Jumat, 14 Oktober 2022

Sudut Pandang LUKAS 18:1-8, ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—บ, doa tak jemu atau pantang menyerah dan tak henti juang

Sudut Pandang LUKAS  18:1-8, ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—บ, doa tak jemu atau pantang menyerah tak henti juang

PENGANTAR
๐˜‹๐˜ฐ๐˜ฏ’๐˜ต ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜จ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ช๐˜จ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ!” ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ.
Dalam dunia peradilan dikenal adagium: Lebih baik membebaskan orang bersalah daripada memenjarakan orang tak bersalah. Ada lagi adagium yang jarang dikenal umum: Lebih baik hakim cerdas yang menerima hadiah daripada hakim jujur yang bodoh. Bacaan diambil dari Lukas 18:1-8. Bacaan Lukas 18:1-8 Minggu ini kembali membahas perumpamaan Yesus. Alkitab LAI TB (1974) memberi judul perikop “๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฎ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ”, sedang TB II (1997) berjudul “๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฎ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ”. Kutipan teks saya letakkan lampiran.
Menurut para ahli perumpamaan Yesus dalam bacaan ini merupakan perumpamaan lepas yang tidak diketahui konteksnya. Perumpamaan yang beredar lepas itu dalam ayat 2-5. Para ahli menduga kuat perumpamaan itu adalah asli dari Yesus historis karena sangat lekat dengan ciri-cirinya.
Ciri pertama, Yesus suka mengangkat tokoh negatif di lingkungan masyarakat Yahudi. Misal, perumpamaan orang Samaria yang baik hati. ๐˜”๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ orang Samaria yang dinajiskan menjadi teladan?
Dalam perumpamaan Minggu ini juga janggal karena tokoh utamanya bukan tokoh yang layak diteladani secara moral. Tokoh utamanya adalah hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Karakter buruknya sangat ditekankan dengan menyebutkannya dua kali di ayat 2 dan 4.
Ciri kedua adalah tradisinya yang kuat. Perumpamaan ini masih beredar di dalam Jemaat Lukas sesudah Bait Allah II dihancurkan oleh Jenderal Titus (bukan aku loh .... Wk ..... Wk ..) dari Roma pada 70 ZB. Penulis Injil Lukas kemudian memasukkan perumpamaan itu ke dalam buku Injilnya untuk diberi konteks dan dibatasi penafsirannya. Konteks Lukas seperti ditulisnya di pembukaan (ay. 1) dan penutup (ay. 6-7).
Lukas membuka perumpamaan dengan pengantar untuk berdoa tanpa jemu-jemu (ay. 1). Di penutup Lukas (ay. 6-7) membandingkan hakim tak adil itu dengan Allah yang tentunya adil. Janda yang berposisi sangat lemah secara sosial dan ekonomi dianalogikan sebagai “orang-orang pilihan” Allah yang siang malam berseru memohon pertolongan Allah.
Lukas tidak menjelaskan apa isi atau pokok doa. Yang menjadi pumpun Lukas adalah berdoa tanpa jemu-jemu. Pantang pulang sebelum padam, kata pasukan pemadam kebakaran.
Kalau kita telisik lebih dalam, isi perumpamaan (ay. 2-5) tidak membicarakan doa, melainkan ๐—ธ๐—ฒ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป. Janda itu tidak banyak menuntut. Ia hanya ingin keadilan. “Belalah hakku terhadap lawanku.” kata janda itu (ay. 3). Bahasa aslinya adalah แผ˜ฮบฮดฮฏฮบฮทฯƒฯŒฮฝ ฮผฮต แผ€ฯ€แฝธ ฯ„ฮฟแฟฆ แผ€ฮฝฯ„ฮนฮดฮฏฮบฮฟฯ… ฮผฮฟฯ… yang oleh NRSV diterjemahkan “๐˜Ž๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ ๐™Ÿ๐™ช๐™จ๐™ฉ๐™ž๐™˜๐™š ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต”. Hakim pun mengabulkannya “baiklah aku membenarkan dia” (ay. 5). Bahasa aslinya adalah แผฮบฮดฮนฮบฮฎฯƒฯ‰ ฮฑแฝฯ„ฮฎฮฝ. NRSV menerjemahkannya “๐˜ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ณ ๐™Ÿ๐™ช๐™จ๐™ฉ๐™ž๐™˜๐™š”.
Dalam bagian penutup (ay. 7-8) Lukas tetap memasukkan gatra keadilan. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?” (ay. 7) yang bahasa aslinya แฝ ฮดแฝฒ ฮ˜ฮตแฝธฯ‚ ฮฟแฝ ฮผแฝด ฯ€ฮฟฮนฮฎฯƒแฟƒ  ฯ„แฝดฮฝ แผฮบฮดฮฏฮบฮทฯƒฮนฮฝ ฯ„แฟถฮฝ แผฮบฮปฮตฮบฯ„แฟถฮฝ ฮฑแฝฯ„ฮฟแฟฆ ฯ„แฟถฮฝ ฮฒฮฟฯŽฮฝฯ„ฯ‰ฮฝ ฮฑแฝฯ„แฟท แผกฮผฮญฯฮฑฯ‚ ฮบฮฑแฝถ ฮฝฯ…ฮบฯ„ฯŒฯ‚, yang diterjemahkan oleh NRSV menjadi “๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜Ž๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต ๐™Ÿ๐™ช๐™จ๐™ฉ๐™ž๐™˜๐™š ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ด ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜ค๐˜ณ๐˜บ ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜จ๐˜ฉ๐˜ต?”. Ayat 8: “Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka.” Bahasa aslinya ฮปฮญฮณฯ‰ แฝ‘ฮผแฟ–ฮฝ แฝ…ฯ„ฮน ฯ€ฮฟฮนฮฎฯƒฮตฮน ฯ„แฝดฮฝ แผฮบฮดฮฏฮบฮทฯƒฮนฮฝ ฮฑแฝฯ„แฟถฮฝ แผฮฝ ฯ„ฮฌฯ‡ฮตฮน yang diterjemahkan oleh NRSV menjadi “๐˜ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ช๐˜ค๐˜ฌ๐˜ญ๐˜บ ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต ๐™Ÿ๐™ช๐™จ๐™ฉ๐™ž๐™˜๐™š ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฎ”.

PEMAHAMAN
Penulis Lukas sebenarnya sadar bahwa isi dan topik perumpamaan Yesus di atas menyoal keadilan. Akan tetapi Lukas menggunakan perumpamaan tersebut untuk menggembalakan jemaatnya yang sedang dalam krisis iman. Mengapa saya menduga jemaat Lukas krisis iman?
Kitab tertua dalam Perjanjian Baru (PB) adalah Surat Pertama Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (1Tes.) yang ditulis sekitar tahun 50-an ZB. Dalam surat itu Paulus mengatakan bahwa kedatangan Yesus kembali (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข) segera terjadi pada saat mereka (Paulus dan Jemaat Tesalonika) masih hidup. Ajaran Paulus ini cukup kuat menyebar termasuk ke Jemaat Lukas. Celakanya sampai Paulus mati dan Bait Allah dihancurkan, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข tidak terjadi. Ini membuat Jemaat Lukas mengalami krisis iman.
Itulah sebabnya penulis Injil Lukas membuka perumpamaan dengan berdoa tanpa jemu-jemu (ay. 1) dan menutupnya dengan “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?" (ay. 8b). ๐˜—๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข pasti terjadi, kata Lukas, tetapi masih lama. Kita tidak pernah tahu kapan itu terjadi dan bisa saja datang tiba-tiba (๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ฌ. Luk. 12:40). Berdoa tanpa jemu-jemu bukanlah tindakan sia-sia. Hakim yang tak adil saja memberi keadilan bagi kita setelah terus didesak, ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ Allah yang adil tak mendengar doa kita? Begitulah kira-kira maksud Lukas. Dalam konteks menjawab kedatangan kembali Yesus yang dinantikan umat Lukas, pengharapan tetap ditumpukan pada doa dg pemahaman waktunya tetap di tangan Allah, pasti kembali Yesus, tapi waktunya di tangan Allah, doa menjadi kekuatan untuk berjaga-jaga bagi umat Lukas. Sebetulnya hal yang sama disampaikan oleh Injil Matius dan Markus dalam bahasa yang lebih lugas, Matius 24:36 (TB)"Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, bahkan malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri." Markus 13:32 (TB)
"Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, tidak juga malaikat yang di sorga dan tidak juga Anak, tetapi hanya Bapa."  Memang petulis Injil, membuat tulisan untuk menjawab permasalahan dalam surat-surat (termasuk di dalamnya surat-surat Paulus). Nah, tafsir di atas cukup kuat, tapi ada kelemahan, mengambil point soal doa tak jemu bisa disalah mengerti oleh umat, doa yang memaksa Tuhan, membuat umat merasa jadi lebih Tuhan daripada Tuhan, karena bisa mendesak Tuhan,kalau hakim jahat saja mengabulkan permohonan bila didesak, apalagi Tuhan, walaupun konteksnya adalah dalam rangka kedatangan Yesus kembali, yg tak beda dg konsep berjaga-jaga, waspada, dlsb. Ada sudut pandang lain dalam tafsir ini, Lukas bab 17-18, adalah sudut pandang petulis Injil  Lukas tentang konsep Allah yg merangkul yg tersingkirkan, dan kritisi atas penindasan yg kuat pada yang lemah. Yang tersingkirkan serta dianggap berdosa adalah pemungut cukai dan orang Samaria, yang menindas adalah kaum farisi, saduki, dan agamawan. Ini, juga dikarenakan petulis Injil Lukas menujukan pada pendengar non Yahudi, pendengar diluar lingkaran keyahudian. Pemungut cukai di gambarkan sebagai janda yang tidak kenal menyerah dan tidak berhenti berjuang, kenapa begitu? Karena pemungut cukai adalah orang yang terjepit posisinya, pemungut cukai didesak target pajak oleh penjajah Romawi, karena bagi penjajah Romawi hina untuk menarik pajak dari jajahan karena merasa sebagai bangsa yg lebih besar dan berkuasa, maka harus bangsa yg dijajah itu sendiri yg menarik pajak dari bangsanya untuk Romawi, sedangkan di sisi yang satu mereka dikutuk habis-habisan oleh bangsanya utamanya kaum agamawan sebagai orang berdosa karena menarik pajak bangsanya untuk penjajah Romawi. Pemungut cukai adalah orang-orang yang terjepit, orang yang tersingkirkan oleh dua pihak dimana mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan. Pemungut cukai TIDAK MENYERAH dan TIDAK BERHENTI BERJUANG atas keadaan mereka, mereka mendekat ke Yesus, dan Kristus menerima mereka, mereka mendapatkan kelegaan dengan pertobatan mereka, mereka diterima Kristus. Pemungut cukai bukan orang terjepit lagi, bukan orang tersingkirkan, bukan pendosa bagi Kristus, karena TIDAK MENYERAH dan TIDAK BERHENTI BERJUANG dalam keadaan mereka, pemungut cukai mendapat kelegaan dari Kristus atas pertobatan mereka. Dalam kehidupan berkeluarga tidak berhenti berjuang atas kerapuhan dan kelemahan serta ketidak sempurna an keluarga kita, bermakna kesungguhan dan kesediaan menerima kehadiran Allah untuk berdaulat atas kehidupan keluarga. Pimpinan dan perlindungan Allah yang menuntun keluarga Kristen terus berjuang,    jaminan keamanan dan ketenangan dalam perjuangan. Allah atau Kristus tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurna an manusia. Dalam kehidupan keluarga, pantang menyerah bermakna spiritualitas juang dan mentalitas tahan uji dalam kehidupan keluarga Kristen yang bersandar dan mengandalkan Tuhan. Kelemahan atau kelelahan, bukan alasan untuk rendah diri, dan kegagalan bukan dalih untuk putus harapan. Setiap pergumulan justru menjadi kesempatan untuk bertumbuh lebih kuat dan mempersaksikan iman yang menjadi berkat bagi banyak orang, lelah dan lemah itu manusiawi, wajar sebagai manusia, tapi di titik kelemahan dan kelelahan kita, kita tidak pernah menyerah atau berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita, di titik kelemahan dan kelelahan kita, kita tidak pernah berhenti berjuang dan tidak menyerah untuk meragakan kemurahan hati Allah.Tak Lelah Meragakan Kemurahan Hati Allah. Cukup menggelitik, kata TAK LELAH yg menunjukan kita tidak memanusiakan manusia, kita tidak manusiawi thp sesama kita, masak manusia tidak boleh lelah? Masak manusia tidak boleh beristirahat, Tuhan saja beristirahat saat penciptaan, selama dia manusia maka pada satu saat dia akan kelelahan, lelah adalah salah satu kondisi yang melekat pada manusia, kondisi wajar sebagai manusia, menempatkan sesama manusia pada kondisi TAK LELAH, bearti menempatkan sesama kita pada kondisi tidak manusiawi, mana ada satu saja manusia di dunia ini yang tidak pernah merasa lelah? suatu kewajaran kalau sesama kita itu merasa lelah, selama masih manusia maka lelah adalah suatu keniscayaan, sudah dari sono nya, Ayat Alkitab yang nyeritain Allah istirahat setelah penciptaan ada di Kejadian 2:2-3:  
_"Pada hari ketujuh Allah menyelesaikan pekerjaan-Nya yang telah dibuat-Nya itu; lalu Ia berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya yang telah dibuat-Nya itu."_  
Kata "berhenti" di Kejadian 2:2-3 dari bahasa Ibrani shavat (ืฉָׁื‘ַืช) bermakna "berhenti" atau "menghentikan pekerjaan." Karena kata ini juga dipakai untuk Sabat, yang memang hari istirahat, maka "berhenti" di sini bisa diartikan sebagai beristirahat dengan makna istirahat yang disengaja untuk pemulihan dan penghormatan. Kelelahan itu suatu kewajaran yangbharus diakui sebagai manusia, tetapi respon bermartabat apa? Apa yang akan kita lakukan saat ada di titik kelelahan atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita? Respon bermartabat apa yang harus kita lakukan di saat kita ada dalam titik lelah atau titik jenuh atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita? Respon bermartabatnya adalah tidak menyerah dan tidak berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita, kemampuan untuk tidak menyerah atau tidak berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita, tidak bisa datang tiba-tiba, tetapi harus dilatih sejak dini dan sedikit demi sedikitDalam 1 Korintus 9 : 24-27, Paulus mendorong untuk melatih diri kita, demikian halnya melatih keluarga kita, seperti yang mudah saja, melatih diri untuk pillow talk (membiasakan sebelum tidur saling bicara, selain berdoa bersama), selalu berusaha melatih diri untuk punya waktu dan hadir bagi keluarga, melatih diri untuk mendengar yg lain, melatih diri untuk tidak nyolot saat bicara dalam keluarga, melatih diri untuk selalu berusaha melihat sisi - sisi positif lain dalam diskusi keluarga, melatih diri untuk tidak membentak, melatih diri untuk terbiasa mengucapkan terima kasih dan maaf, dlsb, bisa menjadi diskusi menarik seperti di bulan keluarga ini. Tapi, dalam kehidupan berkeluarga ketika kita menghadapi terus menerus kenyataan yg berbeda, wajar kah kita lelah? Wajarkah ada saatnya kita lelah atas kerapuhan dan  kelemahan serta ketidak sempurna an keluarga kita? Apa yang harus kita latih dalam kehidupan keluarga kita, ketika kita sampai pada titik kelelahan atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurna an keluarga kita? Melatih diri kita untuk tidak gampang menyerah dan tidak berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita, di sini kita tidak bicara uang atau materi bagi keluarga kita, tetapi bicara kehadiran dan komunikasi dalam keluarga kita. Sangat wajar, lelah itu bagian dari kemanusiaan, bukan manusia kalau tidak pernah lelah. Manusia pasti ada kalanya pada satu titik akan pernah saja mengalami kelelahan, mendorong sesama kita untuk tidak lelah, tidak memiliki rasa lelah, sama saja tidak memanusiakan sesama kita. Tapi, Kristus meneladankan bahwa Kristus tidak pernah menyerah dan tidak berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan manusia, bahkan Kristus turut merapuh bersama manusia, maka respon bermartabat kita, saat kita berada dalam titik kelelahan kita atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita adalah melatih diri kita untuk tidak menyerah serta tidak berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita, itulah meragakan kemurahan hati Allah.


Lapangan Pancasila, 15.10.22 (TUS)

Lampiran :

Kutipan ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿญ-๐Ÿด (TB II, 1997)
๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฎ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ 
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿญ Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tanpa jemu-jemu.
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿฎ Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿฏ Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿฐ Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun,
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿฑ namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku."
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿฒ Kata Tuhan: "Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu!
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿณ Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿด Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?"

Rabu, 12 Oktober 2022

Kolekte sama dengan Persembahan?, Serial Sudut Pandang

Kolekte sama dengan Persembahan?, Serial Sudut Pandang

Kolekte (Inggris: collection, Latin: collecta) berangkat dari mengumpulkan atau mengoleksi uang kecil dari setiap warga jemaat. Semangat kolekte adalah sedikit dikali banyak, maka hasilnya banyak. Apa maksudnya? Seorang warga yang memberi seribu rupiah untuk kolekte akan menjadi banyak apabila diikuti oleh warga lainnya. Katakanlah ada seratus warga, maka seribu dikali seratus. Kolekte komunal menjadi banyak tanpa membebani warga jemaat. Berhubung kolekte semangatnya mengumpulkan uang kecil, maka “diam-diam” gereja (Protestan) lebih memarakkan istilah “persembahan” sehingga membuat tekanan psikologis bagi warga untuk memersembahkan yang terbaik, terbesar, terkuat, dlsb. Apalagi di gereja tertentu sebelum kantong kolekte eh persembahan diedarkan, seorang penatua membaca ayat-ayat pengantar persembahan. Meski saya menulis dengan bergurau tentang pergeseran kata kolekte ke persembahan, dalam kenyataan di gereja-gereja Prostestan kata kolekte kalah populer dari persembahan. Pertanyaannya, apakah kolekte dan persembahan secara liturgis adalah sama? Collecta berarti sumbangan untuk makan bersama, pengumpulan, rapat atau sidang. Collecta dalam arti sumbangan untuk makan bersama mirip-mirip dengan potluck pada masa kini. Sejak awal collecta memang tidak mengejar besaran uang yang diberikan oleh seorang warga jemaat, melainkan mendorong setiap warga berpartisipasi secara sukarela.

2 Korintus 8:12
"Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu".

Dalam arti rapat atau sidang collecta kemudian dijumput untuk merujuk doa bersama di suatu tempat. Dalam tradisi Katolik tentu kita mengenal istilah rekoleksi, yaitu khalawat yang berarti pengasingan diri untuk menenangkan pikiran atau mencari ketenangan batin. Dengan demikian collecta dalam arti pengumpulan uang (kolekte) sebagai bagian dari persiapan persembahan memiliki nasabah amat erat dengan persekutuan dan doa. Kolekte tidak sekadar memberikan sesuatu dari diri sendiri kepada orang lain. Kolekte itu merekatkan persekutuan antara warga gereja dan siapa saja yang menerima sesuatu dari warga gereja. Kolekte adalah bagian dari doa yang memersatukan warga gereja sebagai saudara dalam Tuhan. Kita bisa berdoa dengan kata-kata, dengan nyanyian, dengan gerakan, tetapi juga dengan pemberian (kolekte). Makna liturgis kolekte ialah bersama-sama mengumpulkan sesuatu untuk kepentingan banyak orang. Kapan dalam ibadah kita memberikan kolekte? Saat persembahan. Lho, berarti benar dong kalau gereja Protestan menyebutnya persembahan? Yang dimaksud dengan persembahan dalam liturgi ialah persiapan perayaan ekaristi atau perjamuan kudus. Dalam persiapan itu ada arak-arakan untuk menyerahkan persembahan dengan urutan pertama dan utama adalah roti dan anggur, kemudian bahan-bahan lain seperti minyak dan lilin, serta baru kemudian kolekte. Jadi, persembahan merujuk ekaristi atau perjamuan kudus. Kalau ibadah tidak ada ekaristi atau perjamuan kudus, maka tidak ada persembahan, tetapi kolekte tetap ada dan dijalankan pada ritus penutupan ibadah sebelum pengutusan dan berkat.Sejak abad mula-mula gereja membuat kolekte bertujuan untuk menopang kebutuhan rumah ibadah dan untuk mengatasi kemiskinan. Kolekte merupakan bentuk belarasa terhadap orang-orang miskin di lingkungan jemaat atau gereja dan siapa saja yang berkekurangan tanpa batas wilayah dan agama. Jadi, selama ini  menyebut persembahan dan doa persembahan itu salah? Tidak salah, melainkan keliru alias tidak akurat.

Lukas 21:4 (TB)  "Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."


Cepogo, 12.10.22, (T)

Senin, 10 Oktober 2022

Teologi Perang, Serial Sudut Pandang

Teologi Perang, Serial Sudut Pandang

Kalangan Kristen memiliki pendapat yang beragam tentang perang. Paling sedikit ada tiga.
1. Kaum Pasifis yang secara total menolak perang. Berperang artinya membunuh sesama. Bagi mereka ini dosa! Tidak dikehendaki Tuhan. Oleh karena itu mereka menolak  profesi militer dan untuk alasan apa pun menolak dikirim ke medan perang.
Sikap ini sangat tidak realistis seolah semua persoalan pasti selesai dengan kompromi. Padahal dalam dunia yang berdosa penyelesaian konflik antar bangsa tidak sesederhana penyelesaian konflik antar personal. Kadang ada bangsa atau kelompok masyarakat yang bersikap seperti serigala yang mau mendominasi bangsa atau kelompok lain demi kepentingan ekonomi domestiknya.
Dalam kondisi ini tidak ada jalan lain kecuali berperang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa.
Nah, sikap pasifis ini dituding sebagai sikap yg tidak memiliki patriotisme. Ia muncul dari rasa takut serta tidak memiliki tanggungjawab sosial kebangsaan. Sikap ini dituding bukan sikap yg lahir dari cinta, tetapi hadir dari kemunafikan. Motif utamanya ingin menyelamatkan diri sendiri.
2. Ada sikap yang sebaliknya dari yg pertama. Sikap ini justru menggunakan agama untuk menjustifikasi peperangan. Contoh nyata yang dilakukan pemimpin gereja Rusia Patriark Kirill. Sikapnya ini sama dengan Paus Urbanus II ketika yang terakhir ini dengan dukungan ayat2 suci dan simbol2 keagamaan mendorong semua orang Kristen Eropa masuk dalam Perang Salib demi memerangi kaum Muslim. Umat dengan dungu mudah digiring dalam peperangan dengan janji2 sorgawi. Padahal, sesungguhnya Paus Urbanus II sedang mewujudkan ambisinya memperluas pengaruh politiknya sampai di Timur Tengah.
Jadi, sesungguhnya Perang Salib bukanlah perang agama. Kita lihat bahwa ambisi dan kepentingan politik Patriark Kirill dan Paus Urbanus II dibalut oleh bahasa agama.
Encyclopedia Perang memberi ulasan menarik. Hanya 7% konflik di seluruh dunia yg bisa disebut sebagai sungguh2 konflik agama. 93% konflik lainnya lebih banyak soal ekonomi dan terutama kepentingan politik yg kemudian memanfaatkan agama sebagai alat justifikasi. Intinya, lebih banyak politisasi agama.
Pada jaman modern politisasi agama bermetamorfosa menjadi Politik Identitas yang mengangkat isu etnik, budaya dan terutama agama. Politik identitas ini dipraktekkan oleh Trump (US), Bolsonaro (Brazil), Erdogan (Turki), Orban (Hungaria), Zia Ul Haq (Pakistan), Duterte (Filipina) dan politik identitas ini digunakan saat Pilkada DKI 2017 dengan strategi ayat dan mayat.
3. Sikap ketiga adalah Just War. Sikap ini lebih realistis. Dalam dunia yang berdosa kadang perang tidak terhindarkan. Tetapi,  sikap ini menekankan untuk sejauh mungkin menghindari perang. Perang selalu jadi the last resort bila segala jalan kompromi sudah buntu.
Perang pun lebih untuk membela diri demi terciptanya keadilan. Ia bukan sarana untuk mendominasi.  Misalnya ketika pasukan Sekutu memerangi Nazi Jerman di bawah Hitler. Itu adalah Just War yang muncul karena demi menyelamatkan nyawa jutaan orang Eropa termasuk warga Yahudi yang dibantai Hitler. Saat Just War dilakukan pun harus diupayakan agar sesedikit mungkin jatuh korban sipil, terutama perempuan, orang yg sudah sepuh dan anak2.
Kesimpulan
Patriark Kirill yang memang merupakan pendukung kebijakan politik Putin dalam intervensi Rusia di Ukraina sedang menggunakan politisasi agama. Apalagi pemisahan Rusia dan Ukraina telah menimbulkan gesekan keras dalam relasi internal Gereja Orthodoks. Ada persaingan dan perebutan otoritas antara pimpinan gereja Orthodox di Rusia dan di Ukraina.
"Politik itu Suci," kata Sabam Sirait. "Politik untuk melayani," kata Leimena. Agama juga suci dan untuk melayani.
Tetapi ketika keduanya digabung menjadi politik agama maka hasilnya adalah kejahatan, manipulasi, kedunguan, dan ujungnya dehumanisasi!

Cepogo, 27 Sept 2022 (T)

๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ต ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ, Serial Sudut Pandang

๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ต ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ, Serial Sudut Pandang

Saya tuh gumun pada kegiatan orang Kristen pergi ke Tanah Suci. Memangnya kekristenan memiliki Tanah Suci? Sejak Kapan? Aturannya di mana?
Ada orang bersaksi tentang perbedaan suasana ibadah di “Tanah Suci” orang Kristen. Orang itu merasa damai beribadah di tempat Yesus lahir. Benarkah Yesus lahir di tempat/lokasi itu?
Sesungguhnya satu orang pun tidak ada yang tahu tempat/lokasi Yesus lahir. Bahkan penulis Injil pun tidak tahu. Berarti saya tidak percaya pada kesaksian Alkitab dong? Justru saya setia pada narasi kitab Injil, maka saya menyimpulkan bahwa penulis Injil tidak sedang menulis kisah kelahiran Yesus secara historis. Itu kisah teologis sehingga sesukanya penulis Injil mengarang kisah Natal untuk mengusung teologi mereka masing-masing.
Hanya pengarang Injil Lukas dan Matius yang menulis kisah Natal. Lukas dan Matius mengambil bahan dari Markus, tetapi Markus tidak menulis kisah Natal. Untuk itulah Lukas dan Matius harus menulis kisah Natal mereka sendiri sesuai teologi yang hendak diusung. Kesamaan Injil Lukas dan Matius adalah Yesus harus dikenal sebagai Orang Nazaret.
Untuk membuat Yesus orang Nazaret Lukas membuat orangtua Yesus tinggal di Nazaret. Untuk memenuhi nubuat nabi dibuatlah alasan orangtua Yesus pergi ke Betlehem dengan program sensus yang ditetapkan oleh Kaisar Augustus. Yesus lahir di sebuah tempat, yang ditafsir pembaca sebagai kandang karena bayi Yesus diletakkan di palungan. Kelahiran Yesus penuh damai dan sukacita versi Injil Lukas. Tidak ada kisah teror Raja Herodes membunuhi bayi U-2. Tidak ada kisah pelarian Yusuf dan Maria. Keluarga Yusuf tetap di Betlehem sampai hari penahiran di Bait Allah. Sesudah ritual di Bait Allah mereka kembali ke kota kediaman mereka, yaitu Kota Nazaret di Galilea (Luk. 2:39).
Dalam Injil versi Matius orangtua Yesus punya rumah dan tinggal di Betlehem. Yesus lahir di rumah Yusuf. Akan tetapi kelahiran Yesus dalam suasana teror dan horor. Raja Herodes yang merasa tersaingi memberi perintah pembunuhan bayi U-2. Yusuf kemudian melarikan bayi Yesus ke Mesir untuk bersembunyi. Sesudah Herodes mati, malaikat menyuruh Yusuf lewat mimpi untuk membawa kembali ke Tanah Israel. Rupanya malaikat kudet. Pengganti Herodes adalah Arkhelaus sebagai penguasa Tanah Yudea. Yusuf pun kรจder dan berbelok mengungsi ke Nazaret di Galilea agar kemudian Yesus dikenal sebagai Orang Nazaret (Mat. 2:19-23).
Jadi, sebenarnya Yesus lahir di mana? Di rumah sendiri atau di kandang? Lalu, apakah tempat-tempat yang pernah ditempati dan dilalui Yesus menjadi Tanah Suci?
Orang Kristen yang setia kepada Kristus lewat kesaksian dalam narasi Alkitab justru tidak mengenal Tanah Suci.  Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ ๐—ด๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฌ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab ๐—•๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต-๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ฎ๐—ป.  Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yoh. 4:21-24).
Bisnis agama tidak pernah usang dimakan zaman. “Tanah Suci” sudah menjadi bisnis para politikus dan gereja sejak Perang Salib. Orang-orang Yahudi modern juga tak mau ketinggalan. Mereka memberi tempat wisata agama Kristen di Israel demi meraup devisa.
Di sebuah sekolah TK seorang guru memberi kuis untuk murid-muridnya dengan hadiah 10 dolar, “Siapakah tokoh paling berpengaruh sepanjang zaman?”.
Sean, murid Irlandia, menjawab, “Santo Patrick”. “Salah,” kata Bu Guru. Fletcher, murid Skotlandia, menjawab, “Santo Andreas”. “Masih salah,” kata Bu Guru. Akhirnya Adam, murid beragama Yahudi, menjawab dengan lantang: “Yesus Kristus!”
Sang guru terharu mendengar jawaban tepat dari Adam. “Adam …,” kata guru, “… kamu seorang Yahudi, tetapi kamu menjawab tepat. Apakah itu tidak bertentangan dengan kata hatimu?”
“Bu Guru …,” jawab Adam, “ … jauh di dalam lubuk hati saya tokoh paling berpengaruh adalah Musa, tetapi bisnis tetaplah bisnis.”

Cepogo, 10.10.22 (T)

Sabtu, 08 Oktober 2022

Sudut Pandang Lukas 17:11-19, Rasa bersyukur menunjukan keimanan dan bagaimana kita beragama, kasus 10 orang sakit kusta, Serial sudut pandang

Sudut Pandang Lukas 17:11-19, Rasa bersyukur menunjukan keimanan dan bagaimana kita beragama, kasus 10 orang sakit kusta, Serial sudut pandang

Bacaan Lukas 17:11-19; nas ayat 13 "Dan berteriak: 'Yesus, Guru, kasihanilah kami!'" Seperti orang kusta yang memohon belas kasihan Sang Guru; demikian juga kita yang memiliki kelemahan manusiawi, cidera pikiran, dosa perkataan, maupun kesombongan diri layak untuk memohon bersama orang kusta itu: "Tuhan, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami." Seringkali, kita yg menyebut diri orang beragama tidak bisa bersyukur dan berterima kasih atas anugerah Tuhan, seperti 9 penderita kusta yg orang Yahudi, orang Yahudi sering menyebut dirinya orang beragama, anak Terang, pd kenyataannya hanya 1 orang kusta yg orang Samaria yg bisa mengucap syukur dan terima kasih atas anugerah Tuhan, orang Samaria yg selalu dicap orang berdosa, orang tak beragama, anak dunia, anak kegelapan. Hal ini mengajari kita bahwa bersyukur melewati tembok agama. Ini kritisi untuk kita, kalo kita orang beragama, orang beriman seharusnyalah, bisa bersyukur dan berterima kasih atas anugerah Tuhan. Kehidupan keluarga akan menghadapi suka dan duka disitulah kita berjumpa Tuhan, dan kita harus memaknai perjumpaan dg Tuhan dalam suka duka hidup berkeluarga dengan rasa syukur yg mendalam๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป

Gkj Sidomukti, 09 Oktober 2022 (T)

Jumat, 30 September 2022

Iman kok diukur? Serial Sudut Pandang

Iman kok diukur? Serial Sudut Pandan

“๐˜๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ, ๐˜ช๐˜ด ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜จ๐˜ฐ๐˜ต; ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ช๐˜ด ๐˜ข ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ญ; ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ช๐˜ด ๐˜ข ๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ท๐˜ฆ.“ William Drummond. Mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan adalah hak asasi manusia sehingga sudah sepatutnya pemerintah memberikan pelayanan itu, kata Ahok (2015). Pemerintah tidak boleh menyebut itu bantuan, karena itu hak masyarakat dan memang kewajiban atau sepatutnya dilakukan oleh pemerintah. “Anda kafirkan saya pun tetap saya beri KJP.” tukas Ahok. Dengan kata lain pemerintah bukan sekadar pelayan masyarakat, melainkan budak (ฮดฮฟแฟฆฮปฮฟฮฝ). Pemerintah tidak pantas merasa berjasa kemudian meminta “balas jasa” dari masyarakat yang dilayani. Selain melanggar sumpah jabatan, ia sudah melupakan hakikat pejabat pemerintah adalah “budak” masyarakat. Pejabat-pejabat yang dicokok KPK pada umumnya terkena kasus “balas jasa” itu. Bacaan dari Injil Lukas 17:5-10,  Kutipan bacaan Injil saya letakkan di bawah.
Meskipun bacaan dari Lukas 17:5-10, sebaiknya kita membaca dari ayat 1. Bacaan Injil dari dua perikop dengan dua topik. Perikop Lukas 17:1-6 diberi judul “Beberapa nasihat” oleh LAI, sedang Lukas 17:7-10 “Tuan dan hamba”.

๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿญ-๐Ÿฒ
Perikop ini sebenarnya mengandung ucapan-ucapan lepas Yesus yang kemudian disatukan oleh pengarang Injil Lukas untuk diberi konteks. Pertama-tama Lukas memberi konteks “tugas-tugas iman” atau “kewajiban iman” dalam ayat 6 untuk membedakannya dari konteks Injil Markus 11:23 dan Matius 17:20, 21:21.
Konteks “tugas-tugas iman” dan “kewajiban iman” tersebut untuk menyambung ayat 1-5:
• Tugas melindungi anggota jemaat yang lemah dari penyesatan, bahkan jika terpaksa, si penyesat harus disingkirkan “ke laut” (ay. 1-2).
• Tugas menjaga diri sendiri dan menggembalakan anggota jemaat yang berdosa (ay. 3).
• Kewajiban mengampuni tanpa batas (ay. 4).
• Sesudah mendengar “tugas” atau “kewajiban” yang harus mereka jalankan di ayat 1-4, para murid memohon agar iman mereka ditambahkan (ay. 5).
Di ayat 6 itu Yesus tampaknya tidak mau menambahkan iman para murid-Nya karena meskipun “tugas-tugas” di ayat 1-4 itu berat, mereka dianggap sudah mampu menjalankannya. Dengan iman yang kecil saja, hal yang dianggap mustahil pun dapat terjadikan: mencabut pohon ara dengan akar-akarnya dan menanamnya lagi di laut. Lebih ekstrem lagi mereka dapat memerintah pohon itu melakukannya sendiri.
Tentu saja ucapan di Lukas 17:6 harus dipahami sebagai metafora atau kiasan. “Iman ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ diukur-ukur! Iman sebesar biji sesawi sudah cukup!” begitu kira-kira yang hendak dikatakan oleh Yesus. Dari jawaban Yesus kita tidak perlu minder dengan kesaksian pribadi yang heboh tentang orang bertemu dengan Yesus, mendapat kesembuhan ajaib, diberkati hidupnya dengan kelimpahan harta, dlsb. Dengan iman sekecil biji sesawi kita sudah dapat mengerjakan tugas-tugas berat dari Yesus, dan memang seperti itulah yang dikehendaki oleh Yesus. ๐˜Ž๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ muluk-muluk. Tak perlu menunjukkan iman dengan ukuran tanda-tanda lahiriah simbol-simbol agama. Demikian halnya bulan keluarga pd bulan Oktober ini mengangkat tema KELUARGA KU BERJUMPA TUHAN, KELUARGA KU MENEMUKAN MAKNA, Perjumpaan keluarga dengan aneka rupa realita merupakan 
sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri. Di sana ada 
ratap tangis sedih, kedukaan, kepedihan, kekurangan, kehilangan, 
dan aneka peristiwa lainnya. Keluarga juga berjumpa dengan 
tangisan kegembiraan, sukacita, pemulihan, kelimpahan, serta aneka peristiwa sukses lainnya. Dalam persekutuan bersama  Bapa, Anak dan Roh Kudus, keluarga menemukan makna 
kehidupan yang membuat setiap orang merasakan keluarga 
sebagai kehidupan yang berharga meski tidak selalu ideal. Itulah perjalanan iman keluarga, bertemu Tuhan dalam kepelbagaian peristiwa hidup, memaknainya serta mengubah, hal yg lumrah, dimana itu dijalani setiap keluarga, tapi bagaimana memaknainya dg baik yang itu mengubah kan. Tidak perlu juga peristiwa dalam hidup yang lumrah itu dibuat sedemikian WOW nya, kemudian dijadikan "KESAKSIAN" dalam gereja atau persekutuan, itu malah merendahkan pemaknaannya, cukup tunjukan dalam kehidupan keseharian bagaimana keluarga tsb berubah dan Kristus tergambarkan dalam hidup berkeluarga tsb. Masak ya pengalaman iman atau iman itu diukur atau terukur?, Iman kok diukur? capek dech๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ. Keluarga Kristen saat ini dalam situasi di mana di dalamnya 
menjumpai proses tarik ulur realitas yang saling memengaruhi. 
Kekuatan-kekuatan yang saling tarik ulur itu oleh Paus Yohanes 
Paulus II disebut sebagai kekuatan terang dan gelap. Keluarga 
bisa jadi berada dalam tarikan kegelapan. Perpisahan, konflik, 
saling melukai, konsumeristik, hedonis, hidup tanpa makna
terjadi dalam keluarga. Namun kekuatan terang Allah yang 
menarik keluarga untuk menemukan makna dalam rengkuhan 
Trinitas Maha Kudus. Pada akhirnya keluarga mengalami Allah 
sebab Ia adalah Allah “menjadi semua di dalam semua” (1 
Korintus 15:28) sebab tujuan kebermaknaan itu adalah 
persekutuan cinta bersama Bapa, Anak dan Roh Kudus.

๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿณ-๐Ÿญ๐Ÿฌ
Perumpamaan metafora “Tuan dan hamba” ini dipandang oleh penulis Injil Lukas cocok untuk memerikan nasabah Tuhan dan orang percaya. LAI menerjemahkan ฮดฮฟแฟฆฮปฮฟฮฝ dengan “hamba.”
Istilah “hamba” itu terkesan halus dan agung, apalagi ada istilah “hamba Tuhan”. Alkitab NRSV menerjemahkan ฮดฮฟแฟฆฮปฮฟฮฝ dengan budak (๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ท๐˜ฆ). Terjemahan NRSV lebih ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.
Dalam perumpamaan ini budak tidak seperti pekerja harian yang memiliki hari dan jam kerja. Budak tak punya apa-apa. Budak sudah dibeli dan apa pun yang dimilikinya adalah milik tuannya, termasuk waktu hidupnya. Sesudah melakukan semua tugasnya, budak tetaplah budak.

 ๐— ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐—ธ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐˜ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฎ๐˜๐˜‚ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ.

Meskipun Lukas 17:7-10 berlaku umum bagi jemaat Kristen, Rendah hati sama dan sebangun dengan hening. Jika bersuara, maka bukan hening lagi. Jika diucapkan, maka bukan rendah hati lagi. Iman kok diukur?



Cepogo, 30 September 2022 (T)
Lampiran :
Kutipan ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿญ-๐Ÿญ๐Ÿฌ (TB II LAI, 1997)
๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต 
๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿญ Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada hal yang membuat berbuat dosa, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿฎ Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini berbuat dosa.
๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿฏ Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.
๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿฐ Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia."
๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿฑ Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"
๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿฒ Jawab Tuhan: "Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."

๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข
๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿณ "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak tanah atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿด Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿต Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
๐Ÿญ๐Ÿณ:๐Ÿญ๐Ÿฌ Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."



Selasa, 27 September 2022

PENGANTAR SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI ROMA, Serial Bina Karya Bergereja

PENGANTAR SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI ROMA, SERIAL BINA KARYA BERGEREJA

PERNYATAAN PEMBUKA: 
A. Kitab Roma adalah kitab doktrinal tulisan Rasul Paulus yang paling logis dan sistematis. Dipengaruhi 
oleh kenyataan-kenyataan di Roma, kitab ini adalah suatu dokuman yang “langka”. Ada sesuatu yang 
terjadi yang menyebabkan Paulus untuk menulis surat ini. Sebagai tulisan Paulus yang paling bersifat
netral, di dalamnya cara Paulus menghadapi permasalahan yang ada (barangkali kecemburuan yang 
terdapat diantara orang-orang Yahudi yang percaya dengan kepemimpinan kafir, bandingkan pasal 
14:1-15:13) merupakan pernyataan yang jelas dari Injil beriikut penerapannya dalam kehidupan 
sehari-hari. 

B. Pemberitaan injil oleh Paulus di kitab Roma telah mempengaruhi kehidupan gereja di segala zaman: 
1. Augustinus bertobat pada tahun 386 Masehi setelah membaca Roma 13:13-14 
2. pemahaman Martin Luther mengenai keselamatan berubah secara radikal di tahun 1515 Masehi
pada saat ia membandingkan Maszmur 31:1 dengan Roma 1:17 (bandingkan Hab 2:4). 
3. John Wesley, berjalan di dekat suatu kebaktian kaum Mennonite di London tahun 1738 Masehi, 
bertobat setelah mendengar pembacaan kotbah Luther mengenai pengantar kitab Roma, karena 
pendeta yang seharusnya bertugas tidak muncul! 

C. Memahami kitab Roma adalah memahami Kekristenan! Surat ini membentuk kehidupan dan 
pengajaran Yesus menjadu suatu batu dasar kebenaran bagi gereja di segala zaman. Martin Luther 
berkata mengenai kitab Roma: “Buku terutama dari Perjanjian Baru dan injil yang paling murni!” 


PENULIS 
Bisa dipastikan Paulus adalah penulis kitab ini. Salamnya yang khas ditemukan dalam pasal 1:1. 
Secara umum disetujui bahwa “duri dalam daging” Paulus adalah mata yang kabur, sehingga ia tidak
secara fisik menuliskan sendiri surat ini, namun ia menggunakan tenaga penulis, Tertius (bandingkan
pasal 16:22). 


TANGGAL 
A. Kemungkinan tanggal penulisan kitab Roma adalah tahun 56-58 Masehi. Buku ini adalah salah satu 
dari sedikit buku dari Perjanjian baru yang dapat dilacak tanggal penulisannya dengan cukup akurat. 
Hal ini dilakukan dengan mebandingkan Kisah 20:2 dst. Dengan Roma 15:17 dst. Kitab Roma
barangkali ditulis di kota Korintus menjelang akhir perjalanan Paulus yang ke tiga, tepat sebelum ia 
berangkat ke Yerusalem. 

B. Kemungkinan secara kronologis dari tulisan-tulisan Paulus menurut F. F. Bruce dan Murry Harris 
dengan sedikit penyesuaian adalah: 
Kitab


PENERIMA
Surat ini menayatakan tujuannya yaitu Jemaat Roma. Kita tidak tahu siapa yang mendirikan 
gereja di Roma: 

A. Mungkin didirikan oleh orang-orang yang sedang mengunjungi Yerusalem pada hari Pentakosta dan 
bertobat lalu pulang untuk memulai suatu gereja (bandingkan Kis 2:10) 

B. Mungkin juga pendirinya adalah murid-murid yang melarikan diri dari penganiayaan di Yerusalem 
setelah kematian Stefanus. 

C. Mungkin pula pendirinya adalah orang-orang yang bertobat hasil perjalanan penginjilan Paulus yang 
melancong ke Roma. Paulus tidak pernah mengunjungi gereja ini, walaupun ia rindu sekali untuk 
mengunjunginya (bandingkan Kis 19:21). Ia banyak memiliki teman di sana (bandingkan Rom 16). 
Nampaknya rencanyanya adalah mengunjungi Roma dalam perjalanannya ke Spanyol 
(bandingkan Rom 15:28) setelah perjalanannya ke Yerusalem dengan “persembahan kasih”. Paulus 
merasa bahwa pelayanannya di daerah Mediterania bagian timur telah selesai. Ia mencari ladang baru
(bandingkan 15:20-23,28) Pembawa surat Paulus di Yunani ke Roma nampaknya adalah Febe, 
seorang penatua jemaat, yang berperjalanan ke arah itu. (bandingkan Rom 16:1). Mengapa surat ini, 
yang ditulis di lorong-lorong kota korintus di abad pertama oleh seorang Yahudi pembuat tenda
begitu berharga? Martin Luther menyebutnya sebagai “Buku terutama dari Perjanjian Baru dan injil 
yang paling murni!” Nilai dari buku ini terletak pada kenyataan bahwa buku ini adalah penjabaran 
secara mendalam dari Injil oleh seorang rabbi yang bertobat, Saul orang Tarsus, yang terpanggil 
menjadu rasul bagi bangsa kafir. Kebanyakan surat Paulus diwarnai secara kuat oleh keadaan lokal,
kecuali kitab Roma. Kitab ini berisi pernyataan secara sistematis dari iman seorang rasul. 
Sadarkah anda rekan-rekan Kristen, bahwa sebagian besar istilah-istilah teknis yang digunkana 
saat ini untuk menjelaskan tentang “iman” (“pembenaran”, “pemutihan”, “adopsi” dan “penyucian”) 
berasal dari kitab Roma? Kitab ini adalah pembangunan Teologis dari kebenaran-kebenaran dalam 
kitab Galatia. Berdoalah agar Tuhan membukakan rahasia kitab yang luar biasa ini pada saat kita 
bersama mencari kehendakNya bagi kehidupan kita saat ini! 


MAKSUD 
A. Upaya untuk menggalang bantuan untuk perjalanan penginjilannya ke Spanyol. Paulus melihat 
bahwa pekerjaan kerasulannya di daerah Mediterania bagian timur sudah selesai. (bandingkan 15:20-
23,28). 

B. Untuk menangani permasalahan di gereja Roma anatara orang Yahudi yang percaya dan orang Kafir
yang percaya. Ini barangkali adalah akibat dari pengusiran seluruh orang Yahudi dari wilayah Roma
dan kembalinya mereka di kemudian hari. Pada saat itu pemimpin-pemimpin Yahudi-Kristen telah 
digantikan oleh pemimpin-pemimpin Kristen dari bangsa kafir. 

C. Untuk memperkenalkan dirinya kepada gereja Roma. Ada banyak penolakan terhadap Paulus dari 
orang orang Yahudi bertobat yang sungguh-sungguh di Yerusalem (Dewan Yerusalem di Kisah 15), 
dari kelompok Yahudi yang sesat (Orang Yahudi sesat dalam Kitab Galatia dan II Korintus 3, 10-13), 
dan dari Orang-orang Kafir (Kolose, Efesus) yang mencoba untuk menggabungkan Injil dengan teori 
atau falsafah kesukaan mereka (misalnya gnostisisme) 

D. Paulus dituduh sebagai penyebar ajara baru yang berbahaya, menambahkan secara sembarangan 
pengajaran dari Yesus. Buku Roma dalah cara Paulus untuk secara sistematis mempertahankan 
dirinya dengan menunjukkan bagaimana injil yang diajarkannya adalah benar, menggunakan 
Perjanjian Lama dan pengajaran Yesus (kitab Injil). 


GARIS BESAR RINGKAS

A. Pendahuluan (1:1-17) 
1. Salam (1:1-7) 
a. Penulis (1-5) 
b. Arah Tujuan (6-7a) 
c. Ucapan Selamat (7b) 

2. Kejadian dan kesempatan (1:8-15)
 
3. Tema (1:16-17) 

B. Kebutuhan akan Kebenaran illahi (1:18-3:20) 
1. Kemerosotan Dunia Kekafiran (1:18-32) 

2. Kmunafikan orang Yahudi atau pengikut faham moral kefasikan (2:1-16) 

3. Penghakiman terhadap orang Yahudi (2:17-3:8) 

4. Pnghukuman Dunia (3:9-20) 

C. Apakah Kebenaran Illahi itu (3:21-8:39) 
1. Kebenaran Haya oleh Iman (3:21-31) 

2. Dasar Kebenaran: Janji Tuhan (4:1-25) 
a. kehidupan Abraham yang benar (4:1-5) 
b. Daud (4:6-8) 
c. Hubungan Abraham dengan Sunat (4:9-12) 
d. Janji Tuhan kepada Abraham (4:13-25) 

3. Pencapaian Kebenaran (5:1-21) 
a. Aspek subyektif: Kasih karunia, kesukaan yang tak tertandingi (5:1-5) 
b. Dasar yang obyektif: Kasih Allah yang luar biasa (5:6-11) 
c. Tipologi Adam/Kristus: Pelanggaran Adam, Ketetapan Allah (5:12-21) 

4. Kebenran Illahi harus terbit dalam kebenaran pribadi (6:1-7:25) 
a. Dibebaskan dari dosa (6:1-14) 
(1) Penolakan yang semestinya (6:1-2) 
(2) Arti baptisan (6:3-14)
b. Budak Setan atau Hamba Tuhan: silahkan pilih! (6:15-23) 
c. Perkawinan manusia dengan Hukum Taurat (7:1-6) 
d. Hukum Taurat adalah baik, namun dosa menghalangi kebaikan (7:7-14) 
e. Pergumulan abadi tentang kebaikan dan kejahatan dalam diri orang percaya (7:15-25) 

5. Hasil yang nampak dari kebenaran Illahi (8:1-39) 
a. Hidup dalam Roh (8:1-17) 
b. Penebusan dari ciptaan Allah (8:18-25) 
c. Pertolongan yang tetap dari Roh Kudus (8:26-30) 
d. Kemenangan dalam pnghakiman dari pembenaran oleh iman (8:31-39) 

D. Maksud Illahi bagi seluruh Umat Manusia (9:1-11:32) 
1. Pemilihan Israel (9:1-11:32) 
a. Pewaris iman yang sesungguhnya. (9:1-13) 
b. Kedaulatan Tuhan (9:14-26) 
c. Rencana umum Allah mencakup orang kafir (9:27-33) 

2. Keselamatan Israel (10:1-21) 
a. Kebenaran Tuhan vs Kebenaran Manusia (10:1-13) 
b. Kemurahan Tuhan memerlukan utusan, seruan untuk penginjilan ke dunia. (10:14-18) 
c. Ke tetap tidak percaya-an Israel pada Allah (10:19-21) 

3. Kegagalan Israel (11:1-36) 
a. Sisa-sisa orang Yahudi (11:1-10) 
b. Kecemburuan orang Yahudi (11:11-24) 
c. Kebutaan sementara orang Israel (11:25-32) 
d. Luapan pujian Paulus (11:33-36) 

E. Hasil dari anugerah Kebenaran Illahi (12:1-15:13) 
1. Seruan untuk pengudusan (12:1-2) 

2. Penggunaan karunia-karunia (12:3-8) 

3. Hubungan antar orang percaya (12:9-21) 

4. Hubungan dengan Negara (13:1-7) 

5. Hubungan dengan sesama (13:8-10) 

6. Hubungan dengan Tuhan (13;11-14) 

7. Hubungan dengan sesama anggota gereja (14:1-12) 

8. Pengaruh kita terhadap orang lain (14:13-23) 

9. Hubungan dengan keserupaan dengan Kristus (15:1-13) 

F. Kesimpulan (15:14-33) 
1. Rencana-rencana pribadi Paulus (15:14-29) 

2. Permohonan doa (15:30-33) 

G. Catatan-catatan (16:1-27) 
1. Ucapan Selamat (16:1-24) 
2. Doa Berkat (16:25-27) 

Cepogo, 12 Januari 2019 (T)

Minggu, 25 September 2022

KITAB ROMA, AJARAN-AJARAN UTAMA KITAB-KITAB DALAM PERJANJIAN BARU, SERIAL BINA KARYA BERGEREJA

KITAB ROMA, AJARAN-AJARAN UTAMA KITAB-KITAB DALAM PERJANJIAN BARU, SERIAL BINA KARYA BERGEREJA

KITAB ROMA

Tujuan

Supaya orang-orang Kristen mengerti ajaran-ajaran utama Kitab Roma dan yakin bahwa manusia diselamatkan hanya oleh iman kepada Tuhan Yesus Kristus.

Pendahuluan

Penulis  : Rasul Paulus (Rom 1:1).

Tahun  : Sekitar tahun 58 sesudah Masehi, dari kota Korintus.

Penerima: Orang-orang Kristen di kota Roma (dan juga setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus).

Isi Kitab: Kitab Roma terbagi atas 16 pasal. Dalam kitab ini Rasul Paulus menjelaskan tentang cara manusia yang berdosa diselamatkan, yaitu melalui iman saja kepada Tuhan Yesus. Dan juga tentang cara hidup orang-orang yang telah diselamatkan tersebut.

I. Ajaran-ajaran utama dalam Kitab Roma

  1. Pasal 1-11 (Rom 1:1-11:36).

    Pengajaran tentang Injil merupakan kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap manusia

    Pada bagian ini dijelaskan bahwa semua manusia telah berbuat dosa dan sudah tidak mengenal Allah. Karena itu manusia berdosa sudah berada dalam penghukuman Allah, yaitu kematian. Keselamatan dari kematian akibat dosa tidak dapat diperoleh melalui usaha manusia atau melalui melakukan Hukum Taurat. Keselamatan itu hanya dapat diperoleh dalam anugerah Allah yang ada pada Tuhan Yesus. Ini berarti keselamatan manusia hanya dapat diperoleh melalui iman kepada anugerah Allah yang ada di dalam Tuhan Yesus.

    Pendalaman

    1. Berdasarkan pasal Rom 1:21-25,28-31.
      Apakah yang dilakukan manusia di dunia?
    2. Bacalah pasal Rom 3:23; 6:23.
      Tanyakan: Berapa banyakkah manusia yang berdosa?
      Apakah akibat dari dosa?
    3. Bacalah pasal Rom 10:9-13.
      Tanyakan: Bagaimanakah caranya manusia diselamatkan?

  2. Pasal 12-16 (Rom 12:1-16:27).

    Pengajaran tentang kehidupan orang Kristen setiap hari

    Pada bagian ini, dijelaskan bagaimana seharusnya kehidupan dari setiap orang yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat-Nya.

    Pendalaman

    1. Bacalah pasal Rom 12:1-2.
      Tanyakan: Apakah ibadah orang Kristen yang sejati dan berkenan
      di hadapan Allah?
    2. Bacalah pasal Rom 12:6-8.
      Tanyakan: Bagaimanakah sikap kehidupan seorang pelayan Firman
      Allah?
    3. Bacalah pasal Rom 12:9-21.
      Tanyakan: Bagaimanakah cara hidup orang percaya/Kristen dalam
      masyarakat?
    4. Bacalah pasal Rom 13:1.
      Tanyakan: Bagaimanakah sikap orang Kristen terhadap pemerintah?
    5. Bacalah pasal Rom 15:1.
      Tanyakan: Bagaimanakah sikap orang Kristen terhadap orang yang
      lemah?
    6. Bacalah pasal Rom 16:17-18.
      Tanyakan: Apakah peringatan Rasul Paulus terhadap orang percaya?

II. Kesimpulan

Melalui Kitab Roma jelaslah bahwa Allah mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa, dan mengalami penghukuman, yaitu kematian. Allah juga dengan tegas menyatakan bahwa semua usaha manusia untuk menyelamatkan diri dari kematian itu sia-sia. Allah menyatakan bahwa manusia memperoleh keselamatan hanya melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus.

Pertanyaan-pertanyaan yang Dapat Digunakan untuk Tanya Jawab

  1. Siapakah penulis Kitab Roma?
  2. Mengapakah semua manusia berada dalam penghukuman Allah?
  3. Mengapakah orang Kristen perlu menguduskan diri?
  4. Bagaimanakah cara hidup orang Kristen?
Cepogo, 21 Juli 2016 ( T)

Sudut Pandang Contoh sederhana persiapan perjamuan kudus yg dilakukan presbuteros/majelis, di gereja Baptis Injili, Serial Bina Karya Bergereja

Sudut Pandang Contoh sederhana persiapan perjamuan kudus yg dilakukan presbuteros/majelis, di Gereja Baptis Injili, Serial Bina Karya Bergereja

1. Nyanyian Pembuka
2. Doa Pembuka
3. Pengantar
4. Firman Tuhan dan perenungan
5. Dari Firman Tuhan ini kita perlu mawas diri sebelum kita ikut ambil bagian di dalam meja Perjamuan Kudus. Bagaimรคnรค kita harus  mawas diri? Marilรคh kita membuka diri di hadapan Allah sambil merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut :

6. Seperti telah diketahui dan dimuat di warta gereja, bahwa perjamuan Kudus akan diadakan pada hari Minggu, tanggal......., Ibadah pukul......., Berbahasa........., Ibadah pukul........berbahasa.........., Tentunya kita semua berharap dapat hadir dalam perjamuan Kudus tsb, tetapi dalam Rahmat Tuhan, perkenan kan saya mewakili majelis .............
 untuk bertanya tentang kesiapan hati bpk/ibu semua untuk masuk dalam meja perjamuan Tuhan, jika YA katakanlah YA, jika TIDAK katakanlah TIDAK, selebihnya daripada itu hanyalah berasal dari si jahat, marilah kita hening sejenak untuk menguji diri kita masing-masing sebelum memberikan jawab.

7. Yang saya sebut namanya berkenanlah menjawab "Ya, dengan sepenuh hati" atau "Tidak, untuk saat ini saya belum siap", Apakah Bpk/Ibu............... dapat mengikuti perjamuan Kudus ataukah tidak/ada halangan? (Stlh menjawab) Kiranya Tuhan memberkati niat hati Bpk/Ibu (untuk jawaban YA) dan ujilah diri bpk/ibu sendiri sblm masuk meja perjamuan Kudus agar perjamuan Kudus menjadi berkat bagi Bpk/ibu atau Kiranya Tuhan turut serta dalam gumul juang Bpk/Ibu (untuk jawaban TIDAK), setialah dalam doa dan renungkanlah firman Tuhan, 

8. Baiklah, saya akan membawa dalam doa jawab Bpk/Ibu sekalian :
"Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus kami menyatu hati dalam doa, Tuhan, Engkau telah mendengar jawab atas undangan Mu masuk meja perjamuan Kudus, berkatilah jawab dan niatan hati dari jemaat Mu di sini, setia dan hadir lah  atas pergumulan hati jemaatMu di sini, dampingilah saat jemaatMu di sini menguji diri,  kiranya semua menjadi Rahmat dan anugerah yang baik bagi jemaatMu di sini, sempurnakanlah doa ini, doa ini kami panjatkan dalam kuasa dan perlindungan nama di atas segala nama Kristus Yesus, Amin

9. Nyanyian Penutup
10. Berkat

agar saat mengadakan persiapan perjamuan Kudus bisa lebih tertata, berkah Dalem Sang Kristus๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜juga untuk memenuhi beberapa permintaan gereja

Lapangan Pancasila, pertengahan September 2022 (TUS)

Consequent Will dan Takdir Mualag , Serial lintas teks kitab suci

Consequent Will dan Takdir Mualag , Serial lintas teks kitab suci

Kehendak Allah yang melibatkan pihak kehendak bebas manusia; sehingga meskipun Allah menghendaki semua manusia diselamatkan, namun karena Allah menghormati keputusan kehendak bebas manusia yang menolak-Nya, maka tidak semua dari yang ditentukan Allah sejak semula untuk diselamatkan, dapat diselamatkan. Allah menghendaki manusia datang dengan hatinya, dengan kebebasannya sendiri Allah menghendaki manusia menyambut uluran tangan Allah.
Lalu apakah alkitab berbicara tentang takdir?
Dalam Roma 8:28, 29 dikatakan,

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”

Sebagian orang bertanya, jika Tuhan mengetahui apakah saya akan selamat atau binasa, mengapa bersusah-susah menjadi orang Kristen agar selamat? Kasian pula, orang yang sudah lahir memang jalannya tidak selamat.
Jawabanya adalah walaupun Tuhan mengetahui, karena Dia adalah mahatahu, kita tidak mengetahui masa mendatang.
Karena itu masing-masing kita harus menggunakan hak pilih kita dan memilih apakah menerima atau menolak anugerah Tuhan. Cidera manusiawi nya manusia adalah menolak Tuhan, naluri tak sekehendak dg Tuhan. Manusia dicipta serupa dan segambar dengan Allah, apabila Allah adalah hal yg bebas tak bisa dibatasi maka manusia pun paling tidak serta sedikitnya juga memiliki kebebasan tsb. Termasuk didalamnya kehendak manusia untuk memberontak pada Allah. Oleh karena cidera asal inilah, maka manusia memerlukan SAKRAMENT BAPTISAN sebagai meterai atau tanda maupun simbol untuk niat bersekehendak dengan Allah, untuk hidup baru, untuk memiliki niat berproses menentukan pilihan hidup yang sekehendak dengan Allah, tetapi dalam prosesnya kembali lagi manusia yg tak sempurna ini akan selalu berada dalam cidera manusiawinya, oleh karenanya manusia memerlukan SAKRAMENT PERJAMUAN KUDUS sebagai meterai, tanda, simbol, maupun pengingat akan niatannya untuk seturut kehendak Allah, pengingat akan niat syukurnya (EKARISTI) akan kasih setia Allah yg turut bekerja dlm cidera manusiawinya Allah tetap menolong, pengingat akan niat syukurnya (EKARISTI) bahwa pertolongan itu datang dari Allah berupa anugerah persekutuan Allah (KOMUNI), dan Allah telah mempercayai niat baik manusia itu untuk mengemban tugas pengutusan dari Allah untuk bersekehendak dengan Allah (MISA/MISIO).
Oleh karena Tuhan mengetahui semua lebih dahulu dan karena Dia menakdirkan (merencanakan) supaya semua menjadi seperti anak-Nya, ini adalah bukti bahwa Tuhan menakdirkan tidak ada yang akan binasa.
Allah dapat melihat kedepan dan mengetahui siapa yang akan terpilih. Baca 1 pet 1;2, 1 Petrus 1:2 (TB)  yaitu "orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu". 
bagian pertama. Orang-orang yang terpilih ditakdirkan kepada keselamatan hanya atas dasar penurutan.Kita di rencanakan untuk selamat dan hidup kekal, tetapi pilihan untuk itu ada di tangan kita.
Itu sebabnya ketika manusia berdosa, Tuhan merencanakan untuk menebus manusia dan memulihkan kehidupan manusia, supaya rencana Tuhan kepada manusia untuk hidup kekal tidak gagal.
Jadi ketika kita menderita, sakit, kecelakaan dll..itu bukan rencana Tuhan bagi kita, Krn Tuhan sempurna, pastilah Tuhan merencanakan yg Baek … semua itu adalah akibat keinginan manusia memberontak pada Allah, keinginan manusia untuk tak sekehendak dengan Allah atau mungkin boleh dikatakan akibat kehendak bebas manusia atau akibat cidera manusiawi, akibat dari pilihan-pilihan hidup yang dikehendaki manusia, hidup penuh pilihan dimana setiap pilihan memiliki pertanggung jawabannya masing-masing dimana dalam perjalanan hidupnya manusia harus menentukan pilihannya, ketika pilihannya tak sekendak dengan Allah maka Allah setia, Allah turut bekerja, Allah bersinergi dg pilihan manusia tsb agar pilihan yang tak sekendak dengan Allah tsb, oleh karena cidera manusiawi nya manusia, (dalam kehendak Allah) dapat mendatangkan kebaikan bagi manusia, dimana pada pertanggung jawaban manusia atas pilihannya itu, Allah tetap menghendaki yang baek untuk manusia, yang baek menurut sudut pandang Allah.  Sejak semula manusia diberi hak untuk "memilih", manusia bukan robot dan Allah diktator yang otoriter. Jika Allah mau, dengan kekuasaan-Nya Dia dapat membuat semua manusia meresponi panggilan-Nya. sebaliknya Allah tidak mau meresponi panggilan-Nya tetapi hal itu bertentangan dengan hakekat-Nya. Hawa diberi kebebasan memilih satu di antara dua: makan atau tidak makan dari buah pohon larangan, ternyata ia memilih yang pertama.

Ulangan 1:26
LAI TB, "Tetapi kamu tidak mau berjalan ke sana, kamu tidak perlu titah TUHAN, Allahmu".

Allah menciptakan makhluk berakal budi – yaitu manusia – seturut gambarnya (Kejadian 1:27), yaitu dengan memberikan kepada mereka kehendak bebas (kehendak bebas). Kehendak bebas ini adalah kekuatan dari kehendak yang mengalir dari akal budi, sehingga manusia dapat "melakukan" atau "tidak melakukan." Manusia memiliki kebebasan: "memilih ini" atau "memilih itu". Dari definisi ini, maka memang dengan kehendak bebasnya, manusia dapat menolak Allah atau memberikan diri secara bebas kepada Allah. Namun, jika sampai seseorang salah dalam menggunakan kehendak bebasnya, maka hal ini tentu bukan kesalahan Allah, melainkan tanggung jawab orang tersebut, yang tidak dapat menggunakan kehendak bebas secara bertanggung jawab.
Kemerdekaan (kehendak bebas) dan anugerah Allah. Anugerah Allah sama sekali tidak membatasi kemerdekaan manusia, jikalau kemerdekaan ini sesuai dengan cita rasa dan kebenaran, yang Allah letakkan di dalam hati manusia. Pengalaman umat Kristen dalam hal free-will ini telah membuktikannya: Kita dapat menerima perintah Allah maupun menolaknya. Roh Kudus mendidik kita dalam kemerdekaan rohani kita. Hal ini menjadikan kita rekan kerja bagi Allah yang tetap menempatkan manusia pada kehendaknya yang bebas.
Pemahaman tentang kehendak bebas manusia yg bertolak belakang dg konsep takdir pd umumnya di sahabat Islam, walopun di Alkitab sebenarnya konsep takdir juga ada, Kalauu kehendak bebas di Islam yaitu 

Takdir Mu'allaq

Takdir mu’allaq, yaitu takdir yang masih bersifat kondisional sehingga bisa diubah dengan ikhtiar manusia.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran suat An-Najm ayat 39-40 yang artinya:

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.”

Misalnya takdir miskin dapat diubah dengan doa dan kerja keras, takdir sakit dapat diubah dengan doa dan berobat, dan sebagainya yang melibatkan ruang usaha bagi manusia. 
Dengan beriman pada takdir Allah SWT, maka manusia akan merasa bahwa dirinya tidak boleh sombong karena semua hal telah ditentukan oleh Allah SWT.
Selain itu, manusia akan senantiasa bersyukur dan bersabar atas segala hal yang diberikan Allah SWT.
Ketika umat Islam memercayai atau mengimani takdir Allah SWT, mereka pun akan lebih optimis dan tidak mudah menyerah saat menjalani kehidupan karena ada hal-hal yang bisa diperbaiki jika mau berusaha.
Nah, itu dia penjelasan mengenai takdir dalam agama Islam beserta macam-macamnya.

Cepogo, 01 Agustus 2022 (T)

Sabtu, 24 September 2022

Sudut Pandang Lukas 16:19-31 dan Lukas 12:13-21, Kekayaan dalam sudut pandang Injil LUKAS


Sudut Pandang Lukas 16:19-31 dan Lukas 12:13-21, Kekayaan dalam sudut pandang Injil LUKAS

Gubernur Irian Jaya (1988-93) Barnabas Suebu pernah mengecam gereja yang hanya menekankan pembangunan rohani. Kehadiran gereja seharusnya membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Katanya, “Kasihan masyarakat Papua, sudah miskin masuk neraka pulak!” Dalam pada itu Ahok mengatakan bahwa sekaya-kayanya ia menjadi pengusaha tetap saja uangnya sangat terbatas untuk menolong orang miskin. Atas nasihat ayahnya ia masuk ke jalur politik agar berfaedah bagi banyak orang. Dengan memegang kekuasaan ia mudah menolong orang-orang miskin lewat kebijakan-kebijakannya. Saat menjadi Gubernur DKI Ahok pernah berseloroh, “Mana ada di dunia ini orang kaya menggelontorkan dana $200 juta setahun untuk orang-orang miskin? Saya melakukannya. ”Teologi kemakmuran atau teologi sukses (๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜จ๐˜บ atau ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ) mengajarkan bahwa kemakmuran dan sukses (kaya, berhasil, dan sehat sempurna) adalah tanda-tanda eksternal dari Allah untuk orang-orang yang diberkati dan dikasihi-Nya. Ideologi ini dibawa oleh Gerakan Kharismatik (kharismatik pentecostal) ke Indonesia sekitar lima dasawarsa silam. Tentu saja jajanan gurih agama ini disambut meriah oleh warga Kristen kaya termasuk warga dari gereja arus-utama. Mengapa warga kaya memilih hengkang dari gereja arus-utama? gereja reformasi?Mereka selama ini lebih memilih diam di gereja arus-utama. Dalam bahasa medsos mereka adalah ๐˜ด๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด. Semasa menjadi warga gereja mereka tidak merasa mendapat ๐˜ง๐˜ถ๐˜ญ๐˜ง๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต pribadi. Gereja sering berat sebelah. Apalagi pendeta sering menekankan ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข. Mosok orang Kristen tidak boleh kaya? Saya pun ingin kaya. Warga kaya mendapat tempat berteduh di gereja yang mengusung teologi kemakmuran. Mereka menjadi percaya diri karena diberi kekuatan oleh pengkhotbah bahwa mereka adalah orang-orang yang diberkati dan dikasihi Allah.
Bagaimana pandangan Injil terhadap harta dan orang kaya?  Mari kita melihat dua bagian Injil LUKAS yg membuat kita sedikit banyak bisa merenungkan sudut pandang penulis Injil LUKAS tentang pandangan akan kekayaan, diambil dari Teks bacaan Injil Lukas 16:19-31 dan Lukas 12 : 13-21, Lukas 16:19-31 saya kutipkan dan letakkan di bagian lampiran.

Lukas 16 : 19 - 31, Kalau anda jeli membaca kitab-kitab Injil berbahasa Indonesia, perikop-perikop mengenai perumpamaan oleh LAI diberi judul dengan frase awal “Perumpamaan tentang”. Namun perikop bacaan Injil Lukas 16:19-31 Minggu ini tidak diberi frase awal “Perumpamaan tentang”. Judulnya ditulis ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜“๐˜ข๐˜ป๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ. Implikasi judul tersebut membuat tidak sedikit orang Kristen mengira cerita itu adalah kisah nyata.  Dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus tidak pernah menggunakan nama orang untuk tokoh-tokoh ceritanya. Bacaan Injil Minggu ini adalah satu-satunya perumpamaan yang menggunakan nama sehingga orang mengira cerita ini kisah nyata. Bukan itu saja, Lazarus menjadi tokoh utama dalam kisah ini. Sebelum kita sampai pada pembahasan mengapa ada nama Lazarus dan apakah ia adalah tokoh utama, mari kita melihat genre atau ragam cerita itu di dalam Injil. Kita sudah melihat corak pembalikan: yang pertama menjadi yang terakhir, yang terakhir menjadi yang pertama; yang tinggi direndahkan, yang rendah ditinggikan; dlsb.Corak pembalikan itu berlaku umum. Dapat terjadi pada siapa saja. Tampaknya pemberian nama “Lazarus” untuk membatasi kasus dan mencegah penyimpulan bahwa orang miskin otomatis masuk surga. Dalam kasus atau cerita perumpamaan ini yang masuk surga adalah orang miskin yang bernama Lazarus. Di dalam kisah perumpamaan tidak ada aksi Lazarus. Ia pasif. Ia sakit dan sekarat sehingga ia hanya bisa berbaring dan tidak sanggup mengusir anjing-anjing yang menjilati boroknya (ay. 20-21). Dari sini kita dapat menetapkan bahwa Lazarus bukanlah tokoh utama cerita. Apabila orang miskin tidak otomatis masuk surga, mengapa di dalam cerita itu orang kaya tanpa nama? Apakah itu berarti orang kaya otomatis masuk ke alam maut (แพ…ฮดแฟƒ - baca: ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅe)? Orang kaya dalam kisah ini berbeda dari orang kaya dalam cerita perumpamaan di Lukas 12:13-21. Dalam perumpamaan tersebut orang kaya itu bodoh dan belum lagi menikmati kekayaannya saban hari ia ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ mati. Orang kaya dalam perumpamaan Minggu ini menikmati kekayaannya setiap hari. Ia pun pintar. Sudah mati saja masih bisa menyuruh-nyuruh dan berdialog dengan Abraham. Di sini sangat jelas tokoh utama cerita adalah orang kaya, bukan Lazarus. Kalau kita membaca narasi perumpamaan Minggu ini, apa sih yang membuat orang kaya itu masuk ke “alam maut”? Apakah orang kaya itu menindas Lazarus? Tidak. Membenci? Tidak. Namun kita bisa melihat gaya penulis Injil Lukas memandang kekayaan. Mari kita bandingkan bacaan  ini dengan Lukas 12:13-21. Persamaan perumpamaan ini adalah perihal kekayaan atau penggunaan kekayaan. Sedikit perbedaannya adalah orang kaya di Lukas 12:13-21 lebih sial, selain bodoh, karena belum sempat menikmati kekayaannya. Ia ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ mati. Orang kaya di Lukas 12:13-21 itu “mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri” dan ia dinilai “tidak kaya di hadapan Allah" (ay. 21). Dengan merujuk Lukas 12 akar kesalahan orang kaya di Lukas 16 adalah sama: “menggunakan harta bagi dirinya sendiri.” Akar kesalahan si kaya itu adalah ketidakpedulian terhadap sesamanya. ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ฆ ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ, ๐˜ช๐˜ต'๐˜ด ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ง๐˜ง๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ. Lawan kasih bukanlah kebencian, melainkan ketidakpedulian, kata Elie Wiesel. Orang kaya itu tidak membenci Lazarus yang terbaring di depan rumahnya. Ia hanya tidak peduli kepada si miskin itu, meskipun ia mengenal Lazarus (ay. 24).  Di sini kita kembali melihat ajaran Injil Lukas tentang harta dan kekayaan. Orang Kristen tidak dilarang menumpuk harta dan menjadi kaya. Orang Kristen kaya ideal menurut Injil Lukas adalah menggunakan kekayaannya untuk membantu sesamanya. Meskipun perumpamaan tentang Orang kaya dan Lazarus merupakan satu rangkaian pengajaran dari awal pasal 15, perumpamaan itu berbeda tema sehingga pasal atau bab dibuat baru. Kepada siapa perumpamaan-perumpamaan itu ditujukan atau apa konteksnya? Kalau kita membaca Lukas 15:1-2, perumpamaan ditujukan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat atas pertanyaan mereka: mengapa Yesus mau menerima dan makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa? Dengan begitu perumpamaan ini juga dipakai untuk merujuk pemungut cukai. Pada saat itu pemungut cukai adalah pekerjaan yg dianggap berdosa oleh kaum Farisi dan Saduki serta ahli agama, Krn di jaman yg susah bahkan terjajah Romawi masih dicekik dg pajak dr Romawi. Pemungut cukai sendiri, pekerjaan tsb tidak melulu Krn orang menginginkan, tapi lebih pada paksaan penjajah Romawi agar ada yg menjalankan tugas pemungut cukai, mosok Romawi bangsa besar dan menjajah butuh uang dari jajahannya, maka yg narik pajak dipaksa dari bangsanya sendiri yg dijajah, kalo tidak mau bisa masuk penjara atau disiksa, dianggap melawan pemerintah Romawi, shg profesi pemungut cukai itu terjepit, di satu sisi paksaan menjalankan tugas, di sisi yg Laen memeras bangsa sendiri, disini yg Laen dianggap pendosa dan dibenci bangsanya, dan makin di pandang hina Krn bisa hidup kaya atau berlebih oleh karena gaji dr pekerjaan nya. Dalam situasi terjepit seperti itu mereka mendapatkan kelegaan lewat Kristus Yesus Krn dipahami dan diterima, penerimaan itu inti yg dibawa Kristus bagi petulis Injil Lukas bukan keadilan bahkan hukuman bagi pendosa seperti yg orang farisi, Saduki, pemuka agama inginkan pada zaman itu, mereka, pemungut cukai melakukan pertobatan, dan membagi harta kekayaannya, peduli sesama. Di sinilah Kristus Yesus mengkritisi pemungut cukai, seharusnya jangan seperti orang kaya, dalam kelebihannya atau kekayaannya sebagai pemungut cukai karena sdh bertobat harusnya memanfaatkan kekayaannya dengan kepedulian dan berbagi dg sesamanya, shg mereka tdk akan dianggap pendosa oleh bangsanya sendiri (ingat cerita Zakheus, pemungut cukai?). Dalam Alkitab sendiri kita menerima teladan iman dr Kristus Yesus tentang kenoosis atau pengosongan diri atau penyangkalan diri, Kristus Yesus yg memiliki kemuliaan Allah rela tidak terikat, rela tidak melekat pada kemuliaanNya demi peduli dan berbagi dg manusia berdosa. Kaya boleh tapi kalo sampai melekat shg serakah atau tamak itu yg tak boleh, menderita pun kalo kita melekat pada penderita an sampai tidak bisa move on atau kehilangan daya juang dan semangat itu juga yg tak boleh. Miskin pun, kalau terlalu fokus pada kekayaan shg serakah dan menghalalkan segala cara untuk kaya juga gak boleh, kaya pun gak boleh serakah dan gak peduli sesama.

Lukas 12:13-21 saya kutipkan dari Alkitab LAI TB II 1997:
Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "๐˜Ž๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "๐˜š๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข-๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ."  (ay. 13-15) Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, "๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข: ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข: ๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต; ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ช๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ: ๐˜‘๐˜ช๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฏ-๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข; ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ! ๐˜›๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ง๐˜ช๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข: ๐˜๐˜ข๐˜ช ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ช๐˜ธ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช? ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ." (ay. 16-21).  LAI memberi judul perikop di atas “Orang Kaya yang Bodoh” (OKB). Perumpamaan OKB tidak ada perbandingannya di Injil kanonik lainnya, tetapi dimuat di Injil Thomas, Injil ekstra-kanonik. Dalam versi Injil Thomas perumpamaan itu tidak memiliki pembuka dan penutup seperti di Injil Lukas. Pengarang Injil Lukas menulis perumpamaan dengan pembuka di ayat 15 dan penutup di ayat 21.
• Pembuka perumpamaan: "๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข-๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ." (Luk. 12:15)
• Penutup perumpamaan: “๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ." (Luk. 12:21)
Jadi, tampaknya perumpamaan itu merupakan cerita lepas tanpa konteks. Penulis Injil Lukas menciptakan konteksnya yang dijajarkan di dalam pengajaran Yesus (Luk. 12:1 - 13:9). Tema dasar dalam pengajaran Yesus itu adalah bagaimana hidup agar siap dalam menghadapi penghakiman Allah di akhir zaman (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข). Ingat, bacaan kita Minggu lalu tentang “Doa Bapa Kami” juga menyenggol ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข dengan menyebut “Datanglah kerajaan-Mu”. Ada dua pendapat para ahli tentang Injil Lukas (dan Kisah Para Rasul sebagai kelanjutan Injil Lukas): Injil Lukas untuk orang miskin dan Injil Lukas untuk orang kaya. Injil Lukas sebagai Injil untuk orang kaya tampak pada minat penulis Injil Lukas perihal harta. Bagaimana orang Kristen seharusnya memandang harta dan bagaimana orang Kristen seharusnya menggunakan hartanya. Hal itu juga tampak dalam pembuka dan penutup perumpamaan OKB.
Penulis Injil Lukas sangat piawai dalam menyampaikan narasinya tentang harta dan menjadi kaya. Lukas tidak memertentangkan kaya dengan miskin dalam arti orang kaya tidak masuk surga dan orang miskin masuk surga.  Perumpamaan tentang OKB di atas adalah contoh orang Kristen yang tidak ideal menurut Lukas. Namun dengan membuat pembuka dan penutup perumpamaan tentang OKB Injil Lukas hendak mengatakan bahwa orang Kristen tidak dilarang menjadi kaya. Sila kaya, asal tidak tamak.

 Sayangnya ajaran Injil Lukas ini dinafikan oleh ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ Enembe. Sejak Pemerintahan Jokowi dana otonomi khusus (Otsus) untuk Papua terus meningkat. Tahun ini dana Otsus sebesar Rp8,5 triliun dan diimbuhi lagi dengan Dana Tambahan Infrastruktur sebanyak Rp4,37 triliun. Harusnya tidak ada alasan Papua tidak segera sejahtera. Dengan uang sebesar itu Lukas Enembe tidak peduli kepada masyarakat Papua, meskipun Ia sangat mengenal mereka. Sesudah cukup lama ia menikmati hartanya, ia masuk ke “alam maut” KPK. Tidak ada kesempatan lagi bagi Lukas Enembe untuk bertobat.

Cepogo, 18 September 2022 (T)

Lampiran
๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿญ๐Ÿต-๐Ÿฏ๐Ÿญ (TB II LAI, 1997)
๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜“๐˜ข๐˜ป๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿญ๐Ÿต "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฎ๐Ÿฌ Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฎ๐Ÿญ dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฎ๐Ÿฎ Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.

Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. 
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฎ๐Ÿฏ Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฎ๐Ÿฐ Lalu ia berseru, katanya: Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฎ๐Ÿฑ Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedang Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฎ๐Ÿฒ Selain itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฎ๐Ÿณ Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฎ๐Ÿด  sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฎ๐Ÿต Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฏ๐Ÿฌ Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฏ๐Ÿญ Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."
18092022 (TUS)

Jumat, 23 September 2022

Penyakit serius suatu bangsa, KEDUNGUAN MORAL dan KEDUNGUAN KOLEKTIF, Serial sudut pandang


Penyakit serius suatu bangsa, KEDUNGUAN MORAL dan KEDUNGUAN KOLEKTIF, Serial sudut pandang

Mengapa bangsa Jerman yang terkenal cerdas bisa jatuh dan lalu hancur lebur karena berada dalam pengaruh Hitler? Mengapa banyak negara hebat hancur baur berantakan? Salah satu penyebabnya adalah: Kedunguan Kolektif!  Itu bahaya terbesar bangsa mana pun. Bagaimana dengan Indonesia? Jangan menganggap remeh kedunguan manusia. Banyak institusi sekuler dan institusi agama, perusahaan, dan bahkan bangsa, hancur total karena keputusan kaum dungu. Dietrich Bonhoeffer adalah Teolog Protestan yang pertama kali menggumuli persoalan kedunguan (stupidity). Bonhoeffer (4 Februari 1906 – 9 April 1945) adalah pendeta Lutheran Jerman. Dia anggota gerakan perlawanan terhadap Nazisme. Ia bersama kelompoknya merancang pembunuhan terhadap Adolf Hitler. Baginya Hitler sudah merusak Jerman; Hitler bagaikan supir mabuk yang mengendarai truk yang berjalan tanpa kontrol, banyak orang jadi korban dan mati. Satu-satunya cara menghindari untuk tidak terjadi lebih banyak korban lagi adalah merebut kendali truk, dan melemparkan sang supir mabuk keluar dari truk. Intinya, Hitler harus dibunuh, tidak ada jalan lain. Tetapi, percobaan pembunuhan terhadap Hitler gagal total. Bonhoeffer ditangkap pada bulan Maret 1943, ditahan dan akhirnya digantung, hanya dua minggu sebelum berakhirnya Perang Dunia II.
Saat mendekam dalam penjara, Bonhoeffer bergumul  mencari  akar kekerasan dan kekejaman yang dilakukan Hitler dan rezim Nazinya.  Bonhoeffer menyimpulkan bahwa akar dari kekerasan dan kekejaman terhadap sesamanya bukanlah kedengkian atau kebencian. Baginya, akar kekejaman Hitler dan Nazi adalah kedunguan. Kehancuran negara Jerman diawali oleh kedunguan elite politik yang menjadi pendukung dan pengorbit Hitler. Dalam surat yang ditulis dari dalam penjara, Bonhoeffer mengemukakan bahwa musuh paling berbahaya bagi sebuah bangsa adalah kedunguan. Suatu bangsa bisa hancur berantakan karena terjebak dalam kedunguan kolektif. Sulit beradu argumentasi dengan kaum dungu. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendengar; nalar mereka lumpuh total.
“Kecerdasan ada batasnya, tetapi kedunguan tidak ada batasnya,” kata Albert Einstein. Orang  yang secara personal, dungu, akan menjadi beban bagi masyarakat. Tetapi ada juga kedunguan kolektif. Dan yang terakhir ini jauh lebih berbahaya. Banyak orang berpikir bahwa mereka yang dungu tidak mungkin menjadi pemimpin. Mereka semua salah. Sesungguhnya, secara kolektif kaum dungu ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Sering tanpa kita sadari, kaum dungu inilah yang justru memimpin organisasi, memimpin perusahaan, dan bahkan menjadi elite politik dan pemimpin negara. Penampilan, jabatan, dan pangkat tinggi yang dimilikinya membuat kedunguannya tidak terlacak. Kaum dungu ini sering mengambil keputusan yang salah, yang justru menghancurkan kehidupan suatu bangsa. Celakanya, berbagai keputusan kaum dungu disosialisasikan di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai strategi jitu, yang sering menyentuh sisi emosionalitas. Efeknya, kedunguan itu menjalar kemana-mana dan kepada siapa saja.

Kedunguan Moral

Ada pertanyaan menarik yang perlu digumuli. Mengapa para cendekiawan pendukung Hitler bisa terjebak dalam kedunguan kolektif, lalu ikut mengambil keputusan yang menghancurkan bangsanya? Mengapa anak dari diktator Marcos yang dulu sangat dibenci rakyat Filipina justru dipilih menjadi Presiden Filipina? Mengapa banyak polisi berupaya menutupi kejahatan Irjen Sambo? Jawabannya ada dua. Keduanya saling terkait! Pertama, masyarakat, terutama kaum intelektual terjebak dalam kedunguan kolektif; mereka semua terjebak oleh ambisi dan nafsu pada jabatan dan kekayaan yang melumpuhkan akal sehat. Kedua, masyarakat, aparat dan kaum intelektual, bertindak dungu bukan karena mereka mengalami defisit intelektual. Bukan itu! Intelektualitas mereka tetap hebat. Mereka bahkan memanfaatkan kapasitas intelektualitas mereka untuk menjustifikasi tindakan dungunya. Lalu apa persoalannya? Persoalannya adalah bahwa mereka mengalami kedunguan moral. Kedunguan moral tidak selalu muncul karena tawaran jabatan dan kekayaan, tetapi bisa juga lahir dari ketakutan kehilangan jabatan dan kekuasaan. Artinya, orang-orang yang secara moral dungu bukanlah manusia bebas. Mereka dihantui oleh nafsu, dan dikejar oleh bayang-bayang ketakutan. Orang yang tidak menikmati kebebasan adalah orang yang menderita. Mereka terfragmentasi, terpecah! Mengalami disintegritas! Paulus pun mengalami situasi ini. Paulus katakan: ”Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (Roma 7:19). Tapi ada beda antara kaum dungu dengan Paulus. Bedanya adalah, Paulus mengakui kelemahan dan kesalahannya; Paulus mengalami pembebasan. Sebaliknya, mereka yang melakukan pembenaran terhadap kedunguannya; mereka terpenjara. Kedunguan moral mengabaikan dan mengorbankan kepentingan masyarakat dan bangsa.
Mengapa koruptor besar yang menggerogoti dana negara masih bisa berkiprah di dalam dunia politik dan bahkan masih mampu mempengaruhi jalannya roda pemerintahan? Mengapa koruptor kelas kakap bisa memperoleh remisi hukuman dan saat di penjara bisa bebas berkeliaran ke mana-mana? Mengapa orang doyan memilih pemimpin politik yang jelas-jelas menciptakan polarisasi akut di tengah masyarakat?  Mengapa terdakwa yang berkali-kali berbohong masih saja dianggap jujur? Mengapa politisi minim berprestasi dan tidak mendapatkan dukungan rakyat dipaksakan menjadi pemimpin bangsa? Jawaban semua pertanyaan itu hanya satu, yaitu karena kedunguan kolektif. Lebih tepat lagi, kedunguan moral! Dan kedunguan seperti ini sedang disosialisasikan di tengah masyarakat kita. Kita pernah mengalami kedunguan kolektif yang berakibat kita terpolarisasi. Kali ini, kita semua harus lebih cerdas! Bila tidak, kita akan hancur bersama!

Cepogo, 21 Sept 2022 (T)

Jumat, 16 September 2022

Sudut Pandang LUKAS 16:1-13, Misteri Bendahara yang tidak jujur

Sudut Pandang LUKAS 16:1-13, Misteri Bendahara yang tidak jujur

Alkitab adalah bacaan orang dewasa baik umur maupun pemikiran. Alkitab tidak saja memuat teks-teks kekerasan, tetapi juga isu-isu etis yang tidak hitam-putih. Untuk itu diperlukan kedewasaan dalam membaca Alkitab.
bacaan Injil Lukas 16:1-13 saya letakkan di lampiran karena cukup panjang. Kutipan saya ambil dari Alkitab LAI TB II, 1997.
Dalam Alkitab LAI bacaan ekumenis Injil Lukas 16:1-13 berada di dalam dua perikop:
• Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (Luk. 16:1-9)
• Setia dalam hal yang kecil: Nasihat (Luk. 16:10-18)

LAI menerjemah kata bendahara dari ฮฟแผฐฮบฮฟฮฝฯŒฮผฮฟฮฝ (baca: ๐˜ฐ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ). NRSV menerjemah menjadi ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ. Kalau kita membaca keseluruhan perikop, apa yang dilakukan oleh “bendahara” itu adalah pekerjaan ๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป. Bacaan ekumenis (๐˜™๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ – RCL) meminta agar ayat 10-13 digabungkan menjadi satu perikop bacaan ke ayat 1-9. Mengapa?
Alkitab aslinya ditulis tanpa nomor pasal dan ayat. Pemberian nomor pasal atau bab dilakukan pada abad ke-13 dan perincian nomor ayat pada abad ke-16. Penomoran itu bertujuan memudahkan penjumputan (๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ท๐˜ข๐˜ญ). Pembagian bab atau pasal berdasarkan atas tema besar, sedang pembagian perikop (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ข๐˜จ๐˜ฆ) berdasarkan atas tema kecil, meskipun tidak selalu begitu dan saling bertumpang-susun. Di sinilah para ahli dan penyusun RCL berpendapat bahwa tema perumpamaan tentang ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ณ berakhir di ayat 13, bukan di ayat 9. Pertanyaan muncul lagi: mengapa?

Perumpamaan Yesus tentang ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ณ (ay. 1-8a) yang beredar sebagai cerita lepas sebelum Kitab Injil ditulis tampaknya menjadi liar dan menimbulkan persoalan. Tokoh cerita yang tidak jujur kok dipuja-puji? Perumpamaan etis yang memandang persoalan dari banyak sudut menjadi hitam-putih di tengah-tengah jemaat.
Pengarang Injil Lukas tampaknya memandang perumpamaan tersebut terlalu bagus untuk dibuang karena Yesus mengajarkan bagaimana menghadapi isu etis. Pada pihak lain jemaat Lukas kebingungan: Yesus mengajarkan kejujuran, tetapi Ia juga memuji tokoh yang tidak jujur. Penulis Lukas kemudian membatasi penafsiran dengan membuat kesimpulan di ayat 8b: ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. Siapakah anak-anak dunia dan siapakah anak-anak terang?
Tentunya kita pernah membaca dua perumpamaan tentang ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ dan ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. Penulis Lukas memasukkan perumpamaan tentang ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ณ dalam satu rangkaian pengajaran Yesus dari awal pasal 15.
• Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk. 15:1-7)
• Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk. 15:8-10)
• Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk. 15:11-32)
• Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (Luk. 16:1-13)

Meskipun perumpamaan tentang ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ณ merupakan satu rangkaian pengajaran dari awal pasal 15, perumpamaan itu berbeda tema sehingga pasal atau bab dibuat baru (pasal 16). Kepada siapa perumpamaan-perumpamaan itu ditujukan atau apa konteksnya? Kalau kita membaca Lukas 15:1-2, perumpamaan ditujukan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat atas pertanyaan mereka: mengapa Yesus mau menerima dan makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa? Juga, sesudah penutup perumpamaan tentang ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ณ (Luk. 16:13) ada petunjuk konteks orang-orang Farisi mencemooh Yesus (Luk. 16:14).
Kalau begitu apa maksud perumpamaan Yesus tentang ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ณ sampai-sampai Lukas membatasi penafsiran? Mari kita lihat dulu duduk persoalannya: di manakah atau dalam hal apa bendahara itu tidak jujur?
Dalam ayat 1 tidak ada petunjuk ketidakjujuran si bendahara. Di ayat ini hanya disebut menghamburkan (ฮดฮนฮฑฯƒฮบฮฟฯฯ€ฮฏฮถฯ‰ฮฝ - ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ปe๐˜ฏ). Menghamburkan bukan berarti tidak jujur. Konsekuensi penghamburan itu adalah pertanggungjawaban (ay. 2).
Kata tidak jujur (แผ€ฮดฮนฮบฮฏฮฑฯ‚ – ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ด) baru muncul di ayat 8 sesudah si bendahara melakukan perbuatan di ayat 5-7. Tidak jujur lebih dekat dan lebih kuat pautannya dengan tindakan di ayat 5-7 ketimbang di ayat 1. Di ayat 8 penilaian ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ณ itu satu rangkaian dengan penilaian ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ. Keduanya tidak dapat dan tidak boleh dipisahkan. Jika keduanya dipisahkan, perumpamaan itu kehilangan sengatannya: tindakan “tidak jujur” tetap dipuji.
Di sini Yesus hendak mengatakan bahwa bendahara itu adalah para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang datang makan bersama dengan Yesus. Para pemungut cukai adalah orang-orang yang bekerja untuk Pemerintah Roma, mengumpulkan pajak dari masyarakat Yahudi yang berada di bawah kekuasaan Roma pada saat itu. Mereka dipandang sebagai pengkhianat bangsa. Mereka dibenci dan dikucilkan oleh orang-orang Yahudi. Yesus menawarkan persekutuan dan persaudaraan dengan orang-orang yang najis dan marginal dengan makan bersama-sama dengan mereka; suatu komunitas yang egaliter. 

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa dinilai cerdik pada saat terjepit oleh Lukas, karena dipinggirkan oleh sistem puritas Yahudi, mereka memanfaatkan dan menerima uluran tangan Yesus. Mereka (anak-anak dunia) lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang yang merujuk orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Perlu diingat bahwa Lukas juga menyebut orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dengan orang benar (Luk. 5:32).
Agar perumpamaan Yesus di atas tidak menjadi liar penafsirannya di lingkungan jemaat Lukas, ia menekankan bahwa pengikut Kristus harus memula dengan setia dalam hal-hal kecil terlebih dahulu. Jika sudah terbiasa setia dalam hal-hal kecil, mereka sudah siap menghadapi hal-hal besar. Tidak seperti para pemungut cukai yang dalam situasi terjepit baru kemudian bertobat.
Lukas juga menambahkan bahwa orang-orang tidak bisa dan tidak boleh mengilahkan Mamon sekaligus mengabdi kepada Allah. Tidak boleh bermain dua kaki; kaki kiri di sini, kaki kanan di sana. Harus pilih satu. Mengabdi kepada dua tuan melahirkan orang-orang munafik yang suatu saat membenci dan menyerang tuan satunya lagi.

Prinsip Gusdur tidak berlaku di sini, pejabat pemerintah korupsi mengembalikan hasil korupsinya, bebas dari hukuman. Apabila ada pejabat gereja melakukan tindakan tidak jujur dalam keuangan, ketika ketahuan ia berjanji mengembalikan berlipat-lipat kepada gereja, apakah tindakannya itu terpuji? Untuk tidak menjadikan perumpamaan tentang ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ณ sebagai rujukan, Lukas menyebut bahwa orang yang  tidak setia dalam hal kecil tidak akan setia dalam hal besar. Jangan seperti para pemungut cukai yang dalam situasi terjepit baru kemudian bertobat. Dengan kata lain pejabat gereja itu bersalah dan harus dipecat, walaupun mengembalikan hasil korupsinya.

Masih ada lagi ide tafsir pada Dua episode paralel dalam Injil yang
hampir tak pernah kita kaitkan satu
sama lain adalah kisah "Anak yang
Hilang" dan kisah "Bendahara yang Tidak Jujur". Padahal keduanya memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama hanya dicatat di Injil Lukas, bahkan dengan
sengaja disusun berdampingan. Dalam kedua cerita - baik sang anak bungsu maupun si bendahara - sama-sama tidak mengelola harta ayahnya atau tuannya dengan baik. Bagi si bungsu, solusi selamatnya adalah pulang dengan menyesal kepada ayahnya. Sementara bagi si bendahara, solusi selamatnya adalah dengan menggunakan apa yang (masih) ada padanya untuk
mendapatkan perlindungan.

Lapangan Pancasila, 17/09/2022 (TUS)

Lampiran :
๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿญ-๐Ÿญ๐Ÿฏ (TB II LAI, 1997)
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿญ Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฎ Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawabanmu atas atas apa yang engkau kelola sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฏ Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฐ Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฑ Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku?
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿฒ Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain segera: Lima puluh tempayan.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿณ Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu dan tulislah: Delapan puluh pikul.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿด Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿต Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿญ๐Ÿฌ "Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar.
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿญ๐Ÿญ Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿญ๐Ÿฎ Jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?
๐Ÿญ๐Ÿฒ:๐Ÿญ๐Ÿฏ Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus