Sabtu, 21 Februari 2026
SUDUT PANDANG KHOTBAH KUASA ROH KUDUS
Sudut Pandang Dialog di Kelas. : "RABU ABU, JANGAN ABU-ABU FERGUSO?"
Jumat, 20 Februari 2026
Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻 bagian 1 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗧𝗮𝘁𝗮 𝗔𝗰𝗮𝗿𝗮
SUDUT PANDANG MATIUS 4:1-11, PERKARA KRITIK ZAMANNYA
Kamis, 19 Februari 2026
Sudut Pandang Liturgi : 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 dan Hening
Sudut Pandang Gereja Dalam perubahan Besar
Sudut Pandang Implikasi teologis kutipan Ulangan dalam kisah Matius 4:1-11 untuk umat sekarang
Rabu, 18 Februari 2026
Sudut Pandang Matius 4 :1-11, Minggu 1 Prapaskah Paskah Tahun A, Mahkluk Jelmaan Iblis
Selasa, 17 Februari 2026
Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 6:1-6,16-21 [𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝗲𝗿𝗽𝘂𝗮𝘀𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗶𝗮-𝘀𝗶𝗮
Senin, 16 Februari 2026
Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶: 𝗕𝗲𝗻𝗴𝗸𝗲𝗹 𝗜𝗺𝗮𝗻
Sudut Pandang"Mengapa Agama Abad ke-7 Mencoba Mengajari Sejarah Abad ke-1 Tentang Yesus?"
Minggu, 15 Februari 2026
SUDUT PANDANG TAFSIR INJIL MARKUS MINGGU SENGSARA
SUDUT PANDANG TAFSIR INJIL MARKUS MINGGU SENGSARA
PENGANTAR
Kesaksian Markus 14:1-15:47 (penulis meringkas bacaan menjadi Markus 15:1-15) adalah pengisahan penderitaan, kematian Yesus sampai akhirnya Ia dimakamkan. Sengaja kisah penderitaan, kematian Yesus dan pemakaman telah dibaca pada Minggu Prapaskah VI (Minggu Palma) dan yang juga disebut dengan “Minggu Sengsara” agar umat memahami bahwa kisah Yesus masuk ke kota Yerusalem berkaitan dengan karya penebusan melalui penderitaan dan kematian-Nya.
PEMAHAMAN
Umat pada pengisahan Minggu Palma yang memperkenalkan-sorak memuji Yesus adalah umat yang juga kelak akan berteriak dan menuntut akan kematian-Nya. Demikian pada Minggu Prapaskah VI memiliki dua dimensi kembar yang paradoks, yaitu puji-pujian yang menyambut Yesus dan teriakan kemarahan yang menuntut kematian Yesus. Kisah Yesus masuk ke kota Yerusalem seperti seorang pahlawan yang menang, tapi tak lama lagi Ia akan diperlakukan seperti seorang penjahat. Kesaksian Yesaya 50:4-9 juga menggemakan penderitaan seorang hamba Tuhan. Di Yesaya 50:6 mempersaksikan: “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak bersembunyi mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” Kesaksian ini paralel dengan Yesaya 53:3, yaitu hamba Tuhan yang dihina dan Dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan. Namun di tengah-tengah penderitaan yang dialaminya, hamba Tuhan tersebut memiliki lidah seorang murid, sehingga ia mampu memberi semangat yang baru kepada sesamanya yang letih lesu. Di tengah-tengah penderitanya Sang Hamba Tuhan tersebut tidak berkeluh-kesah, menyalahkan keadaan atau mencari kambing hitam. Sebaliknya ia memberikan semangat dan kekuatan rohani kepada orang-orang yang putus asa. Jadi arti lidah seorang murid menunjuk pada lidah yang dilatih dengan baik. Kemampuan mengendalikan lidah yang peka hanya dapat terjadi jikalau hamba Tuhan tersebut selalu membuka telinga. Ia mengutamakan kesediaan mendengarkan dengan baik sebagai seorang hamba Tuhan, sehingga mampu berbicara dengan bijaksana untuk meneguhkan dan menyatakan karya keselamatan Allah. Mulai Mazmur 50:7-9, pemazmur menegaskan bahwa Allah berpihak padanya. Sebab di tengah-tengah penderitaan dan cela yang dialaminya, ia tetap setia. Sang Hamba Tuhan tersebut tidak memberontak atau dibebaskan dari Allah. Pada akhirnya Allah akan menolong dia, sehingga dia tidak mendapat noda. Para musuhnya tidak sanggup menundukkan dia. Konteks Mazmur 31 didasari pada pengalaman pribadi yang dialami oleh pemazmur. Ia dicela dan dipermalukan oleh para musuhnya (Mzm. 31:12). Para musuhnya bersekongkol dengan menyebarkan dusta (Mzm. 31:19). Lebih dari itu pemazmur dikejar-kejar oleh para musuhnya (Mzm. 31:16) sehingga ia terjebak dalam jaring yang dipasang mereka (Mzm. 31:5). Di tengah-tengah komunitasnya, pemazmur ditinggalkan (Mzm. 31:12-13), sehingga ia menderita sakit (Mzm. 31:10-11), dipermalukan sebagai orang yang dianggap terbuang dari hadapan Allah (bdk. Mzm. 31:17-18). Dalam kondisi demikian pemazmur menganggap dirinya terbuang dari hadapan Allah. Tampaknya curahan hati pemazmur tidak dimaksudkan untuk diungkapkan sebagai keluh-kesah pribadinya saja, namun diungkapkan agar menjadi cermin bagi umat percaya yang menderita. Karena itu dalam Mazmur 31 kita dapat melihat secara sengaja pemazmur menghilangkan unsur-unsur yang bersifat pribadi agar setiap orang yang membaca dan mendengarkan curahan hati tersebut menggambarkan pengalaman hidup umat percaya yang ditindas dan dipermalukan oleh para musuh. Umat percaya yang telah kehilangan harapan dan hidup dalam kesedihan yang begitu berat justru dituntun oleh pengalaman pemazmur yang melihat kehadiran Allah. Di hadapan para musuh yang menindasnya, pemazmur tidak meminta belas kasihan dari mereka. Sebaliknya pemazmur hanya mengharap belas-kasihan dari Allah (Mzm. 31:10). Iman pemazmur justru bertumbuh dengan kokoh, sehingga ia dapat menyikapi masalah yang dihadapinya dengan sikap beriman kepada Allah. Mulai Mazmur 31:15 sikap iman pemazmur menggeser semua kesedihan, kepahitan dan rasa putus-asanya, yaitu: “Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya Tuhan, aku berkata: Engkaulah Allahku!” Dalam konteks ini kita menjumpai dua aspek penting dalam kehidupan iman pemazmur, yaitu: 1). Pernyataan iman bahwa hanya kepada Allah saja ia percaya, 2). Pengakuan iman bahwa Yahweh adalah Allahnya. Sikap iman pemazmur tersebut justru relevan untuk direnungkan secara lebih mendalam. Iman pemazmur ditemukan justru ketika ia berada di tengah-tengah penderitaan dan situasi kritis yang seharusnya menghancurkan dirinya sendiri. Namun di tengah-tengah situasi “ketiadaan” tersebut Allah justru hadir dan mengaruniakan kekuatan untuk menopang kehidupan pemazmur, sehingga pemazmur berkata: “Masa kehidupan ada di tangan-Mu, mengecewakanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku! Buatlah wajah-Mu memancarkan atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!” (Mzm. 31:16-17). Dalam konteks ini pemazmur tidak menggunakan kekuatan dan upaya manusiawinya untuk membalas dendam kepada musuh, namun ia serahkan sepenuhnya kepada Allah. Dalam tulisannya yang berjudul Reconstructing Honor in Roman Philippi – Carmen Christi as Cursus Pudorum , Joseph H. Hellerman menginterpretasikan Surat Filipi 2:7 sebagai cursus pudorum . Maksud dari cursus pudorum adalah: Yesus menyampaikan diri-Nya meskipun Ia setara dengan Allah. Dalam inkarnasi-Nya sebagai manusia, Kristus memilih untuk menjadi seorang doulos (hamba). Lebih dari itu Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk mengalami kematian di atas kayu salib. Dalam spiritualitas cursus pudorum dalam kehidupan Yesus, kita dapat melihat pola spiritualitas yang tidak bergerak ke “atas” (menuntut kemuliaan yang lebih tinggi), namun sebaliknya Yesus memilih untuk bergerak ke “bawah.” Karena itu Yesus sengaja masuk kota Yerusalem dengan menunggangi seekor elang tanpa dikawal oleh para prajurit atau kekuatan politik. Apabila penduduk Yerusalem mengelu-elukan Yesus, yaitu: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, mendesaklah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!” adalah ungkapan yang spontan sebagai harapan mereka. Dengan pola ini rasul Paulus menunjukkan sikap yang berbeda antara Kristus dan pemerintah Romawi. Sikap pemerintah Romawi yang menjajah selalu lebih cenderung memeroleh kehormatan dan kemuliaan dengan meningkatkan kedudukan dan status seseorang ( cursus honorum ). Kecenderungan kita sebagai umat lebih suka mencari kehormatan di balik pelayanan dan kesalehan. Karena itu kita tidak segan menggunakan nama Allah atau Kristus, namun sesungguhnya kita haus akan pujian dan kehormatan. Kristus sebaliknya. Ia turun dari kedudukan dan statusnya sampai ke titik terendah bahkan sampai pada status yang paling hina dengan mati di kayu salib, dengan tujuan berkurban memberikan nyawa-Nya bagi umat manusia ( cursus pudorum ) (Hellerman 2005, 130). Kesediaan Kristus mengosongkan diri adalah agar Ia dapat memberikan hidup-Nya sehingga umat memperoleh hidup yang berlimpah. Prinsip teologis ini dikemukakan oleh Injil Yohanes tentang tujuan utama kedatangan Tuhan Yesus, yaitu: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala menceritakan” (Yoh. 10:10b).
(16022026)(TUS)
Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 15:21-28 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝘾𝙧𝙤𝙨𝙨 𝙘𝙪𝙡𝙩𝙪𝙧𝙚
Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 15:21-28, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝘾𝙧𝙤𝙨𝙨 𝙘𝙪𝙡𝙩𝙪𝙧𝙚 Da...
-
SUDUT PANDANG LUKAS 21 :5-19, Petaha PENGANTAR Kitab-kitab Injil tidak ditulis oleh 12 murid Yesus. Juga tidak ditulis oleh juru...
-
SUDUT PANDANG PENYALIBAN YESUS: RENCANA SIAPA? PENGANTAR Isu mengenai apakah penyaliban Yesus merupakan rencana Allah at...