Selasa, 28 September 2021

KRITIK, SWARA KENABIAN

KRITIK, SWARA KENABIAN

Psikiater Limas Sutanto pernah mengatakan bahwa melayangkan kritik (ke Pemerintah) sebagai wujud keluhuran.  Keluhuran kritik terletak pada motif altruistik yang menggerakkannya. Motif altruistik merupakan keinginan untuk memedulikan dan memerhatikan kesejahteraan rakyat.Dalam kehidupan sehari-hari kritik yang dijumpai jauh dari wujud keluhuran. Limas mengajukan tiga motif yang melawan keluhuran kritik.Pertama, motif yang berakar dalam nyeri jiwani yang belum terselesaikan. Misal, orang- orang yang haus kekuasaan, namun amat kecewa lantaran tidak dapat berkuasa.Kedua, motif yang berakar dalam keinginan kuat untuk merajai dan mengendalikan. Mereka yang memiliki keinginan seperti itu adalah orang-orang yang gelisah atau cemas ketika melihat berbagai hal lepas dari kuasa dan kendali mereka.Ketiga, motif yang berakar dalam keinginan yang berlebihan untuk mendapatkan pembenaran. Mereka yang pernah melakukan banyak kesalahan dapat merasa seolah-olah kesalahan-kesalahannya tidak terlalu parah lagi hanya karena mereka gencar melontarkan kritik-kritik yang diselubungi dengan membela rakyat dan mencerca Pemerintah. 
Ketiga motif yang menggerakkan kritik di atas menghasilkan kebisingan belaka dan tidak cukup kuat menggerakkan perubahan yang menyejahterakan rakyat. Keluhuran kritik haruslah bermotif altruistik. Ketika manusia menjadi makin altruistik, ia dapat melancarkan kritik-kritik yang luhur. Di dalam kekristenan kritik bermotif altruistik dikenal dengan suara kenabian. Gereja (baca: orang Kristen) harus terus-menerus menyampaikan suara kenabian. Suara kenabian dapat lewat khotbah-khotbah, tulisan, dan penyampaian langsung ketika hak-hak rakyat dikebiri oleh penguasa, ketika penguasa menjadikan rakyat seperti budak, ketika penguasa mencuri kekayaan negara yang merupakan hak rakyat, dan lain sejenisnya. Gereja yang tak menyampaikan suara kenabian bukanlah gereja. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, 2021, TUS

Senin, 27 September 2021

ABSURDITAS, RUGI DUA KALI, SERIAL SUDUT PANDANG

Absurditas: Rugi Dua Kali!, serial sudut pandang
Mitologi Sisyphus menginspirasi Albert Camus. Ia menulisnya dalam esai berjudul Le Mythe de Sisyphe (1947). Di situ dia tampilkan filsafat absurditas. Suatu faham bahwa alam semesta tidak rasional. Segala pekerjaan berujung pada kesia-siaan. Menghadapi absurditas itu, Camus bereaksi. Melalui Sisyphus, ia anggap absurditas bukan sesuatu yang sia-sia. Bahkan pekerjaan berulang yang dilakukan yaitu mendorong batu ke puncak bukit dan batu itu menggelinding kembali ke bawah tidak dianggap terkutuk. Tidak ada yang sia-sia dalam pekerjaan apa pun. Betapa pun kadang tidak masuk akal!  Kita ikuti saja strategi Sisyphus. Apa strateginya? Ia menikmatinya! Ikhlas menerrimanya! Memang, yang dia sasar bukan hasilnya. Bukan outputnya. Sisyphus menikmati prosesnya! seperti para perempuan Nusa Tenggara Timur, penenun kain Timor, yang di saat menenun melakukan pekerjaan yang sama dan berulang-ulang. Mereka menikmati dan mencintai pekerjaan itu. Mereka menemukan makna hidup dalam tenunannya. Mereka mengerjakannya dengan gembira! Sisyphus berhasil menemukan hal menyenangkan dalam pekerjaannya. Seperti permainan sepakbola. Sebenarnya, ini permainan yang membosankan. Yang dilakukan hanya mengejar, merebut, lalu menendangnya. Itu saja! Itu pun dalam lapangan terbatas. Apa indahnya? Tetapi, para pemain menikmatinya. Penonton juga! Ada keindahan invincible yang membuat semua bahagia. Sisyphus menikmati pekerjaannya. Dia menemukan keindahan dan kenikmatan. Ini membuatnya bahagia. Dewa Zeus yang menghukum Sisyphus salah perhitungan. Dia kalah lagi! Telak! Mitos Sisyphus memberikan pesan penting. Kadang kita mengalami persoalan dan masalah yang kita tidak bisa hindari. Seorang teman baik saya sudah berupaya hidup sehat. Tidur cukup, menggunakan masker dengan baik, menyantap makanan yang bergizi, tetapi tetap terpapar Covid-19. Penyakit ini memang anarkis. Menyerang siapa pun. Tidak peduli apa pun jabatan dan profesi anda. Datangnya pun tidak diduga. Meski disiplin hidup sudah diterapkan tetap saja virus ini bisa menyentuhnya. WHO sampai mengeluarkan pernyataan bahwa mencuci tangan , jaga jarak, penggunaan masker, dan bahkan vaksin sekali pun bukan jaminan akan terhindar dari virus ini. Bah! Bila teman baik saya menyesali 'musibah' ini, dia telah salah merespons! Hidupnya akan hanya diisi dengan keluh kesah, plus, sumpah serapah. Dia rugi dua kali! Emosi terganggu. Imunitas melemah. Penyakit lebih parah! Para ahli ilmu kedokteran sudah mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 ini sudah jadi sindemi. Penyakit ini telah merangsang bangkitnya penyakit-penyakit lain yang sudah ada dalam tubuh kita. Banyak korban Covid-19 yang penyakitnya makin kronis gara-gara penyakit-penyakit lain bangkit dan bersinergi. Moga hal ini dijauhkan dari diri kita! Janganlah! Kita harus lebih kuat. Oleh karena itu, jangan gelisah dan terus-menerus mengeluh. Kita harus belajar menerimanya, bahkan mencintai dan menikmati situasi yang ada. Susah memang! Tetapi kita harus tetap cool dalam segala keadaan. Bersabar dalam segala situasi! Lalu, berpikir apa aspek positif yang harus aku kerjakan. Now! Jangan uforia, jangan senang sesaat hanya karena sudah vaksin ke 2, atau bahkan booster vaksin 3, liat sudah banyak boom yang ke 3 di negara-negara laen. Bukan bearti pesimis juga, tapi waspada lebih baik. Golongan rentan sekarang berubah, golongan rentan adalah golongan yang blom vaksin ke 2 atau tidak mau vaksin. Karena mereka penerima risiko terbesar, ini golongan lemah. Ingatlah, teladan Yesus untuk selalu melindungi golongan lemah, makanya seharusnya standar syarat vaksin ke 2 untuk semua kegiatan menjadi syarat mutlak, kalau tidak kita sebetulnya tidak meneladan Kristus, karena kagak pro dengan golongan rentan. Janganlah pula kita malah membuka peluang menambah kapasitas yg membuka peluang berkerumun, walaupun dengan alasan sudah prokes. Jadi ingat peristiwa saat Yesus menghardik murid-muridNya. Perahu mereka diterjang badai. Para murid panik. Mereka ketakutan. Berteriak-teriak tidak keruan. Mengeluh seperti orang kesurupan. Kehilangan kontrol diri. Padahal kepanikan tidak menolong apa pun. Tetapi ekspresi mereka tanda bahwa iman mereka kualitas minyak oplosan. Sudah campuran. Tak murni lagi! Yesus yang lagi enak tidur langsung dibangunkan. Padahal mungkin lagi mimpi enak! Kanjeng Yesus pasti kaget. Dia langsung bangkit. Di hadapanNya murid-muridNya pucat pasi, ketakutan tidak karuan! Lalu, Yesus menghardik keras ke arah topan, sekaligus membentak murid-muridNya. Saat topan mereda, Yesus melihat murid-muridNya. Saya pastikan Yesus menggeleng dan menggaruk-garukan kepalaNya yang tidak gatal, Dia katakan:” Mengapa kamu takut? Mengapa kamu tidak percaya…?” Ada di dekatKu pun kamu ketakutan. Absurd! Tak masuk akal. Mentalitas looser! Pertanyaan Yesus untuk kita semua: mengapa kamu tidak percaya...? Pesan cerita ini sederhana. kita butuh kemampuan mengontrol persoalan dan masalah. Ini benar! Tetapi dalam banyak situasi, yang lebih butuhkan adalah mengontrol diri sendiri! Tetap tenang dan adem di dalam segala situasi, selalu waspada, jangan terpancing untuk kesenangan sesaat atau uforia. Ombak dan gelombang yang di dalam diri kita sering jauh lebih besar daripada yang terjadi di luar kita. Redakan ketakutan dan kegelisahan. Bila gagal mengontrol diri, kita rugi dua kali! Bahkan rugi 3 kali. STT BAPTIS INJILI, 2021, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO

Sabtu, 18 September 2021

KENYATAAN DOA, MENGERTI YANG AKU IMANI, SERIAL DIMENSI DOA

KENYATAAN DOA, MENGERTI YANG AKU IMANI, SERIAL DIMENSI DOA

Doa bukan merupakan jalan untuk lari dari kenyataan hidup, melainkan sebuah upaya penyelidikan kehendak Allah dan kehadiranNya didalam tanda-tanda zaman serta peristiwa-peristiwa hidup, untuk menemukan keputusan yang seiring sejalan dengan kehendakNya.  Doa adalah tenaga hidup yang mempengaruhi harapan terhadap diri kita sendiri dan terhadap sesama serta menembusi hari manusia (1 Korintus 13). Doa biasanya dihubungkan dengan meminta, itulah sebabnya ada istilah permintaan doa atau permohonan doa. Seolah dalam doa itu kita hanya meminta atau memohon, betul begitukah? Kita lihat bahwa doa mempunyai cakupan yang lebih luas daripada hanya meminta dan itu terlihat dalam alkitab, dalam alkitab doa bukan hanya meminta tapi berteriak, sorak sorai, berkeluh kesah, bersujud, berseru, bersyukur, memuji, memuja, meratap, mengadu, menyembah, mengagungkan, memanggil, dll. Banyak kita lihat umat memperlihatkan doa yang sangat emosional, apakah memang doa adalah percakapan yang emosional? Emosi memang bagian dari hidup, tapi kalau kita lihat, kita kaji, dan kita simak, doa juga merupakan penjabaran dari akal budi, “AKU BERDOA DENGAN ROHKU, TETAPI AKU AKAN BERDOA JUGA DENGAN AKAL BUDIKU” (1 Korintus 14:15). Sebetulnya, kepada siapa kita berdoa? Doa-doa diarahkan kepada Allah. Umat Kristiani berdoa kepadaNya melalui perantaraan Yesus Kristus di dalam Roh Kudus. Jikalau kita berdoa kepada Yesus, harus diperhatikan bahwa doa itu dialamatkan kepada Allah Tritunggal, maksudnya, kita berdoa dalam dan Bersama Yesus di dalam kekuatan Roh Kudus Allah sendiri. Kenapa sich kita berdoa? Kebanyakan dari kita berdoa karena takut dan gentar pada Allah, ketika manusia berhadapan dengan hal yang tidak dapat dikuasai apalagi dipahami maka akan nada rasa takut dan gentar, misalkan  kematian, gempa bumi, gunung Meletus, topan, petir, dll. Di hadapan hal atau kuasa seperti itulah, manusia merasa kecil dan tak berdaya, sumbernya darimana? Kuasa apa yang menyebabkan? maka hal atau kuasa itu dianggap misteri atau MYSTERIUM TREMENDUM (misteri yang dahsyat menggentarkan atau tak terpecahkan), yang berikutnya, kebanyakan dari kita berdoa karena merasa tertarik dan terpesona kepada Allah, ketika manusia merasakan sesuatu yang baik, menyenangkan, membahagiakan, menentramkan, dan menakjubkan, dihadapan hal atau kuasa seperti itu manusia merasa aman, damai dan bahagia, seperti ketika berhadapan dengan rejeki, hasil panen, pergantian malam dan siang, kelahiran, kebahagiaan, yang bagi manusia juga misteri, sumbernya darimana? Kuasa apa yang menyebabkan? Maka misteri itu dianggap menggemarkan atau MYSTERIUM FASCINOSUM (misteri yang mengasyikan atau menggemarkan). Terhadap misteri Allah, yang menggentarkan sekaligus menggemarkan, manusia menjadi gentar tapi juga gemar, karena sikap gentar dan gemar itu dari kalbu hatinya atau nuraninya mulailah manusia memuja dan meminta, pujaan dan permintaan itu terucap keluar melalui bibir manusia dan menjadi kata-kata, itulah doa, jadi manusia berdoa karena merasa gentar dan gemar kepada Allah. Dalam doa, manusia memohon kepada Allah, namun cara Allah mengabulkan permintaan itu tidak selalu sesuai dengan apa yang dibayangkan manusia. Dalam kebebasanNya, Allah dapat saja mengabulkan doa dengan cara yang sama sekali berbeda dengan pemikiran manusia, itulah misteri Allah. Bahkan mungkin Allah mengabulkan doa dengan cara yang bertentangan dengan pemikiran manusia. Pada waktu kita meminta kesembuhan, mungkin yang Allah berikan adalah kekuatan untuk menghadapi kenyataan bahwa kita harus hidup dengan mengidap penyakit tersebut. Pada waktu kita meminta sesuatu pada Allah, mungkin Allah malah membuka kesempatan supaya kita menyumbangkan sesuatu. Dengan begitu, Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Walaupun bukan itu yang kita inginkan, tetapi itulah kebutuhan kita yang sesungguhnya. Maka kita seharusnya paham apa yang dituliskan dalam injil Matius 6 ayat 8, “BAPAMU MENGETAHUI APA YANG KAMU PERLUKAN SEBELUM KAMU MINTA KEPADANYA”. Terkadang, kita menyakini kalau terkabulnya doa tergantung dari factor orang yang berdoa, makanya terus ada yang menyatakan TEAM PENDOA, talenta saya adalah PENDOA, terus ada yang mendapuk dirinya sebagai PENDOA, yaitu terkabulnya doa dipahami karena kuat iman dan gigihnya doa seseorang, nah…kalau doanya tak terkabul, maka doanya makin emosional lagi, atau malah frustasi ngambek, kaya anak kecil minta tak dikasih terus merengek dan ngambek. Seharusnyalah doa itu rasional bersifat realitis, sadarilah tidak setiap doa dapat terkabul. Karena terkabulnya doa bukan tergantung dari yang berdoa, melainkan sepenuhnya tergantung dari kewenangan Allah, karena itu doa seharusnya tidak mendesak tapi tenang dan pasrah. Sering orang beranggapan kalau Allah maha kuasa, maka Allah pasti dapat mengabulkan setiap doa, seharusnya pemikiran yang benar, benar bahwa Allah maha kuasa, dan karena Allah maha kuasa maka Allah punya hak untuk dapat mengabulkan doa atau menolak doa. Orang kadang merasa Allah itu miliknya sehingga pasti mengabulkan doanya, apa itu tidak membuat Allah seperti pembantu kita malah? Allah dijadikan untuk kepentingan diri kita, seharusnyalah orang matang berpikir bahwa Allah tidak dapat dimiliki ataupun dipengaruhi oleh manusia, Allah itu berdaulat harus disadari penuh, sehingga Allah tidak berkewajiban mengabulkan setiap doa. Dalam doa pun kita sering terjebak kedalam sikap merasa diri lebih benar dan lebih rohani dibandingkan orang lain coba kita amati Lukas 18 :9 – 14, dan kaitkan dengan matius 23:3, belajarlah banyak tentang doa orang Farisi yang dikritisi Yesus. Jikalau, doa adalah mantra, maka pastilah ada rumusan doa, ada kunci kata-kata yang harus diucapkan, dan selalu diucapkan, apakah Doa Bapa Kami itu juga dapat diartikan sebagai sebuah mantra? Tidak, karena kita diberi kebebasan untuk memeluk anugerah Tuhan berupa doa dimana merupakan ungkapan hati dan juga akal budi kita di hadapan Tuhan, bebas ….. dan itu tak selalu dalam rumusan Doa Bapa Kami, tapi lewat rumusan Doa Bapa Kami, Yesus Tuhan ingin memberikan teladan tentang sebuah doa, yang pada latar belakangnya Yesus Tuhan ingin meneladankan sebuah contoh doa yang beda dengan doa yang dilakukan oleh orang Farisi, yang menjadi tradisi doa Farisi saat itu. Apakah dalam doa umat Kristiani juga ada semacam mantera? Ada orang yang mengira bahwa dalam doa umat Kristiania da kalimat tertentu yang perlu diucapkan pada tiap doa, yang berfungsi sebagai mantera, kalimat itu adalah “dalam nama Yesus” yang diambil dari Yohanes 14:13,14 dan Yohanes 16:23 “…… dan apa juga yang kamu minta dalam namaKu, Aku akan melakukannya …… jika kamu meminta ….. segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan kepadamu dalam namaKu”. Ada lagi rumusan yang sering keliru dianggap mantera adalah Bapa, Putra dan Roh Kudus, yang merujuk pada meterai baptisan yang diambil dari Matius 28 :19. Tidaklah heran apabila ada salah pengertian seperti itu, karena setiap agama purba percaya bahwa perkatan atau kalimat tertentu dapat bersifas magis dan mengandung kuasa atau kekuatan, entah itu protektif, produktif ataupun destruktif. Apa yang disebut oleh orang Jawa kitab Primbon memuat berbagai macam mantera. Lalu apa sebetulnya berdoa dalam nama Yesus atau dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus? Bila dikaitkan dengan latar belakang ayat-ayat alkitab tsb di atas, Yesus Tuhan mengucapkan kalimat itu untuk menyiapkan para rasul menghadapi waktu di mana Yesus Tuhan tidak berada lagi di tengah para rasul secara fisik, dan itu merupakan penugasan yang harus diemban. Yesus Tuhan menginginkan para rasul meneruskan pola hidup yang selama ini ditempuh oleh Yesus Tuhan. Untuk itu Yesus Tuhan menyuruh para rasul berdoa, menyuruh para rasul memetereikan sebuah tanda, yang maknanya adalah menyelaraskan hidup para rasul atau hidup kita dengan hidup Yesus Tuhan, atau memetereikan hidup para rasul atau hidup kita dengan hidup serta kasih karya penyelamatan Allah dari waktu ke waktu, yang dahulu jaman bumi dicipta sampai Israel dalam nama Bapa, dalam jaman Yesus Tuhan hidup di bumi dalam nama Putra, serta dalam jaman para rasul, gereja, bapa-bapa gereja sampai kedatangan kedua kali Yesus Tuhan dalam nama Roh Kudus. Kita diminta memetereikan hidup kita selaras kasih dan karya penyelamatan Allah. Setiap kali kita berdoa, sebetulnya kita patut bertanya dalam batin kita, apakah Yesus bila ada di tempat kita akan berdoa seperti kita? Apakah doa kita sudah selaras dengan kehidupan yang diteladankan Yesus Tuhan? Apakah doa kita sudah selaras dengan kasih dan karya penyelamatan Allah (Bapa, Putra, Roh Kudus) yang sudah dinyatakan kepada kita? Contoh sederhana,  kalau kita berdoa minta kekayaan? Walaupun doa itu diucapkan dalam nama Yesus Tuhan atau dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, apakah doa itu selaras dengan gaya hidup Yesus? Apakah doa itu selaras dengan kasih dan karya penyelamatan Allah (Bapa, Putra, dan Roh Kudus) sepanjang masa? Sebab Yesus Tuhan tidak akan meminta kekayaan, sebab kasih dan karya penyelamatan Allah tidak berkaitan dengan kekayaan. Begitu pun ketika kita berdoa minta menang terhadap sesuatu dan lawan kalah, apakah Yesus Tuhan akan begitu? Apakah kasih dan karya penyelamatan Allah berkaitan dengan menang kalah? Berdoa dalam nama Yesus Tuhan sebenarnya adalah sebuah pengakuan bahwa kita sendiri sebetulnya tak lah berhak menyampaikan doa itu, melainkan Yesus Tuhanlah yang memungkinkan dan mendukung doa kita, kasih dan karya penyelamatan Allah (Bapa, Putra, dan Roh Kudus) sepanjang masa itulah yang memungkinkan kita berdoa, “ ……. Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Ibrani 8:6), Yesus Tuhanlah pengantara manusia dan Allah, kasih dan karya penyelamatan Allah sepanjang masa itulah pengantara manusia dan Allah. Tidak ada kalimat atau mantera yang dapat menjadikan doa kita lebih berkhasiat, dalam doa kita tidak ada mantera, dan memang tidak perlu ada. Inilah salah satu misteri hubungan manusia dengan Allah, di dalam menyatakan pertolonganNya, Allah tidak tergantung pada kata-kata yang kita ucapkan, Doa tidak tergantung pada perkataan kita, tapi pada Allah, Sang Maha, tergantung pada Allah yang berkehendak. Dalam doa, kita boleh datang sebagai manusia yang utuh, utuh antara kata dan rasa, supaya wajah kita bukan topeng, dalam doa kita boleh datang dengan wajah yang sesuai dengan hati kita, dalam doa kita tak perlu menyembunyikan perasaan kita. Kehidupan doa dapat timbul walaupun orang berada dalam keadaan kuwat dan stabil, kita patut berbicara kepada Allah meskipun kita tidak sedang membutuhkan sesuatu, hubungan yang sehat antara ayah dan anak tidak saja terjadi saat anak membutuhkan pertolongan tetapi setiap saat. Doa juga tidak perlu kita penuhi dengan kata-kata, doa sebaiknya luput dari bahaya inflasi kata, kata-kata berhamburan dengan murah dan mudah, baik nyaring maupun di dalam hati. Sebaiknya di dalam doa tak perlu mengobral kata, “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi, oleh sebab itu biarlah perkataanmu sedikit” (Pengkhotbah 5 : 1). Kadang kita perlu belajar berdoa tanpa kata, yaitu berdiam diri di hadapan Tuhan, Yesaya 30 : 15 “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu”. Ada juga yang memandang, tentang Lukas 22 : 42 dan Matius 6 : 9 – 13, serta Lukas 11 : 2 – 4, tentang “kehendakMulah yang Jadi”. Banyak yang terus yang menghubungkan hal tersebut dengan waktu, waktunya Tuhan yang menentukan. Sebetulnya, ketika ada di taman Getsemani, Yesus Tuhan sedang meneladankan bahwa sebagai manusia, liatlah teladan aku sebagai manusia, maka kamu, manusia kalau berdoa dalam kesulitan apapun, sebesar apapun kesulitan itu, dalam doa itu perlihatkanlah pengakuan bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, akuilah ke Maha an Tuhan, MANUSIA PUNYA KEMAUAN TAPI TUHAN PUNYA KUASA, Manusia diberi anugerah untuk meminta atau memohon tetapi kewenangan akan jawab doa adalah kewenangan Tuhan. Tuhan mengerti akan kebutuhan kita, Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita tapi bukan keinginan kita (Yakobus 4 : 3, Matius 6: 8, Filipi 4:19). Karena salah satu misteri doa adalah memasukan perasaan Tuhan dalam doa, bukan mengeluarkan perasaan kita. Manusia berbeda dengan tumbuhan dan binatang, manusia bukanlah sirkus atau taman botani, manusia dapat menjawab dan bertanggung jawab pada Allah, itulah dimensi doa, doa juga merupakan jawaban dan pertanggungan jawab manusia pada Allah. Karena itulah manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26, renungkan 2 Korintus 4 : 4 dan Kolose 1 : 15), artinya manusia mempunyai hubungan dengan Allah bahkan menjadi subjek di depan Allah, menjadi pribadi yang dapat anugerah bertatap muka dengan Allah, di situlah dimensi doa, menjadi jawab dan pertanggung jawaban manusia kepada Allah. Selamat memahami Doa, Tuhan memberkati, STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO

POINT MAKNA DOA BAPA KAMI, SERIAL DIMENSI DOA

POINT MAKNA DOA BAPA KAMI, SERIAL DIMENSI DOA
Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita. Berikut ini akan kami jelaskan makna menyeluruh doa Bapa Kami yang akan kami ulas secara ringkas. Doa Bapa Kami, Bapa Kami, yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin. Berikut ini adalah penjelasan tentang point makna dari Doa Bapa Kami pd gereja baptis injili indonesia yang harus dipahami dengan baik, sebab ini menjadi salah satu cara beribadah agama Kristen yakni dengan memanjatkan doa untuk memuji dan memuliakan nama-Nya.
Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.

1. Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Yesus memberi nasihat pada para murid supaya mereka tidak berdoa seperti orang munafik dan hanya dijadikan simbol Kristen yang selalu memperlihatkan saat sedang berdoa di hadapan banyak orang.

2. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut.  Yesus juga mengajarkan untuk tidak bertele-tele dalam berdoa seperti seseorang yang tidak mengenal Allah sehingga secara langsung bisa menyampaikan doa yang dibutuhkan pada Allah.

3. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut.  Kehidupan Kekal, Dalam bahasa Aramaic, Bapa memiliki arti panggilan anak pada ayahnya dan karena kasih-Nya pada kita sebagai umat.Maka Yesus mengijinkan kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa kita. sebab Yesus sudah mengangkat kita sebagai saudara dan saudari-Nya. Setiap kali kita mengucapkan Bapa, sudah seharusnya kita mengingat jika kita sudah diangkat Allah Bapa menjadi anak-Nya karena pertolongan dari Yesus Kristus.

4. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Mengangkat Iman, Kata “kami” menjadi pengingat kita untuk memanggil Allah dengan sebutan Bapa karena Kristus. Saat mengucapkan kata ini berarti kita juga harus membayangkan Kristus yang sudah mengajarkan pada kita. Semua untuk memanggil Allah sebagai Bapa kami sebab Kristus tidak hanya mengangkat kita namun juga telah mengangkat semua saudara-Nya. 

5. Doa Bapa Kami ini adalah doa gereja yang diperuntukkan pada Allah Bapa yang sudah mengangkat kita semua sebagai anak-anak-Nya. Dengan ini, sudah seharusnya kita merenungkan bahwa makna Doa Bapa Kami, sangat besar yang sudah dibayar oleh Tuhan Yesus untuk mengangkat kita menjadi anggota dari keluarga Allah yakni dengan cara mati di kayu salib.

6. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut.. Mengasihi dan Merelakan, Ini bermakna jika kita semua memiliki seorang Bapa yang ada di surga yang selalu mengasihi kita sampai merelakan Anak-Nya wafat di salib bagi kita semua dan ini dilakukan agar semua dosa serta kesalahan kita terampuni dan kita bisa mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi-Nya. Mengasihi dan merelakan, menjadi pedoman baku dalam kehidupan kita.

6. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut.. Dimuliakanlah Nama-Mu, Datanglah Kerajaan-Mu, Kata-kata ini bermakna kerinduan kita semua yang sangat menginginkan semakin banyak orang untuk mengenal Allah dan ini juga mengartikan jika kita sebagai umat-Nya sudah dipakai Allah untuk menjadi alat-Nya dalam memuliakan nama Allah. Ini juga sebagai pengingat supaya kita tidak hanya selalu mengejar kemuliaan kita sendiri dalam segala hal di dunia, sebab semua yang ada pada diri kita sebenarnya adalah milik dari Allah sehingga kita harus memakainya dalam nama kemuliaan Tuhan.

7. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. . Jadilah Kehendak-Mu diatas Bumi Seperti di Dalam Surga, Kata ini bermakna penyerahan diri dengan seluruh kerendahan hati kita pada Tuhan dan juga masyarakat. Kita sebagai manusia, seringkali memaksa saat memohon pada Tuhan. Akan tetapi dengan kata yang terdapat dalam doa Bapa Kami ini, Yesus mengajarkan kita untuk selalu berserah pada Bapa. Sebab Bapa mengetahui semua yang kita butuhkan dan terbaik, tidak hanya untuk di dunia namun juga kehidupan kekal di surga.

8. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang 
sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Berilah Kami Rejeki Pada Hari Ini, Kata dalam doa Bapa Kami ini memiliki arti jika Yesus sangat mengasihi dan peduli pada kita sehingga Yesus mengajarkan doa ini pada kita. Ini menjadi pengingat jika rejeki kita merupakan berkat yang kita peroleh dari Tuhan dan Tuhan sudah mengijinkan kita untuk memperoleh rejeki pada hari ini. Berilah Kami Rejeki Pada Hari Ini, serta mendapatkan kesehatan serta hidup sampai saat ini dan membuat kita bisa menikmati rejeki yang sudah Tuhan berikan untuk kita. Ini juga mengingatkan makna Doa Bapa Kami kita pada orang yang sedang berkekurangan, sebab rejeki yang kita peroleh hari ini tidak sepenuhnya milik kita, namun juga harus kita bagi pada orang yang berkekurangan.serta mendapatkan kesehatan serta hidup sampai saat ini dan membuat kita bisa menikmati rejeki yang sudah Tuhan berikan untuk kita.

9. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. . Dan Ampunilah Kesalahan Kami Seperti Kamipun Mengampuni yang Bersalah pada Kami. Kita bisa melihat jika tidak ada penekanan pada kata :ampunilah kami” namun lebih kepada diri kita yang mengampuni orang lain yang sudah bersalah kepada kita sehingga nantinya kita juga bisa diampuni oleh Bapa. Tuhan akan mengampuni semua kesalahan kita, jika sebelumnya kita juga sudah mengampuni sesama yang bersalah pada kita. Tentu saja, perkataan ini akan sangat sulit diucapkan khususnya saat kita sedang merasa sakit hati dengan sikap yang dibuat orang lain pada kita. 

10. Doa Bapa Kami merupakan doa yang memiliki makna mendalam dan sangat berharga yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita.Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut. Dan Janganlah Masukkan Kami ke dalam Pencobaan, Tetapi Bebaskanlah Kami dari yang Jahat. Makna dari perkataan ini adalah kita harus menyadari jika kita hanyalah manusia lemah yang sangat mudah jatuh ke dalam dosa dan juga kesalahan. Kita sebagai manusia belum sepenuhnya bebas dari segala cobaan dan juga godaan seperti masalah keluarga dan pekerjaan, masalah kehidupan, menghadapi sakit sebuah penyakit, ketakutan akan masa depan dan sebagainya. Ini juga sebagai pengingat jika kita tidak boleh terlalu sombong dan yakin jika kita tidak akan jatuh ke dalam dosa kembali. Sebab ada kalanya saat seseorang sedikit saja menyinggung perasaan kita, maka kita akan langsung kehilangan rasa kesabaran. Maka lebih baik kita selalu berjaga-jaga dan terus meminta kekuatan pada Tuhan dan bergantung pada-Nya.

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari doa Bapa Kami yang terbilang singkat dan sederhana, sebenarnya renungan singkat kristen ini memiliki arti yang sangat mendalam. Dengan lebih meresapkan doa Bapa Kami ini, kita juga bisa menilai apakah doa yang sudah kita ucapkan selama ini sudah cukup baik. Ini merupakan doa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus pada kita semua sehingga tidak seharusnya hanya dihafal dan diucapkan saja. Namun juga diserap makna yang terkandung di dalam doa tersebut sehingga kita bisa melaksanakan cara berdoa yang benar. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO, 2017

Sabtu, 11 September 2021

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซBERSAKSI

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซ, Doyong Kepenyintasan dalam Kesaksian
Adegan “kesaksian” 1: Seorang laki-laki Kristen bersaksi di hadapan jemaat. Ia seorang pekerja keras dan rajin ke gereja. Berkat kerja kerasnya bertahun-tahun ia menjadi pengusaha kaya. Dengan kekayaannya ia mudah mencari teman. Saban libur akhir pekan ia habiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Ia tidak lagi ke gereja. Tak seberapa lama usahanya ambruk. Ia bertobat dan kembali lagi rajin ke gereja. Tak butuh waktu lama ia kembali mengibarkan bendera usahanya dengan gemilang. Ia menyampaikan kepada jemaat, apabila kita mau bertobat, maka Tuhan akan memberi segala kebutuhan kita dengan berlimpah. Ada amiiiin? Amiiiin!

Adegan “kesaksian” 2: Seorang perempuan Kristen bersaksi di hadapan jemaat. Ia mengaku belum lama berpindah ke agama Kristen. Sebelumnya ia bersaksi hidupnya berantakan, jatuh miskin, dan sakit keras. Ia rindu dijamah oleh Tuhan. Suatu malam ia merasa dijamah oleh Yesus dan penyakitnya tersembuhkan. Singkat cerita ia dibaptis dan menjadi Kristen. Sejak itu hidupnya berubah 180 derajat, berkelimpahan. Ia laris diundang oleh jemaat Kristen untuk bersaksi. Ia menyampaikan kepada jemaat agar terus rindu dijamah dan merasakan Tuhan, maka hidup orang Kristen berkelimpahan. Ada amiiin? Amiiiin!

Apa yang dapat kita pelajari dari dua contoh “kesaksian” di atas? 

Dua cuplikan “kesaksian” di atas adalah contoh doyong kepenyintasan atau dalam bahasa Jawa disebut survivorship bias. Doyong kepenyintasan ialah kesalahan logika yang disebabkan pemusatan perhatian pada orang atau benda yang berhasil atau selamat melewati suatu proses dengan mengabaikan mereka yang tidak berhasil atau tidak selamat sehingga mengarahkan kesimpulan yang salah. Dalam kenyataan ada banyak orang Kristen sejak kecil hidup saleh dan penuh cinta kasih seperti yang diajarkan Kristus. Mereka tidak pernah lalai beribadah Minggu, mengikuti persekutuan wilayah di luar Minggu, dan berbuat kebajikan bagi sesama. Namun mereka tetap hidup dalam kemiskinan. Dalam pandemi ini banyak orang Kristen, juga pendeta, meninggal dunia akibat Covid19. Apakah mereka orang-orang tak beriman? Contoh lain doyong kepenyintasan, seorang murid dari satu sekolah meraih medali emas olimpiade matematika. Masyarakat kemudian mencerap sekolah itu bagus kualitasnya tanpa melihat nilai keseluruhan murid-murid di sekolah itu.

Doyong kepenyintasan dipopulerkan oleh Abraham Wald, seorang ahli statistik Universitas Columbia. Pada Perang Dunia II AU AS meminta penguatan bagian-bagian pesawat yang ditembaki musuh. Wald membantah permintaan AU AS itu. Justru bagian-bagian terkena peluru musuh tidak perlu diperkuat, kata Wald, karena dalam kondisi tersebut pesawat dapat kembali dengan selamat. Yang diperkuat adalah bagian yang tidak tertembak. AU AS mengabaikan fakta pesawat-pesawat yang jatuh ditembak.

Kesaksian dari kata dasar saksi. Saksi di dalam Alkitab dipungut dari istilah yuridis. Saksi (martus) merupakan istilah pengadilan di Athena, Grika Kuno, yang masih digunakan dalam pengadilan modern. Orang yang disumpah menjadi saksi akan bersaksi (martureo) dengan menuturkan apa yang dilihat, didengar, atau dialaminya sendiri. Dengan demikian saksi haruslah objektif. Kesaksian (marturion) objektif di pengadilan dapat meringankan atau memberatkan terdakwa. Objektivitas kesaksian akan terusik,apabila terdakwa adalah rekan, saudara, atau orang miskin atau lemah sehingga saksi bersimpati sehingga menggoyahkan objektivitas. Sungguh sulit untuk menjadi seorang saksi. Apa pun kesaksiannya akan ada pihak yang dimaslahatkan dan dalam waktu yang bersamaan ada pihak yang dilancutkan.

Apabila saksi di pengadilan dibutuhkan keterangan objektifnya, menjadi saksi Kristus tidak cukup dengan berbicara tentang kebenaran Kristus. Seperti kata Yesus dalam Injil Lukas 24:48: “Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” Semuanya ini apa? Semuanya ini adalah keseluruhan narasi Injil Lukas. Menjadi saksi Kristus berarti menyaksikan seluruh karya Kristus dengan merefleksikannya dalam perilaku dan gaya hidup. Orang Kristen bersaksi bukan dengan menceritakan kisah hidupnya yang dijamah Yesus dan diberkati oleh Allah, kemudian memaksa para pendengar untuk mengikuti kisah hidup orang itu. Itu namanya survivorship bias.

Gereja adalah saksi Kristus dan untuk memberikan kesaksian itu gereja mendorong warganya untuk melayani. Melayani seperti apa? Melayani seperti Kristus melayani di dalam narasi Injil. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™Selamat Bersaksi๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ๐Ÿ™ŒTuhan memberkati

Jumat, 10 September 2021

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซ“It's not about how much we have lost, it's about how much we have left.” Tony Stark (IRONMAN).

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซ“It's not about how much we have lost, it's about how much we have left.” Tony Stark (IRONMAN). 
Bacaan Alkitab  Injil Markus 8:27-38. Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan Yesus dan murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada para murid, “Kata orang, siapakah Aku ini?” Jawab mereka, “Ada yang bilang: Yohanes pembaptis, Elia, dan satu dari para nabi.” Yesus kemudian bertanya lagi, “Apa katamu, siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias.” Mendengar itu Yesus kemudian mengajarkan bahwa Ia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, dibunuh, dan bangkit pada hari ketiga. Mendengar itu Petrus langsung tidak menerima perlakuan yang akan menimpa Yesus. Namun Yesus menghardik Petrus yang hanya memikirkan diri sendiri, tetapi tidak memikirkan hal yang jauh lebih besar. Yesus kemudian memanggil para murid dan orang-orang, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku. Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memeroleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.“Di sini Yesus hendak mengajarkan kepada para murid kata-kata saja tidaklah cukup. Petrus langsung menanggapi Yesus tidak hanya dengan kata-kata. Ia siap membela Yesus. Namun Yesus mengecam sikap naif Petrus. Perbuatannya tidaklah berdampak apa-apa selain kehilangan nyawa secara sia-sia. Di sini juga Yesus mengajarkan dengan membenturkan antara kehilangan nyawa sia-sia dan kehilangan nyawa karena Injil. Injil di sini dalam arti luas mewartakan kabar sukacita bahwa Allah hadir di tengah-tengah masyarakat pinggiran yang tidak dipedulikan oleh penguasa. Mewartakan kabar sukacita berarti berwawasan pada kesejahteraan banyak orang, memberdayakan kaum lemah dan pinggiran, serta melewati batas golongan atau kelompok sendiri. Ada satu lagi perintah Yesus yaitu menyangkal diri. Menyangkal dalam Tesamoko (hlm. 614) bersinonim dengan membukankan, memungkiri, menafikan, menegasikan, mengingkari, meniada, menidakkan, menikai, menjungkirbalikkan. Metafor atau perumpamaan gablang seperti dalam film mision impossible sbb:  Ethan Hunt mengambil sebuah peranti elektronik yang tergantung di sebuah toko swalayan mini, kemudian membayar di kasir. Di rumah peranti dinyalakan dan tertampillah gambar berikut suara. Pesan suara dan gambar adalah perintah untuk Hunt menjalankan suatu misi. Seperti biasa sebelum menutup pesan, si pemberi perintah menyatakan apabila Hunt dkk. tertangkap dalam tugas negara tersebut, Kementerian Luar Negeri AS akan menyangkal apa yang dikerjakan oleh mereka adalah misi dari negara. Ethan Hunt tahu dan sadar pada risiko menjadi agen Impossible Mission Force (IMF) akan disangkal. Adegan itu selalu mengisi di awal film spionase Mission: Impossible (lihat cara penulisannya). Kementerian Luar Negeri AS membukankan, memungkiri, menafikan operasi Ethan Hunt dkk., jika ketahuan. Kalau berhasil pun tidak akan ada publikasi pujian kepada Hunt dkk. Demikian pula menyangkal diri yang dimaksud dalam teks Injil Markus di atas berarti segala kebajikan yang sudah kita perbuat tidak boleh diakui sebagai perbuatan kita, melainkan perbuatan Kristus. Kita membukankan, memungkiri, menafikan perbuatan kebajikan itu dilakukan oleh kita. Kita tidak berhak mendaku itu perbuatan kita untuk mendapat pujian, karena pujian hanya untuk Kristus. Berat? Memang berat. Apalagi perintah itu dilanjutkan dengan memikul salib sendiri. Alih-alih mendapat pujian, malah dibebani memikul salib. Itulah risiko menjadi agen IMF yang harus siap disangkal oleh pemerintahnya. Hal itu pula risiko menjadi pengikut Yesus yang siap menyangkal diri. Dalam bulan-bulan terakhir ini sekelompok orang yang kebelet berkuasa memula tebar pesona. Pada satu sisi lain sekelompok orang yang merasa jagoannya tersingkirkan oleh partainya membuat tandingan dengan membuat deklarasi secara sporadis. Masyarakat saling bercuriga. Situasi ini tentu mudah disulut menjadi kerumunan yang pada gilirannya adu-otot. Mereka langsung melupakan saat ini virus corona masih mengintai siapa saja tidak peduli agama dan partai orang-orang itu. Akan banyak orang kehilangan nyawa dengan sia-sia. “Apa gunanya seorang memeroleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.“ kritik Yesus. Masalah ekumenis saat ini adalah Covid19 yang ancamannya begitu nyata. Bukan saja menelan jutaan nyawa di seluruh dunia, tetapi juga meluluhlantakkan nyaris semua sendi kehidupan. Ancaman Covid19 memang ada dan selalu akan ada, tetapi sekaligus bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah cara bersikap terhadap ancaman Covid19. Dalam World Economic Forum on ASEAN di Hanoi tiga tahun lalu Presiden Jokowi mengatakan bahwa dunia sedang berperang melawan Thanos yang hendak menghabisi setengah populasi dunia. Sekarang Thanos sudah bermetamorfosis menjadi Covid19. Pidato Jokowi tiga tahun lalu masih paut dengan situasi saat ini. Perang melawan Covid19 adalah infinity war, perang tanpa batas. Presiden Jokowi kemarin menyampaikan bahwa penerapan protokol kesehatan secara ketat dan vaksinasi sejauh ini merupakan cara terbaik dalam melindungi diri dari penyebaran Covid19. Jokowi mengajak seluruh masyarakat Indonesia bersama-sama tidak lengah dalam menghadapi pandemi ini. Menghentikan pandemi memang sangat berat, tetapi menghadapi orang-orang atau kelompok yang memanfaatkan pandemi untuk memecahbelah bangsa jauh lebih berat. Untuk itu, kata Jokowi, dengan kreativitas, energi, kolaborasi, dan kerjasama antarumat manusia kita sanggup menghentikan pandemi. Ikut menghentikan pandemi itu berat, karena itu berarti memikul salib. Namun sebagai orang waras, yang tidak sekadar kata-kata, menghentikan pandemi sama dengan menghadirkan Injil, kabar sukacita, yang menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat secara umum dan secara khusus bagi masyarakat yang terdampak langsung pandemi. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™Selamat menyangkal diri ๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ๐Ÿ™ŒTuhan memberkati

Kamis, 09 September 2021

MISDINAR DAN TUGAS-TUGASNYA, SERIAL SUDUT PANDANG


MISDINAR DAN TUGAS-TUGASNYA
Dalam rangka perkuliahan lintas iman, maka akan dibahas tentang apa itu misdinar dan tugas-tugasnya, agar kita bisa lebih mengerti liturgi atau tata ibadah yg dijalankan di saudara-saudara kita umat khatolik. Misdinar atau disebut juga Putra-Putri Altar adalah anak-anak yang bertugas untuk melayani Romo didalam perayaan Ekaristi. Putra Altar atau Misdinar (yang berarti 'asisten misa' dari Bahasa Belanda misdienaar) adalah mereka yang membantu Imam saat mengadakan Perayaan Ekaristi. Pada awal mulanya seorang Putra Altar adalah sebuah tingkatan pastoran sebelum menjadi imam. Umumnya, misdinar itu laki-laki. Akan tetapi, Putra Altar akan disebut "Misdinar" bila keputusan gereja untuk memperbolehkan perempuan sebagai Putera Altar. Bila tidak boleh maka dalam gereja tersebut akan dipanggil "Putri Altar" yang bertugas dalam bacaan-bacaan.Anak- anak yang bertugas sebagai Misdinar adalah mereka yang sudah dibaptis dan mendapatkan Komuni. Usia untuk menjadi Misdinar tidak ada ketentuan pasti yaitu mulai yang sudah mendapatkan Komuni Pertama atau Kelas Lima Sekolah Dasar sampai yang sudah SMP.  Mereka yang bertugas menjadi misdinar boleh anak laki-laki ataupun perempuan. Tugas yang mereka laksanakan yaitu melayani Romo dalam sebuah Ekaristi gereja. Misdinar dalam ekaristi gereja boleh dua orang atau lebih. Biasanya jika Ekaristi gereja besar misdinar yang bertugas banyak. Putra Altar atau Misdinar (yang berarti 'asisten misa' dari Bahasa Belanda misdienaar) adalah mereka yang membantu Imam saat mengadakan Perayaan Ekaristi. Tugas misdinar antara lain membantu Imam, mengantar persembahan, menuangkan air putih dan anggur serta membawa air cuci tangan Imam, dan menjadi panutan umat. Per periodenya (setiap gereja berbeda-beda), akan masuk para Misdinar baru, tentu saja melalui seleksi dan latihan/training dari senior angkatan sebelumnya (beberapa gereja memiliki pengurus misdinar yang membimbing para calon misdinar). Misdinar juga bertujuan selain membantu dalam perayaan ekaristi juga untuk memperkuat iman pribadi dalam kegiatan-kegiatan pengembangan pribadi seperti LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan), Retret, Out Bond, dan tidak lupa Wisata Rohani. Tentu saja organisasi Misdinar tidak kalah maju dan juga berperan penting bagi anak dalam pengembangan iman Katolik.Prahsyarat untuk menjadi misdinar:
1. Beragama Katolik
2. Sudah menerima Komuni Pertama (di beberapa paroki min. kelas 1 SMP)
3. Maximum usia 21 tahun (di beberapa paroki max. kelas 12 SMA)
4. Tidak ada unsur paksaan
5. Rajin dan setia dalam bertugas
6. Mengetahui prosedur Perayaan Ekaristi
7. Mengetahui peralatan Ekaristi (antara lain lilin, sibori, korporal, kaliks/piala, turibulum/pendupaan, vandel,ampul dan lain-lain) yang akan diajarkan saat pelatihan Misdinar baru.
8. usia lanjut dapat juga bertugas sebagai pelatih atau pembimbing misdinar
9. belum menikah
Lalu bagaimana cara dan tugas sebagai Misdinar?  beberapa tugas utama seorang Misdinar!
Ritus Pembuka
Ritus pembuka diawali dengan lagu pembukaan, Romo dan Misdinar memasuki altar gereja. Midsinar berdiri dibarisan paling depan maju ke depan dan diikuti Romo di barisan paling belakang.
1. Tanda Salib dan Salam - Misdinar berdiri didepan altar
2. Seruan Tobat - Misdinar berlutut dan posisi masih di depan altar.
3. Madah Kemuliaan - Misdinar berdiri dan ketika Umat menyanyikan lagu Kemuliaan lonceng dan gong di bunyikan.
4. Doa Pembuka - Misdinar berdiri didepan altar.
Liturgi Sabda
1. Bacaan I dan II - Bacaan sabda Tuhan dibacakan oleh petugas lektor gereja. Misdinar Berdiri di depan kanan dan kiri pembaca lektor sambil membawa lilin.
2. Bait Pengantar Injil - Imam membacakan injil kitab suci. Misdinar Berdiri di depan kanan dan kiri pembaca  Romo sambil membawa lilin.
3. Homili - Homili atau khotbah gereja disampaikan oleh Romo, Misdinar duduk.
4. Syahadat Nikea dan Konstantinopel - Misdinar berdiri.
5. Doa Umat - Misdinar berdiri.

Liturgi Ekaristi
1. PERSIAPAN PERSEMBAHAN - Misdinar mempersiapakan Hosti, Air, dan Anggur.
2. DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN - Misdinar berdiri didepan altar

3. DOA SYUKUR AGUNG - Memulai doa syukur agung Misdinar membunyikan gong.
4. KUDUS - Misdinar berdiri
5. AKLAMASI ANAMNESIS - Misdinar berlutut.
(Ketika Konsekrasi Roti dan Anggur diangkat oleh Romo, misdinar membunyikan gong sebanyak tiga kali. Dan ketika Romo berlutut lonceng dibunyikan) 
6. BAPA KAMI - Misdinar berdiri.
7. ANAK DOMBA ALLAH - Misdinar berlutut.
8. PERSIAPAN KOMUNI - Misdinar berlutut. 
9. KOMUNI - Misdinar berdiri menerima hosti, dan sesudah itu mengambil lilin dan berdiri disamping kanan dan kiri Romo.                    
10. SAAT HENING - Misdinar memberi air Romo dan membantu membereskan peralatan yang sudah digunakan  
11. DOA SESUDAH KOMUNI - Misdinar berdiri.

Ritus Penutup 
1. BERKAT DAN PENGUTUSAN - Misdinar Berdiri di depan Altar.
2. PERARAKAN KELUAR - Romo dan Misdinar Berdiri di depan Altar lalu Keluar meninggalkan gereja.
Pada Ritus Bizantium, para putra altar bertugas membantu para pendeta yang jabatannya lebih tinggi selama peribadatan. Mereka biasa bertugas membawakan salib, lilin, ataupun kipas liturgi selama prosesi peribadatan, mereka pun bertugas menjaga pedupaan, memastikan arang pada pedupaan tetap menyala, mereka pun bertugas memberikan pedupaan kepada imam ketika hendak digunakan, menyiapkan air panas (zeon) ketika hendak dituangkan ke dalam cawan pada saat pelaksanaan Liturgi Ilahi, menyiapkan antidoron untuk umat yang telah menerima komuni suci, dan tugas lainnya yang tidak menyebabkan terganggunya imam saat pelaksanaan liturgi. Seorang putra altar umumnya hanya akan mengenakan seragam stikhar saat berlangsungnya liturgi. Dalam setiap ekaristi Misdinar perlu ada untuk membantu tugas Romo. Misdinar adalah suatu tugas yang harus dilaksanaka dengan sepenuh hati. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO, 2021

MISDINAR DAN TUGAS-TUGASNYA

MISDINAR DAN TUGAS-TUGASNYA
TITUS ROIDANTO MTh
Dalam rangka perkuliahan lintas iman, maka akan dibahas tentang apa itu misdinar dan tugas-tugasnya, agar kita bisa lebih mengerti liturgi atau tata ibadah yg dijalankan di saudara-saudara kita umat khatolik. Misdinar atau disebut juga Putra-Putri Altar adalah anak-anak yang bertugas untuk melayani Romo didalam perayaan Ekaristi. Putra Altar atau Misdinar (yang berarti 'asisten misa' dari Bahasa Belanda misdienaar) adalah mereka yang membantu Imam saat mengadakan Perayaan Ekaristi. Pada awal mulanya seorang Putra Altar adalah sebuah tingkatan pastoran sebelum menjadi imam. Umumnya, misdinar itu laki-laki. Akan tetapi, Putra Altar akan disebut "Misdinar" bila keputusan gereja untuk memperbolehkan perempuan sebagai Putera Altar. Bila tidak boleh maka dalam gereja tersebut akan dipanggil "Putri Altar" yang bertugas dalam bacaan-bacaan.Anak- anak yang bertugas sebagai Misdinar adalah mereka yang sudah dibaptis dan mendapatkan Komuni. Usia untuk menjadi Misdinar tidak ada ketentuan pasti yaitu mulai yang sudah mendapatkan Komuni Pertama atau Kelas Lima Sekolah Dasar sampai yang sudah SMP.  Mereka yang bertugas menjadi misdinar boleh anak laki-laki ataupun perempuan. Tugas yang mereka laksanakan yaitu melayani Romo dalam sebuah Ekaristi gereja. Misdinar dalam ekaristi gereja boleh dua orang atau lebih. Biasanya jika Ekaristi gereja besar misdinar yang bertugas banyak. Putra Altar atau Misdinar (yang berarti 'asisten misa' dari Bahasa Belanda misdienaar) adalah mereka yang membantu Imam saat mengadakan Perayaan Ekaristi. Tugas misdinar antara lain membantu Imam, mengantar persembahan, menuangkan air putih dan anggur serta membawa air cuci tangan Imam, dan menjadi panutan umat. Per periodenya (setiap gereja berbeda-beda), akan masuk para Misdinar baru, tentu saja melalui seleksi dan latihan/training dari senior angkatan sebelumnya (beberapa gereja memiliki pengurus misdinar yang membimbing para calon misdinar). Misdinar juga bertujuan selain membantu dalam perayaan ekaristi juga untuk memperkuat iman pribadi dalam kegiatan-kegiatan pengembangan pribadi seperti LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan), Retret, Out Bond, dan tidak lupa Wisata Rohani. Tentu saja organisasi Misdinar tidak kalah maju dan juga berperan penting bagi anak dalam pengembangan iman Katolik.Prahsyarat untuk menjadi misdinar:
1. Beragama Katolik
2. Sudah menerima Komuni Pertama (di beberapa paroki min. kelas 1 SMP)
3. Maximum usia 21 tahun (di beberapa paroki max. kelas 12 SMA)
4. Tidak ada unsur paksaan
5. Rajin dan setia dalam bertugas
6. Mengetahui prosedur Perayaan Ekaristi
7. Mengetahui peralatan Ekaristi (antara lain lilin, sibori, korporal, kaliks/piala, turibulum/pendupaan, vandel,ampul dan lain-lain) yang akan diajarkan saat pelatihan Misdinar baru.
8. usia lanjut dapat juga bertugas sebagai pelatih atau pembimbing misdinar
9. belum menikah
Lalu bagaimana cara dan tugas sebagai Misdinar?  beberapa tugas utama seorang Misdinar!
Ritus Pembuka
Ritus pembuka diawali dengan lagu pembukaan, Romo dan Misdinar memasuki altar gereja. Midsinar berdiri dibarisan paling depan maju ke depan dan diikuti Romo di barisan paling belakang.
1. Tanda Salib dan Salam - Misdinar berdiri didepan altar
2. Seruan Tobat - Misdinar berlutut dan posisi masih di depan altar.
3. Madah Kemuliaan - Misdinar berdiri dan ketika Umat menyanyikan lagu Kemuliaan lonceng dan gong di bunyikan.
4. Doa Pembuka - Misdinar berdiri didepan altar.
Liturgi Sabda
1. Bacaan I dan II - Bacaan sabda Tuhan dibacakan oleh petugas lektor gereja. Misdinar Berdiri di depan kanan dan kiri pembaca lektor sambil membawa lilin.
2. Bait Pengantar Injil - Imam membacakan injil kitab suci. Misdinar Berdiri di depan kanan dan kiri pembaca  Romo sambil membawa lilin.
3. Homili - Homili atau khotbah gereja disampaikan oleh Romo, Misdinar duduk.
4. Syahadat Nikea dan Konstantinopel - Misdinar berdiri.
5. Doa Umat - Misdinar berdiri.

Liturgi Ekaristi
1. PERSIAPAN PERSEMBAHAN - Misdinar mempersiapakan Hosti, Air, dan Anggur.
2. DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN - Misdinar berdiri didepan altar

3. DOA SYUKUR AGUNG - Memulai doa syukur agung Misdinar membunyikan gong.
4. KUDUS - Misdinar berdiri
5. AKLAMASI ANAMNESIS - Misdinar berlutut.
(Ketika Konsekrasi Roti dan Anggur diangkat oleh Romo, misdinar membunyikan gong sebanyak tiga kali. Dan ketika Romo berlutut lonceng dibunyikan) 
6. BAPA KAMI - Misdinar berdiri.
7. ANAK DOMBA ALLAH - Misdinar berlutut.
8. PERSIAPAN KOMUNI - Misdinar berlutut. 
9. KOMUNI - Misdinar berdiri menerima hosti, dan sesudah itu mengambil lilin dan berdiri disamping kanan dan kiri Romo.                    
10. SAAT HENING - Misdinar memberi air Romo dan membantu membereskan peralatan yang sudah digunakan  
11. DOA SESUDAH KOMUNI - Misdinar berdiri.

Ritus Penutup 
1. BERKAT DAN PENGUTUSAN - Misdinar Berdiri di depan Altar.
2. PERARAKAN KELUAR - Romo dan Misdinar Berdiri di depan Altar lalu Keluar meninggalkan gereja.
Pada Ritus Bizantium, para putra altar bertugas membantu para pendeta yang jabatannya lebih tinggi selama peribadatan. Mereka biasa bertugas membawakan salib, lilin, ataupun kipas liturgi selama prosesi peribadatan, mereka pun bertugas menjaga pedupaan, memastikan arang pada pedupaan tetap menyala, mereka pun bertugas memberikan pedupaan kepada imam ketika hendak digunakan, menyiapkan air panas (zeon) ketika hendak dituangkan ke dalam cawan pada saat pelaksanaan Liturgi Ilahi, menyiapkan antidoron untuk umat yang telah menerima komuni suci, dan tugas lainnya yang tidak menyebabkan terganggunya imam saat pelaksanaan liturgi. Seorang putra altar umumnya hanya akan mengenakan seragam stikhar saat berlangsungnya liturgi. Dalam setiap ekaristi Misdinar perlu ada untuk membantu tugas Romo. Misdinar adalah suatu tugas yang harus dilaksanaka dengan sepenuh hati. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO, 2021

Jumat, 03 September 2021

MERENUNGI POST PANDEMIC CHRUCH

MERENUNGI POST PANDEMIC CHRUCH
Pada zaman dahulu, nggak ada kemungkinan lain untuk mengikuti ibadah Minggu selain pada Minggu pagi, ketika matahari baru terbit. Lalu, seiring berkembangnya aktivitas masyarakat di kota dan di desa, memaksa gereja untuk memberi alternatif jam ibadah: pagi dan agak siang. Zaman terus berubah, industrialisasi kian berkembang di banyak tempat. Orang nggak selalu bisa beribadah di hari Minggu pagi atau siang. Sebab, ada banyak dari mereka yang masih harus bekerja hingga siang menjelang sore. Mungkin karena itulah beberapa gereja juga mengadakan ibadah sore. Hal ini bertahan hingga sebelum pandemi. Lalu terjadilah pandemi. Ibadah gereja didorong untuk masuk ke ruang digital. Ibadah menjadi sajian visual yang bisa dinikmati kapan dan di mana saja. Bisa di-pause, bisa di-rewind, bisa di-skip, bisa di-like, bisa di-dislike, bisa di-share, bisa di-bookmark untuk ditonton kapan² lagi, Dan yang sangat menggelikan, ibadah bisa pula disela dengan joget Mas Thukul atau Koko Jacky Chan, "Shopee COD ... Shopee COD ..." ๐ŸŽต๐ŸŽถ Jadi, kini kita menatap gereja pasca-pandemi. Komunitas yang kemelekatannya dengan gedung semakin lemah. Gedung yang mulai kehilangan daya magnetnya sebagai mercusuar iman. Komunitas yang bukan hanya 'melayankan' ibadah, tapi juga 'memproduksi'-nya. Ibadah yang bisa ditonton kapan saja, di mana saja, dengan pakaian apa saja, dengan posisi nonton seperti apa saja, entah dengan ketiak yang sudah beraroma reksona atau pun bau terasi. Ibadah yang sudah kehilangan kalimat sakti dari liturgos, "Kini saatnya kita mengumpulkan persembahan ..." Hahaha...wk...wk....wk. Ibadah yang mulai menghitung bukan hanya berapa kursi terisi tapi juga berapa viewcount dan subscribers hari ini. Ibadah yang kalo pendetanya ngomong ngawur di tengah khotbah bisa diputar ulang dan diviralkan sebagai alat bukti. Oops.๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ Oohlalaaaa, post-pandemic church. Engkau bagaikan kedatangan hujan pertama di musim penghujan. Terus diantisipasi, tapi tetap saja menghentak, mengagetkan. Membuat tercenung, "Hey para pendeta dan jemaat, sudah seberapa pasca-pandemikah diri dan pelayananmu???" Selamat Merenung๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™Tuhan memberkati๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ

Sabtu, 28 Agustus 2021

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซBUKAN MEMBELA YAHYA WALONI TAPI MERENUNG LEBIH DALAM

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซBUKAN MEMBELA YAHYA WALONI TAPI MERENUNG LEBIH DALAM. Injil Markus 7:1-8, 14-15, 21-23, Dalam bacaan Injil ini kembali kita melihat ajaran radikal Yesus. Sesuai dengan makna aslinya berpikir dan bertindak radikal di sini ialah radikal dengan asal kata Latin radix atau akar. Maksudnya ialah suatu pemikiran filsafati yang berupaya memahami masalah atau objek berdasarkan atas akarnya sehingga ia bisa melihat dan mengatasi masalah yang berlandaskan atas prinsip dan tatanan paling mendasar. Hukum-hukum agama konvensional secara radikal diberi makna baru oleh Yesus. Yesus sama sekali tidak mengubah hukum-hukum konvensional tersebut, melainkan memberikan makna baru yang membebaskan, memberdayakan, dan memanusiakan manusia.Pada zaman Alkitab air dipercaya memiliki kekuatan atau kemujaraban ilahi. Ingat, dalam Alkitab tidak ada kisah penciptaan air oleh Allah. Air menjadi bahan pembersih (sacred matter) objek dari najis. Objek itu bukan saja anggota tubuh dan tubuh, tetapi juga peralatan makan. Orang makan tanpa membersihkan tangan dengan air adalah pelanggaran berat terhadap adat istiadat nenek moyang yang juga hukum agama.Dalam Injil Markus  ini dikisahkan pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis,  yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Orang-orang Farisi, seperti orang-orang Yahudi lainnya, tidak akan makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu. Mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka. Banyak hukum agama yang mereka pegang seperti hal mencuci cawan, kendi, dan perkakas-perkakas tembaga. Oleh karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"  Jawab Yesus kepada mereka: “Benarlah nubuat Nabi Yesaya tentang kalian, hai orang-orang munafik!” Gilรฉ bener! Yesus menyebut mereka sebagai orang-orang munafik. Mereka pandai menjalankan hal-hal lahiriah agar perbuatan mereka dilihat orang lain. Yesus kemudian “menguliahi” mereka mengenai pengajaran Nabi Yesaya dan Hukum-hukum Musa. Dalam “menguliahi” orang-orang itu Yesus memberi contoh pemelintiran perintah “Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Akan tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban -- yaitu persembahan kepada Allah --, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Juga banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan." Yesus menutup “kuliah”-Nya dengan pernyataan radikal menggetarkan: “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya … Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan,  kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." Seperti diwartakan Yahya Waloni (YW) ditangkap polisi dengan tuduhan menista agama (Kristen). Sangkaan terhadap YW, seperti disebut oleh media daring, bahwa YW mengatakan Alkitab itu palsu dan fiktif. Sebagian orang bersorak atas penangkapan ini, sedang sebagian lagi tidak bersetuju. Tidak jelas angka perbandingan antara yang mendukung dan menolak penangkapan. Pertanyaannya, apakah ada unsur pidana dalam pernyataan YW? Menurut saya pernyataan YW tidak sepenuhnya salah. Dalam studi teologi Kristen tidak mengenal istilah Alkitab atau teks asli. Istilah teknis untuk “teks asli” adalah salinan tertua. Alkitab disalin berulang-ulang sampai bentuk akhir terjemahan seperti sekarang ini. Dalam penyalinan (bukan penerjemahan) tentu saja terjadi kesalahan menyalin, meski dilakukan dengan amat teliti. Kita ambil contoh teks Lukas 23:34 dalam TB II LAI 1997 ayat itu diberi tanda kurung siku. Artinya dalam salinan lebih tua tidak ada ayat dalam Injil Lukas 23:34. Menurut studi Perjanjian Baru Surat Kedua untuk Jemaat Tesalonika ditulis oleh pseudo-Paulus. Pseudo berarti semu, palsu. Demikian juga Surat Efesus, Kolose, Timotius, dan Titus ditulis oleh pseudo-Paulus. Dalam hal YW menyebut Alkitab palsu tidak sepenuhnya salah. Ia hanya keliru dalam pemilihan istilah teknis, karena YW bukanlah lulusan sekolah teologi, apalagi teologiman. YW menyebut Alkitab itu fiktif juga tidak sepenuhnya salah. Apakah kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian 1-2 itu kisah nyata? Tentu saja bukan kisah nyata. Apakah kisah Abraham, Ishak, dan Ismael dalam Kitab Kejadian itu kisah historis? Tentu saja bukan kisah historis. Apakah kisah anak bungsu dan orang Samaria yang baik hati yang diceritakan oleh Yesus dalam kitab Injil adalah kisah nyata? Tentu saja itu kisah dongeng. Kaum Farisi dan beberapa ahli Taurat menemui Yesus berangkat dari semangat mencari kesalahan agar ada kesempatan menghantam Yesus. Yesus mengungkap keculasan mereka memelintir hukum Taurat dan Yesus mengajar mereka, “Bukan yang masuk ke dalam mulut manusia yang menajiskannya, melainkan pikiran jahat yang keluar dari manusia itulah yang menajiskannya”. Penangkapan YW, menurut para pendukung penangkapan, adalah pemenuhan rasa keadilan. Mereka melihat Ahok, Meiliana, dll. dijebloskan ke penjara sesudah terkena pasal  156a KUHP, maka pihak lain juga harus merasakan hal yang sama. Adil? Menurut ini keadilan semu. Semangatnya balas dendam. Sebetulnya, teladannya sangat jelas ketika melihan Yesus Tuhan dan Stefanus di penulisan kitab suci, "Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu yg mereka lakukan", itu teladan bagi umat kristiani. Apa yang ada di hati terwujud dalam perbuatan, apa yg diperbuat cerminan dari keadaan hati, itu sudah jelas. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™Selamat Merenung๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ๐Ÿ™ŒTuhan memberkati

Jumat, 20 Agustus 2021

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซFaith that stands on authority is not faith.”

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซFaith that stands on authority is not faith.”  Ralph Waldo Emerson. Bacaan  dari Yohanes  6:56-69, Bacaan Injil  ini mengisahkan implikasi bacaan Minggu lalu tentang Yesus yang bermetafor tentang diri-Nya adalah roti “Siapa saja makan roti ini, ia akan hidup selamanya.” Dari Titik Pandang Minggu lalu kita bisa melihat makna perkataan Yesus bahwa Ia siap memberikan diri-Nya untuk kehidupan. Itu berarti para pengikut-Nya juga memberikan diri untuk kehidupan. Implikasi pengajaran Yesus itu mengakibatkan banyak pengikutnya mengundurkan diri. “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya.” Gerutu para pendengar pengajaran Yesus. Di sini Yesus bukannya melakukan pendekatan atau bernegosiasi, justru Ia menekan para pendengar-Nya, “Adakah perkataan itu mengguncangkan imanmu?” Pada ayat 66 dikatakan sejak itu banyak orang mengundurkan diri menjadi murid-murid-Nya dan tidak lagi mengikuti Dia.Kemudian Yesus bertanya kepada keduabelas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Simon Petrus menjawab Yesus, “Kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal dan kami telah  percaya dan tahu bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”Menjadi pengikut atau murid Yesus itu sungguh berat. Selain pengajaran Yesus itu berat, juga bermain-main dengan bahaya. Ajaran Yesus radikal. Penuh risiko. Sesuai dengan makna aslinya berpikir dan bertindak radikal di sini ialah radikal dengan asal kata Latin radix atau akar. Maksudnya ialah suatu pemikiran filsafati yang berupaya memahami masalah atau objek berdasarkan akarnya sehingga ia bisa melihat dan mengatasi masalah yang berlandaskan atas prinsip dan tatanan paling mendasar.Ajaran Yesus merontokkan ideologi yang dianut oleh orang-orang secara turun-menurun. Para penganut agama legalistik tentu terguncang imannya. Orang-orang yang terbiasa dengan belenggu ideologi legalistik, mereka mudah terguncang seperti air di atas daun keladi. Implikasi keguncangan itu membenci kemudian berlaku agresif.  Namun ke-12 murid Yesus tidak tergoda untuk meninggalkan Yesus. Mereka tanpa ragu tetap panggah mengikuti Yesus (walau belakangan Yudas Iskariot dikisahkan berkhianat).Beragama secara radikal seperti penjelasan di atas sebenarnya justru membuat orang rileks. Ia rileks, karena sudah memahami tatanan paling mendasar. Ia sudah tidak pusing lagi apakah berbuat ini dan itu berdosa atau tidak, karena ia memahami dosa menurut iman Kristen ialah putusnya hubungan manusia dengan Allah. Ia dengan segenap akalbudi juga berani menafsir ulang teks-teks Alkitab yang sudah tak paut lagi dengan zaman. Mengasihi Allah baginya tidaklah cukup dengan segenap hati dan jiwa, tetapi juga dengan segenap akalbudi. Beragama secara radikal berani mengolok-olok diri sendiri.Beragama secara legalistik, yang mewajibkan umat menaati hukum-hukum agama, justru melancarkan umat atau pemimpin agama untuk menelikung hukum-hukum itu demi hasrat kekuasaan. Mereka membuat hukum-hukum yang seolah-olah Alkitabiah hanya untuk menakut-nakuti umat agar hormat dan tunduk pada penguasa agama. Mereka membuat hukum-hukum, karena tidak mau kehilangan pengikut. Mereka membuat hukum-hukum bukan agar umat taat kepada ajaran Kristus, melainkan taat kepada pemimpin agama. Penguasa agama di sini justru membelenggu Injil yang seharusnya membebaskan dan memberdayakan manusia. Penulis Injil Yohanes mengajak pengikut Kristus untuk memahami tatanan paling mendasar, bukan untuk menjadi pengikut cรจmรจn yang sekadar mengikuti hukum-hukum agama. Untuk memahami prinsip atau tatanan paling mendasar memang berat. Perlu belajar keras dan menggawaikan daun telinga. Apabila sudah mendapatkan dan memahami tatanan paling mendasar tak akan perlu terjadi keguncangan iman karena mendengar pernyataan picisan dari mantan pendeta atau mantan kardinal lulusan Universitas Vatikan. Hidup menjadi lebih rileks.Dalam kehidupan orang-orang Kristen sudah biasa dijumpai humor-humor tentang Yesus.
Q: “Yesus orang mana?”
A: “Orang Kudus”
Q: “Siapa nama Jawa Yesus?”
A: “Puji”
Q: “Apa golongan darah Yesus?”
A: “O” (kj 36...reff...o, darah Tuhanku,...)
Apakah ada yang pernah menjadikan humor-humor itu kasus hukum? Tidak. Orang-orang Kristen malah tertawa ngakak. Rileks. Tentu ada orang Kristen yang tak suka pada humor-humor semacam itu, namun toh ia tidak akan membawanya ke ranah hukum sebagai penistaan agama. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™Selamat Beriman๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ๐Ÿ™ŒTuhan memberkati
 

Sabtu, 07 Agustus 2021

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซ "Roti Hidup" artos tฤ“s zลฤ“s (แผ„ฯฯ„ฮฟฯ‚ ฯ„แฟ†ฯ‚ ฮถฯ‰แฟ†ฯ‚,), Bacaan Leksionari: 1 Raja – raja 19 : 4 – 8, Efesus 4 : 25 – 5 : 2 Yohanes 6 : 35, 41 – 51,

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซ "Roti Hidup" artos tฤ“s zลฤ“s (แผ„ฯฯ„ฮฟฯ‚ ฯ„แฟ†ฯ‚ ฮถฯ‰แฟ†ฯ‚,), Bacaan Leksionari: 1 Raja – raja 19 : 4 – 8, Efesus 4 : 25 – 5 : 2 Yohanes 6 : 35, 41 – 51,
1 Raja – raja 19 : 4 – 8
Elia adalah seorang nabi di Kerajaan Israel Utara pada zaman pemerintahan raja Ahab, Ahazia, dan Yoram pada sekitar abad ke-9 SM. Elia dalam bahasa Ibrani: ืืœื™ื”ื• Eliyahu, bahasa Arab: ุฅู„ูŠุงุณ‎ Ilyฤs; bahasa Inggris: Elijah atau Elias. Elia berjuang agar bangsa Israel dan raja Ahab menyembah Tuhan, tidak kepada dewa Baal yang dibawa oleh ratu Izebel, isteri Ahab, ke Israel. Karena diancam hendak dibunuh oleh Izebel untuk membalas dendam kematian nabi-nabi Baal, Elia lari ke padang gurun dan akhirnya bersembunyi di sebuah gua di gunung Horeb. Di sana ia menjumpai TUHAN dalam angin sepoi-sepoi, setelah datangnya angin besar, gempa, dan api tanpa adanya TUHAN di sana. Elia yang dikuasai kelelahan, keputusasaan, dan kesedihan, berdoa agar Allah membebaskannya dari beban pelayanan nubuat yang berat dan mengizinkannya memasuki perhentian sorgawi. Ada beberapa alasan mengapa Elia begitu patah semangat: ia merasa sudah gagal, ia mengharapkan pertobatan seluruh Israel dan bahkan mungkin juga Izebel, namun sekarang ia harus lari menyelamatkan nyawanya. Harapan, usaha keras, dan pergumulan seluruh hidupnya tampaknya berakhir dengan kegagalan (ayat 1-4). Ia merasa sendirian dalam pergumulan demi kebenaran Allah (ayat 10). Ditambah kelelahan jasmani setelah perjalanan yang panjang dan berat. Inilah tantangan yang dihadapi Elia saat sungguh-sungguh mewujudkan ketaatan kepada Allah dalam kesediaannya untuk berkarya dan bersinergi membangun bangsa Israel.
Efesus 4 : 25 – 5 : 2
Surat Efesus ini, ditulis oleh Paulus ketika dia sedang berada dalam penjara. Ketika Paulus menuliskan surat kepada jemaat Efesus, tentu saja dia mempunyai tujuan dan ada hal yang menjadi motivasi dia untuk menulis surat tersebut. Tujuan Paulus menulis surat kepada jemaat Efesus, didukung oleh keadaan masyarakat Efesus pada saat itu. Keadaan masyarakat Efesus pada saat itu adalah masih melakukan penyembahan terhadap Dewa Yunani. Surat ini berisikan nasihat, perintah, dan himbauan untuk hidup dalam Kristus. Dalam surat ini penulis menekankan Rencana Tuhan agar “Seluruh alam, baik yang di surga maupun yang di bumi, menjadi satu dengan Kristus sebagai kepala” (1:10). Surat ini merupakan juga seruan kepada umat Tuhan supaya mereka menghayati makna rencana agung dari Tuhan itu untuk mempersatukan seluruh umat manusia melalui Yesus Kristus. Dalam rangka tersebut perlu bagi jemaat Efesus untuk menjadi penurut-penurut Allah (5:1) yang hidup dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus yang bersedia menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban harum bagi Allah (5:2). Penurut Allah adalah orang yang taat kepada Allah, dengan ciri-ciri berkata benar (4:25), mampu mengendalikan amarah (4:26), tidak kompromi dengan Iblis (4:27), bekerja keras dan melakukan pekerjaan baik dengan tangannya sendiri (4:28) untuk membangun orang yang berkekurangan. Terlebih lagi tidak mendukakan Roh Kudus Allah (4:30), membuang yang jahat, penuh kasih mesra dan mudah mengampuni kesalahan orang lain (4:31).
Yohanes 6 : 35, 41 – 51
Roti adalah makanan pokok bagi orang Israel. Roti memberikan rasa kenyang dan memberi kekuatan bagi manusia. Lalu apa arti perkataan-Nya ketika Tuhan Yesus mengatakan dalam Yohanes 6:35, Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Akulah roti hidup (bahasa Inggris: I am the bread of life). Adalah ungkapan Yesus yang pertama dari 7 pernyataan/ frasa AKULAH “I AM”, Yunani : “ฮตฮณฯ‰ ฮตฮนฮผฮน – EGร” EIMI”, Ibrani : ืֲื ִื™־ื”ื•ּื – “ANI HU”), frasa yang dipahami kaum Yahudi sebagai penamaan-diri yang bersifat keilahian. Pernyataan lain adalah: “terang dunia” (Yohanes 8:12), “pintu” (Yohanes 10:9), “gembala baik” (Yohanes 10:11,14), “kebangkitan dan hidup” (Yohanes 11:25), “jalan, kebenaran, hidup” (Yohanes 14:6) dan “pokok anggur yang benar” (Yohanes 15:1,5). Dalam pengajaran ini, Tuhan Yesus juga menegaskan, bahwa tujuan-Nya datang ke dunia ini bukan untuk memberikan makanan yang hanya dapat mengenyangkan tubuh jasmani yang bersifat sementara, melainkan makanan yang memelihara kehidupan rohani dan memberi hidup yang kekal. Dengan mentransformasikan diri-Nya menjadi roti hidup, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pusat dan Pemilik kehidupan universal. Sebab siapa pun yang memakan daging-Nya dan meminum darah-Nya, pasti mendapatkan hidup kekal, bahkan dibangkitkan pada akhir zaman (Yohanes 6:54). Pernyataan ini sekaligus bermakna, bahwa menolak roti hidup berarti binasa. Kesimpulannya, dalam klaim, “AKULAH roti hidup”, Tuhan Yesus menyatakan dengan tegas bahwa asal usul-Nya adalah surga, dan bahwa Dia sajalah yang memenuhi keseluruhan kerinduan rohani para pendengar-Nya. Dengan kata lain, setiap pendengar-Nya yang percaya dan menerima-Nya sebagai Roti Hidup, mereka telah bersinergi dengan Allah dalam kehidupan di dunia ini maupun dalam kekekalan.
PERENUNGAN
Amanat Roti Hidup adalah sebuah bagian dari ajaran Yesus yang muncul dalam Yohanes 6:22-59 dan disampaikan di sinagoge Kapernaum. Sebutan "Roti Hidup" (bahasa Yunani: แผ„ฯฯ„ฮฟฯ‚ ฯ„แฟ†ฯ‚ ฮถฯ‰แฟ†ฯ‚, artos tฤ“s zลฤ“s) ditujukan kepada Yesus berdasarkan pada ayat Alkitab yang disebutkan dalam Injil Yohanes tak lama setelah peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, Yesus berjalan di atas air di tepi barat Laut Galilea dan kerumunan mengikuti-Nya memakai perahu. Injil Yohanes tak memasukkan catatan soal pemberkatan roti pada Perjamuan Terakhir seperti dalam injil-injil sinoptik seperti Lukas 22:19. Meskipun demikian, amanat tersebut sering kali ditafisrkan sebagai ajaran mengenai Perjamuan Kudus yang sangat berpengaruh dalam tradisi Kristen.Meredith J. C. Warren dan Jan Heilmann menyangkal penafsiran Ekaristi terhadap ayat tersebut. Warren berpendapat bahwa ayat tersebut menunjukkan tradisi Mediterania kuno menyenai hidangan pengurbanan yang mengidentifikasikan tokoh utama dengan ilahi. Heilmann berpendapat bahwa pencitraan menyantap daging Yesus dan meminum darah-Nya bertentangan dengan latar kiasan pembentuk. Dalam konteks Kristologi, pemakaian sebutan Roti Hidup mirip dengan Terang Dunia dalam Yohanes 8:12 dimana Yesus berkata: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."Anggapan tersebut timbul pada tema Kristologi dari Yohanes 5:26 dimana Yesus menyatakan bahwa "Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri". Pengucapan alternatif "roti Allah" muncul dalam Yohanes 6:33. Perlu energi positif untuk tetap mampu bertahan dalam membangun komunitas, baik pada jaman Elia, jaman Rasul Paulus, maupun jaman Yesus dan sampai saat ini, yakni ketaatan pada Allah. Kesulitan yang dialami Elia, tantangan jemaat Efesus, bahkan keyakinan akan Yesus sebagai Roti Hidup yang sulit dipahami oleh orang-orang Israel waktu itu, tidak akan menjadi sebuah perwujudan dalam membangun komunitas, jika tanpa kesediaan, kerja keras dan ketaatan kepada Allah. Yang harus kita renungkan adalah bahwa Yesus menunjukan bahwa dalam perumpamaan dirinyalah roti hidup, roti yg bukan roti biasa yg pd umumnya dimakan orang. Ini juga merujuk pada rasa lapar yg tidak biasa, rasa lapar yg tak berwujud pula, tidak pada hal yg biasa. Rasa lapar akan kekuasaan, akan harta, akan kebencian, akan kehormatan dll .... perhatikan bahwa rasa lapar seperti itulah yg bisa menghancurkan hidup manusia, dan obatnya atau untuk menghilangkan rasa lapar yg seperti itu hanya ada pada diri Yesus, pada keyakinan akan ajaranNya. Coba ketika orang lapar akan harta, Yesus mengajarkan carilah dulu akan kerajaan Allah, Yesus mengajarkan harta di bumi adalah fana serta tidak langgeng maka carilah harta surgawi, ketika orang lapar akan kekuasaan, shg menindas orang laen Yesus mengajarkan lakukanlah apa yg kita ingin orang laen lakukan pada kita thp orang laen, dsb. Apakah yang kita cari dalam hidup ini? Sumber kehidupan atau sarana kehidupan? Pertanyaan ini perlu kita renungkan dan jawab di dalam hati kita masing-masing. Karena realitasnya begitu banyak manusia mengarahkan seluruh perhatiannya, pikirannya, kekuatannya, dan hatinya demi mencari sarana hidup. Adalah benar bahwa masalah sarana hidup bukanlah perkara yang gampang. Demi mempertahankan sarana hidup banyak orang yang berkorban dan mengorbankan orang lain. Demi sarana hidup banyak orang yang berusaha bekerja siang dan malam untuk mencari bahkan menyerahkan seluruh hati, pikiran, tenaga, dan waktunya untuk melakukan sesuatu. Demi sarana hidup, sering terjadi manusia menjadi objek dari sesuatu bukan subjek dari sesuatu, akibatnya manusia menjadi kehilangan kemanusiaannya. Salah satu sarana hidup yang kita maksudkan adalah persoalan makanan atau roti, sebab tidak ada yang paling dibutuhkan oleh manusia selain makanan/ roti yang menjadi lambang sesuatu yang memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, Tuhan Yesus memberi pelajaran, “Akulah Roti Hidup!” “Akulah Roti Hidup! Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh. 6:35). Demikianlah penegasan Yesus mengenai diri-Nya dan apa yang akan dialami oleh setiap orang yang datang kepada-Nya dan percaya kepada-Nya. Berhadapan dengan penegasan Yesus bahwa diri-Nya adalah roti hidup, apa tanggapan kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus? Tanggapan kita atas pernyataan Yesus ditentukan oleh jawaban kita atas pertanyaan refleksi ini: “Apakah kita lapar akan roti hidup?” Jawaban atas pertanyaan “apakah kita lapar akan roti hidup” menentukan kualitas relasi kita dengan Yesus, Sang Roti Hidup. Apabila kita lapar akan roti hidup, kita tentu akan datang kepada-Nya dan percaya kepada-Nya. Sebaliknya, jika kita tidak merasa lapar akan roti hidup, sudah pasti kita tidak datang kepada-Nya, tidak percaya kepada-Nya, menolak, dan menentang-Nya sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Israel, khususnya para pemimpin mereka. Orang Israel selalu beranggapan bahwa manna di padang gurun sebagai roti dari Allah (Mzm. 78:24; Kel 16:15). Ada sebuah keyakinan bahwa ketika Mesias datang, dia akan memberikan manna dari surga. Ini adalah karya agung Musa. Sekarang, para pemimpin Israel menuntut Yesus untuk memberikan manna dari surga sebagai bukti atas klaimnya sebagai Mesias. Yesus menanggapi dengan memberitahukan mereka bahwa bukan Musa yang memberikan manna, tetapi Allah. Dan manna yang diberikan kepada Musa dan orang Israel bukanlah roti yang benar dari surga, melainkan hanya sebuah simbol dari roti yang akan datang. Yesus kemudian membuat klaim yang hanya Allah dapat lakukan: “Akulah Roti Hidup!” (Yoh. 6:35). Roti yang Yesus berikan tidak lain adalah hidup Allah sendiri. Inilah Roti yang sesungguhnya yang dapat memuaskan rasa lapar dalam hati dan jiwa kita. Manna dari surga hanyalah gambaran awal dari roti Perjamuan Tuhan yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya pada saat pengorbanan-Nya. Manna di padang gurun memberi hidup kepada orang-orang Israel dalam perjalanan mereka menuju Tanah Terjanji. Namun Manna itu tidak dapat memberikan hidup kekal bagi orang-orang Israel. Sebaliknya, Yesus memberikan kita roti surgawi yang menghasilkan hidup Ilahi dalam diri kita. Yesus adalah Roti Hidup sejati yang memberikan hidup kepada kita sekarang dan selamanya. Roti yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya memberi hidup kepada kita bukan hanya dalam perjalanan kita menuju taman surgawi, tetapi memberikan kita hidup Ilahi Allah yang berlimpah. Ketika kita menerima dari meja Tuhan, kita mempersatukan diri kita sendiri dengan Yesus Kristus. Bapa Gereja Ignasius dari Antiokia menyebut roti itu satu-satunya roti yang memberikan obat kekekalan, penangkal kematian, dan makanan yang membuat kita hidup selamanya dalam Yesus Kristus. Makanan Ilahi ini menyembuhkan baik tubuh maupun jiwa dan menguatkan kita dalam perjalanan menuju tanah air surgawi.Menerima dan memakan Roti Hidup itu adalah sebuah proses yang membutuhkan kemauan (kesediaan) untuk bersinergi dengan Allah. Rasul Paulus memberikan gambaran bagaimana jemaat Efesus berproses untuk bersinergi bersama Allah membangun komunitasnya, yakni dengan berkata benar (4:25), mampu mengendalikan amarah (4:26), tidak kompromi dengan Iblis (4:27), bekerja keras dan melakukan pekerjaan baik dengan tangannya sendiri (4:28) untuk membantu orang yang berkekurangan. Terlebih lagi tidak mendukakan Roh Kudus Allah (4:30), membuang yang jahat, penuh kasih mesra, dan mudah mengampuni kesalahan orang lain (4:31). Sekalipun dalam membangun komunitas itu banyak tantangan yang harus dihadapi, bahkan bisa membuat kita patah semangat, sebagaimana yang dialami Nabi Elia di tengah-tengah bangsa Israel. Elia begitu patah semangat karena ia merasa sudah gagal: ia mengharapkan pertobatan seluruh Israel dan bahkan mungkin juga Izebel, namun sekarang ia harus lari menyelamatkan nyawanya. Harapan, usaha keras, dan pergumulan seluruh hidupnya tampaknya berakhir dengan kegagalan (ayat 1-4). Ia merasa sendirian dalam pergumulan demi kebenaran Allah (ayat 10). Ditambah kelelahan jasmani setelah perjalanan yang panjang dan berat. Namun Tuhan tetap memberikan kekuatan dan pengharapan kepada Elia, walaupun hanya berupa roti bakar dan sebuah kendi berisi air (ayat 6). Membangun Jemaat  sebagai perwujudan ketaatan kepada Allah bukanlah hal yang mudah, sebagaimana membangun komunitas pada jaman Yesus yang membutuhkan kehadiran Yesus sebagai Roti Hidup, membangun komunitas pada jaman Rasul Paulus di jemaat Efesus membutuhkan praktik-praktik hidup yang baik, dan membangun komunitas pada jaman Nabi Elia membutuhkan kehadiran Allah sendiri. Maka perlu kita sadari bersama bahwa kesediaan untuk terus berkarya dan bersinergi sesama warga jemaat, akan menambah energi positif yang kita miliki untuk terus membangun Jemaat ke arah yang Tuhan kehendaki sebagai perwujudan ketaatan kepada-Nya. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™Selamat Memaknai Roti Hidup๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ๐Ÿ™ŒTuhan Memberkati (STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, 2021, TITUS ROIDANTO, Bahan Khotbah 2021 Gereja Baptis Injili Indonrsia)

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซ BERGERAK BERSAMA DAN MENGENALI TANDA, Yohanes 6:35, 41-51,

๐Ÿ’ซSABDA NYUNAR๐Ÿ’ซ BERGERAK BERSAMA DAN MENGENALI TANDA, Yohanes  6:35, 41-51, Bacaan Injil Minggu ini melanjutkan kisah Minggu lalu tentang orang-orang yang mendatangi Yesus setelah peristiwa pemberian makan kepada 5.000 orang. Pada Minggu lalu Yesus mengecam orang-orang itu datang kepada Yesus karena diberi makan dan kenyang, bukan karena melihat tanda-tanda. Dalam bacaan Injil Minggu ini mengisahkan secara rinci reaksi orang-orang yang mendengar pengajaran Yesus tentang “Akulah roti hidup”. “Bukankah Ia adalah Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapak-Nya kita kenal? Bagaimana Ia bisa bilang ‘aku turun dari surga’?” kata orang-orang itu. Yesus kembali menegaskan, “Akulah roti hidup. Siapa saja yang memakannya akan hidup selama-lamanya.”Orang-orang itu kembali ramai mendengar pengajaran Yesus, “Bagaimana Ia ini memberikan daging-Nya untuk kita makan?” Lagi Yesus menjawab gerutuan mereka, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.  Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku  dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siiapa saja makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Dalam keempat Injil sedikitnya ditemukan delapan cara Yesus mengajar: berceramah, membimbing, menghafalkan, bermetafor, berdialog, memberi studi kasus, berinovasi, dan menjumpakan. Dalam bacaan Injil di atas Yesus mengajar dengan bermetafor. Tentu Yesus bukanlah roti secara literal, namun Yesus sedang bermetafor atau mewujudkan diri-Nya dengan benda-benda atau hal-hal yang biasa ditemui atau dialami masyarakat sehari-hari. Ada banyak bahan pengajaran yang sulit disampaikan kepada pendengar sehingga metafor menolong untuk memahaminya. Yesus hendak menyampaikan bahwa pengajaran-Nya tidak saja untuk didengar, melainkan juga ditanam di dalam diri agar menjadi penuntun hidup sepanjang hayat. Memang ada kesulitan dalam memahami, namun apabila orang mengenal tanda-tanda yang dibuat oleh Yesus dan ditanam secara utuh di dalam diri, orang akan menuai hasil seperti yang dikatakan oleh Yesus, “Sesungguhnya siapa saja yang percaya, ia memiliki hidup yang kekal.” (ay. 47). Dalam menjalankan perusahaan seorang pengusaha pastilah melaksanakan prinsip ekonomi, yaitu panduan dalam kegiatan ekonomi untuk mencapai perbandingan rasional antara pengorbanan yang dikeluarkan dan hasil yang diperoleh. Perusahaan membeli atau mendatangkan bahan baku semurah-murahnya untuk kemudian menghasilkan produk yang dijual untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Prinsip ekonomi di atas tidak berlaku bagi pengelolaan negara. Harga gabah sangat rendah. Dengan harga gabah rendah sangat menguntungkan konsumen, karena bisa mendapatkan harga satu bahan pokok yang murah. Akan tetapi harga gabah rendah dapat mematikan produsen yang dalam hal ini petani. Bagaimana Pemerintah melihat ini? Apabila pemerintah menolong petani dengan mematok harga tinggi, maka konsumen menjerit. Keberpihakan Pemerintah ke satu sisi, sudah pasti merugikan sisi yang lain. Itu baru untuk satu bahan pokok.Situasi yang dihadapi Pemerintah makin runyam selama pandemi. Apabila Pemerintah berpumpun pada kesehatan dengan memotong rantai penularan, maka secara langsung Pemerintah menurunkan laju kegiatan ekonomi masyarakat. Masyarakat yang mendapat penghasilan harian, yang jumlahnya jutaan orang, terganggu dengan kebijakan Pemerintah yang membatasi kegiatan masyarakat. Sebaliknya, apabila Pemerintah mengendorkan kekangan, maka jumlah kasus harian Covid meningkat. Dalam kejangkitan Covid orang harus jeli membaca tanda. Saat ia dinyatakan positif Covid, ia harus ingat kapan gejala klinis pertama timbul. Itu dijadikan tanda sebagai hari pertama. Tanda itu amat penting untuk perencanaan perawatan apakah ia sudah atau belum melewati masa kritis.Siapa pun yang menjadi Presiden RI tentulah menghadapi pilihan-pilihan yang sulit dan pahit. Perlu kebijakan yang seimbang. Kalau kita perhatikan, apa pun kebijakan yang dibuat oleh Presiden Jokowi selalu saja mendapat kecaman dan hujatan. Pengamat atau pengecam melihat apa yang terlihat di depan mata, sedang Pemerintah melihat dari sudut jamak. Pengamat atau pengecam menafikan titik buta atau blind spot.Dalam kuartal kedua tahun ini Pemerintah sudah memberi tanda. Menurut BPS perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2021 mencapai Rp4.175,8 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.772,8 triliun. Ekonomi Indonesia Triwulan II-2021 terhadap Triwulan II-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 7,07% (y-on-y). Pertumbuhan (y-on-y) Triwulan II-2021 terjadi di semua kelompok pulau. Hal ini terutama terlihat pada kelompok provinsi di Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 57,92% dan pertumbuhan (y-on-y) sebesar 7,88%.Pada bacaan Minggu lalu Yesus mengecam orang-orang itu datang kepada Yesus karena diberi makan dan kenyang, bukan karena melihat tanda-tanda. Hal yang sama dengan para pengecam atau penhujat Jokowi dan sebagian pendukung Jokowi bahwa mereka tidak mengenal Jokowi dengan baik. Mereka tidak melihat tanda-tanda yang dibuat Jokowi. Mereka tidak paham pembelajaran dari Jokowi. Jokowi memang membuat kebijakan trial and error di awal pandemi. Jokowi tak mau melakukan kesalahan lagi.“Makanlah roti yang dari surga,” kata Yesus, “bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”  Presiden Jokowi juga hendak berkata, “Terimalah kebijakan-kebijakanku, bukan kebijakan-kebijakan dari pendahuluku. Siapa saja yang menerima kebijakan-kebijakanku, ia akan tumbuh dan tangguh dalam melalui krisis pandemi.”๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™Selamat Melihat tanda-tanda๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ๐Ÿ™ŒTuhan memberkati.STT Baptis Injili, Cepogo, Boyolali, Jateng, 2021, Titus Roidanto

Jumat, 23 Juli 2021

GAMBARAN PELAYANAN GEREJA SEBELUM, SELAMA DAN SESUDAH MASA PANDEMI COVID-19, SERIAL SUDUT PANDANG

GAMBARAN PELAYANAN GEREJA SEBELUM, SELAMA DAN SESUDAH MASA PANDEMI COVID-19, SERIAL SUDUT PANDANG

PENDAHULUAN
 Masa pandemi COVID-19 dapat diibaratkan sebagai “cermin” yang menunjukkan keaslian atau realita wajah pelayanan gereja. Sebelum masa pandemi, telah ada observasi yang menunjukkan adanya keterpisahan antara teologi yang Alkitabiah dan praksis pelayanan kejemaatan serta adanya pengabaian terhadap hal-hal yang primer dalam pelayanan. Kedua observasi ini seolah-olah dibuktikan kebenarannya dalam masa pandemi. Melalui penulisan penelitian tentang pelayanan gerejawi yang dilakukan Pusat Studi Pertumbuhan Gereja Sekolah Tinggi Teologi Baptis Injili, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah didapati bahwa gereja masih memiliki konsep teodisi yang tidak utuh atau proporsional, pelayanan gereja masih sangat bergantung kepada peran rohaniwan sebagai tenaga profesional dan terpusat secara sempit kepada aspek ibadah, ada kesenjangan yang serius antara generasi senior dan generasi muda, serta pelayanan gereja belum siap untuk berhadapan dengan teknologi. Merespons realita tersebut, artikel ini mengusulkan agar gereja melakukan penataan ulang pelayanan pascapandemi dalam enam hal, yaitu: membangun visi teologis yang bisa diejawantahkan dengan jelas dan utuh dalam pelayanan, menjadikan ibadah sebagai sentral tetapi bukan sebagai satu-satunya pelayanan yang penting, menggencarkan pembinaan dan pemuridan berbasis keluarga, memperkuat pelayanan pastoral yang menekankan relasi personal yang mendalam, memperhatikan pelayanan kepada generasi muda atau penerus, serta mengutamakan kapasitas pengutusan daripada kapasitas menampung orang di dalam gereja semata-mata. Pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia tidak diragukan lagi telah mempengaruhi dan mengubah segala lini kehidupan manusia termasuk dimensi pela-yanan gereja. Setidaknya sejak 22 Maret 2020, sebagai respons atas anjuran presiden dan Surat Edaran Kementerian Kesehatan ter-tanggal 16 Maret 2020, hampir seluruh gereja di Indonesia menghentikan kegiatan ibadah dan pertemuan fisik yang dilakukan di lokasi tertentu, kemudian “memindahkannya” ke rumah masing-masing anggota.1 Sejak itu, seluruh aspek pelayanan gerejawi lainnya seperti “didesak” untuk berimprovisasi dan berubah bentuk, misalnya dari bentuk fisik menjadi bentuk digital. Tentu saja perubahan-perubahan dinamika pelayanan dan “migrasi” ke dalam dunia digital ini merupakan sesuatu yang tidak mudah untuk dihadapi Dengan banyak dan mendadaknya desakan-desakan perubahan yang terjadi, gereja-gereja, lembaga Kristen, bahkan sekolah teologi di Indonesia turut memberikan berbagai respons, misalnya melalui proyek penelitian, seminar, lokakarya, atau gerakan pelayanan, terlebih dikalangan injili.  Artikel singkat ini ditulis untuk menunjukkan sebuah sketsa tentang pelayanan gereja se-belum dan selama masa pandemi berdasarkan kumpulan hasil laporan penelitian yang telah diadakan. Kenyataan riil pelayanan gereja selama masa pandemi sedikit banyak (mes-kipun tidak sepenuhnya) dapat membukakan wajah pelayanan gereja sebelumnya dan se-sungguhnya. Dengan kata lain, masa pandemi ini menjadi momen yang tepat bagi para praktisi pelayanan gereja untuk bercermin tentang keadaan pelayanannya selama ini. Tidak berhenti sampai di situ, data-data yang diperoleh dari penelitian selama masa pan-demi juga dapat menjadi semacam acuan untuk memikirkan prinsip, strategi, bahkan arah pelayanan yang harus dikembangkan di dalam masa kenormalan baru atau bahkan setelah masa pandemi, jika tetap ingin terus berkiprah bahkan menjadi semakin efektif di tengah dunia yang berubah.
PELAYANAN GEREJA SEBELUM MASA PANDEMI
Ketertarikan untuk menyelidiki realitas pelayanan gereja tentu saja telah muncul sebelum masa pandemi, dan bahkan jika tidak ada pandemi sekali pun. Sudah begitu banyak buku, penelitian, dan berbagai upaya lain yang dilakukan untuk mencari tahu “mengapa,” “ada apa,” serta “mau di bawa ke mana” pelayanan gereja di tengah kompleksitas zaman. Tentu saja pertanyaan dan keprihatinan ini juga tidak muncul dari ruang vakum. Ada beberapa observasi yang diperoleh dari berbagai literatur, pengalaman, dan riset-riset sebelum-nya dari berbagai belahan dunia dan ragam bentuk pelayanan. Pertama, ada observasi bahwa telah terjadi keterpisahan antara teologi yang alkitabiah tentang gereja dan praksis pelayanan jemaat. Tampaknya ada pedang tajam yang membelah prinsip-prinsip teologi yang didapat dari Kitab Suci, buku-buku, serta ruang kelas teologi, dengan realita praksis pelayanan di tengah-tengah jemaat. Adalah jamak bagi para “teolog” untuk mendulang kekayaan pemikiran teologi Kristen tetapi hidup terpisah dan tidak relevan sama sekali dengan kompleksitas pergumulan hidup umat, pun di saat yang bersamaan para praktisi pelayanan gerejawi berpikir bahwa kebenaran-kebenaran biblikal dan teologis yang telah ditemukan tidak relevan atau tidak operatif dalam keunikan konteks pelayanannya. Keterpisahan ini sedikit banyak menjelaskan mengapa pelayanan gereja terasa stagnan bahkan “mandul” di tengah begitu banyak buku, seminar, karya. Kedua, ada pula observasi bahwa gereja telah mengabaikan, entah disadari atau tidak, hal-hal yang esensial dalam pelayanan, dan menggantikan fokusnya kepada hal-hal yang tidak primer. Pengabaian ini terlihat misalnya dari ambiguitas tolok ukur atas “kesuksesan” gereja. Banyak gereja yang berpikir bahwa kesuksesan dalam pelayanan berarti peningkatan jumlah kehadiran, keuangan, dan ekspansi pelayanan secara fisik, padahal Kitab Suci jelas mengatakan bahwa kesuksesan utamanya berbicara mengenai penjangkauan, pertobatan dan pertumbuhan jiwa-jiwa di dalam Kristus, sebagai bentuk ketaatan seluruh umat Tuhan pada Amanat Agung Tuhan Yesus. Secara praktis, pengabaian ini juga dapat terlihat melalui pergeseran fokus pelayanan: dari pelayanan jiwa-jiwa kepada orientasi program-program, dari pertumbuh-an rohani kepada penekanan pada metode-metode, dari kerohanian yang sejati kepada kesibukan dengan berbagai kegiatan, dari fokus pelayanan firman kepada keahlian manajerial organisasi semata, dan akhirnya, pergeseran “hasil,” dari murid Kristus yang setia kepada para penggemar kekristenan atau tokoh-tokoh Kristen tertentu belaka. Jika berbagai observasi ini diringkaskan dengan satu kata, maka “krisis” yang melanda pelayanan gereja, bahkan sebelum masa pan-demi, adalah: ambiguitas. Adanya ambiguitas dalam refleksi dan visi teologis terhadap gereja dan pelayanannya, ambiguitas tolok ukur keberhasilan, ambiguitas tujuan dan sasaran yang hendak dicapai, bahkan juga ambiguitas cara dan metodologi yang digunakan. Persoal-annya, ambiguitas ini telah berlangsung secara masif, luas, dan sirkular seperti “lingkaran setan,” dari satu penyebab kepada satu akibat, yang menghantar pada penyebab baru dan akibat baru, dan begitu seterusnya. Agaknya dibutuhkan semacam “interupsi Ilahi” untuk bisa menyadarkan gereja dari ambiguitas ini dan menghantarkannya pada haluan yang semestinya. Untuk itu, para pemimpin gereja perlu bersedia untuk memikirkan ulang hal-hal yang primer dan esensial dalam kehidupan berjemaat, serta mengalibrasi segala praksis pelayanan gerejawi yang dilakukan selama ini agar selaras dan mendukung hal-hal esensial tersebut.
PELAYANAN GEREJA SELAMA MASA PANDEMI
Apakah lantas masa pandemi ini dapat menjadi “interupsi Ilahi” yang dibutuhkan ter-sebut? Melihat berbagai fenomena pelayanan gereja selama ini dan temuan-temuan dari berbagai riset, dalam skala tertentu, pandemi ini dapat dipandang sebagai semacam “inte-rupsi Ilahi” yang membangunkan gereja dari ambiguitas panjangnya. Penghentian “paksa” dan tiba-tiba dari berbagai kegiatan dan bentuk pelayanan, mau tidak mau, membuat para praktisi pelayanan gereja berhenti sejenak dari rutinitas dan melihat ulang apa yang telah dikerjakan, atau apa yang telah terjadi, selama ini. Jika “interupsi Ilahi” pandemi ini dires-pons dengan tepat oleh gereja-gereja, maka akan muncul pembaharuan yang hakiki dalam kehidupan berjemaat. Ada beberapa isu dalam konteks riil pelayanan gereja yang tercermin dalam berbagai temuan penelitian, yang perlu dipikirkan ulang dan direspons secara tepat oleh para pemimpin gereja.Pertama, masa pandemi menunjukkan masih minimnya konsep teodisi yang utuh dan proporsional. Secara masif, para teolog dan pemikir Kristen menerbitkan beberapa buku terutama untuk menjawab problematika teologis seputar kuasa Allah dalam realitas pandemi, sebut saja CORONAVIRUS AND CHRIST DARI PENDETA JOHN PIPER, WHERE IS GOD IN A CORONAVIRUS WORLD? DARI APOLOGIS DAN ILMUWAN JOHN C. LENNOX, DAN GOD AND THE PANDEMIC DARI TEOLOG BIBLIKA N. T. WRIGHT. Buku-buku ini, meskipun ditulis dalam disiplin ilmu dan pendekatan yang berlainan, tetapi seperti ingin menyuarakan pesan yang seragam: bahwa Allah berdaulat dan tetap mengasihi manusia sekali pun di tengah wabah yang tidak terpahami. Agaknya penerbitan judul-judul ini merupakan sebuah indikasi tentang langgengnya perdebatan tentang topik teodisi. Para pemimpin gereja perlu memperhatikan hal ini dan jika memungkinkan, memasukkan pesan tentang teodisi yang utuh dan tepat di dalam khotbah, pengajaran, persekutuan, bah-kan pendampingan pastoral. Menariknya, kebutuhan tentang teodisi yang tepat ini juga bukan hanya dapat dilihat dari penerbitan judul-judul di atas, tetapi juga berdasarkan pengamatan empiris khususnya dalam konteks Indonesia. ketua sinode Gereja Baptis Injili Indonesia, menunjukkan bahwa ada “krisis teologis” yang di-hadapi oleh masyarakat Kristen pedesaan. Krisis teologis tersebut antara lain: pemahaman bahwa pandemi ini terjadi sebagai hukuman Tuhan atas dosa manusia, pandemi ini merupakan tanda-tanda akhir zaman dan mendekatnya kedatangan Kristus kedua kali, serta adanya keengganan untuk memindahkan ibadah dari gereja ke rumah dengan alasan umat harus lebih takut akan Allah daripada takut tertular virus. Kalau dianalisis bahwa problematika teologis ini terjadi akibat kemunculan ajaran-ajaran yang keliru khusus-nya tentang teodisi tetapi marak tersebar di media massa dan media sosial. Kedua, masa pandemi menunjukkan bahwa pelayanan gereja masih sangat terfokus dan bergantung pada peran rohaniwan sebagai tenaga profesional dan belum melibatkan selu-ruh anggota tubuh Kristus sebagai komunitas pelayan. Pada masa pandemi, terlihat banyak sekali rohaniwan mencoba untuk membuat konten daring berupa khotbah, seminar, sapaan gembala, lagu pujian, dan berbagai bentuk lain. Akan tetapi, beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa jemaat justru merasa tidak mengalami engagement dari pendeta atau gembala jemaat setempat. Hal ini disebabkan misalnya oleh perubahan intensitas pelayanan dari tatap muka menjadi pembatasan fisik, adanya gembala atau pendeta yang tidak mengetahui kondisi spiritualitas atau pertumbuhan iman jemaatnya, serta jemaat menganggap bahwa pemberian renungan pastoral (secara digital) yang umum dilakukan oleh para rohaniwan tidak serta-merta berarti sapaan personal kepadanya. Tanda-tanda ini sejatinya dapat dibaca dari dua sisi. Di satu sisi, tentu saja tanda-tanda ini memperlihatkan kreativitas dan inovasi para rohaniwan yang tetap setia melayani dan berkarya di tengah krisis. Akan tetapi, di sisi lain, tanda-tanda ini juga menunjukkan kecenderungan jemaat untuk “bergantung” dan terpusat pada pelayanan rohaniwan se-mata-mata, dan secara bersamaan menganggap diri mereka sebagai “konsumen” yang harus terus-menerus “disuapi” dan seolah-olah “tidak bisa hidup” tanpa pelayanan rohaniwan. Padahal, sejatinya pertumbuhan rohani dan pelayanan kepada Allah merupakan tanggung jawab seluruh anggota tubuh Kristus, bukan hanya rohaniwan (bdk. Ef. 4:11-16). dalam konteks pedesaan yang tidak semuanya memiliki tenaga rohaniwan yang cukup, sangat diperlukan pemberdayaan pelayan awam khususnya dalam berkhotbah dan memuridkan. Sebagai kesimpulan, seharusnyalah didorong gereja-gereja untuk membuka ruang sebesar-besar-nya bagi keterlibatan pelayan awam dengan cara peralihan dari pelayanan yang berpusat pada rohaniwan menjadi berpusat pada rohaniwan dan pemimpin awam; peralihan dari pelayanan rohaniwan sebagai pelaksana tunggal menjadi sebagai pemerlengkap jemaat Allah; dan peralihan dari peran rohaniwan sebagai gembala bagi seluruh umat menjadi gembala bagi para anggota tim penggembala. Ketiga, masa pandemi menunjukkan bahwa pelayanan gereja masih secara sempit terfokus hanya pada dimensi ibadah dan belum atau tidak holistik menyentuh bidang-bidang lain yang juga penting. Hal ini terlihat dari fokus gereja di paruh awal masa pandemi yang agaknya terkuras sepenuhnya pada penyelenggaraan dan penyediaan konten ibadah online di gereja masing-masing, baik secara tayangan langsung (live streaming) maupun tayangan yang sudah direkam sebelumnya (pre-recorded streaming). Gereja-gereja tampaknya berupaya sekuat tenaga untuk “bersaing” menghadir-kan konten ibadah daring yang lebih baik. Hal ini sedikit banyak disebabkan oleh kekhawatiran bahwa jemaatnya akan lebih memilih mengikuti ibadah daring di gereja lain. Survei kuantitatif yang dilakukan oleh Sinode GKI Wilayah Jawa Barat menunjukkan bahwa 80% jemaat mengikuti ibadah dan pelayanan daring di gerejanya, namun di saat bersamaan 60% jemaat mengikuti ibadah daring di kanal atau situs gereja lain. Upaya untuk “memenangkan” persaingan viewers di tengah dunia ibadah digital ini juga ditangkap dalam data Survei Nasional STT – STT INJILI di Indonesia yang dipresentasikan dalam sebuah seminar dan menyimpulkan bahwa di awal masa pandemi perhatian utama gereja-gereja ada pada pelaksanaan ibadah, sementara hal-hal lainnya dilakukan dengan agak gagap dan tidak terpikirkan. Fenomena ini, terjadi karena sejak sebelum pandemi pun fokus perhatian gereja-gereja memang lebih banyak tertuju pada ibadah Minggu, dan kurang pada aspek-aspek penting lainnya dalam pelayanan gerejawi. Tambahan pula, berdasarkan pembacaan Calvin Tong terhadap penelitian pengalaman ibadah jemaat dalam beribadah daring khususnya dalam konteks gereja di perkotaan, upaya pembuatan konten Webinar Hasil Survei Pengalaman Ibadah Jemaat dalam Ibadah Online, Pusat Studi Pertumbuhan Gereja STT Reformed Injili, Jakarta, 8 Juni 2020. Kekhawatiran yang dimaksud adalah jika di masa pandemi jemaat sangat mudah membanding-bandingkan layanan ibadah daring gerejanya dengan gereja lain, maka dikhawatirkan setelah masa pandemi jemaat akan benar-benar berpindah hati, fisik, dan bahkan keanggotaan. ibadah daring adalah hal yang tidak mudah, bahkan dapat dikatakan sangat menguras energi, waktu, tenaga, dan sumber daya baik manusia maupun material. Tentu saja pelayanan ibadah bukan tidak penting, tetapi realita di masa sebelum dan selama pandemi menunjukkan adanya perhatian yang tidak seimbang: terlalu berfokus kepada ibadah dan mengabaikan bidang-bidang lain yang sama pentingnya. Penelitian dari STT BAPTIS INJILI  menunjukkan setidaknya empat elemen pelayanan selain ibadah yang “terabai-kan” atau kurang mendapat perhatian yang cukup, yaitu: keuangan, sekolah Minggu, pelayanan keluarga, dan penginjilan.Hal ini patut dipikirkan secara serius karena gereja yang sehat tidak hanya perlu memikirkan aspek ibadah, tetapi juga aspek-aspek lain seperti persekutuan, pengajaran, dan kesak-sian. Di samping itu, ada pula beragam pelayanan yang berbasis kebutuhan (needs-based ministry) seperti misalnya pelayanan kelompok usia tertentu dalam kelompok kecil, pelayanan konseling, pelayanan di ruang sosial, dan pelayanan pemberdayaan ekonomi jemaat yang juga patut mendapat perhatian gereja. Keempat, masa pandemi menunjukkan ada-nya kesenjangan (gap) yang serius antara generasi tua dan muda di dalam gereja. Kesenjangan antara generasi tua (senior) dan muda (junior) ini terjadi bukan hanya di kalangan jemaat awam, tetapi mula-mula dari kalangan rohaniwan. Lagi-lagi penelitian dari STT BAPTIS INJILI memperlihatkan temuan yang menarik. Dilansir bahwa kebanyakan ibadah utama yang di-tayangkan secara online dilayani oleh hamba-hamba Tuhan yang senior, sehingga hamba-hamba Tuhan muda atau yang masih junior merasa tidak dibutuhkan dan tidak mendapat kesempatan dan tempat, demikian halnya para pengkhotbah non pendeta di gereja-gereja presbiterian ataupun para majelis, kehilangan ruang. Terlepas dari faktor-faktor internal gereja masing-masing, realita ini menunjukkan ada masalah dalam regenerasi kepemimpinan dan pelayanan gereja. Padahal, dalam disertasinya yang meneliti tentang revitalisasi gereja pada empat gereja lokal dari empat sinode berbeda di empat kota besar di Indonesia, menunjukkan salah satu faktor penyebab revitalisasi gereja adalah adanya tim kepemimpinan bersifat intergenerasi yang kuat dan harmonis. Penemuan ini juga diteguhkan kembali dalam panel diskusi STT BAPTIS INJILI dan REFORMED INJILI tentang pelayanan kaum muda, didapati bahwa kaum muda di gereja-gereja (INJILI) menghadapi kesulitan dalam mengikuti ibadah, salah satunya karena “konsumsi” dalam ibadah umum dirasa terlalu berat. Hal ini menunjukkan belum ada, atau kurangnya, pemahaman dan praktik pelayanan-pelayanan bersifat intergenerasi di dalam gereja. Kelima, masa pandemi menunjukkan bahwa gereja-gereja pada umumnya tidak siap berha-dapan dengan kemajuan teknologi. Temuan ini dilaporkan oleh  Yohanes Handoko dalam catatan keynote speaker me-ngenai konteks gereja berbasis pelayanan digital. Hasil penelitian  Yohanes Handoko menunjukkan bahwa tidak semua gereja bisa mengadakan ibadah online, karena ada yang tidak mempunyai infrastruktur yang memadai, atau ada pula yang tidak mengetahui caranya padahal infrastruktur yang dimiliki cukup mendu-kung.25 Selain itu, dalam penelitian lain yang dilakukan Yohanes Handoko secara kuantitatif terhadap berbagai gereja di perkotaan Indonesia dari tiga aliran berbeda (Presbiteral, injili dan Pentakosta/Karismatik), didapati bahwa sebagian besar gereja tidak mempunyai bidang atau komisi khusus digital, dan kalau pun ada, pada umumnya baru dibentuk pada masa pandemi COVID-19. dua poin penting, yaitu bahwa banyak gereja masih enggan dan tergopoh-gopoh mengikuti perkembangan teknologi; serta banyak hamba Tuhan dan gereja injili yang belum serius menggarap pelayanan digital. Beberapa temuan di atas menunjukkan bahwa masa pandemi menjadi cermin yang mereflek-sikan wajah gereja sesungguhnya. Tentu saja poin-poin ini hanya dipaparkan secara garis besar dan umum. Masih ada poin-poin spesifik lain yang tidak terangkum. Tetapi, dari kelima poin di atas, agaknya tidak berlebihan untuk menyimpulkan bahwa observasi yang telah dimiliki tentang pelayanan gereja selama ini dapat terbukti benar. Adanya ambiguitas visi teologis dalam pelayanan yang berakibat juga pada ambiguitas praksis pelayanan. Pertanyaan selanjutnya yang perlu digumulkan adalah: bagaimana kemudian gereja merevitalisasi pelayanannya di dalam masa kenormalan baru bahkan sesudah masa pandemi?
PELAYANAN GEREJA SESUDAH MASA PANDEMI
Mengasumsikan bahwa pelayanan gereja akan serta-merta berubah setelah diterpa pandemi adalah sebuah kekeliruan yang sama dengan harapan kosong. Seorang pengajar dan peneliti pertumbuhan gereja bernama Ed Stetzer berkata bahwa di tengah anggapan banyak orang tentang perubahan pelayanan gereja secara besar-besaran setelah pukulan pan-demi, ia justru lebih mengkhawatirkan pelayanan gereja yang akan kembali menjadi sama lagi seperti sebelum pandemi dan tidak akan mengalami perubahan apa-apa.28 Menurutnya, gereja sepanjang zaman telah mengalami berbagai gejolak tantangan dan “pandemi” lain selain COVID-19, tetapi tetap tidak mudah untuk meninggalkan perspektif yang keliru dan cara pelayanan yang kurang efektif. Jika demikian, maka apa lagi yang dapat kita katakan? Atau lebih tepatnya, jika pandemi yang berpengaruh sebesar ini saja tidak cukup untuk membawa pembaharuan, maka apa atau siapa yang mampu melakukannya? Lalu, bagaimana cara mewujudkan pembaharuan tersebut? Tentu saja peringatan Stetzer ini tidak bertujuan untuk mematahkan semangat pelayanan gereja atau membuyarkan semangat di masa datang, melainkan justru menjadi sebuah catatan serius yang perlu diperhatikan. Setelah menyadari beberapa hasil observasi dan melihat pantulan realita dari “cermin” pandemi, sudah waktunya gereja-gereja memikirkan hal-hal yang seharusnya ada dan diupayakan tetapi mungkin selama ini diabaikan. Thom Rainer di dalam bukunya The Post-Quarantine Church mengatakan bahwa masa pasca-pandemi merupakan waktu yang ideal untuk gereja menata ulang (reset) pelayanannya menjadi lebih selaras dengan Injil. Akan tetapi, perlu terlebih dahulu dicatat bahwa dunia pelayanan gerejawi pasca-pandemi itu sendiri adalah sesuatu yang masih buram, tidak pasti, dan belum terpetakan (uncharted), bahkan secara waktu sekali pun belum ada yang dapat memastikan kapan masa pandemi ini akan benar-benar berakhir. Maka, alih-alih menjadi panduan atau “tips dan trik” pelayanan, bagian ini ditulis lebih sebagai sebuah antisipasi. Melalui observasi sebelum masa pandemi dan pantulan wajah gereja dari berbagai temuan penelitian di masa pandemi, setidaknya dapat dianalisis hal-hal yang perlu dikaji ulang dalam pelayanan gereja. Hal esensial yang perlu diingat dan dikaji ulang bagi pelayanan pascapandemi adalah tujuan eksistensi gereja, yaitu melakukan pelayanan kepada Allah melalui ibadah, pelayanan kepada sesama melalui pembinaan dan penggembalaan, serta pelayanan kepada dunia melalui pekabaran Injil dan kesaksian sosial. Ketiga dimensi pelayanan ini perlu dijalankan dengan utuh dan seimbang. Untuk itu, penulis berpandangan bahwa gereja perlu menata ulang fokus perhatian (refocus) kepada seti-daknya enam hal untuk mencapai tujuan ini. Pertama, gereja perlu berfokus untuk mem-persempit atau bahkan menghilangkan kesenjangan antara teologi dan praksis pelayanan, dengan cara membangun sebuah visi atau refleksi teologis yang sehat dan menjadi nilai utama yang terpenetrasi dan mempengaruhi seluruh dinamika pelayanan. Tim Keller men-jelaskan hal ini dengan menarik. Ia mema-parkan bahwa gereja pada umumnya memiliki “perangkat lunak” kebenaran doktrinal, peng-akuan iman, falsafah teologis, atau eksposisi biblikal. Gereja juga pada umumnya memiliki “perangkat keras” praktik pelayanan, struktur organisasi, tata gereja, atau sistem pengelolaan pelayanan. Tetapi, kedua hal ini saja tidak cukup dan justru malah sering dipertentangkan satu sama lain. Gereja membutuhkan “perangkat tengah” (middleware) refleksi teologis, yaitu bagaimana konsep teologis yang solid diejawantahkan dan dihidupi dalam konteks yang spesifik. Agaknya, refleksi teologis ini yang akan sangat menentukan respons gereja ketika menghadapi berbagai perubahan zaman dan tantangan eksternal seperti pandemi. Refleksi teologis inilah yang akan membuat kebenaran Alkitab tidak hanya menjadi milik para tokoh Alkitab atau teolog, tetapi menjadi milik seluruh jemaat Kristus. Namun, apa dan bagaimana sebenarnya bentuk konkret dari refleksi teologis ini? Ed Stetzer menjelaskan bahwa refleksi teologis ini merupakan hal berharga yang harus dimiliki dan dihasilkan oleh pemimpin gereja. Ia menyebutnya dengan istilah “praktikalitas.” Praktikalitas ini berbeda dengan pragmatisme atau semangat hanya mau mengurusi hal-hal operasional tanpa memikirkan hal-hal yang filosofis, teologis dan fondasional. Praktikalitas ini adalah kemampuan pemimpin dan jemaat gereja untuk mencerna teologi secara dalam dan matang, kemudian mengartikulasi-kannya dalam praktik hidup keseharian dan pelayanan, untuk memobilisasi umat Tuhan melaksanakan kehendak Allah di tengah dunia. Praktikalitas ini dapat dibangun dengan misalnya memasukkan aspek refleksi teologis, ilustrasi, atau aplikasi yang konkret di dalam khotbah dan pengajaran, serta melatih jemaat untuk bertanya: “Apa artinya bagi saya?” untuk setiap kebenaran teologi yang dicerna dan didapatkan. Kedua, gereja perlu fokus kepada ibadah sebagai sentral (central) dalam pelayanan, tetapi bukan pusat (center) dari bagian-bagian pelayanan yang lain.Pelayanan ibadah seharusnya tidak dianggap lebih superior dan semua bidang pelayanan lain hanya “pelengkap” untuk ibadah. Melainkan, pelayanan ibadah seharusnya menjadi sentral yang menjadi pusat pertemuan sekaligus memberi daya bagi sendi-sendi kehidupan gerejawi lainnya. Melalui pelayanan ibadah yang dipersiapkan dengan baik, meliputi liturgi yang menceritakan Injil Kristus, khotbah yang berakar pada pengajaran Kitab Suci yang kokoh dan lurus, serta sakramen yang dilaksanakan dengan setia, jemaat dapat dipikat dalam narasi misi Kristus di dalam dunia dan justru digerakkan untuk menghidupi dan mewartakan Injil. Ibadah yang dipersiapkan dengan baik juga dapat menjadi kesaksian bagi orang-orang di luar kekristenan tentang narasi Injil yang menyelamatkan. Adalah penting untuk mempersiapkan ibadah dengan baik, tetapi perlu dicatat juga bahwa pelayanan ibadah bukanlah satu-satunya apalagi segala-galanya di dalam dinamika bergereja. Perlu disadari bahwa pelayanan ibadah pasca-pandemi mungkin akan berbeda dengan keadaan sebelum pandemi. Setelah adanya budaya pelayanan daring, gereja perlu memikirkan dengan strategis mengenai pertemuan-pertemuan yang dilakukan dan secara fisik, dan pelayanan serta penjangkauan yang dapat atau perlu juga dilakukan secara digital. Konsekuensinya, alokasi dana untuk pengadaan dan pemeliharaan fasilitas fisik dapat dialihkan guna menunjang bentuk-bentuk pelayanan lain. Pun pelayanan ibadah dapat secara bersamaan dikelola sebagai sarana penjangkauan dan pemberitaan Injil dalam dunia global. Ketiga, gereja perlu berfokus pada pembinaan dan pemuridan berbasis keluarga. Masa pandemi telah menunjukkan bahwa pelayanan mimbar yang terpusat hanya dari dan di dalam gereja, serta dilakukan semata-mata oleh rohaniwan sebagai tenaga profesional, adalah tidak cukup dan sangat terbatas dalam menjawab kebutuhan rohani jemaat. Di tengah realita jemaat yang “dipulangkan ke rumah” dan segala sesuatunya berlangsung dari rumah, maka pelayanan keluarga menjadi sangat sentral dan penting. Urgensi pelayanan keluarga ini menjadi tambah meningkat dalam konteks pelayanan yang mungkin minim tenaga rohaniwan profesional. Karena itu, gereja perlu menyadari dan mengedepankan pen-tingnya pelayanan pembinaan iman dan pemuridan yang dimulai dan berbasis dari keluarga. Dalam bentuk ini, keluarga dipandang sebagai pemurid yang utama dan gereja memainkan peran untuk memperlengkapi orang tua membina iman anak-anak. Gereja dapat menjalankan pelayanan ini misalnya dengan memperlengkapi dan melatih orang tua dalam materi dan keterampilan mengadakan ibadah keluarga, mengajar sekolah Minggu anak-anak di rumah, dan mengadakan percakapan iman (faith talk), serta menyediakan mentor-mentor yang dapat mendampingi orang tua dalam proses bertumbuh membina iman anak dari rumah. Keempat, gereja perlu berfokus pada pelayanan pastoral yang menekankan relasi personal yang mendalam. Sudah banyak saran-saran pelayanan dan konsep penggembalaan yang mengemukakan pentingnya orang (people) daripada program. Tetapi, sesering itu pula “relasi dengan orang” yang digemakan itu justru kembali berakhir dan terhenti menjadi sebuah program lain. Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan hal ini, tetapi harus diakui bahwa menjalin relasi yang otentik dan mendalam merupakan perkara yang tidak mudah dan bahkan bisa menuntut harga yang “lebih mahal” dibandingkan dengan menjalankan agenda kegiatan semata. Tentu saja keter-batasan kapasitas seorang rohaniwan tidak akan cukup untuk menopang kebutuhan relasional ini. Karena itu, gereja perlu beralih dari pelayanan yang berpusat pada rohaniwan (pastor-centered) menjadi kombinasi dan sinergi antara pelayanan rohaniwan dan para pemimpin awam. Tenaga rohaniwan tidak lagi berfungsi sebagai “pemain tunggal” (sole doer) dan satu gembala bagi seluruh gereja, melainkan berubah menjadi pemerlengkap (equipper) tubuh Kristus dan gembala bagi para gembala lain. Hanya dengan sinergi, kolaborasi, dan pemberdayaan kaum awam seperti ini, relasi yang mendalam antara seluruh anggota tubuh Kristus dapat tercipta. Kelima, gereja perlu fokus kepada pengembangan pelayanan dan penjangkauan generasi muda. Pelibatan dan penjangkauan kaum muda ini menjadi penting khususnya di era setelah pandemi, ketika pelayanan digital akan menjadi sebuah keniscayaan. Fokus melibatkan dan menjangkau generasi muda ini dapat dimulai dengan misalnya memberi ruang bagi hamba-hamba Tuhan muda (junior) untuk mengambil peran strategis dalam pelayanan, sementara hamba Tuhan senior dapat berperan sebagai mentor, pelatih, atau penasihat yang mendukung. Selain itu, gereja juga perlu membuka pintu lebih lebar bagi generasi muda untuk berada pada posisi konseptor, pengambil keputusan, atau bagian dari tim kepemimpinan, dan bukan hanya “pelaku” atau “asisten” dari orang-orang dewasa. Sebagai catatan, pelibatan generasi muda dan pemuridan berbasis keluarga sebenarnya da-pat dijalankan bersamaan melalui model pelayanan intergenerasi. Pelayanan intergenerasi terjadi ketika sebuah gereja secara intensional membawa dan memfasilitasi berbagai generasi yang berbeda untuk terlibat di dalam proses saling beribadah, berkomunitas, dan melayani bersama-sama sebagai bagian dari satu ke-satuan tubuh Kristus. Pelayanan intergenerasi dibangun atas keyakinan bahwa seluruh anggota jemaat, dalam kelompok usia mana pun, adalah bagian yang sama penting dan setara dalam kesatuan tubuh Kristus, dan pertumbuhan dapat terjadi dengan lebih ideal jika diupayakan ketersalingan. Pelayanan intergenerasi memberi ruang bagi pemberdayaan generasi muda sekaligus memperlengkapi orang tua untuk menjadi pembina iman dan teladan rohani. Terakhir, gereja perlu berfokus pada kapasitas pengutusan (sending capacity) ketimbang kapasitas penampungan jemaat (seating capa-city). Pandemi membukakan gereja bahwa Kerajaan Allah memiliki cakupan global dan bukan hanya berdimensi lokal dalam satu gereja atau sinode tertentu. Maka, sudah sepa-tutnya gereja mengubah tolok ukur keberhasilannya dari kehadiran (attendance), bangunan fisik (building), dan keuangan (cash) menjadi kapasitas pengutusan (sending) jemaat sebagai pelayan Allah di tengah dunia. Gereja perlu mengingat bahwa umat Allah seharusnya di-utus ke tengah dunia, bukan hanya di dalam tembok gereja. Gereja perlu memperlengkapi jemaat untuk menjadi utusan “misi” Allah di dalam pekerjaan, keluarga, lingkungan, bahkan dunia digital.
KESIMPULAN
Gereja yang tenggelam, bertahan, atau berkembang? Masa pandemi telah menjadi sebuah gelombang besar yang mengejutkan pelayanan gereja. Sampai sekarang, masih belum jelas kapan pandemi ini akan berakhir dan apa (saja) sisa-sisa dampak yang ditinggalkannya. Tetapi, gereja Tuhan mempunyai pilihan: akan “tenggelam” dan mati (dying), bertahan (surviving) atau justru maju pesat dan berkembang (thriving). Anugerah Allah yang akan memampukan gereja tetap bertahan dan bahkan berkembang di tengah realitas pandemi, tetapi juga diperlukan antisipasi dan langkah-langkah hikmat yang diambil dan diterapkan. Kiranya cerminan wajah gereja yang telah ditunjukkan selama masa pandemi ini tidak kembali diabaikan, tetapi justru dapat dijadi-kan bahan refleksi dan evaluasi untuk menaati kehendak Tuhan dengan lebih efektif dan jernih. (STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, 2020, TITUS ROIDANTO), ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™Selamat menghikmati perubahan, ๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ๐Ÿ™ŒTuhan memberkati
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Stetzer, Ed. “Time for a New Normal,” Christianity Today, 9 Juli 2020, diakses 20 Desember 2020. https://www.christianity today.com/edstetzer/2020/july/time-for-new-normal.html.
Wright, N. T. “Christianity Offers No Answers About the Coronavirus. It’s Not Supposed To.” Time, 29 Maret 2020, diakses 15 November 2020. https://time.com/5808495/ coronavirus-christianity.
———. God and the Pandemic: A Christian Reflection on the Coronavirus and Its Aftermath. Grand Rapids: Zondervan, 2020.
Handoko, Yohanes. “Gereja Berbasis Anak Muda.” Disampaikan dalam Rembuk Nasional STT Baptis Injili. Boyolali, 10 Mei 2020.
Handoko, Yohanes. “Tantangan yang Dihadapi Gereja-gereja Perkotaan di Masa Pandemi dan Pascapandemi.” Disampaikan dalam Rembuk Nasional STT Baptis Injili. Boyolali, 10 Mei 2020.
———. “Webinar Hasil Survei Pengalaman Ibadah Jemaat dalam Ibadah Online.” Pusat Studi Pertumbuhan Gereja  STT Baptis Injili. Boyolali, 8 Juni 2020.
Hutahean, Hasahatan, Bonnarty Steven Silalahi, Linda Zenita Simanjuntak. “Spiritualitas Pandemik: Tinjauan Feno-menologi Ibadah di Rumah.” Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 4, no. 2 (Juli 2020): 234-249, https://doi.org/10.46445/ejti.v4i2.270
Irawan, Handi dan Cemara A. Putra. “7 Tantangan Gereja di Masa Pandemi COVID-19 dan Alternatif Solusinya.” Bilangan Research Center, 2020. Tidak diterbitkan.
Marshall, Collin dan Tony Payne. The Trellis and the Vine: The Ministry Mind-shift that Changes Everything. Sydney: Matthias Media, 2009.
Partners in Ministry. “How Did a Range of Churches Meet the Challenge of Church on Sunday 22nd March 2020?” Partners in Ministry. Maret 2020. Diakses 28 Agustus 2020. https://www.partnersinministry.com/ resources/churches-under-self-isolation.
Piper, John. Coronavirus and Christ. Wheaton: Crossway, 2020.
Roidanto, Titus. “Respons Gereja Terhadap Pengalaman Ibadah Jemaat dalam Ibadah Online.” Disampaikan dalam Webinar Hasil Survei Pengalaman Ibadah Jemaat dalam Ibadah Online. Pusat Studi Pertumbuhan Gereja (PSPG) STT Baptis Injili. Boyolali, 8 Juni 2020.
Powell, Kara dan Chap Clark. Sticky Faith: Everyday Ideas to Build Lasting Faith in Your Kids. Grand Rapids: Zondervan, 2011.
Powell, Kara dan Steven Argue. Growing With: Every Parent’s Guide to Helping Teenagers and Young Adults Thrive in Their Faith, Family, and Future. Grand Rapids: Baker, 2019.

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus