOMBALAH mensejahterakan diri lantas membantu sesama. 
Lantas memelihara kedamaian.
Lantas menghindari perbuatan fitnah dan hoax.
Mau tahu posisi Indonesia ada di mana?
86,7 % populasi, beragama Islam.
Indonesia adalah negara dengan keamanan di ranking ke 65 di dunia dengan tingkat kriminalitas 45,93 (artinya ada 46 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk)
Indonesia BUKANLAH negara miskin, karena ranking ekonominya adalah : 50 dari 141 negara. Lumayan lho ini, masuk di 1/3 negara makmur. 
Tapi kenapa masih kasar-kasar dan barbar?
Jangan-jangan ini karena : kurang didikan. 
Jadi, PRnya siapa kalau urusan pendidikan ini?
Ya PR :
- ortu
- guru sekolah
- guru agama/pemuka agama
Karena 3 unsur itulah yang TERKAIT LANGSUNG dengan urusan didik-mendidik kan?  

Sumber : secangkir kopi di pagi hari

Jumat, 15 April 2022

Memaknai Sabtu Suci/Sunyi? Serial Sudut Pandang, Serial Paska

Memaknai Sabtu Suci/Sunyi? Serial Sudut Pandang, Serial Paska

Sabtu Suci/ Sunyi sendiri kerap dimaknai sebagai Perayaan Malam Paskah. Malam Paskah adalah malam suci kebangkitan Tuhan, yang juga merupakan puncak dari rangkaian Tri Hari Suci.

Sabtu Suci mewakili waktu yang kita habiskan untuk menantikan Tuhan dan “memindahkan” kita dari kesedihan pada Jumat Agung ke kebahagiaan pada Minggu Paskah.

Kita dapat merenunginya sambil tercenung:
1. Yesus tidak tergantung di salib dalam waktu lama seperti yang umumnya terjadi pada orang-orang yang disalibkan prajurit Romawi. Dia cepat-cepat diturunkan dari salib setelah menyerahkan nyawaNya, dan langsung dikuburkan. TubuhNya tetap berbentuk mayat sampai Minggu pagi (Markus 16:9).

2. Walaupun tubuh Yesus tetap berada di dalam kubur sampai Minggu Paskah, rohNya tidak berada di situ. Beberapa waktu setelah tubuhNya dibungkus kain linen, diberi minyak dan rempah-rempah, dan kuburNya ditutup dengan pintu batu, roh Yesus bangun dan meninggalkan tubuhNya (Yohanes 19:39; Yohanes 20:6-9).

3. Kemana Yesus pergi dan apa yang dilakukanNya diantara Jumat Agung dan Minggu Paskah? Dia tidak berada di bumi, tetapi berada bersama dengan orang-orang di neraka, dengan orang-orang yang telah menolak rencana Penyelamatan Tuhan.
Dia ada disana untuk mengajarkan Injil, memberitahu siapa Dia sebenarnya, dan tetap bekerja untuk Kerajaan Allah. Untuk mengetahui lebih jelas tentang hal ini, silakan baca Efesus 4:7-9, Roma 4:11, Mazmur 139:7-8, dan Matius 12:38-40.

4. Mengapa Yesus melakukan hal tersebut, padahal orang-orang itu sudah lenyap? Mungkin karena orang-orang tersebut juga berhak untuk mengetahui siapa Yesus sebenarnya dan apa yang tidak bisa mereka dapatkan karena mereka tidak bertobat dan tidak mau percaya.

Alkitab menyatakan bahwa, “Setiap lutut akan berlutut, dan setiap lidah akan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan” (Roma 14:11). Sepertinya hal ini juga berlaku bagi orang-orang yang sudah mati.

Makna Sabtu Suci/Sunyi, dalam sejarahnya sampai sekarang bisa dimaknai sebagai berikut:
1. Poin yang terpenting adalah Yesus tetap bekerja pada Sabtu Suci/Sunyi; Jumat Agung sudah terlewati, Minggu Paskah sedang dinantikan, dan Yesus bekerja di antara kedua hari tersebut. Dan inilah yang dilakukanNya dalam hidup kita; bekerja, dan selalu bekerja untuk kita.

2. Saat kita menemui kesulitan atau cobaan, kita bisa saja berpikir dari waktu ke waktu bahwa Tuhan telah meninggalkan kita atau Tuhan tidak mau menolong kita lagi. Tetapi kita harus terus berdoa agar Tuhan menyertai dan menguatkan kita dalam setiap cobaan yang kita alami.

3. Ketika Sabtu Suci datang pada masa Prapaskah tahun ini, kita bisa menggunakan sebagian waktu di hari tersebut untuk merenung, bersyukur kepadaNya untuk pekerjaan yang telah dilakukanNya untuk kita;

hasilnya (perubahan dalam hidup kita) mungkin belum dapat kita lihat dan nikmati sekarang, tetapi hasil tersebut sedang disempurnakan sementara kita menunggu (Mazmur 121:1-3).

4. Selain itu, selama kita menunggu hasil yang sempurna tersebut, kita seharusnya tetap bekerja dan tidak berpangku tangan, sama seperti Yesus yang tetap bekerja untuk kita. Kita tidak boleh menyerah begitu saja pada cobaan yang terjadi.

Demikian penjelasan singkat tentang makna Sabtu Suci bagi umat Kristiani, semoga dapat menambah wawasan kita tentang Tri hari Suci Paskah yang selalu dirayakan setiap tahun (TUS)

PESACH SAMEACH, bukan ๐— ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—น๐˜†๐—ป ๐— ๐—ผ๐—ป๐—ฟ๐—ผ๐—ฒ, serial sudut pandang

PESACH SAMEACH, bukan ๐— ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—น๐˜†๐—ป ๐— ๐—ผ๐—ป๐—ฟ๐—ผ๐—ฒ, serial sudut pandang

Sesudah melewati tiga hari secara berendeng secara khidmat oleh umat Kristen dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi, umat bersukacita. Masa berduka usai. Pemimpin ibadah berseru “๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช!”, yang artinya Kristus bangkit. Umat menjawab “๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช . ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ช๐˜ข!” (Benar Ia bangkit. Puji Tuhan!). Trihari Suci atau ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui Paska, hari kebangkitan Kristus.

Persiapan Paska dimula pada Sabtu sesudah matahari terbenam. Gereja memelihara tradisi hari baru sesudah matahari terbenam. Sabtu Malam dalam tradisi gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu. Ibadah Sabtu Malam disebut Vigili Paska (๐˜Œ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ atau ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menantikan dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharapkan pagi (Mzm. 130:6). Ada empat bagian liturgi dalam kebaktian atau misa Vigili Paska: Ritus Cahaya, Liturgi Sabda, Liturgi Baptis, dan Liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus.

Hari Paska secara tradisi dimeriahkan dengan makan telur. Ada dua kisah yang melatarinya. Pertama, telur merupakan makanan penting yang dipantangkan pada masa Pra-Paska. Kedua, telur adalah simbol kehidupan baru. Di belahan bumi bagian utara perayaan Paska sangat berdekatan dengan awal musim semi, mula musim tanam. Makan telur diadopsi dari festival musim semi.

Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar dan lebih penting daripada hari Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa Paska yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. 

Orang Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus, yang menurut kesaksian Alkitab pada hari pertama (dalam pekan yang baru). Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan permulaan Masa Raya Paska atau yang dikenal dengan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? 

Gereja menetapkan Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret (๐˜ฆ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜น). Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Tradisi Gereja Barat mengikuti kalender Gregorian. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 17 April, Paska 2023 pada 9 April, Paska 2024 pada 31 Maret, dst. Tradisi Gereja Timur mengikuti  kalender Julian. Paska tahun ini jatuh pada 24 April, Paska 2023 pada 16 April, Paska  2024 pada 5 Mei, dst.

Penjelasan tentang Yesus yang bangkit atau Yesus-Paska.

Bacaan ekumenis Minggu Paska diambil dari Injil Yohanes 20:1-18 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 10:34-43, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan 1Korintus 15:19-26. Untuk praktis penulisan dalam edisi Paska ini saya menyebut Yesus yang bangkit atau tubuh kebangkitan Yesus sebagai ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€-๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ.

Dikisahkan dalam Injil Yohanes 20:1-18 pada Minggu buta Maria Magdalena (MM) pergi ke kubur Yesus dan ia melihat batu penutup kubur Yesus sudah tidak ada. MM kemudian berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka bahwa jenazah Yesus sudah tidak ada. Simon Petrus dan murid yang lain itu bergegas ke kubur Yesus. Petrus masuk ke kubur Yesus dan hanya melihat kain kafan sudah tergeletak di tanah, sedang kain peluh agak di samping di tempat lain sudah tergulung. Murid yang lain menyusul masuk, melihat, dan percaya. Sesudah itu keduanya pulang.

MM (bukan Marilyn Monroe) tetap berada di dalam kubur dan menangis. Dua malaikat berpakaian putih menyapa MM (Bukan Marilyn Monroe), "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab MM kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian MM menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada MM, "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" MM menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya, "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." 

Kata Yesus kepadanya: "Maria!" MM berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepada MM, "Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." MM pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan MM menceritakan hal-hal yang disampaikan oleh Yesus. [Bacaan berakhir di sini]

Siapakah MM? Keempat Injil menyebut nama MM (bukan Marilyn Monroe). Pakar PB menduga keras tokoh cerita MM ada di dunia nyata. Bukan sekadar sosok yang ada di dunia nyata, tetapi juga tokoh yang diperhitungkan. Dia bukan sekadar “Maria” pada umumnya, tetapi “Maria Magdalena”  dengan nama belakang merujuk daerah asalnya, Magdala atau Migdal. Ada kekhususan nama MM di keempat Injil. Bandingkan dengan tokoh cerita Zakheus yang khas Injil Lukas. Meskipun disebut oleh keempat Injil, tokoh MM, selain ada persamaan, ada perbedaan pemerian. 

Persamaan. Injil Markus dan Yohanes menampilkan MM pada akhir cerita Injil, menjadi saksi penyaliban Yesus. Injil Matius dan Yohanes menyebut MM memegang/menyentuh Yesus-Paska.

Perbedaan. Injil Lukas menyebut MM perempuan yang disembuhkan dari roh-roh jahat, sedang Injil Yohanes MM perempuan baik-baik. Injil Yohanes menyebut MM sendirian ke kubur Yesus, sedang Injil Markus menyebut MM bersama dengan Maria, ibu Yakobus, dan Salome. Injil Matius menyebut Yesus-Paska berjumpa dengan MM dan Maria yang lain, sedang Injil Yohanes menyebut MM sendirian berjumpa dengan Yesus-Paska.

Sekarang kita membahas MM menurut versi Injil Yohanes karena bacaan kita pada Minggu Paska Ini dari Injil Yohanes. Berdasarkan sapaan MM kepada Yesus  dengan “Rabuni” (Guru), MM adalah murid Yesus (Yoh. 20:16). Yesus menyapa dengan “Maria” (Yoh. 20:16). Sebagai Gembala yang Baik, Yesus mengenal semua nama domba-Nya, termasuk domba-Nya yang bernama “Maria” (Yoh. 10:3). Sebagai domba-Nya, Maria juga mengenal suara Gembalanya (Yoh. 10:3-4). Bagi MM Yesus bukan lagi sekadar “Rabuni”, melainkan “Tuhan” (Yoh. 20:18). Apabila iman Kristen diawali oleh kebangkitan Yesus dan kesaksian atas penampakan-Nya, maka MM dapat dianggap sebagai pendiri kekristenan. Setidaknya satu di antaranya.

Penulis Injil penulis Yohanes tampaknya hendak menyampaikan paradoks. Tubuh Yesus sebelum kebangkitan dan Yesus-Paska adalah sama sekaligus berbeda. Yesus-Paska seakan-akan sama seperti tubuh biasa yang bisa disentuh atau dipegang (Yoh. 20:17), bahkan tubuh yang masih berbekas luka (Yoh. 20:20, 27). Akan tetapi tubuh Yesus-Paska juga tampaknya berbeda dari tubuh biasa sehingga MM tidak langsung mengenali Yesus dan Yesus bisa muncul tiba-tiba di dalam ruangan yang tertutup (Yoh. 20:14,19,26). 

Pengarang Injil Yohanes sepertinya menolak kepemimpinan Petrus di jemaat awal. Sila baca dengan cermat bahwa Injil Yohanes pada mulanya berakhir pada pasal 20 ayat 30-31. Bersama dengan murid “misterius” yang disebut sebagai “murid yg dikasihi Yesus” Petrus memang ikut masuk ke dalam kubur Yesus (Yoh. 20:6). Namun hanya “murid yang dikasihi Yesus” yang disebut “percaya” (Yoh. 20:8). Apa dan bagaimana reaksi Petrus? Tidak ada kisahnya (Yoh. 20:6-7). Saksi pertama dari penampakan Yesus bukan Petrus, melainkan MM. Murid Yesus yang terakhir disebutkan namanya adalah Tomas, bukan Petrus (Yoh. 20:24-29).

Dalam kisah kebangkitan Yesus ini dikatakan bahwa MM memegang terus Yesus-Paska. Ada penafsir yang mengartikannya sebagai sikap egois MM yang memiliki hubungan dekat dengan Yesus sehingga MM sangat kehilangan ketika Yesus mati. Ketika bertemu dengan Yesus-Paska, MM tidak mau melepaskan Yesus lagi. Begitukah?

Saya memilih metode tafsir kritik naratif. Kisah teologis pada dasarnya adalah refleksi iman si penulis terhadap Yesus, tokoh utama kisahnya. Hanya Yesus tokoh cerita yang penting. Tokoh-tokoh lain tidaklah begitu penting sehingga dapat dihadirkan dan dilenyapkan begitu saja dari dunia cerita. Karakter tokoh-tokoh di Injil datar atau ๐˜ง๐˜ญ๐˜ข๐˜ต. Tidak kompleks. Kalau marah ya marah. Kalau malu ya malu. Tidak ada malu-malu kucing.

Kekhasan Injil Yohanes adalah ucapan-ucapan Yesus yang panjang seperti renungan. Pertanyaan atau tanggapan lawan bicara hanya untuk membuka jalan bagi penulis Injil untuk menulis Yesus menyampaikan ucapan-ucapannya. Contoh, perjumpaan Nikodemus dan Yesus dalam Injil Yohanes 3:1-21. Sesudah Nikodemus bertanya pada ayat 9, ia dihilangkan begitu saja. Contoh lainnya perikop “Roti Hidup” (Yoh. 6:25-59). Lawan bicara Yesus hanya berbicara di ayat 25, 28, 30-31, 34, 42, 52, sedang Yesus berbicara panjang-lebar menanggapi lawan bicaranya.

Demikian halnya dengan MM. Dalam teks sebenarnya tidak ada adegan MM memegang Yesus-Paska. MM memegang Yesus-Paska hanyalah imajinasi pembaca karena ada di ucapan Yesus. Cara itu merupakan teknik bercerita agar tokoh utama mendapat kesempatan untuk mengatakan tentang kenaikan Yesus-Paska, tentang Yesus yang akan pergi kepada Bapa, dan perintah kepada MM untuk disampaikan kepada saudara-saudara Yesus. Kata Yesus kepada MM, "๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด, ๐™จ๐™š๐™—๐™–๐™— ๐˜ผ๐™ ๐™ช ๐™—๐™š๐™ก๐™ช๐™ข ๐™ฃ๐™–๐™ž๐™  ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™–๐™™๐™– ๐˜ฝ๐™–๐™ฅ๐™–, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ผ๐™ ๐™ช ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™œ๐™ž ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™–๐™™๐™– ๐˜ฝ๐™–๐™ฅ๐™–-๐™†๐™ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ." (Yoh. 20:17, TB2 LAI, 1997). (TUS)

Rabu, 13 April 2022

TRIDUUM SACRUM, TRI HARI SUCI, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Paska

TRIDUUM SACRUM, TRI HARI SUCI, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Paska

๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต,  Minggu Palem dan Minggu Sengsara umat Kristen memasuki Pekan Suci (๐˜๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด ๐˜”๐˜ข๐˜ช๐˜ฐ๐˜ณ atau ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜ž๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ). Ada tiga hari secara berendeng yang dirayakan secara khidmat oleh umat Kristen, yaitu ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ. Secara populer ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ diindonesiakan sebagai Trihari Suci. Sangat dipahami penamaan Trihari Suci agar sejalan dengan penamaan Pekan Suci.
Trihari Suci hendak menyampaikan narasi satu-drama tiga-aksi yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Trihari Suci merupakan tiga hari “utama“ sekitar sengsara, kematian, dan pemakaman Yesus. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi.

๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต (๐™ˆ๐™–๐™ช๐™ฃ๐™™๐™ฎ ๐™๐™๐™ช๐™ง๐™จ๐™™๐™–๐™ฎ)
Kamis Putih adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Mengapa ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ diindonesiakan menjadi putih? 
๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ berakar kata Latin ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ถ๐˜ฎ atau perintah baru, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya “Aku memberi suatu teladan kepadamu …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yoh. 13:34).
Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah.
Kembali lagi ke pertanyaaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan Pemindahan Peralatan Sakramen. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutup kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. Penyelubungan dengan kain putih itu adalah simbol bahwa gereja tidak lagi melayankan sakramen sampai Sabtu Sunyi. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Gereja memula melayankan sakramen lagi pada Minggu Paska.
Yang menjadi dagelan ada gereja ikut-ikutan merayakan Kamis Putih, tetapi pada Jumat Agung melayankan Perjamuan Kudus. Merayakan Kamis Putih, tetapi tidak mengetahui makna dan pesan pastoral Kamis Putih.

๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด (๐™‚๐™ค๐™ค๐™™ ๐™๐™ง๐™ž๐™™๐™–๐™ฎ), Pengindonesiaan Jumat Agung erat pautannya dengan perayaan. Jumat Agung adalah hari kematian Yesus. Lha kok dirayakan? Pertanyaan itu lumrah terangkat karena cerapan orang Indonesia pada kata merayakan dan perayaan adalah berpesta, kegiatan hingar-bingar penuh sukacita dan tidak lengkap apabila tanpa makan bersama.
Dalam liturgi ada dua macam ibadah: selebrasi dan aksi. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian Minggu. Ibadah aksi adalah praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “Pergilah, … “
Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja merayakan berarti memuliakan, mengagungkan. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari pertama (Minggu). Merayakan Jumat Agung berarti memuliakan, mengagungkan salib. Mengapa memuliakan salib?
Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan penulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Penulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. Salib adalah simbol kemuliaan “… ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh penulis Injil Yohanes, “Sudah selesai!” Perayaan Jumat Agung merujuk teologi Injil Yohanes: ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป atau ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ. Bacaan ekumenis selalu mengambil dari Injil Yohanes 18 – 19.
Pada Jumat Agung Gereja tidak melayankan sakramen. Tidak ada Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Ekaristi dari kata ๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ข yang berarti pengucapan syukur. “Tidaklah pantas kita berpesta pada hari Sang Mempelai laki-laki diambil dari kita,” kata Tertulianus yang sejalan dengan Matius 9:14-15. Muatan teologis Ekaristi atau Perjamuan Kudus adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข). Kata Rasul Paulus, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan (Yesus) sampai Ia datang.” Pada Jumat Agung Yesus belum bangkit.
Umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci  dan agung Yesus yang telah diserahkan, ditiadakan, dilenyapkan, dipermalukan melalui hukuman mati pada salib untuk pembebasan orang lain. ๐˜๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ถ๐˜ง๐˜ง๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini. 

๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ (๐™ƒ๐™ค๐™ก๐™ฎ ๐™Ž๐™–๐™ฉ๐™ช๐™ง๐™™๐™–๐™ฎ)
Seperti pengindonesiaannya dari ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ menjadi Sabtu Sunyi sesudah Jumat Agung Gereja memelihara keheningan. Tidak ada liturgi pada Sabtu Sunyi. Tidak ada ibadah pada Sabtu Sunyi. Mengapa?
Ibadah Kristen berpusat pada Kristus. Pada Sabtu Sunyi Yesus berada dalam keheningan dan kesendirian di dalam kubur. Menjadi aneh ibadah Kristen tanpa dihadiri oleh Kristus. Gereja memelihara keheningan agar umat terus merenungkan kesengsaraan Yesus secara agung.
Ada tradisi umat berhimpun pada Sabtu Sunyi, namun bukan untuk beribadah selebrasi yang dipimpin oleh pemimpin ibadah. Untuk menambah kekhidmatan umat membaca Kitab Suci. Pembacaan yang dianjurkan dalam daftar bacaan ekumenis (RCL) adalah Ayub 14:1-14 yang kemudian disambut dengan Mazmur 31:1-4, 15-16 secara responsoria. Pembacaan dari Perjanjian Lama disusul dengan pembacaan Surat Rasuli dari 1Petrus 4:1-8 dan akhirnya pembacaan Injil dari Yohanes 19:38-42.
Dengan penerbitan Titik Pandang ini pastilah akan tersembul pertanyaan: “Bukankah Yesus sudah bangkit, terangkat ke surga, dan akan kembali lagi? Jadi, Perjamuan Kudus bisa kapan saja.” 
Pertanyaan tersebut di atas sangat logis. Berhubung sangat logis,maka konsekuensi logisnya orang itu tidak memerlukan lagi hari-hari raya liturgi dan kebaktian Minggu. Ia bisa kapan saja melakukan kebaktian. Ia bisa kapan saja merayakan Hari Natal (tak perlu 25 Desember), merayakan Jumat Agung (tak perlu Jumat), merayakan Paska (tak perlu Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah ๐˜ฆ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜น Maret), merayakan Pentakosta (tak perlu menanti 50 hari sesudah Paska), dlsb.
Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ณ) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. 

Jumat, 08 April 2022

๐—ฃ๐—ฎ๐—ฟ๐—ผ๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ฎ: ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—”๐—ป๐˜‚๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต, Serial Sudut Pandang


๐—ฃ๐—ฎ๐—ฟ๐—ผ๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ฎ: ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—”๐—ป๐˜‚๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต, Serial Sudut Pandang

Bacaan ekumenis RCL (๐˜™๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ) dibuat untuk siklus tiga tahun liturgi bukanlah tanpa alasan edukatif. Tahun A disebut juga Tahun Matius karena bacaan Injil diambil dari Injil Matius; Tahun B disebut Tahun Markus; Tahun C disebut Tahun Lukas. Injil Yohanes disisipkan di Minggu-Minggu atau hari raya tertentu dalam Tahun A, B, dan C.

Dari sana Gereja hendak mengajar umat bahwa sedikitnya ada tiga sudut pandang tentang Yesus. Untuk itulah saat berhomili pendeta harus fokus pada bacaan hari itu. Membandingkan dengan bacaan di luar bacaan hari itu boleh-boleh saja, namun kalau sampai mencampuraduk pandangan penulis Injil lain justru menciptakan Kitab Injil baru.

Minggu ini adalah Minggu VI masa Pra-Paska. Ada dua peristiwa yang beririsan dalam Minggu ini, yaitu Minggu Palma (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ด) dan Minggu Sengsara (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ). Secara tradisi ibadah gereja dimarakkan dengan setangkai daun palem di tangan umat. Kemarakan ibadah Minggu Palma tahun ini tampaknya tak seramai tahun-tahun sebelum pandemi. Tahun ini masih banyak Gereja yang belum melayankan ibadah secara full house.

Bacaan Alkitab secara ekumenis pada Minggu Palma diambil dari Injil Lukas 19:28-40 yang didahului dengan Mazmur 118:1-2, 19-29 dan Minggu Sengsara diambil dari Injil Lukas 22:14 - 23:56 yang didahului dengan Yesaya 50:4-9a, Mazmur 31:9-16, dan Filipi 2:5-11.

Saya pernah mengatakan bahwa  penulis Injil Lukas mengusung teologi kenaikan dan Yesus menjadi Mesias sesudah melewati penderitaan-Nya. Secara umum Injil Lukas dapat dibagi ke dalam enam babak: 
1. Pasal 1:1-4 – Kata pengantar
2. Pasal 1:5-2:52 – Pendahuluan ganda: kelahiran Yohanes Pembaptis dan kelahiran Yesus
3. Pasal 3:1-4:13 – Persiapan karya Yesus
4. Pasal 4:14-9:50 – Karya Yesus di Galilea
5. Pasal 9:51-19:28 – Perjalanan Yesus ke Yerusalem
6. Pasal 19:29-24:53 – Yesus di Yerusalem: pengajaran, kematian, kebangkitan, dan penampakan Yesus.

Lukas 19:28-40 merupakan awal dari babak terakhir cerita Injil “Yesus di Yerusalem”. Sesudah perjalanan “panjang” dari Lukas 9:51, Yesus akhirnya tiba di kota tujuan. Kota Yerusalem menjadi tempat terakhir sebelum Yesus diangkat ke surga. “Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk. 9:51).

Bacaan Minggu ini diawali dengan “setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem” (Luk. 19:28). Apakah "semuanya itu"? Kalau dari teks yang dimaksud adalah “Perumpamaan tentang uang mina” dalam Lukas 19:11-27. Penginjil Lukas diduga memberi “kerangka tafsir” sebagai “prapaham” untuk memahami cerita dalam perikop Lukas 19:28-44 yang diberi judul oleh LAI “Yesus dielu-elukan di Yerusalem”. 

Prapaham itu:
1. Kerajaan Allah belum akan datang secara penuh (ultim; Luk. 19:11), walaupun Yesus sudah disebut sebagai “raja” oleh para murid-Nya.
2. Yesus memang sudah disebut sebagai “raja” ketika Ia memasuki Yerusalem (Luk. 19:38). Namun penobatan yang sesungguhnya baru akan terjadi sesudah Ia menjalani penderitaan-Nya, yaitu ketika Ia diangkat ke surga (Luk. 19:12).
3. Para murid yang menyebut Yesus sebagai raja (Luk. 19:37) adalah mereka yang bersikap sebagai hamba yang melaksanakan tugasnya dalam menggunakan modal dagang (uang mina) yang diberikan tuannya, yaitu hamba pertama dan hamba kedua.
4. Orang Farisi yang menolak Yesus sebagai raja (Luk. 19:39) adalah “orang-orang sebangsanya yang menolak si Tuan sebagai raja” (Luk. 19:14) dan juga hamba yang tidak melaksanakan tugasnya, yaitu hamba ketiga.

Dalam cerita versi Injil Lukas tokoh cerita yang menyambut Yesus adalah “semua murid yang mengiringi Dia” dan yang telah melihat segala mukjizat Yesus (Luk. 19:37). Mereka berbeda dari orang-orang yang berteriak “Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!” (Luk. 23:21). Orang-orang yang berteriak begitu adalah “imam-imam kepala, pemimpin-pemimpin, dan rakyat” (Luk. 23:13).

Jadi, jika ada pengkhotbah Minggu ini menggunakan Lukas 19:28-44, lalu berkata bahwa mereka yang mengelu-elukan Yesus itu akan berubah seketika dan meneriakkan “Salibkanlah Dia!” adalah salah. Pengkhotbah harus berpumpun pada teks Injil Lukas sesuai dengan RCL, bukan membuat Kitab Injil baru.

Dalam perikop Lukas 19:28-44 penginjil Lukas tampaknya hendak menekankan topik Yesus sebagai raja. Tafsiran ini didukung oleh tiga hal. Pertama, perumpamaan uang mina di perikop sebelumnya (Luk. 19:12). Kedua, pengarang Injil Lukas menambahkan kata “raja” pada kutipan Mazmur 118:26 di Lukas 19:38. Ketiga, keledai yang ditumpangi Yesus tampaknya merujuk keledai dari raja mesianik yang dinubuatkan di Zakharia 9:9.
 
Pertanyaan selanjutnya: “raja” seperti apakah yang dibayangkan pengarang Injil Lukas?

Pertama, Lukas tidak menolak pendapat bahwa Yesus adalah raja keturunan Daud (Luk. 1:27, 32-33; 2:4). Akan tetapi Yesus bukan sekadar “raja Yahudi” atau raja bagi orang Yahudi. Yesus adalah anak Adam dan anak Allah (Luk. 3:38). Itu berarti Yesus adalah raja atas semua umat manusia (Luk. 22:29-30). Yesus dimuliakan Allah sebagai Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36; Kisah Para Rasul sering disebut Injil Lukas jilid ke-2 karena ditulis oleh pengarang yang sama, bahkan diduga aslinya satu buku yang dipenggal oleh editor menjadi dua buku/kitab). 
 
Pengakuan Yesus sebagai raja harus datang dari hati atau dari iman. Yesus menerima pengakuan yang datang dari murid-murid-Nya (Luk. 19:38-40). Akan tetapi Yesus menolak tuduhan dirinya sebagai “raja” atau “raja orang Yahudi” ketika hal itu ditempatkan dalam konteks politik berhadapan dengan kaisar (Luk. 23:2-3). Yesus juga menolak sebutannya sebagai “raja orang Yahudi” ketika hal itu diungkapkan sebagai ejekan (Luk. 23:37). 

Kedua, Injil Lukas yang ditulis pada masa pergumulan jemaat akibat penundaan ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข tetap mengingatkan pembacanya bahwa Sang Raja dari Kerajaan Allah itu akan datang kembali dan akan meminta pertanggungjawaban atas uang mina yang telah diberikan-Nya (Luk. 19:12-27). Apa itu parousia?

Parousia bersinonim dengan ๐˜ฑ๐˜ข́๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช yang secara literal berarti hadir. Parousia merujuk kunjungan penguasa atau petinggi negara yang disambut meriah. Dalam hal teologi Kristen parousia merujuk kedatangan Yesus kembali. Masalahnya umat atau jemaat pada waktu itu sudah dipengaruhi oleh ajaran atau Surat-surat Paulus (ditulis pada masa 40 – 60 ZB sebelum ada Injil Lukas) yang mengatakan parousia segera terjadi pada saat mereka masih hidup. Faktanya parousia belum terjadi sampai Bait Allah dihancurkan oleh Panglima Titus dari Roma pada 70 ZB.

Lukas, yang menulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul pada sekitar 80-90 ZB, harus menanggapi pergumulan jemaat sehubungan dengan “penundaan parousia” tersebut. Lukas menyampaikan bahwa masa penundaan parousia adalah masa anugerah: kesempatan untuk bertobat dan hidup sesuai ajaran Yesus sampai Sang Raja itu datang kembali.

Sudut Pandang Perbedaan Kronologi injil, keuntungan RCL, Serial Pengetahuan Sabda

Sudut Pandang Kronologi Alkitab, Serial Pengetahuan Sabda

Sekelompok murid SMA diberi tugas oleh guru mereka untuk menulis kegiatan harian Bung Karno dari 1 Agustus sampai 17 Agustus 1945. Ada dua buku sejarah di perpustakaan, tetapi dua buku itu belum dapat memberi keterangan lengkap kegiatan harian Bung Karno. Para murid kemudian melakukan pencarian lebih giat lewat internet dan bertanya kepada orang-orang yang mengerti sejarah. Lengkap sudah penugasan dari guru. Mereka berhasil menulis kegiatan Bung Karno dari 1 Agustus sampai 17 Agustus 1945. Kronologis.

Alkitab bukanlah buku sejarah. Orang tidak dapat memaksakan pendapatnya menulis suatu kronologi berdasarkan kisah-kisah dari berbagai kitab di dalam Alkitab seperti yang dilakukan oleh murid-murid SMA di atas. Misal, menggabungkan kronologi kisah Natal Injil Lukas dan Injil Matius. Selain memang setiap Kitab Injil memiliki teologi masing-masing, kronologi setiap kitab berbeda-beda. Dalam sebuah drama Natal Yusuf dan Maria pulang ke Betlehem atas perintah Kaisar Agustus. Maria melahirkan Yesus dan meletakkan ke dalam palungan (Injil Lukas). Drama Natal kemudian disambung dengan kedatangan orang-orang Majus memberi persembahan untuk Yesus (Injil Matius). Ini keliru. 

Ada empat Kitab Injil di dalam Alkitab: Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes. Ketiga Injil pertama disebut Injil Sinoptik, karena ada kemiripan. Injil Yohanes berbeda sama sekali dari Injil Sinoptik. Meski disebut Injil Sinoptik, tetap saja terjadi perbedaan kronologis.

Perbedaan Kronologis Injil Sinoptik

Contoh 1
Silsilah Yesus menurut Injil Matius (menurun):
Abraham - Ishak -  Yakub - Yehuda - Peres -Hezron – Ram - Aminadab - Nahason -  Salmon - Boas - Obed - Isai – Daud - Salomo - Rehabeam - Abia - Asa - Yosafat -  Yoram - Uzia - Yotam - Ahas - Hizkia - Manasye – Amon - Yosia - Yekhonya – Sealtiel – Zerubabel – Abihud – Elyakim – Azor – Zadok – Akhim – Eliud – Eleazar – Matan –  Yakub - Yusuf – Yesus.

Silsilah Yesus menurut Injil Lukas (naik):
Yesus – Yusuf – Eli – Matat – Lewi – Malkhi – Yanai – Yusuf – Matica – Maos – Nahum – Hesli – Nagai – Maat – Matica – Simei – Yosekh – Yoda – Yohanan – Resa – Zerubabel – Sealtiel – Neri – Malkhi – Adi – Kosam – Elmadam – Er – Yesua – Eliezer – Yorim – Matat – Lewi – Simeon – Yehuda – Yusuf – Yonam – Elyakim – Melea – Mina – Matata – Natan – Daud – Isai – Obed – Boas – Salmon – Nahason – Aminadab – Admin – Arni – Hezron – Peres – Yehuda – Yakub – Ishak – Abraham – Terah – Nahor –Serug – Rehu – Peleg – Eber – Salmon – Kenan – Arpakshad – Sem – Nuh – Leamekh – Metusalah – Henokh – Yared – Mahalaleel – Kenan – Enos – Set – Adam – Allah.

Nama-nama yang berbeda di atas memerlihatkan bukan saja ada perbedaan kronologi, melainkan juga perbedaan garis keturunan. 

Contoh 2: 
Injil Matius: Iblis mencobai Yesus kali kedua di puncak Bait Allah dan kali ketiga di atas gunung.
Injil Lukas: Iblis mencobai Yesus kali kedua di tempat yang tinggi dan kali ketiga di puncak Bait Allah.

Contoh 3: 
Injil Matius: Yesus menyembuhkan dua orang buta sesudah keluar dari Yerikho.
Injil Markus: Yesus menyembuhkan satu orang buta sesudah keluar dari Yerikho.
Injil Lukas: Yesus menyembuhkan satu orang buta sebelum masuk ke Yerikho.

Contoh 4:
Injil Markus dan Matius: Percakapan tentang Hukum Kasih terjadi sesudah Yesus masuk ke Yerusalem.
Injil Lukas: Percakapan tentang Hukum Kasih terjadi (pasal 10) jauh sebelum Yesus masuk ke Yerusalem (pasal 19).

Perbedaan Kronologis Injil Yohanes dan Injil Sinoptik

Contoh 1: 
Injil Yohanes: Yesus menyucikan Bait Allah di awal pelayanan-Nya.
Injil sinoptik: Yesus menyucikan Bait Allah di akhir pelayanan-Nya.

Contoh 2:  
Injil Yohanes: Yesus memula pelayanan-Nya sebelum Yohanes Pembaptis ditangkap.
Injil sinoptik: Yesus memula pelayanan-Nya sesudah Yohanes Pembaptis ditangkap.

Contoh 3:
Injil Yohanes: Yesus ditangkap dan dibawa ke Hanas, lalu ke Kayafas, lalu ke Pilatus, lalu disalibkan.
Injil Matius dan Markus: Yesus ditangkap dan dibawa ke Mahkamah Agama, lalu ke Pilatus, lalu disalibkan.
Injil Lukas: Yesus ditangkap dan dibawa ke Mahkamah Agama, lalu ke Pilatus, lalu ke Herodes, lalu balik ke Pilatus, lalu disalibkan.

Perbedaan kronologis dari beberapa contoh di atas menjadi persoalan besar bagi orang Kristen fundamentalis, karena mereka memegang ideologi inerrancy of the bible; setiap kata di Alkitab tidak salah. Mereka kemudian melakukan pseudo-science demi ideologi mereka untuk memuaskan diri sendiri. Padahal segala perbedaan itu membuktikan secara telak bahwa cerita Injil bukanlah laporan historis jurnalistik. 

Untuk menyelamatkan ideologi inerrancy of the bible mereka melakukan hamonisasi. Perbedaan silsilah Yesus versi Matius dan silsilah Yesus versi Lukas dimanipulasi dengan memaksakan pendapat bahwa versi Injil Lukas adalah Silsilah Maria. Mengubah Silsilah Yusuf menjadi Silsilah Maria sepertinya dapat menyelamatkan ideologi ineransi. Akan tetapi cara itu mengacaukan pemahaman kita terhadap Injil pada umumnya dan Injil Lukas pada khususnya, karena Injil Lukas tidak berbicara mengenai Silsilah Maria. Fundamentalisme pada prinsipnya seleksi ayat yang mendukung ideologinya. Ayat-ayat yang bertentangan dinafikan dan ditutup-tutupi. Usaha untuk memahami Injil apa adanya akan jauh lebih berguna ketimbang usaha untuk mengubahnya, memanipulasinya agar sesuai dengan ideologi. 

Mengenai Injil Lukas kita harus berani mengajukan pertanyaan: Mengapa Lukas menempatkan Silsilah Yesus sesudah Yesus dibaptis dan sebelum Yesus dicobai? Mengapa banjaran di Silsilahnya terbalik dari Matius dengan “naik” (dari Yesus ke Allah)? Mengapa Allah dan Adam tampaknya penting di Silsilah itu? Masih banyak pertanyaan yang dapat kita ajukan untuk memahami teologi Injil Lukas. 

Dalam pada itu tentang Injil Matius kita juga harus berani mengajukan pertanyaan: Mengapa penulis Injil Matius menempatkan Silsilah Yesus di awal Injilnya? Mengapa nama Daud dan Abraham tampaknya penting di Silsilah itu? Mengapa ada perempuan atau nama perempuan di Silsilah patriarkhal itu? 

Dari banjaran silsilah dalam Injil Lukas yang naik itu kita melihat secara gambar besar bahwa teologi Injil Lukas tentang kenaikan, dari rendah ke tempat tinggi. Yesus berkarya di Nazaret/Galilea, naik ke Yerusalem, naik ke Betania di Bukit Zaitun, dan akhirnya naik ke surga. Penulis Injil Lukas juga hendak menyampaikan teologi kemesiasan Yesus sesudah mengalami penderitaan dan kebangkitan. Kalau di Injil Matius penulis hendak menyampaikan bahwa Yesus sejak lahir sudah raja (atau mesias). Di awal Injil Matius dengan penulis menyatakan Yesus Kristus anak Daud.
 
Jadi, Kitab-kitab Injil bukan buku sejarah? Bukan buku sejarah, melainkan refleksi iman para penulisnya yang mewakili jemaat mereka masing-masing. Sangat bolehjadi perbedaan-perbedaan itu memang disengaja oleh para penulisnya. Penulis Injil Matius dan Injil Lukas tidak bersepedapat dengan penulis Injil Markus. Penulis Injil Yohanes tidak bersetuju dengan para penulis Injil sinoptik. Sangat bolehjadi. Terbuka banyak kemungkinan.

Orang Kristen masa kini justru sangat beruntung, karena memiliki banyak sudut pandang kesaksian tentang Kristus. Untuk itulah bacaan ekumenis RCL menganut siklus Tahun A untuk pembacaan Injil Matius, Tahun B untuk Injil Markus, dan Tahun C untuk Injil Lukas, sedang Injil Yohanes disisipkan di ketiga tahun itu. Dari sini orang Kristen akan melihat sudut pandang yang berbeda tentang Kristus dari setiap Kitab Injil. Bukan satu, apalagi Kristus hanya menurut pendeta anu atau pendeta onoh. Cepogo, gardu pandang ketep, (TUS)

Kamis, 31 Maret 2022

๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ผ๐—ฎ๐—น ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฒ๐—ฝ๐˜‚๐—น๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป, Serial Sudut Pandang


๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ผ๐—ฎ๐—น ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฒ๐—ฝ๐˜‚๐—น๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป, Serial Sudut Pandang

Saban terjadi perbincangan tentang pendeta kaya raya, orang kemudian menyenggol kewajiban persepuluhan bagi umat yang membuat pendeta tersebut kaya raya dengan gaya hidup kaum jetset. Sejatinya yang membuat pendeta kaya raya bukanlah persepuluhan pada dirinya.

Pada gereja-gereja arus-utama atau ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฎ seperti GKI, GKJ, GPIB,HKBP, BAPTIS INJILI, dlsb., terutama jemaat-jemaat besar di kota besar, pemasukan uang dari kolekte dan sumbangan bisa mencapai ratusan juta atau bahkan melewati angka miliar per bulan. Apakah pendeta-pendeta tampak kaya raya? Tidak. Mereka hidup berkecukupan ya, tetapi tidak kaya raya seperti kaum ๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ป๐˜บ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ค๐˜ฉ. Mengapa demikian?

Gaji pokok (atau apa pun sebutannya) pendeta-pendeta gereja-gereja arus-utama sudah ditetapkan oleh Sinode dengan menyesuaikan tingkat biaya hidup di suatu daerah. Gereja langsung memotong pajak penghasilan dari gaji pendeta dan para karyawan kantor gereja termasuk satpam. Bahkan honor pendeta tamu yang berkhotbah langsung dipotong pajak sebelum diterimanya.

Lalu ke mana uang pemasukan yang mencapai ratusan juta atau miliar? Uang itu digunakan untuk menjalankan program-program Gereja yang sudah ditetapkan oleh Majelis Jemaat (MJ) setiap tahun. Misal, untuk beasiswa, untuk menolong orang-orang miskin lewat program diakonia, untuk membantu korban bencana, untuk perayaan hari raya, dlsb.

Laporan keuangan selalu ditampilkan transparan lewat Warta Jemaat dan diaudit. Gereja membentuk tim audit dengan menunjuk warga jemaat yang kompeten dalam bidang audit keuangan. Ada juga gereja yang menunjuk tim audit independen dari luar gereja. Warga jemaat yang melihat atau mencium ketidakberesan dalam laporan keuangan berhak bersuara mengajukan keberatan. Harta benda adalah milik Jemaat, bukan milik pendeta atau pejabat gereja.

Pendeta-pendeta kaya raya ๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ป๐˜บ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ค๐˜ฉ di Indonesia bukan dari gereja-gereja arus-utama. Mereka dari gereja ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ. Mereka ibarat membeli suatu ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ gereja, kemudian mereka memasarkannya. Jemaat yang didirikan adalah milik pendeta pribadi. Harta benda adalah milik pendeta sebagai ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ. Kewajiban pendeta pemilik gereja hanyalah membayar royalti ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ nama gereja kepada Sinode.

Tidak akan pernah ada laporan keuangan (dalam arti pemasukan dan pengeluaran) di Warta Jemaat. Kalau pun ada hanyalah laporan pemasukan kolekte ibadah Minggu. Tidak ada laporan pengeluaran keuangan. Tidaklah mengherankan kampanye persepuluhan gencar di gereja-gereja ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ. Gaya hidup pendeta-pendeta tersebut seperti raja minyak dengan penghasilan bersih ratusan juta bahkan miliaran per bulan.

Yang membuat gereja model itu aman adalah penerimaan keuangan lembaga agama tidak kena pajak. Akan tetapi apa pun yang diberikan oleh gereja yang membuat orang atau pihak mendapat tambahan kemampuan ekonomi adalah objek pajak. Petugas DJP sebenarnya dapat memula penyelidikan dari SPT pendeta ๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ป๐˜บ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ค๐˜ฉ dengan membandingkan gaya hidup mereka.

Di balik uang besar selalu ada kejahatan, kata Mario Puzo. Tidaklah berlebihan untuk disebut gereja adalah tempat ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜บ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ paling aman sedunia.(TUS), STT BAPTIS INJILI, BOYOLALI

Jumat, 04 Maret 2022

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซ SPIRITUALITAS KRISTUS YESUS

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซ SPIRITUALITAS KRISTUS YESUS

“๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต ๐˜ช๐˜ด ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ค๐˜ฆ.” Mark Twain. 

Umat Kristen sudah memasuki masa Pra-Paska yang dimula dari Rabu Abu yang lalu. Dalam Rabu Abu Gereja hendak mengajar umat mengenai ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป, perkabungan, mawas diri, pendekatan diri kepada Allah lewat simbol abu. Perintah dan ajaran tentang pertobatan bejibun di Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Singkatnya gereja hendak mengajarkan spiritualitas. Spiritualitas dibentuk dari kata Latin spiritus yang memiliki beberapa makna: roh, jiwa, sukma, nafas hidup, ilham, kesadaran diri, kebesarhatian, keberanian, sikap, dan perasaan. Spiritualitas dapat dilihat dengan merujuk suatu sikap hidup yang erat pautannya dengan kesadaran diri yang bersumber pada kawasan roh sebagai sumber nafas hidup. Dengan demikian spiritualitas seorang Kristen merujuk jeluk (๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ต๐˜ฉ) nasabahnya dengan Roh  Kristus sebagai kawasan spiritual yang menjadi landasan dan sumber pembentukan jatidirinya yang dinampakkan dalam sikap dan perilaku hidupnya terus-menerus. Bacaan diambil dari Injil Lukas 4:1-13. Bacaan Injil Lukas pada Minggu ini mengisahkan spiritualitas Yesus yang dalam nasabah spiritualnya yang kuat dengan kawasan Roh, yaitu dengan Allah yang dipanggil-Nya sebagai Bapa yang sedang menjalankan kekuasaan-Nya. Nasabah spiritualnya ini membentuk jatidiri Yesus dan memberikan makna hakiki eksistensial ketika Kristus memeragakan kekuasaan pemerintahan Allah di dalam karya-karya-Nya. Sebelum Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun, Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Dalam pembaptisan itu turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati dan terdengar suara, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Luk. 3:21-22). Dalam kisah yang oleh LAI diberi judul ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜Ž๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ penulis Injil Lukas hendak “menjelaskan” Anak Allah yang seperti apakah Yesus itu. Dinarasikan oleh penginjil Lukas bahwa Yesus dibawa oleh Roh menuju padang gurun dan tinggal di sana selama 40 hari dan berpuasa. Setelah melewati waktu itu, Yesus lapar. Iblis menggoda, “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.”(๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ. Ul. 8:3). Yesus tak mengubah batu menjadi roti, walaupun itu sangat mudah dilakukan-Nya. Barangkali ayat ini menginspirasi Lionel Richie dan Michael Jackson menciptakan ๐˜ž๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ž๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฅ.  Seperti Allah yang dapat mengubah batu menjadi roti, ๐˜ด๐˜ฐ ๐˜ธ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ต ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ. Iblis melakukan pencobaan kedua. “Semua kerajaan dunia milikku dan akan kuberikan kepada-Mu,” kata iblis, “jika Engkau menyembah aku.” Yesus menjawab lagi, “Ada tertulis: Kamu harus menyembah TUHAN, Allahmu, dan hanya kepada-Nya engkau berbakti.” (๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ. Ul. 6:13). Dalam versi Injil Matius pencobaan ini adalah upaya ketiga iblis. Iblis tak menyerah. Untuk ketiga kalinya iblis menggoda Yesus yang kali ini dengan ayat karena Yesus menjawab dengan ayat. Iblis membawa Yesus ke atas bubungan Bait Allah di Yerusalem. Kata iblis, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis,” kata iblis,”Allah akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau dan mereka akan menatang Engkau agar kaki-Mu tidak terantuk batu.”  Iblis mengutip Kitab Suci dari Mazmur 91:11-12. Yesus menjawab iblis, “Ada tertulis: Jangan kamu mencobai TUHAN, Allahmu.” (๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ. Ul. 6:16). Iblis kemudian mundur dan akan mencoba lagi pada waktu yang tepat. Kisah berakhir dengan ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜บ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ itu memerikan bahwa Yesus adalah Israel baru yang sejati, Anak Allah yang menang atas segala pencobaan. Bukan dengan kuat kuasa-Nya, melainkan dengan menaatkan diri-Nya kepada Bapa-NyaPenulis Injil Lukas mau menampilkan perjuangan spiritual Yesus pada awal ia mencari visi dan menemukan panggilan hidup-Nya. Pergulatan spiritual Yesus tentu saja merefleksikan teologi penulis Injil, tetapi pada intinya pengisahan itu mau menyatakan fakta sejarah bahwa Yesus Kristus mengalami pergulatan spiritual yang berat. Hal itu dikuatkan oleh antropologi budaya yang menemukan gejala-gejala umum yang serupa yang juga dijalani oleh tokoh-tokoh kharismatis yang mencari pelihatan-pelihatan dari dunia ilahi dalam banyak kebudayaan zaman dulu. Menarik bacaan Injil di atas bahwa iblis lihai mengutip Kitab Suci. Kita bisa lihat bagaimana para penjaja agama masa kini cekatan mengutip ayat-ayat Kitab Suci untuk berbisnis agama. Mereka seperti melupakan bahwa tidak perlu menjadi orang baik untuk cakap mengutip ayat-ayat Kitab Suci. Iblis pun piawai. Penulis Injil Lukas juga secara tak langsung mengajar jemaatnya atau pembacanya bahwa meskipun Kitab Suci dapat digunakan untuk iktikad jahat bukan berarti jemaatnya berhenti menggunakan kitab suci untuk maksud baikBacaan di atas hendak menyampaikan bahwa Yesus mengajarkan spiritualitas yang bukan mengawang-awang dan eskapis, yang tidak bersentuhan dengan realitas sosial. Tidak ada gunanya orang Kristen berbondong-bondong melakukan wisata suci ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜“๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜›๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ, tetapi meninggalkan realitas sosial bahwa kehadiran Kristen di Indonesia harus berdampak pada kesejahteran sosial. Spiritualitas Yesus mengajar agar orang lebih peka dan lebih peduli kepada orang-orang yang terpinggirkan: ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ง๐˜ด๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. (TUS)




Rabu, 02 Maret 2022

Rabu Abu sebagai Tradisi Gereja Roma Katolik? SERIAL SUDUT PANDANG

Rabu Abu sebagai Tradisi Gereja Roma Katolik? SERIAL SUDUT PANDANG

 Masa Prapaskah yang dimulai pada hari Rabu telah dimulai pada abad VI (waktu itu belum bernama “Rabu Abu”). Gereja memilih hari Rabu sebagai awal masa Prapaskah karena menurut tradisi, Yudas Iskariot mengkhianati Yesus pada hari Rabu, lalu pada hari Jumat, Yesus wafat disalibkan. Karena itu umat Kristen perdana melaksanakan puasa pada hari Rabu dan Jumat, berbeda dengan umat Israel yang merayakan puasa pada hari Senin dan Kamis.

Pada abad X, penggunaan abu dilakukan gereja pada hari Rabu sebagai awal Prapaskah, sehingga muncul istilah Rabu Abu. Tepatnya ibadah Rabu Abu telah dilaksanakan oleh gereja sejak 960 sebagaimana dikemukakan oleh Thomas Talley di situs http://www.americancatholic.org/newsletters/cu/ac0204.asp yaitu: “Thomas Talley, an expert on the history of the liturgical year, says that the first clearly datable liturgy for Ash Wednesday that provides for sprinkling ashes is in the Romano-Germanic pontifical of 960.” Namun secara resmi ibadah Rabu Abu dengan pengolesan abu menjelang masa Prapaskah telah terjadi pada akhir abad XI – XIII yaitu melalui penetapan sidang Sinode di Benevento pada 1091 oleh Paus Urbanus II (Adolf Adam 1990, 98). Jika demikian, penetapan sidang Sinode di Benevento pada 1091 menjadi bagian dalam kehidupan gereja Reformatoris. Ibadah Rabu Abu bukan monopoli tradisi gereja Roma Katolik, namun juga gereja-gereja yang terikat dengan keputusan sidang Sinode di Benevento pada 1091. Itu sebabnya ibadah Rabu Abu selain gereja Roma Katolik juga dilakukan oleh gereja Anglikan, Lutheran, dan Methodist (http://en.wikipedia.org/wiki/Ash_Wednesday).

Gereja-gereja Protestan (reformatoris) yang bercorak Calvinis baru muncul setelah peristiwa reformasi gereja yang diawali dari protes Martin Luther pada 31 Oktober 1517, yaitu saat dia menempelkan 95 dalil di gereja Wittenberg Jerman. Sejak itu gereja yang semula satu, yaitu gereja Katolik (arti “katolik” adalah: Am) terpecah sehingga muncul gereja Reformatoris. Dengan memahami catatan sejarah ini berarti tanggal 31 Oktober 1517 merupakan tonggak waktu pemisah antara gereja Katolik dengan gereja Reformatoris. Tepatnya segala hal yang berkaitan dengan keputusan gereja Roma Katolik setelah 31 Oktober 1517 bukanlah keputusan gereja-gereja Reformatoris (Calvinis dan Lutheran). Jika demikian, segala hal yang berkaitan dengan keputusan gereja sebelum 31 Oktober 1517 adalah keputusan bersama. ITidak mengherankan juga jikalau gereja-gereja Reformed dan Evangelical (Injili) di berbagai belahan dunia kini melaksanakan ibadah Rabu Abu dengan mengoleskan abu di dahi jemaat. Mereka melakukan dengan suatu kesadaran teologis tentang ikatan dalam tradisi gereja dan pentingnya mewujudkan keesaan gereja sebagai Tubuh Kristus.

Jumat, 25 Februari 2022

SERIAL SUDUT PANDANG, Lukas 9 : 28-36, KEMAH PERTEMUAN, Minggu Transfigurasi

SERIAL SUDUT PANDANG, Lukas 9 : 28-36, KEMAH PERTEMUAN, Minggu Transfigurasi

Minggu ini disebut Minggu Transfigurasi yang merupakan akhir masa Minggu Epifania. Minggu depan kita memasuki Minggu Pra-Paska. Bacaan diambil dari Injil Lukas 9:28-36, (37-43a). Dalam Injil Lukas Minggu ini dikisahkan kira-kira delapan hari setelah segala pengajaran itu (termasuk kisah Yesus memberi makan kepada 5.000 orang), Yesus membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus ke atas gunung untuk berdoa. Ketika Yesus sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya putih berkilau-kilau. Tampaklah dua orang berbicara dengan Yesus, yaitu Musa dan Elia. Melihat peristiwa itu Petrus berinisiatif mendirikan tiga kemah untuk Yesus, Musa, dan Elia. Sementara Petrus berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Petrus dkk. takut. Terdengar suara “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” Ketika suara itu terdengar, Yesus tinggal seorang diri. Bacaan berlanjut dengan  ayat 37-43a yang mengisahkan pada esok hari mereka turun dari gunung. Datanglah orang banyak berbondong-bondong menemui Yesus. Perikop di atas oleh LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) diberi judul “Yesus dimuliakan di atas gunung”. Pada ayat 29 “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya putih berkilau-kilau.” Itulah mengapa hari ini disebut Minggu Transfigurasi. Tesamoko (hlm. 753) memadan maknakan transfigurasi dengan alih bentuk, konversi, metamorfosis, perubahan, transformasi, transmutasi, penjelmaan. Menurut Kamus Gereja dan Teologi Kristen (hlm. 723) transfigurasi ditakrifkan sebagai peristiwa Yesus mengalami perubahan rupa serba putih berkilauan sehingga dalam kemanusiaan-Nya terpancar keilahian-Nya. Narasi Yesus dimuliakan di atas gunung merupakan wacana yang disampaikan untuk  mengundang pembaca atau pendengar mengalami realitas kehadiran seutuhnya bahwa Yesus lebih besar daripada Musa, sang pembebas, dan Elia, sang pembuat jalan. Akan tetapi Petrus terlalu banyak bicara. Belum lagi Yesus berbicara, Petrus langsung berujar, “Guru, alangkah baiknya (ฮบฮฑฮปฯŒฮฝ) kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia." (TB II LAI). Mengapa Petrus hendak mendirikan kemah untuk Yesus, Musa, dan Elia? Barangkali Petrus merujuk “Kemah Pertemuan” atau “Kemah Suci” pada zaman Musa (Kel. 26:1-37; 33:7-9; 40:1-38). Di Kemah Suci itu Allah hadir dan tinggal di tengah-tengah bangsa Israel. Di Kemah Pertemuan itu Allah dapat ditemui oleh Musa.  Yesus tidak menanggapi usulan Petrus dan sebelum Petrus selesai berkata-kata, Allah tiba-tiba mengintervensi. Datanglah awan menaungi mereka, dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” (Luk. 9:33-34). Tinggallah Yesus sendiri. Musa dan Elia tak tampak lagi. Dengan demikian usulan Petrus menjadi tidak paut lagi. Kemah tidak perlu didirikan. Allah bahkan sudah berbicara langsung tanpa “Kemah Pertemuan.” Mengapa peristiwa transfigurasi ini penting bagi kehidupan bergereja? Rabu ini, 2 Maret 2022, adalah Rabu Abu sebagai awal masa raya Pra-Paska. Minggu Transfigurasi  adalah “hari kenaikan kelas” bagi Yesus, dari pelayanan “tingkat pertama” naik ke pelayanan “tingkat kedua” yang lebih dahsyat. Ahli PB menyebutnya masa pengajaran dan masa pengorbanan Yesus. Minggu transfigurasi menandai penerusan peningkatan karya-karya  Yesus menjelang penyaliban-Nya. Ia makin dibenci oleh lawan-lawan-Nya. Semua karya-Nya dinafikan bahkan diputarbalikkan oleh ahli-ahli agama Yahudi sampai pada akhirnya Yesus didakwa menista agama dan dijatuhi hukuman mati. Momentum Minggu Transfigurasi sudah sepatutnya menjadikan gereja “naik kelas”. Gereja yang dalam hal ini para pejabat gerejawi haruslah berhenti merohani-rohanikan profesi pejabat gerejawi. Kebiasaan ini hanya melanggengkan tradisi pejabat gerejawi sebagai pihak yang dilayani dengan berlindung di balik “kemuliaan Tuhan” seperti yang hendak dikerjakan oleh Rasul Petrus di atas. Sungguh ironis banyak pejabat gerejawi mendaku “hamba Tuhan” tetapi berbicara melulu seperti Petrus sampai akhirnya dihardik oleh Allah: “Dengarkanlah Dia!” Bagaimana pemimpin gereja dapat mendengar suara Allah yang tak kasatmata kalau tidak bisa mendengar suara rintihan warga yang fisis? Jangan gunakan kata-kata “mari kita doakan”, apabila gereja tidak berbuat apa-apa ketika banyak warga merintih minta tolong. (TUS)(02032022)

Jumat, 21 Januari 2022

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซGEREJA MENGAJAR, GEREJA BERHIKMAT, TAHUN RAHMAT TUHAN SUDAH DATANG,

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซGEREJA MENGAJAR, GEREJA BERHIKMAT, TAHUN RAHMAT TUHAN SUDAH DATANG, 

Memaknai Yesus mengajar dari bacaan Lukas 4 ayat 14 sampai 21 “Education costs money, but then so does ignorance.” Claus Moser. Ketika gereja mau belajar mengajar dan Berhikmat maka sebetulnya tahun Rahmat Tuhan sudah datang. Hal yang patut dikedepankan dalam hal berhikmat dan mengajar bukan mengejar ketenaran atau pujian, namun kebenaran. Hikmat kebenaran yang sejati berasal dari Allah sendiri. Hikmat Allah sebagai sumber kebenaran bila diterima dengan sepenuh hati akan menyadarkan umat perihal dirinya di hadapan Tuhan. Kita mesti menjadi bagian dari masyarakat yang berhikmat. Kita terus diperbarui untuk menjadi orang yang bijak di tengah masyarakat yang terkadang ada yang bertujuan mengacaukan situasi dan memang tidak senang adanya suasana damai. Sebagai pribadi orang percaya terus belajar menjadi orang bijak, arif dan dewasa dengan memberlakukan hikmat Tuhan sebagai sumber kebenaran tertinggi. Berhikmat yang menjadi berkat bagi umat maupun masyarakat.Kiranya dengan hati yang selalu membuka diri untuk dibimbing Roh Tuhan sehingga taat untuk menerima pengajaran hikmat dan setia menerapkan hidup yang berhikmat. Hidup yang  penuh hormat dan rendah hati menerima setiap pengajaran Firman yang dilayankan. Dihadapan kebenaran Allah yang penuh kuasa dan kemuliaan, tidak pantas baginya untuk memegahkan diri. Berhikmatlah dalam pikiran, perkataan dan tindakan (Dalam mengajar dan belajar) yang mendatangkan kebaikan bagi umat dan masyarakat umum. Bahkan menggunakan karunia yang berguna bagi orang lain, yang tidak untuk kebanggan diri sendiri. Kepandaian yang dimiliki tidak untuk membodohi masyarakat namun untuk mencerahkan. Kepandaian harus dibarengi dengan kebijaksanaan agar jadi berkat bagi banyak orang, mengajar yang mencerahkan bukan menjerumuskan bahkan menyesatkan masyarakat dalam berpikir maupun bertindak. Sebagaimana Kristus dalam berhikmat yang dari Roh Allah untuk menyatakan pembebasan, menyembuhkan dan mewartakan sukacita dari Tuhan. Menjadi pengajar baik bagi diri sendiri maupun orang lain terlebih khalayak banyak dengan menyampaikan berita yang benar dan berguna agar berita tersebut tidak sekadar memberi informasi, namun juga menginspirasi dan memotivasi kepada kebenaran Tuhan. Contoh saja tentang nalar thd suatu hal dikaitkan dengan hikmat dalam mengajar belajar, tentang berita di  suatu tempat yaitu lomba Lektor, yah nyonto pinginnya Musabaqah Tilawatil Qur'an, bidang lomba membaca Al-Qur'an dengan bacaan mujawwad, yaitu bacaan Al-Qur'an yang mengikuti kaidah-kaidah hukum tajwid, membaca dengan adab tilawah, serta seni lagu dan suara. Alkitab, kitab suci orang Kristen, adalah karya sastra yang berbentuk prosa dan puisi. Dalam ilmu teologi bidang biblika karya sastra tersebut merupakan refeksi iman para penulisnya. Seindah-indahnya karya sastra itu para penafsir selalu ingin mencari apa makna teks atau makna apa yang dipahami oleh penulisnya, bukan lagi ayat ini bermakna apa bagiku tapi makna apa yg ada dibelakang pikiran penulisnya shg penulis menuliskan ayat tsb. Dalam dunia sastra umum tidaklah penting untuk mencari makna karena sastra umum mengutamakan keindahan. Pembaca atau penikmat sastra tidak peduli pada apa yang hendak disampaikan penulis karena mereka menikmati keindahan karya sastra. Bahkan dalam bentuk yang sederhana seperti peribahasa “Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu” orang tidak peduli apa makna “kura-kura dalam perahu”. Orang hanya peduli pada keindahan rima untuk menuju frase selanjutnya “pura-pura tidak tahu”. Pembaca Alkitab disebut lektor. Calon-calon lektor tidak dilatih untuk membaca dengan indah. Mereka dilatih untuk menyampaikan secara utuh suatu perikop yang dibacanya agar didengar secara utuh oleh para pendengarnya.Itulah sebabnya tidak ada lomba lektor nasional. Alkitab memang karya sastra, tetapi keindahan bukanlah yang utama. Yang utama dan terutama adalah apa makna teks untuk pembaca masa kini. Gereja pada hakikatnya mengajar, tapi juga belajar. Gereja yang tak mengajar dan belajar berarti bukan gereja. Gereja membuat tahun liturgi: Tahun A, Tahun B, dan Tahun C, yang dapat diartikan tahun ajaran atau tahun akademik. Kurikulumnya berupa leksionari. Berhubung Gereja ibadahnya Kristosentris, maka pusat pemberitaannya atau homilinya adalah Injil. Bacaan dari Perjanjian Lama (PL) dan Surat-surat Rasuli untuk menopang pembacaan Injil. Injil Matius mengisi kurikulum Tahun A. Injil Markus untuk Tahun B. Injil Lukas untuk Tahun C. Injil Yohanes disisipkan ke Tahun A, B, dan C untuk Minggu-Minggu tertentu. Tahun ajaran/akademik dimula dari Minggu Pertama masa Adven. Sekarang adalah Tahun C atau Tahun Injil Lukas. Sesudah Tahun C berakhir, maka kembali ke Tahun A sehingga membentuk siklus atau lingkaran seperti spiral bolpen. Kita seolah-olah kembali ke titik yang sama (dilihat dari atas), tetapi sebenarnya di masa yang berbeda (dilihat dari samping). Penerapan kurikulum dengan bacaan ekumenis atau leksionari (RCL – Revised Common Lectionary) berfungsi menanamkan nilai-nilai historis sekaligus tradisi bahwa yang terjadi pada masa kini merupakan embusan dari peristiwa-peristiwa masa lalu. Dengan pengulangan lewat siklus tahun akademik umat menyadari bahwa firman yang disampaikan selalu baru dari masa ke masa. Persoalannya tidak semua gereja menerapkan tahun liturgi dengan bacaan ekumenis. Pembacaan Alkitab sesuka hati gerejanya. Teks-teks yang sulit dihindari. Teks-teks yang dianggap mendukung ideologi aliran gereja sering dibaca. Padahal, seperti yang saya sampaikan di atas, ibadah Kristen berpusat pada Kristus atau Kristosentris, bukan pada kemauan dan ideologi gerejanya.  Dalam pada itu ada cukup banyak juga tamatan perguruan tinggi teologi berhenti belajar. Cara membaca Alkitab mereka kembali seperti ketika mereka masih remaja. Mereka mengingkari hakikat Gereja yang mengajar.  Minggu ketiga sesudah Epifania. Bacaan Minggu ini secara ekumenis diambil dari Injil Lukas (Lukas 4 ayat 14 sampai 21).  Apabila kita berasal dari gereja-gereja arus-utama, sebelum ibadah dimula ada prosesi penyerahan Alkitab dari pejabat gereja kepada pemimpin ibadah, dan sesudah ibadah pemimpin ibadah mengembalikan Alkitab kepada pejabat gereja. Tradisi ini merujuk bacaan Injil Lukas pada Minggu ini. Dikisahkan dalam bacaan Injil Lukas setelah Yesus menyepi selama 40 hari di padang gurun, Ia kembali ke Galilea. Tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh daerah itu. Ia mengajar di rumah-rumah ibadah di sana dan semua orang memuji-Nya (ay. 14-15). Yesus kemudian ke Nazaret tempat Ia dibesarkan. Menurut kebiasaan-Nya pada Sabat Ia masuk ke rumah ibadah. Ia kemudian diberi kitab Nabi Yesaya oleh pejabat rumah ibadah. Ia kemudian membaca kitab itu, yang dalam Alkitab modern terdapat di dalam Yesaya 61:1-2. Setelah membaca Ia menutup kitab itu dan mengembalikannya kepada pejabat rumah ibadah, lalu duduk (ay. 20), dan semua mata tertuju kepada-Nya, lalu Ia mula mengajar. Kata Yesus, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (ay. 21). Sila baca lagi ayat 20 “Yesus duduk” dan ayat 21 “Yesus mengajar”. Suasana pengajaran memang seperti di kelas. Rumah-rumah ibadah menjadi pusat pengajaran sejak reformasi Yahudi pasca-pembuangan di Babel. Pertanyaan selanjutnya, mengapa Yesus boleh mengajar? Tahapan pendidikan Yahudi dimula dari Mikra (membaca Taurat) pada usia 5 tahun. Anak usia 10-12 tahun masuk ke Beth Talmud. Semua anak Yahudi pada usia 12 harus melakukan ‘aliyah (naik) dan Bemah (menghadap mimbar untuk menerima kuk hukum Taurat) dan siap menerima ruah (roh hikmat). Yesus pun dikenai hukum adat ini ketika berumur 12 tahun (lih. Titik Pandang, 26 Desember 2021). Pada usia 20 ditambahkan baginya nishama (reasonable soul, “jiwa penalaran”) dan pada usia tersebut seseorang memasuki sekolah khusus Yahudi (Beth Midrash). Tidak semua anak Yahudi dapat masuk sampai ke jenjang Beth Midrash karena dibutuhkan kemampuan akademik tinggi. Pada usia 30 orang Yahudi baru boleh mengajar di depan umum. Dengan mengetahui tradisi pendidikan Yahudi ini kita bisa menafsir bahwa Yesus adalah lulusan Beth Midrash dan sudah berusia 30 tahun saat Ia mengajar seperti narasi dalam Injil Lukas di atas.Apa yang dibaca Yesus sampai Ia mengatakan bahwa pada hari ini genaplah nas ini? Dalam Yesaya 61:1-2 tertulis “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung”. Teks yang dibaca Yesus itu dalam bentuk puisi. Puisi itu memerikan betapa memilukan Yerusalem yang porak poranda. Kerajaan Israel Bersatu bubar. Dimula dari Kerajaan Israel Utara direbut oleh Asyur. Menyusul kemudian Kerajaan Yehuda di selatan dikalahkan oleh Babel. Umat menderita dalam penjara kuasa Babel. Menjadi tawanan tidak nyaman, meski diberi kelimpahan makanan dan fasilitas. Menjadi tawanan itu tak merdeka, remuk hati, karena segala kebebasan direnggut. Namun penulis kitab Yesaya mau menyampaikan kabar sukacita atas pembebasan umat dari tawanan. Allah tidak meninggalkan umat-Nya, walau umat-Nya meninggalkan-Nya.๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™Selamat Belajar Mengajar Berhikmat๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ๐Ÿ™ŒTuhan Yesus Memberkati

Selasa, 18 Januari 2022

KHOTBAH LINTAS IMAN, SERIAL SUDUT PANDANG

KHOTBAH LINTAS IMAN, SERIAL SUDUT PANDANG

"Monggo pak dosen, badhe ngersakaken mundhut menapa?" Seorang bapak yang tampaknya pemilik kios mempersilakan saya. Saya tidak terlalu heran, bapak itu mengenal saya sebagai seorang dosen STT sebab CEPOGO adalah wilayah yang kecil. Tanpa menunggu jawaban saya, bapak itu mengulurkan tangan sambil berkata, "Kula menika remen yen mireng khotbah panjenengan lho....!" Kali ini saya benar-benar heran sebab jelas ia bukan warga gereja, lagipula bila ditilik dari pakaiannya cukup jelas bahwa ia seorang muslim. Seperti memahami keheranan saya, bapak itu memberikan penjelasan, "Kula mirengke khotbah panjenengan yen ngepasi wonten upacara kesripahan utawi ular-ular temanten!" Aduuhhh... saya jadi tersipu dan takut kalau helm yang saya kenakan pecah karena bertambah besar. Maka saya segera menyebut apa yang hendak saya beli agar segera bisa pergi dari kios itu. 

Sebenarnya saya sudah beberapa kali mengalami ketemu orang yang belum saya kenal dan bukan seiman, tetapi mengatakan menyukai khotbah saya. Namun saya sangat yakin bahwa jika benar orang-orang itu menyukai khotbah-khotbah saya, itu pasti bukan karena saya ini orator ulung yang berbicara dengan timbre suara yang mantap  dan gesture yang menarik. Saya juga bukan tipe pembicara yang humoris dan pintar bernyanyi dengan suara merdu sebagai selingan. Aduhhh... trus karena apa? 

Pastor Edward Foley dalam buku Theological Reflection Across Religious Tradition menulis bahwa setiap kali menyusun khotbah untuk ibadah di gereja yang dilayaninya, dalam refleksi ia selalu mempertimbangkan keyakinan dari para pendengarnya yang berbeda-beda. Lho... bukankah di gereja itu hanya ada satu keyakinan saja, yaitu keyakinan Kristen? Foley mengamati bahwa yang hadir di gerejanya bukan hanya orang Kristen saja. Kok bisa? Iya, karena diantara mereka yang hadir mungkin ada anak-anak yang pergi merantau kemudian pulang mengunjungi orang tuanya. Mungkin saja mereka sudah bukan Kristen lagi, sedang mempelajari suatu keyakinan atau bahkan memilih menjadi seorang ateis. Nah, untuk menghormati orang tuanya pada hari minggu mereka bersama-sama pergi ke gereja. Jadi refleksi yang dibuat pastor Foley melalui khotbahnya bukan hanya refleksi Kristen, tetapi refleksi-refleksi dari sudut pandang lain lain yang bisa diterima oleh banyak pihak sehingga mereka merasa di terima dan nyaman dalam komunitas gereja itu. 

Pastor Foley mengaku bahwa refleksinya yang demikian itu terinspirasi oleh refleksi yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri. Ketika Tuhan Yesus bertemu dengan perempuan Siro-Fenesia yang memohon agar anaknya yang kerasukan roh jahat disembuhkan, Tuhan Yesus menjawab: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Jawaban Tuhan Yesus ini khas refleksi orang Yahudi yang merasa dirinya sebagai bangsa terpilih sehingga segala kebaikan hanya untuk orang Yahudi saja. Jawaban ini tentu terdengar sangat menyakitkan bagi perempuan itu, tetapi perempuan itu tidak putus asa dan justru menjadikan refleksi khas Yahudi itu sebagai dasar untuk membuat refleksi baru yang sesuai untuk dirinya. Ia menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Tuhan Yesus membenarkan refleksi baru ini dan Tuhan Yesus kemudian bertindak berdasarkan refleksi ini. SabdaNya: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." 

Coba perhatikan, ada dua hal istimewa di sini: (1) Tuhan Yesus keluar meninggalkan refleksi Yahudi bahwa roti disediakan bagi anak-anak dan tidak patut bila diberikan untuk anjing, kemudian masuk kembali dengan meminjam refleksi perempuan Siro-Fenesia itu. Dengan cara seperti itu rahmat diberikan kepada perempuan itu dan anak-anaknya. (2) Alkitab tidak mencatat bahwa perempuan itu kemudian menjadi anggota dari komunitas yang mengikut Tuhan Yesus. 

Kadang-kadang kita diracuni oleh hegemoni keyakinan agama dengan menganggap bahwa keyakinan lain adalah sesat, kafir atau berhala dan yang benar hanyalah keyakinan kita sendiri. Contoh yang paling jelas adalah kasus oknum yang menendang dan membuang sesajen di daerah gunung Semeru karena menganggap itu sebagai hal buruk yang menyebabkan Allah murka dan mendatangkan bencana di situ. Hegemoni itu telah membuat orang gagal bertoleransi pada keyakinan lain yang pada gilirannya gagal pula untuk menjadi rahmat bagi sesama. 

Mengapa ada beberapa orang yang tidak saya kenal dan berbeda agama mengaku menyukai khotbah saya? Bila itu bukan karena saya adalah orator ulung, mungkin salah satu faktor penyebabnya adalah dalam refleksi khotbah saya terus berjuang untuk menepis perasaan superioritas agama dan mengupayakan untuk tidak menyinggung atau merendahkan keyakinan lain. 

Semoga demikian adanya. STT Baptis Injili, CEPOGO, Boyolali, Jateng, Titus Roidanto

Jumat, 07 Januari 2022

EPIPHANIA, soal Solidaritas, SERIAL SUDUT PANDANG

EPIPHANIA, soal Solidaritas, SERIAL SUDUT PANDANG

Masa raya Natal mencapai puncak pada 6 Januari yang lalu. Pada tanggal itu dirayakan sebagai Hari Epifania. Epifania atau แผฯ€ฮนฯ†ฮฌฮฝฮตฮนฮฑ secara literal berarti penampakan diri, kedatangan, kelihatan. Tradisi perayaan 6 Januari itu sudah ada pada masa Sebelum Zaman Bersama (SZB) atau Sebelum Masehi (SM) di Mesir. Satu di antara beberapa mitos adalah Korรช, saudara dewi gandum Grika Demeter, melahirkan Sang Keabadian. Perayaan semi-Gnostik ini marak dirayakan di Aleksandria. Gereja Mesir kemudian mengadopsi tanggal ini sebagai kelahiran Kristus. Mitos lainnya mengisahkan orang-orang di Aleksandria merayakan kelahiran Dewa Aion, yaitu dewa waktu dan keabadian. Dalam perayaan itu air disapu dan dibuang ke Sungai Nil. Pada mulanya peringatan pembaptisan Yesus di Yordan dinasabahkan dengan perayaan kelahiran Yesus. Gereja Mesir mengadopsi festival musim dingin orang-orang Aleksandria tersebut sebagai penyataan Kristus (Epifania). Perayaan ini juga dipautkan dengan mukjizat air menjadi anggur dalam pesta perkawinan di Kana. Hal ini sejajar dengan pesta Aion yang berlimpah anggur sebagai pengganti air. Tradisi perayaan Epifania oleh gereja tidak lepas dari kisah kedatangan orang Majus dari Timur (Injil Matius). Mereka datang berkunjung karena mereka melihat bintang-Nya, penampakan Tuhan. Itu sebabnya pada Epifania sangat ditonjolkan aksesoris atau hiasan kedatangan orang Majus. Berbeda dari aksesoris atau hiasan Malam Natal yang menonjolkan kedatangan gembala-gembala pada malam kelahiran Yesus (Injil Lukas). Di sini Gereja mengajar umat bahwa menggabungkan cerita Injil Lukas dan Injil Matius dalam satu cerita adalah tidak tepat. Injil Lukas menyebut Yesus sebagai “bayi”, sedang Injil Matius menyebut Yesus sebagai “anak”. Dengan bahasa masa kini orang-orang Majus itu bertemu dengan Yesus yang sudah batita. Gereja mengambil tema permulaan pelayanan Yesus dalam perayaan Epifania. Bagi gereja pelayanan Yesus, yang dimula dari pembaptisan-Nya, jauh lebih penting daripada perayaan kelahiran-Nya. Pelayanan Yesus merupakan manifestasi kehadiran Allah (teofania) di tengah-tengah umat. Sebegitu penting kisah awal pelayanan Yesus sehingga tema-tema tentang pelayanan dan pengajaran-Nya dikedepankan. Minggu ini disebut Minggu Pembaptisan Tuhan (Baptism of the Lord) atau Minggu pertama sesudah Epifania. Secara tradisi Minggu ini dilayankan juga baptisan oleh gereja bagi para calon baptis yang sudah menyiapkan diri sejak Adven. Masa raya Natal terus berjalan sampai Minggu VII sesudah Epifania. orang-orang Kristen yang ngotot merayakan Natal pada masa Adven, selain tidak mengerti teologi Adven, tidak mengerti liturgi. Ada banyak waktu yang disediakan untuk merayakan Natal, dari 24 Desember malam sampai Minggu VII sesudah Epifania (atau 20 Februari 2022), dengan tema mengikuti bacaan ekumenis atau RCL (Revised Common Lectionary). Minggu ini bacaan secara ekumenis diambil dari Lukas 3:15-17, 21-22. Dalam bacaan Injil Lukas Minggu ini dikisahkan dua fragmen. Pertama, pengajaran berupa percakapan Yohanes (Pembaptis) dengan para pendengarnya. Kedua, pembaptisan Yesus. Dalam fragmen pertama tentang pertanyaan banyak orang bahwa jangan-jangan Yohanes inilah Mesias. Tentang itu kemudian Yohanes menjernihkan sangkaan mereka. “Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang,” kata Yohanes, “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Fragmen kedua tentang pembaptisan Yesus. Tertulis di sana “Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya, dan terdengarlah suara dari langit: ‘Engkaulah Anak-Ku  yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.’” Dalam fragmen pertama Yohanes disangka oleh banyak orang bahwa ia adalah Sang Mesias. Mengapa bisa begitu? Yohanes sibuk bekerja menyiapkan “infrastruktur” menyambut kedatangan Kristus. Ia mengajar dan membaptis banyak orang. Kinerja yang luarbiasa itu menyebabkan banyak orang menyangka Yohanes Sang Mesias itu. Yohanes begitu terkenal. Namun siapa sangka Yohanes sangat rendah hati dan menjernihkan isu Mesias. Ia bukanlah siapa-siapa. Ada yang lebih berkuasa daripada Yohanes akan datang. Saking bukan siapa-siapanya Yohanes memerikan bahwa melepas tali kasut-Nya (kasut sepatu zaman dulu) ia tidak layak. Orang yang sangat berkuasa tentu memiliki banyak ajudan/abdi yang melayaninya secara pribadi, misal melepas tali kasut, seperti yang diperikan oleh Yohanes. Maksud Yohanes, disamakan dengan ajudan/abdi saja ia masih lebih rendah daripada itu. Fragmen kedua, saya kutipkan lagi narasinya “Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya, dan terdengarlah suara dari langit: ‘Engkaulah Anak-Ku  yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.’” Bagaimana cara Yesus dibaptis tidak diceritakan sama sekali. Dengan kata lain cerita Pembaptisan Yesus lebih merupakan refleksi teologis ketimbang suatu laporan historis tentang bagaimana Yesus dibaptis. Dalam bentuk cerita refleksi teologis itu diperikan terjadi secara fisik dengan menggunakan dunia bahasa yang dikenal pada masa itu. Misal, langit atau surga merupakan tempat kediaman Allah sehingga sebelum Roh Allah turun dari surga dengan langit terbuka lebih dahulu. Saat turun dari langit Roh Allah diperikan dalam rupa burung merpati yang memiliki sayap untuk terbang. Suara Allah dari Surga juga diperikan seperti suara manusia yang bisa didengar telinga manusia. Metafora “suara Allah” itu sebenarnya sejenis dengan metafora “Allah berfirman” karena keduanya memerikan Allah seolah-olah memiliki mulut yang dapat komat-kamit mengeluarkan suara seperti mulut manusia. Roh Allah turun dan suara Allah terdengar memerikan teologi penyataan Allah (revelation) atau penampakan Allah (epifania atau teofania). Pemerian Roh Allah turun ke atas Yesus bisa dimaknai sebagai pengesahan Allah atas penugasan orang yang dipilih-Nya itu (bdk. Yes. 42:1 dan 62:1). Penugasan itu lewat jalan unik dan nyentrik, yaitu baptisan Yohanes yang menyimbolkan pembasuhan dosa. Ini adalah simbol penting bahwa Yesus bersolidaritas pada orang-orang marginal yang selalu didakwa sebagai orang-orang berdosa di masyarakatnya. Ada partai politik mengambil kata solidaritas menjadi nama partainya. Apakah kata solidaritas merefleksikan nama partainya? Menurut partai itu solidaritas adalah orang yang menyerahkan bangunan dan lahan seluas 1.040 m2 dan menurut partai itu belum cukup. Partai itu butuh dua miliar rupiah lagi untuk merenovasi bangunan itu. Seperti itulah solidaritas yang dipertontonkan oleh anak-anak muda kader partai itu. Mereka lebih berwajah selebritis angkuh ketimbang wajah penuh belarasa. Seorang pengemudi ojek tertabrak taksi. Teman korban menyampaikan berita ini kepada teman-temannya sesama pengemudi ojek. Ratusan pengemudi ojek berkumpul dan bermufakat untuk menghajar pengemudi taksi. Pada hari itu mereka juga melakukan pencegatan terhadap setiap taksi yang lewat. Mereka menyatakan tindakan mereka adalah solidaritas. Dalam pada itu ada warga gereja yang sakit keras atau kehilangan pekerjaan. Warga jemaat kemudian berdoa agar warga itu segera sembuh dan mendapat pekerjaan baru. Solidaritas gereja. Bacaan Injil Minggu ini mengecam 2 contoh solidaritas bengkok di atas. Dalam bacaan Yesus mengajarkan secara radikal solidaritas tidak akan terjadi tanpa belarasa (compassion). Bersolidaritas berarti berbelarasa, yang turut merasakan penderitaan orang-orang marginal; orang-orang yang menjadi korban dalam masyarakat yang dibedakan atas kelas-kelas dan tradisi keagamaan yang memihak kemapanan serta korban penguasa yang korup, serta berbuat nyata bagi mereka untuk membuat kehidupan mereka lebih baik.  “There's a fine line between genius and insanity. I have erased this line.” Oscar Levant. STT BAPTIS INJILI, 2022, CEPOGO BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO

Kamis, 06 Januari 2022

BENARKAH YESUS TUHAN MATI? MENGERTI APA YANG AKU IMANI, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Paska

BENARKAH  YESUS TUHAN MATI? MENGERTI APA YANG AKU IMANI, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Paska

Tiap kali ada perayaan hari besar umat kristiani, ada saja serangan terhadap ajaran iman kristiani, saat ini di medsos ramai dibicarakan apakah Yesus Tuhan benar-benar mati?, di peristiwa kita sedang menghikmati tri hari suci, tapi itu semua ada hikmatnya karena membuwat kita belajar dan makin mengerti akan ajaran keimanan kita, malah memperkuwat kita. Kita menyakini bahwa Yesus Tuhan benar telah mati di kayu salib, karena sudah nubuatan di Perjanjian Lama tentang hal tsb, Perjanjian Lama juga merupakan kitab yang diakui oleh umat Yahudi, itulah alasan yang membuwat kita yakin Yesus Tuhan benar-benar mati di kayu salib, selain ada alasan dan argumentasi lainnya juga, misalkan dari sisi medis. Dengan tegas Yesus berkata bahwa kedatangan-Nya telah menggenapi "kitab Taurat Musa dan Kitab Nabi-nabi dan Kitab Mazmur" (Luk. 24:44), yang jelas merujuk kepada TANAKH (Torah Nevi'im Khetuvim), dimana Mazmur adalah buku pertama dari Khetuvim. Dalam peristiwa transfigurasi, penampakan Musa (mewakili Taurat) dan Elia (mewakili Nabi-nabi) meneguhkan tuntutan teologis Kristus ini (Mat. 17:1-13). Sejak awal sejarahnya, Kekristenan, seperti juga Saduki, Farisi, dan Eseni adalah bagian tak terpisahkan dari Yudaisme awal. Bukti-bukti sejarah dari Flavius Yosefus (90 M) dan sejarah Yahudi pada umumnya membuktikan bahwa Kekristenan baru terpisah dari induk ke-Yahudi-an sejak konsili Yamnia, kira-kira tahun 90 M. Jadi bagaimana bisa, Kristen disebut membajak Kitab Suci Yahudi? Bukankah Yudaisme modern adalah hasil reformasi sejak abad II, abad V, dan mencapai puncaknya pada abad XI M? Jadi, jauh lebih muda dari kekristenan yang tumbuh dari Yahudi awal. Perbedaan konsep Mesiah tidak bisa dijadikan alasan menolak warisan sejarah Kekristenan yag lahir dari rahim umat Israel. Sebab, pada tahun 132 M Rabbi Akiva yang mengharapkan Simon Bar Kokhba sebagai Mesias Israel pada akhirnya gagal total dan tidak terbukti, juga tidak membatalkan hak Yudaisme modern atas warisan sejarah bersama mereka. Tanpa membaca injil pun Yesus Tuhan sudah pasti mati disalib,  karena itu fakta sejarah dunia. Benarkah Yesus tidak disalib tetapi diserupakan dengan Yudas Iskariot atau orang lain lagi? Pertanyaan ini tidak relevan, sebab penyaliban Yesus adalah fakta sejarah yang tidak bisa dibatalkan oleh keyakinan wahyu yang bersifat subyektif. Apalagi ayat itu muncul ratusan tahun setelah peristiwanya terjadi. Bahkan, tanpa membaca Injil pun Yesus sudah pasti disalib. Fakta sejarah ini direkam minimal oleh 6 sumber primer dari catatan sejarawan pada zamannya dan 2 sumber sekunder, baik dari sumber sejarah Yahudi, Roma ataupun Yunani. Sekalipun Yesus hanya masuk dalam "Catatan Pinggir Sejarah Dunia", tetapi yang pasti tak satupun dokumen kuno yang meragukan fakta penyaliban-Nya. Bisa kita amati pada ulangan 32 : 39, dan 1 Samuel 2 : 6 bahwa hanya Allah lah yang dapat memberi kehidupan, dan hanya Allah. Kematian bahkan kebangkitan Yesus Tuhan adalah bukti persetujuan Allah terhadap siapa yang diutusNya. Perjanjian Lama bahkan Yesus Tuhan sendiri sudah menubuatkan kematian dan kebangkitanNya, bahkan sampai cara matiNya yang di siksa. Mazmur 16 ayat 10 memperlihatkan nubuat kebangkitan Messias. Mari kita memperhatikan nubuatan-nubuatan berikut ini, Yesaya 53 dan Mazmur 22 memperliatkan bahwa mesias akan datang dan mati,  dan mesias tsb akan memerintah selamanya terlihat pada Yesaya 9 : 6 dan Daniel 2 : 44, satu-satunya jalan mesias untuk memenuhi tugas tanggung jawab yang diembanNya dari Allah adalah dengan jalan mati dan bangkit. Yesus Tuhan pun menubuatkan kebangkitanNya sendiri dan kematianNya di Yohanes 2 :19, 21, Markus 8:31, Markus 9:30-31, Markus 10:32-34, Yohanes 10:1. Di Perjanjian Baru, tepatnya di injil atau keempat injil diperlihatkan tulisan sejarah bahwa Yesus Tuhan benar-benar mati, kehilangan sebagian besar darahNya karena penyiksaan dan penyaliban, Yesus Tuhan memiliki 5 luka parah dan berada di atas kayu salib mulai jam 9 pagi (Markus 15:25) hingga jam 3 sore (Markus 15:42), Yesus Tuhan menyerahkan nyawaNya (Yohanes 19:30), lambungnya di tusuk tombak, ini sangat membuktikan akan kebenaran kematian Yesus Tuhan (Yohanes 19:34), tentara Roma yang menangani menyatakan Yesus mati (Yohanes 19:33), Pilatus sendiri menyatakan dan memastikan Yesus Tuhan mati (Markus 15:42-47), mayat Yesus Tuhan dikafani dan dirempahi secara adat Yahudi (Yohanes 19:40). Jelaslah sekali nubuatan Yesaya 53 ayat 2 sampai 12, kita perhatikan ayat 7 -- 9,12 yang dituliskan kurang lebih 700 tahun sebelum Yesus Tuhan lahir ke dunia dan juga diakui oleh tradisi Yahudi, menubuatkan kematianNya, nubuatan dengan rentang waktu yang sangat jauh, tergenapi oleh Yesus Tuhan, bukankah itu bukti bahwa Yesus Tuhan benar-benar mati. Perhatikan Pada ayat 8 ,Nabi Yesaya menubuatkan , " Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah"Ayat tersebut dengan tegas menjelaskan bahwa "Mesias" terputus dari negeri orang-orang hidup atau dengan kata lain "Mesias" mengalami kematian. Dan kata "Sungguh" disitu dengan jelas memastikan bahwa "Mesias" mati. Jadi tidak ada keraguan dari Nabi Yesaya bahwa "Mesias" harus mengalami kematian. Dan pada ayat 9, Nabi Yesaya sekali lagi menubuatkan bahwa Mesias akan mengalami kematian, Nabi Yesaya dengan jelas menyatakan bahwa matinya "Mesias" ada di antara penjahat-penjahat. Jika "Mesias" tidak mati maka Nabi Yesaya tidak akan menubuatkan bahwa "Mesias" matinya ada di antara penjahat-penjahat. Kemudian ayat 12, Nabi Yesaya sekali lagi menegaskan tentang kepastian kematian "Mesias". "Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak", "Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya." Jika "Mesias" tidak mati maka Nabi Yesaya tidak akan menubuatkan bahwa "Mesias" telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut. Oleh karena itu dari nubuatan Yesaya tentang Mesias ini, maka kita mengetahui bahwa "Mesias harus mengalami kematian". Dan hal ini sepenuhnya digenapi di dalam Yesus Kristus. Nubuatan ini tak mungkin direkayasa, atau kemungkinan merubah nubuatan ini juga hal yang mustahil, karena kitab ini juga diakui oleh tradisi Yahudi, shg kemungkinan-kemungkinan seperti itu tidak dimungkinkan. Zakharia 12:10, "Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung. Ayat ini juga nubuatan tentang Mesias yg digenapi oleh Yesus Kristus. Ayat diatas menjelaskan "akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung." Mengapa dikatakan "menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung. " Menurut kata "anak sulung " dalam hal ini berhubungan dgn cerita kematian "anak sulung" pada saat Allah memberikan tulah ke 10 di Mesir. Dimana pada saat Allah memberikan tulah yg ke 10 di Mesir, seluruh "anak sulung" dari orang Mesir mati karena tulah tsb dan terjadi ratap tangis di seluruh mesir. Oleh karena itu kalimat "menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung " berarti mempertegas bahwa "Mesias" mengalami kematian spt halnya "anak sulung" di mesir yg mengalami kematian karena tulah. Yeremia 11:19 Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: "Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!" Silakan bandingkan ayat diatas dengan Yes 53:7-8, Ayat diatas juga merupakan nubuatan yg digenapi oleh Yesus Kristus. Yesus Kristus disebut juga sebagai "Anak Domba" Allah yg disembelih utk penebusan dosa. Dan nubuatan diatas menyatakan bahwa "musuh2nya bersepakat utk melenyapkannya dari negeri orang2 yg hidup", atau dengan kata lain "musuh2nya bersepakat utk mematikan Yesus". Dan hal ini memang telah tergenapi seluruhnya di dalam Diri Yesus Kristus. Jika Nabi Yesaya, Nabi Yeremia dan Nabi Zakharia menubuatkan bahwa "Mesias" yaitu Yesus harus mati untuk menebus dosa. Bagaimana ?? Apakah masih meragukan bahwa Yesus sungguh2 mati diatas kayu salib?? Kita bisa melihat perbedaan pandangan Injil-Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) dan Injil Yohanes terhadap salib. Injil-Injil Sinoptik memandang salib simbol penderitaan, sedang Injil Yohanes memandang salib simbol kemuliaan. Dalam Injil Markus saat Yesus di kayu salib dinarasikan bahwa Ia putus asa dan berteriak "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?". Dalam pada itu pengarang Injil Yohanes menulis ucapan terakhir Yesus  di kayu salib "Sudah selesai!". Di sini penulis Injil Yohanes hendak menyampaikan bahwa Yesus tetap tampil gagah di penghujung kematian-Nya. Pengarang Injil Yohanes menolak bahwa Yesus sudah putus asa. Gereja merujuk teologi Injil Yohanes menamakan hari kematian Yesus sebagai Jumat Agung (Good Friday). Untuk itulah pembacaan Injil setiap Jumat Agung baik tahun A, Tahun B, maupun Tahun C diambil dari Injil Yohanes 18:1 - 19:42. Masalahnya apakah Yesus benar-benar mati? Itu selalu ditanyakan umat non kristiani. Sebetulnya bisa dinalar dari sudut budaya, budaya Arab utamanya atau beberapa tradisi sumber agama-agama blom bisa menerima teologi penderitaan,  Allah kok menderita,  Allah kok mati? Shg dlm bbrp tulisan kitab tafsir quran dan quran sendiri kenaikan nabi Isa ke surga terjadi sebelum peristiwa penyaliban. QS. An-Nisa Ayat 157 :

Wa qawlihim innaa qatal nal masiiha 'Eesab-na-Maryama Rasuulal laahi wa maa qataluuhu wa maa salabuuhu wa laakin shubbiha lahum; wa innal laziinakh talafuu fii lafii shakkim minh; maa lahum bihii min 'ilmin illat tibaa'az zann; wa maa qataluuhu yaqiinaa. Dan Kami hukum juga mereka karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam," yang mereka ejek dengan menamainya Rasul Allah padahal mereka tidak beriman kepadanya. Mereka mengatakan telah membunuhnya, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi diserupakan bagi mereka orang yang dibunuh itu dengan Nabi Isa. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentangnya, yakni tentang Nabi Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang hal, yakni pembunuhan, itu. Mereka tidak mempunyai sedikit pun pengetahuan menyangkut hal itu, yakni tentang pembunuhan Nabi Isa, dan apa yang mereka katakan kecuali mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin. Tafsirnya sbb : Kami hukum juga mereka karena ucapan mereka," Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam," yang mereka ejek dengan menamainya Rasul Allah padahal mereka tidak beriman kepadanya. Mereka mengatakan telah membunuhnya, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi diserupakan bagi mereka orang yang dibunuh itu dengan Nabi Isa. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentangnya, yakni tentang Nabi Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang hal, yakni pembunuhan itu. Mereka tidak mempunyai sedikit pun pengetahuan menyangkut hal itu, yakni tentang pembunuhan Nabi Isa, dan apa yang mereka katakan kecuali mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin. Tetapi Allah telah mengangkatnya, Isa, kepada-Nya, yakni mengangkatnya ke tempat yang aman sehingga tidak dapat disentuh oleh musuh-musuhnya. Dan Allah Maha Perkasa, mengalahkan musuh-musuhnya, Maha Bijaksana dalam segala perbuatan-Nya. Ayat ini menerangkan bahwa di antara sebab-sebab orang Yahudi mendapat kutukan dan kemurkaan Allah ialah karena ucapan mereka, bahwa mereka telah membunuh Almasih putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka sebenarnya tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang disalib dan yang dibunuh itu ialah orang yang diserupakan dengan Isa Almasih bernama Yudas Iskariot, salah seorang dari 12 orang muridnya. Menurut tafsir kristiani golongan tertentu yg kemudian oleh bapa - bapa gereja sebagai bidat / sekte  , cerapan, dan pandangan kalangan tertentu Yesus tidak mati. Pandangan bahwa Yesus tidak mati ini bukan tanpa alasan, karena merujuk skriptural. Seorang lain yang sudah disalib menggantikan Yesus itu dapat seorang murid Yesus, yakni Yudas, yang wajahnya sudah diubah mirip wajah Yesus. Selain karena alasan skriptural mereka tidak bisa begitu saja menerima penyaliban Yesus, karena mereka memandang seorang nabi atau hamba Allah atau rasul Allah yang benar tidak mungkin mati dibunuh dengan kejam. Padahal ada contoh Yohanes Pembaptis, seorang nabi Yahudi yang suci dan benar dan sangat boleh-jadi menjadi  pembimbing Yesus, mati dipenggal oleh Raja Herodes Antipas. Dalam sejarah perkembangan Kristen sudah ada beberapa teks keagamaan Kristen Gnostik dari abad kedua dan ketiga yang memuat pandangan Yesus tidak mati disalib. Semua teks ini tidak melaporkan sejarah, melainkan mengajukan pandangan teologis Kristen Gnostik. Dalam pada itu keempat Injil kanonik (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) yang ditulis sepanjang kuartal keempat abad pertama memberitakan kematian Yesus yang dijatuhi hukuman mati lewat kayu salib. Bukti keempat Injil ini barangkali diragukan oleh sejumlah kalangan, karena ini dianggap propaganda.  Jika propaganda, pertanyaannya apa perlunya jemaat Kristen perdana memberitakan pemimpin rohani mereka yang mati dengan cara sangat memalukan? Tidak ada alasan bagi jemaat Kristen perdana untuk menutup-nutupi, karena hukuman mati terhadap Yesus merupakan fakta sejarah yang tidak dapat ditutup-tutupi. Fakta sejarah bahwa Yesus dihukum mati oleh Pemerintah Roma dengan dakwaan tindak pidana subversif. Namun demikian mengapa kalangan penganut ideologi tertentu dari abad mula-mula sampai sekarang meragukan kematian Yesus lewat kayu salib? Secara historis ideologi mengenai Yesus tidak mati di kayu salib dibuat dan dikembangkan oleh sekte Gnostik pada abad pertama dan kedua. Dalam satu seksi dokumen Nag Hammadi menyatakan bahwa Rasul Petrus melihat ada dua sosok yang terlibat dalam penyaliban: sosok yang satu sedang dipaku oleh para algojo pada tangan dan kakinya, sedang yang satunya lagi berada di atas sebuah pohon, bergembira sambil menertawakan apa yang sedang berlangsung.Dalam pada itu tradisi "kembaran" Yesus yang mengganti korban salib juga muncul di daerah Edessa, Suriah, yang jemaat Kristen di sana keliru menafsirkan Tomas sebagai "kembaran" (Didimus). Padahal Didimus itu adalah nama lain dari Rasul Tomas. Komunitas di Edessa ini kemudian banyak berkiprah di Tanah Arab. Secara ringkas pandangan Gnostik terhadap Yesus yang sejati adalah Yesus rohani, Yesus surgawi, sehingga Yesus tidak dapat disalib. Sialnya bagi kaum Gnostik kematian Yesus di kayu salib itu nyata, maka sekte Gnostik harus menyimpulkan bahwa yang sudah disalibkan itu pastilah orang lain. Orang yang wajahnya serupa dengan rupa atau wajah Yesus, bukan Yesus surgawi, bukan Yesus yang dijunjung mereka. Pandangan sekte Gnostik ini sebenarnya bukan mau menyatakan bahwa secara historis Yesus tidak mati disalibkan. Justru Yesus benar-benar mati disalibkan, kaum Gnostik  perlu mencari seorang "pemain pengganti" demi menyelamatkan ideologi mereka bahwa Yesus yang mereka sembah adalah Yesus surgawi, yang tidak bisa mati disalibkan. Sungguh enas apabila dongeng yang dikembangkan oleh sekte Gnostik yang sejak awal ditolak oleh jemaat Kristen perdana, masih dijadikan ideologi sampai masa kini. Sumber-sumber di luar kitab-kitab kanonik membuktikan bahwa Yesus mati di kayu salib. Sumber-sumber Rabinik Yahudi yang menolak kehadiran Yesus, karena para pengikut Yesus melakukan provokasi-provokasi terhadap Yudaisme. Dalam Talmud Babilonia mereka membalas provokasi pengikut Yesus  dengan menulis bahwa menjelang Sabat Paska Yesus orang Nasaret mati digantung. "Pada Sabat perayaan Paska Yeshu orang Nasaret digantung, sebab selama empat puluh hari sebelum eksekusi dijalankan, muncul seorang pemberita yang mengatakan: 'Inilah Yesus orang Nasaret, yang akan dirajam dengan batu sebab dia telah mempraktikkan sihir dan memengaruhi orang Israel untuk murtad. Barangsiapa yang dapat mengatakan sesuatu untuk membelanya, hendaklah tampil dan membelanya.' Tetapi karena tidak ada sesuatu pun yang tampil untuk membelanya, ia pun digantung pada sore Paska."  Cornelius Tacitus, seorang senator dan sejarawan Roma yang termasyur karena dua karya sejarahnya, Histories dan Annals, antara abad pertama dan kedua menulis "Kristus [Tacitus menggunakan nama Krsitus] telah dihukum mati (supplicio adfectus) dalam masa pemerintahan Tiberius [14-37 ZB] di tangan seorang prokurator kita, Pontius Pilatus [26-36 ZB], dan tahayul yang paling merusak itu untuk sementara dapat dikendalikan, tetapi kembali pecah bukan saja di Yudea, tetapi juga di Roma ... ." Mara bar Sarpion, filsuf stoik berkebangsaan Suriah, menulis surat kepada anaknya "apa maslahatnya orang Yahudi membunuh rajanya yang arif bijaksana?" Seperti diketahui kepala salib Yesus ditulis oleh otoritas Roma di Yudea (yang sebenarnya bahan olok-olok) dengan INRI (Isus Nazarnus Rx Idaerum), Yesus (orang) Nasaret Raja (orang) Yahudi. "Apa maslahatnya ketika orang-orang Yahudi membunuh raja mereka yang arif, karena kerajaan mereka sesudah itu direnggut dari mereka [merujuk Perang Yahudi I pada 66-73/74 ZB]? Allah sudah dengan adil membalas perbuatan-perbuatan jahat yang sudah dilakukan kepada orang bijaksana ini. Orang-orang Atena mati kelaparan; bangsa Samian dilanda banjir dari laut; orang-orang Yahudi dibunuh dan diusir dari kerajaan mereka, lalu tinggal di tempat-tempat lain dalam perserakan. Sokrates itu tidak mati; tetapi tetap hidup melalui Plato; begitu juga Phytagoras, karena patung Hera. Demikian juga raja yang bijak itu tidak mati, karena sesudah ia tidak ada, muncul hukum baru yang dia telah berikan."  Flavius Josephus, ahli sejarah Yahudi yang hidup pada abad mula-mula, menulis seorang Yahudi yang bijaksana bernama Yesus melakukan banyak hal besar, tetapi kemudian dihukum mati di kayu salib oleh pemerintah (Roma). "Kira-kira pada waktu ini hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana, sebab ia adalah seorang yang sudah melakukan tindakan-tindakan luar biasa dan seorang guru bagi orang-orang yang telah dengan senang menerima kebenaran darinya. Ia sudah memenangi banyak orang Yahudi dan banyak orang Grika. Sesudah mendengar ia dituduh oleh orang orang-orang terkemuka dari antara kita, maka Pilatus menjatuhkan hukuman penyaliban atas dirinya. Tetapi orang-orang yang mula-mula sudah mengasihinya itu tidak melepaskan kasih mereka kepadanya dan bangsa Kristen ini, disebut demikian dengan mengikuti namanya, sampai pada hari ini tidak lenyap."  Penyaliban pada intinya adalah kematian perlahan yang diakibatkan oleh asfiksiasi (sesak nafas karena kekurangan oksigen dalam darah). Alasannya adalah bahwa tekanan-tekanan pada otot-otot dan diafragma membuat dada berada pada posisi menarik nafas, agar dapat menghembuskan nafas, orang itu harus mendorong kedua kakinya agar tekanan pada otot-otot dapat dihilangkan untuk sesaat. Ketika melakukan itu, paku akan merobek kaki, lalu akhirnya mengunci posisi terhadap tulang-tulang tumit kaki. Setelah dapat menarik nafas, orang itu kemudian akan dapat relaks dan menarik nafas lagi. ekali lagi ia harus mendorong tubuhnya naik untuk menghembuskan nafas, menggesekkan punggungnya yang berdarah ke kayu salib yang kasar. Ini akan berlangsung terus dan terus sampai kepayahan, dan orang itu tidak akan mampu mengangkat diri dan bernafas lagi. Ketika nafas orang itu semakin perlahan, ia mengalami apa yang disebut asidosis pernafasan, karbondioksida dalam darah larut sebagai asam karbonik, menyebabkan keasaman darah meningkat. Ini akhirnya mengakibatkan detak jantung yang tidak teratur. Dengan jantung-Nya yang berdetak tak menentu, Yesus berada dalam saat-saat kematian-Nya, yakni ketika Ia berkata, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku". Kemudian Ia mati akibat berhentinya detak jantung. Bahkan sebelum Ia mati, keguncangan karena kehilangan sejumlah besar darah akan menyebabkan jantung berdebar kencang terus-menerus, yang akan menyebabkan: kegagalan jantung serta terkumpulnya cairan dalam membran-membran di sekitar jantung dan juga sekitar paru-paru. Mengapa hai ini penting? Karena ketika serdadu Roma datang, dan hampir yakin bahwa Yesus telah mati, mereka menegaskannya dengan menusukkan sebuah tombak ke pinggang kanan-Nya. Tombak itu menembus paru-paru kanan dan ke jantung, jadi ketika tombak itu ditarik keluar, sejumlah cairan dalam membran-membran sekitar jantung dan juga sekitar paru-paru keluar. Ini akan terlihat sebagai cairan jernih, seperti air, diikuti dengan banyak darah, seperti yang dijelaskan saksi mata Yohanes dalam Injilnya (Yohanes 19:34). Bagi warga Kristiani kematian Yesus bukan sekadar fakta sejarah objektif, namun melampaui itu yang dihayati sebagai Allah yang berbelarasa. Penghayatan ini diragakan melalui Jumat Agung. Ketika umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci  dan agung Yesus yang telah diserahkan, ditiadakan, dilenyapkan, dipermalukan melalui hukuman mati pada salib untuk pembebasan orang lain. Vicarious suffering, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu pengghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini. Bukan hanya itu, Jumat Agung juga merupakan kritik kepada orang-orang Kristen yang acap berat sebelah memandang Yesus. Mereka lebih menekankan bahwa Yesus itu Tuhan dan Juruselamat mereka. Sikap ini justru ciri-ciri anti-Kristus.  Mereka melalaikan bahwa Yesus itu manusia. Penulis Surat Kedua Yohanes ayat 7 mengingatkan "Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku bahwa Yesus Kristus  telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan anti-Kristus." Selamat menghikmati tri hari suci Tuhan memberkati . STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, 2020, TITUS ROIDANTO



Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Benarkah Yesus Tuhan Mati? Mengerti Apa yang Aku Imani (Serial Pengetahuan Sabda)", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/titus11250/60674a90d541df28b742e633/benarkah-yesus-tuhan-mati-mengerti-apa-yang-aku-imani-serial-pengetahuan-sabda#

Kreator: Titus Roidanto




Sudut Pandang Dalam Nama Yesus

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus