Sabtu, 09 Juli 2022

Ismael, salah kaprah tentang perbedaan, serial sudut pandang

Ismael, salah kaprah tentang perbedaan, serial sudut pandang

Tidak sedikit orang Kristen memandang berat sebelah terhadap Ismael ketimbang anak Abraham lainnya, Ishak. Apalagi predikat keledai liar yang melekat pada Ismael (Kej, 16:12) yang dicerap negatif oleh mereka. 

Narasi Abraham terdapat di Kitab Kejadian pasal 12 – 25 dengan sekitar 12%-nya bercerita mengenai Hagar dan Ismael. Setidaknya ada empat pesan indah mengenai Ismael.

Pesan pertama, malaikat TUHAN kepada Hagar.
“Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung  karena banyaknya.” Selanjutnya………”Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu.” (Kej. 16:10-11)

Pesan kedua, Allah kepada Abraham.
“Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan duabelas raja dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar."”(Kej. 17:20)

Pesan ketiga, Allah kepada Abraham.
“Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa,  karena ia pun anakmu." (Kej. 21:13)

Pesan keempat, malaikat Allah kepada Hagar.
"Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut,  sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa   yang besar." (Kej. 21:17-18)

Alkitab tidak memerikan (describe) suatu yang buruk tentang Ismael, juga tidak memandang Ismael sebagai buangan atau kutukan seperti yang diduga oleh tidak sedikit orang Kristen di Indonesia. Sebaliknya Ismael bahkan dinyatakan sebagai seorang yang mendapat janji berkat dari Allah dan keturunannya menjadi bangsa besar.

Lalu mengapa muncul istilah keledai liar pada Kejadian 16:12? Istilah keledai liar muncul sebagai akibat dari narasi yang mendahului ayat 12. Kejadian 16:6 “Lalu Sarai menindas Hagar sehingga ia lari meninggalkannya.” Istilah Ibrani menindas biasanya dipergunakan berhubungan dengan penjajahan dan kerja-paksa (Bdk. Keluaran 1:11-12). Pukulan dengan tongkat dan tamparan adalah siksa untuk seorang hamba (Kel. 21:20-21). Sara, istri Abraham, melupakan perikemanusiaan sama sekali. Dari latar belakang ini “keledai liar” dapat ditafsirkan sebagai orang yang berjiwa merdeka. Jiwa merdeka dapat dibandingkan dengan teks Kitab Ayub 39:8. Ismael akan lahir sebagai orang yang berjiwa merdeka dari penindasan.

Ini seharusnya membuat kita bisa lebih mengerti dan mengenal sahabat kita Islam, karena pemahaman akan hubungan antara manusia dan Tuhannya adalah hubungan antara Tuan dan hambanya (Ismael anak seorang hamba), sehingga pengajaran dan pemahaman keimanan nya bisa lebih kita mengerti seperti tentang zakat, sedekah, infaq, azab, Allah yg akan selalu adil, Allah yg menghakimi, harus ada prestasi hamba dihadapan tuannya, pemahaman tak ada tuan selain tuannya atau tauhid Krn kalo ada tuan selain tuannya bearti berkhianat, keselamatan adalah hal yg harus diusahakan atau diperjuangkan, dlsb. Itu seharusnya kita bisa melihat sudut pandang yg Laen, yg Positif dari pemahaman atau pengajaran iman sahabat Islam. Di sisi yang laen Bani Ishak memahami dirinya adalah anak dari istri utama maka memahami dirinya sebagai AHLI WARIS dalam memahami hubungan antara manusia dan Tuhannya, hubungan antara Tuhan dan manusia dimengerti selayaknya hubungan Bapa dan anaknnya, maka pemahaman dasar pengajaran dan pemahaman umat kristiani adalah sebagai anak/ahli waris, maka jangan heran kalo umat kristiani memahami keselamatan sebagai anugerah, keselamatan adalah pemberian dari Bapa pada anaknya, keselamatan adalah warisan dari Bapa ke anak nya, shg sebagai anak tentunya punya tanggung jawab thp warisan bapaknya, anak dapat melihat bgmn bapa nya mempunyai fungsi dan tugas yg berbeda-beda, anak dapat melihat bgmn bapa akan selalu mengusahakan keselamatan anaknya dg berbagai cara yg berbeda (dan maklum adanya dalam sisi atau sudut pandang seorang hamba akan sulit dipahami, bagi sudut pandang seorang hamba, warisan bisa diperoleh dg prestasinya), seorang Bapa akan selalu terbuka pintu ampunan/maaf bagi anaknya, dlsb. Demikian memahami hal-hal ini, tentunya membuat kita bisa saling memahami satu dg yg Laen, bukan malah memperuncing pembedaan (Galatia 4:24, 26 (TB)
24 Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar --
26 Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita.)

Dalam kisah Abraham tidak ada petunjuk permusuhan antara Ishak dan Ismael. Bahkan ketika Abraham meninggal, Ishak dan Ismael bersama-sama menguburkan ayah mereka (Kejadian 25:9). Abraham tidak saja memiliki dua anak Ishak dan Ismael, tetapi juga ada enam anaknya yang lain dari Ketura yaitu: Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak, dan Suah (Kej. 25:2). Namun hanya Ismael dan Ishak yang ditulis di Alkitab mengenai keturunan mereka dengan penekanan kata “inilah”. “Inilah keturunan Ismael, …” (Kej. 25:12-18) dan “Inilah riwayat keturunan Ishak, …” (Kej. 25:19-34). Dengan bahasa masa kini Ismael adalah sesuatu banget!

Hari ini saudara-saudara kita umat Muslim bersukaria merayakan Idul Adha alias Hari Raya Kurban. Kita sudah sepatutnya turut bersukaria bersama-sama dengan umat Muslim. Kita ikut bersukaria untuk merayakan berkat-berkat Allah yang dilimpahkan kepada Ismael sama seperti kita juga telah menerima berkat–berkat Allah.

09 Juli 2022, Selamat Idul Adha, Sahabatku (T)

Selasa, 05 Juli 2022

Produk Bernuansa politis, undang-undang pernikahan, serial sudut pandang

Produk Bernuansa politis, undang-undang pernikahan, serial sudut pandang

Bahwa UU No. 1 Tahun 1974 itu adalah PRODUK BERNUANSA POLITIS rezim Orde Baru yang sarat dengan kepentingan politik dan tawar-menawar di antara golongan², yang kemudian diintervensi dengan pendekatan militer. Jadi secara historis, UU ini sebenarnya sangat problematis.Banyak orang meyakini Pernikahan Beda Agama (PBA) dilarang menurut UU Perkawinan. Itu sebabnya, UU a quo beberapa kali diuji di Mahkamah Konstitusi. Namun rontok semua. Para hakim bergeming.Dulu, ceritanya, ada dua kelompok yang berseteru terkait apakah areal sebuah gedung perlu digembok rapat atau dibiarkan terbuka gerbangnya; apakah UU Perkawinan cukup mencatat perkawinan --apapun agama mempelai, tidak perlu nyinyir, yang penting mencatat saja. Ataukah, negara berkewajiban memastikan mempelai sama agamanya.Kementerian Kehakiman, punya draft tersendiri. Pro Pernikahan Beda Agama (PBA). Antipoligami. Sebaliknya, Kementerian Agama (Islam) tak mau kalah. Punya draft juga. AntiPBA. Propoligami. Mereka berseteru.Dua kelompok ini berseteru puluhan tahun -- sejak Indonesia merdeka hingga tumbangnya Presiden Soekarno belum kelar juga UU Perkawinan ini.Mereka berseteru hingga akhirnya militer turun tangan pada periode awal Orde Soeharto. Hasilnya? Seperti yang kita gunakan saat ini; UU 1/74.Begitulah posisi Pernikahan Beda Agama (PBA) dalam lintasan UU Perkawinan. 
05 Juli 2022 (T)

Baca juga
https://titusroidanto.blogspot.com/2022/07/respons-terhadap-penolakan-nikah-beda.html

Respons Terhadap Penolakan Nikah Beda Agama, Serial Sudut Pandang

Respons Terhadap Penolakan Nikah Beda Agama, Serial Sudut Pandang


Sekarang sedang berlangsung sidang Judicial Review UU Perkawinan di Mahkamah Konstitusi (MK) yang diajukan oleh warga Papua, Ramos Petege. Dalam persidangan itu, pemerintah menegaskan menolak melegalkan pernikahan beda agama. Menurut laporan Detiknews, Sikap pemerintah ini diwakili oleh Menkumham dan Menag. Sikap pemerintah ini sangat disayangkan. Sikap ini tidak realistis di tengah bangsa yang multi kultural. 

UU yang Multi Tafsir
Pasal 1 UU Perkawinan No 1/1974 menyatakan secara tegas bahwa: " Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa." Artinya, perkawinan itu antara seorang pria dan seorang wanita. Oleh karena itu, perkawinan antara pria dan wanita adalah dasar membentuk keluarga. Selama yang kawin itu pria dan wanita maka perkawinan itu tidak melanggar hukum apa pun dan tidak bertentangan dengan moralitas mana pun.

Meski demikian, Pasal 2 UU Perkawinan No 1/1974 itu menjadi multi tafsir. Isinya adalah ini: "Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan
kepercayaannya itu."  Mereka yang mendukung kawin beda agama melihat pasal ini hanya berbicara tentang prosedur perkawinan agar sah secara agama. Tidak ada penolakan terhadap perkawinan beda agama. Sebaliknya, kaum yang tafsirannya menolak kawin beda agama menggunakan pasal dua ini untuk menggunakan tangan pemerintah, melalui Dukcapil, untuk menolak kawin beda agama 

Penolakan terhadap perkawinan beda agama oleh pemerintah sangat disayangkan. Jelas, pemerintah tidak realistris karena mengabaikan kenyataan keanekaragaman masyarakat Indonesia. Penolakan paling keras datang dari pimpinan agama. Penolakan itu berdasarkan pada argumen teologis agama. Penolakan itu wajar dan sah saja. Demokratis kok! 

Hanya harus dicatat. Kadang moralitas agama dan moralitas universal saling mendukung. Tetapi kadang moralitas yang didasarkan argumen teologis agama tertentu berbeda dengan moralitas universal dan berbeda juga dengan prinsip demokrasi yang menjunjung hak asasi manusia. Oleh karena itu, penolakan kawin beda agama berdasarkan tafsiran keagamaan tertentu seharusnya ada dalam ranah pastoral. Umat dibina secara persuasif untuk tidak kawin beda agama. Penolakan dari salah satu komunitas agama tidak boleh dijadikan ketetapan hukum dalam masyarakat demokratis yang beragam ini.   

Alasan Teologis Penolakan
Pertanyaannya mengapa agama menolak perkawinan beda agama? Untuk ini, saya akan menelisik tradisi Israel. Sebenarnya dalam tradisi Israel sendiri ada pro-kontra terhadap kawin beda agama. Saya akan mulai dari alasan penolakan kawin beda agama. 

Bila menelisik sejarah Israel kuno, penolakan terhadap perkawinan beda agama didasarkan atas dua alasan. Alasan pertama adalah adanya ketakutan perkawinan itu akan membuat umat Israel berpaling dari imannya kepada Tuhan. Ada kekhawatiran umat Israel yang menikah beda agama akan terpengaruh iman pasangannya, lalu menyembah ilah-ilah lain. Saat Israel kuno penolakan kawin beda agama tidak berurusan dengan ketakutan soal kuantitas yaitu turunnya jumlah penganut.

Alasan kedua, adalah kepongahan rohani dan sikap triumphalistik. Umat Israel merasa diri sebagai umat pilihan Allah yang harus dijaga kemurniannya. Umat lain dituding sebagai umat setan. Umat pilihan Allah adalah kaum beriman. Sebaliknya, umat lain kafir dan sesat. Umat Allah yang 'kasta'nya lebih tinggi haram menikah dengan umat lain yang kastanya lebih rendah. Alasan kedua ini menciptakan sikap dan mentalitas polaristik dan segregasi berdasarkan agama. Mentalitas polaristik yang eksklusif dan yang merupakan warisan kuno seperti ini sangat tidak kompatibel dengan masyarakat yang beranekaragam agama dan etnik.  

Kawin Beda Agama di Alkitab
Di dalam Kitab Suci Kristen dan Yahudi hampir tidak ada ayat suci yang menyatakan secara tegas dukungan terhadap kawin beda agama. Meski demikian, kawin beda agama dilakukan oleh tokoh-tokoh utama Alkitab. Abraham, misalnya. Setelah kematian Sarah, menikah dengan Keturah. Dalam tafsiran, Keturah adalah Hagar orang Mesir yang tentu saja beda iman. Musa menikah dengan Ziporah, orang Midian. Boas menikah dengan Ruth orang Moab. Daud menikah dengan Betsheba, orang Het. Semua tokoh penting di atas, menurut genealogi yang disusun Matius, adalah nenek moyang Yesus. Jadi, nenek moyang Yesus adalah pelaku kawin beda agama dan beda etnik. Yesus manusia universal!

Jalan Pintas
Dalam masyarakat yang multi kultural, perkawinan beda agama itu tidak mungkin dielakkan. Orang akan melakukan cara apa saja termasuk mengambil jalan pintas agar bisa menikah dengan pasangannya yang beda agama. Mereka yang menikah adalah manusia dewasa yang mampu menentukan jalan hidupnya sendiri selama tidak bertentangan dengan moralitas dan tidak merugikan siapa pun. Mereka yang secara ekonomi kuat alias orang kaya bisa kawin di luar negeri. Misalnya di Singapore, Thailand, Australia atau Amerika Serikat. 

Pasangan beda agama yang secara ekonomi pas-pasan akan menghadapi kendala yang sangat besar. Banyak yang nekad mau kawin beda agama tetapi mendapatkan hambatan lalu terjerumus melakukan 'kumpul kebo,' hidup bersama layaknya suami istri. Ada juga yang demi kawin dengan pasangannya terpaksa pindah agama. Mereka ini akan menjadi kaum munafik karena dipaksa memeluk agama yang tidak diyakininya. Ada yang pindah agama 'sementara'. Setelah kawin balik lagi ke agamanya. Agama pun jadi barang mainan.  Siapa yang mesti disalahkan untuk praktek-praktek semacam ini? Yang pasti yang salah bukan pasangan yang beda agama itu karena mereka terpaksa melakukannya. 

Penutup
Dari berbagai kasus di atas, nyatalah bahwa penolakan terhadap perkawinan beda agama sangatlah tidak realistis. Efeknya, penolakan terhadap kawin beda agama itu justru lebih banyak menghasilkan persoalan ketimbang memecahkan masalah. Dan, masalah yang paling utama adalah masih dipertahankannya mentalitas polaristik masa lalu yang tidak cocok lagi dengan kondisi bangsa kita yang sangat beragam.  

5 Juli 2022 (T)

https://titusroidanto.blogspot.com/2022/07/produk-bernuansa-politis-undang-undang.html

Selasa, 24 Mei 2022

Serial Sudut Pandang [𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗲𝗻𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗖]𝗦𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗸𝗲 𝗨𝗷𝘂𝗻𝗴 𝗕𝘂𝗺𝗶 (𝗱𝗶 𝗥𝗼𝗺𝗮

Serial Sudut Pandang [𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗲𝗻𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗖]

𝗦𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗸𝗲 𝗨𝗷𝘂𝗻𝗴 𝗕𝘂𝗺𝗶 (𝗱𝗶 𝗥𝗼𝗺𝗮)

𝘌𝘷𝘢𝘯𝘨𝘦𝘭𝘪𝘴𝘮 𝘪𝘴 𝘫𝘶𝘴𝘵 𝘰𝘯𝘦 𝘣𝘦𝘨𝘨𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘰𝘵𝘩𝘦𝘳 𝘣𝘦𝘨𝘨𝘢𝘳 𝘸𝘩𝘦𝘳𝘦 𝘵𝘰 𝘧𝘪𝘯𝘥 𝘣𝘳𝘦𝘢𝘥.” D.T. Niles

Saya sangat menaruh hormat kepada para tokoh gereja sesudah Indonesia merdeka. Mereka dapat meyakinkan pemerintah bahwa perayaan Hari Kenaikan Yesus Kristus amat penting sehingga layak dijadikan hari libur nasional. Lewat Keppres No. 24, 1953, hari ke-40 sesudah Paska ditetapkan sebagai hari libur nasional bersama dengan hari-hari raya lainnya. Gereja menetapkan Hari Raya Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret (𝘦𝘲𝘶𝘪𝘯𝘰𝘹). Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 17 April 2022. Hari Kenaikan Yesus Kristus selalu jatuh pada Kamis, 40 hari sesudah Hari Raya Paska.

Seandainya Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (KPR atau Kis.) tidak ditulis, gereja barangkali tidak akan merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Surga. Memang Injil Markus 16:19 menyebut “terangkatlah Ia ke surga”. Kalau anda memiliki Alkitab Terjemahan Baru (TB) edisi ke-2 LAI, 1997, Injil Markus berakhir pada pasal 16 ayat 8a. Dari ayat 8b sampai ayat 20 diberi tanda kurung siku, yang berarti tidak tertuliskan pada salinan yang lebih tua.

Dalam Alkitab kisah Kenaikan Kristus ada di bagian akhir Injil Lukas dan di bagian awal KPR. Menurut para ahli Perjanjian Baru (PB) kedua kitab sebenarnya satu kitab yang ditulis oleh orang yang sama. Bacaan ekumenis hari ini diambil dari KPR 1:1-11 sebagai bacaan pembuka dan Injil Lukas 24:44-53. 

Secara kronologi cerita Injil Lukas ditulis lebih dahulu. Cerita dalam bacaan hari ini merupakan rangkaian terakhir dari Kebangkitan Kristus dan penampakan diri-Nya kepada murid-murid-Nya. Kata Yesus: " 𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯-𝘒𝘶, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘶𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘬𝘯𝘪 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘯𝘢𝘣𝘪-𝘯𝘢𝘣𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘔𝘢𝘻𝘮𝘶𝘳. 𝘈𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯: 𝙈𝙚𝙨𝙞𝙖𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙞𝙩 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙜𝙖, 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪: 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘰𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢, 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮. 𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙠𝙨𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙣𝙞. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪." (ay. 44-49).

Dalam ayat 50-53 dinarasikan Yesus kemudian membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di sana Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.

Satu ciri teologi Injil Lukas adalah 𝗸𝗲𝗻𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻, dari tempat rendah ke tempat lebih tinggi. Pada bagian akhir Injil Lukas kentara ketika Yesus mengajak murid-murid-Nya keluar dari Yerusalem ke Betania lalu naik ke surga. Surga di sini dari kata οὐρανόν (baca: ouranon) yang juga berarti langit. Dalam dunia cerita Injil Lukas Betania lebih tinggi daripada Yerusalem (Luk. 19:29), sedang Yerusalem lebih tinggi daripada Nazaret (Luk. 2:42). Secara umum dalam dunia cerita Injil Lukas tempat atau wilayah pelayanan Yesus sebelum Ia menuju Yerusalem berada di posisi lebih rendah (Luk. 18:31; 19:28). Dari informasi dunia cerita ini dapat diperikan bahwa perjalanan hidup Yesus adalah perjalanan naik atau meninggi; dari Nazaret dan Galilea, naik ke Yerusalem, naik ke Betania di Bukit Zaitun, dan akhirnya naik ke surga.

Apabila kita menengok lebih ke belakang lagi Yesus lahir di palungan dan “hanya” dikunjungi oleh gembala-gembala. Yesus juga lahir di lingkungan keluarga miskin seperti terlihat jenis persembahan saat Maria ditahirkan di Yerusalem (Luk. 2:22-24). Hal itu makin nyata dari pelayanan Yesus yang berbelarasa kepada orang-orang marginal atau mereka yang disisihkan oleh masyarakat yang menganut sistem puritas. Penginjil Lukas tampaknya hendak menyampaikan bahwa orang-orang yang merendahkan diri seperti Yesus akan ditinggikan oleh Allah.

Dalam babak akhir Injil Lukas Yesus hendak menjawab keraguan murid-murid-Nya. Narator menyampaikan kepada pembaca bahwa Yesus memberkati murid-murid-Nya dan kemudian terangkat ke surga. Mereka sekarang percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh sudah bangkit dan naik ke kediaman Bapa-Nya. Mereka juga mengerti bahwa Mesias harus menderita terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kemuliaan-Nya seperti nubuatan para nabi. Yesus yang memula pelayanan-Nya dari tempat yang paling rendah sampai akhirnya tiba di tempat tertinggi. 

Terus? Jangan lupa dalam bacaan Yesus berkata, “𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙠𝙨𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙣𝙞”. Penginjil Lukas hendak menyampaikan kepada kita, sebagai pembaca masa kini, untuk menjadi saksi dari kisah teologisnya. Kesaksian yang mana? 𝗦𝗲𝗺𝘂𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗶𝗻𝗶! Menjadi saksi Kristus berarti menyaksikan semua karya pelayanan Kristus (dhi. kisah teologis Injil Lukas) dengan merefleksikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari. Orang Kristen bersaksi dengan berperangai laksana Kristus dalam berkarya, berbelarasa terhadap orang-orang marginal atau mereka yang disisihkan oleh masyarakat dengan segala alasannya. Jadi, kalau ada orang Kristen “bersaksi” bahwa ia menjadi kaya, terhindar dari kecelakaan maut, dan sejenisnya tentang kehidupan pribadinya yang didaku diberkati oleh Allah bukanlah bersaksi menurut Injil. Itu adalah cerita tentang dirinya sendiri yang doyong (𝘣𝘪𝘢𝘴𝘦𝘥) sehingga tidak bisa dijadikan ukuran untuk orang lain karena itu memang bukan maksud bersaksi menurut Injil.

Pada bagian awal KPR istilah 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 muncul dua kali (Kis. 1:3 dan 6) sehingga tampaknya menjadi tema dasar pada awal cerita. Kerajaan Allah dipandang dari matra ke-akan-an. Tema Kerajaan Allah didukung dengan rincian lain yaitu awan yang menyertai Yesus naik ke surga dan yang akan menyertai Yesus turun pada kedatangan-Nya kembali (Kis. 1:9-11). Tema Kerajaan Allah secara tersirat dikuak pada bagian akhir KPR bahwa Israel mengharapkan pemulihan Kerajaan Allah secara penuh (Kis. 28:20). Dengan begitu berita dalam KPR jika dibuat pembabakan:
• Awal: Kerajaan Allah.
• Tengah: Karya dan ajaran para rasul.
• Akhir: Kerajaan Allah.

Dalam narasi awal (Kis. 1:1-3) dikatakan bahwa Yesus selama 40 hari berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka (11 murid) tentang Kerajaan Allah. Pembaca yang sudah berprapaham kalender gerejawi jarak Hari Kebangkitan (Paska) ke Hari Kenaikan adalah 40 hari langsung memahami teks itu dengan Yesus-Paska berada di bumi selama 40 hari. Angka 40 harus dipahami simbolik sebagai waktu tercukupkan. Yesus memersiapkan diri secara tercukupkan dengan menyendiri di gurun selama 40 hari. Umat Israel dididik oleh Allah selama 40 tahun di padang gurun. Demikian juga Yesus menyiapkan murid-murid-Nya dengan waktu tercukupkan sebelum Ia naik ke surga.

Ada empat pokok pikiran berupa ramalan dalam bacaan KPR 1:1-11:
• Para murid yang kemudian disebut rasul-rasul akan dibaptis dengan Roh Kudus.
• Kerajaan Allah akan dipulihkan, tetapi tentang waktunya hanya Allah yang menentukan. 
• Para saksi akan bersaksi di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai 𝘂𝗷𝘂𝗻𝗴 𝗯𝘂𝗺𝗶.
• Yesus yang diangkat ke surga akan datang dengan cara yang sama.

Keempat ramalan itu saling berpautan. Yang pertama tergenapi pada Hari Pentakosta (Kis. 2:3-4). Yang ketiga tergenapi bersaksi sampai  ke ujung bumi, yaitu Roma. Rasul Paulus bersaksi sampai ke Roma dan narasi KPR berakhir. Yang kedua akan terjadi apabila Yesus datang kembali (ramalan keempat).

Pembaca modern tentu saja menolak Roma adalah ujung bumi. Akan tetapi dari sisi dunia cerita penulis KPR menyebut “dari Yerusalem sampai ke ujung bumi” di awal kisah mengakhiri ceritanya dengan keberhasilan Rasul Paulus mencapai ujung bumi. Dengan demikian Roma adalah ujung bumi. Apabila kita melihat kerangka cerita KPR, linimasa pengabaran Injil:
• Berawal dari Yerusalem (Kis.1:1-8:3). 
• Berlanjut ke Galilea dan Samaria (Kis. 8:4-11:18). 
• Berakhir di Roma (Kis. 11:19-28:31), ujung bumi.

Kalau kita melihat catatan Alkitab perayaan Kenaikan Kristus tidaklah penting. Untuk itulah saya menaruh hormat kepada para tokoh gereja di Indonesia seperti yang saya sebut di awal serial sudut  Pandang ini. Dalam Injil Lukas, yang ceritanya sepanjang 24 pasal, Kenaikan Kristus hanya disebut  “… dan terangkat ke surga.” (Luk. 24:51). Dalam Kisah Para Rasul, yang narasinya sepanjang 28 pasal, kenaikan Kristus hanya disebut “…terangkatlah Ia …” (Kis. 1:9). Bandingkan dengan kisah kelahiran, kematian, dan kebangkitan Kristus.

Yang penting bukanlah perayaan Kenaikan Kristus, melainkan tanggapannya. Para murid menanggapi dengan bergiat memberitakan Injil sampai ke ujung bumi dan itu berhasil. Dengan begitu pemenuhan Kerajaan Allah yang dijanjikan Kristus pasti akan terjadi. Selamat merayakan hari kenaikan Tuhan Yesus ke surga🙏🙏🙏(TUS)

Selasa, 10 Mei 2022

Type Mana Gereja Kita?

Type Mana Gereja Kita?


Relasi gereja dan politisi yang terjadi belakangan ini mendorong saya untuk mengamati model atau type pimpinan (gereja). 

Nah, dalam hubungannya dengan politisi, saya mencatat paling sedikit ada 4 type atau model pimpinan (gereja) di Indonesia.

1. Gereja yg pimpinannya
     'memperilah' politisi. Pimpinan
     gereja jadi 'pelacur' untuk
     amankan politisi saat Pilkada
2. Gereja dengan pimpinan
    bermental pengemis.
    Kerjanya minta duit dari politisi
3. Gereja apatis. Pemimpin gereja
     ini enggan berhubungan
     dengan politisi serta
     kebijakannya
4. Gereja pelayan. Pimpinannya
    berintegritas tinggi dan siap 
    Bekerjasama dengan politisi
    untuk menciptakan keadilan
    dan perdamaian, tetapi juga
    siap membela umat dan
    masyarakat yang
    mengalami ketidakadilan
    karena kebijakan politisi. 

Posisi pertama dan kedua adalah mentalitas pelacur dan pengemis sedang 'happening' belakangan ini. Dan model ini akan makin ramai saat Pilkada dan Pemilu. Gereja pun akan terpecah-belah lagi. Anggota jemaat saling gibtok-gontokan. Beberapa Sinode gereja sedang mengalami keruwetan ini. Semua karena mammon. Jadi, kita diingatkan bahwa penyebab gereja terpecah-belah bukan lagi dogma atau doktrin. Gereja masa kini terpecah dan menjadi lemah karena uang dan kekuasaan. 

Posisi ketiga atau posisi apatis diambil pimpinan gereja biasanya karena teologinya yang lebih personal, karena di wilayah perkotaan atau karena berada di daerah yang secara sosial-politik 'high risk.' 

Posisi keempat atau bermental pelayan tentu saja masih ada dan dilakukan beberapa gereja tertentu. 

Saya sendiri tidak punya otoritas menghakimi pimpinan gereja mana pun. Kita sendirilah yang dapat menilai posisi pimpinan gereja-gereja kita. 
Nah, kira-kira pimpinan dan institusi gereja anda ada di type atau di model yang mana? (TUS)

Rabu, 20 April 2022

Hari Kartini, Serial Sudut Pandang

Hari Kartini, Serial Sudut Pandang

Anda menghormati Kartini? Anda merayakan hari Kartini? Coba uji, apa yang kita tahu tentang Kartini. Apa yang kita pahami tentang emansipasi?

Kita menghormati Kartini, namun patut disayangkan bahwa kita menghormati Kartini secara keliru. Tiap tanggal 21 April kita bernyanyi lantang "Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya, pendekar kaumnya." Lalu bersoleklah kaum perempuan dengan sanggul, kain dan kebaya. Bersanggul dan berkain kebaya tentu bagus dan enak dipandang. Tetapi mengidentikkan Kartini dengan sanggul dan kain kebaya sungguh menyempitkan makna perjuangan Kartini.

Busana seperti itu justru dikecam oleh Kartini sebagai kurungan feodalisme. Tulis Kartini, "Mengapa perempuan dikekang dengan aturan harus berbusana begini begitu? Mana mungkin kita maju kalau main badminton pun harus bersanggul dan berkain kebaya?" Secara sinis ia menyebut "Perempuan cantik bersuntingkan kembang cempaka layu pada kondenya." Dalam bukunya berjudul Een Vergeten Uitboekje Kartini menulis simbolisme sarkastis, "ayolah nona ayu, jangan nampak begitu sayu, mentari secumil itu takkan mengubah warna kulitmu... Apa pula gunanya payung kecil genit yang kau bawa bawa itu?".

Kartini berobsesi memajukan perempuan bukan melalui busana dan upacara. Sama sekali bukan! Obsesi Kartini adalah memajukan kaum perempuan dengan buku, yaitu agar anak perempuan suka membaca buku! Kartini melihat teman-teman Belandanya di Jepara maju dan pandai karena banyak membaca. Oleh karena itu ia ingin agar para perempuan Indonesia juga suka dan banyak membaca. Kartini sendiri melahap ribuan novel dan esei di perpustakaan Jepara. Baik karya pengarang Belanda maupun karya pengarang Eropa lainnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Buku favoritnya adalah De Kleine Johannes, Moderne Maagden, De Wapens Neergelegd, Hilda van Suylenburg, De Vrow en Sociaalisme, dan Max Havelaar.

Bagaimana cara Kartini meningkatkan minat baca kaum perempuan Indonesia? Kartini melakukannya dengan cara menulis sebanyak-banyaknya. Dalam hidupnya sesingkat 25 tahun ia menulis ratusan novel, reportase, puisi, esei, nota, dan surat. Semuanya dalam bahasa Belanda yang sempurna.
Sungguh ironis bahwa kita mengaku menghormati Kartini namun tidak mengenal buku-bukunya. Yang kita kenal hanyalah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Tapi itu pun hanya sebatas judulnya. Cobalah jujur bertanya, pernahkah kita membaca buku itu?

Habis Gelap Terbitlah Terang, sebenarnya memuat hanya sebagian dari buku aslinya yang berjudul Door Duisternis tot Licht yang terbit tahun 1911, tujuh tahun setelah kematian Kartini. Isinya adalah 105 pucuk surat yang diedit dari ratusan surat pribadi kepada teman-temannya. Buku ini cepat meluas di Belanda karena simpati masyarakat pada cita-cita Kartini. Penyebaran buku ini dibiayai oleh banyak Gereja, yayasan, dan juga sumbangan dari ratu kerajaan. Hasil penjualan itu dipergunakan untuk membangun sekolah-sekolah Kartini di Indonesia? Buku ini pun diterbitkan di Amerika, Rusia, Spanyol, dan Tiongkok. Judul "Habis Gelap Terbitlah Terang" dipetik dari lagu Gereja Belanda "Daar is uit's werelds duistere wolken een licht der lichten opgegaan" (ZB 593).

Kartini adalah pendekar, pejuang emansipasi. Tapi ia bukan pendekar busana, melainkan pendekar sastra. Perjuangannya bukanlah agar perempuan suka berkain kebaya, melainkan suka membaca. Hari Kartini bukanlah hari perempuan atau hari yang khusus dirayakan oleh perempuan. Spirit R.A. Kartini adalah spirit BERPIKIR KRITIS DAN TERBUKA terhadap segala hal yang normatif dalam kehidupan. Jadi, Hari Kartini adalah hari yang dirayakan oleh semua orang yang mau berpikir kritis dan open-minded atas segala normativitas — baik perempuan maupun laki-laki. SELAMAT HARI KARTINI. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻😁😄😆 (TUS)

Selasa, 19 April 2022

MUSUH KITA…???, Serial Sudut Pandangq

MUSUH KITA…???, Serial Sudut Pandang

Ade Armando mengatakan : 
Musuh umat Islam adalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan kekerasan. Apa bener begitu?
Ade bicara kepada umat Islam. Sesama agamanya.
Lha akuh bukan muslim. Jadi akuh nggak bisa bicara ke muslim dong, itu lancang namanya, nanti dianggap menista agama......ih...ngeri-ngeri sedap, bisa dibegal di jalan akuh. Maka, akuh memakai pendapat Ade Armando ini untuk bicara ke SEMUA SAHABATKU, apapun agamanya :
Musuh semua AGAMA MAYORITAS, di NEGARA MANAPUN adalah :
kemiskinan, 
kebodohan, 
keterbelakangan 
dan kekerasan. Setuju? Makanya, akuh buwat blog tulisan dengan tema besarnya BERAGAMA HARUS BERAKAL SEHAT, soalnya ya.....apapun agamanya kalo gak bisa pake akal sehat hanya menghasilkan penghakiman, kekerasan dan kebodohan. Nah, bagi umat kristiani tentunya dan sudah seharusnya lah, jadi lebih paham kenapa Yesus Tuhan disalib kalo begitu, paham gak?
Jadi, apapun agamanya… Tapi kalau miskin dan bodoh, bahkan tak bisa berakal sehat maka potensinya besar sekali untuk mengalami keterbelakangan dan melakukan kekerasan.
Mari kita lihat datanya :

Coba cek Venezuela. 
Cek : 71% populasi, beragama Katolik.
Cek : tingkat kriminalitasnya, ranking 1 di dunia dengan tingkat kriminalitas 83,76 per 100.000 penduduk (artinya ada 84 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk)
Cek : ranking ekonomi, 133 dari 141 negara (termasuk 10 negara TERMISKIN di dunia)

Coba cek Afganistan.
Cek : 99,7% populasi, beragama Islam
Cek : tingkat kriminalitasnya, ranking 4 di dunia dengan tingkat kriminalitas 76,31 per 100.000 penduduk (artinya ada 76 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk)
Cek : ranking ekonomi Afgan, bahkan nggak tercatat, mungkin saking kacaunya negara itu. 
 
Coba cek India.
Cek : 79,8% populasi, beragama Hindu.
Cek : tingkat kriminalitasnya, ranking 71 di dunia dengan tingkat kriminalitas 44,43 per 100.000 penduduk (artinya ada 44 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk)
Cek : ranking ekonomi, 68 dari 141 negara

Itu.. contoh negara-negara pra sejahtera semua…
Problemnya sama : kebodohan, kekerasan dan kriminalitas
Padahal agamanya beda-beda.
Artinya apa?
Ternyata agama apapun tidak bisa memberikan pengaruh baik kalau rakyatnya nggak sejahtera dan belajar berakal sehat.
Maka, apapun agamanya, kualitas manusianya tetap sama : cenderung kriminal. 
Sekarang kita cek negara yang sebaliknya : kaya alias sejahtera.
Coba cek Luxembourg 
Cek : 63,8 % populasi, beragama Katolik.
Cek : tingkat kriminalitasnya, ranking 40 di dunia, dengan tingkat kriminalitas 34.13 per 100.000 penduduk (artinya ada 34 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk)
Cek : ranking ekonomi, 1 dari 141 negara
Coba cek Qatar
Cek : 79,8% populasi, beragama Islam.
Cek : merupakan negara paling aman di dunia, dengan tingkat kriminalitas hanya 12,13 per 100.000 penduduk (artinya ada 12 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk)
Cek : ranking ekonomi, 3 dari 141 negara
Coba cek Jepang 
Cek : 94% populasi, beragama Shinto dan Buddhist (perbandingannya hampir sama : 48% Shinto, 46% Buddhist).
Cek : merupakan negara paling aman ke 8 di dunia, dengan tingkat kriminalitas hanya 22,19 per 100.000 penduduk (artinya ada 22 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk).
Cek : ranking ekonomi, 31 dari 141 negara
Nah… yuk kita simpulkan sendiri…
Bahwa masalah semua negara BUKANLAH kekurangan moralitas, juga BUKAN karena tidak beragama….tapi apa? Tidak berakal sehat.
Tapi kurang sejahtera..!!!
Jadi, STOP berlomba-lomba berpenampilan paling religius, tapi memaki-maki dengan kata kasar di medsos, menyebar hoax dan menyulut kebencian. 
STOP kotbah soal surga dan sedekah, padahal malak dan menipu.
STOP mengkampanyekan nikah muda, sebelum calon pasangan siap secara mental, emosional dan finansial.
STOP!!! 
Stop apapun tindakan dan perbuatan yang tidak membawa manfaat bagi dirimu, keluargamu, dan sekitarmu.
Nggak usah mimpi bisa berguna bagi agama dan negara, kalau mengelola emosi dan pikiran negatif diri sendiri saja belum becus…! 
Beresin diri sendiri dulu…
Setelah itu, BERLOMBA-LOMBALAH mensejahterakan diri lantas membantu sesama. 
Lantas memelihara kedamaian.
Lantas menghindari perbuatan fitnah dan hoax.
Mau tahu posisi Indonesia ada di mana?
86,7 % populasi, beragama Islam.
Indonesia adalah negara dengan keamanan di ranking ke 65 di dunia dengan tingkat kriminalitas 45,93 (artinya ada 46 peristiwa yang terjadi di antara 100.000 penduduk)
Indonesia BUKANLAH negara miskin, karena ranking ekonominya adalah : 50 dari 141 negara. Lumayan lho ini, masuk di 1/3 negara makmur. 
Tapi kenapa masih kasar-kasar dan barbar?
Jangan-jangan ini karena : kurang didikan. 
Jadi, PRnya siapa kalau urusan pendidikan ini?
Ya PR :
- ortu
- guru sekolah
- guru agama/pemuka agama
Karena 3 unsur itulah yang TERKAIT LANGSUNG dengan urusan didik-mendidik kan?  

Sumber : secangkir kopi di pagi hari

Jumat, 15 April 2022

Memaknai Sabtu Suci/Sunyi? Serial Sudut Pandang, Serial Paska

Memaknai Sabtu Suci/Sunyi? Serial Sudut Pandang, Serial Paska

Sabtu Suci/ Sunyi sendiri kerap dimaknai sebagai Perayaan Malam Paskah. Malam Paskah adalah malam suci kebangkitan Tuhan, yang juga merupakan puncak dari rangkaian Tri Hari Suci.

Sabtu Suci mewakili waktu yang kita habiskan untuk menantikan Tuhan dan “memindahkan” kita dari kesedihan pada Jumat Agung ke kebahagiaan pada Minggu Paskah.

Kita dapat merenunginya sambil tercenung:
1. Yesus tidak tergantung di salib dalam waktu lama seperti yang umumnya terjadi pada orang-orang yang disalibkan prajurit Romawi. Dia cepat-cepat diturunkan dari salib setelah menyerahkan nyawaNya, dan langsung dikuburkan. TubuhNya tetap berbentuk mayat sampai Minggu pagi (Markus 16:9).

2. Walaupun tubuh Yesus tetap berada di dalam kubur sampai Minggu Paskah, rohNya tidak berada di situ. Beberapa waktu setelah tubuhNya dibungkus kain linen, diberi minyak dan rempah-rempah, dan kuburNya ditutup dengan pintu batu, roh Yesus bangun dan meninggalkan tubuhNya (Yohanes 19:39; Yohanes 20:6-9).

3. Kemana Yesus pergi dan apa yang dilakukanNya diantara Jumat Agung dan Minggu Paskah? Dia tidak berada di bumi, tetapi berada bersama dengan orang-orang di neraka, dengan orang-orang yang telah menolak rencana Penyelamatan Tuhan.
Dia ada disana untuk mengajarkan Injil, memberitahu siapa Dia sebenarnya, dan tetap bekerja untuk Kerajaan Allah. Untuk mengetahui lebih jelas tentang hal ini, silakan baca Efesus 4:7-9, Roma 4:11, Mazmur 139:7-8, dan Matius 12:38-40.

4. Mengapa Yesus melakukan hal tersebut, padahal orang-orang itu sudah lenyap? Mungkin karena orang-orang tersebut juga berhak untuk mengetahui siapa Yesus sebenarnya dan apa yang tidak bisa mereka dapatkan karena mereka tidak bertobat dan tidak mau percaya.

Alkitab menyatakan bahwa, “Setiap lutut akan berlutut, dan setiap lidah akan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan” (Roma 14:11). Sepertinya hal ini juga berlaku bagi orang-orang yang sudah mati.

Makna Sabtu Suci/Sunyi, dalam sejarahnya sampai sekarang bisa dimaknai sebagai berikut:
1. Poin yang terpenting adalah Yesus tetap bekerja pada Sabtu Suci/Sunyi; Jumat Agung sudah terlewati, Minggu Paskah sedang dinantikan, dan Yesus bekerja di antara kedua hari tersebut. Dan inilah yang dilakukanNya dalam hidup kita; bekerja, dan selalu bekerja untuk kita.

2. Saat kita menemui kesulitan atau cobaan, kita bisa saja berpikir dari waktu ke waktu bahwa Tuhan telah meninggalkan kita atau Tuhan tidak mau menolong kita lagi. Tetapi kita harus terus berdoa agar Tuhan menyertai dan menguatkan kita dalam setiap cobaan yang kita alami.

3. Ketika Sabtu Suci datang pada masa Prapaskah tahun ini, kita bisa menggunakan sebagian waktu di hari tersebut untuk merenung, bersyukur kepadaNya untuk pekerjaan yang telah dilakukanNya untuk kita;

hasilnya (perubahan dalam hidup kita) mungkin belum dapat kita lihat dan nikmati sekarang, tetapi hasil tersebut sedang disempurnakan sementara kita menunggu (Mazmur 121:1-3).

4. Selain itu, selama kita menunggu hasil yang sempurna tersebut, kita seharusnya tetap bekerja dan tidak berpangku tangan, sama seperti Yesus yang tetap bekerja untuk kita. Kita tidak boleh menyerah begitu saja pada cobaan yang terjadi.

Demikian penjelasan singkat tentang makna Sabtu Suci bagi umat Kristiani, semoga dapat menambah wawasan kita tentang Tri hari Suci Paskah yang selalu dirayakan setiap tahun (TUS)

PESACH SAMEACH, bukan 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗹𝘆𝗻 𝗠𝗼𝗻𝗿𝗼𝗲, serial sudut pandang

PESACH SAMEACH, bukan 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗹𝘆𝗻 𝗠𝗼𝗻𝗿𝗼𝗲, serial sudut pandang

Sesudah melewati tiga hari secara berendeng secara khidmat oleh umat Kristen dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi, umat bersukacita. Masa berduka usai. Pemimpin ibadah berseru “𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪!”, yang artinya Kristus bangkit. Umat menjawab “𝘈𝘭𝘪𝘵𝘩𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪 . 𝘈𝘭𝘭𝘦𝘭𝘶𝘪𝘢!” (Benar Ia bangkit. Puji Tuhan!). Trihari Suci atau 𝘵𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui Paska, hari kebangkitan Kristus.

Persiapan Paska dimula pada Sabtu sesudah matahari terbenam. Gereja memelihara tradisi hari baru sesudah matahari terbenam. Sabtu Malam dalam tradisi gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu. Ibadah Sabtu Malam disebut Vigili Paska (𝘌𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭 atau 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menantikan dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharapkan pagi (Mzm. 130:6). Ada empat bagian liturgi dalam kebaktian atau misa Vigili Paska: Ritus Cahaya, Liturgi Sabda, Liturgi Baptis, dan Liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus.

Hari Paska secara tradisi dimeriahkan dengan makan telur. Ada dua kisah yang melatarinya. Pertama, telur merupakan makanan penting yang dipantangkan pada masa Pra-Paska. Kedua, telur adalah simbol kehidupan baru. Di belahan bumi bagian utara perayaan Paska sangat berdekatan dengan awal musim semi, mula musim tanam. Makan telur diadopsi dari festival musim semi.

Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar dan lebih penting daripada hari Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 𝘆𝗮𝗶𝘁𝘂 𝗸𝗲𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝘁𝗮𝗻 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa Paska yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. 

Orang Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus, yang menurut kesaksian Alkitab pada hari pertama (dalam pekan yang baru). Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan permulaan Masa Raya Paska atau yang dikenal dengan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? 

Gereja menetapkan Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret (𝘦𝘲𝘶𝘪𝘯𝘰𝘹). Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Tradisi Gereja Barat mengikuti kalender Gregorian. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 17 April, Paska 2023 pada 9 April, Paska 2024 pada 31 Maret, dst. Tradisi Gereja Timur mengikuti  kalender Julian. Paska tahun ini jatuh pada 24 April, Paska 2023 pada 16 April, Paska  2024 pada 5 Mei, dst.

Penjelasan tentang Yesus yang bangkit atau Yesus-Paska.

Bacaan ekumenis Minggu Paska diambil dari Injil Yohanes 20:1-18 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 10:34-43, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan 1Korintus 15:19-26. Untuk praktis penulisan dalam edisi Paska ini saya menyebut Yesus yang bangkit atau tubuh kebangkitan Yesus sebagai 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀-𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮.

Dikisahkan dalam Injil Yohanes 20:1-18 pada Minggu buta Maria Magdalena (MM) pergi ke kubur Yesus dan ia melihat batu penutup kubur Yesus sudah tidak ada. MM kemudian berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka bahwa jenazah Yesus sudah tidak ada. Simon Petrus dan murid yang lain itu bergegas ke kubur Yesus. Petrus masuk ke kubur Yesus dan hanya melihat kain kafan sudah tergeletak di tanah, sedang kain peluh agak di samping di tempat lain sudah tergulung. Murid yang lain menyusul masuk, melihat, dan percaya. Sesudah itu keduanya pulang.

MM (bukan Marilyn Monroe) tetap berada di dalam kubur dan menangis. Dua malaikat berpakaian putih menyapa MM (Bukan Marilyn Monroe), "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab MM kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian MM menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada MM, "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" MM menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya, "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." 

Kata Yesus kepadanya: "Maria!" MM berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepada MM, "Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." MM pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan MM menceritakan hal-hal yang disampaikan oleh Yesus. [Bacaan berakhir di sini]

Siapakah MM? Keempat Injil menyebut nama MM (bukan Marilyn Monroe). Pakar PB menduga keras tokoh cerita MM ada di dunia nyata. Bukan sekadar sosok yang ada di dunia nyata, tetapi juga tokoh yang diperhitungkan. Dia bukan sekadar “Maria” pada umumnya, tetapi “Maria Magdalena”  dengan nama belakang merujuk daerah asalnya, Magdala atau Migdal. Ada kekhususan nama MM di keempat Injil. Bandingkan dengan tokoh cerita Zakheus yang khas Injil Lukas. Meskipun disebut oleh keempat Injil, tokoh MM, selain ada persamaan, ada perbedaan pemerian. 

Persamaan. Injil Markus dan Yohanes menampilkan MM pada akhir cerita Injil, menjadi saksi penyaliban Yesus. Injil Matius dan Yohanes menyebut MM memegang/menyentuh Yesus-Paska.

Perbedaan. Injil Lukas menyebut MM perempuan yang disembuhkan dari roh-roh jahat, sedang Injil Yohanes MM perempuan baik-baik. Injil Yohanes menyebut MM sendirian ke kubur Yesus, sedang Injil Markus menyebut MM bersama dengan Maria, ibu Yakobus, dan Salome. Injil Matius menyebut Yesus-Paska berjumpa dengan MM dan Maria yang lain, sedang Injil Yohanes menyebut MM sendirian berjumpa dengan Yesus-Paska.

Sekarang kita membahas MM menurut versi Injil Yohanes karena bacaan kita pada Minggu Paska Ini dari Injil Yohanes. Berdasarkan sapaan MM kepada Yesus  dengan “Rabuni” (Guru), MM adalah murid Yesus (Yoh. 20:16). Yesus menyapa dengan “Maria” (Yoh. 20:16). Sebagai Gembala yang Baik, Yesus mengenal semua nama domba-Nya, termasuk domba-Nya yang bernama “Maria” (Yoh. 10:3). Sebagai domba-Nya, Maria juga mengenal suara Gembalanya (Yoh. 10:3-4). Bagi MM Yesus bukan lagi sekadar “Rabuni”, melainkan “Tuhan” (Yoh. 20:18). Apabila iman Kristen diawali oleh kebangkitan Yesus dan kesaksian atas penampakan-Nya, maka MM dapat dianggap sebagai pendiri kekristenan. Setidaknya satu di antaranya.

Penulis Injil penulis Yohanes tampaknya hendak menyampaikan paradoks. Tubuh Yesus sebelum kebangkitan dan Yesus-Paska adalah sama sekaligus berbeda. Yesus-Paska seakan-akan sama seperti tubuh biasa yang bisa disentuh atau dipegang (Yoh. 20:17), bahkan tubuh yang masih berbekas luka (Yoh. 20:20, 27). Akan tetapi tubuh Yesus-Paska juga tampaknya berbeda dari tubuh biasa sehingga MM tidak langsung mengenali Yesus dan Yesus bisa muncul tiba-tiba di dalam ruangan yang tertutup (Yoh. 20:14,19,26). 

Pengarang Injil Yohanes sepertinya menolak kepemimpinan Petrus di jemaat awal. Sila baca dengan cermat bahwa Injil Yohanes pada mulanya berakhir pada pasal 20 ayat 30-31. Bersama dengan murid “misterius” yang disebut sebagai “murid yg dikasihi Yesus” Petrus memang ikut masuk ke dalam kubur Yesus (Yoh. 20:6). Namun hanya “murid yang dikasihi Yesus” yang disebut “percaya” (Yoh. 20:8). Apa dan bagaimana reaksi Petrus? Tidak ada kisahnya (Yoh. 20:6-7). Saksi pertama dari penampakan Yesus bukan Petrus, melainkan MM. Murid Yesus yang terakhir disebutkan namanya adalah Tomas, bukan Petrus (Yoh. 20:24-29).

Dalam kisah kebangkitan Yesus ini dikatakan bahwa MM memegang terus Yesus-Paska. Ada penafsir yang mengartikannya sebagai sikap egois MM yang memiliki hubungan dekat dengan Yesus sehingga MM sangat kehilangan ketika Yesus mati. Ketika bertemu dengan Yesus-Paska, MM tidak mau melepaskan Yesus lagi. Begitukah?

Saya memilih metode tafsir kritik naratif. Kisah teologis pada dasarnya adalah refleksi iman si penulis terhadap Yesus, tokoh utama kisahnya. Hanya Yesus tokoh cerita yang penting. Tokoh-tokoh lain tidaklah begitu penting sehingga dapat dihadirkan dan dilenyapkan begitu saja dari dunia cerita. Karakter tokoh-tokoh di Injil datar atau 𝘧𝘭𝘢𝘵. Tidak kompleks. Kalau marah ya marah. Kalau malu ya malu. Tidak ada malu-malu kucing.

Kekhasan Injil Yohanes adalah ucapan-ucapan Yesus yang panjang seperti renungan. Pertanyaan atau tanggapan lawan bicara hanya untuk membuka jalan bagi penulis Injil untuk menulis Yesus menyampaikan ucapan-ucapannya. Contoh, perjumpaan Nikodemus dan Yesus dalam Injil Yohanes 3:1-21. Sesudah Nikodemus bertanya pada ayat 9, ia dihilangkan begitu saja. Contoh lainnya perikop “Roti Hidup” (Yoh. 6:25-59). Lawan bicara Yesus hanya berbicara di ayat 25, 28, 30-31, 34, 42, 52, sedang Yesus berbicara panjang-lebar menanggapi lawan bicaranya.

Demikian halnya dengan MM. Dalam teks sebenarnya tidak ada adegan MM memegang Yesus-Paska. MM memegang Yesus-Paska hanyalah imajinasi pembaca karena ada di ucapan Yesus. Cara itu merupakan teknik bercerita agar tokoh utama mendapat kesempatan untuk mengatakan tentang kenaikan Yesus-Paska, tentang Yesus yang akan pergi kepada Bapa, dan perintah kepada MM untuk disampaikan kepada saudara-saudara Yesus. Kata Yesus kepada MM, "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴, 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙗 𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙣𝙖𝙞𝙠 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘽𝙖𝙥𝙖, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘼𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘽𝙖𝙥𝙖-𝙆𝙪 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶." (Yoh. 20:17, TB2 LAI, 1997). (TUS)

Rabu, 13 April 2022

TRIDUUM SACRUM, TRI HARI SUCI, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Paska

TRIDUUM SACRUM, TRI HARI SUCI, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Paska

𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵,  Minggu Palem dan Minggu Sengsara umat Kristen memasuki Pekan Suci (𝘏𝘦𝘣𝘥𝘰𝘮𝘢𝘴 𝘔𝘢𝘪𝘰𝘳 atau 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘞𝘦𝘦𝘬). Ada tiga hari secara berendeng yang dirayakan secara khidmat oleh umat Kristen, yaitu 𝘵𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮. Secara populer 𝘵𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 diindonesiakan sebagai Trihari Suci. Sangat dipahami penamaan Trihari Suci agar sejalan dengan penamaan Pekan Suci.
Trihari Suci hendak menyampaikan narasi satu-drama tiga-aksi yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Trihari Suci merupakan tiga hari “utama“ sekitar sengsara, kematian, dan pemakaman Yesus. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi.

𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵 (𝙈𝙖𝙪𝙣𝙙𝙮 𝙏𝙝𝙪𝙧𝙨𝙙𝙖𝙮)
Kamis Putih adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Mengapa 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 diindonesiakan menjadi putih? 
𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 berakar kata Latin 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 𝘯𝘰𝘷𝘶𝘮 atau perintah baru, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya “Aku memberi suatu teladan kepadamu …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yoh. 13:34).
Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah.
Kembali lagi ke pertanyaaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan Pemindahan Peralatan Sakramen. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutup kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. Penyelubungan dengan kain putih itu adalah simbol bahwa gereja tidak lagi melayankan sakramen sampai Sabtu Sunyi. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Gereja memula melayankan sakramen lagi pada Minggu Paska.
Yang menjadi dagelan ada gereja ikut-ikutan merayakan Kamis Putih, tetapi pada Jumat Agung melayankan Perjamuan Kudus. Merayakan Kamis Putih, tetapi tidak mengetahui makna dan pesan pastoral Kamis Putih.

𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 (𝙂𝙤𝙤𝙙 𝙁𝙧𝙞𝙙𝙖𝙮), Pengindonesiaan Jumat Agung erat pautannya dengan perayaan. Jumat Agung adalah hari kematian Yesus. Lha kok dirayakan? Pertanyaan itu lumrah terangkat karena cerapan orang Indonesia pada kata merayakan dan perayaan adalah berpesta, kegiatan hingar-bingar penuh sukacita dan tidak lengkap apabila tanpa makan bersama.
Dalam liturgi ada dua macam ibadah: selebrasi dan aksi. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian Minggu. Ibadah aksi adalah praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “Pergilah, … “
Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja merayakan berarti memuliakan, mengagungkan. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari pertama (Minggu). Merayakan Jumat Agung berarti memuliakan, mengagungkan salib. Mengapa memuliakan salib?
Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan penulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Penulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. Salib adalah simbol kemuliaan “… 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh penulis Injil Yohanes, “Sudah selesai!” Perayaan Jumat Agung merujuk teologi Injil Yohanes: 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻 atau 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯. Bacaan ekumenis selalu mengambil dari Injil Yohanes 18 – 19.
Pada Jumat Agung Gereja tidak melayankan sakramen. Tidak ada Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Ekaristi dari kata 𝘦𝘶𝘤𝘩𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘢 yang berarti pengucapan syukur. “Tidaklah pantas kita berpesta pada hari Sang Mempelai laki-laki diambil dari kita,” kata Tertulianus yang sejalan dengan Matius 9:14-15. Muatan teologis Ekaristi atau Perjamuan Kudus adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢). Kata Rasul Paulus, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan (Yesus) sampai Ia datang.” Pada Jumat Agung Yesus belum bangkit.
Umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci  dan agung Yesus yang telah diserahkan, ditiadakan, dilenyapkan, dipermalukan melalui hukuman mati pada salib untuk pembebasan orang lain. 𝘝𝘪𝘤𝘢𝘳𝘪𝘰𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘧𝘧𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini. 

𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶 (𝙃𝙤𝙡𝙮 𝙎𝙖𝙩𝙪𝙧𝙙𝙖𝙮)
Seperti pengindonesiaannya dari 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘥𝘢𝘺 menjadi Sabtu Sunyi sesudah Jumat Agung Gereja memelihara keheningan. Tidak ada liturgi pada Sabtu Sunyi. Tidak ada ibadah pada Sabtu Sunyi. Mengapa?
Ibadah Kristen berpusat pada Kristus. Pada Sabtu Sunyi Yesus berada dalam keheningan dan kesendirian di dalam kubur. Menjadi aneh ibadah Kristen tanpa dihadiri oleh Kristus. Gereja memelihara keheningan agar umat terus merenungkan kesengsaraan Yesus secara agung.
Ada tradisi umat berhimpun pada Sabtu Sunyi, namun bukan untuk beribadah selebrasi yang dipimpin oleh pemimpin ibadah. Untuk menambah kekhidmatan umat membaca Kitab Suci. Pembacaan yang dianjurkan dalam daftar bacaan ekumenis (RCL) adalah Ayub 14:1-14 yang kemudian disambut dengan Mazmur 31:1-4, 15-16 secara responsoria. Pembacaan dari Perjanjian Lama disusul dengan pembacaan Surat Rasuli dari 1Petrus 4:1-8 dan akhirnya pembacaan Injil dari Yohanes 19:38-42.
Dengan penerbitan Titik Pandang ini pastilah akan tersembul pertanyaan: “Bukankah Yesus sudah bangkit, terangkat ke surga, dan akan kembali lagi? Jadi, Perjamuan Kudus bisa kapan saja.” 
Pertanyaan tersebut di atas sangat logis. Berhubung sangat logis,maka konsekuensi logisnya orang itu tidak memerlukan lagi hari-hari raya liturgi dan kebaktian Minggu. Ia bisa kapan saja melakukan kebaktian. Ia bisa kapan saja merayakan Hari Natal (tak perlu 25 Desember), merayakan Jumat Agung (tak perlu Jumat), merayakan Paska (tak perlu Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 𝘦𝘲𝘶𝘪𝘯𝘰𝘹 Maret), merayakan Pentakosta (tak perlu menanti 50 hari sesudah Paska), dlsb.
Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (𝘵𝘰 𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘦𝘦𝘳) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. 

Jumat, 08 April 2022

𝗣𝗮𝗿𝗼𝘂𝘀𝗶𝗮: 𝗠𝗮𝘀𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵, Serial Sudut Pandang


𝗣𝗮𝗿𝗼𝘂𝘀𝗶𝗮: 𝗠𝗮𝘀𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵, Serial Sudut Pandang

Bacaan ekumenis RCL (𝘙𝘦𝘷𝘪𝘴𝘦𝘥 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘰𝘯 𝘓𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘺) dibuat untuk siklus tiga tahun liturgi bukanlah tanpa alasan edukatif. Tahun A disebut juga Tahun Matius karena bacaan Injil diambil dari Injil Matius; Tahun B disebut Tahun Markus; Tahun C disebut Tahun Lukas. Injil Yohanes disisipkan di Minggu-Minggu atau hari raya tertentu dalam Tahun A, B, dan C.

Dari sana Gereja hendak mengajar umat bahwa sedikitnya ada tiga sudut pandang tentang Yesus. Untuk itulah saat berhomili pendeta harus fokus pada bacaan hari itu. Membandingkan dengan bacaan di luar bacaan hari itu boleh-boleh saja, namun kalau sampai mencampuraduk pandangan penulis Injil lain justru menciptakan Kitab Injil baru.

Minggu ini adalah Minggu VI masa Pra-Paska. Ada dua peristiwa yang beririsan dalam Minggu ini, yaitu Minggu Palma (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯). Secara tradisi ibadah gereja dimarakkan dengan setangkai daun palem di tangan umat. Kemarakan ibadah Minggu Palma tahun ini tampaknya tak seramai tahun-tahun sebelum pandemi. Tahun ini masih banyak Gereja yang belum melayankan ibadah secara full house.

Bacaan Alkitab secara ekumenis pada Minggu Palma diambil dari Injil Lukas 19:28-40 yang didahului dengan Mazmur 118:1-2, 19-29 dan Minggu Sengsara diambil dari Injil Lukas 22:14 - 23:56 yang didahului dengan Yesaya 50:4-9a, Mazmur 31:9-16, dan Filipi 2:5-11.

Saya pernah mengatakan bahwa  penulis Injil Lukas mengusung teologi kenaikan dan Yesus menjadi Mesias sesudah melewati penderitaan-Nya. Secara umum Injil Lukas dapat dibagi ke dalam enam babak: 
1. Pasal 1:1-4 – Kata pengantar
2. Pasal 1:5-2:52 – Pendahuluan ganda: kelahiran Yohanes Pembaptis dan kelahiran Yesus
3. Pasal 3:1-4:13 – Persiapan karya Yesus
4. Pasal 4:14-9:50 – Karya Yesus di Galilea
5. Pasal 9:51-19:28 – Perjalanan Yesus ke Yerusalem
6. Pasal 19:29-24:53 – Yesus di Yerusalem: pengajaran, kematian, kebangkitan, dan penampakan Yesus.

Lukas 19:28-40 merupakan awal dari babak terakhir cerita Injil “Yesus di Yerusalem”. Sesudah perjalanan “panjang” dari Lukas 9:51, Yesus akhirnya tiba di kota tujuan. Kota Yerusalem menjadi tempat terakhir sebelum Yesus diangkat ke surga. “Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk. 9:51).

Bacaan Minggu ini diawali dengan “setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem” (Luk. 19:28). Apakah "semuanya itu"? Kalau dari teks yang dimaksud adalah “Perumpamaan tentang uang mina” dalam Lukas 19:11-27. Penginjil Lukas diduga memberi “kerangka tafsir” sebagai “prapaham” untuk memahami cerita dalam perikop Lukas 19:28-44 yang diberi judul oleh LAI “Yesus dielu-elukan di Yerusalem”. 

Prapaham itu:
1. Kerajaan Allah belum akan datang secara penuh (ultim; Luk. 19:11), walaupun Yesus sudah disebut sebagai “raja” oleh para murid-Nya.
2. Yesus memang sudah disebut sebagai “raja” ketika Ia memasuki Yerusalem (Luk. 19:38). Namun penobatan yang sesungguhnya baru akan terjadi sesudah Ia menjalani penderitaan-Nya, yaitu ketika Ia diangkat ke surga (Luk. 19:12).
3. Para murid yang menyebut Yesus sebagai raja (Luk. 19:37) adalah mereka yang bersikap sebagai hamba yang melaksanakan tugasnya dalam menggunakan modal dagang (uang mina) yang diberikan tuannya, yaitu hamba pertama dan hamba kedua.
4. Orang Farisi yang menolak Yesus sebagai raja (Luk. 19:39) adalah “orang-orang sebangsanya yang menolak si Tuan sebagai raja” (Luk. 19:14) dan juga hamba yang tidak melaksanakan tugasnya, yaitu hamba ketiga.

Dalam cerita versi Injil Lukas tokoh cerita yang menyambut Yesus adalah “semua murid yang mengiringi Dia” dan yang telah melihat segala mukjizat Yesus (Luk. 19:37). Mereka berbeda dari orang-orang yang berteriak “Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!” (Luk. 23:21). Orang-orang yang berteriak begitu adalah “imam-imam kepala, pemimpin-pemimpin, dan rakyat” (Luk. 23:13).

Jadi, jika ada pengkhotbah Minggu ini menggunakan Lukas 19:28-44, lalu berkata bahwa mereka yang mengelu-elukan Yesus itu akan berubah seketika dan meneriakkan “Salibkanlah Dia!” adalah salah. Pengkhotbah harus berpumpun pada teks Injil Lukas sesuai dengan RCL, bukan membuat Kitab Injil baru.

Dalam perikop Lukas 19:28-44 penginjil Lukas tampaknya hendak menekankan topik Yesus sebagai raja. Tafsiran ini didukung oleh tiga hal. Pertama, perumpamaan uang mina di perikop sebelumnya (Luk. 19:12). Kedua, pengarang Injil Lukas menambahkan kata “raja” pada kutipan Mazmur 118:26 di Lukas 19:38. Ketiga, keledai yang ditumpangi Yesus tampaknya merujuk keledai dari raja mesianik yang dinubuatkan di Zakharia 9:9.
 
Pertanyaan selanjutnya: “raja” seperti apakah yang dibayangkan pengarang Injil Lukas?

Pertama, Lukas tidak menolak pendapat bahwa Yesus adalah raja keturunan Daud (Luk. 1:27, 32-33; 2:4). Akan tetapi Yesus bukan sekadar “raja Yahudi” atau raja bagi orang Yahudi. Yesus adalah anak Adam dan anak Allah (Luk. 3:38). Itu berarti Yesus adalah raja atas semua umat manusia (Luk. 22:29-30). Yesus dimuliakan Allah sebagai Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36; Kisah Para Rasul sering disebut Injil Lukas jilid ke-2 karena ditulis oleh pengarang yang sama, bahkan diduga aslinya satu buku yang dipenggal oleh editor menjadi dua buku/kitab). 
 
Pengakuan Yesus sebagai raja harus datang dari hati atau dari iman. Yesus menerima pengakuan yang datang dari murid-murid-Nya (Luk. 19:38-40). Akan tetapi Yesus menolak tuduhan dirinya sebagai “raja” atau “raja orang Yahudi” ketika hal itu ditempatkan dalam konteks politik berhadapan dengan kaisar (Luk. 23:2-3). Yesus juga menolak sebutannya sebagai “raja orang Yahudi” ketika hal itu diungkapkan sebagai ejekan (Luk. 23:37). 

Kedua, Injil Lukas yang ditulis pada masa pergumulan jemaat akibat penundaan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 tetap mengingatkan pembacanya bahwa Sang Raja dari Kerajaan Allah itu akan datang kembali dan akan meminta pertanggungjawaban atas uang mina yang telah diberikan-Nya (Luk. 19:12-27). Apa itu parousia?

Parousia bersinonim dengan 𝘱𝘢́𝘳𝘦𝘪𝘮𝘪 yang secara literal berarti hadir. Parousia merujuk kunjungan penguasa atau petinggi negara yang disambut meriah. Dalam hal teologi Kristen parousia merujuk kedatangan Yesus kembali. Masalahnya umat atau jemaat pada waktu itu sudah dipengaruhi oleh ajaran atau Surat-surat Paulus (ditulis pada masa 40 – 60 ZB sebelum ada Injil Lukas) yang mengatakan parousia segera terjadi pada saat mereka masih hidup. Faktanya parousia belum terjadi sampai Bait Allah dihancurkan oleh Panglima Titus dari Roma pada 70 ZB.

Lukas, yang menulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul pada sekitar 80-90 ZB, harus menanggapi pergumulan jemaat sehubungan dengan “penundaan parousia” tersebut. Lukas menyampaikan bahwa masa penundaan parousia adalah masa anugerah: kesempatan untuk bertobat dan hidup sesuai ajaran Yesus sampai Sang Raja itu datang kembali.

Sudut Pandang Perbedaan Kronologi injil, keuntungan RCL, Serial Pengetahuan Sabda

Sudut Pandang Kronologi Alkitab, Serial Pengetahuan Sabda

Sekelompok murid SMA diberi tugas oleh guru mereka untuk menulis kegiatan harian Bung Karno dari 1 Agustus sampai 17 Agustus 1945. Ada dua buku sejarah di perpustakaan, tetapi dua buku itu belum dapat memberi keterangan lengkap kegiatan harian Bung Karno. Para murid kemudian melakukan pencarian lebih giat lewat internet dan bertanya kepada orang-orang yang mengerti sejarah. Lengkap sudah penugasan dari guru. Mereka berhasil menulis kegiatan Bung Karno dari 1 Agustus sampai 17 Agustus 1945. Kronologis.

Alkitab bukanlah buku sejarah. Orang tidak dapat memaksakan pendapatnya menulis suatu kronologi berdasarkan kisah-kisah dari berbagai kitab di dalam Alkitab seperti yang dilakukan oleh murid-murid SMA di atas. Misal, menggabungkan kronologi kisah Natal Injil Lukas dan Injil Matius. Selain memang setiap Kitab Injil memiliki teologi masing-masing, kronologi setiap kitab berbeda-beda. Dalam sebuah drama Natal Yusuf dan Maria pulang ke Betlehem atas perintah Kaisar Agustus. Maria melahirkan Yesus dan meletakkan ke dalam palungan (Injil Lukas). Drama Natal kemudian disambung dengan kedatangan orang-orang Majus memberi persembahan untuk Yesus (Injil Matius). Ini keliru. 

Ada empat Kitab Injil di dalam Alkitab: Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes. Ketiga Injil pertama disebut Injil Sinoptik, karena ada kemiripan. Injil Yohanes berbeda sama sekali dari Injil Sinoptik. Meski disebut Injil Sinoptik, tetap saja terjadi perbedaan kronologis.

Perbedaan Kronologis Injil Sinoptik

Contoh 1
Silsilah Yesus menurut Injil Matius (menurun):
Abraham - Ishak -  Yakub - Yehuda - Peres -Hezron – Ram - Aminadab - Nahason -  Salmon - Boas - Obed - Isai – Daud - Salomo - Rehabeam - Abia - Asa - Yosafat -  Yoram - Uzia - Yotam - Ahas - Hizkia - Manasye – Amon - Yosia - Yekhonya – Sealtiel – Zerubabel – Abihud – Elyakim – Azor – Zadok – Akhim – Eliud – Eleazar – Matan –  Yakub - Yusuf – Yesus.

Silsilah Yesus menurut Injil Lukas (naik):
Yesus – Yusuf – Eli – Matat – Lewi – Malkhi – Yanai – Yusuf – Matica – Maos – Nahum – Hesli – Nagai – Maat – Matica – Simei – Yosekh – Yoda – Yohanan – Resa – Zerubabel – Sealtiel – Neri – Malkhi – Adi – Kosam – Elmadam – Er – Yesua – Eliezer – Yorim – Matat – Lewi – Simeon – Yehuda – Yusuf – Yonam – Elyakim – Melea – Mina – Matata – Natan – Daud – Isai – Obed – Boas – Salmon – Nahason – Aminadab – Admin – Arni – Hezron – Peres – Yehuda – Yakub – Ishak – Abraham – Terah – Nahor –Serug – Rehu – Peleg – Eber – Salmon – Kenan – Arpakshad – Sem – Nuh – Leamekh – Metusalah – Henokh – Yared – Mahalaleel – Kenan – Enos – Set – Adam – Allah.

Nama-nama yang berbeda di atas memerlihatkan bukan saja ada perbedaan kronologi, melainkan juga perbedaan garis keturunan. 

Contoh 2: 
Injil Matius: Iblis mencobai Yesus kali kedua di puncak Bait Allah dan kali ketiga di atas gunung.
Injil Lukas: Iblis mencobai Yesus kali kedua di tempat yang tinggi dan kali ketiga di puncak Bait Allah.

Contoh 3: 
Injil Matius: Yesus menyembuhkan dua orang buta sesudah keluar dari Yerikho.
Injil Markus: Yesus menyembuhkan satu orang buta sesudah keluar dari Yerikho.
Injil Lukas: Yesus menyembuhkan satu orang buta sebelum masuk ke Yerikho.

Contoh 4:
Injil Markus dan Matius: Percakapan tentang Hukum Kasih terjadi sesudah Yesus masuk ke Yerusalem.
Injil Lukas: Percakapan tentang Hukum Kasih terjadi (pasal 10) jauh sebelum Yesus masuk ke Yerusalem (pasal 19).

Perbedaan Kronologis Injil Yohanes dan Injil Sinoptik

Contoh 1: 
Injil Yohanes: Yesus menyucikan Bait Allah di awal pelayanan-Nya.
Injil sinoptik: Yesus menyucikan Bait Allah di akhir pelayanan-Nya.

Contoh 2:  
Injil Yohanes: Yesus memula pelayanan-Nya sebelum Yohanes Pembaptis ditangkap.
Injil sinoptik: Yesus memula pelayanan-Nya sesudah Yohanes Pembaptis ditangkap.

Contoh 3:
Injil Yohanes: Yesus ditangkap dan dibawa ke Hanas, lalu ke Kayafas, lalu ke Pilatus, lalu disalibkan.
Injil Matius dan Markus: Yesus ditangkap dan dibawa ke Mahkamah Agama, lalu ke Pilatus, lalu disalibkan.
Injil Lukas: Yesus ditangkap dan dibawa ke Mahkamah Agama, lalu ke Pilatus, lalu ke Herodes, lalu balik ke Pilatus, lalu disalibkan.

Perbedaan kronologis dari beberapa contoh di atas menjadi persoalan besar bagi orang Kristen fundamentalis, karena mereka memegang ideologi inerrancy of the bible; setiap kata di Alkitab tidak salah. Mereka kemudian melakukan pseudo-science demi ideologi mereka untuk memuaskan diri sendiri. Padahal segala perbedaan itu membuktikan secara telak bahwa cerita Injil bukanlah laporan historis jurnalistik. 

Untuk menyelamatkan ideologi inerrancy of the bible mereka melakukan hamonisasi. Perbedaan silsilah Yesus versi Matius dan silsilah Yesus versi Lukas dimanipulasi dengan memaksakan pendapat bahwa versi Injil Lukas adalah Silsilah Maria. Mengubah Silsilah Yusuf menjadi Silsilah Maria sepertinya dapat menyelamatkan ideologi ineransi. Akan tetapi cara itu mengacaukan pemahaman kita terhadap Injil pada umumnya dan Injil Lukas pada khususnya, karena Injil Lukas tidak berbicara mengenai Silsilah Maria. Fundamentalisme pada prinsipnya seleksi ayat yang mendukung ideologinya. Ayat-ayat yang bertentangan dinafikan dan ditutup-tutupi. Usaha untuk memahami Injil apa adanya akan jauh lebih berguna ketimbang usaha untuk mengubahnya, memanipulasinya agar sesuai dengan ideologi. 

Mengenai Injil Lukas kita harus berani mengajukan pertanyaan: Mengapa Lukas menempatkan Silsilah Yesus sesudah Yesus dibaptis dan sebelum Yesus dicobai? Mengapa banjaran di Silsilahnya terbalik dari Matius dengan “naik” (dari Yesus ke Allah)? Mengapa Allah dan Adam tampaknya penting di Silsilah itu? Masih banyak pertanyaan yang dapat kita ajukan untuk memahami teologi Injil Lukas. 

Dalam pada itu tentang Injil Matius kita juga harus berani mengajukan pertanyaan: Mengapa penulis Injil Matius menempatkan Silsilah Yesus di awal Injilnya? Mengapa nama Daud dan Abraham tampaknya penting di Silsilah itu? Mengapa ada perempuan atau nama perempuan di Silsilah patriarkhal itu? 

Dari banjaran silsilah dalam Injil Lukas yang naik itu kita melihat secara gambar besar bahwa teologi Injil Lukas tentang kenaikan, dari rendah ke tempat tinggi. Yesus berkarya di Nazaret/Galilea, naik ke Yerusalem, naik ke Betania di Bukit Zaitun, dan akhirnya naik ke surga. Penulis Injil Lukas juga hendak menyampaikan teologi kemesiasan Yesus sesudah mengalami penderitaan dan kebangkitan. Kalau di Injil Matius penulis hendak menyampaikan bahwa Yesus sejak lahir sudah raja (atau mesias). Di awal Injil Matius dengan penulis menyatakan Yesus Kristus anak Daud.
 
Jadi, Kitab-kitab Injil bukan buku sejarah? Bukan buku sejarah, melainkan refleksi iman para penulisnya yang mewakili jemaat mereka masing-masing. Sangat bolehjadi perbedaan-perbedaan itu memang disengaja oleh para penulisnya. Penulis Injil Matius dan Injil Lukas tidak bersepedapat dengan penulis Injil Markus. Penulis Injil Yohanes tidak bersetuju dengan para penulis Injil sinoptik. Sangat bolehjadi. Terbuka banyak kemungkinan.

Orang Kristen masa kini justru sangat beruntung, karena memiliki banyak sudut pandang kesaksian tentang Kristus. Untuk itulah bacaan ekumenis RCL menganut siklus Tahun A untuk pembacaan Injil Matius, Tahun B untuk Injil Markus, dan Tahun C untuk Injil Lukas, sedang Injil Yohanes disisipkan di ketiga tahun itu. Dari sini orang Kristen akan melihat sudut pandang yang berbeda tentang Kristus dari setiap Kitab Injil. Bukan satu, apalagi Kristus hanya menurut pendeta anu atau pendeta onoh. Cepogo, gardu pandang ketep, (TUS)

Kamis, 31 Maret 2022

𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗼𝗮𝗹 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗲𝗽𝘂𝗹𝘂𝗵𝗮𝗻, Serial Sudut Pandang


𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗼𝗮𝗹 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗲𝗽𝘂𝗹𝘂𝗵𝗮𝗻, Serial Sudut Pandang

Saban terjadi perbincangan tentang pendeta kaya raya, orang kemudian menyenggol kewajiban persepuluhan bagi umat yang membuat pendeta tersebut kaya raya dengan gaya hidup kaum jetset. Sejatinya yang membuat pendeta kaya raya bukanlah persepuluhan pada dirinya.

Pada gereja-gereja arus-utama atau 𝘮𝘢𝘪𝘯𝘴𝘵𝘳𝘦𝘢𝘮 seperti GKI, GKJ, GPIB,HKBP, BAPTIS INJILI, dlsb., terutama jemaat-jemaat besar di kota besar, pemasukan uang dari kolekte dan sumbangan bisa mencapai ratusan juta atau bahkan melewati angka miliar per bulan. Apakah pendeta-pendeta tampak kaya raya? Tidak. Mereka hidup berkecukupan ya, tetapi tidak kaya raya seperti kaum 𝘤𝘳𝘢𝘻𝘺 𝘳𝘪𝘤𝘩. Mengapa demikian?

Gaji pokok (atau apa pun sebutannya) pendeta-pendeta gereja-gereja arus-utama sudah ditetapkan oleh Sinode dengan menyesuaikan tingkat biaya hidup di suatu daerah. Gereja langsung memotong pajak penghasilan dari gaji pendeta dan para karyawan kantor gereja termasuk satpam. Bahkan honor pendeta tamu yang berkhotbah langsung dipotong pajak sebelum diterimanya.

Lalu ke mana uang pemasukan yang mencapai ratusan juta atau miliar? Uang itu digunakan untuk menjalankan program-program Gereja yang sudah ditetapkan oleh Majelis Jemaat (MJ) setiap tahun. Misal, untuk beasiswa, untuk menolong orang-orang miskin lewat program diakonia, untuk membantu korban bencana, untuk perayaan hari raya, dlsb.

Laporan keuangan selalu ditampilkan transparan lewat Warta Jemaat dan diaudit. Gereja membentuk tim audit dengan menunjuk warga jemaat yang kompeten dalam bidang audit keuangan. Ada juga gereja yang menunjuk tim audit independen dari luar gereja. Warga jemaat yang melihat atau mencium ketidakberesan dalam laporan keuangan berhak bersuara mengajukan keberatan. Harta benda adalah milik Jemaat, bukan milik pendeta atau pejabat gereja.

Pendeta-pendeta kaya raya 𝘤𝘳𝘢𝘻𝘺 𝘳𝘪𝘤𝘩 di Indonesia bukan dari gereja-gereja arus-utama. Mereka dari gereja 𝘧𝘳𝘢𝘯𝘤𝘩𝘪𝘴𝘦. Mereka ibarat membeli suatu 𝘣𝘳𝘢𝘯𝘥 gereja, kemudian mereka memasarkannya. Jemaat yang didirikan adalah milik pendeta pribadi. Harta benda adalah milik pendeta sebagai 𝘧𝘰𝘶𝘯𝘥𝘦𝘳. Kewajiban pendeta pemilik gereja hanyalah membayar royalti 𝘣𝘳𝘢𝘯𝘥 nama gereja kepada Sinode.

Tidak akan pernah ada laporan keuangan (dalam arti pemasukan dan pengeluaran) di Warta Jemaat. Kalau pun ada hanyalah laporan pemasukan kolekte ibadah Minggu. Tidak ada laporan pengeluaran keuangan. Tidaklah mengherankan kampanye persepuluhan gencar di gereja-gereja 𝘧𝘳𝘢𝘯𝘤𝘩𝘪𝘴𝘦. Gaya hidup pendeta-pendeta tersebut seperti raja minyak dengan penghasilan bersih ratusan juta bahkan miliaran per bulan.

Yang membuat gereja model itu aman adalah penerimaan keuangan lembaga agama tidak kena pajak. Akan tetapi apa pun yang diberikan oleh gereja yang membuat orang atau pihak mendapat tambahan kemampuan ekonomi adalah objek pajak. Petugas DJP sebenarnya dapat memula penyelidikan dari SPT pendeta 𝘤𝘳𝘢𝘻𝘺 𝘳𝘪𝘤𝘩 dengan membandingkan gaya hidup mereka.

Di balik uang besar selalu ada kejahatan, kata Mario Puzo. Tidaklah berlebihan untuk disebut gereja adalah tempat 𝘮𝘰𝘯𝘦𝘺 𝘭𝘢𝘶𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 paling aman sedunia.(TUS), STT BAPTIS INJILI, BOYOLALI

Jumat, 04 Maret 2022

💫SABDA NYUNAR💫 SPIRITUALITAS KRISTUS YESUS

💫SABDA NYUNAR💫 SPIRITUALITAS KRISTUS YESUS

“𝘛𝘩𝘦𝘳𝘦 𝘢𝘳𝘦 𝘴𝘦𝘷𝘦𝘳𝘢𝘭 𝘨𝘰𝘰𝘥 𝘱𝘳𝘰𝘵𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘴 𝘢𝘨𝘢𝘪𝘯𝘴𝘵 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘵𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯, 𝘣𝘶𝘵 𝘵𝘩𝘦 𝘴𝘶𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘪𝘴 𝘤𝘰𝘸𝘢𝘳𝘥𝘪𝘤𝘦.” Mark Twain. 

Umat Kristen sudah memasuki masa Pra-Paska yang dimula dari Rabu Abu yang lalu. Dalam Rabu Abu Gereja hendak mengajar umat mengenai 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗼𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻, perkabungan, mawas diri, pendekatan diri kepada Allah lewat simbol abu. Perintah dan ajaran tentang pertobatan bejibun di Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Singkatnya gereja hendak mengajarkan spiritualitas. Spiritualitas dibentuk dari kata Latin spiritus yang memiliki beberapa makna: roh, jiwa, sukma, nafas hidup, ilham, kesadaran diri, kebesarhatian, keberanian, sikap, dan perasaan. Spiritualitas dapat dilihat dengan merujuk suatu sikap hidup yang erat pautannya dengan kesadaran diri yang bersumber pada kawasan roh sebagai sumber nafas hidup. Dengan demikian spiritualitas seorang Kristen merujuk jeluk (𝘥𝘦𝘱𝘵𝘩) nasabahnya dengan Roh  Kristus sebagai kawasan spiritual yang menjadi landasan dan sumber pembentukan jatidirinya yang dinampakkan dalam sikap dan perilaku hidupnya terus-menerus. Bacaan diambil dari Injil Lukas 4:1-13. Bacaan Injil Lukas pada Minggu ini mengisahkan spiritualitas Yesus yang dalam nasabah spiritualnya yang kuat dengan kawasan Roh, yaitu dengan Allah yang dipanggil-Nya sebagai Bapa yang sedang menjalankan kekuasaan-Nya. Nasabah spiritualnya ini membentuk jatidiri Yesus dan memberikan makna hakiki eksistensial ketika Kristus memeragakan kekuasaan pemerintahan Allah di dalam karya-karya-Nya. Sebelum Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun, Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Dalam pembaptisan itu turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati dan terdengar suara, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Luk. 3:21-22). Dalam kisah yang oleh LAI diberi judul 𝘗𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘎𝘶𝘳𝘶𝘯 penulis Injil Lukas hendak “menjelaskan” Anak Allah yang seperti apakah Yesus itu. Dinarasikan oleh penginjil Lukas bahwa Yesus dibawa oleh Roh menuju padang gurun dan tinggal di sana selama 40 hari dan berpuasa. Setelah melewati waktu itu, Yesus lapar. Iblis menggoda, “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.”(𝘭𝘪𝘩. Ul. 8:3). Yesus tak mengubah batu menjadi roti, walaupun itu sangat mudah dilakukan-Nya. Barangkali ayat ini menginspirasi Lionel Richie dan Michael Jackson menciptakan 𝘞𝘦 𝘢𝘳𝘦 𝘵𝘩𝘦 𝘞𝘰𝘳𝘭𝘥.  Seperti Allah yang dapat mengubah batu menjadi roti, 𝘴𝘰 𝘸𝘦 𝘢𝘭𝘭 𝘮𝘶𝘴𝘵 𝘭𝘦𝘯𝘥 𝘢 𝘩𝘦𝘭𝘱𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘯𝘥. Iblis melakukan pencobaan kedua. “Semua kerajaan dunia milikku dan akan kuberikan kepada-Mu,” kata iblis, “jika Engkau menyembah aku.” Yesus menjawab lagi, “Ada tertulis: Kamu harus menyembah TUHAN, Allahmu, dan hanya kepada-Nya engkau berbakti.” (𝘭𝘪𝘩. Ul. 6:13). Dalam versi Injil Matius pencobaan ini adalah upaya ketiga iblis. Iblis tak menyerah. Untuk ketiga kalinya iblis menggoda Yesus yang kali ini dengan ayat karena Yesus menjawab dengan ayat. Iblis membawa Yesus ke atas bubungan Bait Allah di Yerusalem. Kata iblis, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis,” kata iblis,”Allah akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau dan mereka akan menatang Engkau agar kaki-Mu tidak terantuk batu.”  Iblis mengutip Kitab Suci dari Mazmur 91:11-12. Yesus menjawab iblis, “Ada tertulis: Jangan kamu mencobai TUHAN, Allahmu.” (𝘭𝘪𝘩. Ul. 6:16). Iblis kemudian mundur dan akan mencoba lagi pada waktu yang tepat. Kisah berakhir dengan 𝘩𝘢𝘱𝘱𝘺 𝘦𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 itu memerikan bahwa Yesus adalah Israel baru yang sejati, Anak Allah yang menang atas segala pencobaan. Bukan dengan kuat kuasa-Nya, melainkan dengan menaatkan diri-Nya kepada Bapa-NyaPenulis Injil Lukas mau menampilkan perjuangan spiritual Yesus pada awal ia mencari visi dan menemukan panggilan hidup-Nya. Pergulatan spiritual Yesus tentu saja merefleksikan teologi penulis Injil, tetapi pada intinya pengisahan itu mau menyatakan fakta sejarah bahwa Yesus Kristus mengalami pergulatan spiritual yang berat. Hal itu dikuatkan oleh antropologi budaya yang menemukan gejala-gejala umum yang serupa yang juga dijalani oleh tokoh-tokoh kharismatis yang mencari pelihatan-pelihatan dari dunia ilahi dalam banyak kebudayaan zaman dulu. Menarik bacaan Injil di atas bahwa iblis lihai mengutip Kitab Suci. Kita bisa lihat bagaimana para penjaja agama masa kini cekatan mengutip ayat-ayat Kitab Suci untuk berbisnis agama. Mereka seperti melupakan bahwa tidak perlu menjadi orang baik untuk cakap mengutip ayat-ayat Kitab Suci. Iblis pun piawai. Penulis Injil Lukas juga secara tak langsung mengajar jemaatnya atau pembacanya bahwa meskipun Kitab Suci dapat digunakan untuk iktikad jahat bukan berarti jemaatnya berhenti menggunakan kitab suci untuk maksud baikBacaan di atas hendak menyampaikan bahwa Yesus mengajarkan spiritualitas yang bukan mengawang-awang dan eskapis, yang tidak bersentuhan dengan realitas sosial. Tidak ada gunanya orang Kristen berbondong-bondong melakukan wisata suci 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘓𝘢𝘯𝘥 𝘛𝘰𝘶𝘳, tetapi meninggalkan realitas sosial bahwa kehadiran Kristen di Indonesia harus berdampak pada kesejahteran sosial. Spiritualitas Yesus mengajar agar orang lebih peka dan lebih peduli kepada orang-orang yang terpinggirkan: 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪 𝘯𝘢𝘧𝘴𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯. (TUS)




Rabu, 02 Maret 2022

Rabu Abu sebagai Tradisi Gereja Roma Katolik? SERIAL SUDUT PANDANG

Rabu Abu sebagai Tradisi Gereja Roma Katolik? SERIAL SUDUT PANDANG

 Masa Prapaskah yang dimulai pada hari Rabu telah dimulai pada abad VI (waktu itu belum bernama “Rabu Abu”). Gereja memilih hari Rabu sebagai awal masa Prapaskah karena menurut tradisi, Yudas Iskariot mengkhianati Yesus pada hari Rabu, lalu pada hari Jumat, Yesus wafat disalibkan. Karena itu umat Kristen perdana melaksanakan puasa pada hari Rabu dan Jumat, berbeda dengan umat Israel yang merayakan puasa pada hari Senin dan Kamis.

Pada abad X, penggunaan abu dilakukan gereja pada hari Rabu sebagai awal Prapaskah, sehingga muncul istilah Rabu Abu. Tepatnya ibadah Rabu Abu telah dilaksanakan oleh gereja sejak 960 sebagaimana dikemukakan oleh Thomas Talley di situs http://www.americancatholic.org/newsletters/cu/ac0204.asp yaitu: “Thomas Talley, an expert on the history of the liturgical year, says that the first clearly datable liturgy for Ash Wednesday that provides for sprinkling ashes is in the Romano-Germanic pontifical of 960.” Namun secara resmi ibadah Rabu Abu dengan pengolesan abu menjelang masa Prapaskah telah terjadi pada akhir abad XI – XIII yaitu melalui penetapan sidang Sinode di Benevento pada 1091 oleh Paus Urbanus II (Adolf Adam 1990, 98). Jika demikian, penetapan sidang Sinode di Benevento pada 1091 menjadi bagian dalam kehidupan gereja Reformatoris. Ibadah Rabu Abu bukan monopoli tradisi gereja Roma Katolik, namun juga gereja-gereja yang terikat dengan keputusan sidang Sinode di Benevento pada 1091. Itu sebabnya ibadah Rabu Abu selain gereja Roma Katolik juga dilakukan oleh gereja Anglikan, Lutheran, dan Methodist (http://en.wikipedia.org/wiki/Ash_Wednesday).

Gereja-gereja Protestan (reformatoris) yang bercorak Calvinis baru muncul setelah peristiwa reformasi gereja yang diawali dari protes Martin Luther pada 31 Oktober 1517, yaitu saat dia menempelkan 95 dalil di gereja Wittenberg Jerman. Sejak itu gereja yang semula satu, yaitu gereja Katolik (arti “katolik” adalah: Am) terpecah sehingga muncul gereja Reformatoris. Dengan memahami catatan sejarah ini berarti tanggal 31 Oktober 1517 merupakan tonggak waktu pemisah antara gereja Katolik dengan gereja Reformatoris. Tepatnya segala hal yang berkaitan dengan keputusan gereja Roma Katolik setelah 31 Oktober 1517 bukanlah keputusan gereja-gereja Reformatoris (Calvinis dan Lutheran). Jika demikian, segala hal yang berkaitan dengan keputusan gereja sebelum 31 Oktober 1517 adalah keputusan bersama. ITidak mengherankan juga jikalau gereja-gereja Reformed dan Evangelical (Injili) di berbagai belahan dunia kini melaksanakan ibadah Rabu Abu dengan mengoleskan abu di dahi jemaat. Mereka melakukan dengan suatu kesadaran teologis tentang ikatan dalam tradisi gereja dan pentingnya mewujudkan keesaan gereja sebagai Tubuh Kristus.

Jumat, 25 Februari 2022

SERIAL SUDUT PANDANG, Lukas 9 : 28-36, KEMAH PERTEMUAN, Minggu Transfigurasi

SERIAL SUDUT PANDANG, Lukas 9 : 28-36, KEMAH PERTEMUAN, Minggu Transfigurasi

Minggu ini disebut Minggu Transfigurasi yang merupakan akhir masa Minggu Epifania. Minggu depan kita memasuki Minggu Pra-Paska. Bacaan diambil dari Injil Lukas 9:28-36, (37-43a). Dalam Injil Lukas Minggu ini dikisahkan kira-kira delapan hari setelah segala pengajaran itu (termasuk kisah Yesus memberi makan kepada 5.000 orang), Yesus membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus ke atas gunung untuk berdoa. Ketika Yesus sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya putih berkilau-kilau. Tampaklah dua orang berbicara dengan Yesus, yaitu Musa dan Elia. Melihat peristiwa itu Petrus berinisiatif mendirikan tiga kemah untuk Yesus, Musa, dan Elia. Sementara Petrus berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Petrus dkk. takut. Terdengar suara “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” Ketika suara itu terdengar, Yesus tinggal seorang diri. Bacaan berlanjut dengan  ayat 37-43a yang mengisahkan pada esok hari mereka turun dari gunung. Datanglah orang banyak berbondong-bondong menemui Yesus. Perikop di atas oleh LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) diberi judul “Yesus dimuliakan di atas gunung”. Pada ayat 29 “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya putih berkilau-kilau.” Itulah mengapa hari ini disebut Minggu Transfigurasi. Tesamoko (hlm. 753) memadan maknakan transfigurasi dengan alih bentuk, konversi, metamorfosis, perubahan, transformasi, transmutasi, penjelmaan. Menurut Kamus Gereja dan Teologi Kristen (hlm. 723) transfigurasi ditakrifkan sebagai peristiwa Yesus mengalami perubahan rupa serba putih berkilauan sehingga dalam kemanusiaan-Nya terpancar keilahian-Nya. Narasi Yesus dimuliakan di atas gunung merupakan wacana yang disampaikan untuk  mengundang pembaca atau pendengar mengalami realitas kehadiran seutuhnya bahwa Yesus lebih besar daripada Musa, sang pembebas, dan Elia, sang pembuat jalan. Akan tetapi Petrus terlalu banyak bicara. Belum lagi Yesus berbicara, Petrus langsung berujar, “Guru, alangkah baiknya (καλόν) kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia." (TB II LAI). Mengapa Petrus hendak mendirikan kemah untuk Yesus, Musa, dan Elia? Barangkali Petrus merujuk “Kemah Pertemuan” atau “Kemah Suci” pada zaman Musa (Kel. 26:1-37; 33:7-9; 40:1-38). Di Kemah Suci itu Allah hadir dan tinggal di tengah-tengah bangsa Israel. Di Kemah Pertemuan itu Allah dapat ditemui oleh Musa.  Yesus tidak menanggapi usulan Petrus dan sebelum Petrus selesai berkata-kata, Allah tiba-tiba mengintervensi. Datanglah awan menaungi mereka, dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” (Luk. 9:33-34). Tinggallah Yesus sendiri. Musa dan Elia tak tampak lagi. Dengan demikian usulan Petrus menjadi tidak paut lagi. Kemah tidak perlu didirikan. Allah bahkan sudah berbicara langsung tanpa “Kemah Pertemuan.” Mengapa peristiwa transfigurasi ini penting bagi kehidupan bergereja? Rabu ini, 2 Maret 2022, adalah Rabu Abu sebagai awal masa raya Pra-Paska. Minggu Transfigurasi  adalah “hari kenaikan kelas” bagi Yesus, dari pelayanan “tingkat pertama” naik ke pelayanan “tingkat kedua” yang lebih dahsyat. Ahli PB menyebutnya masa pengajaran dan masa pengorbanan Yesus. Minggu transfigurasi menandai penerusan peningkatan karya-karya  Yesus menjelang penyaliban-Nya. Ia makin dibenci oleh lawan-lawan-Nya. Semua karya-Nya dinafikan bahkan diputarbalikkan oleh ahli-ahli agama Yahudi sampai pada akhirnya Yesus didakwa menista agama dan dijatuhi hukuman mati. Momentum Minggu Transfigurasi sudah sepatutnya menjadikan gereja “naik kelas”. Gereja yang dalam hal ini para pejabat gerejawi haruslah berhenti merohani-rohanikan profesi pejabat gerejawi. Kebiasaan ini hanya melanggengkan tradisi pejabat gerejawi sebagai pihak yang dilayani dengan berlindung di balik “kemuliaan Tuhan” seperti yang hendak dikerjakan oleh Rasul Petrus di atas. Sungguh ironis banyak pejabat gerejawi mendaku “hamba Tuhan” tetapi berbicara melulu seperti Petrus sampai akhirnya dihardik oleh Allah: “Dengarkanlah Dia!” Bagaimana pemimpin gereja dapat mendengar suara Allah yang tak kasatmata kalau tidak bisa mendengar suara rintihan warga yang fisis? Jangan gunakan kata-kata “mari kita doakan”, apabila gereja tidak berbuat apa-apa ketika banyak warga merintih minta tolong. (TUS)(02032022)

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus