Senin, 25 Maret 2024

SUDUT PANDANG MARKUS 11 : 1 - 11, 𝗠𝗲𝗺𝘂𝗷𝗶 𝗸𝗲𝗺𝘂𝗱𝗶𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗸𝗵𝗶𝗮𝗻𝗮𝘁𝗶, Serial Paska


SUDUT PANDANG MARKUS 11 : 1 - 11, 𝗠𝗲𝗺𝘂𝗷𝗶 𝗸𝗲𝗺𝘂𝗱𝗶𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗸𝗵𝗶𝗮𝗻𝗮𝘁𝗶, Minggu Palmarum dan Minggu Sengsara, Serial Paska



Minggu ini adalah Minggu VI masa Pra-Paska. Ada dua peristiwa yang beririsan dalam Minggu ini, yaitu Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯). Secara tradisi ibadah gereja dimarakkan dengan setangkai daun palem di tangan umat dengan merujuk Yohanes 12:13. 

Bacaan Alkitab secara ekumenis untuk Minggu Palem Tahun B diambil dari Injil Markus 11:1-11 yang didahului dengan Mazmur 118:1-2, 19-29, sedang bacaan untuk Minggu Sengsara diambil dari Injil Markus 14:1-15:47 yang didahului dengan Yesaya 50:4-9a, Mazmur 31:9-16, dan Filipi 2:5-11.

Bacaan Injil untuk Minggu Palem (Mrk. 11:1-11) diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘦𝘭𝘶-𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮. Adegan ini menjadi episode peralihan penting. Sepanjang 10 pasal berlalu narasi sama sekali tidak menyebut Yesus pernah berkarya di Yerusalem. Perjalanan panjang Yesus dan murid-murid-Nya menuju Yerusalem berakhir di sini kemudian beralih ke puncak konflik dengan para pembenci-Nya di Yerusalem. 

Ada perbedaan kronologi Injil Markus dari Injil Matius dan Lukas pada episode Yesus memasuki Kota Yerusalem dan tiba di Bait Allah. 

▶ Di Injil Markus setibanya di Yerusalem Yesus meninjau Bait Allah, tetapi hari hampir malam sehingga Ia pergi ke Betania yang tak jauh dari Yerusalem (ay. 11). Baru esok hari Yesus datang lagi ke Bait Allah dan membebaskannya dari para pedagang.
▶ Di Injil Matius dan Lukas setibanya di Yerusalem Yesus menuju Bait Allah dan langsung menggebrak menyucikan Bait Allah dengan mengusir para pedagang dari area Bait Allah. 

Mengapa kronologi Injil Matius dan Lukas berbeda dari Injil Markus? Lihat ulasan di bawah. Pengulasan bacaan dibagi ke dalam dua bagian:

▶ Persiapan ke Yerusalem (ay. 1-6)
▶ Perjalanan ke Yerusalem (ay. 7-10)
▶ Tiba di Yerusalem (ay. 11)

𝗣𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗸𝗲 𝗬𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗹𝗲𝗺 (ay. 1-6)

Adegan diawali Yesus berada di Betfage, Bukit Zaitun. Bukit Zaitun di Perjanjian Lama dikenal sebagai tempat pernyataan eskatologis kemuliaan ilahi (lih. Yeh. 43:2-9 dan Zak. 14:1-9). Letak Kampung Betfage sampai sekarang tidak diketahui. Betfage berarti 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘢𝘳𝘢. Sebelumnya Yesus berada di Kota Yerikho. Yesus kemudian menyuruh dua murid-Nya, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶. 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘦𝘬𝘰𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪 𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘓𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘭𝘢𝘩: 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪.” (ay. 2-3)

Tentang keledai muda yang belum pernah ditunggangi yang diperlukan oleh Yesus di Injil Matius jelas disebutkan alasannya, yaitu agar digenapi firman yang disampaikan oleh nabi (Zakharia). Pengarang Injil Markus tidak menyebut hal itu. Apakah Markus juga merujuk Nabi Zakharia? Bisa ya, bisa tidak. Saya mencoba mencari pilihan lain.

Mari kita buka kitab Kejadian 49:1-28 dan secara khusus pesan Yakub kepada Yehuda (ay. 8-12). Di ayat 11 dikatakan bahwa 𝘠𝘦𝘩𝘶𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘰𝘬𝘰𝘬 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘰𝘬𝘰𝘬 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 (ay. 11). Di ayat sebelumnya (ay. 10) Yakub menyebut bahwa 𝘵𝘰𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘠𝘦𝘩𝘶𝘥𝘢 … 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘭𝘶𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢-𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢. Teks ini oleh rabi-rabi Yahudi dimaknai mesianik. Kedatangannya berpautan dengan pelepasan keledai yang tertambat pada pohon anggur. Hal ini akan makin terjelaskan dalam sorak-sorai para pengiring Yesus saat memasuki Yerusalem 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘫𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘋𝘢𝘶𝘥 (lih. ulasan bagian kedua).

Ucapan Yesus untuk alasan pelepasan keledai bahwa 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 terasa janggal. Memang kata 𝘒𝘺𝘳𝘪𝘰𝘴 dalam bahasa aslinya dapat diterjemahkan menjadi 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, tetapi juga dapat berarti pemilik, penguasa, tuan. Mengapa janggal? Sepanjang narasi Injil Markus Yesus selalu menyebut diri-Nya Anak Manusia dan sekali dengan Guru (Mrk. 14:14). Penerjemahannya dapat menjadi 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬/𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. Untuk mewujudkan Raja Mesianik sangatlah wajar Yesus membutuhkan dengan memilih alat transportasi (bdk. 1Sam. 8:17) berupa keledai muda yang belum pernah ditunggangi (bdk. 2Sam. 6:3).

Pelaksanaan tugas oleh dua murid Yesus itu persis dengan yang dikatakan Yesus kepada mereka (ay. 4-6). Kesamaan seperti cermin ini makin mendekatkan pautannya dengan nubuatan Yakub kepada anaknya, Yehuda, di Kejadian 49:8-12.

𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗸𝗲 𝗬𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗹𝗲𝗺 (ay. 7-10)

Keledai muda di atas dibawa oleh kedua murid kepada Yesus dan mengalasinya dengan pakaian mereka. Yesus kemudian naik ke atasnya (ay. 7). Perjalanan menuju Yerusalem dimula.

Di ayat 8 disebutkan banyak orang menghamparkan pakaian mereka di jalan dan ada juga yang menyebarkan ranting-ranting hijau (𝘴𝘵𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘴) yang diambil dari ladang. Apakah Yesus mengumpulkan massa sebelum menuju Yerusalem? Tampaknya tidak. Orang banyak itu diduga para peziarah yang mendatangi Yerusalem untuk perayaan hari raya Pondok Daun (𝘴𝘶𝘬𝘬o𝘵). Hal ini tersirat pada 𝘴𝘵𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘴 (bdk. Mat. 21:8 ranting-ranting atau 𝘬𝘭𝘢𝘥𝘰𝘶𝘴). Dalam perayaan Pondok Daun umat Israel mengenang nenek moyang mereka di padang gurun dalam pemeliharaan Yahweh. Umat membuat pondok-pondok dari ranting-ranting hijau untuk merayakan 𝘴𝘶𝘬𝘬o𝘵 secara meriah.

Di ayat 9 dan 10 dikisahkan orang banyak yang berjalan di depan dan di belakang Yesus berseru atau bernyanyi satu dari mazmur-mazmur (Mzm. 113-118) yang biasa dilagukan dalam perjalanan berziarah ke Yerusalem. Dapat diduga rombongan Yesus itu bernyanyi secara antifonal; orang banyak di depan Yesus (Kelompok 1) berseru dan orang banyak di belakang Yesus (Kelompok 2) menanggapi.

Kelompok 1: “𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢!”
Kelompok 2: “𝘋𝘪𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯.”
Kelompok 1: “𝘛𝘦𝘳𝘱𝘶𝘫𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘋𝘢𝘶𝘥”
Kelompok 2: “𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪!”

Hosana sesungguhnya sepucuk doa yang berarti 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘪!. Dalam liturgi hosana mirip seruan haleluya. Seruan kelompok 1 𝘛𝘦𝘳𝘱𝘶𝘫𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘋𝘢𝘶𝘥 menguatkan tafsir mengenai Yesus menunggang keledai muda merujuk pesan Yakub kepada Yehuda dalam kitab Kejadian 49:8-12.

𝗧𝗶𝗯𝗮 𝗱𝗶 𝗬𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗹𝗲𝗺 (ay. 11)

Ia masuk ke Yerusalem, ke Bait Allah, dan meninjau semuanya. Namun, karena hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya. (ay. 11)

Dalam Injil Matius dan Lukas setibanya di Bait Allah Yesus langsung menggebrak, sedang dalam Injil Markus Yesus menunda sehari, sesudah Yesus mengutuk pohon ara. Mengapa? Ingat, Injil Markus adalah Injil kanonik tertua. Itu artinya Markus sama sekali tidak mengetahui narasi Injil Matius dan Lukas ketika ia menulis Injilnya.

Dalam cerita warisan jemaat Kristen yang beredar kisah pengutukan pohon ara dikaitkan dengan perihal doa (lalu pengampunan) sebagaimana tampak di Markus 11:23-25. Markus secara cerdas hendak mengaitkan cerita pengutukan pohon ara itu dengan kisah penyucian Bait Allah. Ia mau mengatakan bahwa Bait Allah sudah tidak berbuah dan akan diruntuhkan karena tidak ada gunanya lagi.

Penyimbolan pohon ara sebagai Bait Allah itu dilakukannya dengan mengapit cerita penyucian Bait Allah (Mrk. 11:15-19) di antara dua cerita pengutukan pohon ara, yaitu di ayat 12-14 dan ayat 20-25. Markus menciptakan banjaran (𝘴𝘦𝘲𝘶𝘦𝘯𝘤𝘦) seperti itu agar lebih sistematis dan dramatis.

▶ Hari pertama Yesus masuk ke Bait Allah dan bukan hanya meninjau, tetapi Ia meninjau semuanya.
▶ Hari kedua Yesus mengutuk pohon ara dan menyucikan Bait Allah.
▶ Hari ketiga pohon ara sudah kering dan pengajaran Yesus mengenai pohon itu.

Pengarang Injil Matius mungkin tidak bersetuju dengan pendapat Markus: Apa 𝘪𝘺𝘢 Bait Allah dikutuk seperti pohon ara? 𝘞𝘰𝘯𝘨 memang bukan musim buah ara! Akan tetapi Matius bersepakat dengan cerita pengutukan pohon ara itu apabila dikaitkan dengan 𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘢 saja. Untuk itu Matius memisahkan kedua cerita itu sehingga kiprah Yesus pada hari pertama di Yerusalem adalah menyucikan Bait Allah. Lukas bahkan menghapus cerita pengutukan pohon ara itu, tetapi ia tetap menyajikan perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah (Luk. 13:6-9).

Kiprah Yesus di Yerusalem berakhir tragis. Bacaan Injil untuk Minggu Sengsara (Mrk. 14:1 - 15:47) menyodor itu. Yang sangat menyayat hati adalah Yesus dikhianati oleh Yudas, disangkal oleh Petrus sampai tiga kali, serta para murid tidak ada di sekitar penyaliban dan penguburan Yesus. Semua lari kocar-kacir, kecuali tiga perempuan: Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome.
 (24032024) (T)

Senin, 18 Maret 2024

SUDUT PANDANG YOHANES 12 : 20 - 33, 𝗧𝗶𝗯𝗮 𝘀𝗮𝗮𝘁𝗻𝘆𝗮, Serial Paska


SUDUT PANDANG YOHANES 12 : 20 - 33, 𝗧𝗶𝗯𝗮 𝘀𝗮𝗮𝘁𝗻𝘆𝗮, Serial Paska

Injil Yohanes paling sulit ditafsir di antara empat Injil kanonik. Injil Yohanes itu 𝘣𝘶𝘯𝘥𝘩𝘦𝘵. Kusut. Untuk menafsir satu perikop (𝘱𝘢𝘴𝘴𝘢𝘨𝘦) harus 𝘮𝘶𝘵𝘢𝘳-𝘮𝘶𝘵𝘦𝘳 dari depan ke belakang, kembali lagi ke depan, berbelok ke samping, balik kanan, dst., baru kemudian memaknai perikop sasaran. Kesukaran dalam menafsir Injil Yohanes, terutama, karena penulis Injil lebih daripada seorang sehingga beberapa pasal terasa tidak menyambung secara kronologis dan beberapa penggandaan yang kurang selaras. Contoh mencolok adalah bagian penutup. Injil Yohanes ditutup pada 20:30-31, tetapi kemudian bersambung lagi ke pasal 21. 

Hal lain adalah gaya bercerita penulis Injil Yohanes seperti sedang berkhotbah. Penulis menampilkan tokoh cerita untuk mengumpan pertanyaan, kemudian dijawab panjang-lebar oleh Yesus, tetapi orang itu tiba-tiba menghilang dari cerita. Misal, kisah dialog Nikodemus dengan Yesus (Yoh. 3).
 
Pakar biblika membagi dua bagian besar Injil Yohanes. Bagian pertama (pasal 1-12) disebut 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢-𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢. Bagian kedua (pasal 13-20) disebut kitab kemuliaan. Tidak lagi diceritakan tanda-tanda di bagian kedua, melainkan memuliakan (𝘥𝘰𝘹𝘢𝘻a) dan kemuliaan (𝘥𝘰𝘹𝘢).

Hari ini adalah Minggu kelima masa Pra-Paska. Bacaan Injil diambil dari Injil Yohanes 12:20-33 

Bacaan Injil hari ini (Yoh. 12:20-33) merupakan bagian perikop yang oleh LAI diberi judul 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 (Yoh. 12:20-36). Pasal 12 merupakan episode terakhir disebut 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢-𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢. Episode ini mengakhiri karya publik Yesus, kemudian memersiapkan peralihannya menuju saat bersama dengan murid-murid-Nya sebelum penangkapan-Nya.

Bacaan Minggu ini tidak dapat dilepaskan dari pasal sebelumnya (pasal 11). Dalam pasal 11 para pemuka agama Yahudi bersepakat membunuh Yesus. Rencana pembunuhan ini menyusul pembangkitan Lazarus dari kematian oleh Yesus. Lewat peristiwa itu banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus (lih. Yoh. 11:45-53). Latar waktu bacaan adalah menjelang hari raya Paska Yahudi.

Pengulasan bacaan dapat dibagi tiga pokok bahasan:
▶ Kedatangan orang Yunani (Yoh. 12:20-22)
▶ Saatnya tiba (Yoh. 12:23-26)
▶ Pengajaran terakhir untuk publik (Yoh. 12:27-33)

𝗞𝗲𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗬𝘂𝗻𝗮𝗻𝗶 (Yoh. 12:20-22)

Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu terdapat beberapa orang Yunani. (ay. 20) Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu memohon kepadanya, “𝘛𝘶𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴.“ (ay. 21) Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas, lalu Andreas dan Filipus menyampaikannya kepada Yesus. (ay. 22) (TB II 2023)

Yang dimaksud dengan 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘺𝘢 di atas tentu perayaan Paska Yahudi. Orang Yunani di sini diterjemahkan dari 𝘏𝘦𝘭𝘭e𝘯𝘦𝘴. Istilah 𝘏𝘦𝘭𝘭e𝘯𝘦𝘴 serupa dengan 𝘨𝘦𝘯𝘵𝘪𝘭𝘦𝘴, bukan orang Yahudi. Kehadiran mereka ke Yerusalem menyiratkan bahwa mereka adalah orang-orang bukan-Yahudi yang menganut Yudaisme atau dapat juga mereka adalah orang-orang Yahudi berbahasa Grika.

Cerita kehadiran orang-orang Yunani itu tampaknya menyiratkan situasi nyata di luar dunia cerita pada saat Injil Yohanes ditulis. Mereka merupakan buah dari misi Gereja yang memberitakan Injil ke dunia Helenis. Kemungkinan juga bangsa-bangsa lain diperkenalkan kepada kekristenan melalui orang-orang Yahudi-Kristen. Ketakutan orang-orang Farisi bahwa 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘋𝘪𝘢 (ay. 19) kini sudah mula tampak. Yesus pernah mengatakan bahwa Ia harus memberikan nyawa-Nya untuk 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 (Yoh. 10:16). 𝘒𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 merupakan metafora untuk kalangan Yahudi.

Kata 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 (𝘪𝘥𝘦𝘪𝘯) dalam ucapan 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 (ay. 21) kadang dihubungkan dengan iman (Yoh. 20:8). Kata ini juga digunakan di Yohanes 1:39 dan 46 𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 sebagai undangan untuk menjadi murid Yesus. Pemunculan tokoh cerita orang-orang Yunani ini adalah khas Injil Yohanes yang bermakna simbolik untuk mengumpan pertanyaan, yang kemudian akan dijawab Yesus untuk mengajar murid-murid-Nya dan publik.

𝗦𝗮𝗮𝘁𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗶𝗯𝗮 (Yoh. 12:23-26)

Kata Yesus kepada mereka, “𝘛𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯. (ay. 23) 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘣𝘪𝘫𝘪 𝘨𝘢𝘯𝘥𝘶𝘮 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘪𝘫𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩. (ay. 24) 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭. (ay. 25) 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢, 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯-𝘒𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢. 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘩𝘰𝘳𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢.” (ay. 26) (TB II 2023)

Sejak ayat 23 tokoh cerita orang-orang Yunani menghilang. Mereka ditampilkan sebagai pengumpan pertanyaan khas Injil Yohanes. Meskipun demikian ucapan Yesus sama sekali bukan jawaban. Pada saat itu kesempatan Yesus untuk menyatakan bahwa saatnya tiba Ia akan dimuliakan.

Di ayat 24 Yesus menyampaikan metafora biji gandum yang dipendam di dalam tanah. Mati. Namun, biji gandum itu akan tumbuh dan menghasilkan banyak buah. Saat kematian-Nya itulah kemuliaan-Nya, yang akan menghasilkan banyak buah. Dalam pautannya dengan kedatangan orang-orang Yunani tersebut bahwa ke depan misi universal akan menghasilkan buah melimpah. Kematian Yesus hanya satu dari banyak gatra kemuliaan-Nya.

Yesus juga menegaskan para pengikut pun harus memberikan hidup mereka untuk memeroleh hidup kekal. Hidup yang hidup. 𝘔𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢 dapat diartikan memertahankan diri untuk kepentingan sendiri. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢 bukan diartikan tidak menerima diri, melainkan menyerahkan dirinya tanpa rasa takut kehilangan hidup demi kebenaran seperti yang Yesus lakukan.

Di ayat 26 pengikut Yesus dipandang sebagai pelayan (𝘥𝘪𝘢𝘬𝘰𝘯𝘰𝘴), bukan hamba (𝘥𝘰𝘶𝘭𝘰𝘴). Ayat ini hendak merumuskan arti menjadi murid. Pertama, melayani berarti mengikuti (lih. Yoh. 1:35-51). Sifat kepelayanan dijelaskan di Yohanes 13:4-17. Kedua, konsekuensi menjadi pengikut. Di pihak satu ini berarti murid hendaknya mengikut Yesus menuju salib, di pihak lain perbuatan itu adalah anugerah. Ketiga, hadiah menjadi murid adalah dihormati oleh Bapa.

𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮𝗿𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗽𝘂𝗯𝗹𝗶𝗸 (Yoh. 12:27-33)

“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘪𝘸𝘢-𝘒𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯? 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪. (ay. 27) 𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘮𝘢-𝘔𝘶!” Lalu datanglah suara dari surga, “𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪!” (ay. 28) Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarnya berkata bahwa itu suara guntur. Ada pula yang berkata, “𝘚𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢.” (ay. 29) Jawab Yesus, “𝘚𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘈𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶. (ay. 30) 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪: 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘭𝘶𝘢𝘳. (ay. 31) 𝘋𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶, 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪, 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶.” (ay. 32) Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati. (ay. 33) (TB II 2023)

Rasa gentar mendalam di Markus 14:34-36 mendera Yesus di Taman Getsemani. Akan tetapi di Injil Yohanes disajikan lebih dahulu, karena kemudian akan ditampilkan 𝘋𝘰𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 di Taman Getsemani (pasal 17) sehingga suasana di Injil Markus menjadi tidak cocok di sana. Penderitaan dan kematian tetaplah hal yang menggentarkan (ay. 27), tetapi Yesus tidak meminta agar “cawan” penderitaan itu berlalu dari-Nya. Justru yang diminta oleh Yesus adalah dengan kematian-Nya nama Bapa dimuliakan. Penulisan ayat ini tampaknya dipengaruhi oleh Mazmur 6:3-5 dan 42:6.

Keputusan Yesus menerima “cawan” mendapat penegasan lewat suara surgawi (ay. 28). Nama Bapa telah dimuliakan lewat seluruh karya Yesus sampai saat itu (bdk. Yoh. 17:4). Nama Bapa juga akan dimuliakan melalui kematian dan kebangkitan Yesus serta kematian Yesus akan menghasilkan banyak buah (bdk. Yoh. 13:31-32). Dalam Injil sinoptik suara surgawi terdengar dalam episode pembaptisan Yesus dan transfigurasi. Akan tetapi di Injil Yohanes suara surgawi hanya di ayat ini.

Meskipun demikian suara surgawi itu bukan untuk meneguhkan Yesus, melainkan untuk publik agar pendengar percaya bahwa Yesus diutus oleh Allah (bdk. Yoh. 11:42). 𝘚𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘨𝘶𝘯𝘵𝘶𝘳 dalam PL kerap dinasabahkan dengan suara Allah (lih. 1Sam. 7:10; 12:7). Injil Yohanes memang tidak pernah menyampaikan peneguhan Yesus. Bahkan di awal Injil Yohanes tidak ada pembaptisan Yesus. Bandingkan dengan Markus 1:11 yang diperlukan suara surgawi saat pembaptisan Yesus untuk peneguhan-Nya.

Di ayat 31 disebut ada 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯. 𝘓𝘩𝘰, bukankah Yesus datang ke dunia bukan untuk 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘪 seperti kata Yohanes 3:17? Kata 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘪 di Yohanes 3:17 diterjemahkan dari 𝘬𝘳𝘪𝘯e yang lebiih tepat 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮. NRSV menerjemahkan menjadi 𝘵𝘰 𝘤𝘰𝘯𝘥𝘦𝘮𝘯. Bandingkan dengan kata 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯 di Yohanes 12:31 yang menggunakan kata 𝘬𝘳𝘪𝘴𝘪𝘴 yang diterjemahkan oleh NRSV 𝘵𝘩𝘦 𝘫𝘶𝘥𝘨𝘮𝘦𝘯𝘵 atau penghakiman.

Dalam penghakiman itu penguasa dunia akan dilemparkan ke luar (ay. 31). Siapakah penguasa dunia itu? Apabila kita membaca pasal sebelumnya, penguasa dunia ini adalah para pemuka agama Yahudi yang bersepakat membunuh Yesus.

Ungkapan 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 (ay. 32) merujuk, pertama-tama, cara Yesus akan mati dengan dinaikkan ke tiang salib (Yoh. 3:14), sekaligus dimuliakan dan kembali kepada Bapa. Kematian Yesus berdampak sangat besar, penyelamatan universal. Seperti biji gandum yang dipendam, mati, lalu menghasilkan banyak buah. Yesus menarik orang-orang dari segala bangsa masuk ke dalam kemuliaan Bapa.

Di sinilah pengajaran Yesus kepada publik berakhir. Narator menutupnya dengan penjelasan untuk memastikan para pembaca mengerti pengajaran Yesus.
(17032024)(T)

Papirus Mesir Kuno Membuktikan Bahwa Bangsa Israel Pernah Berada Di Mesir Sebagai Budak, Serial Sudut Pandang

Papirus Mesir Kuno Membuktikan Bahwa Bangsa Israel Pernah Berada Di Mesir Sebagai Budak, Serial Sudut Pandang

Beberapa orang yang skeptis terhadap Alkitab Ibrani mengatakan tidak ada bukti nyata bahwa Israel berada di Mesir atau menjadi budak di Mesir. Namun hal ini tidak benar. Ada sebuah papirus terkenal yang disimpan di Museum Brooklyn yang disebut Papirus Brooklyn atau khususnya Papirus Brooklyn 35.1446. Papirus ini awalnya dibeli oleh Charles Edwin Wilbur antara tahun 1881 dan 1896. Akhirnya diwariskan ke Museum Brooklyn. Itu harus disusun ulang (agar dapat dibaca) dari sekitar 600 fragmen/potongan. Karya-karya besar yang diterbitkan mengenai papirus ini ditulis oleh William Hayes pada tahun 1955.


Isi papirus ini adalah daftar nama budak-budak yang dipindahkan dari suatu tempat ke wilayah kerajaan Mesir Periode Dinasti Menengah yang kaya. Papirus itu mempunyai dua penanggalan yang pasti. Bagian pertama mempunyai penanggalan pada masa Amenhemet III (sekitar tahun 1830 SM) dan bagian selanjutnya pada masa Sobhotep III sekitar tahun 1743 SM atau pertengahan dinasti ke-13 Mesir.

Sebagian besar daftar budak adalah orang-orang yang disebut sebagai orang-orang Asia yang berasal dari kawasan (yang kemudian disebut) Palestina dan Suriah. Apa yang menakjubkan tentang daftar budak di bagian terakhir yang berasal dari Sobekhotep III ini adalah bahwa sebagian besarnya adalah perempuan Asia dengan nama Israel.

Dalam daftar budak di baris 11 tertulis “ASIatik perempuan, Munahhima (Mnhm) Ini adalah nama versi perempuan dari Menahem, sebuah nama Israel.

Kami juga menemukan tertulis di baris 13, ada tertulis nama “Sakratu” juga nama Asia versi perempuan (Sk-r-tw). Ahli Mesir Kuno William Hayes menulis tentang nama ini bahwa nama ini adalah feminin dan tidak dapat dipisahkan dari Nama Ibrani Alkitab Yasahir, Isachar dan Sakar”

Juga di baris 21 kita menemukan Asiatice Siprah (S-p-r), juga nama perempuan. Hayes menulis bahwa “Nama ini sangat dimungkinkan terkait dengan atau bahkan mungkin sama dengan nama Aramic, yaitu Sapphira, “Sappira” atau Sifra, salah satu dari bidan-bidan Ibrani yang tercatat di dalam dalam Keluaran 1:15"

Pada baris 23 tertulis “Asra” (Is-r), sebuah nama Asia perempuan. Hayes bahwa ini adalah nama feminin yang sama dengan Asyer, nama dari salah satu dari dua belas suku Israel. Lihat Kel 1:1-4.

Ada juga nama versi perempuan dari nama Yakov. Bahkan di dalam papirus ini juga ditemukan nama seorang budak laki-laki, David.

Kemudian pada bagian akhir tulisannya tentang papirus ini (hal. 99) William Hayes memberikan komentar sebagai berikut,

“Mungkin hal yang paling mengejutkan terkait dengan para pelayan (dari) Asia ini adalah bahwa seorang pejabat Mesir pada masa Dinasti Ketigabelas memiliki lebih dari empat puluh orang budak dalam kepemilikan pribadinya. Jika jumlah pembantu rumah tangga yang serupa dapat ditemukan di setiap rumah tangga besar di Mesir, maka kita akan bertanya-tanya seberapa besar jumlah budak yang ada di Mesir saat itu, dan bagaimana mereka bisa menjadi pembantu rumah tangga bagi warga kerajaan Mesir.”

Hayes selanjutnya menjelaskan bahwa mereka tidak mungkin menjadi tawanan perang karena tidak diketahui ada catatan tentang penyerbuan besar-besaran Mesir ke Kanaan pada masa dinasti ke-13 atau sebelumnya di kerajaan Periode Tengah. Hayes selanjutnya berspekulasi bahwa yang sangat mungkin adalah ada perdagangan budak besar-besaran yang menyebabkan para budak-budak ini berada di Mesir.

Namun seperti yang ditulis oleh Egyptologist David Rohl dalam bukunya “Exodus Myth or History” bahwa jika kita menempatkan peristiwa Eksodus terjadi pada masa Periode/Dinasti Akhir ke-12 dan ke-13 Mesir, maka terdapat penjelasan yang siap mengenai para pelayan ini. Mereka adalah bangsa Israel yang pertama kali diterima di Mesir dan jumlahnya bertambah banyak. Kemudian bangsa Israel sebagaimana dijelaskan dalam di dalam Alkitab, akhirnya diperbudak oleh penduduk asli Mesir. Hal ini dapat menjelaskan banyaknya jumlah budak di rumah tangga Mesir yang menggunakan nama Israel. Hal ini juga berarti mayoritas budak/pelayan adalah perempuan. Seperti yang ditulis dalam kisah kitab Keluaran, orang Mesir membunuh anak laki-laki Israel tetapi membiarkan anak perempuan tetap hidup.

Papirus Brooklyn membuktikan bahwa di sana bangsa Israel berada di Mesir sebagai budak pada masa Dinasti ke-13. Mereka yang menyangkal bukti-bukti tersebut melakukan hal tersebut karena mereka menempatkan peristiwa Eksodus pada waktu yang salah. Namun dengan menempatkan peristiwa tersebut dalam kerangka waktu yang tepat maka kita dapat menemukan bukti dari luar Alkitab tentang perbudakan orang-orang Israel di Mesir.

Terjemahan bebas dari:
Stuart Steinberg, Biblical Archaeology of Ancient Israel.

Beberapa Hal Menarik Didapat Dari Temuan Ini:

1. Papirus ini ditulis oleh orang-orang Mesir dalam kegiatan administrasi jual beli budak, yang tidak ada kaitannya dengan Alkitab.

2. Namun, catatan administrasi di dalamnya mengungkapkan adanya budak-budak dengan nama asli orang Israel berikut catatan tentang asal mereka yaitu dari kawasan Asia, tepatnya dari Kanaan yang kemudian disebut Palestina, dalam jumlah yang banyak. Alkitab mencatat bahwa orang-orang Israel keturunan Yakub diperbudak di Mesir (Kel 1:8-14).

3. Penanggalan yang didapat dari papirus ini, yaitu antara tahun 1830 SM sampai dengan sekitar tahun 1743 SM, juga cocok dengan kronologi penaklukan Yerikho yang terjadi pada sekitar tahun 1600 - 1400 SM (Yos 6:1-27).

4. Ketika kita membaca ayat-ayat Firman Tuhan di dalam Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, kita seperti membaca sebuah dongeng belaka. Contohnya adalah ayat pada Kel 1:22 yaitu, “Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: "Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup."”
Namun data temuan baru yang menunjukkan bahwa nama-nama perempuan dari budak-budak Israel yang ada di dalam papirus ini jauh lebih banyak dari nama-nama laki-laki, menunjukkan bahwa apa yang dicatat di dalam kitab Kel 1:22 tersebut benar adanya, bukan dongeng belaka.

5. Temuan ini menjadi bukti sejarah yang dapat mengkonfirmasi kebenaran catatan atau ayat-ayat di dalam Alkitab, khususnya Perjanjian Lama.
19032024 (T)
Tuhan Yesus memberkati  🙏🏼🙏🏼🙏🏼

Minggu, 17 Maret 2024

SUDUT PANDANG YOHANES 4:24

SUDUT PANDANG YOHANES 4:24

“Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yoh. 4:24, TB II 2023).

Ada pendeta berkhotbah berbusa-busa mengolok-olok umat dengan ayat itu (kira-kira begini): “Kalian tidak bisa menyembah Allah jika rohmu tidak ada kebenaran”.

Padahal ayat itu justru mengecam orang-orang Kristen, termasuk pendeta itu, bahwa orang Kristen itu gak punya Tanah Suci. Tidak perlu lagi Holy Land Tour ke Yerusalem kayak orang-orang Yahudi, karena Allah itu Roh, bisa disembah dari mana pun.

Orang itu sudah gilaaa kalau soal agama, bayangkan saja berapa itu pemasukan Arab Saudi dg ibadah hajinya, shg negara lain ingin pula mencontoh, termasuk dg progam Holyland tsb, kalau suatu negara menjadi tujuan ibadah maka pemasukannya akan lumayan, itu gimmick ekonomi saja, maka Indonesia mau jadikan seperti itu untuk candi Borobudur, tapi malang tak dapat ditolak, tercegat kaum kadruner yg pendek pemikiran, "Indonesia negara Islam besar masak mo jadi tujuan ibadah umat Budha?". Bayangkan kalau progam itu jalan berapa pemasukan Indonesia dari orang luar negeri yg datang ke candi Borobudur untuk beribadah

Undang-Undang Hak Sipil tahun 1964 melarang diskriminasi terhadap karyawan berdasarkan ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, atau asal negara. Ini juga akan mempengaruhi perundangan tenaga kerja Indonesia,  mewajibkan pemberi kerja untuk membuat penyesuaian yang wajar terhadap keyakinan dan praktik keagamaan. Pemberi kerja harus memberikan penyesuaian yang wajar terhadap keyakinan agama yang dianut dengan tulus oleh karyawannya, sehingga tidak menimbulkan kesulitan yang tidak semestinya termasuk cuti ibadah, shg kalau mau progam pergi ke Holyland itu boleh cuti sampai 3 bulan max, seperti halnya cuti ibadah haji, masuk dalam ranah perundangan tenaga kerja mengenai cuti ibadah. Jadi, duduk permasalahan nya bukan ibadah haji sama maknanya dg wisata Holyland. Sehingga disamakan dg progam naik Haji oleh pemerintah untuk perundangan tenaga kerja dalam rangka persamaan hak bagi tenaga kerja, dalam hal ini bersamaan hak cuti ibadah, jadi secara ajaran keimanan antara progam naik haji dg progam tamasya ke Holyland itu beda jauh pemahamannya, jadi jangan disamakan maknanya, seakan kita kaum baper dan kurang percaya diri, di sana ada progam naik haji dalam ajaran imannya, trus kita buat yg mirip-mirip, di bumbui dongeng dan ayat-ayat Alkitab agar punya progam Holyland yg dianggap setara progam naik haji.  Maka, berangkat lah ke Holyland agar tidak kehilangan hak cuti ibadah🤭😁😄😆😂🤣😉 Jangan karena biar dapat tiket ke sorga🤭😁😄😆😂🤣😉

18032024 (T)

SUDUT PANDANG, MATIUS 14 : 19C - 20A, memberikan makan orang miskin

SUDUT PANDANG, MATIUS 14 : 19C - 20A, memberikan makan orang miskin

Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. (Mat. 14:19c-20a)

Sampai kenyang di atas diterjemahkan dari kata echortasthēsan. Hal ini mengingatkan kita pada Ucapan Bahagia Yesus “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (Mat. 5:6). Kata dipuaskan dalam Ucapan Bahagia ini diterjemahkan dari kata chortasthēsontai, yang berakar kata yang sama dengan sampai kenyang. Mengenyangkan berarti mengisi perut. Orang Yahudi meyakini perut adalah pusat emosi. Orang dengan perut kenyang memudahkannya mengendalikan pikiran dan emosinya. 

Sangat jelas Injil Matius menyampaikan pesan bahwa Gereja tidak hanya mengenyangkan umat secara rohani, tetapi juga mengenyangkan secara ragawi. Harus ada kesetimbangan. Jangan sampai umat sudah miskin, masuk neraka pulak.
18032024 (T)

G U N U N G AN, SUDUT PANDANG

G U N  U N G AN, SUDUT PANDANG

Gunungan inggih punika gambar wayang ingkang wujudipun kados gunung. Salebetipun gunungan wonten gambar lawang kados déné gerbang, ingkang dipunjagi déning buta cacah kalih cepengan gada lan tébéng. Gunungan ing pawayangan ugi asring sinebat Kayon. Sanésipun gunungan punika nggambaraken karajan, gunungan ugi kanggé pratandha giyaran wayang badhé dipunwiwiti.
Gunungan utawi kayon wiwitanipun dipunripta déning Radèn Patah.
 Winastan gunungan amargi wujudipun mèmper gunung limrahipun. 
Gambar wayang punika dipun-ginakaken saben pagelaran wayang (wayang purwa, wayang krucil, wayang golèk, wayang gedhog, wayang suluh, lan sanèsipun).

         Jinisipun Gunungan.

Mituhu wujudipun, gunungan utawi kayon saged dipunpérang dados kalih, inggih punika:

          Kayon Gapuran.

Wujudipun radi alit kanthi gambar gapura. Sisih kiwa tengenipun dipunjagi déning buta utawi raseksa. Sisih wingking kayon wonten gambaran utawi wewujudan geni warna abrit.

          Kayon Blumbangan.

Wujudipun radi ageng lan langkung endhèp upami dipunbandhingaken kaliyan kayon gapuran.[3] Sisih ngandhapipun wonten gambar kolam kanthi toya wening, samadyanipun kayon wonten gambar ulam cacahipun kalih ingkang sami adhep-adhepan, lan sisih wingkingipun wonten gambar segara ingkang warninipun sami kaliyan warni langit.
Gambar Salebetipun Gunungan
Sedaya gambar ing salebetipun gunungan inggih punika:
Griya éndah kanthi undhag-undhagan ingkang cacahipun tiga lan korinipun dipunrengga gambaripun Bethara Kamajaya ingkang adhep-adhepan kaliyan Dèwi Ratih,
buta utawi raseksa ingkang sami adhep-adhepan, kanthi mbekta gada utawi pedhang jangkep kaliyan taméngipun,
naga ingkang ngghadhahi swiwi kalih,
alas ingkang dipunrengga déning para kéwan,
macan ingkang adhep-adhepan kaliyan banthèng,
wit-witan ageng ing tengahipun alas, dipunubeti déning sawer,
makara ing tengahipun wit,
kethèk cacahipun kalih lan lutung ingkang mapan ing wit,
pitik alas cacah kalih ing sanginggilipun wit-witan.

          Ginanipun Gunungan

Gambar-gambar salebetipun gunungan nggambaraken saisining jagad raya jangkep kaliyan isinipun. Gunungan ing pagelaran wayang gadhah jejer ingkang wigati.[3]
Minangka tandha pagelaran wayang badhé dipunwiwiti, inggih nalikanipun gunungan dipunbedhol ing tengah-tengahipun kelir, lajeng dipuntancepaken ing sisih tengen.
Minangka tandha gantosipun jejer lan ugi dipun-ginakaken dhalang kanggé nggambaraken owah-owahanipun swasana.
Minangka tandha gantosipun pathet.
Nggambaraken tumuruning wahyu saking déwa, angin, lan sanèsipun.
Nggambaraken geni, inggih punika kanthi malik gunungan ingkang sisihipun gadhah gambar geni.
Minangka sarana dhalang anggènipun nggambaraken medalipun kekiyataning paraga wayang.
Minangka tandha purnanipun pagelaran wayang, kanthi nancepaken gunungan ing tengah-tengahipun kelir.
Werdinipun Gunungan

Gunungan saged dipunmaknani minangka lambang pancer, inggih punika jiwa utawi sukma. 
Kajawi punika, wujudipun ingkang wujud wajik (segitiga) gadhah teges manungsa punika gadhah unsur cipta, rasa, lan karsa. 
Lambang gambar pesagi (segiempat) ngemu werdi, manungsa gadhah sekawan sadhérék. Sadhérék kasebat inggih punika, siti,  geni,  toya, lan  hawa utawi angin.

Gunungan minangka lambang alam ing pawayangan. Mituhu kapitayanipun Hindhu, segi makrokosmos gunungan ingkang dipunputer-puteraken kaliyan dhalang, ngetingalaken campuhipun sadaya piranti dados satunggal. Salajengipun, samudayanipun dados wewujudan donya saisinipun.
Gunungan ngadhahi werdi, minangka tandha panguripan. Saben gambar ing gunungan, ngetingalaken saisining piranti ing sajeroning jagad. Wiwit saking manungsa, kéwan, alas, lan samudayanipun.Wujud gunungan wujud limas (segilima), nggambaraken gangsal wekdal ingkang kedah dipunlampahaken déning manungsa muslim. Wujud lancip punika gadhah werdi gandhéng cénéng antawisipun manungsa kaliyan gustinipun. Gambar wit minangka pratandha ingkang mbabaraken digdayanipun Gusti Ingkang Maha Wikan, ingkang sampun maringi pangayoman dhumateng sadaya titah ing ngalam donya. Sedaya kéwan ingkang karipta ing gunungan gadhah 3 (tigang) teges;

(1) sipat, 
(2) bebudén, lan 
(3) watek, ingkang dipungadhahi saben manungsa. 

Gambar sirah raseksa utawi buta nggambaraken kaanan manungsa ingkang gesangipun ing ngalam donya gadhah sipat rakus lan awon kados sétan. 
Gambar ilu-ilu geni nggambaraken lampahipun gesang manungsa karidhu déning manéka warna godha, coba, bebaya, lan sanès-sanèsipun. 
Gambar segara ngemu pratandha ingkang njléntrehaken pikiranipun manungsa. 
Gambar buta nyepeng gada gadhah werdi panjagining rasa ing ngalam peteng lan padhang. 
Gambar Joglo mbabaraken kahananipun nagari ingkang aman lan tenterem, awit sampun kinayoman déning ngrembakanipun wit-witan lan isén-isén sanèsipun. 
Gambar raseksa minangka lambangipun manungsa ingkang kirang tata.

Gunungan punika menawi prada mas, reginipun larang watawis yuta an..
Budaya Jawa pancen larang regine..

Sumber ugi 📷 kapendhet saking : #HudaAmin
#gunungan_pawayangan
#palingujung

Kamis, 14 Maret 2024

Sudut Pandang Matius 14:14, Gereja tak perlu jadi partisipan partai politik

Sudut Pandang Matius 14:14, Gereja tak perlu jadi partisipan partai politik

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya. Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit (Mat. 14:14).

Ungkapan tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata esplanchnisthē. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Yesus kemudian menyembuhkan mereka yang sakit, padahal Yesus ke seberang hendak menyendiri. Sakit di sini dari kata arrōstous, yang berarti literal tak berdaya. Teks Injil Matius sama sekali tidak menyebut Yesus mengajar banyak hal. Yesus hanya menyembuhkan orang sakit. 

Matius sangat jelas menyampaikan pesannya kepada Gereja untuk segera bergerak menolong orang-orang tak berdaya tanpa perlu banyak berbual, apalagi menjadi partisan parpol.
15032924 (T)

Rabu, 13 Maret 2024

Sudut Pandang Yohanes 3 : 14-21, 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴?

Sudut Pandang Yohanes 3 : 14-21, 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴?

Pengindonesiaan 𝘎𝘰𝘰𝘥 𝘍𝘳𝘪𝘥𝘢𝘺 menjadi Jumat Agung erat pautannya dengan perayaan. Jumat Agung adalah hari kematian Yesus. 𝘓𝘩𝘢 𝘬𝘰𝘬 dirayakan? Cukup banyak orang berkeberatan atas ungkapan merayakan Jumat Agung. Itu lumrah, karena banyak orang Indonesia mencerap kata merayakan dan perayaan adalah berpesta, kegiatan hingar-bingar penuh sukacita dan tidak lengkap apabila tanpa makan bersama. 

Dalam liturgi ada dua macam ibadah: selebrasi dan aksi. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian atau misa Minggu. Ibadah aksi adalah perbuatan-perbuatan atau praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, … “

Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja merayakan berarti memuliakan, mengagungkan. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari pertama (Minggu). Merayakan Jumat Agung berarti memuliakan, mengagungkan salib. Mengapa memuliakan atau mengagungkan salib?

Bacaan ekumenis diambil dari Injil Yohanes 3:14-21 yang didahului dengan Bilangan 21:4-9, Mazmur 107:1-3, 17-22, dan Efesus 2:1-10.

Bacaan Injil Minggu ini merupakan bagian perikop yang diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘳𝘤𝘢𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘕𝘪𝘬𝘰𝘥𝘦𝘮𝘶𝘴 (Yoh. 3:1-21). Sejumlah ahli bliblika berpendapat bahwa percakapan Yesus dengan Nikodemus sebenarnya berakhir pada ayat 13.

Dalam suatu cerita ada penulis cerita, pencerita atau narator, dan tokoh-tokoh cerita. Penulis cerita tidak sama dengan narator. Narator adalah tokoh imajiner yang serbatahu yang selalu hadir dalam setiap kalimat. Penulis cerita dapat menyampaikan pendapatnya lewat narator. Masih bingung? Dalam film narator adalah kamera yang menyampaikan bahasa gambar kepada penonton. Narator tahu tokoh antagonis akan membunuh tokoh protagonis. Narator menyampaikannya kepada penonton, tetapi narator tidak memberitahu kepada tokoh protagonis. Penonton menjadi tegang, bahkan ada yang gemes berteriak kepada tokoh protagonis agar berwaspada.

Hal yang sama pada Yohanes 3:1-21. Ucapan jawaban tokoh cerita Yesus kepada Nikodemus berakhir pada ayat 13. Tokoh cerita Nikodemus menghilang sejak mengajukan pertanyaan pada ayat 9. Ayat 14 – 21 merupakan pendapat penulis Injil lewat narator. Dengan kata lain narator yang berbicara pada ayat 14 – 21 secara monolog. Narator menyampaikan pesan kepada pembaca Injil.

Pengulasan bacaan dapat dibagi ke dalam tiga bagian:

▶ Mengagungkan salib (Yoh. 3:14-15)
▶ Kabar Baik (Yoh. 3:16-18a)
▶ Menolak Kabar Baik (Yoh. 3:18b-21)

𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯 (Yoh. 3:14-15)

Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, (ay. 14) supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. (ay. 15) (TB II 2023)

Ayat di atas merujuk Bilangan 21:4-9 bacaan pertama Minggu ini. Dikisahkan bangsa Israel memberontak melawan Allah dan Musa. Allah kemudian mengirim ular-ular tedung, memagut mereka, dan banyak orang mati. Mereka mendatangi Musa dan mengaku berdosa. Musa atas perintah Allah membuat ular dari tembaga dan menaruhnya pada satu tiang. Setiap orang yang dipagut ular, jika ia melihat ular tembaga di atas tiang, maka ia akan tetap hidup.

Penulis Injil Yohanes membuat tipologi ular ditinggikan sama dengan Anak Manusia disalibkan. Peninggian (𝘩𝘺𝘱𝘴𝘰𝘰) merupakan ungkapan penulis Yohanes untuk menyebut penyaliban (bdk. Yoh. 8:28; 12:34). Ungkapan ini juga digunakan untuk pemuliaan seorang raja, pemahkotaan seorang penguasa. Yohanes mengisyaratkan salib sebagai pemahkotaan Yesus sebagai Raja. Kata 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 (𝘥𝘦𝘪) mengisyaratkan penentuan dari rencana ilahi bagi Yesus. Semuanya bertujuan untuk beroleh hidup kekal (𝘻oe𝘯 𝘢𝘪o𝘯𝘪𝘰𝘯).

Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan penulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶?” Bahkan Syahadat Rasuli mengikuti pandangan Injil sinoptik sehingga penyaliban Yesus dikelompokkan ke dalam bagian penderitaan Yesus.

Penulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. Salib adalah simbol kemuliaan seperti tertulis di Yohanes 3:14-15 di atas. Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh penulis Injil Yohanes, “𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪!” Perayaan Jumat Agung merujuk teologi Injil Yohanes: 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻 atau 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯. 

𝗞𝗮𝗯𝗮𝗿 𝗕𝗮𝗶𝗸 (Yoh. 3:16-18a)

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (ay. 16) Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. (ay. 17) Siapa yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum. (ay. 18a) (TB II 2024)

Ayat di atas memerluas makna salib. Ketiga ayat itu dapat dipandang sebagai ringkasan 𝘒𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘉𝘢𝘪𝘬 (Injil) dalam Injil Yohanes. Pertama-tama dan terutama adalah Allah sangat mengasihi dunia ini. Kasih Allah kepada dunia ini bahkan “mengalahkan” kasih Allah kepada Anak-Nya yang tunggal sehingga Allah “memberikan” Anak-Nya itu demi menyelamatkan dunia ini.

Ungkapan 𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘕𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 di sini hendaknya jangan dipahami sebagai kuantitas. Pada bagian pertama pengulasan kita dapat melihat penulis Injil Yohanes membangun tipologi peninggian ular tembaga Musa di pucuk tiang dengan pemuliaan Yesus di tiang salib. Pada bagian kedua ini penulis Injil membangun tipologi Ishak yang disebut sebagai anak tunggal Abraham. Padahal pada waktu itu Abraham memiliki dua anak, Ismael dan Ishak. 

Kejadian 22:2 (TB II 2023), Firman-Nya, “𝘈𝘮𝘣𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘐𝘴𝘩𝘢𝘬, 𝙖𝙣𝙖𝙠𝙢𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙩𝙪-𝙨𝙖𝙩𝙪𝙣𝙮𝙖, 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙪 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙞, 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘔𝘰𝘳𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘬𝘶𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘩𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶.”
 
Dengan melihat bangunan tipologi ini kita dapat memaknai 𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘕𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 di sini dalam arti kualitas, yaitu yang dikasihi, terkasih. Ayat 16 merupakan kunci memahami salib menurut teologi Injil Yohanes. Dalam salib terdapat ungkapan tertinggi kasih Allah yang memahkotai Yesus sebagai raja.

Tujuan Allah memberikan 𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘕𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (ay. 16). Hidup kekal di sini berarti hidup sejati, hidup yang benar-benar hidup. Tujuan Allah mengutus 𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘕𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 bukan untuk menghukum dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia dan setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak dihukum (ay. 17-18a). Kata 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘪 di ayat 17 diterjemahkan dari 𝘬𝘳𝘪𝘯e yang lebiih tepat 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮. NRSV menerjemahkan menjadi 𝘵𝘰 𝘤𝘰𝘯𝘥𝘦𝘮𝘯. Bandingkan dengan kata 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘪 di Yohanes 9:39 yang menggunakan kata 𝘬𝘳𝘪𝘮𝘢 yang diterjemahkan oleh NRSV 𝘧𝘰𝘳 𝘫𝘶𝘥𝘨𝘮𝘦𝘯𝘵 atau menghakimi.

Prakarsa keselamatan datang dari Allah. Keselamatan adalah anugerah Allah. Meskipun demikian untuk benar-benar diselamatkan manusia harus menanggapi anugerah keselamatan dari Allah itu.

𝗠𝗲𝗻𝗼𝗹𝗮𝗸 𝗞𝗮𝗯𝗮𝗿 𝗕𝗮𝗶𝗸 (Yoh. 3:18b-21)

Siapa yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (ay. 18b). Inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. (ay. 19) Sebab siapa yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak. (ay. 20) Namun, siapa yang melakukan yang, Ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah. (ay. 21) (TB II 2023)

Kabar Baik seperti dua sisi koin: anugerah dan penghukuman. Jika orang percaya kepada 𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘕𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 itu, ia tidak dihukum (ay. 18a). Sebaliknya, jika ia memilih untuk tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman (ay. 18b). Pada saat orang memilih untuk tidak percaya, pada saat itu ia sudah memilih untuk berada di bawah hukuman. Pilihan pada saat ini akan menentukan nasib di masa depan. Kejahatan pada saat ini akan mendatangkan hukuman pada akhir zaman (Yoh. 5:29).

Tema besar Injil Yohanes pasal 1 – 4 adalah 𝘗𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘳𝘶. Yohanes 1:5 berbicara tentang Terang yang bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan tidak dapat menguasai-Nya. Terang-gelap itu juga merujuk kisah Penciptaan (Kej. 1:3-5). Yesus adalah Terang di 𝘗𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘓𝘢𝘮𝘢 (Yoh. 1:5) yang kembali datang untuk 𝘗𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘳𝘶 (Yoh. 1:9-11; 3:19-21).

Yohanes 1:9-11 (TB II 2023) Terang yang sesungguhnya yang menerangi setiap orang sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya.

Bandingkan Yohanes 1:9-11 di atas dengan Yohanes 3:19-21 yang merupakan bagian ketiga pengulasan ini.

Dalam Penciptaan Baru yang dilakukan Yesus adalah segala sesuatu dibaharui:

▶ Anak domba Paska Israel digantikan dengan diri Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. (Yoh. 1:29) 
▶ Air penyucian Yahudi digantikan dengan air anggur pesta perkawinan mesianik Sang Mempelai. (Yoh. 2:1-11)
▶ Bait Allah lama digantikan dengan diri Yesus sebagai Bait Allah yang baru. (Yoh. 2:19-22) 
▶ Keselamatan adalah prakarsa dan anugerah Allah, tetapi manusia harus menanggapi agar beroleh hidup sejati. Menolak berarti memilih hidup dalam hukuman. (Yoh. 3:14-21)
▶ Manusia lama digantikan dengan manusia baru yang dilahirkan dari atas (𝘨𝘦𝘯𝘯e𝘵𝘩e 𝘢𝘯o𝘵𝘩𝘦𝘯). (Yoh. 3:3-6)
▶ Yerusalem lama digantikan dengan diri Yesus sebagai 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘰𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯. (Yoh. 4:21-24)
14032024 (T)

Senin, 11 Maret 2024

Menetapkan Tanggal Hari Raya Paska, Serial Sudut Pandang

Menetapkan Tanggal Hari Raya Paska, Serial Sudut Pandang

Bagi umat Kristen pergi beribadah pada (hari) Minggu pada dasarnya merayakan Paska, hari kebangkitan Kristus. Yesus bangkit pada hari pertama dalam pekan. Hari pertama adalah Minggu. Jemaat perdana punya tradisi bersekutu pada hari pertama untuk memecah-mecah roti (Kis. 20:7).

Sesudah Gereja mula mapan, bapak-bapak Gereja menimbang kepentingan perayaan Paska tahunan. Waktu yang dipilih adalah musim semi. Perayaan Paska tahunan mengadopsi Paska Yahudi, tetapi dengan pemaknaan baru. Membuang ragi lama, menerapkan ragi baru (lih. 1Kor. 5:7-8).

Berbeda dari Hari Natal yang selalu 25 Desember setiap tahun, hari raya Paska tahunan tidak permanen tanggalnya. Yang sudah pasti hari raya Paska jatuh pada (hari) Minggu pertama sesudah bulan purnama sesudah equinox pada 21 Maret. Jika bulan purnama sesudah equinox jatuh pada (hari) Minggu, maka Paska jatuh pada Minggu berikutnya. Tentu saja penentuan tanggal Paska tahunan ini tidak sekali jadi. Ada perdebatan panjang di dalamnya.

Daftar Paska tahunan:
2024: 31 Maret
2025: 20 April
2026: 5 April
2027: 28 Maret 
2028: 16 April
2029: 1 April

Untuk sementara saya batasi sampai 2029 karena ada Pilpres.
11.03.2024 (T)

Sabtu, 09 Maret 2024

Sudut Pandang Injil Yohanes tentang Iman otentik,serial sudut pandang

Sudut Pandang Injil Yohanes tentang Iman otentik,serial sudut pandang

Injil Yohanes paling sulit ditafsirkan. Injil Yohanes itu bundhet. Kusut. Untuk menafsir satu perikop (passage) kudu mutar-muter dari depan ke belakang, kembali lagi ke depan, berbelok ke samping, balik kanan, dst., baru kemudian memaknai perikop sasaran.
Anehnya Injil Yohanes sangat disuka oleh banyak orang Kristen. Apalagi ada ayat-ayat emas seperti Yohanes 3:16 dan 14:6. Orang Kristen suka karena melihat banyak orang “bertobat” berpindah ke agama Kristen karena membaca Injil Yohanes. “Kesaksian” para petobat baru menambah tebal iman mereka.
Padahal Injil Yohanes sejak dari awal memandang sepele atau tidak mengharkat tinggi pada orang-orang yang percaya karena tanda-tanda, mukjizat-mukjizat, dan “kesaksian-kesaksian”. Ini dapat dilihat dari episode awal rekrutmen murid-muris Yesus dan percakapan Yesus dengan Nikodemus. Kecaman Injil Yohanes terhadap orang-orang yang percaya kepada tanda-tanda terus berlangsung sampai ke pengujung (bukan penghujung) Injil.
Menurut Injil Yohanes orang percaya karena ia belajar lebih dalam lagi diharkat lebih matang dan dipandang sebagai iman otentik (misal Yoh. 4:40-42). Injil Yohanes sejak awal juga menggebrak menyerang langsung ke jantung Yudaisme dan menegaskan bahwa kekristenan tidak mengenal Tanah Suci atau Holy Land.
Quote of the day: “Let me tell you one thing I have against Moses. He took us forty years into the desert in order to bring us to the one place in the Middle East that has no oil.” Golda Meir
10.03.2025 (T)

Kamis, 07 Maret 2024

SUDUT PANDANG YOHANES 3:3 NIKODEMUS KEPLESET, SERIAL SUDUT PANDANG

SUDUT PANDANG YOHANES 3:3 NIKODEMUS KEPLESET, SERIAL SUDUT PANDANG

They’re born-again Christian. The trouble is they suffered brain damage during rebirth.

Dalam berbahasa kita acap bersua dengan homonim. Apa itu? Homonim ditakrifkan (defined) sebagai kata yang sama pelafalan atau pengucapan dan ejaannya, tetapi berbeda makna karena berasal dari sumber yang berbeda. Kita juga sering melihat homonim dijadikan plèsètan.

Contoh: “Di sini karyawan harus banyak bisanya.” kata seorang manajer kepada calon karyawan yang hanya memiliki keterampilan terbatas. Calon itu menjawab, “Pak, saya bukan ular kobra, nggak banyak bisanya.”

Di Injil Yohanes, ada homonim yang dijadikan plèsètan. Pendengar terpeleset, tetapi kemudian bangun lagi sesudah dikoreksi oleh si penutur. Namun, banyak pembaca masa kini terpeleset dan tidak mau bangun lagi. Istilah lahir-baru (born-again) yang terkenal di kalangan Kristen tertentu sebenarnya berasal dari hasil plèsètan, tetapi mereka tidak mau dikoreksi oleh si penutur.

Nikodemus terpeleset oleh ucapan Yesus di Yohanes 3:3, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika seorang tidak gennēthē anōthen, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."

Dalam mendengar ungkapan gennēthē anōthen ini Nikodemus terpeleset. In mencerap gennēthē anōthen sebagai dilahirkan kembali. Padahal yang dimaksud oleh Yesus adalah dilahirkan dari atas, bukan dilahirkan kembali. LAI menerjemah gennēthē anōthen menjadi dilahirkan kembali dan NIV born again sehingga pembaca masa kini ikut terpeleset. Dalam pada itu NRSV menerjemah ayat 3 menjadi born from above. Jesus answered him, “Very truly, I tell you, no one can see the kingdom of God without being born from above.”

Kesalahan cerapan Nikodemus terhadap ungkapan gennēthē anōthen bukanlah teologis, melainkan memang terpeleset dalam berbahasa. Hal ini dapat kita lihat dari ucapan Nikodemus dalam menanggapi ungkapan gennēthē anōthen dari Yesus. Ayat 4: Kata Nikodemus kepada-Nya, "Bagaimanakah mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?". Gaya plèsètan ini khas Injil Yohanes. Bandingkan dengan cerapan perempuan Samaria tentang air hidup di Yohanes 4:11.

Yesus kemudian menjelaskan maksud gennēthē anōthen. Ayat 5-7: Jawab Yesus, "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan secara jasmani bersifat jasmani dan apa yang dilahirkan dari Roh bersifat rohani. Janganlah heran karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus gennēthēnai anōthen (dilahirkan dari atas).” Dari jawaban Yesus ini sangat jelas bahwa Yesus tidak mengatakan dilahirkan kembali, melainkan dilahirkan dari atas atau dilahirkan dari air dan Roh. Tidak ada sebutan lahir-kembali atau lahir-baru. Yang menyebut dilahirkan kembali adalah Nikodemus karena terpeleset.

Injil Yohanes berisi pertarungan teologi antara Komunitas Yohanes (penulis Injil Yohanes berasal), penguasa agama Yahudi, murid-murid Yohanes Pembaptis, dan Sekte Gnostik. Air merupakan materi pembersih/pemurni (sacred matter) untuk memeroleh energi ilahi dan konsekrasi. Air di sini merujuk ritual pembaptisan. Makna pembaptisan adalah kemakbulan air sebagai pemurni dan inisiasi eksklusif ke dalam Komunitas Yohanes. Pembaptisan berarti dilahirkan dari atas. 

Dengan demikian anda, para Kristen tradisional, yang begitu lahir ceprot sudah Kristen (karena sudah dibaptis), sesungguhnya sudah gennēthē anōthen, dilahirkan dari atas. Tidak perlu ikut-ikutan slogan keliru Kristen lahir-baru atau born-again Christian. Para Kristen lahir-baru itu justru adalah Nikodemus-Nikodemus yang terpeleset.
08.03.2024 (T)

Mengenali wujud dosa sesungguhnya, Serial Sudut Pandang

Mengenali wujud dosa sesungguhnya, Serial Sudut Pandang

Alkisah adalah sepasang pria dan wanita yang diciptakan oleh Tuhan, anggap saja namanya Adam dan Hawa. Mereka berdua tampan, cantik, bersih, bersinar dan penuh kasih, karena diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Keduanya sangat sempurna, tiada cacat apapun, dan Tuhan bahkan memberikan bagian dari-Nya, percikan-Nya, dzat-Nya kepada manusia tersebut. Salah satu anugerah indah Tuhan bagi mereka lagi adalah mereka memiliki KEHENDAK BEBAS, mereka mampu melakukan apapun tanpa batasan, hanya dibatasi oleh diri mereka sendiri. Ibarat kata mereka bebas membeli mobil lamborgini, Ferarri, becak dorong, asalkan uang mereka cukup. Bebas memakan apapun asal perut mereka muat. Mereka bahkan bisa memilih untuk bunuh diri dan tidak ada yang mampu melarang mereka.
Melalui kehendak bebas mereka, mereka mencicipi banyak hal, dan memutuskan apa yang mereka sukai atau tidak. Si Adam menyukai cabe, tidak terlalu suka pada tomat dan durian sedangkan si wanita senang pada semua buah buahan, apalagi yang namanya emas, permata, berlian. Dari sana muncullah kepribadian ego mereka berdasarkan pengalaman mereka dan pilihan mereka.
Tuhan selalu mengajarkan hal yang baik pada mereka, sering, Dia memberikan saran kepada pada Adam dan Hawa, tentang hal-hal yang baik dikonsumsi dan melarang mereka pada hal hal yang bisa melukai mereka. “Kulit durian tajam, jangan berjalan dibawah pohonnya, nanti tertimpa. Ada beberapa tanaman yang baik untuk kesehatan, tetapi jika mengonsumsinya terlalu banyak bisa menyebabkan mules, jangan konsumsi terlalu banyak. Jangan merokok. Jangan membunuh,” Tetapi ya, kadang manusia mendengarkan, kadang mereka tidak mendengarkan.
Tetapi semua saran tersebut tidak pernah dipaksakan, karena Tuhan tidak menarik kembali janji-Nya akan kehendak bebas bagi adam dan hawa. Mereka bebas melakukan apapun di tempat tersebut. Lalu Tuhan berkata, “di ujung tempat ini ada sebuah pohon yang jahat dan buahnya berracun. Janganlah kalian makan nanti kalian akan celaka dan mati.”
Entah bagaimana Adam dan Hawa mendatangi pohon tersebut dan bertemu dengan ulat, sang ulat berkata, “makanlah buah ini.”
Hawa membalas, “Kata Tuhan tidak boleh makan.”
“Saat kamu makan buah pengetahuan yang baik dan jahat ini kamu tidak akan mati, tetapi menjadi sama seperti Tuhan.”
Hawa lalu berpikir keras, “Tuhan Maha Kuasa, jika saya bisa menjadi seperti Tuhan, bukankah itu akan sangat hebat sekali? Tetapi kata Tuhan jika saya makan buah ini saya akan mati, Mungkin Tuhan membohongi saya, karena Tuhan takut saya melebihi Tuhan.”
Alkisah, Hawa lebih mempercayai si ulat yang baru dia jumpai dari pada mempercayai Tuhan yang sudah memberikan segala-galanya pada mereka. Sama seperti seorang gadis kecil yang di rawat dengan baik oleh orang tuanya dan saat dewasa, lebih memilih mengikuti sang pacar jahat alias bad boy dan lari dari rumah orang tuanya, demi yang namanya Cintaaaaaa… yang mungkin setelah itu akhirnya menjadi janda…atau dijual ke mana.
Namun semua itu adalah sesungguhnya pilihan dari kehendak bebas, untuk memilih apa yang menurut mereka baik. Tidak ada yang akan mampu menghentikan pilihan hidup mereka.
Buah itu sesungguhnya hanya berisi hal-hal jahat, sedangkan manusia diciptakan pertama kali sudah memiliki segala yang baik. Dengan memakan buah itu, manusia jadi mengetahui hal yang baik dan hal jahat. Seperti anak-anak polos yang rajin beribadah dan penurut, untuk pertama kalinya mengenal kata cinta dan nafsu karena pergaulan bebas. Ada yang tetap menjadi orang baik, ad yang akhirnya berhenti jadi orang baik.
Adampun kemudian memakan buah tersebut karena di ajak oleh Hawa, seperti seorang pemuda yang dimabuk cinta dan menjual segala harta bapaknya hanya untuk menyenangkan hati sang wanita.
Pada saat drama tersebut terjadi, Tuhan sedang berada diantara mereka dan tidak bisa melarang mereka, karena hal tersebut adalah pilihan kehendak bebas mereka.
Sesudah adam dan hawa memakan buah tersebut, mereka baru tersadar karena mereka berdua sudah ditipu. Karena tidak ada kebaikan yang tumbuh dari hal jahat, tidak ada kepercayaan yang bisa dipercaya dari sang penipu si ulat. Ternyata benar buah itu berracun dan akan mematikan mereka seperti perkataan Tuhan. Survey akhirnya membuktikan kata Tuhan itu benar, kata ulat itu adalah salah dan tipuan.
Mereka berdua tidak menjadi sama seperti Tuhan, bahkan mereka sudah keracunan oleh buah tersebut dan keabadian yang diberikan Tuhan pada mereka mulai terkontaminasi dengan racun dan mereka akan segera mati. Energi kehidupan mereka di ambil oleh dosa secara perlahan-lahan.
Yang mereka miliki adalah kemampuan untuk melawan Tuhan tanpa merasa bersalah. Menganggap seakan akan Tuhan adalah sama seperti dan setara dengan mereka. Mereka dapat memaki Tuhan tanpa merasa bersalah, bahkan merasa hebat. Mereka tidak menjadi seperti Tuhan, mereka hanya semakin bertambah picik dan tidak tahu diri.
Tetapi dalam hati kecil mereka, mereka merasa malu untuk mengakui jika mereka sesungguhnya salah mencoba mengkhianati atau mau menjadi sama seperti Tuhan yang menciptakan mereka. Ini adalah kudeta yang gagal. Ibarat kata, sang pangeran hendak menguasai kerajaan sang raja, ayah mereka sendiri dan bersekutu dengan musuh sang ayah, yang ternyata mereka malah di tangkap oleh musuh sang ayah dan diperbudak.
Mereka malu untuk kembali pada sang Ayah. Mereka malu berkata, “Ya Tuhan, maafkan kami atas kesalahan kami bukan karena melanggar perintah-Mu tetapi karena kami ingin menjadi seperti-Mu.” Yang sesungguhnya Tuhan yang penuh kasih akan segera menjawab, “Ya dosamu diampuni.”
Tetapi ulat berkata, “Kalian sudah melanggar perintah Tuhan, larilah, bersembunyilah, jika tidak Tuhan akan membinasakan kalian, Tuhan itu pemarah.”
Karena malu dan ketakutan akan kesalahan mereka, adam dan hawapun lari bersembunyi dari Tuhan.
Tuhan mengetahui kemana mereka berlari dan bersembunyi, tetapi itu adalah kehendak bebas manusia untuk bersembunyi dari Tuhan dan Tuhan tidak akan muncul di hadapan mereka, karena manusia menutup pintu hati dan pintu kehidupan dari kehadiran Tuhan. Kecuali mereka mempersilakan Tuhan masuk atau memanggil nama Tuhan, barulah Tuhan akan muncul dihadapan mereka, untuk menghargai kehendak bebas mereka.
Tuhan sendiri hendak mengatakan jika Dia sumber kasih tidak pernah marah ataupun memiliki emosi negatif. Dia berada di tempat tersebut untuk membersihkan racun atau dosa yang sudah di miliki oleh manusia, menyelamatkan mereka dari maut. Tetapi manusia memlilih untuk berlari bersembunyi.
Pada awalnya manusia hanya memiliki sifat dasar, baik, sabar, pengasih, lemah lembut, damai sejahtera dan segala yang baik. Karena memang demikianlah mereka diciptakan. Saat mereka memakan buah jahat itu, mereka mulai memiliki emosi negatif yang selama ini tidak pernah mereka kenali sebelumnya, kemarahan, kesombongan, ketakutan, sakit hati dan segala yang buruk. Dan mereka mengikuti emosi tersebut memilih mengikutinya. Itulah isi dari dosa dan buah jahat tersebut, emosi negatif.
Di taman indah tempat mereka berada, Mereka menendang binatang-binatang tidak bersalah karena kemarahan mereka. Mereka menebang pohon dan memakan daging binatang-binatang karena keserakahan dan menguasai seluruh wilayah itu dengan kesombongannya. Yang akhirnya tempat indah bernama taman firdaus itu hancur berantakan. Tidak memiliki apapun lagi selain tanah gersang.
Karena seluruh tempat telah hancur, Tuhan yang tetap mengasihi dan menyayangi manusia memindahkan mereka semua ke tempat bernama bumi. Tempat baru mereka. Lalu Tuhan berkata, “Di dalam diri manusia ada racun maut yang bernama dosa, yang telah turun temurun. Biarkanlah Aku membersihkan dosa itu, terimalah keselamatan dariku. Agar setiap orang yang diselamatkan tidak akan binasa tetapi beroleh hidup kekal.”
Tuhan menyadari tidak ada manusia yang mampu menyelamatkan sesama manusia sehingga Dia dengan bagian dirinya yang lain, yang lebih kecil, menjelma menjadi manusia untuk membantu mengajari mereka akan Tuhan dan kasih. Mengajari mereka akan jalan menuju keselamatan.
Tuhan menjelma menjadi beberapa wujud selama beberapa kali, seperti Vamana, Amitabha budha, Krisna, dan Yesus. Manusia takut akan Tuhan, marah pada Tuhan bahkan melukai dan membunuh Tuhan.
Mereka lalu mencoba untuk memisah misahkan Tuhan dalam berbagai kelompok dan golongan untuk membenarkan diri mereka sendiri. Menutup kesalamatan dari sesama mereka. Sedangkan Tuhan ibaratnya sebagai seorang orang tua yang hendak menyelamatkan anaknya yang sedang terluka, memiliki racun mematikan. Tidak masalah siapa yang benar atau salah, tidak peduli Tuhan hendak di sembah atau tidak, yang penting, anak tersebut selamat dahulu. Tidak peduli obat penyembuhnya di ambil dari tangan siapa, yang penting anaknya bersedia menelan obat tersebut dan menjadi sehat.
Jika suatu saat nanti langit terbuka dan Tuhan turun bersama para malaikat, mereka akan menyelamatkan orang yang bersalah dan berdosa terlebih dahulu supaya mereka selamat. Dan setelah para pendosa selamat, mereka yang diselamatkan mungkin akan berkata kepada Tuhan, “Kamu bukan Tuhan, aku tidak akan menyembah-Mu.”
Tuhan tidak akan peduli dan tetap akan menyelamatkannya, mungkin akan sambil berkata, ”Iya, Iya, mau nggak disayangi? Mau nggak diselamatkan?”
Ibarat sang anak yang marah pada orang tuanya tetapi sang ayah tetap saja memberikan uang jajan setiap harinya. Sang anak mungkin sok penting, sok hebat bisa mengatakan, “Aku tidak sayang bapak!” “aku benci bapak,” Mungkin juga ngomong ke kawan-kawannya, ‘Bapakku jahat.” Tetapi tetap saja bapaknya memberikan uang jajan, menjemputnya pulang sekolah, memberikan makan enak, memberikan segala yang terbaik pada anak-Nya dengan tersenyum manis. Bahkan membujuk-bujuk anaknya. Anaknya mungkin akan berwajah masam saja.
Bukan berarti Tuhan perlu di sembah, atau sang ayah perlu di sayang sama anaknya supaya bisa hidup, penting kali lah rasanya. Hanya karena anaknya tidak tahu diri saja, sok hebat.
Adalah urusan manusia itu sendiri untuk menyukai atau tidak menyukai, menyembah atau tidak menyembah Tuhan. Tetapi adalah kasih sayang Tuhan untuk mengasihi dan menyayangi setiap dzat-Nya, tanpa terkecuali, tanpa pandang bulu atau kejahatan sebesar apapun. Hanya mengasihi dan menyayangi.
Wujud Dosa di dalam manusia bernama emosi negatif, kemarahan, kebencian, kesombongan, sakit hati, tidak memaafkan orang, keinginan menghancurkan dan lain sebagainya. Semua bagian itu adalah dosa. Obat penyembuh racun itu bernama Kasih sayang Tuhan yang mampu membersihkan seluruh emosi negatif dan menggantikannya dengan emosi positif dan keabadian. Tidak ada yang lainnya.
Seperti, doa singkat, “Ya Tuhan biarlah seluruh kemarahan saya dan orang-orang disekitar saya, dapat berganti dengan cahaya dan kasih-Mu.” Dengan demikian dosa dan racun tersebut mulai dibersihkan dan manusia itu akan menjadi selamat.
Doa seperti demikian akan membersihkan hati manusia dari racun jahat, emosi negatif dan segala yang mematikan manusia itu sendiri, namanya Doa Buka hati ( bisa di google).
Tetapi manusia, marah dan mengumpulkan emosi negatif selama bertahun-tahun, puluhan tahun yang akhirnya berubah menjadi penyakit, kesialan dan segala yang buruk bagi kehidupan mereka, tanpa pernah sekalipun belajar untuk membersihkan diri mereka sendiri. Mereka bersekutu dengan kejahatan. Dan Upah dosa adalah maut, sebelum maut menjemput, rekanan pendahulunya bernama, kesialan, kesakitan, kesengsaraan.
Manusia mungkin sering mandi, membersihkan tubuh tetapi jarang dan hampir tidak pernah membersihkan hati, menyucikan hati.
Jika bisa, bersihkanlah hati dan diri kita, sucikan hati dengan kasih sayang Tuhan, melalui doa kepada-Nya. jadilah alat Tuhan untuk membersihkan racun dan dosa di tubuh sesama kita juga, dengan mendoakan orang lain melalui kasih sayang Tuhan, terutama orang-orang yang kita kasihi dan sayangi. Dan Tolong jangan menjadi penyebar racun, jadilah penyabar dan penuh kasih.
Jika kita tidak mampu mengatakan, “Ya Tuhanlah bersihkanlah kemarahan dari musuhku yang paling kubenci, berganti dengan kasih sayang-Mu supaya hidupnya dan seluruh keluarganya bahagia,”.
Setidaknya janganlah mengatakan, “ Cepat-cepatlah kamu mati, eh, sebelum mati, menderita dulu kamu dan seluruh keluargamu.” ( penyebar dosaaaaa )
Jika anda percaya pada Tuhan, mengasihi dan menyayangi Tuhan, mulai saat ini, berhentilah berbuat dosa, berhentilah membagikan emosi negatif, mulailah membersihkan hati dan semua emosi negatif dari hidup kita dan sesama kita.
Jika tidak, huehehehe… anda sesungguhnya sedang melawan Tuhan. Tetapi tenang saja, Tuhan tetap menyayangi kita semua.
Ah, jika bisa, berhentilah menyebut nama Tuhan 10.000 kali sehari, ataupun yakin percaya 10.000 % Tuhan juru selamat. Hanya engkau yang meragukannya, tidak orang lain.
Jika engkau sesungguhnya percaya Tuhan juru selamat cukup berdoa saja, “Ya Tuhan upah dosa adalah maut, bersihkanlah diri dan hati kami semua dari dosa yang berupa kemarahan, kebencian, sakit hati, dsb. Sehingga semuanya berganti dengan kasih sayang-Mu.”
Iman tanpa perbuatan adalah KOSONGGGGGGGGG
Sekosong janji suci sang pemuda untuk mencintai seorang pemudi sehidup semati dengan puisi setebal 1000 halaman, tetapi sang wanita ngak pernah di kasih uang sepeserpun selama 100 tahun.
Berhentilah untuk percaya, mulailah melakukan perbuatan sebagai wujud dari kepercayaan. Berhentilah mengajak orang untuk percaya, mulailah mengajak orang untuk melakukan perbuatan baik sebagai wujud dari kepercayaan. Mulailah mendoakan semua orang untuk bersih dari dosa dalam wujud emosi negatif. Bantulah menyebarkan keselamatan dari Tuhan itu sendiri, mulailah menjadi terang dan garam dunia.

Mohon maaf jika ada kesalahan, sebentar lage bulan ramadhan

08.03.2024 (T)

Rabu, 06 Maret 2024

Penemuan Artefak di luar Alkitab yg membuktikan tokoh Alkitab benar adanya, serial Sudut pandang

Penemuan Artefak di luar Alkitab yg membuktikan tokoh Alkitab benar adanya, serial Sudut pandang

Berbagai artefak sejarah yang berkaitan dengan Kisah Alkitab. Membuktikan adanya tokoh² dalam Alkitab dari sumber luar Alkitab dalam sejarah umum. Biasanya dari antara tokoh² di bawah ini orang Kristen umumnya lebih mengenal sosok Raja Daud dan Hizkia.

THE HOMELESS JESUS, SERIAL SUDUT PANDANG

THE HOMELESS JESUS, SERIAL SUDUT PANDANG
The Homeless Jesus adalah patung perunggu berukuran manusia dewasa yang tertidur di bangku taman, dipajang pertama kali di Regis College, University of Toronto pada tahun 2013. Dan setelah itu saat ini ada lebih dari 100 patung Homeless Jesus di seluruh dunia. Timothy Schmalz, seorang pematung Katolik asal Canada membuat patung provokatif ini sebagai bentuk keprihatinannya terhadap banyaknya orangorang miskin yang tidak memiliki tempat bernaung. Sedangkan Yesus sendiri dalam Injil-Nya memberikan perhatian besar terhadap pelayanan kepada kaum miskin dan terpinggirkan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberiAku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku ....
Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
(Matius 25:35,36,40). Demikian juga sejak zaman Gereja mula-mula, KAUM MISKIN ADALAH HARTA GEREJA. Karena melalui merekalah, Gereja ditantang dan dimurnikan untuk menjadi Gereja yang melayani. Paus Fransiskus menyerukan tentang GEREJA KAUM MISKIN, yang memandang bukan kepada dunia dengan segala masalah sosialnya, melainkan memandang kepada INJIL dan TANGGUNG JAWAB SOSIALNYA, yaitu untuk mengentaskan kemiskinan dan menghadirkan Kerajaan Allah di bumi ini. Melalui pelayanan kepada saudara-saudara yang paling membuktikan itu, barulah Gereja bisa berdiri teguh meng-imani dan meng-amini ide EXTRA ECCLESIAM, NULLA SALUS secara kontekstual. Bukan lagi "Tidak Ada
Keselamatan di Luar Gereja", melainkan "Tidak Ada Keselamatan JIKA TIDAK ADA Gereja."  Kiranya Gereja terus menjadi perwakilan Kristus bagi dunia yang membutuhkan Cinta Kasih besar tanpa syarat dan terus mengusahakan kesejahteraan dunia hingga akhir zaman. Jadi, apa yang akan kita lakukan ketika menjumpai Yesus, Sang Gelandangan?
05.03.2024 (T)





Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggi...