Senin, 27 Desember 2021

TRADISI SUCI 25 DESEMBER, SERIAL ARKEOLOGI BIBLIKAL

TRADISI SUCI 25 DESEMBER, SERIAL ARKEOLOGI BIBLIKAL

PENGANTAR
Faktanya, Natal baru dipersoalkan oleh teolog Protestan Jerman, Ernst Jablonsky permulaan abad 19 M, bahwa perayaan Natal diambil alih dari perayaan kelahiran Dewa Matahari Tak Terkalahkan (Natalis Sol Invicti). Pendapat yang jelas-jelas salah ini tanpa "check and recheck" berdasarkan sumber-sumber primer sejarah gereja kuno, langsung diikuti oleh Encyclopedia Britania dan Encyclopedia Americana.Padahal penulis entry "Cristmas" dari kedua encyclopedia ini sama sekali tidak memahami sejarah gereja kuno, khususnya sejarah liturgi dan penetapan perayaan-perayaan gerejawi. Kesalahan ini disebabkan antara lain karena para penulis itu hanya mendasarkan pada sumber sumber sejarah gereja Barat abad belakangan, yang mengatakan bahwa perayaan Natal untuk pertama kali ditetapkan oleh Paus Yulius di Roma pada abad IV. Tidak salah lagi, Natal jatuh pada tanggal 25 Desember. Tiap tahun tanggalnya sudah tetap. Akan tetapi, benarkah Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Tidak. Tidak ada sumber yang dapat memastikan hal itu. Menurut Lukas 2:8 pada malam kelahiran Yesus, para gembala "tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam". Itu menunjukkan bahwa kelahiran Yesus bukan terjadi pada bulan Desember yang adalah musim dingin di Israel. Harap Anda saksikan sendiri di peta bahwa Israel terletak pada garis lintang utara yang hampir sejajar dengan Jepang atau Korea Selatan. Klemens dari Alexandria membuat perhitungan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Pachon, yaitu tanggal 20 Mei. Tetapi, itupun bukan kepastian. Mengapa kita tidak mempunyai tanggal kelahiran Yesus yang pasti? Karena pada zaman itu, merayakan ulang tahun hanyalah kelaziman orang kafir. Orang-orang Kristen pada zaman itu tidak bias memperingati ulang tahun. Satu-satunya ulang tahun yang kita bac di Perjanjian Baru adalah ulang tahun Herodes Antipas (lihat Mat 14 : 6). Gereja pada zaman itu bukanlah merayakan kelahiran Yesus melainkan kebangkitanNya. Baru sekitar abad 3 umat Kristen di Mesir mulai merayakan Natal. Tanggal nya 06 Januari, bertepatan dengan suatu hari raya umum.  Cereja  di Roma baru merayakan Natal pada akhir abad 4 , dan tanggal yg dipilih 25 Desember. Tanggal tsb dipilih untuk memberi isi atau makna baru kepada perayaan kafir yang menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi utara. Tak lama kemudian kebiasaan merayakan Natal pada tanggal 25 Desemberbitupun diambil alih oleh gereja-gereja di tempat-tempat lain, mungkin dalam bidang teologis saat ini seperti inkulturisasi, memberi makna baru pada tradisi atau budaya masyarakat yang seiring sejalan dengan pemahaman atau ajaran keimanan, bukan menolak sama sekali budaya atau tradisi suatu masyarakat, karena bagaimanapun juga budaya atau tradisi adalah hasil atau produk akal Budi manusia, kalau itu produk atau hasil akal Budi manusia bearti tetap bisa dipakai sebagai alat dan sarana memuliakan Tuhan, untuk mengasihi Tuhan (Matius 22:37 (TB)  "Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu."). Dengan satu dua kekecualian sekarang ini Natal dirayakan tanggal 25 Desember oleh hampir semua gereja, kecuali mungkin gereja denominasi orthodoks yg merayakan Natal pada 06 atau 07 Januari. Bagaimana dengan tahunnya? Tahun berapa Yesus dilahirkan? Tentang tahunnya pun kita tidak mempunyai kepastian. Matius 2:1 hanya mengatakan bahwa Yesus dilahirkanb "pada  zaman  Raja Herodes ........" Tahun-tahun berapa yang disebut dalam buku sejarah tentang Herodes? Ada ahli sejarah namanya Flaviuss Josephus yang hidup antara Ada tahun  37-100, jadi tidak begitu lama setelah zaman Yesus. Josephus tinggal tinggal di Yerusalem kemudian pindah ke Roma, Dari catatan Josephus itu kita dapat tahu bahwa Herodes yang disebutkan dalam ayat Alkitab tadi, yakni Herodes Agung, yang hidup  dari tahun  ke 73 hingga tahun 4 sM, karena menurut Josephus bertepatan dengan tanggal tsb terjadi gerhana bulan. Jadi, Yesus pastilah  lahir sebelum tanggal tersebut, karena raja Herodes  inilah yang menyebabkan Yesus diungsikan ke Mesir, baru setelah kematian Herodes, Yesus kembali dari pengungsiannya (lihat Mat 2:19,20), Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Yesus lahir sekurang-kurangnya beberapa dbulan atau tahun sebelum tahun 4 s.M. Menurut dugaan yang lazim kelahiran Yesus terjadi antara tahun 8 dan tahun 5 s.M. Masakan Yesus dilahirkan tahun 5 s.M? Apakah Yesus lahir lima tahun sebelum tahun Masehi, yaitu tahun Yesus? Bukankah itu janggal? Inilah penyebab kejanggalan tersebut. Pada zaman itu, tahun dalam kekaisaran Romawi dihitung dari tahun berdirinya kota Roma. Tahun Romawi disebut AUC, singkatan dari Ab Urbe Condita, yang berarti 'sejak berdirinya kota'. Kemudian, pada abad ke-6. seorang rahib bernama Dionisius Exigius membuat kalender baru atas perintah Kaisar Justinian, la mengganti perhitungan tahun Romawi dengan tahun Masehi yang dimulai dari kelahiran Yesus. Tetapi, kemudian hari barulah diketahui bahwa ia membuat kekeliruan hitung. la menempatkan kelahiran pada tahun 753 AUC, padahal seharusnya pada tahun 749 AUC atau 747 AUC. Kekeliruan itu sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Kita sudah terlanjur menggunakan tahun hasil hitungan Dionisius itu, yang sebetulnya empat atau lima tahun terlambat dari kenyataan kelahiran Yesus. Itulah beberapa keterangan yang kita peroleh dari catatan sejarah dan catatan biblika arkeologi. Kelahiran Yesus jelas harus terjadi sebelum kematian Raja Herodes Agung yang ingin membunuhnya dengan memerintahkan pembunuhan semua bayi berumur di bawah 2 tahun di Betlehem (Matius 2:16). Flavius Josephus (37-100), sejarawan Yahudi abad pertama, mengatakan bahwa sesaat sebelum Herodes meninggal telah terjadi gerhana bulan yang menurut para pakar perbintangan terjadi pada 13 Maret tahun 4 sebelum Masehi (Antiquities of the Jews, XVII, vi, 167). Dengan mengacu pada taksiran Herodes bahwa bayi yang baru lahir itu tidak lebih dari 2 tahun usianya, maka taksiran intelektual tahun kelahiran Yesus sekitar tahun 4-5 sebelum Masehi. Tetapi, Alkitab sendiri tidak memberi keterangan yang pasti bilamana Yesus dilahirkan. Yang dikatakan Alkitab hanyalah bahwa Yesus lahir  di tanah Yudea pada zaman Raja Herodes. Alkitab hendak mengatakan bahwa kelahiran Yesus bukan terjadi dongeng abstrak tentang dewa yang sewaktu-waktu menampakan diri, melainkan sebagai kenyataan konkrit yang terjadi di tengah sejarah dunia, di tengah sejarah manusia, pada tempat dan zaman tertentu, dalam kehidupan manusia. Injil hanya ingin memproklamirkan bahwa senyatanya Kristus atau Allah yang mewujud manusia, firman yang menjadi daging itu benar adanya telaph ada, telah hidup ditengah manusia pada zaman, waktu, dan tempat tertentu pada sejarah manusia.  Itulah sekelumit salah satu sudut pandang dari sejarah dan arkeologi biblika, tetapi banyak denominasi dan juga ahli arkeologi biblika yang memberikan sudut pandangnya yang lain, ada baiknya kita belajar beberapa sudut pandang tentang hal tsb, shg makin jelaslah pemahaman kita tentang 25 Desember.

SUDUT PANDANG TRADISI SUCI

Ada bukti sejarah, tanggal 25 KISLEV diperingati sebagai Hari Kelahiran Kristus. Natal adalah penggenapan Perayaan Hanukkah yang diperingati setiap 25 Kislev. Selama ini terkesan hanya mengait-ngaitkan, padahal ada bukti sejarah yang otentik. Yaitu: dokumen Coptic Didascalia Apostolorum (189 M) sudah memuat penetapan Natal setiap tanggal 25 bulan Ibrani ke-9 Ibrani (Kislev) atau tanggal 29 bulan Mesir ke-4 (Khyak). Tema Hannukah juga tentang datangnya terang mengusir kegelapan, seperti lagu Hanukkah, BANU KOSHEKH LEGARESH ini. Tuhan Yesus menghadiri perayaan Hanukkah atau Penahbisan Bait Allah (Yohanes 10:22). Jadi, bukan kebetulan Tuhan Yesus bersabda menjelang kehadiran-Nya di perayaan Hannukah: "Akulah terang dunia" (Yohanes 8:12). Pemahaman ini bukan tanpa bukti. Bahwa pada tahun 5 SM, tanggal 25 Desember terjadi pada tanggal Yahudi 25 bulan Kislev. Ini adalah tanggal perayaan Hari Raya Hanukkah, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Lampu/ Cahaya atau Hari Raya Dedikasi. Penyebutan tanggal 25 Kislev juga terdapat pada Kitab Deuterokanonika: 2 Makabe 10:5. Fakta bahwa "Annuntiatio Christi" -Td al-Bishara (Kabar Gembira kepada Maria) itu terjadi pada tanggal 22 Maret, sudah dicatat oleh para bapa gereja paling awal, yaitu sejak Irenaeus (130-202 M), Hypolitus (170-235 M) dan Sextus Yulius Afrieanus (160-240 M). Tanggal kelahiranYesus Kristus dapat dihitung di sini, 9 bulan setelah 25 Maret akan jatuh pada tanggal 25 Desember. Demikian catatan sejarah dalam garis besar yang menjadi dasar bagi bapa-bapa gereja kuno untuk menghitung jatuhnya perayaan-perayaan gerejawi.St. Hipolitus dari Roma (170-235M), pentobat yang dulunya seorang anti-Paus pada masa penggembalaan Paus St. Zephyrinus, Paus St. Kallistus I, Paus St. Urbanus I dan Paus St. Pontianus, secara eksplisit juga menyatakan bahwa Yesus Kristus lahir pada tanggal 25 Desember. Untuk kedatangan pertama Tuhan kita dalam daging, [terjadi] ketika Ia lahir di Betlehem, eight days before the kalends of January (25 Desember), hari keempat (Rabu) dalam minggu ketika Augustus (kaisar Romawi) dalam 42 tahun [pemerintahannya] tetapi dari Adam 5500 tahun. Selain itu, Tradisi Suci juga meneguhkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Tuhan Yesus. Telesporus dari Roma (126 M), Telesporus adalah paus ke-9 Roma. Secara apostolik dia adalah penerus Rasul Petrus. Dia mati syahid (martir), karena saat itu lagi gencar-gencarnya penganiayaan terhadap orang Kristen oleh Kekaisaran Romawi. Paus Telesporus merayakan misa malam natal pada tanggal 24 Desember 124 M. 148 tahun sebelum perayaan Dewa Matahari ditetapkan natal sudah dirayakan. Berikut bukti catatan tentang Paus Telesporus dari buku daftar paus (Liber Pontificalis) hal. 12-13: Dari buku diatas, kia dapat melihat bahwa Paus Telesporus menyarankan bahwa misa natal sebaiknya dimulai sejak malam natal. Selain itu, dia juga menyarankan untuk menyanyikan himne “Gloria in excelsis Deo” secara berulang. Pernahkah kita membayangkan bahwa lagu “Gloria in excelsis Deo” yang sering kita nyanyikan saat natal ternyata sudah ada sejak tahun 126 M. Kata tersebut berasal dari Vetus Latina (naskah kuno Alkitab dalam Bahasa Latin) pada Lukas 2:14. Saat St. Hieronimus menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Latin yang lebih baru atau yang dikenal dengan Vulgata di tahun 380 M, kata tersebut bukan “Gloria in excelsis Deo” lagi, melainkan “Gloria in altissimis Deo”. Lalu apakah himne tersebut juga berubah? Tentu tidak, karena jemaat waktu itu sudah terbiasa dengan “Gloria in excelsis Deo” dan jika diubah tentu juga akan mengubah nadanya. Buktinya kita masih bisa mengenalnya sampai sekarang. Bukankah ini suatu peninggalan yang sangat luar biasa? Saya sendiri sebagai orang Kristen bangga, karena warisan kekristenan kita yang hampir berusia 2000 tahun masih bisa rasakan. Irenaeus Uskup Lyon (130-202 M), Irenaeus adalah murid dari Polikarpus Uskup Smirna, sedangkan Polikarpus adalah murid dari Rasul Yohanes. Dia menulis dalam bukunya Adversus Haereses (Melawan Para Bidat) pada tahun 180 M bahwa pembuahan bayi Yesus Kristus terjadi pada tanggal 25 Maret dan Ia disalibkan pada tanggal yang sama, dengan mengaitkan kematian-Nya pada saat ekuinoks. Meskipun pada masa Irenaeus belum disebut tanggal 25 Desember, tapi sudah disebutkan bahwa Maria menerima kabar gembira pada tanggal 25 Maret. Ini menjadi indikasi tanggal kelahirannya bahwa 9 bulan kemudian adalah 25 Desember. Hippolytus dari Roma (170-235 M), Secara apostolik, Hippolytus adalah cicit rohani dari Rasul Yohanes karena dia adalah murid dari Irenaeus. Dia menuliskan tentang kelahiran Kristus pada buku Commentary on Daniel di tahun 204 M. Secara eksplisit dia mengatakan bahwa Kristus lahir pada tanggal 25 Desember. Karya Hippolytus ini sangat penting, karena berasal dari generasi ketiga para Rasul dan memiliki kesinambungan yang jelas. Berikut catatan Hippolytus dalam buku Commentary on Daniel dalam Bahasa Yunani (asli) serta yang sudah disalin ke dalam Bahasa Inggris dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia: Ada yang menarik dari catatan Hippolytus, dimana dia tidak menuliskan langsung 25 Desember melainkan delapan hari sebelum Januari. Catatan tersebut membuktikan bahwa di tengah-tengah pengaruh kuat Romawi kafir, Gereja Kristus tidak kehilangan jati diri iman Abraham, yang mengajarkan bahwa permulaan hidup seseorang dihitung sejak Perjanjian Sunat “ketika genap delapan hari” (Lukas 2:21). Jadi saat tanggal 1 Januari selain merayakan tahun baru, kita juga merayakan hari penyunatan Tuhan Yesus. Sextus Julius Africanus (160-240 M), Julius Africanus ini berada di wilayah sekitar Libya. Dia memang tidak berbicara mengenai adanya perayaan natal, namun secara implisit mengatakan bahwa 25 Desember adalah tanggal kelahiran Kristus. Dalam bukunya Chronographia dia mengutip keyakinan Orang Yahudi bahwa alam semesta dunia diciptakan pada tanggal 15 Nisan (25 Maret), sehingga tanggal ini memiliki makna kosmis. Dia juga mengatakan bahwa pada tanggal 25 Maret Sang Firman Allah menjelma menjadi manusia (inkarnasi). Sang Firman Allah menjelma menjadi manusia sejak masa Dia dikandung oleh perawan Maria. Hal ini berarti setelah 9 bulan, Sang Kristus lahir pada tanggal 25 Desember (Bisa dicek pada buku The Oxford Dictionary of Late Antiquity). Theofilus dari Anthiokia (171-183 M), Theofilus adalah Patriakh di Anthiokia. Gereja inilah yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul 11:26. Rasul Petrus menjadi patriakh pertama di Anthiokia, sehingga bisa dikatakan bahwa Theofilus berasal dari garis Rasul Petrus. Sebelum pergi ke Roma, Rasul Petrus menahbiskan 2 patriakh yaitu Evodius dan Ignatius sebagai penerusnya. Ignatius untuk orang Yahudi dan Evodius untuk orang non Yahudi. Kemudian Evodius mengundurkan diri karena usianya yang sudah tua, lalu dilanjutkan oleh Ignatius sendiri. Dari seorang Ignatius kita mengenal ucapan “Gereja yang kudus, am (universal), dan apostolik”. Jadi, gereja adalah untuk segala suku bangsa bukan kalangan tertentu saja. Patriakh Theofilus sudah memerintahkan untuk merayakan natal tanggal 25 Desember. Pernyataan terkenal dia mengenai natal yaitu: “Kita harus merayakan hari kelahiran kita setiap tanggal 25 Desember, jatuh pada hari apapun” (De Origin Festorum Christianorum dalam buku Refleksi Ziarah ke Tanah Suci). Berikut juga bukti tentang perayaan natal oleh Theofilus pada Encyclopædia Britannica: Demetrius dari Alexandria (189 M), Demetrius adalah Patriakh ke-12 Gereja Ortodoks Koptik di Alexandria, Mesir. Gereja ini didirikan oleh Rasul Markus Sang Penulis Injil. Jadi, Demetrius berasal dari garis Rasul Markus. Seperti diuraikan diatas, natal sudah dirayakan pada tahun 126 M, kemudian ditetapkan di Anthiokia oleh Patriakh Theofilus. Beberapa tahun sesudah itu, seorang astronom Mesir yang bernama Batlimous pada akhir abad ke-2 melalukan perhitungan yang lebih cermat atas perintah Patriakh Demetrius. Hasil perhitungannya menunjukkan bahwa natal jatuh pada tanggal 25 bulan kesembilan (Kislev) Ibrani, kemudian dilengkapi dengan Tarikh Koptik pada 29 bulan Kiahk (Dicatat dalam Dokumen Didascalia Apostolorum). Kalender Koptik dihitung berdasarkan penampakan bintang Siriuz, dan pernah diakui oleh UNESCO sebagai kalender yang paling akurat dibandingkan dengan kalender manapun yang pernah dibuat. Bukankah ini sebuah kebanggaan yang luar biasa sebagai umat Kristen dimana selain Gereja barat yang memiliki kalender matahari (baik Julian maupun Gregorian), di timur juga terdapat kalender Koptik. Menghitung kalender tentu bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi Gereja mewarisi itu semua. Berikut bukti catatan natal dalam dokumen Didascalia Apostolorum terjemahan Bahasa Arab karena aslinya Bahasa Koptik: Sejak tahun 189 M inilah tanggal natal mulai dikanonkan, kemudian digunakan sebagai acuan untuk seluruh gereja. Berikut dokumen Didascalia Apostolorum dari Gereja Syria (250 M) yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris: Dalam dokumen Didascalia Apostolorum ditulis bahwa kelahiran Kristus terjadi pada tanggal 25 bulan Kislev, itu artinya Natal pertama Yesus bertepatan dengan perayaan penahbisan Bait Suci (Hanukkah). Tuhan Yesus sendiri menghadiri perayaan Hanukkah atau Penahbisan Bait Allah (Yohanes 10:22). Hari Raya Hanukkah juga sering disebut sebagai Perayaan Hari Raya Terang, dimana di Israel saat perayaan ini banyak lampu-lampu terang. Bukan kebetulan juga Tuhan Yesus bersabda menjelang kehadiran-Nya di Perayaan Hanukkah “Akulah terang dunia” (Yohanes 8:12) karena Tuhan Yesus adalah terang yang sejati. Itulah mengapa saat merayakan natal juga terdapat pohon terang, karena untuk menyambut kedatangan Sang Terang Sejati itu sendiri. Jadi, pohon terang bukan berasal dari kafir melainkan dari Yudaisme yang merupakan saudara tua umat Kristen. Bisa dikatakan bahwa natal adalah penggenapan dari Perayaan Hanukkah. Pemahaman diatas bukan tanpa bukti. Tanggal 25 Desember tahun 5 SM juga bertepatan dengan tanggal Yahudi 25 bulan Kislev. Berikut bukti bahwa natal pertama Yesus bertepatan dengan Hanukkahserta perbandingan antara kalender Koptik, Ibrani dan Masehi: Sekalipun perayaan natal tidak selalu tepat dengan perayaan Hanukkah setiap  tahunnya karena perbedaan kalender yang digunakan, tetapi jaraknya selalu berdekatan. Ini membantah tuduhan yang mengatakan bahwa natal tidak mungkin terjadi di Bulan Desember. Alasan kaum polemikus mengatakan natal tidak mungkin terjadi di Bulan Desember karena bulan tersebut sedang musim salju, tidak mungkin ada kawanan domba di saat turun salju. Ini perlu dijawab, bahwa Yesus lahir di Betlehem. Betlehem itu terletak di Timur Tengah bukan di Eropa. Salju biasanya turun di wilayah Eropa. Di Timur Tengah salju biasanya terjadi di Gunung Hermon bukan di Betlehem. Mungkin teman-teman juga bisa mengeceknya langsung di Youtube mengenai Perayaan Natal di Betlehem apakah ada salju atau tidak disana. Dari fakta-fakta yang diuraikan diatas, jelaslah tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa Natal diambil dari perayaan kafir Dewa Matahari Yang Tak Terkalahkan (Sol Invictus). Sebaliknya, justru agama kafir tersebut yang menyesuaikan dengan Kekristenan. Data Bapa Gereja sebelum tahun 274 M yang mengatakan tentang Natal tidak hanya 1, melainkan ada 6. Mungkin bisa saja ada lebih banyak data dari yang sudah saya sebutkan. Sekalipun Para Bapa Gereja menggunakan kalender yang berbeda-beda tetapi arahnya tetap sama ke 25 Desember. Bahkan jarak antar Bapa Gereja tersebut juga tidak berdekatan mulai dari Roma, Lyon, Alexandria, Anthiokia, bahkan sampai ke Libya, namun catatannya sama. Tentu kondisi waktu itu berbeda dengan sekarang, dimana informasi bisa tersebar dengan sangat cepat. Perlu ditekankan pula tidak pernah konsili ekumenis yang membahas tentang perayaan Natal, sehingga ini sudah mengalir pada setiap Gereja. Sumber gereja Timur mencatat Natal sudah dirayakan di Kaisaria oleh Mar Theofilus kira-kita tahun 160 M. Selanjutnya, untuk pertama kali Natal ditetapkan di Alexandria pada tahun 189 M oleh Baba Demitri (Paus Dimitrius), Patriarkh Alexandria dan penerus takhta suci kerasulan Markus (Gereja Ortodoks Koptik) dalam dokumen yang berjudul "Al-Dasquliya al-Qibthiyah" atau "Ta'lim ar-Rasul" (The Coptic Didascalia Apostolorum). Pasal XVIII Kitab Ta'alim terjemahan bahasa Arab yang aslinya dari bahasa Koptik tersebut menyebutkan:
‫ر‬ ‫ت االع ياد اي ام ف ي ت خ ف ظوا اخوات نا ي ا‬ ‫من ع شي ن و خم سة ف ي ك م لو ه و ال رب م ي الد ع يد ه ي ال ي‬ ‫ل لم رصي ي ال ذى ال راب ع ال ش هر من رونوال عش ال تا سع ه و ال ذى ل ل ع ربان ي ال ذى ال تا سع ال ش هر‬. "Ya Ikhwatana, tahfudhu fi ayam al-a'yadi allati 'Id al-Milad al-Rabb, wa kamaluhu fi khamsati wa ishrin min al-shahri al-tasi'i alladzi lil 'Ibraniyyin, alladzi hiya at-tasi'u wa al-ishrun min alshahri al-rabi'i alladzi lil Mishriyyin". Artinya: "Wahai Saudara-saudaraku, tetapkanlah dalam hari-hari perayaan Kelahiran Junjungan kita tepatnya pada tanggal 25 bulan kesembilan Ibrani, atau tanggal 29 bulan keempat Mesir" (Marqus Dawud, 1979:122).
Bahkan sebelum ditetapkan sebagai dokumen perayaan gerejawi, Mar Theofilus dari Caesaria mulai tahun 160 M telah merayakan Natal pada tanggal yang sama (De Origin Festorum Christianorum). Perayaan ini baru diikuti oleh Gereja Roma pada masa Paus Yulius I (336-352 M), yang dikemudian hari dikonversikan menurut kalender matahari (syamsiah) versi Gregorian tanggal 25 Desember. Sedangkan di gereja-gereja Timur yang memakai kalender matahari (syamsiah) versi Yulian menghitungnya setiap 7 Januari. Jadi, penetapan aslinya Natal memang memakai kalender Yahudi yang didasarkan atas peredaran bulan (Qomariyah) dan kalender Koptik uang didasarkan atas peredaran bintang Sirius (kawakibiyah). Uniknya, penetapan Natal pertama kali justru jatuh pada hari yang sama dengan perayaan ‫" הָּ כּונֲח‬Hanukkah" atau Penabisan Bait Suci, yang juga jatuh setiap 25 bulan kesembilan Ibrani, yaitu bulan Kislev. Perayaan oleh oleh sejarawan Yahudi Flavius Yosefus (90 M) sebagai ‫הַ ח‬ ‫ִּוּוַה‬ ‫" חַ א‬Ḥag Ha'urim" (Hari Raya Terang) ini, memperingati kemenangan Yudas Makkabe atas Raja Seleukid, Antiokhus Epifanes IV, yang menaruh patung dewa orang Yunani di Bait Allah dengan mengorbankan babi, yang tentunya sangat menodai perasaan keagamaan umat Tuhan saat itu. Peristiwa bersejarah ini dicatat dalam Talmud dan buku Deuterokanonika (Kanon Kedua), khususnya 2 Makabe 10:1-9. Yesus pernah datang pada perayaan ini di Yerusalem, "ketika itu musim dingin" (Yohanes 10:22). Menurut informasi Anba Yoanis, uskup Nikea, Paus Yulius I di Roma menerima perhitungan Natal dari Gereja Timur yang dihitung berdasarkan data-data sejarah kuno seperti yang ditulis oleh Flavius Yosefus. Perlu dicatat pula, dalam bukunya The Jewish War, Buku VI, Pasal 4:1-5, Yosefus menyebutkan bahwa Bait Suci dibakar oleh Titus pada tanggal 9 bukan Lous. Dan data ini cocok dengan dokumen Yahudi, Talmud, yaitu sebuah "Baraita" atas teks Traktat Ta'anit 4.29a (ditulis 160 M) yang menyebutkan:
‫חַּבח בַעַּבשׁ ומוצִַ חַח בּבשׁ ומוצִַ חַה ּבִב עחשּׁב עּוב חַוה ִוּבו וכחשּׁבּוִ שׁחמקד ּבַּב הּובשּׁב‬ ‫חַּבח ַחוַּוַב לשׁ מּוּבחשׁומ‬.

"Besheharav Bet HaMiqdas harishonah otto hayom 'erev Tisha be Av hayah umotsai shabat hayah umotsai Shevi'it hayetah umishmaretah shel Yehohariv hayetah". Artinya: "Ketika Bait Suci pertama dihancurkan hari itu terjadi setelah petang pada tanggal 9 bulan Av, harinya setelah hari Sabat, setelah tahun ke tujuh, dan yang sedang bertugas sebagai mishmar adalah Yehoyariv" (Rabbi H. Goldwurm, 2006).
Dokumen itu selanjutnya mencatat, ‫בשׁכַח כן‬ ִׁ֖ ‫" א‬ken basheniyah" (begitu juga yang kedua), maksudnya Bait Suci yang kedua juga dihancurkan pada jam, hari dan bulan yang sama. Orangorang Yahudi sampai hari ini melakukan puasa perkabungan atas hancurnya Bait Suci setiap tanggal 9 bulan Av (Ibrani: Ibrani: ‫ בִב ּבשעח‬atau ‫בִב ט׳‬, "Tisha be Ab"), seperti tertulis dalam dokumen Megilat Ta'anit (Gulungan Puasa) tersebut. Dalam kalender Yahudi, peristiwa Tisha be Av ini sejajar dengan kalender Yulian 5 Agustus 823 AUC (Ab Urbi Condita) atau setelah berdirinya kota Roma, yang sama dengan tahun Gregorianh 70 M. Dengan mengetahui bahwa pada tanggal 9 Av (5 Agustus) tahun 70 M yang bertugas di Bait Allah adalah Yoyarib, rombongan pertama dalam 24 rombongan imam Lewi yang bertugas di Bait Allah (1 Tawarikh 23:7-19), sedangkan menurut Lukas 1:5 imam Zakaria adalah berasal dari rombongan Abia (rombongan ke delapan), maka dapat dihitung mundur ke belakang sekitar 75 tahun kapan malaikat Gabriel menemui imam Zakaria yang berasal dari rombongan Abia, ketika bertugas di Bait Allah.Ternyata dibuktikan sejak abad kedua, bahwa Malaikat Jibril menemui Zakaria pada waktu perayaan ‫" נא ַיּוּו ַֹוה‬Yom Kippur" (Hari Penebusan Dosa), minggu kedua bulan Tishri. Data ini juga cocok dengan dokumen kuno "Protevangelion Iakobi" (170 M) bahwa Malaikat Gabriel menemui Zakaria pada perayaan Yom Kippur. Selanjutnya, Lukas 1:26 mencatat bahwa Gabriel menemui Maria di Nazaret untuk memberitakan kelahiran Yesus pada bulan keenam setelah menemui Zakaria. Enam bulan setelah Tishri akan jatuh pada bulan Ibrani Adar Tseni atau Nisan (kalender Yahudi mengenal bulan ke-13, yaitu Adar Tseni/kedua ynag jatuh 7 kali dalam setiap 19 tahun untuk menyesuaikan selisih 10 atau 11 setiap tahun antara sistem qomariyah dan syamsyiah). Karena itu, 'Ied al-Bishara(Perayaan Malaikat Jibril menyampaikan kabar baik kepada Bunda Maria) terjadi pada tanggal 15 Nisan, yang bertepatan dengan tarikh Gregorian 25 Maret, seperti dicatat oleh St. Irenaeus (130-202 M), Hypolitus (170-235 M) dan Sextus Yulius Africanus (160-240 M). Kalau usia kandungan normalnya 9 bulan, maka 9 bulan setelah 15 Nisan/25 Maret akan jatuh pada tanggal 25 Kislev atau sekitar 25 Desember. Itulah dasar perhitungan gereja-gereja kuno, khususnya "Coptic Didascalia Apostolorum" bahwa Yesus memang lahir pada perayaan Hanukkah, 25 Kislev atau 29 bulan Khyak. Tanggal ini selanjutnya dikonversikan menjadi tahun Gregorian 25 Desember di gereja-gereja wilayah barat. Karena selisih hitungan akibat kesalahan tahun Gregorian, maka gereja-gereja timur yang masih memakai kalender Yulian, Natal jatuh setiap 7 Januari. Tetapi kalender aslinya memang didasarkan atas tahun Ibrani (Lunar System) dan tahun Koptik (Star System). STT BAPTIS INJILI, CEPOGO BOYOLALI,2017, TITUS ROIDANTO

Jumat, 24 Desember 2021

BETH TALMUD, SERIAL SUDUT PANDANG

BETH TALMUD, SERIAL SUDUT PANDANG

“In school they told me practice makes perfect, and then they told me nobody’s perfect, so then I stopped practicing.” Steven Wright.  Bacaan Injil Minggu ini secara ekumenis diambil dari Lukas 2:41-52 yang didahului dengan 1Samuel 2:18-20, 26, Mazmur 148, dan Kolose 3:12-17. [Minggu I sesudah Natal, Tahun C]. Injil Lukas merupakan satu-satunya dari keempat Injil di dalam Alkitab yang mengisahkan masa remaja Yesus. Dikisahkan setiap tahun orangtua Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paska. Ketika Yesus berusia 12 tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Saat perayaan berakhir pulanglah mereka, tetapi Yesus tertinggal di Yerusalem tanpa mereka ketahui. Setelah sehari perjalanan barulah mereka menyadari. Mereka kembali ke Yerusalem mencari Yesus. Setelah tiga hari mereka menemukan Yesus di Bait Allah. Yesus didapati sedang duduk di tengah-tengah alim ulama (TB II: guru agama) dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Semua orang yang mendengar Yesus sangat heran akan kecerdasan Yesus dan jawaban-jawaban yang diberikan. Melihat itu orangtua-Nya tercengang, “Nak, mengapa Kamu berbuat demikian terhadap kami? Kamu lihat bapak-Mu dan aku dengan cemas mencari-Mu.” kata Maria. “Mengapa kamu mencari Aku?” jawab Yesus, “Bukankah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Mereka tidak mengerti apa maksud perkataan-Nya, lalu mereka membawa Yesus pulang ke Nazaret,dan Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Yesus tetap hidup dalam asuhan mereka.  Bacaan ditutup dengan Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (ay.52). Dari catatan tentang kehidupan Yesus dalam Injil kita hanya membaca tiga klasifikasi usia saja yang dimuat: bayi (yeled), usia disapih (gemul)  ketika Ia diserahkan di Bait Allah di hadapan Simeon dan Hana, dan remaja (bahar, 12 tahun) ketika Ia diajak Yusuf dan Maria ke Yerusalem. Usia 12 bagi tradisi Yahudi zaman Yesus begitu penting, karena seorang anak laki-laki Yahudi harus melakukan upacara yang disebut Bar Mitzvah (anak Hukum). Menurut tradisi Yahudi pada usia 12 Nabi Musa meninggalkan rumah anak perempuan Firaun (yang Musa menjadi anak angkatnya), Samuel menerima suara yang berisi visi ilahi, Salomo menerima Hikmat Allah, dan Raja Yosia menerima visi reformasi agung di Yerusalem. Dalam rangkaian ritus Yahudi itu Yesus harus melakukan ‘aliyah (naik) dan Bemah (menghadap mimbar untuk menerima kuk hukum Taurat). Upacara ini dilakukan pada Sabat sehingga disebut juga thepilin Shabat. Menurut  Sepher Gilgulim semua anak Yahudi sejak usia 12 siap menerima ruah (roh hikmat) dan pada usia 20 ditambahkan baginya nishama (reasonable soul, “jiwa penalaran”). Pada usia 20 tersebut seseorang harus memasuki sekolah khusus Yahudi (Beth Midrash). Tahapan pengajaran Yahudi: Mikra (membaca Taurat) dari usia 5, pada usia 10 - 12 anak masuk ke Beth Talmud, Midrash pada usia 20 tahun, dan pada usia 30 baru boleh mengajar di depan umum. Menurut teolog dan pakar pendidikan Robert R. Boehlke di dalam Beth Talmud anak-anak diajari Misyna, yaitu tafsir Taurat. Di sini anak-anak diajari juga ilmu hitung, ilmu bintang, ilmu bumi, dan ilmu hayat. Dalam proses itu mereka belajar berpikir logis. Mereka diajari bagaimana memertahankan pendapat tentang penafsiran oleh rabi atau guru tertentu dan sebaliknya mereka diajari bagaimana menyampaikan kecaman atau kritik terhadap tafsiran tertentu. Dalam bacaan hari ini Yesus (umur 12 tahun) dengan cerdas sedang berdebat dengan alim ulama di Bait Allah (atau tepatnya rumah ibadah yang berada di dalam kompleks Bait Allah). Menurut Boehlke kisah Yesus itu merupakan gambaran nyata pengajaran khas dalam Beth Talmud. Meskipun Yesus dari keluarga miskin, Ia memeroleh kesempatan belajar yang sama dengan anak-anak orang kaya menurut sistem pendidikan Yahudi sesudah pembuangan di Babel.Yang menarik ketika Maria melihat Yesus yang dengan cerdas berdebat dengan alim ulama, menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya (ay. 51). Tidak ada kisah Maria seperti ibu-ibu zaman sekarang yang memamerkan “kecerdasan” anak-anak mereka di medsos. Yusuf dan Maria merawat dan mengasuh Yesus menurut tradisi dan sistem pendidikan Yahudi di atas sehingga Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. Model pendidikan Yahudi tersebut sampai sekarang digunakan oleh negara-negara maju termasuk pembinaan olahraga. Negara maju sepakbola selalu melindungi para pemain muda dari publikasi media dan eksploitasi. Media dilarang mengabarkan liga remaja. Para pemain belum menjadi pribadi dewasa mandiri. Eksploitasi berlebihan mengakibatkan pemain belia akan layu sebelum berkembang. Dapat anda bayangkan jika anak remaja anda menjadi seorang kiper, kemudian diberitakan bahwa timnya kalah 10-0. Apa dampak psikologisnya? Anak anda akan mengalami depresi menanggung malu karena ia merasa manusia di seluruh dunia mengolok-oloknya. Akibat selanjutnya ia berhenti berlatih dan bermain sepakbola. Sebaliknya, jika anak remaja anda memenangi pertandingan,kemudian diberitakan besar-besaran termasuk anda tak ketinggalan memberitakannya di medsos. Anak akan besar kepala, yang akibat selanjutnya ia meremehkan kewajiban seorang calon pemain profesional yaitu menghormati sepakbola itu sendiri. Tidaklah mengherankan banyak pemain Indonesia yang kala remaja atau junior sangat berprestasi, hancur lebur pada jenjang senior. Mereka sudah menjelma menjadi hedonis.Beberapa tahun lalu ada seorang remaja mendadak menjadi selebritis karena menulis di medsos. Meskipun ia banyak membaca buku, ia belum memiliki struktur dan sistem dalam menyampaikan pikiran seperti yang diakuinya sendiri. Ia seperti pesepakbola bintang remaja yang dipaksa oleh banyak orang untuk menjadi pemain profesional yang mampu membuat sebuah klub juara. Tidak tanggung-tanggung orang-orang yang memaksanya: dari orang dewasa biasa, menteri, sampai Presiden Jokowi. Anak ini ibarat besi panas yang sedang ditempa oleh pandai besi, mudah diliak-liukkan sesuai kehendak si pandai besi. Saat si pandai besi khilaf, tangannya terkena pukulan palunya sendiri, besi panas itu terlempar ke dalam air yang kemudian mendadak dingin dan kaku. Anak ini gagal menjadi sebuah pisau yang tajam, karena ulah orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya.Pendidikan bukan sekali jadi. Pendidikan merupakan pengindonesiaan dari kata Latin ex ducare yang berarti membawa seseorang keluar dari kebodohan, ketidaktahuan, dan ketidakdewasaan menjadi tahu dan dewasa. Tujuan pendidikan ialah membuat naradidik menjadi pribadi dewasa-mandiri. Ia butuh proses panjang dan berjenjang sampai ia dinyatakan “boleh mengajar di depan umum”.Gereja menyusun tahun liturgi yang dimula dari Minggu pertama Adven yang diisi dengan leksionari bukanlah tanpa alasan. Hal itu merupakan metode gereja dalam mendidik warga gereja secara berstruktur dan bersistem dengan tahun liturgi sebagai kalender akademik dan leksionari sebagai kurikulum sehingga warga menjadi pribadi dewasa-mandiri, bukan warga warga bertubuh dewasa tetapi kekanak-kanakan. Dalam bacaan Malam Natal kemarin kita bisa melihat Yesus dilahirkan dalam kesederhanaan. Yesus anak orang miskin menurut penginjil Lukas. Dalam Injil Lukas 2:24 (hanya beberapa ayat dari bacaan kemarin) dikisahkan bahwa orangtua Yesus adalah orang miskin karena pada hari penahiran orangtua Yesus memersembahkan sepasang burung tekukur atau dua anak merpati. Persembahan seperti itu merupakan pengganti domba tanpa cela yang tidak mampu dibeli oleh orang miskin. Secara telak penginjil Lukas memerikan Yesus adalah anak orang miskin. Sungguh ironis apabila Natal dirayakan dengan pesta mewah dan bahkan kalangan Protestan tertentu menghabiskan dana untuk merayakan Natal di masa Adven. Perilaku itu kontradiksi dengan pesan Injil Lukas. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, TITUS ROIDANTO,2021

Kamis, 23 Desember 2021

Adven dan Malam Natal, Serial Sudut Pandang

Adven dan Malam Natal, Serial Sudut Pandang

Seluruh hari raya tahunan umat Kristen bermula dari dan berpusat pada misteri Paska, kebangkitan Kristus. Perayaan Paska tahunan berangkat dari perayaan Paska pekanan. Umat Kristen perdana pada hari pertama (bahasa Indonesia menyebut Minggu) dalam pekan memiliki kebiasaan berkumpul, memecah roti, serta makan dan minum bersama (simposium). Perlu kita catat pada zaman doeloe hari baru dimula tepat sesudah matahari terbenam atau selepas Maghrib, bukan tengah malam. Umat Kristen perdana pada waktu itu tetap tidak meninggalkan kebiasaan ibadah pada Sabat (atau Sabtu), hari ketujuh dalam pekan. Sesudah mereka beribadah dilanjutkan dengan simposium pada Sabtu malam, yang sudah merupakan hari baru, hari pertama (atau Minggu) dalam pekan, hari kebangkitan Kristus. Dalam simposium ini mereka saling berbagi cerita atau ngobrol sampai larut malam bahkan pagi. Tema utama yang dibicarakan adalah kebangkitan Kristus dan karya-karya-Nya. Orang yang memiliki banyak pengetahuan mengajar. Kadang membosankan sehingga membuat pendengar mengantuk dan terjatuh (lih. Euthikus dalam Kis. 20:7-12). Para pengkhotbah yang tidak lihai berkhotbah tidak perlu berkecil hati, karena Rasul Paulus pun membuat orang mengantuk dan terjatuh, bahkan mati🤭😁😀😆. Ibadah Kristen tidak berangkat dari  kekosongan atau kesengajaan rencana, melainkan dengan guliran dan kumparan narasi dan budaya untuk membangun makna. Kebiasaan bersimposium ini kemudian dijadikan ritual ibadah Minggu. Jadi, pada dasarnya ibadah Minggu adalah perayaan Paska, kebangkitan Kristus. Dari ibadah Minggu ini kemudian ditetapkan perayaan Paska tahunan. Tanggal Paska tahunan ditetapkan pada Minggu pertama sesudah Paska Yahudi (14 Nisan) atau Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret (equinox). Singkat cerita dari Paska tahunan itu ditetapkan masa Pra-Paska dan hari raya tahunan lainnya. Natal adalah hari raya tahunan “paling muda”. Seperti halnya Paska yang diawali dengan masa raya persiapan yang disebut Pra-Paska, Natal pun dibuat masa raya persiapan yang disebut Adven. Pada awalnya masa Adven dimula 40 hari sebelum Epifania, 6 Januari. Terjadi masalah karena permulaan masa Adven bukan berangkat dari hari pertama (Minggu). Akan tetapi Gereja Barat mengakhiri masa Adven sebelum 25 Desember, karena tanggal itu sudah ditetapkan sebagai kelahiran Yesus. Pada abad ke-6  Paus Gregorius Agung menetapkan masa adven dimula hari pertama (Minggu) dan ada empat Minggu sebelum Natal. Apabila Natal jatuh pada Minggu, maka Minggu itu tidak ikut dihitung. Masa Adven berakhir pada 24 Desember sebelum matahari terbenam. Dalam perayaan liturgi Adven Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias. Dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan tercukupkan menjelang Sang Firman nuzul menjadi Manusia dan sekaligus membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya kembali. Pada sisi satu umat beriman merefleksikan ulang dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus sekitar dua ribu tahun (lebih sedikit) lalu. Umat beriman merenungkan ulang misteri Sang Firman Nuzul menjadi Manusia. Pada sisi lain umat beriman mengingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Gereja membuat dua pembabakan leksionari untuk memudahkan umat menghayati makna Adven. Babak pertama, Minggu I dan II Adven pembacaan memerikan gatra eskatologis. Apa itu eskatologis? Secara sederhana eskatologis ialah penantian kedatangan kembali Kristus. Babak kedua, Minggu III dan IV Adven pembacaan memerikan gatra pengenangan (anamnesis) kelahiran Kristus. Pada 24 Desember sesudah matahari terbenam menurut tradisi adalah hari baru. Untuk itulah 24 Desember selepas Maghrib disebut Malam Natal, malam kelahiran. Frase Malam Natal tidak sama dengan Malam Minggu yang belum Minggu. Malam Natal adalah malam kelahiran, sudah Natal. Natal dimula 24 Desember selepas Maghrib. “Apa referensi kamu bilang Malam Natal sudah Natal?” “Lihat saja bacaan Alkitab sedunia pada Malam Natal dari Injil Lukas 2:1-14.” Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Para tokoh gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. Dari pemaknaan perayaan liturgi di atas adalah sungguh tidak tepat merayakan Natal pada masa Adven. Merayakan Natal pada masa Adven tidak ubahnya seperti mengadakan halalbihalal di bulan Ramadan. Merayakan idul Fitri di bulan puasa. Awal minggu adven ada teman merayakan natal. sepulangnya dia ngucapkan selamat natal kepada orang2 yg ditemuinya dg ucapan selamat natal. Semua pada bengong.🤭😁🙏🙏🙏Selamat menghikmati Natal🙌🏻🙌🏻🙌🏻Tuhan memberkati.STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, 2021, TITUS ROIDANTO

UMAT YANG MENGENAL PALUNGANNYA, SERIAL SUDUT PANDANG

UMAT YANG MENGENAL PALUNGANNYA, SERIAL SUDUT PANDANG

Have a very Meelad Majeed!, : “Do you know why so many people love Jesus? Without Jesus, no Christmas.” Melanie White. Masa Adven yang dimula pada 28 November 2021 berakhir pada 24 Desember 2021 saat matahari terbenam. Sesudah itu umat memasuki masa raya Natal dengan melakukan Kebaktian Malam Natal (missa in nocte). Frase Malam Natal tidak sama dengan frase Malam Minggu yang belum (hari) Minggu. Malam Natal berarti malam kelahiran. Sudah Natal. Masa Raya Natal dimula hari ini, 24 Desember, selepas Maghrib sampai pada Epifania. Ada dua kisah Natal di Alkitab: Injil Matius dan Injil Lukas. Keduanya kisah teologis, bukan catatan historis sehingga tidak dapat digabungkan menjadi satu rangkaian cerita yang kerap kita saksikan dalam drama Natal atau khotbah-khotbah Natal. Sekelompok murid SMA diberi tugas oleh guru mereka untuk menulis kegiatan harian Bung Karno dari 1 Agustus sampai 17 Agustus 1945. Ada dua buku sejarah di perpustakaan, tetapi dua buku itu belum dapat memberi keterangan lengkap kegiatan harian Bung Karno. Para murid kemudian melakukan pencarian lebih giat lewat internet dan bertanya kepada orang-orang yang mengerti sejarah. Lengkap sudah penugasan dari guru. Mereka berhasil menulis kegiatan Bung Karno dari 1 Agustus sampai 17 Agustus 1945. Kronologis.Kisah Natal di Alkitab tidak dapat dirangkai seperti tugas para murid di atas. Penulis Injil Matius dan Injil Lukas memiliki teologi masing-masing dalam menulis kisah Natal tersebut. Menurut penulis Injil Matius Yusuf dan Maria, orangtua Yesus, tinggal di Betlehem, sedang menurut penulis Injil Lukas Yusuf dan Maria tinggal di Nazaret. Masih banyak lagi perbedaan yang tidak dapat diakurkan karena memang bukan kisah historis seperti Yesus anak raja (Injil Matius) dan Yesus anak orang miskin (Injil Lukas). Persamaan kisah itu Yesus lahir di Betlehem dan besar di Nazaret sehingga Yesus dikenal sebagai orang Nazaret.Untuk itu bacaan dan khotbah harus berpumpun pada satu Injil dengan close reading. Pengkhotbah tidak boleh membuat “Injil baru” dengan memasukkan kisah Natal dari Injil lain ke dalam satu bacaan Injil tentang kelahiran Yesus. Bacaan Injil  Lukas 2:1-14, (15-20).Kisah klasik kelahiran Yesus dalam Injil Lukas selalu dibacakan dalam Ibadah Malam Natal. Dikisahkan Yusuf dan Maria harus pergi dari Nazaret ke Betlehem atas perintah Kaisar Agustus dalam rangka pendaftaran penduduk ke tempat asalnya. Orang harus mudik. Maria dalam keadaan hamil tua. Ketika mereka tiba di Betlehem, sudah waktunya bagi Maria melahirkan. Ia membungkus bayinya dengan kain lampin dan membaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (καταλύματι). Dalam pada itu masih di dalam kawasan tempat kelahiran ada gembala-gembala di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdiri satu malaikat Tuhan berkata kepada mereka,”Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Inilah tandanya  bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Tak lama dari itu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.Dalam setiap khotbah Natal dan renungan-renungan yang bernasabah dengan Malam Natal acap muncul satu pertanyaan senada dari pengkhotbah dan penulis renungan “Apakah Saudara sudah menyediakan tempat bagi Yesus?” Pertanyaan itu selalu terlontar, menurut saya, akibat tafsir suudzon pada frase dalam kisah Natal di Injil Lukas “karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”. Pengkhotbah berprasangka pemilik penginapan menolak memberikan tempat bagi Maria dan Yusuf. Padahal di awal narasi Kaisar Agustus memberi perintah sensus sehingga setiap orang kembali ke daerah asalnya untuk didaftar. Kalau rumah-rumah penginapan atau kamar tamu penuh, mosok pemiliknya dituduh menolak tamu?Rumah penginapan dalam Injil Lukas diterjemahkan dari καταλύματι, yaitu ruang atas (upper room) untuk tamu menginap di rumah induk. Alternatif penerjemahan menjadi “karena tidak ada ruang tamu bagi mereka”. Jadi, Yusuf dan Maria diduga menginap di kolong rumah. Kolong rumah itu juga tempat parkir hewan-hewan transportasi (milik tamu yang menginap di ruang atas) yang tentu saja ada palungan tempat makan hewan, tetapi itu bukan kandang hewan. Kalau kita baca terus ayat 21 sama sekali tidak ada petunjuk keganjilan kelahiran di kandang. Semua berjalan wajar dalam kesederhanaan dan bahkan di dalam teks tertulis menurut tradisi Yahudi Yesus disunat pada hari kedelapan. Meskipun dalam Injil Lukas tidak secara eksplisit menyebut Yesus dilahirkan di kandang bukan berarti Yusuf dan Maria adalah bukan orang miskin. Dalam Injil Lukas pasal yang sama (pasal 2) ayat 24 membuktikan bahwa orangtua Yesus adalah orang miskin karena pada hari penahiran orangtua Yesus memersembahkan sepasang burung tekukur atau dua anak merpati sebagai pengganti domba tanpa cela karena tak mampu membeli. Sungguh ironis umat Kristen, terutama dari kalangan Protestan tertentu, menghamburkan uang dan energi untuk berpesta mewah Natal di masa Adven. Kata palungan tampaknya sangat dipaparkan oleh penulis Injil Lukas. Hal itu dapat kita lihat saat kelahiran Yesus dibungkus dengan kain lampin dan dibaringkan di dalam palungan. Mailakat Tuhan memberi petunjuk kepada para gembala bahwa bayi Yesus dibaringkan di dalam palungan. Tampaknya Injil Lukas mengambil dari Yesaya 1:3 “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.” Penginjil Lukas hendak mengatakan bahwa para gembala adalah umat Tuhan yang sekarang sudah mengenal “palungan”-nya. Pertanyaan oratoris para pengkhotbah apakah kita sudah menyediakan tempat di hati bagi Yesus (karena kelahiran Yesus ditolak oleh pengelola penginapan) justru menghilangkan pesan Natal. Gatra kelahiran Yesus menghadirkan harapan perbaikan, pembebasan, dan pemulihan bagi orang-orang yang terjajah sosio-ekonomi, teknologi, dan politik, orang-orang miskin, serta tentu saja orang-orang yang putus harapan karena kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Untuk itulah para gembala langsung bergerak, mencari, menemukan, dan mengenal palungannya, bukan menyediakan tempat di hati atas berita kelahiran Yesus dari malaikat Tuhan lalu duduk termenung.Mengutamakan hati pada dasarnya membunuh Yesus. Mengutamakan hati membuat  gereja seperti zombie, jenazah berjalan. Ada, tetapi tak bernyawa. Hati saja tidak cukup. Perlu tindakan nyata seperti para gembala di atas mencari dan menemukan palungan tempat bayi Yesus dalam diri orang-orang terpinggirkan oleh masyarakat dan gereja seperti kaum LGBTQ, anak-anak dan perempuan korban rudapaksa seks dan KDRT, orang-orang yang menderita dan putus harapan akibat pandemi Covid19, dlsb. Natal bukan sekadar peringatan dan perayaan, tetapi juga mengingatkan bahwa Allah bekerja melahirkan umat baru. Umat yang yang mengenal palungannya sehingga peduli dan bergerak melakukan amanat kemanusiaan. Selamet merayakan daripada Natal.STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, TITUS ROIDANTO

PALUNGAN, ALLAH YANG MERAPUH, SERIAL SUDUT PANDANG

PALUNGAN, ALLAH YANG MERAPUH, SERIAL SUDUT PANDANG
PENGANTAR
Kiranya Roh Natal mengisi hati anda bukan hanya pada hari-hari ini saja, melainkan sepanjang tahun, sebab ketika kidung malaikat habis bergema, ketika para gembala sudah kembali ke padang efrata, ketika orang Majus sudah pulang ke negeri mereka, ketika bintang Betlehem sudah sirna, saat itulah amanat Natal justru berawal, yaitu amanat untuk membawa damai sejahtera, menyembuhkan luka, memberi kelepasan dahaga, menyalakan cahaya, membagi senyum bahagia, meneduhkan jiwa dan melagukan Gita pujian sorga. Masa Advent pun sebetulnya tak pernah usai, karena sepanjang hidup kita adalah masa Advent, karena sepanjang hidup kita, kita menanti Tuhan kembali, sepanjang hidup kita, kita hidup dengan harapan Tuhan kembali, dan kita mengisi hidup kita dengan karya sekehendak seteladan Kristus dalam harap dan damba Kristus kembali. Merayakan Natal banyak bahaya dan risikonya, tapi bukan berarti kita harus membuang perayaan Natal, ada bahaya dan risikonya menjadikan kita berhati-hati, itulah yg mau kita pelajari, merayakan Natal dengan hati-hati. Karena kita bisa jatuh dalam kemunafikan Natal, ke eksklusif Natal, kepuasan rohani yg palsu dalam Natal, dan juga kita bisa jatuh pada suasana gemerlapan serta kemewahan Natal, nyanyinya MALAM KUDUS,VSUNYI SENYAP, tapi hati kita hiruk pikuk, hingar bingar. Dalam Berita Natal, Tercatat di Alkitab secara jelas bahkan gamblang. Tanda yang diberikan para malaikat untuk menemukan Yesus adalah ".......terbaring di palungan" (Lukas 2 : 7, 12), Tanda ketersisihan  itu isyarat solidaritas Yesus dengan mereka yang terpaksa lahir atau bertempat tinggal di tempat-tempat yang tidak wajar, di gubug-gubug, perkampungan kota yang miskin atau di pondok-pondok reyot di desa. Palungan sebagai tanda ketersisihan itu menunjukan solidaritas Yesus dg mereka yang tidak mendapatkan tempat di masyarakat. Sepanjang hidup Yesus  menunjukan hal itu. Yesus solider dengan orang-orang yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat saat itu seperti pemungut cukai, pelacur, nelayan, orang lumpuh, orang buta, orang kusta, orang samaria, dll. Allah sebetulnya tidak hanya solider, simpati, atau toleran tetapi  berempati pada manusia dengan merapuhkan diriNya, menjadi bayi manusia yg lemah, ada di PALUNGAN, simbolnya adalah palungan. Allah, Sang Maha, yang sangat Maha, rela melawat manusia dalam kerapuhan untuk sesuatu yang bajik, yaitu keselamatan manusia. Dengan filosofi ataubteologi palungan yang seperti itu maka lebih baik merayakan natal dalam ibadah raya di gereja dan aksi solidaritas pada sesama. Mengingat situasi kondisi saat ini, PANDEMI BELUM USAI, walaupun sudah ke arah yang lebih baik, adalah baik kita bersolidaritas dengan pemerintah yang sedang berupaya mencegah BOOM 3 PANDEMI tidak terjadi di negeri ini, kita bersabarlah sedikit, mengadakan perayaan natal diluar ibadah raya di gereja menunjukan kita tidak memiliki solidaritas bahkan tidak memiliki empati pada pemerintah yang sudah jungkir balik mengatasi pandemi ini. Tindakan Covidiot yang menyebabkan penyebaran masif covid oleh karena perayaan atau pesta natal di luar ibadah raya di gereja, sungguh tindakan yg bertolak belakang dengan teologi atau filosofi palungan. Apa itu mengikut Yesus? Apa itu menjadi murid-Nya? Apa itu menjadi saksi-Nya? Apakah sekadar dibaptis lalu berstatus agama Kristen, itu berarti sudah mengikut Yesus, menjadi murid dan saksi-Nya? Setahu saya, ketika Yesus mengatakan, "Ikutlah Aku!" itu bukanlah soal agama. Ketika Dia menyebut keduabelas anak muda kawan-Nya sebagai murid, itu juga bukan soal agama. Begitu juga ketika Yesus mengutus para murid-Nya itu, mereka nggak diutus untuk menyebarkan agama. Check your Holy Bible if you don't believe me. Sepemahaman saya, mengikut Yesus berarti mencontoh cara pandang, perspektif, sikap, dan perbuatan-Nya. Menjadi murid Yesus berarti belajar memahami lalu menduplikasi teladan-Nya. Dan jadi saksi atau utusan Yesus berarti menyebarkan nilai-nilai yang Dia ajarkan: kasih, perdamaian, kepedulian, toleransi, dan hospitalitas. Dan itu nggak ada hubungannya sama agama.Kata Gus Aan Anshori, sudah nggak relevan lagi mengabarkan Injil untuk menjadikan orang lain menganut agama Kristen. Kabarkanlah nilai-nilai kekristenan kepada orang-orang Islam supaya mereka menjadi muslim yang damai, toleran, dan progresif, dan mau bersahabat dengan yang berbeda.

MASA ADVENT DAN NATAL
Untuk memahami teologi palungan maupun teologi kerapuhan, kita perlu mengerti betul makna ritual masa Advent dan natal. Kenapa kita perlu menghormati minggu² Adven? Apakah ini sok-sokan "tiru-tiru Katolik"? Atau kepatuhan normatif gereja pada kalender liturgi? Oh, bukan! Sama sekali bukan, Ferguso! Penghormatan pada minggu² Adven adalah karena ADA NARASI-NARASI di dalamnya yang perlu dihayati dan dimaknai dengan baik. Narasi-narasi tentang sosok-sosok lemah dan rapuh yang toh dipakai Tuhan untuk menghadirkan Yesus ke dunia. Yusuf yang penuh cinta, tapi juga rasa takut. Maria yang lemah namun akhirnya pasrah. Zakaria yang saleh namun juga skeptis. Elisabet yang bersembunyi namun dijumpai Maria. Orang-orang ini bukan tokoh-tokoh pinggiran. Mereka justru persis berada di bawah spotlight masa Adven. Kalau kita memadamkan sorotan itu lalu buru-buru menyanyikan "Malam Kudus" atau "Hai Mari Berhimpun", betapa miskin dan ruginya perjalanan iman kita. Seolah kita mau langsung menonton pertempuran pamungkas di "Avengers: Endgame", tapi tak mau menonton "Avengers: Infinity War". Kalau Paskah punya narasi-narasi Prapaskah yang dimulai dari pencobaan di pasang gurun hingga perjamuan terakhir, pembasuhan kaki, dan penyaliban, rasanya fair kalau kita pun menghormati narasi-narasi Pranatal alias Adven yang maknanya pun tak kalah mengagumkan dibandingkan kisah kelahiran bayi Yesus yang, katanya, dilahirkan di kandang hewan (padahal sih di dalam rumah). Bahkan dalam ritual Kristiani kuno, kalo prapaskah, dihidupi dengan 40 hari puasa, demikian hal nya Natal, dihidupi dengan 40 hari puasa pada masa Advent. Musim Adven, Adven itu musim dalam kalender liturgi gerejawi. Hanya ada satu atau sekali musim Adven dalam setahun kalender liturgi. Berapa panjang musim Adven? Sebelum menjawab panjang musim Adven, perlu dicatat bahwa Minggu adalah hari pertama, hari yang diyakini sebagai hari kebangkitan Kristus oleh umat Kristen. Minggu menjadi hari ibadah perayaan (selebrasi). Titik berangkat adalah Minggu. Gereja (Barat) menetapkan ada empat (hari) Minggu dalam musim Adven sebelum Natal. Apabila Natal jatuh pada Minggu, maka Minggu itu tidak dihitung sebagai Minggu Adven. Hari pertama musim Adven dimula dari Minggu pertama (yang berjumlah empat Minggu itu). Empat Minggu di sini bukan empat pekan yang berjumlah 28 hari. Musim Adven tahun ini sepanjang 27 hari yang dimula 28 November 2021 sampai 24 Desember sebelum Maghrib. Jika Natal jatuh pada Senin, maka panjang musim Adven hanya 22 hari, karena musim Adven dimula 3 Desember. Jika ada Minggu Adven, apakah ada Senin Adven, Selasa Adven, dst.? Ada! Mengapa Senin Adven tidak pernah disebut? Tentu saja akan disebut secara khusus apabila Kristus sejak semula bangkit pada Senin. Mengapa menyebut Minggu Adven I, Minggu Adven II, dst. itu keliru? Seperti yang saya sampaikan di atas bahwa Adven itu musim dan hanya sekali dalam setahun kalender liturgi. Yang berjumlah empat adalah (hari) Minggu, bukan musim Advennya. Masih belum paham? Begini, apakah benar mengatakan Senin Januari I, Selasa Januari I, Jumat Januari IV? Titik Pandang [Minggu III Adven, Tahun C]. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu yang dimula dari misteri Paska. Para tokoh gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. Masa Adven dibuat untuk memersiapkan umat meningkatkan spiritualitas guna menyambut puncak perayaan Natal dan diakhiri dengan Epifania. Advent creates people, new people, kata Dietrich Bonhoeffer. Adven bukan untuk mencetak orang Kristen soda gembira, yang berpesta dan bersemangat seperti buih yang keluar dari kaleng/botol minuman bersoda, namun tak seberapa lama ia kempis tak berdaya. Adven bukan soal penantian, melainkan apa yang kita kerjakan dalam masa penantian. Yohanes mengisi penantiannya dengan bekerja menyiapkan “infrastruktur” bagi Kristus. Namun bekerja tanpa standard operating procedure atau SOP dapat keliru. Adven berarti memberi pertolongan nyata kepada mereka yang membutuhkan pertolongan, bukan memberi nasihat. Adven berarti bekerja sesuai dengan kapabilitas, sesuai dengan wewenang, sesuai dengan SOP untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik. Natal bisa dirayakan kapan saja, kata banyak orang. Pendapat itu omong kosong. Saya belum pernah melihat yang berpendapat seperti itu merayakan Natal pada Mei, Juni, Juli, Jupri. Seluruh hari raya tahunan umat Kristen bermula dari dan berpusat pada misteri Paska, kebangkitan Kristus. Perayaan Paska tahunan berangkat dari perayaan Paska pekanan. Umat Kristen perdana pada hari pertama (bahasa Indonesia menyebut Minggu) dalam pekan memiliki kebiasaan berkumpul, memecah roti, serta makan dan minum bersama (simposium). Perlu kita catat pada zaman doeloe hari baru dimula tepat sesudah matahari terbenam atau selepas Maghrib, bukan tengah malam. Umat Kristen perdana pada waktu itu tetap tidak meninggalkan kebiasaan ibadah pada Sabat (atau Sabtu), hari ketujuh dalam pekan. Sesudah mereka beribadah dilanjutkan dengan simposium pada Sabtu malam, yang sudah merupakan hari baru, hari pertama (atau Minggu) dalam pekan, hari kebangkitan Kristus. Dalam simposium ini mereka saling berbagi cerita atau ngobrol sampai larut malam bahkan pagi. Tema utama yang dibicarakan adalah kebangkitan Kristus dan karya-karya-Nya. Orang yang memiliki banyak pengetahuan mengajar. Kadang membosankan sehingga membuat pendengar mengantuk dan terjatuh (lih. Euthikus dalam Kis. 20:7-12). Para pendeta yang tidak lihai berkhotbah tidak perlu berkecil hati, karena Rasul Paulus pun membuat orang mengantuk dan terjatuh, bahkan mati. Ibadah Kristen tidak berangkat dari kekosongan atau kesengajaan rencana, melainkan dengan guliran dan kumparan narasi dan budaya untuk membangun makna. Kebiasaan bersimposium ini kemudian dijadikan ritual ibadah Minggu. Jadi, pada dasarnya ibadah Minggu adalah perayaan Paska, kebangkitan Kristus. Dari ibadah Minggu ini kemudian ditetapkan perayaan Paska tahunan. Tanggal Paska tahunan ditetapkan pada Minggu pertama sesudah Paska Yahudi (14 Nisan) atau Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret (equinox). Singkat cerita dari Paska tahunan itu ditetapkan masa Pra-Paska dan hari raya tahunan lainnya. Natal adalah hari raya tahunan “paling muda”. Seperti halnya Paska yang diawali dengan masa raya persiapan yang disebut Pra-Paska, Natal pun dibuat masa raya persiapan yang disebut Adven. Pada awalnya masa Adven dimula 40 hari sebelum Epifania, 6 Januari. Terjadi masalah karena permulaan masa Adven bukan berangkat dari hari pertama (Minggu). Akan tetapi Gereja Barat mengakhiri masa Adven sebelum 25 Desember, karena tanggal itu sudah ditetapkan sebagai kelahiran Yesus. Pada abad ke-6  Paus Gregorius Agung menetapkan masa adven dimula hari pertama (Minggu) dan ada empat Minggu sebelum Natal. Apabila Natal jatuh pada Minggu, maka Minggu itu tidak ikut dihitung. Masa Adven berakhir pada 24 Desember sebelum matahari terbenam. LDalam perayaan liturgi Adven Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias. Dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan tercukupkan menjelang Sang Firman nuzul menjadi Manusia dan sekaligus membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya kembali. Pada sisi satu umat beriman merefleksikan ulang dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus sekitar dua ribu tahun (lebih sedikit) lalu. Umat beriman merenungkan ulang misteri Sang Firman Nuzul menjadi Manusia. Pada sisi lain umat beriman mengingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Gereja membuat dua pembabakan leksionari untuk memudahkan umat menghayati makna Adven. Babak pertama, Minggu I dan II Adven pembacaan memerikan gatra eskatologis. Apa itu eskatologis? Secara sederhana eskatologis ialah penantian kedatangan kembali Kristus. Babak kedua, Minggu III dan IV Adven pembacaan memerikan gatra pengenangan (anamnesis) kelahiran Kristus. Pada 24 Desember sesudah matahari terbenam menurut tradisi adalah hari baru. Untuk itulah 24 Desember selepas Maghrib disebut Malam Natal, malam kelahiran. Frase Malam Natal tidak sama dengan Malam Minggu yang belum Minggu. Malam Natal adalah malam kelahiran, sudah Natal. Natal dimula 24 Desember selepas Maghrib. “Apa referensi kamu bilang Malam Natal sudah Natal?” “Lihat saja bacaan Alkitab sedunia pada Malam Natal dari Injil Lukas 2:1-14.” Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Para tokoh gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. Dari pemaknaan perayaan liturgi di atas adalah sungguh tidak tepat merayakan Natal pada masa Adven. Merayakan Natal pada masa Adven tidak ubahnya seperti mengadakan halalbihalal di bulan Ramadan. Sama halnya merayakan idul Fitri di bulan puasa. Awal minggu adven ada teman merayakan natal. sepulangnya dia ngucapkan selamat natal kepada orang2 yg ditemuinya dg ucapan selamat natal. Semua pada bengong.

ALLAH YANG MERAPUH
Dalam kerapuhan insani, kita dipanggil untuk merayakan hidup dengan kebajikan. Kebajikan tumbuh karena dengan sengaja disemai, ditumbuh-kembangkan, dan dilatih melalui kebiasaan (habit) dan praktik-praktik sosial (social practices) hingga pada akhirnya menjadi kebajikan (Paulus Sugeng Widjaja, 2020, hal. 143). Ketika kita merayakan kerapuhan dengan kebajikan, kita menghayati bahwa setiap tindakan bajik kita bukanlah karena kita kuat, mampu melakukan tindakan baik, berhikmat, apalagi melakukan kebajikan demi mendapat nama baik dan imbalan. Tindakan bajik dilakukan karena kita terus menjai manusia bajik di tengah kerapuhan insani. Kesadaran sebagai pribadi yang rapuh menumbuhkan semangat untuk saling berbagi kehidupan, melangkah bersama dengan saling menularkan cinta, pengharapan, dan iman. Dengan tindakan-tindakan kebajikan itulah kita merayakan kerapuhan sebagaimana yang telah diteladankan Tuhan Yesus melalui kedatangan-Nya di dunia. Bagi sebagian kalangan, Natal kerap dianggap sebagai puncak perayaan keagamaan orang Kristen. Pengalaman membuktikan, tidak hanya gereja tapi setiap keluarga menyiapkan budget lebih untuk merayakannya. Dari berbagai pengalaman pula, dijumpai gereja-gereja secara tidak langsung berlomba-lomba untuk membuat pohon natal ter-unik, ter-besar, dan ter-ter yang lain. Karena itu, tidak jarang, membuat pohon natal termasuk hal yang paling dipusingkan oleh panitia natal. Mall-mall juga ikut ambil bagian dalam euforia Natal. Namum di sana, palungan dan bayi Yesus tidak jarang digantikan oleh tokohtokoh superhero dan animasi yang populer di kalangan anakanak. Mungkin Malam Natal di tengah pandemi saat ini menyadarkan kita akan betapa rapuhnya kita sebagai manusia. Sekaligus kita disadarkan bahwa kelahiran Yesus ditengah dunia ini penuh dengan unsur kerapuhan. Arti “Raja yang Merapuh” di sini bukan berarti Yesus menjadi tua dan renta, tidak berdaya. Namun Yesus memilih untuk jadi “rapuh”. Menjadi manusia dan terlibat dengan dunia yang penuh kerapuhan.Sang Raja yang Merapuh adalah Yesus Kristus yang lahir ditengah segala kerapuhan dunia ini. Merapuhnya Allah menjadi manusia adalah wujud cinta dan bela rasa yang sejati untuk memulihkan dunia ini dari kuasa jahat yang menguasai. Kelahiran Yesus menyadarkan kita akan Allah yang merapuh di tengah kerapuhan manusia. Kesedianya merapuh adalah wujud belarasa Allah pada dunia. Di sinilah kita diingatkan untuk menjauhkan diri dari sikap jumawa karena alasan apapun. Setelah kita menyadari bagaimana Sang Raja itu merapuh dan lahir di tengah dunia ini. Maka seharusnya fokus utama kita bukan lagi pada pernak pernik Natal dan dekorasinya. Namun pada Yesus yang lahir. Yesus yang mewujudkan cinta damai di dunia ini. Maka daripada menghabiskan waktu dan tenaga untuk membuat pohon natal, lebih baik mewujudkan cinta dan damai di tengah keluarga. Mungkin setahun berlalu banyak luka dan keretakan dalam keluarga. Selesaikanlah itu. Berkumpulah bersama keluarga, makan bersama, dan bukalah hati bagi anggota keluarga kita. Akuilah kesalahan kita, bertobat, dan mualilah lembaran yang baru.Surat Paulus kepada Titus mengajarkan bahwa perayaan yang benar seharusnya diwujudkan dalam bentuk sikap dan perbuatan yang benar juga. Manusia memang rapuh namun kasih karunia Allah yang menyelamatkan mendidik kita untuk meninggalkan kejahatan. Malam Natal ini mengajak kita lebih jujur terhadap diri kita sendiri juga terhadap apa yang menjadi fokus utama dalam perayaan Natal? Apakah ibadah yang megah? Dekorasi yang cocok buat selfie? atau Yesus Kristus yang lahir di palungan? Natal merupakan perayaan syukur yang melahirkan kebaikan bagi seluruh ciptaan. Bukan hanya meneruskan tradisi tetapi menciptakan kebaikan dalam situasi aktual saat ini. Pandemi Covid-19 merupakan situasi aktual yang membuat kita meratapi kehidupan. Realita hidup ini juga semakin menyadarkan akan kemelekatan kerapuhan kita sebagai ciptaan. Sehingga membutuhkan harapan dari Sang Pencipta. Berharap ada benih-benih yang tumbuh di tengah kemurungan yang harus kita jaga dan rawat. Berharap melalui tubuh-tubuh yang mati dapat memberikan dan menjadi pupuk bagi kehidupankehidupan baru. Harapan inilah yang disebut natalitas dalam kerapuhan. Natalitas merupakan keterlahiran setiap saat ke dalam kebaruan kekal. Hanna Arendt mengatakan prinsip dari natalitas ialah setiap manusia pada dasarnya memiliki kemampuan kreatif untuk melahirkan sesuatu yang baik bagi lingkungan masyarakat. Kemampuan kreatif ini merupakan cerminan dari Allah yang selalu melakukan tindakan-tindakan kreatif dalam mengupayakan keselamatan ciptaan. Melalui natalitas inilah akan membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi kehidupan yang senantiasa memperbarui dunia.Natal merupakan bentuk natalitas Allah yang kongkret. Allah yang tak terbatas dan terjangkau oleh ciptaan itu menjadikan dirinya terbatas untuk menjangkau dan merengkuh seluruh ciptaan dalam persekutuan cinta kasih-Nya yang kekal. Allah yang kekal masuk dalam kefanaan untuk merengkuh kerapuhan ciptaan-Nya. Dalam kerapuhan insani, kita dipanggil untuk merayakan hidup dengan kebajikan. Kebajikan tumbuh karena dengan sengaja disemai, ditumbuh-kembangkan, dan dilatih melalui kebiasaan (habit) dan praktik-praktik sosial (social practices) hingga pada akhirnya menjadi kebajikan (Paulus Sugeng Widjaja, 2020, hal. 143). Ketika kita merayakan kerapuhan dengan kebajikan, kita menghayati bahwa setiap tindakan bajik kita bukanlah karena kita kuat, mampu melakukan tindakan baik, berhikmat, apalagi melakukan kebajikan demi mendapat nama baik dan imbalan. Tindakan bajik dilakukan karena kita terus menjai manusia bajik di tengah kerapuhan insani. Kesadaran sebagai pribadi yang rapuh menumbuhkan semangat untuk saling berbagi kehidupan, melangkah bersama dengan saling menularkan cinta, pengharapan, dan iman. Dengan tindakan-tindakan kebajikan itulah kita merayakan kerapuhan sebagaimana yang telah diteladankan Tuhan Yesus melalui kedatangan-Nya di dunia. Natalitas dalam diri manusia dapat terjadi karena kemurahan dan kasih Allah. Bukan karena usaha kita, tetapi karena rahmat-Nya di dalam Sang Anak melalui Roh Kudus yang memberikan manusia kelahiran baru dan hidup baru. Sehingga bangsa Israel lama (dalam pembuangan) dapat menjadi Israel Baru yang Kudus, sebagai “orang-orang tebusan TUHAN” karena TUHAN tidak berdiam diri untuk mencari dan meninggalkan.Inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus juga merupakan bentuk Natalitas Yesus dari Allah sehingga membuka harapanharapan baru bagi kehidupan. Oleh karena ketika Sang Firman itu berbicara tentang kasih. Ini bukan teori, tetapi seluruh hidupNya memperagakan itu. Ketika Ia berbicara tentang pengampunan, itu pun bukan sebuah dogma tetapi apa yang dipentaskan melalui kehidupan-Nya sehingga orang segera mengerti apa itu pengampunan. Ia tidak mengumbar kuasa dan mujizat-Nya untuk kepentingan diri sendiri. Ia melakukannya demi merengkuh kerapuhan ciptaan. Bagi orang percaya yang telah menerima natalitas tentu saja cintanya tidak lagi menjadi cinta yang ekslusif melainkan cinta kepada dunia (amor mundi) sebagaimana Allah mencintai dunia. Orang percaya dipanggil untuk menerjunkan diri ke dalam dunia dan membuahkan lagi natalitas-natalitas bagi sesama dan seluruh ciptaan. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, 2021, TITUS ROIDANTO

MARCOPOLO DAN ORANG MAJUS, SERIAL ARKEOLOGI BIBLIKAL

MARCO POLO DAN ORANG-ORANG MAJUS, SERIAL ARKEOLOGI BIBLIKAL
Ceritanya lagi baca-baca beberapa referensi tentang orang-orang Majus sebagai persiapan pelayanan seminar atas undangan sebuah gereja. Salah satu yang saya baca adalah buku catatan perjalanan Marco Polo (abad ke-13 M)………… dan sampailah pada bagian yang menarik (Chapter 13), di mana Marco Polo mencatat bahwa dia sampai di sebuah kota kecil yang bernama Saba, Savah atau Saveh, yang sekarang termasuk negara Iran. Di Saba, terdapat bangunan makam yang indah yang sampai saat itu dipelihara oleh penduduk setempat, walaupun mereka tidak tahu sejarahnya. Penduduk Saba hanya mengatakan bahwa bangunan itu adalah makam kuno tiga orang Majus. Marco Polo juga mencatat bahwa di dalam makam tersebut masih dapat ditemui adanya tiga jazad yang masih lengkap dengan rambut dan janggutnya.Ini menarik !!! Saba, Savah atau Saveh terletak di Jalur Sutra, jalur atau rute perdagangan yang menghubungkan Eropa, Konstantinopel dan Cina. Jalur Sutra darat yang dilalui oleh Marco Polo. Saba, Savah atau Saveh sekarang terletak kurang dari 200 km arah Barat Daya dari Teheran, Iran. Penduduk asli Iran kuno (Persia) dalam kehidupan sehari-hari sangat lekat dengan kepercayaan Zoroastrianisme, yang maju dalam hal penanggalan, perbintangan dan ramalan-ramalan, atau dalam konteks modern sering dikaitkan dengan ilmu astronomi. Hal ini yang membuat komunitas ini dijuluki sebagai orang-orang bijak. Hal ini sesuai pula dengan catatan Matius (Mat 2:1-12), tentang orang-orang Majus yang disebut sebagai orang-orang bijak dari Timur. Marco Polo memulai perjalanannya dari Venesia ke China (Jalur Sutra) pada tahun 1270-an. Berdasarkan catatan harian perjalanannya, dia masih menemukan jazad tiga orang Majus di dalam makamnya. Hal ini bertentangan dengan tradisi gereja kuno yang mencatat bahwa Helena, ibu Kaisar Konstantine, telah menemukan makam tiga orang Majus di suatu tempat, kemudian membawa relik-relik ketiganya ke Konstantinopel. Selanjutnya relik ketiga orang Majus tersebut dipindahkan lagi ke gereja Santo Eustorgio di Milan, Itali. Kemudian pada tahun 1164, ketiganya dibawa ke Katedral Cologne, di Jerman dan dimakamkan di dalam sebuah sarkofagus di katedral tersebut, sampai sekarang. Helena hidup pada abad 3-4 M, apabila catatan tradisi gereja tersebut benar, seharusnya Marco Polo sudah tidak dapat menemukan jazad ketiga orang Majus, yang di dalam catatan Marco Polo bahkan disebutkan masih lengkap dengan rambut dan jenggotnya. Sangat disayangkan, saat ini sudah tidak dapat ditemukan lagi reruntuhan makam tersebut. Penelitian arkeologis yang lebih mendalam sangat diperlukan untuk mengungkap kebenarannya. Namun, yang manapun versi yang benar, keduanya sudah menunjukkan bahwa cerita orang-orang Majus dari Timur yang mengunjungi Yesus dengan membawa persembahannya bukanlah sebuah dongeng belaka. Tuhan Yesus memberkati. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, 2021, TITUS ROIDANTO

Sumber referensi:
Manuel Komroff (ed.), “The Travel of Marco Polo (The Venetian)”, Northon & Co., New York, London, 1930.
 Dalrymple, “In Xanadu: A Quest” Tanpa angka tahun.

Sabtu, 11 Desember 2021

💫SABDA NYUNAR💫Untuk masa depan yang Lebih baik

💫SABDA NYUNAR💫Untuk masa depan yang Lebih baik, "The celebration of Advent is possible only to those who are troubled in soul, who know themselves to be poor and imperfect, and who look forward to something greater to come." Dietrich Bonhoeffer.  Yang mengatakan bahwa perayaan natal boleh dirayakan di tanggal mana saja, nyatanya tak pernah ngrayain natal di bulan juni, juli, dan jupri, tapi ngrayain natal di masa advent, jadi ambigu buanget thow. Dapat dikatakan semua orang Kristen tahu bahwa Yesus tidak dilahirkan pada 25 Desember secara objektif historis. Yang tak semua diketahui adalah latar belakang penetapan 25 Desember sebagai Hari Natal. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu yang dimula dari misteri Paska. Para tokoh gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. Masa Adven dibuat untuk memersiapkan umat meningkatkan spiritualitas guna menyambut puncak perayaan Natal dan diakhiri dengan Epifania. Advent creates people, new people, kata Dietrich Bonhoeffer. Adven bukan untuk mencetak orang Kristen soda gembira, yang berpesta dan bersemangat seperti buih yang keluar dari kaleng/botol minuman bersoda, namun tak seberapa lama ia kempis tak berdaya, Adven bukan tempatnya pula merayakan natal, itu seperti merayakan paskah di masa prapaskah, merayakan idul fitri di bulan puasa. Mirip pesepakbola yang jingkrak-jingkrak mendapat hadiah penalti, tetapi kemudian gagal mencetak gol dari titik putih. Jürgen Klopp sebal apabila melihat pemain-pemainnya bersorak gembira karena mendapat hadiah penalti. “Mereka merayakan hal yang salah,” kata Klopp. Tidak ada gunanya bersukaria atas hadiah penalti, jika pemain tidak berhasil mengalihrupakannya menjadi gol. Target bersepakbola adalah mencetak gol, bukan mencari hadiah penalti, tukas Klopp. Coba perhatikan bacaan 1 untuk Advent ke 3 ini dari Zefanya 3:14-20, Nabi Zefanya bernubuat pada masa pemerintahan Raja Yosia Bin Amon di Yehuda (Zef. 1: 1),  Ia pun menyerukan pertobatan kepada Yehuda untuk kembali kepada hukum Tuhan,  mencari keadilan, mencari kerendahan hati, dan berharap akan perlindungan TUHAN pada hari kemurkaan-Nya. Di bawah pemerintahan raja Yosia, Yehuda diarahkan agar kembali kepada Tuhan. Jadi, masa Advent adalah masa pertobatan dalam penantian kedatangan Tuhan kembali, shg tidak cocok kalo dimasa pertobatan malah merayakan natal, blon saatnya, blon waktunya. Lihat tanggapan di advent ke 3 ini lewatYesaya 12:2-6, Kitab Yesaya diawali dengan penyampaian pesan nabi Yesaya tentang penghakiman dan pengharapan bagi Israel. Pemberontakan umat Israel atas perjanjian dengan Allah dalam penyembahan berhala dan perilaku tidak adil yang terjadi di dalam kehidupan umat akan mendatangkan penghukuman atas Israel. Allah akan mendatangkan bangsa-bangsa asing (termasuk bangsa Asyur) untuk menghancurkan Yerusalem. Itu bagaikan api permurnian yang akan membakar habis perilaku Israel yang menyimpang dan tidak berguna. Berita pemurnian itu menegaskan bahwa Yerusalem (yang penuh cela dan dosa—Yerusalem Lama) akan runtuh (Yes. 3:8), dan dari sisa-sisa umat Israel yang terserak akan muncul umat yang setia dan sungguh-sungguh bersandar pada Tuhan (Yes 10:20-21). Bahkan, dari umat yang telah dimurnikan itu, kelak akan datang seorang raja damai, imanuel, yang akan memerintah dengan adil dan membawa damai sejahtera. Jadi, masa Advent itu dihayati sebagai masa pemurnian, dalam masa pemurnian ini ritual komunitas kristiani kuno menghayati nya dengan masa puasa selama 40 hari sebelum natal tiba, seperti halnya masa prapaskah, mosok di masa pemurnian, di masa Advent, yang dihayati dengan puasa dan pantang, kita malah ngerayain natal...tepok jidat. Bacaan  Lukas 3:7-18, Bacaan Injil Lukas pada Minggu ketiga masa Adven ini meneruskan kisah Yohanes (Pembaptis) yang menyiapkan “infrastruktur” bagi Kristus di daerah Yordan. Yohanes sibuk mengajar orang-orang dan membaptis mereka. Katanya, “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah berpikir dalam hatimu ‘Abraham adalah bapa kami’ karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.” (ay. 7-9). Entah mengapa  membaca ini langsung tertawa geli, teringat suatu gereja yang mendaku paling reformed dan paling injili. Dengan mengusung ideologi predestinasi mereka mendaku bahwa merekalah yang dipilih untuk diselamatkan. Dalam pada itu ada juga gereja yang mendaku paling rasuli, terus memelihara tradisi rasuli. Gereja-gereja lain diberi stigma sudah menyeleweng dari ajaran yang ortodoks (lurus). Namun Yohanes berkata kepada orang-orang itu,“Hai kamu keturunan ular beludak!” Dalam bahasa sehari-hari Yohanes mau mengatakan,“Kamu tuh bukan siapa-siapa. Kamu kayak batu tuh!” Kembali lagi ke bacaan, orang-orang yang ditegur oleh Yohanes itu bertanya,“Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” Jawabnya,”Barangsiapa memiliki dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa memiliki makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.” (ay. 10-11), masa advent adalah masa membangun solidaritas, karena teladan kita adalah Allah yang merapuh untuk menyelamatkan manusia, Allah yang solider menyelamatkan manusia, seharusnyalah di masa advent kita solider ada pemerintah yang jungkir balik mencegah boom ke 3 pandemi, memberi peluang merayakan natal di luar ibadah raya di gereja, adalah tindakan yang tak mencerminkan penghayatan akan advent dan natal, tindakan yang menggambarkan ketidak solideran,  bila menghayati makna advent dan natal, seharusnyalah tidak merayakan natal saat advent, la....wong gereja dan liturgi bernuansa ungu bahkan pengkhotbah serta majelis aja berstola ungu, mosok mau ngrayain natal di masa advent, konon masa Advent adalah masa pertobatan, masa penantian, dan masa puasa, dalam kosmologi Israel kuno masa penantian itu sama dengan masa berkabung.  trus.......aaapaaa yang dimaksud p enghayatan Advent  natal? Kalo natal saja dirayain di masa advent. Dalam kehidupan sehari-hari kita acap menjumpai penghibur-penghibur sialan baik di medsos maupun di sekitar kita. Istilah “penghibur sialan” ini saya ambil dari Kitab Ayub 16:2. Orang lapar diberi nasihat, bukan makanan. Orang kedinginan diberi nasihat, bukan pakaian. Itu sebabnya Ayub kesal dan berang kepada orang-orang seperti itu. “Penghibur sialan kamu semua!” kata Ayub. Kembali ke laptop. Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepada Yohanes, "Guru, apakah yang harus kami perbuat?" Jawabnya,”Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu.” (ay. 12-13). Dalam bacaan Injil prajurit-prajurit bertanya juga kepada Yohanes,”Apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka,”Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (ay.14). Banyak orang kemudian bertanya-tanya apakah Yohanes adalah Mesias, karena selama ini orang-orang Yahudi sangat menanti dan berharap kepada Mesias. Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu,”Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” (ay. 15-17). Adven bukan soal penantian, melainkan apa yang kita kerjakan dalam masa penantian, lucunya lagi bila di masa penantian malah ngrayain natal....hadeweeee. Yohanes mengisi penantiannya dengan bekerja menyiapkan “infrastruktur” bagi Kristus. Namun bekerja tanpa standard operating procedure atau SOP dapat keliru. Dalam konteks Indonesia bekerja tentulah menggunakan payung hukum seperti Undang-Undang sebagai SOP. Bukan bekerja seenak perut, bukan melebihi wewenang yang sudah ditetapkan oleh SOP. Polisi dan ASN yang sudah ditetapkan oleh SOP sebagai pelayan masyarakat, jadilah pelayan masyarakat. Memeras masyarakat untuk membayar pekerjaannya yang sudah dibayar oleh negara adalah melebihi wewenang. Presiden Joko Widodo pernah mengatakan bahwa dapat saja pemerintah menyenangkan semua orang dengan menyebar subsidi BBM, bantuan sosial, atau bantuan langsung tunai sebanyak-banyaknya kepada masyarakat. Namun bukan untuk itu tujuan pembangunan, kata Jokowi. Pembangunan perlu proses yang kadang pahit, menyakitkan, yang akan membawa Indonesia menuju negara yang maju di masa depan untuk kita dan generasi mendatang, imbuhnya. Adven berarti memberi pertolongan nyata kepada mereka yang membutuhkan pertolongan, bukan memberi nasihat. Adven berarti bekerja sesuai dengan kapabilitas, sesuai dengan wewenang, sesuai dengan SOP untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻Selamat memaknai Advent🙌🏻🙌🏻🙌🏻Tuhan memberkati

Jumat, 03 Desember 2021

SUDUT PANDANG LUKAS 3:1-6 MENYIAPKAN JALAN, SERIAL NATAL, SERIAL NATAL

SUDUT PANDANG LUKAS 3:1-6 MENYIAPKAN JALAN, SERIAL NATAL

 “There are three stages of man: he believes in Santa Claus; he does not believe in Santa Claus; he is Santa Claus." Bob Phillips. Gereja membuat dua pembabakan leksionari (daftar bacaan) untuk memudahkan umat menghayati makna Adven. Babak pertama, Minggu I dan II Adven pembacaan memerikan gatra eskatologis. Secara sederhana eskatologis ialah penantian kedatangan kembali Kristus. Babak kedua, Minggu III dan IV Adven pembacaan memerikan gatra pengenangan (anamnesis) kelahiran Kristus. Minggu ini masih dalam babak pertama. Umat beriman mengambil bagian dalam persiapan tercukupkan dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya kembali seperti dalam dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Di dalam teks-teks Alkitab tidak pernah disebut “Yesus akan datang kedua kalinya”. Frase “Yesus akan datang kedua kalinya” adalah cacat teologis yang berimplikasi bahwa antara pertama dan kedua Yesus tidak pernah hadir di tengah-tengah umat-Nya yang beribadah saban Minggu sebagai misal. Frase yang sesuai dengan teologi Kristen adalah Yesus datang kembali. Kapan? Kita tidak pernah tahu. Terserah Beliau. Bisa kemarin, hari ini, atau besok. Dalam Kisah Para Rasul dapat kita lihat sesudah Yesus naik ke surga, Yesus hadir menjumpai Paulus dalam perjalanannya ke Damsyik. Itu berarti frase Yesus datang kembali tidak dapat disulih dengan angka urut kedua. Dalam pada itu Yesus sendiri sampai lima kali menjanjikan kehadiran Roh Kudus untuk meneruskan karya-karya-Nya (lih. Yoh. 14:16-17, 25-26; 15:26-27; 16:7-11, 12-15). Kehadiran Roh Kudus berarti kehadiran Kristus (lih. 2Kor. 3:17). Untuk itulah dalam teologi Kristen kedatangan Kristus kembali dipahami sudah, sedang, dan akan terjadi. “Sudah” dipahami bahwa kehadiran Kristus sudah terjadi sekitar dua ribu tahun lalu dan selalu berada di tengah-tengah umat beriman sepanjang berabad-abad sampai kemarin atau sebelum sekarang. “Sedang” dipahami bahwa kehadiran Kristus sedang terjadi di tengah-tengah umat saat ini. “Akan” dipahami kehadiran Kristus selalu dirindukan dan diharapkan oleh umat beriman. Bacaan Minggu ini Lukas 3:1-6. Bacaan Injil Lukas pada Minggu kedua masa Adven ini menampilkan Yohanes (Pembaptis) di padang gurun dan datanglah firman Allah kepadanya. Ia kemudian mendatangi ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!” Ia kemudian mengutip kitab nubuat-nubuat Nabi Yesaya. Katanya, “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.” Dari bacaan di atas kita melihat firman Allah mendatangi Yohanes di padang gurun. Dari sini dapat kita tafsirkan hidup Yohanes menyendiri di padang gurun. Ia tidak bergeming, tetapi ia bergerak untuk bekerja. Apa yang dikerjakannya? Memersiapkan jalan untuk Tuhan. Ia bergiat mewartakan pertobatan dan kemudian membaptis orang-orang sebagai tanda pertobatan di daerah Yordan. Menanti bagi Yohanes tidak berdiam diri di padang gurun. Ia bekerja memersiapkan “infrastruktur” untuk Kristus. Dalam Pembukaan UUD 1945 satu tujuan negara Republik Indonesia ialah memajukan kesejahteraan umum dengan berlandaskan atas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejak menjadi orang nomor satu Indonesia, Presiden Joko Widodo menggenjot pembangunan infrastruktur. Jokowi pernah mengatakan bahwa infrastruktur bukanlah tujuan. Pembangunan infrastruktur juga jangan dilihat dari gatra ekonomi saja. Jokowi kemudian mengutip lagu “Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung-menyambung menjadi satu. Itulah Indonesia.” Infrastruktur dibangun untuk menyambung pulau-pulau di Indonesia menjadi satu. Infrastruktur bukanlah tujuan, melainkan jalan untuk memajukan kesejahteraan umum dengan berlandaskan atas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.” “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya…” merupakan ungkapan yang pas bagi kerja keras Jokowi untuk menuju  kesejahteraan umum dengan berlandaskan atas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adven yang dikerjakan oleh Yohanes (Pembaptis) amat terang dikerjakan oleh Jokowi. Adven merupakan kesibukan bekerja dalam rangka menuju kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesejahteraan tidak datang sekonyong-konyong. Ia perlu Adven. Adven bukanlah tujuan. Ia merupakan jalan untuk mencapai tujuan. Belum waktunya berpesta karena memang kita belum tiba di tujuan.Jadi, gak perlu pakai pesta, apalagi dilabeli pesta natal, perayaan natal, cukup ibadah raya natal, dan itupun dilakukan di gereja, untuk menghikmati keterhisapan kita pada anugerah persekutuan Tuhan dalam menghikmati Natal, Tuhan yang merapuh menjadi manusia, Tuhan melawat manusia, untuk menyelamatkan kan manusia, Tuhan berkarya 🙏🙏🏻🙏🏻Selamat menikmati masa Advent🙌🙌🏻🙌🏻Tuhan memberkati

Selasa, 02 November 2021

💫SABDA NYUNAR💫, “The love of God is the root of all evil.”

💫SABDA NYUNAR💫,  “The love of God is the root of all evil.”, Taj Mahal berarti Mahkota Istana. Menurut legenda Taj Mahal merupakan bangunan kubur bagi istri Shah Jahan dari Kekaisaran Mughal yang bernama Mumtaz ul Zamani. Mumtaz adalah pedagang manik-manik. Pangeran Shah Jahan jatuh cinta kepadanya. Pada 1612 Shah Jahan menikahi Mumtaz dan menjadikannya istri ketiga. Pada saat ia naik tahta pada 1628, nama Mumtaz diubahnya menjadi Mumtaz Mahal yang berarti Permata Istana. Jahan sangat mencintai Mumtaz. Ketika Mumtaz melahirkan anak ke-14 bagi Shah Jahan, ia meninggal. Saking cintanya Jahan pada Mumtaz ia membangunkan suatu istana peristirahatan yang ground breaking-nya dihelat pada 1631. Projek dipimpin oleh arkitek Ahmad Lahauri dengan melibatkan lebih daripada 20 ribu pekerja. Projek diselesaikan lengkap dalam waktu 20 tahun dengan menghabiskan dana sekitar 956 juta dolar (jika disetarakan dengan uang masa kini). Taj Mahal menjadi bukti cinta Shah Jahan kepada Mumtaz Mahal. Menurut legenda lagi ibu jari arkitek dan para pekerja konstruksi dipotong atas perintah Shah Jahan sesudah pembangunan selesai. Dengan begitu mereka tidak bisa membuat bangunan serupa Taj Mahal. Pada satu sisi Shah Jahan terperi romantis dan begitu mencintai istrinya, pada lain sisi ia berlaku bengis kepada sesama manusia. Bacaan Alkitab dari Injil Markus 12:28-34. Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan Yesus didatangi seorang ahli Taurat. Ahli Taurat ini sudah mendengar dari para koleganya bahwa Yesus lihai bersoaljawab dan selalu memberikan tanggapan tepat kepada mereka. Ia mengajukan pertanyaan kepada Yesus, “Perintah manakah yang paling utama?” Yesus menjawab, “Dengarlah, hai orang Israel, TUHAN Allah kita, TUHAN itu esa. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap akalbudimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah kedua: kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah itu.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawaban orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Sesudah itu seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. Dari bacaan di atas kita mengerti bahwa para pemimpin agama di Tanah Yudea berusaha mencari celah kesalahan Yesus dalam mengajar. Yesus dianggap ancaman bagi para pemimpin agama. Untuk itulah mereka terus menerus menguji Yesus dengan harapan ada kesalahan ajaran Yesus. Ahli Taurat di atas tidak ketinggalan mau menguji Yesus. Rupanya jawaban Yesus mengejutkannya. Yesus tidak melenceng dari ajaran tauhid. Meski demikian menurut Yesus ajaran tauhid tidaklah berarti apa-apa tanpa manusia mengasihi sesamanya. Tidak mungkin orang mengasihi Allah yang tak tampak, jika ia tidak mengasihi sesama manusia yang kasat mata. Apa ukuran mengasihi sesama menurut Yesus? Ukurannya ialah seperti mengasihi diri sendiri.  Ahli Taurat itu bersetuju dengan Yesus dan menurutnya juga mengasihi sesama manusia jauh lebih utama daripada ritual agama. Mengasihi sesama manusia jauh lebih penting daripada menjalankan aturan-aturan agama. Yesus membenarkan ahli Taurat itu bahkan ia tidak jauh dari Kerajaan Allah. Kita sudah mengerti bahwa misi Kerajaan Allah menurut Yesus ialah menghadirkan keadilan sosial di seluruh lapisan masyarakat terutama masyarakat yang terpinggirkan, yang tidak berdaya. Di lingkungan Kristen kedua perintah itu dikenal dengan Hukum Kasih. Di Indonesia masyarakatnya gandrung pada ritual agama untuk menyatakan cinta pada Allah. Orang menunjukkan cinta pada Allah dengan setia ke gereja, mengikuti persekutuan doa, aktif melayani (dalam arti selebrasi), tetapi pada lain sisi seringkali pada kenyataannya, pada kehidupan keseharian  ia bengis kepada sesama dengan memeras para karyawannya, ia mencuri uang negara, suka cepat menghakimi, suka ngrasani orang tanpa dasar, dlsb. Ada juga yang membuat aksi membela Allah. Tentu saja itu tidak salah. Agama tanpa ritus akan kehilangan pilarnya. Yang menjadi persoalan kerasukan ritual agama membuat penganutnya kehilangan etika. Penganut agama menjadi buta pada isu-isu etis. Mustahil orang mencintai Allah, kalau ia buta terhadap isu-isu etis yang kasat mata. Itu sebabnya setiap ada aksi membela Allah, suasana menjadi mencekam tertebar teror. Orang pergi menjauh ketakutan. Pengendara berpusing mencari jalan alternatif. Tidaklah keliru Andrew N. Wilson mem-pleset-kan 1Timotius 6:10 “Cinta akan Allah adalah akar segala kejahatan”. Kebangkitan agama-agama sebenarnya dirangsang oleh suatu keprihatinan etis yang besar terhadap gaya hidup modern. Anehnya agama tidak melahirkan pemikiran-pemikiran etis yang berbobot. Iman menjadi dogmatisme dan teologi menjadi ideologi. Kebangkitan agama-agama justru membuat agama-agama sedang mengalami kemerosotan kepedulian etis yang amat serius. Gus Mus pernah mengatakan bahwa sering semangat beragama tidak diimbangi dengan pemahaman agama yang baik. Pemerintah harus menyadari (karena hal) itu merupakan ancaman yang serius dan masyarakat harus kembali pada jatidirinya sebagai orang yang berketuhanan dan berkemanusiaan yang adil dan beradab. Beruntung Indonesia saat ini memiliki Presiden Joko Widodo, di luar segala kekurangannya, secara terus-menerus menyetimbangkan antara yang vertikal dan horisontal, antara yang spiritual dan material.🙏🙏🙏 Selamat Berhukum Kasih, 🙌🙌🙌Tuhan Memberkati

Jumat, 29 Oktober 2021

SUMPAH, SERIAL SUDUT PANDANG

SUMPAH, SERIAL SUDUT PANDANG

Pengantar
Apakah benar bahwa bersumpah itu sama sekali dilarang? Bagaimanakah dengan sumpah jabatan? Perlu pemahaman yang benar terhadap penerapan ayat di atas. Dan harus dipahami sumpah yang mana dulu? Tidak semua sumpah tabu dalam ajaran Kristen. Sumpah yang bersifat affirmation of duty atau affirmation of truthfulness tentu saja tidaklah tabu. Sumpah itu ada, Tuhan Yesus menyinggungnya dalam:
* Matius 23:18-22
23:18 Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.
23:19 Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?
23:20 Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya.
23:21 Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ.
23:22 Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.
Tapi mengapa sampai dikatakan "jangan bersumpah" dalam Matius 5:33-37 dan Yakobus 5:12? Sebab, sumpah palsu merupakan pelanggaran yang serius dalam setiap kode hukum. Jadi, janganlah bersumpah apabila ybs tidak memandang serius tentang apa yang disumpahkannya. Dalam Hukum Taurat, sumpah palsu dilarang :
* Keluaran 20:7,16
20:7 LAI TB, Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
Hebrew,
לֹא תִשָּׂא אֶת־שֵׁם־יְהוָה אֱלֹהֶיךָ לַשָּׁוְא כִּי לֹא יְנַקֶּה יְהוָה אֵת אֲשֶׁר־יִשָּׂא אֶת־שְׁמֹו לַשָּׁוְא׃ פ
Translit, LO' TISA 'ET-SYEM- YEHOVAH(dibaca: 'Adonay) 'ELOHEYKHA LASYAV KI LO YENAQEH YEHOVAH(dibaca: 'Adonay) 'ET 'ASYER-YISA 'ET-SYEMO LASYAV
20:16 LAI TB, Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
Hebrew,
לֹא־תַעֲנֶה בְרֵעֲךָ עֵד שָׁקֶר׃ ס
Translit, LO'-TA'ANEH VERE'AKHA 'ED SYAQER
Mengucapkan sumpah palsu dalam nama Allah adalah dosa bukan saja terhadap nama itu, tetapi termasuk berdosa terhadap pribadi Allah sendiri. Untuk selanjutnya, jangkauan hukum ini diperluas dengan memasukkan setiap penggunaan nama ilahi secara remeh atau sembarangan, sampai-sampai dalam tradisi Yahudi diputuskan bahwa cara yang paling aman adalah tidak menyebut namaNya sama sekali. Itulah sebabnya nama Allah Israel "YHVH" tidak pernah dieja sama sekali, dan mereka menggantinya dengan menyebut "ADONAY". Kebiasaan ini dimaksudkan sebagai bentuk pencegahan "menyebut nama TUHAN (YHVH) dengan sembarangan". Yesus Kristus berkata "Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan (Matius 5:33). Menyadari keseriusan sumpah demi nama Allah apabila kebenaran kalimat itu tidak mutlak kepastiannya, yang bertendensi menggantikan nama Allah dengan yang lain (ayat 34) misalnya Langit/ Surga, ataupun bentuk bentuk lain (demi kota, demi kepala, ayat 35-36) dengan pemikiran bahwa kalau-kalau sumpahnya itu palsu akan sedikit lebih diampuni, itupun tidak diperkenankan oleh Tuhan Yesus. Dari perikop lain dari Injil ini (Matius 23:16-22), dapat dikumpulkan adanya beberapa ketentuan bahwa ada sumpah-sumpah yang lebih mengikat atau kurang mengikat disesuaikan dengan persisnya kata-kata sumpah yang diucapkan. Tentunya hal ini merupakan masalah etis yang tidak begitu berarti. Satu hal yang perlu diketahui, bahwa orang dilarang bersumpah palsu, baik dalam nama Allah maupun bentuk kata-kata lainnya. "Bayarlah apa yang engkau sumpahkan". Pengkhotbah mengatakan demikian :
* Pengkhotbah 5:3-5
5:3 Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. 5:4 Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. 5:5 Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu? Jelas sekali dalam Matius 5:37 Yesus berkata "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat". Yesus merekomendasikan standard yang lebih tinggi kepada murid-muridNya bahwa mereka harus berkata ya kalau ya, dan tidak kalau tidak. Gema perkataan ini terdengar lagi dalam bagian PB lainnya :
* Yakobus 5:12
Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.
Pengikut-pengikut kristus harus dikenal sebagai pelaku perkataan mereka, baik pria maupun wanita. Apabila mereka dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai perhatian khusus yang teliti terhadap kebenaran , maka segala yang mereka katakan akan dipercaya walau tanpa sumpah sekalipun. Ini bukan sekedar teori; ini merupakan kenyataan dalam pengalaman. Reputasi seseorang dalam kejujuran itulah yang diajarkan Yesus, sehingga murid-muridNya karena reputasinya orang mempercayai bahwa kata-katanya selalu berdasarkan fakta yang benar, mengatakan ya karena ya, dan mengatakan tidak karena tidak. Jikalau seseorang sudah dikenal kejujurannya, siapapun tak akan menuntut suatu sumpah darinya.

Mengenai Sumpah
Konteks nya dulu harus diketahui, memaknai suatu ayat haruslah tidak dilepaskan dari konteks stau layar belakang penulisan perikopnya/bab nya bahkan konteks atau latar belakang kitabnya (dalam hal ini surat Yakobus dan injil Matius) sama halnya dg Kristus dalam Matius 5 ayat 33 sampai 37, Yakobus mengkritisi kebiasaan orang Yahudi (seperti halnya Kristus), yg dalam mana pada kasus Yakobus hal tersebut mempengaruhi kehidupan jemaat di sana, kebiasaan itu adalah sangat mudah mengucapkan sumpah dalam kehidupan sehari-hari (bukan pada kondisi khusus) untuk membenarkan diri. Ada tradisi dalam Yahudi saat itu untuk melakukan sumpah CHI ELOAH, artinya sumpah dalam nama Allah, itu dianggap dosa besar, apalagi bila tidak dapat melakukannya atau tidak dapat menepatinya, maka sumpah seperti ini dilakukan dalam kondisi khusus (dalam peradilan misalnya), oleh karena kemudian orang Yahudi menggunakan sumpah dalam kehidupan sehari-hari, demi apapun yang penting tidak demi nama Allah atau demi Allah, inilah sebetulnya yang dikritisi oleh Yesus maupun Yakobus, bukan larangan bersumpah tetapi lebih kepada jangan sembarangan bersumpah apalagi hanya di dalam kehidupan sehari-hari (kondisi saat itu sebetulnya lebih ke sumpah saat berdagang), apalagi bersumpah dan tidak bisa menepatinya, atau bersumpah untuk hal-hal yg sepele atau remeh temeh, menurut Yesus maupun Yakobus (dalam kehidupan sehari-hari) daripada bersumpah lebih baik ya katakan ya, tidak katakan tidak, kemudian pemahaman ini Yakobus kaitkan dengan pengakuan dosa. Makanya, dalam bahasa aslinya memakai frasa PRO PANTON yg artinya tidak untuk keseharian lebih untuk hal yg utama/khusus. bukannya tidak boleh bersumpah, Tapi Firman Tuhan itu mengajarkan kalau kita bersumpah, hendaklah kita sebaik mungkin menepatinya dan BERSEDIA menanggung akibatnya apabila kita tidak memenuhi sumpah tersebut. Makanya lebih baik jangan bersumpah, tapi kalau bersumpah, tepatilah sumpah itu dihadapan Tuhan. Nah, Allah PL dan PB itu sama, Yesus itu ada bersama-sama dengan Allah dan Dia adalah Allah dari sejak mulanya (Yohanes 1:1), so jangan membuat pengertian kalo Allah PL bersumpah Allah PB tidak seolah2 mereka berbeda. Allah bersumpah  boleh saja karena Dia pasti menepati perkataanNya, so konsisten kok ini, Apa sih bedanya janji sama sumpah? Kita sepertinya harus clear dulu soal ini. kalo buat saya janji itu kamu berjanji tidak perlu mengatakan dengan lantang didepan semua orang, tapi sumpah itu kamu ucapkan didepan semua orang sehingga semua orang itu mengetahui sumpahmu itu, itu syaratnya sebuah janji bisa disebut sebagai sumpah, minimal mungkin ada 2-3 orang saksi, so kalo kamu bersumpah tapi ngga ada yang dengar, buat saya itu janji, mohon maaf itu bukan sumpah. Janji pernihakan itu sebenarnya bukan janji, secara konteks lebih tepat disebut sumpah pernikahan, karena 2 insan tersebut mendeklarasikan sehidup semati sebagai suami istri dihadapan Tuhan, para saksi hamba Tuhan, saudara seiman, dan hukum negara, maka itu bukan lagi janji, itu adalah sumpah, lebih tepat kita sebut itu sumpah pernikahan menurut saya, makanya kalo bahasa Inggrisnya itu adalah "wedding vow", bukan sekedar "promise". Dalam bahasa aslinya Ngga ada kok ayat Firman Tuhan yang menyatakan kita sama sekali ngga boleh bersumpah. dikatakan kalo kamu bersumpah, ya tepatilah "jika ya katakan ya dan jika tidak katakan tidak" itu  peringatan supaya kita jangan bersumpah palsu atau jangan sampai kita buru2 mengucapkan sumpah, bukannya melarang sama sekali orang bersumpah, tapi jika kita memang mau bersumpah beneran, ya tepatilah itu, pada prinsipnya PL dan PB itu sama, ngga mungkin bertentangan dan tidak ada yang direvisi sepanjang saya memahaminya, justru aneh kalo pake direvisi, kan Dia Allah yang hidup yang kita percaya ngga pernah salah, saya pribadi bersumpah pernikahan dan saya wajib mentaati sumpah itu sampai akhir hayat. kalau  setuju bahwa janji pernikahan itu levelnya adalah sumpah, ya otomatis anda harusnya mengakui kalo sumpah diperbolehkan, berapa banyak orang yang bersumpah pernikahan melanggar Firman Tuhan kalau sumpah sama sekali ngga boleh dilakukan? Konteks apakah yg melatarbelakangi Firman Allah di PL sehingga Allah "bersumpah"? Apa tujuan Allah melakukan "sumpah" tersebut? Tradisi Yahudi menganggap Angka tujuh – Ibrani: שֶׁבַע – SHEVA, Shin-Bet-Ayin berhubungan dengan kata yang bermakna "sumpah," yaitu: שָׁבַע – SHAVA, Shin-Bet-Ayin. Angka tujuh dalam kepercayaan Israel, adalah simbol umum untuk segala hubungan dengan Allah dan merupakan angka religius favorit di kalangan Yahudi, angka 7 melambangkan perjanjian kekudusan dan pengudusan. Pemakaian pada Kejadian 4:15 ini merupakan sumpah Allah, bahwa Dia mencintai kehidupan. Apakah bersumpah bagi orang Israel dalam konteks PL diperbolehkan? Sehingga Yesus memberikan perintah baru? Apakah "sumpah" hanya khusus dilakukan oleh Allah saja karena pasti dipenuhi dan digenapi? Apakah "sumpah" itu sakral? Mengucapkan sumpah bermacam cara (Kejadian 24:2-3; Ulangan 32:40) dan rumusan (Kejadian 31:50; Bilangan 5:22; Hakim 8:19; 2 Raja 2:2; Yeremia 42:5; Matius 5:34-36; 23:16). Sering dampak-dampak yg mengerikan dari sumpah yg tidak dipenuhi tidak dikemukakan (2 Samuel 3:9; tapi lihat Yeremia 29:22). Pentingnya sumpah ditekankan dalam hukum Musa (Keluaran 20:7; Imamat 19:12, Mungkin ini pertanyaan esktrimnya, Apakah Firman Allah di PL dan Yesus Kristus sebagai Firman Allah di PB dapat dikatakan tetap konsisten? Apakah mungkin Yesus sedang melakukan peningkatan taraf "sumpah" dalam hukum Taurat kepada taraf/hakikat yg lebih tinggi menjadi "kejujuran/kepastian" antara "ya" dan "tidak"? Dalam Kerajaan Allah pada akhirnya sumpah tidak diperlukan (Matius 5:34-37). Kristus sendiri diperhadapkan dengan sumpah (Matius 26:63 dab), dan Paulus juga bersumpah (2 Korintus 1:23; Galatia 1:20). Pengikut-pengikut kristus harus dikenal sebagai pelaku perkataan mereka, baik pria maupun wanita. Apabila mereka dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai perhatian khusus yang teliti terhadap kebenaran , maka segala yang mereka katakan akan dipercaya walau tanpa sumpah sekalipun. Ini bukan sekedar teori; ini merupakan kenyataan dalam pengalaman. Reputasi seseorang dalam kejujuran itulah yang diajarkan Yesus, sehingga murid-muridNya karena reputasinya orang mempercayai bahwa kata-katanya selalu berdasarkan fakta yang benar, mengatakan ya karena ya, dan mengatakan tidak karena tidak. Jikalau seseorang sudah dikenal kejujurannya, siapapun tak akan menuntut suatu sumpah darinya. Percakapan sehari-hari orang Kristen haruslah sama sucinya dengan sumpahnya. Dia tidak boleh berbicara dengan "standard kebenaran yang berbeda," atau standard ganda perkataan dan tingkah-laku haruslah sesuai. Dia tidak boleh mempunyai dua ukuran tentang kebenaran, seperti orang Yahudi tertentu yg memakai ukuran licik berkaitan dengan sumpah. Dan, sedikit menambahkan: maka, apa yang dikatakan oleh Kristus dalam Matius 5 : 33 – 37 bukanlah merupakan suatu perintah baru, melainkan Ia hendak menekankan wajibnya menjaga kejujuran dalam segala hal, situasi, dan kondisi. Singkatnya, kapan pun, di mana pun, dan bagaimana pun, Gereja Tuhan harus senantiasa bersikap jujur dan terbuka dengan fakta. Jika ini telah tercapai dalam hidup Gereja, maka apakah lagi gunanya bersumpah? Sumpah bukanlah dilarang, melainkan memang tidak lagi diperlukan. Namun, kenyataan ini tidak serta-merta berarti kita harus menjadi bersikap "anti sumpah". Apabila hukum memang mewajibkan kita bersumpah, maka kita gak bermasalah untuk melakukan itu. Misalnya saja sumpah pelantikan jabatan, jangan memaksakan perkataan Kristus yang dimaknai "terlalu literal" (ditelan mentah-mentah, tanpa menimbang maksudnya secara mendalam apalagi mencomot dan melepaskannya dari konteks atau latar belakang penulisannya) menjadi batu sandungan bagi kita. Satu hal yang perlu kita renungkan ialah, Kristus sangat senang memberikan bahasa-bahasa alegoris, sehingga makna di balik kata-kata-Nya jauh lebih mendalam dibandingkan arti harfiahnya. Mengapa dahulu Allah sendiri memberikan contoh dengan cara bersumpah, sedangkan kemudian, di masa-masa awal masehi, Kristus malah "melarang" untuk bersumpah? Sekilas, hal ini memang terlihat bertentangan, bukan? Namun, inilah yang disebut sebagai wahyu progresif, seperti halnya yaitu mengenai pemahaman akan Allah Tritunggal Mahakudus. Sebab sepanjang sejarah Perjanjian Lama, bangsa Israel ialah bangsa yang tegar tengkuk, sehingga mereka seringkali meragukan kuasa dan kedahsyatan Sang Allah. Apakah akar dari segala dosa? Ya, meragukan Tuhan. Karena kondisi Israel maka Allah bersumpah,  peristiwa bersumpahnya Allah demi diri-Nya sendiri yang acap kali terjadi di masa Perjanjian Lama juga merupakan suatu bahasa anthropomorfisme (seperti halnya "Allah menyesal", "Allah menangis" dan sebagainya). Maka, akan menjadi sulit apabila kita memahaminya secara terlalu harfiah. STT BAPTIS INJILU, 2021, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO

Jumat, 08 Oktober 2021

💫SABDA NYUNAR💫 Beragama Fundamentalistik dan Legalistik, Mendidik manusia dewasa atau anak-anak?

💫SABDA NYUNAR💫 Beragama Fundamentalistik dan Legalistik, Mendidik manusia dewasa atau anak-anak? Bacaan Alkitab injil Markus 10:17-31, Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan seseorang mendatangi Yesus dan bertelut. Ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kulakukan untuk memeroleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Engkau tentu tahu segala perintah Allah: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan bersaksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayah dan ibumu.” Orang itu berkata lagi, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Yesus memandang orang itu dan menaruh kasih kepadanya. Kata Yesus, “Hanya satu kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin…dan ikutlah Aku.” Mendengar jawaban Yesus, ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, karena banyak hartanya. Setelah orang itu pergi, Yesus memandang murid-murid-Nya. Kata Yesus, “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Yesus adalah pengajar lisan. Ia tidak mungkin mengajar atau mengajukan banyak pertanyaan sekaligus dalam satu kalimat seperti bacaan di atas. Ia akan bertanya satu per satu. Kira-kira Yesus bertanya, “Apakah kamu membunuh?” Orang itu menjawab, "Tidak.” Yesus bertanya lagi, “Apakah kamu berzinah?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Demikian seterusnya sampai pada akhirnya orang itu tidak sanggup menjawab pertanyaan atau tepatnya ajakan Yesus tentang hakikat menjalankan misi Kerajaan Allah. Begitu sulitnya orang yang dikuasai harta atau ideologi untuk diajak percaya pada kebenaran hingga Yesus mengumpamakan “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Untuk memasukkan ajaran kepada anak kecil sangat mudah. Anak kecil menerima apa saja yang digelontor oleh pengajarnya. Saking mudahnya menerima ajaran, maka pembuatan kurikulum pendidikan untuk anak sangat ketat agar anak tidak salah didik. Mengajar orang dewasa jauh lebih sulit. Orang dewasa sudah memiliki prapaham yang kemudian dijadikan benteng ideologinya. Strategi gereja memumpunkan pengajaran orang dewasa penuh tantangan, karena dalam kenyataan cukup banyak warga gereja yang sudah tertanam ideologi tertentu tidak berkehendak menjadi dewasa. Misal, meski sudah dijelaskan kisah Nabi Yunus ditelan ikan besar adalah metafor, tetap saja hal itu dipahami kisah historis. Bahkan ditambahkan dengan ikan paus agar kelihatan heroik. Alkitab adalah firman Allah sehingga tidak mungkin salah. Padahal pernyataan “Alkitab adalah firman Allah” itu sendiri adalah metafor. Sejak Jokowi berkuasa, secara kasat mata pembangunan fisik dan manusia di Papua melaju kencang. Hanya di masa Jokowi Papua dapat menyelenggarakan PON dengan fasilitas olahraga yang amat sangat baik. Konektivitas antar-daerah semakin lancar. Jalan Trans Papua sepanjang 3.462 km segera tersambungkan; tinggal 16 km lagi. Harga barang, terutama BBM, semakin terjangkau. Dalam pada itu para pembenci Jokowi tidak melihat pembangunan di atas sebagai kemajuan. Mereka sudah tertanam ideologi: apa pun salah Jokowi. Ya, memang kemajuan kemajuan Papua masih belum sempurna. Akan tetapi apa yang sudah dikerjakan oleh Jokowi jauh melebihi para pendahulunya. Mengajak berdialog dengan pembenci Jokowi sama sulitnya dengan berdialog dengan orang kaya di atas mengenai masuk ke dalam Kerajaan Allah. Masuk ke dalam Kerajaan Allah berarti menjalankan misi Kerajaan Allah dengan menghadirkan keadilan Allah, yaitu berbelarasa dan memberdayakan masyarakat marginal atau pinggiran seperti masyarakat Papua. Dengan kata lain menciptakan keadilan sosial. Tentu upaya itu tidaklah mudah. Dalam konteks bacaan di atas berbelarasa diungkapkan dengan berbagi dengan sesama. Namun orang kaya itu lebih menjalankan agama secara legalistik; boleh dan tidak boleh. Pembenci Jokowi maunya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu langsung turun dari langit tanpa perlu berpeluh. Maunya mereka langsung mendapat bagian rejeki lewat “komisi pembangunan”. Cara beragama orang kaya di atas juga mirip warga gereja yang berwatak fundamentalistik; mereka yang menggadang-gadang ideologi Alkitab tidak salah karena tulisan yang diilhamkan oleh Allah. “Pokoknya Alkitab tidak salah. Kamu liberal dan sesat!” kata mereka. Padahal, kalau mereka hidup di zaman Yesus, patut diduga mereka berdiri di barisan terdepan berteriak, “Bunuh Yesus! Salibkan Dia!”. Mengapa? Yesus itu liberal. Buktinya, Yesus lebih mementingkan bekerja menolong banyak orang ketimbang berdoa (Mrk. 1:29-39), Yesus membela murid-murid-Nya tidak mencuci tangan sebelum makan (Mrk. 7:1-23). Yesus itu radikal. Buktinya dalam bacaan Injil hari ini menjalankan Dasa Titah menurut Yesus belumlah cukup, masih ditambah perintah menjual seluruh harta dan membagikan kepada orang-orang miskin.🙏🙏🙏 Selamat terdidik🙌🙌🙌 Tuhan memberkati

Sabtu, 02 Oktober 2021

💫SABDA NYUNAR💫 KEKANAK-KANAKAN, “Everybody knows how to raise children, except the people who have them.” P. J. O'Rouke

💫SABDA NYUNAR💫KEKANAK-KANAKAN, “Everybody knows how to raise children, except the people who have them.” P. J. O'Rouke. strategi gereja dalam membina warganya memumpunkan orang dewasa, karena seperti kata Lawrence O. Richard, ”The bible really is an adult book, written by adult and for adult.”. Gereja mencerap secara umum bahwa orang dewasa adalah orangtua dalam keluarga. Mendidik orang dewasa dengan sendirinya mendidik anak-anak, karena orangtua menjadi pendidik anak-anak di keluarga.  Injil Markus 10:1-16,  Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan Yesus berangkat dari Kapernaum ke daerah Yudea dan daerah seberang Sungai Yordan. Pada saat Yesus mengajar orang-orang di sana, datanglah orang-orang Farisi untuk kembali menjajal Yesus. Kata mereka, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?” Yesus menjawab mereka dengan pertanyaan, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya.” Tanggap Yesus, “Justru karena kengèyèlanmu, maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu…” Setiba di rumah rupanya para murid belum mengerti apa yang disampaikan Yesus kepada orang-orang Farisi itu. Yesus kemudian menjelaskan kepada para murid. Setelah Yesus menjelaskan, datanglah anak-anak kecil yang dibawa orang-orang kepada Yesus. Para murid dengan sigap menghalangi dan memarahi orang-orang itu, tetapi Yesus  justru memarahi para murid. Kata Yesus,  "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah  yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil , ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka. Kita tidak hendak mengulas apakah perceraian diperbolehkan di kalangan Kristen. Dari bacaan di atas Yesus hendak mengajar perbedaan menaati hukum-hukum tertulis sehingga orang menjadi pelaku legalistik dengan pengetahuan hakikat perkawinan. Orang Farisi menonjolkan Hukum Musa yang berat sebelah karena dilihat dari sisi laki-laki, sedang Yesus menyoroti kedua sisi; laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut Yesus hendak menyampaikan hal yang jauh lebih penting, yakni menyambut Kerajaan Allah. Seperti yang sudah sering saya sampaikan kehadiran Kerajaan Allah itu berarti menghadirkan keadilan sosial dan berbelarasa serta memberdayakan pihak yang lemah.Yesus kembali menyajikan metafor anak-anak kecil dalam menyambut Kerajaan Allah. Yesus menegaskan untuk menyambut Kerajaan Allah seperti anak kecil. Ayat ini (Mrk. 10:15) sering dijadikan “ayat emas” oleh orang dewasa untuk mengelak belajar. Pokoknya apa yang dikatakan oleh pendeta di KKR ikuti saja, kata mereka. Ular yang berbicara dengan Hawa adalah iblis, kata mereka lagi. Itu namanya kekanak-kanakan atau childish, bukan seperti anak-anak atau childlike dalam ayat itu. Sikap kekanak-kanakan itu justru jauh dari maksud ayat itu. Seperti anak kecil itu apa berarti tidak perlu berpikir? Bukan, itu (sekali lagi) namanya kekanak-kanakan. Childlike berarti showing the good qualities that children have. Anak-anak selalu menaruh kepercayaan secara penuh kepada orangtuanya. Apa pun yang diberi oleh orangtuanya ia menerima dengan penuh antusias. Seorang anak kecil digendong orangtuanya menyeberang jembatan sempit. Ia tidak panik, karena ia percaya kepada orangtuanya. Itu yang dimaksud dengan seperti anak-anak atau childlike. Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah yang berarti menghadirkan keadilan sosial dan berbelarasa serta memberdayakan pihak yang lemah. Nah, ajaran Kerajaan Allah inilah yang harus disambut seperti anak-anak menyambut. Dalam kenyataan mengemban misi Kerajaan Allah itu penuh risiko dan memang seperti itulah menjadi pengikut Kristus; seperti anak percaya penuh kepada orangtuanya ketika diajak berjalan di antara semak belukar; seperti anak antusias menerima hadiah dari orangtuanya. Dalam kenyataan gereja menghadapi banyak tantangan. Cukup banyak warga dewasa tidak berkehendak menjadi dewasa. Mereka menghindari benturan iman. Mereka abai pada isu-isu etis. Mereka lebih suka makanan bayi dengan mendengar khotbah berwatak fundamentalistik. Tak jarang kita menjumpai orang-orang dengan tubuh dewasa, tetapi cara beragama mereka kekanak-kanakan.Jika menyambut Kerajaan Allah seperti anak-anak dimaknai tidak makek mikir, maka ajaran Yesus “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akalbudimu” menjadi tak berguna. Ayub sudah mengingatkan, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10). Saban akhir September selalu ada orang yang membangkitkan isu komunis seperti yang dilakukan oleh Gatot Nurmantyo (GN). Saya yakin seyakin-yakinnya mantan Panglima TNI ini tahu bahwa komunis sudah tidak ada di Indonesia, baik di kalangan sipil maupun militer. Sekarang ia sudah menjadi politikus haus kekuasaan. Ia tahu bahwa banyak rakyat Indonesia masih childish dalam berpikir. Ia menggunakan pikiran kekanak-kanakan rakyat Indonesia untuk menelan isu itu tanpa mengunyahnya demi mencari pengikut. Sama halnya dengan para fundamentalisme. Mereka tahu bahwa masih banyak warga gereja yang kekanak-kanakan; warga yang masih membutuhkan endorsement kepastian atau jaminan keselamatan seperti kanak-kanak butuh permen atau mainan. Belum lagi serbuan lewat medsos yang mengatakan bahwa Alkitab itu palsu. Makin kencanglah “kanak-kanak” itu menangis. Para  fundamentalis memenuhi kebutuhan permen itu. Amin! Haleluya! Sejenak mereka mengisap candu dan kesurupan dalam ibadah. Usai ibadah mereka kembali memeras para pekerja, mencuri uang negara, memburu rente, tidak peduli pada golongan rapuh masa pandemi,  dlsb. Halelupa! 🙏🙏🙏Selamat mendewasa🙌🙌🙌Tuhan memberkati

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memi...